Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Sunyata, Alaya  (Read 10693 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline GandalfTheElder

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Sunyata, Alaya
« on: 28 December 2010, 02:08:09 PM »
Sekalian scr tidak lgsg menjawab pertanyaan sdr, Thema, mgkn bsia disimpulkan sendiri,

Pada dasarnya semua fenomena di dunia ini adalah Shunyata dan Anatman (kosong dan tanpa diri yang berdiri sendiri). Namun Shunyata itu bukanlah kosong song melompong tetapi Shunyata justru adalah suatu konsep yang sangat sangat positif, Thich Nhat Hanh pernah berkata:

If we are not empty, we become a block of matter.
We cannot breathe, we cannot think.
To be empty means to be alive, to breathe in and to breathe out.
We cannot be alive if we are not empty.
Emptiness is impermanence, it is change.
We should not complain about impermanence,
because without impermanence, nothing is possible.

(Komentar Prajnaparamita Sutra)

Ya Shunyata bukanlah pengertian yang nihilistik, tetapi merupakan suatu "proses" yang kreatif, yang dapat memunculkan banyak potensi. Shunyata membuat kita dapat hidup dan berubah, kalau semuanya permanen dan tidak berubah, maka manusia tidak akan ada bedanya dengan benda mati yang konstan / membatu.

Thich Nhat Hanh mengisahkan sebuah cerita. Ada seorang ayah yang terus mengeluh tentang konsep kekosongan (shunyata) dalam agama Buddha. Lalu kemudian anak perempuannya berkata, “Ayah, tolong berhenti mengeluh! Kalau bukan karena shunyata, aku tidak akan tumbuh menjadi sebesar ini.” Ya shunyata mengandung arti anitya juga. Bukankah melihat anak tumbuh besara adalah sesuatu yg indah?? Maka dari itu shunyata bukanlah konsep yang negatif. Bahkan Tsem Tulku Rinpoche mengatakan oleh karena ketidakkekalan maka kita dapat merubah diri kita menjadi lebih baik, bahkan dalam organisasi Soka Gakkai, karena shunyatalah maka seseorang dapat menggapai cita-cita dan mengembangkan talenta yang dimiliki. Semua ini karena shunyata. Seandainya semua itu punya aku yang berdiri sendiri dan permanen, maka dunia akan menjadi hambar dan kaku.

Thich Nhat Hanh mengaitkan Shunyata dengan Inter-being (ketersalinggantungan - karma dan Pratityasamutpada). Shunyata berarti kosong akan Diri (Aku) yang berdiri sendiri, tetapi PENUH akan semua hal di dunia ini (Inter-Being). Seseorang tidak mungkin terpisah dari yang lain atau dengan dunia, semua saling berkaitan, semua saling bergantungan dan satu hal muncul karena hal yang lain muncul, sebab akibat.

Nah sesuatu yang kreatif ini merupakan basis dari semua maka dari itu Shunyata memiliki istilah lain yaitu Buddha-Nature atau Tathagatagarbha atau alaya –vijnana atau amala vijnana.

Arsitek dunia Kisho Kurokawa yang mendasarkan konsep arsitekturnya pada pandangan Madhyamika (yang sering dituduh nihilistik) mengatakan bahwa sebenarnya Shunyata bukanlah nihilisme, tetapi merupakan suatu yang kreatif, dinamis, dan bergerak maka dari itu konsep arsitektur "Symbiosis dan Metabolism" muncul dari Kisho Kurokawa. Ini semua dijelaskan dalam buku tulisannya sendiri. Kisho Kurokawa mengambil konsep Madhyamika yang terintegrasi dengan konsep co-existnya Shioo Benkyo.

Buddhism provides an ideological basis for the coexistence of all things. Each living thing contributes to the harmony of the grand concert of symbiosis. The Buddhist term "dependent origination" describes such symbiotic relationships, as nothing and no one exists in isolation.  Each individual being is destined to function to create an environment that sustains all other existences. Symbiosis, needless to say, fundamentally means mutualism. However, a symbiotic relationship is not a predetermined harmony. It respects mutual independence and individuality.


Konsep Co-exitnya Shiio Benkyo (seorang pandita Jodo Shinshu) dan konsep Inter-Being-nya Thich Nhat Hanh bisa dibilang mirip sekali, akrena sama-sama menekankan harmoni mengingat semuanya saling berkaitan.

