Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana  (Read 49203 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #15 on: 08 March 2010, 04:36:10 PM »
1.   NIAT DIDALAM BERBUAT JASA..

Niat pikiran yang menggerakkan kita untuk berbuat jasa merupakan landasan atau pondasi kita selanjutnya, dan niat tersebut diumpamakan sebagai indicator utama dalam menilai manfaat jasa yang diberikan.

Niat ini terbagi dalam :

a.   Pubba Cetana ( Niat yang mendahului atau sebelum perbuatan jasa dilakukan ).

Niat ini dapat timbul apabila kita melihat, mendengar, merasakan, mencium bau tertentu atau pikiran tertentu ( seperti diuraikan pada pembahasan dana non materi ).
Misalnya, kita melihat seseorang sakit, lalu timbul iba dan ingin berdana obat, atau mendengar di daerah tertentu sedang dilanda bencana, lalu timbul niat untuk berdana.
Niat tersebut menimbulkan kebahagiaan , keharuan dan kepedulian kita, tidak perduli berapa yang akan kita danakan, kita menyadari akan mengulurkan tangan untuk melakukan sesuatu meringankan penderitaan manusia, dan kondisi tersebut membuahkan kebahagiaan.

b.   Munca Cetana ( Niat/pikiran pada saat berbut jasa )

Setelah timbul keinginan, kita mempersiapkan kebutuhan yang akan didanakan, kita melakukan dengan hati yang bersih dan berbahagia. Pada saat menyerahkan dana tersebut kepada penerima kita akan berbahagia, kita bersyukur dapat meringankan penderitaan orang dan kita dapat berbuat sesuatu untuk sesame manusia.

c.   Apara Cetana ( Niat/pikiran setelah berbuat jasa ).

Setelah kita melakukan perbuatan berdana, kita diliputi kondisi berbahagia, dan ingin mengulang lagi perbuatan-perbuatan baik lainnya. Kita akan selalu berbahagia apabila mengingat kembali hal-hal baik yang telah kita lakukan.
Dengan niat tersebut, sipenerima dan juga merasa berbahagia, senang dan merasa diperhitakan. Hal ini menimbulkan getaran-getaran kebahagiaan yangsaling memancar dan pahalanya akan berbuah bagi kebahagiaan si pemberi.

Tambahan artikel ( diluar dari buku tersebut )

Niat
 
Di negara yang mayoritas penduduknya umat Buddha, patung Buddha ada dimana-mana. Kadang di salah satu sudut perempatan jalan, di depan kantor, di sekolah-sekolah, di tepi jalan. Ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar. Patung itu dihormati karena patung itu merupakan lambang Buddha.

Suatu hari ada umat Buddha berjalan di suatu desa. Dia melihat patung Buddha kecil kehujanan. Dia berpikir, "Wah, ini tidak pantas. Air hujan membasahi patung Buddha yang tidak ada atapnya." Timbul niat untuk menghormat Buddha. Tetapi, dia sendiri tidak membawa payung, pakaiannya basah. Patung itu hendak diangkat tapi direkatkan dengan semen di alasnya. Dia melihat ke kanan, ke kiri. Lalu terlihat ada sebuah sepatu yang sudah dibuang, yang sudah jebol, baunya mungkin tidak keru-keruan. Sepatu jebol itu diambil, lalu ditaruh di atas kepala patung Buddha, supaya patung Buddha tidak kehujanan. Kemudian dia pergi.

Pada waktu hujan sudah berhenti, ada orang lain lewat dan dia juga umat Buddha. Dia berpikir, "Ini tidak betul, tidak masuk akal. Ini adalah penghinaan. Ada sepatu jebol di atas kepala Buddha." Karena orang kedua ini ingin menghormat Buddha, lalu diambilnya sepatu jebol itu dan dibuang.

Dua orang itu sama-sama memiliki niat yang baik. Dua orang itu sama-sama mempunyai tindakan yang baik, meskipun caranya berbeda. Orang yang pertama mengerudungi kepala patung dengan sepatu jebol dengan niat baik, tetapi orang yang kedua salah paham dan mengira orang pertama itu mempunyai niat yang tidak baik. Niat yang baik itu tidak akan berubah menjadi niat yang buruk, meskipun orang lain menilai itu buruk.

Kalau saya menanam jagung, kemudian tumbuh. Sebelum berubah, orang lain melihat apa yang saya tanam itu lalu berkata, "Ini bukan jagung. Ini adalah jali." Tidak menjadi soal, meskipun orang salah menilai jagung ini sebagai jali, karena pada waktu nanti berbuah, benih jagung tetap akan membuahkan jagung. Dengan demikian, kita tidak perlu pusing dengan apa yang akan dihasilkan nanti.

Benih atau bibit itu seperti kehendak( cetana ). Kalau kita sudah memastikan bahwa kehendak kita itu baik dan bijaksana, tidak merugikan orang lain dan juga dirinya sendiri, maka tidak perlu pusing bila ada yang salah paham. Ucapan dan perbuatan baik kita - sekalipun mungkin orang lain bisa salah paham - nilainya tetap baik. Apakah orang kedua yang melempar sandal jebol dari atas kepala patung Buddha itu bisa menghancurkan niat baik orang yang pertama? Tidak! Dan apakah karena merusak hasil orang yang pertama, lalu yang dilakukan orang kedua itu adalah tidak baik? Juga tidak! Orang kedua juga melakukan hal yang baik, karena dia membuang sepatu jebol itu dengan niat yang baik juga.

Kalau kita bisa memeriksa dan memastikan bahwa tidak ada unsur yang tidak baik, maka hal itu pasti baik. Sekalipun orang lain salah paham kepada kita - dan sekalipun kita sudah melakukan namun tidak berhasil - nilainya tetap baik. Itulah yang disebut dengan kewaspadaan. Orang yang waspada adalah orang yang selalu memeriksa kehendaknya, mengamat-amati kehendaknya sendiri, jangan sampai timbul kehendak yang tidak baik, yang merugikan orang lain dan juga menghancurkan dirinya sendiri. 

Semoga Bermanfaat.

 _/\_

bersambung...
« Last Edit: 08 March 2010, 04:46:15 PM by CHANGE »

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #16 on: 08 March 2010, 04:45:05 PM »
2.   TEPAT SASARAN

Apa yang disebut tepat sasaran ? Jawabannya adalah, tepat waktu, tempat yang tepat dan berkesinambungan.

a.   TEPAT WAKTU.

