Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA  (Read 34846 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB XII)
« Reply #75 on: 07 March 2012, 01:04:43 PM »
“Suatu ketika, sahabat-sahabat, ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, seperti sebelumnya, Beliau menolak sehubungan dengan Upananda, putera Sakya, emas dan perak dan menetapkan peraturan latihan.  Adalah karena mengatakan demikian maka dikatakan bahwa saya mencela dan menghina Yang Mulia para umat awam yang memiliki keyakinan dan kepercayaan, dan bahwa saya memperoleh sedikit kepuasan dalam hal bahwa saya mengatakan apa yang bukan-dhamma sebagai bukan-dhamma; dalam hal bahwa saya mengatakan apa yang merupakan dhamma sebagai dhamma; dalam hal bahwa saya mengatakan apa yang bukan-disiplin sebagai bukan-disiplin; dalam hal bahwa saya mengatakan apa yang merupakan disiplin sebagai disiplin. ||5||

Ketika ia telah selesai berbicara demikian, para umat awam Vesālī berkata kepada Yasa, putera Kākaṇḍakā sebagai berikut: “Yang Mulia, Guru Yasa, putera Kākaṇḍakā, adalah satu-satunya petapa, satu-satunya putera Sakya; mereka ini, semuanya bukanlah petapa, bukanlah para putera Sakya. Yang Mulia, sudilah Guru Yasa, putera Kākaṇḍakā, menetap di Vesālī dan kami akan berusaha menyediakan kebutuhan-kebutuhan jubah, dana makanan, tempat tinggal, obat-obatan jika sakit.”

Kemudian Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍakā, setelah meyakinkan para umat awam Vesālī, kembali ke vihara bersama dengan bhikkhu yang menjadi utusan pendampingnya. ||6||

Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī bertanya kepada bhikkhu yang menjadi utusan pendamping, dengan berkata: “Yang Mulia, apakah para umat awam Vesālī telah dimintakan maaf oleh Yasa, putera Kākaṇḍakā?”

“Yang Mulia, keburukan telah menimpa kita; Yasa, putera Kākaṇḍakā, adalah satu-satunya yang dianggap sebagai  seorang petapa, seorang putera Sakya; kita semua, tidak dianggap sebagai petapa, bukan para putera Sakya.”

Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī, dengan mengatakan: “Yang Mulia, Yasa ini, putera Kākaṇḍakā, tidak ditunjuk oleh kita, telah memberikan informasi  kepada para perumah tangga. Marilah kita melaksanakan tindakan (resmi) penangguhan terhadapnya.” Dan mereka berkumpul dengan tujuan untuk melaksanakan tindakan (resmi) penangguhan terhadapnya. Kemudian Yasa, putera Kākaṇḍakā, setelah melayang di atas tanah, muncul kembali di Kosambi. Kemudian Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍakā, mengirim utusan kepada para bhikkhu di Pāvā  dan (kepada mereka) yang berada di wilayah selatan Avantī,  dengan mengatakan:

“Sudilah Yang Mulia datang, kita harus menghadiri pertanyaan resmi ini sebelum apa yang bukan-dhamma bersinar dan apa yang merupakan dhamma tersembunyi, sebelum apa yang bukan-disiplin bersinar dan apa yang merupakan disiplin tersembunyi, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan dhamma menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma menjadi lemah, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan disiplin menjadi lemah.”  ||7||

Pada saat itu Yang Mulia Sambhūta,  seorang pemakai jubah rami kasar,  sedang menetap di lereng gunung Ahogangā. Kemudian Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍakā, mendatangi lereng gunung Ahogangā dan Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar; setelah menghadap, setelah menyapa Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍakā berkata kepada Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar sebagai berikut:

“Yang Mulia, para bhikkhu ini, orang-orang Vajji dari Vesālī, mengajarkan sepuluh hal:  “Praktik sehubungan dengan tanduk untuk garam  diperbolehkan; praktik sehubungan dengan lima lebar jari diperbolehkan; praktik sehubungan dengan ‘di tengah-tengah desa’ diperbolehkan; praktik sehubungan dengan tempat-tempat kediaman diperbolehkan; praktik sehubungan dengan penerimaan diperbolehkan; praktik sehubungan dengan apa yang menjadi kebiasaan diperbolehkan; praktik sehubungan dengan susu-mentega yang tidak diaduk diperbolehkan; meminum minuman yang tidak terfermentasi diperbolehkan; sehelai alas duduk yang tanpa pinggiran diperbolehkan; emas dan perak diperbolehkan. [198] Marilah, Yang Mulia, kita harus menghadiri pertanyaan resmi ini sebelum apa yang bukan-dhamma bersinar dan apa yang merupakan dhamma tersembunyi, sebelum apa yang bukan-disiplin bersinar dan apa yang merupakan disiplin tersembunyi, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan dhamma menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma menjadi lemah, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan disiplin menjadi lemah.”

