Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Samanera Pandita  (Read 4426 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samanera Pandita
« Reply #15 on: 24 April 2012, 11:26:03 AM »
Hmmm.... Tunggu gw ada waktu luang dulu y.... Tapi gak janji lo.... :)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Samanera Pandita
« Reply #16 on: 24 April 2012, 04:11:22 PM »
Hmmm.... Tunggu gw ada waktu luang dulu y.... Tapi gak janji lo.... :)

buat kebajikan kok pakai tunggu segala ! ;D
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Samanera Pandita (terjemahan)
« Reply #17 on: 24 April 2012, 07:41:02 PM »
Di masa lalu, kata mereka, Kassapa yang tercerahkan, disertai oleh rombongan dua puluh ribu bhikkhu yang terbebas dari noda-noda, melakukan kunjungan ke Benares. Kemudian warga, sadar kemasyuran mereka harus memperoleh demikian, bersatu dikelompok dari delapan atau sepuluh dan menyajikan para bhikkhu pengunjung dengan berbagai macam persembahan.

Sekarang hal ini terjadi pada suatu hari Sang Guru, dalam sukacita atas manfaat dari pendana pada akhir makan, berbicara sebagai berikut: "Murid umat awam, di sini di dunia ini satu orang berkata pada dirinya sendiri, 'Ini adalah beban tugas untuk memberi hanya yang saya miliki. Mengapa saya membujuk orang lain untuk memberikan?'
Jadi ia sendiri memberi sedekah dana makanan, tetapi bukan membujuk dari orang lain untuk memberi. Pria itu, pada masa kehidupannya yang akan datang, menerima berkah kekayaan, tetapi bukan berkan dari pengikut.

Orang lain membujuk yang lain untuk memberi, tetapi bukanlah dirinya sendiri yang memberi. Orang tersebut menerima masa depannya dari berkah pengikut tetapi bukan berkah kekayaan.

Orang yang lain bukan dirinya ataupun bukan orang lain yang memberi, Pria itu, pada kehidupannya yang akan datang, tidak menerima berkah kekayaan ataupun berkah pengikut tetapi hidup sebagai pemakan sisa sisa makanan.

Namun seseorang lain yang bukan hanya dirinya memberi tetapi membujuk orang lain untuk memberi, Orang tersebut, pada kehidupannya yang akan datang, menerima keduanya berupa berkah kekayaan dan berkah pengikut."



Pada saat itu seorang bijaksana yang berdiri disana mendengarkan ini dan berkata kepada dirinya,
"Saya akan langsung bertindak untuk mendapatkan kedua berkat untuk diri saya sendiri."
Demikianlah dia memberi hormat kepada Sang Guru dan berkata, "Yang Mulia, besok terimalah dana makanan dari saya."
"Berapa banyak bhikkhu yang akan Anda bawa?"
"Berapa banyak bhikkhu yang akan ikut, Yang Mulia?"
"Dua puluh ribu bhikkhu."
"Yang Mulia, besok bawalah semua bhikkhu dan terimalah dana makanan dari saya." Sang Guru menerima undangannya



Pria itu masuk ke desa dan mengumumkan, "Saudara dan saudari, saya telah mengundang para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk dana makan disini besok; masing masing dan semua dari kalian berilah sebanyak bhikkhu yang kalian mampu."
Kemudian dia bertanya seberapa banyak yang dapat disediakan.
"Kami akan menyediakan 10";
"Kami akan menyediakan 100";
"Kami akan menyediakan 500," jawab mereka, masing masing memberikan sesuai dengan kemampuannya. Semua janji tersebut ditulis pada selembar daun.



Pada saat itu dikota tersebut ada seorang yang sangat miskin sehingga dia dikenal sebagai pangeran miskin, Mahāduggata. Pemohon, bertemu langsung, berkata kepadanya, "Tuan Mahāduggata, saya telah mengundang para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk makan esok hari; besok para penduduk kota akan memberikan dana. Berapa banya bhikkhu yang akan Anda persembahkan ?" - "Tuan, apa yang harus saya lakukan untuk para bhikkhu? Para bhikkhu memerlukan orang kaya untuk menyediakan dana makanan mereka. Tetapi bagi saya, saya memiliki tidak begitu banyak beras untuk membuat bubur besok; apa yang harus saya lakukan untuk para bhikkhu?"