Alaya / Tathagatagarbha

Dzogchen Ponlop Rinpoche mengatakan bahwa shunyata absolut dan alaya absolut sebenarnya tidaklah terpisahkan satu sama lain. Sutra Lankavatara mengatakan Tathagatagarbha adalah alaya-vijnana, Ratnagotravibhanga mengatakan Tathagatagarbha adalah Shunyata dan Sutra Mahaparinirvana mengatakan Tathagatagarbha adalah Pratitya-samutpada dan Karma (Inter-Being nya Thich Nhat Hanh). Ditambah lagi Dogen Zenji mengatakan: “ketidakkekalan adalah Tathagatagarbha”.

Kisho Kurokawa mengatakan alaya adalah basis kesadaran, alaya bukanlah semacam pikiran tetapi lebih bagaikan “energi kehidupan” atau “DNA”. Dari alaya muncul berbagai macam potensi, demikian juga dari shunyata muncul semua fenomena di dunia ini. Symbiosis dan Metabolisme semuanya merupakan kegiatan yang dinamis dari alaya.

Thich Nhat Hanh memberikan gambaran ketika ditanya apakah setiap orang memiliki alaya vijnana sendiri-sendiri? TNH menjawab: “Ini bagaikan samudra, oleh berbagai sebab dan akibat, muncullah ombak, dan ombak yang satu menimbulkan ombak yang kedua. Namun ombak yang satu berbeda dengan ombak yang kedua. Demikian juga ketika di laut ada banyak ombak, satu ombak yang satu berbeda dengan ombak yang lain, namun sebenarnya hakekat mereka saling berkaitan yaitu dalam satu samudra. Dan untuk satu ombak menjadi muncul butuh penyebab angin serta ombak yg lain.

Ketika disepadankan dengan manusia:
Ombak 1 = Manusia A
Ombak 2 = Manusia B
Sebab Akibat = Karma
Samudra = alaya vijnana / shunyata

Jadi sesuai dalam Avatamsaka Sutra yaitu ”Semua dalam Satu, Satu dalam Semua”, bukan satu juga bukan semua. Ini berbeda dengan Manunggaling Kawula Gusti yang mana ketika anak sungai melebur ke dalam samudra Brahman / Tuhan maka identitas dirinya melebur, bukan seperti itu. Konsep dalam Buddhis adalah bagaikan samudra dengan ombaknya, yaitu seseorang tetap mempertahankan identitasnya, namun bukan sebagai identitas yang berdiri sendiri, melainkan identitas yang selalu bergantungan dengan yang lain.

This does not mean, however, a fusion of the self and others in a relationship in which the self is annihilated. The symbiotic viewpoint within the law of dependent origination is the overcoming of our closed-off egotism and is an attempt to create communality from the autonomy of individuals. (Konsep Symbiotic dari Rev. Shiio Benkyo)

Maka dari itu dalam Mahayana dikenal istilah Jala Indra, yaitu satu fenomena berkaitan dengan fenomena yang lain, satu hal berakibat dan berkaitan satu sama lainnya, semuanya tak terpisahkan, tidak ada Ego yang berdiri sendiri, semua bagaikan DNA yang bersifat anitya, anatman

Be Yourself

Shunyata dalam Mahayana dikatakan memiliki 2 aspek utama yaitu Prajna dan Maitri Karuna. Jadi bukan kosong song. Baik Chogyam Trungpa Rinpoche maupun para sesepuh mahayana lainnya sering mengartikan Shunyata sebagai ”keterbukaan:” bukan ”kekosongan” karena dapat membawa pada pengertian yang salah.

Seseorang yang merealisasi Shunyata, akan terbuka dan bebas dari egonya, dan ketidaktahuan (avidya) yang ada dalam batinnya berakhir, digantikan dengan sifat-sifat mulia seperti Prajna (kebijaksanaan), Maitri Karuna (welas asih) dan Chanda (keinginan luhur) dan bukan kosong melompong. Setelah tercerahkan, alaya vijnana yang kotor menjadi amala vijnanan yang bersih bersinar dan cemerlang. Pada awalnya kita menatap alayavijanan secara salah sehingga muncul Ego, tetapi setelah tercerahkan dan merealisasi Inter-Being dan Tanpa Aku, maka alayavijnana berubah menjadi amala vijnana.

Kobun Chinno, guru Steve Jobs (Apple), mengatakan bahwa pikiran yang dapat merefleksikan welas asih satu sama lain adalah amala-vijnana. Ya amala vijnana adalah Ke-Buddhaan yang memiliki sifat Prajna dan Maitri karuna.

Mahayana tidak hanya mengajarkan Maitri Karuna tetapi juga Prajna yang mampu berpikir kritis. Maka dari itu di vihara" Tibetan yang mengikuti tradisi India, dilakukan debat" sesuai anjuran Nagarjuna, untuk menguji setiap Dharma bagaikan menguji keaslian sebongkah emas.

Ketika Diri yang penuh Avidya padam (Ego- Si Aku), maka seseorang akan masuk ke dalam satu diri yang diberi nama Diri Sejati atau Tathagatagarbha atau Muga no Taiga (Diri Yang Tanpa Diri). Di sini seperti ditekankan sebelumnya, bukan berarti setelah tercerahkan seseorang semuanya jadi sama, batinnya jadi sama semua sehingga tampak seperti robot yang sudah diatur batinnya. Integritas seseorang tetap bertahan.

Tsem Tulku Rinpoche, Thich Nhat Hanh, Ven. Kalu Rinpoche sering mengatakan, ”Be Yourself!”. Nah kalau ndak ada Ego untuk apa jadi Be Yourself?? Pertama Be Yourself memiliki 2 arti:

1.   Menerima diri apa adanya sehingga bisa mengasihi dirinya sendiri, menerima kondisis ekarang. Rasa tidak terima hanya membawa pada penderitaan. Jangan mencoba jadi orang lain.
2.   Be Yourself juga berarti ”Menjadi Diri Sendiri Yang Sejati”. Apa itu? Buddha. Sifat-sifat Buddha ada dalam diri kita sendiri, semuanya sudah ada dalam diri kita, so be yourself!

Para Arhat dan Bodhisattva saja memiliki talenta masing-masing ada yang unggul dalam keyakinan, ada yang unggul dalam welas asih dsb... semuanya adalah diri mereka sendiri. Namun kerika tercerahkan, diri mereka itu bukanlah diri yang penuh dengan ego, tetapi diri mereka berubah menjadi Nirmanakaya (tubuh) dan Sambhogakaya (batin). Batin sambhogakaya merefleksikan pencapaian Dharmakaya seseorang, namun walaupun begitu, Sambhogakaya bsia bermacam-macam sesuai kecenderungan dan talenta seseorang. Maka dari itu kita bsia melihat banyak sekali perwujudan Buddha Bodhisattva dalam Thangka Tibetan. Masing-masing Sambhogakaya menyimbolkan transformasi klesha menjadi aspekaspek pencerahan.

Jadi, ”personality” seseorang yang sebelumnya dibentuk oleh klesha, yang mana satu ornag berbeda dengan yang lain, ditransformasi menajdi sebuah Nirmanakaya dan Sambhogakaya, yang memiliki ciri khas satu sama lain, tiap orang tidak sama namun satu hakekat yaitu telah tercerahkan (Dharmakaya).

Thich Nhat Hanh mengatakan seorang Bodhisattva menjadi tercerahkan itu bukan berarti beliau sudah tidak bisa menjadi senang ataupun sedih. Beliau tetap bisa merasakan senang dan sedih, tetapi mereka menyadaris enang sebagai sennag, sedih sebagai sedih dan mereka mampu mentransformasikan kesedihan mereka menjadi welas asih agung. Misla ketika Bodhisattva sedih melihat para makhluk menderita, beliau menyadari rasa sedihnya itu dan memutuskan untuk mengambil tekad welas asih agung dan bertindak bagi kebaikan semua.

Nah kita bsia mulai diskusi.

 _/\_
The Siddha Wanderer
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #1 on: 28 December 2010, 02:24:02 PM »

Thich Nhat Hanh mengatakan seorang Bodhisattva menjadi tercerahkan itu bukan berarti beliau sudah tidak bisa menjadi senang ataupun sedih. Beliau tetap bisa merasakan senang dan sedih, tetapi mereka menyadaris enang sebagai sennag, sedih sebagai sedih dan mereka mampu mentransformasikan kesedihan mereka menjadi welas asih agung. Misla ketika Bodhisattva sedih melihat para makhluk menderita, beliau menyadari rasa sedihnya itu dan memutuskan untuk mengambil tekad welas asih agung dan bertindak bagi kebaikan semua.

hanya men-copas yg ini, krn agak beda sedikit dengan makna tercerahkan ala theravada. Theravada beranggapan, seseorang yg tercerahkan sudah tidak lagi mengalami emosi (sedih, gembira) melainkan batin sdh dalam kondisi upekkha (tenang seimbang), tidak goyah oleh permainan perasaan.

Namun dalam pengertian TNT diatas, ia yg tercerahkan masih bisa mengalami perasaan senang dan gembira, hanya saja ia yg tercerahkan tsb menyadari senang sbg senang dan gembira sbg gembira.

Saya pribadi, berpendapat bahwa seseorang yg tercerahkan, sudah tidak mengalami perasaan sedih dan gembira lagi. Alasannya: sedih dan gembira adalah suasana batin yg berubah, padahal 'suasana batin yg berubah' adalah dukkha.

Namun, mencermati lagi maksud dari TNT tsb, apakah yg dimaksud sebenarnya bukanlah sedih dan senang seperti yg kita alami, melainkan karuna dan mudita?

::

Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #2 on: 28 December 2010, 02:29:57 PM »
hanya men-copas yg ini, krn agak beda sedikit dengan makna tercerahkan ala theravada. Theravada beranggapan, seseorang yg tercerahkan sudah tidak lagi mengalami emosi (sedih, gembira) melainkan batin sdh dalam kondisi upekkha (tenang seimbang), tidak goyah oleh permainan perasaan.

Namun dalam pengertian TNT diatas, ia yg tercerahkan masih bisa mengalami perasaan senang dan gembira, hanya saja ia yg tercerahkan tsb menyadari senang sbg senang dan gembira sbg gembira.

Saya pribadi, berpendapat bahwa seseorang yg tercerahkan, sudah tidak mengalami perasaan sedih dan gembira lagi. Alasannya: sedih dan gembira adalah suasana batin yg berubah, padahal 'suasana batin yg berubah' adalah dukkha.

Namun, mencermati lagi maksud dari TNT tsb, apakah yg dimaksud sebenarnya bukanlah sedih dan senang seperti yg kita alami, melainkan karuna dan mudita?

::


TNH=Thich Nhat Hanh
TNT=TriNitroToluene


Offline GandalfTheElder

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #3 on: 28 December 2010, 02:55:28 PM »
 [at] bro. williamhalim

Sang Bodhisattva bhumi 6 ke atas, dengan realisasi Prajna dan Maitri Karunanya, memamg mampu memunculkan "rasa" demikian lewat aspirasi luhurnya, bukan karena klesha.

Para Bodhisattva tidak hidup dalam "rasa" ini sehingga tidak menderita, melainkan mentransformasikannya. Karena pada hakekatnya rasa sedih itu shunya, rasa senang itu shunya, rasa marah itu shunya, sehingga Bodhisattva yang telah merealisasi hakekat kekosongan, dengan bebas menggunakan rasa" tersebut namun mereka dapat tumbuh berkembang dari rasa tersebut dan tidak melekat padanya, rasa sedih tersebut ditransformasikan menjadi welas asih agung yang merupakan sifat dari realisasi Bodhi.

Rasa sedih tidaklah lagi menjadi rasa sedih yang membawa penderitaan, tetapi rasa sedih menjadi "alat" untuk memunculkan welas asih agung, karena toh yang disebut sedih itu sebenarnya hanyalah suatu rasa yang netral - demikianlah adanya, namun krn pikiran kleshalah rasa yang netral tsb dianggap/dipersepsi sebagai rasa sedih sehingga timbul penderitaan. Bagi Bodhisattva, Samsara adalah Nirvana, lokadhatu adalah dharmadhatu karena sebeanrnya hakekat Samsara dan nirvana sama, semuanya Shunya (kosong).

Ini sangat manusiawi, di manapun juga, kebaikan tumbuh ketika seseorang menyadari dgn benar kejahatan. Baik dan buruk selalu berdampingan. Welas asih tidak muncul begitu saja, ia membutuhkan suatu rasa senang atau sedih untuk kemudian ditransformasikan.

Oleh karena itulah para Buddha dan Bodhisattva dapat mewujudkan emanasinya di bumi samsara ini.

Menurut Mahayana, kalau sudah benar-benar tidak merasakan apa-apa lagi karena seimbang itu namanya konstan/ kaku. Maka dari itu pencapaian Arhat dalam Mahayana disebutkan berada dalam fase "kedamaian ekstrim".

Mampu 100% menyadari dan mentransformasikan itulah definisi keseimbangan dalam Mahayana, bukan tidak merasakan apa-apa.

Hal ini lebih jauh lagi berkaitan dengan dua sifat dari Tathagatagarbha dan 10 alam, yang akan sy jelaskan nanti.

 _/\_
The Siddha Wanderer
« Last Edit: 28 December 2010, 03:10:30 PM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline GandalfTheElder

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #4 on: 28 December 2010, 03:38:21 PM »
Shunyata / Tathagatagarbha/ Alaya / Jewel Net of Indra / Inter-Being/ Co-Exist/ Tomoiki:

Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline GandalfTheElder

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #5 on: 28 December 2010, 03:49:17 PM »
Karya Nyata Shunyata lewat arsitek Buddhis Kisho Kurokawa:

National Art Center Tokyo


Singapore Flyer:


Inilah bagaimana Shunyata itu indah, bukan kosong melompong kaya propaganda beberapa kaum Kristiani.
« Last Edit: 28 December 2010, 03:51:10 PM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline Udyata-sahanubhuti

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 112
  • Reputasi: 13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #6 on: 28 December 2010, 03:51:57 PM »

Kisho Kurokawa mengatakan alaya adalah basis kesadaran, alaya bukanlah semacam pikiran tetapi lebih bagaikan “energi kehidupan” atau “DNA”. Dari alaya muncul berbagai macam potensi, demikian juga dari shunyata muncul semua fenomena di dunia ini. Symbiosis dan Metabolisme semuanya merupakan kegiatan yang dinamis dari alaya.


Nah kita bsia mulai diskusi.

 _/\_
The Siddha Wanderer

Dear Bro Gandalf,  _/\_
Di manakah letak alaya vijnana tersebut? Apakah alaya vijnana ini merupakan bawah sadar kita? setelah membaca tulisan anda, mungkin secara konsep saya sedikit mengerti. Tapi secara praktek, saya kesulitan walaupun berusaha menyadarai keberadaan Alaya Vijnana tersebut dalam kondisi meditasi sekalipun. Apakah ada metode tertentu yang bisa anda bantu share sehingga saya dapat mengalami "ini loh yang namanya Alaya".
Sebelumnya terimakasih bro...
Deep bow  ^:)^
o

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #7 on: 28 December 2010, 03:58:21 PM »
Apakah ada sesuatu fenomena yang disebab-kan hanya oleh 1 kondisi saja ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #8 on: 28 December 2010, 07:25:25 PM »
Seperti yang saya duga, membahas sunyata dalam Mahayana selalu menggunakan “bahasa positif”. Untuk saat ini saya hanya bisa menanggapi yang ini saja dulu.

Pada dasarnya semua fenomena di dunia ini adalah Shunyata dan Anatman (kosong dan tanpa diri yang berdiri sendiri). Namun Shunyata itu bukanlah kosong song melompong tetapi Shunyata justru adalah suatu konsep yang sangat sangat positif, Thich Nhat Hanh pernah berkata:

If we are not empty, we become a block of matter.
We cannot breathe, we cannot think.
To be empty means to be alive, to breathe in and to breathe out.
We cannot be alive if we are not empty.
Emptiness is impermanence, it is change.
We should not complain about impermanence,
because without impermanence, nothing is possible.

(Komentar Prajnaparamita Sutra)

Saya kurang sependapat dengan Thich Nhat Hanh.  ^:)^

Jika Kekosongan itu adalah tidak tetap dan dapat berubah, lalu ia berubah menjadi apa? Jika Kekosongan itu berubah, lalu siapa/apa yang menggantikan “kerja” Kekosongan itu?
Jika Kekosongan itu “meninggalkan tugasnya”, bukankah kita akhirnya juga menjadi “a block of matter”, tidak bisa bernapas?

IMHO, Kekosongan itu adalah tetap, ia tidak berubah. Lalu apa yang berubah? Yang berubah adalah Dunia ini. Dunia inilah yang membesar atau mengecil, memendek, memanjang, dst.  Apakah Dunia ini membesar atau melebar, Kekosongan itu tetap ada, Kekosongan itulah yang “menampung” Dunia yang berubah ini.

Sebagai perumpamaan: ada sebuah gelas kosong yang kemudian di isi oleh air. Jika gelas itu tidak kosong maka ia tidak bisa diisi oleh air. Ini fungsi dari kekosongan. Kemudian gelas makin penuh dan menjadi penuh oleh air. Kita melihat sekilas, gelas kosong tersebut berubah menjadi gelas penuh air, dan menganggap kekosongan itu hilang atau berubah. Padahal ia masih di sana, ia menampung keberadaan air, ia berada di antara atom-atom air, ia hanya terdesak oleh keberadaan air yang bertambah banyak.

Demikian pula Kekosongan terhadap Dunia. Kekosongan itu ada, dan tetap ada, dan tidak berubah.

Ini hanya pendapat saya saja. CMIIW

Demikian.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #9 on: 28 December 2010, 08:34:20 PM »
Saya lebih cenderung memahami sunyata sebagai sebab akibat yang saling bergantungan (paticcasamuppada/pratityasamutpada) seperti yang dimaksud artikel di atas: segala fenomena (dhamma/dharma) kosong karena semua fenomena muncul dan lenyap sesuai dengan hukum paticcasamuppada. Hal ini juga ditegaskan Nagarjuna dalam Mulamadhyamakakarika:

Quote
Whatever dependent arising is, that we call emptiness. That (i.e., emptiness) is a dependent concept and that itself is the middle path.

Tetapi saya masih kurang paham tentang Tathagatagarbha ini yang dianggap sebagai Diri Sejati:

Quote
Ketika Diri yang penuh Avidya padam (Ego- Si Aku), maka seseorang akan masuk ke dalam satu diri yang diberi nama Diri Sejati atau Tathagatagarbha atau Muga no Taiga (Diri Yang Tanpa Diri).

Apakah Tathagathagarbha ini sama dengan konsep Atman dari ajaran lain? Jika tidak, apakah ini berarti ada 2 Diri,yaitu Diri Semu yang ditolak dalam ajaran Anatta/Sunyata dan Diri Sejati yang tak lain Tathagatagarbha. Ini kok seakan-akan bertentangan dengan ajaran Anatta/Sunyata bahwa tidak ada diri dalam semua dhamma. Mohon sesepuh Gandalf memberikan pencerahan kepada saya (dan mungkin banyak orang lain yang juga kurang paham).

Note: Saya pernah membaca kutipan Lankavatara Sutta yang diberikan sdr. Kelana di topik lain di mana Sang Buddha mengatakan bahwa ajaran Tathagatagarbha bukan dan tidak sama dengan konsep Atman dari ajaran lain, melainkan harus dimaknai dalam pengertian Sunyata. Tetapi saya belum menemukan/memahami korelasi antara Sunyata dengan Tathagatagarbha sebagai Diri Sejati.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #10 on: 29 December 2010, 03:26:39 AM »
Saya lebih cenderung memahami sunyata sebagai sebab akibat yang saling bergantungan (paticcasamuppada/pratityasamutpada) seperti yang dimaksud artikel di atas: segala fenomena (dhamma/dharma) kosong karena semua fenomena muncul dan lenyap sesuai dengan hukum paticcasamuppada. Hal ini juga ditegaskan Nagarjuna dalam Mulamadhyamakakarika: Whatever dependent arising is, that we call emptiness. That (i.e., emptiness) is a dependent concept and that itself is the middle path.

Kalau saya memahami paticcasamuppada/pratityasamutpada sebagai kondisi Dunia yang perlu dipahami sehingga kita bisa memahami Sunyata.

Seperti perumpamaan air dalam gelas di atas. Melihat bagaimana kondisi gelas ketika kosong, apa yang terjadi? Oh, ternyata hanya ada kekosongan. Bagaimana kondisi saat air itu ada dan penuh, apa yang terjadi? Oh, ternyata kekosongannya terdesak oleh air. Dst. Nah, dengan mengamati, mengetahui kondisi-kondisi tersebut maka kita dapat mengetahui cara bagaimana agar kita bisa melihat dan mendapatkan kekosongan yang lebih besar.

Memahami bagaimana kondisi air saat penuh atau surut adalah sama dengan bagaimana kita memahami paticcasamuppada/pratityasamutpada atau kondisi Dunia. Yang mana akhirnya kita bisa melihat Kekosongan/Sunyata.

Saya pribadi masih meragukan perkataan Nagajurna dalam bahasa Inggris tersebut, karena tidak menutup kemungkinan ada bias terjemahan dari perkataan aslinya.


Quote
Tetapi saya masih kurang paham tentang Tathagatagarbha ini yang dianggap sebagai Diri Sejati:

Apakah Tathagathagarbha ini sama dengan konsep Atman dari ajaran lain? Jika tidak, apakah ini berarti ada 2 Diri,yaitu Diri Semu yang ditolak dalam ajaran Anatta/Sunyata dan Diri Sejati yang tak lain Tathagatagarbha. Ini kok seakan-akan bertentangan dengan ajaran Anatta/Sunyata bahwa tidak ada diri dalam semua dhamma. Mohon sesepuh Gandalf memberikan pencerahan kepada saya (dan mungkin banyak orang lain yang juga kurang paham).

Note: Saya pernah membaca kutipan Lankavatara Sutta yang diberikan sdr. Kelana di topik lain di mana Sang Buddha mengatakan bahwa ajaran Tathagatagarbha bukan dan tidak sama dengan konsep Atman dari ajaran lain, melainkan harus dimaknai dalam pengertian Sunyata. Tetapi saya belum menemukan/memahami korelasi antara Sunyata dengan Tathagatagarbha sebagai Diri Sejati.

Dari pemahaman saya, Anatta itulah Diri Sejati, Kekosongan itulah Diri Sejati. Dengan kata lain Diri Sejati hanya merupakan istilah atau kata pengganti dari Anatta. Istilah ini digunakan untuk menarik orang-orang yang masih melekat pada konsep adanya Atta sehingga mau mendengarkan ajaran Buddha. Banyak orang yang merasa tidak nyaman ketika baru mendengar kata Anatta yang merupakan istilah bersifat negatif, mereka merasa eksistensinya terancam sehingga langsung anti/menolak untuk mendengarkan lebih lanjut apalagi mempraktikkan ajaran Buddha. Maka, agar nyaman maka digunakanlah istilah pengganti yang bersifat positif yaitu Diri Sejati dan Tathagatagarbha.

Jadi sebenarnya tidak ada Diri Sejati, yang ada adalah istilah positif untuk mengganti istilah Anatta / Kekosongan yang bersifat negatif.

Demikian
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline GandalfTheElder

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #11 on: 29 December 2010, 06:07:46 AM »
 [at] bro.Kelana:
Kayanya anda agak salah tangkap maknanya...hehe... maksud Thich Nhat Hanh bukan kekosongan itu berubah", tetapi kekosongan itu adalah ketidakkekalan, kekosongan adalah perubahan itu sendiri, sebagaimana yang anda jelaskan sendiri tentang pratitya-samutpada  :)

Tentang perumpamaan gelas kosong, tampaknya memang ada kemiripan dengan konsep "ruang" secara Buddhis yyang dimengerti oleh sang arsitek Madhyamika Kisho Kurokawa.  :)

 [at]  Seniya:
Diri Sejati adalah Anatman. Diri sejati adalah Shunyata. Diri Sejati adalah Diri Yang Tanpa Diri. Diri Sejati adalah Inter-Being itu sendiri, sebuah Diri yang tidak memiliki Aku yang berdiri sendiri (Ego). Maka itu dinamakan Muga no Taiga (Diri "Besar" Tanpa Aku). "Besar" karena batin telah mencapai hakekat Inter-Being, yang mencakup seluruh dunia dan alam semesta.

Ya. Tathagatagarbha hanyalah bahasa positif dari Shunyata saja. Karena Shunyata memiliki potensi yang tak terbatas, baik Samsara dan Nirvana muncul dari Shunyata, maka itulah merupakan sesuatu yang positif, sehingga disebut Tathagatagarbha.

Tathagatagarbha juga merupakan bahasa positif untuk menjauhkan pengertian Shunyata yang sering disalahartikan sebagai "baik dan buruk benar-benar sama saja", Tathagatagarbha menunjukkan bahwa: jalan kebajikan membawa pada keadaan Tathagata, jalan ketidakbajikan mengarah pada kelahiran di Samsara.

Tidak ada salahnya membahas Shunyata dengan "bahasa yang positif" kalau itu memang kecenderungan bagi para makhluk untuk bisa memahami Shunyata pada zaman sekarang ini.

 _/\_
The Siddha Wanderer
« Last Edit: 29 December 2010, 06:13:52 AM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline GandalfTheElder

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #12 on: 29 December 2010, 06:29:00 AM »
Quote
Dear Bro Gandalf, 
Di manakah letak alaya vijnana tersebut? Apakah alaya vijnana ini merupakan bawah sadar kita? setelah membaca tulisan anda, mungkin secara konsep saya sedikit mengerti. Tapi secara praktek, saya kesulitan walaupun berusaha menyadarai keberadaan Alaya Vijnana tersebut dalam kondisi meditasi sekalipun. Apakah ada metode tertentu yang bisa anda bantu share sehingga saya dapat mengalami "ini loh yang namanya Alaya".
Sebelumnya terimakasih bro...
Deep bow 


Bro, Udyata, secara praktek saya juga masih pemula. Saya hanya mempraktekkan apa yang diajarkan Yongey Mingyur Rinpoche tentang Mahamudra awal:

Rest in the nature of Alaya, the essence.
Teachings by Mingyur Rinpoche

When it says rest in the Alaya then it means to just rest one's mind naturally without doing anything. How do we rest the mind? Like a person who has finished all of their work and they just rest. For example someone who works in a hotel who has finished all of their duties for the day so they can now relax. They are quite physically tired so first they take a bath in water that's not too hot or cold, just right. After their bath they go to the bedroom and just let out a sigh and relax. That's how we should relax. As if we have just completed a lot of hard work. Just let go and relax. We don't have to block the thoughts; in fact you can't block the thoughts. We can't shoot them with a gun. We can't blow them up with an atom bomb. We just rest naturally.

Together with this natural resting comes mindfulness or awareness. This mindfulness naturally arises. To say it in brief, we are not distracted. Not distracted, but not meditating. We are not meditating. We are just being relaxed, but we are not distracted.

Why are we not distracted? We are not meditating on something that we get distracted from and have to have mindfulness to return to. The mind itself recognises itself. Is it like this for you? You see wood; this table does not think does it? It doesn't understand anything. A stone doesn't understand anything. But it's not like this, mind naturally recognises itself. So when it says "Alaya" it means the natural awareness of the mind. Let us all for a minute or two rest and relax. Keep a straight back. (Short meditation)

Ok, so in the beginning it's good to have small periods of time repeated often. We can't sit like this for long before we are distracted. Just a few seconds at a time, repeated often. Then gradually over time it will become better and better.

 _/\_
The Siddha Wanderer
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #13 on: 29 December 2010, 07:46:42 AM »
[at] bro.Kelana:
Kayanya anda agak salah tangkap maknanya...hehe... maksud Thich Nhat Hanh bukan kekosongan itu berubah", tetapi kekosongan itu adalah ketidakkekalan, kekosongan adalah perubahan itu sendiri, sebagaimana yang anda jelaskan sendiri tentang pratitya-samutpada  :)

IC, maaf jika memang demikian, nampaknya saya yang kurang teliti. Tapi tetap hal tersebut tidak "nyangkut" di pikiran saya , mengapa kekosongan itu adalah ketidakkekalan? Bagi saya ketidakekalan adalah kondisi Dunia ini. Anda bisa menjelaskannya Sdr. Gandalf?

Thanks
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sunyata, Alaya
« Reply #14 on: 29 December 2010, 03:00:57 PM »
Ke-kosong-an itu ada alam-nya... Alam Brahma Arupa Kekosongan .... Betul begitu ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan