Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Aliran Maitreya  (Read 117624 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Yong_Cheng

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 280
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Aliran Maitreya
« Reply #60 on: 10 December 2008, 12:10:55 PM »
Quote
orang2 aliran maitreya justru tidak menganggap alirannya itu agama. mereka menganggap aliran maitreya adalah tao (kebenaran). makanya semua konsep spiritual diembat, alias mencari 'pembenaran' yg ada di semua agama. semuanya disimpulkan bahwa tai shang lao jun, kong hu chu, buddha sakyamuni, dewi kwan im, kwan kong, chi kong, yesus, muhammad, dan orang2 besar spiritual lainnya adalah utusan dari laomu (tuhan / tapi konsepnya sebagai ibunda - wanita!)...

Wah Borongan nich Lao Mu...... Masa semuanya di jadikan satu Kayak Gado-gado dong..... Apakah Laomu = Allah ...... ?  Semakin membinggungkan Nich Ajaran........  =)) Banyak Konsep yang dibuat-buat dan terkesan sangat NGAWUR...... :-? Apakah Ajarannya mengantarkan kita kepada pengikisan LDM ? Kalao tidak ada Mereka tidak tahu malu mengaku sebagai Buddhist..... =))
ya memang tidak tahu malu terlebih lagi ada umat yang mengaku buddhist tetapi tetap memelihara LDM aneh2 saja ya hihi ^:)^ ^:)^
Perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah kaki

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Aliran Maitreya
« Reply #61 on: 10 December 2008, 12:12:26 PM »
tetapi dari sudut pandang buddhis
aliran ini membutakan jalan menuju nibbana.....(semangat buddha selama mencari dhamma kebenaran dan tujuan tertinggi)

Yang tercerahkan kah anda?
i'm just a mammal with troubled soul



Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Aliran Maitreya
« Reply #62 on: 10 December 2008, 12:12:54 PM »
Quote
orang2 aliran maitreya justru tidak menganggap alirannya itu agama. mereka menganggap aliran maitreya adalah tao (kebenaran). makanya semua konsep spiritual diembat, alias mencari 'pembenaran' yg ada di semua agama. semuanya disimpulkan bahwa tai shang lao jun, kong hu chu, buddha sakyamuni, dewi kwan im, kwan kong, chi kong, yesus, muhammad, dan orang2 besar spiritual lainnya adalah utusan dari laomu (tuhan / tapi konsepnya sebagai ibunda - wanita!)...

Wah Borongan nich Lao Mu...... Masa semuanya di jadikan satu Kayak Gado-gado dong..... Apakah Laomu = Allah ...... ?  Semakin membinggungkan Nich Ajaran........  =)) Banyak Konsep yang dibuat-buat dan terkesan sangat NGAWUR...... :-? Apakah Ajarannya mengantarkan kita kepada pengikisan LDM ? Kalao tidak ada Mereka tidak tahu malu mengaku sebagai Buddhist..... =))
ya memang tidak tahu malu terlebih lagi ada umat yang mengaku buddhist tetapi tetap memelihara LDM aneh2 saja ya hihi ^:)^ ^:)^

Lah anda sendiri barusan ???
i'm just a mammal with troubled soul



Offline Yong_Cheng

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 280
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Aliran Maitreya
« Reply #63 on: 10 December 2008, 12:14:45 PM »
Quote
orang2 aliran maitreya justru tidak menganggap alirannya itu agama. mereka menganggap aliran maitreya adalah tao (kebenaran). makanya semua konsep spiritual diembat, alias mencari 'pembenaran' yg ada di semua agama. semuanya disimpulkan bahwa tai shang lao jun, kong hu chu, buddha sakyamuni, dewi kwan im, kwan kong, chi kong, yesus, muhammad, dan orang2 besar spiritual lainnya adalah utusan dari laomu (tuhan / tapi konsepnya sebagai ibunda - wanita!)...

