Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Upacara fangshen  (Read 2510 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Upacara fangshen
« on: 10 September 2014, 11:03:16 AM »
mo nanya lg ni...

ktny klo mo fangshen baca paritany ini:

PARITTA UNTUK PELEPASAN MAKHLUK HIDUP
(Fang-shêng 放生)




I. DOA PENDAHULUAN




1. Vandanā

Namo tassa bhagavato
arahato sammā-sambuddhassa (3 kali)

Hormat kepada Beliau,
yang Terberkahi,
yang Berharga,
yang Tercerahkan Sepenuhnya.


2. Ti-saraṇa

Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi

Aku berlindung kepada Buddha.
Aku berlindung kepada Dhamma.
Aku berlindung kepada Saṅgha.

Dutiyampi buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Dutiyampi dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Dutiyampi saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.

Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada Buddha.
Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada Dhamma.
Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada Saṅgha.

Tatiyampi buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Tatiyampi dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Tatiyampi saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.

Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada Buddha.
Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada Dhamma.
Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada Saṅgha.


3. Buddhānussati

Itipi so bhagavā:
arahaṁ sammā-sambuddho,
Vijjā-caraṇa-sampanno sugato lokavidū,
Anuttaro purisa-damma-sārathi
satthā deva-manussānaṁ
buddho bhagavā’ti.

Demikianlah Beliau yang Terberkahi:
yang Berharga, yang Tercerahkan Sepenuhnya,
Sempurna Pengetahuan dan Tindakannya,
Pergi dengan Baik (ke Nibbāna), Mengenali Segenap Alam,
Pembimbing yang Tiada Taranya bagi
mereka yang hendak dibimbing,
Guru para Dewa dan Manusia, Buddha, Bhagava.


4. Dhammānussati

Svākkhāto bhagavatā dhammo,
Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko,
Opanayiko paccattaṁ veditabbo viññūhī’ti.

Dhamma telah dibabarkan sang Bhagava dengan baik,
terlihat dekat, tak terikat waktu, mengundang pembuktian,
menuntun ke dalam, dipahami para bijak dalam diri mereka sendiri.


5. Saṅghānussati

Supaṭipanno bhagavato sāvaka-saṅgho,
Ujupaṭipanno bhagavato sāvaka-saṅgho,
Ñāyapaṭipanno bhagavato sāvaka-saṅgho,
Sāmīcipaṭipanno bhagavato sāvaka-saṅgho.
Yadidaṁ cattāri purisa-yugāni aṭṭha purisa-puggalā:
Esa bhagavato sāvaka-saṅgho —
Āhuneyyo pāhuneyyo dakkhiṇeyyo añjali-karaṇīyo,
Anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassā’ti.

Saṅgha siswa sang Bhagava telah berlatih dengan baik.
Saṅgha siswa sang Bhagava telah berlatih dengan lurus.
Saṅgha siswa sang Bhagava telah berlatih dengan terampil.
Saṅgha siswa sang Bhagava telah berlatih dengan penuh penguasaan.
Keempat pasang, kedelapan jenis pribadi, itulah yang
merupakan saṅgha siswa-siswa sang Bhagava —
Mereka layak menerima pemberian, keramahan, persembahan,
dan penghormatan.
Merekalah ladang kebajikan yang tiada taranya di dunia.


6. Sacca-kiriyā Gāthā

N'atthi me saraṇaṁ aññaṁ
Buddho me saraṇaṁ varaṁ
Etena sacca-vajjena
Sotthi te hotu sabbadā

Tiada perlindungan lain bagiku,
Buddhalah pelindungku yang mulia.
Berkat pernyataan kebenaran ini,
semoga engkau (hewan yang akan dilepaskan) sejahtera selalu.

N'atthi me saraṇaṁ aññaṁ
Dhammo me saraṇaṁ varaṁ
Etena sacca-vajjena
Sotthi te hotu sabbadā

Tiada perlindungan lain bagiku,
Dhammalah pelindungku yang mulia.
Berkat pernyataan kebenaran ini,
semoga engkau sejahtera selalu.

