Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)  (Read 1378 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 33 sampai 58

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid keempat dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 33 sampai 58.<1>

33. [Kotbah tentang Bukan-Diri]<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapindika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Bentuk jasmani adalah bukan diri. Jika bentuk jasmani adalah diri, maka tidak seharusnya terjadi bahwa penyakit dan kesakitan muncul sehubungan dengan bentuk jasmani, dan tidak seharusnya ada harapan terhadap bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu. Karena bentuk jasmani adalah bukan diri, terdapat munculnya penyakit dan kesakitan sehubungan dengan bentuk jasmani dan seseorang mengharapkan bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, apakah yang kalian pikirkan, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak kekal, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Dukkha, Sang Bhagava.” [7c]

[Sang Buddha berkata]: “Apa yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, akankah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini menganggapnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata]: “Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semuanya adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Dengan cara ini ia seharusnya diselidiki. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagaimana adanya sebagai bukan diri dan bukan milik suatu diri. Setelah menyelidiki mereka sebagaimana adanya, ia tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

34. [Kotbah kepada Lima (Bhikkhu)]<3>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada [empat orang]<4> yang tersisa dari lima orang bhikkhu:<5> “Bentuk jasmani adalah bukan diri. Jika bentuk jasmani adalah diri, maka tidak seharusnya terjadi bahwa penyakit dan kesakitan muncul sehubungan dengan bentuk jasmani, dan seseorang tidak mengharapkan bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu.<6> Karena bentuk jasmani adalah bukan diri, terdapat munculnya penyakit dan kesakitan sehubungan dengan bentuk jasmani dan seseorang mengharapkan bentuk jasmani agar seperti ini dan bukan seperti itu.<7> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.<8>

“Para bhikkhu, apakah yang kalian pikirkan, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak kekal, Sang Bhagava.”<9>

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Dukkha, Sang Bhagava.”<10>

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, akankah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini menganggapnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”<11>

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagava.”<12>

[Sang Buddha berkata]: “Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.<13>

“Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semuanya adalah bukan diri dan bukan milik suatu diri. Dengan cara ini ia seharusnya diselidiki sebagaimana adanya.<14> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.<15>

“Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar melihat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milik suatu diri. Dengan menyelidiki mereka dengan cara ini, ia tidak melekat pada apa pun di seluruh dunia. Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [8a] [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”<16>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, melalui ketidakmelekatan sisa [empat orang] dari lima orang bhikkhu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka.<17> Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.<18>

35. [Kotbah kepada Tiga (Bhikkhu)]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Ceti di Kediaman Hutan Bambu [Timur].

Pada waktu itu terdapat tiga orang yang patut dihormati yang baru saja meninggalkan keduniawian, bernama Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Nanda, dan Yang Mulia Kimbila.

Pada waktu itu Sang Bhagava, yang mengetahui pemikiran dalam pikiran mereka, menasehati mereka: “Para bhikkhu, pikiran ini, batin ini, kesadaran ini seharusnya memikirkan ini dan tidak seharusnya memikirkan itu. Tinggalkanlah keinginan indera ini, tinggalkanlah bentuk jasmani ini, dan berdiamlah dengan sepenuhnya berkembang dalam realisasi langsung. Para bhikkhu, akankah terdapat suatu bentuk jasmani yang kekal dan tidak berubah, yang bertahan dengan mantap?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Bagus, bagus. Bentuk jasmani adalah tidak kekal dan bersifat berubah-ubah, ia untuk dikecewakan, ia memudar, melenyap, untuk ditenangkan dan musnah. Dengan cara ini bentuk jasmani, sejak awalnya, sepenuhnya adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah.

“Setelah memahaminya dengan cara ini, semua arus [kekotoran batin] yang berbahaya, membakar, dan kekhawatiran, yang bergantung pada bentuk jasmani muncul, akan ditinggalkan dan dilenyapkan sepenuhnya. Setelah ditinggalkan dan dilenyapkan, seseorang tidak terikat pada apa pun. Dengan tidak terikat pada apa pun, seseorang mencapai Nirvāṇa. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, melalui ketidakmelekatan tiga orang yang patut dihormati itu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka. Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

36. [Kotbah kepada Enam Belas (Bhikkhu)]<19>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Madhurā, Hutan Pohon Mangga Penahan Matahari di tepi sungai *Bhaddikā.<20>

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Berdiamlah dengan dirimu sendiri sebagai pulau, berdiamlah dengan bergantung pada dirimu sendiri; berdiamlah dengan Dharma sebagai pulau, dengan tiada pulau lain dan tiada ketergantungan yang lain.

“Para bhikkhu, dengan berdiam dengan dirimu sendiri sebagai pulau dan bergantung pada dirimu sendiri, dengan Dharma sebagai pulau dan bergantung pada Dharma, dengan tiada pulau lain dan tiada ketergantungan yang lain, kalian seharusnya menyelidiki hal ini: ‘Apakah sebab munculnya kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha? Mengapa empat hal ini ada?<21> Apakah sebabnya? Di manakah aku terikat oleh keterikatan?’

“Bagaimanakah seseorang menyelidiki diri sendiri sehubungan dengan munculnya kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang belum muncul, serta bertumbuh dan meningkatnya kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang telah muncul?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava adalah akar Dharma, mata Dharma, dan landasan Dharma. Semoga Beliau menjelaskannya. Setelah mendengarkannya, para bhikkhu akan menerimanya dengan hormat seperti yang dikatakan.”<22>

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: [8b] “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang Ku-katakan kepada kalian. Para bhikkhu, seseorang menyelidiki diri sendiri: dengan kelangsungan bentuk jasmani, bergantung pada bentuk jasmani, dan terikat dengan keterikatan pada bentuk jasmani, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang belum muncul menjadi muncul, dan [kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha] yang telah muncul tumbuh dan meningkat. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Para bhikkhu, apakah terdapat suatu bentuk jasmani yang kekal, bertahan [lama], dan tidak berubah, yang tetap kokoh?”

Mereka menjawab: “Tidak, Sang Bhagava.”<23>

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Bagus, bagus, para bhikkhu. Bentuk jasmani adalah tidak kekal. Jika seorang anggota keluarga memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal,<24> [bersifat] berubah-ubah, memudar, melenyap, untuk ditenangkan, dan musnah; ketika mengetahui bahwa bentuk jasmani sejak awalnya sepenuhnya tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah, maka kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan dukkha yang muncul bergantung pada bentuk jasmani ditinggalkan. Setelah meninggalkan mereka, seseorang tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, seseorang dengan gembira berkembang dalam kedamaian. Dengan gembira berkembang dalam kedamaian disebut telah padam.<25> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, dengan tidak memunculkan [kemelekatan] enam belas orang bhikkhu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka.<26> Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

37. [Kotbah tentang [Apa yang Dianggap Orang Tidak Bijaksana sebagai] Diri]<27>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Aku tidak berselisih dengan dunia; dunialah yang berselisih denganku.<28> Mengapa demikian? Para bhikkhu, jika seseorang berkata sesuai dengan Dharma, ia tidak berselisih dengan dunia. Apa yang dinyatakan orang bijaksana di dunia sebagai ada, Aku juga menyatakan ada.<29> Apakah yang dinyatakan orang bijaksana di dunia sebagai ada, yang juga Ku-nyatakan sebagai ada?

“Para bhikkhu, bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Orang bijaksana di dunia menyatakan ini ada, dan Aku juga menyatakan ini ada. Dengan cara yang sama perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Orang bijaksana di dunia menyatakan ini ada, dan Aku juga menyatakan ini ada.<30>

“Apa yang dinyatakan orang bijaksana di dunia tidak ada, Aku juga menyatakan tidak ada. Yaitu, bentuk jasmani yang kekal, bertahan [lama], dan tidak berubah, yang tetap kokoh; orang bijaksana di dunia menyatakan bahwa ini tidak ada, dan Aku juga menyatakan bahwa ini tidak ada. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran yang kekal, bertahan [lama], dan tidak berubah, yang tetap kokoh; orang bijaksana di dunia menyatakan ini tidak ada, dan Aku juga menyatakan ini tidak ada. Inilah yang disebut apa yang dinyatakan orang bijaksana di dunia tidak ada, yang juga Ku-nyatakan tidak ada.

“Para bhikkhu, terdapat fenomena duniawi di dunia yang juga Aku sendiri pahami dan merealisasikannya sendiri, dan yang Ku-analisis, jelaskan, dan perlihatkan kepada orang-orang. Mereka di dunia yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan tidak melihat ini, tetapi ini bukan kesalahan-Ku.

“Para bhikkhu, apakah fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami, merealisasikannya sendiri, [8c] yang Ku-jelaskan, analisis, dan perlihatkan kepada orang-orang, dan di mana mereka yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan melihat?

“Para bhikkhu,<31> bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah.<32> Ini disebut fenomena duniawi di dunia. Dengan cara yang sama perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, [dan bersifat berubah-ubah].<33> Ini adalah fenomena duniawi di dunia.

“Para bhikkhu, inilah yang disebut fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami dan merealisasikannya sendiri, yang Ku-analisis, jelaskan, dan perlihatkan kepada orang-orang, dan di mana mereka yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan tidak melihat. Apakah yang dapat Ku-lakukan tentang mereka yang buta dan tanpa penglihatan, yang tidak memahami dan tidak melihat?”<34>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

38. [Kotbah tentang Apa yang Rendah]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Orang-orang di dunia melalui aktivitas-aktivitas rendah mencari dengan berbagai cara atas kekayaan dan pencaharian, dan untuk menjadi kaya raya. Orang-orang di dunia mengetahui tentang semua ini.

“Seperti yang diketahui orang-orang di dunia, Aku juga berkata dengan cara ini. Mengapa demikian? Karena Aku tidak terpisah dari orang-orang di dunia.

“Para bhikkhu, seperti halnya sebuah bejana di mana orang-orang di satu tempat menyebut qiáncí, beberapa menyebutnya [mangkuk], beberapa menyebutnya bǐbǐluó, beberapa menyebutnya zhēliú, beberapa menyebutnya píxīduō, beberapa menyebutnya póshénà, beberapa menyebutnya sàláo.<35> Seperti yang diketahui oleh mereka, Aku juga berkata dengan cara ini. Mengapa demikian? Karena Aku tidak terpisah dari orang-orang di dunia.

“Dengan cara ini, para bhikkhu, terdapat fenomena [duniawi]<36> di dunia yang telah Aku sendiri pahami dan merealisasikannya sendiri, dan yang Ku-analisis, jelaskan, dan perlihatkan kepada orang-orang. Mereka di dunia yang buta dan tanpa penglihatan tidak memahami dan tidak melihatnya. Apakah yang dapat Ku-lakukan tentang mereka di dunia yang buta dan tanpa penglihatan, yang tidak memahami dan melihatnya?

“Para bhikkhu, apakah fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami, merealisasinya sendiri... sampai dengan... yang tidak memahami dan tidak melihatnya? Bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Ini adalah fenomena duniawi di dunia. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah. Ini adalah fenomena duniawi di dunia.

“Para bhikkhu, inilah yang disebut fenomena duniawi di dunia yang telah Aku sendiri pahami, merealisasinya sendiri... sampai dengan... apakah yang dapat Ku-lakukan tentang mereka yang buta dan tanpa penglihatan, yang tidak memahami dan melihatnya?”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #1 on: 12 July 2015, 05:47:44 PM »
39. [Kotbah tentang Benih]<37>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima jenis benih. Apakah lima hal itu?<38> Yaitu, terdapat benih-akar, benih-batang, benih-ruas, benih yang jatuh dengan sendirinya, dan benih-buah.<39> [Jika] lima jenis benih ini tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk, tidak [terbawa] oleh angin, [9a] [jika] mereka baru, matang, dan padat,<40> dan terdapat unsur tanah, tetapi bukan unsur air, maka benih itu tidak akan tumbuh dan berkembang.<41>

“Jika benih itu baru, matang, padat, tidak rusak, tidak busuk, [tidak lapuk],<42> tidak [terbawa] oleh angin, dan terdapat unsur air, tetapi bukan unsur tanah, maka benih itu juga tidak akan tumbuh dan berkembang. Jika benih itu baru, matang, padat, tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk, tidak [terbawa] oleh angin, dan terdapat unsur tanah dan unsur air, maka benih itu akan tumbuh dan berkembang.<43>

“Para bhikkhu, lima benih itu adalah suatu perumpamaan untuk kesadaran yang bergabung dengan kelompok-kelompok unsur kehidupan yang dilekati;<44> unsur tanah adalah suatu perumpamaan untuk empat pengembangan kesadaran;<45> unsur air adalah suatu perumpamaan untuk kesenangan penuh nafsu dalam empat [kelompok unsur kehidupan] yang dilekati sebagai landasan untuk pengembangan kesadaran. Apakah empat hal itu? Berkembang pada bentuk jasmani, dengan bentuk jasmani sebagai landasannya, dan dibasahi oleh kesenangan penuh nafsu, kesadaran akan tumbuh dan berkembang. Berkembang pada perasaan... persepsi... bentukan.... berlandaskan pada perasaan... persepsi... bentukan, dan dibasahi oleh kesenangan penuh nafsu, kesadaran akan tumbuh dan berkembang. Para bhikkhu, adalah di sini bahwa kesadaran datang, pergi, bertahan, berangkat, tumbuh, dan berkembang.

“Para bhikkhu, seandainya terpisah dari bentuk jasmani, perasaan, persepsi, dan bentukan, terdapat kesadaran yang datang, pergi, bertahan, [berangkat], tumbuh [dan berkembang]. Walaupun seseorang mengatakan demikia berulang-ulang, ketika ditanyakan tentang hal ini ia tidak akan mengetahui dan memunculkan lebih banyak lagi kebingungan, karena ini di luar lingkup pengalamannya.

“Dengan bebas dari nafsu terhadap unsur bentuk jasmani, setelah bebas dari nafsu, belenggu dalam pikiran yang muncul melalui terlibat dengan bentuk jasmani ditinggalkan.<46> Belenggu yang muncul dalam pikiran melalui terlibat dengan bentuk jasmani ditinggalkan, landasannya ditinggalkan. Landasannya ditinggalkan, [bahwa] kesadaran tidak berkembang di mana pun dan tidak tumbuh lebih jauh dan meningkat. Dengan bebas dari nafsu terhadap unsur perasaan... persepsi... bentukan, setelah bebas dari nafsu, belenggu yang muncul dalam pikiran melalui terlibat dengan bentukan ditinggalkan.<47> Belenggu yang muncul dalam pikiran melalui terlibat dengan bentukan, landasannya ditinggalkan. Landasannya ditinggalkan, bahwa kesadaran tidak berkembang di mana pun dan tidak tumbuh lebih jauh dan meningkat.

“Karena tidak tumbuh, tidak terdapat penciptaan bentukan. Tiada penciptaan bentukan, seseorang mantap. Dengan menjadi mantap, ia puas. Dengan puas, ia terbebaskan. Dengan terbebaskan, ia tidak menggenggam apa pun di seluruh dunia dan tidak terikat pada apa pun. Dengan tidak menggenggam pada apa pun dan tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’<48>

“Aku katakan bahwa kesadaran tidak berlanjut ke timur, barat, selatan, utara, empat [arah] di antaranya, atas, bawah, ia tidak berlanjut ke mana pun. Ia hanya melihat Dharma dan berharap memasuki Nirvāṇa, yang adalah damai, tenang, murni, dan sejati.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

40. [Kotbah tentang Terlibat Dalam]<49>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Seseorang yang mengambil tidak terbebaskan. Dengan tidak terlibat dalam, seseorang terbebaskan. Bagaimanakah seseorang tidak terlibat dalam? Para bhikkhu, dengan empat kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai landasan, [9b] kesadaran berkembang.  Apakah empat hal itu? Terlibat dalam bentuk jasmani, kesadaran berkembang, terlibat dalam perasaan... persepsi... bentukan, kesadaran berkembang... sampai dengan... karena ini di luar lingkup pengalamannya.<50> Ini disebut tidak terbebaskan karena terlibat dalam.

“Bagaimanakah seseorang terbebaskan dengan tidak terlibat dalam? Dengan bebas dari nafsu terhadap unsur bentuk jasmani, bebas dari nafsu terhadap unsur perasaan... persepsi... bentukan<51>... sampai dengan... murni, dan sejati.<52> Inilah bagaimana seseorang terbebaskan dengan tidak terlibat dalam.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

41. [Kotbah tentang Lima Putaran]<53>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati: kelompok unsur bentuk yang dilekati, perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati. Dalam lima cara Aku memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagaimana adanya:<54> Aku memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya, Aku memahami munculnya bentuk jasmani... kepuasan dalam bentuk jasmani... bahaya dalam bentuk jasmani... jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya. Dengan cara yang sama Aku memahami perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagaimana adanya, memahami munculnya kesadaran... kepuasan dalam kesadaran... bahaya dalam kesadaran... jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.<55>

“Bagaimanakah seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya? Apa pun bentuk jasmani, semua darinya merupakan empat unsur dan bentuk yang terbentuk dari empat unsur – ini disebut bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Kesenangan dan ketagihan terhadap bentuk jasmani – ini disebut munculnya bentuk jasmani.<56> Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentuk jasmani – ini disebut kepuasan dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentuk jasmani – ini disebut jalan keluar dari bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya? Terdapat enam kelompok perasaan: perasaan yang muncul dari kontak-mata... [kontak]-telinga... [kontak]-hidung... [kontak]-lidah... [kontak]-badan... dan perasaan yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya? Dengan munculnya kontak, perasaan muncul – [ini disebut munculnya perasaan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada enam perasaan – ini disebut kepuasan dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya? Bahwa perasaan adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya? Mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan – ini disebut jalan keluar dari perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok persepsi. Apakah enam hal itu? Yaitu, persepsi yang muncul dari kontak-mata... [kontak]-telinga... [kontak]-hidung... [kontak]-lidah... [kontak]-badan... dan persepsi yang muncul dari kontak-pikiran. Ini disebut persepsi. [9c] Dengan cara ini seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, persepsi muncul. [Ini disebut munculnya persepsi]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada persepsi – ini disebut kepuasan dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, persepsi adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap persepsi – ini disebut jalan keluar dari persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kehendak: kehendak yang muncul dari kontak-mata... [kontak]-telinga... [kontak]-hidung... [kontak]-lidah... [kontak]-badan... dan kehendak yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, bentukan muncul – [ini disebut munculnya bentukan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentukan – ini disebut kepuasan dalam bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya? Bahwa bentukan adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentukan – ini disebut jalan keluar dari bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kesadaran: kelompok kesadaran-mata... [kesadaran]-telinga... [kesadaran]-hidung... [kesadaran]-lidah... [kesadaran]-badan... dan kelompok kesadaran-pikiran. Ini disebut kelompok kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya nama-dan-bentuk, [kesadaran muncul] – ini disebut munculnya kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada kesadaran – ini disebut kepuasan dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya? Bahwa kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap kesadaran – ini disebut jalan keluar dari kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.