Sekarang sepatutnya seseorang pria yang membujuk orang lain untuk memberi sesuatu yang sudah dipikirkan; karena itu ketika pemohon mendengar orang miskin mengakui kemiskinannya menjadi alasan, daripada tetap berdiam, dia berbicara kepadanya sebagai berikut,
"Tuan Mahāduggata, ada banyak penduduk dikota ini yang hidup dalam kemewahan, makan makanan yang mewah, mengenakan pakaian yang lembut dibersolek dengan berbagai macam perhiasan, dan tidur pada tempat tidur bagai kemegahan kerajaan. Tetapi Anda ini, Anda bekerja untuk hidupmu dan mendapatkan hampir tidak cukup untuk mengisi perut Anda. Itulah yang terjadi, apakah alasan seperti itukah mengapa Anda tidak pernah melakukan untuk orang lain?"
"Ya saya pikir demikian, tuan."
"Baiklah, sekarang mengapa anda tidak bekerja untuk sesuatu yang layak?  Anda masih muda, dan Anda masih memiliki banyak tenaga; bukankah ini beban tugasmu selagi anda bekerja untuk hidup dengan memberi dana makanan sesuai dengan kemampuan Anda?"
Ketika pemohon tersebut berbicara, si miskin diliputi dengan emosi dan berkata,
"Tuliskan nama saya pada selembar daun untuk seorang bhikkhu; tidak peduli seberapa kecil yang mungkin saya dapat, saya akan menyediakan dana makanan untuk seorang bhikkhu." Pemohon tersebut berkata dalam hati, "Apa gunaya menulis satu orang bhikkhu pada selembar daun?" dan menghilangkan tulisan namanya.



Mahāduggata pergi ke rumah dan berkata kepada istrinya,
"Istriku, besok para peduduk desa akan menyediakan makanan untuk para bhikkhu. Saya, juga, diminta oleh pemohon untuk menyediakan makanan untuk satu orang bhikkhu; maka dari itu kita juga akan menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu besok."
Istrinya, berkata kepadanya, "Kita miskin; kenapa kamu berjanji untuk melakukannya ?" katanya,
"Suamiku, apa yang kamu lakukan ada benarnya. Sekarang kita miskin karena kita belum pernah memberikan sesuatu; kita berdua akan bekerja untuk dipekerjakan dan memberi makan seorang bhikkhu."
Akhirnya mereka berdua pergi untuk mencari kerja.



Seorang pedagang kaya melihat Mahāduggata dan berkata kepadanya,
"Tuan Mahāduggata, apakah Anda bermaksud untuk bekerja?"
"Yah, orang kaya."
"Pekerjaan apa yang dapat Anda lakukan?"
"Apapun yang Anda ingin lakukan."
"Baiklah kalau begitu, kita akan menjamu 300 bhikkhu; kemarilah, belahlah kayu."
Dan dia membawa sebuah kapak dan memberikan kepadanya. Mahāduggata mengenakan celana dan mengerahkan dirinya sepenuhnya secara maksimal, mulailah membelah kayu, pertama tama mengayunkan kapak kesamping dan menebas, dan kemudian mengayunkan kapaknya kesamping. Pedagang itu berkata kepadanya,
"Tuan, Anda hari ini bekerja dengan keras; apa ada alasan untuk itu?"
"Tuan, saya berharap dapat menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu."
Pedagang tersebut bersenang hati dan berpikir, "Sebuah pekerjaan yang sulit telah dikerjakan; daripada hanya berdiam diri dan menolak untuk memberi karena kemiskinannya, dia berkata, 'Saya akan bekerja dan menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu.'"