Pemilihan waktu merupakan factor yang penting, karena pemberian dana pada waktu yang tidak tepat, selain sia-sia, mungkin akan mendatangkan kesulitan daapt mendatangkan kesulitan bagi pemberian.
Misalnya, untuk menasehati pemabuk, kita jangan melakukannya pada saat ia sedang mabuk. Karena selain tidak mendengarkan, mungkin kita bisa kena pukulan atau cacian. Pilihlah pada waktu dimana pemabuk tersebut sedang dalam keadaan sakit, dalam kondisi itu ia siap menerima saran karena akibat dari minum-minuman keras sudah dirasakan.

Demikian juga apabila kita menyumbangkan obat-obatan pada orang yang kita dengar sedang menderita sakit, tetapi karena kesibukan waktu, seminggu kemudian kita baru dapat melaksanakan niat kita. Pada saat itu si sakit ternyata telah sembuh, bukankah perbuatan kita kurang bermanffat jadinya ?

Hal ini dapat diterangkan secara sederhana, seperti bercocok tanam dimusim kemarau, hasilnya tidak akan menggembirakan, tetapi apabila dilakukan tepat waktu pada musim hujan, hasil yang kita akan tumbuh subur.

b.   TEMPAT YANG TEPAT/TEPAT GUNA.

Apa yang kita danakan hendaknya bermanfaat bagi penerima. Jika tidak, selain pahala berkurang, bahkan menimbulkan kerepotan bagi penerimanya. Misalnya, kita mendanakan biantang peliharaan bagi Bhikkhu, hal tersebut tidak tepat guna. Karena Bhikkhu perlu waktu khusus merawat binatang tersebut dan mengganggu sang Bhikkhu dalam menjalankan peraturan ke Bhikkhu-an yang menjalankan ke-Bhikkhuan yang ketat.

c.   BERKESINAMBUNGAN.

Perbuatan baik yang dilakukan sesekali, hasilnya tentu tidak akan seperti yang kita harapkan. Perbuatan baik tentu menhasilkan karma baik, tetapi karma baik belum tentu berbuah pada kehidupan sekarang. Hal ini dikarenakan jumlahnya yang sedikit sehingga waktu matangnya perlu lebih lama, atau juga karena kekurangan factor pendorong lainnya.

Seperti halnya mengayuh sepeda, apabila kita Cuma mengayuh 100 meter, lantas berhenti, kita tentu tidak bisa mencapai tujuan yang berjarak 500 meter. Tetapi apabila kita mengayuh terus-menerus, biarpun tidak berturut-turut, namun dilakukan terus tentu akan membuahkan hasil tercapainya tempat yang dituju.

Demikin juga halnya dengan perbuatan berdana, perlu ditimbulkan kegiatan yang terus-menerus, sehingga tanpa kita sadari akan menjadi KEBIASAAN DALAM KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI.

Kita menjadi ringan tangan, welas asih, memperhatikan dan wajah kita selalu ceria karena hati kita penuh dengan kebahagiaan, bukankah kondisi tersebut cukup mendukung untuk lahirnya buah kebaikan yang telah kita tanam ? Selain baik untuk kesehatan, kita mungkin  juga akan menjadi mudah tidur, tidak ada beban pikiran ( stress ) dan banyak rezeki.

Apabila seseorang berbuat bajik, hendaklah dia mengulangi perbuatannya itu dan bersuka cita dengan perbuatannya itu, sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik.
( Dhammapada Atthakatha syair 118 )


Tambahan artikel ( diluar dari buku tersebut )

MENAMAN KEBAIKAN

Alkisah, di suatu kerajaan, sang raja merasa masygul. Ia merasa hatinya gundah gulana.

Semenjak ia melanjutkan tugas dan tanggung jawab ayahandanya untuk memerintah dan mengatur agar seluruh rakyat dapat hidup aman, tenteram & sentosa, ia telah berusaha sebaik-baiknya tetapi akhir-akhir ini ia merasa jenuh. Semua bebannya yang ditanggungnya dirasakan demikian berat, dan hidup menjadi rutinitas tiada akhir dan membosankan. Sehingga ia memutuskan untuk berlibur, menikmati hidup bukan sebagai raja melainkan sebagai rakyat jelata, sekaligus untuk melihat-lihat dari dekat hasil jerih payahnya selama ini.

Sepanjang masa liburnya, raja sebenarnya cukup terhibur melihat kemajuan kerajaannya. Ia dapat melihat bahwa rakyatnya hidup berkecukupan, pemerintahan berjalan dengan cukup baik, walaupun ada hal2 yang masih bisa ia sempurnakan.

Tetapi, entah mengapa, semakin ia nikmati liburannya, rasanya semakin malas ia untuk kembali ke istana.

Suatu hari, ia singgah di suatu daerah dan entah kenapa, ia tertarik kepada seorang pemuda yang sedang menanam pohon. Pemuda itu bertubuh kekar & kuat, tetapi ketika bekerja, ia tampak lemas dan tak bersemangat. Setelah mengucap salam, sang raja bertanya kepada sang pemuda. "Hai  kawan, engkau tampak lelah, apakah engkau sakit ? Siapakah yang memaksamu untuk tetap bekerja dalam kondisi sakit ?"

"Saya tidak sakit tuan, hanya saya tidak menyukai pekerjaan ini" jawab sang pemuda. "Aku membantu ayahku untuk menanam tiga ratus pohon zaitun.

Jikalau bukan karena ayahku, aku tak akan melakukannya. Bayangkan, tiga ratus pohon zaitun? Belum juga seratus pohon, aku sudah tak ingin melakukannya lagi" keluh sang pemuda. Dimana ayahmu? Mungkin aku bisa bicara dengannya.." . "Beliau ada di belakang bukit ini" ujar sang pemuda sambil menggerakkan tangannya menunjukkan arah.

Raja segera bergegas ke belakang bukit, tetapi sesampainya ia disana, ia tertegun. Dilihatnya, pohon yang telah ditanam jauh lebih banyak dari  sang pemuda padahal sang ayah ternyata sudah renta, Dan ia bekerja penuh semangat. Kagum, raja menghampirinya. Seraya mengucap salam, raja bertanya "Wahai orang tua, engkau demikian bersemangat sekali. Apa yang engkau tanam?"

"Saya sedang menanam pohon zaitun" jawab sang kakek. "Sebanyak ini? Untuk apa?
Lagipula, bukankah pohon zaitun baru berbuah 6-7 tahun kemudian ? Melihat usia kakek, mungkin kakek tidak bisa lagi mengunyah dan menikmati buahnya, lantas apa untungnya?" Raja semakin heran.

