Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA  (Read 24031 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #30 on: 06 March 2012, 11:17:28 PM »
Pada saat itu para bhikkhu sedang menjahit bahan jubah, setelah merobeknya dengan tangan mereka, bahan jubah itu menjadi rusak.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, Aku Mengizinkan kalian, menggunakan pisau kecil, sehelai kain wol  (untuk membungkusnya). Pada saat itu sebuah pisau kecil dengan pegangan  diperoleh oleh Sangha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan pisau kecil dengan pegangan.” Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan berbagai jenis pisau kecil dengan pegangan, terbuat dari emas, terbuat dari perak. Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaikan perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, berbagai jenis pisau kecil dengan pegangan tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Aku Mengizinkan , para bhikkhu, yang terbuat dari tulang, terbuat dari gading, terbuat dari tanduk, terbuat dari buluh, terbuat dari bambu, terbuat dari potongan kayu, terbuat dari bahan pelapis (lak), terbuat dari kristal, terbuat dari tembaga, terbuat dari bagian dalam kulit kerang.”  ||1||

Pada saat itu para bhikkhu menjahit bahan jubah dengan bulu ayam dan dengan kulit bambu  dan bahan-jubah itu menjadi tidak terjahit dengan baik. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, Aku Mengizinkan kalian menggunakan jarum.” Jarum-jarum ini menjadi berkarat.  “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, [115] menggunakan tabung untuk (menyimpan) jarum.”  Bahkan di dalam tabung, jarum-jarum itu berkarat. “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, mengisinya dengan ragi.”  Bahkan di dalam ragi, jarum-jarum itu berkarat. “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, mengisinya dengan serbuk gandum.”  Bahkan di dalam serbuk gandum, jarum-jarum itu berkarat. “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, mengisinya dengan serbuk batu.” Bahkan di dalam serbuk batu, jarum-jarum itu berkarat. “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, mencampurnya dengan lilin lebah.” Serbuk batu itu pecah. “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan serbuk batu yang dicampur dengan getah.”  ||2||

Pada saat itu, setelah mengitari tiang di sana-sini, setelah mengikatnya, menjahit bahan-jubah. Bahan-jubah itu menjadi rusak pada bagian sudut-sudutnya.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah kerangka-kaṭhina  dan kawat untuk kerangka-kaṭhina  (dan) menjahit bahan-jubah setelah mengikatnya di sana-sini.” mereka menghamparkan kerangka-kaṭhina itu di tempat yang tidak rata; kerangka-kaṭhina itu patah. “para bhikkhu, sebuah kerangka-kaṭhina seharusnya tidak diletakkan di tempat yang tidak rata. Siapa yang menghamparkan (demikian), maka melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” Mereka menghamparkan kerangka-kaṭhina itu di atas tanah. Kerangka-kaṭhina itu menjadi kotor terkena tanah. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan tatakan rumput.”  Sisi kerangka-kaṭhina itu rusak.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan jalinan pengikat.”  Kerangka-kaṭhina tidak cukup lebar.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan sebatang tongkat di dalam kerangka-kaṭhina, sebuah tusukan,  sepotong kayu,  seutas tali untuk mengikat,  seutas benang untuk mengikat,  dan setelah mengikat bahan-jubah, kemudian menjahitnya.” Jarak antara benang menjadi tidak sama.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah tanda  (untuk menyamakan jarak antara benang).” Benang menjadi tidak rata. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan benang pembantu.”  ||3||

Pada saat itu para bhikkhu menginjak kerangka-kaṭhina dengan kaki yang tidak dicuci; kerangka-kaṭhina menjadi rusak. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kerangka-kaṭhina tidak boleh diinjak jika kaki tidak dicuci. Siapapun yang menginjak(nya), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu menginjak kerangka-kaṭhina dengan kaki yang basah … Beliau berkata: “Para bhikkhu, kerangka-kaṭhina tidak boleh diinjak jika kaki basah. Siapapun yang menginjak(nya), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu menginjak kerangka-kaṭhina dengan kaki mengenakan sandal  … Beliau berkata: “Para bhikkhu, kerangka-kaṭhina tidak boleh diinjak dengan kaki mengenakan sandal. Siapapun yang menginjak(nya), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||4||

Pada saat itu, para bhikkhu menjahit jubah, jemari mereka tertusuk,  jemari mereka menjadi sakit. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, Aku mengizinkan kalian menggunakan sarung jari.”  Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengenakan berbagai jenis sarung jari, terbuat dari emas, terbuat dari perak. [116] Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaikan perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, berbagai jenis sarung jari tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, sarung jari terbuat dari tulang … terbuat dari bagian dalam kulit kerang.”

Pada saat itu jarum-jarum, pisau-pisau kecil dan sarung-sarung jari hilang. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah mangkuk kecil untuk menyimpan (benda-benda ini).”  (isi dari) mangkuk kecil itu campur aduk. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah tas untuk sarung-sarung jari.” Tidak ada tali gantungan di sisinya. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tali gantungan di sisinya, seutas benang untuk mengikat.”  ||5||

Pada saat itu para bhikkhu sedang menjahit jubah di ruang terbuka, mereka diserang oleh panas dan dingin.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah aula untuk kerangka-kaṭhina, sebuah gubuk untuk kerangka-kaṭhina.” Aula untuk kerangka-kaṭhina rendah di atas tanah,  sehingga dibanjiri air. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk meninggikannya lebih tinggi dari atas tanah.” Tumpukan itu rubuh. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menumpuk tiga (jenis) tumpukan: tumpukan bata, tumpukan batu, tumpukan kayu.”  Mereka kesulitan menaikinya. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tiga (jenis) tangga: tangga dari bata, tangga dari batu, tangga dari kayu.” Mereka terjatuh ketika menaikinya. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, pegangan tangga.”  Serbuk rumput  jatuh ke dalam aula di mana terdapat kerangka-kaṭhina. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah mengikatkan pada (atap ), melapisi bagian dalam dan bagian luar,  memutihkan,  mewarnai hitam, kapur merah, hiasan-lingkaran, hiasan-menjalar, corak gigi ikan todak, lima (helai) rancangan kain, kemudian menggunakan sebatang bambu untuk menggantung bahan-jubah.  Seutas tali untuk menggantung bahan-jubah.”  ||6||

Pada saat itu para bhikkhu, setelah menjahit bahan-jubah, pergi dengan meninggalkan kerangka-kaṭhina di tempat itu, dan kerangka-kaṭhina itu digigit oleh tikus dan rayap. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk melipat kerangka-katṭhina.” Kerangka-kaṭhina itu patah. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk melipat kerangka-katṭhina menggunakan batang kayu.”  Kerangka-kaṭhina terpelintir dari posisinya.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, seutas tali untuk mengikatnya.” Pada saat itu para bhikkhu, setelah mengangkat kerangka-kaṭhina itu bersandar di dinding dan tiang, pergi dan kerangka-kaṭhina itu jatuh dan patah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menggantungnya pada pasak di dinding atau pada (pasak) ‘gading gajah’. ||7||11||

Sang Bhagavā setelah menetap selama yang Beliau inginkan, kemudian melakukan perjalanan menuju Vesāli. Pada saat itu [117] para bhikkhu yang turut dalam perjalanan itu (masing-masing) membawa jarum dan pisau kecil dan obat-obatan dalam mangkuk mereka. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan sebuah tas untuk obat-obatan.” Tidak ada tali gantungan di sisinya. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tali gantungan di sisinya, seutas benang untuk mengikat.”

Pada saat itu seorang bhikkhu setelah mengikat sandalnya di sabuknya memasuki desa untuk menerima dana makanan. Seorang umat awam, menyapa bhikkhu tersebut, kepalanya membentur sandal itu. Bhikkhu itu menjadi malu. Kemudian, bhikkhu itu setelah kembali ke vihara, memberitahukan hal ini kepada para bhikkhu. Para bhikkhu mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tas untuk sandal.” Tidak ada tali gantungan di sisinya. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tali gantungan di sisinya, seutas benang untuk mengikat.” ||12||

Pada saat itu di suatu jalan tertentu terdapat air yang tidak layak dikonsumsi  (karena) tidak ada saringan. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, saringan air.” Sepotong kain kecil tidak mencukupi. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, saringan air pada sebuah sendok.” Sepotong kain kecil tidak mencukupi. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kendi air pengatur.”  ||1||

Pada saat itu dua orang bhikkhu sedang melakukan perjalanan di jalan utama di Negeri Kosala. Salah satu bhikkhu itu berperilaku buruk.  Bhikkhu lainnya berkata kepada bhikkhu itu: “Jangan melakukan itu, Yang Mulia, itu tidak boleh.” Bhikkhu itu menggerutu padanya. Kemudian bhikkhu tersebut, tersiksa oleh dahaga, berkata kepada bhikkhu yang menggerutu itu: “Berikan aku saringan air,  Yang Mulia. Aku ingin minum.” Bhikkhu yang menggerutu itu tidak memberikan. Bhikkhu yang kehausan itu akhirnya meninggal dunia, tersiksa oleh dahaga. Kemudian bhikkhu itu, setelah sampai di vihara, memberitahukan hal ini kepada para bhikkhu. Mereka berkata: “Tetapi apakah engkau, Yang Mulia, (walaupun) telah diminta, tidak memberikan saringan air?”

“Tidak, Yang Mulia.” Para bhikkhu lainnya mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin bhikkhu ini, ketika diminta saringan air, tidak memberikan?” Kemudian para bhikkhu itu mengadukan hal tersebut kepada Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā dalam kesempatan ini, sehubungan dengan persoalan ini, setelah mengumpulkan para bhikkhu, menanyai bhikkhu tersebut, dengan mengatakan:

“Benarkah, dikatakan, bahwa engkau, Bhikkhu, ketika diminta saringan air, tidak memberikan?”

“Benar, Bhagavā.” Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā menegurnya, dengan mengatakan:

“tidaklah patut bagimu, orang dungu, tidaklah pantas, tidaklah sesuai, tidak selayaknya bagi seorang petapa. Tidak diperbolehkan, seharusnya tidak dilakukan. Bagaimana mungkin engkau, orang dungu ketika diminta saringan air, tidak memberikan? Ini bukanlah, [118] orang dungu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …’ Setelah menegurnya, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang melakukan perjalanan di jalan utama dan diminta saringan air, ia tidak boleh tidak memberikan. Siapapun yang tidak memberikan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Dan juga, para bhikkhu, kalian tidak boleh berjalan di jalan utama tanpa membawa saringan air. Siapapun yang melakukannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Jika tidak ada saringan air dan tidak ada kendi yang sesuai aturan, maka sudut dari jubah luar dapat digunakan dengan mengucapkan, ‘Aku akan meminum (air) setelah menyaringnya dengan ini’.” ||2||

Kemudian Sang Bhagavā, berjalan secara perlahan akhirnya sampai di Vesālī. Di Vesāli Sang Bhagavā menetap di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip. Pada saat itu para bhikkhu sedang melakukan perbaikan. Saringan-air digunakan tanpa henti.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, saringan air ganda.”  Saringan air ganda itu digunakan tanpa henti. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah saringan.”  Pada saat itu para bhikkhu diganggu oleh nyamuk. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, menggunakan kelambu.”  ||3||13||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #31 on: 06 March 2012, 11:18:00 PM »
Pada saat itu di Vesālī sedang diadakan pengaturan iring-iringan persembahan makanan mewah.  Para bhikkhu, setelah memakan makanan mewah menjadi sakit dengan tubuh penuh dengan cairan  (tidak baik). Tabib Jīvaka Komārabaccha mengunjungi Vesālī untuk satu dan lain urusan. Jīvaka Komārabaccha melihat para bhikkhu yang sakit dengan tubuh penuh dengan cairan (tidak baik); melihat mereka, ia mendekati Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk pada jarak yang semestinya. Setelah ia duduk pada jarak yang semestinya, Jīvaka Komārabaccha berkata kepada Sang Bhagavā:

“Saat ini, Bhagavā, para bhikkhu sakit dengan tubuh penuh dengan cairan (tidak baik). Baik sekali, Bhagavā, jika Bhagavā memperbolehkan suatu tempat untuk para bhikkhu berjalan mondar-mandir dan sebuah kamar mandi.  Dengan demikian akan mengurangi penderitaan para bhikkhu.”  Kemudian Sang Bhagavā menyenangkan, menggembirakan, membangkitkan semangat Jīvaka Komārabhacca dengan khotbah dhamma. Kemudian Jīvaka Komārabacha senang … bersemangat mendengar khotbah dhamma dari Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, setelah berpamitan pada Sang Bhagavā, ia pergi dengan Sang Bhagavā di sisi kanannya. Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, berkata kepada para bhikkhu:

“Aku mengizinkan, para bhikkhu, tempat untuk berjalan mondar-mandir, dan kamar mandi.” ||1||

Pada saat itu [119] para bhikkhu berjalan mondar-mandir di tempat berjalan mondar-mandir  yang tidak rata; kaki mereka menjadi sakit. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk meratakannya.” Tempat berjalan mondar-mandir itu terletak rendah di atas tanah; tempat itu dibanjiri air. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk meninggikannya … (seperti pada V.11.6) … Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, pegangan tangan.”

Pada saat itu, para bhikkhu, ketika sedang berjalan mondar-mandir di tempat berjalan mondar-mandir, terjatuh. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, pagar di sekeliling tempat berjalan mondar-mandir.”  Pada saat itu para bhikkhu, berjalan mondar-mandir di ruang terbuka, terganggu oleh panas dan dingin. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, suatu ruangan di tempat berjalan mondar-mandir.” Serbuk rumput jatuh ke dalam ruang tempat berjalan mondar-mandir. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah mengikatkan pada (atap), … (seperti pada V. 11.6) … Seutas tali untuk menggantung bahan-jubah.” ||2||

Kamar mandi terletak rendah di atas tanah sehingga dibanjiri oleh air. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk meninggikannya … (seperti pada V.11.6) … sebuah pegangan tangan.” Tidak ada pintu  pada kamar mandi itu, “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah pintu, tiang pintu dan kusen,  sebuah cekungan seperti lesung (agar pintu dapat berayun ), sebuah tonjolan kecil di atas,  sebuah tiang untuk pasak pengunci,  sebuah ‘kepala monyet,’ sebuah paku (untuk mengencangkan pasak),  (sepotong kayu) sebagai pasak,  sebuah lubang kunci,  sebuah lubang untuk menarik (tali),  seutas tali untuk menarik.” 

Bagian bawah bilah dan pelapis dinding kamar mandi itu rusak. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membuat sekat (disekelilingnya).”  Kamar mandi itu tidak memiliki pipa untuk uap.  “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pipa untuk uap.”

Pada saat itu para bhikkhu membuat perapian di dalam kamar mandi, dan tidak ada jalan masuk.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membuat perapian di satu sisi kamar mandi yang kecil, dan di tengah kamar mandi yang besar.” Api di dalam kamar mandi membakar wajah mereka. “Aku mengizinkan kalian para bhikkhu, lempung untuk wajah.”  Mereka membasahi lembung itu dengan tangan. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah ember untuk lempung.” Lempung itu menjadi bau. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menghilangkan baunya.”  Api di dalam kamar mandi membakar badan mereka. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk mengambil air.” Mereka mengambil air menggunakan cawan dan mangkuk. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu wadah untuk air,  cawan  untuk air.” Kamar mandi yang beratap rumput tidak membat mereka berkeringat. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah mengikatnya pada (atap) , melapisi bagian dalam dan luarnya.” Kamar mandi menjadi becek. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memasang tiga (jenis) ubin: ubin bata, ubin batu, ubin kayu.” Bahkan dengan begitu masih becek. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk mencucinya.” Air membanjiri. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah saluran air.”  Pada saat itu para bhikkhu duduk [120] di atas tanah di dalam kamar mandi dan badan mereka tertusuk paku dan jarum. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah kursi di kamar mandi.” Pada saat itu kamar mandi tidak berpagar. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) pagar untuk memagarinya: pagar bata, pagar batu, pagar kayu.”  ||3||

Tidak ada teras.  “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah teras” Teras itu rendah di atas tanah; dan dibanjiri air. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk meninggikannya … (seperti pada V. 11. 6) … pegangan tangan.” Tidak ada pintu di teras itu. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pintu tiang pintu, dan kusen … (seperti pada V. 14. 3) … sebuah lubang untuk menarik (tali), seutas tali untuk menarik.” Serbuk rumput jauh ke teras. “aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah mengikatkan pada (atap), melapisi bagian dalam dan bagian luar,  memutihkan,  mewarnai hitam, kapur merah, hiasan-lingkaran, hiasan-menjalar, corak gigi ikan todak, lima (helai) rancangan kain.”  ||4||

Ruangan itu menjadi becek.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, unrtuk menaburkan kerikil.”  Mereka tidak berhasil melakukannya. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, memasang ubin.” Air membanjiri. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah saluran air.”  ||5||14||

Pada saat itu para bhikkhu, sambil telanjang,  menyapa yang lainnya yang juga telanjang dan meminta mereka yang juga telanjang untuk menyapa mereka; melayani mereka yang telanjang dan meminta orang lain melayani mereka yang telanjang; sambil telanjang mereka memberikan sesuatu kepada mereka yang telanjang, menerimanya sambil telanjang, makan sambil telanjang, mengunyah sambil telanjang, minum sambil telanjang. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Para bhikkhu, ia yang sedang telanjang tidak boleh menyapa atau disapa oleh ia yang telanang; ia yang sedang telanjang tidak boleh meminta orang lain untuk menyapa atau disapa oleh ia yang telanjang; suatu layanan bagi ia yang telanjang tidak boleh dilakukan oleh ia yang telanang, suatu layanan bagi ia yang telanjang tidak boleh diminta untuk dilakukan oleh ia yang telanjang; seseorang yang telanang tidak boleh memberikan sesuatu kepada seorang yang telanjang, seseorang yang telanjang tidak boleh menerima, seseorang yang telanjang tidak boleh makan … tidak boleh mengunyah … tidak boleh minum. Siapapun yang melakukan (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||15||

Pada saat itu para bhikkhu meletakkan jubah mereka di atas tanah di dalam kamar mandi; jubah-jubah itu menjadi kotor.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, bambu untuk menggantung jubah, seutas tali untuk menggantung jubah,” Ketika hujan turun, jubah-jubah itu menjadi basah. “aku mengizinkan, [121] para bhikkhu, sebuah ruangan di dalam kamar mandi.” Ruangan di dalam kamar mandi itu rendah di atas tanah. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, … (seperti pada V.11.6) … pegangan tangan.” Serbuk rumput jatuh ke dalam ruangan di dalam kamar mandi. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah mengikatkan pada (atap) … (seperti pada V.11.6) … bambu untuk menggantung jubah, seutas tali untuk menggantung jubah.” ||1||

Pada saat itu para bhikkhu merasa ragu dalam hal melakukan kegiatan baik ketika di dalam kamar mandi dan di dalam air. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) penutup: penutup kamar mandi, penutup air, penutup oleh kain.

Pada saat itu tidak ada air di kamar mandi. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah sumur.” Pembatas sumur itu rubuh.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menumpuk tiga (jenis) tumpukan: tumpukan bata, tumpukan batu, tumpukan kayu.” Sumur itu terletak rendah di atas tanah … (seperti pada V.11.6)  “ … Aku mengizinan, para bhikkhu, pegangan tangan.”

Pada saat itu para bhikkhu mengambil air dengan menggunakan tali hutan, dan menggunakan sabuk pinggang. “Aku mengizinkan, kalian, para bhikkhu, seutas tali untuk menarik air.” Tangan mereka menjadi sakit. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, galah-sumur,  roda tangan,  sebuah roda dan ember.”  Banyak kendi yang pecah. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) kendi: kendi tembaga, kendi kayu, potongan kulit binatang.”