“Para bhikkhu, jika para pertapa dan brahmana memahami bentuk jasmani dengan cara ini, melihatnya dengan cara ini, dan dengan memahaminya dengan cara ini dan melihatnya dengan cara ini mereka berjalan bebas dari keinginan, maka ini disebut berjalan dengan benar. Jika seseorang berjalan dengan benar, Aku katakan orang itu telah memasuki [ajaran ini]. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

“Jika para pertapa dan brahmana memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya, melihatnya sebagaimana adanya, [maka] mereka membangkitkan kekecewaan terhadap bentuk jasmani, menjadi bebas dari keinginan, dan melalui ketidakmelekatan mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka. Jika pikiran seseorang telah mencapai pembebasan, maka ia menjadi seseorang yang telah menyelesaikan.<57> Ia yang telah menyelesaikan berkembang dalam kehidupan suci. [10a] Ia yang berkembang dalam kehidupan suci adalah bebas dan tenang. Inilah yang disebut akhir dukkha.<58>

“Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #2 on: 12 July 2015, 05:53:44 PM »
42. [Kotbah tentang Tujuh Hal]<59>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terampil dalam tujuh hal dan merenungkan maknanya dengan tiga cara, seseorang sepenuhnya mencapai penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dalam Dharma ini,<60> mencapai pembebasan pikiran yang bebas-arus dan pembebasan melalui kebijaksanaan, secara pribadi mengetahui di sini dan saat ini dan sepenuhnya berkembang dalam realisasi langsung bahwa ‘kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’<61>

“Bagaimanakah seorang bhikkhu terampil dalam tujuh hal?<62> Para bhikkhu, ini dengan memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya, dengan memahami munculnya bentuk jasmani... lenyapnya bentuk jasmani... jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani... kepuasan dalam bentuk jasmani... bahaya dalam bentuk jasmani... dan jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya.<63>

Dengan cara yang sama ini dengan memahami perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran... munculnya kesadaran... lenyapnya kesadaran... jalan menuju lenyapnya kesadaran... kepuasan dalam kesadaran... bahaya dalam kesadaran... dan jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.<64>

“Bagaimanakah seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya? Apa pun bentuk jasmani, semua darinya merupakan empat unsur dan bentuk yang terbentuk dari empat unsur – ini disebut bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Kesenangan dan ketagihan [terhadap bentuk jasmani] – ini disebut munculnya bentuk jasmani.<65> Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Lenyapnya ketagihan dan kesenangan – ini disebut lenyapnya bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentuk jasmani – ini disebut kepuasan dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentuk jasmani – ini disebut jalan keluar dari bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya.<66>

“Bagaimanakah seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok perasaan: perasaan yang muncul dari kontak-mata... [kontak]-telinga... [kontak]-hidung... [kontak]-lidah... [kontak]-badan... dan perasaan yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya? Dengan munculnya kontak, perasaan muncul – [ini disebut munculnya perasaan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya perasaan sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya kontak, perasaan lenyap – [ini disebut lenyapnya perasaan]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya perasaan sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar... sampai dengan... konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya perasaan sebagaimana adanya. [10b]

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada perasaan – ini disebut kepuasan dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya? Bahwa perasaan adalah tidak kekal,<67> dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan – ini disebut jalan keluar dari perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam [kelompok] persepsi: persepsi yang muncul dari kontak-mata... [kontak]-telinga... [kontak]-hidung... [kontak]-lidah... [kontak]-badan... dan persepsi yang muncul dari kontak-pikiran. Ini disebut persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, persepsi muncul. [Ini disebut munculnya persepsi]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya persepsi sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya kontak, persepsi lenyap – [ini disebut lenyapnya persepsi]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar... sampai dengan... konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada persepsi – ini disebut kepuasan dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, persepsi adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap persepsi – ini disebut jalan keluar dari persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kehendak: kehendak yang muncul dari kontak-mata... [kontak]-telinga... [kontak]-hidung... [kontak]-lidah... [kontak]-badan... dan kehendak yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, bentukan muncul – [ini disebut munculnya bentukan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya bentukan sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya kontak, bentukan lenyap – [ini disebut lenyapnya bentukan]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar... sampai dengan... konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentukan – ini disebut kepuasan dalam bentukan. <68> Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya? Bahwa bentukan adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentukan.<69> Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentukan – ini disebut jalan keluar dari bentukan.<70> Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kesadaran: kelompok kesadaran-mata... [10c] [kesadaran]-telinga... [kesadaran]-hidung... [kesadaran]-lidah... [kesadaran]-badan... dan kelompok kesadaran-pikiran. Ini disebut kelompok kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya nama-dan-bentuk, kesadaran muncul – [ini disebut munculnya kesadaran]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, kesadaran lenyap – [ini disebut lenyapnya kesadaran]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar... sampai dengan... konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada kesadaran – ini disebut kepuasan dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya? Bahwa kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap kesadaran – ini disebut jalan keluar dari kesadaran. [Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.]

“Para bhikkhu, ini disebut terampil dalam tujuh hal.

“Bagaimanakah seseorang merenungkan maknanya dengan tiga cara? Para bhikkhu, ini adalah jika pada suatu tempat yang kosong, pada akar sebuah pohon, [atau] pada sebuah tanah lapang yang terbuka seseorang merenungkan kelompok-kelompok unsur kehidupan, unsur-unsur, dan landasan-landasan indera, dan ia memberikan perhatian dengan usaha benar pada maknanya.<71> Ini disebut seorang bhikkhu yang merenungkan maknanya dengan tiga cara.

“Inilah yang disebut seorang bhikkhu yang terampil dalam tujuh hal dan yang merenungkan maknanya dengan tiga cara, dan yang akan sepenuhnya mencapai penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dalam Dharma ini, mencapai pembebasan pikiran yang bebas-arus dan pembebasan melalui kebijaksanaan, secara pribadi mengetahui di sini dan saat ini dan sepenuhnya berkembang dalam realisasi langsung bahwa ‘kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

43. [Kotbah Pertama tentang Terikat oleh Keterikatan]<72>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Karena kemelekatan, keterikatan muncul. Dengan ketidakmelekatan, tidak ada keterikatan. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan Ku-katakan kepada kalian.”

Para bhikkhu menjawab Sang Buddha: “Baiklah, kami [siap] menerima pengajaran.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Bagaimanakah keterikatan muncul karena kemelekatan? Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar melihat bentuk jasmani sebagai diri,<73> sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] ada [di dalam bentuk jasmani]. Ia melekat padanya, setelah melihat bentuk jasmani itu sebagai diri dan sebagai milik diri.<74> Dengan melekat padanya, ketika bentuk jasmani berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya berputar-putar dan mengikutnya.<75> [Karena] pikiran berputar-putar dan mengikutnya, kemelekatan dan keterikatan muncul dan berdiam mengobsesi pikirannya. Karena pikirannya berdiam terobsesi, ketakutan dan gangguan dari kekalutan batin muncul, karena kemelekatan dan keterikatan.<76>

“Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar melihat perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] ada [di dalam kesadaran]. Ia melekat padanya, setelah melihat kesadaran sebagai diri dan sebagai milik diri. Dengan melekat padanya, ketika kesadaran itu berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya berputar-putar dan mengikutnya. Karena pikiran berputar-putar dan mengikutnya, kemelekatan dan keterikatan muncul dan berdiam mengobsesi pikirannya. Dengan berdiam [seperti ini], ketakutan dan gangguan dari kekalutan batin muncul, [11a] karena kemelekatan dan keterikatan.

“Ini disebut dengan kemelekatan dan keterikatan.

“Apakah yang disebut tanpa kemelekatan dan keterikatan? Seorang siswa mulia yang terpelajar tidak melihat bentuk sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] ada [di dalam bentuk jasmani].<77> Ia tidak melekat pada dan melihat bentuk jasmani sebagai diri dan sebagai milik diri. Dengan tidak melekat pada dan melihatnya sebagai diri dan sebagai milik diri,<78> ketika bentuk jasmani itu berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya tidak berputar-putar dan mengikutnya.<79> Karena pikiran tidak berputar-putar dan mengikutnya,<80> kemelekatan dan keterikatan tidak muncul dan berdiam mengobsesi pikirannya.<81> Karena [pikiran]-nya tidak berdiam terobsesi,<82> ketakutan dan gangguan dari kekalutan batin tidak muncul, karena tidak terdapat kemelekatan dan keterikatan.<83>

Dengan cara yang sama ia tidak melihat perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] ada [di dalam kesadaran]. Dengan tidak melekat pada dan melihat kesadaran sebagai diri dan sebagai milik diri, ketika kesadaran itu berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya tidak berputar-putar dan mengikutnya. Karena pikiran tidak berputar-putar dan mengikutnya, kemelekatan dan keterikatan tidak [muncul dan] berdiam mengobsesi pikirannya. Karena pikirannya tidak berdiam terobsesi, pikirannya tanpa ketakutan dan gangguan dari kekalutan batin, karena tidak terdapat kemelekatan dan keterikatan.

“Ini disebut tanpa kemelekatan dan keterikatan.

“Inilah yang disebut dengan kemelekatan dan keterikatan serta tanpa kemelekatan dan keterikatan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

44. [Kotbah Kedua tentang Terikat oleh Keterikatan]<84>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Sehubungan dengan memunculkan dan terikat oleh keterikatan; dan tidak memunculkan dan tidak terikat oleh keterikatan. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan Ku-katakan kepada kalian.

“Bagaimanakah terdapat memunculkan dan terikat oleh keterikatan? Karena seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani,<85> ia menyenangi bentuk jasmani dengan ketagihan, memujinya, dan melekat padanya dengan keterikatan. Ia melekat pada bentuk jasmani sebagai diri dan sebagai milik diri. Dengan melekat padanya, ketika bentuk jasmani itu berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya mengikutinya, berubah dan menjadi sebaliknya.<86>

“Karena pikirannya mengikutnya, berubah dan menjadi sebaliknya, ia berdiam dengan pikirannya terobsesi. Karena berdiam dengan pikiran terobsesi, ketakutan dan gangguan dari kekhawatiran muncul, karena memunculkan dan terikat oleh keterikatan. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Ini disebut memunculkan dan terikat oleh keterikatan.

“Bagaimanakah tidak terdapat memunculkan dan tidak terikat pada keterikatan? Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena ia memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menyenanginya dengan ketagihan, memujinya [atau] melekat padanya dengan keterikatan. Ia tidak terikat padanya dan tidak melekat padanya sebagai diri dan sebagai milik diri. Karena tidak melekat padanya, ketika bentuk jasmani itu berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya tidak mengikutinya, berubah dan menjadi sebaliknya.

“Karena pikirannya tidak mengikutinya, berubah dan menjadi sebaliknya, pikirannya tidak terikat oleh keterikatan yang berdiam mengobsesi pikirannya. Karena tidak berdiam dengan pikiran terobsesi, tidak ada ketakutan dan gangguan dari kekhawatiran dalam pikiran, karena tidak memunculkan dan tidak terikat oleh keterikatan. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Ini disebut tidak memunculkan dan tidak terikat oleh keterikatan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat. [11b]
« Last Edit: 12 July 2015, 05:56:41 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #3 on: 12 July 2015, 06:01:09 PM »
45. [Kotbah tentang Pemikiran-Pemikiran]<87>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah lima hal itu? Mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.<88>

“Jika para pertapa dan brahmana melihat keberadaan suatu diri, mereka semuanya melihat diri dalam lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini.<89> Para pertapa dan brahmana melihat bentuk jasmani sebagai diri, bentuk jasmani sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], diri sebagai berada dalam bentuk jasmani, atau bentuk jasmani sebagai berada dalam diri. Mereka melihat perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai diri, kesadaran sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], diri sebagai berada dalam kesadaran, atau kesadaran sebagai berada dalam diri.

“Karena ketidaktahuan seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar melihat bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya], dengan menyatakan bahwa diri sesungguhnya adalah yang sejati dan tidak meninggalkannya. Karena tidak meninggalkannya, indera-indera tumbuh.<90> Indera-indera tumbuh, kontak bertambah. Karena dikontak melalui enam landasan kontak, perasaan menyakitkan dan menyenangkan muncul pada orang duniawi bodoh yang tidak terpelajar, yang muncul dari enam landasan kontak. Apakah enam hal itu? Yaitu, landasan kontak-mata, [kontak-]telinga... [kontak-]hidung... [kontak-]lidah... [kontak-]badan... dan landasan kontak-pikiran.

“Dengan cara ini, para bhikkhu, terdapat unsur pikiran, unsur objek-pikiran, dan unsur ketidaktahuan. Karena kontak dengan ketidaktahuan seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar memunculkan rasa keberadaan, rasa ketiadaan, rasa keberadaan dan ketiadaan, rasa ‘aku lebih baik’, rasa ‘aku sama’, rasa ‘aku lebih rendah’, rasa ‘aku mengetahui’ dan ‘aku melihat’. Rasa ‘aku mengetahui dengan cara ini’ dan ‘aku melihat dengan cara ini’ semuanya karena enam landasan kontak.<91>

“Siswa mulia yang terpelajar meninggalkan ketidaktahuan sehubungan dengan enam landasan kontak dan membangkitkan pengetahuan.<92> Ia tidak memunculkan rasa keberadaan, rasa ketiadaan, rasa keberadaan dan ketiadaan, rasa ‘aku lebih baik’, rasa ‘aku sama’, rasa ‘aku lebih rendah’, rasa ‘aku mengetahui’ dan ‘aku melihat’. Setelah mengetahuinya dengan cara ini dan melihat dengan cara ini, kontak yang muncul sebelumnya dengan ketidaktahuan lenyap, dan perasaan muncul dari kontak dengan pengetahuan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

46. [Kotbah tentang Dimakan oleh Lima Kelompok Unsur Kehidupan yang Dilekati dalam Tiga Masa]<93>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah lima hal itu? Mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.<94>

“Jika para pertapa dan brahmana melalui ingatan kehidupan lampau mengetahui berbagai kehidupan lampau mereka sendiri – setelah mengetahuinya, akan mengetahuinya, atau sekarang mengetahuinya – mereka semua telah mengetahui, akan mengetahui, atau sekarang mengetahui lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini:<95> ‘Pada masa lampau apa yang aku alami adalah bentuk jasmani dengan cara ini, perasaan dengan cara ini, persepsi dengan cara ini, bentukan dengan cara ini, dan kesadaran dengan cara ini.’<96>

“Karena ia dapat menahan dan dapat rusak, ia disebut kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati. Ini menunjuk pada sifat menahan. Jika ini [terjadi] dengan tangan, jika ini [terjadi] dengan batu, jika ini [terjadi] dengan tongkat, jika ini [terjadi] dengan pisau,<97> jika ini [terjadi] dengan keadaan dingin, jika ini [terjadi] dengan kehangatan, jika ini [terjadi] dengan kehausan, jika ini [terjadi] dengan kelaparan, jika ini [terjadi] dengan nyamuk, serangga pengganggu, atau serangga beracun apa pun, atau dengan kontak dengan angin dan hujan, ini disebut kontak yang bersifat menahan. Karena sifat menahan [demikian], ini [disebut] kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati.<98> [11c] Selanjutnya, kelompok bentuk jasmani yang dilekati ini adalah tidak kekal, dukkha, dan [bersifat] berubah-ubah.<99>

“Semua yang berkarakteristik merasakan adalah kelompok unsur perasaan yang dilekati. Apakah yang dirasakan? Terdapat perasaan menyakitkan, perasaan menyenangkan, dan perasaan netral. Karena ia memiliki karakteristik merasakan, ia disebut kelompok unsur perasaan yang dilekati. Selanjutnya, kelompok unsur kesadaran yang dilekati ini adalah tidak kekal, dukkha, dan [bersifat] berubah-ubah.

“Semua persepsi adalah kelompok unsur persepsi yang dilekati. Apakah yang dipersepsikan? Terdapat sedikit persepsi, banyak persepsi, tidak terhitung persepsi, [atau] sehubungan dengan keseluruhan dari kekosongan seseorang memiliki persepsi kekosongan.<100> Karena ia memiliki [karakteristik mempersepsikan], ia disebut kelompok unsur persepsi yang dilekati. Selanjutnya, kelompok unsur persepsi yang dilekati ini adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah.

“Apa yang memiliki karakteristik dibentuk adalah kelompok unsur bentukan yang dilekati. Apakah yang dibentuk? Bentuk jasmani adalah dibentuk... perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah dibentuk. Karena ia memiliki karakteristik dibentuk, ini [disebut] kelompok unsur bentukan yang dilekati.<101> Selanjutnya, kelompok unsur bentukan yang dilekati ini adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah.

