Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.  (Read 2721 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline vermouth

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 6
  • Reputasi: 1
  • Gender: Female
  • What goes around, comes around
Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« on: 27 September 2015, 11:33:24 AM »
Hallo semua, saya member baru di sini, dan saya sangat senang bisa bergabung.
Terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri saya secara singkat.

Saya wanita berusia 22 Tahun, saya adalah seorang mahasiswi Psikologi di Kalimantan Timur. 3 tahun terakhir saya mulai mempertanyakan tentang ajaran agama saya, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang Agnostik (percaya akan kekuasaan Tuhan, tapi memutuskan untuk tidak beragama). Keputusan yg saya ambil bukan karena hasutan orang lain, tapi karena keinginan saya sendiri. Saya mempunya kitab dari 2 agama yg berbeda, saya membaca kedua kitab tersebut. Tapi saya tidak menemukan apa yg saya cari di sana.

Awal tahun 2014 saya iseng browsing tentang karma dalam ajaran Buddha. Sebagai orang awam yg tidak tau mengenai ajaran Buddha saya hanya tau bahwa hukum karma adalah pembalasan, tapi setelah saya baca di website yg membahas tentang karma ternyata karma itu ada banyak, dan lebih spesifik. Berawal dari situ saya mulai mencari tentang ajaran Buddha (hanya mengandalkan google) hingga pertengahan 2014 saya menemukan website ini, saya menjadi silent reader selama hampir setahun. Hingga akhirnya ada keinginan besar dalam diri saya untuk belajar ajaran Buddha. Jika ada yg bertanya apa yg membuat saya tertarik? Jujur saya hanya tau sedikit, sangat sedikit mengenai ajaran Buddha, dari apa yg saya baca, saya hanya menangkap melalu persepsi saya sendiri (tanpa adanya bimbingin dari yg tau), dari yg selama ini saya baca ajaran Buddha menurut saya realistis, logika saya bisa menerimanya. Bukan bermaksud membandingkan dengan agama orang tua saya, tetapi agama saya dulu membuat saya terus bertanya tanpa mendapatkan jawaban yg masuk akal, ketika saya mempertanyakan sesuatu pada orang yg ahli inti, dari jawabannya adalah "itu adalah kuasaNya, tidak ada jawaban" seperti itu.

Saya tidak punya teman atau kenalan yg mengikuti ajaran Buddha, saya ingin belajar karena saya ingin, bukan karena orang lain.
Seperti judul yg saya tulis, saya ingin belajar, dan saya meminta bantuan dari teman-teman. Karena menurut saya, jika saya belajar sendiri berdasarkan apa yg saya baca di google, saya takut jika pemahaman saya melenceng dari maksud sebenarnya, maka saya butuh bimbingan.
Saya belum pernah ke Vihara, karena saya tidak mengerti apa yg harus saya lakukan di Vihara, harus bertemu siapakah saya, apa yg harus saya katakan pada orang yg pertama kali saya temui di Vihara.
Saya mohon bantuannya untuk membantu saya belajar basic dari ajaran Buddha, seperti halnya mengajari anak kecil, dari hal yg paling mudah untuk dipahami.

Terima Kasih, mohon bantuannya.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta  _/\_
« Last Edit: 27 September 2015, 11:42:58 AM by vermouth »

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #1 on: 27 September 2015, 02:05:25 PM »
Forum ini cocok utk anda yg serius belajar Buddha Dhamma, cuma harus rajin bongkar file2 diskusi, dan dijamin pasti akan menambah pengetahuan.
Jika ada membaca komentator saling mempertahankan opini masing2, bahkan saling ancam saling ejek, dan sering terjadi, tapi tidak memgapa, dari opini2 yang ada, harapannya Pembaca banyak menambah pengetahuan tentang KEBENARAN
 _/\_
« Last Edit: 27 September 2015, 02:13:06 PM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline vermouth

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 6
  • Reputasi: 1
  • Gender: Female
  • What goes around, comes around
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #2 on: 27 September 2015, 03:42:14 PM »
Hallo, terima kasih.

Hampir setiap hari saya mengunjungi website ini, walaupun hanya menjadi silent reader, saya sering membaca beberapa diskusi, tetapi saya tidak paham. Hanya sekedar tau tapi tidak memahami. Ibarat anak TK yg belum tau cara berhitung tambah dan kurang tapi sudah di suguhi soal perkalian. Basicnya tidak ada.

Saya sempat membaca di salah satu diskusi tentang aliran di ajaran Buddha. Ada orang yg juga seperti saya, ingin belajar ajaran Buddha. Lalu dia ditanya oleh seorang member, mau belajar aliran yg mana? Orang tersebut menjawab tidak tau, dia mau belajar basicnya terlebih dahulu. Menurut saya walaupun ada aliran-aliran tapi setidaknya ada ajaran dasar yg di semua aliran ada. Contoh pada agama islam, ada beberapa aliran juga, tapi dari semua aliran dasar ajarannya sama, yaitu mengenai shalat, puasa, naik haji, dsb.
Jadi bisakah saya diajari dasar dari ajaran Buddha sendiri? Apakah yg harus saya tau terlebih dahulu untuk bisa tau ajaran2 dalam tingkatan yg lebih jauh?

