Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Critic About Buddhaghosa  (Read 11832 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #30 on: 29 October 2009, 11:57:01 PM »
^
Semoga cita2 luhur Anda tidak tercapai _/\_

^-^ :whistle:
appamadena sampadetha

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #31 on: 30 October 2009, 12:02:58 AM »
_/\_ Samaneri

Iya, ganti nama, udah potong kambing kemaren.. ^-^

Seharusnya dari awal Samaneri menceritakan ttg 2 versi wafatnya Nanamoli Thera. :)
Source cerita lainnya, saya tunggu kapan saja jika Samaneri ketemu, jika tidak gpp. :)
Oya Dr. Kingsley Heendeniya juga kalau tidak salah pernah berdomisili di Sri Lanka, dan keluarganya memiliki kedekatan yg cukup dg alm. Nanavira Thera dan alm. Nanamoli Thera. Jadi saya pikir ceritanya cukup dapat dipercaya.

mettacittena
appamadena sampadetha

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #32 on: 30 October 2009, 05:14:38 AM »
yah terkadang sebuah cerita itu bisa dibuat berlebih seperti dongeng dan orang lebih suka versi itu karena lebih "ajaib" atau indah. Tapi ini bukannya menjudge mana yg benar yah dari kasus Nanamoli Thera atau Budddhaghosa Thera, hanya pandangan aja tentang sebuah kisah yg punya beberapa versi.
There is no place like 127.0.0.1

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #33 on: 30 October 2009, 11:42:16 AM »
_/\_ Sdr Peacemind

Saya teringat tentang pembicaraan Upasaka Visakha dengan Bhikkhuni Dhammadina yg dimoderasi Sang Buddha dalam Atthakatha Dhammapada. Di sana dikatakan oleh Sang Buddha karena Visakha hanya mencapai kesucian anagami, tidaklah mungkin beliau memahami magga&phala yg beliau belum capai, yaitu arahatta magga&phala. Ada benang merah kasus tsb dengan kasus Buddhaghosa ini. Karena beliau tidak mencapai maka tidak memahami, karena tidak memahami bagaimana beliau bisa membabarkan jalur kesucian yg lebih tinggi tsb scr terperinci dan jelas?

mettacittena



Yap, sebelum seseorang merealisasi magga dan phala, secara eksperimental, ia tidak akan memahami, namun secara teori, ada kemungkinan ia mengetahui. Contoh yang nyata adalah bahwa meskipun kita belum merealisasi nibbāna, melalui membaca atau mendengarkan Dhammadesana, kita mengetahui bahwa lenyapnya semua kekotoran batin adalh syarat pencapaian nibbāna. Kasus ini juga bisa terjadi pada Bhikkhu Buddhaghosa (jika cerita bahwa beliau belum mencapai kesucian benar). Selain itu, perlu dicatat di sini bahwa menurut Cūlavaṃsa (salah satu buku kuno di Sri Lanka), penulisan Visuddhimagga terwujud setelah Bhikkhu Buddhaghosa melakukan pembelajaran seluruh Sinhala Aṭṭhakathā. Dengan kata lain, Visuddhimagga adalah hasil akhir Bhikkhu Buddhaghosa setelah mempelajari Sinhala Aṭṭhakathā. Ini menunjukkan bahwa Visuddhimagga tersusun, tidak sepenuhnya, berasal dari pengalaman Bhikkhu Buddhaghosa. Akan tetapi, karena beliau seseorang yang sangat terpelajar, tulisan beliau pun memiliki arti dan makna yang sangat dalam dan yang terpenting tidak bertentangan dengan ajaran Sang Buddha. Namun demikian, kita pun tidak seharusnya menutup kemungkinan bahwa Bhikkhu Buddhaghosa memang sudah merealisasi apa yang ditulisnya meskipun beberapa sumber mengatakn beliau belum mencapai kesucian.