“Apa yang memiliki karakteristik membedakan adalah kelompok unsur kesadaran yang dilekati. Apakah yang disadari? Bentuk disadari... suara... bebauan... rasa... sentuhan... objek pikiran disadari. Karena ia memiliki [karakteristik membedakan] ini disebut kelompok unsur kesadaran yang dilekati.<102> Selanjutnya, kelompok unsur kesadaran yang dilekati ini adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah.

“Para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar berlatih sehubungan dengan kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati dengan cara ini: ‘Sekarang aku dimakan oleh bentuk jasmani masa sekarang. Di masa lampau aku telah dimakan oleh bentuk jasmani, seperti halnya oleh yang sekarang.’

“Ia lebih jauh merenungkan: ‘Dengan saat ini [telah] dimakan oleh bentuk jasmani masa sekarang, jika aku terus-menerus menyenangi dengan keterikatan pada bentuk jasmani masa depan, aku akan lebih jauh dimakan oleh bentuk jasmani itu, seperti halnya sekarang oleh yang sekarang.’ Setelah memahaminya dengan cara ini, ia tidak memperhatikan bentuk jasmani masa lampau, tidak menyenangi dengan keterikatan pada bentuk jasmani masa depan, dan membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani masa sekarang, tanpa nafsu dan lenyapnya, dan maju menuju lenyapnya.<103>

“Seorang siswa mulia yang terpelajar berlatih sehubungan dengan kelompok unsur perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran yang dilekati [dengan cara ini]: ‘Saat ini aku dimakan oleh kesadaran masa sekarang. Pada masa lampau aku telah dimakan oleh kesadaran, seperti halnya oleh yang sekarang. Dengan saat ini telah dimakan oleh kesadaran masa sekarang, jika aku terus-menerus menyenangi dengan keterikatan pada kesadaran masa depan, aku akan lebih jauh dimakan oleh kesadaran itu, seperti halnya oleh yang sekarang.’

“Setelah memahaminya dengan cara ini, ia tidak memperhatikan kesadaran masa lampau, tidak menyenangi [dengan keterikatan] pada kesadaran masa depan, dan membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan kesadaran masa sekarang, tanpa nafsu dan lenyapnya, dan maju menuju lenyapnya.<104> Ia menguranginya dan tidak menambahnya,<105> mundur darinya dan tidak maju [menujunya], [membiarkannya] lenyap dan tidak memunculkannya, meninggalkannya dan tidak melekat padanya.

“Apakah yang ia kurangi dan tidak ia tambah? Ia mengurangi bentuk jasmani dan tidak menambahnya, ia mengurangi perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran dan tidak menambahnya.

“Apakah yang ia mundur dari dan tidak maju [menuju]? Ia mundur dari bentuk jasmani dan tidak maju [menujunya], ia mundur dari perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran dan tidak maju [menujunya].

“Apakah yang ia [biarkan] lenyap dan tidak ia munculkan? Ia [membiarkan] bentuk jasmani lenyap dan tidak memunculkannya, ia [membiarkan] perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran lenyap dan tidak memunculkannya.

“Apakah yang ia tinggalkan dan tidak melekat pada? Ia meninggalkan bentuk jasmani dan tidak melekat padanya, ia meninggalkan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran dan tidak melekat padanya.

“Dengan mengurangi dan tidak menambahnya, [12a] ia berkembang dalam kedamaian dari berkurangnya. Dengan mundur darinya dan tidak maju [menujunya], ia berkembang dalam kedamaian dari mundurnya. [Dengan membiarkannya] lenyap dan tidak memunculkannya, ia berkembang dalam kedamaian dari lenyapnya. Dengan meninggalkannya dan tidak melekat padanya, ia tidak memunculkan belenggu keterikatan.<106> Dengan tidak terikat oleh keterikatan ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, melalui ketidakmelekatan sekelompok banyak bhikkhu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka.<107> Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

47. [Kotbah Pertama tentang Keyakinan]<108>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Seorang anggota keluarga dengan pikiran yang penuh keyakinan seharusnya merenungkan: ‘Aku seharusnya mengikuti Dharma, aku seharusnya berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran.

“Karena seorang anggota keluarga dengan pikiran yang penuh keyakinan berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, ia memperoleh kekecewaan terhadap bentuk jasmani, memperoleh kekecewaan terhadap perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran.<109> Dengan menjadi kecewa, ia bebas dari keinginan dan terbebaskan. Dengan terbebaskan ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

48. [Kotbah Kedua tentang Keyakinan]<110>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Seorang anggota keluarga dengan pikiran yang penuh keyakinan, yang demi keyakinan yang benar telah meninggalkan keduniawian menuju keadaan tanpa rumah, berpikir dalam dirinya sendiri: ‘Aku seharusnya mengikuti Dharma, aku seharusnya berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran.

“Seorang anggota keluarga dengan pikiran yang penuh keyakinan yang demi keyakinan yang benar telah meninggalkan keduniawian menuju keadaan tanpa rumah dan yang telah berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, telah berdiam dengan banyak berlatih kekecewaan sehubungan dengan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, memperoleh pembebasan dari bentuk jasmani, memperoleh pembebasan dari perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran.<111> Aku katakan, seorang yang demikian sepenuhnya terbebas dari semua kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

49. [Kotbah Pertama kepada Ānanda]<112>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Jika seorang perumah tangga yang berkeyakinan atau putra seorang perumah tangga datang dan bertanya kepadamu:<113> ‘Sehubungan dengan hal-hal apakah seseorang seharusnya memahami muncul dan lenyapnya?’<114> [12b] Bagaimanakah seharusnya engkau menjawab?”

Ānanda berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, jika seorang perumah tangga yang berkeyakinan atau putra seorang perumah tangga datang dan bertanya kepadaku hal ini,<115> aku akan menjawab: ‘Seseorang memahami bahwa bentuk jasmani adalah bersifat muncul dan lenyap, seseorang memahami bahwa perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bersifat muncul dan lenyap.’<116> Sang Bhagava, jika seorang perumah tangga yang berkeyakinan atau putra seorang perumah tangga bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Buddha berkata kepada Ānanda: “Bagus, bagus, bahwa engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa demikian? Bentuk jasmani adalah bersifat muncul dan lenyap, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bersifat muncul dan lenyap. Memahami bahwa bentuk jasmani adalah bersifat muncul dan lenyap disebut pemahaman terhadap bentuk jasmani. Memahami bahwa perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bersifat muncul dan lenyap disebut pemahaman terhadap kesadaran.”<117>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

50. [Kotbah Kedua kepada Ānanda]<118>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Jika para pengembara dari luar [ajaran] datang dan bertanya kepadamu: ‘Ānanda, untuk alasan apakah Sang Bhagava mengajarkan orang-orang pengembangan kehidupan suci?’ Dengan ditanyakan dengan cara ini, bagaimanakah engkau akan menjawab?”<119>

Ānanda berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, jika para pengembara dari luar [ajaran] datang dan bertanya kepadaku: ‘Ānanda, untuk alasan apakah Sang Bhagava mengajarkan orang-orang pengembangan kehidupan suci?’ aku akan menjawab:<120> ‘Untuk mengembangkan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, untuk bebas dari keinginan terhadapnya, untuk lenyapnya, untuk terbebaskan darinya, untuk tidak memunculkannya maka Sang Bhagava mengajarkan orang-orang pengembangan kehidupan suci.

“Untuk mengembangkan kekecewaan sehubungan dengan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, untuk bebas dari keinginan terhadapnya, untuk lenyapnya, untuk terbebaskan darinya, untuk tidak memunculkannya maka [Sang Bhagava] mengajarkan orang-orang pengembangan kehidupan suci’<121> Sang Bhagava, jika para pengembara dari luar [ajaran] bertanya kepadaku dengan cara ini, akan akan menjawab dengan cara ini.”<122>

Sang Buddha berkata kepada Ānanda: “Bagus, bagus, bahwa engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa demikian? Aku sesungguhnya mengajarkan orang-orang pengembangan kehidupan suci untuk pengembangan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, untuk bebas dari keinginan terhadapnya, untuk lenyapnya, untuk terbebaskan darinya, untuk tidak memunculkannya.<123> Aku mengajarkan orang-orang pengembangan kehidupan suci untuk pengembangan kekecewaan sehubungan dengan perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran, untuk bebas dari keinginan terhadapnya, untuk lenyapnya, untuk terbebaskan darinya, untuk tidak memunculkannya.”<124>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, Yang Mulia Ānanda, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

51. [Kotbah tentang Bersifat Untuk Dihancurkan]<125>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian apa yang bersifat untuk dihancurkan dan tidak untuk dihancurkan. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan Ku-katakan kepada kalian.

“Para bhikkhu, bentuk jasmani adalah bersifat untuk dihancurkan. Lenyapnya dan padamnya bentuk jasmani adalah tidak bersifat untuk dihancurkan. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bersifat untuk dihancurkan. Lenyapnya dan padamnya kesadaran adalah tidak bersifat untuk dihancurkan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, [12c] bergembira dan menerimanya dengan hormat.

52. [Kotbah kepada Uttiya]

Kotbah kepada Uttiya harus dibacakan seperti dalam Kelompok Empat dari Ekottarika-āgama.<126>
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #4 on: 12 July 2015, 06:06:33 PM »
53. [Kotbah di Sālā]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang mengembara di antara orang-orang negeri Kosala, berdiam di sebuah hutan Siṃsāpa di sebelah utara desa Sālā.

Pada waktu itu para pemimpin desa, para brahmana dari suku-suku besar, telah mendengar bahwa Pertapa [Gotama], putra dari suku Sakya, dari keluarga besar Sakya, yang telah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan demi keyakinan yang benar meninggalkan keduniawian menuju keadaan tanpa rumah untuk berlatih dalam sang jalan, telah menyempurnakan pencerahan yang tertinggi dan sempurna. Beliau sedang mengembara di sini di antara orang-orang negeri Kosala dan telah sampai di desa Sālā ini, berdiam di hutan Siṃsāpa di sebelah utara desa itu.<127>

Lebih lanjut, bahwa Pertapa Gotama telah dipuji dengan berbagai nama baik, yang terdengar dalam delapan arah, sebagai seseorang yang dipuji sebagai benar-benar suci oleh para deva dan manusia: Beliau adalah seorang Tathāgata, seorang arahant, yang tercerahkan sempurna dan sepenuhnya, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang pengenal dunia, seorang yang tiada bandingnya, pemimpin orang-orang yang dijinakkan, guru para deva dan manusia, seorang Buddha, seorang yang terberkahi. Di seluruh dunia, di antara para deva, Māra, Brahmā, para pertapa dan brahmana, Beliau memiliki kebijaksanaan agung dan telah secara pribadi merealisasi dan mengetahui: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’

Kepada dunia Beliau mengajarkan mengajarkan suatu Dharma yang baik pada awalnya, pertengahannya, dan akhirnya, yang memiliki makna yang baik dan ungkapan yang baik, dan [Beliau mengajarkan] kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap dan murni. Beliau menguraikan Dharma yang mendalam. Akan baik jika seseorang menemui Beliau, adalah baik jika seseorang mendekati-Nya, adalah baik jika seseorang memberikan penghormatan kepada-Nya!

Setelah memiliki pemikiran ini, mereka memasangkan kuda mereka pakaian dan, diikuti oleh banyak pelayan yang membawa wadah, tongkat,<128> dan payung emas, mereka mendekati Sang Buddha untuk memberikan penghormatan dan memberikan persembahan. Setelah sampai pada pintu masuk hutan mereka turun dari kereta mereka untuk meneruskan [perjalanan] dengan berjalan kaki untuk mendekati Sang Bhagava. Mereka menanyakan tentang kabar baik Beliau, mengundurkan diri untuk duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagava: “Pertapa Gotama, apakah yang Anda nyatakan, apakah yang Anda ajarkan?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Aku menyatakan sebab, Aku mengajarkan sebab.”

Mereka bertanya lagi kepada Sang Buddha: “Apakah sebab yang Anda nyatakan, apakah sebab yang Anda ajarkan?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Terdapat sebab dan kondisi untuk munculnya dunia, terdapat sebab dan kondisi bagi dunia untuk muncul. Terdapat sebab dan kondisi untuk lenyapnya dunia, terdapat sebab dan kondisi bagi dunia untuk lenyap.”

Para brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, apakah sebab dan kondisi untuk munculnya dunia, apakah sebab dan kondisi bagi dunia untuk muncul?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena tidak memahaminya sebagaimana adanya, ia menginginkan dan menyenangi bentuk jasmani, ia memuji bentuk jasmani, dan ia berdiam dengan pikiran yang terkotori oleh keterikatan. Karena ketagihan dan kesenangan dalam bentuk jasmani, ia melekat padanya. Bergantung pada kemelekatan terdapat kemenjadian. [13a] Bergantung pada kemenjadian terdapat kelahiran. Bergantung pada kelahiran terdapat usia tua, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan. Inilah bagaimana kumpulan besar dukkha ini muncul.

“Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Para brahmana, ini disebut sebab dan kondisi untuk munculnya dunia, ini adalah sebab dan kondisi bagi dunia untuk muncul.”

Para brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Apakah sebab dan kondisi untuk lenyapnya dunia, apakah sebab dan kondisi bagi dunia untuk lenyap?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Dengan memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menginginkan atau menyenangi bentuk jasmani, ia tidak memujinya, dan ia berdiam tanpa terkotori oleh keterikatan dan tanpa mengambil sikap terhadapnya. Karena berdiam tanpa ketagihan dan kesenangan, dan tanpa mengambil sikap terhadapnya, ketagihan terhadap bentuk jasmani lenyap. Dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan lenyap. Dengan lenyapnya kemelekatan, kemenjadian lenyap. Dengan lenyapnya kemenjadian, kelahiran lenyap. Dengan lenyapnya kelahiran, usia tua, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan lenyap.

“Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Para brahmana, ini disebut sebab dan kondisi untuk lenyapnya dunia, ini adalah sebab dan kondisi bagi dunia untuk lenyap.”<129>

Para brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Gotama, dengan cara ini Anda menyatakan sebab, dengan cara ini Anda mengajarkan sebab. Kami memiliki banyak urusan di dunia, sekarang kami memohon izin untuk kembali.”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Ketahuilah bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para brahmana itu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira di dalamnya. Mereka memberikan penghormatan pada kaki-Nya dan pergi.

54. [Kotbah tentang Dunia]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vārāṇasī di Taman Rusa, Tempat Kediaman Para Pertapa.

Pada waktu itu seorang brahmana dari desa *Vigatāloka datang dan mendekati Sang Buddha.<130> Ia memberikan penghormatan, bertukar salam ramah tamah, mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Gotama, aku memiliki seorang siswa muda yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga, dan yang untuk seluruh perkumpulan besar membuat ramalan berdasarkan tanda-tanda yang menguntungkan dan tidak menguntungkan. Dari apa yang ia katakan ada, ini pastinya ada. Dari apa yang ia katakan tidak ada, ini pastinya tidak ada. Dari apa yang ia katakan bahwa ini menjadi terselesaikan, ini pasti akan menjadi terselesaikan. Dari apa yang ia katakan bahwa ini akan hancur, ini pasti akan hancur. Gotama, apakah yang Anda pikirkan tentang hal ini?”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Biarkanlah untuk saat ini siswa mudamu yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga. Aku sekarang akan bertanya kepadamu, jawablah seperti yang engkau pikirkan. Brahmana, apakah yang engkau pikirkan, apakah bentuk jasmani mulanya tanpa silsilah?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata:] “Apakah perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran mulanya tanpa silsilah?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Engkau mengatakan: ‘Aku memiliki seorang siswa muda yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga, dan yang untuk perkumpulan besar membuat pernyataan-pernyataan sedemikian sehingga dari apa yang ia katakan ada, ini pasti ada; dari apa yang ia katakan tidak ada, ini pastinya tidak ada. Apa yang ia ketahui dan lihat, apakah ini bukan tidak nyata?”

Brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Apakah yang engkau pikirkan, [13b] apakah terdapat suatu bentuk jasmani yang tetap kekal selama seratus tahun, atau apakah ia muncul dengan berbeda dan lenyap dengan berbeda? [Apakah terdapat] perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran yang tetap kekal selama seratus tahun, atau apakah ia muncul dengan berbeda dan lenyap dengan berbeda?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava, [ia muncul dan lenyap dengan berbeda].”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Apakah yang engkau pikirkan, siswa mudamu yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga, dan yang untuk perkumpulan besar membuat pernyataan tentang apa yang akan terselesaikan dan apa yang tidak akan hancur, apa yang ia ketahui dan lihat, apakah ini sungguh berbeda [dari apa yang baru saja Ku-katakan]?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Apakah yang engkau pikirkan, ajaran ini dan ajaran itu, perkataan ini dan perkataan itu, manakah yang lebih tinggi?”

Brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, ini adalah ucapan sesuai dengan Dharma, seperti yang telah Sang Buddha ucapkan, melalui mengungkapkan dan mengajarkan. Ini seperti halnya dapat menyelamatkan seseorang yang tenggelam, dapat mengamankan seorang tahanan yang telah tertangkap,<131> dengan menunjukkan jalan kepada yang tersesat, atau memberikan pelita yang terang kepada seseorang yang berada dalam kegelapan.<132> Sang Bhagava sekarang telah mengucapkan dengan baik Dharma yang mendalam dan lebih jauh mengungkapkan dan mengajarkanku dengan cara ini.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, Brahmana *Vigatāloka, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira di dalamnya. Ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan pada kaki [Sang Buddha] dan pergi.

55. [Kotbah tentang Kelompok Unsur Kehidupan]<133>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vārāṇasī di Taman Rusa, Tempat Kediaman Para Pertapa.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian kelompok unsur kehidupan dan kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah kelompok unsur kehidupan? Apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu secara bersama-sama disebut kelompok unsur bentuk jasmani.<134>

“Demikian juga, apa pun perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Semua itu secara bersama-sama disebut kelompok unsur perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran. Ini disebut kelompok unsur kehidupan.