"Tuan mengajukan pertanyaan yang sama seperti anak saya" ujar sang kakek sambil menghela napas. "Tuan mungkin telah berjumpa dengan anak saya, ia anak yang baik, walau ia tak mengerti sepenuhnya alasan saya, tapi ia tetap membantu karena tak ingin saya mengerjakan semuanya sendirian".

"Tuan, saya memang tidak berniat untuk merasakan manfaat dari pohon yang saya tanam ini. Saat pohon ini berbuah, belum tentu saya masih hidup. Saya menanam pohon-pohon ini, karena buah zaitun yang selama ini saya nikmati juga berasal dari pohon yang ditanam oleh orang sebelum saya.

Saya ingin membalas kebaikan mereka dengan menanam kebaikan yang sama. Membayangkan buah zaitun yang berlimpah yang bisa dinikmati banyak keluarga, pohon yang hijau & rindang yang memberikan naungan dari terik dan hujan, minyak zaitun yang memberi manfaat, semua itu membuat saya bersemangat untuk menanam pohon sebanyak yang saya bisa".

Raja tercenung mendengar jawaban sang kakek. Ia tak hanya melihat ketulusan dan kebaikan hati sang kakek, ia juga melihat perbedaan motivasi yang menggerakkan sang pemuda dan ayahnya itu.

Sementara sang pemuda melihat pekerjaan tersebut sebagai beban yang harus ditanggungnya, ayahnya terdorong oleh gambaran indah dari hasil yang akan dicapainya.

Diakuinya, ia juga melakukan hal yang serupa dengan sang pemuda. Walau ia berusaha memerintah dengan sebaik-baiknya, itu semua dilakukan untuk menghormati kebesaran ayahnya, raja terdahulu dan agar warisan ayahnya tetap terjaga dengan baik. Itu semua adalah beban yang harus ditanggungnya sebagai penerus tahta.

Tapi, kini ia bisa melihat bahwa semuanya terserah dirinya, apakah ia memilih melihatnya sebagai beban, atau fokus pada gambaran indah yang bisa dicapainya.

Raja tersenyum dan berkata "Wahai orang tua, ketahuilah bahwa aku sebenarnya adalah Rajamu. Kebaikanmu telah mengajarkan aku. Sebagai ungkapan rasa terima kasihku, terimalah hadiah dariku" lantas ia memberikan sekantung uang dirham kepada sang kakek.

Dengan hormat, kakek itu menerima hadiah tersebut, tersenyum dan berkata "Wahai Tuan Raja, tadi engkau bertanya "apa untungnya". Lihatlah, belum juga selesai hamba menanam, walau bukan buah dari pohon yg saya tanam, Saya telah mendapati rezeki satu kantung uang dari tangan Paduka".

Raja kembali tertegun, ia memang tidak percaya apa yang disebut "KEBETULAN", karena kebetulan hanya mungkin timbul dari ketidakteraturan murni (pure chaos), sementara pengalamannya mengajarkan bahwa problem paling kusut pun memiliki pola-pola keteraturan yang memungkinkannya untuk diuraikan. Bukanlah kebetulan kalau hari ini ia bertemu orang tua istimewa itu, dan bukanlah kebetulan pula jika kebaikannya diganjar sepundi uang melalui perantaraan dirinya. Ia lantas memeluk kakek itu. "Terima kasih atas pengajaran tuan" ujarnya. Hari itu juga raja kembali ke istana, langkahnya ringan dan hatinya senang.

Tekadnya makin mantap, untuk segera menanam kebaikan-demi kebaikan.

Semoga Bermanfaat.

 _/\_

bersambung...
« Last Edit: 08 March 2010, 04:46:48 PM by CHANGE »

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #17 on: 09 March 2010, 08:48:12 AM »
3.   PENERIMA DANA.

Kualitas penerima dana dari kita sangat menentukan besarnya pahala yang dihasilkan.

Di Dalam Velamaka Sutta, urutan daripada buah jasa yang diperoleh sesuai dengan tingkat-tingkat si penerima dan sesuai dengan hakikat / sifat perbuatan Dana tersebut adalah sebagai berikut :

1. Memberikan makanan kepada seseorang yang telah mencapai kesucian tingkat Sotapanna (tingkat kesucian pertama), akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada memberikan Dana ke-empat jurusan, yang dilakukan oleh Brahmana Velamaka selama 7 tahun, 7 bulan dan 7 hari.

2. Memberikan makanan sekali kepada seorang Sakadagami (tingkat kesucian kedua) akan lebih banyak menghasilkan buah daripada 100 orang Sotapana.

3. Kepada seorang Anagami ( tingkat kesucian ketiga ) akan menghasilkan buah jasa lebih banyak daripada 100 orang Sakadagami.

4. Kepada seorang Arahat (tingkat kesucian keempat/terakhir) akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Anagami. 

5. Kepada seorang Pacceka Buddha  akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Arahat.( Pacceka Buddha yang tidak mengajarkan Dharma tetapi hanya mengabdikan dirinya kepada semua makhluk yang menderita ).

6. Kepada seorang Samma Sambuddha  akan menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak daripada 100 orang Pacekka Buddha. Samma Sambuddha adalah guru tertinggi para dewa dan manusia yang tiada tandingannya dalam mengajarkan Dharma yang Agung, dan ini adalah tingkatan Buddha yang tertinggi. Sang Buddha Gotama/ Sakyamuni Buddha adalah salah satunya.

7. Pemberian kepada Sangha (Pesamuan para Bhikkhu), akan menghasilkan buah jasa jauh lebih banyak daripada Samma-Sambuddha.

8. Pemberian sebuah Catudisa Sanghika Vihara menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak. Ini adalah pemberian berupa dana materi yang tertinggi.

9. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah Berlindung kepada Sang Tiratana ( Tri Ratna ) yakni Buddha, Dhamma dan Sangha..

10. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah mematuhi / melaksanakan Pancasila Buddhis ( lima peraturan ).

11. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Samatha Bhavana ( meditasi ketenangan bathin)  untuk beberapa saat.

12. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Vipassana Bhavana ( Meditasi Pandangan Terang ).

 _/\_

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #18 on: 09 March 2010, 08:52:51 AM »
Apa yang dimaksud dengan  Catudisa Sanghika Vihara seperti yang tertulis di point 8 ?

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #19 on: 09 March 2010, 08:55:18 AM »
bikin vihara lalu di danakan ke Sanggha??
Samma Vayama

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #20 on: 09 March 2010, 10:53:56 AM »
MENGAPA KITA HARUS BERDANA DAN APA MANFAATNYA ?