[at] Bro Peacemind yg sy hormati,
terimalah salam hormat sy kpd anda,

sy sebenarnya ingin menanyakan juga masalah ini, karena Ven.Buddhaghosa telah mampu melihat waktu hidup beliau tidak panjang lagi, sehingga beliau harus bergegas ke Burma utk menerjemahkan Visuddhimagga ke dlm bhs.burma, begitu selesai maka beliau menutup mata. demikian pula yg terjadi kepada Ven.Bhikkhu Nyanamoli yang begitu selesai menerjemahkan kedlm english version, sehari sebelum selesai beliau telah pamit bhw telah selesai tugasnya, dan diketemukan meninggal di pembaringan dlm keadaan tersenyum dg terjemahan yg telah lengkap selesai. yangmana menjadi pertanyaan saya dlm hati mungkinkah beliau2 ini arahat? karena masyarakat burma juga mempercayai mereka adalah arahat (relic Ven.Buddhaghosa disemayamkan di Burma di Stupa Buddhaghosa). seblm n sesdhnya diucapkan terima kasih atas kesediaan anda menjawab pertanyaan sy.

may all beings be happy

mettacittena,

Pernyataan ini sangat sulit karena saya bukan arahat. Hehehe…. Yap saya juga sudah mendengar mengenai kasus yang samaneri. Tapi saya lupa mengenai apakah ini terjadi pada  Bhikkhu Nyanamoli atau Nyanaponika atau Nyanatiloka. Nanti saya cari, mudah2an ketemu. Sangat menarik! Dalam Tipitaka dan Aṭṭhakathā, memang ada beberapa kasus para arahat yang tahu bahwa dirinya akan meninggal. Namun yang menjadi pertanyaan di sini adalah apakah pengetahuan demikian bisa dimiliki oleh seorang arahat saja? Saya pernah mendengar dari teman saya bahwa sebelum kakeknya meninggal, kakeknya terlebih dahulu minta pamit kepada seluruh anggota keluarganya bahwa ia akan mati. Padahal, ia hanya seorang biasa. Meskipun Buddhaghosa bukan seorang arahat, beliau juga seseorang yang mempraktikkan Dhamma secara sungguh2. Ada kemungkinan beliau mempunyai pengetahuan demikian. Selain itu, ada kasus menarik di dalam Gilanasaṃyutta dari Cittasaṃyuttta dalam  Samyuttanikāya yang menceritakan bahwa sebelum perumah-tangga bernama Citta meninggal banyak dewa datang kepadanya dan menginginkan ia untuk terlahir di alam dewa mereka. Nah di sini, barangkali, Bhikkhu Buddhaghosa mengetahui hari kematiaannya setelh mendapat laporan dari para dewa. Atau, secara sederhana, kadang2 kita pun secara logika berpikir bahwa kita akan segera mati khususnya pada saat kita menderita penyakit keras. Hal ini bisa terjadi pada Bhikkhu BUddhaghosa.. Ah… banyak kemungkinan! Yang jelas, bukti di atas memberikan kesimpulan bahwa dalam beberepa kasus, ada beberapa orang yang bisa mengetahui waktu kapan mereka meninggal meskipun mereka bukan arahat. Ingat, dalam agama Buddha, sebelum seseorang meninggal, ada gambaran batin (cutinimitta) yang muncul. Suatu saat kalau ada gamabaran batin yang aneh2 muncul pada kita, just remember….! Perhaps, that is the time where we will die!

_/\_

walaupun yg dinyatakan sebagian org adalah benar (kalo emank benar) , saya yakin Buddhagosa memiliki tujuan tertentu yg mulia. bukan berarti dia tdk mampu mencapai kesucian melainkan beliau menunda pencapaiannya. jika seseorg baca yg tertera pada Visuddhi Magga dan praktekkan maka akan tahu apa yg ditulis itu benar ato tdk setelah mempraktekkan sepenuhnya dan saya yakin sepenuhnya di dalam Buku Visuddhi Magga itu bisa membawa seseorg ke tingkat Jhana dan Arupa Jhana dan ke tingkatan kesucian.... ini keyakinan pribadi saya...