Wah Borongan nich Lao Mu...... Masa semuanya di jadikan satu Kayak Gado-gado dong..... Apakah Laomu = Allah ...... ?  Semakin membinggungkan Nich Ajaran........  =)) Banyak Konsep yang dibuat-buat dan terkesan sangat NGAWUR...... :-? Apakah Ajarannya mengantarkan kita kepada pengikisan LDM ? Kalao tidak ada Mereka tidak tahu malu mengaku sebagai Buddhist..... =))
ya memang tidak tahu malu terlebih lagi ada umat yang mengaku buddhist tetapi tetap memelihara LDM aneh2 saja ya hihi ^:)^ ^:)^

Lah anda sendiri barusan ???

hihi saya bukan buddhist
Perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah kaki

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Aliran Maitreya
« Reply #64 on: 10 December 2008, 12:16:00 PM »
hihi saya bukan buddhist

loh kok u know?
i'm just a mammal with troubled soul



Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Aliran Maitreya
« Reply #65 on: 10 December 2008, 12:17:06 PM »
Quote
orang2 aliran maitreya justru tidak menganggap alirannya itu agama. mereka menganggap aliran maitreya adalah tao (kebenaran). makanya semua konsep spiritual diembat, alias mencari 'pembenaran' yg ada di semua agama. semuanya disimpulkan bahwa tai shang lao jun, kong hu chu, buddha sakyamuni, dewi kwan im, kwan kong, chi kong, yesus, muhammad, dan orang2 besar spiritual lainnya adalah utusan dari laomu (tuhan / tapi konsepnya sebagai ibunda - wanita!)...

Wah Borongan nich Lao Mu...... Masa semuanya di jadikan satu Kayak Gado-gado dong..... Apakah Laomu = Allah ...... ?  Semakin membinggungkan Nich Ajaran........  =)) Banyak Konsep yang dibuat-buat dan terkesan sangat NGAWUR...... :-? Apakah Ajarannya mengantarkan kita kepada pengikisan LDM ? Kalao tidak ada Mereka tidak tahu malu mengaku sebagai Buddhist..... =))
ya memang tidak tahu malu terlebih lagi ada umat yang mengaku buddhist tetapi tetap memelihara LDM aneh2 saja ya hihi ^:)^ ^:)^

Lah anda sendiri barusan ???

hihi saya bukan buddhist

^^^ salah satu anggota Maitreya ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Aliran Maitreya
« Reply #66 on: 10 December 2008, 12:18:04 PM »
Lah, emang ada yang udah terbebas dari LDM?

Sesama yang melekat pada LDM gak etis kalau saling menuduh.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Reenzia

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.199
  • Reputasi: 50
  • Gender: Female
  • The Wisdom ~
Re: Aliran Maitreya
« Reply #67 on: 10 December 2008, 12:19:32 PM »
benar kata niar, pemahaman memang sangat penting
tapi praktek juga gak kalah penting

bedanya:
org yg 'sadar' dan bisa praktek = nibbana
org yg 'sadar'[walaupun gk full tp terus berusaha sadar] dan gk bisa praktek = gak nyampe nibbana sampe dia praktek
org yg 'sadar'[walaupun gk full tp terus berusaha sadar] dan bisa praktek = calon nibbana

orang yg gak 'sadar' dan bisa praktek = nda nyampe-nyampe nibbana karena pemahamannya gk total, jd praktekpun gk bs total mengenai dhamma, contohnya bisa mencapai nibbana tanpa meninggalkan keduniawian
orang yg gak 'sadar' dan gak bisa praktek = swt bgt deh


Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Aliran Maitreya
« Reply #68 on: 10 December 2008, 12:21:47 PM »
 [at] All

salah satu guru besar kita (kita?? g aja kalee u gak) Sang Buddha sudah mengajarkan kita untuk Ber Ehipassiko. dan juga dalam kalama sutta sudah diterangkan cara2 berehipassiko.