Sang Istri pedagang juga melihat istri si miskin dan berkata kepadanya,
"Saudara, pekerjaan apa yang dapat Anda lakukan?"
"Apapun yang Anda ingin lakukan."
Jadi dia memanggilnya masuk kedalam ruangan dimana lesung disimpan, memberikannya sebuah kipas penampi, alu dan sebagainya dan mengaturnya bekerja. Wanita itu menumbuk pada dan mengayaknya dengan penuh suka cita dan kegembiraan seperti dia sedang menari. Istri pedagang tersebut berkata kepadanya,
"Saudara, Anda tampak seperti tidak biasa bersuka cita dan bergembira dalam mengerjakan pekerjaan Anda; apakah ada alasan untuk itu?"
"Nyonya, dengan upah yang kami peroleh pada pekerjaan ini kami berharap untuk menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu."
Ketika istri pedagang mendengarnya, dia senang dan berkata kepada dirinya sendiri, "Sebuah tugas yang sulit yang sedang dilakukan oleh wanita ini !"



Ketika Mahāduggata telah menyelesaikan membelah kayu, pedagang itu memberinya 4 ukuran beras sebagai upah untuk kerjanya dan tambahan 4 ukuran beras sebagai ungkapan niat baiknya. Si miskin pergi kerumah dan berkata kepada istrinya,
"Beras yang saya terima untuk upah kerjaku akan menjadi persediaan bagi kita. Dengan upah yang telah engkau dapat sediakanlah dadih, minyak, kayu dan peralatan."
Istri pedagang itu memberi wanita miskin secangkir ghee, wadah dadih, berbagai macam penyedap rasa, dan seukuran beras yang bersih. Suami istri tersebut akhirnya menerima 9 ukuran beras.



Dipenuhi dengan suka cita dan kepuasan pada pikiran bahwa mereka telah menerima makanan untuk didanakan, mereka bangun sangat pagi. Istri Mahāduggata berkata kepadanya,
"Suamiku, pergi carilah daun untuk kari dan bawalah pulang kerumah."
Tak terlihat daun di toko, dia pergi ke pinggir sungai. Dan disana dia memungut dedaunan, bernyanyi penuh suka cita dalam pikirannya,
"Hari ini Saya akan mendapatkan kehormatan untuk memberikan dana makanan kepada para bhikkhu suci."



Seorang nelayan yang baru saja melemparkan jalanya ke air dan sedang sedang berdiri berkata kepada dirinya sendiri,
"Itu pastilah suara Mahāduggata."
Kemudian dia memanggilnya dan bertanya, "Anda bernyanyi seolah olah sangat gembira; apa alasannya?"
"Saya memungut dedaunan, kawan."
"Untuk apa ?"
"Saya akan menyediakan makan untuk seorang bhikkhu."
"Berbahagialah bhikkhu yang akan menyantap sayurmu"
"Apakah ada yang lain yang dapat saya kerjakan, Tuan? Saya berniat untuk menyediakan untuknya dengan daun yang telah saya kumpulkan."
"Baiklah kalau begitu, kemarilah."
"Apa yang Anda ingin saya lakukan, Tuan ?"
"Ambil lah ikan ini dan ikatlah mereka pada satu ikatan untuk dijual dengan harga, 6 pence (???).



Mahāduggata melakukan seperti apa yang dikatakan, dan penduduk kota membelinya untuk para bhikkhu yang mereka undang. Dia masih mengikat ikan ketika saatnya tiba untuk para bhikkhu untuk pergi menerima dana makanan, kemudian dia berkata kepada nelayan,
"Saya harus pergi sekarang, kawan; ini saatnya untuk para bhikkhu datang."
"Apakah ada sisa ikan yang terikat ?" - "Tidak, kawan, semuanya terjual."
"Baiklah kalau begitu, ini ada empat ekor ikan merah yang saya bakar didalam tanah untuk keperluan saya. Jika Anda bermaksud untuk menyediakan makanan untuk para bhikkhu, ambilah untukmu." Si Nelayan memberikan ikan merah itu kepadanya.