Saya sendiri juga berkeinginan untuk terlahir di alam Tavatimsa setelah kelahiran sekarang ini, dan setelah Buddha Metteya datang saya ingin menjadi muridnya...

 _/\_

Setuju Katsuo!

Offline Tekkss Katsuo

  • Sebelumnya wangsapala
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.611
  • Reputasi: 34
  • Gender: Male
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #34 on: 30 October 2009, 11:52:13 AM »
^
Semoga cita2 luhur Anda tidak tercapai _/\_

^-^ :whistle:

ustad susu mao cr masalah ama aye yach.wkwkwkwkwk. masa mendoakan tdk tercapai :((
yaa doanya saya kembalikan deh. wkwkwkwkw....


Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #35 on: 30 October 2009, 12:04:32 PM »
_/\_ Sdr Peacemind

Saya teringat tentang pembicaraan Upasaka Visakha dengan Bhikkhuni Dhammadina yg dimoderasi Sang Buddha dalam Atthakatha Dhammapada. Di sana dikatakan oleh Sang Buddha karena Visakha hanya mencapai kesucian anagami, tidaklah mungkin beliau memahami magga&phala yg beliau belum capai, yaitu arahatta magga&phala. Ada benang merah kasus tsb dengan kasus Buddhaghosa ini. Karena beliau tidak mencapai maka tidak memahami, karena tidak memahami bagaimana beliau bisa membabarkan jalur kesucian yg lebih tinggi tsb scr terperinci dan jelas?

mettacittena



Yap, sebelum seseorang merealisasi magga dan phala, secara eksperimental, ia tidak akan memahami, namun secara teori, ada kemungkinan ia mengetahui. Contoh yang nyata adalah bahwa meskipun kita belum merealisasi nibbāna, melalui membaca atau mendengarkan Dhammadesana, kita mengetahui bahwa lenyapnya semua kekotoran batin adalh syarat pencapaian nibbāna. Kasus ini juga bisa terjadi pada Bhikkhu Buddhaghosa (jika cerita bahwa beliau belum mencapai kesucian benar). Selain itu, perlu dicatat di sini bahwa menurut Cūlavaṃsa (salah satu buku kuno di Sri Lanka), penulisan Visuddhimagga terwujud setelah Bhikkhu Buddhaghosa melakukan pembelajaran seluruh Sinhala Aṭṭhakathā. Dengan kata lain, Visuddhimagga adalah hasil akhir Bhikkhu Buddhaghosa setelah mempelajari Sinhala Aṭṭhakathā. Ini menunjukkan bahwa Visuddhimagga tersusun, tidak sepenuhnya, berasal dari pengalaman Bhikkhu Buddhaghosa. Akan tetapi, karena beliau seseorang yang sangat terpelajar, tulisan beliau pun memiliki arti dan makna yang sangat dalam dan yang terpenting tidak bertentangan dengan ajaran Sang Buddha. Namun demikian, kita pun tidak seharusnya menutup kemungkinan bahwa Bhikkhu Buddhaghosa memang sudah merealisasi apa yang ditulisnya meskipun beberapa sumber mengatakn beliau belum mencapai kesucian.

[at] Bro Peacemind yg sy hormati,
terimalah salam hormat sy kpd anda,

sy sebenarnya ingin menanyakan juga masalah ini, karena Ven.Buddhaghosa telah mampu melihat waktu hidup beliau tidak panjang lagi, sehingga beliau harus bergegas ke Burma utk menerjemahkan Visuddhimagga ke dlm bhs.burma, begitu selesai maka beliau menutup mata. demikian pula yg terjadi kepada Ven.Bhikkhu Nyanamoli yang begitu selesai menerjemahkan kedlm english version, sehari sebelum selesai beliau telah pamit bhw telah selesai tugasnya, dan diketemukan meninggal di pembaringan dlm keadaan tersenyum dg terjemahan yg telah lengkap selesai. yangmana menjadi pertanyaan saya dlm hati mungkinkah beliau2 ini arahat? karena masyarakat burma juga mempercayai mereka adalah arahat (relic Ven.Buddhaghosa disemayamkan di Burma di Stupa Buddhaghosa). seblm n sesdhnya diucapkan terima kasih atas kesediaan anda menjawab pertanyaan sy.

