Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Bagamana pengertian jodoh dalam agama Buddha?  (Read 13879 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline lily91

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Bagamana pengertian jodoh dalam agama Buddha?
« on: 17 September 2015, 11:38:16 AM »
Namo Buddhaya  _/\_

Saya ingin bertanya, sebenarnya bagaimana konsep jodoh dalam pengertian agama Buddha?
Ada yang bilang "Jodoh itu di tangan Tuhan", jadi seakan pasrah aja tunggu Tuhan yang berikan jodohnya. Tapi ada saja yang sudah tunggu tapi jodohnya gak pernah datang-datang, trus sampai tua hanya sendiri. Apakah dalam hal ini jodoh orang itu tidak ada, sehingga ia harus menjalani hidupnya sendiri?
Bagaimana dengan konsep jodoh dalam agama Buddha? apakah setiap orang sudah memiliki jodoh pasangan hidupnya sejak dia lahir? Atau karena karma perbuatan sehingga jodoh bisa berubah?
Ada pula pasangan yang sudah saling mencintai, hingga menjelang ajal mereka mengikat janji ingin menjadi suami istri lagi di kehidupan mendatang? mungkinkah hal tersebut terjadi?

Terima kasih.

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.431
  • Reputasi: 133
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Bagamana pengertian jodoh dalam agama Buddha?
« Reply #1 on: 17 September 2015, 03:10:40 PM »
Pertama-tama perlu dipahami bahwa "jodoh" bukanlah sejenis "takdir" yang sudah digariskan dari sananya.

Cukup perlu dipahami bahwa hubungan sebab-akibat sangat berperan dalam hal "jodoh". Apapun yang kita perbuat sebelumnya berakibat pada apa yang kita alami sekarang ini, dan apapun yang kita perbuat sekarang ini akan berakibat pada masa yang akan datang.

Kita sudah lahir dan mati berulang kali sampai tak terhitung lagi, dan selama kita lahir, hidup, sampai mati pastinya kita pernah berinteraksi dengan makhluk lainnya. Saya gunakan kata "makhluk" karena belum tentu wujudnya sebagai manusia. Bisa saja manusia dengan binatang, atau bisa saja dewa dengan dewa, atau hantu dengan hantu.

Nah selama berinteraksi dengan makhluk, pastinya ada emosi. Bisa emosi positif maupun negatif: sayang, kasihan, benci, marah, dll. Dan setiap kali muncul emosi, sebenarnya kita membuat suatu keputusan di bawah alam sadar untuk ingin berdekatan atau berjauhan dengan setiap makhluk yang kita temui.

Bisa dikatakan bahwa makhluk yang kita jumpai pada kehidupan saat ini adalah kelanjutan dari makhluk yang pernah kita temui di kehidupan sebelumnya. Bahkan Buddha pernah mengatakan bahwa "Sungguh sulit menemukan makhluk yang belum pernah menjadi ibumu, ayahmu, saudaramu, atau anakmu."

Referensi: Mata Sutta
http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn15/sn15.014.than.html

Oleh karena itu tidak perlu heran jika muncul perasaan tertentu setiap kita bertemu dengan seorang yang baru kita kenal. Perasaan itu bisa saja suka, tidak suka, atau netral.

Menurut pengalaman, saya sudah beberapa kali jatuh cinta, walaupun tidak semuanya pernah saya pacari apalagi saya nikahi.. hehehe.. Yang pasti saya merasakan adanya emosi yg kuat di antara saya dan dia setiap kali jatuh cinta. Tapi perasaan kuat yang saya rasakan ini belum tentu dia rasakan juga sama kuatnya. Nah di sinilah faktor yang mempengaruhi juga di antara hubungan antara saya dan dia.

Saya yakin inilah hasil interaksi antara saya dan dia di masa lampau. Saya tidak tahu (karena tidak ingat) hubungannya seperti apa saat itu, tapi yang pasti ada hubungannya. Hubungan saya dan dia juga pastinya tidak sesederhana itu, karena juga pasti ada hubungannya lagi antara saya dan keluarga saya saat ini dengan dia dan keluarganya saat ini.

Nah, pada saat muncul emosi tertentu di kehidupan saat ini, sebenarnya saya punya kesempatan lagi untuk membuat keputusan yang baru, yaitu apakah melanjutkan hubungan itu di kehidupan saat ini lagi atau tidak. Dan tentunya keputusan saya saat ini berpengaruh pada hubungan antara saya dan dia di masa depan dan di kehidupan selanjutnya.

1. Mengenai pernyataan "ada saja yang sudah tunggu tapi jodohnya gak pernah datang-datang", saya kurang setuju.

Alasannya selama kita berinteraksi dengan orang lain sehari-hari, sebenarnya kesempatan untuk berjodoh pada kehidupan saat ini sudah datang berkali-kali. Hanya saja kita yang membuat keputusan baru, apakah ingin ke tahap selanjutnya atau tidak. Keputusan ini tentunya berkaitan erat dengan ekspektasi kita untuk mencari pasangan dengan kriteria tertentu, entah penampilan fisik, latar belakang pendidikan, keluarga, ekonomi, pola pikir, dll. Biasanya sudah kita filter dulu dengan kriteria yang kita mau, sehingga kita merasa kok tidak ada jodoh yang datang. Jadi masalahnya hanya apakah kita memberi kesempatan untuk mengenal lebih lanjut tanpa terburu-buru menolak dia karena alasan tidak memenuhi kriteria yang kita buat sendiri.

2. Ada pula pasangan yang sudah saling mencintai, hingga menjelang ajal mereka mengikat janji ingin menjadi suami istri lagi di kehidupan mendatang? mungkinkah hal tersebut terjadi?

Saya yakin pasti ada. Contohnya adalah Bodhisatva Sumedha (calon Siddhartha) dan Sumitta (calon Yasodhara) selalu bertemu dan menjadi pasangan di dalam perjalanan mencapai ke-Buddha-an. Kalau contoh lainnya saya tidak tahu, tapi saya percaya itu ada walaupun mungkin hanya sebatas beberapa kehidupan.

Referensi:
http://truthbuddha.blogspot.tw/2012/03/kisah-petapa-sumeda.html

Catatan tambahan:

Saya baru menikah sekitar satu tahun. Yang saya alami selama setahun ini memperkuat pernyataan saya yang di awal bahwa "Apapun yang kita perbuat sebelumnya berakibat pada apa yang kita alami sekarang ini, dan apapun yang kita perbuat sekarang ini akan berakibat pada masa yang akan datang."

Menikah itu bukan jaminan bahwa "jodoh" itu bersifat jangka panjang dan pasti langgeng. Dalam pengertian bahwa hubungan itu juga perlu dipelihara melalui komitmen. Jika saya ingin punya hubungan baik untuk jangka panjang, maka setiap keputusan yang saya buat perlu diarahkan untuk mencapai tujuan hubungan jangka panjang.
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-