N'atthi me saraṇaṁ aññaṁ
Saṅgho me saraṇaṁ varaṁ
Etena sacca-vajjena
Sotthi te hotu sabbadā

Tiada perlindungan lain bagiku,
Saṅghalah pelindungku yang mulia.
Berkat pernyataan kebenaran ini,
semoga engkau sejahtera selalu.



II. PRAKTEK UTAMA




7. Āṭānāṭiya Paritta
(Penghormatan kepada Tujuh Buddha)

Vipassissa namatthu — Cakkhumantassa sirīmato
Sikhissa pi namatthu — Sabba-bhūtānukampino

Hormat kepada Vipassī, pemilik penglihatan dan kemuliaan.
Hormat kepada Sikhī, pengasih kepada semua makhluk.

Vessabhussa namatthu — Nahātakassa tapassino
Namatthu Kakusandhassa — Māra-senappamaddino

Hormat kepada Vesabhū, pertapa yang tak bernoda.
Hormat kepada Kakusandha, penghancur tentara Māra.

Konāgamanassa namatthu — Brāhmaṇassa vusīmato
Kassapassa namatthu — Vippamuttassa sabbadhi

Hormat kepada Konāgamana, brāhmaṇa yang hidup sempurna.
Hormat kepada Kassapa, yang sepenuhnya terbebaskan.

Aṅgīrasassa namatthu — Sakya-puttassa sirīmato
Yo imaṁ dhammam-adesesi — Sabba-dukkhāpanūdanaṁ

Hormat kepada Aṅgīrasa, putra Sakya yang mulia,
yang mengajarkan Dhamma ini, penghapus segala penderitaan.

Ye cāpi nibbutā loke — Yathābhūtaṁ vipassisuṁ
Te janā apisuṇā — Mahantā vītasāradā

Mereka yang tak terikat dunia, yang melihat sebagaimana apa adanya,
bebas dari perkataan keji, pribadi-pribadi agung yang matang.

Hitaṁ deva-manussānaṁ — Yaṁ namassanti Gotamaṁ
Vijjā-caraṇa-sampannaṁ — Mahantaṁ vītasāradaṁ

Menguntungkan dewa dan manusia, Gotama (segala hormat bagi-Nya)
sempurna pengetahuan dan tindakannya, Pribadi agung yang matang.

Vijjā-caraṇa-sampannaṁ — Buddhaṁ vandāma Gotaman’ti
Sempurna pengetahuan dan tindakannya, mari kita menghormat Buddha Gotama.


9. Hetuppabhavā Gāthā
(Jawaban Arahat Assaji kepada Upatissa)

Ye dhammā hetuppabhavā
Tesaṁ hetuṁ tathāgato āha
Tesañ ca yo nirodho
Evaṁ vādi mahāsamaṇo (3 kali)

Segala fenomena yang muncul karena suatu sebab,
sebabnya telah diberitahukan oleh Tathāgata.
Demikian pula akhirnya.
Hal inilah yang diajarkan sang Mahāsamaṇa.


10. Paṭicca Samuppāda Pātha

[Anuloma:]

Avijjā-paccayā saṅkhārā,
Saṅkhāra-paccayā viññāṇaṁ,
Viññāṇa-paccayā nāma-rūpaṁ,
Nāma-rūpa-paccayā saḷāyatanaṁ,
Saḷāyatana-paccayā phasso,
Phassa-paccayā vedanā,
Vedanā-paccayā taṇhā,
Taṇhā-paccayā upādānaṁ,
Upādāna-paccayā bhavo,
Bhava-paccayā jāti,
Jāti-paccayā jara-maraṇaṁ soka-parideva-dukkha-domanassupāyāsā sambhavanti.
Evam-etassa kevalassa dukkhakkhandhassa, samudayo hoti.

Ketidaktahuan mengkondisikan (munculnya) proses-kehendak.
Proses-kehendak mengkondisikan kesadaran.
Kesadaran mengkondisikan batin dan jasmani.
Batin dan jasmani mengkondisikan enam dasar-indra.
Enam dasar-indra mengkondisikan kontak.
Kontak mengkondisikan perasaan.
Perasaan mengkondisikan keinginan.
Keinginan mengkondisikan kemelekatan.
Kemelekatan mengkondisikan penjadian.
Penjadian mengkondisikan kelahiran.
Kelahiran mengkondisikan munculnya ketuaan dan kematian, kepedihan, ratapan, penderitaan, kecemasan dan keputusasaan.
Demikianlah asal-mula segala kumpulan penderitaan ini.