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #3 on: 27 September 2015, 03:59:54 PM »
Hallo semua, saya member baru di sini, dan saya sangat senang bisa bergabung.
Terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri saya secara singkat.

Saya wanita berusia 22 Tahun, saya adalah seorang mahasiswi Psikologi di Kalimantan Timur. 3 tahun terakhir saya mulai mempertanyakan tentang ajaran agama saya, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang Agnostik (percaya akan kekuasaan Tuhan, tapi memutuskan untuk tidak beragama). Keputusan yg saya ambil bukan karena hasutan orang lain, tapi karena keinginan saya sendiri. Saya mempunya kitab dari 2 agama yg berbeda, saya membaca kedua kitab tersebut. Tapi saya tidak menemukan apa yg saya cari di sana.

Awal tahun 2014 saya iseng browsing tentang karma dalam ajaran Buddha. Sebagai orang awam yg tidak tau mengenai ajaran Buddha saya hanya tau bahwa hukum karma adalah pembalasan, tapi setelah saya baca di website yg membahas tentang karma ternyata karma itu ada banyak, dan lebih spesifik. Berawal dari situ saya mulai mencari tentang ajaran Buddha (hanya mengandalkan google) hingga pertengahan 2014 saya menemukan website ini, saya menjadi silent reader selama hampir setahun. Hingga akhirnya ada keinginan besar dalam diri saya untuk belajar ajaran Buddha. Jika ada yg bertanya apa yg membuat saya tertarik? Jujur saya hanya tau sedikit, sangat sedikit mengenai ajaran Buddha, dari apa yg saya baca, saya hanya menangkap melalu persepsi saya sendiri (tanpa adanya bimbingin dari yg tau), dari yg selama ini saya baca ajaran Buddha menurut saya realistis, logika saya bisa menerimanya. Bukan bermaksud membandingkan dengan agama orang tua saya, tetapi agama saya dulu membuat saya terus bertanya tanpa mendapatkan jawaban yg masuk akal, ketika saya mempertanyakan sesuatu pada orang yg ahli inti, dari jawabannya adalah "itu adalah kuasaNya, tidak ada jawaban" seperti itu.

Saya tidak punya teman atau kenalan yg mengikuti ajaran Buddha, saya ingin belajar karena saya ingin, bukan karena orang lain.
Seperti judul yg saya tulis, saya ingin belajar, dan saya meminta bantuan dari teman-teman. Karena menurut saya, jika saya belajar sendiri berdasarkan apa yg saya baca di google, saya takut jika pemahaman saya melenceng dari maksud sebenarnya, maka saya butuh bimbingan.
Saya belum pernah ke Vihara, karena saya tidak mengerti apa yg harus saya lakukan di Vihara, harus bertemu siapakah saya, apa yg harus saya katakan pada orang yg pertama kali saya temui di Vihara.
Saya mohon bantuannya untuk membantu saya belajar basic dari ajaran Buddha, seperti halnya mengajari anak kecil, dari hal yg paling mudah untuk dipahami.

Terima Kasih, mohon bantuannya.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta  _/\_


Welcome to DC, sis :)

Untuk awal pengenalan tentang Buddhisme, bisa membaca buku Pertanyaan Baik Jawaban Baik oleh Bhikkhu S. Dhammika yg berisi pertanyaan2 yg sering ditanyakan ttg agama Buddha: http://dhammacitta.org/dcpedia/Pertanyaan_Baik_Jawaban_Baik_(Dhammika)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline vermouth

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 6
  • Reputasi: 1
  • Gender: Female
  • What goes around, comes around
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #4 on: 27 September 2015, 04:48:19 PM »
Wah, terima kasih ya.
Bisa menjadi refrensi saya. Terima kasih bangak sist.  ;)

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #5 on: 28 September 2015, 09:39:21 AM »
Bila ingin belajar agama Buddha mesti mengetahui dulu latar belakang nya dari kelahiran bodhisatva sidartha gautama sampai penerangan sempurna, hingga Buddha pari nibbana,

Kemudian sutta yang patut mendapat perhatian adalah sutta yang di babarkan pertamakali ke pada 5 pertapa setelah menjadi Buddha yaitu "DhammaCakkaPavatana Sutta".


Wa mengatakan sebagai sutta yang penting karena semua sutta yang lain bisa dikatakan penjabaran, penjelasan dan uraian dari sutta ini.

Tentu nya seiring perjalanan ada sutta sutta yang mungkin mempunyai pengaruh bagi pribadi anda, banyak sutta membutuhkan pembacaan berulang ulang untuk mengerti artinya juga bagaimana di lakukan pada keseharian anda dan membandingkan sutta tersebut dgn keseharian anda.
« Last Edit: 28 September 2015, 09:51:14 AM by kullatiro »

Offline hari_sio

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #6 on: 28 September 2015, 01:49:36 PM »
Mengapa Berbuat Baik?