Sekarang Sang Guru mengamati dunia pada pagi hari pada hari itu, dia mengamati bahwa Mahāduggata telah masak pengetahuannya. Dan dia mempertimbangkan dengan dirinya sendiri,
"Apa yang akan terjadi? Kemarin Mahāduggata dan istrinya bekerja untuk menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu. Bhikkhu mana yang akan dia dapatkan?"
Dan dia menyimpulkan, "Penduduk kota akan mendapatkan para bhikkhu untuk dijamu didalam rumah mereka menurut urutan nama pada daun yang telah tertulis; tidak bhikkhu lainnya akan Mahāduggata dapatkan, tetapi hanya saya saja."
Sekarang Sang Buddha dikatakan menunjukan kelembutannya untuk orang miskin. Jadi ketika Sang Guru, diawal pagi, setelah memenuhi kebutuhan tubuhnya,
Sang Buddha berkata, "Aku akan melimpahkan keuntungan kepada Mahāduggata."
Dan Sang Buddha pergi kedalam ganda kuti dan duduk.










mohon koreksi jikalau ada terjemahan yang kurang tepat.
« Last Edit: 24 April 2012, 07:43:35 PM by Mas Tidar »
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Samanera Pandita (terjemahan)
« Reply #18 on: 24 April 2012, 07:41:51 PM »
Ketika Mahāduggata pergi kedalam rumahnya dengan membawa ikan, tahta kursi emmas Sakka, raja para dewa, menunjukan tanda - tanda panas. Sakka melihat sekeliling dan berkata kepada dirinya sendiri,
"Alasan apakah ini terjadi ?" dan dia menyadari dalam dirinya sendiri,
"Kemarin Mahāduggata dan istrinya bekerja untuk menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu; siapa bhikkhu yang akan dia dapatkan?"
Akhirnya dia sampai pada kesimpulan, "Mahāduggata akan mendapatkan bhikkhu tidak lain adalah Sang Buddha, yang sedang duduk didalam ganda kuti dengan pemikiran ini dalam pemikirannya, 'Saya akan melimpahkan dukunganku kepada Mahāduggata.' Sekarang niat Mahāduggata untuk menawarkan kepada Tathāgata makanan yang ia buat sendiri, yang terdiri dari bubur dan nasi dan daun kari. Bagaimana jika saya pergi ke rumah Mahāduggata dan menawarkan diri sebagai juru masak?"



Dengan demikian Sakka menyamar, pergi ke sekitaran rumahnya, dan bertanya, 
"Apakah ada seseorang yang ingin berkerja untuknya ?"
Mahāduggata melihatnya dan berkata kepadanya, "Tuan, pekerjaan apakah yang dapat saya lakukan?"
"Tuan, Saya dapat mengerjakan semua hal; tidak ada suatu halpun yang tidak saya ketahui untuk dikerjakan. Diantaranya saya mengetahui bagaimana memasak bubur dan menanak nasi."
"Tuan, kita memerlukan bantuan Anda, tetapi kami tidak memiliki uang untuk membayar upahmu."
"Pekerjaan apa yang Anda harus lakukan?"
"Saya berharap untuk menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu dan saya seharusnya punya seseorang untuk menyiapkan bubur dan nasi."
"Jika Anda bermaksud untuk menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu, tidak perlu untuk mengupah saya. Tidaklah sepatutnya bahwa saya seharusnya bekerja untuk jasa?"
"Jika kasusnya demikian, baguslah, Tuan; masuklah."
Maka Sakka masuk ke rumah si miskin itu, menyuruhnya membawa nasi dan beberapa makanan, dan kemudian berhentilah ia, katanya,
"Pergilah dan jemput bhikkhu yang ditentukan untuk Anda."




Sekarang si pemohon dana makanan telah mengirim ke rumah rumah para penduduk para bhikkhu yang tercatat pada selembar daun.
Mahāduggata bertemu dengannya dan berkata kepadanya, "Berikan kepada saya bhikkhu yang ditentukan untuk saya."
Pemohon segera teringat apa yang telah dia lakukan dan menjawab, "Saya lupa untuk menentukan seorang bhikkhu untuk Anda."
Mahāduggata merasa perutnya tertusuk oleh belati tajam. Dia berkata,
"Tuan, kenapa Anda menghancurkan saya? Kemarin Anda membujuk saya untuk memberikan dana makanan. Jadi istri saya dan saya bekerja sepanjang hari, dan hari ini saya bangun lebih pagi untuk mengumpulkan daun, pergi ketepi sungai, dan menghabiskan waktu untuk memetik daun daunan. Berilah saya seorang bhikkhu!"
Dan dia meremas remas tangannya dan menangis.