“Baiklah, Yang Mulia,” Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, menjawab Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍakā. Kemudian sebanyak enam puluh bhikkhu dari Pāvā, semuanya adalah penghuni-hutan, semuanya adalah pemakan makanan yang didanakan, semuanya adalah pemakai jubah dari kain buangan, semuanya adalah pemakai tiga jubah,  semuanya telah mencapai kesempurnaan,  berkumpul di lereng gunung Ahogangā; dan sebanyak delapan puluh delapan bhikkhu dari wilayah selatan Avantī, sebagian besar adalah penghuni-hutan, sebagian besar adalah pemakan makanan yang didanakan, sebagian besar adalah pemakai jubah dari kain buangan, sebagian besar adalah pemakai tiga jubah, semuanya telah mencapai kesempurnaan berkumpul di lereng gunung Ahogangā. ||8||

Kemudian ketika para bhikkhu sesepuh ini sedang mempertimbangkan, mereka berpikir: “Sekarang, pertanyaan resmi ini sulit dan menyusahkan. Bagaimana kita dapat mengumpulkan kelompok yang dengannya kita dapat menjadi lebih kuat sehubungan dengan pertanyaan resmi ini?” Pada saat itu Yang Mulia Revata  sedang menetap di Soreyya. Ia telah banyak mendengar, ia adalah seorang yang kepadanya tradisi telah diwariskan, ia adalah seorang ahli dalam dhamma, ahli dalam disiplin, ahli dalam topik-topiknya; bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan.  Kemudian para bhikkhu sesepuh itu berpikir:

“Yang Mulia Revata ini sedang menetap di Soreyya. Ia telah banyak mendengar … menyukai latihan. Jika kita dapat memasukkan Yang Mulia Revata ke dalam kelompok, dengan demikian kita akan lebih kuat sehubungan dengan pertanyaan resmi ini.”

Kemudian Yang Mulia Revata, melalui kondisi telinga-deva¬ yang murni, melampaui manusia, mendengar pertimbangan para bhikkhu sesepuh ini. Dan setelah mendengarnya, ia berpikir: “Pertanyaan resmi ini sulit dan menyusahkan. Namun tidaklah selayaknya bagiku untuk menghalangi pertanyaan resmi seperti ini. Tetapi para bhikkhu sedang menuju ke sini. Aku tidak merasa nyaman dikelilingi oleh mereka. Bagaimana jika aku pergi sebelum mereka datang?”

Kemudian Yang Mulia Revata pergi dari Soreyya menuju Saṃkassa. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu, setelah tiba di Soreyya, bertanya: “Di manakah Yang Mulia Revata?” Mereka menjawab: “Yang Mulia Revata telah pergi menuju Saṃkassa.” Kemudian Yang Mulia Revata pergi dari Saṃkassa menuju Kaṇṇakujja. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu, setelah tiba di saṃkassa, bertanya: “Di manakah Yang Mulia Revata?” Mereka menjawab: “Yang Mulia Revata telah pergi menuju Kaṇṇakujja.” Kemudian Yang Mulia Revata pergi dari  Kaṇṇakujja menuju Udumbara. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu, setelah tiba di Kaṇṇakujja, bertanya: “Di manakah Yang Mulia Revata?” Mereka menjawab: “Yang Mulia Revata telah pergi menuju Udumbara.” [299] Kemudian Yang Mulia Revata pergi dari  Udumbara menuju Aggaḷapura. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu, setelah tiba di Udumbara, bertanya: “Di manakah Yang Mulia Revata?” Mereka menjawab: “Yang Mulia Revata telah pergi menuju Aggaḷapura.” Kemudian Yang Mulia Revata pergi dari  Aggaḷapura menuju Sahajāti. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu, setelah tiba di Aggalapura, bertanya: “Di manakah Yang Mulia Revata?” Mereka menjawab: “Yang Mulia Revata telah pergi menuju Sahajāti. Kemudian para bhikkhu sesepuh itu bertemu dengan Yang Mulia Revata di Sahajāti. ||9||