Dalam ajaran Buddha Dhamma, Dana merupakan dasar dari segala perbuatan baik. Dana adalah langkah pertama dalam urutan cara-cara berbuat baik ( Kusala Kamma ). Di dalam Dasa Punna Kiriya Vatthu ( sepuluh cara berbuat jasa ), Dana adalah yang pertama. Demikian juga didalam Dasa Paramita ( Sepuluh Kesempurnaan ).

Namun didalam kehidupan sehari-hari seing timbul pengertian yang salah tentang berdana. Dana biasanya diterjemahkan sebagai pemberian sedekah. Pemberian sedekah mengingatkan kita kepada pemberian hadiah kepada orang-orang miskin, atau kepada mereka yang berada dilingkungan yang tidak menguntungkan. Akan tetapi dalam pengertian Buddha Dhamma, Dana menpunyai arti yang lebih luas dan mencakup semua bentuk pemberian sedekah, baik kepada si miskin ataupun si kaya.

Mungkin kita berpikir bahwa berdana adalah memberikan sebagian harta kita secara mubazir kepada pihak lain. Dengan susah payah, sedikit demi sedikit harta kekayaan dikumpulkan, karena itu harus dimanfaatkan sendiri bersama keluarga. Prinsip keegoisan ini lama-kelamaan membentuk bathin menjadi kikir dan serakah, bersifat mementingkan sendiri, tidak perdili dengan penderitaan orang dan menjadi sangat melekat terhadap benda-benda materi.

Bagi umat awam yang sudah menpunyai kekayaan, selalu dihinggapi perasaan serakah, mengingnkan hartanya terus bertambah, dan dihinggapi perasaan takut sepanjang waktu akan kehilangan harta bendanya. Ia selalu mencemaskan usaha dan karirnya, serta tidak pernah percaya pada orang lain, ia merisaukan kematiannya dan bagaimana agar hartanya dapat dipergunakan dengan baik.

Sebaliknya jika miskin, ia menderita karena merasa tidak cukup memiliki, selalu merindukan harta kekayaan, dan dengan segala cara menempuh segala cara ingin memperkaya diri, ia korupsi mengambil barang milik orang lain secara tidak sah, setiap malam ia berpikir bagaimana agar besok ia bias berubah menjadi kaya.

Apakah orang yang kekurangan, apabila telah tercapai keinginannya untuk menpunyai harta, akan puas dengan apa yang diperolehnya ? Sebaliknya dari bersyukur kepada Tuhan ( ??? )/Dewa-dewi, ia malah semakin serakah dan lupa akan penderitaannya dulu ( dan tercipta penderitaan baru ).

Sifat-sifat diatas membawa penderitaan yang sangat bagi dirinya. Ia tidak dapat tidur dengan baik, cemas, takut, pikirannya diliputi hal-hal yang kotor apabila berhadapan dengan kematian, maka pikirannya tidak akan rela meninggalkan badan jasmaninya yang telah kaku ( kemelekatan ).

Secara garis besar ada 6 MANFAAT dari BERDANA.

Tambahan 2 artikel cerita sederhana( diluar dari buku tersebut ), yang menggambarkan penderitaan karena kemelekatan ( serakah )

Hartawan yang Serakah

Pada suatu hari, hartawan yang serakah dan pembantunya pergi ke hutan berburu, mereka melihat seekor harimau, pembantunya menasehati hartawan : “Tuanku, harimau ini sangat gagah dan kuat, ini adalah seekor harimau yang ganas, cepat kita pergi dari tempat ini!”

Hartawan sambil tertawa dengan angkuh melihat ke arah harimau dan berkata :”Wah, harimau ini sungguh cantik dan gagah, kulitnya yang begitu cantik tentu akan sangat berharga, kalian cepat pergi menangkapnya hidup-hidup.”

Para pembantu mendengar perkataannya langsung ketakutan, seekor harimau yang sangat ganas, jika tidak memakai panah memanahnya, menangkapnya dalam keadaan hidup-hidup adalah hal mustahil yang hanya akan mengorbankan nyawa sendiri.

Para pembantunya membujuk hartawan : “Tuanku, harimau yang begitu besar dan ganas kami tidak mungkin bisa menangkapnya hidup-hidup, lebih bagus kita memakai panah memanahnya sampai mati, bagaimana pendapat tuanku?”

Setelah mendengar perkataan para pembantunya, dengan tidak sabar hartawan berkata :”Yang saya mau adalah kulit harimau yang tanpa cacat, bukan kulit harimau yang penuh dengan bekas panah, kalian mengerti tidak ?”

Setelah berkata demikian dia meletakan alat panahnya dan sendirian pergi ketempat harimau, begitu sampai dihadapan harimau langsung diterkam harimau, para pembantunya melihat majikan mereka diterkam harimau, bermaksud menolong majikannya dengan cara memanah harimau, tetapi, majikan mereka yang berada dimulut harimau dengan panik berteriak :”Kalian tidak boleh memanahnya! kulit harimau yang tanpa cacat sangat mahal, jika kalian harus memanah, panah mulutnya, jika tidak, saya tidak akan mengampuni kalian. Kalian dengar baik-baik, jika siapa yang tidak patuh dengan perintah saya, membiarkan saya kelihangan kesempatan menjadi kaya, saya pasti tidak akan mengampuni kalian.”

Para pembantu mendengar perkataan majikannya hanya bisa memegang panah mereka tanpa berani memanah, pertama-tama mereka takut jika memanah mati harimau, majikan mereka tentu akan menghukum mereka, dan yang kedua adalah jika memanah mulut harimau kemungkinan akan memanah mati majikan mereka dengan begitu mereka akan dipenjara karena memanah mati orang.

Akhirnya, para pembantunya hanya bisa memegang panah mereka dan melihat dengan terperongoh majikan mereka dimakan oleh harimau, setelah itu mereka baru berani memanah mati harimaunya.

Moral manusia makin merosot sekarang ini banyak manusia yang serakah demi mengejar harta, nama, jabatan, menggunakan berbagai jalan yang kotor dan tidak peduli bahwa itu merupakan jebakan yang membawa dirinya selangkah demi selangkah menuju kearah penderitaan ataupun jalan neraka, tetapi sampai matipun mereka tidak menyadari, bukankah itu merupakan hal yang menyedihkan?

Semoga Bermanfaat.