Orang-orang berkumpul dan bertanya, "Ada apa dengan Mahāduggata?"
Dia berkata kepada mereka apa yang terjadi, kemudian mereka bertanya kepada pemohon,
"Apakah itu benar, orang ini menuduh, bahwa Anda mendesaknya untuk bekerja untuk menyediakan makanan untuk seorang bhikkhu ?"
"Ya, Yang Mulia."
"Anda telah melakukan kesalahan serius dalam hal ini, saat membuat pengaturan untuk banyak bhikkhu, Anda gagal mengalokasikan pria ini unt seorang bhikkhu."
Si Pemohon sedang menghadapi masalah dengan apa yang mereka katakan dan dia berkata kepadanya,
"Mahāduggata, jangan hancurkan saya. Anda menempatkan saya dalam keadaan tidak nyaman. Para penduduk telah membawa beberapa bhikkhu kerumahnya sesuai dengan urutan yang tertulis didaun, dan tidak ada bhikkhu didalam rumah saya sendiri yang dapat saya antar dan berikan kepada Anda. Tetapi Sang Guru saat ini masih duduk didalam ganda kuti, baru saja mencuci wajahnya; dan tanpa tempat duduk singgasana raja, pangeran kerajaan, para menteri kerajaan, dan lainnnya, menunggu dia untuk datang, supaya mereka mengambil mangkuk dan menemaninya dalam perjalanan. Sekarang Para Buddha yang sudah terbiasa menunjukan kelembutan khusus terhadap orang orang miskin. Karena itu pergilah ke vihara, memberi hormat kepada Sang Guru, dan berkata kepadanya, 'Saya seorang miskin Yang Mulia. Limpahkanlah berkah Anda kepada saya.' Jika Anda memiliki manfaat, Anda akan tanpa keraguan mendapatkan apa yang kamu cari."



Kemudian Mahāduggata pergi ke vihara. Sekarang pada kesempatan sebelumnya ia terlihat divihara sebagai pemakan sisa-sisa makanan. Oleh karena itu para raja, pangeran kerajaan dan yang lain berkata kepadanya,
"Mahāduggata, saat ini bukan waktunya makan. Kenapa Anda datang kemari?"
"Tuan - tuan." jawabnya,
"Saya tahu saat ini bukan waktunya makan; tetapi saya kemari untuk memberi hormat kepada Sang Guru."
Kemudian dia menuju ke ganda kuti, meletakkan kepalanya dibatas pintu, memberi hormat kepada Sang guru, dan berkata,
"Yang Mulia, di kota ini tidak ada orang semiskin saya. Jadilah pelindungku; limpahkanlah berkahmu kepada saya."



Sang Guru membuka pintu ganda kuti, mengambil mangkuk-nya, dan meletakannya pada tangan si orang miskin. Seolah olah Mahāduggata telah menerima kemuliaan raja dunia. Para raja, pangeran kerajaan, dan yang lain tersentak menahan nafas. Sekarang ketika Sang Guru memberikan mangkuk kepada seseorang, tidak seorang pun yang berani mengambil mangkuk darinya dengan paksa. Tetapi mereka kemudian berbicara demikian,
"Tuan Mahāduggata, berikan kepada kami mangkuk Sang Guru; kami akan memberimu uang untuk itu. Kamu orang miskin; ambil lah uangnya. Untuk apa Anda membawa mangkuk tersebut?"
Mahāduggata berkata, "Saya tidak akan memberikannya kepada siapapun. Saya tidak memerlukan uang; yang saya inginkan adalah menyediakan makan untuk Sang Guru."
Semua yang hadir tanpa terkecuali memohon kepadanya untuk memberikan mangkuk itu, tetapi gagal untuk mendapatkannya.


 Sang raja berpikir,
"Uang tidak akan menggoda Mahāduggata untuk memberikan mangkuk itu, dan tidak ada seorang pun dapat mengambil mangkuk itu darinya yang merupakan keinginan Sang Guru sendiri telah berikan kepada Mahāduggata. Tetapi seberapa banyak orang ini akan berdana? Ketika saatnya tiba untuk dia mempersembahkan dana makanan, saya akan berada sisi Sang Guru, mengadakan dana makanan dirumah saya, dan memberikan makanan yang telah saya siapkan."
Ini adalah pikiran dalam benaknya bahkan saat menemani Sang Guru.