Kemudian Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, berkata kepada Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍakā sebagai berikut: “Yang Mulia, Yang Mulia Revata ini telah banyak mendengar, ia adalah seorang yang kepadanya tradisi telah diwariskan, ia adalah seorang ahli dalam dhamma, ahli dalam disiplin, ahli dalam topik-topiknya; bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan. Jika kita mengajukan sebuah pertanyaan kepada Yang Mulia Revata, maka Yang Mulia Revata akan menghabiskan sepanjang malam hanya untuk menjelaskan satu pertanyaan. Tetapi sekarang Yang Mulia Revata akan memanggil seorang bhikkhu yang adalah seorang murid dan seorang pengulang syair.  Pergilah engkau, ketika bhikkhu itu telah menyelesaikan irama syair itu, setelah menghadap Yang Mulia Revata, tanyakan padanya tentang sepuluh hal ini.”

“Baiklah, Yang Mulia,” Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍaka, menjawab Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar. Kemudian Yang Mulia Revata memanggil seorang bhikkhu yang adalah seorang murid dan seorang pengulang syair. Kemudian ketika bhikkhu itu telah menyelesaikan irama syair itu, Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍaka, menghadap Yang Mulia Revata, setelah menghadap, setelah menyapa Yang Mulia Revata, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍaka, berkata kepada Yang Mulia Revata sebagai berikut:

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan tanduk untuk garam diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan tanduk untuk garam itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan membawa garam dalam tanduk, dengan berpikir, ‘aku akan dapat menikmati apa pun yang tidak asin’?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan dua lebar jari diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan dua lebar jari itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan makan pada waktu yang salah ketika bayangan telah melewati dua lebar jari?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan ‘di tengah-tengah desa’ diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan ‘di tengah-tengah desa’ itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan, dengan berpikir, ‘Sekarang aku akan pergi ke tengah-tengah desa,’ setelah makan, setelah kenyang, kemudian memakan makanan yang tidak disisakan?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan tempat-tempat kediaman diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan tempat-tempat kediaman itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan bagi beberapa tempat kediaman yang berada dalam lingkungan yang sama melaksanakan berbagai Uposatha?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.” [300]

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan penerimaan diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan penerimaan itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan bagi Saṅgha yang tidak lengkap untuk melakukan tindakan (resmi), dengan berpikir, ‘Kami akan memberikan nasihat kepada para bhikkhu yang datang’?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan apa yang menjadi kebiasaan  diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan apa yang menjadi kebiasaan itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan, dengan berpikir, ‘Hal ini biasa dilakukan oleh penahbisku, hal ini biasa dilakukan oleh guruku,’ kemudian melakukan sesuai dengan kebiasaan itu?”

“Yang Mulia, praktik sehubungan dengan apa yang menjadi kebiasaan itu, kadang-kadang diperbolehkan, kadang-kadang tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan susu-mentega yang tidak diaduk diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan susu-mentega yang tidak diaduk itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan, setelah makan, setelah kenyang, kemudian meminum susu apa pun yang tidak disisakan tetapi telah melewati tahap sebagai susu (walaupun) belum menjadi dadih?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan meminum minuman yang tidak terfermentasi?”

“Apakah, Yang Mulia, minuman ini?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan untuk meminum minuman apa pun yang difermentasikan  (tetapi) belum terfermentasi dan belum sampai pada tahap menjadi minuman keras?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah sehelai alas duduk yang tanpa pinggiran  diperbolehkan?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, apakah emas dan perak diperbolehkan?”

“Yang Mulia, hal-hal itu tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, para bhikkhu ini yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī, mengajarkan sepuluh hal di Vesālī. Marilah, Yang Mulia, kita harus menghadiri pertanyaan resmi ini sebelum apa yang bukan-dhamma bersinar dan apa yang merupakan dhamma tersembunyi, sebelum apa yang bukan-disiplin bersinar dan apa yang merupakan disiplin tersembunyi, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan dhamma menjadi kuat dan mereka yang mengatakan dhamma menjadi lemah, sebelum mereka yang mengatakan apa yang bukan disiplin menjadi kuat dan mereka yang mengatakan disiplin menjadi lemah.”