may all beings be happy

mettacittena,

Pernyataan ini sangat sulit karena saya bukan arahat. Hehehe…. Yap saya juga sudah mendengar mengenai kasus yang samaneri. Tapi saya lupa mengenai apakah ini terjadi pada  Bhikkhu Nyanamoli atau Nyanaponika atau Nyanatiloka. Nanti saya cari, mudah2an ketemu. Sangat menarik! Dalam Tipitaka dan Aṭṭhakathā, memang ada beberapa kasus para arahat yang tahu bahwa dirinya akan meninggal. Namun yang menjadi pertanyaan di sini adalah apakah pengetahuan demikian bisa dimiliki oleh seorang arahat saja? Saya pernah mendengar dari teman saya bahwa sebelum kakeknya meninggal, kakeknya terlebih dahulu minta pamit kepada seluruh anggota keluarganya bahwa ia akan mati. Padahal, ia hanya seorang biasa. Meskipun Buddhaghosa bukan seorang arahat, beliau juga seseorang yang mempraktikkan Dhamma secara sungguh2. Ada kemungkinan beliau mempunyai pengetahuan demikian. Selain itu, ada kasus menarik di dalam Gilanasaṃyutta dari Cittasaṃyuttta dalam  Samyuttanikāya yang menceritakan bahwa sebelum perumah-tangga bernama Citta meninggal banyak dewa datang kepadanya dan menginginkan ia untuk terlahir di alam dewa mereka. Nah di sini, barangkali, Bhikkhu Buddhaghosa mengetahui hari kematiaannya setelh mendapat laporan dari para dewa. Atau, secara sederhana, kadang2 kita pun secara logika berpikir bahwa kita akan segera mati khususnya pada saat kita menderita penyakit keras. Hal ini bisa terjadi pada Bhikkhu BUddhaghosa.. Ah… banyak kemungkinan! Yang jelas, bukti di atas memberikan kesimpulan bahwa dalam beberepa kasus, ada beberapa orang yang bisa mengetahui waktu kapan mereka meninggal meskipun mereka bukan arahat. Ingat, dalam agama Buddha, sebelum seseorang meninggal, ada gambaran batin (cutinimitta) yang muncul. Suatu saat kalau ada gamabaran batin yang aneh2 muncul pada kita, just remember….! Perhaps, that is the time where we will die!

_/\_

walaupun yg dinyatakan sebagian org adalah benar (kalo emank benar) , saya yakin Buddhagosa memiliki tujuan tertentu yg mulia. bukan berarti dia tdk mampu mencapai kesucian melainkan beliau menunda pencapaiannya. jika seseorg baca yg tertera pada Visuddhi Magga dan praktekkan maka akan tahu apa yg ditulis itu benar ato tdk setelah mempraktekkan sepenuhnya dan saya yakin sepenuhnya di dalam Buku Visuddhi Magga itu bisa membawa seseorg ke tingkat Jhana dan Arupa Jhana dan ke tingkatan kesucian.... ini keyakinan pribadi saya...

Saya sendiri juga berkeinginan untuk terlahir di alam Tavatimsa setelah kelahiran sekarang ini, dan setelah Buddha Metteya datang saya ingin menjadi muridnya...

 _/\_

Setuju Katsuo!

