Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma  (Read 59508 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #75 on: 24 February 2010, 05:51:18 PM »
apakah kalau penceramahnya adalah Bhikkhu Uttamo atau ajahn Brahm yg berceramah sambil guyon, maka tindakan itu otomatis benar menurut Dhamma/Vinaya?

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #76 on: 24 February 2010, 06:27:42 PM »
Bhante Utamo juga sering kasi ceramah yg lucu dan mengundang tawa hadirin, demikian juga Ajahn Brahm. Kekna sah2 saja dalam batas2 tertentu.  Sebenarnya tergantung audiencenya juga. Buddha membabarkan dhamma dengan bhikkhu membabarkan umum pada ceramah umum jaman sekarangajuga  situasinya sudah beda. Audience Buddha dan audience bhikkhu saat ini pada saat tertentu sudah beda juga.

Kalau goyang ngebor IMO sih ngak setujulah...secara kepantasan , ngak pantas juga apabila dihadiri seorang bhikkhu.   Kalau joke2 sih boleh2 aja.  Kalau hadirin tertawa kan itu persepsi hadirin. Divihara aja sering bhikkhu ceramah , sambil berjoking  pada batas2 tertentu. Yg perlu diperhatikan saat pembabaran dhamma saat isinya joking adalah ekspresinya jangan seperti badut...nah kalau kek badut ya hancurlah  wibawa bhikkhu dan Dhamma itu sendiri.
Nah, batas-batas kepantasannya itu secara general apa?  JIKA ceramahnya dibawakan bukan oleh seorang bhikkhu, apakah boleh ngebor-ngeboran?

Bergurau juga sebatas apa bolehnya? Bagaimana kalau memakai ekspresi seperti Tukul atau Mr.Bean gitu?



1. Kalau bukan bhikkhu dan tidak ada bhikkhu. Silakan saja ngebor2an....tapi bagi saya kurang layak pembabaran Dhamma kek gitu. Karena yg pasti pembabaran Dhamma sambil ngebor, ngak bakalan nyangkut ke telinga pendengar. Yg ngak ngebor aja masih bisa ngak nyangkut apalagi yg ngebor kan.... tetapi kalau untuk menarik umat, silakan saja tapi jangan bawa2 bhikkhu, karena misinya Buddhanisasi bukan penghayatan Dhamma melalui ceramah Dhamma. ;D

2. Tentunya nilai kepantasan sebagai  seorang bhikkhu yg mengikuti vinaya yang ada

3. Walah kalau ekpresi tukul dan Mr. Bean sih kacau deh.....itu sih masuk kategori ngelawak....kalau selingan joke itu kan harus ada makna dhammanya, makanya ekspresi juga harus menunjukan kewibawaan Dhamma Dan bhikkhu. Kalau kek tukul sama Mr. Bean itu adalah hiburan murni. Dan tidak bermakna apa2.

Quote
apakah kalau penceramahnya adalah Bhikkhu Uttamo atau ajahn Brahm yg berceramah sambil guyon, maka tindakan itu otomatis benar menurut Dhamma/Vinaya?

Nah menurut bro selama ini apakah mereka melanggar Dhamma dan vinaya dalam hal ceramah selama ini?
Kalau iya Dhamma & vinaya yang mana? Sebelum saya menjawab lebih lanjut..... ;D _/\_
« Last Edit: 24 February 2010, 06:34:23 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #77 on: 24 February 2010, 06:32:17 PM »
Quote
apakah kalau penceramahnya adalah Bhikkhu Uttamo atau ajahn Brahm yg berceramah sambil guyon, maka tindakan itu otomatis benar menurut Dhamma/Vinaya?

Nah menurut bro selama ini apakah mereka melanggar Dhamma dan vinaya dalam hal ceramah selama ini?
Kalau iya Dhamma & vinaya yang mana? Sebelum saya menjawab lebih lanjut..... ;D _/\_

saya sih tidak tertarik untuk memberikan judgement pada tindakan bhikkhu, bukan kapasitas saya, tapi yg saya pertanyakan adalah apakah kalau mrk berdua yg melakukan lantas tindakan itu pasti benar menurut Dhamma/Vinaya

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #78 on: 24 February 2010, 06:43:42 PM »
Quote
apakah kalau penceramahnya adalah Bhikkhu Uttamo atau ajahn Brahm yg berceramah sambil guyon, maka tindakan itu otomatis benar menurut Dhamma/Vinaya?

