//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor  (Read 3678 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« on: 24 April 2012, 12:28:25 PM »
Quote
Hemi Koapaha, penggerak Suku Bantik di Manado (sumber: Ulin Yusron/ Beritasatu.com)
Agama lokal makin terdesak oleh agama impor. Mereka minta negara mengakui kebaradaan agama lokal yang juga memiliki ritual, mitos dan etika.

Sejak bertahun-tahun keberadaan agama dan kepercayaan masyarakat adat tak mendapat tempat di negeri ini. Masyarakat adat tersudut karena pemerintah hanya mengakui agama terdiri: Islam, kr****n, Katholik, Hindu, Budha. Dan di era Presiden Gus Dur, Kong Hu Chu diakui. Padahal Undang-undang Dasar mengakui keberadaan kepercayaan. Namun pada praktiknya penganut kepercayaan tak bisa menunjukkan eksistensinya.

Stigma pada masyarakat adat sebagai kafir, penyembang batu dan pohon selalu membuat mereka tersudut. Demikian keluhan yang muncul dalam diskusi sarasehan yang digelar di Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) ke-4, 19-25 April 2012 di Halmahera Utara.
     
Mama Evelyn dari Suku Boti menyatakan pemeluk ajaran Boti didiskriminasi. Suku Boti adalah suku asli kepulauan Timor. Boti terletak di Timor Tengah Selatan. Suku Boti memiliki keyakinan yang disebutnya Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia.

Menurut Mama Evelyn bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami antara lain tidak ada akte kelahiran, tidak ada pengakuan pernikahan adat, tidak ada kolom agama pada KTP dan yang menyedikan anak-anak sekolah dipaksa ikut pendidikan agama yang tak diikuti.

"Dalam kolom agama di KTP, kami tidak boleh isi sesuai agama yang kami yakini lalu dikosongkan saja. Pemerintah memang tidak masalah tapi kita rugi, kenapa agama kami tidak diakui," ujar Evelyn kepada Beritasatu.com. Ia pun meminta agar kolom agama dihilangkan agar masyarakat adat tidak hilang eksistensi keberagamaannya.

"Kami punya agama Boti yang punya acara adat dan tata upacara, ada pemimpin agama lokal yang memimpin acara ritual. Setiap bulan ada ritual. Kami tiap minggu ada 9 hari, pada hari ke 9 kita berkumpul dan berdoa bersama. Ada juga kelahiran kematian, pesta panen ritualnya dilakukan," terang Evelyn.

Masyarakat Boti memrotes karena pemerintah menganggap kami tidak punya agama, padahal kami punya agama. "Tapi kalau mau diakui dalam KTP, kami harus masuk agama impor. Untuk menikah, sekolah dan anak-anak yang mau dapat akta kelahiran harus menganut salah satu agama," ujarnya.

Akibat pemaksaan ini, anak-anak Boti di sekolahan dipaksa ikut pendidikan agama impor. Dan biasanya mereka menganut agama kr****n Protestan yang mayoritas di Timor.  "Kalau tidak ikut pelajaran agama, nilai agama tidak keluar. Padahal kami berbeda dengan kr****n Protestan," ujarnya.

Saat ini Suku Boti tersisa sekitar 77 kepala keluarga yang masih memegang teguh agama lokal. Padahal duluny ada 1000 kepala keluarga. Melihat kecenderungan ini, menurut Evelyn, Suku Boti  sangat berpotensi punah.

Sementara itu Hemi Koapaha, pemimpin masyarakat adat Bantik di Manado Sulawesi Utara menuturkan agama Maesa yang dianutnya sudah ada jauh sebelum Belanda masuk membawa ajaran kr****n. "Sebelum Belanda masuk kita punya Agama Maesa. Setelah Belanda masuk kita dikr****nkan. Ada yang tidak  mau masuk kr****n disebutnya dengan Alifuru yang dianggap tak bertuhan," kata Hemi.

Suku Bantik yang sebagian besar masih memeluk Agama Maesa saat ini masih ada sekitar 30 ribu orang yang tersebar di 17 kelurahan di tengah Kota Manado.

Persoalan yang dialami Suku Bantik juga sama yaitu soal pengakuan agama yang dianut. "Permasalahan sekarang ini karena waktu mau menikah harus dicatat, padahal dalam pernikahan adat kami tak dicatat karena yang penting disetujui orang tua dan pemangku adat," ujar Hemi. Gara-gara soal pencatatan pernikahan ini sampai satu waktu hampir terjadi saling bunuh antara anak dan orang tua.

Ini terjadi saat mau menikahkan anaknya baru ketahuan ternyata kedua orang tuanya tidak memiliki surat nikah. "Anak-anaknya belum bisa nikah kalau tak ada orang tuanya. Pasangan lelaki mengatakan kok orang tuamu tidak menikah, kalian kafir ya. Tekanan semacam ini menyebabkan mereka dikr****nprotestankan," ujar Hemi.

Setelah orang tuanya menikah dengan cara kr****n Protestan, anak-anak yang sudah menikah tidak boleh dicatatkan di dalam kartu keluarga karena sudah menikah. Dampaknya pada soal ahli waris karena yang diakui hanya yang tercatat dalam kartu keluarga.

Selain penganut agama dan kepercayaan Maesa, di Manado ada juga agama Adat (Allah di dalam tubuh). "Baru sekarang perjuangan mereka sekarang sudah diakui karena Bupati Musi Talalud beragama Adat," terang Hemi.