Apakah anda anda sendiri menyesatkan pandangan orang lain dengan sudah berehipassiko??

apakah anda sudah dapat membuktikan apa yang sesat dalam pandangan tersebut sesuai dari kalama sutta??
i'm just a mammal with troubled soul



Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Aliran Maitreya
« Reply #69 on: 10 December 2008, 12:23:43 PM »
 [at] All

saat sang Buddha berguru dengan banyak guru. apakah beliau menyesatkan pandangan guru sebelumnya?? apakah beliau menyesatkan pandangan guru yg akan datang??

saat beliau mengetahui kekeliruan suatu ajaran apakan beliau tidak berehipassiko dulu??
i'm just a mammal with troubled soul



Offline Yong_Cheng

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 280
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Aliran Maitreya
« Reply #70 on: 10 December 2008, 12:30:59 PM »
Lah, emang ada yang udah terbebas dari LDM?

Sesama yang melekat pada LDM gak etis kalau saling menuduh.
ampun om karuna ^:)^ ^:)^
mengikis LDM berarti kan harus ada niat/usaha untuk mengurangi sedikit demi sedikit.... bukan malah menambah gitu loh
Perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah kaki

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Aliran Maitreya
« Reply #71 on: 10 December 2008, 05:08:37 PM »
tetapi dari sudut pandang buddhis
aliran ini membutakan jalan menuju nibbana.....(semangat buddha selama mencari dhamma kebenaran dan tujuan tertinggi)

Yang tercerahkan kah anda?
sy bukanlah yang tercerahkan ^:)^......saya hanya manusia biasa yang sedang belajar. ;D
saya perjelas kata-kata saya....

ketika buddha menyatakan tujuan tertinggi adalah nibbana
di satu sisi ajaran Kris**n menyatakan tujuan tertinggi adalah masuk surga....

jika di pandang dari sudut buddhis tentu YE**S membutakan jalan ke nibbana.
demikian sebalik nya jika sang buddha gotama dipandang dari sudut Kris**n...yakni membutakan jalan menuju surga/bersama-sama TUHAN.

tercerahkan?
ketika merasa tercerahkan maka sesungguh nya kita terbodohkan....ketika kita merasa terbodohkan maka sesungguh nya adalah kebutaan.
tidak terjerat dari tercerahkan dan terbodohkan adalah kedamaian. :lotus:

nah bagaimana jika pandangan ini bersatu? tentu menyatukan air dan minyak adalah mustahil
demikian lah pandangan buddhism dengan pandangan maitreya....tidak akan bisa bersatu tetapi hanya bisa di satu wadahkan...entah itu gelas,baskom,dsb-nya kata kiasan nya adalah bumi,indonesia,forum.

jika membahas suatu aliran....tentu bukan berarti menghina aliran tersebut..(ini paling sering di salah artikan)
saya ambil contoh dari forum lain............
ketika suatu media cetak melakukan jajak pendapat tentang kinerja SBY..
ada yang mengatakan SBY tidak becus,,Cara SBY salah, SBY salah mengambil keputusan..

apakah bisa dikatakan Menghina SBY?..apalagi dikatakan didasari KEBENCIAN?
apakah harus dikatakan kinerja SBY baik, memuaskan...apa bisa dikatakan didasari cinta kasih jika berkata demikian?
ketika seseorang berbicara "ini benar" "ini salah" belum tentu didasari kebencian maupun cinta kasih.
hanya pikiran kita lah yang kadang menyesatkan.
waspadalah akan pikiran

sang buddha sering mengatakan "orang dungu" atau "orang bodoh" apa sang buddha membenci orang tersebut?
bukan demikian cara memandang LDM.... [-X
sungguh suatu pandangan keliru amat dalam jika seperti itu.

semoga semua makhluk berbahagia... _/\_
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Aliran Maitreya
« Reply #72 on: 10 December 2008, 05:32:53 PM »
 [at] mercedes

Kenapa para Buddha memberikan jalan ke nibbana setelah mereka mendapat "Pencerahan"?
kenapa tidak sebelumnya?
i'm just a mammal with troubled soul



Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Aliran Maitreya
« Reply #73 on: 10 December 2008, 05:35:54 PM »
 [at] mercedes

Kenapa petapa Gotama, malah ikut menyiksa diri bersama lima pertapa?