“Baiklah, Yang Mulia,” Yang Mulia Revata menyanggupi Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍaka. ||10||1||

Demikianlah Bagian Pengulangan Pertama.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB XII)
« Reply #76 on: 07 March 2012, 01:31:05 PM »
Para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī mendengar: “Mereka mengatakan bahwa Yasa, putera Kākaṇḍakā, hendak menghadiri pertanyaan resmi ini, dan sedang membentuk kelompok, dan mereka mengatakan bahwa ia telah memperoleh kelompok.” Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī berpikir: “Pertanyaan resmi ini sulit dan menyusahkan. Bagaimana kita dapat mengumpulkan kelompok yang dengannya kita dapat menjadi lebih kuat sehubungan dengan pertanyaan resmi ini?” Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī berpikir: “Yang Mulia Revata iniadalah seorang yang telah banyak mendengar, ia adalah seorang yang kepadanya tradisi telah diwariskan, ia adalah seorang ahli dalam dhamma, ahli dalam disiplin, ahli dalam topik-topiknya; bijaksana, berpengalaman, cerdas; teliti, seksama, menyukai latihan. Jika kita dapat membujuk Yang Mulia Revata memihak kita, dengan demikian maka kita akan lebih kuat sehubungan dengan pertanyaan resmi ini.”

Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī mempersiapkan barang-barang kebutuhan para petapa yang berlimpah – mangkuk-mangkuk dan jubah-jubah dan helai-helai kain alas duduk dan kotak jarum dan sabuk pinggang dan saringan-saringan dan kendi-kendi air. Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī, dengan membawa barang-barang kebutuhan ini, pergi dengan menumpang perahu menuju ke hulu  ke Sahajāti; [301] setelah turun dari perahu, mereka makan di bawah sebatang pohon. ||1||

Kemudian ketika Yang Mulia Sāḷha sedang bermeditasi di kamar pribadinya suatu pemikiran ini muncul dalam pikirannnya: “Sekarang, siapakah yang menjadi pembabar-dhamma – para bhikkhu dari Timur atau para bhikkhu dari Pāvā?” Kemudian ketika Yang Mulia Sāḷha sedang merenungkan dhamma dan disiplin, ia menyimpulkan: “Para bhikkhu dari Tinur bukanlah pembabar-dhamma; para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar-dhamma.” Kemudian sesosok devatā dari alam murni, dengan pikirannya mengetahui pemikiran Yang Mulia Sāḷha, bagaikan seorang kuat yang merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, ia lenyap dari para deva di alam murnia, dan muncul kembali di hadapan Yang Mulia Sāḷha. Kemudian devatā itu berkata kepada Yang Mulia Sāḷha sebagai berikut: “Itu benar, Yang Mulia Sāḷha, para bhikkhu dari Tinur bukanlah pembabar-dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar-dhamma. Berdirilah tegak menurut dhamma.”

“Baik dulu maupun sekarang, devatā, aku telah berdiri tegak menurut dhamma. Namun demikian aku tidak akan mengemukakan pandangan-pandanganku hingga aku ditunjuk sehubungan dengan pertanyaan resmi ini.” ||2||

Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī, dengan membawa barang-barang kebutuhan para petapa, mendatangi Yang Mulia Revata; setelah menghadap mereka berkata kepada Yang Mulia Revata sebagai berikut: “Yang Mulia, sudilah Saṅgha menerima barang-barang kebutuhan para petapa ini - mangkuk-mangkuk dan jubah-jubah dan helai-helai kain alas duduk dan kotak jarum dan sabuk pinggang dan saringan-saringan dan kendi-kendi air.”

Ia berkata: “Tidak, Yang Mulia, saya sudah lengkap sehubungan dengan tiga jubah” (karena) ia tidak ingin menerima. Pada saat itu seorang bhikkhu bernama Uttara, yang telah menjadi bhikkhu selama dua puluh tahun, adalah pelayan Yang Mulia Revata. Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī, mendatangi Yang Mulia Uttara; setelah menghadap, mereka berkata kepada Yang Mulia Uttara sebagai berikut: “Sudilah Yang Mulia Uttara menerima barang-barang kebutuhan para petapa ini – mangkuk-mangkuk … kendi-kendi air.”