Pada saat itu para bhikkhu menarik air di ruang terbuka, mereka terganggu oleh dingin dan panas. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, … (seperti pada V.11.6) … bambu untuk menggantung jubah, seutas tali untuk meggantung jubah.” Sumur itu tidak tertutup. Dikotori oleh serbuk rumput dan debu. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah tutup.”  Tidak ada wadah penampung air. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah palung untuk menampung air, jambangan  untuk menampung air.” ||2||16||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #32 on: 06 March 2012, 11:18:38 PM »
Pada saat itu para bhikkhu mandi di sana-sini, di mana-mana di dalam vihara; vihara menjadi becek. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kolam.” Kolam itu menjadi kolam umum. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) pagar untuk memagarinya: pagar bata, pagar batu, pagar kayu.”  Kolam itu menjadi becek: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tiga (jenis) ubin: ubin bata, ubin batu, ubin kayu.”” Air membanjiri. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah saluran air.”  Pada saat itu badan para bhikkhu kedinginan. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu,handuk (yang mengeringkan) air  dan untuk menggosok badan kalian dengan kain.”  ||1||

Pada saat itu [122] seorang umat awam ingin sekali membangun tangki air untuk Saṅgha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah tangki air.” Dinding pembatas tangki tersebut rubuh.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menumpuk tiga (jenis) tumpukan: tumpukan bata, tumpukan batu, tumpukan kayu.” Mereka kesulitan untuk menaikinya. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tiga (jenis) tangga: tangga bata, tangga batu, tangga kayu.”  Ketika naik mereka terjatuh. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, pegangan tangan.” Air di dalam tangki menjadi bau. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, pipa untuk air,  saluran untuk air.”

Pada saat itu seorang umat awam ingin sekali membangun kamar mandi beratap lengkung  untuk Saṅgha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kamar mandi beratap lengkung.” ||2||17||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu sedang pergi, terpisah dari  kain alas duduk mereka  selama empat bulan. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh pergi, terpisah dari kain alas duduk kalian selama empat bulan. Siapapun yang melakukan (demikian), terpisah darinya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu tidur berbaring pada tempat tidur yang ditaburi bunga-bungaan. Orang-orang, yang mengunjungi tempat kediaman itu, setelah melihat mereka … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh tidur berbaring pada tempat tidur yang ditaburi bunga-bungaan. Siapapun yang tidur berbaring (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu orang-orang, membawa dupa dan bunga-bunga, datang ke vihara. Para bhikkhu, dengan penuh ketelitian, tidak menerimanya. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah menerima dupa, memberikan tanda lima jari  pada pintu; setelah menerima bunga, meletakkannya di dalam tempat tinggal di satu sisi.” ||18||

Pada saat itu sehelai kain tebal  dipeeroleh Saṅgha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sehelai kain tebal.” Kemudian para bhikkhu itu berpikir: “Sekarang, apakah sehelai kain tebal itu harus dibagi atau diserahkan kepada seseorang?”  “Sehelai kain tebal, para bhikkhu, tidak boleh dibagi atau diberikan kepada seseorang.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu makan (dengan bersandar pada) dipan berhias.  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti perumah tangga yang menikmai kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh makan (dengan bersandar pada) dipan berhias. Siapapun yang makan (demikian) maka ia melakukan pelanggaran [123] perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu makan dari satu piring  dan minum dari satu cangkir  dan berbagi satu dipan dan berbagi sehelai kain dan berbagi satu penutup  dan berbagi sehelai kain penutup.  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh makan dari satu piring juga tidak boleh minum dari satu cangkir juga tidak boleh berbagi satu dipan juga tidak boleh berbagi satu sehelai kain juga tidak boleh berbagi satu penutup juga tidak boleh berbagi sehelai kain penutup. Siapapun yang berbagi (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||2||19||

Pada saat itu Vaḍḍha si Licchavi adalah teman dari para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka.  Kemudian Vaḍḍha si Licchavi mendekati para bhikkhu yang adalah para pengikut dari Mettiya dan Bhummajaka; setelah mendekat, ia berkata kepada para bhikkhu yang adalah para pengikut dari Mettiya dan Bhummajaka: “Saya memberi hormat kepada kalian, para guru.” Ketika ia mengatakan hal itu, para bhikkhu yang adalah para pengikut dari Mettiya dan Bhummajaka tidak menjawab. Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Vaḍḍha si Licchavi berkata kepada para bhikkhu yang adalah para pengikut dari Mettiya dan Bhummajaka: “Saya memberi hormat kepada kalian, para guru.” Dan untuk ke tiga kalinya para bhikkhu yang adalah para pengikut dari Mettiya dan Bhummajaka tidak menjawab. Ia berkata: “Apakah saya melakukan kesalahan terhadap para guru? Mengapa para guru tidak menjawab?”

“Itu adalah karena engkau, Sahabat Vaḍḍha, yang tidak memihak ketika kami diganggu oleh Dabba dari Malla.”

“Apa yang dapat saya lakukan, guru?”

“Pergilah engkau, Sahabat Vaḍḍha, pergilah temui Sang Bhagavā; katakan kepada Sang Bhagavā sebagai berikut: ‘Ini, Bhagavā, sungguh tidak layak, tidak sepantasnya tempat ini yang seharusnya tanpa ketakutan, aman, tanpa bahaya, menjadi tempat yang penuh ketakutan, tidak aman, penuh bahaya. Tempat yang dulunya tenang, sekarang terdapat badai. Sepertinya air ini bergolak. Istriku telah digoda oleh Guru Dabba dari Malla.’” ||1||

“Baiklah, Guru” dan Vaḍḍha si Licchavi, setelah menyetujui permintaan para bhikkhu yang adalah para pengikut dari Mettiya dan Bhummajaka, mendekati Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak yang semestinya. Setelah ia duduk dalam jarak yang semestinya [124], Vaḍḍha si Licchavi berkata kepada Sang Bhagavā: “Ini, Bhagavā, sugguh tidak layak … Istriku telah digoda oleh Guru Dabba dari Malla.

Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah mengumpulkan Saṅgha para bhikkhu, bertanya kepada Yang Mulia Dabba dari Malla, dengan mengatakan: “Dabba, apakah engkau ingat telah melakukan apa yang dikatakan Vaḍḍha ini?”

“Bhagavā, Sang Bhagavā mengetahui sehubunga denganku.” Dan untuk ke dua kalinya Sang Bhagavā … dan untuk ke tiga kalinya Sang Bhagavā bertanya kepada Yang Mulia Dabba dari Malla: “Dabba, apakah engkau ingat telah melakukan apa yang dikatakan Vaḍḍha ini?”

“Bhagavā, Sang Bhagavā mengetahui sehubunga denganku.”

“Dabba; para Dabba tidak memberikan jawaban mengelak seperti itu. jika apa yang dilakukan telah dilakukan olehmu, katakanlah ya; jika tidak dilakukan olehmu, katakan tidak.”

“Bhagavā, sejak aku dilahirkan aku tidak ingat pernah melakukan hubungan seksual bahkan dalam mimpi; apa lagi ketika aku sadar.” ||2||

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Karena hal ini, para bhikkhu, biarlah Saṅgha membalikkan  mangkuk Vaḍḍha si Licchavi, Saṅgha boleh menjatuhkan hukuman tidak makan bersama Saṅgha.  Para bhikkhu, jika seorang umat awam memiliki delapan kualitas, maka mangkuknya boleh dibalikkan:  jika ia berusaha agar para bhikkhu tidak menerima (perolehan), jika ia berusaha agar para bhikkhu tidak memperoleh keuntungan, jika ia berusaha agar para bhikkhu tidak memperoleh tempat tinggal, jika ia mencela dan menghina para bhikkhu, jika ia menyebabkan perpecahan di antara para bhikkhu,  jika ia mencela Yang Tercerahkan, jika ia mencela dhamma, jika ia mencela Saṅgha. Aku mengijinkan kalian, para bhikkhu, membalikkan mangkuk seorang umat awam jika ia memiliki delapan kualitas ini. ||3||

Dan Beginilah, para bhikkhu, pembalikan tersebut: Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berpengalaman dan berkompeten, yang berkata: ‘Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Vaḍḍha si Licchavi memfitnah Yang Mulia Dabba orang Malla dengan tuduhan tanpa dasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral.  Jika baik menurut Saṅgha, maka Saṅgha harus membalikkan mangkuk Vaḍḍha si Licchavi, Saṅgha harus menjatuhkan hukuman tidak makan bersama Saṅgha. Ini adalah usul. Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Vaḍḍha si Licchavi memfitnah … jatuh dari kebiasaan bermoral. Saṅgha membalikkan mangkuk Vaḍḍha si Licchavi, Saṅgha menjatuhkan hukuman tidak makan bersama Saṅgha.  Jika pembalikan mangkuk Vaḍḍha si Licchavi dan penjatuhan hukuman tidak makan bersama Saṅgha sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menghendaki silahkan berbicara. Mangkuk Vaḍḍha si Licchavi dibalikkan oleh Saṅgha dan (akan ada) hukuman tidak makan bersama Saṅgha. Ini sesuai kehendak Saṅgha; karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’” ||4||

Kemudian Yang Mulia Ānanda, setelah merapikan jubahnya di pagi hari itu, membawa mangkuk dan jubahnya, mendatangi kediaman Vaḍḍha si Licchavi; setibanya di sana, ia berkata kepada Vaḍḍha si Licchavi: “Mangkukmu, Sahabat Vaḍḍha, telah dibalikkan oleh Saṅgha, engkau tidak bersama Saṅgha.” [125] kemudian Vaḍḍha si Licchavi berpikir: “Dikatakan bahwa mangkukku telah dibalikkan oleh Saṅgha, dikatakan bahwa aku tidak makan bersama Saṅgha,” pingsan dan jatuh di tempat itu juga. Kemudian teman-teman, kerabat dan sanak saudara  Vaḍḍha si Licchavi:

“Cukup, Vaḍḍha, jangan bersedih, jangan meratap, kami akan mendamaikan  engkau dengan Sang Bhagavā dan Saṅgha.” Kemudian Vaḍḍha si Licchavi bersama istri dan anak-anaknya, bersama dengan teman-teman dan kerabatnya, bersama dengan sanak-saudaranya, dengan pakaian basah, rambut basah mendatangi Sang Bhagavā; setelah datang, ia berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bhagavā, suatu pelanggaran telah menguasaiku,  dalam hal bahwa aku, karena dungu, tersesat ,bersalah karena aku telah memfitnah Guru Dabba orang Malla dengan tuduhan tanpa dasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral. Untuk ini, Bhagavā, sudilah Bhagavā mengakui pelanggaranku ini sebagai pelanggaran demi pengendalian di masa depan.”

“Sungguh suatu pelanggaran telah menguasaimu, Sahabat Vaḍḍha, dalam hal bahwa engkau, karena dungu, tersesat ,bersalah karena engkau telah memfitnah Dabba orang Malla dengan tuduhan tanpa dasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral. Tetapi jika engkau,Sahabat Vaḍḍha, setelah melihat pelanggaran sebagai pelanggaran, mengakui sesuai aturan, kami  menerimanya. Karena, Sahabat Vaḍḍha, dalam disiplin mulia, hal ini berkembang: siapapun yang telah melihat suatu pelanggaran sebagai pelanggaran, mengakuinya sesuai aturan, ia akan mengendalikan diri di masa depan.” ||5||

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Baiklah, sekarang para bhikkhu, biarlah Saṅgha menegakkan mangkuk Vaḍḍha si Licchavi, biarlah Saṅgha mengijinkannya makan bersama Saṅgha. Para bhikkhu, jika seorang awam memiliki delapan kualitas mangkuknya boleh ditegakkan: jika ia tidak berusaha agar para bhikkhu tidak menerima (perolehan), jika ia tidak berusaha agar para bhikkhu tidak memperoleh keuntungan, jika ia tidak berusaha agar para bhikkhu tidak memperoleh tempat tinggal, jika ia tidak mencela dan menghina para bhikkhu, jika ia tidak menyebabkan perpecahan di antara para bhikkhu,  jika ia tidak mencela Yang Tercerahkan, jika ia tidak mencela dhamma, jika ia tidak mencela Saṅgha. Aku mengijinkan kalian, para bhikkhu, menegakkan mangkuk seorang umat awam jika ia memiliki delapan kualitas ini. ||6||

Dan Beginilah, para bhikkhu, pembalikan tersebut: Para bhikkhu, Vaḍḍha si Licchavi, setelah menghadap Saṅgha, setelah meapikan jubahnya di aslah satu bahunya, setelah memberi horat di kaki para bhikkhu, setelah duduk berlutut, setelah merangkapkan tangan, harus mengucapkan: ‘Yang Mulia, mangkukku telah dibalikkan oleh Saṅgha. Aku tidak makan bersama dengan Saṅgha. Tetapi aku, Yang Mulia, sekarang telah berperilaku benar. Aku terkendali, aku memperbaiki sikapku, dan aku memohon agar Saṅgha menegakkan mangkukku.’ Dan untuk ke dua kalinya permohonan itu diajukan. Dan untuk ke tiga kalinya permohonan itu diajukan. Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berpengalaman dan berkompeten, yang berkata: ‘Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Mangkuk Vaḍḍha si Licchavi telah dibalikkan oleh Saṅgha; tetapi sekarang ia telah berperilaku benar. Ia terkendali, ia memperbaiki sikapnya; ia memohon agar Saṅgha menegakkan mangkuknya. Jika baik menurut Saṅgha, maka Saṅgha harus menegakkan mangkuk Vaḍḍha si Licchavi, Saṅgha harus mengijinkannya untuk makan bersama Saṅgha. Ini adalah usul. Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Mangkuk Vaḍḍha si Licchavi telah dibalikkan … ia memohon agar Saṅgha menegakkan mangkuknya. Saṅgha menegakkan mangkuk Vaḍḍha si Licchavi, Saṅgha mengijinkannya makan bersama Saṅgha. Jika penegakkan mangkuk Vaḍḍha si Licchavi sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menghendaki silahkan berbicara. Mangkuk Vaḍḍha si Licchavi ditegakkan oleh Saṅgha dan (akan ada) makan bersama Saṅgha. Ini sesuai kehendak Saṅgha; karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’” ||7||20||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #33 on: 06 March 2012, 11:19:31 PM »
Kemudian Sang Bhagavā, setelah menetap di Vesāli selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Bhagga.  Akhirnya, setelah berjalan kaki dalam perjalanan itu, Sang Bhagavā tiba di Bhagga. Sang Bhagavā berdiam di antara penduduk Bhagga di Bukit Sumsumāra  di Hutan Bhesakaḷā di Taman Rusa. Pada saat itu Kokanada  adalah nama istana Pangeran Bodhi ; istana itu belum lama dibangun dan karenanya belum ditempati oleh petapa atau brahmana atau manusia manapun.  Kemudian Pangeran Bodhi memanggil Brahmana muda putera Sañjikā dan berkata: “Pergilah, putera Sañjikā, temuilah Sang Bhagavā; setelah menghadap, atas namaku bersujudlah dengan kepalamu di kaki Sang Bhagavā, tanyakan apakah Beliau sehat, tidak sakit, bertenaga, kuat, berdiam dengan nyaman, dan katakan: ‘Bhagavā, Pangeran Bodhi bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā dan menanyakan apakah Beliau sehat … berdiam dengan nyaman,’ dan katakan ini: ‘Bhagavā, sudilah Bhagavā menerima persembahan makanan dari Pangeran Bodhi besok bersama dengan Saṅgha para bhikkhu.’”

“Baiklah, Tuan,” dan brahmana muda, putera Sañjikā, setelah menjawab Pangeran Bodhi, mendatangi Sang Bhagavā; setelah menghadap, setelah saling bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, setelah beramah-tamah dalam cara yang sopan dan bersahabat, duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya brahmana muda, putera Sañjikā berkata kepada Sang Bhagavā: “Pangeran Bodhi bersujud dengan kepalanya di kaki Yang Mulia Gotama … dan berkata agar sudilah Yang Mulia Gotama menerima persembahan makanan dari Pangeran Bodhi besok bersama dengan Saṅgha para bhikkhu.” Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. ||1||

Kemudian brahmana muda, putera Sañjikā, setelah memahami persetujuan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya dan menghadap Pangeran Bodhi; [127] setelah menghadap, ia berkata kepada Pangeran Bodhi: “Saya telah berkata, tuan, atas namamu kepada Yang Mulia Gotama, bahwa: ‘Pangeran Bodhi bersujud … bersama dengan Saṅgha para bhikkhu.’ Dan Petapa Gotama menerima.” Kemudian Pangeran Bodhi menjelang malam berakhir, setelah mempersiapkan makanan-makanan mewah, keras dan lunak, dan setelah menebarkan kain putih di seluruh istana Kokanda hingga anak tangga terakhir,  berkata kepada brahmana muda, putera Sañjikā: “Pergilah, Sahabat, datangilah Sang Bhagavā; setelah menghadap, beritahukanlah waktunya kepada Sang Bhagavā dengan mengatakan: ‘Waktunya telah tiba, Bhagavā, makanan telah siap.’”

“Baiklah, Tuan,” dan brahmana muda, putera Sañjikā, setelah menjawab Pangeran Bodhi, mendatangi Sang Bhagavā; setelah menghadap, ia memberitahukan waktunya kepada Sang Bhagavā dengan mengatakan: “Waktunya telah tiba, Bhagavā, makanan telah siap.” Kemudian Sang Bhagavā, setelah merapikan jubah di pagi hari, membawa mangkuk dan jubahnya, mendatangi kediaman Pangeran Bodhi. Pada saat Sang Bhagavā datang, Pangeran Bodhi sedang berdiri di teras di gerbang luar. Dari jauh Pangeran Bodhi melihat Sang Bhagavā datang, dan melihat Beliau, setelah pergi menyambut Beliau, setelah meyapa Sang Bhagavā, setelah memberi hormat kepada Beliau, Beliau mendatangi Istana Kokanada. Kemudian Sang Bhagavā berdiri diam di anak tangga terakhir. Kemudian Pangeran Bodhi berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bhagavā, silahkan Bhagavā menginjak  kain, silahkan Yang sempurna menempuh Sang Jalan menginjak kain demi berkah dan kebahagiaan bagiku untuk waktu yang lama.” Ketika ia berkata demikian, Sang Bhagavā hanya berdiam diri. Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Pangeran Bodhi berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhagavā, Silahkan Bhagavā menginjak … demi berkah dan kebahagiaaku untuk waktu yang lama.” Kemudian Sang Bhagavā menatap Yang Mulia Ānanda. Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada Pangeran Bodhi:

“Mohon kain ini, pangeran, disingkirkan, Bhagavā tidak akan menginjak alas lantai dari kain,  Sang Penemu-Kebenaran berbelas kasih  kepada mereka yang datang belakangan.”  ||2||

Kemudian Pangeran Bodhi, setelah menyingkirkan kain, menyiakan sebuah kursi di lantai atas di Kokanda.  Kemudian Sang Bhagavā naik ke Istana Kokanada, duduk bersama para bhikkhu di tempat duduk yang telah dipersiapkan. Kemudian Pangeran Bodhi, setelah melayani para bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Tercerahkan dengan makanan-makanan mewah, keras dan lunak dengan tangannya sendiri, ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menarik tanganNya dari mangkukNya, ia duduk pada jarak yang selayaknya.  Kemudian Sang Bhagavā setelah menggembirakan, menyenangkan, membangkitkan semangat Pangeran Bodhi dengan khotbah Dhamma ketika ia duduk pada jarak yang selayaknya, [128] bengkit dari dudukNya, dan pergi. Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah membabarkan khotbah, berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh menginjak lantai beralas kain.  Siapapun yang melakukannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||3||

Pada saat itu, seorang perempuan yang selalu mengalami keguguran kandungan, setelah mengundang para bhikkhu, setelah mempersiapkan alas lantai dari kain, berkata: “Yang Mulia, silahkan injak kain itu.” Para bhikkhu, takut melakukan pelanggaran, tidak menginjak kain itu. ia berkata: “Yang Mulia, injaklah kain itu demi keberuntungan.” Para bhikkhu, takut melakukan pelanggaran, tidak menginjak kain itu. kemudian perempuan itu menyebarkan hal itu dengan mengatakan: “Bagaimanakah para guru ini (walaupun) dimohon demi keberuntungan tidak mau menginjak alas lantai dari kain?” para bhikkhu mendengar perempuan ini yang … menyebarkan hal itu. kemudian mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para perumah tangga, para bhikkhu, mengharapkan keberuntungan.  Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, ketika diminta oleh perumah tangga demi keberuntungan, untuk menginjak alas lantai dari kain.”