 [at]  Bro Peacemind yg sy hormati,
mohon dijelaskan pertanyaan sy yg sy bold, krn sy masih bingung. mana yg benar ?
klo dari ceritera di halaman preface ada kisah beliau menulis visuddhimagga dlm semalam 3 kali krn buku pertama maupun kedua disembunyikan dewa sakka. sedangkan penulisan buku ini merupakan syarat mutlak utk beliau mempelajari sinhalaatthakatha, yg mrpkn jwbn pertanyaan diwkt bertemu pertama kali dg chief monk mahavihara. tp disini adl hasil pembelajaran beliau slm mempelajari sinhalaatthakatha. mohon penjelasannya.

utk yg menunggu kepastian, smg ketemu sy jg sngat tertarik, jangan2 Ven.Nyanaponika ya...sy juga lupa2 ingat...

kmd yg ke 3 kalimat bertanda bold, sy jg tertarik, krn hanya orang yg telah mencapai kesucian (pandangan pribadi sy) yg mampu secara mendetail menjelaskan magga tsb, dimana hal tsb mustahil dilakukan oleh orang yg masih memiliki pandangan salah, mampu melakukan hal yg spt beliau lakukan. sedangkan orang yg memiliki right views, virtuous, samadhi, panna, itu sdh menggambarkan sedikitnya beliau adalah ariya puggala. mohon penjelasannya.

may all beings be happy

mettacittena,

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #36 on: 30 October 2009, 03:26:17 PM »
For Samāneri:

Memang benar bahwa menurut cerita dua kopi Visuddhimagga diambil oleh dewa sakka. Namun mengenai pernyataan anda bahwa penulisan buku itu merupakan syarat mutlak untuk mempelajari Sinhala aṭṭhakathā, saya tidak setuju. Tapi jika anda mengatakan bahwa penulisan buku tersebut merupakan syarat mutlak untuk menerjemahkan sinhala aṭṭhakathā ke bahasa Magadhi, saya setuju karena memang itulah tujuan Bhikkhu Buddhaghosa datang ke Sri Lanka. Jika penulisan buku tersebut merupakan syarat mutlak untuk mempelajari Sinhala aṭṭhakathā, sekarang yang menjadi pertanyaan adalh mengapa Visuddhimagga berisi tentang komentar2 dan cerita2 yang ada dalam Kitab Komentar (Sinhala aṭṭhakathā). Kesimpulannya adalh, sebelum menyusun Visudhimagga, ia telah menguasai Sinhala aṭṭhakathā, dan baru kemudian menerjemahkan Sinhala aṭṭhakathā ke dalam bahasa Magadhi.  Bukti lain yang bisa dipertimbangkan adalah bahwa di dalam kitab2 komentar nama visuddhimagga tercatat ratusan kali. Ini juga menunjukkan bahwa penerjemahan sinhala aṭṭhakathā ke bahasa Magadhi terjadi setelh Visuddhimagga disusun. Selain itu, dalam kata pengantar kitab2 komentar (arambhakathā), di sana biasanya dikatakn bahwa untuk mempelajari kitab komentar seseorang harus memiliki Visuddhimagga. Alasannya, banyak poin yang penting yang seharusnya ditulis di kitab2 komentar tidak dicatat di kitab2 komentar tersebut, namun telah dicatat di dalam kitab Visuddhimagga.

May u be happy.

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #37 on: 30 October 2009, 05:28:16 PM »
For Samāneri:

Memang benar bahwa menurut cerita dua kopi Visuddhimagga diambil oleh dewa sakka. Namun mengenai pernyataan anda bahwa penulisan buku itu merupakan syarat mutlak untuk mempelajari Sinhala aṭṭhakathā, saya tidak setuju. Tapi jika anda mengatakan bahwa penulisan buku tersebut merupakan syarat mutlak untuk menerjemahkan sinhala aṭṭhakathā ke bahasa Magadhi, saya setuju karena memang itulah tujuan Bhikkhu Buddhaghosa datang ke Sri Lanka. Jika penulisan buku tersebut merupakan syarat mutlak untuk mempelajari Sinhala aṭṭhakathā, sekarang yang menjadi pertanyaan adalh mengapa Visuddhimagga berisi tentang komentar2 dan cerita2 yang ada dalam Kitab Komentar (Sinhala aṭṭhakathā). Kesimpulannya adalh, sebelum menyusun Visudhimagga, ia telah menguasai Sinhala aṭṭhakathā, dan baru kemudian menerjemahkan Sinhala aṭṭhakathā ke dalam bahasa Magadhi.  Bukti lain yang bisa dipertimbangkan adalah bahwa di dalam kitab2 komentar nama visuddhimagga tercatat ratusan kali. Ini juga menunjukkan bahwa penerjemahan sinhala aṭṭhakathā ke bahasa Magadhi terjadi setelh Visuddhimagga disusun. Selain itu, dalam kata pengantar kitab2 komentar (arambhakathā), di sana biasanya dikatakn bahwa untuk mempelajari kitab komentar seseorang harus memiliki Visuddhimagga. Alasannya, banyak poin yang penting yang seharusnya ditulis di kitab2 komentar tidak dicatat di kitab2 komentar tersebut, namun telah dicatat di dalam kitab Visuddhimagga.