« Last Edit: 09 March 2010, 11:06:01 AM by CHANGE »

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #21 on: 09 March 2010, 11:03:45 AM »
Tambahan artikel cerita sederhana( diluar dari buku tersebut ) merupakan REPOST, yang menggambarkan kehidupan mendekati pola kehidupan kita sehari-hari, dan memang demikianlah kita menjalani kehidupan kita.

Kelompok 99

Apakah Anda termasuk anggota Kelompok 99? Apa yang sedang saya bicarakan? Mari dengar suatu kisah terlebih dahulu dan baru Anda bisa menjawabnya.

Zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja. Raja ini seharusnya puas dengan kehidupannya, dengan segala harta benda dan kemewahan yang ia miliki. Tapi Raja ini tidak seperti itu. Sang Raja selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah puas dengan kehidupannya. Tentu saja, ia memiliki perhatian semua orang kemana pun ia pergi, menghadiri jamuan makan malam dan pesta yang mewah, tetapi, ia tetapi merasa ada sesuatu yang kurang dan ia tidak tahu apa sebabnya.

Suatu hari, sang Raja bangun lebih pagi dari biasanya dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar istananya. Sang Raja masuk ke dalam ruang tamunya yang luas dan berhenti ketika ia mendengarkan seseorang bernyanyi dengan riang... dan perhatiannya tertuju kepada salah satu pembantunya... yang bersenandung gembira dan wajahnya memancarkan sukacita serta kepuasan. Hal ini menarik perhatian sang Raja dan ia pun memanggil si hamba masuk ke dalam ruangannya.

Pria ini, si hamba, masuk ke dalam ruangan sang Raja seperti yang telah diperintahkan. Lalu sang Raja bertanya mengapa si hamba begitu riang gembira.

Kemudian, si hamba menjawab, "Yang Mulia, diri saya tidaklah lebih dari seorang hamba, namun apa yang saya peroleh cukup untuk menyenangkan istri dan anak-anak saya. Kami tidak memerlukan banyak, sebuah atap di atas kepala kami dan makanan yang hangat untuk mengisi perut kami. Istri dan anak-anak saya adalah sumber inspirasi saya, mereka puas dengan apa yang bisa saya sediakan walaupun sedikit. Saya bersukacita karena mereka bersukacita."

Mendengar hal tersebut, sang Raja menyuruh si hamba keluar dan kemudian memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan.Sang Raja berusaha mengkaji perasaan pribadinya dan mengkaitkan dengan kisah yang baru saja didengarnya, berharap dirinya dapat menemukan suatu alasan mengapa ia seharusnya dapat merasa puas dengan apa yang dapat diperoleh dengan sekejap tetapi tidak, sedangkan hambanya hanya memperoleh sedikit harta tetapi memiliki rasa kepuasan yang besar.

Dengan penuh perhatian, sang asisten pribadi mendengarkan ucapan sang Raja dan kemudian menarik kesimpulan. Ujarnya, "Yang Mulia, saya percaya si hamba itu belum menjadi bagian dari kelompok 99."

"Kelompok 99? Apakah itu?" tanya sang Raja.

Kemudian, sang asisten pribadi menjawab, "Yang Mulia, untuk mengetahui apa itu Kelompok 99, Yang Mulia harus melakukan hal ini... letakkan 99 koin emas dalam sebuah kantung dan tinggalkan kantung tersebut di depan rumah si hamba, setelah itu Yang Mulia akan mengerti apa itu Kelompok 99."

Sore harinya, sang Raja mengatur agar si hamba memperoleh kantung yang berisi 99 koin emas di depan rumahnya. Walaupun ada sedikit keraguan mucul, dan sang Raja ingin memberikan 100 koin emas, namun ia menuruti nasihat si asisten pribadi dan tetapi meletakkan 99 koin emas.

Esok harinya, ketika si hamba baru saja hendak melangkahkan kakinya keluar rumah, matanya melihat sebuah kantung. Bertanya-tanya dalam hatinya, ia membawa kantung itu masuk ke dalam dan membukanya.

Ketika melihat begitu banyak koin emas di dalamnya, ia langsung berteriak girang. Koin emas... begitu banyak!

Hampir ia tidak percaya. Kemudian ia memanggil istri dan anak-anaknya keluar memperlihatkan temuannya. Si hamba meletakkan kantung tersebut di atas meja, mengeluarkan seluruh isinya dan mulai menghitung. Hanya 99 koin emas, dan ia pun merasa aneh.
Dihitungnya kembali, terus menerus dan tetap saja, hanya 99 koin emas. Si hamba mulai bertanya-tanya, kemanakah koin yang satu lagi? Tidak mungkin seseorang hanya meninggalkan 99 koin emas. Ia pun mulai menggeledah seluruh rumahnya, mencari koin yang terakhir. Setelah ia merasa letih dan putus asa, ia memutuskan untuk bekerja lebih keras lagi untuk menggantikan 1 koin itu agar jumlahnya genap 100 koin emas.

Keesokan harinya, ia bangun dengan suasana hati yang benar-benar tidak enak, berteriak-teriak kepada istri dan anak-anaknya, tidak menyadari bahwa ia telah menghabiskan malam sebelumnya dengan bekerja keras agar ia mampu membeli 1 koin emas. Si hamba bekerja seperti biasa, tetapi tidak dengan suasana hati yang riang, bersiul-siul seperti biasanya. Dan si hamba pun tidak menyadari bahwa sang Raja memperhatikan dirinya ketika ia melakukan pekerjaan hariannya dengan bersungut-sungut.

Sang Raja bingung melihat sikap si hamba yang berubah begitu drastis, lalu memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Diceritakan apa yang telah dilihatnya dan si asisten pribadinya tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sang Raja bertanya, “bukankah seharusnya si hamba itu lebih riang karena ia telah memiliki koin emas.”

Jawab si asisten,"Ah.. tetapi, Yang Mulia, sekarang hamba itu secara resmi telah masuk ke dalam Kelompok 99."

Lanjutnya, "Kelompok 99 itu hanyalah sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang telah memiliki semuanya tetapi tidak pernah merasa puas (serakah ), dan mereka terus bekerja keras mencoba mencari 1 koin emas yang terakhir agar genap 100 koin emas.

Kita harusnya merasa bersyukur dengan apa yang ada, dan kita bisa hidup dengan sedikit yang kita miliki. Tetapi ketika kita diberikan yang lebih baik dan lebih banyak, kita menghendaki lebih! Tidak menjadi orang yang sama lagi, yang puas dengan apa yang ada, tetapi kita terus menghendaki lebih dan lebih dan memiliki keinginan seperti itu kita membayar harga yang tidak kita pun sadari. Kehilangan waktu tidur, kebahagiaan, dan menyakiti orang-orang yang berada di sekitar kita hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Orang-orang seperti itulah yang tergabung dalam Kelompok 99!"