Nah menurut bro selama ini apakah mereka melanggar Dhamma dan vinaya dalam hal ceramah selama ini?
Kalau iya Dhamma & vinaya yang mana? Sebelum saya menjawab lebih lanjut..... ;D _/\_

saya sih tidak tertarik untuk memberikan judgement pada tindakan bhikkhu, bukan kapasitas saya, tapi yg saya pertanyakan adalah apakah kalau mrk berdua yg melakukan lantas tindakan itu pasti benar menurut Dhamma/Vinaya

Itu ada hubungannya bro...kalau anda tidak tertarik bagaimana saya bisa menjawab......saya juga tidak tertarik untuk membahas lebih lanjut dg bro jika pertanyaan saya tidak dijawab untuk penjelasan tidak ada.^-^ Karena ini sudah masuk ranah persepsi beserta batasannya. Misal : guyon seperti apa yg anda maksud? ini kan harus jelas..... :)
Dan saya hanya memberi contoh tentang mereka...beserta penjelasannya. sehingga pertanyaan bro tentang "kalau penceramahnya....."ada sesuatu kan?....nah diperjelas dulu....jangan sampai ada generalisasi Dhamma dan vinaya....kalau perlu dimunculkan Dhamma dan vinayanya apa?
« Last Edit: 24 February 2010, 06:55:18 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #79 on: 24 February 2010, 06:49:40 PM »
Quote
apakah kalau penceramahnya adalah Bhikkhu Uttamo atau ajahn Brahm yg berceramah sambil guyon, maka tindakan itu otomatis benar menurut Dhamma/Vinaya?

Nah menurut bro selama ini apakah mereka melanggar Dhamma dan vinaya dalam hal ceramah selama ini?
Kalau iya Dhamma & vinaya yang mana? Sebelum saya menjawab lebih lanjut..... ;D _/\_

saya sih tidak tertarik untuk memberikan judgement pada tindakan bhikkhu, bukan kapasitas saya, tapi yg saya pertanyakan adalah apakah kalau mrk berdua yg melakukan lantas tindakan itu pasti benar menurut Dhamma/Vinaya

Itu ada hubungannya bro...kalau anda tidak tertarik bagaimana saya bisa menjawab......saya juga tidak tertarik untuk membahas lebih lanjut.. ^-^ Karena ini sudah masuk ranah persepsi beserta batasannya.

baiklah, saya bahkan tidak pernah mendengar ceramah Bhikkhu Uttamo, dan pernah sekali mendengarkan ceeramah Ajahn Brahm, tentu saja pengamatan saya dari sana tidak valid untuk memberikan judgement.

yg membuat saya tertarik adalah komentar Bro yg mengatakan bahwa sah-sah saja hal "itu" dilakukan karena kedua bhikkhu itu juga melakukan, bukankah begitu maksudnya?

dari sana maka saya ingin mengklarifikasi apakah jika dilakukan oleh kedua bhikkhu itu maka tindakan itu sudah pasti benar menurut Dhamma/Vinaya.

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #80 on: 24 February 2010, 07:04:00 PM »
Quote
apakah kalau penceramahnya adalah Bhikkhu Uttamo atau ajahn Brahm yg berceramah sambil guyon, maka tindakan itu otomatis benar menurut Dhamma/Vinaya?

Nah menurut bro selama ini apakah mereka melanggar Dhamma dan vinaya dalam hal ceramah selama ini?
Kalau iya Dhamma & vinaya yang mana? Sebelum saya menjawab lebih lanjut..... ;D _/\_

saya sih tidak tertarik untuk memberikan judgement pada tindakan bhikkhu, bukan kapasitas saya, tapi yg saya pertanyakan adalah apakah kalau mrk berdua yg melakukan lantas tindakan itu pasti benar menurut Dhamma/Vinaya

Itu ada hubungannya bro...kalau anda tidak tertarik bagaimana saya bisa menjawab......saya juga tidak tertarik untuk membahas lebih lanjut.. ^-^ Karena ini sudah masuk ranah persepsi beserta batasannya.

baiklah, saya bahkan tidak pernah mendengar ceramah Bhikkhu Uttamo, dan pernah sekali mendengarkan ceeramah Ajahn Brahm, tentu saja pengamatan saya dari sana tidak valid untuk memberikan judgement.

yg membuat saya tertarik adalah komentar Bro yg mengatakan bahwa sah-sah saja hal "itu" dilakukan karena kedua bhikkhu itu juga melakukan, bukankah begitu maksudnya?

dari sana maka saya ingin mengklarifikasi apakah jika dilakukan oleh kedua bhikkhu itu maka tindakan itu sudah pasti benar menurut Dhamma/Vinaya.

