Semoga anda berbahagia 
Quote from: MN 21. Kakacūpama Sutta Perumpamaan GergajiDemikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada saat itu Yang Mulia Moliya Phagguna bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī. Ia begitu akrab dengan para bhikkhunī sehingga jika ada bhikkhu yang mencela para bhikkhunī itu di hadapannya, maka ia akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya; dan jika ada bhikkhu yang mencela Yang Mulia Moliya Phagguna di hadapan para bhikkhunī itu, maka mereka akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya. Demikianlah pergaulan akrab Yang Mulia Moliya Phagguna dengan para bhikkhunī.
Kemudian seorang bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan memberitahu Sang Bhagavā tentang apa yang sedang terjadi.
Kemudian Sang Bhagavā memanggil seorang bhikkhu sebagai berikut: "Ke sinilah, Bhikkhu, beritahu Bhikkhu Moliya Phagguna atas namaKu bahwa Sang Guru memanggilnya."—"Baik, Yang Mulia," ia menjawab, dan ia mendatangi Yang Mulia Moliya Phagguna dan memberitahunya: "Sang Guru memanggilmu, Teman Phagguna."—"Baik, Teman," ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya kepadanya:
"Phagguna, benarkah bahwa engkau bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī, bahwa engkau begitu akrab dengan para bhikkhunī sehingga jika ada bhikkhu yang mencela para bhikkhunī itu di hadapanmu, maka engkau akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya; dan jika ada bhikkhu yang mencela engkau di hadapan para bhikkhunī itu, maka mereka akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya? Apakah engkau bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī seperti yang terlihat?"—"Benar, Yang Mulia."—"Phagguna, bukankah engkau adalah seorang anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?"—"Benar, Yang Mulia."
"Phagguna, tidaklah selayaknya bagimu, seorang anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī. Oleh karena itu, jika seseorang mencela para bhikkhunī itu di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiranku tidak akan terpengaruh, dan aku tidak akan mengucapkan kata-kata kasar; aku akan berdiam dengan berbelas kasih demi kesejahteraannya, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran.' Demikianlah engkau harus berlatih, Phagguna.
"Jika seseorang menyerang para bhikkhunī itu dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiranku tidak akan terpengaruh ...' Jika seseorang mencela di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiranku tidak akan terpengaruh ...' Jika seseorang menyerangmu dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau , maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiranku tidak akan terpengaruh, dan aku tidak akan mengucapkan kata-kata kasar; aku akan berdiam dengan berbelas kasih demi kesejahteraannya, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran.' Demikianlah engkau harus berlatih, Phagguna."
Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: "Para bhikkhu, pernah terjadi suatu peristiwa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu. Di sini Aku berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: 'Para bhikkhu, Aku makan sekali sehari. Dengan melakukan hal itu, Aku terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan Aku menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman. Ayo, para bhikkhu, makanlah sekali sehari. Dengan melakukan hal itu, kalian akan terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan kalian akan menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman.' Dan Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka. Misalkan ada sebuah kereta di tanah yang datar di persimpangan jalan, ditarik oleh kuda-kuda berdarah murni, menunggu dengan tongkat kendali siap untuk digunakan, sehingga seorang pelatih terampil, seorang kusir dari kuda-kuda yang harus dijinakkan, dapat menaikinya, dan memegang tali kekang dengan tangan kirinya dan tongkat kendali di tangan kanannya, dapat menjalankannya maju dan mundur melalui jalan manapun yang ia sukai. Demikian pula, Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka.
"Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini. Misalkan terdapat hutan besar pepohonan sāla di dekat sebuah desa atau kota, dan hutan itu terganggu oleh rerumputan jarak, dan seseorang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan. Ia akan menebang dan menyingkirkan anak-anak pohon yang bengkok yang merampas getah, dan ia akan membersihkan bagian dalam hutan dan memelihara anak-anak pohon yang lurus dan berbentuk baik, sehingga, hutan pohon-sāla itu akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan. Demikian pula, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.