Mendengar hal itu, sang Raja memutuskan bahwa untuk selanjutnya, ia akan mulai menghargai hal-hal yang kecil dalam hidup. Berusaha untuk memiliki lebih itu bagus, tetapi jangan berusaha terlalu keras sehingga kita kehilangan orang-orang yang dekat dengan kita, jangan pernah menukar kebahagiaan dengan kemewahan!

Semoga bermanfaat.

« Last Edit: 09 March 2010, 11:06:25 AM by CHANGE »

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #22 on: 10 March 2010, 01:40:18 PM »
Berdasarkan uraian diatas, marilah kita melihat manfaat dari BERDANA. Karena tanpa mengetahui MANFAAT, bukan tidak mungkin orang mau BERDANA :

MANFAAT PERTAMA : PELEPASAN ( MELEPAS ).

Dengan berdana secara rutin, maka sifat-sifat egois, melekat dan serakah dapat dikurangi ( mengikis keserakahan ). Dengan berkurangnya sifat-sifat buruk tersebut, hidup kita akan menjadi lebih bahagia, tenang dan dapat menikmati segala rezeki yang kita peroleh dengan baik dan benar.


Tambahan contoh cerita mengenai melepas atau pelepasan untuk mengetahui lebih detail apa manfaat dari berdana

SEPATU SI BAPAK TUA

Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''

Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan kemelekatannya ( keterikatan ) pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.

Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan kemelekatan ( keterikatan ). Kalau Anda sudah melekat ( terikat ) dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.

Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Karena semua yang berkondisi adalah tidak kekal. Pertanggungjawaban kita adalah HANYA sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.

Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk BERBAGI atau MEMBERI ( BERDANA), sehingga kebahagiaan SAAT INI dapat dicapai dalam KEKINIAN.

Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang bahagia dan penuh berkat bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta ( hukum kamma ) sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.

Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada orang lain ( berdana ), milik kita sendiri pun akan bertambah ( perasaan dan timbunan karma baik ).

Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambillah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.

Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain secara tulus: misalnya berdana kepada vihara dan sangha, menolong teman yang kesulitan dalam dukungan materi, memberikan uang pada pengemis di jalan, berdana mencetak buku Dhamma dan sebagainya.

Memang kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.


Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:

"Engkau tidak pernah memiliki sesuatu,
Engkau hanya memegangnya sebentar,
Kalau engkau tak dapat melepaskannya,
Engkau akan terbelenggu olehnya.
Apa saja hartamu,
Harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau menggenggam air.
Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas.
Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya.
Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''.

Semoga Bermanfaat

 _/\_


Semoga Bermanfaat

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #23 on: 11 March 2010, 10:51:42 AM »
MANFAAT KEDUA : PENEBUSAN.

Di dalam kegiatan kita mencari penghasilan, baik itu dengan berusaha sendiri maupun bekerja dengan orang lain, sering kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan SILA, baik secara sengaja maupun tidak sengaja misalnya : kita menawarkan barang untuk dijual dengan berbagai trik dan kebohongan, sehingga pembeli terpengaruh untuk membeli. Trik-trik tersebut dalam dunia bisnis dianggap sebagai hal wajar, tetapi tidak demikian apabila dipandang dari sudut agama.

Karena tindakan tersebut, maka berdana secara tulus dan benar akan membuat kita berbahagia dan menikmati penghasilan kita dengan benar.
Namun pernyataan diatas bukan berarti bahwa apabila kita dengan sengaja melanggar ketentuan-ketentuan SILA diluar kebiasaan yang berlaku untuk mencapai tujuan kita, kita dapat membersihkan diri dengan berdana. Jawabannya tentu tidak. Perbuatan-perbuatan yang tidak benar dan secara sengaja dilakukan, tetap akan mendapat balasan yang sesuai dikemudian hari.

MANFAAT KETIGA : KARMA BAIK

Dalam kehidupan sehari-hari, semua orang berkeinginan untuk menjadi sukses dan memiliki kekayaan. Namun tidak semua orang bisa sukses dan mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Banyak orang yang telah bekerja keras, sungguh-sungguh, hemat dan jujur, tetapi hidupnya tidak juga mengalami perbaikan. Kalau ia bekerja sebagai karyawan, gaji dan karirnya tidak berkembang. Atau sebagai wiraswasta usahanya tidak ada kemajuan kearah yang lebih baik. KENAPA ?

Jawabannya adalah bekerja sungguh sungguh-sungguh, hemat dan jujur belumlah cukup untuk mendorong kita mencapai keadaan yang lebih baik. Kita masih memerlukan dorongan KARMA BAIK kita yang berbuah, yang oleh orang awam diistilahkan sebagai HOKI ( keberuntungan ).

Dengan apa kita dapat menciptakan HOKI ( keberuntungan ) tersebut. Dengan cara berbuat baik, memupuk karma baik, dan cara paling mudah untuk mendapatkan karma baik tersebut adalah dengan BERDANA.

Untuk lebih jelasnya, bila seseorang berkehendak keinginannya tercapai pada kehidupan sekarang, maka ia harus memenuhi lima criteria sebagai berikut :

a.   KARMA
Cukup menpunyai timbunan karma baik, dimana dapat berupa timbunan karma pada kehidupna lalu ataupun yang dilakukan pada kehidupan sekarang.

b.   UTTHANASAMPADA
Rajin dan bersemangat dalam mengerjakan apa saja, ia terampil dan produktif, mengerjakan secara tuntas, demikianlah ia mencari nafkah.

c.   ARAKKHASAMPADA
Menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperolehnya dan tidak membiarkannya hilang atau mudah dicuri.

d.   KALYANAMITTA
Memiliki teman-teman yang baik dan tidak bergaul atau mengikuti orang jahat.

e.   SAMAJIVITA
Menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilannya, ibarat sebuah neraca yang mantap, hidup tidak kikir dan tidak boros.
( Anguttara Nikaya IV, hal 281 dst ).

bersambung...
« Last Edit: 11 March 2010, 10:53:52 AM by CHANGE »

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #24 on: 11 March 2010, 11:14:12 AM »
MANFAAT KEEMPAT : PINTU GERBANG KE ARAH PENGEMBANGAN BATHIN.