Bro pernah sekali dengar Ajahn Brahm. Dan saya sudah keduanya...dan mirip ada banyak hadirin tertawa. Bagi saya sah-sah saja....nah jawab dulu apakah mereka melanggar Dhamma dan vinaya...kalau anda mengatakan bukan kapasitas anda, lalu bagaimana saya umat berkapasitas menilai bhikkhu kan... Anda sendiri tidak mau, koq nyuruh org lain menilai...  :)) begini saja...Dhamma dan vinaya apa yg anda maksud...baru kita bahas...keluarkan suttanya dengan lengkap....bereskan.
Jelaskan definisi guyon bro dulu. Saya rasa contoh saya sudah jelas...Atau gini saja apa menurut bro Ajahn Brahm...dan Bhante Utamo yg menyebabkan banyak hadirin tertawa telah melakukan guyon.? Kalau ngak dijawab juga maka percuma anda bertanya pada saya..... ;D  Saya tidak akan menjawab juga....Apa kurang jelas gaya Ajahn Brahm dan Bhante Utamo...berceramah? tentu bro lebih tahu Dhamma dan vinaya...silakan dibabarkan saja... _/\_
« Last Edit: 24 February 2010, 07:13:11 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #81 on: 24 February 2010, 07:09:25 PM »
cukup dengan merubah tingkah laku diri sendiri ke arah yang lebih baik
maka lingkungan akan merespon
Samma Vayama

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #82 on: 24 February 2010, 07:10:34 PM »
Ajaran Buddha sudah jelas yaitu untuk mengendalikan pikiran dan ucapan, nah dengan cara2 pembabaran dhammataintment dengan lelucon atau musik atau lainnya yang malah memanjakan indera2 bukannya mengendalikan diri malah memuaskan diri dengan hiburan2 yang malah memanjakan objek2 indera itu sendiri.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #83 on: 24 February 2010, 07:11:11 PM »
Mr Bond, yg saya ingin tekankan di sini adalah kita tidak bisa menilai suatu tindakan karena tindakan itu dilakukan oleh oknum tertentu, suatu tindakan tidak harus benar karena dilakukan oleh tokoh terkenal, demikian sebaliknya. marilah kita menilai dengan merujuk pada Dhamma bukan pada oknum.

:backtotopic:

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #84 on: 24 February 2010, 07:18:52 PM »
Mr Bond, yg saya ingin tekankan di sini adalah kita tidak bisa menilai suatu tindakan karena tindakan itu dilakukan oleh oknum tertentu, suatu tindakan tidak harus benar karena dilakukan oleh tokoh terkenal, demikian sebaliknya. marilah kita menilai dengan merujuk pada Dhamma bukan pada oknum.

:backtotopic:

Saya kan kasi contoh oknum apa tidak boleh?....anda yg bertanya kalau mereka melakukan itu apakah melanggar vinaya? saya tidak tau dhamma danvinaya.... lalu anda berdalih lagi.....apapnya yg OOT. Jelaskan dong apakah tindakan itu sesuai dengan Dhamma atau tidak. Aneh setiap diskusi Dhamma yg bagaimana selalu maunya jawabannya sendiri seakan-akan otoritas dhamma. Anda sendiri yg bertanya tapi tidak bisa menjelaskan contoh2 Dhamma....lucu kan...I'm not OOT.  Please deh  kalau mo diskusi jangan mau jawaban sendiri yg benar kan....klarifikasi itu bukan mendesak....tetapi kerjasama dalam diskusi...gitu lho mas.
Coba baca lagi deh, saya sudah minta suttanya.....apa ente ngak baca? kalo belajar Dhamma dan vinaya tidak ada studi kasus...baca buku aja ngak usa diskusi kan.
« Last Edit: 24 February 2010, 07:48:38 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #85 on: 24 February 2010, 07:21:10 PM »
 [at]  Mr. Bond,
silahkan baca lagi kronologi diskusi kita,
dan karena ini sudah mengarah ke debat kusir, saya mohon maaf untuk tidak melanjutkan lagi. _/\_