Ia berkata: “Tidak, Yang Mulia, saya sudah lengkap sehubungan dengan tiga jubah” (karena) ia tidak ingin menerima. Mereka berkata: “Yang Mulia Uttara, orang-orang biasanya membawa barang-barang kebutuhan para petapa untuk Sang Bhagavā. Jika Sang Bhagavā menerimanya, maka mereka menjadi gembira; tetapi jika Sang Bhagavā tidak menerimanya, maka mereka akan membawanya kepada Yang Mulia Ānanda, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, sudilah sesepuh menerima barang-barang kebutuhan para petapa ini, dengan demikian maka (pemberian) ini seolah-olah diterima oleh Sang Bhagavā.’ Sudilah Yang Mulia Uttara menerima [302] barang-barang kebutuhan para petapa ini, dengan demikian maka (pemberian) ini seolah-olah diterima oleh Sang Sesepuh.”

Kemudian Yang Mulia Uttara, karena didesak oleh para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī, mengambil satu jubah, dengan berkata: “Silakan Yang Mulia memberitahu saya apa yang mereka perlukan.”

“Sudilah Yang Mulia Uttara mengatakan hal ini kepada Sang Sesepuh: ‘Yang Mulia, sudilah Sang Sesepuh mengatakan hal ini di tengah-tengah Saṅgha: Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, muncul di wilayah Timur, para bhikkhu dari Timur adalah pembabar-dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah bukan pembabar-dhamma’.”

“Baiklah, Yang Mulia,” dan Yang Mulia Uttara, setelah menyanggupi para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī, menghadap Yang Mulia Revata; setelah menghadap, ia berkata kepada Yang Mulia Revata sebagai berikut: “Yang Mulia, sudilah Sang Sesepuh mengatakan hal ini di tengah-tengah Saṅgha: Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, muncul di wilayah Timur, para bhikkhu dari Timur adalah pembabar-dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah bukan pembabar-dhamma.”

Dengan berkata: “Engkau, bhikkhu, sedang membujukku untuk melakukan apa yang bukan-dhamma,” Sang Sesepuh mengusir  Yang mulia Uttara. Kemudian para bhikkhu yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī berkata kepada Yang Mulia Uttara sebagai berikut: “Yang Mulia Uttara, apakah yang dikatakan oleh Sang Sesepuh?”

“Keburukan telah menimpa kita, Yang Mulia. Dengan mengatakan, ‘Engkau, bhikkhu, sedang membujukku untuk melakukan apa yang bukan-dhamma,’ Sang Sesepuh mengusirku.”

“Bukankah engkau, Yang Mulia, adalah seorang senior yang telah menjadi bhikkhu selama dua puluh tahun?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Kalau begitu, kami akan menerima bimbingan dari (engkau sebagai) guru.”  ||3||

Kemudian Saṅgha berkumpul untuk menyelidiki pertanyaan resmi itu. Yang Mulia Revata memberitahu Saṅgha, dengan mengatakan: “Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Jika kita akan menyelesaikan pertanyaan resmi itu di sini, maka mungkin terjadi bahwa para bhikkhu yang memulainya pertama kali akan membukanya kembali untuk suatu tindakan (resmi) lebih lanjut lagi.  Jika baik menurut Saṅgha, silakan Saṅgha menyelesaikan pertanyaan resmi ini di mana pertanyaan resmi ini muncul.”

Kemudian para bhikkhu sesepuh pergi ke Vesālī untuk menyelidiki pertanyaan resmi itu. Pada saat itu Sabbakāmin  adalah nama seorang sesepuh Saṅgha, (tertua) di dunia ini;  sudah seratus dua puluh tahun sejak penahbisannya; ia pernah mendiami bilik Yang Mulia Ānanda, dan ia sedang menetap di Vesālī. Kemudian Yang Mulia Revata berkata kepada Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, sebagai berikut: “Yang Mulia, aku akan mendatangi tempat kediaman di mana Yang Mulia Sabbakāmin menetap. Pergilah engkau, setelah bangun pagi, menghadap Yang Mulia Sabbakāmin, dan tanyakan tentang sepuluh hal ini.”

“Baiklah, Yang Mulia,” Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, menjawab Yang Mulia Revata. Kemudian Yang Mulia Revata mendatangi tempat kediaman di mana Yang Mulia Sabbakāmin menetap. Sebuah kamar telah dipersiapkan untuk Yang Mulia Sabbakāmin di ruang dalam, dan satu untuk Yang Mulia Revata di serambi ruang dalam itu. Kemudian Yang Mulia Revata, dengan berpikir: “Sang [303] Sesepuh ini sudah tua, tetapi ia tidak berbaring,” tidak berbaring untuk tidur. Kemudian Yang Mulia Sabbakāmin, dengan berpikir: “Bhikkhu tamu ini lelah, tetapi ia tidak berbaring,” tidak berbaring untuk tidur. ||4||

Kemudian pada akhir malam itu menjelang dini hari, Yang Mulia Sabbakāmin berkata kepada Yang Mulia Revata sebagai berikut: “Karena kediaman apakah, saudaraku,  maka sekarang engkau berdiam dalam kesempurnaan karenanya?”