Kepercayaan Adat ini bermukim di Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Kepulauan Musi Talaud, Sulawesi Utara. Akibat desakan agama impor dan juga karena banyak ucapan pimpinan agama lain yang menyebut kami kafir, tidak bertuhan sehingga anak-anak masyarakat adat sangat tertekan. Anak-anak dari ajaran Maesa dan Adat sering dituduh menyembah batu, pohon lalu dibalas agama impor menyembah ubin atau mimbar. Perdebatan macam ini sebenarnya milik siapa? Agama itu milik Tuhan bukan milik manusia," kata Hemi.

Pemeluk Maesa juga memiliki ritual keagamaan di keluarga, saat musim tanam perkebunan, saat bayi lahir dan sebagainya. "Kitab kami itu alam. Kalau bumi diporakporandakan karena alam marah, kitab suci dirusak. Agama lokal yang mendidik karakter kejujuran dan kemurnian saya yang dulu pemeluk Agama kr****n. Agama kr****n tidak pernah mendidik kami. Nurani agama lokal yang menginspirasi untuk menghargai pemeluk agama lain. Sekarang Alkitab kami dihancurkan. Kalau bumi panas, bencana jangan salahkan karena alkitab kami dirusak," ujar Hemi.

Karena desakan dan ejekan anak-anak terpaksa ikut ke gereja atau ke masjid saja. "Pemerintah harus mempertegas aturan, sehingga tidak ada yang menekan mereka," ujarnya.

Rektor Universitas Halmahera, Julianus Mojau menyarankan definisi agama perlu diringkas saja yakni: memiliki ritual, mitos dan etika. "Semua agama baik yang monoteis komunitas nomaden maupun agama monoteis  monarkhial yang lahir di kemudian hari selalu memiliki tiga aspek yaitu mitos, ritual dan etika. Semua agama monoteis harus diakui sebagai agama yang sah bagi penganutnya," ujar Julianus.

http://www.beritasatu.com/nasional/44228-agama-lokal-minta-diperlakukan-sama-dengan-agama-impor.html
kenapa dibatasi monoteis?
negara tidak perlu mengatur agama dan kepercayaan warga negaranya.
negara cukup mengatur masalah sosial, ekonomi, ketertiban dan keamanan saja.

* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.400
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« Reply #1 on: 24 April 2012, 02:07:41 PM »
can't agree more
There is no place like 127.0.0.1

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« Reply #2 on: 24 April 2012, 02:50:29 PM »
kenapa dibatasi monoteis?
negara tidak perlu mengatur agama dan kepercayaan warga negaranya.
negara cukup mengatur masalah sosial, ekonomi, ketertiban dan keamanan saja.


karena bapak-bapak bangsa kita yang menetapkan sila ketuhanan yang maha esa di posisi pertama...
sayangnya ideologi negara kita sifatnya rigid...
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« Reply #3 on: 24 April 2012, 04:06:15 PM »
kenapa dibatasi monoteis?
negara tidak perlu mengatur agama dan kepercayaan warga negaranya.
negara cukup mengatur masalah sosial, ekonomi, ketertiban dan keamanan saja.

ya memang payah kalau negara terlalu mencampuri urusan agama atau tuhan.
« Last Edit: 24 April 2012, 04:07:47 PM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline DragonHung

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 963
  • Reputasi: 57
  • Gender: Male
Re: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« Reply #4 on: 24 April 2012, 04:09:45 PM »
ya memang payah kalau negara terlalu mencampuri urusan agama atau tuhan.

Gak di urus pemerintah juga bakalan menjerit kalau ada aliran 'sesat' yang mirip2 ajaran main stream.  Bisa-bisa terjadi kerusuhan antar agama seperti di india.
Banyak berharap, banyak kecewa
Sedikit berharap, sedikit kecewa
Tidak berharap, tidak kecewa
Hanya memperhatikan saat ini, maka tiada ratapan dan khayalan

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« Reply #5 on: 24 April 2012, 04:24:18 PM »
Gak di urus pemerintah juga bakalan menjerit kalau ada aliran 'sesat' yang mirip2 ajaran main stream.  Bisa-bisa terjadi kerusuhan antar agama seperti di india.
kalo masuk ke dalam ranah hukum, bisa diselesaikan dengan hukum dan penertiban oleh aparat keamanan.
di indonesia pun, agama diurusin negara, terjadi kerusuhan yang berakhir dengan pembantaian kaum minoritas secara terbuka di depan mata polisi penegak hukum.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Wolvie

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 805
  • Reputasi: 25
Re: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« Reply #6 on: 24 April 2012, 08:11:59 PM »
iya, kasian juga mereka.

klo di Jawa Barat klo ga salah ada aliran kepercayaan Sunda Wiwitan namanya.
semoga berbagai aliran kepercayaan native Indonesia dan kearifan lokal dari Sabang-Merauke bisa didokumentasikan, jadi klo sampe ilang, ga ilang bgitu aja..

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor
« Reply #7 on: 24 April 2012, 08:50:24 PM »
Gak di urus pemerintah juga bakalan menjerit kalau ada aliran 'sesat' yang mirip2 ajaran main stream.  Bisa-bisa terjadi kerusuhan antar agama seperti di india.

yang salah karena tidak tertib(pelanggaran) harus dihukum tegas.
tidak boleh berbuat kesalahan(pelanggaran hukum) walaupun masalah agama/kepercayaan tetap harus dihukum tegas, maksudnya setiap pelanggaran hukum walaupun atas agama/kepercayaan tetap diarahkan adalah pelanggaran hukum/tidak tertib dan konsekuensi berhadapan dengan hukuman tegas,
seperti di Indo karna agama/kepercayaan mayoritas boleh berbuat semena2 terhadap minoritas dan terjadi pembiaran, akhirnya berlanjut terus menerus hal2 demikian.
« Last Edit: 24 April 2012, 09:02:07 PM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.