“Apakah kelompok unsur kehidupan yang dilekati? Ini adalah jika bentuk jasmani bersama dengan arus-arus [kekotoran batin] dan terdapat kemelekatan, jika sehubungan dengan bentuk jasmani itu – apakah ia masa lampau, masa depan, atau masa sekarang – seseorang memunculkan nafsu keinginan, kebencian, delusi, dan juga berbagai jenis penderitaan tambahan lainnya yang menjadi objek pikiran.<135> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Ini disebut kelompok unsur kehidupan yang dilekati.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

56. [Kotbah tentang Hal-Hal Dengan Arus dan Tanpa Arus]<136>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vārāṇasī di Taman Rusa, Tempat Kediaman Para Pertapa.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian hal-hal dengan arus [kekotoran batin] dan tanpa arus [kekotoran batin]. Jika bentuk jasmani bersama dengan arus-arus [kekotoran batin] dan terdapat kemelekatan, seseorang dapat memunculkan ketagihan atau kebencian terhadap bentuk jasmani itu. Dengan cara yang sama [jika] perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran bersama dengan arus-arus [kekotoran batin] dan terdapat kemelekatan, seseorang dapat memunculkan ketagihan atau kebencian terhadap kesadaran itu. Ini disebut hal-hal dengan arus [kekotoran batin].<137>

“Apakah hal-hal tanpa arus [kekotoran batin]? Apa pun bentuk jasmani yang tanpa arus-arus [kekotoran batin] dan tanpa kemelekatan, seseorang tidak akan memunculkan ketagihan atau kebencian terhadap bentuk jasmani itu – apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang.<138> [13c]. Dengan cara yang sama [apa pun] perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran yang tanpa arus-arus [kekotoran batin] dan tanpa kemelekatan, seseorang tidak akan memunculkan ketagihan atau kebencian terhadap kesadaran itu – apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang.<139> Ini disebut hal-hal tanpa arus [kekotoran batin].”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #5 on: 12 July 2015, 06:11:36 PM »
57. [Kotbah di Pārileyya]<140>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.<141>

Pada waktu itu Sang Buddha mengenakan jubah-Nya dan membawa mangkuk-Nya untuk memasuki kota Sāvatthī untuk mengumpulkan makanan. Setelah kembali, Beliau meletakkan jubah dan mangkuk-Nya dan, tanpa memberitahukan komunitas [Sangha] dan tanpa berkata kepada pelayan-Nya, sendirian dan tanpa seseorang yang menemani, Beliau mengembara di antara orang-orang di negeri-negeri di sebelah barat.<142>

Kemudian di hutan Andhavana terdapat seorang bhikkhu yang melihat dari jauh bahwa Sang Bhagava [telah berjalan mengembara] tanpa memberitahukan komunitas [Sangha] dan tanpa berkata kepada pelayan-Nya, sendirian dan tanpa seseorang yang menemani. Setelah melihatnya, ia mendekati Yang Mulia Ānanda dan berkata kepada Ānanda: “Yang Mulia, anda seharusnya mengetahui bahwa, tanpa memberitahukan komunitas [Sangha] dan tanpa berkata kepada pelayan-Nya, Sang Bhagava telah berangkat mengembara sendirian dan tanpa seseorang yang menemani.”

Pada waktu itu Ānanda berkata kepada bhikkhu itu: “Jika Sang Bhagava, tanpa memberitahukan komunitas [Sangha] dan tanpa berkata kepada pelayan-Nya, telah berangkat mengembara sendirian dan tanpa seseorang yang menemani, Beliau tidak seharusnya diikuti. Mengapa demikian? Karena sekarang Sang Bhagava menginginkan untuk berdiam dalam kedamaian, dengan sedikit urusan.”<143>

Pada waktu itu, dengan mengembara ke utara Sang Bhagava sampai di desa Pārileyya di negeri Vaṃsa, di mana Beliau berdiam di akar sebatang pohon Bhaddasāla di sebuah hutan yang dijaga orang-orang.<144>

Kemudian sekelompok banyak bhikkhu mendekati Ānanda dan berkata kepada Ānanda: “Kami sekarang [telah datang untuk] bertanya kepada anda: Di manakah Sang Bhagava berdiam?”<145>

Ānanda berkata: “Aku mendengar bahwa dengan mengembara ke utara Sang Bhagava telah tiba di desa Pārileyya di negeri Vaṃsa, di mana Beliau berdiam pada akar sebatang pohon Bhaddasāla di sebuah hutan yang dijaga orang-orang.”
Kemudian para bhikkhu itu berkata kepada Ānanda: “Yang Mulia, anda seharusnya mengetahui bahwa selama waktu yang lama kami tidak melihat Sang Bhagava.<146> Jika ini tidak menyulitkan anda, dapatkah anda bersama-sama kami mendekati Sang Bhagava, demi belas kasih?” Ānanda, yang mengetahui bahwa ini adalah waktu [yang tepat] untuk hal itu,<148> menerimanya dengan tetap berdiam diri.

Pada waktu itu, pada pagi hari, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Ānanda dan kelompok banyak bhikkhu mengenakan jubah mereka, mengambil mangkuk mereka dan memasuki kota Sāvatthī untuk mengumpulkan makanan. Setelah mengumpulkan makanan, mereka kembali ke vihara, meletakkan seperai mereka, membawa jubah dan mangkuk, dan pergi mengembara di antara orang-orang di negeri-negeri di sebelah barat. Dengan mengembara ke utara mereka sampai di desa Pārileyya di negeri Vaṃsa dan hutan yang dijaga orang-orang. Kemudian Yang Mulia Ānanda dan kelompok banyak bhikkhu meletakkan jubah dan mangkuk mereka. Setelah mencuci kaki mereka, mereka mendekati Sang Bhagava, [14a] memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki-Nya, dan duduk di satu sisi.<149>

Pada waktu itu Sang Bhagava mengajarkan Dharma kepada kelompok banyak bhikkhu itu, menasehati, memberikan pengajaran, memberikan manfaat, dan membuat mereka gembira. Pada waktu itu terdapat seorang bhikkhu di antara mereka yang duduk di sana yang berpikir: “Bagaimanakah seseorang memahami, bagaimanakah seseorang melihat sedemikian sehingga tiba pada penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dengan cepat?”

Pada waktu itu, mengetahui pemikiran dalam pikiran bhikkhu itu, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Mungkin di antara mereka yang duduk di sini seorang bhikkhu berpikir: ‘Bagaimanakah seseorang memahami, bagaimanakah seseorang melihat sedemikian sehingga tiba pada penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dengan cepat?’

“Aku telah mengajarkan kalian Dharma: ‘Kalian seharusnya dengan baik merenungkan kelompok unsur kehidupan, yaitu, [berdasarkan pengembangan] empat penegakan perhatian, empat usaha benar, empat landasan kekuatan batin, lima kemampuan, lima kekuatan, tujuh faktor pencerahan, dan delapan faktor jalan mulia.”<150>

“Aku telah mengajarkan kalian Dharma dengan cara ini,<151> bagaimanakah kalian seharusnya merenungkan kelompok unsur kehidupan. Sekarang seorang anggota keluarga yang masih tidak berusaha dengan harapan untuk bertindak, tidak berusaha bergembira di dalamnya, tidak berusaha merenungkannya, tidak berusaha memiliki keyakinan di dalamnya, tetapi ia sendiri berbangga diri dan malas, tidak akan dapat maju dan tiba pada penghancuran arus-arus [kekotoran batin].<152>

“Seandainya seorang anggota keluarga, yang telah diajarkan oleh-Ku Dharma tentang perenungan terhadap kelompok unsur kehidupan, berusaha dengan harapan [untuk bertindak], berusaha bergembira di dalamnya, berusaha merenungkannya, berusaha memiliki keyakinan di dalamnya. Ia dapat tiba pada penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dengan cepat.<153>

“Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar menganggap bentuk jasmani sebagai diri. Jika ia menganggap bentuk jasmani sebagai diri, ini disebut suatu bentukan. Apakah kondisi untuk bentukan ini, bagaimanakah ia muncul, bagaimanakah ia tumbuh, bagaimanakah ia berkembang? Kontak dengan ketidaktahuan memunculkan ketagihan. Bergantung pada ketagihan, bentukan ini muncul.<154>

“Apakah kondisi untuk ketagihan, bagaimanakah ia muncul, bagaimanakah ia tumbuh, bagaimanakah ia berkembang?<155> Perasaan adalah kondisi untuk ketagihan itu, ia muncul dengan perasaan, ia tumbuh dengan perasaan, dan dengan perasaan ia berkembang.<156>

“Apakah kondisi untuk perasaan, bagaimanakah ia muncul, bagaimanakah ia tumbuh, bagaimanakah ia berkembang? Kontak adalah kondisi untuk perasaan itu, ia muncul dengan kontak, ia tumbuh dengan kontak, dan dengan kontak ia berkembang.<157>

“Apakah kondisi untuk kontak, bagaimanakah ia muncul, bagaimanakah ia tumbuh, bagaimanakah ia berkembang? Yaitu, enam landasan indera adalah kondisi untuk kontak itu, ia muncul dengan enam landasan indera, ia tumbuh dengan enam landasan indera, dan dengan enam landasan indera ia berkembang.<158>

“Enam landasan indera itu adalah tidak kekal, dikondisikan oleh pikiran, keadaan yang muncul bergantungan.<159>
“Kontak, perasaan, ketagihan, dan bentukan itu juga adalah tidak kekal,<160> dikondisikan oleh pikiran, keadaan yang muncul bergantungan.<161>

“Dengan cara ini [seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar] merenungkan dan melihat bentuk jasmani sebagai diri. [Atau] ia tidak melihat bentuk jasmani sebagai diri, tetapi melihat bentuk jasmani sebagai milik diri.<162> [Atau] ia tidak melihat bentuk jasmani sebagai milik diri, tetapi melihat bentuk jasmani sebagai berada dalam diri. [Atau] ia tidak melihat bentuk jasmani sebagai berada dalam diri, tetapi melihat diri sebagai berada dalam bentuk jasmani.<163>

“[Atau] ia tidak melihat diri sebagai berada dalam bentuk jasmani, tetapi melihat perasaan sebagai diri. [Atau] ia tidak melihat perasaan sebagai diri, tetapi melihat perasaan sebagai milik diri. [Atau] ia tidak melihat perasaan sebagai milik diri, tetapi melihat perasaan sebagai berada dalam diri. [Atau] ia tidak melihat perasaan sebagai berada dalam diri, tetapi melihat diri sebagai berada dalam perasaan.<164>

“[Atau] ia tidak melihat diri sebagai berada dalam perasaan, tetapi melihat persepsi sebagai diri. [Atau] ia tidak melihat persepsi sebagai diri, tetapi melihat persepsi sebagai milik diri. [Atau] ia tidak melihat persepsi sebagai milik diri, tetapi melihat persepsi sebagai berada dalam diri. [Atau] ia tidak melihat persepsi sebagai berada dalam diri, tetapi melihat diri sebagai berada dalam persepsi.<165>

“[Atau] ia tidak melihat diri sebagai berada dalam persepsi, tetapi melihat bentukan sebagai diri. [Atau] ia tidak melihat bentukan sebagai diri, tetapi melihat bentukan sebagai milik diri. [Atau] ia tidak melihat bentukan sebagai milik diri, tetapi melihat bentukan sebagai berada dalam diri. [Atau] ia tidak melihat bentukan sebagai berada dalam diri, tetapi melihat diri sebagai berada dalam bentukan.<166>

“[Atau] ia tidak melihat diri sebagai berada dalam bentukan, tetapi melihat kesadaran sebagai diri. [Atau] ia tidak melihat kesadaran sebagai diri, tetapi melihat kesadaran sebagai milik diri. [Atau] ia tidak melihat kesadaran sebagai milik diri, tetapi melihat kesadaran sebagai berada dalam diri. [Atau] ia tidak melihat kesadaran sebagai berada dalam diri, tetapi melihat diri sebagai berada dalam kesadaran.<167>

“[Atau] ia tidak melihat diri sebagai berada dalam kesadaran, tetapi ia lebih jauh menganut pandangan pemusnahan, pandangan bahwa kelangsungan akan dimusnahkan.<168> [Atau] ia tidak menganut pandangan pemusnahan, pandangan bahwa kelangsungan akan dimusnahkan, tetapi ia tidak bebas dari kesombongan diri. Seseorang yang tidak bebas dari kesombongan diri masih melihat suatu “aku”. Melihat suatu “aku” itu adalah suatu bentukan. Apakah kondisi bagi bentukan itu, bagaimanakah ia muncul, bagaimanakah ia tumbuh, bagaimanakah ia berkembang?<169>

Dibacakan seperti sebelumnya sampai dengan kesombongan diri.<170> Seseorang yang memahami dengan cara ini dan melihat dengan cara ini dengan cepat tiba pada penghancuran arus-arus [kekotoran batin].”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #6 on: 12 July 2015, 06:14:49 PM »
58. [Kotbah tentang Sepuluh Pertanyaan]<171>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Taman Timur, Aula Ibu Migāra.

Pada waktu itu Sang Bhagava bangkit dari meditasi pada sore hari dan duduk pada tempat duduk yang disediakan di hadapan para bhikkhu. Beliau berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah lima hal itu? Yaitu, mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati... perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati.”<172>

Kemudian seorang bhikkhu bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sedemikian sehingga memperlihatkan bahu kanannya, bersujud di atas lantai dengan lutut kanan dan dengan kedua telapak tangan yang disatukan berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, [bolehkah aku menanyakan suatu pertanyaan tentang] lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini, kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati, perasaan... persepsi... bentukan... kelompok unsur kesadaran yang dilekati?”<173>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Kembalilah ke tempat dudukmu dan bertanyalah. Aku akan menjelaskannya kepadamu.”

Kemudian bhikkhu itu memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan kembali ke tempat duduknya semula. Ia berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, apakah akar dari lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini, bagaimanakah mereka muncul, bagaimanakah mereka tumbuh, bagaimanakah mereka berkembang?”<174>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini berakar dari keinginan, mereka muncul dari keinginan, mereka tumbuh dari keinginan, mereka berkembang dari keinginan.”

Kemudian bhikkhu itu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira di dalamnya. Ia berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, telah dikatakan bahwa lima kelompok unsur kehidupan dilekati, yang telah dikatakan dengan baik. Sekarang aku akan bertanya lebih lanjut tentang hal ini. Sang Bhagava, sehubungan dengan kelompok unsur kehidupan, apakah lima kelompok unsur kehidupan berbeda dari kemelekatan padanya?”<175>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Lima kelompok unsur kehidupan bukan sama dengan kemelekatan padanya dan lima kelompok unsur kehidupan bukan berbeda dari kemelekatan padanya. Kekuatan tersembunyi yang memiliki keinginan dan nafsu terhadapnya, itulah kemelekatan pada lima kelompok unsur kehidupan.”

Bhikkhu itu berkata kepada Sang Buddha: “Baiklah, Sang Bhagava”, dan ia bergembira di dalamnya.<176> “Sekarang aku memiliki pertanyaan lainnya. Sang Bhagava, apakah dua [kemunculan] kelompok unsur kehidupan berhubungan satu sama lain?”<177>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Demikianlah, demikianlah. Seandainya seseorang memperhatikan mereka seperti ini: ‘Semoga aku di masa depan mendapatkan bentuk jasmani seperti ini, [14a] perasaan seperti ini, persepsi seperti ini, bentukan seperti ini, dan kesadaran seperti ini.’ Bhikkhu, ini disebut menghubungkan kelompok unsur kehidupan dengan kelompok unsur kehidupan.”<178>

Bhikkhu itu berkata kepada Sang Buddha: “Ini dikatakan dengan baik”, dan ia bergembira di dalamnya.<179> Kemudian ia bertanya lagi: “Sang Bhagava, apakah yang disebut kelompok unsur kehidupan?”

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu secara bersama-sama disebut kelompok unsur bentuk jasmani. Ini disebut kelompok unsur kehidupan.<180> Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.<181> Dengan cara ini, bhikkhu, inilah yang disebut kelompok unsur kehidupan.”

Bhikkhu itu berkata kepada Sang Buddha: “Ini dikatakan dengan baik”, dan ia bergembira di dalamnya. Kemudian ia bertanya lagi: “Sang Bhagava, apakah sebab, apakah kondisi untuk menyebutnya kelompok unsur bentuk jasmani? Apakah sebab, apakah kondisi untuk menyebutnya kelompok unsur perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran?”<182>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Empat unsur adalah sebab, empat unsur adalah kondisi untuk kelompok unsur bentuk jasmani sehingga disebut demikian. Mengapa demikian? Karena apa pun bentuk jasmani yang ada, semuanya adalah empat unsur dan apa yang terbentuk berdasarkan empat unsur.<183>

Kontak adalah sebab, kontak adalah kondisi untuk munculnya perasaan, persepsi, dan bentukan. Oleh sebab itu kelompok unsur perasaan, persepsi, dan bentukan disebut demikian. Mengapa demikian? Karena apa pun perasaan, persepsi, dan bentukan yang ada, semuanya dikondisikan oleh kontak.<184> Nama-dan-bentuk adalah sebab, nama-dan-bentuk adalah kondisi, oleh sebab itu kelompok kesadaran disebut demikian. Mengapa demikian? Karena apa pun kesadaran yang ada, semuanya dikondisikan oleh nama-dan-bentuk.”<185>

Bhikkhu itu berkata kepada Sang Buddha: “Ini dikatakan dengan baik”, dan ia bergembira di dalamnya.<186> Kemudian ia bertanya lagi: “Apakah kepuasan dalam bentuk jasmani? Apakah bahaya dalam bentuk jasmani? Apakah jalan keluar dari bentuk jasmani? Apakah kepuasan dalam perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran? Apakah bahaya dalam kesadaran? Apakah jalan keluar dari kesadaran?”

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentuk jasmani – ini disebut kepuasan dalam bentuk jasmani. Bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentuk jasmani. Jika seseorang mendisplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, melampaui nafsu keinginan terhadap bentuk jasmani – ini disebut jalan keluar dari bentuk jasmani.

“Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran – ini disebut kepuasan dalam kesadaran. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam kesadaran. Mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, melampaui nafsu keinginan terhadap perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran – ini disebut jalan keluar dari kesadaran.”

Bhikkhu itu berkata kepada Sang Buddha: “Ini dikatakan dengan baik”, dan ia bergembira di dalamnya. Kemudian ia bertanya lagi: “Sang Bhagava, bagaimanakah kesombongan-aku muncul?”<187>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar menganggap bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya].<188> Ia menganggap perasaan... persepsi [15a]... bentukan... kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya].<189> Inilah munculnya kesombongan-aku.”

Bhikkhu itu berkata kepada Sang Buddha: “Ini dikatakan dengan baik”, dan ia bergembira di dalamnya. Kemudian ia bertanya lagi: “Sang Bhagava, bagaimanakah tidak terdapat kesombongan-aku?”<190>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Seorang siswa mulia yang terpelajar tidak menganggap bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]. Ia tidak menganggap perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya].”

Bhikkhu itu berkata kepada Sang Buddha: “Ini dikatakan dengan baik. Aku memiliki pertanyaan lainnya: Apakah yang harus dipahami, apakah yang harus dilihat, untuk tiba pada penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dengan cepat?”<191>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semuanya adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Para bhikkhu, memahami dengan cara ini, melihat dengan cara ini, seseorang dengan cepat tiba pada penghancuran arus-arus [kekotoran batin].”

Pada waktu itu di antara komunitas terdapat seorang bhikkhu lainnya dengan kemampuan yang tumpul dan tidak bijaksana. Berdiam dengan ketidaktahuan ia memunculkan suatu pandangan salah, dengan berpikir: “Jika tidak terdapat diri, dan perbuatan-perbuatan dilakukan oleh bukan diri, maka siapakah yang akan mengalami buahnya pada masa yang akan datang?”

Pada waktu itu, mengetahui pemikiran dalam pikiran bhikkhu itu, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Tampaknya di antara komunitas ini terdapat seorang yang bodoh tanpa kebijaksanaan dan pengetahuan yang berpikir: ‘Jika bentuk jasmani adalah bukan diri, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bukan diri, dan perbuatan-perbuatan dilakukan oleh bukan diri, maka siapakah yang akan mengalami buahnya?’ Dengan cara ini ia kebingungan. Pertama-tama, dengan cara menjelaskan kepadanya: Bagaimanakah, para bhikkhu, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Mereka menjawab: “Tidak kekal, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata]: “Apa yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

[Para bhikkhu menjawab]: “Dukkha, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata]: “Apa yang tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah, akankah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini melihatnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

[Para bhikkhu] menjawab: “Tidak, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata]: “Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini. Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semuanya adalah bukan diri dan bukan milik suatu diri. Seseorang yang melihatnya dengan cara ini memiliki pandangan benar. Perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran juga seperti ini.

“Seorang siswa mulia yang terpelajar yang merenungkan dengan cara ini mengembangkan kekecewaan. Dengan menjadi kecewa, ia bebas dari keinginan. Dengan bebas dari keinginan, ia terbebaskan. Dengan terbebaskan, ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, melalui ketidakmelekatan sekelompok banyak bhikkhu mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka.<192> Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #7 on: 12 July 2015, 06:20:55 PM »
Catatan Kaki:

<1> Bagian yang diterjemahkan mengandung jilid kedua dari Saṃyukta-āgama edisi Taishō, T II 7b22 sampai 15b1, yang berhubungan dengan bagian keempat dari bagian tentang kelompok unsur kehidupan menurut urutan yang direkonstruksi dari kumpulan ini. Identifikasi saya atas paralel Pāli didasarkan pada Akanuma 1929/1990 dan Yìnshùn 1983, dalam hal paralel pengggalan Sanskrit saya berhutang kepada Chung 2008; paralel Tibetan dalam ikhtisar Śamathadeva atas kutipan kotbah dari Abhidharmakośabhāṣya telah diidentifikasi oleh Honjō 1984 dan diterjemahkan oleh Dhammadinnā 2014, yang dalam catatan kakinya mencakup variasi-variasi yang ditemukan dalam paralel Tibetan. Di sini dan tempat lain, saya mengadopsi istilah Pāli untuk nama-nama diri dan istilah doktrinal untuk memfasilitasi perbandingan dengan paralel Pāli, kecuali untuk istilah-istilah seperti Dharma dan Nirvāṇa, tanpa oleh karenanya bermaksud mengambil posisi pada bahasa asli dari naskah Saṃyukta-āgama yang digunakan untuk terjemahan. Dalam mereproduksi teks Sanskrit dari edisi yang diromanisasi, saya mengikuti kebiasaan dari masing-masing penyunting (kecuali untuk kapitalisasi). Untuk kotbah 33 sampai 36 rekonstruksi saya atas judul masing-masing didasarkan pada uddāna yang ditemukan setelah kotbah 36. Dalam hal judul yang sama diterapkan pada lebih dari satu kotbah, saya menambahkan “pertama”, “kedua”, dst., pada judulnya, yang tanpa dukungan dalam uddāna masing-masing.

<2> Kotbah ini, yang tidak ada paralel yang diketahui, sama dengan kotbah berikutnya, SĀ 34, kecuali untuk lokasi dan pendengar kotbahnya, dan untuk beberapa perbedaan kecil dalam rumusan. Karena perbedaan pendengar, ia juga tidak memiliki pernyataan dalam SĀ 34 bahwa lima orang bhikkhu itu terbebaskan ketika mendengarkan pengajaran ini.

<3> Paralel: SN 22.59 dalam SN III 66,23 ( = Vin I 13,18); T 102 dalam T II 499c5 ( = Mūlasarvāstivāda Vinaya, T 1451 dalam T XXIV 407a26; cf. juga T 1450 dalam T XXIV 128b16, Gnoli 1977: 138,10, Waldschmidt 1957: 162, dan Hartmann 1991: 102 §25), Mahīśāka Vinaya, T 1421 dalam T XXII 105a15, Dharmaguptaka Vinaya, T 1428 dalam T XXII 789a12, Mahāvastu, Senart 1897: 335,11; untuk paralel penggalan Gāndhārī cf. Allon dalam Glass 2007: 15 (saya berhutang kepada Mark Allon untuk berbagi dengan saya informasi pada penggalan yang belum diterbitkan dan pembahasannya tentang hal ni dalam keterangan tentang paralelnya), untuk penggalan yang lebih lanjut cf. Hartmann dan Wille 1992: 36 dan 1997: 139 (cf. Chung 2008: 60 catatan no.47), 144 dan 145. Suatu penyelidikan yang komprehensif atas versi-versi paralel akan membutuhkan artikel tersendiri, karenanya dalam apa yang mengikuti saya membatasi diri untuk menyediakan rekonstruksi dari bacaan Sanskrit yang berhubungan dari Catuṣpariṣat-sūtra edisi Waldschmidt. Perbandingan yang lebih terperinci akan disediakan dalam Allon (akan terbit).

<4> Menurut catatan tradisi Mūlasarvāstivāda tentang permulaan aktivitas pengajaran Sang Buddha, Kondañña telah menjadi seorang arahant sebelumnya; cf. Waldschmidt 1951/1967: 180. Dengan pengajaran saat ini empat orang lainnya dari lima orang itu akan mencapai hal yang sama.

<5> Waldschmidt 1957: 162 (15.1): (atha bhagavān avaśiṣṭān pañcakānāṃ bhikṣūṇām āmantrayate).

<6> Waldschmidt 1957: 162 (15.2): (rūpaṃ bh)ikṣavo 'nātmā, rūpañ ced ā(tmābhaviṣyad rūpaṃ na vyābādhāya duḥkhāya saṃvarteta labhyeta ca rūpa)sya, evaṃ me rūpaṃ bhava(tv evaṃ mā bhūd iti). SN 22.59 dalam SN III 66,27 memiliki rumusan yang berhubungan erat, yang menyatakan jika bentuk jasmani adalah diri, “seseorang akan dapat memerintahkan bentuk jasmani: Biarlah bentuk jasmaniku seperti ini; biarlah bentuk jasmaniku tidak seperti itu,” labbhetha ca rūpe: evaṃ me rūpaṃ hotu, evaṃ me rūpaṃ mā ahosī ti. Sementara Kuan 2009: 169 menemukan suatu perbedaan penting antara rumusan dalam SN 22.59 dan SĀ 34, tampaknya bahwa kedua poin menunjuk pada masalah yang sama, yaitu ketiadaan kendali atas masing-masing kelompok unsur kehidupan; cf. juga bacaan yang berhubungan dalam Mahāvastu, Senart 1897: 335,14, yang membaca: ṛdhyāc ca rūpe kāmakārikatā evaṃ me rūpaṃ bhavatu evaṃ mā bhavatu. Dalam pandangan kesamaan antara penggalan Catuṣpariṣat-sūtra dan SN 22.59, perbedaan dalam SĀ 34 menunjukkan kemungkinan dari hasil terjemahan dan tidak perlu mencerminkan perbedaan konsepsi yang penting atas ajaran bukan diri. Dengan demikian saya mengambilnya bahwa poin utama dalam semua versi ini adalah untuk menekankan kegagalan kelompok unsur kehidupan untuk dapat dikendalikan pada penggunaan kendali yang penuh, ini sebaliknya menjadi suatu persyaratan intrinsik untuk suatu diri. Menurut penggambaran standar dari sakkāyadiṭṭhi, suatu konsepsi diri yang demikian dapat dijelaskan sehubungan dengan masing-masing kelompok unsur kehidupan dengan cara yang berbeda-beda: a) dengan menganggap kelompok unsur kehidupan berhubungan dengan diri, b) dengan menganggap diri dianugerahi dengan kelompok unsur kehidupan, c) dengan menganggap kelompok unsur kehidupan adalah bagian dari diri, d) dengan menganggap diri berada dalam kelompok unsur kehidupan; cf. Anālayo 2010b: 47 catatan no.21. Untuk suatu tanggapan pada Kuan 2009 cf. juga Adam 2010/2011: 246f catatan no.13.

<7> Waldschmidt 1957: 164 (15.3): (yasmāt tarhi rūpam anātmā tasmād rūpaṃ vyābādhāya duḥkhāya saṃvartate na) ca labhyate rūpa(sya, evaṃ me rūpaṃ bhavatv evaṃ mā bhūd iti).

<8> Waldschmidt 1957: 164 (15.4): (ve)danā saṃjñā saṃskārā vijñānaṃ bhikṣavo 'nātm(ā), yang diikuti dengan memberikan uraian lengkap lagi untuk kasus kesadaran.

<9> Waldschmidt 1957: 164 (15.6): kiṃ manyadhve bhi(kṣavaḥ, rūpaṃ nityam ani)tyam vā? anityaṃ bhadant(a).

<10> Waldschmidt 1957: 166 (15.7): y(at punar anityaṃ duḥkhaṃ tan na vā duḥkhaṃ)? duḥkhaṃ bhadanta.

<11> Waldschmidt 1957: 166 (15.8 ): yat punar anityaṃ duḥkhaṃ vipariṇāmadharmy (api nu tac chrutavān āryaśrāvaka ātmata upagacched e)tan mama, eṣo 'ham asmi, (eṣa ma ātmeti)?

<12> Waldschmidt 1957: 166 (15.9): no bhadanta.

<13> Waldschmidt 1957: 166 (15.10): evaṃ vedanā saṃjñā saṃskārā vijñānaṃ nit(y)am (anityaṃ vā); yang diikuti dengan memberikan uraian lengkap lagi untuk kasus kesadaran.

<14> Waldschmidt 1957: 168 (15.16): (ta)smāt tarhi bhikṣavo yat kiñcid rūpam atītānāgatapratyu(tpannam ādhyātmikaṃ vā bahirdhā vaudārikaṃ vā sūkṣmaṃ vā hīnaṃ vā praṇītaṃ vā ya)d vā dūre yat vāntike tat sarva(ṃ) naitan mama, naiṣo 'ham (a)smi, naiṣa ma ātme(ti, evam etad yathābhūtaṃ samyakprajñayā draṣṭavyam). Pernyataan bahwa semua bentuk jasmani dan juga semua kelompok unsur kehidupan lainnya adalah bukan diri hilang dari paralel penggalan Gāndhārī; cf. Allon (akan terbit).

<15> Waldschmidt 1957: 168 (15.17): (evaṃ) yā kācid vedanā yā kācit saṃjñā ye kecit saṃskārā yat kiñ(cid vijñānam); yang diikuti dengan memberikan uraian penuh lagi untuk kasus kesadaran.

<16> Waldschmidt 1957: 170 (15.18): yataś ca bhikṣa(vaḥ śrutavān āryaśrāvakaḥ pañcopadānaskandhān naiṣo 'haṃ naiṣo mama samanupaśyaty evam eva samanupaśyan na kiñcid loka upādatte, nopā)dadāno na paritasyate ('paritasyan pratyātmam eva parinirvāti, kṣīṇā me jātir uṣitaṃ brahmacaryaṃ kṛtaṃ karaṇīyaṃ nāparam asmād bhāvam iti prajānāti). Kemajuan menuju Nirvāṇa dalam SN 22.59 pada SN III 68,20 membawa dari melihat kelompok unsur kehidupan sebagaimana adanya menuju menjadi kecewa, nibbindati, yang menjadi tanpa nafsu, virajjati, dan menjadi terbebaskan, vimuccati.

<17> Waldschmidt 1957: 170 (15.19): (a)smin khalu dha(r)maparyā(ye bhāṣyamāṇe 'vaśiṣṭānāṃ pañcakānāṃ bhikṣūṇāṃ anupādāyāsravebhyaś cittaṃ vimuktam). Paralel Sanskrit mengindikasikan bahwa ungkapan 不起 dalam frase 不起諸漏心得解脫 dalam SĀ 35 akan menerjemahkan anupādāya.

<18> SN 22.59 dalam SN III 68,26 pertama mencatat bahwa lima orang bhikkhu bergembira dalam kotbah Sang Buddha dan kemudian melaporkan bahwa selama penyampaiannya mereka mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin].

<19> Paralel: SN 22.43 dalam SN III 42,6 dan sebuah kutipan kotbah dalam Mūlasarvāstivāda Vinaya, D 1 kha 99b5 atau Q 1030 ge 92a6; cf. juga T 1448 dalam T XXIV 37b27; yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 76f.

<20> SN 22.43 dalam SN III 42,6 alih-alih menyebutkan Sāvatthī sebagai lokasinya. Lokasi dari kotbah saat ini muncul lagi dalam SĀ 639 pada T II 177a15, paralel pada SN 47.14, yang berada dalam SN V 163,24 memberikan lokasinya sebagai Ukkacelā pada tepi sungai Gangga.

<21> Yìnshùn 1983: 143 catatan no.3 menyarankan untuk memperbaiki 四 untuk membaca 因, yang dengan mengikutinya pertanyaan saat ini tidak akan secara eksplisit menunjuk pada “empat”.

<22> SN 22.43 tidak melaporkan permintaan oleh para bhikkhu dan alih-alih melanjutkan dengan Sang Buddha menjelaskan keadaan berbahaya dari orang duniawi yang tidak terpelajar dalam empat modus alternatif (lihat di atas catatan no.6) menganggap masing-masing kelompok unsur kehidupan sebagai suatu diri dan kemudian menderita karena perubahannya.

<23> Di sini, juga, alih-alih tanya-jawab, SN 22.43 melanjutkan dengan Sang Buddha menguraikan topik itu.

<24> Penyunting CBETA memperbaiki 已 menjadi 苦, sesuai dengan pembacaan yang ditemukan dalam bagian uraian berikutnya. Saran ini tidak didukung oleh SN 22.43 dalam SN III 43,4, yang (mengambil kasus kelompok unsur kehidupan yang pertama) hanya membaca viditvā vipariṇāmaṃ (Ce: vipariṇāma), tetapi melanjutkan dengan aniccaṃ dukkhaṃ vipariṇāmadhamman ti (Ee: viparināma°); cf. juga Yìnshùn 1983: 141, yang tidak memperbaiki已.

<25> Menurut SN 22.43 dalam SN III 43,10, seorang bhikkhu yang demikian disebut sebagai “padam dalam hal itu”, tadaṅganibbuto.

<26> SN 22.43 tidak melaporkan realisasi apa pun.

<27> Paralel: SN 22.94 dalam SN III 138,25; suatu paralel penggalan Gāndhārī, yang dijelaskan Allon dalam Glass 2007: 16 (saya berhutang pada Mark Allon untuk berbagi dengan saya informasi tentang penggalan yang belum diterbitkan dan pembahasannya tentang hal ini dalam keterangan tentang paralelnya); dan sebuah kutipan kotbah dalam Prasannapadā, La Vallée Poussin 1903/1970: 370,6. Untuk kotbah 37 sampai 46 rekonstruksi saya atas masing-masing judul didasarkan pada uddāna yang ditemukan setelah kotbah 46.

<28> La Vallée Poussin 1903/1970: 370,6: loko mayā sārdhiṃ vivadati nāhaṃ lokena sārdhiṃ vivadāmi.

<29> La Vallée Poussin 1903/1970: 370,7: yalloke 'sti saṃmatam, tan mamāpyasti saṃmatam, yalloke nāsti saṃmatam, mamāpi tan nāsti saṃmatam.

<30> SN 22.94 dan paralel penggalan Gāndhārī mengadopsi urutan yang berkebalikan, karena mereka pertama mencakup ketiadaan suatu bentuk jasmani yang kekal, dst., sebelum mengambil keberadaan bentuk jasmani yang tidak kekal, dst.

<31> Terjemahan saya mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 146 catatan no.3 untuk menghapus 是.

<32> SN 22.94 dalam SN III 139,29 hanya menyebutkan masing-masing kelompok unsur kehidupan, tanpa mengulangi sifat tidak kekalnya, dst.

<33> Penambahan saya mengikuti Yìnshùn 1983: 144.