Analogi Garam dan air. Seseorang mungkin akan bertanya “Mengapa
saya harus berbuat baik? Apakah tidak cukup jika saya tidak berbuat jahat
atau menyakiti yang lain?” Pada kehidupan lalu kita yang tidak terhitung
jumlahnya, kita telah mengumpulkan banyak kamma buruk yang memiliki
kecenderungan mendatangkan banyak masalah dalam kehidupan
sekarang ini. Buddha mengajarkan bahwa jalan untuk mengurangi akibat
kamma buruk masa lampau adalah dengan melakukan banyak kamma
baik dalam kehidupan sekarang. Buddha mengibaratkan kamma buruk
dengan segumpal garam dan kamma baik dengan air. Jika segumpal garam
dituangkan ke secangkir air, maka air tersebut akan menjadi asin. Tetapi
jika garam tersebut dituangkan ke air yang ada di sungai, keasinannya
berkurang banyak. Sama halnya dengan melakukan kamma baik sekarang
ini meringankan akibat kamma buruk masa lampau, kecuali kamma buruk
yang sangat berat seperti membunuh orang tua kita.
Analogi pencurian. Lebih lanjut, Buddha berkata bahwa tindakan jahat
yang ringan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki timbunan
kebajikan dalam perbuatan, pikiran dan kebijaksanaan akan mengakibatkan
kelahiran di alam rendah. Jika seseorang memiliki timbunan kebajikan
dalam perbuatan, pikiran dan kebijaksanaan, melakukan tindakan yang
sama, akibat buruk akan berbuah di dalam kehidupan sekarang dan
tidak harus menunggu setelah meninggal. Sama halnya dengan kasus
seorang miskin yang dipenjarakan karena mencuri 1, 10, atau 100 dollar,
sedangkan seorang yang kaya dan berkuasa tidak dipenjarakan untuk
kasus pencurian yang sama.
Manfaat memberi. Terdapat banyak manfaat dari memberi yaitu: seseorang
disukai dan disenangi oleh orang banyak; disenangi oleh mereka yang luhur dan bijaksana; berita baik tentang orang tersebut menyebar luas;
lebih percaya diri menghadiri pertemuan; memperoleh kelahiran kembali
yang baik. Di samping berbuat baik sendiri, kita mendorong, menyetujui
atau memuji tindakan berbuat baik orang lain, maka lebih banyak jasa
kebajikan yang didapatkan.

Kriteria Untuk Tindakan

Dalam sebuah sutta (M.N. 61), Buddha menasehati kita untuk merenung
terhadap kamma. Beliau berkata bahwa sebelum kita melakukan kamma
apapun, kita harus merenung apakah itu akan merugikan seseorang.
Apabila itu merugikan makhluk lain, atau diri kita sendiri, kita seharusnya tidak melakukannya. Tetapi, apabila itu bermanfaat bagi makhluk hidup
lain, atau diri kita sendiri, maka kita seharusnya melakukannya, dan
melakukannya terus menerus.
Bahkan ketika sedang melakukan kamma, Buddha berkata bahwa kita juga
seharusnya merenung. Dalam proses melakukan Kamma, kita seharusnya
merenung seperti demikian, “Apakah yang saya lakukan sekarang benar
atau salah? Jika benar, saya akan melanjutinya. Jika salah, saya akan
berhenti segera mungkin.” Setelah tindakan dilakukan, kita harus kembali
merenung, dan berpikir dengan cermat apa yang telah kita lakukan –
kemarin, atau tiga hari yang lalu, atau seminggu yang lalu, atau sebulan
yang lalu. Kita merenung apakah tindakan tersebut benar atau tidak, dan
apakah kita seharusnya melakukannya atau tidak. Ketika kita merenung
terhadap tindakan kita dengan cara sedemikian, kita akan menjalankan
kehidupan mahir, dan kita akan menghindari diri dari penderitaan yang
dapat dielakkan.
Kriteria lainnya yang baik untuk menentukan apakah kamma itu baik,
dan seharusnya dilakukan atau apakah itu kamma buruk yang tidak
seharusnya dilakukan, adalah, menurut Buddha, apakah kamma tersebut
menuntun pada meningkatnya, atau berkurangnya keadaan mental
yang bajik; ataupun berkurangnya atau meningkatnya keadaan mental
yang tak bajik. Dalam diri anda maupun yang lainnya. Apabila kamma
membawakan peningkatan keadaan mental yang bajik, atau pengurangan
keadaan mental yang tak bajik, dalam diri orang lain atau diri kita, maka
itu adalah kamma baik yang seharusnya dilakukan terus menerus.
Apa itu keadaan bajik? Keadaan bajik adalah keadaan mental yang baik,
keadaan mental yang bahagia, misalnya, ketidak-terikatan, itikad baik,
ketenangan, dan keseimbangan batin. Keadaan mental yang bajik ini
memberikan kita kedamaian, kebahagiaan.
Keadaan mental yang tidak bajik adalah keadaan yang membuat kita
gelisah, tidak bahagia, misalnya ketamakan, kemarahan, kegelisahan, iri
hati, kesombongan. Kamma buruk atau kamma tak bajik menuntun pada berkurangnya keadaan bajik atau meningkatnya keadaan tak bajik. Kita
harus menghindar dari pelaksanaan kamma jenis ini.