Pada saat itu para bhikkhu ragu-ragu apakah diperbolehkan menginjak sehelai kain untuk digunakan setelah mencuci kaki.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menginjak sehelai kain setelah mencuci kaki.” ||4||21||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #34 on: 06 March 2012, 11:20:45 PM »
Bagian Pengulangan Ke dua


Setelah menetap di antara para penduduk Bhagga selama yang Beliau kehendaki, kemudian Sang Bhagavā pergi menuju Sāvatthī. Berjalan kaki dalam perjalanan itu akhirnya Beliau tiba di Sāvatthī. Di Sāvatthī Sang Bhagavā berdiam di Hutan Jeta di Vihara Anāthapiṇḍika. Kemudian Visākhā, Ibu Migāra, membawa sebuah kendi kecil, gosokan (kaki dari tembikar)  dan sebuah sapu, mendatangi Sang Bhagavā; setelah menghadap, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya, Visākhā, ibu Migāra, berkata kepada Sang Bhagavā:  “Bhagavā, sudilah Bhagavā menerima kendi kecil dan gosokan (kaki dai tembikar) dan sapu ini sehingga menjadi berkah dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama.” Sang Bhagavā menerima kendi kecil dan sapu; Sang Bhagavā tidak menerima gosokan (kaki dari tembikar). Kemudian Sang Bhagavā menggembirakan, menyenangkan, membangkitkan semangat Visākhā, ibu Migāra, dengan khotbah dhamma. Kemudian Visākhā, ibu Migāra gembira, senang, … oleh khotbah dhamma Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, setelah pamit kepada Sang Bhagavā, pergi dengan Beliau di sisi kanannya. Kemudian [129] Sang Bhagavā dalam kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah membabarkan khotbah, berkata kepada para bhikkhu:

“Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kendi kecil dan sapu. Para bhikkhu, kalian tidak boleh menggunakan gosokan (kaki dari tembikar). Aiapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) gosokan kaki:  batu,  kerikil, sampah-lautan.”  ||1||

Kemudian Visākhā, ibu Migāra, membawa sebuah kipas  dan kebutan palem,  mendatangi Sang Bhagavā … (seperti pada 22.1) … Sang Bhagavā menerima kipas dan kebutan palem itu … Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah membabarkan khotbah, berkata kepada para bhikkhu: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kipas dan kebutan palem.” ||2||22||


Pada saat itu sebuh kipas-nyamuk  diperoleh oleh Saṅgha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, kipas-nyamuk.” Kipas-kebutan  diperoleh. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kipas-kebutan tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) kipas: terbuat dari kulit kayu, terbuat dari rumput khus-khus,  terbuat dari bulu ekor merak.” ||1||

Pada saat itu penghalang sinar matahari  diperoleh oleh Saṅgha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, penghalang sinar matahari.” Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu berjalan-jalan dengan menggunakan penghalang sinar matahari. Pada saat yang sama seorang umat awam pergi ke hutan rekreasi bersama dengan beberapa murid dari para Petapa Telanjang. Para murid Petapa Telanjang ini melihat Kelompok Enam Bhikkhu mendekat dari jauh dengan penghalang sinar matahari mereka; melihat mereka, mereka berkata kepada umat awam itu: “Para gurumu itu, Tuan, datang dengan memakai penghalang sinar matahari bagaikan sekelompok pejabat istana.”

“Mereka itu, Tuan-tuan, bukanlah para bhikkhu, mereka adalah pengembara.” Mereka bertaruh apakah mereka adalah bhikkhu atau bukan. Kemudian, umat awam itu, setelah mengenali mereka ketika mereka sampai, mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para mulia ini [130] berjalan-jalan dengan memakai penghalang sinar matahari?” Para bhikkhu mendengar kata-kata umat awam itu yang … menyebarkan. Kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Benarkah, dikatakan, para bhikkhu, …?”

“Benar, Bhagavā.” Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, penghalang sinar matahari tidak boleh digunakan.  Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||2||

Pada saat itu seorang bhikkhu jatuh sakit.  Tidak ada apapun yang dapat menyamankannya tanpa penghalang sinar matahari. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, penghalang sinar matahari bagi yang sakit.” Pada saat itu para bhikkhu berpikir: “Penghalang sinar matahari diperbolehkan oleh Sang Bhagavā bagi yang sakit, tetapi tidak bagi yang tidak sakit,” ragu-ragu apakah boleh menggunakan penghalang sinar matahari di vihara atau di lingkungan vihara. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, penghalang sinar matahari digunakan di vihara dan di lingkungan vihara baik oleh yang sakit maupun yang tidak sakit.” ||3||23||

Pada saat itu seorang bhikkhu, setelah mengikat mangkuknya dengan tali,  setelah menggantungnya di tongkatnya,  pada waktu yang salah melewati sebuah gerbang desa. Orang-orang berkata, “Ini, tuan-tuan, adalah maling yang datang, pedangnya berkilauan,”  setelah mengikutinya dan menangkapnya, mereka melepaskannya setelah mengenalinya. Kemudian bhikkhu ini, setelah kembali ke vihara, memberitahukan hal ini kepada para bhikkhu.

“Tetapi bukankah engkau, Yang Mulia, membawa tongkat dengan tali terikat?”

“Benar, Yang Mulia.” Para bhikkhu lainnya mencela … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin bhikkhu ini membawa tongkat dengan tali terikat?” kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Benarkah, dikatakan, para bhikkhu …?”

“Benar, Bhagavā.” Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, sebuah tongkat dengan tali terikat tidak boleh dibawa. Siapapun yang membawanya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. ||1||

Pada saat itu seorang bhikkhu jatuh sakit; ia tidak mampu berjalan tanpa tongkat. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memberikan keringanan sehubungan dengan tongkat kepada seorang bhikkhu yang sakit. Dan beginilah, pemberian itu: Bhikkhu yang sakit itu, setelah menghadap Saṅgha, setelah merapikan jubahnya di salah satu bahunya, setelah bersujud di kaki para bhikkhu senior, setelah duduk berlutut, setelah memberi hormat dengan merangkapkan tangannya, harus mengucapkan: ‘Aku, Yang Mulia, sedang sakit; aku tidak mampu berjalan tanpa tongkat, maka aku, Yang Mulia, memohon keringanan dari Saṅgha sehubungan dengan tongkat.” Dan untuk ke dua kalinya permohonan itu diajukan. Dan untuk ke tiga kalinya permohonan itu di ajukan. Saṅgha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berpengalaman dan berkompeten, yang berkata: [131] ‘Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Bhikkhu ini sedang sakit; ia tidak mampu berjalan tanpa tongkat ; ia memohon agar Saṅgha memberikan keringanan sehubungan dengan tongkat. Jika baik menurut Saṅgha, maka Saṅgha harus memberikan keringanan sehubungan dengan tongkat kepada bhikkhu ini. Ini adalah usul. Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Bhikkhu ini … sehubungan dengan tongkat.  Saṅgha memberikan keringanan kepada bhikkhu ini sehubungan dengan tongkat. Jika pemberian keringanan kepada bhikkhu ini sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menghendaki silahkan berbicara. Keringanan sehubungan dengan tongkat diberikan oleh Saṅgha kepada bhikkhu ini. Ini sesuai kehendak Saṅgha; karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’” ||2||

Pada saat itu seorang bhikkhu jatuh sakit; ia tidak mampu berjalan tanpa tongkat. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memberikan keringanan sehubungan dengan tongkat kepada seorang bhikkhu yang sakit. Dan beginilah, pemberian itu: Bhikkhu yang sakit itu … (seperti pada ||2||. Tertulis: Aku tidak mampu berjalan tanpa tongkat juga tidak mampu membawa mangkuk tanpa diikat tali, dan seterusnya)’ … Demikianlah saya memahami hal ini.’” ||3||24||

Pada saat itu seorang bhikkhu adalah pemamah-biak ; ia makan dengan mengunyah terus-menerus. Para bhikkhu … menyebarkan dengan mengatakan: “Bhikkhu ini memakan di waktu yang salah.”  Kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Para bhikkhu, bhikkhu ini sebelumnya terlahir dari rahim seekor sapi. Aku mengizinkan, para bhikkhu, memamah biak bagi pemamah biak. Tetapi, para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak boleh memakan kembali (apapun), yang telah dikeluarkan dari mulut. Siapapun yang memakan (demikian) harus diperlakukan sesuai aturan. ” ||25||

Pada saat itu suatu perserikatan kerja mempersembahkan makanan kepada Saṅgha; banyak tumpukan nasi yang tercecer di ruang makan. Orang-orang … menyebarkan dengan mengataka: “Bagaimana mungkin para petapa ini, para putera Sakya, ketika diberi nasi, tidak menerimanya dengan hati-hati?  Setiap tumpukan nasi ini adalah hasil dari ratusan tenaga kerja.” Para bhikkhu [132] mendengar kata-kata orang-orang itu … menyebarkan. Kemudian para bhikkhu itu mengadukan persoalan itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, jika ada yang jatuh yang sedang diberikan kepadamu,  untuk memanfaatkannya setelah memungutnya olehmu sendiri, karena itu ditinggalkan (untukmu), para bhikkhu, oleh para dermawan.” ||26||
« Last Edit: 06 March 2012, 11:23:09 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #35 on: 06 March 2012, 11:21:17 PM »
Pada saat itu seorang bhikkhu berjalan menerima dana makanan dengan kuku (jari tangan) panjang.  Seorang perempuan, setelah melihatnya, berkata kepada bhikkhu itu: “Marilah, Yang Mulia, kita melakukan hubungan seksual.”

“Tidak, saudari, itu tidak diperbolehkan.”

“Jika engkau tidak mau, Yang Mulia, sekarang aku akan, setelah mencakar tubuhku dengan kukuku sendiri, berteriak,  dengan mengatakan, ‘Bhikkhu ini telah menganiayaku.”

“Engkau, Saudari, mengertilah.” Kemudian perempuan itu, setelah mencakar tubuhnya dengan kukunya sendiri, berteriak,  dengan mengatakan, ‘Bhikkhu ini telah menganiayaku.” Orang-orang, berlari, dan menangkap bhikkhu itu. Tetapi orang-orang itu melihat kulit dan darah di kuku jari perempuan itu; melihat ini, mereka berkata: “Ini perbuatan perempuan ini sendiri, bhikkhu itu tidak bersalah.” Dan mereka melepaskan bhikkhu itu. kemudian bhikkhu itu, setelah kembali ke vihara, memberitahukan hal itu kepada para bhikkhu. Mereka berkata: “Tetapi apakah engkau, Yang Mulia, memanjangkan kuku?”

“Benar, Yang Mulia.” Para bhikkhu lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin bhikkhu ini memanjangkan kukunya?” Kemudian para bhikkhu itu mengadukan persoalan itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Para bhikkhu, kuku tidak boleh dipanjangkan.  Siapapun yang memanjangkan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||1||

Pada saat itu para bhikkhu memotong  kuku mereka dengan kuku dan mereka memotong kuku mereka dengan mulut dan mereka menggosoknya pada dahan pohon dan dinding berlapis; jari mereka menjadi sakit. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, memotong kuku.” Mereka memotong kuku hingga berdarah; jari mereka menjadi sakit. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, memotong kuku hingga ke batas  daging.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memoles kedua puluh (kuku) jari mereka. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmatan kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memoles kedua puluh (kuku) jari kalian. Siapapun yang melakukannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, hanya membersihkannya dari kotoran.” ||2||

Pada saat itu rambut  para bhikkhu menjadi panjang. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Tetapi, para bhikkhu, dapatkah para bhikkhu saling mencukur rambut satu sama lain?”

“Mereka mampu (melakukan demikian), Bhagavā.” [133] Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah membabarkan khotbah, berkata kepada para bhikkhu: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, pisau cukur, batu asah, kotak pisau cukur,  sehelai kain tebal, dan semua perlengkapan mencukur.”  ||3||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memotong  janggut mereka, mereka membiarkan janggut mereka tunbuh (panjang ), mereka membentuknya seperti jenggot kambing,  membentuknya menjadi bersudut empat,  mereka membentuk bulu dada mereka,  mereka membentuk bulu yang tumbuh di perut mereka,  mereka menata jambang, mereka mencukur bulu di badan mereka.

Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memotong janggut kalian… mencukur bulu di badan kalian. Siapapun yang mencukur demikian, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu seorang bhikkhu terluka pada bagian tertentu tubuhnya;  obat-obatan tidak dapat menempel. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk mencukur bulu badan jika sakit.” ||4||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memotong rambut mereka dengan gunting. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memotong rambut kalian dengan gunting. Siapapun yang memotong (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu seorang bhikkhu terluka di kepalanya; ia tidak mampu mencukur rambutnya dengan pisau cukur. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memotong rambut dengan menggunakan gunting jika sakit.”

Pada saat itu para bhikkhu memanjangkan bulu hidung mereka. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti pemuja siluman.”  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memanjangkan bulu hidung kalian. Siapapun yang memanjangkan (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu mencabut bulu hidung mereka menggunakan pecahan kristal  dan menggunakan lilin-tawon; hidung mereka menjadi sakit. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, penjepit.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mencabut uban  mereka. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh mencabut uban. Siapapun yang mencabutnya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||5||

Pada saat itu telinga seorang bhikkhu kemasukan lilin. [134] Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, suatu alat untuk mengeluarkan kotoran telinga.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan berbagai jenis alat untuk mengeluarkan kotoran telinga, terbuat dari emas, terbuat dari perak. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, berbagai jenis alat tidak boleh digunakan untuk mengeluarkan kotoran telinga. Siapapun yang menggunakan (ini), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, yang terbuat dari tulang, terbuat dari gading, terbuat dari tanduk, terbuat dari buluh, terbuat dari bambu, terbuat dari sepotong kayu, terbuat dari lac, terbuat dari kristal, terbuat dari tembaga, terbuat dari bagian tengah kulit kerang.”  ||6||27||

Pada saat itu para bhikkhu menyimpan sejumlah besar barang-barang dari tembaga, barang-barang dari perunggu. Orang-orang melihat-lihat tempat kediaman itu, setelah melihat barang-barang itu, mereka mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para petapa ini, para putera Sakya menyimpan sejumlah besar barang-barang dai tembaga, barang-barang dari perunggu bagaikan pedagang perunggu?”  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, menyimpan barang-barang dari tembaga, barang-barang dari perunggu tidak boleh dilakukan. Siapapun yang menyimpannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||1||

Pada saat itu para bhikkhu (terlalu) berhati-hati menggunakan kotak salep , dan batang pengoles salep  dan alat untuk mengeluarkan kotoran telinga  dan sebuah gagang.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, kotak salep … gagang.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu duduk bersantai  di atas jubah luar mereka,  kain katun  dari jubah luar jatuh . Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh duduk bersantai di atas jubah luar. Siapapun yang duduk (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu seorang bhikkhu jatuh sakit; tidak ada yang dapat membuatnya nyaman tanpa perban.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, perban.” Kemudian para bhikkhu itu berpikir: “Sekarang bagaimanakah membuat perban?” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, peralatan tenun, gulungan benang, benang, perlengkapan yang diperlukan dan semua perlengkapan tenun.” ||2||28||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #36 on: 06 March 2012, 11:21:45 PM »
Pada saat itu seorang bhikkhu memasuki desa untuk menerima dana makanan tanpa ikat pinggang; di suatu jalan raya jubah dalamnya melorot.  Orang-orang berteriak  dan bhikkhu itu [135] menjadi malu. Kemudian, bhikkhu tersebut, setelah kembali ke vihara, memberitahukan hal ini kepada para bhikkhu. Para bhikkhu mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memasuki desa tanpa mengenakan ikat pinggang. Siapapun yang melakukan (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah ikat pinggang.”  ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengenakan berbagai jenis ikat pinggang: yang berumbai-rumbai,  yang menyerupai kepala ular-air,  yang menyerupai tamborin,  yang menyerupai rantai.  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, berbagai jenis ikat pinggang tidak boleh dikenakan: yang berumbai-rumbai … yang menyerupai rantai. Siapapun yang mengenakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.  Aku mengizinkan, para bhikkhu, dua (jenis) ikat pinggang, secarik kain katun,  atau yang ujungnya rapi.”

Pinggiran ikat pinggang itu menjadi usang. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, yang menyerupai tamborin, yang menyerupai rantai.” Ujung ikat pinggang itu menjadi usang. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, menjahitnya melingkar,  sebuah simpul.”  Ujung ikat pinggang di mana ikat pinggang itu berbalik menjadi usang. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah gesper.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengenakan berbagai jenis gesper, terbuat dari emas, terbuat dari perak. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, berbagai jenis gesper tidak boleh dikenakan. Siapapun yang mengenakannya, maka ia melakukan pelanggaran prbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, yang terbuat dari tulang … terbuat dari kulit kerang, terbuat dari benang.”  ||2||

Pada saat itu Yang Mulia Ānanda setelah mengenakan jubah luar yang ringan,  memasuki desa untuk menerima dana makanan; jubah luarnya tertiup angin kencang.  Kemudian Yang Mulia Ānanda, setelah kembali ke vihara, memberitahukan hal ini kepada para bhikkhu. Para bhikkhu mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pengikat,  sesuatu untuk mengikat.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan berbagai jenis pengikat, terbuat dari emas, terbuat dari perak. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, berbagai jenis pengikat tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Saya mengizinkan, para bhikkhu, yang terbuat dari tulang … terbuat dari benang.”