<34> SN 22.94 dalam SN III 140,16 pada titik ini melanjutkan dengan suatu perumpamaan yang membandingkan kondisi Sang Buddha dengan sekuntum seroja yang muncul di atas air. Perumpamaan juga ditemukan dalam paralel penggalan Gāndhārī; cf. Allon (akan terbit).

<35> Suatu daftar yang dapat dibandingkan tentang berbagai nama untuk sebuah bejana dalam ditemukan dalam MN 139 pada MN III 234,34 dan paralelnya MĀ 169 dalam T I 703a4 dan D  4094 ju 46a5 atau Q 5595 tu 50a2 (cf. Pradhan 1967: 31,14); cf. juga penggalan 423r4-5 dari Pṛṣṭhapāla-sūtra, Melzer 2006: 284.

<36> Penambahan saya mengikuti Yìnshùn 1983: 144.

<37> Paralel: SN 22.54 dalam SN III 54,5; penggalan Sanskrit Kha ii 6a, La Vallée Poussin 1913: 574; kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 15,16, 118,10, 333,6 (cf. juga Pāsādika 1989: 104 §409), dan 434,20, dengan kutipan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 107a7 atau Q 5595 tu 122b8, D 4094 nyu 10b1 atau Q 5595 thu 43a7, dan D 4094 nyu 71a2 atau Q 5595 thu 115b1, (cf. juga D 4094 ju 24b1 atau Q 5595 tu 27a3), yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 77ff; dan kutipan dalam Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1936: 522,20, dan dalam Nibandhana pada Arthaviniścaya-sūtra, Samtani 1971: 164,1.

<38> Kha ii 6a1, La Vallée Poussin 1913: 574: katamāni paṃca?

<39> Daftar dari lima jenis benih berbeda sedikit dalam SN 22.54 pada SN III 54,7.

<40> Kha ii 6a2, La Vallée Poussin 1913: 574: tāni navāni sārāṇi sukhaśayitā; cf. juga Kha ii 6a3: pūtini vātātapānupahatāni na, and Kha ii 6a5: jātāni akhaṇḍāny apūtīni vātātapā.

<41> SN 22.54 dalam SN III 54,10 mulai dengan kasus bahwa tidak ada tanah ataupun air, diikuti oleh kemungkinan bahwa terdapat tanah dan air tetapi benih rusak dan tidak ditanam dengan baik. Perbedaan lainnya adalah bahwa SN 22.54 bekerja melalui kasus-kasus ini dengan cara tanya-jawab antara Sang Buddha dan para bhikkhu.

<42> Penambahan saya mengikuti Yìnshùn 1983: 146.

<43> Kha ii 6a4, La Vallée Poussin 1913: 574: bhikṣavaḥ paṃca bījajātāni akha. Wogihara 1936: 522,20: yataś ca bhikṣavaḥ paṃca bīja-jātāny akhaṇḍāni acchidrāṇi apūtīni a-vāt'ātapa-hatāni navāni sārāṇi sukha-śayitāni, pṛtivī-dhātuś ca bhavaty abdhātuś ca. evaṃ tāni bījāni vṛddhiṃ virūḍhiṃ vipulatām āpadyaṃte. Samtani 1971: 164,1: yataś ca bhikṣavaḥ pañcabījajātānyakhaṇḍānyacchidrāṇyapūtīnyavātātapahatāni na vā nīsārāṇi pṛthivyaṃ sukhaśayitāni pṛthivīdhātuś ca bhavati, abdhātuś ca bhavati, tejodhātuś ca bhavati. evaṃ tāni bījajātāni vṛddhiṃ viruḍhiṃ vipulatāmāpdyante.

<44> Kha ii 6a6, La Vallée Poussin 1913: 574: tad[ya]thā bhikṣavaḥ. Pradhan 1967: 333,6: pañca bījajātānīti sopādānasya vijñānasyaitad adhivacanam. Wogihara 1936: 522,23: iti hi bhikṣava upamêyaṃ kṛtā yāvad evâsyârthasya vijñaptaya itîmaṃ dṛṣṭâṃtam upanyasyêdam uktaṃ. paṃca bīja-jātānîti bhikṣavaḥ sôpādānasya vijñānasyaîtad adhivacanaṃ. Samtani 1971: 164,4: iti bhikṣava upameyaṃ kṛtā yāvadasyārthasya vijñaptaye and pañcabījajātānī'ti sopādānasya vijñānasyaitad adhivacanam.

<45> Pradhan 1967: 333,6: pṛthivīdhātur iti catasṛṇāṃ vijñānasthitīnām etad adhivacanam iti. Wogihara 1936: 522,25: pṛthivī-dhātur iti catasṛṇāṃ vijñāna-sthitīnām etad adhivacanam iti. Samtani 1971: 164,6: pṛthivīdhātur'iti catasṛṇāṃ vijñānasthitīnām etad adhivacanam.

<46> Terjemahan saya atas ungkapan 封滯 dalam SĀ 39 pada T II 9a14 dan 9a17 sebagai “terlibat dengan” didasarkan pada kotbah berikutnya, di mana ia jelas berfungsi sebagai padanan pada upāya dalam paralel SN 22.53.

<47> Di sini dan dalam kalimat berikutnya saya mengikuti perbaikan oleh Yìnshùn 1983: 149 catatan no.2 atas 觸 untuk membaca 縛, sesuai dengan rumusan yang digunakan sebelumnya dalam SĀ 39 untuk bentuk jasmani.

<48> SN 22.54 berakhir pada titik ini dan dengan demikian tidak memiliki padanan pada bagian sisanya dari SĀ 39.
<49> Paralel: SN 22.53 dalam SN III 53,5 dan penggalan Sanskrit Kha ii 6b, La Vallée Poussin 1913: 574. Perbedaan antara SN 22.53 dan SĀ 40 seperti perbedaan antara SN 22.54 dan SĀ 39.

<50> Kha ii 6b1, La Vallée Poussin 1913: 574: tiṣṭhitaṃ naṃdyu[pase]vanaṃ vṛddhi; cf. juga Kha ii 6b2: gatiṃ vā sthitiṃ vā cyutiṃ vā upapattiṃ vā vṛddhiṃ.

<51> Terjemahan saya mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 149 catatan no.4 untuk memperbaiki 識 untuk membaca 界.

<52> Kha ii 6b3, La Vallée Poussin 1913: 574: padhātoḥ bhikṣoḥ rāgo vigato bhavati rāgasya; cf. juga Kha ii 6b4: cchidyata ālaṃbanam, pratiṣṭhā vijñānas[ya], dan Kha ii 6b5: eva parinirvvāti kṣīṇā me.

<53> Paralel: SN 22.56 dalam SN III 58,29.

<54> SN 22.56 dalam SN III 59,4 alih-alih mengadopsi suatu putaran berunsur empat (mengikuti pola empat kebenaran mulia): kelompok unsur kehidupan, munculnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya.

<55> Menurut SN 22.56 dalam SN III 59,3, Sang Buddha tidak menyatakan telah mencapai pencerahan sempurna sampai Beliau memperoleh pemahaman penuh yang demikian atas lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati.

<56> SN 22.56 dalam SN III 59,21 alih-alih menghubungkan munculnya bentuk jasmani dengan makanan (āhāra).

<57> SĀ 41 dalam T II 9c29: 純一, yang akan menjadi suatu terjemahan dari kevalin, sama dengan istilah yang ditemukan dalam SN 22.56 pada SN III 61,27; cf. Hirakawa 1997: 927.

<58> Suatu penjelasan yang dapat dibandingkan muncul dalam SN 22.56 setelah masing-masing kelompok unsur kehidupan. Alih-alih berakhir dengan referensi pada akhir dukkha, SN 22.56 (contohnya, SN III 59,35) menunjukkan bahwa tidak ada putaran yang dapat ditunjukkan untuk mereka, vaṭṭaṃ tesaṃ n'atthi paññāpanāya; untuk suatu pembahasan atas ungkapan ini cf. Ñāṇananda 2007: 446.

<59> Paralel: SN 22.57 dalam SN III 61,29; SĀ3 27 dalam T II 498c19; T 150A dalam T II 875b4 sampai 875c16 dan 876b1 sampai 876c7; sebuah kutipan kotbah dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 nyu 19a2 atau Q 5595 thu 53a3 (cf. Pradhan 1967: 356,9), yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 82ff, sebuah kutipan kotbah dalam Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1936: 552,6; sebuah kutipan kotbah dalam Abhidharmadīpa & Vibhāṣāpṛabhāvṛtti, Jaini 1959: 320,17+19; dan mungkin SHT IV 30h3, Sander dan Waldschmidt 1980: 93. Judul dari T 150A, 七處三觀經, tampaknya diinspirasi oleh kotbah saat ini, yang merupakan bagian dari T 150A tampaknya hasil dari penambahan yang belakangan; cf. Lü 1963: 242 dan Harrison 1997: 262f, yang berhasil dalam merekonstruksi urutan T 150A. Seperti yang ditunjukkan Harrison 2002: 19, versi kotbah dalam T 150A sama dengan SĀ3 27. Suatu edisi ringkas dan terjemahan dari versi T 150A dan SĀ3 27, berdampingan dengan SN 22.57, dapat ditemukan dalam Vetter dan Harrison 1998. Untuk terjemahan dari frase pendahuluan tentang bentuk jasmani dalam SĀ 42 cf. Choong 2000: 34.

<60> Jaini 1959: 320,19: saptasthāne kuśalo bhikṣuḥ trividhārthopaparīkṣī kṣipramevāsravakṣayaṃ karoti.

<61> SN 22.57 dalam SN III 61,31 mengatakan tentang seorang yang telah menyelesaikan (kevalin) dalam Dharma dan Vinaya ini, manusia tertinggi.

<62> Wogihara 1936: 552,6: kathaṃ ca bhikṣavo bhikṣuḥ sapta-sthāna-kuśalo bhavati?

<63> Wogihara 1936: 552,6: rūpaṃ yathābhūtaṃ prajānāti, rūpa-samudayaṃ rūpa-nirodhaṃ rūpa-nirodha-gāminīṃ pratipadaṃ rūpasy' āsvādam ādīnavaṃ niḥsaraṇaṃ yathābhūtaṃ prajānāti. Jaini 1959: 320,17: rūpaṃ yathābhūtaṃ prajānāti rūpasamudayaṃ rūpanirodhaṃ rūpanirodhagāminīṃ pratipadaṃ rūpasy' āsvādaṃ rūpasyādīnavaṃ rūpasya niḥsaraṇam.

<64> Wogihara 1936: 552,9: evaṃ vedanāṃ saṃjñāṃ saṃskārān vijñānaṃ yathābhūtaṃ prajānāti, vijñāna-samudayaṃ vistareṇa yāvan niḥsaraṇaṃ yathābūtaṃ prajānātîti.

<65> SN 22.57 dalam SN III 62,13 alih-alih menghubungkan munculnya bentuk jasmani dengan makanan; SĀ3 27 dalam T II 499a2 dan T 150A dalam T II 875b20 bersepaham dalam hal ini dengan SĀ 42.

« Last Edit: 12 July 2015, 06:47:37 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #8 on: 12 July 2015, 06:33:48 PM »
<66> SN 22.57 dalam SN III 62,22 melanjutkan setelah bentuk jasmani dengan suatu penjelasan para pertapa dan brahmana yang sama dengan apa yang ditemukan dalam SN 22.56, suatu pola yang berlanjut dengan sama untuk kelompok unsur kehidupan lainnya; SĀ3 27 dan T 150A melanjutkan secara langsung dari bentuk jasmani ke topik perasaan, oleh sebab itu bersepaham dalam hal ini dengan SĀ 42.

<67> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 受; cf. juga Yìnshùn 1983: 154 catatan no.2.

<68> Cf. juga SHT IV 30h3B8, Sander dan Waldschmidt 1980: (u)[tpa]dyate sukham-u.

<69> Cf. juga SHT IV 30h3B9, Sander dan Waldschmidt 1980: rmiṇī ayaṃ saṃ.

<70> Cf. juga SHT IV 30h3B10, Sander dan Waldschmidt 1980: (c)[cha]ndarāgasa[m].

<71> Menurut SN 22.57 dalam SN III 65,14, tiga penyelidikan mengambil unsur-unsur, landasan-landasan, dan kemunculan bergantungan sebagai topiknya. SN 22.57 tidak merincikan di mana penyelidikan demikian harus dilakukan.

<72> Paralel: SN 22.7 dalam SN III 15,26 dan SHT V 1347, Sander dan Waldschmidt 1985: 234f (dengan suatu koreksi dari R3 oleh S. Dietz dalam Bechert 1995: 293).

<73> SHT V 1347 V3, Sander dan Waldschmidt 1985: 234: pṛthagjano rūpam-ātm-eti samanupa[śya](ti). SN 22.7 dalam SN III 16,4 memberikan penggambaran yang lebih terperinci tentang orang duniawi.

<74> SHT V 1347 V4, Sander dan Waldschmidt 1985: 234: parāmarśasthāyi bhavati tasy-āhaṃ rūpaṃ mama rūpam-iti.

<75> SHT V 1347 V5, Sander dan Waldschmidt 1985: 234: pariṇāmād-anyathibhāvādrūpavipariṇām-anuparivarti bhavati vijñānaṃ.

<76> SHT V 1347 V6, Sander dan Waldschmidt 1985: 234: paryādāya tiṣṭhati cetasaḥ [pa] (ryā)dānā-uttrāsav[ā](ṃ)[ś]; SHT V 1347 R1: [v]ā[ny]am iyatā ūpādāya-pari [tasya]nā bhavati, kiyatā.

<77> SHT V 1347 R2, Sander dan Waldschmidt 1985: 234: nupaśyati na rūpam-ātmāni rūpaṃ na rū<paṃ> ātmā na so-haṃ rūpaṃ mama.

<78> Mengadopsi varian 已 alih-alih 色; cf. juga Yìnshùn 1983: 156 catatan no.3.

<79> SHT V 1347 R3, Sander dan Waldschmidt 1985: 234: rāmarśasthāyinaḥ tad-rūpa(ṃ) vipariṇamaty-a<nya>athībhavati, ta (cf. Bechert 1995: 293).

<80> SHT V 1347 R4, Sander and Waldschmidt 1985: 235: vati vijñānaṃ tasya na rūpavipariṇāmānuparivarti.

<81> SHT V 1347 R5, Sander dan Waldschmidt 1985: 235: paryādānād-anutrāsavāṃś-ca bhavaty-avighātavāṃś-c-ānupādārpāya.

<82> Penambahan saya mengikuti Yìnshùn 1983: 155.

<83> SHT V 1347 R6, Sander dan Waldschmidt 1985: 235: anupādāya-aparitasyanā bhavati, iti hy-āyuṣmaṃto yad.

<84> Paralel: SN 22.8 dalam SN III 18,14.

<85> Dalam SN 22.8 pada SN III 18,18 orang duniawi menganggap masing-masing kelompok unsur kehidupan sebagai: “ini milikku, aku adalah ini, ini diriku”.

<86> SN 22.8 dalam SN III 18,21 hanya menyatakan bahwa dengan perubahan dan menjadi sebaliknya dari kelompok unsur kehidupan, dukacita, ratap tangis, dst. muncul.

<87> Paralel: SN 22.47 dalam SN III 46,8, sebuah kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 282,1 (cf. juga Pāsādika 1989: 94 §365), dengan kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 268b7 atau Q 5595 thu 12a4 dan D 4094 nyu 83b7 atau Q 5595 thu 130a5, yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 89ff, dan sebuah kutipan kotbah dalam Abhidharmadīpa & Vibhāṣāpṛabhāvṛtti, Jaini 1959: 272,6; untuk suatu kutipan dari SĀ 45 cf. Choong 2000: 63.

<88> SN 22.47 tidak memiliki suatu pernyataan pendahuluan yang demikian tentang lima kelompok unsur kehidupan.

<89> Pradhan 1967: 282,1: ye kecid bhikṣavaḥ śramaṇā vā brāhmaṇā vā ātmeti samanupaśyantaḥ samanupaśyanti sarve ta imān eva pañcopādanaskandhān iti. Jaini 1959: 272,6: ye kecid ātmeti samanupaśyantaḥ samanupaśyanti sarve ta imān eva pañcopādānaskandhān samanupaśyantaḥ samanupaśyanti; cf. juga Wogihara 1932: 300,13: ye kecic chramaṇā brāhmaṇā vā ātmêti samanupaśyantaḥ samanupaśyaṃti sarve ta imān eva paṃcôpādāna-skandhān iti.

<90> SN 22.47 dalam SN III 46,21 mendaftarkan lima kemampuan fisik pada titik ini, di mana setelahnya melanjutkan secara langsung dengan pikiran, objek-pikiran, dan unsur ketidaktahuan.

<91> Pemikiran yang digambarkan dalam SN 22.47 pada SN III 46,26 adalah ‘aku ada’ , ‘aku adalah ini’, ‘aku akan ada’, ‘aku tidak akan ada’, ‘aku akan ada dengan bentuk’, ‘aku akan ada tanpa bentuk’, ‘aku akan berpersepsi’, ‘aku akan tidak berpersepsi’, dan ‘aku akan tidak berpersepsi ataupun bukan tidak berpersepsi’.

<92> SN 22.47 dalam SN III 47,1 memulai bagian yang berhubungan dengan menyatakan lima indera tetap tepat di sana, tetapi siswa mulia meninggalkan ketidaktahuan dan membangkitkan pengetahuan.

<93> Paralel: SN 22.79 dalam SN III 86,9 (cf. juga Net 30,17), kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 9,10, 10,21, and 467,7 (cf. juga Pāsādika 1989: 21 §9, 22 §12, 127 §514f), dan dalam Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1936: 705,15 (cf. juga Wogihara 1932: 34,13, 37,24, and 282,14), dengan kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 15b6 atau Q 5595 tu 17b1 dan D 4094 ju 66b1 atau Q 5595 tu 74a2 (cf. juga D 4094 nyu 84a2 atau Q 5595 thu 130a8), yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 92ff; untuk terjemahan kutipan dari SĀ 46 cf. Choong 2000: 25–29. Rekonstruksi saya atas judulnya didasarkan pada referensi uddāna bergantung pada suatu koreksi yang disarankan Yìnshùn 1983: 160 catatan no.5.