Kenapa petapa Gotama, saat tahu bahwa "menyiksa diri" adalah tidak berguna, beliau tidak memberitahukan kepada lima pertapa?

Kenapa Buddha Gotama saat tahu jalan tengah(nibbana), beliau memberitakan kepada lima pertapa?
i'm just a mammal with troubled soul



Offline Johsun

  • Sebelumnya Jhonson
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.503
  • Reputasi: -3
  • Gender: Male
  • ??
Re: Aliran Maitreya
« Reply #74 on: 10 December 2008, 09:03:36 PM »

Imani, Buddhist to Islam
By hotarticle | November 18, 2007


Dua minggu menjelang Ramadhan, the Islamic Forum seperti biasanya, padat dengan peserta dialog. Sebagian besar memang adalah para muallaf dan non Muslim yang sudah beberapa bulan belajar Islam. Salah satu dari non Muslim itu adalah seorang gadis, hampir saja kusangka gadis Aceh atau Bangladesh. Wajah dan postur tubuhnya nampak jauh lebih muda dari umurnya yang ke 23. Sangat pendiam dan sopan, tapi sangat kritis dalam mempertanyakan banyak hal. Hari itu saya memang menjelaskan makna-makna spiritual dari ibadah puasa. Penjelasan saya terkonsentrasi pada kata “taqwa” yang didetailkan kemudian oleh S. Ali Imran:


“Dan bersegeralah ke magfirah Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu yang senantiasa memberi, baik dalam keadaan senang maupun susah, menahan marah dan memaafkan manusia. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan orang-orang yang jika melakukan kekejian atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah dan mereka memohon ampunan dariNya atas dosa-dosa mereka…dst”.

Siang itu penjelasan saya memang banyak berkisar pada makna “takwa” dalam konteks “ihsan”. Bahwa membangun ketakwaan tidak sekedar dilakukan lewat pendekatan formal hukum tapi yang menjadi inti sesungguhnya adalah kemampuan membangun “relasi spiritual” dengan Ilahi. Simbol keberagamaan (aspek-aspek formal agama) tidak menjamin ketinggian keberagamaan (religiusitas) seseorang. Tapi banyak ditentukan oleh, selain benar secara hukum formal, juga benar secara batin. Biasanya hukum formal ini terkait erat dengan masalah-masalah fiqhiyah, dan hukum batin ini terkait dengan kesadaran jiwa di saat melakukan penghambaan (ibadah).

Tanpa terasa penjelasan itu memakan waktu lebih 1 ½ jam. Sebagaimana biasa, saya kemudian memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan komentar.

Beragam pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. “Nampaknya, Islam dan agama-agama lainnya tidak jauh berbeda”, komentar salah seorang peserta non Muslim. “I used to think that Islam is all about laws, do this, don’t do that…etc.” komentar yang lain.

Seorang gadis yang ada di ruangan itu, yang sejak awal diam dan juga jarang memperlihatkan senyum, tiba-tiba angkat suara. Suaranya pelan dan hampir tidak kedengaran. “Do you believe in the incarnation?”, tanyanya lembut. “Before I respond to your question, can you explain to me, what do you know about the incarnation?” kata saya.

Dia kemudian berbicara cukup panjang mengenai konsep inkarnasi dalam pandangan agama Budha. Penjelasannya cukup menarik, dan terkadang dibumbui pula dengan argumentasi rasional. Oleh karena tidak ada yang menyangka kalau gadis itu beragama Budha, hampir semua terheran-heran di saat dia mengatakan “in my belief…Buddhism”. Saya pun memotong langsung dan bertanya: “Sister, may I ask you a personal question?”. “Yes sir!” jawabnya. “Are you a Buddhist?”, tanya saya. “Yes sir. My mom is a strong follower of Buddhism, but my dad doesn’t really care about religion”, jawabnya.