Terdapat sebuah Sutta yang sangat penting (A.N.5.43) dimana Buddha
berkata bahwa ada beberapa hal di dunia yang diinginkan setiap
orang namun sulit untuk diperoleh, yakni, terlahir menawan, memiliki
kebahagiaan, berkedudukan, berumur panjang, dan memiliki kelahiran
kembali yang baik setelah meninggal dunia. Buddha berkata bahwa hal-hal ini tidak
dapat diperoleh lewat doa dan sumpah, atau bahkan dengan cara sering-sering
memikirkannya sehari-hari -  jika saja semuanya dapat
diperoleh dengan cara demikian, mengapa makhluk hidup menderita di
hidup ini? Kita mengetahui adanya makhluk yang tak terukur jumlahnya
di alam yang penuh penderitaan, berteriak meminta pertolongan dengan
sia-sia

Ini adalah titik yang sangat penting : Jika doa dan sumpah sendiri dapat
memberikan kita hal-hal yang kita inginkan, lalu mengapa terdapat
penderitaan di dunia ini? Kita sebutkan sebelumnya tentang murid yang
berusaha mendapatkan sepuluh A tanpa belajar, dan sebaliknya berdoa
dan bersumpah, dan pergi dari satu dewa ke dewa lainnya. Murid ini tentu
saja tidak akan pernah mendapatkan sepuluh A.
Jadi Buddha berkata bahwa kita harus berjalan di jalur yang membawakan
kita hal-hal yang kita inginkan. Ini berarti apabila kita menginginkan
umur panjang, maka kita tidak seharusnya membunuh. Jika anda tidak
membunuh, maka anda bahkan tidak perlu berdoa karena umur panjang
akan datang secara alamiah. Jika anda ingin terlahir menawan, bersikaplah
ramah-tamah, jangan marah. Jika anda menginginkan kebahagiaan,
berilah kebahagiaan, dan anda pantas mendapatkan kebahagiaan.

Ada Sutta lainnya yang juga penting (S.N. 42.6) dimana kepala dari suatu
desa datang untuk berbicara pada Buddha. Kepala desa tersebut berkata
pada Buddha bahwa di sana di sebelah Barat terdapat kumpulan Brahmana
yang memiliki tradisi yang aneh. Di samping tradisi memikul air, mandi di
air untuk memurnikan diri mereka dan memuja api, ketika sanak keluarga
mereka meninggal dunia, mereka segera membawa jasad tubuh keluar
dari rumah, dan merentangkan jasad tersebut tinggi-tinggi di udara. Jasad
tersebut dihadapkan ke langit, dan mereka meneriaki nama dari orang
yang meninggal tersebut, dan menunjukkan dia jalan ke surga. Mereka
percaya karena jasad tersebut menghadap langit, yang meninggal dapat
melihat langit, dan ketika mereka meneriaki rohnya, secara otomatis,
rohnya akan naik ke surga. Lalu kepala desa berkata mungkin Buddha
(yang memiliki kekuatan supranormal) dapat membawa setiap orang yang
telah meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam surga. Ini adalah
pertanyaan yang menarik karena bahkan sampai pada era yang modern
ini, orang-orang tertentu masih mempercayai Buddha dapat membantu kita untuk terlahir kembali di alam surga.

Jadi Buddha membalas dengan memberikan satu pertanyaan terlebih
dahulu pada kepala desa tersebut. Beliau berkata andaikan seorang pria
datang menuju ke tepi danau yang sangat dalam, dan memegang sebuah
batu besar yang berat di kedua tangannya, dan kemudian melemparnya ke
tengah danau. Sekarang, dikarenakan batunya mulai tenggelam ke dalam
air, semua orang ramai berdatangan dan berteriak pada batu tersebut,
dan memuji batu itu, dan meminta batu tersebut untuk mengapung di
permukaan dan mengapung menuju tepian.
Selanjutnya Buddha bertanya pada kepala desa tersebut apakah batunya
dapat mengapung. Kepala desa tersebut menjawab bahwa itu tidak
mungkin karena batunya berat, secara alamiah akan tenggelam ke dalam
air. Jadi Buddha berkata, dengan cara yang sama, andaikan seseorang telah
melakukan banyak kejahatan, dia telah membunuh, mencuri, berasusila,
berbohong, dan sebagainya. Ketika dia meninggal dunia (dan kamma
buruknya menarik dia ke bawah), orang ramai berdatangan dan meneriaki
dia untuk pergi ke surga; mungkinkah ia dapat pergi ke sana? Kepala desa
tersebut menjawab itu tidak mungkin karena ia telah banyak melakukan
kejahatan; sama kasusnya dengan batu tersebut, dia akan tenggelam
menuju kelahiran kembali yang buruk.
Kemudian Buddha berkata andaikan seseorang lainnya datang ke tepian
danau yang dalam. Dia mengambil secangkir minyak dan melemparkan
secangkir minyak itu ke tengah danau. Cangkirnya akan tenggelam tetapi
minyaknya, karena ringan, akan mengapung di permukaan. Dikarenakan
minyaknya mengapung di permukaan, orang berdatangan dan meneriaki
minyaknya untuk tenggalam ke dalam air. Mungkinkah minyak tersebut
dapat tenggelam? Kepala desa menjawab itu tidak mungkin karena
minyaknya ringan, dan secara alami akan mengapung. Buddha kemudian
berkata, dengan cara yang sama, andaikan seseorang telah melakukan
banyak kebajikan, tidak pernah melukai makhluk hidup, dan ketika
saatnya tiba dia meninggal dunia. Jika banyak orang berdatangan dan
berteriak, dan mengutuknya pergi ke neraka, mungkinkah ia dapat pergi ke neraka? Kepala desa menjawab itu tidak mungkin karena dia adalah
orang yang baik. Secara alamiah dia akan pergi ke surga, diangkat oleh
kamma baiknya sendiri.
Dengan menjawab pertanyaan ini, kepala desa memahami apa yang
dimaksudkan Buddha, yakni Buddha tak dapat menolong kita. Apakah kita
mengapung atau tenggelam, adalah tergantung pada kamma kita. Itulah
sebabnya mengapa ajaran Buddhis berbeda dengan ajaran lainnya, dengan
kata lain Buddha tidak berkata bahwa dengan menjadi seorang Buddhis,
anda dijaminkan suatu tempat di surga. Tidak ada pilih kasih. Apakah
anda pergi ke surga atau tempat manapun, tergantung pada kamma anda
sendiri. Kita tidak dapat menyuap surga untuk membukakan pintu bagi
kita – ini adil.