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #86 on: 24 February 2010, 07:26:17 PM »
[at]  Mr. Bond,
silahkan baca lagi kronologi diskusi kita,
dan karena ini sudah mengarah ke debat kusir, saya mohon maaf untuk tidak melanjutkan lagi. _/\_
Ya sudah kalu begitu ndak masalah koq...jadi ngak cape2 klarifikasi  dan memang tidak ada yg perlu diklarifikasi karena sudah jelas contoh dan casenya . :))
« Last Edit: 24 February 2010, 07:33:11 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.098
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #87 on: 24 February 2010, 07:40:45 PM »
tentu semuanya harus sesuai dengan vinaya atau batas mana yang boleh sesuai dengan vinaya wa rasa makin tinggi moralitas nya akan terlihat.

karena ada juga memang bhikku yang jadi seperti penyanyi dll di china sono itu kata katanya sih terlihat benar tapi apakah sebenar itu wa liat fotonya pakai kacamata ( kacamata biasa sih tidak apa apa itu kacamata seperti rebyan punya coba buat apa di pakai) di telinga nya ada tuh yang buat freehand phone kemana dayakanya? terus apa kah pantas seperti itu? katanya sih lagu yang di rekam untuk mengenalkan Buddhist ke generasi muda. kalo dengar Bhikku lain yang se viharanya sih bilang (wah lupa juga nih yang keingat saja) harus yang sepantasnya.     

Offline Tekkss Katsuo

  • Sebelumnya wangsapala
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.611
  • Reputasi: 34
  • Gender: Male
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #88 on: 24 February 2010, 08:21:38 PM »
lol kok jd gitu. maksud saya org org di daerah setempat mungkin karena kebiasaan ngomong kasar tp kita tdk semestinya ikt mereka ngomong kasar........... kita bisa bicara dengan lembut dan nga pake kasar gt... dan juga norma tdk melarang kan untuk ngomong secara halus...
Ya, setuju. Berarti pembabar tidak perlu ikut-ikutan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Buddha, betul?



Quote
Quote
5 hal itu norma setempat, tidak melanggar sila, sesuai isi dhamma, tidak menjelekkan pihak lain, dengan cinta kasih.
Ngebor tidak melanggar norma dan sila. Dhamma tidak membahas ngebor-ngeboran, jadi tidak ada sutta yang mendukung atau menentang. Ngebor tidak menjelekkan pihak lain. Ngebor tidak relevan dengan cinta kasih, jadi bisa sesuai, bisa tidak, tergantung yang lagi ngebor.
Jadi bagaimana?

btw jika Dhamma tdk membahas soal Ngebor, ngapain jg kita ngebor gt... kan hal ini jg tdk relaven dgn Dhamma yg hendak disampaikan.. kyknya point yg saya tulis juga ada menyangkut dengan relevansi dgn Dhamma yg disampaikan
Seperti saya bilang, gunanya untuk menarik umat agar datang ke pembabaran tersebut.



Yup point pertama, adalah pembabaran Dhamma tdk perlu sesuai dengan Budaya yg tdk sesuai dengan ajaran Buddha, namun jika sejauh budaya tersebut tdk bertentangan dengan ajaran Buddha, maka untuk menarik umat (disini bicaranya adalah untuk mencari kuantitas dulu), perlu diadaptasikan sesuai dengan norma yg ada sejauh tdk bertentangan dengan Dhamma itu sendirii.