“Karena kediaman dalam cinta-kasih, maka aku, Yang Mulia, sekarang berdiam dalam kesempurnaan karenanya.”

“Mereka mengatakan bahwa engkau, saudaraku, karena berdiam dalam persahabatan  maka sekarang engkau berdiam dalam kesempurnaan karenanya.”

“Dulu, Yang Mulia, ketika aku masih menjadi seorang perumah tangga, aku telah melatih cinta-kasih, dan karena kediaman dalam cinta-kasih itu maka sekarang aku berdiam dalam kesempurnaan karenanya, dan terlebih lagi kesempurnaan telah dicapai olehku sejak lama. Yang Mulia, Karena kediaman apakah, maka sekarang Sang Sesepuh berdiam dalam kesempurnaan karenanya?”

“Karena kediaman dalam (konsep) kekosongan,  maka aku, Yang Mulia, sekarang berdiam dalam kesempurnaan karenanya.”

“Mereka mengatakan bahwa Sang Sesepuh, Yang Mulia, karena kediaman orang-orang besar  maka sekarang berdiam dalam kesempurnaan karenanya. Kediaman orang-orang besar ini, Yang Mulia, adalah (konsep) kekosongan.”

“Dulu, saudaraku, ketika aku masih menjadi seorang perumah tangga, aku telah melatih kekosongan, dank arena kediaman dalam kekosongan itu maka sekarang aku berdiam kesempurnaan karenanya, dan terlebih lagi kesempurnaan telah dicapai olehku sejak lama.” ||5||

Kemudian  pembicaraan para bhikkhu sesepuh ini terhenti, karena Yang Mulia Sambhūta, Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, tiba di sana. Kemudian Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, menghadap Yang Mulia Sabbakāmin; setelah menghadap, setelah menyapa Yang Mulia Sabbakāmin, ia duduk dalam jarak selayaknya. Setelah ia duduk dalam jarak selayaknya, Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, berkata kepada Yang Mulia Sabbakāmin sebagai berikut:

“Yang Mulia, para bhikkhu ini yang adalah orang-orang Vajji dari Vesālī mengajarkan sepuluh hal ini: praktik sehubungan dengan tanduk untuk garam diperbolehkan … emas dan perak diperbolehkan. Yang Mulia, banyak dhamma dan disiplin telah dikuasai  oleh Sang Sesepuh di kaki  seorang penahbis. Yang Mulia, ketika Sang Sesepuh sedang merenungkan dhamma dan disiplin, apakah yang ia simpulkan? Siapakah pembabar dhamma – para bhikkhu dari Timur atau para bhikkhu dari Pāvā?”

“Kepada engkau juga, Yang Mulia, telah banyak menguasai dhamma dan disiplin di kaki seorang penahbis. Ketika engkau, Yang Mulia, sedang merenungkan dhamma dan disiplin, apakah yang engkau simpulkan? Siapakah pembabar dhamma – para bhikkhu dari Timur atau para bhikkhu dari Pāvā?”

“Yang Mulia, ketika aku sedang merenungkan dhamma dan disiplin, aku menyimpulkan: para bhikkhu dari Timur bukanlah pembabar dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma. Namun demikian aku tidak akan mengemukakan pandangan-pandanganku hingga aku ditunjuk sehubungan dengan pertanyaan resmi ini.”

“Yang Mulia, ketika aku juga sedang merenungkan dhamma dan disiplin, aku menyimpulkan: [304] para bhikkhu dari Timur bukanlah pembabar dhamma, para bhikkhu dari Pāvā adalah pembabar dhamma. Namun demikian aku tidak akan mengemukakan pandangan-pandanganku hingga aku ditunjuk sehubungan dengan pertanyaan resmi ini.” ||6||