Offline hari_sio

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #7 on: 28 September 2015, 02:16:25 PM »
BAHAYA, KEBODOHAN DAN KEBURUKAN DARI KESENANGAN
DUNIAWI.

Bahaya
Bahaya dari kesenangan duniawi adalah membawa pada nafsu keinginan
yang lebih dan lebih lagi. Ketika api nafsu seseorang membara, keinginan bahkan meningkat lebih drastis daripada berkurang. Kesenangan duniawi
juga tidak abadi tetapi akan berakhir suatu hari nanti ketika timbunan
kebajikan seseorang telah habis.
Kebodohan
Kebodohan atau kesia-siaan dari kesenangan duniawi adalah nafsu yang
tidak pernah terpuaskan. Makhluk hidup yang terbenam dalam kesenangan
duniawi hanya memiliki satu sisi pandangan dari kehidupan yaitu hanya
yang menyenangkan saja. Dengan tidak menyadari akan adanya alam
kelahiran kembali yang menyedihkan yang menanti mereka, mereka
tidak melihat kemendesakan untuk mengembangkan kebajikan, dengan
melakukan perbuatan bajik dan menghindari kejahatan atau berusaha
membebaskan diri dari lingkaran kelahiran kembali, sebaliknya mereka
terus menghabiskan kebajikan yang telah mereka tanam. Suatu hari nanti
ketika kebajikan mereka telah habis, mereka akan jatuh dari alam surga
menuju alam keberadaan yang lebih rendah.
Keburukan
Perumpamaan penyakit leper. Keburukan dari kesenangan duniawi adalah
merupakan sebuah ‘penyakit’. Buddha memberikan perumpamaan yang jelas
tentang makhluk hidup yang menderita penyakit leper.20 Luka di tubuhnya
sangat gatal sehingga dia harus menggaruk sampai tubuhnya berdarah,
terinfeksi dan membusuk. Tetapi ini saja belum cukup. Dia harus mencari
beberapa bara api yang digunakannya untuk membakar lukanya. Barulah
kemudian dia menemukan kelegaan. Tetapi semakin dia menggaruk dan
membakar lukanya, semakin berdarah, terinfeksi dan membusuk jadinya,
masih saja dia terus melakukannya karena dia mendapatkan kepuasaan
dalam ukuran tertentu. Garukan dan pembakaran seperti itu pada orang
yang sehat hanya akan mengakibatkan kesakitan dan penderitaan yang
besar. Sedangkan penderita leper hanya mengenalinya sebagai kesenangan
saja.
Nafsu Keinginan mengakibatkan rasa sakit dan penderitaan. Makhluk hidup
sama seperti leper, kata Buddha. Mereka diserang dengan penyakit nafsu akan kesenangan duniawi, terbakar dengan bara kesenangan duniawi,
dan mencari kepuasaan. Tetapi semakin banyak mereka terbenam dalam
kesenangan duniawi, mereka akan semakin berpenyakit. Api nafsu mereka
menjadi lebih besar bukannya mereda. Jadi mereka akan terus terbakar
oleh api nafsu keinginan, tanpa mengenali sakit dan penderitaan yang
mereka jalani.

Tidak ada jaminan, bahkan bagi makhluk-makhluk alam surga sekalipun.
Untuk makhluk-makhluk yang berada di alam surga lingkup indera,
walaupun kehidupan mereka nampaknya lebih lama dari kita, mereka
berpikir itu pendek ketika akhir kehidupan datang karena mereka belum
cukup menikmatinya. Mereka mengetahui ketika kematian sudah dekat
dengan adanya tanda-tanda tertentu, seperti keringat yang keluar
dari ketiak mereka, kecemerlangan mereka memudar, dan lain-lain,
mereka menjadi sangat khawatir dan gelisah. Kematian mereka biasanya
disebabkan oleh habisnya jasa kebajikan atau matangnya kamma buruk
yang berat. Tetapi kadang-kadang juga dapat dikarenakan lupa makan, terlalu terbenam dalam kesenangan sensual, atau marah yang luar biasa.
Kebanyakan dari makhluk-makhluk ini meninggal dengan tidak puas,
dengan ambisi yang tidak terpenuhi. Lalu mereka akan terlahir kembali di
alam keberadaan yang lebih rendah.
Penderitaan yang tidak dapat dikatakan, kehidupan demi kehidupan. Ketika
seseorang terjatuh dari alam surga, pada umumnya memerlukan waktu
yang sangat panjang sebelum dia bisa terlahir di alam surga lagi. Ini karena
nafsu yang sangat besar dari makhluk hidup yang secara alami membuat
mereka melakukan kejahatan. Sehingga mereka terus berputar di dalam
lingkaran kehidupan, biasanya di alam lingkup indera, dan khususnya di
alam sengsara. Penderitaan yang tak terkatakan dialami kehidupan demi
kehidupan. Sedikit manusia dan mahkluk surgawi setelah meninggal akan
terlahir di alam manusia atau alam surga, kebanyakan akan terjatuh di alam
sengsara. Sedikit makhluk di alam sengsara akan terlahir di alam manusia
dan alam surga, kebanyakan akan terlahir kembali di alam sengsara.