"Sebelumnya, para bhikkhu, di Sāvatthī yang sama ini terdapat seorang ibu rumah tangga bernama Vedehikā. Dan berita baik sehubungan dengan Nyonya Vedehikā telah menyebar sebagai berikut: 'Nyonya Vedehikā adalah orang yang baik, Nyonya Vedehikā adalah orang yang lembut, Nyonya Vedehikā adalah orang yang cinta damai.' Nyonya Vedehikā memiliki seorang pembantu bernama Kālī, yang cerdas, gesit, dan rapi dalam pekerjaannya. Kālī si pembantu berpikir: 'berita baik sehubungan dengan majikanku telah menyebar sebagai berikut: "Nyonya Vedehikā adalah orang yang baik, Nyonya Vedehikā adalah orang yang lembut, Nyonya Vedehikā adalah orang yang cinta damai." Bagaimanakah sekarang, walaupun ia tidak memperlihatkan kemarahan, tetapi apakah saat ini ada kemarahan dalam dirinya atau tidak ada? Atau kalau tidak demikian, apakah karena pekerjaanku rapi maka majikanku tidak memperlihatkan kemarahan walaupun ada kemarahan dalam dirinya? Bagaimana jika aku menguji majikanku.'
"Maka Kālī si pembantu bangun terlambat. Nyonya Vedehikā berkata: 'Hei, Kālī!'—'Ada apa, Nyonya?'—'Ada apa denganmu sehingga bangun terlambat?'—'Tidak ada apa-apa, Nyonya.'—'Tidak ada apa-apa, engkau perempuan nakal, namun engkau bangun terlambat!' Dan ia marah dan tidak senang, dan ia merengut. Kemudian Kālī si pembantu berpikir: 'Kenyataannya adalah walaupun majikanku tidak memperlihatkan kemarahan, namun kemarahan ada dalam dirinya, bukan tidak ada; dan adalah karena pekerjaanku rapi maka majikanku tidak memperlihatkan kemarahan walaupun kemarahan ada dalam dirinya, bukan tidak ada. Bagaimana jika aku menguji majikanku lebih jauh lagi.'
"Maka Kālī si pembantu bangun terlambat di siang hari. Nyonya Vedehikā berkata: 'Hei, Kālī!'—'Ada apa, Nyonya?'—'Ada apa denganmu sehingga bangun terlambat di siang hari?'—'Tidak ada apa-apa, Nyonya.'—'Tidak ada apa-apa, engkau perempuan nakal, namun engkau bangun terlambat di siang hari!' Dan ia marah dan tidak senang dan ia mengucapkan kata-kata ketidak-senangan. Kemudian Kālī si pembantu berpikir: 'Kenyataannya adalah walaupun majikanku tidak memperlihatkan kemarahan, namun kemarahan ada dalam dirinya, bukan tidak ada. Bagaimana jika aku menguji majikanku lebih jauh lagi.'
"Maka Kālī si pembantu bangun lebih terlambat lagi di siang hari. Nyonya Vedehikā berkata: 'Hei, Kālī!'—'Ada apa, Nyonya?'—'Ada apa denganmu sehingga bangun lebih terlambat lagi di siang hari?'—'Tidak ada apa-apa, Nyonya.'—'Tidak ada apa-apa, engkau perempuan nakal, namun engkau bangun lebih terlambat lagi di siang hari!' Dan ia marah dan tidak senang, dan ia mengambil penggilingan dan memukulnya di kepalanya, dan melukai kepalanya.
"Kemudian Kālī si pembantu, dengan darah menetes dari kepalanya yang terluka, mengadukan majikannya kepada para tetangga: 'Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang baik! Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang lembut! Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang cinta damai! Bagaimana mungkin ia menjadi marah dan tidak senang pada pembantu satu-satunya karena bangun terlambat? Bagaimana mungkin ia mengambil penggilingan, memukulnya di kepala, dan melukai kepalanya?' Kemudian berita buruk sehubungan dengan Nyonya Vedehikā menyebar sebagai berikut: 'Nyonya Vedehikā adalah orang yang kasar, Nyonya Vedehikā adalah orang yang kejam, Nyonya Vedehikā adalah orang yang tanpa belas kasih.'
"Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu sangat baik, sangat lembut, sangat cinta damai, selama ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan tidak menyentuhnya. Tetapi ketika ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan menyentuhnya maka dapat diketahui apakah bhikkhu itu sungguh-sungguh baik, lembut, dan cinta damai. Aku tidak mengatakan seorang bhikkhu mudah dinasihati pada ia yang mudah dinasihati dan membuatnya mudah dinasihati hanya demi mendapatkan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Mengapakah? Karena bhikkhu itu tidak mudah dinasihati dan tidak membuat dirinya mudah dinasihati ketika ia tidak memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Tetapi ketika seorang bhikkhu mudah dinasihati dan membuat dirinya mudah dinasihati karena ia menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi Dhamma, ia Kukatakan mudah dinasihati. Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: 'Kami akan mudah dinasihati dan membuat diri kami mudah dinasihati karena kami menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi Dhamma.' Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.