Pada saat itu para bhikkhu memasukkan pengikat dan benda-benda untuk mengikat ke dalam jubah mereka; jubah mereka menjadi usang. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, pelapis pengikat  itu, pelapis untuk benda-benda untuk mengikat.” [136] Mereka menyelipkan pelapis pengikat dan pelapis benda-benda untuk mengikat di bagian tepi (jubah); sudutnya terbuka. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, menyelipkan pelapis pengikat dan pelapis benda-benda untuk mengikat setelah menariknya selebar tujuh atau delapan jari.” ||3||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memakai pakaian bawah perumah tangga: “belalai gajah”,  “ekor ikan”,  “penataan empat sudut”,  “penataan kebutan palem”,  “seratus temali hutan.”  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memakai pakaian bawah perumah tangga: ‘belalai gajah’ … ‘seratus temali hutan.’ Siapapun yang memakai (demikian) maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memakai  pakaian atas  perumah tangga. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memakai pakaian atas perumah tangga. Siapapun yang memakai (demikian) maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||4||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memakai kain-pinggang.  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti seorang kurir gundul raja dengan gulungan.”  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memakai kain-pinggang. Siapapun yang memakai (demikian) maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||5||29||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu membawa tongkat pemikul ganda.  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti seorang kurir gundul raja dengan gulungan.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh membawa tongkat pemikul ganda. Siapapun yang membawanya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah tongkat pemikul tunggal, tongkat pemikul dengan dua pembawa,  suatu beban (yang dibawa) di atas kepala, suatu beban (yang dibawa) di bahu, suatu beban (yang dibawa) di pinggul, satu tergantung.” ||30||

Pada saat itu para bhikkhu tidak mengunyah  tusuk-gigi ; mulut mereka menjadi bau. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, ada lima kerugian tidak mengunyah tusuk-gigi : tidak baik bagi mata, mulut menjadi bau, saluran kecapan tidak dibersihkan, dahak dan lendir mengotori makanan ketika seseorang makan. Ini, para bhikkhu, adalah lima kerugian tidak mengunyah tusuk-gigi. Para bhikkhu, ada lima keuntungan mengunyah tusuk-gigi: baik bagi mata, mulut tidak menjadi bau, saluran kecapan dibersihkan, dahak dan lendir tidak mengotori makanan ketika seseorang makan [137]. Ini, para bhikkhu, adalah lima keuntungan mengunyah tusuk-gigi. Aku mengizinkan, para bhikkhu, tusuk-gigi.” ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengunyah tusuk-gigi panjang; mereka bahkan mengenai para samaṇera dengan tusuk-gigi mereka. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, tusuk-gigi panjang tidak boleh digunakan. Siapapun yang mengunyahnya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, tusuk-gigi paling panjang delapan lebar jari. Dan samaṇera tidak boleh dikenai dengannya. Siapapun yang mengenainya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu seorang bhikkhu mengunyaj tusuk-gigi yang terlalu pendek sehingga tersangkut di tenggorokannya. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, tusuk-gigi yang terlalu pendek tidak boleh digunakan. Siapapun yang mengunyahnya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, tusuk-gigi paling pendek empat lebar jari.” ||2||31||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu membakar hutan.  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti pembakar hutan.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, hutan tidak boleh dibakar. Siapapun yang membakarnya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu tempat tinggal para bhikkhu dipenuhi rumput.  Ketika para pembakar hutan membakar (hutan dan sebagainya) api juga membakar tempat tinggal itu. para bhikkhu ragu-ragu apakah boleh menyalakan api tandingan  sebagai perlindungan. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, jika hutan terbakar, membuat api-tandingan sebagai perlindungan.” ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memanjat pohon dan berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti monyet.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh memanjat pohon. Siapapun yang memanjat pohon, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu seekor gajah menghalangi perjalanan seorang bhikkhu yang sedang berjalan menuju Sāvatthī melalui wilayah Kosala. Kemudian bhikkhu itu tergesa-gesa berlari ke bawah sebatang pohon (tetapi) tidak memanjat pohon itu; gajah itu pergi melalui jalan (lain). Kemudian bhikkhu tersebut, setelah tiba di Sāvatthī, memberitahukan hal ini kepada para bhikkhu. (Para bhikkhu mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā.)  Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, jika ada alasan yang tepat, untuk memanjat pohon hingga setinggi seorang manusia, dan setinggi yang kalian inginkan jika menghadapi serangan.”  ||2||32|| [138]

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #37 on: 06 March 2012, 11:22:40 PM »
Pada saat itu Yameḷu dan Tekula  adalah nama dua orang bhikkhu bersaudara, dari keluarga brahmana, yang memiliki suara merdu dan pengucapan yang menyenangkan. Mereka mendatangi Sang Bhagavā; setelah menghadap, setelah menyapa Sang Bhagavā, mereka duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya, para bhikkhu ini berkata kepada Sang Bhagavā: “Saat ini, Bhagavā, para bhikkhu dengan berbagai nama, dari berbagai suku, dari berbagai strata sosial telah meninggalkan rumah dari berbagai keluarga; hal ini merusak ucapan Yang Tercerahkan dengan (menggunakan) dialeknya sendiri.  Sekarang kami, Bhagavā, babarkanlah khotbah dari Yang Tercerahkan dalam bentuk berirama.”  Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā menegur mereka dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin kalian, orang-orang dungu, bisa mengatakan: ‘Sekarang kami, Bhagavā, babarkanlah khotbah dari Yang Tercerahkan dalam bentuk berirama.’? Itu bukanlah, orang dungu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …” dan setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, khotbah-khotbah Yang Tercerahkan tidak boleh dibabarkan dalam bentuk berirama. Siapapun yang melakukan (demikian) maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk mempelajari khotbah-khotbah dari Yang Tercerahkan menurut bahasanya masing-masing.” ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mempelajari metafisika.  Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Seperti para perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Para bhikkhu mendengar orang-orang … menyebarkan itu. kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Sekarang, para bhikkhu, dapatkah seseorang yang melihat inti (sebagai makhluk) di dalam metafisika mencapai kemajuan, peningkatan, kematangan dalam dhamma dan disiplin ini?”

“Tidak demikian, Bhagavā.”

“Atau dapatkah seseorang yang melihat inti (sebagai makhluk) dalam dhamma dan disiplin ini mempelajari metafisika?”

“Tidak demikian, Bhagavā.”

“Para bhikkhu, metafisika tidak boleh dipelajari. Siapapun yang mempelajarinya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengajarkan metafisika. Orang-orang … pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mempelajari ilmu pengetahuan keduniawian.  Orang-orang … pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengajarkan ilmu pengetahuan keduniawian. Orang-orang … pelanggaran perbuatan-salah.” ||2||

Pada [139] saat itu Sang Bhagavā, dikelilingi oleh sekumpulan besar, bersin ketika sedang mengajarkan dhamma. Para bhikkhu berkata: “Bhagavā, semoga Bhagavā berumur (panjang), semoga Yang Sempurna berumur (panjang),” suasana menjadi gaduh, berisik; khotbah dhamma terhenti karena kegaduhan ini. kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Sekarang para bhikkhu, ketika (frasa) ‘panjang umur’ diucapkan kepada seseorang yang bersin, dapatkan ia hidup atau mati karena alasan ini?”

“Tidak demikian, Bhagavā.”

“Para bhikkhu, ‘Panjang umur’ tidak boleh diucapkan kepada seseorang yang bersin. Siapapun yang mengucapkannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu orang-orang mengucapkan “Semoga engkau (panjang) umur, Yang Mulia.” Kepada para bhikkhu yang bersin. Para bhikkhu, takut melakukan pelanggaran, tidak menjawab. Orang-orang … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagamana mungkin para petapa ini, para putera Sakya tidak menjawab ketika (frasa) ‘Semoga engkau (panjang) umur, Yang Mulia’ diucapkan kepada mereka?” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, perumah tangga menyukai tanda-tanda keberuntungan.  Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, ketika (frasa) ‘Semoga engkau (panjang) umur, Yang Mulia’ diucapkan kepada kalian oleh perumah tangga, menjawab, ‘Panjang umur’ (kepada mereka).” ||3||33||

Pada  saat itu Sang Bhagavā, dikelilingi oleh sekumpulan besar, sedang mengajarkan dhamma sambil duduk. Seorang bhikkhu baru saja memakan bawang putih;  ia duduk di satu sisi dengan pikiran: “Jangan sampai para bhikkhu terganggu.” Sang Bhagavā melihat bhikkhu itu yang duduk di satu sisi; melihatnya, Beliau bertanya kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, mengapakah bhikkhu itu duduk di satu sisi?”

“Bhagavā, bhikkhu itu baru saja memakan bawang putih, maka ia duduk di satu sisi dengan pikiran: “Jangan sampai para bhikkhu terganggu.”

“Tetapi, para bhikkhu, apakah itu harus dimakan yang, ketika dimakan, dapat (membuat si pemakan) berada di luar dari suatu khotbah dhamma seperti ini?”

“Tidak demikian, Bhagavā.”

“Para bhikkhu, bawang putih tidak boleh dimakan. Siapapun yang memakannya maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Yang Mulia Sāripputta masuk angin. Kemudian Yang Mulia Moggallāna Yang Agung mendatangi Yang Mulia Sāriputta; setelah menghadap, ia berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: “Ketika engkau masuk angin sebelumnya, Yang Mulia Sāriputta, dengan apakah engkau sembuh?”

“Aku memakan bawang putih, Yang Mulia.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, memakan bawang putih ketika sakit.”  ||2||34||

Pada saat itu para bhikkhu buang air kecil di sini, di sana, dan di mana-mana di dalam vihara; vihara menjadi kotor. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk buang air kecil di satu sisi.” [140] Vihara menjadi bau. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah wadah.” Dengan posisi duduk, menyakitkan. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, tempat kencing.”  Tempat kencing itu terletak di tempat umum;  para bhikkhu merasa malu untuk buang air. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) pagar untuk memagarinya: pagar dari bata, pagar dari batu, pagar dari kayu.” Wadah itu karena tidak ditutup menjadi bau. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah penutup.” ||1||

Pada saat itu para bhikkhu buang air besar di sini, di sana, dan di mana-mana di dalam vihara … (seperti pada ||1||) … Vihara menjadi bau. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah jamban.” Dinding jamban itu rubuh.  untuk menumpuk tiga (jenis) tumpukan: tumpukan bata, tumpukan batu, tumpukan kayu.” Jamban itu terletak rendah di atas tanah  … “… Aku mengizinkan, para bhikkhu, pegangan tangan.” Duduk di dalamnya, mereka terjatuh. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk buang air besar setelah menghamparkan (sesuatu) dan membuat sebuah lubang di tengahnya. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah kloset.” ||2||

Mereka buang air besar di luar. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah palung.” Tidak ada kayu untuk membersihkan. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, kayu untuk membersihkan.” Tidak ada wadah  untuk kayu pembersih. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah wadah (untuk kayu) pembersih.” Jamban yang tidak tertutup menjadi bau. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah penutup.” Buang air besar di ruang terbuka, mereka terganggu oleh panas dan dingin. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah gubuk untuk kloset.” Tidak ada pintu pada gubuk. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pintu …  … gigi ikan todak, lima (helai) rancangan kain, bambu untuk menggantung jubah, seutas tali untuk menggantung jubah.”  Pada saat itu seorang bhikkhu, emah karena usia lanjut, [141] setelah buang air besar, terjatuh saat bangkit berdiri. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kursi dengan penopang.” Gubuk itu tidak berpagar. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) pagar untuk memagarinya: pagar bata, pagar batu, pagar kayu.” ||3||

Tidak ada teras. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah teras.” Tidak ada pintu menuju teras. “Aku mengizinkan, para bhikkhu …  … seutas tali untuk menarik.” Serbuk rumput jatuh ke teras …  … lima (helai) rancangan kain. Ruangan menjadi becek  … “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah saluran air.” Tidak ada wadah air untuk membilas. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah wadah untuk air untuk membilas.” Tidak ada gayung untuk mengambil air untuk membilas. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah gayung untuk mengambil air untuk membilas.” Mereka membilas sambil duduk; itu menyakitkan. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sutu tempat yang digunakan untuk membilas.  Tempat untuk membilas itu terletak di tempat umum; para bhikkhu malu untuk membilas. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) pagar untuk memagarinya: pagar bata, pagar batu, pagar kayu.”  Wadah air untuk membilas tidak tertutup; airnya tumpah bersama dengan rumput dan debu. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah penutup.” ||4||35||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu terlibat dalam perilaku buruk seperti berikut ini:  mereka menanam atau menyuruh menanam tanaman bunga-bungaan kecil … dan berbagai perilaku buruk lainnya. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, berbagai jenis perilaku buruk tidak boleh dilakukan. Siapapun yang melakukannya, harus diperlakukan menurut aturan.”  ||36||

Pada saat itu ketika Kassapa dari Uruvelā meninggalkan keduniawian, banyak benda-benda terbuat dari tembaga, benda-benda dari kayu, benda-benda dari tembikar diperoleh oleh Saṅgha. Kemudian para bhikkhu berpikir: “Sekarang, benda tembaga apakah yang diperbolehkan oleh Sang Bhagavā, apakah yang tidak diperbolehkan? benda kayu apakah yang diperbolehkan oleh Sang Bhagavā, apakah yang tidak diperbolehkan? benda tembikar apakah yang diperbolehkan oleh Sang Bhagavā, apakah yang tidak diperbolehkan?” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, berkata kepada para bhikkhu: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, semua benda-benda tembaga kecuali senjata; semua benda-benda kayu kecuali sofa,  [142] dipan,  mangkuk kayu,  sepatu kayu ; semua benda-benda tembikar kecuali gosokan (kaki dari tembikar)  dan wadah tembikar besar.”  ||37||

Demikianlah Bagian Ke Lima: Mengenai Hal-hal Minor.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB VI)
« Reply #38 on: 06 March 2012, 11:24:58 PM »
CULLAVAGGA VI
Tempat Tinggal



Pada suatu ketika Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu di Taman Suaka Tupai. Pada saat itu tempat tinggal belum diperbolehkan oleh Sang Bhagavā untuk para bhikkhu. Jadi mereka menetap di sana-sini: di hutan, di bawah pohon, di lereng bukit, di celah-celah, di gua-gua di gunung, di tanah pemakaman, di tanah lapang di tengah hutan, di ruang terbuka, di atas tumpukan jerami.  Pada pagi hari, para bhikkhu ini pergi dari sana-sini: dari hutan …dari tumpukan jerami, menyenangkan ketika datang dan pergi, ketika melihat ke depan, ketika melihat ke belakang, ketika menekuk (lengan mereka) ke belakang, ketika merentangkannya, mata mereka menatap ke bawah dan memiliki perilaku yang menyenangkan.  ||1||


Pada saat itu seorang pedagang (besar) dari Rājagaha pergi pada suatu pagi menuju hutan rekreasi.  Pedagang (besar) dari Rājagaha itu melihat para bhikkhu pergi dari sana-sini: dari hutan …dari tumpukan jerami, dan melihat mereka, ia memutuskan.  Kemudian pedagang (besar) dari Rājagaha itu mendatangi para bhikkhu itu; setelah mendekat ia berkata kepada para bhikkhu: “Jika aku, Yang Mulia, membangun tempat tinggal, sudikah kalian menetap di tempat tinggal itu?”

“Perumah tangga, tempat tinggal belum diperbolehkan oleh Sang Bhagavā.”

“Baiklah, Yang Mulia, setelah bertanya kepada Sang Bhagavā, beritahukanlah kepadaku (apa yang Beliau katakan).”

“Baik, perumah tangga,” dan para bhikkhu ini, setelah menjawab pedagang (besar) dari Rājagaha, mendatangi Sang Bhagavā; setelah tiba di hadapan Sang Bhagavā, setelah menyapa Beliau, mereka duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya, para bhikkhu ini berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhagavā, pedagang (besar) dari Rājagaha ingin membangun tempat tinggal. Peraturan apakah yang harus kami ikuti?” kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini setelah membabarkan khotbah, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

“Aku mengizinkan, para bhikkhu, lima (jenis) tempat kediaman:  sebuah tempat tinggal, sebuah rumah melengkung, sebuah rumah panjang,  sebuah gua.”  ||2||

Kemudian [146] para bhikkhu ini mendatangi pedagang (besar) dari Rājagaha; setelah menghadap, mereka berkata kepada pedagang (besar) dari Rājagaha: “Perumah tangga, tempat tinggal telah diperbolehkan oleh Sang Bhagavā. Lakukanlah apa yang engkau anggap benar.” Kemudian pedagang (besar) dari Rājagaha membangun enam puluh tempat tinggal hanya dalam waktu satu hari. Ketika si pedagang (besar) dari Rājagaha telah selesai membangun enam puluh tempat tinggal ini, ia mendatangi Sang Bhagavā; setelah menghadap, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya, si pedagang (besar) dari Rājagaha berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhagavā, sudilah Sang Bhagavā menerima persembahan makan dariku besok bersama dengan para bhikkhu.” Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. Kemudian si pedagang (besar) dari Rājagaha, setelah memahami penerimaan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan pergi dengan Beliau di siai kanannya. ||3||

Kemudian si pedagang (besar) dari Rājagaha, setelah mempersiapkan makanan-makanan mewah, keras dan lunak, yang dipersiapkan menjelang malam itu berakhir, mengumumkan waktunya kepada Sang Bhagavā dengan berkata: “Waktunya telah tiba, Bhagavā, makanan telah siap.” Kemudian Sang Bhagavā, setelah merapikan jubahnya di pagi hari, membawa mangkuk dan jubahnya, mendatangi kediaman si pedagang (besar) dari Rājagaha; setelah tiba, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan bersama dengan para bhikkhu. Kemudian si pedagang (besar) dari Rājagaha, setelah dengan tangannya sendiri melayani para bhikkhu dengan Yang tercerahkan sebagai pemimpin dengan menyajikan makanan-makanan mewah, keras dan lunak, duduk pada jarak yang selayaknya ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menarik tanganNya dari mangkukNya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya pedagang (besar) dari Rājagaha berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhagavā, aku telah membangun enam puluh tempat tinggal ini karena aku menginginkan jasa, karena aku menginginkan surga. Peraturan apakah yang harus kuikuti, Bhagavā, sehubungan dengan tempat-tempat tinggal ini?”

“Baiklah sekarang, engkau, perumah tangga, persembahkanlah enam puluh tempat tinggal ini untuk (digunakan oleh) Saṅgha di empat penjuru,  saat ini maupun di masa yang akan datang.”

“Baiklah, Bhagavā,” dan si pedagang (besar) dari Rājagaha, setelah menjawab Sang Bhagavā, mempersembahkan keenam puluh tempat tinggal itu untuk(digunakan oleh) Saṅgha di empat penjuru, saat ini dan di masa yang akan datang. ||4||

Kemudian Sang Bhagavā berterima kasih kepada si pedagang (besar) dari Rājagaha dalam syair-syair ini:

“Mereka mengusir dingin dan panas dan binatang-binatang buas dari sana
Dan binatang-binatang melata dan nyamuk dan hujan di musim hujan.
Ketika angin panas yang menakutkan datang, itu terusir.
Untuk bermeditasi dan mencapai pandangan terang dalam perlindungan dan kenyamanan:-
Sebuah tempat tinggal dipuji oleh Yang Tercerahkan sebagai pemberian tertinggi kepada Saṅgha.
Oleh karena itu orang yang bijaksana, yang menginginkan kemakmuran,
Harus membangun tempat tinggal yang nyaman agar mereka yang banyak mendengar dapat menetap di sana.  [147]
Kepada orang-orang ini  makanan dan minuman, pakaian dan tempat tinggal
Ia harus memberikan, kepada yang lurus, dengan pikiran bersih.
(Kemudian) orang-orang ini  mengajarkan dhamma kepadanya yang melenyapkan segala penyakit;
Ia, memahami dhamma itu, di sini mencapai Nibbāna, tanpa noda.”

Kemudian Sang Bhagavā, setelah mengucapkan terima kasih kepada si pedagang (besar) dari Rājagaha dalam syair-syair ini, bangkit dari duduknya, pergi. ||5||1||

Orang-orang mendengar: “Dikatakan bahwa tempat tinggal diperbolehkan oleh Sang Bhagavā,” dan mereka dengan bersemangat membangun tempat-tempat tinggal. Tempat-tempat tinggal ini tanpa pintu, dan ular, kalajengking, dan kelabang masuk. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pintu.” Setelah membuat lubang di dinding, mereka mengikatkan pintu dengan tanaman menjalar dan dengan tali, tetapi tanaman dan tali ini digigit tikus dan rayap dan ketika ikatan itu digigit, pintu itu jatuh. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiang pintu dan kusen, sebuah cekungan seperti lesung (agar pintu dapat berayun) tonjolan kecil di atas.”  Pintu itu tidak menutup dengan sempurna. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah tiang untuk pasak pengunci, sebuah ‘kepala monyet,’ sebuah paku (untuk mengencangkan pasak), sepotong kayu (yang digunakan sebagai pasak,).” 

