//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Ajahn Brahm stories  (Read 14083 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #15 on: 14 March 2009, 03:28:10 AM »
 Bukalah pintu hatimu... teman

Beberapa abad yang silam, tujuh orang bhikkhu tinggal di sebuah gua di sebuah rimba di suatu tempat di Asia, bermeditasi pada jenis cinta kasih tak berkondisi yang saya kisahkan di cerita sebelumnya.Ada seorang bhikkhu kepala, saudara laki-lakinya dan sahabat baiknya. Yang keempat adalah seorang lawan bhikkhu kepala: mereka tidak bisa pernah akur. Bhikkhu yang kelima adalah seorang bhikkhu yang sangat tua, begitu tuanya sampai-sampai mungkin akan meninggal dalam beberapa tahun lagi. Yang keenam sakit berat –bisa saja meninggal kapan pun. Dan yang terakhir, ketujuh, adalah bhikkhu yang tidak berguna.

Dia mendengkur saat dia seharusnya bermeditasi, tidak bisa mengingat paritta dan kalaupun kebetulan ingat, dia mengucapkannya dengan nada sumbang. Dia juga tidak bisa mengatur jubahnya dengan pantas. Namun yang lain-lain semuanya membiarkannya saja dan berterimakasih kepadanya karena telah mengajarkan mereka cara bersabar.

Suatu hari, segerombolan penjahat menemukan gua tersebut. Gua itu sangat terpencil, sangat tersembunyi, sehingga mereka ingin mengambil alih gua tersebut untuk dijadikan markas. Jadi mereka berniat untuk membunuh semua bhikkhu tersebut. Namun, bhikkhu kepala sangat fasih berbicara untuk meyakinkan orang. Dia akhirnya bisa –jangan tanya saya caranya- membujuk gerombolan penjahat untuk membiarkan bhikkhu-bhikkhu itu pergi, kecuali satu orang, yang akan dibunuh sebagai peringatan kepada bhikkhu-bhikkhu yang lain untuk tidak mengatakan lokasi gua kepada seorangpun. Hanya itulah yang terbaik yang bisa dilakukan si bhikkhu kepala.

Bhikkhu kepala berpikir sendirian selama beberapa menit untuk membuat keputusan yang menyedihkan mengenai siapa yang seharusnya dikorbankan, sehingga yang lainnya semua bisa bebas pergi.

Sewaktu saya menceritakan kisah ini di publik, saya berhenti sebentar bertanya kepada pemirsa, “Baiklah, menurut kalian, siapakah yang akan dipilih bhikkhu kepala?”. Pertanyaan ini biasanya bisa menyegarkan pemirsa yang terkantuk-kantuk dalam kotbah saya dan membangunkan mereka yang sudah tertidur. Saya mengingatkan mereka bahwa ada bhikkhu kepala, saudara laki-laki, sahabat baik, lawan, bhikkhu tua, si sakit (dua-duanya sudah mau mati) dan bhikkhu yang tidak berguna. Menurut anda, siapa yang akan terpilih?

Beberapa orang memilih si lawan. “Bukan,” saya jawab.

“Saudara laki-lakinya?”

“Salah.”

Bhikkhu yang tak berguna selalu disebutkan –betapa kejamnya kita! Setelah saya cukup menikmati jawaban-jawaban itu, saya beberkan jawabnya: bhikkhu kepala tidak bisa memilih.

Cinta kasihnya kepada saudaranya persis sebesar, tidak lebih dan tidak kurang, cinta kasihnya kepada sahabat baiknya, dan juga persis sama besarnya dengan cinta kasihnya terhadap lawannya, kepada bhikkhu tua, si sakit bahkan kepada bhikkhu yang tak berguna itu. Dia telah menyempurnakan arti kata-kata: pintu hati saya akan selalu terbuka untukmu, apapun yang kamu lakukan, siapapun kamu.

Pintu hati si bhikkhu kepala terbuka lebar untuk semua, tanpa kondisi, tidak membeda-bedakan, cinta kasih yang mengalir bebas. Dan yang paling penting, cinta kasihnya kepada orang lain sama besarnya dengan cinta kasihnya kepada diri sendiri. Pintu hatinya juga terbuka untuk dirinya sendiri. Itulah mengapa dia tidak bisa memilih antara dirinya sendiri dan yang lain-lain.

Saya mengingatkan ajaran Judeo-Christian di dalam diri pemirsa saya bahwa buku mereka mengajarkan untuk “cintai tetanggamu seperti dirimu sendiri”. Tidak lebih dari dirimu sendiri dan tidak kurang dari dirimu sendiri, namun sama besarnya dengan dirimu sendiri. Itu berarti memperlakukan orang lain seperti halnya diri sendiri dan diri sendiri seperti halnya orang lain.

Mengapa kebanyakan pemirsa saya berpikir bahwa bhikkhu kepala akan mengorbankan diri dan memilih dirinya sendiri untuk dibunuh? Mengapa, dalam budaya kita, kita selalu mengorbankan diri sendiri untuk orang lain dan menganggap ini untuk kebaikan? Mengapa kita kadang-kadang menuntut lebih, lebih kritis dan menghukum diri sendiri lebih daripada siapa pun? Semuanya untuk satu alasan: kita belum belajar bagaimana untuk mencintai diri sendiri. Bila anda merasa sulit untuk berkata kepada orang lain: “pintu hatiku terbuka untukmu, apapun yang kau lakukan,” maka akan jauh lebih sulit untuk berkata kepada diri sendiri, “Aku. Orang yang sangat dekat, sejauh yang bisa saya ingat. Saya sendiri. Pintu hatiku akan selalu terbuka untuk diriku sendiri. Tidak perduli apa yang telah saya lakukan. Masuklah.”

Itulah yang saya maksudkan dengan mencintai diri kita sendiri: yang dinamakan pemberian maaf. Melangkah keluar dari penjara rasa bersalah; berdamai dengan diri sendiri. Dan jika anda mendapatkan keberanian untuk mengatakan kata-kata itu kepada diri anda sendiri, dengan sejujurnya, dalam hati anda yang dalam, maka anda akan menyongsong ke depan, bukan mundur, untuk menemukan cinta kasih yang menakjubkan. Suatu hari, kita semua harus mengatakan kata-kata itu atau yang sejenis, kepada diri kita sendiri, dengan kejujuran, bukan main-main. Saat kita melakukannya, sama halnya seperti memanggil pulang bagian dari diri kita yang telah lama terpisah dan membeku di luar. Kita merasa penuh, utuh, siap dan bebas untuk berbahagia. Hanya saat kita bisa mencintai diri sendiri dengan cara begitu, kita mengerti untuk mencintai orang lain, tidak lebih dan tidak kurang.

Dan harap diingat, anda tidak perlu menjadi sempurna terlebih dahulu, tanpa kesalahan, untuk memberikan cinta kepada diri anda sendiri. Jika anda harus menunggu kesempurnaan, itu tidak akan tiba. Kita harus membuka pintu hati kita kepada diri kita sendiri, apapun yang telah kita lakukan. Sekali kita berada di dalam, maka kita telah sempurna.

Orang sering bertanya kepada saya, apa yang terjadi kepada tujuh bhikkhu tersebut sewaktu bhikkhu kepala mengatakan para penjahat bahwa dia tidak bisa memilih.

Kisah ini, seperti yang saya dengar beberapa tahun silam, tidak mengatakan: ceritanya berhenti di tempat saya menyelesaikannya. Tapi saya tahu apa yang terjadi kemudian; saya berpikir apa yang seharusnya terjadi. Ketika bhikkhu kepala menjelaskan kepada para penjahat mengapa dia tidak bisa memilih antara dirinya sendiri dan orang lain, dan menceritakan arti cinta kasih dan pemberian maaf seperti yang telah saya lakukan tadi, maka semua penjahat menjadi sangat terkesan dan terinspirasi sehingga tidak hanya mereka melepaskan semua bhikkhu, namun mereka juga bertobat dan menjadi bhikkhu!

Dari buku "Opening the Door of Your Heart"
Ajahn Brahm
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #16 on: 14 March 2009, 03:28:43 AM »
Beruntungnya mereka, Malangnya saya... atau Beruntungnya saya, malangnya mereka...
Poor me, lucky them...

Kehidupan bhikkhu junior di Thailand rasanya tidaklah adil. Bhikkhu senior mendapatkan makanan terbaik, duduk di tempat paling empuk dan tidak perlu kerja mengangkut-angkut apapun. Makanan hari ini (bhikkhu hutan hanya makan sekali sehari) tidak mengundang selera; saya harus duduk berjam-jam dalam sebuah acara di semen yang keras (dan juga tidak rata, karena penduduk tidak begitu pandai dalam menyemen); dan kadang-kadang saya harus bekerja keras. Malangnya saya; beruntungnya mereka.

Saya menghabiskan waktu yang lama dan tidak menyenangkan untuk memikirkan keluhan saya. Bhikkhu senior mungkin sudah tercerahkan, jadi makanan enak merupakan kesia-siaan, seharusnya sayalah yang mendapatkan makanan terbaik. Bhikkhu senior sudah terbiasa duduk bersila di lantai yang keras selama bertahun-tahun, karena itu sayalah yang seharusnya duduk di tempat yang empuk. Lagipula, bhikkhu senior gemuk-gemuk karena makan makanan yang enak-enak, jadi sudah memiliki ‘bantalan alam’ sendiri. Bhikkhu senior hanya ngomong bhikkhu junior harus kerja, tapi tak pernah kerja sendiri, jadi bagaimana mereka bisa mengerti betapa panas dan melelahkannya mendorong kereta dorong itu? Proyek itu adalah ide mereka, jadi seharusnya merekalah yang bekerja! Malangnya saya; beruntungnya mereka.

Ketika saya sudah menjadi bhikkhu senior, saya makan makanan terbaik, duduk di tempat yang empuk dan hanya sedikit bekerja fisik. Namun, ternyata saya malah iri kepada bhikkhu junior. Mereka tidak perlu memberikan ceramah, tidak perlu mendengarkan keluhan umat, problem sehari-hari mereka dan tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk urusan administrasi. Mereka tidak perlu bertanggung-jawab dan mereka memiliki begitu banyak waktu luang. Saya jadi berpikir, ‘Malangnya saya; beruntungnya mereka!’

Segera saya tersadar. Bhikkhu junior memiliki ‘penderitaan bhikkhu junior’. Bhikkhu senior memiliki ‘penderitaan bhikkhu senior’. Sewaktu saya menjadi bhikkhu senior, saya hanyalah mengganti satu bentuk penderitaan ke bentuk lain.

Seperti itu jugalah berlaku pada orang-orang yang masih single (baca: jomblo) yang iri kepada mereka yang sudah menikah, dan mereka yang sudah menikah iri kepada yang masih single. Dari sini kita mengerti, sewaktu kita menikah, kita hanyalah mengganti ‘penderitaan orang single’ dengan ‘penderitaan orang menikah’. Sewaktu kita bercerai, kita hanyalah mengganti ‘penderitaan orang menikah’ dengan ‘penderitaan orang single’. Malangnya saya; beruntungnya mereka.

Sewaktu kita miskin, kita iri kepada mereka yang kaya. Namun, banyak orang kaya yang iri kepada persahabatan tulus dan waktu luang yang dimiliki oleh mereka yang miskin. Menjadi kaya hanyalah mengganti ‘penderitaan orang miskin’ dengan ‘penderitaan orang kaya’. Pensiun dan penurunan penghasilan hanyalah mengganti ‘penderitaan orang kaya’ dengan ‘penderitaan orang miskin’. Begitu seterusnya… Malangnya saya; beruntungnya mereka.

Dengan berpikir anda akan bahagia kalau sudah menjadi sesuatu yang lain hanyalah khayalan. Menjadi sesuatu yang lain hanyalah mengganti satu bentuk penderitaan dengan bentuk yang lain. Tapi saat anda puas dan berdamai terhadap apapun adanya anda, junior ataupun senior, menikah ataupun jomblo, kaya ataupun miskin, maka anda bebas dari penderitaan. Beruntungnya saya; malangnya mereka…
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #17 on: 14 March 2009, 03:29:34 AM »
Saya bisa saja memberitahukan anda apa yang dimaksud dengan "menjalani kehidupan yang berarti" itu, tetapi itu hanya akan menambah satu lagi filosofi ke dalam kebingungan ilmu pengetahuan spiritual yang mungkin saja telah membebani anda selama ini. Salah satu keindahan dari Buddhisme adalah bahwa ia tidak mengatakan kepada anda apa yang harus anda percayai, tetapi ia memberitahukan anda bagaimana cara untuk menemukannya.

Sebagai contoh, selama bertahun-tahun, saya mempercayai apa yang orang lain katakan kepada saya tentang kebahagiaan.

Ketika saya berumur 14 tahun, saya sedang belajar untuk menghadapi ujian O-level saya di sebuah SMA di London. Orangtua saya dan guru-guru menasehati saya untuk berhenti bermain sepakbola di sore hari dan pada akhir pekan, agar saya bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah saya di rumah. Mereka menjelaskan betapa pentingnya ujian O-level itu dan jika saya bisa lulus, maka saya akan bahagia.

Jadi, saya pun menuruti nasehat mereka dan lulus ujian dengan hasil yang sangat baik. Tetapi hal itu tidak membuat saya terlalu bergembira karena dengan keberhasilan saya itu berarti sejak saat itu saya harus belajar lebih keras lagi, selama dua tahun ke depan, untuk menghadapi ujian A-level. Orangtua saya dan guru-guru kembali menasehati saya untuk berhenti pergi ke luar rumah di malam hari dan pada akhir pekan, berhenti mengejar gadis-gadis selain mengejar bola kaki, dan sebaliknya agar saya tinggal di rumah dan belajar. Mereka mengatakan kepada saya betapa pentingnya ujian A-level itu dan jika saya bisa lulus, maka saya pun akan bahagia.

Jadi, saya pun menuruti nasehat mereka dan, sekali lagi, saya berhasil lulus ujian dengan hasil yang sangat baik. Tetapi sekali lagi, hal itu tidak menjadikan saya terlalu bergembira, karena sekarang saya harus belajar dengan sekuat tenaga, untuk tiga tahun lagi, di sebuah universitas, untuk meraih gelar sarjana. Orangtua saya (ayah saya kini telah meninggal dunia) dan guru-guru menasehati saya untuk menghindari bar-bar dan pesta pora, dan sebaliknya saya harus bekerja keras. Mereka mengatakan kepada saya betapa pentingnya gelar sarjana itu untuk bisa sukses di dalam hidup, dan jika saya bisa meraihnya, maka saya bisa bahagia.

Pada titik ini, saya mulai curiga.

Saya melihat beberapa orang teman lama saya yang telah berhasil meraih gelar sarjana mereka dan bekerja dengan lumayan keras. Mereka berkata kepada saya bahwa mereka bekerja begitu keras untuk menabung agar bisa membeli sesuatu yang penting. Bila mereka sudah punya cukup uang untuk membeli mobil, atau sebuah apartemen kecil, maka mereka akan bahagia.

Ketika mereka sudah membeli mobil kecil mereka, mereka masih saja tidak begitu bahagia. Mereka harus berjuang untuk mengatasi kekacauan di dalam kehidupan percintaan mereka, mencari pasangan hidup mereka masing-masing. Mereka bilang, bila mereka sudah menikah, maka mereka akan bahagia.

Begitu mereka telah menikah, mereka harus bekerja keras untuk membeli apartemen yang lebih besar lagi, atau bahkan sebuah rumah impian. "Bila kami sudah memiliki simpanan yang cukup untuk didepositokan, maka kami akan bahagia", kata mereka.

Lalu mereka akan memiliki anak-anak yang membangunkan mereka di tengah malam, yang menghisap habis semua sisa uang mereka dan tiba-tiba saja menciptakan gelombang kekhawatiran yang baru. Untuk kesekian kalinya kebahagiaan akan terganggu. Dan seperti kebanyakan orang-orang yang berkata kepada saya, "Begitu anak-anak sudah dewasa, meninggalkan rumah dan mandiri, maka kami bisa melakukan apa pun yang kami inginkan". Lalu mereka pun akan bahagia.

Pada saat anak-anak sudah meninggalkan rumah, para orangtua sudah beranjak pensiun. Mereka terus bekerja keras, berinvestasi dan menabung untuk hari tua mereka. "Bila kami pensiun nanti", kata mereka, "Maka kami akan bahagia."

Bahkan sebelum mereka pensiun, dan tentu saja sesudahnya, teman-teman dan sanak keluarga saya yang telah berusia lanjut, semuanya akan pergi ke gereja. Apakah anda pernah memperhatikan berapa banyak orang-orang lanjut usia yang suka pergi ke vihara dan gereja? Itu karena mereka semua berpikir, "Bila saya nanti meninggal, maka saya akan bahagia!"

Itu adalah jenis kebahagiaan yang mereka ingin saya mempercayainya: "Bila kamu mendapatkan ini atau itu, maka kamu akan bahagia." Kebahagiaan selalu berupa mimpi tentang masa depan, seperti pelangi yang berjarak satu atau dua langkah ke depan, tetapi selamanya tidak dapat dicapai. Ada sesuatu yang salah. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bahagia sekarang.

Itulah yang terjadi bila kita hanya percaya begitu saja pada orang lain, dan bukan dengan melihat kebenarannya sendiri. Jika anda menjalani kehidupan anda dengan mengumpulkan kakayaan, menimbun kemelekatan, atau bahkan mengejar surga - anda akan menemukan bahwa anda tidak menjalani kehidupan yang berarti.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #18 on: 14 March 2009, 03:34:52 AM »
Dua Bata Jelek

Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangunan diatas tanah itu, pun tidak sebah gubuk. Pada minggu2 pertama kami tidur diatas pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami menganjalnya dengan batu bata pada setiap sudutnya.

Kami hanyalah bikkhu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang, jadi saya harus belajar cara pertukang. Sedangkan saya sebelumnya adalah fisikawan teoritis dan guru SMU, tidak bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya sebagai BBC ( Buddhist Building Company).

Sebagai seorang bikkhu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata trpasang sempurna. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengaguminya. Saat itulah saya menperhatikan - Oh, Tidak! Tidak ! saya telah keliru menyusun dua batu bata, sehingga tampak miring, mereka terlihat jelek sekali.

Saya telah membuat kesalahan dan saya telah menjadi gundah gulan. Saya bermaksud menbongkarnya tetapi kepala vihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya sperti itu.

Suatu vihara ada seorang yang berkunjung, dia melihatnya "Itu sebuah tembok yang indah", ia berkomentar dengan santai. Saya terkejut dan bertanya kembali "Apakah Anda tidak melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?"

Ucapan dia selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok ini. Dia berkata "Ya, saya melihat dua bata jelek itu, tetapi saya juga dapat melihat 998 batu bata yang bagus'

Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih tiga bulan saya baru mampu melihat batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Diatas, dibawah, sebelah kiri, sebelah kanan adalah batu bata yang bagus dan sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelak itu.

Berapa banyak orang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua melihat dari diri pasangannya adalah "dua bata jelek"?
Berapa banyak yang dari diri kita mengalami depresi karena melihat kedalam diri kita hanyalah "dua bata jelek"?

Cerita diatas dikutip dari BUKU :
"Membuka Pintu Hati", Judul Asli "Opening the door of your Heart"
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #19 on: 14 March 2009, 03:38:43 AM »
Siluman Pemangsa Amarah
November 7th, 2005 by ferry-tan

Yang menjadi masalah dengan kemarahan adalah bahwasanya kita menikmati marah. Ada sejenis kecanduan dan kenikmatan besar sehubungan dengan pelampiasan kemarahan. Dan kita tak ingin membiarkan sesuatu yang kita nikmati berlalu begitu saja. Bagaimanapun juga, ada juga bahaya dalam kemarahan, suatu konsekuensi yang lebih berat daripada kesenangannya. Jika saja kita menyadari buah dari kemarahan, dan selalu ingat hubungannya dengan kemarahan, kita akan rela membiarkan kemarahan barlalu.

Di sebuah alam pada zaman dahulu kala, sesosok siluman masuk ke istana ketika raja sengan pergi. Siluman itu sangat buruk rupa, baunya sangat tak sedap, dan apapun yang dia katakan begitu menjijikkan sampai-sampai para pengawal dan pekerja istana terpaku dalam kengerian. Karena itu si siluman enak saja melenggang ke ruangan dalam, menuju aula pertemuan kerajaan, dan mendudukkan dirinya di singgasana raja. Melihat siluman itu denga kurang ajarnya duduk di singgasana raja, para pengawal dan pekerja lainnya menjadi tersadar dari keterpakuan mereka.

"Keluar dari sini!" bentak mereka. "Kamu tidak boleh di situ! Jika kamu tidak angkat pantatmu sekarang juga, kami akan tebas kamu denga pedang!"

Karena mendapat sedikit kata-kata amarah ini, siluman itu membesar beberapa inci, tampangnya bertambah jelek, tambah bau, dan omongannya makin jorok saja.

Pedang-pedang dihunus, golok dikeluarkan dari sarungnya, ancaman telah dinyatakan. Di setiap perkataan atau perbuatan yang dipenuhi oleh amarah, bahkan di setiap pikiran marah pun, siluman itu menjadi bertambah besar, tambah buruk, tambah bau, dan tambah kotor makiannya.

Pertempuran sudah berlangsung beberapa saat ketika sang raja tiba. Dia melihat ada siluman raksasa yang sedang duduk di atas singgasananya. Dia belum pernah melihat sesuatu yang jeleknya minta ampun seperti itu, bahkan di bioskop pun tidak. Bau busuk yang tertebar dari tubuh siluman itu bahkan akan membuat belatung pun jatuh sakit. Dan sumpah-serapahnya pun lebih parah daripada yang pernah Anda dengan di bar-bar terkumuh pada malam minggu yang berjubel pemabuk.

Sang raja adalah seorang yang bijaksana. Makanya dia jadi raja: dia tahu apa yang harus dilakukan.

"Selamat datang," sapa sang raja dengan hangat. "Selamat datang di istana saya. Sudahkan seseorang menyuguhkan minuman untuk Anda? Atau makanan?"

Karena sedikit ungkapan yang lembut itu, tubuh siluman itu mengecil beberapa inci, keburukannya berkurang, baunya berkurang, dan kekasarannya berkurang.

Para armada istana cepat tanggap dengan maksud sang raja. Seseorang lalu bertanya kepada siluman itu apakah dia mau secangkir teh. "Kami punya Dajeeling, English Breakfast, atau Earl Gray. Atau barangkali Anda lebih suka peppermint? Itu bagus untuk kesehatan Anda, lho." Yang lainnya menelepon untuk memesan pizza, family size untuk siluman sebesar itu, sementara yang lainnya membuatkan sandwich, dengan "ham setan" tentu saja. Seorang prajurit memijat kaki si siluman, dan yang lain memijati lehernya. "Mmmm… enak sekali," pikir si siluman.

Karena setiap perkataan, perbuatan, dan pikirian yang baik itu, tubuh siluman itu terus mengecil, berkurang buruknya, berkurang bau dan kekasarannya. Sebelum pengantar pizza datang dengan antarannya, si siluman sudah susut ke ukuran semula ketika pertama kali dia datang dan duduk di singgasana raja. Tetapi para penghuni istana tak berhenti berbuat baik. Segera saja siluman itu menjadi begitu kecilnya sampai sulit untuk dilihat lagi. Lalu, stelah satu lagi perbuatan baik dilakukan, dia benar-benar lenyap tak berbekas.

Kita menyebut monster seperti itu sebagai "siluman pemangsa amarah"

Suatu kali pasangan Anda dapat menjadi "siluman pemangsa amarah". Marahlah kepada mereka, dan mereka akan bertambah parah - tambah jelek, tambah bau, tambah galak kata-katanya. Masalah yang ada menjadi bertambah besar setiap kali Anda marah kepada mereka. Meskipun cuma di dalam pemikiran saja. Barangkali sekarang Anda menyadari kesalahan Anda dan tahu harus berbuat apa.

Rasa sakit adalah "siluman pemangsa amarah" lainnya. Ketika kita berpikir dengan marah, "Hei, sakit! Enyah dari sini! Kau tak diizinkan!" rasa sakit akan tumbuh seinci lebih besar dan lebih parah dengan cara yang berbeda. Memang sulit untuk bersikap baik pada sesuatu yang begitu buruk dan garang seperti rasa sakit, tetapi ada masa-masa dalam hidup kita ketika kita tak punya pilihan lain. Seperti dalam cerita ketika saya sakit gigi, kalau kita menyambut rasa sakit, denga sungguh-sungguh, dengan tulus, rasa sakit akan mejadi lebih kecil, berkuranglah masalahnya, dan suatu ketika akan lenyap sama sekali.

Beberapa jenis kanker adalah "siluman pemangsa amarah", monster yang buruk dan menjijikkan duduk di dalam tubuh kita;
"Singgasana" kita. Lumrah kalau kita berkata, "Enyah dari sini! Kau tak diizinkan!" Ketika satu cara dan lain cara gagal, atau bahkan lebih awal dari itu, semoga kita dapat berkata, "Selamat datang." Beberapa jenis kanker diperparah denga sterss - itulah sebabnya mereka menjadi "siluman pemangsa amarah". Kanker semacam itu tahu diri ketika "raja istana" dengan berani berkata "Kanker, pintu hatiku terbuka penuh untukmu, apa pun yang kamu lakukan. Masuklah"

————————————–
Kutipan dari buku "Membuka Pintu Hati"
Penulis : Ajahn Brahm
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #20 on: 14 March 2009, 03:39:45 AM »
Anak-Anak Kelas B
November 7th, 2005 by ferry-tan

Beberapa tahun yang lalu, sebuah percobaan di bidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di Inggris. Sekolah itu memiliki dua kelas untuk setiap kelompok anak-anak yang berusia sepantar. Pada akhir tahun ajaran diadakan sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk kelas pada tahun berikutnya. Bagaimanapun, hasil ujian itu tak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan, hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahui kenyataannya, anak-anak yang mendapat peringkat pertama ditempatkan pada kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat empat dan lima, delapan dan sembilan, dua belas dan tiga belas, dan selanjutnya. Sementara anak-anak yang mendapat peringkat dua dan tiga pada ujian tersebut ditempatkan pada kelas yang sama dengan anak-anak yang medapat peringkat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas, dan selanjutnya. Dengan kata lain, berdasarkan kinerja selama ujian, anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasarkan kesetaraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas pun diberikan fasilitas yang sama. Segala sesuatunya dibuat setara mungkin, kecuali untuk satu hal: satu disebut "kelas A" dan yang lain disebut "kelas B".

Pada kenyataannya, setiap kelas memiliki anak-anak yang setara kemampuannya. Tetapi di benak setiap orang, anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak-anak yang cerdas, sedangkan anak-anak dari kelas B dianggap tak begitu pandai. Beberapa orang tua dari anak-anak kelas A mendapat kejutan yang menyenangkan karena anak-anaknya lulus dengan baik dan menghadiahi mereka dengan bingkisan dan pujian. Sementara beberapa orang tua dari anak-anak kelas B mengomeli dan menghukum anak-anaknya karena mereka dianggap tak berusaha cukup keras selama ujian. Bahkan para guru pun mengajar anak-anak kelas B denga sikap berbeda; dengan tidak berharap banyak dari mereka. Sepanjang tahun ajaran, ilusi tersebut terus dipertahankan. Lalu tibalah ujian akhir tahun berikutnya.

Hasilnya membuat merinding, tetapi tidak mengejutkan. Anak-anak kelas A menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada anak-anak kelas B. Pada kenyataannya hasilnya juga akan seperti itu jika dulunya mereka terpilih sebagai setengah dari yang teratas pada ujian tahun lalu. Mereka benar-benar menjadi anak-anak kelas A (nomor 1). Dan kelompok lain, walaupun setara dengan tahun lalu, mereka menjadi anak-anak kelas B (nomor 2) sungguhan. Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka.

————————————–
Kutipan dari buku "Membuka Pintu Hati
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #21 on: 14 March 2009, 09:11:55 AM »
Nanti saya bahagia

Ketika saya masih berumur 14 tahun, saya belajar untuk menghadapi ujian 0-level di sebuah sekolah tinggi di London. Orang tua dan guru-guru saya menasehati saya agar berhenti bermain sepakbola pada sore hari dan akhir pekan,
dan mengerjakan PR saja di rumah. Mereka menerangkan betapa penting-nya ujian 0-level tersebut dan jika saya lulus, Nanti saya akan bahagia.

Saya mengikuti nasihat mereka dan lulus dengan baik sekali. Tetapi itu tidak membuat saya bahagia sekali, Karena keberhasilan saya berarti bahwa saya harus belajar lebih keras lagi, selama 2 tahun lagi untuk mempersiapkan ujian A-level.
Orang tua dan guru-guru menasehati saya agar berhenti berkeluyuran pada sore hari dan akhir pekan,kalau dulu di minta berhenti mengejar-ngejar bola, sekarang diminta untuk berhenti mengejar-ngejar cewek. Di rumah saja.
mereka berkata Betapa penting nya ujian A-level dan kalau saya lulus nanti, maka saya akan bahagia.

Sekali lagi saya mengikuti nasihat mereka dan berhasil baik. dan sekali lagi tidak membuat saya benar-benar bahagia, karena Sekarang saya harus belajar dengan keras selama 3 tahun lagi jauh lebih keras dari sebelumnya untuk gelar universitas.
Ibu dan para guru ( saat itu ayah sudah meninggal ) menasehati saya agar menjauhi bar dan pesta kampus, melainkan belajar saja dengan tekun, Mereka berkata betapa penting nya gelar sarjana dan jika saya berhasil maka ,nanti saya akan bahagia.

Sampai di titik itu, saya mulai curiga.


Saya melihat beberapa teman yang lebih senior, Yang telah belajar dengan tekun dan meraih gelar sarjana. Sekarang mereka bahkan bekerja lebih keras lagi untuk pekerjaan pertama mereka.
Mereka bekerja demikian keras untuk menabung sejumlah uang untuk membeli mobil. Mereka berkata "Saat tabungan saya cukup untuk membeli sebuah mobil, Nanti saya akan bahagia."

Ketika mereka sudah punya cukup dana dan telah membeli mobil pertama-nya, Mereka masih saja tidak bahagia. Sekarang mereka bekerja lebih keras untuk membeli sesuatu yang lain. dan setelah itu mereka akan bahagia. Atau mereka berjuan gigih dalam gelora percintaan, mencari teman hidup.
mereka berkata kepada saya "Saat saya menikah dan sudah mapan, Nanti saya akan bahagia."

Begitu menikah, Mereka masih saja tidak bahagia. Mereka harus bekerja lebih keras lagi, bahkan mencari kerja sampingan untuk menabung cukup banyak untuk uang muka sebuah rumah kecil.
Mereka berkata "Saat, kami sudah punya rumah sendiri, Nanti kami akan bahagia."

Sayang-nya membayar cicilan bulanan untuk rumah kredit berarti mereka masih tidak bahagia. Lebih-lebih mereka akan membangun sebuah keluarga. Mereka akan mempunyai anak-anak yang menyedot simpanan mereka. Dan mereka melipatgandakan kekhawatiran mereka. Seakrang mungkin perlu 20 tahun lagi untuk mencapai apa yang mereka inginkan, lalu mereka berkata
"ketika anak-anak sudah besar, Keluar dari rumah dan mandiri. Nanti kami akan bahagia."

Saat anak-anak sudah keluar dari rumah, kebanyakan orang tua sudah memasuki masa-masa pensiun, lalu mereka terus menunda kebahagiaan mereka, bekerja keras untuk tabungan hari tua, mereka berkata "ketika saya sudah pensiun, nanti saya akan bahagia"

Bahkan sebelum mereka pensiun, dan tentunya juga setelahnya mereka mulai menjadi religius dan pergi ke tempat ibadah.
Pernahah anda perhatikan berapa banyak orang tua memenuhi bangku-bangku ditempat ibadah?....
saya bertanya kepada mereka, Mengapa mereka sekarang pergi ke Tempat ibadah.
Mereka berkata "karena saat saya mati, Nanti saya akan bahagia. "

Bagi mereka yang percaya bahwa "Saat saya mendapatkan ini, Nanti saya akan bahagia.".. kebahagiaan mereka hanyalah menjadi impian masa depan.
Seperti halnya kaki pelangi yang terlihat satu atau dua langkah di depan, namun selamanya tidak bisa digapai.
Didalam hidup atau bahkan setelah hidup. Mereka tidak akan pernah mewujudkan kebahagiaan.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline lisa

  • Teman
  • **
  • Posts: 70
  • Reputasi: 5
  • Gender: Female
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #22 on: 14 March 2009, 01:32:32 PM »
TAKUT BERBICARA DI DEPAN UMUM

Oleh : Ajahn Brahm

Saya diberi tahu bahwa salah satu rasa takut paling besar yang dirasakan orang adalah berbicara di depan umum. Saya harus sering berbicara di depan umum, di vihara - vihara, di Konferensi, di upacara pernikahan dan pemakaman, di radio , dan bahkan di siaran langsung televisi. Semua itu adalah bagian dari pekerjaan saya .

Saya ingat pada suatu peristiwa, lima menit menjelang saya memberikan ceramah, ketika rasa takut membanjiri saya . Saya belum mempersiapkan apa pun untuk ceramah itu. Saya tak punya ide apa yang akan saya katakan. Seketika tiga ratus orang sudah duduk di aula, berharap untuk dapat ilham. Mereka telah merelakan waktu malamnya untuk mendengarkan saya bicara. Saya mulai berpikir, " Bagaimana kalau saya tidak punya apa - apa untuk diomongkan ? Bagaimana kalau saya salah omong ? Bagaimana kalau saya tampak bego ? "

Seluruh rasa takut dimulai dengan pikiran" bagaimana kalau " dan berlanjut dengan sesuatu yang membawa bencana. Saya telah menduga - duga apa yang akan terjadi , dan dengan cara yang negatif. Saya telah berlaku bodoh. Saya tahu saya telah berlaku bodoh; saya tahu semua teori , tetapi itu tidak berjalan. Rasa takut terus bergulir, Saya berada dalam masalah.

Pada saat itulah saya mengerahkan sebuah trik, yang dalam istilah para bhikkhu disebut " cara - cara lihai" , yang dapat mengatasi rasa takut saya , dan terbukti ampuh sampai sekarang. Saya memutuskan masa bodoh pendengar saya menikmati ceramah saya atau tidak, asalkan saya sendiri menikmatinya . Saya memutuskan untuk bersenang - senang saja .

Sekarang , kapan saja saya memberikan ceramah, saya bersenang - senang saja. Saya bergembira - ria. Saya membawa cerita - cerita lucu, sering saya sendiri jadi korban, dan tertawa bersama hadirin. Pada suatu siaran langsung radio di Singapura, saya bercerita tentang ramalan Ajahn Chah mengenai mata uang masa depan ( warga Singapura tertarik dengan hal - hal yang berbau ekonomi ).

Ajahn Chah meramalkan kelak ketika dunia kehabisan kertas dan logam untuk membuat uang, orang - orang harus mencari sesuatu yang lain untuk transaksi sehari - hari. Ia meramalkan bahwa mereka akan memakai butiran - butiran yang terbuat dari tahi ayam. Orang akan bepergian ke mana - mana dengan kantong penuh tahi ayam. Bank - bank akan penuh dengan benda itu dan para perampok akan mencoba mencurinya. Orang - orang kaya akan merasa begitu bangga dengan banyaknya tahi ayam yang mereka miliki dan orang - orang miskin akan bermimpi memenangkan lotere berhadiah segunduk tahi ayam .Ketika jumlah tahi ayam yang beredar cukup besar, pemerintah akan mencermati betul - betul situasi tahi ayam di negaranya, isu - isu lingkungan dan sosial akan dikesampingkan dahulu.

Apakah perbedaan hakiki antara kertas, logam, dan tahi ayam? Tidak ada !

Saya menikmati menuturkan cerita itu . Cerita itu mengandung pernyataan memprihatinkan mengenaikan budaya kita saat ini . Dan itu menggelikan. Warga Singapura senang mendengarkannya.

Saya jadi mengerti bahwa jika Anda memutuskan untuk bersenang- senang ketika harus berbicara di depan umum, Anda akan merasa santai. Secara psikologis, mustahil ada rasa takut dan kegembiraan pada saat yang sama. Saat saya santai, gagasan - gagasan mengalir dengan bebas dalam benak saya selama berceramah, lalu dengan fasihnya meluncur melalui mulut saya. Lagi pula , hadirin jadi tidak bosan kalau ceramahnya lucu.

Seorang bhikkhu Tibet suatu ketika menjelaskan pentingnya membuat hadirin tertawa pada saat ceramah.

" Begitu mereka membuka mulut," katanya," Anda dapat melemparkan pil kebijaksanaan ke dalamnya."

Saya tak pernah mempersiapkan ceramah saya. Alih - alih, saya mempersiapkan hati dan pikiran saya . Para bhikkhu di Thailand terlatih untuk tidak mempersiapkan ceramahnya, tetapi untuk selalu siap berceramah kapan saja , tanpa pemberitahuan terlabih dahulu .

Saat itu adalah Magha Puja, hari raya Buddhis terpenting kedua di Thailand timur laut. Saya sedang berada di vihara Ajahn Chah, Wat Nong Pah Pong, dengan sekitar dua ratus bhikkhu dan ribuan umat awam. Ajahn Chah memang sangat terkenal; saat itu adalah tahun kelima saya sebagai bhikkhu.

Setelah kebaktian malam, tiba saatnya untuk ceramah utama. Dalam acara - acara besar,biasanya Ajahn Chah yang berceramah, tetapi tidak selalu. Terkadang ia akan menoleh kebarisan para bhikkhu dan , jika matanya berhenti pada Anda, berarti Anda dalam masalah. Ia akan meminta Anda memberikan ceramah. Sekalipun saya termasuk yang termuda di antara para bhikkhu, itu bukan jaminan bahwa saya tak akan dipilihnya, tak ada yang bisa menebak Ajahn Chah.

Ajahn Chah memandangi barisan para bhikkhu. Matanya tiba pada saya, tetapi lewat lagi. Diam -diam saya menghembuskan napas lega. Lalu sapuan matanya menelusur balik barisan para bhikkhu. Tebak, dimana ia berhenti ?

"Brahm," Ajahn Chah memerintahkan, " ayo berikan ceramah utama ."

Tak ada jalan keluar. Saya harus memberikan ceramah dadakan dalam bahasa Thai selama satu jam, di depan guru saya, rekan - rekan bhikkhu, dan ribuan umat awam. Tidak masalah apakah itu akan menjadi ceramah yang bagus atau tidak. Masalahnya sayalah yang harus melakukannya.

Ajahn Chah tak pernah mengatakan apakah ceramah Anda bagus atau tidak . Bukan itu intinya. Suatu ketika ia meminta seorang bhikkhu Barat yang sangat mahir untuk memberikan ceramah kepada umat awam yang berkumpul di viharanya untuk kebaktian mingguan. Setelah satu jam, sang bhikkhu bermaksud untuk mengakhiri ceramahnya, tetapi Ajahn Chah mencegahnya dan menyuruh dia melanjutkan selama satu jam lagi. Itu berat. Sang bhikkhu masih mampu berceramah, dan setelah berjuang untuk jam keduanya dalam bahasa Thai, sang bhikkhu bermaksud menutup ceramahnya, tetapi seketika itu pula Ajahn Chah menyuruh dia untuk terus berceramah. Itu hal yang mustahil. Bhikkhu Barat biasanya tidak banyak tahu bahasa Thai. Anda hanya bisa mengulang - ulang . Para pendengar akan bosan. Tetapi tak ada pilihan lain. Pada akhir jam ketiga, sebagian besar hadirin sudah beranjak pergi, dan yang masih bertahan pun sibuk mengobrol dengan sesamanya. Bahkan para nyamuk dan cecak pun sudah pergi tidur. Pada akhir jam ketiga, Ajahn Chah menyuruhnya untuk berceramah sejam lagi ! Sang bhikkhu Barat tetap patuh. Dia bercerita setelah pengalaman itu ( ceramah itu berakhir juga setelah jam keempat ), ketika Anda telah menyelami dalam - dalam respon hadirin, Anda tidak akan takut lagi berbicara di depan umum.

Begitulah kami dilatih oleh Ajahn Chah yang agung .

Dikutip dari : Buku Membuka Pintu Hati , Hal 61 s/d 65 ( Yayasan Penerbit Karaniya)

www.karaniya. com

Offline lisa

  • Teman
  • **
  • Posts: 70
  • Reputasi: 5
  • Gender: Female
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #23 on: 14 March 2009, 01:34:17 PM »
Siluman Pemangsa Amarah
November 7th, 2005 by ferry-tan

Yang menjadi masalah dengan kemarahan adalah bahwasanya kita menikmati marah. Ada sejenis kecanduan dan kenikmatan besar sehubungan dengan pelampiasan kemarahan. Dan kita tak ingin membiarkan sesuatu yang kita nikmati berlalu begitu saja. Bagaimanapun juga, ada juga bahaya dalam kemarahan, suatu konsekuensi yang lebih berat daripada kesenangannya. Jika saja kita menyadari buah dari kemarahan, dan selalu ingat hubungannya dengan kemarahan, kita akan rela membiarkan kemarahan barlalu.

Di sebuah alam pada zaman dahulu kala, sesosok siluman masuk ke istana ketika raja sengan pergi. Siluman itu sangat buruk rupa, baunya sangat tak sedap, dan apapun yang dia katakan begitu menjijikkan sampai-sampai para pengawal dan pekerja istana terpaku dalam kengerian. Karena itu si siluman enak saja melenggang ke ruangan dalam, menuju aula pertemuan kerajaan, dan mendudukkan dirinya di singgasana raja. Melihat siluman itu denga kurang ajarnya duduk di singgasana raja, para pengawal dan pekerja lainnya menjadi tersadar dari keterpakuan mereka.

"Keluar dari sini!" bentak mereka. "Kamu tidak boleh di situ! Jika kamu tidak angkat pantatmu sekarang juga, kami akan tebas kamu denga pedang!"

Karena mendapat sedikit kata-kata amarah ini, siluman itu membesar beberapa inci, tampangnya bertambah jelek, tambah bau, dan omongannya makin jorok saja.

Pedang-pedang dihunus, golok dikeluarkan dari sarungnya, ancaman telah dinyatakan. Di setiap perkataan atau perbuatan yang dipenuhi oleh amarah, bahkan di setiap pikiran marah pun, siluman itu menjadi bertambah besar, tambah buruk, tambah bau, dan tambah kotor makiannya.

Pertempuran sudah berlangsung beberapa saat ketika sang raja tiba. Dia melihat ada siluman raksasa yang sedang duduk di atas singgasananya. Dia belum pernah melihat sesuatu yang jeleknya minta ampun seperti itu, bahkan di bioskop pun tidak. Bau busuk yang tertebar dari tubuh siluman itu bahkan akan membuat belatung pun jatuh sakit. Dan sumpah-serapahnya pun lebih parah daripada yang pernah Anda dengan di bar-bar terkumuh pada malam minggu yang berjubel pemabuk.

Sang raja adalah seorang yang bijaksana. Makanya dia jadi raja: dia tahu apa yang harus dilakukan.

"Selamat datang," sapa sang raja dengan hangat. "Selamat datang di istana saya. Sudahkan seseorang menyuguhkan minuman untuk Anda? Atau makanan?"

Karena sedikit ungkapan yang lembut itu, tubuh siluman itu mengecil beberapa inci, keburukannya berkurang, baunya berkurang, dan kekasarannya berkurang.

Para armada istana cepat tanggap dengan maksud sang raja. Seseorang lalu bertanya kepada siluman itu apakah dia mau secangkir teh. "Kami punya Dajeeling, English Breakfast, atau Earl Gray. Atau barangkali Anda lebih suka peppermint? Itu bagus untuk kesehatan Anda, lho." Yang lainnya menelepon untuk memesan pizza, family size untuk siluman sebesar itu, sementara yang lainnya membuatkan sandwich, dengan "ham setan" tentu saja. Seorang prajurit memijat kaki si siluman, dan yang lain memijati lehernya. "Mmmm… enak sekali," pikir si siluman.

Karena setiap perkataan, perbuatan, dan pikirian yang baik itu, tubuh siluman itu terus mengecil, berkurang buruknya, berkurang bau dan kekasarannya. Sebelum pengantar pizza datang dengan antarannya, si siluman sudah susut ke ukuran semula ketika pertama kali dia datang dan duduk di singgasana raja. Tetapi para penghuni istana tak berhenti berbuat baik. Segera saja siluman itu menjadi begitu kecilnya sampai sulit untuk dilihat lagi. Lalu, stelah satu lagi perbuatan baik dilakukan, dia benar-benar lenyap tak berbekas.

Kita menyebut monster seperti itu sebagai "siluman pemangsa amarah"

Suatu kali pasangan Anda dapat menjadi "siluman pemangsa amarah". Marahlah kepada mereka, dan mereka akan bertambah parah - tambah jelek, tambah bau, tambah galak kata-katanya. Masalah yang ada menjadi bertambah besar setiap kali Anda marah kepada mereka. Meskipun cuma di dalam pemikiran saja. Barangkali sekarang Anda menyadari kesalahan Anda dan tahu harus berbuat apa.

Rasa sakit adalah "siluman pemangsa amarah" lainnya. Ketika kita berpikir dengan marah, "Hei, sakit! Enyah dari sini! Kau tak diizinkan!" rasa sakit akan tumbuh seinci lebih besar dan lebih parah dengan cara yang berbeda. Memang sulit untuk bersikap baik pada sesuatu yang begitu buruk dan garang seperti rasa sakit, tetapi ada masa-masa dalam hidup kita ketika kita tak punya pilihan lain. Seperti dalam cerita ketika saya sakit gigi, kalau kita menyambut rasa sakit, denga sungguh-sungguh, dengan tulus, rasa sakit akan mejadi lebih kecil, berkuranglah masalahnya, dan suatu ketika akan lenyap sama sekali.

Beberapa jenis kanker adalah "siluman pemangsa amarah", monster yang buruk dan menjijikkan duduk di dalam tubuh kita;
"Singgasana" kita. Lumrah kalau kita berkata, "Enyah dari sini! Kau tak diizinkan!" Ketika satu cara dan lain cara gagal, atau bahkan lebih awal dari itu, semoga kita dapat berkata, "Selamat datang." Beberapa jenis kanker diperparah denga sterss - itulah sebabnya mereka menjadi "siluman pemangsa amarah". Kanker semacam itu tahu diri ketika "raja istana" dengan berani berkata "Kanker, pintu hatiku terbuka penuh untukmu, apa pun yang kamu lakukan. Masuklah"

————————————–
Kutipan dari buku "Membuka Pintu Hati"
Penulis : Ajahn Brahm

habis membacanya dalam hati gue bertekad seperti ini klo hadapin masalah jgn marah-marah kyk siluman, tapi kenapa yah rasanya sulit banget? tetep aja kalah ma emosi

Offline Xcript

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 137
  • Reputasi: 8
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #24 on: 17 March 2009, 02:30:42 PM »
Wah dhammadesana yang bagus... lanjut donk...
Kesembuhan itu datang dari obat yang sangat pahit

Offline Shining Moon

  • Sebelumnya: Yuri-chan, Yuliani Kurniawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.148
  • Reputasi: 131
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #25 on: 21 March 2009, 03:09:19 AM »
Omong-omong soal Ajahn Brahm,
saya dan temen2 punya vcd ajahn brahm 'dealing with emotion' teks indo untuk dibagikan (license bswa.org, teks by bodhi sprout)...harusnya sih per maret ini  udah didistribusiin ke vihara2 di jkt n bbrp daerah. apa ada yang berminat?
 _/\_
Life is beautiful, let's rock and roll..

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #26 on: 21 March 2009, 06:46:42 AM »
boleh di upload utk di share kgk?
There is no place like 127.0.0.1

Offline dery

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 312
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
  • ???????
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #27 on: 21 March 2009, 09:16:30 AM »
ikutan nunggu ni, klo emang boleh diupload... sekalian buat vihara di Pontianak
 _/\_
« Last Edit: 21 March 2009, 09:19:10 AM by dery »

Offline Shining Moon

  • Sebelumnya: Yuri-chan, Yuliani Kurniawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.148
  • Reputasi: 131
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #28 on: 21 March 2009, 05:33:32 PM »
boleh..boleh..tapi gimana caranya ya?jangan marah ya kalao bolot.
vhr di ponti? harusnya ada temen yang udahnsebar ke daerah kalimantan juga.
Life is beautiful, let's rock and roll..

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ajahn Brahm stories
« Reply #29 on: 21 March 2009, 09:10:25 PM »
kalau saya baru dapet video ceramah, ada 2 file. kalau inet lg kenceng gua upload. mau upload lewat mana nih?
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

 

anything