<94> SN 22.79 tidak memiliki suatu pernyataan pendahuluan demikian tentang lima kelompok unsur kehidupan.

<95> Pradhan 1967: 467,7: ye kecid anekavidhaṃ pūrvanivāsaṃ samanusmarantaḥ samanvasmārṣuḥ samanusmaranti samanusmariṣyanti vā punaḥ sarve ta imān eva pañcopādānaskandhān iti. Wogihara 1936: 705,15: yadîmān eva paṃcôpādāna- skandhān samanusmarantaḥ samanvasmārṣuḥ samanusmaranti samanusmariṣyanti vā.

<96> Pradhan 1967: 467,9: rūpavān aham abhūvam atīte 'dhvanīti. Wogihara 1936: 705,17: rūpavān ahaṃ babhūvâtīte adhvanîti.

<97> SN 22.79 tidak mendaftarkan berbagai bentuk terkena serangan.

<98> Pradhan 1967: 9,10: rūpyate rūpyata iti bhikṣavas tasmād rūpopādānaskandha ity ucyate. kena rūpyate? pāṇisparśenāpi spṛṣṭo rūpyata iti; cf. juga Wogihara 1932: 34,13. SN 22.79 dalam SN III 86,22 menyatakan bahwa bentuk (rūpa) dirundung (ruppati) oleh dingin, panas, kelaparan, kehausan, dan oleh kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan ular.

<99> SN 22.79 tidak mengikuti definisinya tentang masing-masing kelompok unsur kehidupan dengan sifat sejati mereka.

<100> Definisi persepsi dalam SN 22.79 pada SN III 87,5 alih-alih mendaftarkan berbagai warna.

<101> Pradhan 1967: 10,21: saṃskṛtam abhisaṃskaroti, tasmāt saṃskārā upādānaskandha ity ucayta; cf. juga Wogihara 1932: 37,24 and 282,14.

<102> SN 22.79 dalam SN III 87,19 mendefinisikan kesadaran dengan cara menyadari berbagai rasa.

<103> Di sini dan di bawah terjemahan saya mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 160 catatan no.3  guna memperbaiki 滅患 untuk membaca 滅盡.

<104> SN 22.79 melanjutkan pada titik ini dengan tanya-jawab standar tentang lima kelompok unsur kehidupan yang tidak kekal, dukkha, dan bukan diri, yang diikuti dalam SN III 89,22 dengan suatu kelompok dari empat frase yang dapat dibandingkan, walaupun dirumuskan dengan beberapa perbedaan.

<105> Di sini dan di bawah terjemahan saya mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 160 catatan no.4 guna memperbaiki 滅 untuk membaca 減.

<106> Bacaan ini tidak memiliki padanan langsung dalam SN 22.79, di mana setelah menggambarkan pencapaian pencerahan, namun, melanjutkan dengan mengambil lagi empat frase yang disebutkan lebih awal. Ini diikuti dengan suatu syair yang menggambarkan penghormatan yang diberikan pada seorang bhikkhu yang demikian oleh para deva.

<107> SN 22.79 tidak melaporkan efek kotbah itu terhadap para pendengarnya.

<108> Paralel: SN 22.39 dalam SN III 40,22 (yang juga merupakan paralel pada SĀ 27; cf. Anālayo 2012: 45). Akanuma 1029/1990: 28 alih-alih mengidentifikasi SN 22.146 sebagai paralel pada kotbah saat ini, dan kemudian SN 22.147 sebagai paralel pada kotbah berikutnya, SĀ 47. Identifikasi yang benar telah dibahas dalam Glass 2007: 185f. Perbedaan utama adalah bahwa SN 22.39 mendahului uraiannya dengan referensi pada mempraktekkan Dharma sesuai dengan Dharma, sedangkan SN 22.146 mengatakan tentang meninggalkan keduniawian demi keyakinan. Uraian yang diberikan dalam SN 22.39 dan SN 22.146 diikuti dalam masing-masing kasus dengan kotbah lain yang menerapkan hal yang sama pada ketidakkekalan, dukkha, dan bukan-diri, yang menghasilkan dalam SN 22.40-42 dan SN 22.147-148 (di mana dalam Ee penerapan pada dukkha tampaknya telah hilang). Tidak ada paralel pada kotbah-kotbah ini yang tampaknya diketahui. Untuk kotbah 46 sampai 56 rekonstruksi saya atas masing-masing judul didasarkan pada uddāna yang ditemukan setelah kotbah 56.

<109> Menurut SN 22.39 dalam SN III 40,28, setelah kekecewaan (nibbidā) ia sepenuhnya memahami (parijānāti) kelompok unsur kehidupan. Ini kemudian membawa pada terbebaskannya dari kelompok unsur kehidupan dan dengan demikian terbebaskan dari semua dukkha.

<110> Paralel: SN 22.146 dalam SN III 179,10 dan sebuah penggalan Gāndhārī, Glass 2007: 187ff. Glass 2007: 221 telah menerjemahkan SĀ 48.

<111> Menurut SN 22.146 dalam SN III 179,15, setelah kecewa ia sepenuhnya memahami kelompok unsur kehidupan. Ini kemudian membawa pada terbebaskannya dari kelompok unsur kehidupan dan dengan demikian terbebaskan dari semua dukkha. Penggalan Gāndhārī, Glass 207: 189, juga melanjutkan dari kekecewaan menuju pemahaman penuh, dan kemudian dari pemahaman penuh menjadi terbebaskan.

<112> Paralel: SN 22.37 dalam SN III 37,25 dan penggalan Sanskrit Kha ii 12k, La Vallée Poussin 1913: 573. Akanuma 1929/1990: 28 juga menyebutkan SN 22.38, tetapi kotbah ini memberikan uraian yang lebih terperinci lagi atas topik yang dicakup oleh SN 22.37 dan SĀ 49.

<113> Kha ii 12k1, La Vallée Poussin 1913: 573: upasaṃkramyaivaṃ pṛccheyuḥ.

<114> Pertanyaan (dan pembahasan berikutnya) dalam SN 22.37 pada SN III 37,30 tidak hanya memperhatikan muncul dan lenyapnya, tetapi juga suatu ‘keadaan sebalikya’ [yaitu suatu perubahan] ketika hal-hal bertahan [lama]. Pembedaan berunsur tiga yang sama juga ditemukan dalam AN 3.47 pada AN I 152,7, di mana kasus suatu penyajian yang sama ditemukan pada sebuah paralel, EĀ 22.5 dalam T II 607c15; cf. juga Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1932: 171,26: trīṇîmāni bhikṣavaḥ saṃskṛtasya saṃskṛta-lakṣaṇāṇi. katamāni trīṇi? saṃskṛtasya bhikṣava[ḥ] utpādo 'pi prajñāyate, vyayo 'pi prajñāyate, sthity-anyathātvam apîti. Jenis penyajian yang sama juga ditemukan dalam Vastusaṃgrahaṇī, T 1579 dalam T XXX 795c21: 三有為相施設可得, 一生, 二滅, 三住異性.

<115> Kha ii 12k2, La Vallée Poussin 1913: 573: paṇḍitāḥ śramaṇapaṇḍitāḥ; cf. juga Kha ii 12k4: [gṛhapati]paṇḍitāḥ śramaṇapaṇḍi[tāḥ], and Kha ii 12k6: tāḥ brāhmaṇapaṇḍitāḥ gṛhapatipa[ṇḍitāḥ śramaṇapaṇḍitāḥ].

<116> Kha ii 12k3, La Vallée Poussin 1913: 573: ñ[ā]yate sthityanyathātvaṃ praj[ñ]ā; cf. juga Kha ii 12k5: jñāyate vyayaḥ prajñāyate.

<117> Dalam SN 22.37 pada SN III 38,12 Sang Buddha hanya mengulangi penyajian oleh Ānanda, tanpa menyatakan bahwa seseorang yang memahami hal ini disebut memahami kelompok unsur kehidupan.

<118> Paralel: Penggalan Sanskrit Kha ii 10a, La Vallée Poussin 1913: 572f, edisi yang direvisi dalam Chung 2008: 327f (yang mensejajarkan SĀ 50 dengan penggalan Sanskrit).

<119> Kha ii 10av5-6, Chung 2008: 327: sacet te ānaṃdānyatīrthikaparivrājakāḥ upasaṃ-kramyaivaṃ pṛccheyuḥ: kimarthaṃ śrama[ṇ](a)sya g[au]tamasyā[ṃ]tike (brahmacaryam uṣyate? evaṃ pṛṣṭas t)[v](aṃ kathaṃ vyākuryāḥ? Ini didahului dengan menggambarkan bagaimana Ānanda mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan, dan duduk pada satu sisi.

<120> Kha ii 10av6, Chung 2008: 327: (sa)[c]e[n mā] bhadaṃtānyatīrthikapa[ri]vrājakā [upa]saṃkramyaivaṃ pṛccheyuḥ: kimarthaṃ śramaṇasya gautamasyāṃtike brahmacaryam uṣya[t]e? evaṃ pṛṣṭo 'ham evaṃ vy[ā]kuryāṃ.

<121> Kha ii 10av7, Chung 2008: 327: (rūpasya nirvide virāgāya ni)[r](o)dhāya [bh](a)gavato 'ntike brahmacaryam uṣyate, vedanāyāḥ saṃjñ[ā]yāḥ saṃskārāṇāṃ vijñānasya nirvvide virāgā[ya] (ni)rodhāya bhagavato 'ntike brahmacaryam u[sya]te.

<122> Kha ii 10av7-8, Chung 2008: 327: sacen me bhadaṃtānyatī(rthikaparivrājakā upasaṃkramyaivaṃ) p[ṛc]ch[e]yuḥ kimarthaṃ śramaṇasya gautamasyāṃtike brahmacaryam uṣyate? e[va]ṃ pṛṣṭo 'ham evaṃ vyākuryāḥ.

<123> Kha ii 10av8, Chung 2008: 327: sādhu sādhv ānaṃda [rūp](a)sy ānaṃ[da] nirvvide virāgāya nirodhāya [ma]māṃtike brahmacaryam uṣyate.

<124> Kha ii 10av9, Chung 2008: 327f: (vedanāyāḥ saṃjñāyāḥ saṃskā)rāṇāṃ vi[j]ñ[ā] nasya nirvvide virāgāya nirodh[āya] mamāṃtike brahmacarya[m] uṣyate. Penggalan itu melanjutkan dengan Sang Buddha menegaskan bahwa Ānanda seharusnya menjawab seperti ini jika ia ditanya para pengembara dari luar [ajaran].

<125> Paralel: SN 22.32 dalam SN III 32,27.

<126> Referensi ini memaksudkan Kelompok Empat dari Ekottarika-āgama Mūlasarvāstivāda.

<127> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 此 dan varian 薩 alih-alih 婆.

<128> Yìnshùn 1983: 167 catatan no.2 menyarankan untuk memperbaiki 杖枝 menjadi 金杖, sebagai akibat di mana tongkat akan terbuat dari “emas”, seperti halnya wadah yang disebutkan sebelumnya.

<129> Terjemahan saya mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 167 catatan no.3 untuk menghapus kemunculan kedua dari 是名.

<130> SĀ 54 dalam T II 13a18: 毘迦多魯迦; rekonstruksi saya atas nama itu, yang di sini menunjuk pada desa dan di bawah pada brahmana dari desa ini, sangat bersifat terkaan, yang didasarkan pada penjelasan yang disediakan dalam T 2130 pada T LIV 1007c2: 毘迦多魯迦婆羅門 (應云毘伽多魯今, 譯曰去光亦云闇也).

<131> Mengadopsi varian 囚 alih-alih 彼; cf. juga Yìnshùn 1983: 169 catatan no.1.

<132> Mengadopsi varian 惠 alih-alih 慧; cf. juga Yìnshùn 1983: 169 catatan no.2.

<133> Paralel: SN 22.48 dalam SN III 47,7 dan kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 5,8 (ye sāsravā upādānaskandhās te) dan 13,5 (cf. juga Pāsādika 1989: 22 §14), dengan kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 12a3 atau Q 5595 tu 13a7, yang diterjemahkan oleh Dhammadinnā 2014: 101f. Kebanyakan dari SĀ 55 telah diterjemahkan oleh Choong 2000; 31.

<134> Pradhan 1967: 13,5: yat kiṃcid rūpam atītānāgatapratyutpannam ādhyātmikabāhyam audārikaṃ va sūkṣmaṃ vā hīnaṃ vā praṇītaṃ vā yad vā dūre yad vā antike tat sarvam aikadhyam abhisaṃkṣipya rūpaskandha iti saṃkhyāṃ gacchatī ti.

<135> SN 22.48 dalam SN III 47,26 hanya menyebutkan dengan arus-arus dan melekat pada.

<136> Paralel: kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 3,8 dan 196,10 (cf. juga Pāsādika 1989: 73 §265), dengan suatu kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 6a3 atau Q 5595 tu 6b7 (cf. juga D 4094 ju 200b5 atau Q 5595 tu 229a2), yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 102f. Harrison 2002: 12 juga menyebutkan kutipan kotbah dalam T 1562 at T XXIX 331a5 dan 541a8.

<137> Pradhan 1967: 196,10: anāsravāḥ dharmāḥ katame? yamin rūpe 'tītānāgatapratyutpanno notpadyate 'nunayo vā pratigho vā yāvad yasmin vijñāne, ima ucyante 'nāsravā dharmā iti.

<138> Terjemaha saya didasarkan pada penghapusan suatu referensi pada 彼色 yang, menilai dari rumusan yang digunakan untuk kelompok unsur kehidupan lainnya (dan rumusan yang digunakan dalam SĀ 55 yang mendahului), tampaknya berlebihan.

<139> Mengadopsi varian 愛 alih-alih 貪, sesuai dengan rumusan yang ditemukan lebih awal.

<140> Paralel: SN 22.81 dalam SN III 94,25; penggalan Sanskrit Kha ii 7/8b, 8c/viii 11n, La Vallée Poussin 1913: 578f, edisi yang direvisi dalam Chung 2008: 329-335 (yang mensejajarkan SĀ 50 dengan penggalan Sanskrit dan kutipan dalam Dharmaskandha); sebuah kutipan kotbah dalam Dharmaskandha, Dietz 1984: 52–55; kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 73,2 dan 135,13 (cf. juga Pāsādika 1989: 36 §84 dan 57 §187), dengan suatu kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 70b6 atau Q 5595 tu 79b1 (cf. juga D 4094 ju 139a5 atau Q 5595 tu 160a1), yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 104ff; dan sebuah kutipan kotbah dalam Pratītysamutpādavyākhyā, Tucci 1971: 244,9 and 244,22. Untuk kotbah 57 sampai 58 rekonstruksi saya atas judul masing-masing didasarkan pada uddāna yang ditemukan setelah kotbah 110; cf. juga pembahasan dalam Sū 2009.

<141> SN 22.81 dalam SN III 94,25 alih-alih memiliki Ghositārāma di Kosambī sebagai tempat kejadiannya. Spk II 304,1 menghubungkan kotbah saat ini dengan perkara yang muncul di antara para bhikkhu Kosambī.

<142> Di sini dan di bawah, SN 22.81 tidak memberikan pernyataan apa pun tentang arah di mana Sang Buddha berangkat mengembara.

<143> Mengadopsi suatu varian tanpa kemunculan kedua dari 滅; cf. juga Yìnshùn 1983: 174 catatan no.2.

<144> Walaupun SN 22.81 tidak memberikan perincian yang lebih jauh tentang hutan itu, Spk II 305,1 menjelaskan bahwa tidak jauh dari desa itu terdapat sebuah hutan yang dilindungi, rakkhitavanasaṇḍo. Untuk suatu penyelidikan tentang contoh lain di mana informasi yang disediakan dalam komentar Pāli sama dengan yang ditemukan dalam kotbah Saṃyukta-āgama, tetapi tidak dalam paralel Saṃyutta-nikāya yang berhubungan, cf. Wēn 2006 dan Anālayo 2010a: 4f.

<145> Mengadopsi varian 問 alih-alih 聞.

<146> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 當; cf. juga Yìnshùn 1983: 174 catatan no.3.

<147> Dalam SN 22.81 pada SN III 95,24 para bhikkhu hanya menyatakan keinginan mereka untuk mendengarkan ajaran Dharma dari Sang Buddha, tanpa menyatakan bahwa Ānanda dapat pergi dengan mereka, walaupun hal yang sama akan tersirat; kenyataannya Spk II 305,34 menjelaskan bahwa mereka mendekati Ānanda karena tidak benar-benar mungkin bagi mereka untuk mendekati Sang Buddha dengan mereka sendiri.

<148> SN 22.81 tidak membuat pernyataan demikian.

<149> SN 22.81 hanya menyebut bahwa Ānanda dan para bhikkhu mendekati Sang Buddha, tanpa melaporkan bahwa mereka pertama kali pergi mengumpulkan makanan, dst.

<150> Dhsk 10r10-11v1, Dietz 1984: 52f: deśitā vo bhikṣavo mayā dharmmāḥ skandhānāṃ pravicayāya, yad uta catvāri smṛtyupasthānāni catvāri samyakpradhānāni catvāra ṛddhipādāḥ paṃcendriyāṇi paṃca balāni sapta bodhyaṃgāny āryāṣṭāṃgo mārgga.


« Last Edit: 12 July 2015, 06:48:25 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Lima Kelompok Unsur Kehidupan (4)
« Reply #9 on: 12 July 2015, 06:45:40 PM »
<151> Pada titik ini, SN 22.81 dalam SN III 96,19 melanjutkan secara langsung dengan menggambarkan orang duniawi yang tidak terpelajar yang melihat bentuk jasmani sebagai diri.