PELEPASAN KEDUNIAWIAN

Buddha berkata kita telah melewati kehidupan yang tidak terkira
banyaknya di lingkaran kehidupan, dan air mata yang sudah kita cucurkan
dalam kesakitan dan penderitaan lebih banyak dari air yang ada di empat
samudera. Suatu hari nanti kita akan menyadari satu-satunya jalan untuk
membebaskan diri dari lingkaran ketidakpuasan ini adalah dengan melepas
semua nafsu kesenangan duniawi.
Perumpamaan empat kuda keturunan murni. Terdapat empat jenis
kuda keturunan murni di dunia. Tipe yang pertama akan merasakan
kegelisahan dan siap untuk beraksi segera setelah bayangan tongkat penghalau kelihatan. Tipe yang kedua tidak bergerak pada penglihatan
yang sedemikian tetapi menjadi gelisah dan siap untuk pergi hanya setelah
kulitnya dicambuk. Tipe yang ketiga tidak siap untuk pergi bahkan setelah
dicambuk dengan tongkat penghalau tetapi hanya setelah dagingnya
ditusuk. Tipe yang keempat masih tidak akan pergi setelah dagingnya
ditusuk tetapi hanya setelah ditusuk sampai ke tulang.
Demikian juga, kata Buddha, terdapat empat jenis manusia luhur di dunia ini.
Yang pertama, ketika dia mendengar penderitaan atau kematian seseorang,
dia akan menjadi khawatir dan menyadari penderitaan dan kematian akan
dialaminya juga. Jadi dia melepaskan semua keterikatan duniawi untuk
memempuh jalan suci. Tipe yang kedua siap untuk melepaskannya hanya
ketika dia melihat dengan matanya sendiri penderitaan atau kematian
seseorang. Ini mengejutkannya dan membuatnya melihat ketidakkekalan
dari kehidupan. Tipe yang ketiga masih belum melepaskan duniawi ketika
dia mendengar atau melihat penderitaan atau kematian seseorang, tetapi
hanya ketika kerabatnya sendiri menderita atau mati, rasa sakit dan
kesedihan membuatnya melihat kenyataan. Tipe yang keempat masih
belum berkeinginan melepaskan duniawi sampai dia sendiri menjadi sakit
dengan penyakit yang serius yang menyengsarakannya ke ujung kematian.
Hanya ketika itulah dia disadari dan siap untuk melepaskan keduniawian.
Yang menjadi catatan penting disini adalah bahwa apa yang membuat
makhluk hingga akhirnya bangun dan berpaling dari keduniawian adalah
kesakitan dan kesedihan.

Pelepasan keduniawian. Jadi orang demikian tersebut, patah hati dan sakit
hati, memulai untuk melepaskan duniawi dan nafsu duniawi. Buddha
berkata tidak ada seorang pun yang dapat membebaskan dirinya dari
lingkaran kehidupan sementara berada di tengah-tengah kesenangan
duniawi, menikmati kesenangan duniawi, tanpa melepaskan nafsu
keinginan terhadap kesenangan duniawi.25 Pertama, dia mungkin tidak siap
untuk melepaskan keduniawian dalam kehidupan tanpa rumah. Dia boleh
tinggal di rumah tetapi menjauhkan diri dari tindakan seksual dan urusan
dunia. Dia mulai melatih kehidupan suci di rumah. Dan suatu hari nanti dia akan menyadari kebenaran dari kata-kata Buddha bahwa : “adalah sulit
menempuh kehidupan suci semurni dan sekilat kulit kerang di rumah.
Barulah kemudian dia melepaskan keduniawian dalam kehidupan tanpa
rumah untuk melatih jalan itu. Dan suatu hari nanti setelah sekian banyak
usaha yang tekun, dia akan menyadari untuk dirinya sendiri secara
langsung Kebenaran Mulia yang dinyatakan oleh Buddha.

KEBENARAN MULIA YANG PERTAMA : DUKKHA

“Segala keberadaan adalah Dukkha.” Ini adalah Kebenaran Mulia pertama
yang dinyatakan oleh Buddha. Dukkha sering diterjemahkan sebagai
ketidakpuasan, penderitaan atau kesedihan. Ia melampaui semua arti
ini dan karena kurangnya kata-kata terjemahan yang tepat, kita terus
menggunakan ‘dukkha’, arti-nya akan menjadi lebih jelas dibawah ini.
Kemunculan tubuh jasmani dan batin berarti kemunculan dukkha.
 Tidak ada suatu keberadaan-pun tanpa dukkha. Perbedaan antara seorang Ariya
dan orang yang biasa adalah bahwa Ariya hanya mengalami penderitaan
pada tubuh jasmani sedangkan orang biasa mengalami penderitaan tubuh
jasmani dan batin.