Point ke dua jika dengan cara ngebor bisa tarik umat datang untuk mendengar Dhamma, saya yakin itu bukan membuat org mendengar Dhamma melainkan buat cuci mata, =)) dan dr segi lainnya, apakah itu pantas dilakukan, karena ngebor gt tdk berhubungan denga pembabaran Dhamma, melainkan membuat sensual semata, dimana nyata nyata ini secara tersirat sudah tdk sesuai dengan Dhamma.... dr pada ngebor nga jelas, kenapa nga pake drama yg menceritakan soal moralitas, ini berhubungan dengan Dhamma lagi. kalo ngebor apa yg berhubungan, kalo hanya utk mencari umat, mending gw milih no. kwkkwkwkww

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Cara Yang Sesuai Untuk Penyebaran Dhamma
« Reply #89 on: 24 February 2010, 08:27:07 PM »
selingan sutta ;D

SABASAVA SUTTA (2)

Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I,
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Keagamaan Buddha Departemen Agama RI, 1993

Demikian yang saya dengar.
    Pada suatu ketika Sang Bhagava tinggal di Jetavana, Anathapindika Arame, Savathi. Di sana Beliau menyapa para Bhikkhu: "Para bhikkhu."
    "Ya, Bhante," jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata sebagai berikut:
    "Para bhikkhu, aku akan menerangkan kepadamu tentang dukkha, dengar dan perhatikan baik-baik apa yang kukatakan."
    "Baiklah, Bhante," jawab mereka. Lalu Sang Bhagava berkata:

    "Para bhikkhu. Kukatakan bahwa dukkha itu akan terhenti pada diri seseorang yang mengerti dan melihat, bukan pada diri seseorang yang tidak mengerti dan tidak melihat. Apakah yang dimengerti dan dilihat? Perhatian yang benar dan perhatian yang tidak benar. Bila seorang tidak memperhatikan dengan benar, maka muncullah dukkha baru dan bertambahlah dukkha yang telah ada. Bila seorang memperhatikan dengan benar, dukkha yang akan timbul dapat dihindari dan dukkha yang telah ada dapat dilenyapkan.
    Dukkha dapat dihilangkan dengan melihat (dassana). Dukkha dapat dihilangkan dengan pengendalikan diri (samvara). Dukkha dapat dihilangkan dengan penggunaan (patisevana). Dukkha dapat dihilangkan dengan penahanan (adhivasana). Dukkha dapat dihilangkan dengan penghindaran (parivajjana). Dukkha dapat dihilangkan dengan penghapusan (vinodana). Dukkha dapat dihilangkan dengan pengembangkan (bhavana).
    Dukkha apakah yang dapat dihilangkan dengan cara melihat? Para bhikkhu, begini, orang biasa yang tidak terpelajar, yang tidak menghargai, tidak memahami dan tidak berdisiplin dengan ajaran orang-orang pandai dan bijaksana. Tidak mengerti hal-hal yang penting untuk diperhatikan, atau hal-hal apakah yang tidak penting untuk diperhatikan. Sehingga dia tidak memperhatikan hal-hal yang penting untuk diperhatikan dan dia memperhatikan hal-hal yang tidak penting untuk diperhatikan.

    Apakah hal-hal yang ia perhatikan? Adalah hal-hal yang menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang ia perhatikan.
    Apakah hal-hal yang ia tidak perhatikan? Adalah hal-hal yang tidak menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang ia tidak perhatikan.
    Dengan memperhatikan hal-hal yang tidak perlu diperhatikan dan tidak memperhatikan hal-hal yang perlu untuk diperhatikan, dukkha yang baru muncul dan dukkha yang lama bertambah.

    Beginilah caranya dia berpikir dengan tidak bijaksana: 'Apakah aku ada di masa lalu? Apakah aku tidak ada di masa lalu? Bagaimanakah aku di masa lalu? Menjalani apa dan bagaimanakah aku di masa lalu? Akankah aku ada di masa mendatang? Tidak adakah aku di masa mendatang? Menjadi apakah aku di masa mendatang? Bagaimanakah aku di masa mendatang? Mengalami apa dan bagaimanakah aku pada masa mendatang.'Atau dia merasa ragu-ragu tentang keberadaannya sekarang: 'Benarkah aku? Tidakkah aku ada? Sebagai apakah aku? Bagaimanakah aku? Kapankah keadaan ini muncul? Ke mana aku akan muncul?'
    Bila ia berpikir demikian dengan kurang bijaksana, satu dari enam macam pandangan muncul pada dirinya:

   1. 'Keakuan terhadap dirinya' muncul sebagai suatu hal yang benar dan mutlak.
   2. 'Ketidakakuan terhadap dirinya' muncul sebagai suatu hal yang benar dan mutlak.
   3. 'Aku mencerap keakuan bagi diriku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan mutlak.
   4. 'Aku mencerap ketidakakuan bagi diriku' muncul sebagai suatu hal yang benar dan mutlak.
   5. 'Aku mencerap keakuan dan ketidakakuan' muncul sebagai suatu hal yang benar dan mutlak.
   6. 'Aku mencerap ketidakakuan dan keakuan' sebagai suatu hal yang benar dan mutlak, atau dia akan berpandangan bahwa akulah yang bicara dan merasakan dan mengalami akibat dari perbuatan baik atau buruk: tetapi milikku ini adalah kekal, selama-lamanya, abadi, tak dapat berubah, dan akan berlangsung selamanya.

    Pandangan macam ini disebut kekaburan pandangan, kebuasan pandangan, kerusakan pandangan, keragu-raguan pandangan, belenggu pandangan. Orang biasa yang tak terpelajar dan terikat dengan belenggu pandangan-pandangan ini, tidak akan ada yang terbebas dari kelahiran, umur tua dan kematian dengan penderitaan dan ratap tangis, rasa sakit, takut dan putus asa; dia tidak terbebas dari penderitaan.
    Orang yang terpelajar, yang menghargai, memahami dan berdisiplin dengan ajaran orang-orang pandai dan bijaksana. Mengerti hal-hal yang penting untuk diperhatikan, atau hal-hal apakah yang tidak penting untuk diperhatikan. Sehingga dia tidak memperhatikan hal-hal yang tidak penting untuk diperhatikan dan dia memperhatikan hal-hal yang penting untuk diperhatikan.

    Apakah hal-hal yang ia tidak perhatikan? Adalah hal-hal yang menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang tidak seharusnya yang ia perhatikan.
    Apakah hal-hal yang ia perhatikan? Adalah hal-hal yang tidak menyebabkan munculnya dukkha yang baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera, keakuan dan ketidaktahuan. Inilah hal-hal yang seharusnya yang ia perhatikan.
    Dengan memperhatikan hal-hal yang perlu diperhatikan dan tidak memperhatikan hal-hal yang tidak perlu untuk diperhatikan, dukkha yang baru tidak muncul dan dukkha yang lama dapat dihilangkan.
    Beginilah bagaimana ia berpikir dengan bijaksana: 'Ini adalah dukkha (penderitaan), ini adalah asal mula dukkha, ini adalah terhentinya dukkha dan ini adalah jalan yang menuju terhentinya dukkha'.
    Ketika dia memperhatikan jalan ini dengan bijaksana, tiga belenggu dapat ditinggalkannya: keinginan untuk bertumimbal lahir, ketidakpastian dan kemelekatan terhadap upacara-upacara.
    Ini disebut sebagai dukkha yang dapat dihentikan dengar cara melihat.

    Apakah dukkha yang dapat dihentikan dengan pengendalian diri?
    Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana dapat mengendalikan kesulitan matanya. Bila dukkha jasmani dan perasaan bisa timbul pada seorang bhikkhu yang tidak dapat mengendalikan kesulitan matanya, maka tidak ada dukkha atau beban emosi yang timbul jika dia dapat mengendalikan kesulitan matanya. Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan matanya ...
    ... kesulitan penciumannya ....
    ... kesulitan pengecapannya ....
    ... kesulitan pendengarannya ....
    ... kesulitan badannya ....
    Berpikir dengan bijaksana dia dapat mengendalikan kesulitan pikirannya... tak ada dukkha jasmani dan perasaan yang timbul bila pikirannya terkendali. Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang pikirannya tidak terkendali, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang pikirannya terkendali. Inilah yang disebut penderitaan yang dapat dihentikan dengan pengendalian diri.

    Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penggunaan? Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana menggunakan sebuah jubah sebagai pelindung dari dingin, panas dan untuk melindungi diri dari lalat, angin, panas yang membakar serta serangga tanah, juga hanya bertujuan untuk menutupi bagian tubuh yang vital.
    Berpikir dengan bijaksana dia tidak menggunakan patta (mangkuk)-nya untuk hiburan atau kesombongan, tidak pula untuk keelokan dan hiasan. Tetapi sekedar untuk kelangsungan hidupnya, untuk menghilangkan rasa sakit dan membantu perkembangan batin (berpikir): 'Beginilah aku akan menghentikan kesadaran lama tanpa menimbulkan kesadaran baru dan terhindar dari kesalahan, aku akan hidup dengan benar dan sehat'.
    Berpikir dengan bijaksana dia menggunakan tempat peristirahatan untuk melindungi diri dari dingin, gangguan lalat, angin, panas terik dan serangga tanah. Dan hanya sekedar menghindar dari bahaya-bahaya cuaca dalam menikmati istirahat.
    Berpikir dengan bijaksana dia menggunakan obat-obatan untuk menyembuhkan diri dari sakit, sekedar untuk melindungi diri dari rasa sakit yang timbul dan mengurangi rasa sakit itu.
    Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak menggunakan segala sesuatunya dengan baik, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang menggunakan segala sesuatunya dengan baik.
    Ini yang disebut penderitaan yang dapat dihentikan dengan penggunaan.

    Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penahanan? Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana menahan dingin, panas lapar, haus dan gangguan dari lalat, angin, panas dan serangga tanah, dia menahan diri dari menghina, kata-kata kasar dan perasaan yang menyakitkan, menyiksa, yang menusuk hati, yang mengkhawatirkan, mengancam dan membahayakan kehidupan.
    Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menahan, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menahan.

    Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penghindaran? Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana menghindar dari seekor gajah liar, kuda liar, banteng liar, anjing liar, ular, batang pohon yang roboh, semak belukar, tanah berlubang, tebing batu, lubang dan lubang bawah tanah; berpikir dengan bijaksana untuk menghindar: duduk di kursi yang tidak menyenangkan, berkelana di tempat yang tidak cocok, bergaul dengan orang bodoh; yang mana hal-hal ini dianggap merupakan perbuatan salah oleh orang bijaksana. Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menghindar, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menghindar.

    Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan penghapusan? Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana tidak membiarkan pikiran yang ditimbulkan oleh nafsu indera ... oleh kekesalan ... oleh penderitaan; dia tinggalkan, benar-benar menghilangkannya dan memusnahkannya. Dia tidak membiarkan hal-hal yang salah dan tidak berguna untuk timbul; ditinggalkannya, benar-benar menghilangkannya dan memusnahkan hal-hal itu.
    Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat menghapus pikiran-pikiran ini, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang dapat menghapus mereka.

Apakah penderitaan yang dapat dihentikan dengan pengembangan? Seorang bhikkhu berpikir dengan bijaksana, mengembangkan perhatian dari faktor-faktor penerangan sempurna (satisambojjhanga) yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu dan menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya.
    Dia mengembangkan penelitian Dhamma dari faktor-faktor penerangan sempurna (dhammavicayasambojjhanga)
    ... faktor semangat (viriya) penerangan sempurna ....
    ... faktor kegiuran (piti) penerangan sempurna ....
    ... faktor ketenangan (passaddhi) penerangan sempurna ....
    ... faktor konsentrasi (samadhi) penerangan sempurna ....
    ... faktor keseimbangan batin (upekha) penerangan sempurna, yang merupakan penahanan diri, tanpa nafsu, menghentikan hal-hal yang menyebabkannya dan berubah tidak melakukannya.

    Bila dukkha jasmani dan perasaan dapat muncul pada seorang yang tidak dapat mengembangkan hal-hal itu, maka sebaliknya tidak ada dukkha jasmani dan perasaan yang dapat muncul pada seorang yang mengembangkannya.
    Segera setelah penderitaan seorang bhikkhu dapat ditinggalkan dengan cara melihat (ke dalam) (dassana), menahan, menggunakan, menghindar, menghilangkan dan mengembangkan telah dapat ditinggalkan, dia akan disebut sebagai seorang bhikkhu yang dapat menghentikan semua penderitaan: dia menghentikan keinginan (tanha), melepaskan belenggu (samyojana) dan telah mengakhiri penderitaan dengan penembusan kesombongan (mana)."
    Demikian yang dikatakan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan gembira dengan kata-kata Sang Bhagava.

=========================================================================
hal2 yang berguna dan boleh di sampaikan silahkan, hal2 yang tidak berguna rasanya seorang bhikhu tahu dong kalau yang tidak berguna ya tidak perlu di sampaikan.
inti ajaran Buddha itu untuk menghilangkan Dukkha bukan yang lainnya.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))