Dia memang nampak canggung menjawab pertanyaan itu. Tapi nampaknya pula bahwa dia adalah seseorang yang berani. “So, when we talk about religion, what do you mean by that word (religion)?”, pancingku. “I really don’t know. But as far as I know, we Buddhists neither we believe in religion nor in god”, jelasnya. “So in what do you have faith?”, tanyaku lagi. “Basically the center of our faith is in the nature itself. And we the people are the center of the nature”, katanya lagi.

Saya tiba-tiba teringat dengan Kumar, seorang pemuda Bangladesh beragama Budha yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya juga tiba-tiba teringat dengan Nagakawa, seorang pendeta Budha yang seringkali saya temui dalam beberapa pertemuan antar-agama (interfaith) . Terbayang kegalauan mereka dalam melihat makna kehidupan ini. Mereka tidak tahu asal, dan juga tidak sadar ke mana mereka berjalan. Pencarian spiritualitas mereka hanya sebatas “pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat”. Inilah yang menjadikan Dalai Lama menjadi sangat populer di AS, tentu juga karena ada kepentingan politik Amerika terhadap China.

“Let me ask you a question”, saya memulai diskuis itu lagi. Dia mengangguk. “Do you pray or supplicate?”, tanya saya. “Yes, in fact my mother pray every day at home”, jelasnya. “Now, here is the point”, kata saya. “If you believe in the nature, worship the nature, and you are the most important part that nature, to whom do you address your prayers or supplications?”

Dia mulai tersenyum sambil menengok ke teman-teman lain yang ikut tersenyum ketika itu. “I don’t know. But as I heard, we pray towards the nature itself. According to Buddhism, this nature has power”, jelasnya. “But if you are an important part of this nature, and in fact you yourself the center of that nature, then basically you pray to your own self!”, jelas saya. “And if so, what is the point of asking to your own self? Iif you have that power, then what is the need to ask?”, tanya saya.

Para peserta nampak tertawa mendengarkan pertanyaan-pertanya an saya tersebut. Sementara sang gadis itu nampak bingung dan hanya tersenyum mendengarkan semua itu. “Sister, in our religion God is the center of all issues”, lanjutku. Saya kemudian berusaha menjelaskan bahwa agama itu bukan sekedar pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat, melainkan konsep kehidupan. Bahwa spiritualitas memiliki tempat penting dalam agama, namun tanpa Tuhan, konsep spiritualitas seperti itu bersifat semu.

Saya kemudian menjelaskan panjang lebar kehidupan Hollywood yang penuh dengan kegemerlapan duniawi. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada akhir kehidupan para artis itu. Kalau tidak terjebak pada kehidupan “hedonistis” tanpa ujung, atau mereka akan terjebak kepada pencarian spiritualitas yang illutif.

Pada akhir penjelasan itu, tiba-tiba gadis itu berkata: “It does make sense!”. Saya menimpali: “True religion does make sense. And Islam does make sense!”, jelasku.

Kelas hari itupun bubar. Tapi tanpa terlupakan saya pinjamkan gadis itu sebuah buku perbandingan Islam dan Buddha tulisan Harun Yahya dan sebuah Al-Quran terjemahan.

Dua hari kemudian, hari Senin, ketika saya tiba di kantor di pagi hari, tiba-tiba gadis itu sudah berada di ruangan resepsionis.. “Hi, how are you?”, sapa saya. Tanpa memperlihatkan senyum sedikitpun, gadis tersebut menjawab: “Hi, I am fine!”. Rupanya resepsionis menimpali bahwa dia sudah menunggu dari pagi. Maka segera saya ajak dia masuk ke ruang pertemuan.

“What I can do for you this morning?”, tanyaku. “My mom took all my books”, katanya. “Why?” tanya saya. “She doesn’t want me to read those books, but I am really interested to know”, jawabnya. “It’s fine, that may cause you mom to study and know this religion too. I will give you some other books”, kata saya.