Sekarang Sakka, raja para dewa, mempersiapkan bubur, nasi dan daun kari, dan berbagai jenis makanan yang lain, menyiapkan kursi yang layak untuk Sang Guru, dan duduk menunggu kedatangan Sang Guru. Mahāduggata mempersilakan Sang Guru kerumahnya dan mengundangnya untuk masuk. Sekarang rumah yang dia tinggali berlangit langit rendah dan sangat mustahil untuk masuk tanpa menundukan kepala. Tetapi Para Buddha tidak pernah menundukan kepalanya pada saat memasuki sebuah rumah. Ketika mereka memasuki rumah permukaan bumi turun atau rumah tersebut bertambah tinggi. Ini adalah buah dari buah dari bermurah hati dalam hal berdana yang telah mereka berikan. Dan ketika mereka meninggalkan tempat tersebut dan pergi, semua akan kembali seperti semula. Maka dari itu Sang Guru masuk kedalam rumah dengan tetap berjalan tegak, dan setelah masuk, duduk dikursi yang telah disiapkan oleh Sakka. Ketika Sang Guru duduk, raja berkata kepada Mahāduggata,
"Tuan Mahāduggata, ketika kami memohon kepadamu untuk memberikan mangkuk Sang Guru, Anda menolaknya. Sekarang mari kita lihat jenis makanan apa yang telah Anda persiapkan untuk Sang Guru."



Pada saat itu Sakka membuka piring dan menunjukan bubur, nasi dan berbagai jenis makanan yang lain. Bau dan aroma muncul menyelimuti seluruh kota. Raja mengamati bubur, nasi dan makanan lainnya, dan berkata kepada Sang Bhagava,
"Yang Mulia, ketika saya datang kemari, saya berpikir dalam benak saya, 'Seberapa berharganya dana makanan Mahāduggata? Ketika dia mempersembahkan dana makanannya saya akan berada disamping Sang Guru, mengadakan jamuannya dirumah saya, dan memberi makanan yang telah saya persiapkan.' Tetapi pada kenyataannya, saya belum pernah melihat makanan seperti ini. Jika saya masih disini, Mahāduggata akan merasa kesal; maka dari itu saya akan mundur diri."
Dan setelah memberi hormat kepada Sang Guru, dia keluar. Sakka mempersembahkan bubur dan makanan yang lain kepada Sang Guru dan dengan setia melayani kebutuhannya. Setelah Sang Guru selesai makan, dia berterima kasih, bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat itu. Sakka memberi tanda kepada Mahāduggata, yang menyarankan untuk membawa mangkuk Sang Guru dan menemaninya.



Sakka berpaling, berhenti dipintu rumah Mahāduggata, dan menatap langit. Setelah itu dari langit turun hujan dengan 7 jenis permata. Permata tersebut mengisi seluruh ruangan dan rumah itu sendiri. ketika tiada ruangan tersisa didalam rumah, mereka menggendong anak mereka, membawanya keluar, dan berdiri disana. Ketika Mahāduggata kembali dari menemani Sang Guru dan melihat anak  anak berdiri diluar rumah, dia bertanya,
"Apa artinya ini?"
"Semua ruangan rumah kita terisi oleh 7 jenis permata, jadi tidak ada ruangan tersisa."
Mahāduggata berpikir sendiri, "Hari ini saya telah menerima ganjaran dari dana makana yang baru saja diberikan."
Setelah itu dia pergi ke raja, memberi hormat kepadanya, dan ketika raja bertanya mengapa dia datang, dia berkata,
"Yang Mulia, rumahku tersisi oleh 7 jenis permata; menerima kekayaan tersebut."
Raja berpikir, "Pada hari ini dana telah diberikan kepada Sang Buddha mencapai kesempurnaannya."
Dan raja berkata kepadanya, "Apakah engkau harus menyingkirkan permata permata itu?"
"Yang Mulia, akan dibutuhkan seribu gerobak untuk menyingkirkan semua kekayaan ini."
Raja mengirimkan seribu gerobak dan ditimbun dipengadilan istana. Timbunan tersebut setinggi pohon kelapa.



