Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kenapa tanha bukan avijja?  (Read 8804 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #30 on: 17 August 2012, 09:39:51 PM »
bingung jawabnya...
klo jawab tertembak aja...  klo tertembak di kaki gemana?

klo jawab krn ada peluru di otaknya... keknya ada kemungkinan org hidup dgn peluru di otaknya (walau untuk bbrp saat)

jd pilih jawaban aman... dia mati karena kondisi2 penujang kehidupannya sudah tidak ada.


semua orang mati memang kondisi penunjang kehidupannya sudah tidak ada. dengan kata lain kalimat itu hanyalah definisi dari kata "mati". tapi apakah penyebab kematiannya?

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #31 on: 18 August 2012, 04:43:05 PM »
dia mati kerena tertembak di kepalanya.. (peluru kena otak nya)
...

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #32 on: 18 August 2012, 09:30:39 PM »
dia mati kerena tertembak di kepalanya.. (peluru kena otak nya)

jawaban secara forensik adalah orang itu mati karena peluru masuk ke dalam otaknya dan itu merusak jaringan vital di otaknya, tapi bagaimana bisa ada peluru dalam otak, tidak lain adalah karena peluru itu ditembakkan seseorang.

kedua pilihan jawaban bisa dibenarkan, dan jawaban mana yg harus diberikan tergantung pada siapa yg menanyakan. Demikian pula, Sang Buddha adalah guru paling ahli dalam memberikan ajaran yg tepat untuk pendengarnya, kepada kelima petapa Beliau memberikan ajaran bahwa asal mula dukkha adalah tanha, tapi jika ditelusuri lebih lanjut, tanha itu pun masih ada penyebabnya yg secara lengkap diformulasikan dalam Paticcasamuppada.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #33 on: 19 August 2012, 07:24:02 AM »
tanha paling dominan
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Afoe286

  • Teman
  • **
  • Posts: 63
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
  • Semoga semua makhluk berbahagia
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #34 on: 19 August 2012, 01:10:30 PM »
tanha paling dominan
Maaf,tetapi avijjalah penentunya. _/\_
Khanti paramam tapo titikkha

Offline Afoe286

  • Teman
  • **
  • Posts: 63
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
  • Semoga semua makhluk berbahagia
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #35 on: 19 August 2012, 01:39:44 PM »

kedua pilihan jawaban bisa dibenarkan, dan jawaban mana yg harus diberikan tergantung pada siapa yg menanyakan. Demikian pula, Sang Buddha adalah guru paling ahli dalam memberikan ajaran yg tepat untuk pendengarnya, kepada kelima petapa Beliau memberikan ajaran bahwa asal mula dukkha adalah tanha, tapi jika ditelusuri lebih lanjut, tanha itu pun masih ada penyebabnya yg secara lengkap diformulasikan dalam Paticcasamuppada.
[/quote]
Kalo memang tergantung siapa yg menanyakan atau kepada siapa ajaran diberikan,mengapa hanya ada satu rumusan Empat Kebenaran Mulia,tidak ada Empat Kebenaran Mulia rumusan lain yg diperuntukkan bagi pertanyaan/ajaran yg diberikan kpd orang lain lagi yg tergantung pada kecenderungan orang lain tsb(sebagaimana kita ketahui tiap orang punya kecenderungan yg berbeda)? _/\_
Khanti paramam tapo titikkha

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #36 on: 19 August 2012, 09:49:10 PM »
Kalo memang tergantung siapa yg menanyakan atau kepada siapa ajaran diberikan,mengapa hanya ada satu rumusan Empat Kebenaran Mulia,tidak ada Empat Kebenaran Mulia rumusan lain yg diperuntukkan bagi pertanyaan/ajaran yg diberikan kpd orang lain lagi yg tergantung pada kecenderungan orang lain tsb(sebagaimana kita ketahui tiap orang punya kecenderungan yg berbeda)? _/\_

Rumusan Empat Kebenaran Mulia memang hanya ada satu, tapi dalam mengajar Sang Buddha tidak selalu harus menggunakan rumusan ini, misalnya pada Cullapanthaka Sang Buddha bahkan hanya mengajarkan mengusap kain bersih hingga menjadi kotor, dan itu cukup untuk mengantarkan Cukkapanthakan menuju Kearahattaan, tanpa mengajarkan doktrin2 rumit. kepada orang lain Sang Buddha mengajarkan ajaran lain lagi. hanya Sang Buddha yg memiliki pengetahuan watak dan kecenderungan tiap2 individu ini, itulah sebabnya Sang Buddha mendapat gelar sebagai Guru para dewa dan manusia, Pembimbing terbaik bagi mereka yg dapat dijinakkan, dst.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #37 on: 20 August 2012, 05:26:53 PM »
ada seseorang yng setiap hari tidak tahu bahwa dia setiap hari dia menekan tombol lampu lalu jadi tercium bau seperti terbakar.