May u be happy.

Bro Peacemind yg sy hormati,
terima kasih sekali atas jwbn anda, memang benar utk syarat mentranslate ke bahasa magadhi, sdg chief monk memberikan pertanyaan kpd beliau yg dijwb dg tepat dan dijabarkan dlm buku visuddhimagga tsb (dr jwbn pertanyaan secuil puisi yg diberikan oleh chief monk)...thanks a lot for ur kind reply...

tetapi sy masih menunggu 2 lagi yg belum dijawab...mohon maaf...

 [at]  bro Tekkss Katsuo yg baik,
cita2 anda sangat mulia, tekad anda harus selalu anda kuatkan terus dalam hati setiap hari ...semoga hal demikian menjadi kenyataan kelak...semoga cita2 mulia anda tercapai.sadhu3x.

may all beings be happy

mettacittena,

Offline Tekkss Katsuo

  • Sebelumnya wangsapala
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.611
  • Reputasi: 34
  • Gender: Male
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #38 on: 30 October 2009, 05:31:44 PM »
terima kasih cc Pannadevi. betul itu harus dikembangkan setiap hari agar melekat di batin... walau ini kemelakatan tp ini kemelekatan yg baik  :))

 _/\_

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #39 on: 30 October 2009, 07:13:12 PM »
For Sāmaneri:

Tentang dua pertanyaan anda:
<utk yg menunggu kepastian, smg ketemu sy jg sngat tertarik, jangan2 Ven.Nyanaponika ya...sy juga lupa2 ingat...>

<kmd yg ke 3 kalimat bertanda bold, sy jg tertarik, krn hanya orang yg telah mencapai kesucian (pandangan pribadi sy) yg mampu secara mendetail menjelaskan magga tsb, dimana hal tsb mustahil dilakukan oleh orang yg masih memiliki pandangan salah, mampu melakukan hal yg spt beliau lakukan. sedangkan orang yg memiliki right views, virtuous, samadhi, panna, itu sdh menggambarkan sedikitnya beliau adalah ariya puggala. mohon penjelasannya.>

Tentang pertanyaan pertama saya belum menemukannya. Sy lupa di mana saya membacanya,.

Tentang pertanyaan kedua, logikanya sangat simple. Meskipun kita pernah mendengar tentang rasa pisang, jika kita belum pernah makan pisang, bagaimanapun pengetahuan kita tentang pisang, kita tidak akan pernah mengetahui apa rasa pisang itu. Jika orang yang pernah mendengar tentang pisang aja demikian, apalagi orang yang belum pernah mendengar tentang pisang. More ignorant! Demikian pula, seseorang yang memiliki pandangan salah sangat mustahil memahami magga dan phala, karena magga dan phala merupakan pengalaman mereka yang memiliki pandangan benar dan sudah merealisasinya. Untuk benar2 memahami magga dan phala, seseorang musti merealisasinya terlebih dahulu. Ini yang sesungguhnya terjadi pada seorang sotapanna. Sotapanna telah terbebas dari keragu2an (vicikiccha) termasuk keraguaan akan Dhamma karena sesungguhnya ia telah merealisasi magga dan phala (nibbāna). Sekarang meskipun kita yakin dengan adanya pencapaian nibbāna, selama kita belum pernah mencapainya, di pikiran kita masih muncul berbagai pertanyaan tentang nibbāna. Meskipun pertanyaan2 tentang nibbāna di sini sangat halus, pertanyaan2 ini adalah manifestasi dari vicikicchā.