Sepuluh dasar perbuatan baik ( PUNNAKIRIYAVATTHU 10 )  yang menghasilkan Karma Baik menurut Sang Buddha :

1. Danamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan berdana, memberi dana kepada mereka yang patut menerima.

2. Silamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan melaksanakan sila. Menghindari diri dari tindakan, ucapan dan pikiran yang melanggar sila dan kemoralan.

3. Bhavanamaya:
Berbuat Kebaikan dengan jalan melaksanakan meditasi atau pengembangan bathin.

4. Apacayanamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan merendahkan hati ,penghormatan dan rendah hati kepada mereka yang patut menerima.

5. Veyyavacamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan membalas membantu, bakti kepada mereka yang patut menerima.

6. Pattidanamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan membagikan sesuatu kepada orang lain, dan membagi kebahagiaan kepada makhluk lain.

7. Pattanumodanamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan merasa gembira melihat kebaikan orang lain, atau kebahagiaan melihat dan mendengar orang lain menperoleh
kebahagiaan.

8. Dhammassavanamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan mendengarkan, belajar dan menghayati  Dhamma.

9. Dhammadesanamaya:
Berbuat kebaikan dengan jalan membabarkan dan mengajarkan Dhamma.

10. Ditthujukamma:
Berbuat kebaikan dengan jalan mempunyai pandangan benar dan meluruskan pandangan hidup yang salah.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa DANA berada diurutan pertama. Dana merupakan kunci dari pintu pengembangan bathin berikutnya. Orang tidak memiliki sifat berdana, sulit sekali untuk melakukan perbuatan baik lainnya.

Apabila seseorang hendak mengikuti ajaran Sang Buddha maka ia harus mengembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri, yaitu salah satunya adalah BERDANA, dengan demikian ia menyediakan LANDASAN YANG KOKOH untuk pengembangan bathin berikutnya.

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #25 on: 11 March 2010, 11:15:26 AM »
MANFAAT KELIMA : TIMBUNAN PAHALANYA TIDAK AKAN MUSNAH.

Harta duniawi adalah tidak kekal, begitu mudah hilang dan hancur, tetapi berdana menghasilkan timbunan kebajikan, dan pahala yang tidak akan hilang dan menpunyai sifat :

a. AJEYYA            : tidak dapat diusik siapapun.

b. ACORA            : tidak ada seorangpun didunia yang dapat mencurinya.

c. ANUGAMIM         : mengikuti si pelaku setiap langkah.

d. ETAM ADAYA GACCHATI  : walaupun badan jasmani hancur, mampu mengikuti pelakunya hingga ke kehidupan selanjutnya.

e. ASADHARANA         : hanya berlaku untuk pribadi pelaku.

f. YAM DEVABHIPATTHENTI   : mengabulkan setiap hal, sebagaimana dikehendaki atau didambakan.      
« Last Edit: 11 March 2010, 11:17:04 AM by CHANGE »

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #26 on: 11 March 2010, 11:16:34 AM »
MANFAAT KEENAM : MANFAAT DUNIAWI DAN SPIRITUAL.

Dengan berbuat baik melalui berdana, banyak sekali pahala yang akan kita terima, baik pada kehidupan sekarang ( apabila timbunan karma baik tersebut berkesempatan berbuah pada kehidupan sekarang ), maupun pada kehidupan yang selanjutnya.

MANFAAT DUNIAWI.

Manfaat duniawi yang dapat diterima adalah : menperoleh nama harum, penghargaan, penghormatan, memiliki banyak sahabat, memperoleh kedudukan, kekuasaan, pengikut, murah rezeki, menperoleh kemakmuran, tidak pernah kekurangan, berbahagia. Seandainya manfaat tersebut belum berbuah pada kehidupan sekarang, kita dapat terlahir dialam kebahagiaan, atau kita dapat dapat terlahir dikeluarga yang kaya, terhormat dan bahagia, luhur dengan rupa yang gagah, cantik dan memiliki suara indah, fisik yang sempurna dan tidak kekurangan sesuai dengan timbunan karma yang berbuah .

MANFAAT SPIRITUAL.

Salah satu manfaat terpenting yang dapat diperoleh secara spiritual, adalah kita dapat mengikis dan mengurangi sifat serakah ( Lobha ), kebencian ( Dosa ) dan kebodohan bathin ( Moha ). Semua yang kita miliki adalah TIDAK KEKAL ( ANNICA ), suatu saat kita pasti berhadapan dengan kehilangan terhadap semua harta milik kita, harus berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi atau dengan jasmani sendiri misalnya sakit atau pikiran saat ajal menjelang. Seperti uraian manfaat dari berdana di atas, yang PERTAMA adalah MELEPASKAN KEMELEKATAN TERHADAP MATERI/BENDA DAN SIFAT EGOIS ( KE-AKU-AN ).


Dengan melihat begitu banyak alasan dan manfaat yang dapat dipetik. MAKA KITA SEMUA TIDAK PERLU RAGU-RAGU LAGI UNTUK MULAI BERDANA.

-- SELESAI --

Semoga Bermanfaat

 _/\_

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #27 on: 18 March 2010, 06:59:51 AM »
Maaf, saya kalau pertanyaan berikut sudah dijelaskan diatas,
Namun...

Orang luar kok sering kerasukan atau kesurupan ???
kalau di agama buddha pernah ada ngak cerita2 seperti itu ? orang yang kesurupan ????

kalau saya bukan kerasukan atau kesurupan ya... hehehe.. memang dasarnya pikiran gua yang gini...  hehhehe :))
Karna di agama tetangga gak mengenal pelimpahan jasa (Pattidana) makanya bisa kesurupan  ;D
konon katanya orang2 yg kerasukan itu di ganggu oleh para leluhurnya yg minta pelimpahan jasa ....
Bisa tolong dijelaskan lebih jauh mengenai Pattidana?
Sebab... saya sedikit tidak mengerti cara kerja "pewarisan/pelimpahan/pemberian jasa"

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #28 on: 18 March 2010, 10:05:03 PM »
Maaf, saya kalau pertanyaan berikut sudah dijelaskan diatas,
Namun...