penyebab munculnya bau terbakar itu adalah karena tekan tombolnya (tanha?) atau karena dia tidak tahu bahwa tekan tombol itu yg menyebabkan tercium bau(avijja?) ?

utk menyelesaikan urusan bau itu, orang itu perlu tahu dulu apa penyebabnya lalu diperbaiki tombolnya/tidak ditekan tombolnya.

yg simple koq jadi ribet :hammer: ato jgn2 mau dibongkar lagi, penyebabnya ada konsleting didalam? atu penyebab konsletingnya itu ada cicak nyangkut? atau penyebab si cicak kenapa nyangkut? atau siapa bapak emak si cicak? :hammer: :hammer: :hammer:

There is no place like 127.0.0.1

Offline vajra.chedika

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 21
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #38 on: 23 August 2012, 05:43:39 PM »
berikut ini penjelasan yg saya pahami dari salah seorang guru junjungan saya.. semoga membantu.
penjelasan dari sudut pandang paticcasamuppāda:

Mata rantai pertama avijjā, atau ketidaktahuan, yaitu faktor mental yg mempertahankan batin kita dlm kegelapan. Bisa berupa ketidakmengertian, bisa berupa kesalahmengertian, atas hakekat fenomena dan diri. Dlm Abhidhamma disebut Moha cetasika (faktor mental kebodohan batin). Avijjā mengarahkan kita utk berprilaku sedemikian rupa sehingga kita menciptakan mata rantai kedua.

Mata rantai kedua saṅkhāra, atau karma pembentuk, yaitu faktor mental niat. Pada titik tertentu, karma ini berubah dari kondisi mental menjadi jejak karma, yg tertanam/terbawa dalam arus kesadaran, yaitu mata rantai ketiga.

Mata rantai ketiga viññāṇa, atau kesadaran, yg dimaksud di sini adl kesadaran mental (ada 6 jenis kesadaran terkait 6 pintu indera).

Ketiga mata rantai ini disebut sbg mata rantai yg memproyeksikan, atau sebab yg memproyeksikan kelahiran yg akan datang. Karena merupakan sebab maka menghasilkan akibat, yaitu mata rantai keempat.

Mata rantai keempat nāmarūpa, yaitu 1 materi dan 4 mental penyusun kehidupan berikutnya. Dalam proses perkembangan rūpa, di dalamnya terbentuklah mata rantai kelima.

Mata rantai kelima saḷāyatana, atau pintu indera. Ketika landasan indera berhubungan dg objeknya, terbentuklah mata rantai keenam.

Mata rantai keenam phassa, atau kontak, yaitu ketika sebuah objek, sebuah indera, dan sebuah kesadaran hadir bersamaan sehingga mampu menangkap objek. Proses ini selalu diiringi oleh mata rantai ketujuh.

Mata rantai ketujuh vedanā, atau perasaan, yaitu faktor mental yg selalu hadir mengiringi kesadaran, yg memberi kesan menyenangkan, tidak menyenangkan, netral terhadap suatu objek. Dari sini apabila batin masih diliputi pandangan salah tentang "Aku", muncullah mata rantai kedelapan.

Mata rantai kedelapan taṇhā, atau hasrat/nafsu, bisa berupa keinginan terhadap sensasi menyenangkan, keinginan berpisah dari sensasi yg menyakitkan, dan keinginan utk mempertahankan perasaan netral. Ketika hasrat ini semakin kuat, ia berwujud sbg mata rantai kesembilan.

Mata rantai kesembilan upādāna, atau kemelekatan. Pada saat proses kematian, hasrat dan kemelekatan akan mengaktifasi/mematangkan jejak karma sehingga kita terlempar kembali ke samsara, mata rantai kesepuluh, bhava.

Sampai di sini terlihat posisi taṇhā dan avijjā. Taṇhā adalah sebab langsung/terdekat yg bertanggung jawab atas kelahiran kembali dalam lingkaran samsara, yg artinya kembali memiliki keberadaan samsarik. Kondisi ini tdk lain merupakan sankhara-dukkha, dasar dari kedua jenis dukkha yg lebih kasar (dukkha-dukkha dan viparinama-dukkha). Kenapa bukan upādāna, mata rantai tepat sebelum bhava? Karena upādāna adl bentuk lanjutan dari taṇhā jadi tidak diberi titik berat di sana. Taṇhā itu sendiri muncul dari sebab2, salah satunya adalah kesalahmengertian tentang "Aku" yg merupakan bagian dari avijjā.


