//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu  (Read 14594 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline ajan

  • Teman
  • **
  • Posts: 71
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« on: 01 October 2007, 01:42:27 PM »
Namo Buddhaya,
Halo umat Buddha semuanya, termasuk para bhikkhu juga...

Saya sedang belajar Buddha Dharma nih, saya berlatar belakang kr****n. Ada yang mau saya tanyakan, mohon dijawab ya :

1. Menurut ajaran Buddha apakah manusia, makhluk hidup dan alam semesta ini diciptakan atau tidak ? Kalau dari buku-buku Buddhis yang sudah saya baca, katanya manusia, makhluk hidup dan alam semesta ini tidak diciptakan alias muncul sendiri melalui proses evolusi yang panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang....sekali. Bagaimana dengan sebab yang pertama ? Big Bang pembentuk alam semesta yang pertama, apakah muncul begitu saja tanpa tujuan / tanpa maksud apapun / tidak ada yang menciptakan ?

2. Berikut ini petikan dari buku karangan Corneles Wowor, M.A. yang saya download dari website Samaggiphala tentang konsep Ketuhanan dalam agama Buddha. Sang Buddha mengatakan : "Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma,
Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak.
Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang
Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran,
penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak
Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII :
3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa
dalam bahasa Pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Suatu Yang
Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".
Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat
dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang
Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai
kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Apakah yang dimaksud Sang Buddha dalam pernyataan diatas adalah Sang Pencipta ? Mohon pencerahannya.

3. Berikut ini petikan dari majalah Dawai edisi 47 yang saya download dari website Dhammacitta ini tentang manusia : Siapa makhluk pertama di alam semesta?
Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab.
Sebuah makhluk tercipta dari kondisi-kondisi.
Dalam Samyutta Nikaya II, 178-193 dijelaskan bahwa:
”Tidak dapat dipikirkan akhir roda tumimbal lahir; tidak dapat dipikirkan asal
mula makhluk-makhluk yang karena diliputi oleh ketidaktahuan dan terbelenggu oleh
keinginan rendah (tanhâ) mengembara kesana kemari.
Setelah terbentuknya alam manusia, alam deva, dan alam brahma, beberapa brahma berakhir kehidupannya. Beberapa terlahir di alam brahma yang lebih rendah, ada juga yang terlahir di alam deva, dan ada yang di alam manusia. Manusia pertama terbentuk (muncul) tanpa orang tua. Karena kekuatan kamma, mereka terlahir seketika dan tumbuh
seperti deva pada umumnya. Mereka tidak memiliki jenis kelamin dan tidak memiliki alat kelamin laki-laki atau perempuan.

Apakah dalam pernyataan ini kalau boleh saya artikan bahwa Sang Buddha sendiri tidak mengetahui asal mula manusia / makhluk-makhluk ? Kalau Sang Buddha tidak mengetahui asal mula manusia / makhluk-makhluk tentu tidak berarti bahwa manusia tidak diciptakan bukan ?

Apakah mungkin manusia lahir begitu saja ke dunia ini tanpa diciptakan dan tanpa ada tujuan ?

Apakah mungkin alam semesta ini ada begitu saja tanpa ada yang merancang sedemikian rupa ?

Kesimpulan : Saya setuju kalau dikatakan semua ini terjadi karena proses evolusi yang sangat amat maha panjang sekali. Cuma yang jadi pertanyaan saya adalah mengenai ciptaan mula-mula.

Wah panjang sekali pertanyaannya yah, semoga tidak bosan membacanya.

Anumodana. _/\_

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #1 on: 01 October 2007, 02:42:34 PM »


Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha

Oleh : Corneles Wowor, M.A.

Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain. Sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain. Hal inilah yang menjadi dasar penulisan ini.

Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang : Alam Semesta, Kejadian Bumi dan Manusia, Kehidupan Manusia di Alam Semesta, Kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.

Alam Semesta

Menurut pandangan Buddhis, alam semesta ini luas sekali. Dalam alam semesta terdapat banyak tata surya yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Hal ini diterangkan oleh Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan bhikkhu Ananda dalam Anguttara Nikaya sebagai berikut :

Ananda apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu (tata surya kecil) ? ....... Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu Sineru, seribu jambudipa, seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavidehana ....... Inilah, Ananda, yang dinamakan seribu tata surya kecil (sahassi culanika lokadhatu). *
Ananda, seribu kali sahassi culanika lokadhatu dinamakan "Dvisahassi majjhimanika lokadhatu". Ananda, seribu kali Dvisahassi majjhimanika lokadhatu dinamakan "Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu".
Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat memperdengarkan suara-Nya sampai terdengar di Tisahassi mahasahassi lokadhatu, ataupun melebihi itu lagi.

Sesuai dengan kutipan di atas dalam sebuah Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000 = 1.000.000 tata surya. Sedangkan dalam Tisahassi Mahasahassi lokadhatu terdapat 1.000.000 x 1.000 = 1.000.000.000 tata surya. Alam semesta bukan hanya terbatas pada satu milyard tata surya saja, tetapi masih melampauinya lagi.

Catatan:

    * Buku Peringatan WAISAK 2528/1984 Yayasan Maha Bodhi Indonesia, Jakarta, 1984, hal. 53. Dikutip dari Anguttara Nikaya, Ananda Vagga.
    * Jambudipa adalah belahan bumi bagian selatan.
    * Aparayojana adalah belahan bumi bagian barat.
    * Uttarakuru adalah belahan bumi bagian utara.
    * Pubbavideha adalah belahan bumi bagian timur

Kejadian Bumi dan Manusia

Terjadinya bumi dan manusia merupakan konsep yang unik pula dalam agama Buddha, khususnya tentang manusia pertama yang muncul di bumi kita ini bukanlah hanya seorang atau dua orang, tetapi banyak. Kejadian bumi dan manusia pertama di bumi ini diuraikan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya, Agganna Sutta dan Brahmajala Sutta. Tetapi di bawah ini hanya uraian dari Agganna Sutta yang akan diterangkan.

Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abhassara (alam cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.
Pada waktu itu (bumi kita ini) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, ..... laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk-mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.
Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. Kemudian Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang memiliki sifat serakah (lolajatiko) berkata : 'O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari ..... mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.
Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak ..... siang dan malam ..... terjadi.
Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk ..... maka sari tanah itupun lenyap ..... ketika sari tanah lenyap ..... muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko). Cara tumbuhnya seperti cendawan ..... Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali ..... (seperti di atas). Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul ..... warnanya seperti dadi susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni ..... Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu ..... maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk ..... Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap.

Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap ..... muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, pada keesokkan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indriya yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indriya tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin .........


Catatan:

    *
      Sutta Pitaka, Digha Nikaya. Departemen Agama RI Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha. Proyek Pengadaan Kitab Suci Buddha, 1983, hal. 19 - 22. Kata-kata yang bergaris bawah adalah dari saya.
    *
      Abhassara adalah sebuah alam dari 31 alam kehidupan menurut agama Buddha.
      Untuk ini lihat TABEL Alam-alam kehidupan di bagian akhir dari penulisan ini.
    *
      Kehidupan di alam Abhassara dapat dicapai oleh mereka yang melaksanakan meditasi ketenangan batin (samatha) hingga mencapai tingkat samadhi yang disebut Jhãna II. Bila orang yang telah mencapai tingkat Jhãna II ini meninggal dunia pada waktu ia berada dalam keadaan samadhi pada tingkat Jhãna II, maka ia otomatis akan terlahir kembali sebagai dewa brahma di alam Abhassara.

Kehidupan Manusia di Alam Semesta

Di kalangan masyarakat dan karena pengaruh pandangan atau ajaran dari agama-agama lain, banyak orang menganggap bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya sekali saja. Pandangan ini berbeda sekali dengan agama Buddha, karena dalam Digha Nikaya, Brahmajala Sutta, Sang Buddha menerangkan tentang kehidupan manusia yang telah hidup berulang-ulang kali yang diingat berdasarkan pada kemampuan batin yang dihasilkan oleh meditasi. Sang Buddha mengatakan bahwa:

..... ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya, menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupan yang lampau ..... 1, 2, 3, 4, 5, 10, kali masa bumi berevolusi (bumi terjadi dan bumi hancur, bumi terjadi kembali dan hancur kembali ..... dst.). ..... 20, 30, sampai 40 kali masa bumi berevolusi ..... (tetapi) Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh daripada jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut .....

Telah kita ikuti di atas bahwa menurut pandangan Buddhis, kehidupan atau kelahiran manusia bukan baru sekali saja tetapi telah berulang-ulang kali hidup di bumi ini dan juga hidup di bumi-bumi yang lain. Manusia atau mahluk hidup berpindah-pindah dari sebuah bumi ke bumi yang lain. Perpindahan kehidupan manusia dari sebuah bumi ke bumi yang lain disebabkan karena bumi yang dihuninya telah hancur lebur atau kiamat, maka setelah kematiannya di bumi tersebut ia terlahir di alam Abhassara (alam cahaya). Kelahiran di alam Abhassara ini dapat dicapai oleh orang yang melakukan meditasi ketenangan batin (samatha bhãvana). Alam Abhassara adalah sebuah alam dari 31 alam kehidupan menurut kosmologi alam kehidupan Buddhis. Tentang 31 alam ini lihatlah TABEL ALAM-ALAM KEHIDUPAN. Bila seseorang bermeditasi samatha bhãvana hingga mencapai tingkat Jhãna II, dan kalau orang tersebut meninggal dunia dalam kondisi meditasi pada Jhãna II tersebut maka ia akan terlahir sebagai Brahma di alam Abhassara dan hidup dengan masa usia yang lama sekali.

Dari ke 31 alam, kecuali lima alam Suddhavasa yaitu alam Aviha, Atappa, Sudassa, Sudassi dan Akanittha, adalah alam lokuttara (transenden) tempat kelahiran para Anagami*. Anagami adalah manusia atau mahluk yang telah melenyapkan 5 belenggu (samyojana)** dari 10 belenggu yang mengikat manusia. Anagami adalah manusia atau mahluk suci (ariya pugala) dari empat macam manusia suci menurut agama Buddha, yaitu : Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat. Anagami akan mencapi tingkat kesucian tertinggi (arahat) di salah satu alam Suddhavasa ini, dan ia parinibbana sebagai arahat di alam ini pula.

Manusia pada umumnya telah berulang-ulang kali masuk keluar hidup di 26 alam kehidupan. Kelahiran manusia di salah sebuah alam tergantung pada amal perbuatannya semasa hidupnya di sebuah alam.


Catatan

*) Manusia suci menurut pandangan Buddhis ada empat yaitu :

   1. Sotapanna, orang suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi.
   2. Sakadagami, orang suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi.
   3. Anagami, orang suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah dari lima alam Suddhavasa. Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbana.
   4. Arahat, orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan parinibbana.

**) Ada sepuluh macam belenggu (samyojana) yaitu :

   1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal (sakkaya-ditthi).
   2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga tentang hukum sebab akibat (vicikicchã).
   3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan (silabbata-parãmãsa).
   4. Nafsu indriya (kãma-rãga).
   5. Dendam atau dengki (vyãpãda).
   6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (rüpa-rãga). Alam bentuk (rüpa-rãga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhãna I, Jhãna II, Jhãna III atau Jhãna IV (lihat TABEL).
   7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (arüpa-rãga). Alam tanpa bentuk (arüpa-rãga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Arüpa Jhãna I, Arüpa Jhãna II, Arüpa Jhãna III atau Arüpa Jhãna IV (lihat TABEL).
   8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain (mãna).
   9. Kegelisahan (uddhacca). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).
  10. Kebodohan atau ketidak-tahuan (avijjã).

Sotãpanna telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana),
yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa.

Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana)
yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa dan telah melemahkan belenggu (4) kãma-rãga dan (5) vyãpãda.

Anãgami telah melenyapkan lima belenggu (samyojana)
yaitu (1) sampai dengan (5).
Lima samyojana (1 - 5) dikenal sebagai lima belenggu rendah atau

Orambhãgiya-samyojana.
Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 - 10).

Lima samyojana berikut yaitu samyojana 6 - 10 dikenal pula dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhãgiya-samyojana.
Orambhãgiya-samyojana dan Uddhambhãgiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #2 on: 01 October 2007, 02:54:10 PM »
Setelah Anda membaca posting yang saya ambil dari samaggi-phala.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia pertama menurut versi Buddhism ada banyak sekali, dan awalnya berawal dari makhluk cahaya. Semuanya ada dalam jumlah yang banyak, dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Dalam hal ini terdapat hukum2 yang berperan di dalamnya.


Quote from: Parnibbana Sutta / Udana VIII : 3

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Sang Bhagava sedang mengajar, memberi inspirasi, dan menggembirakan para bhikkhu dengan percakapan mengenai Dhamma yang berhubungan dengan Nibbana dan para bhikkhu dengan keyakinan dan penuh perhatian, mengkonsentrasikan seluruh pikiran, sangat berminat mendengarkan Dhamma.

Kemudian, karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan khotbah inspirasi ini:

O. bhikkhu, ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang mutlak. Jika seandainya saja, O, bhikkhu, tidak ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak-menjelma, tidak tercipta, yang mutlak; maka tiak akan ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, oemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi karena ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak-menjelam, tidak ercipta, yang mutlak; maka ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.


2. Mengenai Kitab Udana, hal tersebut menyatakan mengenai Nibbana. Jadi bisa dikatakan Ketuhanan dalam agama Buddha adalah Nibbana. Ketuhanan itu lebih menyatakan sifat dan tidak seperti konsep agama lain yang mempersonifikasikan Tuhan yang dilengkapi dengan sifat2 seperti Maha Penyayang, Pengasih, Pemberi Maaf, dll dan ada juga Maha yang sifatnya negatif seperti Maha Penyiksa (Baca 99 Sifat Allah dalam versi I****)



« Last Edit: 01 October 2007, 03:00:33 PM by Hedi Kasmanto »
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #3 on: 01 October 2007, 02:58:59 PM »
Sdr. Ajan.

Pertama-tama, saya sangat ber-mudita (ikut merasa bergembira) karena Sdr. Ajan berjodoh dengan Dhamma. Berjodoh dengan ajaran Sang Buddha adalah suatu peristiwa yang sangat langka.

Karena background agama kita hampir mirip dan saya juga baru berkenalan dengan ajaran Dhamma ini sekitar 2 thn yg lewat, jadi sy bisa mengerti sudut pandang Bro. Ajan mengenai penciptaan dan sebab pertama (causa prima).

Karena kita tumbuh dan besar dilingkungan ajaran Samawi, maka KONSEP PIKIRAN kita telah terkontaminasi bahwa: HARUS ADA SEBAB PERTAMA. Sebenarnya konsep ini lebih tidak masuk akal dibandingkan TIDAK HARUS ADA SEBAB PERTAMA (TIDAK TERPIKIRKAN). Sebab jika harus ada penyebab pertama, harus ada pula penyebab dari penyebab pertama tsb... ini logikanya kan? Dan logika ini akan sangat membingungkan kita sendiri.

Untuk gampangnya dapat dianalogikan sbb:
~ ANGKA-ANGKA
Bayangkan sebuah garis bilangan di kiri minus di kanan bilangan plus dan dit engah2 nol. Apakah ada angka yg terbesar atau angka yg terkecil? Tentu tidak ada. Angka yg terbesar / angka yg terkecil TIDAK TERBAYANGKAN

~  MATERI
Apakah materi / benda yg terbesar / terkecil? Yg terbesar adalah galaksi? Alam semesta / Di luar alam semesta? TIDAK TERBAYANGKAN. Yang terkecil adalah atom? Atau inti atom? Atau Quark? atau Inti Quark? TIDAK TERBAYANGKAN.

Demikianlah, sudah menjadi fenomena umum di kehidupan ini bahwa tidak ada sesuatupun yg harus ada penyebab pertamanya. Tidak harus ada awal dan akhir. Konsep pikiran kitalah yg menganggap harus ada.

Dan juga, tidak ada Sang Pencipta didalam ajaran Buddha. Pencipta sebenarnya adalah pikiran kita sendiri, perbuatan kita sendiri, karma kita sendiri.

Ajaran Buddha adalah ajaran yg membutuhkan perenungan.

Dan juga ajaran Buddha adalah ajaran yg mengajak kita untuk membuktikan sendiri didalam kehidupan kita sehari-hari.

::



« Last Edit: 01 October 2007, 03:01:17 PM by willibordus »
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.435
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #4 on: 01 October 2007, 06:48:07 PM »
Di dalam Buddhisme memang tidak dikenal penyebab utama (causa prima). Dengan kata lain, sesuatu terjadi karena banyak kondisi yang membuatnya terjadi (bukan hanya 1 sebab utama).

Ilustrasi: "kita sekarang bisa makan nasi di rumah makan", apa sebabnya?
Jika ingin dibuat daftarnya bisa banyak sekali sebabnya, antara lain:
1. kita datang ke rumah makan pada saat yang tepat
2. kita memesan nasi
3. kita punya uang untuk beli nasi
4. rumah makan itu menjual nasi
5. dst..

1. Jika ingin ditelusuri lagi, "kita datang ke rumah makan pada saat yang tepat", karena:
a. kita dapat bergerak menuju rumah makan, ini karena: kita bisa jalan kaki / naik motor / mobil, dst..
b. waktunya tepat yaitu pada saat rumah makannya buka (bukan jam 1 pagi, misalnya ;D )
c. dst..

2. Jika ingin ditelusuri lagi, "kita memesan nasi", karena:
a. kita bisa berkomunikasi dengan pemilik rumah makan, ini karena: kita bicara bahasa yang sama
b. kita memang berniat makan nasi (bukan berniat makan lontong ;D )
c. dst..

3. Jika ingin ditelusuri lagi, "kita punya uang untuk beli nasi", karena:
a. kita bekerja maka punya uang, ini karena kita punya kemampuan untuk bekerja
b. kita mampu mengelola uang (bukan besar pasak daripada tiang ;D )
c. dst..

4. Jika ingin ditelusuri lagi, "rumah makan itu menjual nasi", karena:
a. pemilik rumah makan tahu bahwa nasi itu makanan pokok (bukan roti atau sagu ;D )
b. persediaan beras masih ada
c. dst..

Dan kalau masih mau ditelusuri lagi maka penyebab dari penyebab dari penyebab dari penyebab itu masih sangat banyak dan kompleks.. Tiada habisnya jika "dst-dst" itu mau dijabarkan lebih lanjut..

Jadi, di dalam Buddhisme tidak dikenal penyebab utama / pertama. Yang ada adalah perpaduan dari banyak unsur. Karena itu, tidak perlu dicari-cari ya. Nanti stres lho..  :)
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #5 on: 01 October 2007, 09:16:43 PM »
Ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak.
---
Hukum Kekekalan Energi
energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan dan hanya dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain
---

Menilik dua wacana diatas, maka...
Apakah Sesuatu ?

Offline Kokuzo

  • Sebelumnya 7th
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.090
  • Reputasi: 30
  • Gender: Male
  • ... running in karma ...
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #6 on: 01 October 2007, 09:51:34 PM »
Banyak yang terjebak di isi sutta itu yah...  :whistle:

Dimanakah api sebelum korek api digesekkan?

Offline cowcool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 132
  • Reputasi: 7
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #7 on: 01 October 2007, 10:31:41 PM »
”Tidak dapat dipikirkan akhir roda tumimbal lahir; tidak dapat dipikirkan asal
mula makhluk-makhluk yang karena diliputi oleh ketidaktahuan dan terbelenggu oleh
keinginan rendah (tanhâ) mengembara kesana kemari.

Mengenai masalah ini tidak perlu dicoba dipecahkan oleh logika ... karena tidak mungkin logika bisa menembus soal ini. Untuk memahami ini harus sudah menembus logika ...... segala macam spekulasi di jamin salah guaranteed. Malahan jadi stress......

Jawaban tepatnya terletak di non - duality sedangkan setiap pemikiran adalah produk  dualitas jadi tak mungkin pernah bisa connect.

Jawabannya baru bisa diketahui sesudah kita melampaui dualitas, sudah tidak berpikir . Sudah tercerahkan.

Setiap kegiatan berpikir membutuhkan waktu, sedangkan jawabannya adalah sesuatu yang sudah melampaui ruang dan waktu.

Itulah gunanya meditasi ... mencapai kondisi tidak berpikir sama sekali selama meditasi melainkan hanya mengamati (vipassana bhavana) dan konsentrasi (samatha bhavana)
ShoeDistro.com
Depotkantor.com

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #8 on: 02 October 2007, 08:05:53 AM »
Nah sudah banyak penjelasan dari kawan2...
Anumodana.

Ngomong2 si pembuat pertanyaan, Bro Ajan, kemana yah?
Kira-kira fren kita itu udah paham belom ya?

::

Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline ajan

  • Teman
  • **
  • Posts: 71
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #9 on: 03 October 2007, 09:45:35 AM »
Anumodana, terima kasih, xie-xie, kamsia deh banyak-banyak buat Bro Hedi Kasmanto, Willibordus, Lex Chan, Kemenyan, 7th, Cowcool serta buat pengelola situs ini yang udah memfasilitasi dan menjawab kebingungan saya. ^:)^
Penjelasan kalian masuk akal juga.
Kalau mau belajar dhamma lebih lanjut ke mana yah ? Kalau bisa yang lokasinya gak jauh-jauh amat dari lokasi rumah saya di kemayoran. Jangan di Bogor gitu loh.
Anumodana   _/\_

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #10 on: 03 October 2007, 09:50:00 AM »
Biasanya kalau belajar Dhamma di vihara, harus pada sesi diskusi dan tanya jawab baru lebih mengena. Mean while, teruslah posting pertanyaan yang diragukan dan tidak dimengerti disini. Pasti akan dibantu.

Kalaua mau bisa ke gunung sahari bareng bro gunasaro, bro markos, sis lily atau bro rendy (cocktail), cukup dekat dari kemayoran juga.
There is no place like 127.0.0.1

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #11 on: 03 October 2007, 10:46:58 AM »
Bro Ajan,

Saya berdomisili di Padang.
Banyak mempelajari Dhamma dari buku2 dan media internet serta diskusi dgn kawan2 di milis.

Kalau ke Jakarta, jika kondisinya pas, sy akan bergabung dengan teman2 Buddhist untuk mengikuti kelas Abhidhamma. Kelas ini mengajarkan tentang fenomena bathin kita secara lebih mendetail. Jika mengerti, kita akan dapat lebih awas mengamati pikiran2 yg timbul, serta dapat menghambat pikiran2 negatif.

Saya sarankan untuk mengikuti kelas tsb setiap hari Sabtu. Lokasi ada 3:
~ Di Gunung Sahari
~ Di Pluit
~ Di Bogor

Saya merasakan manfaatnya, karena itu sy menyarankannya kepada anda. Di kelas tsb jugha banyak diikuti oleh peserta dari agama lain seperti: ka****k, kr****n dan islam. Kelas gratis dan suasananya santai aja, seperti berkumpul dengan teman2, mungkin sekitar 15 orang (GS) dan di Pluit 50 orang, bogor 10 orang

Untuk mengatur jadual, silahkan mengontak:
~ Lily_warsiti [at] yahoo.com.sg
~ Gunasaro [at] xl.blackberry.com
~ markos [at] apol.co.id
~ ratna [at] prompt-research.com

ato ke moderator juga bisa, karena pak moderator biasa keep contact dengan mereka.  :)

 _/\_
::


Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline El Sol

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.753
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #12 on: 03 October 2007, 11:09:21 AM »
banyak juga yak yg dari Karesten jadi Buddhist...  ;D

untung di Buddhisme gk ada kesaksian... :))

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #13 on: 03 October 2007, 11:16:18 AM »
Bro ajan yang baik....

Diskusi Abhidhamma ada 3 sesi :
1. Jl. Belitung No. 1 Bogor ( Dekat stasiun Baranangsiang ) jam 07.30-09.00
2. Jl. Gunung Sahari I no. 37-38 Jakarta ( sebelum stasiun senin ) jam 10.30-12.00
3. VPDS (Vihara Pluit Dhamma Sukha) Jl. Pulit Permai Jakarta Utara jam 14.00-17.00

Bro ajan tinggal pilih mau ikut sesi yg mana sesuai dg kondisi Bro...

Btw....Kemayoran dekat dengan gunung sahari ya???

Oh ya...Kalo mau ikut yg di bogor...Bro bisa contact Bro Rendy ato Bro Gunasaro....biasa mereka kumpul jam 06.00 di delicius hayam wuruk.

Kebetulan sabtu ini ( 06 Okt ) ini ada jadwal diskusi abhidhamma.... kami tunggu kedatanganmu....

Have a nice day....

 _/\_  :lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: tanya tentang penciptaan / awal mula segala sesuatu
« Reply #14 on: 03 October 2007, 11:21:34 AM »
banyak juga yak yg dari Karesten jadi Buddhist...  ;D

Di kelas abhidhamma ( 3 sesi ) itu, yg ikut bukan hanya buddhist .... salah satunya ada yg calon pastor lho....

Itulah indahnya Dhamma....


 _/\_   :lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are