Kemudian Saṅgha berkumpul, hendak menyelidiki pertanyaan resmi itu. Tetapi sewaktu mereka sedang menyelidiki pertanyaan resmi itu muncul perselisihan tanpa akhir dari kedua belah pihak dan tidak ada satu pun bermakna jelas. Kemudian Yang Mulia Revata memberitahu Saṅgha, dengan mengatakan: “Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Ketika kita sedang menyelidiki pertanyaan resmi ini muncul perselisihan tanpa akhir dari kedua belah pihak dan tidak ada satu pun bermakna jelas. Jika baik menurut Saṅgha, maka Saṅgha boleh menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui referendum.”  Ia memilih empat bhikkhu dari Timur, empat bhikkhu dari Pāvā – para bhikkhu dari Timur adalah Yang Mulia Sabbakāmin dan Yang Mulia Sāḷha dan Yang Mulia Khujjasobhita  dan Yang Mulia Vāsabhagāmika; para bhikkhu dari Pāvā adalah Yang Mulia Revata dan Yang Mulia Sambhūta, seorang pemakai jubah rami kasar, dan Yang Mulia Yasa, putera Kākaṇḍakā, dan Yang Mulia Sumana.  Kemudian Yang Mulia Revata memberitahu Saṅgha sebagai berikut:

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Ketika kita sedang menyelidiki pertanyaan resmi ini muncul perselisihan tanpa akhir dari kedua belah pihak dan tidak ada satu pun bermakna jelas. Jika baik menurut Saṅgha, maka Saṅgha boleh menunjuk empat bhikkhu dari Timur dan empat bhikkhu dari Pāvā untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui referendum. Ini adalah usul. Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Ketika kita sedang menyelidiki pertanyaan resmi ini … bermakna jelas. Saṅgha menunjuk empat bhikkhu dari Timur dan empat bhikkhu dari Pāvā untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui referendum. Jika penunjukan empat bhikkhu dari Timur dan empat bhikkhu dari Pāvā untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui referendum, sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam dir; ia tidak menghendaki silakan berbicara. empat bhikkhu dari Timur dan empat bhikkhu dari Pāvā ditunjuk untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui referendum. Hal ini sesuai dengan kehendak Saṅgha, oleh karena itu Saṅgha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.

Pada saat itu Ajita adalah nama seorang bhikkhu yang telah menjadi bhikkhu selama sepuluh tahun; ia adalah seorang pembaca Pātimokkha bagi Saṅgha. Kemudian Saṅgha lebih lanjut menunjuk Yang Mulia Ajita sebagai penentu tempat duduk bagi para bhikkhu sesepuh.  Kemudian para bhikkhu sesepuh berpikir: “Di manakah kami harus menyelesaikan pertanyaan resmi ini?” [305] Kemudian para bhikkhu sesepuh itu berpikir: ‘Vihara Vālika  ini cukup menyenangkan, dengan sedikit kebisingan, dengan seedikit gangguan. Bagaimana jika kami menyelesaikan pertanyaan resmi ini di Vihara Vālika?” Kemudian para bhikkhu sesepuh itu pergi ke Vihara Vālika, hendak menyelidiki pertanyaan resmi itu. ||7||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB XII)
« Reply #77 on: 07 March 2012, 01:35:00 PM »
Kemudian Yang Mulia Revata memberitahu Saṅgha, dengan mengatakan: “Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Jika baik menurut Saṅgha, maka saya akan menanyai Yang Mulia Sabbakāmin sehubungan dengan disiplin.” Kemudian Yang Mulia Sabbakāmin memberitahu Saṅgha, dengan mengatakan: “Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Jika baik menurut Saṅgha, maka saya akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Yang Mulia Revata.” Kemudian Yang Mulia Revata berkata kepada Yang Mulia Sabbakāmin sebagai berikut:

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan tanduk untuk garam diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan tanduk untuk garam itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan membawa garam dalam tanduk, dengan berpikir, ‘aku akan dapat menikmati apa pun yang tidak asin’?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran yang menuntut penebusan karena memakan apa yang disimpan.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal pertama ini, telah diselidiki oleh Saṅgha, ini adalah hal yang bertentangan dengan dhamma, bertentangan dengan disiplin, bukan instruksi Sang Guru. Ini adalah kupon (pemungutan suara) pertama yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan dua lebar jari diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan dua lebar jari itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan makan pada waktu yang salah ketika bayangan telah melewati dua lebar jari?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran yang menuntut penebusan karena makan di waktu yang salah.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke dua ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke dua yang saya berikan.