Aspek-Aspek Dari Dukkha

- Existensi/keberadaan menandakan munculnya kehidupan, yang
berarti hadirnya kekuatan hidup atau energi. Energi merujuk pada
pergerakan, perubahan, dan kegelisahan. Demikianlah, karena
pergerakan dan perubahan yakni ketidakkekalan, semua makhluk
menjadi subjek dari proses kelahiran, usia-tua, kesakitan dan
kematian yang terus-menerus.
Kelahiran adalah Dukkha. Bayi mengalami ketidak-nyamanan dan
bergerak dalam kandungan dan lahir di dunia adalah suatu hal yang
mengejutkan. Usia tua adalah Dukkha. Kesakitan adalah Dukkha.
Kematian adalah Dukkha. Tidak ada makhluk yang memiliki
kehidupan yang kekal abadi. “Segala sesuatu yang muncul adalah
subjek dari penghentian.” Ini adalah ajaran dasar dari Buddha.

- Makhluk hidup merasakan ketidak-nyaman. Kita tidak dapat
mempertahankan posisi tubuh kita untuk waktu yang lama, apakah
berdiri, berjalan, duduk atau tidur. Kita perlu secara terus-menerus
mengubah posisi. Ini juga adalah dukkha.

- Menyesali tentang masa lampau adalah dukkha. Mengkhawatirkan
tentang masa depan adalah dukkha.

- Tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah dukkha. Memiliki
 apa yang tidak disukai adalah dukkha. Tidak cukup memiliki apa
 yang diinginkan adalah dukkha. Memiliki apa yang diinginkan
 tetapi tidak cukup lama adalah dukkha.

- Melekat pada kenikmatan indera yang tidak bisa terpuaskan adalah
 dukkha.

- Menjadi subjek kepada suasana hati kita yang senantiasa berubah
adalah dukkha. Selalu merasa gelisah juga adalah dukkha.

- Tidak merasa puas sebagaimana layaknya adalah dukkha.

- Bahkan kebahagiaan dan kesenangan pada hakikatnya dukkha
karena bersifat sementara.

- Karena ketidakkekalan, maka ada perpisahan dengan yang dicintai.
Ini adalah Dukkha. Buddha berkata bahwa yang dicintai membawa
kesakitan dan kesedihan, sementara bertemu dengan musuh-musuh
juga adalah dukkha.

KEBENARAN MULIA KEDUA : PENYEBAB

“Sebab dari Dukkha adalah nafsu keinginan.” Ini adalah Kebenaran Mulia
kedua yang dinyatakan oleh Buddha.
“Dari nafsu keinginan timbullah kesedihan, dari nafsu keinginan timbullah
ketakutan. Kepada dirinya yang telah terbebas sepenuhnya dari nafsu
keinginan, tiada lagi kesedihan terlebih ketakutan.”

Nafsu keinginan yang tidak terpuaskan. Kegelisahan yang alami dari
makhluk hidup membuat mereka tidak puas dan mereka menginginkan
untuk memuaskan nafsu mereka melalui indera-indera.
Ketika makhluk meninggal dengan tidak puas, bara api nafsu tidak terpadamkan
dan hasrat untuk hidup masih ada. Demikian
kelahiran kembali terjadi dan lingkaran kehidupan terus berlanjut.

KEBENARAN MULIA YANG KETIGA : PENGHENTIAN

“Ada sebuah kondisi dari berakhirnya dukkha yang disebut nibbàna.” Ini
adalah Kebenaran Mulia ketiga yang dinyatakan oleh Buddha.
Nibbàna secara harfiah diartikan pemadaman, dan hanya satu-satunya
kondisi bebas dari dukkha. Nibbàna dapat dialami dalam kehidupan
sekarang, atau setelah meninggal yang sering disebut parinibbàna.
Sementara keberadaan, yang terkondisi karena sebab-sebab, adalah tidak
kekal dan dukkha, nibbàna adalah tidak terkondisi, abadi dan sukha.
Segala sesuatu yang berkondisi mempunyai karakteristik untuk muncul,
berubah, dan berakhir, tetapi Nibbàna adalah tanpa dilahirkan, tanpa
berubah dan tanpa kematian. Ini adalah keadaan yang unik.

Buddha menyatakan “Nibbàna adalah kebahagiaan yang tertinggi” bahkan
walaupun adanya penghentian segala persepsi dan perasaan ketika
seseorang mengalami pencapaian nibbàna. 
Tidak seperti orang biasa yang bergantungan pada hal-hal yang bersifat
duniawi untuk merasakan kebahagiaan, Tathàgata mengenali Nibbàna
sebagai kebahagiaan tertinggi

