Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Rangkaian Cerpen - Plaosan -  (Read 3689 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Mokau Kaucu

  • Sebelumnya: dtgvajra
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.293
  • Reputasi: 81
Rangkaian Cerpen - Plaosan -
« on: 24 October 2014, 11:07:08 PM »
Plaosan


“Nduuuuuk”,  terdengar teriakan ibuku dari rumah yang beratap rumbia dibawah.
Aku yang sedang asyik nangkring diatas bukit pasir, terkejut dan melihat kebawah .
Kulihat bu lik ku sedang menyapu halaman dari pasir yang berhamburan karena ulahku mendaki bukit pasir yang menggunung didepan rumah.
Rumahku sangat dekat dengan candi yang sedang dibangun, dari ketinggian bukit pasir tempat aku duduk duduk, aku bisa melihat bapakku yang sedang asyik membuat ukiran candi , yang dilatar belakangi dengan kompleks candi  besar yang tidak berapa jauh dari situ, dan dikelilingi oleh sawah.

Terdengar teriakan sekali lagi : “Nduuk, antarkan makanan untuk bapak”.

Aku pun menghambur turun memberosot di bukit pasir; sehingga pasir itupun berguguran, “hei, hei,” teriak bu lik yang sedang menyapu, dengan gusar dia berteriak :”Ini baru disapu sudah kotor lagi oleh pasir, “  Sambil mengacung nagcungkan sapu lidi, dia berusaha mengejarku.
Dan aku terkikik kikik sambil berlari menghindar dan masuk kedalam rumah.

Ibuku memberikan sebuah bungkusan, kuduga berisi pisang dan ketela rebus. dan sebuah kendi berisi air.

“Awas, hati hati jangan sampai terjatuh atau terbentur, nanti pecah” pesan ibuku.

Akupun berjalan cepat cepat menuju candi , dan menaiki tangga candi yang bagiku terlalu tinggi sehingga harus menaruh bungkus makanan dan kendi di anak tangga yang lebih tinggi baru bisa memanjat naik.

Satu demi satu anak tangga itu kudaki, akhirnya sampai di bagian yang agak luas diatas, dan disana bapakku mengulurkan tangan menyambut kendi dan bungkus makanan, meletakkannya di pojokkan , lalu mengangkatku dan memelukku.

Setelah itu, dia menurunkanku , dan duduk untuk mulai makan dan minum, sedangkan aku melihatnya yang sedang makan dengan lahap.

Setelah selesai bersantap, bapakku menggendongku berkeliling selasar candi, dan menunjukkan ukiran yang sedang dikerjakan, ada yang sudah selesai, dan masih banyak yang belum selesai.

Sampai disisi bagian Selatan, bapakku mengangkatku di pundaknya agar aku bisa melihat 3 buah candi yang sudah selesai dibangun, dengan bentuk yang langsing tinggi,  kelihatan sangat megah, dilatar belakangi sawah yang berkilauan ditimpa cahaya matahari senja.



                                    00O00

Thread ini bukan ajang tanya jawab, mohon tidak membalas atau berkomentar apapun di thread ini.  Kalau ingin menanyakan, memberi komentar dll ;silahkan PM  .  Terima kasih.  _/\_
~Life is suffering, why should we make it more?~

Offline Mokau Kaucu

  • Sebelumnya: dtgvajra
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.293
  • Reputasi: 81
Rangkaian Cerpen - Keraton Ratu Boko -
« Reply #1 on: 24 October 2014, 11:09:14 PM »
Keraton Ratu Boko


Tiba tiba aku tersadar , mendengar gemuruh dan suara teriakan sayup sayup.
Dengan terhuyung aku menyingkap tirai bambu yang menutup bilik tidurku, dan terkejut karena cahaya merah menyinari pepohonan dan pagar benteng.
Teriakan dan suara itupun makin keras.

Dengan hati hati aku mendekati pagar benteng, dan melongok kebawah, di kejauhan aku lihat api berkobar kobar digubuk para pekerja yang sedang membangun candi.  Rupanya sedang terjadi kerusuhan dibawah sana. 
Terdengar teriakan wanita, anak -anak yang ketakutan; juga terdengar teriakan para pria yang tidak jelas disertai denting suara senjata.
Aku menggigil ketakutan dan mundur beberapa 2 langkah menjauhi pagar benteng yang terbuat dari batu dan terletak diketinggian bukit.  Dikejauhan tampak candi Prambanan yang berkilauan karena cahaya api yang sedang berkobar dengan dahsyat dibawahnya.

Tiba tiba aku merasa bahuku dipegang, oleh seorang pria yang masih muda, dengan gelung rambut yang agak terurai kacau, dia menatapku dan sambil menutupkan kain pada bahuku yang terbuka, dia berkata :”Jangan khawatir, kita aman disini, sebentar aku turun untuk melihat, kau masuk sajalah ke bilik”

Aku memegangi lengannya erat erat : “Mau kemana? Jangan ketempat ribut ribut itu, berbahaya”

Dia tersenyum dan mengangguk, : “Aku akan mengatur perlindungan keraton ini, dan mengutus prajurit untuk menenangkan mereka yang sedang berkelahi, kau jangan takut, tempat ini aman.
Kau lihat dibawah, dipagar batu benteng yang mengelilingi keraton ini sudah siap para prajurit dengan panah mereka,”
Aku mendekat pagar batu dan melihat kebawah, aku lihat samar samar prajurit yang sedang bersiaga dengan busur terbentang siap meluncurkan panah.

Dan dia bergegas melangkah menuju tangga turun, lalu kudengar teriakannya mengatur  para pengawal agar siap jika para perusuh itu berusaha memasuki benteng.
Tidak lama kemudian aku lihat sekelompok prajurit, keluar dari benteng dan bergegas menuruni bukit, yang memimpin kulihat meniupkan keong laut yang suaranya dapat terdengar dari jarak jauh.
Ketika aku sedang memperhatikan prajurit berjalan menjauh dari benteng, kudengar langkah kaki dan pria muda tadi mendekatiku sambil tersenyum :”Jangan takut,  terjadi keributan dibawah sana, memang telah beberapa lama terjadi ketegangan antara pekerja yang membuat candi Buddha dan candi Siwa, tetapi akan bisa diatasi karena kesepakatan pedanda Buddha dan Siwa sudah ada; kukira ini karena ada orang yang memperkeruh suasana dan berusaha mengacau”

Kemudian dia memeluk bahuku dan membimbingku memasuki benteng, dan menuju bilik tempat tidur.

                                                      -ooOoo-
~Life is suffering, why should we make it more?~