[Paṭiloma:]

Avijjāyatveva asesa-virāga-nirodhā saṅkhāra-nirodho,
Saṅkhāra-nirodhā viññāṇa-nirodho,
Viññāṇa-nirodhā nāma-rūpa-nirodho,
Nāma-rūpa-nirodhā saḷāyatana-nirodho,
Saḷāyatana-nirodhā phassa-nirodho,
Phassa-nirodhā vedanā-nirodho,
Vedanā-nirodhā taṇhā-nirodho,
Taṇhā-nirodhā upādāna-nirodho,
Upādāna-nirodhā bhava-nirodho,
Bhava-nirodhā jāti-nirodho,
Jāti-nirodhā jara-maraṇaṁ soka-parideva-dukkha-domanassupāyāsā nirujjhanti.
Evam-etassa kevalassa dukkhakkhandhassa, nirodho hoti.

Dengan terhenti dan lenyapnya ketidaktahuan tanpa sisa, terhentilah proses kehendak.
Dengan terhentinya proses kehendak, terhentilah kesadaran.
Dengan terhentinya terhentinya kesadaran, terhentilah batin dan jasmani.
Dengan terhentinya batin dan jasmani, terhentilah enam dasar-indra.
Dengan terhentinya enam dasar-indra, terhentilah kontak.
Dengan terhentinya kontak, terhentilah perasaan.
Dengan terhentinya perasaan, terhentilah keinginan.
Dengan terhentinya keinginan, terhentilah kemelekatan.
Dengan terhentinya kemelekatan, terhentilah penjadian.
Dengan terhentinya penjadian, terhentilah kelahiran.
Dengan terhentinya kelahiran, terhentilah ketuaan dan kematian, kepedihan, ratapan, penderitaan, kecemasan dan keputusasaan.
Demikianlah akhir segala kumpulan penderitaan ini.



III. PEMBERKAHAN

(Jika upacara dipimpin bhikkhu/bhikkhunī, di sini hewan yang akan dilepaskan dapat diperciki air suci.)




11. Dukkhappattā Ādigāthā

Dukkhappattā ca niddukkhā
Bhayappattā ca nibbhayā
Sokappattā ca nissokā
Hontu sabbe pi pāṇino

Bila menghadapi penderitaan, semoga penderitaan lenyap.
Bila menghadapi bahaya, semoga bahaya lenyap.
Bila menghadapi kepedihan, semoga kepedihan lenyap.
Semoga semua makhluk demikian adanya.


[Nasihat untuk hewan yang akan dilepaskan:]

Dānaṁ dadantu saddhāya
Sīlaṁ rakkhantu sabbadā
Bhāvanābhiratā hontu
Gacchantu devatāgatā

Berilah dāna dengan keyakinan,
jagalah sīla senantiasa,
bergembiralah dalam meditasi,
maka engkau akan terlahir di alam dewa.


[Doa agar mereka tidak tertangkap lagi:]

Sabbe buddhā balappattā
Paccekānañ ca yaṁ balaṁ
Arahantānañ ca tejena
Rakkhaṁ bandhāmi sabbaso

Berkat kekuatan dari para Buddha,
dan kekuatan para Pacceka,
serta para Arahat semuanya,
aku mengikat perlindungan ini sekokohnya.



(Hewan tersebut dapat dilepaskan sekarang.)



———————




PUÑÑĀNUMODANĀ (Penyaluran Jasa)

Ettāvatā ca amhehi
Sambhataṁ puñña-sampadaṁ
Sabbe sattā’numodantu
Sabba-sampatti-siddhiyā

Sebanyak jasa kebajikan
yang telah kami kumpulkan,
semoga semua makhluk turut bergembira
sehingga tercapailah segala keberhasilan.



PATTHANĀ (Tekad)

Idaṁ me puññaṁ
Nibbānassa paccayo hotu

Semoga jasa kebajikan yang kulakukan ini
menjadi kondisi pendukung pencapaian Nibbāna.



pertinyiinnyi...
1 klo ga pk bismillah & ayat kursi bioskop bgtu emg krg afdol y??
2 ntu nyang mo di lepas ude jd sarden musti nunggu upacara ky sunatan gt bkny malah jd modar??

plis ye... ente2 yg ndak bs ksh jwbn cuman bs be er pe... jauh2 d...