Tanpa panjang lebar, saya kemudian menjelaskan Islam kepadanya. Saya memulai dari hakikat kehidupan, kedudukan manusia, dan bagaimana kebutuhan manusia kepada Yang Maha Dzat, Allah SWT. Selama saya menjelaskan itu, beberapa kali saya harus mengulangi karena beberapa terminology yang sama sekali asing baginya. Tapi akhirnya, nampak wajahnya puas.

“Any thing else in your mind that you want to clarify or further to ask?”, tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala. “So, what do you think about the religion?”, tanyaku lagi. Dengan sangat pelan, dia menjawab: “I feel that Islam is quite rational and it does make sense to me”, katanya. “I like it!”, lanjutnya.

Mendengar itu, saya segera memancing. “So, you are certain that the religion is the true one”. “I think so!”, jawabnya. “If you are still thinking that it’s true, it means you are not certain yet!”, kataku. Seraya tersenyum dia menjawab: “No, I am sure about it!”, tegasnya.

“Does it mean that you believe in Islam? Do you believe in God?”, tanya saya. “Yes, I am sure God does exist, and sure that we need Him in our life”, katanya. “Ok, if I say to you, are you willing to embrace Islam, are you ready?”, tanyaku. Dengan sedikit menunduk, nampak seperti ragu, namun dengan mantap dia mengatakan: “Yes!”.

Saya kemudian menjelaskan enam rukun Iman dan lima rukun Islam. Juga sedikit saya jelaskan kaitan Islam dengan kehidupan nyata manusia. “Any question before taking your shahadah?”, tanyaku. Dia hanya menganggukkan kepala.

Saya kemudian menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Maka disaksikan oleh dua saksi di pagi hari itu, gadis belia ini mengucapkan: “Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah”, diikti pekikan takbir kedua saksi itu.

Alhamdulillah, gadis yang kemudian memilih nama barunya “Imani” ini sudah mulai berpuasa Ramadhan lalu. Sayang, dia baru tahu kalau Ramadhan sudah masuk setelah 10 hari Ramadhan berlalu. Maka di bulan Syawal lalu, dia berusaha mengganti puasanya yang tertinggal ditambah puasa 6 hari Syawal.

Sekitar 2 minggu lalu, Imani silaturrahmi ke rumah kami pada acara “open house” kami. Tapi setibanya siang itu di rumah kami, dia tidak makan. Rupanya dia sedang berpuasa sunnah Syawal. Maka kami ajak dia untuk tinggal sampai berbuka puasa. Setelah berbuka puasa, Imani pamitan pulang. Tapi karena sudah gelap dan akhir pekan yang biasanya subway tidak terlalu lancar, kami ajak Imani menginap di rumah kami.

Di saat silaturrahim itu, betapa gembira Imani ketika bertemu dengan keluarga Srilanka yang putranya menikah dengan wanita Indonesia. Imani merasa mendapatkan keluarga barunya. Dan pagi hari, selepas shalat subuh Imani meninggalkan rumah sambil berpesan kepada anak kami: “Tell your mom, dad, thank you so much for your hospitality and the delicious dinner!”.

Hari Sabtu lalu, dengan suara pelan Imani berbisik: “I hope I can find a husband who can teach me reading Arabic (Qur’an)”. “Insha Allah Sister! May Allah make it easy for you and we will do help you in any way possible!”, kataku. Baru ketika itu juga saya tahu kalau Imani sudah berumur 23 tahun dan sudah tahun ketiga di salah satu college yang berafiliasi dengan Columbia University di New York.

Semoga Imani akan selalu dilindungi dalam naungan iman hingga akhir perjalanan hidupnya menuju Rabbnya!

(Oleh M. Syamsi Ali, Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York)

Baca juga:
Buddhisme dan Atheisme
Origin of Species dalam Buddhisme



CMIIW.FMIIW.