Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Koeksistensi di sebuah kampung global  (Read 2065 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Koeksistensi di sebuah kampung global
« on: 24 November 2008, 07:28:08 PM »
Koeksistensi di sebuah kampung global
Oleh : Professor Cheng Chen Huang *
Alih Bahasa : Junarto M. Ifah

Dari semua filosofi Buddhis, filosofi Hua Yen dari Sutra Avatamsaka adalah yang paling dalam. [Filosofi] ini adalah ringkasan paling pamungkas dari pemikiran Buddhis. [Filosofi] ini mencoba menggambarkan seluruh jagad raya di dalam satu sikap ‘total menyeluruh, saling-penetrasi dan keberadaan bersama [All inclusive, inter-penetrating and inter-being]. Tetapi ini tidak dapat [sepenuhnya] dijelaskan. Ini tidak dapat disampaikan melalui bahasa atau simbol-simbol apapun. Ini kondisi dari pengalaman langsung sebagai realiasi ke-Buddha-an. Jika kita masih terperangkap di dalam pola pemikiran manusia biasa, kita tidak akan mampu memahami esensi dari filosofi pemikiran Hua Yen.

Di dalam Sutra Avatamsaka, dikatakan bahwa, nun jauh di sana. Di tempat kediaman Dewa Agung bernama Sakra, ada sebuah jaring yang menakjubkan yang dibentang disana oleh seorang perancang yang licik. Jaring itu menebar tak terhingga ke seluruh mata penjuru. Sesuai dengan selera mewah para dewa-dewi, perancang itu juga menggantungkan permata yang berkilau di setiap mata jaring yang, karena jaring itu sendiri tak berhingga dimensinya, jumlahnya juga menjadi banyak tak terhingga.

Di sana, permata-permata itu tergantung, berkilau seperti bintang-bintang order pertama, menjadi pemandangan yang menakjubkan untuk dinikmati. Jika kita, sekarang, secara acak, memilih satu permata untuk diinspeksi, dan melihatnya secara teliti, kita akan menemukan bahwa di permukaan permatanya yang bersih, direfleksikan semua permata tak terhingga banyaknya, yang tergantung di jaring tersebut. Dan, setiap permata yang direfleksikan di satu permata ini juga direfleksikan di semua permata yang lain. Sehingga di sana terjadi sebuah proses refleksi menakjubkan yang tak berhingga banyaknya.

Ini menyimbolkan dunia kita dimana setiap mahkluk hidup dan fenomena saling berhubungan [inter-related] satu sama lain. Sebagai contohnya, anda dapat memandang semua jagad raya dari sebutir beras yang kecil. Udara, air, cahaya matahari, sawah, kerja keras para petani dan pedagang beras semuanya tercakup di setiap butir beras yang kecil.

Ini adalah visi alam semesta yang dialami oleh mereka yang telah cerah sempurna. Hanya para Buddha yang bisa memahami hakikat koeksistensi dan totalitas dari ‘semua di dalam satu dan satu di dalam semua’

Hari ini, dunia telah ‘susut’. Karena kemajuan di teknologi informasi seperti internet, seluruh dunia bergerak bersama menuju ke arah satu kampung global. Dari pemikiran Buddhis, dunia ini akan menyadari dirinya sebagai bekerjanya hukum totalitas Hua Yen yang mencakup semua [all-inclusive and all-embracing]. Anda tidak dapat memisahkan satu dari yang lain karena kita semua berada di dalam totalitas ini.

Ini berarti, diri saya ada dalam dirimu dan anda ada di dalam diri saya. Adalah karena keberadaan anda sekalian maka saya ada di sini. Adalah bukan hanya karena keberadaan eksistensi kekinian dan fenomena [yang menyebabkan] saya ada di sini. Adalah juga karena keberadaan mahkluk lain di masa lampau maka saya ada di sini.

Fenomena yang tak terlihat ini juga memberi kontribusi kepada keberadaan saya di sini. Ini adalah arti dari totalitas. Totalitas juga berarti tidak ada perbedaan antara ‘besar’ atau ‘kecil’, ‘satu’ atau ‘semua’, ‘terang’ atau ‘gelap’.

Tetapi kita manusia [suka] bersikap diskriminatif. Kita suka membedakan diri kita dari yang lain. Kita menempel pada diri kita, ego kecil kita. Karena kebodohan kita, kita melekat pada konsep ‘atman’ (diri yang tetap) atau entitas individu. Adalah karena kemelekatan kepada ego dan konsep atman, maka kita terperangkap di dalam siklus samsara, mengalami kelahiran lagi dan lagi. Kita tidak bahagia karena kita menderita tanpa akhir karena kemelekaran ego kita yang disebabkan oleh kebodohan kita.

Dengan demikian, memahami totalitas adalah melampaui pemahaman orang biasa. Kita beroperasi di sebuah dunia akan keteraturan eksplisit dimana kita menangkap dan menginterpretasi segalanya dengan sebuah pikiran yang membeda-bedakan sehingga setiap fenomena kelihatan terpisah dan berbeda. Pada saat kita memberi label kepada segala sesuatunya, di sana muncul pengalaman suka dan tidak suka terhadap yang lain. Pada saat kita bertemu dengan sesuatu atau seseorang yang kita suka, kita melekat kepadanya. Tetapi pada saat kita berjumpa pada sesuatu atau seseorang yang kita tak sukai, kebencian dan penolakan muncul di dalam pikiran kita. Kita kemudian ‘bertarung’ melawan orang atau fenomena yang tidak kita sukai dan terjadilah penderitaan.

Tetapi melalui latihan konstan akan Enam Paramita (Penyempurnaan akan Dana, Moralitas, Kesabaran, Usaha, Konsentrasi dan Kebijaksanaan), kita memahami bahwa segala sesuatu memiliki esensi identik dan berbagi prinsip yang sama.

Menurut Buddha, sebenarnya tidak ada perbedaan antara segala sesuatu - tidak ada perbedaan antara ‘putih’ dan ‘merah’, ‘kecil’ dan ‘besar’ - karena semua fenomena ini berbagi azas dan totalitas yang sama, yang tiada lain adalah ‘Sunyata’, yang berarti ‘kosong’ dari eksistensi diri yang terpisah dan kekal.

Sang ‘aku’ atau ‘diri’ tidaklah eksis. Kenyataannya, kita tidak eksis secara [bebas] independen dari yang lain. Setiap mahkluk dan fenomena adalah ‘saling bergantungan’ dan berhubungan. Kekosongan akan hakikat diri sebenarnya adalah [identik] dengan prinsip muncul-lenyap saling bergantungan dari segala sesuatu.

Sebuah fenomena muncul karena koeksistensi harmonis dari berbagai kondisi yang tak terhitung. Walaupun kita bisa mengkategorikan kondisi-kondisi itu sebagai kondisi ‘akar’ (kondisi yang diperlukan agar sesuatu dapat menjelma, contohnya: sebutir bibit) dan ‘kondisi eksistensial’ (seperti air, cahaya matahari dan tanah yang memungkinkan bibit tersebut tumbuh), kita semua berbagi prinsip yang sama akan kesunyataan – kita semua kosong dari entitas yang tetap. Ini adalah jalan bagaimana kita dapat berkoeksis secara damai di sini.

Oleh karenanya semua fenomena tidaklah menghalangi satu sama lain, karena kita semua berada dalam satu keluarga ‘totalitas’ dan ‘keberadaan berinteraksi’. Ini adalah kebenaran fundamental. Pada saat seseorang mampu memahami ini, semua akan damai. Dunia akan eksis secara harmonis karena setiap orang akan mampu menerima perbedaan satu sama lain dan mencakup semuanya dengan welas asih dan pemahaman.

Professor Cheng adalah guru Buddhis yang dikenal yang telah memberikan banyak ceramah Dharma, workshops dan retreat meditasi di Taiwan, Amerika dan Asia Tenggara. Dikenal akan pemahamannya dalam filosofi dan praktik Buddhis, Ia telah menerbitkan lebih dari 500 artikel dan 20 buku tentang Buddhisme. Beberapa di antaranya termasuk versi terjemahan Chinese dari ‘Tibetan Book of Living and Dying’; ‘Consciousness at Crossroads’; ‘Anapanasati’, ‘Zen in The Martial Arts’, ‘Beginning to See’; ‘Mind Like Fire Unbound’.


(*) Professor Cheng Chen Huang adalah seorang cendekiawan dan praktisi Buddhis yang dikenal. Beliau bercerita kepada kita mengapa kita semua ber-inter-relasi berdasarkan filosofi Hua Yen yang diajarkan Sang Buddha 2500 tahun yang lalu.


Sumber : Dharma Manggala, Buletin Maya Indonesia Edisi Febuari 2006
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]