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Upacara fangshen
« Reply #1 on: 10 September 2014, 11:19:37 AM »
mo nanya lg ni...

ktny klo mo fangshen baca paritany ini:
[...]
pertinyiinnyi...
1 klo ga pk bismillah & ayat kursi bioskop bgtu emg krg afdol y??
2 ntu nyang mo di lepas ude jd sarden musti nunggu upacara ky sunatan gt bkny malah jd modar??

plis ye... ente2 yg ndak bs ksh jwbn cuman bs be er pe... jauh2 d...


memang tidak harus baca paritta...

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #2 on: 10 September 2014, 11:23:02 AM »
Ijin copas yaaa...waaahhh...lengkap banget bacaan paritta nya.... :jempol:

Selama ini kalo oma mau fangshen, oma hanya baca sabbe satta bhavantu sukhitatta...dahhh...langsung lepasin tuh binatangnya, baru tahu ada paritta yg duuuhhh....sepanjang ini yg musti dibaca. Padahal kebiasaan fangshen bukan tradisi Theravada sepertinya, kalo ga salah Mahayana dan Tantrayana. Apakah baca paritta ini musti di dlm vihara ato bisa dilakukan langsung di depan binatang yg mau di fangshen? kayak nya kelamaan deh nih mulut komat kamit ntar disangkain orang ngapain pula.

**)Tradisi fangshen belom pernah oma lihat di neg Buddhist Theravada
I'm an ordinary human only

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #3 on: 10 September 2014, 11:26:33 AM »

memang tidak harus baca paritta...
klo baca apa untungny di banding ngak baca?

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #4 on: 10 September 2014, 11:28:33 AM »
Ijin copas yaaa...waaahhh...lengkap banget bacaan paritta nya.... :jempol:

Selama ini kalo oma mau fangshen, oma hanya baca sabbe satta bhavantu sukhitatta...dahhh...langsung lepasin tuh binatangnya, baru tahu ada paritta yg duuuhhh....sepanjang ini yg musti dibaca. Padahal kebiasaan fangshen bukan tradisi Theravada sepertinya, kalo ga salah Mahayana dan Tantrayana. Apakah baca paritta ini musti di dlm vihara ato bisa dilakukan langsung di depan binatang yg mau di fangshen? kayak nya kelamaan deh nih mulut komat kamit ntar disangkain orang ngapain pula.

**)Tradisi fangshen belom pernah oma lihat di neg Buddhist Theravada
iy kacian ikany ude mo cpt2 pul-kam malah di suru dgr ayat kursi bioskop... emangny ngerti parita ntu ikan apa??  ::)

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #5 on: 10 September 2014, 11:32:48 AM »
iy kacian ikany ude mo cpt2 pul-kam malah di suru dgr ayat kursi bioskop... emangny ngerti parita ntu ikan apa??  ::)
hehehe.... ;D
I'm an ordinary human only

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Upacara fangshen
« Reply #6 on: 10 September 2014, 11:40:03 AM »
klo baca apa untungny di banding ngak baca?

bagi saya sih, tidak ada perbedaan antara baca paritta atau tidak.

kalau pun mau baca paritta, liat sikon juga.. kalau burungnya sudah desak-desakan dalam satu sangkar, ya demi kebaikan mereka, jangan kelamaan baca parittanya (atau langsung dilepas saja). Kan tujuan kita adalah demi mereka..

terus, lain kali beli sangkarnya jangan terlalu kecil juga...

*sudah beberapa kali liat kejadian begini (sangkar kecil, dan ada burung yang meninggal)

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #7 on: 10 September 2014, 11:52:46 AM »
bagi saya sih, tidak ada perbedaan antara baca paritta atau tidak.

kalau pun mau baca paritta, liat sikon juga.. kalau burungnya sudah desak-desakan dalam satu sangkar, ya demi kebaikan mereka, jangan kelamaan baca parittanya (atau langsung dilepas saja). Kan tujuan kita adalah demi mereka..

terus, lain kali beli sangkarnya jangan terlalu kecil juga...