Pada saat itu para bhikkhu tidak dapat membuka pintu. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah lubang kunci, dan tiga (jenis) kunci: kunci tembaga, kunci kayu, kunci tanduk.” Tetapi tempat tinggal itu tidak terjaga, ketika mereka yang, setelah membuka  (pintu), masuk. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pasak dan sebuah paku (untuk mengencangkan pasak).”  ||1||

Pada saat itu tempat-tempat tinggal dibuat beratap rumput; mereka kedinginan dalam cuaca dingin, kepanasan dalam cuaca panas. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah mengikatkan pada (atap), melapisi bagian dalam dan bagian luar.”  Pada saat itu tempat-tempat tinggal tidak memiliki jendela.  Sehingga tidak baik bagi mata dan berbau. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) jendela; jendela berjeruji,  jendela dengan kisi-kisi,  jendela bertiang.”  Tupai dan kelelawar masuk melalui lubang jendela. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, kain penutup  jendela.” Tupai dan kelelawar bahkan menembus kain jendela. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, daun jendela , bantalan-bantalan  penutup jendela.” ||2||

Pada saat itu para bhikkhu berbaring tidur di atas tanah dan bagian-bagian tubuh dan jubah mereka menjadi kotor karena debu. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, matras rumput.” Matras rumput itu [148] dimakan tikus dan rayap. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah dipan padat.”  Karena dipan yang padat tubuh mereka menjadi sakit. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, kasur kecil dari pecahan bambu.”

Pada saat itu sebuah dipan panjang  menyerupai usungan diperoleh oleh Saṅgha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah dipan panjang. Sebuah bangku panjang diperoleh. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah bangku panjang.” Pada saat itu sebuah dipan panjang bertulang  menyerupai usungan diperoleh oleh Saṅgha … sebuah kursi bertulang … sebuah dipan menyerupai usungan dengan kaki melengkung  … sebuah kursi dengan kaki melengkung … sebuah dipan menyerupai usungan dengan kaki yang dapat dilepas  … sebuah kursi dengan kaki yang dapat dilepas diperoleh. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kursi dengan kaki yang dapat dilepas.” ||3||

Pada saat itu sebuah kursi bersegi empat  diperoleh Saṅgha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kursi bersegi empat. Sebuah kursi tinggi bersegi empat  diperoleh. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, bahkan  sebuah kursi tinggi bersegi empat.”  (Dipan) bersegi tiga  diperoleh. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah dipan (bersegi tiga).” (Dipan) tinggi bersegi tiga  diperoleh. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, bahkan sebuah dipan tinggi (bersegi tiga).” Sebuah kursi beranyaman  diperoleh … sebuah kursi kain  … sebuah kursi berkaki domba  … sebuah kursi “berhias tangkai cherry”  … sebuah (kursi) kayu  … sebuah bangku   … sebuah kursi jerami diperoleh Saṅgha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kursi jerami.” ||4||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu berbaring tidur di atas dipan yang tinggi. Orang-orang yang mengunjugi tempat-tempat tinggal itu, setelah melihat mereka … menyebarkan dengan berkata: “Seperti perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh berbaring tidur di atas dipan yang tinggi. Siapapun yang berbaring tidur (demikian), [149] maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.

Pada saat itu seorang bhikkhu berbaring tidur di atas dipan yang rendah, ia digigit ular. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, penyangga untuk dipan.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan penyangga yang tinggi untuk dipan; mereka berayun-ayun dengan penyangga tinggi itu. “Para bhikkhu, penyangga tinggi untuk dipan tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, penyangga dipan paling tinggi delapan lebar jari.”  ||5||

Pada saat itu benang diperoleh Saṅgha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk melapisi dipan.” Ini menghabiskan banyak benang. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah melubangi sisi-sisianya,  melapisi persegi empat kecil.”  Sehelai kain katun diperoleh. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membuat karpet.”  Sebuah selimut kapas  diperoleh Saṅgha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah membongkarnya, membuat alas duduk  dari tiga (jenis) kapas:  kapas dari pepohonan, kapas dari tanaman menjalar, kapas dari rumput.”

Pada saat iu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan alas duduk berukuran setengah badan (manusia). Orang-orang, yang mengunjungi tempat-tempat tinggal itu, setelah melihat mereka … menyebarkan: “Seperti perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, alas duduk berukuran setengah (manusia) tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, membuat alas duduk berukuran satu kepala.”  ||6||

Pada saat itu sedang diadakan suatu festival di puncak gunung dekat Rājagaha.  Para penduduk menata matras-matras  untuk para pejabat kerajaan: matras wol, matras kain katun, matras kulit kayu, matras rumput-tiṇa, matras daun.  Ketika festival selesai mereka membuangnya setelah membuka sarungnya. Para bhikkhu melihat banyak wol dan kain katun dan kulit kayu dan rumput-tiṇa dan dedaunan yang dibuang di tempat festival; dan melihat itu mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, lima (jenis) matras: matras wol … kain katun … kulit kayu … rumput-tiṇa … matras daun.”

Pada saat itu kain tenunan sebagai perlengkapan tempat tinggal diperoleh Saṅgha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membungkus matras (dengannya).” Pada saat itu para bhikkhu memasangkan matras-dipan pada kursi, mereka memasangkan matras-kursi pada dipan; matras-matras itu jatuh ke celah-celah.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, dipan bersarung, kursi bersarung.”  [150] Mereka memasangnya tanpa terlebih dulu memasang jaring (di bawahnya dan isi matras) keluar dari bawah. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah memasang jaring (dibawah matras), setelah menghamparkannya, memasang matras.” Setelah membuka penutupnya, isi matras itu berhamburan. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, memerciknya. ” masih berhamburan. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, hiasan bergaris.”  Masih berhamburan. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, berbentuk tangan.”  ||7||2||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB VI)
« Reply #39 on: 06 March 2012, 11:27:51 PM »
Pada saat itu tempat-tempat tidur  para anggota sekte lain diwarnai dengan kapur, lantainya hitam, dindingnya diwarnai dengan kapur merah.  Banyak orang ingin melihat tempat-tempat tidur itu. mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, pengapuran, warna hitam, kapur merah (untuk digunakan) di tempat tinggal.” Pada saat itu kapur dinding tidak dapat menempel di dinding kasar. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah melumuri dengan sekam, dan mencampurnya dengan kapur dinding.” Kapur dinding masih tidak menempel. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah melumuri dengan lempung, dan mencampurnya dengan kapur dinding.” Kapur dinding masih tidak menempel. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, apa yang menetes dari pepohonan  dan lem tepung.”

Pada saat itu kapur merah tidak dapat menempel di dinding kasar … (seperti di atas) … Kapur merah tidak menempel. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah melumuri dengan serbuk merah dari sekam (dicampur dengan lempung), dan mencampurnya dengan kapur merah.” Kapur merah masih tidak menempel. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, bubuk-mostar,  minyak lilin tawon.” Terlalu tebal. setelah melumuri dengan lempung, dan mencampurnya dengan kapur dinding.” Kapur dinding masih tidak menempel. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, apa yang menetes dari pohon dan lem tepung.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggosoknya  dengan sehelai kain.”

Pada saat itu pewarna hitam tidak dapat menempel pada dinding kasar … (seperti di atas) …pewarna hitam tidak dapat menempel. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah melumuri dengan lempung (dicampur dengan kotoran cacing tanah),  dan mencampurnya dengan pewarna hitam.” Pewarna hitam masih tidak menempel. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, apa yang menetes dari pepohonan, rebusan perekat.”  ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menambahkan rancangan berbentuk perempuan, berbentuk laki-laki di dalam tempat tinggal. Orang-orang yang mengunjungi tempat-tempat tinggal itu, setelah melihat ini … menyebarkan dengan berkata: “Seperti [151] perumah tangga yang menikmati kesenangan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu,  kalian tidak boleh membuat rancangan berbentuk perempuan, berbentuk laki-laki. Siapapun yang melakukannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan, para bhikkhu, hiasan-lingkaran, hiasan-menjalar, corak gigi ikan todak, lima helai (rancangan kain).”  ||2||

Pada saat itu tempat-tempat tinggal terletak rendah di atas tanah …  “ … Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pegangan tangan.”

Pada saat itu tempat-tempat tinggal dipenuhi oleh banyak orang.  Para bhikkhu (terlalu) sungkan untuk berbaring. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah tirai.”  Mereka mengintip, setelah mengangkat tirai tersebut. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, dinding kecil berukuran setengah.” Mereka mengintip dari atas dinding kecil itu. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) ruang dalam: ruang dalam menyerupai tandu,  ruang dalam menyerupai tabung,  ruang dalam di atap.”  Pada saat itu para bhikkhu membuat ruang dalam di tengah-tengah tempat tinggal yang kecil; tidak ada jalan masuk.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membuat ruang dalam di satu sisi di dalam tempat tinggal yang kecil, di tengah di dalam tempat tinggal yang besar.” ||3||

Pada saat itu bagian bawah dinding pada tempat tinggal pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan,para bhikkhu, dinding penopang dari kayu.”  Satu dinding tempat tinggal terkena hujan.  “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tirai pelindung  (dan) perekat dan air.”

Pada saat itu seekor ular terjatuh dari atap rumput mengenai bahu seorang bhikkhu. Ketakutan, ia berteriak. Para bhikkhu berlari, bertanya kepada bhikkhu itu: “Mengapakah engkau, Yang Mulia, berteriak?” kemudian bhikkhu itu memberitahukan kepada para bhikkhu. Para bhikkhu mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah kanopi.”  ||4||

Pada saat itu para bhikkhu menggantung tas mereka di kaki dipan, dan di kaki kursi: tas itu digigit tikus dan rayap. Mereka mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah gantungan di dinding, sebuah gantungan ‘gading gajah’.”  Pada saat itu para bhikkhu meletakkan jubah mereka di dipan dan di kursi. Jubah mereka robek. Mereka mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebatang bambu untuk menggantung jubah, seutas tali untuk menggantung jubah.” 

Pada saat itu temat-tempat tinggal tidak memiliki beranda  dan tanpa naungan.  Mereka mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah beranda, teras tertutup,  halaman dalam,  atar beranda.”  Beranda itu terletak di tempat umum. Para bhikkhu (terlalu) sungkan untuk berbaring. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tirai yang dapat dipindah-pindahkan,  tirai yang dapat ditarik.” ||5||

Pada saat itu para bhikkhu yang makan di ruang terbuka didera oleh panas dan dingin. Mereka mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah ruang pertemuan.” Ruang pertemuan itu rendah di atas tanah …  “ … seutas tali untuk menggantung jubah.” Pada saat itu para bhikkhu meletakkan jubah mereka di ruang terbuka di atas tanah. Jubah itu kotor oleh tanah. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebatang bambu untuk menggantung jubah dan seutas tali untuk menggantung jubah.” ||6||

Air minum menjadi hangat.  “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah ruangan untuk menempatkan air minum, sebuah naungan untuk air minum.” Ruang tempat air minum itu rendah di atas tanah …  “ … seutas tali untuk menggantung jubah.” Tidak ada wadah untuk air minum. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, kulit kerang untuk mengambil air minum, sebuah gayung untuk mengambil air minum.” ||7||

Pada saat itu tempat-tempat tinggal tidak berpagar. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) pagar untuk memagari: pagar bata, pagar batu, pagar kayu.” Tidak ada teras. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah teras.” Teras itu rendah di atas tanah. Air membanjirinya. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, untuk membuatnya tinggi di atas tanah.” Tidak ada pintu menuju teras. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah pintu, tiang pintu, dan kusen … seutas tali untuk menariknya.”  Serbuk rumput jatuh ke teras.  “Aku mengizinkan, para bhikkhu, … lima (helai) rancangan kain.”

Pada saat itu kamar menjadi becek.  Mereka mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menaburkan kerikil.” Mereka tidak berhasil mengatasinya. “Aku mengizinkan kalian, [153] para bhikkhu, untuk memasang ubin.” Air membanjiri. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, saluran air.” ||8||

Pada saat itu para bhikkhu membuat perapian di sana-sini di dalam kamar; kamar menjai kotor.  Mereka mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, membuat ruang perapian di satu sisi.” Ruang perapian itu rendah di atas tanah …  “Aku mengizinkan, para bhikkhu, pegangan tangan.” Ruang perapian tidak memiliki pintu. “Aku mengizinkan, para bhikhu, sebuah pintu, tiang pintu, dan kusen …  seutas tali untuk menariknya.” Serbuk rumput  jatuh ke dalam ruang perapian. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, … seutas tali untuk menggantung jubah.” ||9||

Vihara tidak berpagar: kambing dan sapi merusak tanaman-tanaman kecil.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, tiga (jenis) pagar penghalang: pagar bambu, pagar berduri, parit.” Tidak ada teras. Seperti sebelumnya, kambing dan sapi merusak tanaman-tanaman kecil. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuah teras, suatu jalinan tombak dan duri,  parit dengan tanaman pagar,  sebuah pintu gerbang, sebuah palang-pintu.”  Serbuk rumput jatuh dari teras. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, …  lima (helai) rancangan kain.” Vihara menjadi becek …  “ … saluran air.” ||10||

Pada saat itu Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha ingin membangun sebuah rumah panjang dengan lapisan plester dan lempung untuk Saṅgha. Kemudian para bhikkhu berpikir: “Atap seperti apakah yang diperbolehkan oleh Sang Bhagavā, apakah yang tidak diperbolehkan?” mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, lima (jenia) atap: atap genteng, atap batu, atap berplester, atap rumput-tiṇa, atap dedaunan.”  ||11||3||

Demikianlah Bagian Pengulangan Pertama

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB VI)
« Reply #40 on: 06 March 2012, 11:28:29 PM »
Pada saat itu perumah tangga Anāthapiṇḍika adalah suami dari saudari seorang pedagang (besar) dari Rājagaha. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika pergi ke Rājagaha untuk satu dan lain urusan. Pada saat itu Saṅgha dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpinnya telah diundang untuk makan keesokan harinya oleh pedagang (besar) dari Rājagaha. Kemudian pedagang (besar) dari Rājagaha memerintahkan buak-budak dan pelayan-pelayannya, dengan berkata: “Baiklah, orang-orang baik, bangunlah pagi-pagi, masak bubur, masak nasi,  siapkan  kari, siapkan sayur-mayur.”  Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika berpikir: “Sekarang, ketika aku tiba sebelumnya perumah tangga ini, setelah mengesampingkan segala pekerjaannya, tidak melakuka apapun kecuali bertukar sapa denganku, tetapi sekarang ia sepertinya sibuk dan memerintahkan budak-budak dan pelayan-pelayan, dengan berkata: ‘Baiklah, orang-orang baik … [154] siapkan sayur-mayur.’ Apakah perumah tangga ini akan pergi ke  (rumah pengantin perempuan) atau apakah rombongan akan datang dari  (rumah pengantin prempuan) ataukah sedang mempersiapkan persembahan atau Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha diundang besok bersama dengan para prajuritnya?” ||1||

Kemudian pedagang (besar) dari Rājagaha, setelah memerintahkan para budak dan pelayannya, mendekati perumah tangga Anāthapiṇḍika; setelah mendekat, ia duduk pada jarak yang selayaknya. Perumah tangga Anāthapiṇḍika berkata kepada pedagang (besar) dari Rājagaha saat ia duduk pada jarak yang selayaknya: “Sebelumnya engkau, perumah tangga, saat aku datang, setelah mengesampingkan seluruh pekerjaanmu, tidak melakukan apapun kecuali saling bertukar sapa denganku, tetapi sekarang engkau sepertinya sibuk dan memerintahkan budak-budak dan pelayan-pelayan, dengan berkata: ‘Baiklah, orang-orang baik … siapkan sayur-mayur.’ Apakah engkau akan pergi ke … atau Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha diundang besok bersama dengan para prajuritnya?”

“Tidak ada bagiku, perumah tangga, pergi ke (rumah pengantin perempuan) atau apakah rombongan akan datang dari (rumah pengantin prempuan) atau Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha diundang besok bersama dengan para prajuritnya. Tetapi aku sedang mempersiapkan persembahan besar: Saṅgha diundang besok dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpinnya.”

“Apakah engkau, perumah tangga, mengatakan ‘Yang Tercerahkan?’”

“’Yang Tercerahkan’ aku katakan, perumah tangga.”

“Apakah engkau, perumah tangga, mengatakan ‘Yang Tercerahkan?’”

“’Yang Tercerahkan’ aku katakan, perumah tangga.”

“Apakah engkau, perumah tangga, mengatakan ‘Yang Tercerahkan?’”

“’Yang Tercerahkan’ aku katakan, perumah tangga.”

“Bahkan kata-kata ini, perumah tangga, jarang terdengar di dunia ini, yaitu, ‘Yang Tercerahkan, Yang Tercerahkan.’ Sekarang, apakah mungkin, perumah tangga, pada waktu sekarang ini  untuk pergi menemui Sang Bhagavā, Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna?”

“Sekarang bukanlah waktu yang tepat, perumah tangga, untuk pergi menemui Sang Bhagavā, Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna. Tetapi, besok pagi-pagi engkau boleh pergi menemui Sang Bhagavā, Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna.”

Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, dengan berpikir: “Besok pagi-pagi sekali aku akan menemui Sang Bhagavā … Yang Tercerahkan Sempurna,” berbaring dengan (begitu) penuh perhatian terarah pada Yang Tercerahkan,  sehingga ia terbangun tiga kali pada malam itu menganggap pagi telah tiba. ||2||

Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika mendekati pintu gerbang menuju Hutan Dingin,  dan makhluk-makhluk bukan manusia membukakan pintu gerbang. Kemudian ketika perumah tangga Anāthapiṇḍika telah keluar dari kota, penerangan padam, dan kegelapan muncul; ia ketakutan, [155] merinding  sehingga ia ingin kembali dari sana. Kemudian yakkha Sīvaka, tanpa terlihat, meperdengarkan suaranya:

“Seratus gajah,  seratus kuda, seratus kereta dengan bagal betina,
Seratus gadis berhiaskan anting-anting permata –
Ini tidak sebanding dengan seper enam belas dari panjang langkah.
Majulah, perumah tangga, majulah, perumah tangga.
Maju lebih baik bagimu, bukan mundur.”