Mengenai pernyataan anda, "sedangkan orang yg memiliki right views, virtuous, samadhi, panna, itu sdh menggambarkan sedikitnya beliau adalah ariya puggala", perlu dipertimbangkan. Menurut saya, meskipun seseorang memiliki  right views, virtuous, samadhi, panna, jika ia belum mencapai magga dan phala, kita tidak bisa menyebut mereka sebagai ariyapuggala (orang2 suci).

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #40 on: 30 October 2009, 07:38:44 PM »
Quote
Ven. Nyanaponika Maha Thera:
A Bhikkhu with intellectually convinced vision of Dhamma

...

The abode his residence since 1952, engaged in writing, studying and meditating. Maha Thera joyfully says "Nyanasiri, you need not bring me 'Heeldana' (breakfast) tomorrow morning. I am passing away tomorrow, right on the dot at 5.30 a.m." She bursts out in laughter. Maha Thera too joins.

Nyanasiri remarks, "Venerable Sir, you must be an Arhant, certainly you are one to foretell the exact day and time of passing away as was done by the Buddha at Capala Cetiya in Vesali, three months before the final passing away (Mahaparinirvana) at Kusinara between two Sala trees". On the following morning right at 6.00 a.m. Nyanasiri walks through dewed path through the Forest Reserve to the abode of the Maha Thera.

The agitated caretaker comes forward, falls at her feet and says "Maniyo, Maha Thera got up at 5.00 a.m. Had a glass of hot water, washed his face sat on the bed cross legged at 5.15 a.m, then stretched himself on the bed and passed away at 5.30 a.m.

http://www.buddhanet.net/budsas/ebud/ebdha312.htm

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #41 on: 30 October 2009, 07:55:36 PM »
For Chart:

That is what I had read before. Thanks very much to bring this story to us. When I read this story, I have a confidence in this monk. It is not only because the story presents a wonder thing, but if you read his book, "The Power of Mindfulness" you will find how wonderful he is. He is, I believe, one of some incredible people that we still can find in present century.

Thanks.

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #42 on: 30 October 2009, 08:47:13 PM »
For Sāmaneri:

Tentang dua pertanyaan anda:
<utk yg menunggu kepastian, smg ketemu sy jg sngat tertarik, jangan2 Ven.Nyanaponika ya...sy juga lupa2 ingat...>

<kmd yg ke 3 kalimat bertanda bold, sy jg tertarik, krn hanya orang yg telah mencapai kesucian (pandangan pribadi sy) yg mampu secara mendetail menjelaskan magga tsb, dimana hal tsb mustahil dilakukan oleh orang yg masih memiliki pandangan salah, mampu melakukan hal yg spt beliau lakukan. sedangkan orang yg memiliki right views, virtuous, samadhi, panna, itu sdh menggambarkan sedikitnya beliau adalah ariya puggala. mohon penjelasannya.>

Tentang pertanyaan pertama saya belum menemukannya. Sy lupa di mana saya membacanya,.