"Para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini yang digunakan oleh orang lain ketika berbicara dengan kalian: ucapan mereka tepat atau tidak tepat pada waktunya, benar atau tidak benar, halus atau kasar, berhubungan dengan kebaikan atau dengan keburukan, diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin tepat atau tidak tepat pada waktunya; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin benar atau tidak benar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin halus atau kasar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin berhubungan dengan kebaikan atau dengan keburukan; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan penuh belas kasih demi kesejahteraan mereka, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran. Kami akan berdiam dengan melingkupi orang itu dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih; dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.' Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.
"Para bhikkhu, misalkan seseorang datang dengan membawa cangkul dan keranjang dan berkata: 'Aku akan mengosongkan bumi ini dari tanah.' Ia akan menggali di sana-sini, menebarkan tanah di sana-sini, meludah di sana-sini, buang air di sana-sini, sambil berkata: 'jadilah tanpa tanah, jadilah tanpa tanah!' Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu mengosongkan bumi ini dari tanah?"—"Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena bumi ini sungguh dalam dan besar; tidak mungkin dapat dikosongkan dari tanah. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan."
"Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini ... (seperti pada §11) ... Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh ... dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.' Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.
"Para bhikkhu, misalkan seseorang datang dengan membawa pewarna merah, jingga, nila, atau merah tua dan berkata: 'Aku akan melukis gambar yang muncul dari ruang kosong.' Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, dapatkah orang itu melukis gambar yang muncul dari ruang kosong?"—"Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena ruang kosong adalah tanpa bentuk dan tidak terlihat; tidaklah mudah untuk melukis gambar di sana atau memunculkan gambar di sana. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan."
"Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini ... Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh ... dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.' Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.
"Para bhikkhu, misalkan seseorang datang dengan membawa obor dari rumput yang menyala dan berkata: 'Aku akan memanaskan dan membakar sungai Gangga dengan obor rumput menyala ini.' Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, dapatkah orang itu memanaskan dan membakar sungai Gangga dengan obor rumput menyala itu?"—"Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena sungai Gangga dalam dan sangat besar; tidaklah mudah untuk memanaskannya atau membakarnya dengan obor rumput menyala. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan."
"Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini ... Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh ... dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.' Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.
"Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah tas kulit kucing yang telah digosok, digosok dengan baik, digosok dengan sangat baik, lembut, halus, bebas dari bunyi gesekan, bebas dari bunyi gemerisik, dan seseorang datang dengan membawa tongkat atau pecahan tembikar dan berkata: 'Terdapat tas kulit kucing ini yang telah digosok ... bebas dari bunyi gesekan, bebas dari bunyi gemerisik. Aku akan membuatnya berbunyi gesekan dan bergemerisik.' Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu membuatnya berbunyi gesekan dan bergemerisik dengan menggunakan tongkat atau pecahan tembikar?"—"Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena tas kulit kucing ini yang telah digosok ... bebas dari bunyi gesekan, bebas dari bunyi gemerisik, tidaklah mudah membuatnya berbunyi gesekan atau berbunyi gemerisik dengan menggunakan tongkat atau pecahan tembikar. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan."
"Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini yang digunakan oleh orang lain ketika berbicara dengan kalian: ucapan mereka tepat atau tidak tepat pada waktunya, benar atau tidak benar, halus atau kasar, berhubungan dengan kebaikan atau dengan keburukan, diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin tepat atau tidak tepat pada waktunya; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin benar atau tidak benar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin halus atau kasar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin berhubungan dengan kebaikan atau dengan keburukan; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan penuh belas kasih demi kesejahteraan mereka, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran. Kami akan berdiam dengan melingkupi orang itu dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih; dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.' Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.
"Para bhikkhu, bahkan jika para penjahat memotong kalian dengan kejam bagian demi bagian tubuh dengan gergaji bergagang ganda, ia yang memendam pikiran benci terhadap mereka berarti tidak melaksanakan ajaranKu. Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: 'Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan penuh belas kasih demi kesejahteraan mereka, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran. Kami akan berdiam dengan melingkupi mereka dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih; dan dimulai dengan diri mereka, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.' Demikianlah kalian harus berlatih.
"Para bhikkhu, jika kalian terus-menerus mengingat nasihat tentang perumpamaan gergaji ini, apakah kalian melihat ada ucapan, halus atau kasar, yang tidak dapat kalian terima?"—"Tidak, Yang Mulia."—"Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus terus-menerus mengingat nasihat tentang perumpamaan gergaji ini. Hal ini akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama."
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Quote from: Vibh 272"Empat hal yang tidak terbatas - Di sini seorang bhikkhu berdiam dengan pikiran yang disertai dengan cinta kasih, meliputi satu arah. Juga arah ke dua. Juga arah ke tiga. Juga arah ke empat. Demikianlah, di atas, di bawah, di sekeliling, di mana-mana, dengan mengidentifikasikan dirinya dengan semua, ia berdiam dengan pikiran yang disertai dengan cinta kasih, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan"
Quote from: Sn 1.8 Metta SuttaTak berbuat kesalahan walaupun kecil Yang dicela oleh para bijaksana, Hendaklah ia berpikir: Semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram, Semoga semua makhluk berbahagia.
Quote from: SN 3.8. Mallikā dan Ud 5.1Di Sāvatthī. Pada saat itu Raja Pasenadi dari Kosala pergi bersama dengan Ratu Mallikā ke teras atas istana. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala berkata kepada Ratu Mallikā: "Adakah, Mallikā, seseorang yang lebih engkau sayangi daripada dirimu sendiri?"
"Tidak ada, Baginda, orang yang lebih kusayangi daripada diriku sendiri. Tetapi adakah, Baginda, orang yang lebih engkau sayangi daripada dirimu sendiri?"
"Bagiku juga, Mallikā, tidak ada orang yang lebih kucintai daripada diriku sendiri."
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala turun dari istana dan mendatangi Sang Bhagavā. Setelah mendekat, ia memberi hormat kepada Sang Bhagavā, duduk di satu sisi, dan menceritakan kepada Sang Bhagavā tentang percakapannya dengan Ratu Mallikā. Kemudian Sang Bhagavā, setelah memahami maknanya, pada kesempatan itu mengucapkan syair berikut ini:
"Setelah melintasi segala penjuru dengan pikiran, Seseorang tidak menemukan di mana pun yang lebih ia sayangi daripada dirinya sendiri. Demikian pula, bagi setiap orang, dirinya sendiri adalah yang paling disayangi; Oleh karena itu, ia yang menyayangi dirinya sendiri seharusnya tidak mencelakai orang lain."
Quote from: AN 3.71 Channa SuttaPengembara Channa mendatangi Yang Mulia Ānanda dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah tersebut, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Ānanda:
"Teman Ānanda, apakah engkau mengajarkan untuk meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi?"
"Benar, teman."
"Tetapi bahaya apakah yang engkau lihat yang karenanya engkau mengajarkan untuk meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi?"
(1) "Seorang yang tergerak oleh nafsu, dikendalikan oleh nafsu, dengan pikiran dikuasai oleh nafsu, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika nafsu ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan.
"Seorang yang tergerak oleh nafsu, dikendalikan oleh nafsu, dengan pikiran dikuasai oleh nafsu, melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika nafsu ditinggalkan, ia tidak melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Seorang yang tergerak oleh nafsu, dikendalikan oleh nafsu, dengan pikiran dikuasai oleh nafsu, tidak memahami sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, atau kebaikan keduanya. Tetapi ketika nafsu ditinggalkan, ia memahami sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Nafsu menuntun menuju kebutaan, kehilangan penglihatan, dan ketiadaan pengetahuan; nafsu menghalangi kebijaksanaan, bersekutu dengan penderitaan, dan tidak mengarah menuju nibbāna.
(2) "Seorang yang penuh kebencian, dikendalikan oleh kebencian ...
(3) "Seorang yang terdelusi, dikendalikan oleh delusi, dengan pikiran dikuasai oleh delusi, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika delusi ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan.
"Seorang yang terdelusi, dikendalikan oleh delusi, dengan pikiran dikuasai oleh delusi, melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika delusi ditinggalkan, ia tidak melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Seorang yang terdelusi, dikendalikan oleh delusi, dengan pikiran dikuasai oleh delusi, tidak memahami sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, atau kebaikan keduanya. Tetapi ketika delusi ditinggalkan, ia memahami sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Delusi menuntun menuju kebutaan, kehilangan penglihatan, dan ketiadaan pengetahuan; delusi menghalangi kebijaksanaan, bersekutu dengan penderitaan, dan tidak mengarah menuju nibbāna.
"Setelah melihat bahaya-bahaya ini dalam nafsu, kebencian, dan delusi, kami mengajarkan untuk meninggalkannya."
"Tetapi adakah jalan, teman, adakah cara untuk meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi?"
"Ada jalan, teman, ada cara untuk meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi."
"Tetapi apakah jalan itu, apakah cara untuk meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi?'
"Adalah jalan mulia berunsur delapan ini, yaitu, pandangan benar ... konsentrasi benar. Ini adalah jalan, cara untuk meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi."
"Jalan yang baik, teman, cara yang baik untuk meninggalkan nafsu, kebencian, dan delusi. Cukuplah, teman Ānanda, untuk ditekuni."
Quote from: Dhammapada 183 - 185Pada suatu saat, Ananda Thera bertanya kepada Sang Buddha, apakah pelajaran-pelajaran dasar yang diberikan kepada para bhikkhu oleh para Buddha terdahulu adalah sama seperti pelajaran Sang Buddha sendiri sekarang. Kepadanya Sang Buddha menjawab bahwa pelajaran-pelajaran yang dibabarkan oleh seluruh Buddha adalah seperti yang diberikan pada syair 183, 184 dan 185 berikut ini :
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin; inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi. "Nibbana adalah tertinggi", begitulah sabda Para Buddha. Dia yang masih menyakiti orang lain sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak menyakiti, dapat mengendalikan diri sesuai dengan peraturan, memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.
Quote from: Dhammapada 399Suatu ketika ada seorang brahmana bernama Bharadvaja, isterinya bernama Dhananjani. Dhananjani telah mencapai tingkat kesucian sotapatti. Setiap kali ia bersin, batuk atau tersandung, ia akan berkata "Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa". (Artinya: Hormat padaNya / terpujilah, Sang Bhagava, Yang Maha Suci Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna).
Suatu hari, brahmana itu mengundang brahaman teman-temannya untuk makan dan tiba-tiba istri brahmana mengucapkan Namo Tassa dst dengan suara keras. Kata-kata pemuliaan bagi Sang Buddha ini sangat tidak disukai oleh suaminya, yang seorang brahmana. Brahmana itu marah dan berkata, "Aku akan pergi mendebat dan mengalahkan gurumu". Istrinya menjawab, "Tentu saja, silakan kau pergi kesana, Brahmana; aku tak pernah melihat ada yang dapat mengalahkan Sang Buddha dalam berdebat. Walaupun demikian, pergilah dan tanyalah Sang Buddha."
Brahmana itu pergi kepada Sang Buddha, dan bahkan tanpa memberi salam atau hormat, berdiri di samping dan bertanya,
"Apa yang harus kita bunuh untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai?
Apa yang harus dihancurkan agar tak lagi bersedih?
Dan apa yang kau setujui untuk dibunuh, Gotama?"
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Sang Buddha menjawab, "O, brahmana untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai, seseorang harus dapat membunuh kebencian (dosa). Membunuh kebencian seseorang adalah yang disenangi dan dipuji oleh para Buddha dan para arahat."
Setelah mendengar kata-kata Sang Buddha, brahmana tersebut menjadi sangat terkesan dan puas dengan jawaban tersebut, sehingga ia mohon untuk diijinkan masuk dalam pasamuan bhikkhu. Ia diterima masuk dalam pasamuan bhikkhu dan menjadi seorang arahat setelahnya.
Brahmana ini mempunyai seorang saudara laki-laki yang sangat terkenal karena kata-kata kasarnya dan dikenal sebagai Akkosaka Bharadvaja, Bharadvaja yang suka menghina/berkata kasar. Ketika Akkosaka Bharadvaja mendengar bahwa saudara laki-lakinya telah masuk dalam pasamuan bhikkhu, ia menjadi sangat marah. Ia langsung pergi ke vihara dan berkata kasar kepada Sang Buddha.
Sang Buddha pada gilirannya bertanya, "O,brahmana, kita misalkan, engkau menawarkan beberapa makanan kepada beberapa tamu dan mereka meninggalkan rumah tanpa mengambil makanan tersebut. Karena tamu tersebut tidak menerima makananmu itu, kemudian makanan itu menjadi milik siapa?"
Brahmana tersebut menjawab, bahwa makanan itu menjadi miliknya.
Setelah menerima jawaban tersebut Sang Buddha berkata, "Dengan cara yang sama, O brahmana, karena Aku tidak menerima hinaan/kata-kata kasarmu, maka hinaan tersebut akan kembali kepadamu."
Akkosaka Bharadvaja dengan segera menyadari kebijaksanaan dari kata-kata tersebut dan ia menaruh rasa hormat kepada Sang Buddha. Ia juga memasuki pasamuan bhikkhu, kemudian ia menjadi seorang Arahat.
Setelah Akkosaka Bharadvaja memasuki Sangha, dua saudara laki-laki ini juga datang menemui Sang Buddha dengan tujuan yang sama yaitu menghina/berkata kasar kepada Sang Buddha. Mereka juga dibuat melihat cahaya Kebenaran oleh Sang Buddha dan mereka juga, pada gilirannya memasuki pasamuan bhikkhu. Akhirnya, mereka berdua juga menjadi arahat.