<152> Dhsk 11v1-2, Dietz 1984: 53: evaṃ deśiteṣu vo bhikṣavo [ma]yā dharmmeṣu skandhānāṃ pravicayāya. atha ca punar ihaikatyo mohapuruṣo na tīvracchandā viharaṃti na tīvrasnehā na t[ī]vrapr[e]māṇo na tīvrapramādās. te dhandham evānuttaryaṃ spṛśaṃti yat utāsravāṇāṃ kṣayāya (ini diikuti dengan suatu pengulangan dari pernyataan awal evaṃ deśiteṣu dst.); Dietz 1984: 53 catatan no.182 mengomentari bahwa ihaikatyo mohapuruṣo seharusnya ihaikatyā mohapuruṣā.

<153> Dhsk 11v2-3, Dietz 1984: 53: atha ca punar ihaikatyāḥ kulaputtrāḥ atīvatīvracchandā viharaṃti atīvatīvrasnehā atīvatīvrasnehā atīvatīvrapremāṇo 'tīvatīvrapramādās, te kṣipram evānuttaryaṃ spṛśaṃti yat utāsravāṇāṃ kṣayāya (lagi diikuti dengan mengulangi evaṃ deśiteṣu dst); Dietz 1984: 53 catatan no.183 menunjukkan bahwa duplikasi dari atīvatīvrasnehā merupakan akibat dittografi [kesalahan mengulangi kata saat menyalin teks]. SN 22.81 tidak secara eksplisit menyebut perlunya berusaha.

<154> Kha ii 98.7 Aa, Chung 2008: 330: (saṃskārā)ḥ kinnidānāḥ kiṃsa(mudayāḥ). Dhsk 11v3-4, Dietz 1984: 53: atha ca punar ihaikatyo rūpam ātmataḥ samanupaśyati, yā sā samanupaśyanā saṃskārās te. te punaḥ saṃskārāḥ kinnidānāḥ kiṃsamudayāḥ kiṃjātīyāḥ kiṃprabhavāḥ. avidyāsaṃsparśajaṃ bhikṣavo vedayitaṃ pratītya tṛṣṇotpannā. tatas te saṃ<s>kārās. Pradhan 1967: 73,2: avidyāsaṃsparśajaṃ hi veditaṃ pratītyotpannā tṛṣṇety (cf. juga Pradhan 1967: 135,13). Tucci 1971: 244,9: avidyāsaṃsparśajaṃ bhikṣavo veditaṃ: pratītyotpannā tṛṣṇā, tatas te saṃskārāḥ (cf. juga Tucci 1971: 244,22).

<155> Alih-alih mengejar kondisi untuk ketagihan, SN 22.81 dalam SN III 96,28 menyatakan bahwa ketagihan adalah tidak kekal, terkondisi, muncul bergantungan, dan bahwa hal yang sama diterapkan pada perasaan, kontak, dan ketidaktahuan. Dengan memahami dan melihat hal ini, seseorang dengan cepat menghancurkan arus-arus.

<156> Kha ii.98(7) Ab Chung 2008: 331: vedanāsamudayā. Dhsk 11v4-5, Dietz 1984: 53: tṛṣṇā punar bhikṣavaḥ kinnidānā kiṃsamudayā kiṃjātīyā kiṃprabhavā, tṛṣṇā bhikṣavo vedanānidānā vedanāsamudayā vedanājātīyā vedanāprabhavā.

<157> Dhsk 11v5-6, Dietz 1984: 53: vedanā punar bhikṣavaḥ kinnidānā kiṃsamudayā kiṃ-jātīyā kiṃprabhavā? vedanā bhikṣavaḥ sparśanidānā sparśasamudayā sparśajātīyā sparśaprabhavāḥ; Dietz 1984: 53 catatan no.186 mengoreksi menjadi sparśaprabhavā.

<158> Dhsk 11v6-7, Dietz 1984: 53: sparśaḥ kinnidānā kiṃsamudayaḥ kiṃjātīyaḥ kiṃprabhavaḥ? sparśo bhikṣavaḥ ṣaḍāyatananidānaḥ ṣaḍāyatanasamudayaḥ ṣaḍāyatanajātīyaḥ ṣaḍāyatanaprabhavaḥ.

<159> Dhsk 11v7, Dietz 1984: 53: tattra bhikṣavaḥ ṣaḍāyatanam anityaṃ saṃkṛtaṃ cetitaṃ pratītyasamutpannaṃ.

<160> Terjemahan saya mengikuti suatu perbaikan oleh Yìnshùn 1983: 175 catatan no.4 dari 行受 untuk membaca 愛行.

<161> Kha ii.11v6, Chung 2008: 331: p[i ] vedanāpi tṛ[ṣṇā]. Dhsk 11v7-8, Dietz 1984: 53f: so 'pi sparśaḥ sāpi vedanā sāpi tṛṣṇā sāpi samanupaśyanā anityā saṃskṛtā cetitā pratītyasamutpannā.

<162> Setelah masing-masing cara alternatif memandang suatu diri, SN 22.81 melanjutkan dengan keseluruhan uraian dari mengidentifikasi pandangan demikian sebagai suatu bentukan menuju penghancuran cepat terhadap arus-arus.

<163> Kha ii 11v7, Chung 2008: 332f: api tu rūpavaṃtam ā(tmataḥ); cf. also Kha ii 11v8: (sa)[m](a)nupa[ś]ya[ti] nāpi rūpavaṃ, Kha ii 11v9: ti punar aparam a[ś]rutavān pṛ[tha]gja[no], Kha ii 11v10: (e)vaṃ jānato bhi[k]ṣa[va] evaṃ paśyataḥ anaṃta(raṃ). Dhsk 11v8, Dietz 1984: 54: sa rūpam ātmeti samanupaśyatīti, yang diikuti dengan penjelasan, dan kemudian Dhsk 11v9-10, Dietz 1984: 54: na haiva rūpam ātmeti samanupaśyaty api tu rūpavantam ātmānaṃ samanupaśyati. na haiva rūpavantam ātmānaṃ samanupaśyaty api tu rūpam ātmīyaṃ samanupaśyati. na haiva rūpam ātmīyaṃ sa[manu]paśyaty api tu rūpe ātmānaṃ samanupaśyati.

<164> Kh ii 11v11, Chung 2008: 332: (samanu)[p](a)śyati [a]pi tu vedanām āt[m]ataḥ [ s](amanupaśyati). Dhsk 11v10-r1, Dietz 1984: 54: na haiva rūpe ātmānaṃ samanupaśyaty api tu vedanām ātmataḥ samanupaśyati. na haiva vedanā(m ātmataḥ) samanupaśyaty api tu vedanāvantam ātmānaṃ samanupaśyati. na haiva vedanā(vantam) [ātmānaṃ sa]manupaśyaty api tu vedanām ātmīyāṃ samanupaśyati. na haiva vedanām ātmīyāṃ samanupaśyaty api tu vedanāyām ātmānaṃ samanupa(śyati).

<165> Dhsk 11r2-3, Dietz 1984: 54f: na haiva vedanāyām ātmānaṃ samanupaśyaty api tu saṃjñām ātmataḥ samanupaśyati. na haiva saṃjñām ātmataḥ samanupaśyaty api tu saṃjñāvantam ātmānaṃ samanupaśyati. na haiva saṃjñāvantam ātmānaṃ samanupaśyaty api tu saṃjñam ātm[ī]yāṃ samanupaśyati. na haiva saṃjñām ātmīyāṃ samanupaśyaty api tu saṃjñāyām ātmānaṃ samanupaśyati.

<166> Dhsk 11r3-4, Dietz 1984: 55: na haiva saṃjñāyām ātmānaṃ samanupaśyaty api tu saṃskārān ātmataḥ samanupaśyati. na haiva saṃskārān ātmataḥ samanupaśyaty api tu saṃskāravantam ātmānaṃ samanupaśyati, vistaraḥ.

<167> Dhsk 11r4-5, Dietz 1984: 55: vijñānam ātmataḥ samanupaśyati. na haiva vijñānam ātmataḥ samanupaśyaty api tu vijñānavantam ātmānaṃ samanupaśyati. na haiva vijñānavantam ātmānaṃ samanupaśyati (api tu vijñānam ātmīyaṃ samanupaśyati). na haiva vijñānam ātmīyaṃ samanupaśyaty api tu vijñāne ātmānaṃ samanupaśyati.

<168> Pada titik ini, SN 22.81 dalam SN III 98,30 mengambil pandangan eternalis, yang diikuti pandangan pemusnahan dan dengan kebingungan tentang Dharma.

<169> Dhsk 11r5-7, Dietz 1984: 55: na haiva vijñāne ātmānaṃ samanupaśyaty api tu kāṃkṣī bhavati vicikitsī. na haiva kāṃkṣī bhavati vicikitsī api tu bhavadṛṣṭir bhavati vibha- vadṛṣṭiḥ. na haiva bhavadṛṣṭir bhavati vibhavadṛṣṭiḥ api tv astīti vācādhigataṃ bhavaty. ayam aham asmīti samanupaśyati. yo 'sāv asmīty adhigamo 'yam aham asmīty adhigamo. yāsāv asmī samanupaśyanā saṃskā[rās] te. te punaḥ saṃskārāḥ kiṃnidānāḥ kiṃsamudayāḥ kiṃjātīyāḥ kiṃprabhavā? vistareṇa yāvat; Dietz 1984: 55 catatan no.200 mengomentari bahwa yāsāv asmī seharusnya menjadi yāsāv asmīti.

<170> Cf. Kh ii 12, Chung 2008: 334f, dan Dhsk 11r8-9, Dietz 1984: 55.

<171> Paralel: MN 109 dalam MN III 15,17 dan SN 22.82 dalam SN III 100,1; penggalan Sanskrit Kha ii 8c/viii 11n, La Vallée Poussin 1913: 578f; sebuah kutipan kotbah dalam Dharmaskandha, Dietz 1984: 53 (cf. di atas catatan pada SĀ 57); kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 13,5 dan 400,16 (cf. juga Pāsādika 1989: 22 §14 dan 116 §468), dengan kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 nyu 54a1 atau Q 5595 thu 95a3, yang diterjemahkan di bawah oleh Dhammadinnā 2014: 113ff; sebuah kutipan kotbah dalam Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1932: 179,27; sebuah kutipan kotbah dalam Abhidharmasamuccaya, Pradhan 1950: 41,14; sebuah kutipan kotbah dalam Nibandhana pada Arthaviniścaya-sūtra, Samtani 1971: 124,8; dan sebuah kutipan kotbah dalam Pratītysamutpādavyākhyā, Tucci 1971: 245,3. Sebuah kutipan dari SĀ 58 telah diterjemahkan oleh Choong 2008: 32f; untuk studi perbandingan dari MN 109 cf. Anālayo 2011: 630–633. Akanuma 1929/1990: 29 juga menyebutkan MN 110, yang tidak tampak berhubungan dengan kotbah saat ini. SN 22.82 dalam SN III 104,17 dan SĀ 58 dalam T II 15b2 memiliki sebuah uddāna yang mendaftarkan topik-topik yang dicakupi dalam kotbah itu.

<172> Menurut MN 109 dalam MN III 15,18 dan SN 22.82 dalam SN III 100,4, Sang Buddha duduk dengan komunitas para bhikkhu pada hari uposatha ketika seorang bhikkhu memohon izin untuk mengajukan pertanyaan dan, setelah beri izin, bertanya tentang lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Hal yang sama juga dilaporkan dalam Kha ii 8c/viii 11n obv.5-7, La Vallée Poussin 1913: 578.

<173> Kha ii 8c/viii 11n obv.8, La Vallée Poussin 1913: 578: bhadaṃta upādānaskandhāḥ? [paṃ]ca bhikṣoḥ upādānaskandhāḥ. katame paṃca? rūpam upādānaskandho.

<174> Kha ii 8c/viii 11n obv.9, La Vallée Poussin 1913: 578: modya uttaraṃ praśnam apṛcchad: ime bhadaṃta paṃcopādānaskandhāḥ kiṃmūlakāḥ? ime bhikṣoḥ paṃ. Terjemahan saya di sini dan di bawah mengikuti perbaikan oleh Yìnshùn 1983: 179 catatan no.2 dari 觸 untuk membaca 轉.

<175> Kha ii 8c/viii 11n obv.10, La Vallée Poussin 1913: 579: [ska]ndhāḥ tāny upādānāni utānyatraiva skandhebyaḥ upādānāni? na bhi.

<176> Kha ii 8c/viii 11n obv.11, La Vallée Poussin 1913: 579: teṣām upādānaṃ. sādhu bhadaṃteti sa bhikṣur bhagava.

<177> Seperti yang telah dicatat oleh Choong 2000: 33, pertanyaan dalam SĀ 58 berbeda dari MN 109 dalam MN III 16,21 dan SN 22.82 dalam SN III 101,4, di mana para bhikkhu bertanya apakah terdapat keanekaragaman dalam keinginan dan nafsu terhadap kelompok unsur kehidupan; cf. juga penggalan di bawah catatan no.179.

<178> Kha ii 8c/viii 11n rev.1, La Vallée Poussin 1913: 579: yathā katha[ṃ] punar bhadaṃta syād iti vistaraḥ? iha bhikṣoḥ. Pradhan 1967: 400,16: ime pañcopādānaskandhāś chandamūlakāś chandasamudayāś chandajātīyāś chandaprabhavā iti.

<179> Kha ii 8c/viii 11n rev.2, La Vallée Poussin 1913: 579: ṣu chaṃdarāgavaimātratā. sādhu bhadaṃteti sa bhikṣur bhagava.

<180> Kha ii 8c/viii 11n rev.3, La Vallée Poussin 1913: 579: pratyutpannam ādhyātmikaṃ vā bāhyaṃ vā audārikaṃ vā sūkṣmaṃ vā hīnaṃ vā praṇī; cf. juga Pradhan 1967: 13,5 di atas catatan no.134.

<181> Kha ii 8c/viii 11n rev.4, La Vallée Poussin 1913: 579: nāgatapratyutpannam ādhyātmikaṃ vā bāhyaṃ vā audārikaṃ vā sūkṣmaṃ vā hīnaṃ vā praṇītaṃ.

<182> Kha ii 8c/viii 11n rev.5, La Vallée Poussin 1913: 579: ndyānumodya uttaraṃ praśnam apṛcchat: ko nu bhadaṃta hetuḥ kaḥ pratyaya rūpasyopādānaskandhasya.

<183> Kha ii 8c/viii 11n rev.6, La Vallée Poussin 1913: 579: yat kiṃ cid rūpam atītānāgatapratyutpannam ādhyātmikaṃ vā bāhyaṃ vā audārikaṃ vā sūkṣmaṃ. Pradhan 1950: 41,14: yat kiṃcid rūpaṃ sarvan tañcatvāri mahābhūtāni catvāri ca mahābhūtānyupādāye ti.

<184> Wogihara 1936: 179,27: yaḥ kaścid vedanā-skaṃdhaḥ saṃjñā-skaṃdhaḥ saṃskāraskaṃdhaḥ, sarvas sa sparśaṃ pratītyêti vistaraḥ. Samtani 1971: 124,8: yaḥ kaścid vedanāskandhaḥ saṃjñāskandhaḥ saṃskāraskandhaḥ, sarvaḥ sparśā pratītye ti. Tucci 1971: 245,3: yaḥ kaścidvedanāskandhaḥ saṃjñāskandhaḥ saṃskāraskandhaḥ sarvaḥ saṃsparśaṃ pratītya iti.

<185> Kha ii 8c/viii 11n rev.7, La Vallée Poussin 1913: 579: [k]iṃ cid vijñānam atītānāgatapratyutpannam ādhyātmikaṃ vā bāhyaṃ vā audārikaṃ vā sūkṣmaṃ vā hīnaṃ vā pra.

<186> Kha ii 8c/viii 11n rev.8, La Vallée Poussin 1913: 579: tad vijñānopādānaskandhasya prajñapanāya. sādhu bhadaṃteti sa bhikṣur bhagavato bhāṣitaṃ.

<187> Dalam MN 109 pada MN III 17,22 dan SN 22.82 dalam SN III 102,5, di mana pertanyaan itu muncul sebelum topik kepuasan, dst., poin yang dipertanyaan adalah pandangan identitas, sakkāyadiṭṭhi, alih-alih kesombongan-aku, asmimāna.

<188> Kha ii 8c/viii 11n rev.9, La Vallée Poussin 1913: 579: nītaḥ āryadharmeṣv akovidaḥ satpuruṣāṇām adarśi satpu.

<189> Kha ii 8c/viii 11n rev.10, La Vallée Poussin 1913: 579: mena vedanā saṃjñā saṃskārān vijñānam ātmataḥ samanupaśyati vijñāna.

<190> Kha ii 8c/viii 11n rev.11, La Vallée Poussin 1913: 579: dyottaraṃ praśnam apṛcchat: katham samanupaśyato bhadaṃta asmīti na bhavati. MN 109 dalam MN III 18,29 dan SN 22.82 dalam SN III 103,9 mengambil pertanyaan bagaimana menghindari pembentukan-aku, pembentukan-milikku dan kecenderungan yang mendasari pada kesombongan.

<191> Terjemahan saya mengikuti suatu perbaikan oleh Yìnshùn 1983: 179 catatan no.3 dari 盡 menjadi 疾.

<192> MN 109 dalam MN III 20,22 melaporkan bahwa 60 orang bhikkhu menjadi arahant. SN 22.82 berakhir tanpa memberikan pernyataan demikian apa pun, tetapi menurut komentarnya, Spk II 308,6, SN 22.82 dan kotbah-kotbah lainnya dalam bab ini menyebabkan 500 orang bhikkhu menjadi arahant.

Singkatan

ANAṅguttara-nikāya
CeCeylonese edition
DDerge edition
DhskDharmaskandha
EePTS edition
Ekottarika-āgama (T 125)
Madhyama-āgama (T 26)
MNMajjhima-nikāya
NettNettipakaraṇa
QPeking edition
Saṃyukta-āgama (T 99)
3Saṃyukta-āgama (T 101)
SNSaṃyutta-nikāya
SpkSāratthappakāsinī
TTaishō edition, CBETA
VinVinaya
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa