Recent posts

#11
The Olla terracota ceramic pot irrigation

Olla Water spikes

Olla Ceramic pot irrigation in India
#12
Lingkungan / Parrenial tree, sayur, buah (k...
Last post by kullatiro - 01 March 2026, 02:14:45 AM
• Kisah Tanaman Bawang bawangan yang seolah bisa berjalan jalan


•Kisah tragis Pohon buah yang memberi kelimpahan hingga dilarang

• Kisah tragis dari tanaman yang bisa memberi makanan selama 9 bulan

• Kisah tragis tanaman yang mengandung 4 asam amino (Omega 3, omega 6, Omega 9) yang di larang

• Kisah Tragis tanaman yang diagungkan sebagai Malaikat penyelamat yang tercampakan menjadi Monster saat ini.

• Kisah Tragis tanaman yang mempunyai 9 amino acid dan complete protien yang di larang para penjajah untuk di tanam oleh penduduk local.

• Kisah Tragis tanaman yang punya 5 bahan pangan dalam satu tumbuhan, sebuah ironi tanaman Local Indonesia yang seharusnya bisa mencegah kelaparan di wilayah papua dan diwilayah Indonesia.




#13
Arsitektur Buddhis / Kontroversi pemasangan 'Chatra...
Last post by kullatiro - 01 March 2026, 01:56:40 AM


Takutnya itu batu candi di bor bakal rusak parah hingga tak bisa di perbaiki kembali

 _/\_
#14
Studi Sutta/Sutra / 20 Pandangan Salah tentang Ide...
Last post by xenocross - 28 February 2026, 07:57:39 PM
Memahami bahwa semua kesalahan dan noda batin
Muncul dari pandangan tentang adanya diri (sakkayaditthi)
Menyadari bahwa "diri" adalah objek dari pandangan salah tersebut,
Sang yogi menghilangkan "diri" tersebut
(6.120)

Bentuk bukanlah diri, diri tidak memiliki bentuk
Tidak ada "diri" di dalam bentuk, dan bentuk tidak ada di dalam diri
Aplikasikan ini pada empat skandha lainnya,
Dan inilah dua puluh pandangan tentang "diri/ aku"
(6.144)

Madhyamakavatara (Perkenalan terhadap Jalan Tengah), oleh Candrakirti
 

20 jenis pandangan tentang identitas sehubungan dengan lima skandha

Dan bagaimanakah, para bhikkhu, munculnya gejolak melalui kemelekatan? Di sini, para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terlatih, yang bukan pengikut para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang bukan pengikut orang-orang yang baik dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka,

(1) menganggap bentuk sebagai diri (rūpaṃ attato samanupassati),

(2) atau diri sebagai memiliki bentuk (rūpavantaṃ vā attānaṃ),

(3) atau bentuk sebagai di dalam diri (attani vā rūpaṃ),

(4) atau diri sebagai di dalam bentuk (rūpasmiṃ vā attānaṃ).


Bentuknya itu berubah dan berganti. Dengan perubahan dan pergantian bentuk itu, kesadarannya dipenuhi dengan perubahan bentuk itu. Gejolak dan suatu kondisi konstelasi pikiran yang muncul dari terus-menerus memikirkan perubahan bentuk menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi takut, menderita, dan khawatir, dan melalui kemelekatan ia menjadi bergejolak.


 
(5 - 8.) "Ia menganggap perasaan sebagai diri (Vedanaṃ attato samanupassati)...

(9 - 12) persepsi sebagai diri (Saññaṃ attato samanupassati) ......

(13 - 16) bentukan-bentukan kehendak sebagai diri (saṅkhāre attato samanupassati)....

(17 - 20) kesadaran sebagai diri (Viññāṇaṃ attato samanupassati)........ ,

Dengan perubahan dan pergantian perasaan; persepsi; bentukan-bentukan; kesadaran itu, kesadarannya dipenuhi dengan perubahan kesadaran itu. Gejolak dan suatu kondisi konstelasi pikiran yang muncul dari terus-menerus memikirkan perubahan perasaan; persepsi; bentukan-bentukan; kesadaran menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi takut, menderita, dan khawatir, dan melalui kemelekatan ia menjadi bergejolak.


 
SN 22.7   Upādāparitassanā Sutta  (Kegelisahan melalui Kemelekatan)

 
KOMENTAR

Teks di sini menguraikan kedua puluh jenis pandangan identitas (sakkāyadiṭṭhi), yang diperoleh dengan menempatkan suatu diri dalam empat cara yang ada sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang merupakan identitas personal (sakkāya). Pandangan identitas adalah satu dari tiga belenggu pertama yang harus dilenyapkan melalui pencapaian jalan Memasuki-arus.

Spk: ia menganggap bentuk sebagai diri (rūpaṃ attato samanupassati), dengan menganggap bentuk dan diri sebagai tidak dapat dibedakan, bagaikan api dari suatu pelita dan warnanya adalah tidak dapat dibedakan. Ia menganggap diri sebagai memiliki bentuk (rūpavantaṃ attānaṃ), ketika ia menganggap yang tanpa bentuk (yaitu, batin atau faktor-faktor batin) sebagai diri yang memiliki bentuk, seperti halnya sebatang pohon memiliki bayangan;

bentuk sebagai di dalam diri (attani rūpaṃ), ketika ia menganggap yang tanpa bentuk (batin) sebagai diri yang di dalamnya terdapat bentuk, bagaikan keharuman di dalam sekuntum bunga; diri sebagai di dalam bentuk (rūpasmiṃ attānaṃ), ketika ia menganggap yang tanpa bentuk (batin) sebagai diri yang terdapat di dalam bentuk, bagaikan permata di dalam petinya. Ia dikuasai oleh gagasan, "aku adalah bentuk, bentuk adalah milikku": ia menelan gagasan-gagasan ini dengan keinginan dan pandangan, berpendirian atasnya dan mencengkeramnya.
#15
Chan atau Zen / Khotbah Arus Darah
Last post by xenocross - 26 February 2026, 06:09:47 PM
Khotbah Arus Darah

Semua yang muncul di tiga alam datang dari pikiran. Karenanya, Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan dari pikiran ke pikiran tanpa merepotkan diri pada definisi

Q: Tetapi jika mereka tidak mendefinisikan, apa yang dimaksud dengan pikiran?

Kamu bertanya, itu adalah pikiranmu. Aku menjawab. Itu adalah pikiranku.
Jika aku tidak punya pikiran, bagaimana aku bisa menjawab? Jika kamu tidak punya pikiran, bagaimana kamu bisa bertanya?
Apa yang bertanya adalah pikiranmu. Melalui kalpa-kalpa yang tak berujung tanpa awal, apapun yang kamu lakukan, dimanapun kamu berada, itu adalah pikiranmu yang sejati, itulah Buddha-mu yang sejati.

"Pikiran inilah Buddha" artinya sama. Di luar pikiran ini kamu tidak akan menemukan Buddha yang lain. Untuk mencari pencerahan atau nirvana di luar pikiran ini adalah tidak mungkin. Realitas dari hakikat dirimu sendiri, ketidakhadiran sebab-akibat, adalah apa yang dimaksud dengan pikiran. Pikiranmu adalah nirvana. Kamu mungkin berpikir bahwa kamu dapat menemukan Buddha atau pencerahan di suatu tempat di luar pikiran, tapi tempat seperti itu tidak ada.

Mencoba menemukan Buddha atau pencerahan adalah seperti ingin memegang ruang. Ruang punya nama tapi tidak berbentuk. Itu bukan sesuatu yang dapat diangkat atau ditaruh. Dan kamu pastinya tidak dapat memegangnya. Di luar pikiran ini kamu tidak akan dapat melihat Buddha. Buddha adalah produk dari pikiranmu. Kenapa mencari Buddha di luar pikiran ini?

Buddha di masa lalu dan masa depan hanya membicarakan pikiran ini. Pikiran adalah Buddha, dan Buddha adalah pikiran. Di luar pikiran tidak ada Buddha, dan di luar Buddha tidak ada pikiran. Jika kamu pikir ada Buddha di luar pikiran, dimana dia? Tidak ada Buddha di luar pikiran, jadi kenapa mengkhayalkan itu? Kamu tidak dapat mengetahui pikiran sejatimu selama kamu masih menipu dirimu sendiri. Selama kamu masih terpikat oleh bentuk yang tidak hidup, kamu tidak bebas. Jika kamu tidak percaya padaku, menipu dirimu sendiri tidak membantu. Ini bukan salah Buddha. Tetapi orang-orang dipengaruhi delusi. Mereka tidak sadar bahwa pikirannya sendiri adalah Buddha. Jika tidak, mereka tidak akan mencari Buddha di luar pikiran.

Buddha tidak menolong Buddha [lain]. Jika kamu menggunakan pikiranmu untuk mencari Buddha [di luar], kamu tidak akan melihat Buddha. Selama kamu mencari Buddha di tempat lain, kamu tidak akan melihat bahwa pikiranmu sendiri adalah Buddha. Jangan menggunakan Buddha untuk memuja Buddha. Dan jangan menggunakan pikiran untuk memanggil Buddha. Buddha tidak mendaraskan sutra. Buddha tidak menjaga sila. Dan Buddha tidak melanggar sila. Buddha tidak menjaga atau melanggar [sila] apapun. Buddha tidak melakukan kebaikan atau kejahatan.

Untuk menemukan Buddha, kamu harus melihat sifat sejati dirimu sendiri. Siapapun yang melihat sifat sejati adalah seorang Buddha. Jika kamu tidak melihat sifat sejatimu, [maka] memanggil Buddha, mendaraskan sutra, membuat persembahan, dan menjaga sila semuanya adalah tidak berguna. Memanggil Buddha menghasilkan karma baik, mendaraskan sutra menghasilkan ingatan baik, menjaga sila menghasilkan kelahiran kembali yang baik, dan membuat persembahan menghasilkan berkah di masa depan -- tapi tiada Buddha.

Jika kamu tidak paham dengan kekuatan sendiri, maka kamu harus mencari seorang guru untuk mengerti makna kehidupan dan kematian. Tetapi jika dia belum melihat sifat sejati dirinya sendiri, orang itu bukanlah seorang guru [sejati]. Walaupun dia dapat melafalkan dua belas bagian kitab suci, dia tidak dapat lolos dari roda kelahiran dan kematian. Dia menderita di tiga alam tanpa ada harapan untuk bebas.

Di masa lalu, bhiksu Bintang Baik dapat melafalkan seluruh isi kitab suci. Tetapi dia tidak lolos dari roda samsara, karena dia belum melihat sifat sejati. Jika ini terjadi bahkan pada bhiksu Bintang Baik, maka orang-orang zaman sekarang yang melafalkan beberapa sutra dan sastra dan berpikir itu adalah dharma, adalah orang dungu. Kecuali kamu melihat pikiranmu sendiri, melafalkan prosa begitu banyak adalah sia sia.

Untuk menemukan Buddha apa yang harus dilakukan hanyalah melihat sifat hakikatmu sendiri. Hakikatmu adalah Buddha. Dan Buddha adalah seorang yang bebas: bebas dari rencana, bebas dari kekhawatiran. Jika kamu tidak melihat sifat sejatimu sendiri dan berlari kesana kemari mencari di tempat lain, kamu tidak akan pernah menemukan Buddha.

Sebenarnya, tidak ada yang perlu ditemukan. Tetapi untuk mencapai pemahaman demikian butuh seorang guru dan kamu perlu berjuang untuk membuat dirimu mengerti. Hidup dan mati adalah penting. Jangan menjalaninya dengan sia-sia. Tidak ada gunanya menipu diri sendiri. Walaupun kamu punya bergunung-gunung permata dan banyak sekali pelayan sebanyak butiran pasir di sungai Gangga, kamu melihatnya ketika matamu terbuka. Tetapi bagaimana ketika matamu tertutup [karena mati]. Kamu harus menyadari bahwa semua yang kamu lihat adalah seperti mimpi atau ilusi.

~~ Kutipan dari "Bloodstream Sermon", oleh Bodhidharma
Sumber: The Zen Teaching of Bodhidharma.

Translated by Red Pine
#16
Lingkungan / Zheng He seorang buddhis
Last post by xenocross - 26 February 2026, 06:04:17 PM
Zheng He: Antara Narasi dan Bukti
By admin_IN
November 11, 2025 70

Zheng He adalah sosok besar di balik 7 kali pelayaran diplomatik Dinasti Ming. Namun mengenai agamanya berkembang narasi bahwa ia beragama Islam sementara bukti menunjukkan ia beragama Buddha.
Agama Zheng He dinarasikan berbeda di Indonesia dan Malaysia, yakni beragama Islam. Bukti menunjukkan ia beragama Buddha.

Di Indonesia, sosok Laksamana Zheng He hampir selalu diasosiasikan dengan Islam. Kesan ini menguat seiring berdirinya berbagai masjid Cheng Ho, dimulai di Surabaya pada 2002, lalu diikuti beberapa wilayah lain. Pembangunan masjid-masjid ini sering diiringi narasi bahwa Zheng He adalah seorang Muslim, dan merupakan tokoh yang menyebarkan agama Islam pada masa kunjungannya.

Narasi Populer di Indonesia dan Malaysia
Narasi keislaman Zheng He yang beredar di Indonesia dan Malaysia bertumpu pada marga Ma yang umum di kalangan Muslim Hui, klaim bahwa ayahnya seorang haji, serta catatan bahwa ia pernah membantu memperbaiki masjid di pelabuhan asing. Namun, semua ini bersifat indikasi lemah (weak evidence) dan tidak didukung dokumen primer yang menegaskan keyakinan pribadinya.

Beberapa waktu lalu juga tersiar kabar tentang penemuan makam Cheng Ho di Tiongkok. Namun bukti ini juga lemah karena berdasarkan catatan Zheng He meninggal di Kalkuta tak lama setelah dimulainya penjelajahan ketujuhnya pada musim gugur 1433, dan armadanya kembali ke Tiongkok pada musim panas. Rentang waktu yang lama tentu tidak mungkin membawa raganya pulang. Berdasarkan tradisi para pelaut, diyakini bahwa Zheng He "dikuburkan" di lautan.

Apalagi kesimpulan para arkeolog pada pertengahan 2010 lalu menyatakan bahwa makam tersebut adalah makam Hong Bao, salah seorang wakil Zheng He dalam tujuh pelayaran yang terkenal tersebut. Makam ini semula berbentuk tapal kuda sebagaimana makam tradisional Tionghoa, baru pada 1985 diubah ke bentuknya yang baru.

Namun, jika ditelusuri dengan pendekatan sejarah, narasi yang ada selama ini jelas tidak memiliki dukungan kuat dari sumber primer maupun sekunder yang kredibel. Tidak ada dokumen resmi Dinasti Ming (Ming Shilu), catatan perjalanan, prasasti, atau artefak otentik yang menyebutkan Zheng He memiliki nama Islam, mengucapkan syahadat, atau melaksanakan ibadah khas Muslim.

Narasi ini sebagian besar terbentuk di era modern (abad 20), sering kali terkait kebutuhan representasi identitas di ruang publik. Diperkirakan mulai berkembang pada masa akhir Dinasti Qing dan transisi ke republik pada 1900an. Jika narasi populer menempatkan Zheng He sebagai tokoh muslim, bukti-bukti primer menunjukkan identitas keagamaan Zheng He yang berbeda.

Jejak Buddhis yang Terekam dalam Sumber Primer
Beberapa sumber primer yang ditemukan di Tiongkok, —seperti catatan dinasti Ming dan salinan sutra-sutra oleh Zheng He ataupun pihak lain yang didanainya—, menunjukkan dengan jelas bahwa Zheng He beragama Buddha. Diantaranya adalah bukti primer berikut:

1. Gelar Resmi: Sanbao Taijian (三寶太監)
Dalam Ming Shilu atau Catatan Resmi Dinasti Ming, Zheng He diberi gelar Sanbao Taijian. Secara harfiah berarti Kasim Tri Ratna (Sansekerta) atau Tiga Permata. Tiga Permata adalah konsep inti yakni Buddha, Dharma, dan Sangha. Umat Buddha menyatakan berlindung kepada Tiga Permata. Gelar ini bukan sekadar sapaan populer, melainkan penanda status yang diakui secara resmi oleh birokrasi kekaisaran, yang juga memuat konotasi religius jelas. Penjelasan catatan resmi dinasti tersebut juga diungkapkan Dreyer, EL 2007, Zheng He: China and the Oceans in the Early Ming Dynasty 1405-1433, Pearson Longman, New York.

2. Zheng He memiliki Nama Dharma
Umat Buddha yang telah ber-Tri Sarana atau mengucap berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha (Tri Ratna) akan mendapatkan nama dharma. Adapun nama dharma Zheng He diketahui dari temuan beberapa sutra kuno. Dalam sejumlah kolofon sutra tersebut, Zheng He sebagai penyalin sutra, menyebut dirinya dengan nama dharma Fu Jixiang (福吉祥). Zheng He juga dalam berbagai kolofon kerap mengagungkan San Bao, seperti:

        "Demi membalas berkah agung dari San Bao (Tri Ratna), aku menyalin sutra ini dengan harapan menyelamatkan semua makhluk."

Salah satu salinan sutra oleh Zheng He, berangka tahun Yongle 12 atau 1414 Masehi, telah ditemukan dan dilelang dengan harga fantastis di balai lelang Suthesby's New York 2015 lalu. Pada kolofon sutra ini Zheng He menyatakan tekadnya menyalin beberapa sutra Buddhis lainnya yaitu:

    Vajracchedika Prajnaparamitha Sutra (Jin Gan Jing)
    Guanyin Sutra (Guanyin Jing).
    Buddha Amithabha Sutra (Mituo Jing).
    Marici Bodhisatva Sutra (Molizhitian Jing).
    Prajnaparamithahrddya (Xin Jing).
    Suranggama Sutra (Leng Yang Jing).
    Nilakantha Dharani (Da Bei Zhou).

Penyalinan kitab suci Buddhis pada masa tersebut adalah salah satu praktik pengumpulan kebajikan. Banyak pejabat bahkan kaisar yang melakukannya, untuk memperoleh karma baik. Hasil penyalinan biasanya disebarkan ke berbagai vihara, untuk keperluan penyebaran agama Buddha.

Pada sutra yang saat ini tersimpan di Museum Long, Shanghai tersebut, Cheng Ho menyatakan bahwa ia melakukan penyalinan sutra karena "setiap mendapatkan perintah untuk melanglang buana selalu mendapat karunia dari San Bao." Cheng Ho memperkenalkan diri pada bagian awal naskah sebagai "da Ming Gui taijian Zheng He, faming Fu Jixiang" yang artinya "kasim negara Ming yang agung dengan nama dharma Fu Jixiang."

3. Zheng He dalam Kolofon Sutra
Kolofon Bhiksu Yao Guangxiao
Bhiksu Yao Guangxiao adalah seorang Kepala Kantor Administrasi Agama Buddha (Senglu Si) Dinasti Ming. Ia juga adalah penasehat Kaisar Zhu Di atau lebih dikenal dengan nama Kaisar Yongle, kaisar yang memerintahkan Zheng He untuk melanglang buana.

Pada bagian penutup Sutra Marici Bodhisatva (Fo Shuo Molizhi Tianzhi Jing) yang ia salin, ia mencatat bahwa pada 1403 tersebut Cheng Ho adalah Pusa jie dizi yakni umat yang sedang bertekad menjalankan sila bodhisatva. Selain itu juga dicatat bahwa Zheng He telah mendanakan sebagian hartanya untuk mencetak dan menyebarluaskan sutra yang disalin Bhiksu Yao tersebut di atas.

Kolofon Shamini Lijie Wen
Salah satu bagian Tri Pitaka yang disalin adalah Vinaya untuk Samaneri atau dalam bahasa Mandarin disebut Shamini Lijie Wen. Naskah yang ditemukan berangka tahun 1420. Zheng He sebagai yang memerintahkan dan mendukung pendanaan penyalinan ini, menulis pada kolofonnya "da Ming Guo feng Fo xin guan taijian Zheng He, faming Fu Jixiang" yang terjemahannya "kasim negara Ming yang agung Zheng He, penganut Buddha dengan nama dharma Fu Jixiang." Sutra ini masih tersimpan baik di Perpustakaan Provinsi Yunnan.

Kolofon Saddharma Pundarika Sutra
Zheng He juga menuliskan pernyataan serupa pada kolofon Sutra Saddharma Pundarika berangka tahun Ming Xuande 7 atau 1432 Masehi. Sutra ini ditemukan ketika terjadi pemugaran Vihara Baoben di Phinghu, Zhejiang pada 11 September 2002. Sekali lagi tertulis "kasim negara Ming yang agung Zheng He, penganut Buddha dengan nama dharma Fu Jixiang." Saat ini sutra tersebut dipajang dan tersimpan di Pinghu City Museum.

4.Keberadaan San Bao Gong (三寶宮)
Kuil yang menghormati Zheng He di Tiongkok, Malaysia, dan Indonesia umumnya bernama San Bao Gong. Ini konsisten dengan gelar kehormatan dari kekaisaran yaitu San Bao (Tri Ratna/Tiga Permata: Buddha, Dharma, Sangha), menunjukkan kesinambungan antara identitas spiritual Zheng He dan cara masyarakat Tionghoa mengenangnya
#17
Diskusi Umum / Roda Kehidupan / Bhavacakra
Last post by xenocross - 26 February 2026, 05:45:57 PM
Roda Kehidupan / Bhavacakra

[Sebelumnya, Mahamaudgalyayana selalu dikelilingi oleh para anggota sangha karena menceritakan tentang alam-alam lain dan akibat hukum karma, dan alasan untuk hal ini ditanyakan oleh Sang Buddha kepada Ananda.]

"Tetapi Ananda, Bhiksu Mahamaudgalyayana atau orang seperti Mahamaudgalyayana tidak bisa ada di semua tempat. Maka dari itu Roda Lima Bagian haruslah dibuat di gerbang masuk vihara."

Lalu Ananda menjawab, "Yang Terberkahi mengatakan bahwa Roda Lima Bagian harus dibuat di gerbang masuk vihara, tetapi para bhiksu tidak akan mengetahui Roda seperti apa yang harus dibuat."

"Lima Alam Keberadaan haruslah digambarkan," Sang Bhagava menjawab, "alam neraka, alam hewan, alam hantu kelaparan, alam dewa dan alam manusia. Di bawah, berbagai makhluk neraka haruslah digambarkan, dan juga hewan dan hantu kelaparan; di atas, dewa dan manusia. Empat benua harus digambarkan - Purvavideha, Aparagodaniya, Uttarakuru, dan Jambudvipa. Di tengah, kemelekatan (lobha), kebencian (dvesa), dan delusi (moha) haruslah digambarkan - kemelekatan dalam bentuk merpati, kebencian dalam bentuk ular, dan delusi dalam bentuk babi. Dan gambar Buddha haruslah digambarkan melihat lingkaran nirvana. Makhluk-makhluk terlahir secara spontan haruslah digambarkan mati dan terlahir kembali dalam sejenis tabung yang menyerupai kincir air. Di dekatnya, dua belas mata rantai kemunculan bergantungan (pratityasamutpada) haruslah digambarkan, maju dan mundur. Semuanya haruslah digambarkan sebagai dicengkram oleh ketidakkekalan.

Dan dua bait ini haruslah dituliskan:

"'Bangkitkan usahamu, berjuanglah!
Kerahkan dirimu dalam Ajaran Sang Buddha.
Hancurkan bala tentara Kematian
Seperti seekor gajah melakukannya pada gubuk terbuat dari buluh.
"Seseorang yang berdiam dengan tekun
Dalam Dhamma dan Disiplin ini,
Akan meninggalkan pengembaraan dalam siklus kelahiran yang tiada akhir
Dan mengakhiri penderitaan."


Sang Bhagava mengatakan bahwa Roda Lima Bagian harus dibuat di gerbang masuk vihara, sehingga para bhiksu membuatnya. [Karena banyak orang bertanya tapi ada bhiksu yang tidak tahu dan tidak bisa menjelaskan, maka bhiksu yang terpelajar ditunjuk untuk menjelaskan. Seorang anak pemuda datang ke vihara dan bertanya kepada bhiksu ini]

"Yang Mulia, apakah yang digambarkan di sini?"

"Sahabat, ini adalah lima alam keberadaan - alam neraka, binatang, hantu kelaparan, dewa, dan manusia."

"Yang Mulia, perbuatan apa yang makhluk neraka ini lakukan sehingga mereka mengalami penderitaan seperti itu?"

"Mereka membunuh, mencuri, melakukan perbuatan seks yang salah, berbohong, memfitnah, berkata kasar, atau berbicara tanpa guna; mempunyai pikiran tamak, pikiran mencelakai, atau berpandangan salah." Bhiksu itu menjelaskan. "Mereka dengan tingkat yang tinggi, melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan jahat, dan sebagai hasilnya mereka mengalami penderitaan misalnya ditarik, dicongkel, dipotong, dan ditusuk."

"Yang Mulia, saya mengerti. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam binantang sehingga mengalami penderitaan seperti itu?"

"Sahabat, mereka juga melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan jahat, dan sebagai hasilnya mereka mengalami penderitaan misalnya memakan satu sama lain."

"Yang Mulia, saya juga mengerti hal ini. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam hantu kelaparan sehingga mengalami penderitaan seperti itu?"

"Sahabat, mereka kikir, kejam, dan tidak dermawan dengan harta kekayaannya. Karena dengan pelit dan melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan jahat, dan sebagai hasilnya mereka mengalami penderitaan misalnya kelaparan dan kehausan."

"Yang Mulia, saya juga mengerti hal ini. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam dewa sehingga mereka mengalami kesenangan seperti itu?"

"Sahabat, mereka menghindari membunuh, mencuri, melakukan perbuatan seks yang salah, berbohong, memfitnah, berkata kasar, atau berbicara tanpa guna; mereka tidak mempunyai pikiran tamak, pikiran mencelakai, dan mereka mempunyai pandangan benar. Mereka dengan tingkat yang tinggi telah melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan bajik, dan sebagai hasilnya mereka mengalami kesenangan seperti misalnya taman, istana melayang, dan bermain dengan bidadari."

"Yang Mulia, saya juga mengerti hal ini. Lalu apa yang dilakukan oleh mereka yang lahir di alam manusia sehingga mereka mengalami kesenangan seperti itu?"

"Sahabat, mereka juga dalam tingkat yang lebih rendah melakukan, mengembangkan, dan melatih sepuluh perbuatan bajik, walaupun pada bentuk yang lebih ringan dan lebih lemah, sehingga mereka mengalami kesenangan seperti [memiliki] gajah, kuda, kereta, makanan, minuman, tempat tidur, kursi, taman, dan bermain dengan perempuan."

Dikutip dari sahasodgatāvadānam / Kisah Mengenai Sahasodgata.

(sahasodgata(sya prakaraṇā) vadānamekaviṃśatimam
Cerita ke dua puluh satu dari yang jaya Divyavadana
=======================

Versi Bhavacakra yang biasa adalah enam bagian. Tetapi di teks ini adalah versi lima bagian.
Berikut di bawah adalah contoh bhavacakra dengan lima bagian.

#18
Diskusi Umum / Bait Pembobol Neraka
Last post by xenocross - 26 February 2026, 05:34:19 PM
Bait Pembobol Neraka
华严经寿经之破地狱偈


(Bait yang membebaskan diri dari neraka, Sutra Avatamsaka)

    若人欲了知,
    三世一切佛,
    应观法界性,
    一切唯心造。
    – 觉林菩萨

    《华严经》升夜摩天宫品第十九

    Verse For Breaking Free From Hell [1]
    If [a] person desires [to] understand fully,
    [the] three periods' [i.e. past, present and future (teachings of)] all Buddhas,
    [one] should contemplate [the] Dharma realm's [i.e. universe] nature,
    [to realise that] everything [is] only [by the] mind created.

    – Forest [Of] Awakening Bodhisattva
    (Flower Adornment [Avataṃsaka] Sūtra:
    Chapter 19 [On] Ascent [To] Yama Heaven Palace)


Asal muasal bait di atas, dicatat dalam "Catatan Cermin Esensial" 《宗镜录》oleh Patriak ke-6 Tradisi Tanah Murni, Guru Besar Yongming (净土宗六祖永明大师), ada disebutkan seorang lelaki bernama Wang Minggan (王明干) di zaman dinasti Song, yang menjadi seorang bhiksu bernama Sēngjùn (僧俊). Tetapi dia tidak berlatih menjalankan sila ataupun menghimpun kebajikan, dan dia meninggal dunia karena sakit.
Tiga hari kemudian, dia secara ajaib bangkit kembali, sambil menangis penuh penyesalan. Dia mengatakan bahwa ketika menjelang ajalnya, dua petugas neraka menangkapnya dan menuntut nyawanya. Dia dibawa ke neraka, dan di gerbangnya, dia bertemu seorang bhiksu yang mengaku dirinya adalah Bodhisattva Ksitigarbha (地藏菩萨), dan Bodhisattva mengatakan bahwa ketika [ Sēngjùn] berada di Jingcheng, dia pernah membuat citra Bodhisattva Ksitigarbha. Walaupun  Sēngjùn tidak bersujud ataupun memberi persembahan pada citra tersebut, dia akan mendapatkan balasan untuk satu pahala ini.

Bodhisattva Ksitigarbha kemudian mengajarkan sebuah bait, dan berkata: 'jika dia mampu mengulang atau mendengar bait ini, maka dia akan mampu terbebas dari penderitaan neraka' (诵得此偈,能破地狱之苦.) 'Dapat menutup pintu neraka, dan membuka jalan menuju Tanah Murni' (能闭地狱门,能开净土道) [jika diikuti dengan ingatan pada Buddha Amitabha]. Setelah mengatakan ini, Bodhisattva Ksitigarbha menghilang.
Ketika bhiksu  Sēngjùn masuk ke dalam kota neraka dan bertemu Raja Yama, dia ditanya apa pahala yang dia punya (karena dia telah bertemu dharma semasa hidupnya). Dia menjawab bahwa dia 'hanya mempunyai satu bait empat baris, dan mendaraskannya:

"Jika seseorang berharap untuk memahami sepenuhnya,
Ajaran semua Buddha dari tiga masa (sekarang, lampau, dan mendatang)
Seseorang seharusnya merenungkan sifat hakiki alam semesta,
Sadarilah bahwa semua fenomena diciptakan oleh pikiran. "


Raja Yama kemudian membebaskannya. "Ketika melafalkan bait ini, ketika ada yang mendengar , mereka yang mengalami penderitaan semua mencapai pembebasan dari penderitaan neraka. " (诵此偈时,当声至处,受苦之人,皆得解脱。)

Raja Yama dengan tergesa-gesa menyuruhnya untuk berhenti melafal [ karena makhluk neraka lain tidak pantas secara karma menerima ajaran tersebut], dan mengirimnya kembali ke alam manusia. Di kemudian hari, ketika dia memeriksa bait ini, dia menemukan bahwa bait ini berasal dari Sutra Avatamsaka. Setelahnya, dia menyampaikan hal ini kepada Guru Dharma Sēngdìng (僧定) di Vihara Kōngguān, dan kepada seluruh bhiksu yang hadir, dan semua yang mendengar membangkitkan aspirasi untuk meyakini sutra tersebut. 

Bait ini bekerja sesuai dengan yang diajarkan, karena membuat para makhluk neraka yang putus-asa, yang tidak tahu jalan keluar, untuk merenungkan dan menyadari bahwa penderitaan karma mereka yang sangat berat diciptakan dan dipertahankan oleh pikiran mereka sendiri. Setelah mengetahui, mereka mampu dengan tulus menyesal, yang membersihkan karma negatif penyebab penderitaan, dan menciptakan karma positif untuk membebaskan diri dari neraka. Maka bait ini dinamai 'Bait Pembobol Neraka'
#19
Buddhisme untuk Pemula / Mengapa Buddha, bukan dewa?
Last post by xenocross - 26 February 2026, 01:30:16 PM
Ta Chwang Yan King Lun
Asvagosha
diterjemahkan ke Mandarin oleh Kumarajiva

Dahulu kala, ada seorang umat biasa (upasaka) yang melakukan perjalanan ke Mathura dengan didampingi oleh beberapa pedagang. Karena menemukan sebuah stupa Buddha di dalam kota, dia pun pergi ke stupa tersebut untuk memberikan penghormatan setiap paginya. Tidak berapa lama, perjalanan yang ia lakukan tiap hari diketahui oleh sekumpulan penduduk kaya yang berbaring di taman dan mandi di sepanjang jalan utama. Karena kelakuannya yang sangat berbeda dengan mereka, mereka mulai mentertawakan dan mengejeknya. Suatu hari, ketika upasaka tersebut pulang dari stupa, seorang Mathura berkedudukan tinggi memanggil dan memintanya untuk mendekat. "Kemarilah dan silakan duduk. Saya penasaran. Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu. Apakah Anda tidak mengenal dewa-dewa agung yang kami puja di negara ini? Anda harus memuja mereka, bukan memuja Buddha." Sementara itu, kerumunan orang mulai berkumpul
Upasaka tersebut menjawab bahwa dia tahu tentang beberapa kualitas yang mengagumkan dari Buddha, tetapi dia belum mengetahui kebaikan dari dewa mereka. Jawaban ini menimbulkan teriakan ketidaksetujuan. Dengan satu suara, penduduk terhormat menyampaikan suatu syair yang menunjukkan kekuatan dari dewa utama mereka:
 "Dinding kota dari Asura
 Menara tinggi jalur tiga lipat;
 Karena itu tergantung, kota tersebut tergantung di dalam ruang;
 Penuh dengan penduduk (anak-anak muda dan wanita)
 Dewa kita, membengkokkan busur
 Dari Jauh, ditembak dari dalam dinding kota,
 Dapat membakarnya dan menghancurkannya dalam sekejap,
 Seperti rumput kering terbakar oleh api.
Upasaka tersebut tidak dapat menahan tawanya. "Jika begini caranya Anda menjelaskan dewamu, tidak heran jika saya tidak dapat menghormatinya. Perkenankan saya menanyaimu:
"Kehidupan adalah seperti setetes embun di atas sekuntum bunga
Nasib terakhir dari semua yang hidup adalah kematian
Beritahu aku, kebijaksanaan apa yang ada di sana
Membawa kematian bersama dengan busur dan panah?"
Para penduduk memarahinya atas penghinaan terhadap kebesaran dan kekuatan dewa mereka. Selama perdebatan yang berkelanjutan, upasaka tersebut mengemukakan argumen berikut ini dalam suatu syair yang panjang:
"Dewa yang anda hormati dan puja,
Dengan tidak berperikemanusiaan dan jahat suka menghancurkan.
Tetapi tentu saja, jika anda berkorban untuk dewa-dewa ini,
Menganggap mereka pantas untuk menerima layanan seperti itu,
Kemudian anda harus melakukan penghormatan
Terhadap singa, harimau, dan serigala
Yang ketika tersinggung dan marah, menghancurkan kehidupan,
Setan Jahat, sama halnya, dan Raksha
Orang bodoh, dikarenakan ketakukan,
Memuja tanpa pertimbangan.
Tetapi bagi mereka yang mempunyai kebijaksanaan
Harus mempertimbangkan dan memikirkannya baik- baik
Jika menghadapi mereka yang tidak mencelakakan (tidak menyebabkan kesakitan)
Kita secara alami terdorong untuk menghormati
Kemudian bagi mereka yang benar-benar baik
Yang tidak mencelakakan, (Kita abaikan)
Sementara mereka yang melakukan kejahatan
Tidak bisa tidak  mencelakakan orang lain (dan mereka sendiri adalah jahat)
jika kita tidak dapat mengenal yang baik,
Juga tidak dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik,
Jika kebaikan bisa mengandung suatu hati yang jahat dan ketidakbaikan dengan pikiran yang baik
Maka pembunuh dan kriminal
Bisa sangat dipuja oleh orang bodoh,
Dan kebaikan dan kebajikan,
Di sisi lain, kurang dihargai.
Kemudian dunia ini jadi terbalik;
Kita tidak dapat memberitahukan apa yang harus dipuja.
Tetapi bagi mereka yang terlahir di Gandhara.
Tahu benar bagaimana membedakan antara yang baik dan buruk
Karena itu, kami percaya pada Tathagata
Dan tidak menganggap para pemusnah."
Warga Mathura kalah dalam debat tetapi mereka menolak untuk mengakuinya. "Anda orang Gandhara, kebaikan religius apa yang dimiliki oleh Buddha?" Jawaban syair lain dilantunkan:
"Terlahir sebagai seorang pangeran Sakya,
Semuanya bijaksana.
Kebajikannya terkumandang ke segala arah
Membubarkan kejahatan seperti awan
Setiap makhluk yang terlahir
Diberkahi oleh-Nya sejak dari awal sekali
Diperkenalkan dengan sifat dari segala kebenaran,
Tercerahkan secara sempurna,
Bhagavat ini,
Kita sebut Buddha."
Orang Mathura menanyakan kepada upasaka tersebut, "Anda mengatakan bahwa Buddha adalah seorang bhagavat, seorang yogi hebat. Di negara kami, para yogi hebat dapat menciptakan mantra yang menghancurkan seluruh negara. Sanggupkah Buddha melakukannya?" Mereka tertawa dan terkikik-kikik.
Upasaka tersebut memberitahukan kepada mereka untuk tidak memfitnah para bhagavat. "Anda ingin membicarakan mengenai pesona? Biar saya memberitahumu tentang pesona-Nya:"
"Dikarenakan nafsu, kemarahan, dan ketidaktahuan,
Guna-guna jahat digunakan.
Dan ketika kata-kata yang menyakitkan seperti itu terangkai
Roh jahat menangkap kata-katanya
Dan menggunakannya untuk menyakiti dunia
Dan melakukan perbuatan jahat di mana-mana.
Buddha telah menghancurremukkan nafsu, ketidaktahuan dan kemarahan;
Cinta kasih-Nya membawakan keuntungan dan kelimpahan,
Mencapai akar dari segala pesona
Beliau menunjukkan segala perbuatan bajik
Dan karena itu, Buddha, Raja Dunia (Lokesvara, Lokanatha)
Tidak menggunakan guna-guna untuk memadamkan kejahatan,
Tetapi melalui kekuatan dari kebajikannya yang hebat
Beliau menyelamatkan kita dari sengsara yang tak berakhir.
Lalu bagaimana Anda mengatakan bahwa Buddha tidak memiliki kekuatan yang besar?"
Orang-orang Mathura tersebut mulai menghargai logika dari jawabannya. Ketika mereka meneruskan pertanyaan tentang Buddha kepada upasaka, mereka menanyakannya tanpa ada kemarahan atau penyesalan. Upasaka tersebut mengambil kesempatan ini untuk memberikan ceramah kepada mereka:
Maha Belas Kasih (Mahakarunika), yang mengasihi segalanya.
Berkeinginan hanya untuk menyelamatkan dunia dari penderitaan;
Melihat mereka yang menderita (Avalokita), Beliau tahu
Kejahatan mereka terhadap diri mereka sendiri telah membawakan kesakitan;
Tetapi jangan katakan bahwa Beliau telah menggunakan guna-guna kejahatan
Dan membawa kejahatan ke dunia.
Tubuh bagi semua yang hidup adalah menderita adanya
Dalam bentuk kelahiran, penyakit, umur tua, dan kematian,
Seperti keperihan akibat abu api yang masih membara
Bagaimanakah dia bisa terpikir untuk menambah kesengsaraan?
Sebaliknya, dengan Dhamma-Nya yang murni dan menyejukkan
Beliau membuat sakit yang berapi-api ini tersembuhkan."
Mendengar demikian, orang-orang Mathura tersebut akhirnya mengakui bahwa kata-kata orang Gandhara tersebut masuk akal. "Gandha berarti memegang. Anda orang Gandhara menganut prinsip yang tidak umum. Tetapi Anda memegang prinsip yang bagus dan melepaskan prinsip yang tidak bagus. Jadi Anda memang tepat dinamakan demikian, terpujilah teman termasyhur!"
Senang dengan kejadian pagi tersebut, upasaka tersebut meninggalkan mereka dengan melantunkan suatu syair perpisahan:
"Pertimbangkan dengan baik-baik kebajikan dari Buddha,
Sempurna dan lengkap dalam setiap aspek.
Dalam mengkaji hukum moralitas, dalam ketenangan dan kebijaksanaan,
Beliau tiada duanya,
Sumeru adalah yang tertinggi di antara gunung-gunung
Samudra adalah pemimpin dari air-air
Di antara dewa dan manusia,
Tiada yang seperti Buddha.
Demi semua yang hidup ,
Beliau menanggung setiap jenis penderitaan
Sehingga Beliau bisa mencapai tujuan
Dan tidak membiarkan kematian dalam bentuk apapun
Setiap orang yang mencari perlindungan dari Buddha
Telah mendapatkan keuntungan
Dan mendapatkan kebebasan.
Mereka yang mengikuti ajaran Buddha
Telah bebas dari kesengsaraan mereka.
Buddha dengan kekuatan yang menakjubkan
Telah mengatasi semua orang berpandangan salah
Nama-Nya termasyhur
Di seluruh alam semesta, dalam seluruh sepuluh penjuru.
Dengan suara Singa-Nya (Simhanada), Buddha
Menyatakan khayalan Samsara,
Bicara tanpa setengah-setengah,
Tetapi mengikuti Jalan Tengah.
Manusia dan dewa
Mengulang-ulang: "Semoga demikian" (Sadhu)
Mereka yang tidak mampu melihat kebenaran
Masih terikat dalam lingkaran Samsara
Setelah Parinirvana-Nya Tathagata
Tiap negara mendirikan stupa-stupa,
Yang didekorasi secara meriah dengan menggunakan permata
Seperti bintang-bintang yang tergantung di angkasa.
Karena itu, biarlah setiap orang menyatakan Buddha sebagai Penguasa Tertinggi."

Ta Chwang Yan King Lun
oleh Asvagosha
diterjemahkan ke Mandarin oleh Kumarajiva

Dari buku "Guanyin: 101 pertanyaan".
#20
Mahayana / Argumen Kemajemukan Buddha
Last post by xenocross - 26 February 2026, 01:08:21 PM
Pertanyaan: Apakah Buddha hanya ada di dunia Saha ini, dan di waktu sekarang di seluruh semesta tidak ada Buddha lain yang hidup dan mengajar, walaupun di sistem dunia lain yang sangat jauh?

Jawab:

Argumen yang mendukung kemajemukan Buddha
Diambil dari Mahaprajnaparamitasastra [The Treatise on The Great Wisdom of Nagarjuna], diterjemahkan Etienne Lamotte, Vol 1.
Hal 427-430

1) Di dalam Samyuktaagamasutra, dikatakan "Ketika hujan turun, tetesan hujan (bindu) adalah sangat dekat sehingga mereka tak bisa dihitung. Sama halnya seperti sistem dunia (lokadhatu). Di arah timur (purvasyam dis), Aku melihat tak terhitung banyaknya makhluk lahir, hidup, dan mati. Jumlah mereka sangat banyak, melampaui hitungan. Seperti itu jugalah di sepuluh penjuru arah. Di alam-alam semesta di sepuluh penjuru, tak terhitung banyaknya makhluk mengalami tiga macam penderitaan fisik (kayadukkha), penuaan (jara), sakit (vyaddhi) dan kematian (marana); ketiga macam penderitaan mental, hasrat (raga), kebencian (dvesa), dan kegelapan batin (moha); dan ketiga jenis penderitaan kelahiran kembali (purnabhavadukkha), kelahiran di alam naraka, hantu kelaparan (preta), dan binatang (tiryagyoni).
Semua alam ini memiliki tiga jenis manusia, inferior (avara), menengah (madya), atau superior (agra). Manusia inferior melekat (sakta) pada kesenangan saat ini, manusia menengah melekat pada kesenangan [kehidupan] mendatang, tetapi manusia superior mencari Sang Jalan; mereka dipenuhi dengan cinta kasih (maitri) dan welas asih (karuna) dan mempunyai rasa iba pada makhluk-makhluk"
Ketika sebab dan kondisi [yang dibutuhkan untuk datangnya soerang Buddha] hadir, mengapa akibatnya, [yaitu, datangnya seorang Buddha] tidak dihasilkan? Sang Buddha telah berkata: "Jika tidak ada sakit, penuaan, dan kematian, Buddha tidak akan muncul." [AN 10.76]
Adalah karena seseorang melihat orang-orang tersiksa oleh penuaan, sakit, dan mati, seseorang membuat tekad (pranidhana) untuk menjadi Buddha untuk menyelamatkan semua makhluk, menyembuhkan sakit mental mereka dan mengeluarkan mereka dari derita tumimbal lahir.
Sekarang, alam-alam semesta ini di sepuluh penjuru menampilkan semua sebab dan kondisi yang dibutuhkan bagi kemunculan seorang Buddha (buddhapradurbhava). Bagaimana mungkin anda dapat mengatakan bahwa alam semesta  kita adalah satu-satunya yang mempunyai Buddha sementara alam semesta lainnya tidak? Ini seperti anda mengatakan bahwa "Ini ada kayu, tetapi tidak ada api; tanah ini basah, tetapi tidak ada air." Sama halnya dengan para Buddha. Makhluk-makhluk ini menderita karena penuaan, sakit, dan kematian melanda tubuh mereka; pikiran mereka sakit oleh hasrat (raga), kebencian (dvesa), dan kebodohan (moha); Buddha muncul di dunia untuk menghancurkan tiga jenis penderitaan dan memperkenalkan makhluk-makhluk pada Tiga Kendaraan (yanaytraya). Bagaimana mungkin Buddha tidak muncul di semua alam semesta dimana penderitaan ini ada?
Adalah salah untuk mengatakan bahwa satu obat (agada) adalah cukup untuk menyembuhkan orang buta yang tak terhitung jumlahnya (andhapurusa) [dan karena itu, satu Buddha untuk menyembuhkan makhluk yang tak terhitung jumlahnya.] Karena itu, Buddha-Buddha yang ada di sepuluh penjuru haruslah ada.

2) Lebih jauh, sebuah sutra dalam Dirghaagama [Atanatikasutra,
paralel: Taisho 1245 Vaisravana Sutra / Fo shuo P'i-sha-mên T'ien-wang Ching
Paralel Pali: Atanatiya Sutta, Digha Nikaya 32]
mengatakan
"Tatkala itu Raja Dewa Vaiśravaṇa, beserta ratusan, ribuan, tak terhitung yakṣa pengiringnya, datang bersama-sama ke tempat Buddha di waktu jaga pertama di malam hari. Ia memancarkan cahaya cemerlang yang menerangi seluruh kawasan Hutan Jeta, lalu bersujud dengan kelima anggota tubuhnya menyentuh tanah di bawah kaki Bhaga-van, berdiri di satu sisi, berañjali menghadap Buddha, dan memuji dengan gāthā:
"Hormat bagi Yang Teragung Tanpa Ketakutan,
Saṃbuddha yang terunggul di antara makhluk berkaki-dua.
Para dewa, dengan mata dewanya,
tidak dapat melihat makna (Kebenaran)
 [seperti yang Kauamati].
Kepada para Buddha di masa lampau, sekarang, dan akan datang,
Pemimpin yang Penuh Kasih-Sayang dari ketiga masa,
— ya, kepada para Samyaksaṃbuddha ini satu per satu —
kini aku pergi berlindung dan menyembah."
Di dalam bait-bait ini, adalah pertanyaan mengenai Buddha di sepuluh penjuru. Sang Raja Dewa bersujud pada Buddha di tiga masa; dan khususnya, beliau berlindung pada Buddha Sakyamuni. Jika Buddha di sepuluh penjuru sejatinya tidak ada, beliau hanya akan berlindung di dalam Buddha Sakyamuni dan beliau tidak akan mengatakan apapun mengenai Buddha lain di masa lalu, masa depan, dan masa kini. Inilah kenapa kita menyetujui keberadaan Buddha di sepuluh penjuru.

3) Lebih jauh, jika ada, di masa lalu, Buddha yang jumlahnya tak terhitung, jika akan ada, di masa depan, Buddha yang jumlahnya tak terhitung, maka haruslah ada, di masa sekarang, tak terhitung banyaknya Buddha.

4) Lebih jauh, jika, di dalam teks sravaka, Buddha  mengatakan mengenai Buddha-Buddha yang tak terbilang dan tak terhitung jumlahnya di sepuluh penjuru, makhluk-makhluk akan mengatakan: "Karena para Buddha adalah sangat mudah ditemukan, tidaklah perlu untuk rajin dan giat untuk mencari pembebasan. Jika kita tidak bertemu Buddha yang ini, kita akan menemukan Buddha lain nanti."
Karena kemalasan (kausidya) mereka tidak akan dengan tekun mengejar pembebasan mereka. Seekor rusa yang belum pernah ditembak panah tidak mempunyai rasa takut; tetapi setelah sudah dipanah, ia akan kabur [ketika melihat pemburu]. Dengan cara yang sama, orang-orang yang sudah mengetahui penderitaan usia tua, sakit, dan kematian dan yang telah mendengar bahwa hanya ada satu Buddha yang sangat jarang ditemukan, akan merasa takut, berusaha dengan penuh semangat, dan dengan cepat keluar dari penderitaan.
Inilah kenapa di teks sravaka, Buddha tidak mengatakan mengenai keberadaan para Buddha di sepuluh penjuru, tapi juga tidak mengatakan bahwa mereka tidak ada.

5) Jika Buddha di sepuluh penjuru [ternyata benar-benar] ada dan anda menyangkal keberadaan mereka, anda telah melakukan kesalahan yang hukumannya tanpa jeda (anantaryapatti)
Di lain pihak, jika Buddha di sepuluh penjuru [ternyata] tidak ada, tetapi saya menyetujui keberadaan mereka hanya untuk menciptakan ide Buddha yang jumlahnya tanpa batas (apramanabuddhasamjna), saya mendapatkan kebajikan dari menghormat kepada mereka (satkarapunya). Mengapa demikian?
Karena adalah niat baik (kusalacitta) yang menghasilkan kebajikan besar. Maka, di dalam samadhi cinta kasih (maitricittasamadhi), seseorang memikirkan semua makhluk dan mengharapkan mereka semua bahagia; walaupun tidak ada manfaat nyata untuk makhluk-makhluk [yang dipikirkan jadi bahagia], orang yang memikirkan dengan cara ini mendapatkan banyak kebajikan. Demikian juga sama [dengan orang yang memikirkan] ide mengenai Buddha di sepuluh penjuru.
Jika Buddha di sepuluh penjuru benar-benar ada dan seseorang menyangkal keberadaan mereka, seseorang melakukan sebuah kesalahan besar dari menyerang semua Buddha di sepuluh penjuru. Kenapa? Karena seseorang menyerang sesuatu yang benar.
Orang itu tidak melihat dengan organ mata (mamsacaksus); tetapi jika dia menyatakan keberadaan mereka [Buddha-Buddha di sepuluh penjuru], kebajikannya (punya) adalah besar.
Sebaliknya, jika dia secara mental menyangkal keberadaan mereka, karena Buddha-Buddha ini nyatanya ada, kesalahan (apatti) dia sangatlah buruk.
Jika, kemudian, orang itu harus mempercayai keberadaan [Buddha di sepuluh penjuru[ dari cahaya mereka sendiri, kenapa dia kemudian tidak seharusnya percaya pada mereka, ketika Buddha sendiri sudah menyatakan keberadaan Buddha-Buddha ini di dalam Mahayana?