“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan ‘di tengah-tengah desa’ diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan ‘di tengah-tengah desa’ itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan, dengan berpikir, ‘Sekarang aku akan pergi ke tengah-tengah desa,’ setelah makan, setelah kenyang, kemudian memakan makanan yang tidak disisakan?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran yang menuntut penebusan karena memakan makanan yang tidak disisakan”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke tiga ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke tiga yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan tempat-tempat kediaman diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan tempat-tempat kediaman itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan bagi beberapa tempat kediaman yang berada dalam lingkungan yang sama melaksanakan berbagai Uposatha?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Rājagaha, dalam apa yang berhubungan dengan Uposatha.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke empat ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke empat yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan penerimaan diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan penerimaan itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan bagi Saṅgha yang tidak lengkap untuk melakukan tindakan (resmi), dengan berpikir, ‘Kami akan memberikan nasihat kepada para bhikkhu yang datang’?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.” [306]

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Dalam materi disiplin tentang hal-hal yang berhubungan dengan (para bhikkhu) Campa.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran perbuatan-salah karena di luar disiplin.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke lima ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke lima yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan apa yang menjadi kebiasaan diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan apa yang menjadi kebiasaan itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan, dengan berpikir, ‘Hal ini biasa dilakukan oleh penahbisku, hal ini biasa dilakukan oleh guruku,’ kemudian melakukan sesuai dengan kebiasaan itu?”

“Yang Mulia, praktik sehubungan dengan apa yang menjadi kebiasaan itu, kadang-kadang diperbolehkan, kadang-kadang tidak diperbolehkan.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke enam ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke enam yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah praktik sehubungan dengan susu-mentega yang tidak diaduk diperbolehkan?”

“Apakah, Yang Mulia, praktik sehubungan dengan susu-mentega yang tidak diaduk itu?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan, setelah makan, setelah kenyang, kemudian meminum susu apa pun yang tidak disisakan tetapi telah melewati tahap sebagai susu (walaupun) belum menjadi dadih?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran yang menuntut penebusan karena memakan apa yang tidak disisakan.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke tujuh ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke tujuh yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan meminum minuman yang tidak terfermentasi?”

“Apakah, Yang Mulia, minuman yang tidak terfermentasi ini?”

“Yang Mulia, apakah diperbolehkan untuk meminum minuman apa pun yang difermentasikan (tetapi) belum terfermentasi dan belum sampai pada tahap menjadi minuman keras?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Kosambi, dalam Suttavibhaṅga.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran yang menuntut penebusan karena meminum minuman difermentasikan dan disuling.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke delapan ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke delapan yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah sehelai alas duduk yang tanpa pinggiran diperbolehkan?”

“Yang Mulia, hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Sāvatthī, dalam Suttavibhaṅga.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran yang menuntut penebusan yang melibatkan pemotongan.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke sembilan ini … Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke sembilan yang saya berikan.

“Yang Mulia, apakah emas dan perak diperbolehkan?”

“Yang Mulia, hal-hal itu tidak diperbolehkan.”

“Di manakah hal ini dilarang?”

“Di Rājagaha, dalam Suttavibhaṅga.”

“Termasuk pelanggaran apakah?”

“Pelanggaran yang menuntut penebusan karena menerima emas dan perak.”

“Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Hal ke sepuluh ini, telah diselidiki oleh Saṅgha, ini adalah hal yang bertentangan dengan dhamma, bertentangan dengan disiplin, bukan instruksi Sang Guru. Ini adalah kupon (pemungutan suara) ke sepuluh yang saya berikan. Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Sepuluh hal ini, telah diselidiki oleh Saṅgha, ini adalah materi yang berlawanan dengan dhamma, berlawanan dengan disiplin, bukan instruksi Sang Guru.”

“Pertanyaan resmi ini, Yang Muiia, ditutup, dan diselesaikan dengan baik. Namun demikian, Yang Mulia juga boleh menanyai saya di tengah-tengah Saṅgha  tentang sepuluh hal ini untuk meyakinkan para bhikkhu.”

Maka Yang Mulia Revata juga menanyai Yang Mulia Sabbakāmin di tengah-tengah Saṅgha tentang sepuluh hal ini, dan Yang Mulia Sabbakāmin menjawab. ||8||

Sekarang karena  tujuh ratus bhikkhu – tidak lebih satu, tidak kurang satu – hadir pada saat pembacaan disiplin, maka pembacaan disiplin ini disebut sebagai ‘Pembacaan oleh tujuh Ratus.’  ||9||2||

Demikianlah Bagian Ke Dua belas: Tentang Tujuh Ratus.