Raja mengumpulkan para warganya dan bertanya kepada mereka,
"Apakah ada dikota ini memiliki kekayaan sebanyak ini?"
"Tidak ada, Yang Mulia."
"Apa yang harus dilakukan untuk seorang pria yang memiliki kekayaan sebanyak ini?"
"Dia seharusnya diberi jabatan bendahara, Yang Mulia."
Raja memberi penghargaan yang tinggi kepadanya dan memberi jabatan sebagai bendahara. Kemudian ia menunjukan lokasi rumah yang ditempati oleh bendahara sebelumnya, dan berkata kepadanya,
"Bersihkanlah semak semak yang tumbuh disana, bangun lah sebuah rumah dan tempati lah."


Sebagaimana tanah sedang dibersihkan dan diratakan, guci harta menyinarkan cahaya ketika pinggiran guci saling bersentuhan. Ketika Mahāduggata melaporkan ini kepada raja, yang kedua berkata,
"ini adalah melalui jasa Anda bahwa guci ini telah datang bersinar; Anda sendiri yang memilikinya."
Ketika Mahāduggata telah menyelesaikan rumah tersebut, dia memberi dana makan kepada para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha selama 7 hari. Setelah itu, setelah hidup dalam masa tertentu dalam melaksanakan berdana, Mahāduggata terlahir diakhir kehidupannya dialam para dewa. Setelah menikmati kemuliaan surgawi untuk kurun waktu diantara dua ajaran Buddha, dia meninggal dari kondisi pada ajara Buddha saat ini, dan dikandung dalam rahim putri seorang pedagang kaya dari Savatthi, seorang pengikut tetua Sāriputta.








mohon koreksi jikalau ada terjemahan yang kurang tepat.
« Last Edit: 24 April 2012, 07:45:32 PM by Mas Tidar »
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samanera Pandita
« Reply #19 on: 24 April 2012, 07:52:35 PM »
Google translate meaning....  :))
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Samanera Pandita
« Reply #20 on: 24 April 2012, 08:23:17 PM »
yah ada campur tangan mbah google (40%)   ;D ;D ;D
kami ketik ulang semuanya, copas di google malah bikin bingung artinya.

Google translate meaning....  :))
« Last Edit: 24 April 2012, 08:38:01 PM by Mas Tidar »
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Samanera Pandita
« Reply #21 on: 24 April 2012, 09:24:38 PM »
karena udah diterjemahkan, sy kasih karma baik 1 deh...  ;D
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samanera Pandita
« Reply #22 on: 25 April 2012, 06:59:38 AM »
Sori OOT, gmn sih caranya kasi GRP...?????
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Samanera Pandita
« Reply #23 on: 25 April 2012, 07:34:08 AM »
Sori OOT, gmn sih caranya kasi GRP...?????

Posts: 880
Reputasi: 44
[Baik] [Buruk]
Gender:

jika postingan anda sudah mencapai 1000 maka button [baik] [buruk] akan muncul di setiap member lainnya, sekarang anda masih belum bisa memberi GRP/BRP, masih kurang 220 posts

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Samanera Pandita
« Reply #24 on: 25 April 2012, 03:02:27 PM »
makanya sering2 post om, biar bisa ngasih (aku) GRP...  :)) :)) :))
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Samanera Pandita
« Reply #25 on: 25 April 2012, 03:20:20 PM »

880 + 220 = 1000,
waduh kalkulatorku salah yah  ~X( ~X( ~X(



sudah tâ coba berkali2 ndak sama  :outoftopic:   =)) =)) =))

Posts: 880
Reputasi: 44
[Baik] [Buruk]
Gender:

jika postingan anda sudah mencapai 1000 maka button [baik] [buruk] akan muncul di setiap member lainnya, sekarang anda masih belum bisa memberi GRP/BRP, masih kurang 220 posts
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Samanera Pandita
« Reply #26 on: 25 April 2012, 03:22:06 PM »

karma baik GRP berbuah, already ripen   _/\_


karena udah diterjemahkan, sy kasih karma baik 1 deh...  ;D
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha