Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka  (Read 43938 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #30 on: 23 May 2010, 03:13:28 PM »
tidak harus arahat untuk merasakan pengalaman anatta

tapi semua arahat pasti paham anatta

jangan diubah...merasakan atau memahami..itu beda..

pertanyaan,apakah seseorang yang bukan arahatta bisa memahami esensi dari Anatta?
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #31 on: 23 May 2010, 03:33:11 PM »
tidak harus arahat untuk merasakan pengalaman anatta

tapi semua arahat pasti paham anatta

jangan diubah...merasakan atau memahami..itu beda..

pertanyaan,apakah seseorang yang bukan arahatta bisa memahami esensi dari Anatta?

ehm mgkn tlg bro riky bisa melihat secara buddhism dimana vedana ada dalam setiap citta yah

karena ini yang seringkali rancu dimana merasakan dalam artian mengikuti apa yang menyenangkan/menolak apa yg tidak menyenangkan disamakan dengan vedana dalam artian sabbacitta sadharana cetasika

ini yang sering membuat diskusi jadi ga nyambung karena sudut pandang awam, dijadikan landasan utk diskusi buddhism

kembali ke pernyataan "pengalaman" bukan "paham anatta" loh, jadi tlg ini dibedakan loh........

Quote
Bro Hasan yang baik, pengalaman anatta sudah diterangkan oleh penguasa jagad Dhammacitta yaitu tidak harus arahat karena pengalaman ini berkaitan dengan pengalaman lain yang merupakan satu kesatuan, yaitu pengalaman anicca dan pengalaman dukkha.

Banyak siswa meditasi Vipassana mengalami hal ini. Jadi pengalaman membuktikan secara langsung mengenai anicca, dukkha dan anatta ini.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #32 on: 23 May 2010, 03:51:33 PM »
Aduh,jadi malu saya..Penguasa forum jangan cepat "ngambek" doang..Stay cool,biasanya Anda kan selalu cool..haha..

Saya tidak mempunyai indikasi apapun untuk menuduh Anda,tetapi kalau persepsi Anda berkata begitu,ya apa boleh buat..Just let it go... :D
loh, ini masih cool koq. itu pernyataan terima kasih itu tidak dengan kebencian tapi dengan tulus loh, itu pernyataan kebenaran. mungkin persepsi dan pengalaman anda yg menyebabkan anda berpikir demikian :) Just let it go  ;D

Saya tidak bertanya soal "si pendengar",saya hanya tertarik dengan pernyataan Anda soal "sudut lain" itu.. :)

Kembali pada soal "Anatta",menurut Anda,apakah seseorang yang belum mengalami "anatta" bisa tahu tentang Anatta secara terperinci?

Menurut saya sebelum mengalaminya,itu hanya merupakan kepercayaan belaka saja..

ada 3 orang :

1.Orang yang melihat kerang dan mengumpulkannya di pantai
2.Orang yang diberitahukan ada kerang di pantai
3.Orang yang tidak tahu ada kerang di pantai

Kalau ditanya,"Apakah mereka tahu di pantai ada kerang.."

Ketiga-tiganya akan menjawab,"Mereka tahu bahwa dipantai ada kerang....tetapi siapakah sesungguhnya yang mengetahui "keindahan kerang" itu?"

Regards,

Riky

utk berikut ini, tidak ada yg perlu dikometari karena "so obvious gituloh". Kata kunci berikutnya adalah, Sang Buddha dalam Okkanta Samyutta menjelaskan bahwa mereka yg sudah melihat langsung sendiri
bahwa fenomena ini adalah tanpa diri, itu yg disebut merealisasikan buah pemasuk arus (Sotapatti
magga).

utk linknya lagi broken, kemaren malem ngantuk2x malah kehapus2x postingan2x di dcpedia  :|
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #33 on: 23 May 2010, 04:57:01 PM »
Sutta lain yg senada adalah Ditthisamyutta

24. Ditthisamyutta
Khotbah tentang Pandangan-pandangan

I. MEMASUKI-ARUS

1 (1) Angin

Di  Sàvatthi.  “Para  bhikkhu,  ketika  ada  apakah,  dengan melekat pada apakah, dengan terikat pada apakah, suatu pandangan seperti berikut  ini muncul:  ‘Angin  tidak  bertiup,  sungai  tidak mengalir, perempuan  hamil  tidak  melahirkan,  bulan  dan  matahari  tidak terbit dan terbenam melainkan diam bagaikan pilar.’?”

“Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavà, dituntun oleh Sang Bhagavà….”

“Ketika ada bentuk, para bhikkhu, dengan melekat pada bentuk, dengan  terikat pada bentuk, suatu pandangan seperti berikut  ini muncul: ‘Angin tidak bertiup … melainkan kokoh bagaikan pilar.’
Ketika ada perasaan … persepsi … bentukan-bentukan kehendak … kesadaran, dengan melekat pada kesadaran, dengan terikat pada kesadaran,  suatu  pandangan  seperti  berikut  ini muncul:  ‘Angin tidak bertiup … melainkan diam bagaikan pilar.’

“Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, apakah bentuk adalah kekal atau tidak kekal?… [203]  … apakah kesadaran adalah kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Yang Mulia.” …
“Tetapi  tanpa melekat  pada  apa  yang  tidak  kekal,  penderitaan, dan mengalami perubahan, dapatkah suatu pandangan seperti itu muncul?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Apa yang dilihat, didengar, dicerap, dikenali, dicapai, dicari, dan dijelajahi oleh pikiran:
 apakah kekal atau tidak kekal?”
“Tidak kekal, Yang Mulia.”
“Apakah  yang  tidak  kekal  itu  adalah  penderitaan  atau kebahagiaan?”
“Penderitaan, Yang Mulia.”
“Tetapi  tanpa melekat  pada  apa  yang  tidak  kekal,  penderitaan, dan mengalami perubahan, dapatkah suatu pandangan seperti itu muncul?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Ketika,  para  bhikkhu,  seorang  siswa  mulia  telah  melepaskan kebimbangan dalam enam kasus ini, dan ketika, lebih jauh lagi, ia  telah  melepaskan  kebimbangan  terhadap  penderitaan,  asal-
mula penderitaan,  lenyapnya penderitaan, maka  ia disebut siswa mulia yang adalah seorang Pemasuk-arus, tidak akan lagi terlahir di alam rendah, pasti mencapai tujuan, dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

2 (2) Ini Milikku

Di  Sàvatthi.  “Para  bhikkhu,  ketika  ada  apakah,  dengan melekat pada apakah, dengan terikat pada apakah, suatu pandangan seperti berikut ini muncul: ‘ini milikku, ini aku, ini diriku’?”

“Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavà, dituntun oleh Sang Bhagavà….” [204]
“Ketika ada bentuk, para bhikkhu, dengan melekat pada bentuk, dengan  terikat pada bentuk, suatu pandangan seperti berikut  ini muncul:  ‘ini milikku,  ini aku,  ini diriku.’ Ketika ada perasaan …
persepsi …  bentukan-bentukan  kehendak …  kesadaran,  dengan melekat  pada  kesadaran,  dengan  terikat  pada  kesadaran,  suatu pandangan  seperti  berikut  ini muncul:  ‘ini milikku,  ini  aku,  ini diriku.’ …
“Ketika,  para  bhikkhu,  seorang  siswa  mulia  telah  melepaskan kebimbangan dalam enam kasus ini … maka ia disebut siswa mulia yang adalah seorang Pemasuk-arus … dengan Penerangan sebagai tujuannya.”

3 (3) Diri

Di  Sàvatthi.  “Para  bhikkhu,  ketika  ada  apakah,  dengan melekat pada apakah, dengan terikat pada apakah, suatu pandangan seperti berikut  ini muncul:  ‘Apa yang menjadi diri adalah dunia; setelah meninggal  dunia,  aku  akan menjadi  –  kekal,  stabil,  abadi,  tidak mengalami perubahan’?”
 [205]
“Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavà, dituntun oleh Sang Bhagavà….”
“Ketika ada bentuk, para bhikkhu, dengan melekat pada bentuk, dengan  terikat pada bentuk, suatu pandangan seperti berikut  ini muncul:  ‘Apa yang menjadi diri adalah dunia; setelah meninggal dunia,  aku  akan menjadi  – kekal,  stabil,  abadi,  tidak mengalami perubahan.’ Ketika ada perasaan … persepsi … bentukan-bentukan kehendak … kesadaran, dengan melekat pada kesadaran, dengan terikat  pada  kesadaran,  suatu  pandangan  seperti  berikut  ini
muncul:  ‘Apa yang menjadi diri adalah dunia; setelah meninggal dunia,  aku  akan menjadi  – kekal,  stabil,  abadi,  tidak mengalami perubahan.’ …

“Ketika,  para  bhikkhu,  seorang  siswa  mulia  telah  melepaskan kebimbangan dalam enam kasus ini … maka ia disebut siswa mulia yang adalah seorang Pemasuk-arus … dengan Penerangan sebagai tujuannya

Offline dukun

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 148
  • Reputasi: 8
  • Long lasting love
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #34 on: 23 May 2010, 07:47:51 PM »
Kalo menurut saya sih.. Arahant merealisasi anatta dalam pengalaman utuh sementara non-arahant masih dalam bentuk sepotong-potong. Sang Buddha tidak akan membuat pernyataan berbentuk dikotomi terpisahkan begitu saja tanpa solusi. Karena seorang arahant juga awalnya seorang awam belaka. Jadi tidak penting bagi Sang Buddha untuk membuat dikotomi demikian, melainkan lebih penting adalah bagaimana mencapai realisasi (pativedha) dari doktrin anatta sehingga seorang awam dapat menjadi arahant.

Anggaplah apa yang Bro HT quote itu benar, so what? ??? Apa point yang hendak disampaikan di situ? Sekadar pancingan debat intelektual antar sesama non-arahant?

You are right brother. Hanya Arahat yang mengalami dan memahami anata seutuhnya. Sotapana adalah pengalaman awal dan belum final. Khususnya berhubungan dengan avijja(avija terakhir) yang orang lain sebut dengan atta(pandangan tentang adanya diri) . Perumpamaan Brahma terpaku sebagai adikuasa, penuh dengan metta tak terbatas, karuna dan mudita dan cahaya gemilang dari kemurnian dan terperangkap dalam kemurnian ini sebagai kemurnian padahal adalah avija .inilah yang terakhir yang dibasmi /dilepas/terlepas dengan sendirinya(apapun istilahnya) oleharahat. Tidak ada lagi dualitas. Seorang sotapana sampai anagami pun masih dapat terjebak dengan menanggap diri telah mencapai arahat maka ini bisa dikatakan belum mengalami anatta seutuhnya (atau terperangkap dalam ilusi diri terhadap pencapaian).
« Last Edit: 23 May 2010, 07:51:40 PM by dukun »
Everjoy

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #35 on: 23 May 2010, 09:55:42 PM »
apakah itu mengalami anatta ? apakah ada awal dan final saja?

apakah perbedaan antara sotapanaa dan arahant? apakah perbedaan "mengalami" anatta? ataukan kemelekatannya? belenggunya?

apakah itu mengalami anatta ?
There is no place like 127.0.0.1

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #36 on: 23 May 2010, 10:14:34 PM »
tidak harus arahat untuk merasakan pengalaman anatta

tapi semua arahat pasti paham anatta

jangan diubah...merasakan atau memahami..itu beda..

pertanyaan,apakah seseorang yang bukan arahatta bisa memahami esensi dari Anatta?

ehm mgkn tlg bro riky bisa melihat secara buddhism dimana vedana ada dalam setiap citta yah

karena ini yang seringkali rancu dimana merasakan dalam artian mengikuti apa yang menyenangkan/menolak apa yg tidak menyenangkan disamakan dengan vedana dalam artian sabbacitta sadharana cetasika

ini yang sering membuat diskusi jadi ga nyambung karena sudut pandang awam, dijadikan landasan utk diskusi buddhism

kembali ke pernyataan "pengalaman" bukan "paham anatta" loh, jadi tlg ini dibedakan loh........

Quote
Bro Hasan yang baik, pengalaman anatta sudah diterangkan oleh penguasa jagad Dhammacitta yaitu tidak harus arahat karena pengalaman ini berkaitan dengan pengalaman lain yang merupakan satu kesatuan, yaitu pengalaman anicca dan pengalaman dukkha.

Banyak siswa meditasi Vipassana mengalami hal ini. Jadi pengalaman membuktikan secara langsung mengenai anicca, dukkha dan anatta ini.

Saya tahu bahwa ada fenomena "anicca" "dukkha" dan "anatta",dan rasanya Anda juga tahu bahwa walau sudah "mengetahui" fenomena tersebut,toh banyak yang belum terbebaskan atau merealisasikan "nibbana" seperti yang direalisasikan oleh Buddha Gotama sendiri..

Kalian semua yang berKTP Buddhist,mempercayai Buddha Gotama,percaya dengan kata Buddha bahwa,"Hidup adalah dukkha.."

tetapi apakah dengan pengalaman kalian semua tentang dukkha itu,membawa kalian pada esensi dukkha,dan padamnya dukkha?atau kalian semakin "bodoh" dan "gelap batin",karena merasa sudah tahu "tentang dukkha",padahal itu hanya berupa "kepercayaan/teori" kalian belaka?

Semakin kalian tahu,semakin kalian sombong,semakin kalian sombong,semakin tidak ada realitas disana,karena kalian menganggap diri kalian sendiri adalah REALITASNYA..Diri kalian sendiri adalah KEBENARANnya..walau bagi saya KEBENARAN kalian BUKAN merupakan KEBENARAN lagi BAGIKU.. :D

Regards,

Riky Liau

Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Alucard Lloyd

  • Sebelumnya: a.k.agus
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 529
  • Reputasi: 13
  • Gender: Male
  • buddho
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #37 on: 23 May 2010, 10:18:23 PM »
anatta dapat dipahami sebagai teori oleh umat awan dan dapat juga direalisasikan oleh umat awan karena sejujurnya itu semua dapat terjadi karena tanha/keinginan diri sebagai pematik api dari asap yang akan terlihat dikemudian hari
Agama ku tidak bernama
Karena guru ku telah parinibbana
Yang tertinggal hanyalah dahmma
Agar aku dapat mencapai nibbana

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #38 on: 23 May 2010, 10:20:24 PM »
Aduh,jadi malu saya..Penguasa forum jangan cepat "ngambek" doang..Stay cool,biasanya Anda kan selalu cool..haha..

Saya tidak mempunyai indikasi apapun untuk menuduh Anda,tetapi kalau persepsi Anda berkata begitu,ya apa boleh buat..Just let it go... :D
loh, ini masih cool koq. itu pernyataan terima kasih itu tidak dengan kebencian tapi dengan tulus loh, itu pernyataan kebenaran. mungkin persepsi dan pengalaman anda yg menyebabkan anda berpikir demikian :) Just let it go  ;D

cara elegan ya..namanya juga Dhammacitta gitu loch..cara kotor juga dianggap bersih.. :)

hihihi...menurut persepsimu juga koq,itu adalah pernyataan kebenaran,mungkin saja tidak benar toh?haha..



Saya tidak bertanya soal "si pendengar",saya hanya tertarik dengan pernyataan Anda soal "sudut lain" itu.. :)

Kembali pada soal "Anatta",menurut Anda,apakah seseorang yang belum mengalami "anatta" bisa tahu tentang Anatta secara terperinci?

Menurut saya sebelum mengalaminya,itu hanya merupakan kepercayaan belaka saja..

ada 3 orang :

1.Orang yang melihat kerang dan mengumpulkannya di pantai
2.Orang yang diberitahukan ada kerang di pantai
3.Orang yang tidak tahu ada kerang di pantai

Kalau ditanya,"Apakah mereka tahu di pantai ada kerang.."

Ketiga-tiganya akan menjawab,"Mereka tahu bahwa dipantai ada kerang....tetapi siapakah sesungguhnya yang mengetahui "keindahan kerang" itu?"

Regards,

Riky

utk berikut ini, tidak ada yg perlu dikometari karena "so obvious gituloh". Kata kunci berikutnya adalah, Sang Buddha dalam Okkanta Samyutta menjelaskan bahwa mereka yg sudah melihat langsung sendiri
bahwa fenomena ini adalah tanpa diri, itu yg disebut merealisasikan buah pemasuk arus (Sotapatti
magga).

utk linknya lagi broken, kemaren malem ngantuk2x malah kehapus2x postingan2x di dcpedia  :|
[/quote]

Melihat saja ya?Tanpa diri itu sendiri adalah nibbana,apakah perlu pendalaman lagi?atau karena pernyataan "melihat" bukan "memahami" itu? :D

Regards,

Riky Liau
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #39 on: 23 May 2010, 10:20:58 PM »
anatta dapat dipahami sebagai teori oleh umat awan dan dapat juga direalisasikan oleh umat awan karena sejujurnya itu semua dapat terjadi karena tanha/keinginan diri sebagai pematik api dari asap yang akan terlihat dikemudian hari

melihat untuk KINI,SAAT ini BUKAN kemudian hari.. :D
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #40 on: 23 May 2010, 10:52:09 PM »
Dikatakan bahwa orang yg meyakini bahwa pancakhanda bukan diri adalah dalam jalan pemasuk arus. Orang yg sudah melihat/mengalami itu adalah seorang pemasuk arus.
Disini menyakini = kepercayaan/iman belaka juga diperlukan ya?
dengan Sutta yg sama, bisa membuat orang memahami dan hancurlah tanha dan tidak melekat lagi
Ada kemungkinan dengan Sutta yang sama, membuat si pendengar makin tersesat ?
(cuman minta pendapat saja) :D

Ikut nimbrung juga ah.... :)
Bro Hasan yang baik, pengalaman anatta sudah diterangkan oleh penguasa jagad Dhammacitta yaitu tidak harus arahat karena pengalaman ini berkaitan dengan pengalaman lain yang merupakan satu kesatuan, yaitu pengalaman anicca dan pengalaman dukkha.

Banyak siswa meditasi Vipassana mengalami hal ini. Jadi pengalaman membuktikan secara langsung mengenai anicca, dukkha dan anatta ini.

Ajaran Buddha bukan mendasarkan ajarannya pada keyakinan atau iman.
Ajaran Sang Buddha mendasarkan Ajarannya pada pengalaman praktek, pengertian dan kebijaksanaan (practice, wisdom dan understanding)

Demikian pentingnya praktek dan pengalaman ini, sehingga mereka yang belum mengalami kebenaran tertinggi (Ultimate Truth/Nibbana) bahkan belum dianggap siswa yang sesungguhnya (belum sekha). Mereka yang belum mengalami Kebenaran Tertinggi masih dianggap umat awam, walau ia mampu menghafal Tipitaka (yang berjumlah 41 buku) beserta komentar dan subkomentar yang jumlahnya bahkan lebih banyak dari Tipitaka.

 _/\_

Nimbrung juga ah..Maksud Bro Fabian apa ya?Tidak perlu menjadi Arahat untuk "memahami" Anatta..Memahami apa maksudnya?
Bro Ricky yang baik, kulminasi dari pengalaman anatta adalah lenyapnya sakkaya ditthi (pandangan salah mengenai diri/adanya atta/roh yang kekal). Sakkaya ditthi lenyap pada pencapaian tingkat kesucian pertama. (Sotapanna).

Quote
Arahat dulu baru memahami,atau memahami dulu baru Arahat? :)

Regards,

Riky
Pertanyaannya kurang tepat diterapkan bro, ada "degree" pengalaman anatta yang berbeda-beda pada setiap praktisi Vipassana, semakin tinggi pencapaian semakin jelas pengalaman anatta (tentunya juga pengalaman anicca dan dukkha karena ketiganya berkaitan) bagaimanakah pengalaman anatta? semakin mengalami berbagai macam fenomena semakin melihat ia bahwa tak ada aku, tak ada jiwa, tak ada roh, yang ada hanya bentuk-bentuk pikiran, perasaan, ingatan, kesadaran dll.

Vipassana adalah proses pematangan pengalaman terhadap ketiga karakteristik ini (tilakkhana), bila pada meditasi Vipassana pengalaman terhadap ketiga karakteristik tak berkembang ada dua kemungkinan, yaitu sang meditator belum siap Vipassana atau meditasi yang diikutinya bukan Vipassana.

 _/\_
« Last Edit: 23 May 2010, 11:02:00 PM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #41 on: 23 May 2010, 11:29:32 PM »
tidak harus arahat untuk merasakan pengalaman anatta

tapi semua arahat pasti paham anatta

jangan diubah...merasakan atau memahami..itu beda..

pertanyaan,apakah seseorang yang bukan arahatta bisa memahami esensi dari Anatta?

ehm mgkn tlg bro riky bisa melihat secara buddhism dimana vedana ada dalam setiap citta yah

karena ini yang seringkali rancu dimana merasakan dalam artian mengikuti apa yang menyenangkan/menolak apa yg tidak menyenangkan disamakan dengan vedana dalam artian sabbacitta sadharana cetasika

ini yang sering membuat diskusi jadi ga nyambung karena sudut pandang awam, dijadikan landasan utk diskusi buddhism

kembali ke pernyataan "pengalaman" bukan "paham anatta" loh, jadi tlg ini dibedakan loh........

Quote
Bro Hasan yang baik, pengalaman anatta sudah diterangkan oleh penguasa jagad Dhammacitta yaitu tidak harus arahat karena pengalaman ini berkaitan dengan pengalaman lain yang merupakan satu kesatuan, yaitu pengalaman anicca dan pengalaman dukkha.

Banyak siswa meditasi Vipassana mengalami hal ini. Jadi pengalaman membuktikan secara langsung mengenai anicca, dukkha dan anatta ini.

Saya tahu bahwa ada fenomena "anicca" "dukkha" dan "anatta",dan rasanya Anda juga tahu bahwa walau sudah "mengetahui" fenomena tersebut,toh banyak yang belum terbebaskan atau merealisasikan "nibbana" seperti yang direalisasikan oleh Buddha Gotama sendiri..

Bro Riky yang baik, memang benar tahu fenomena anicca, dukkha dan anatta tidak membawa seseorang pada kebebasan, karena untuk tahu kita tak perlu memiliki pra kondisi yang diperlukan misalnya perhatian dan konsentrasi (sati dan samadhi). Hanya dengan mengalami membawa seseorang pada kebebasan, dan untuk mengalami seseorang harus memiliki pra kondisi yang diperlukan, yaitu perhatian dan konsentrasi yang cukup. Pernyataan bro Riky bahwa banyak yang belum terbebaskan (belum merealisasikan Nibbana) memang benar, tetapi yang terbebaskan (sudah merealisasi) juga sangat banyak.

Quote
Kalian semua yang berKTP Buddhist,mempercayai Buddha Gotama,percaya dengan kata Buddha bahwa,"Hidup adalah dukkha.."

tetapi apakah dengan pengalaman kalian semua tentang dukkha itu,membawa kalian pada esensi dukkha,dan padamnya dukkha?atau kalian semakin "bodoh" dan "gelap batin",karena merasa sudah tahu "tentang dukkha",padahal itu hanya berupa "kepercayaan/teori" kalian belaka?

Saya setuju percaya tidak membawa pada esensi dukkha,dan padamnya dukkha, melainkan pengalaman langsung (direct experience) yang akan membawa kita pada esensi dukkha,dan padamnya dukkha.
Tetapi percaya merupakan langkah awal yang akan memotivasi kita untuk mengalami sendiri esensi dukkha,dan padamnya dukkha.
Tilakkhana (anicca, dukkha dan anatta) adalah teori bagi yang belum pernah mengalami dan merupakan pengalaman langsung bagi mereka yang pernah mengalami.

Quote
Semakin kalian tahu,semakin kalian sombong,semakin kalian sombong,semakin tidak ada realitas disana,karena kalian menganggap diri kalian sendiri adalah REALITASNYA..Diri kalian sendiri adalah KEBENARANnya..walau bagi saya KEBENARAN kalian BUKAN merupakan KEBENARAN lagi BAGIKU.. :D

Regards,

Riky Liau
Semoga saya tidak menjadi sombong, semoga saya tidak menjadi angkuh semoga saya semakin dekat pada Dhamma dan tujuan akhir, semoga saya  tidak semakin menjauh dari Dhamma dan tujuan akhir.

 _/\_
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline wen78

  • Sebelumnya: osin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.014
  • Reputasi: 57
  • Gender: Male
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #42 on: 24 May 2010, 02:37:47 AM »
Hanya seorang arahat memahami anatta sebagai pengalaman eksperiensial.
Yang lain hanya bisa memahami anatta sebagai kepercayaan/iman belaka.

anda yakin Hudoyo Hupodio mengatakan seperti diatas?

jika "Yang lain hanya bisa memahami anatta sebagai kepercayaan/iman belaka." diartikan orang biasa hanya mampu memahami anatta adalah sebuah kepercayaan/iman belaka, maka "Hanya seorang arahat memahami anatta sebagai pengalaman eksperiensial." diartikan hanya arahat memahami anatta adalah sebuah pengalaman eksperiensial.

bisa tolong dijelaskan apakah artinya adalah seperti yg saya pahami seperti diatas?
« Last Edit: 24 May 2010, 02:42:32 AM by wen78 »
segala post saya yg tidak berdasarkan sumber yg otentik yaitu Tripitaka, adalah post yg tidak sah yg dapat mengakibatkan kesalahanpahaman dalam memahami Buddhism. dengan demikian, mohon abaikan semua statement saya di forum ini, karena saya tidak menyertakan sumber yg otentik yaitu Tripitaka.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #43 on: 24 May 2010, 06:07:07 AM »

cara elegan ya..namanya juga Dhammacitta gitu loch..cara kotor juga dianggap bersih.. :)

hihihi...menurut persepsimu juga koq,itu adalah pernyataan kebenaran,mungkin saja tidak benar toh?haha..

Terima kasih juga atas tuduhan bahwa DC, cara kotor dianggap bersih _/\_

diskusi model ini yg tidak sehat, dimulai dari niat tidak baik, nanti bakal debat tidak berujung.


Melihat saja ya?Tanpa diri itu sendiri adalah nibbana,apakah perlu pendalaman lagi?atau karena pernyataan "melihat" bukan "memahami" itu? :D

Regards,

Riky Liau

kalau begini, kita harus melihat apa definisi nibbana itu.

Nibbana adalah tanpa diri -> ini pernyataan tepat dimana sabbe dhamma anatta, tapi bukan berarti melihat dan memahami anatta itu adalah merealisasikan nibbana.

Nibbana != (tidak sama dengan) merealisasikan/melihat/memahami anatta itu

Nibbana = Padamnya kemelekatan/tanha

Proses merealisasikan Nibbana itu dimulai ketika "pintu terbuka" atau masuk ke dalam prosesnya itu ketika "memasuki arus" dimana dia melihat bahwa tidak ada diri.
There is no place like 127.0.0.1

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Awam hanya bisa memahami Anatta sbg Kepercayaan/Iman belaka
« Reply #44 on: 24 May 2010, 06:22:09 AM »
Hanya seorang arahat memahami anatta sebagai pengalaman eksperiensial.
Yang lain hanya bisa memahami anatta sebagai kepercayaan/iman belaka.

anda yakin Hudoyo Hupodio mengatakan seperti diatas?

jika "Yang lain hanya bisa memahami anatta sebagai kepercayaan/iman belaka." diartikan orang biasa hanya mampu memahami anatta adalah sebuah kepercayaan/iman belaka, maka "Hanya seorang arahat memahami anatta sebagai pengalaman eksperiensial." diartikan hanya arahat memahami anatta adalah sebuah pengalaman eksperiensial.

bisa tolong dijelaskan apakah artinya adalah seperti yg saya pahami seperti diatas?

Benar pak Hud menulis demikian. Setelah saya memberikan rujukan Okkanta Samyutta, pak Hud mengakui bahwa pernyataannya salah dan menjelaskan maksud dari kata2xnya yg seharusnya puthujana bukan arahant.

Quote from: Hudoyo from mail
Sumedho: <<Orang yg sudah melihat/mengalami itu adalah seorang pemasuk arus.>>

Thanissaro: "One who KNOWS and SEES that these phenomena are this way is called a stream-enterer, ... ." (Okkanta Samyutta)

Saya tidak mau berteori tentang batin Sotapanna s.d. Anagami. Tetapi, saya duga karena seorang Sotapanna masih mempunyai nafsu keinginan dan kebencian (sekalipun menurut teorinya tidak mungkin melanggar Sila lagi), pasti dalam batinnya ada aku/atta, terlepas dari apa pun yg dikatakan oleh kitab suci.

Yang ingin saya tekankan dengan pernyataan saya itu ialah bahwa di dalam batin orang biasa (puthujjana), seperti Anda, Gunadipo, Fabian, Markosprawira dll dan saya, 'anatta' itu tidak lebih daripada sekadar kepercayaan/iman.

Itulah sebabnya Bhante Pannavaro menekankan, janganlah melawan kotoran batin dengan konsep anatta.

Hudoyo
Saya tetap memilih jalan yang ditunjukkan Sang Buddha dalam banyak Sutta2, salah satunya Anatthalakkhana/Pancavaggi sutta (http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_22_59_Pancavaggi_Sutta_Thanissaro) dimana melawan kotoran batin dengan konsep anatta. Juga dalam Ditthi Samyutta.
« Last Edit: 24 May 2010, 07:01:12 AM by Sumedho »
There is no place like 127.0.0.1