Kemudian kegelapan lenyap bagi si perumah tangga Anāthapiṇḍika, cahaya muncul, sehingga ketakutan, merindingnya mereda. Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya yakkha Sīvaka memperdengarkan suaranya: “… Maju lebih baik bagimu, bukan mundur.” Dan untuk ke tiga kalinya kegelapan lenyap bagi si perumah tangga Anāthapiṇḍika, cahaya muncul, sehingga ketakutan, merindingnya mereda. ||3||

Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika mendekati Hutan Dingin. Pada saat itu Sang Bhagavā sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka, setelah bangun pada malam menjelang pagi hari. Kemudian Sang Bhagavā melihat peruma tangga Anāthapiṇḍika datang dari jauh; melihatnya, setelah turun dari tempat berjalan mondar-mandir, Beliau duduk di tempat yang tersedia, dan sambil duduk Sang Bhagavā berkata kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika: “Mari, Sudatta.”  Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, berpikir: “Bhagavā menyapa dengan namaku,” senang, gembira, ia mendekati Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menundukkan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku harap, Bhagavā, bahwa Bhagavā dalam keadaan nyaman.” Beliau berkata:

“Ya, Beliau selalu dalam keadaan nyaman, mencapai Nibbāna,
Yang tidak ternoda oleh nafsu,  sejuk, tanpa kemelekatan.
Setelah mencabik-cabik semua kemelekatan, setelah mengarahkan perhatian batin,
Dengan tenang ia hidup dalam kenyamanan, setelah memenangkan kedamaian pikiran.”  ||4||

Kemudian Sang Bhagavā membabarkan khotbah bertingkat kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika, yaitu khotbah tentang memberi, tentang moralitas, tentang alam surga, Beliau menjelaskan bahaya, kesia-siaan, cacat dari kenikmatan indria, keuntungan dalam meninggalkan(nya). Ketika Sang Bhagavā mengetahui bahwa batin perumah tangga Anāthapiṇḍika telah siap, lentur, bebas dari rintangan, bersemangat, gembira, maka Beliau menjelaskan kepadanya ajaran dhamma yang ditemukan oleh Yang Tercerahkan sendiri: penderitaan, berkembangnya, lenyapnya, dan Sang Jalan. Dan bagaikan kain yang bersih [156] tanpa noda hitam akan dengan mudah diwarnai, demikian pula selagi ia sedang (duduk) di tempat itu juga, penglihatan-dhamma, tanpa-debu, tanpa-noda, muncul dalam diri perumah tangga Anāthapiṇḍika, bahwa “Segala sesuatu pasti berkembang, segala sesuatu pasti berhenti.” Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah melihat dhamma, mencapai dhamma, mengenali dhamma, masuk ke dalam dhamma, setelah melampaui keragu-raguan, setelah mengesampingkan ketidak-pastian, setelah tanpa bantuan orang lain mencapai keyakinan penuh terhadap instruksi Sang Guru, berkata kepada Sang Bhagavā sebagai berikut:

“Mengagumkan, Bhagavā! Menakjubkan, Bhagavā! Bahkan, Bhagavā, bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terbalik, atau mengungkapkan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam kegelapan dengan berpikir, ‘Agar mereka yang memiliki mata dapat melihat bentuk-bentuk,’ demikianlah dhamma telah dijelaskan dalam berbagai cara oleh Sang Bhagavā. Aku, Bhagavā, menyatakan berlindung kepada Sang Bhagavā, kepada dhamma, dan kepada Saṅgha. Sudilah Bhagavā menerimaku sebagai siswa-awam sejak hari ini hingga seumur hidupku. Dan, Bhagavā, sudilah Bhagavā menerima persembahan makanan dariku besok bersama dengan Saṅgha.” Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah memahami penerimaan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, setelah pamit pada Sang Bhagavā, pergi dengan Beliau di sisi kanannya. ||5||

Pedagang (besar) dari Rājagaha mendengar: ‘Dikatakan bahwa Saṅgha yang dipimpin oleh Yang Tercerahkan diundang untuk makan besok oleh perumah tangga Anāthapiṇḍika.” Kemudian sang pedagang (besar) dari Rājagaha berkata kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika: “Dikatakan bahwa Saṅgha yang dipimpin oleh Yang Tercerahkan diundang untuk makan besok olehmu besok, perumah tangga. Tetapi engkau adalah tamu.  Aku dapat memberikan kepadamu, perumah tangga, segala perlengkapan yang dengannya engkau dapat membuat makanan untuk Saṅgha dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpinnya.”

“Terima kasih, perumah tangga, tetapi aku memiliki perlengkapan sendiri yang dengannya aku dapat membuat makanan untuk Saṅgha dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpinnya.”

Dewan negara Rājagaha medengar: “Saṅgha yang dipimpin oleh Yang Tercerahkan diundang untuk makan besok oleh perumah tangga Anāthapiṇḍika.” Kemudian dewan negara Rājagaha berkata kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika: “Dikatakan bahwa Saṅgha … Kami dapat memberikan kepadamu, perumah tangga, segala perlengkapan yang dengannya engkau dapat membuat makanan untuk Saṅgha dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpinnya.”

“Terima kasih, Tuan-tuan, tetapi aku memiliki perlengkapan sendiri yang dengannya aku dapat membuat makanan untuk Saṅgha dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpinnya.”

Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha mendengar: “Saṅgha …” …

“Terima kasih, Baginda, tetapi aku memiliki perlengkapan sendiri yang dengannya aku dapat membuat makanan untuk Saṅgha dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpinnya.” ||6||

Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah mempersiapkan makanan mewah, keras dan lunak, yang dipersiapkan pada akhir malam itu di kediaman si pedagang (besar) dari Rājagaha. [157] mengumumkan waktunya kepada Sang Bhagavā, dengan berkata: “Waktunya telah tiba, Bhagavā, makanan telah siap.” Kemudian Sang Bhagavā, setelah merapikan jubahnya di pagi hari, membawa mangkuk dan jubahnya, mendatangi kediaman si pedagang (besar) dari Rājagaha; setelah tiba, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan bersama dengan para bhikkhu. Perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah dengan tangannya sendiri melayani Saṅgha dengan Sang Bhagavā sebagai pemimpin dengan makanan-makanan mewah, keras dan lunak, ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menarik tanganNya dari mangkuk, ia duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya, perumah tangga Anāthapiṇḍika berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhagavā, sudilah Bhagavā menerima persembahan tempat tinggal selama musim hujan  dariku di Sāvatthī bersama dengan para bhikkhu.”

“Tetapi, perumah tangga, Pencari-kebenaran menyukai tempat-tempat sepi.”

“Dimengerti, Bhagavā, dimengerti, Yang Sempurna.” Kemudian Sang Bhagavā, setelah menyenangkan, menggembirakan, membangkitkan semangat perumah tangga Anāthapiṇḍika dengan khotbah dhamma, bangkit dari duduknya, pergi. ||7||

Pada saat itu perumah tangga Anāthapiṇḍika memiliki banyak sahabat, banyak teman, kata-katanya berbobot.  Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah mengakhiri urusannya di Rājagaha, pulang ke Sāvatthī. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika memerintahkan orang-orang di sepanjang perjalanan, dengan berkata: “Tuan-tuan, bangunlah vihara, persiapkan tempat-tempat tinggal, lengkapi dengan persembahan; Yang Tercerahkan telah muncul di dunia ini, dan Sang Bhagavā ini, diundang olehku, akan datang melalui sepanjang jalan ini.”

Kemudian orang-orang ini, didorong oleh perumah tangga Anāthapiṇḍika, membangun vihara-vihara, mempersiapkan tempat-tempat tinggal, melengkapinya dengan persembahan-persembahan. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah sampai di Sāvatthī, melihat-lihat di seluruh Sāvatthī, berpikir : “Sekarang di manakah Sang Bhagavā akan menetap yang tidak terlalu jauh dari desa, juga tidak terlalu dekat, mudah untuk datang dan pergi, mudah dikunjungi oleh orang-orang kapanpun mereka inginkan, tidak ramai di siang hari, tidak berisik di malam hari, sedikit suara, tanpa nafas terengah-engah para penduduk, terasing dari banyak orang, cocok untuk bermeditasi?” ||8||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB VI)
« Reply #41 on: 06 March 2012, 11:29:12 PM »
Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika melihat hutan rekreasi Pangeran Jeta, tidak terlalu jauh dari desa … cocok untuk bermeditasi, dan melihatnya, ia mendatangi Pangeran Jeta; setelah datang ia berkata kepada Pangeran Jeta: “berikanlah kepadaku, Tuan muda, hutan rekreasi untuk dijadikan vihara.”

“Hutan rekreasi tidak akan diberikan, perumah tangga, bahkan dengan harga seratus ribu.”

“Tuan muda, vihara itu dibeli.”

“Vihara tidak dibeli, perumah tangga.” Mereka menanyakan kepada Menteri Keadilan,  dengan mengatakan: “Apakah vihara itu dibeli atau tidak dibeli?” menteri itu berkata: [158] “Vihara itu dibeli dengan harga yang telah engkau tentukan, Tuan muda.” Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah membawa koin-koin emas  dengan menggunakan kereta, menutupi seluruh Hutan Jeta dengan nilai seratus ribu.  ||9||

Koin-koin emas yang dibawa pertama tidak mencukupi untuk menutup sepetak kecil di dekat teras. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika memerintahkan orang-orang, dengan berkata: “Kembalilah, orang-orang baik, bawa (lebih banyak lagi) koin-koin emas, aku akan menebarkannya menutupi bagian yang terbuka ini.” kemudian Pangeran Jeta berpikir: “Ini bukan karena persoalan biasa  sehingga perumah tangga ini menghabiskan begitu banyak koin emas,” dan ia berkata sebagai berikut kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika:

“Cukup, perumah tangga; biar aku saja yang menutup bagian terbuka ini, berikan bagian terbuka ini untukku, aku akan menyerahkan persembahanku.”

Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika berpikir: “Pangeran Jeta adalah seorang yang terkenal, termashyur; tentu saja keyakinannya dalam dhamma dan disiplin dari seorang yang terkenal sepertinya akan sangat efektif,”  mengalihkan bagian terbuka itu untuk Pangeran Jeta. Kemudian Pangeran Jeta membangun sebuah teras  di tempat terbuka itu. Perumah tangga Anāthapiṇḍika membangun tempat-tempat tinggal, ia membangun kamar-kamar … teras-teras … aula-aula pertemuan … ruang perapian … gubuk-gubuk untuk apa yang diperbolehkan … jamban-jamban … tempat berjalan mondar-mandir … sumur-sumur … ruangan dalam sumur … kamar mandi … ruangan di dalam kamar mandi … kolam-kolam teratai … ia membangun gudang-gudang. ||10||4||

Kemudian Sang Bhagavā, setelah menetap di Rājagaha selama yang Beliau kehendaki, pergi menuju Vesālī. Akhirnya, dengan berjalan kaki dalam perjalanan itu, Beliau tiba di Vesālī. Sang Bhagavā berdiam di aula beratap lancip. Pada saat itu orang-orang sedang melakukan perbaikan dengan saksama untuk para bhikkhu yang memerlukan perbaikan dan mereka juga melayani dengan saksama, dengan kebutuhan-kebutuhan jubah, makanan, tempat tinggal dan oat-obatan bagi yang sakit. Kemudian seorang penjahit miskin berpikir: “Sekarang ini tentu bukan persoalan biasa sehingga orang-orang ini melakukan perbaikan dengan saksama. Bagaimana jika aku juga melakukan perbaikan?” kemudian penjahit miskin itu, setelah mengadon lempung, setelah menumpuk bata, mendirikan tembok ranting dan dicat dengan tidak rapi. Tetapi karena ia tidak ahli, tumpukan itu miring dan tembok itu rubuh. Dan untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya … tembok itu rubuh. ||1||

Kemudian penjahit miskin itu … menyebarkan, dengan mengataka: “Para petapa ini, [159] para putera Sakya, menasihati, menginstruksikan mereka yang mempersembahkan jubah, makanan, tempat tinggal, obat-obatan bagi yang sakit, dan mereka yang melakukan perbaikan untuk mereka. Tetapi aku miskin. Tidak ada yang menasihati, menginstruksikan atau mengharapkan perbaikan dariku.” Para bhikkhu mendengar kata-kata penjahit miskin itu ketia ia … meyebarkan. Kemudian para bhikkhu itu mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā dalam kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah membabarkan khotbah, berkata kepada para bhikkhu:

“Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menyerahkan tanggung jawab perbaikan pada (seorang bhikkhu).  Bhikkhu yang bertanggung jawab atas perbaikan harus berusaha,  memikirkan, ‘Bagaikanakah agar tempat-tempat tinggal ini cepat diselesaikan?’ dan ia harus memulihkan bagian-bagian yang rusak.  ||2||

“Dan beginilah, para bhikkhu, mereka diserahi tanggung jawab: Pertama, seorang bhikkhu harus diminta; setelah diminta, Saṅgha harus diberitahu oleh seorang bikkhu yang berpengalaman dan berkompeten, yang mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Jika baik menurut Saṅgha, biarlah Saṅgha menyerahkan tanggung jawab perbaikan tempat tinggal perumah tangga itu kepada bhikkhu itu. ini adalah usul. Yang Mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Saṅgha menyerahkan tanggung jawab perbaikan … kepada bhikkhu itu. jika penyerahan tanggung jawab kepada bhikkhu itu, atas perbaikan tempat tinggal perumah tangga itu, sesuai keinginan Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menginginkan silahkan berbicara. Perbaikan tempat tinggal perumah tangga itu diserahkan kepada bhikkhu itu. ini sesuai kehendak Saṅgha; oleh karena itu Saṅgha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini’.” ||3||5||

Kemudian Sang Bhagavā, setelah menetap di Vesālī selama yang Beliau kehendaki, pergi menuju Sāvatthī. Pada saat itu para bhikkhu yang adalah siswa dari Kelompok Enam Bhikkhu, setelah berjalan di depan para bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Tercerahkan, menguasai tempat-tempat tinggal, mereka menguasai tempat-tempat tidur, dengan mengatakan: “Ini untuk penahbis kami, ini untuk guru kami, ini untuk kami.” Kemudian Yang Mulia Sāriputta, yang berjalan di belakang para bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Tercerahkan, tidak mendapatkan tempat tidur – tempat-tempat tinggal telah dikuasai, tempat-tempat tidur telah dikuasai – duduk di bawah sebatang pohon. Kemudian Sang Bhagavā, bangun pada malam hari menjelang pagi itu, batuk. Yang Mulia Sāriputta juga batuk.

“Siapakah di sana?”

“Ini Aku, Bhagavā, Sāriputta.”

“Mengapa engkau duduk di sini, Sāriputta?” kemudian Yang Mulia Sāriputta memberitahukan persoalannya kepada Sang Bhagavā.  ||1||

Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah mengumpulkan para bhikkhu, bertanya kepada para bhikkhu: “Benarkah, dikatakan, para bhikkhu, [160] bahwa para bhikkhu yang adalah murid-murid … ‘ … ini untuk kami’?”

“Benar, Bhagavā.” Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā menegur mereka dengan mengatakan:

“Bagaimana mungkin, para bhikkhu, orang-orang dungu ini, setelah berjalan di depan … mengatakan ‘ … ini untuk kami’? ini bukanlah, para bhikkhu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …” dan setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Siapakah, para bhikkhu, yang layak mendapatkan tempat duduk terbaik, Air terbaik  (untuk mencuci), persembahan terbaik?” Beberapa bhikkhu menjawab: “Siapapun, Bhagavā, yang meninggalkan keduniawian dari keluarga mulia, ia layak menerima … persembahan terbaik.” Beberapa bhikkhu menjawab: “Siapapun, Bhagavā, yang meninggalkan keduniawian dari keluarga brahmana … “Siapapun, Bhagavā, yang meninggalkan keduniawian dari keluarga perumah tangga … Siapapun, Bhagavā, yang mengetahui suttanta … yang menguasai disiplin … yang merupakan guru dhamma … yang memiliki meditasi pertama  … yang memiliki meditasi ke dua … yang memiliki meditasi ke tiga … yang memiliki meditasi ke empat … yang adalah seorang pemasuk-arus … yang adalah seorang yang-kembali-sekali … yang adalah seorang yang-tidak-kembali … yang sempurna … seorang dengan tiga kebijaksanaan … seorang dengan enam pengetahuan, ia layak menerima tempat duduk terbaik, air terbaik (untuk mencuci), persembahan terbaik.” ||2||

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Sebelumnya,  para bhikkhu, dulu terdapat sebatang pohon banyan besar di lereng Himalaya. Tiga sahabat menetap di sana: seekor ayam hutan, seekor monyet, dan gajah besar. Mereka hidup dengan ramah, saling menghormati, sopan  antara satu dengan yang lain. Kemudian, para bhikkhu, para sahabat ini berpikir: ‘Sekarang mari kita mencari tahu siapa di antara kita yang paling tua berdasarkan kelahiran. Kita harus menghormatinya dan menuruti nasihatnya.’ Kemudian, para bhikkhu, ayam hutan dan monyet bertanya kepada gajah: ‘Engkau, sahabat, hal paling lama apakah yang engkau ingat?’

“’Ketika aku, sahabat, masih muda aku biasanya melangkahi pohon banyan ini di antara kedua kakiku, dan pucuk yang paling atas menyentuh perutku. Ini, sahabat, adalah hal paling lama yang kuingat.”

“Kemudian, para bhikkhu, ayam hutan dan gajah bertanya kepada monyet: ‘Engkau, sahabat, hal paling lama apakah yang engkau ingat?’

“’Ketika aku, sahabat, masih muda aku duduk di tanah, aku biasanya memakan pucuk pohon banyan ini. Ini, sahabat, adalah hal paling lama yang kuingat.”

“Kemudian, para bhikkhu, monyet dan gajah bertanya kepada ayam hutan: ‘Engkau, sahabat, hal paling lama apakah yang engkau ingat?’

“’Sahabat, di suatu ruang terbuka terdapat sebatang pohon banyak besar. Aku, setelah memakan salah satu buahnya, kemudian buang air di tempat itu, dan pohon banyak ini tumbuh dari situ. Jadi, sahabat-sahabat, aku adalah yang tertua berdasarkan kelahiran” [161]

“Kemudian, para bhikkhu, monyet dan gajah itu berkata kepada ayam-hutan: ‘Engkau sahabat, adalah yang tertua berdasarkan kelahiran. Kami akan menghormatimu dan menuruti nasihatmu.’

“Kemudian, para bhikkhu, ayam hutan itu menasihati minyet dan gajah untuk menlaksanakan lima kebiasaan bermoral dan ia juga turut melaksanakan lima kebiasaan bermoral. Mereka setelah hidup dalam keramahan, saling menghormati, sopan antara satu dengan yang lain, pada saat hancurnya jasmani setelah kematian terlahir kembali di alam bahagia, alam surga. Ini, para bhikkhu, dikenal sebagai perjalanan-Brahma ayam hutan.”