Orang luar kok sering kerasukan atau kesurupan ???
kalau di agama buddha pernah ada ngak cerita2 seperti itu ? orang yang kesurupan ????

kalau saya bukan kerasukan atau kesurupan ya... hehehe.. memang dasarnya pikiran gua yang gini...  hehhehe :))
Karna di agama tetangga gak mengenal pelimpahan jasa (Pattidana) makanya bisa kesurupan  ;D
konon katanya orang2 yg kerasukan itu di ganggu oleh para leluhurnya yg minta pelimpahan jasa ....
Bisa tolong dijelaskan lebih jauh mengenai Pattidana?
Sebab... saya sedikit tidak mengerti cara kerja "pewarisan/pelimpahan/pemberian jasa"
Pelimpahan jasa bukan berarti karma baik kita di "transfer" untuk orang lain karena para makhluk mewarisi karmanya masing-masing. Maksud dari pelimpahan jasa yang sebenarnya adalah perbuatan/karma baik yang telah kita lakukan dapat menjadi sebab atau kondisi bagi orang/makhluk lain yang dilimpahkan untuk munculnya pikiran-pikiran yang diliputi kebahagiaan seperti mudita & anumodana tetapi apabila mereka bergembira atas pebuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan.....


Pelimpahan jasa itu sendiri tidak memiliki hari yang special. manusia menggunakan hari special untuk lebih menghangatkan suasana pada hari itu dan ini menjadi sebuah kebiasaan bahwa hanya pada hari special tersebut,sebuah kebaikan akan melimpah-limpah. iya itu benar.

Untuk leluhur yang telah meninggal, hal terbaik bagi sanak keluarganya yang masih hidup adalah menjalanakan Sila, berpraktik dana dan welas asih dan semua praktik kebajikan lain dengan satu tekad "Semoga leluhur kita yang telah meninggal dunia mengetahui kebajikan yang saya perbuat untuk nya dan kalo dia tidak mengetahui ,semoga para deva memberitakan kebaikan ini kepadanya,sehingga tumbuh rasa sukha, tumbuh kebijaksanaan dan berjodoh dengan Dhamma sehingga pada akhirnya melepas"

Nah,praktek dana,welas asih dan kebijaksanaan itu bermacam-macam, dan kamu lakukan dimana menurut kamu adalah sesuai dan terbaik contoh, memberikan dana makanan kepada Bhikkhu, melepas makhluk hidup, mencetak buku Dhamma, dana bunga di altardan masih banyak contoh kebajikan Dhamma yang bisa kamu lakukan,inilah namanya Dana Parami. dan ini justru membawa kamma baik tidak hanya pada leluhur tapi pada keluarga kamu juga.

Beberapa miskonsepsi terjadi adalah selalu mengira sanak keluarga yang telah meninggal,pasti terlahir sebagai roh,hantu atau sesuatu yang tidak tampak,kita sudah mengerthaui dari Guru bahwa ada 6 alam tumimbal lahir yang bersifat duniawi. jadi hilangkan miskonspesi tersebut.

Semua dana kebajikan yang dilakukan mulai dari pikiran yang timbul kebahagiaan, ucapan yang penuh metta dan perbuatan yang diiringi dengan kebijaksanaan adalah sebuah berkah tiada tara untuk sanak keluarga yang meninggal.

Semoga memberikan jawaban, dan semoga semua kamma baik untuk leluhur kamu berbuah dimanapun ia berada sekarang ini. semoga ia memperoleh kebajikan untuk mengenal Dhamma.

Ato bisa denger ceramah Bhante Uttamo
http://dhammacakka.org/index.php?option=com_muscol&view=song&id=9&oleh=Bhante Uttamo Mahathera&ida=56
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana
« Reply #29 on: 18 March 2010, 10:07:58 PM »
Tirokuddha Sutta


Pelimpahan jasa tentunya sudah tidak asing lagi bagi umat Buddha yang selalu melakukannya setelah melakukan perbuatan baik. Bahkan di zaman kehidupan Sang Buddha, pelimpahan jasa ini sudah sering dilakukan karena selain dapat membantu orang lain, juga dapat membawa manfaat bagi diri kita sendiri.

Sewaktu Raja Bimbisara meminta agar jasa kebajikan pemberian dana kepada anggota Sangha itu dilimpahkan kepada leluhurnya, Sang Buddha mengucapkan syair Tirokudda Sutta sebagai berikut:

Diluar dinding mereka berdiri dan menanti,
dipersimpangan-persimpangan jalan,
mereka kembali kerumah yang dulu dihuninnya,
dan menanti di muka pintu,
tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
ternyata tidak seorangpun yang ingat,
kepada makhluk-makhluk itu,
yang merupakan leluhur mereka.

Hanya mereka yang hatinya welas asih,
memberikan persembahan kepada sanak keluargannya,
berupa makanan dan minumanyang lezat,
baik dan disukai pad waktu mereka masih hidup

“Semoga buah jasa-jasa baik kita,
melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal,
semoga mereka bahagia.”
Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul ditempat ini,
dengan gembira akan memberikan restu mereka,
karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.

“Semoga sanak keluargaku berusia panjang,
sebab karena merekalah kami memperoleh sesajian yang lezat ini

“Karena kami diberi perhormatan yang tulus,
maka yang memberinya pasti akan memperoleh,
buah jasa yang setimpal,
karena disini tidak ada pertanian,
dan juga tidak ada peternakan,
tidak ada perdagangan,
juga tidak ada peredaran uang dan emas.”
Sanak keluarga kita yang telah meninggal,
hidup disana dari pemberian kita disini.

Bagaikan air mengalir dari atas bukit,
turun kebawah untuk mencapai lembah yang kosong,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal

Bagaikan sungai, bila airnya penuh,
akan mengalirkan airnya kelaut,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal

“Ia memberikan kepadaku, ia bekerja untukku,
ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku,
memberikan sesajian kepada mereka yang telah meninggal dunia,
dan mengingat kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan,
bukan ratap tangis, bukan kesedihan hati,
bukan berkabung dengan cara apapun juga,
untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia,
yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan

Tetapi bila persembahan ini dengan penuih bakti,
diberikan kepada sangha atas nama mereka,
dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang,
dikemudian hari maupun pada saat ini

Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya,
Sesajian bagi sanak keluarga,
dan bagaimana penghormatan yang telah bernilai dapat diberikan kepada mereka,
serta bagaimana para bhikkhu mendapatkan kekuatan,
dan bagaimana anda sendiri dapat menimbun,
buah karma yang baik

Demikian syair dari Tirokudda Sutta yang pernah diucapkan oleh Sang Buddha. Setelah membaca Sutta ini dengan teliti, kita tentu dapat memetik manfaat yang besar, yaitu kita tidak seharusnya meratap-tangis, sedih, berkabung, membakar emas dan perak ataupun memberikan sesajian kepada sanak keluarga atau teman kita yang telah meninggal, tetapi yang dapat membantu mereka hanyalah persembahan yang diberikan kepada Sangha atas nama alm.
 _/\_
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....