Suatu sore pada saat berkumpulnya para bhikkhu, para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha, "O betapa indahnya dan betapa agungnya kebajikan Sang Buddha ! Empat brahmana bersaudara datang kemari untuk menghina Sang Buddha; alih-alih berdebat dengan mereka; Beliau membuat mereka melihat cahaya, dan sebagai hasilnya, Sang Buddha telah menjadi pelindung bagi mereka."
Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! karena Aku sabar dan menahan diri dan tidak melakukan kesalahan kepada mereka yang melakukan kesalahan kepadaKu, Aku menjadi pelindung bagi banyak orang."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Akkosaṃ vadhabandhañ ca aduṭṭho yo titikkhati khantībalaṃ balānīkaṃ tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."
Seseorang yang tidak marah, yang dapat menahan hinaan, penganiayaan, dan hukuman yang memiliki senjata kesabaran, maka ia Kusebut seorang brahmana.
Quote from: SN 11.5. Kemenangan melalui Nasihat yang Disampaikan dengan BaikDi Sāvatthī. "Para bhikkhu, suatu ketika di masa lampau para deva dan para asura sedang bersiap-siap untuk suatu pertempuran. Kemudian Vepacitti, raja para asura, berkata kepada Sakka, raja para deva: 'Raja para deva, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.' [Dan Sakka menjawab:] 'Vepacitti, biarlah kemenangan ditentukan oleh nasihat yang diucapkan dengan baik.'
"Kemudian, para bhikkhu, para deva dan para asura menunjuk suatu panel hakim, dan berkata: 'Orang-orang ini akan memastikan apa yang diucapkan dengan baik dan apa yang diucapkan dengan buruk oleh kita.'
"Kemudian Vepacitti, raja para asura, berkata kepada Sakka, raja para deva: 'Ucapkan sebuah syair, raja para deva.' Ketika hal ini dikatakan, Sakka berkata kepada Vepacitti; 'Engkau, Vepacitti, sebagai deva senior di sini, ucapkanlah sebuah syair." ketika ini dikatakan, Vepacitti, raja para asura, mengucapkan syair ini:
"'Si dungu akan lebih banyak lagi melepaskan kemarahannya Jika tidak ada seorang pun yang melawannya. Karena itu dengan hukuman drastis Sang bijaksana seharusnya mengendalikan si dungu.'
"Ketika, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, mengucapkan syair ini, para asura bersorak namun para deva diam. Kemudian Vepacitti berkata kepada Sakka: 'Ucapkan sebuah syair, raja para deva.' Ketika ini dikatakan, Sakka, raja para deva, mengucapkan syair ini:
"'Ini adalah gagasanku sendiri Cara untuk melawan si dungu adalah: Ketika seseorang mengetahui bahwa musuhnya marah Maka ia harus dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaian.'
"Ketika, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, mengucapkan syair ini, para deva bersorak namun para asura diam. Kemudian Sakka berkata kepada Vepacitti: 'Ucapkan sebuah syair, Vepacitti.' Ketika ini dikatakan, Vepacitti, raja para asura, mengucapkan syair ini:
"'Aku melihat cacat ini, O Vāsava, Dalam melatih menahan kesabaran: Jika si dungu berpikir bahwa engkau sebagai, "Ia menahan sabar karena takut," Si tolol akan lebih jauh lagi mengejarmu Seperti yang dilakukan sapi kepada seseorang yang melarikan diri.'
"Ketika, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, mengucapkan syair ini, para asura bersorak namun para deva diam. Kemudian Vepacitti berkata kepada Sakka: 'Ucapkan sebuah syair, raja para deva.' Ketika ini dikatakan, Sakka, raja para deva, mengucapkan syair ini:
"Biarpun ia berpikir demikian jika ia mau, atau tidak— 'Ia menoleransiku karena takut.' Namun demi tujuan tertinggi, milik diri sendiri, tiada yang lebih baik daripada kesabaran.
Ketika yang kuat menanggung si lemah, itulah yang disebut kesabaran tertinggi, karena si lemah harus selalu bersabar.
Kekuatan kebodohan sesungguhnya hanyalah kelemahan, demikian dikatakan. Namun tiada seorang pun dapat menantang orang yang kuat, dilindungi oleh Dhamma.
Saat engkau marah pada orang yang marah, engkau hanya memperburuk dirimu sendiri. Namun bila engkau tidak marah pada orang yang marah, engkau memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.
Bila engkau tahu yang lain sedang marah, engkau bertindak demi kebaikan dirimu sendiri dan dirinya bila engkau penuh perhatian dan tetap tenang.
Orang yang tak mengenal Dhamma menganggap ia yang menyembuhkan dirinya sendiri dan orang lain sebagai orang bodoh."'
"Ketika, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, mengucapkan syair-syair ini, para deva bersorak namun para asura diam. Kemudian panel hakim yang ditunjuk oleh para deva dan para asura berkata: 'Syair-syair yang diucapkan oleh Vepacitti, raja para asura, adalah dalam lingkup hukuman dan kekerasan; karenanya [menyebabkan] konflik, perdebatan, dan perselisihan. Tetapi syair-syair yang diucapkan oleh Sakka, raja para deva, adalah dalam lingkup bukan-hukuman dan bukan-kekerasan; karenanya [menyebabkan] kebebasan dari konflik, kebebasan dari perdebatan, dan kebebasan dari perselisihan. Sakka, raja para deva, telah menang melalui nasihat yang diucapkan dengan baik.'
"Demikianlah, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, menang melalui nasihat yang diucapkan dengan baik."
Quote from: DN 14 Mahapadana Sutta.... 'Pada waktu itu terdapat delapan puluh empat ribu tempat kediaman religius di Jambudipa. Dan di akhir dari tahun pertama, para dewa berseru: "Tuan-tuan, satu tahun telah berlalu, lima tahun lagi. Di akhir dari lima tahun lagi kalian harus kembali ke Bandhumatī untuk membacakan peraturan disiplin", dan hal yang serupa terjadi di akhir tahun ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima. Dan ketika enam tahun telah berlalu, para dewa mengumumkan: "Tuan-tuan, enam tahun telah berlalu, sekarang waktunya untuk pergi ke ibu kota Bandhumatī untuk membacakan peraturan disiplin!" Dan para bhikkhu tersebut, beberapa dengan kekuatan batinnya sendiri dan beberapa dengan bantuan para dewa, semuanya dalam satu hari datang ke Bandhumatī untuk membacakan peraturan disiplin.
'Dan kemudian Buddha Vipassī memberikan peraturan berikut kepada kelompok para bhikkhu:
"Kesabaran adalah pengorbanan tertinggi, Nibbāna adalah yang tertinggi, demikianlah yang disabdakan oleh para Buddha. Ia yang masih menyakiti makhluk lain bukanlah 'seorang yang telah meninggalkan keduniawian', Ia yang melukai makhluk lain bukanlah seorang petapa.
Tidak melakukan kejahatan, namun melakukan kebaikan, Mensucikan pikiran, inilah yang diajarkan para Buddha.
Tidak menghina, tidak mencelakai, mengendalikan diri sesuai peraturan, Makan secukupnya, menetap dalam pengasingan, Menekuni pikiran tinggi, inilah yang diajarkan para Buddha."
'Suatu ketika, para bhikkhu, Aku sedang menetap di Ukkaṭṭhā di hutan Subhaga di bawah pohon-sāl besar. Dan ketika Aku berdiam di sana, Aku berpikir: "Tidak ada alam makhluk-makhluk yang dengan mudah dapat Kucapai yang belum Kukunjungi sedemikian lama seperti para dewa di Alam Murni. Bagaimana jika Aku mengunjunginya sekarang?" Dan kemudian, secepat seorang kuat merentangkan tangannya, atau melipatnya lagi, Aku lenyap dari Ukkaṭṭhā dan muncul di antara para dewa Aviha. Dan beberapa ribu dari mereka mendekatiKu, memberi hormat dan berdiri di satu sisi. Kemudian mereka berkata: "Tuan , sudah sembilan puluh satu kappa berlalu sejak Buddha Vipassī muncul di dunia ini. ....
Quote from: Arya Karniawan on 11 December 2017, 09:34:05 PMNamo Buddhaya...
Tolong koreksi jika pemahaman saya salah.
1. Dhammacakkhu adalah sinonim dari Sotapatti Magga.
2. Sotapatti Magga terbagi menjadi dua jenis, yaitu Saddhanussari dan Dhammanussari.
3. Sotapatti Phala terbagi menjadi 3 jenis, yaitu Ekabiji, Kolankola, dan Sattakkhattuparamassa.
CMIIW...![]()
QuoteDi Sāvatthī. "Para bhikkhu, mata adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Telinga ... Hidung ... Lidah ... Badan ... Pikiran adalah tidak kekal, berubah, menjadi sebaliknya. Seorang yang meyakini ajaran-ajaran ini dan memahami demikian disebut seorang penganut-keyakinan, seorang yang telah memasuki jalan pasti kebenaran, memasuki wilayah orang-orang mulia, melampaui wilayah kaum duniawi. Ia tidak mampu melakukan perbuatan yang karenanya dapat mengakibatkannya terlahir kembali di alam neraka, di alam binatang, atau di alam setan; ia tidak dapat meninggal dunia tanpa menembus buah Memasuki-arus.1
QuotePenganut-keyakinan (saddhānusārī̃) dan Penganut-Dhamma (dhammānusārī̃), yang dijelaskan persis di bawah, adalah dua kelompok siswa yang berlatih demi penembusan buah Memasuki-arus. Keduanya adalah urutan terendah dalam keanggotaan dari tujuh pengelompokan siswa mulia, dengan definisi formal, pada MN I 477-79. Ketujuh jenis juga didefinisikan, secara agak berbeda, pada Pp 14-15 (§§30-36) dan pada Vism 659-60 (Ppn 21:74-78). Panganut-keyakinan dan Penganut-Dhamma juga dibedakan pada 55:24 (V 377, 8-24) dan 55:25 (V 379, 10-21), walaupun istilah itu sendiri tidak digunakan di sana. Pada 48:12-17 istilah itu muncul di akhir dari daftar yang lazim dari urutan orang-orang mulia, menggantikan tempat seorang yang berlatih untuk menembus buah Memasuki-arus, dan di sini Penganut-keyakinan ditempatkan di bawah Penganut-Dhamma dengan alasan bahwa indrianya lebih lemah.
Quote"Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu memenuhi perilaku bermoral, tetapi melatih konsentrasi dan kebijaksanaan hanya hingga batas menengah. Ia jatuh dalam pelanggaran sehubungan dengan aturan-aturan latihan minor dan ringan dan merehabilitasi dirinya sendiri. Karena alasan apakah? Karena Aku tidak mengatakan bahwa ia tidak mampu dalam hal ini. Tetapi sehubungan dengan aturan-aturan latihan itu yang menjadi dasar bagi kehidupan spiritual, yang selaras dengan kehidupan spiritual, perilakunya adalah konstan dan kokoh. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya.
Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu, ia menjadi seorang pencapai maksimum-tujuh-kali yang, setelah berkelana dan mengembara di antara para deva dan manusia paling banyak tujuh kali, ia akan mengakhiri penderitaan. [Sattakkhattuparamassa]
Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu, ia menjadi seorang pencapai dari-keluarga-ke-keluarga yang, setelah berkelana dan mengembara di antara keluarga-keluarga yang baik dua atau tiga kali, ia akan mengakhiri penderitaan. [Kolankola]
Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu, ia menjadi seorang pencapai satu-benih yang, setelah terlahir kembali satu kali lagi dalam kehidupan manusia, ia akan mengakhiri penderitaan.
Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu dan melemahnya keserakahan, kebencian, dan delusi, ia menjadi seorang yang-kembali-sekali yang, setelah kembali ke dunia ini satu kali lagi, ia akan mengakhiri penderitaan. [EKABIJI]
Quote from: Indra on 31 October 2025, 10:16:51 AMSering saya dan KK saling baku hantam sendiri ketika Forum lagi sepi, lalu tiba2 bersatu ketika menghadapi common enemies. Tapi yang paling indah adalah ketika kami berdua di-ban di beberapa vihara. The most memorable moments of himpencapaian yang indah![]()
Quote from: Arya Karniawan on 31 October 2025, 04:11:04 PMPerlahan tapi pasti, semua kehilangan taringnya ya. Seiring tubuh yg menua, ogah berdebat dengan orang... 😅
Quote from: Indra on 31 October 2025, 02:29:39 PMitukah pertandanya? kelelahan psikis yg sampai menghabisinya?
Quote from: seniya on 31 October 2025, 02:19:23 PMTerakhir beliau tidak tertarik lagi berdebat berdarah-darah seperti di forum/group DC dulu dan tidak mau join group pembahasan agama (Buddhis atau non-Buddhis) yang isinya para fundies, kemudian bikin group yang isinya kita2 aja yang tertarik dengan pembahasan lintas agama secara historis dengan pikiran terbuka....
Quote from: Indra on 31 October 2025, 10:16:51 AMSering saya dan KK saling baku hantam sendiri ketika Forum lagi sepi, lalu tiba2 bersatu ketika menghadapi common enemies. Tapi yang paling indah adalah ketika kami berdua di-ban di beberapa vihara. The most memorable moments of him![]()