Cheers

Offline demitalas

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 12
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #39 on: 27 September 2012, 12:59:21 PM »
 _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ _/\_ mari kita bersama menyelami hidup ini biar dpt ilmu  :) :) :) :)

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #40 on: 27 October 2017, 09:59:19 AM »
Pertanyaannya adalah:Seperti yg kita semua ketahui bersama bhw dlm Empat Kebenaran Mulia Sang Buddha telah menyatakan kpd kita semua tentang dukkha,sebab dukkha,akhir dukkha & jalan menuju akhir dukkha.Dalam Kebenaran mulia kedua,Beliau menyatakan bhw penyebab dari dukkha adalah tanha/keinginan.Yg membuat saya bingung mengapa Beliau menyatakan tanha-lah sbg penyebab dukkha,bukan avijja. Padahal kalo kita lihat dlm paticca samuppada & dasa samyojana, avijja-lah yg berada di barisan paling belakang dari pertahanan penyebab dari dukkha.Dlm paticca samuppada keinginan yg menyebabkan dukkha timbul krn adanya ketidaktahuan akan apa adanya, kenikmatan, bahaya & jalan keluar dari keinginan itu sdri.Dlm dasa samyojana, avijja adalah pertahanan terakhir dari kekotoran batin yg membelenggu kita pd samsara.
Dari kedua fakta tsb sdh cukup utk menyatakan bhw penyebab dari dukkha adalah avijja, bukan tanha walaupun memang tanha-lah(secara teknis & langsung) yg mengakibatkan kita bisa terlahir kembali/menjelma. Akan tetapi, avijja-lah yg berada di belakang semua itu.
Teman2 semua,mohon bantuannya ya. _/\_
Avijja 'delusi' adalah otak dari segala sesuatu yang menyebabkan "dukkha", saya akan memberikan contoh (kalimat) dan menjelaskan makna yang terkandung. Seorang raja ingin merebut kerajaan (miliki raja lain) namun ia harus menjatuhkan rajanya, dan raja memiliki pasukan. Membunuh raja itu adalah tujuannya, dan tujuan akhir adalah kekuasaan atas kerajaan.

Maknanya: pasukannya inilah "tanha". Rajanya adalah "avijja". Tujuannya adalah melenyapkan avijja (si raja) setelah mengalahkan pasukan (tanha), Kekuasaan adalah kebebasan (Arahat) dan tujuan akhir adalah Nibbana.

Tanha adalah penyebab dukkha, otak tanha adalah avijja, seperti perumpamaan kerajaan yang saya berikan (di atas).
Akan tetapi, selama ini kita telah salah paham sama si "Dukkha". Dukkha artinya "bukan" penderitaan (jangan terkejut).

Mengenai arti yang sebenarnya, saya akan segera menulis dan mengirimnya ke Dhammacitta (mohon bantuannya, cara kirim karya ke Dhammacitta). Rencananya akan saya selesaikan bulan November, yang berjudul:

Dukkha "bukan" Penderitaan (bahasa inggris: Dukkha "not" Suffering)
Isinya:
- Analisis dan pembahasan bahwa dukkha artinya bukan penderitaan
- contoh kalimat
- Juga pembahasan sebab akibat yang saling bergantungan
- Perumpamaan kisah "Raja Jahat Melawan Raja Baik–11 lawan 1"
- 77 kasus pengetahuan, dan
- (menyinggung) perbedaan kegembiraan (pamojja), kegiuran (piti), dan kebahagiaan (sukha), yang nantinya 100% Anda akan mengerti perbedaannya.
- mungkin nanti ada tambahan.

Tunggu saja ya, saya gemparkan dunia (bercanda aja). :)) ^:)^
« Last Edit: 27 October 2017, 10:09:41 AM by Gwi Cool »
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Re: Kenapa tanha bukan avijja?
« Reply #41 on: 27 October 2017, 01:58:07 PM »
Barusan saya makan siang and sebelumnya sedang belajar, pikiran baik terlintas padaku, saya akan mengubah judulnya (hanya judul saja) menjadi:

"Jalur Nibbana"
Pertama membahas Dukkha "bukan" penderitaan
kemudian saya akan memberikan "gambaran Nibbana" untuk memperjelas seperti apa Nibbana, dan "Jalan Tengah". Lalu memberikan gambaran nihilis dan eternalis, secara singkat (sesingkatnya) namun padat, dan jelas. Dimulai dari syair dari Yang Mulia Buddhaghosa thera, saya akan menganalisis dan memberikan makna syair dari Yang Mulia Buddhaghosa thera. Mungkin sudah ada yg bisa tebak syair dari Yang Mulia Buddhaghosa thera yang paling populer, saya akan menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya.

Gembira banget gw hari ini.
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.