*sudah beberapa kali liat kejadian begini (sangkar kecil, dan ada burung yang meninggal)
:( sayangny bhikhu jg dukung...

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Upacara fangshen
« Reply #8 on: 10 September 2014, 12:08:43 PM »
:( sayangny bhikhu jg dukung...

1. ada yang dukung, ada yang enggak

2. ada yang tidak berdaya karena acara fangsen sudah diatur panitia. Tugasnya cuma mimpin baca paritta..

-__-'

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #9 on: 10 September 2014, 12:12:59 PM »
1. ada yang dukung, ada yang enggak

2. ada yang tidak berdaya karena acara fangsen sudah diatur panitia. Tugasnya cuma mimpin baca paritta..

-__-'
o gt y... ok d kk...

tp klo bhiku aje ngak bs atur panitia kpn bs brubah jg y?

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Upacara fangshen
« Reply #10 on: 10 September 2014, 12:22:57 PM »
^ ^ ^

bhikkhu tidak ada kewajiban mengatur/mengajari umat. Umat juga bisa berpikir sendiri, tidak harus selalu diajari bhikkhu.

kalau ada bhikkhu yang mau kasih saran ke umat, ya terserah. Dan terserah umat juga apakah mau menerima saran atau tidak.

mengenai "kapan bisa berubah", tidak tau juga. Itu di luar kuasa kita, dan tak terpikirkan..
« Last Edit: 10 September 2014, 12:25:26 PM by dhammadinna »

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.749
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Upacara fangshen
« Reply #11 on: 10 September 2014, 03:36:06 PM »
kalo dibilang gak berdaya sih kagak juga ngkali ya...
pan bisa aje burungnya dilepasin dulu, trus baca paritta belakangan.
biarpun ada "nasihat untuk hewan yang dilepaskan", sepertinya burung gak ngerti bahasa pali...
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Upacara fangshen
« Reply #12 on: 10 September 2014, 03:42:54 PM »
Tradisi fangshen sendiri memang bukan tradisi agama Buddha, melainkan sudah ada jauh sebelum Buddhisme masuk ke Tiongkok. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa justru Buddhisme (terutama Mahayana) lah yang mempopulerkan tradisi ini, bahkan Taoisme sendiri menolak tradisi fangshen ini. Selengkapnya ada di sini
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #13 on: 10 September 2014, 04:10:34 PM »
kalo dibilang gak berdaya sih kagak juga ngkali ya...
pan bisa aje burungnya dilepasin dulu, trus baca paritta belakangan.
biarpun ada "nasihat untuk hewan yang dilepaskan", sepertinya burung gak ngerti bahasa pali...
btul btul btul... biasany klo bhiku uda bersabda mata umat berbinar2 sambil iyo2 stuju... klo lg ceramah hrsny ada bimbingan

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Upacara fangshen
« Reply #14 on: 10 September 2014, 04:27:10 PM »
Tradisi fangshen sendiri memang bukan tradisi agama Buddha, melainkan sudah ada jauh sebelum Buddhisme masuk ke Tiongkok. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa justru Buddhisme (terutama Mahayana) lah yang mempopulerkan tradisi ini, bahkan Taoisme sendiri menolak tradisi fangshen ini. Selengkapnya ada di sini

Bagi Lie Zi, membeli binatang untuk dilepas kembali adalah membuat fangsheng menjadi blunder karena akan membuat banyak orang berbondong-bondong menangkap binatang untuk kemudian dijual, jadi tidak sesuai dengan asas welas asih dan menjadi suatu tindakan you wei 有為 bukan wuwei 無為. Tindakan wuwei seharusnya tidak akan mengundang reaksi negative seperti misalnya mengundang orang-orang berbondong-bondong menangkap burung jiu 鳩鳥 ( seperti burung gereja bentuknya ) dan dijual kepada Zhao Jianzi 趙簡子 untuk dilepas pada saat tahun baru.

 :o ini bijak ni org 2500 taon lalu... pdhl ane prnah dgr ktny bermanfaat bwt lapangan kerja

jd ini tradisi ikut2an dr tiongkok di ambil mahayana trus di ambil lg ama theravada dgn tambahn bumbu ayat kursi bioskop segambreng??