Parinibbàna. Ketika mencapai parinibbàna, tidak ada sesuatu yang
diabadikan maupun dibinasakan karena bahkan disini dan sekarang
dalam kehidupan ini juga tidak ada inti dari sesuatu pribadi yang kekal,
tubuh jasmani dan batin adalah keadaan yang terus berubah. Buddha
menyamakan pencapaian parinibbàna dengan api yang menyala yang
tergantung pada rumput dan ranting, yang dipadamkan ketika mereka
tidak ada. Untuk bertanya apakah api tersebut telah pergi ke utara,
selatan, timur atau barat, tidak cocok dengan kasus ini. Sama halnya
ketika bertanya apakah dalam pencapaian parinibbàna, sesuatu makhluk
dilahirkan kembali, tidak dilahirkan kembali, dilahirkan kembali dan tidak
dilahirkan kembali, bukan dilahirkan kembali maupun tidak dilahirkan
kembali juga tidak cocok dengan kasus ini. Hanya seperti api yang terus
berlanjut membakar karena rumput dan ranting-ranting, begitu juga
makhluk hidup berlanjut berputar di dalam lingkaran existensi karena
ketamakan, kebencian dan kebodohan. Nibbàna dicapai dengan lenyapnya
noda-noda (kilesa) secara keseluruhan, pelenyapan pribadi yang kekal,
yang bersifat khayalan, dan pemusnahan ketamakan, kebencian dan
kebodohan. Ini adalah pembebasan yang sempurna dari dukkha.

KEBENARAN MULIA YANG KEEMPAT : JALAN

“Ada jalan yang disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan yang menuntun
pada penghentian dukkha.” Ini adalah Kebenaran Mulia keempat yang
dinyatakan oleh Buddha.

Jalan Mulia Berunsur Delapan
1. Pandangan Benar
2. Pikiran Benar
3. Ucapan Benar
4. Perbuatan Benar
5. Penghidupan Benar
6. Usaha Benar
7. Perenungan Benar
8. Konsentrasi benar





“Untuk jangka waktu yang lama, para bhikkhu, kalian telah mengalami
kematian ibu, putra, putri, kalian telah mengalami kehilangan sanak
keluarga, kekayaan, bencana penyakit. Jauh lebih banyak tetesan air mata
yang kalian tangisi dan cucurkan untuk salah satu dari hal-hal ini, ketika
kalian berjalan dan berputar di hari-hari yang panjang ini, berkumpul
dengan yang tidak disenangi, berpisah dengan yang disenangi, daripada air
di empat lautan.
Mengapa demikian? Awal yang tidak terhitung, para bhikkhu, dari perjalanan
ini, dari perjalanan makhluk-makhluk yang diselimuti oleh ketidaktahuan,
dibelenggu oleh keinginan. Demikian cukuplah, para bhikkhu, bagi kalian
untuk menjauhi semua hal-hal di dunia ini, cukup untuk menghilangkan
nafsu keinginan terhadap mereka, cukuplah untuk terbebaskan dari
mereka.”
- Buddha, Saÿyutta Nikàya Sutta 15.3
« Last Edit: 28 September 2015, 02:20:34 PM by hari_sio »

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #8 on: 29 September 2015, 06:50:58 PM »
Wah, terima kasih ya.
Bisa menjadi refrensi saya. Terima kasih bangak sist.  ;)

Actually, I'm your brother ;D
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Alucard Lloyd

  • Sebelumnya: a.k.agus
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 529
  • Reputasi: 13
  • Gender: Male
  • buddho
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #9 on: 30 September 2015, 01:58:31 PM »
ajaran buddha lebih cocok tidak dikotakkan menjadi sebuah agama.
belajar ajaran buddha juga harus bisa membedakan mana yang buddha ajarakan atau tradisi budhist.
pembimbing kita sudah jelas buddha,dhamma dan sanggah.
aliran buddhist terletak pada sanggah yang kita pilih sebab ini lah yang berbau tradisi budhist.
Agama ku tidak bernama
Karena guru ku telah parinibbana
Yang tertinggal hanyalah dahmma
Agar aku dapat mencapai nibbana

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.431
  • Reputasi: 133
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Ingin belajar ajaran Buddha. Mohon bantuannya.
« Reply #10 on: 30 September 2015, 06:14:23 PM »
Dear sis vermouth,

Untuk pemula, barangkali bisa mulai membaca riwayat hidup Buddha Gotama.

Bagi saya cerita ini sangat menarik, karena di zaman yang serba materialistik sekarang ini, kisah ini cukup mengherankan. Kenapa ada seorang pangeran yang sudah memiliki harta dan kekuasaan mau melepaskannya begitu saja untuk sesuatu yang sifatnya spiritual? Apa sih yang sebenarnya dicari oleh si pangeran ini?

Kalau di kepercayaan lain, tujuan hidup barangkali hanya sebatas melakukan kebaikan dengan memuliakan "Tuhan/Allah" dan masuk surga, lalu selesai. Tetapi ini tidak cukup memuaskan bagi sebagian orang, karena rasanya ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang hilang inilah yang sebenarnya dicari oleh si pangeran.

Apakah yang sebenarnya hilang? Yang hilang itu ada hubungannya dengan dukkha. Manusia siapapun mengalami lahir, tua, sakit, dan mati. Berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, tidak memperoleh apa yang diinginkan, dll.. Tampaknya kematian pun bukan akhir dari dukkha, karena setelah meninggal akan dilanjutkan lagi dengan kelahiran yang baru.

Setelah melalui perjuangan, akhirnya si pangeran menemukan obat dukkha. Lalu beliau mengajar makhluk lain untuk menempuh perjalanan yang sama untuk mengakhiri dukkha.
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-