Tentang pertanyaan kedua, logikanya sangat simple. Meskipun kita pernah mendengar tentang rasa pisang, jika kita belum pernah makan pisang, bagaimanapun pengetahuan kita tentang pisang, kita tidak akan pernah mengetahui apa rasa pisang itu. Jika orang yang pernah mendengar tentang pisang aja demikian, apalagi orang yang belum pernah mendengar tentang pisang. More ignorant! Demikian pula, seseorang yang memiliki pandangan salah sangat mustahil memahami magga dan phala, karena magga dan phala merupakan pengalaman mereka yang memiliki pandangan benar dan sudah merealisasinya. Untuk benar2 memahami magga dan phala, seseorang musti merealisasinya terlebih dahulu. Ini yang sesungguhnya terjadi pada seorang sotapanna. Sotapanna telah terbebas dari keragu2an (vicikiccha) termasuk keraguaan akan Dhamma karena sesungguhnya ia telah merealisasi magga dan phala (nibbāna). Sekarang meskipun kita yakin dengan adanya pencapaian nibbāna, selama kita belum pernah mencapainya, di pikiran kita masih muncul berbagai pertanyaan tentang nibbāna. Meskipun pertanyaan2 tentang nibbāna di sini sangat halus, pertanyaan2 ini adalah manifestasi dari vicikicchā.

Mengenai pernyataan anda, "sedangkan orang yg memiliki right views, virtuous, samadhi, panna, itu sdh menggambarkan sedikitnya beliau adalah ariya puggala", perlu dipertimbangkan. Menurut saya, meskipun seseorang memiliki  right views, virtuous, samadhi, panna, jika ia belum mencapai magga dan phala, kita tidak bisa menyebut mereka sebagai ariyapuggala (orang2 suci).

Quote
Ven. Nyanaponika Maha Thera:
A Bhikkhu with intellectually convinced vision of Dhamma

...

The abode his residence since 1952, engaged in writing, studying and meditating. Maha Thera joyfully says "Nyanasiri, you need not bring me 'Heeldana' (breakfast) tomorrow morning. I am passing away tomorrow, right on the dot at 5.30 a.m." She bursts out in laughter. Maha Thera too joins.

Nyanasiri remarks, "Venerable Sir, you must be an Arhant, certainly you are one to foretell the exact day and time of passing away as was done by the Buddha at Capala Cetiya in Vesali, three months before the final passing away (Mahaparinirvana) at Kusinara between two Sala trees". On the following morning right at 6.00 a.m. Nyanasiri walks through dewed path through the Forest Reserve to the abode of the Maha Thera.

The agitated caretaker comes forward, falls at her feet and says "Maniyo, Maha Thera got up at 5.00 a.m. Had a glass of hot water, washed his face sat on the bed cross legged at 5.15 a.m, then stretched himself on the bed and passed away at 5.30 a.m.

http://www.buddhanet.net/budsas/ebud/ebdha312.htm
For Chart:

That is what I had read before. Thanks very much to bring this story to us. When I read this story, I have a confidence in this monk. It is not only because the story presents a wonder thing, but if you read his book, "The Power of Mindfulness" you will find how wonderful he is. He is, I believe, one of some incredible people that we still can find in present century.

Thanks.

 [at]  Bro Char101, pls accept my respect bow to u,
thank u so much, yes indeed this story i mean, surely.
now i can find it because of u, im much thankful for ur kind reply to would like help us. as my grateful +GRP 4 u.

 [at]  Bro Peacemind yg sy hormati,
salam sejahtera selalu,
terima kasih atas jawaban anda beserta Bro Char101 yg saling melengkapi, terjawab sudah pertanyaan sy, sebagai ucapan terima kasih +GRP utk anda. thx a lot 4 ur kind answer.

btw still one request not reply yet abt to translate it in our language, pls help them Bro Peacemind, i knw u can, u r expert one than me.surely.

may both of u always keeping well n happy

may all beings be happy

mettacittena,

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #43 on: 30 October 2009, 08:52:16 PM »
terima kasih cc Pannadevi. betul itu harus dikembangkan setiap hari agar melekat di batin... walau ini kemelakatan tp ini kemelekatan yg baik  :))

 _/\_

sama2...bagus anda tetap bersemangat...jaga terus dan kembangkan terus semangat itu dlm hati...agar sekuntum teratai calon buddha yg ada di hati anda makin mekar dan mekar berkembang dg indah...

may all beings be happy

mettacittena,

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Critic About Buddhaghosa
« Reply #44 on: 30 October 2009, 08:57:27 PM »
Samaneri:

untuk menerjemahkan apa?