“Mereka yang menghormati yang lebih tua – mereka adalah ahli dalam dhamma,
Layak dipuji di sini dan saat ini dan terlahir di alam bahagia setelah kematian. ||3||

“Maka, para bhikkhu, jika binatang, yang bernafas, dapat hidup dengan ramah, saling menghormati, sopan antara satu dengan yang lain, demikian pula kalian, biarlah cahayamu bersinar di sini, dehingga kalian, yang meninggalkan keduniawian dalam dhamma dan disiplin yang telah dibabarkan dengan sempurna, hidup seperti demikian, ramah, saling menghormati, sopan antara satu dengan yang lain. Ini bukanlah, para bhikkhu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …” setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Aku mengizinkan, para bhikkhu, menyapa, bangkit dari duduk, merangkapkan tangan sebagai penghormatan, memberi hormat selayaknya, tempat duduk terbaik, air terbaik (untuk mencuci), persembahan terbaik menurut senioritas. Tetapi, para bhikkhu, apapun yang menjadi milik Saṅgha tidak boleh diberikan menurut senioritas. Siapapun yang melakukan (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. ||4||

“Para bhikkhu, terdapa sepuluh ini yang tidak perlu disapa: seorang yang ditahbiskan belakangan tidak perlu disapa oleh orang yang ditahbiskan lebih dulu; seorang yang tidak ditahbiskan tidak perlu disapa; seorang yang berasal dari komunitas lain tidak perlu disapa (bahkan) jika ia lebih senior (namun) mengatakan apa yang bukan-dhamma; seorang perempuan tidak perlu disapa; seorang kasim … seorang dalam masa percobaan   … seorang yang layak dikembalikan ke awal  … seseorang yang layak menerima mānatta … seorang yang sedang melaksanakan mānatta … seorang yang layak menerima rehabilitasi tidak perlu disapa. Ini, para bhikkhu, adalah sepuluh yang tidak perlu disapa. Tiga ini, para bhikkhu, adalah harus disapa: seorang yang ditahbiskan lebih dulu harus disapa oleh orang yang ditahbiskan belakangan; seorang yang berasal dari komunitas lain harus disapa (bahkan) jika ia lebih senior dan mengatakan apa yang merupakan dhamma ; dan, para bhikkhu, seorang Penemu-Kebenaran, Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna,  harus disapa di dunia ini bersama dengan para deva, bersama dengan Māra dan para Brahmā, oleh makhluk-makhluk dengan para petapa dan brahmana, dengan para deva dan manusia. Tiga ini, para bhkkhu, harus disapa. ||5||6||

Pada saat itu orang-orang mempersiapkan tempat bernaung untuk para bhikkhu, mereka mempersiapkan selimut, mereka mempersiapkan lahan. [162] para bhikkhu yang adalah murid-murid dari Kelompok Enam Bhikkhu  berkata: “Hanya apa yang menjadi milik Saṅgha yang tidak diperbolehkan menurut senioritas oleh Sang Bhagavā, bukan apa yang dibuat untuk tujuan diserahkan kepada Saṅgha,” setelah berjalan di depan para bhikkhu uang dipimpin oleh Yang Tercerahkan, mereka menguasai selimut, menguasai lahan, berpikir: “Ini untuk penahbis kami, ini untuk guru kami, ini untuk kami.” Kemudian Yang mulia Sāriputta, yang berjalan di belakang para bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Tercerahkan, tidak berkesempatan mendapatkan lahan terbuka – lahan telah dikuasai, selimut telah dikuasai. duduk di bawah sebatang pohon. Kemudian Sang Bhagavā, bangun pada malam hari menjelang pagi itu, batuk. Yang Mulia Sāriputta juga batuk.

“Siapakah di sana?”

“Ini Aku, Bhagavā, Sāriputta.”

“Mengapa engkau duduk di sini, Sāriputta?” kemudian Yang Mulia Sāriputta memberitahukan persoalannya kepada Sang Bhagavā.  Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah mengumpulkan para bhikkhu, bertanya kepada para bhikkhu: “Benarkah, dikatakan, para bhikkhu …’ … setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, bahkan apa yang dibuat untuk tujuan dipersembahkan kepada Saṅgha tidak boleh dikuasai menurut senioritas. Siapapun yang menguasai (demikian) maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||7||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB VI)
« Reply #42 on: 06 March 2012, 11:29:49 PM »
Pada saat itu di dalam ruang makan di sebuah rumah perumah tangga tersedia benda-benda tinggi dan lebar untuk bersandar, yaitu:  sofa,  dipan, penutup kasur berbulu, penutup kasur dari wol bertabur bunga, selimut katun, penutup kasur wol bercorak binatang, kain penutup dari wol yang berbulu di sisi atas, kain penutup dari wol yang berbulu di satu sisi, selimut sutera bertatahkan permata, selimut terbuat dari benang sutera bertatahkan permata, karpet penari, selimut gajah, selimut kuda, selimut kereta, selimut dari kulit rusa hitam, selimut mewah dari kulit rusa-kadali. Selimut dengan atap di atasnya, dipan dengan bantal merah di kedua ujungnya. Para bhikkhu, karena takut melakukan pelanggaran, tidak mendudukinya.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, kecuali tiga hal: sofa, dipan, selimut katun, untuk menduduki apa yang disediakan oleh perumah tangga, tetapi tidak berbaring di atasnya.”

Pada saat itu di dalam ruang makan di sebuah rumah perumah tangga tersedia dipan dan kursi, keduanya ditutupi dengan katun.  Para bhikkhu, karena takut melakukan pelanggaran, tidak mendudukinya. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menduduki apa yang disediakan oleh perumah tangga, tetapi tidak berbaring di atasnya.”  ||8||

Kemudian Sang Bhagavā, berjalan kaki dalam perjalanan itu, akhirnya tiba di Sāvatthī. Di Sāvatthī Sang Bhagavā menetap [163] di Hutan Jeta di Vihara Anāthapiṇḍika. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika menghadap Sang Bhagavā; setelah menghadap, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya perumah tangga Anāthapiṇḍika berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhagavā, sudilah Bhagavā menerima persembahan makanan dariku besok bersama dengan para bhikkhu.” Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah memahami persetujuan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya dan pergi dengan Beliau di sisi kanannya. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah mempersiapkan makanan-makanan mewah, keras dan lunak, yang dipersiapkan pada malam menjelang pagi hari itu, mengumumkan waktunya kepada Sang Bhagavā dengan mengatakan: “Sudah waktunya, Bhagavā, makanan telah siap.” Kemudian Sang Bhagavā, setelah merapikan jubahnya di pagi hari, membawa mangkuk dan jubahnya, mendatangi kediaman perumah tangga Anāthapiṇḍika; setelah sampai, Beliau duduk di tempat yang telah disediakan bersama dengan para bhikkhu. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah dengan tangannya sendiri melayani Saṅgha dengan Yang Tercerahkan sebagai pemimpin dengan makanan-makanan mewah, keras dan lunak, ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menarik tanganNya dari mangkukNya, duduk pada jarak yang selayaknya. Sambil duduk pada jarak yang selayaknya perumah tangga Anāthapiṇḍika berkata kepada Sang Bhagavā: “Peraturan apakah yang haru kuikuti, Bhagavā, sehubungan dengan Hutan Jeta ini?”
 
“Perumah tangga, persiapkanlah Hutan Jeta ini (untuk digunakan) oleh Saṅgha di empat penjuru,  saat ini dan di masa depan.”

“Baik, Bhagavā,” dan perumah tangga Anāthapiṇḍika, setelah menjawab Sang Bhagavā, mempersiapkan Hutan Jeta (untuk digunakan) oleh Saṅgha di empat penjuru, saat ini dan di masa depan. ||1||

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan terima kasih kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika dalam syair-syair berikut ini:

“Mereka mengusir dingin dan panas dan binatang-binatang buas dari sana …
Ia, memahami dhamma itu di sini, mencapai Nibbāna, tanpa noda.” [164]

Kemudian Sang Bhagavā, setelah mengucapkan terima kasih kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika dalam syair-syair ini, bangkit dari dudukNya dan pergi. ||2||9||

Pada saat itu seorng menteri kerajaan yang adalah murid para petapa telanjang mempersembahkan makanan kepada Saṅgha. Yang Mulia Upananda, putera Sakya, setelah tiba sebelum (yang lainnya) selagi makanan masih belum siap, membubarkan bhikkhu yang berada di sebelahnya,  dan terjadi kegaduhan di ruang makan. Kemudian menteri kerajaan itu … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para petapa ini, para putera Sakya, setelah tiba sebelum (yang lainnya) membubarkan para bhikkhu ketika makanan belum siap sehingga terjadi kegaduhan di ruang makan? Sekarang, apakah tidak mungkin, bahkan duduk di suatu tempat, makan sebanyak yang diinginkan seseorang?” Para bhikkhu mendengar kata-kata si menteri kerajaan sewaktu ia … menyebarkan. Para bhikkhu lain … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin Yang Mulia Upananda, putera Sakya, setelah tiba sebelum (yang lainnya), membubarkan bhikkhu yang berada di sebelahnya ketika makanan belum siap sehingga terjadi kegaduhan di ruang makan?” Kemudian para bhkkhu ini mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Benarkah, dikatakan, bahwa engkau, Upananda, setelah tiba … di ruang makan?”

“Benar, Bhagavā.” YanG Tercerahkan, Sang Bhagavā menegurnya dengan mengatakan:

“Bagaimana mungkin engkau, orang dungu, setelah tiba … di ruang makan? Itu bukanlah, orang dungu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …” Setelah menegurnya, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, seorang bhkkhu tidak boleh membubarkan (bhikkhu lain) selagi makanan belum siap. Siapapaun yang membubarkan (yang lainnya) maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Jika ia membubarkan (orang lain) yang diundang (untuk makan), ia harus diberitahu, ‘Pergilah ambil air.’ Jika ini dilakukan demikian, maka itu bagus; jika tidak, setelah menelan sesuap nasi, tempat duduknya harus diberikan kepada bhikkhu senior. Tetapi ini Aku katakan, para bhikkhu: bahwa tidak dengan cara apapun juga sebuah tempat duduk diberikan kepada seorang bhikkhu senior. Siapapun yang melakukannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengusir para bhikkhu yang sakit. Para bhikkhu yang sakit berkata: “Kami, Yang Mulia, tidak mampu bangkit, kami sakit.” Dengan berkata, “Kami akan mengusir Yang Mulia,” setelah mencengkeram lengan mereka, setelah mengusir mereka, mereka melepaskan (mereka) selagi masih berdiri. Para bhikku yang sakit, ketika dilepaskan, terjatuh. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, seseorang yang sakit tidak boleh diusir. Siapapun yang mengusirnya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam [165] Bhikkhu, dengan berkata: “Kami sakit, kami tidak bisa diusir,” menguasai tempat-tempat tidur. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memberikan temoat tidur yang layak bagi mereka yang sakit.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menguasai tempat-tempat tinggal dengan alasan-alasan (remeh).  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, tempat tinggal tidak boleh dikuasai atas alasan(remeh). Siapapun yang menguasai (deikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||2||10||

Pada saat itu Kelompok Tujuh belas Bhikkhu  sedang memperbaiki sebuah tempat tinggal yang besar di lingkungan tersebut, dengan pikiran: “Kami akan melewatkan musim hujan di sini.” Kelompok Enam Bhikkhu melihat Kelompok Tujuh belas Bhikkhu sewaktu mereka sedang memperbaiki tampat tinggal itu, dan melihat mereka, mereka berkata:

“Yang Mulia, Kelompok Tujuh belas Bhikkhu sedang memperbaiki sebuah tempat tinggal. Ayo, kita akan mengusir mereka.”

Yang lain berkata: “Tunggu, Yang Mulia, tunggu hingga mereka telah memperbaikinya; ketika telah diperbaiki, kita akan mengusir mereka.” Kemudian Kelompok Enam Bhikkhu berkata kepada Kelompok Tujuh belas Bhikkhu: “Pergilah, Yang mulia, tempat tinggal ini telah kami peroleh.”

“Yang Mulia, Mengapa ini tidak diberitahukan sebelumnya, dan kami akan memperbaiki yang lain?”

“Yang Mulia, bukankah tempat tinggal adalah milik Saṅgha?”

“Benar, Yang Mulia, tempat tinggal adalah milik Saṅgha.”

“Pergilah, Yang mulia, tempat tinggal ini telah kami peroleh.”

“Yang Mulia, tempat tinggal ini besar; kalian bisa tinggal, dan kami juga akan tinggal.”

“Pergilah, Yang mulia, tempat tinggal ini telah kami peroleh.” Dan marah, tidak senang, setelah mencengkeram leher mereka, mereka melemparkan mereka keluar. Para bhikkhu itu, yang terlempar keluar, menangis. Para bhikkhu berkata:

“Mengapa kalian, Yang Mulia, menangis?”

“Yang Mulia, Kelompok Enam Bhikkhu ini, marah, tidak senang, melempar kami keluar dari tempat tinggal milik Saṅgha. Para bhikkhu itu mencela, mengkritikm dan menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin Kelompok Enam Bhikkhu ini, karena marah, tidak senang, melempar para bhikkhu keluar dari tempat tinggal milik Saṅgha?” Kemudian para bhikkhu ini mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Benarkah, dikatakan, para bhikkhu, bahwa Kelompok Enam Bhikkhu, karena marah, tidak senang, melempar para bhikkhu keluar dari tempat tinggal milik Saṅgha?”

“Benar, Bhagavā.”  Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak boleh dilemparkan kelaur dari tempat tinggal milik Saṅgha oleh seseorang yang marah, tidak senang. Siapapun yang melemparkannya (demikian) harus diperlakukan menurut aturan.  Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membagi  tempat-tempat tinggal.” ||1||

Kemudian para bhikkhu berpikir: “Sekarang oleh siapakah tempat-tempat tinggal dibagikan?”

Mereka mengadukan hal itu kepada Sang Bhagavā. [166] Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang memiliki lima kualitas sebagai pembagi tempat-tempat tinggal:  seorang yang tidak akan menuruti jalan salah  melalui keinginan, seorang yang tidak akan menuruti jalan salah melalui kebencian, seorang yang tidak akan menuruti jalan salah melalui kebodohan, seorang yang tidak akan menuruti jalan salah melalui ketakutan, dan seorang yang akan mengetahui apa yang diambil dan apa yang tidak diambil. Dan beginilah, para bhikkhu, seharusnya ia ditunjuk: Pertama, seorang bhikkhu harus diminta. Setelah memintanya, Saṅgha harus diberitahu oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya, biarlah Saṅgha menunjuk bhikkhu itu sebagai pembagi tempat-tempat tinggal. Ini adalah usul. Yang mulia, mohon Saṅgha mendengarkan saya. Saṅgha menyetujui bhikkhu itu sebagai pembagi tempat-tempat tinggal. Jika penunjukan bhikkhu itu sebagai pembagi tempat-tempat tinggal sesuai dengan keinginan Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menginginkan silahkan berbicara. Bhikkhu itu ditunjuk oleh Saṅgha sebagai pembagi tempat-tempat tinggal. Ini sesuai keinginan Sangha, karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini’.” ||2||

Kemudian para bhikkhu yang menjadi pembagi tempat-tempat tinggal berpikir: “Sekarang, bagaimanakah tempat-tempat tinggal ini dibagi?” mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, pertama menghitung jumlah bhikkhu; setelah menghitung jumlah bhikkhu, kemudian menghitung jumlah tempat tidur;  setelah menghitung jumlah tempat tidur, kemudian membagikan sesuai akomodasi pada tempat-tempat tidur itu.”  membagi menurut akomodasi pada tempat-tempat tidur (beberapa) tempat tidur tersisa.  “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membagi menurut akomodasi dalam kamar.”  Membagi menurut akomodasi dalam kamar (beberapa) kamar tersisa. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memberikan tambahan  juga.”

Ketika kamar tambahan telah ditempat seorang bhikkhu lain datang. “Tidak perlu diberikan (kepadanya jika si penghuni) tidak menghendaki.”

Pada saat itu para bhikkhu memberikan tempat tinggal kepada seorang yang berada di luar batas. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā Beliau berkata: “Para bhikkhu, tempat tinggal tidak boleh diberikan kepada seseorang yang berada di luar batas. Siapapun yang memberikannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu, setelah menempati tempat-tempat tinggal, menguasainya selamanya. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā Beliau berkata: “Para bhikkhu, setelah menempati suatu tempat tinggal, tidak boleh menguasainya selamanya. Siapapun yang melakukannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menguasainya selama tiga bulan pada musim hujan tetapi tidak menguasainya selama musim kering,”

Kemudian para bhikkhu berpikir: “Sekarang, berapa kalikah pembagian tempat-tempat tinggal dilakukan?” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā Beliau berkata: “Para bhikkhu, ada tiga kali pembagian tempat-tempat tinggal: pertama,  ke dua,  dan di antaranya.   Pembagian pertama adalah hari berikut setelah hari purnama bulan Āsāḷha; pembagian ke dua adalah pada bulan berikutnya setelah hari purnama bulan Āsaḷha; pembagian di antaranya adalah hari berikutnya setelah Undangan, dengan merujuk pada masa vassa berikutnya. Ini, para bhikkhu, adalah tiga kali pembagian tempat-tempat tinggal.” ||4||11||

Demikianlah Bagian Pengulangan Ke Dua    [167]

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB VI)
« Reply #43 on: 06 March 2012, 11:31:05 PM »
Pada saat itu Yang Mulia Upananda, putera Sakya, setelah menempati suatu tempat tinggal di Sāvatthī, pergi ke beberapa tempat tinggal di desa lain dan menempati tempat tinggal di sana juga. Kemudian para bhikkhu berpikir: “Sekarang Yang Mulia, Yang Mulia Upananda, putera Sakya, pembuat pertikaian, pembuat pertengkaran, pembuat perdebatan, pembuat perselisihan, pembuat pertanyaan resmi terhadap Saṅgha. Jika ia akan melewatkan musim hujan di sini, tidak seorangpun dari kita yang akan hidup dengan nyaman. Ayo, mari kita tanya dia.” Kemudian para bhikkhu ini berkata kepada Yang Mulia Upananda, putera Sakya: “Bukankah engkau, Yang Mulia Upananda, menempati tempat tinggal si Sāvatthī?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Tetapi apakah engkau, Yang Mulia Upananda, (walaupun) sendirian menguasai dua (tempat tinggal)?”

“Aku, Yang Mulia, melepaskan yang di sana dan menempati yang di sini.” Para bhikkhu lain … menyebarkan dengan mengatakan:

“Bagaimana mungkin Yang Mulia Upananda, putera Sakya, (walaupun) sendirian menguasai dua (tempat tinggal)?” mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā dalam kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah mengumpulkan para bhikkhu, menanyai Yang Mulia Upananda, putera Sakya, sebagai berikut:

“Benarkah, dikatakan, bahwa engkau, Upananda … (tempat tinggal)?”

“Benar, Bhagavā.” Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā menegurnya dengan berkata:

“Bagaimana mungkin engkau, manusia dungu, (walaupun) sendirian menguasai dua (tempat tinggal)? Yang engkau tempati di sana, manusia dungu, hilang di sini,  yang engkau tempati di sini hilang di sana. Dengan demikian engkau, orang dungu, kehilangan keduanya. Itu bukanlah, orang dungu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …” …                    setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, dua (tempat tinggal) tidak boleh dikuasai oleh satu (bhikkhu). Siapapun yang menguasainya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||12||

Pada saat itu Sang Bhagavā  dalam berbagai cara membabarkan khotbah tentang disiplin kepada para bhikkhu, Beliau memuji disiplin, Beliau memuji kesempurnaan dalam disiplin, Beliau memuji Yang Mulia Upāli, merujuk (padanya) lagi dan lagi. Para bhikkhu berkata: “Sang Bhagavā dalam berbagai cara membabarkan khotbah tentang disiplin ... Beliau memuji Yang Mulia Upāli, merujuk (padanya) lagi dan lagi. Ayo, Yang Mulia, mari kita belajar disiplin dari Yang Mulia Upāli. Dan mereka, banyak bhikkhu – bhikkhu senior, yang baru ditahbiskan, dan dan yang menengah – mempelajari displin dari Yang Mulia Upāli. Yang Mulia Upāli, karena meghormati bhikkhu senior, membacakan sambil berdiri, dan juga para bhikkhu senior berdiri, karena menghormati dhamma,  yang dibabarkan sambil berdiri, sehingga para bhikkhu senior itu letih demikian pula dengan Yang Mulia Upāli. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, [168] ketika seorang bhikkhu yang baru ditahbiskan membacakan dhamma, duduk di tempat duduk yang sama (tinggi) atau lebih tinggi untuk menghormati dhamma; ketika seorang bhikkhu senior yang membacakannya, duduk di tempat yang sama (tinggi) atau lebih rendah untuk menghormati dhamma.” ||1||

Pada saat itu banyak bhikkhu yang berdiri di dekat Yang Mulia Upāli menjadi lelah menunggu pembacaan selesai. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk duduk bersama dengan mereka yang berhak duduk dengan (tinggi) yang sama.” Kemudian para bhikkhu itu berpikir: “Sekarang, siapakah yang dimaksud dengan yang berhak duduk dengan (tinggi) yang sama?” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk duduk bersama dengan mereka yang berselisih tiga tahun dari masa kebhikkhuan kalian.”

Pada saat itu beberapa bhikkhu yang berhak duduk sama (tinggi) setelah duduk di dipan, mematahkan dipan; setelah duduk di kursi, mereka mematahkan kursi. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuh dipan untuk sekelompok yang terdiri dari tiga (orang), sebuh kursi untuk sekelompok yang terdiri dari tiga (orang).” Tetapi sekelompok yang terdiri dari tiga (orang) setelah duduk di dipan, mematahkan dipan; setelah duduk di kursi, mereka mematahkan kursi. “Aku mengizinkan, para bhikkhu, sebuh dipan untuk sekelompok yang terdiri dari dua (orang), sebuh kursi untuk sekelompok yang terdiri dari dua (orang).”

Pada saat itu para bhikkhu (terlalu) takut melakukan pelanggaran untuk duduk pada sebuah bangku panjang bersama dengan mereka yang tidak berhak duduk sama (tinggi). Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, kecuali dengan kasim, perempuan, atau hermafrodit, untuk duduk pada sebuah bangku panjang bersama dengan mereka yang tidak berhak duduk sama (tinggi).” Kemudian para bhikkhu berpikir: “Sekarang, berpakah panjang maksimum dari sebuah ‘bangku panjang’?”

“Aku mengizinkan, para bhikkhu, panjang maksimum dari sebuah ‘bangku panjang’ sepanjang berapapun yang cukup untuk (diduduki) oleh tiga (orang).” ||2||13||

Pada saat itu Visākhā, ibu Migāra, ingin membangun sebuah rumah panjang dengan beranda berjenis “kuku-gajah” untuk dipersembahkan kepada Saṅgha. Kemudian para bhikkhu berpikir: “perabotan rumah panjang apakah yang diperbolehkan oleh Sang Bhagavā, apakah yang tidak diperbolehkan?” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan, para bhikkhu, semua perabotan rumah panjang.”

Pada saat itu nenek Raja Pasenadi dari Kosala meninggal dunia.  Ketika meninggal dunia banyak benda-benda yang tidak diperbolehkan diperoleh oleh Saṅgha, yaitu,  sofa, dipan … selimut katun … dipan dengan bantal merah di kedua ujungnya. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, setelah mematahkan   kaki sofa, [169] kemudian menggunakannya; setelah merusak ambut-kuda (isi) dari dipan, kemudian menggunakanny; setelah menguraikan selimut kapas, untuk membuatnya menjadi alas-duduk;  membuat penutup lantai dari apa yang tersisa.” ||14||

Pada saat itu pada suatu pemukiman desa tidak jauh dari Sāvatthī para bhikkhu yang menetap di sana mencemaskan keharusan mempersiapkan tempat tinggal bagi para bhikkhu yang datang. Kemudian para bhikkhu ini berpikir: “Pada saat ini, Yang Mulia, kita mencemaskan keharusan mempersiapkan tempat tinggal bagi para bhikkhu yang datang. Ayo, Yang Mulia, mari kita menyerahkan tempat tinggal milik Saṅgha ini kepada satu (bhikkhu) dan kita gunakan sebagai miliknya.” Maka para bhikkhu ini menyerahkan kepada satu (bhikkhu) semua tempat tinggal milik Saṅgha. Para bhikkhu yang datang berkata kepada para bhikkhu itu: “Yang Mulia, persiapkan tempat tinggal untuk kami.”

“Yang Mulia, tidak ada tempat tinggal milik Saṅgha, kami telah menyerahkannya kepada satu (bhikkhu).”

“Tetapi, apakah kalian, Yang Mulia, melepaskan tempat tinggal milik Saṅgha?”

“Benar, Yang Mulia.” Para bhikkhu lain … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para bhikkhu ini melepaskan apa yang menjadi milik Saṅgha?” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Benarkah, dikatakan, para bhikkhu, bahwa para bhikkhu melepaskan tempat tinggal milik Saṅgha?”

“Benar, Yang Mulia.” Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, menegur mereka dengan mengatakan:

“Bagaimana mungkin, para bhikkhu, orang-orang dungu itu melepaskan tempat tinggal milik Saṅgha? Itu bukanlah, para bhikkhu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …” dan setelah menegur mereka, Beliau berkata kepada para bhikkhu: ||1||

“Para bhikkhu, lima benda ini tidak untuk dilepaskan , tidak boleh dilepaskan oleh Saṅgha atau kelompok atau individu – bahkan jika dilepaskan maka benda-benda itu tidak (benar-benar) dilepaskan. Siapapun yang melepaskannya, maka ia melakukan pelanggaran berat. Apakah lima ini? Vihara, lahan untuk vihara. Ini adalah benda pertama yang tidak untuk dilepaskan, tidak boleh dilepaskan oleh Saṅgha atau kelompok atau individu – bahkan jika dilepaskan maka benda-benda itu tidak (benar-benar) dilepaskan. Siapapun yang melepaskannya, maka ia melakukan pelanggaran berat. Tempat tinggal, lahan untuk tempat tinggal. Ini adalah benda ke dua … dipan, kursi, matras, alas-duduk, kendi tembaga, ember tembaga, beliung, kapak kecil, kapak besar, cangkul, sekop. Ini adalah benda ke empat … temali-hutan, bambu, rumput kasar, buluh, rumput-tiṇa, lempung, benda-benda terbuat dari kayu, benda-benda terbuat dari tembikar. Ini adalah benda ke lima yang tidak untuk dilepaskan, tidak boleh dilepaskan oleh Saṅgha atau kelompok atau individu – bahkan jika dilepaskan maka benda-benda itu tidak (benar-benar) dilepaskan. Siapapun yang melepaskannya, maka ia melakukan pelanggaran berat. ||2||15||

Kemudian Sang Bhagavā, setelah menetap di Sāvatthī selama yang Beliau kehendaki, [170] pergi menuju Kiṭāgiri bersama dengan sejumlah besar para bhikkhu, bersama paling sedikit lima ratus orang bhikkhu dengan Sāriputta dan Moggallāna. Kemudian para bhikkhu yang adalah pengikut Assaji dan Punabbasuka mendengar: “Mereka mengatakan bahaw Sang Bhagavā telah tiba di Kiṭāgiri bersama dengan sejumlah besar bhikkhu … dengan Sāriputta dan Moggallāna. Ayo, Yang Mulia, mari kita membagikan semua tempat tinggal milik Saṅgha. Sāriputta dan Moggallāna berkeinginan rendah; mereka dibawah pengaruh keinginan rendah; kita tidak akan mempersiapkan tempat tinggal untuk mereka.” Mereka membagikan semua tempat tinggal milik Saṅgha. Kemudian Sang Bhagavā, berjalan kaki dalam perjalanan itu, akhirya tiba di Kiṭāgiri. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada beberapa bhikkhu:

“Pergilah, para bhikkhu, dan setelah mendatangi para bhikkhu pengikut Assaji dan Punabbasuka, katakanlah: ‘Sang Bhagavā, Yang Mulia, telah tiba bersama dengan sejumlah besar bhikkhu … dan Sāriputta dan Moggallāna; maka, Yang Mulia, siapkanlah tempat tinggal untuk Sang Bhagavā dan untuk para bhikkhu dan untuk Sāriputta dan Moggallāna.’”

“Baik, Yang Mulia.” Dan para bhikkhu ini, setelah menjawab Sang Bhagavā, mendatangi para bhikkhu pengikut Assaji dan Punabbasuka; setelah bertemu dengan para bhikkhu pengikut Assaji dan Punabbasuka, mereka berkata: “Sang Bhagavā, Yang Mulia, telah tiba … siapkanlah tempat tinggal untuk Sang Bhagavā dan untuk para bhikkhu dan untuk Sāriputta dan Moggallāna.”

“Tidak ada tempat tinggal milik Saṅgha, Yang Mulia, semuanya telah kami bagikan. Sang Bhagavā, Yang Mulia, tentu saja diterima, Sang Bhagavā boleh tinggal di tempat tinggal yang manapun yang Beliau inginkan. Sāriputta dan Moggallāna berkeinginan rendah; mereka dibawah pengaruh keinginan rendah; kami tidak akan mempersiapkan tempat tinggal untuk mereka.” ||1||

“Tetapi apakah kalian, Yang Mulia, membagikan tempat-tempat tingal milik Saṅgha?”

“Benar, Yang Mulia.” Para bhikkhu lain … menyebarkan dengan mengatakan:

“Bagaimana mungkin para bhikkhu pengikut Assaji dan Punabbasuka ini membagikan tempat-tempat tinggal milik Saṅgha?” kemudian para bhikkhu ini mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Benarkah, dikatakan, para bhikkhu, bahwa para bhikkhu ini membagikan … milik Saṅgha?”

“Benar, Bhagavā.”

“Bagaimana mungkin, para bhikkhu, orang-orang dungu ini membagikan tempat-tempat tinggal milik Saṅgha? Itu bukanlah, para bhikkhu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …” Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, lima benda ini tidak untuk dibagikan , tidak boleh dibagkan oleh Saṅgha atau kelompok atau individu – bahkan jika dibagikan maka benda-benda itu tidak (benar-benar) dibagikan. Siapapun yang membagikannya, maka ia melakukan pelanggaran berat. Apakah lima ini? Vihara  … pelanggaran berat. ||2||16|| [171]

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB VI)
« Reply #44 on: 06 March 2012, 11:31:53 PM »
Kemudian Sang Bhagavā, setelah menetap di Kiṭāgiri selama yang Beliau kehendaki, pergi menuju Āḷavī. Berjalan kaki dalam perjalanan itu, akhirnya Beliau tiba di Āḷavī. Di sana Sang Bhagavā menetap di altar utama Āḷavī.  Pada saat itu para bhikkhu menyerahkan tanggung jawab  perbaikan berikut ini kepada (seorang bhikkhu): mereka menyerahkan tanggung jawab perbaikan untuk hanya sekedar menyingkirkan tumpukan  … untuk hanya sekedar melumuri dinding … untuk hanya sekedar menempatkan pintu … untuk hanya sekedar membuat lubang pasak … untuk hanya sekedar membuat celah jendela … untuk hanya sekedar mengapuri dinding … untuk hanya sekedar mengecat hitam … untuk hanya sekedar mewarnai dengan kapur merah … untuk hanya sekedar memasang atap … untuk hanya sekedar menyambung … untuk hanya sekedar memasang pada tiang (atau tiang pintu)  … untuk hanya sekedar memperbaiki bagian-bagian yang rusak  … untuk hanya sekedar melapisi lantai;  dan mereka menyerahkan tanggung jawab perbaikan selama dua puluh tahun, dan mereka menyerahkan tanggung jawab perbaikan selama tiga puluh tahun, dan mereka menyerahkan tanggung jawab perbaikan selama seumur hidup, dan mereka menyerahkan tanggung jawab perbaikan tempat tinggal hingga selesai kepada (seorang bhikkhu hingga) waktunya ia dikremasi.

Para bhikkhu lain … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para bhikkhu dari Āḷavī ini menyerahkan tanggung jawab perbaikan seperti ini kepada (seorang bhikkhu) … (hingga) waktunya ia dikremasi?” mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Benarkah, dikatakan, para bhikkhu, bahwa para bhikkhu dari Āḷavī … waktunya ia dikremasikan?”

“Benar, Bhagavā.” Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah, ia berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, tanggung jawab perbaikan hanya sekedar untuk menyingkirkan tumpukan tidak boleh diserahkan (kepada seorang bhikkhu) … juga tanggung jawab perbaikan tempat tinggal hingga selesai tidak boleh diserahkan (kepada seorang bhikkhu) hingga waktu ia dikremasikan. Siapapun yang menyerahkan tanggung jawab (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menyerahkan tanggung-jawab perbaikan tempat tinggal (kepada seorang bhikkhu) jika tempat tinggal itu belum dibangun atau jika belum selesai dibangun;  sehubungan dengan pekerjaan pada sebuah tempat tinggal kecil, tanggung jawab perbaikan dapat diserahkan selama enam atau lima tahun; sehubungan dengan pekerjaan pada sebuah rumah beratap lengkung,, tanggung jawab perbaikan dapat diserahkan selama tujuh  atau delapan tahun; sehubungan dengan pekerjaan pada sebuah tempat tinggal besar atau rumah panang, tanggung jawab perbaikan dapat diserahkan selama sepuluh atau dua belas tahun.” ||1||

Pada saat itu para bhikkhu menyerahkan tanggung jawab perbaikan keseluruhan suatu tempat tinggal. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, tanggung jawab perbaikan keseluruhan suatu tempat tinggal tidak boleh diserahkan. Siapapun yang menyerahkan tanggung jawab itu, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu menyerahkan tanggung awab atas dua (tempat tinggal) kepada satu orang (bhikkhu). Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, tanggung jawab atas dua (tempat tinggal) tidak boleh diserahkan kepada satu orang (bhikkhu). Siapapun yang menyerahkan (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu, setelah memperbaiki, menyerahkan kepada orang lain untuk tinggal (di sana). Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, [172] setelah memperbaiki, kalian tidak boleh menyerahkan kepada orang lain untuk tinggal (di sana). Siapapun yang menyerahkan kepada orang lain untuk tinggal (di sana), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu, setelah memperbaiki, menguasai (untuk mereka gunakan sendiri) apa yang menjadi milik Saṅgha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, setelah memperbaiki, kalian tidak boleh menguasai (untuk kalian gunakan sendiri) apa yang menjadi milik Saṅgha. Siapapun yang menguasai (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menempati satu tempat tidur yang baik.”

Pada saat itu para bhikkhu menyerahkan tanggung jawab perbaikan kepada seseorang yang berada di luar batas. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, tanggung jawab perbaikan tidak boleh diserahkan kepada seseorang yang berada di luar batas. Siapapun yang mengyerahkan (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu, setelah memperbaiki (suatu bangunan), menguasainya selamanya. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, setelah memperbaiki (suatu bangunan), kalian tidak boleh menguasainya selamanya. Siapapun yang menguasai (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menguasainya selama tiga bulan musim hujan, tetapi tidak menguasainya pada musim kering.”  ||2||

Pada saat itu para bhikkhu, ketika sedang memperbaiki, pergi  dan meninggalkan Saṅgha dan meninggal dunia, dan mereka bepura-pura menjadi samaṇera dan mereka berpura-pura mengingkari latihan … pelaku pelanggaran berat … gila … kehilangan akal sehat … sakit secara fisik … ditangguhkan karena tidak melihat pelanggarannya … ditangguhkan untuk memperbaiki pelanggarannya … ditangguhkan karena tidak melepaskan pandangan salah dan mereka berpura-pura menjadi kasim … hidup dalam kelompok seperti pencuri … pindah ke sekte lain … menjadi binatang … membunuh ibu … membunuh ayah … membunuh Yang Sempurna … penggoda bhikkhunī … pemecah belah … mengucurkan darah (Sang Penemu-Kebenaran) dan mereka berpura-pura menjadi hermafrodit. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Ini adalah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, setelah memperbaiki, pergi. Dengan berpikir, ‘Jangan sampai Saṅgha menderita,’ maka tanggung jawab (perbaikan) harus diserahkan kepada orang lain. Ini adalah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, setelah memperbaiki, meninggalkan Saṅgha, meninggal dunia, berpura-pura menjadi … hermafrodit. Dengan berpikir, ‘Jangan sampai Saṅgha menderita,’ maka tanggung jawab (perbaikan) harus diserahkan kepada orang lain. Ini adalah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, setelah memperbaiki, pergi selagi pekerjaan masih belum selesai … berpura-pura menjadi hermafrodit. Dengan berpikir, ‘Jangan sampai Saṅgha menderita,’ maka tanggung jawab (perbaikan) harus diserahkan kepada orang lain. Ini adalah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, setelah memperbaiki, pada tahap penyelesaian ia pergi; pekerjaan ini masih menjadi (tanggung jawabnya).  Ini adalah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, setelah memperbaiki, pada tahap penyelesaian ia meninggalkan Saṅgha … berpura-pura melakukan pelanggaran berat: Saṅgha adalah pemiliknya. Ini adalah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, setelah memperbaiki, pada tahap penyelesaian ia berpura-pura gila … [173] berpura-pura ditangguhkan karena tidak melepaskan pandangan salah: pekerjaan ini masih menjadi (tanggung jawabnya). Ini adalah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, setelah memperbaiki, pada tahap penyelesaian ia berpura-pura menjadi kasim … berpura-pura menjadi hermafrodit: Saṅgha adalah pemiliknya.” ||3||17||

Pada saat itu para bhikkhu menggunakan perabotan tempat tinggal milik umat awam di tempat lain.  Kemudian umat awam itu … menyebarkan : “Bagaimana mungkin para mulia ini menggunakan perabotan suatu tempat tinggal di tempat lain?” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh menggunakan perabotan suatu tempat tinggal di tempat lain. Siapapun yang menggunakan (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu karena (terlalu) takut melakukan pelanggaran untuk membawa ke aula Upasatha dan tempat pertemuan (tempat-tempat duduk), mereka duduk di tanah. Tubuh dan jubah mereka tertutup debu. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, memindahkan (benda-benda) itu untuk sementara.”

Pada saat itu sebuah tempat tinggal besar milik Saṅgha lapuk. Para bhikkhu, karena takut melakukan pelanggaran, tidak mengeluarkan benda-benda.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, memindahkan (benda-benda) itu untuk melindunginya.” ||18||

Pada saat itu sehelai selimut wol yang mahal – perlengkapan suatu tempat tinggal – diperoleh Saṅgha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menukarnya  dengan (sesuatu) yang berguna.” Pada saat itu sehelai kain tenunan mahal … “menukarnya dengan (sesuatu) yang berguna.”

Pada saat itu sehelai kulit beruang  diperoleh Saṅgha. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membuatnya menjadi handuk kaki.” Kain jendela  diperoleh. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membuatnya menjadi handuk kaki.” kain  diperoleh. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membuatnya menjadi handuk kaki.” ||19||

Pada saat itu para bhikkhu menginjakkan kaki mereka ke tempat tinggal dengan kaki tidak dicuci;  tempat tinggal menjadi kotor. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, tempat tinggal tidak boleh diinjak dengan kaki tidak dicuci. Siapapun yang menginjaknya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” Pada saat itu para bhikkhu menginjak tempat tinggal dengan kaki basah … [174] … dengan memakai sandal … “ ... pelanggaran perbuatan-salah.” ||1||

Pada saat itu para bhikkhu meludah di lantai yang telah diwarnai;  warnanya menjadi rusak. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh meludah di lantai yang telah diwarnai. Siapapun yang meludah (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah wadah untuk meludah.” Pada saat itu kaki dipan dan kaki kursi menggores lantai yang telah diwarnai. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, membungkusnya dengan kain.”

Pada saat itu para bhikkhu bersandar pada dinding yang telah diwarnai; warnanya menjadi rusak. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh bersandar pada dinding yang telah diwarnai. Siapapun yang bersandar (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, sebuah papan sandaran.”  Papan sandaran itu menggores lantai di bawahnya, menghancurkan dinding di atasnya. “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, membungkusnya dengan kain pada bagian atas dan bawahnya.”

Pada saat itu para bhikkhu  (terlalu) takut melakukan pelanggaran untuk berbaring di tempat untuk berjalan dengan kaki dicuci.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk berbaring (di tempat itu), setelah menghamparkan alas.”  ||2||20||