Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: LOBHA  (Read 2341 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
LOBHA
« on: 22 September 2007, 12:09:07 PM »
L 0 B H A
Oleh : Selamat Rodjaii

Hal-hal tertentu telah memberikan kepuasan kepada kita pada waktu yang lampau sehingga kita mencoba untuk memperolehnya lebih banyak.  Hal-hal tertentu lain telah mendatangkan ketidakse¬nangan kepada kita sehingga kita mencoba untuk menyingkirkan atau melepaskannya.  Menurut Buddha Dhamma, keadaan-keadaan ini sering - disebut sebagai '.nafsu keinginan dan kebencian' dan keduanya memiliki kekuatan menggerakkan kita dari satu pengalaman ke pengalaman lain sampai akhimya kita mampu mengendalikannya.

Seseorang yang kehausan akan mencoba untuk menyingkirkan perasaan tidak menyenangkan itu dengan mencari sesuatu yang dipikimya 'dapat menghilangkan kehausan itu dan mendatangkan kesenangan.  Apabila hal ini tidak diperolehnya, maka ia tetap kehaus¬an. Apabila ia mendapatkannya, maka kehausan tersebut menjadi terpuasi dan untuk sementara waktu, 'haus' tersebut lenyap.  Kese¬nangan akan sesuatu yang diharapkan dan diinginkan telah pergi dan sering kali muncul kekecewaan.

Banyak hal kita harap dapat memberikan kesenangan, namun setelah kita peroleh muncul kekecewaan.  Bagi orang-orang tertentu, kedengarannya memang enak apabila memperoleh banyak uang.  Namun, apabila uang telah didapat, muncul persoalan baru, kebingungan bagaimana menggunakan uang itu, bagaimana melindunginva, atau bahkan akan menjerumuskan seseorang untuk berlaku bodoh., Orang¬orang kaya mungkin bertanya-tanya apakah teman-temannya menghar¬gainya karena 'kepribadiannya' atau karena uangnya, dan ini merupa¬kan salah satu bentuk penderitaan mental yang lain.  Ada satu keta¬kutan akan hilangnya barang yang dimiliki, apakah itu harta benda atau beberapa orang yang dicintai.  Lalu, apabila kita mau jujur dan melihat secara mendalam apa yang kita sebut 'kesenangan', temyata kita dapati bahwa itu hanya satu macam bayangan di dalam pikiran, tak pernah sepenuhnya tergenggam, tak pemah leng¬kap, atau dalam arti yang lebih mendekati, berhubungan dengan rasa takut akan kehilangan.

Musuh utama dari seluruh kehidupan ini adalah nafsu yang kuat, keserakahan atau kehausan.  Tentu tidak hanya keserakahan atau kemelekatan terhadap kesenangan indera, kemakmuran, kekayaan,

keinginan rnenggulingkan orang lain dan menaklukkan negara lain saja, tetapi juga kemelekatan terhadap cita-cita, gagasan-gagasan, konsep atau pandangan, opini-opini dan kepercayaan-kepercayaan yang akan membawa kepada bencana dan kehancuran dan mendatangkan penderi,taan yang tak terkatakan bagi seluruh bangsa, bagi dunia ini!  Betapa dahsyatnya kekuatan lobha ini, dan tentunya umat Buddha khususnya dan makhluk hidup umumnya patut waspada akan kekuatan lobha karena pikiran yang mengandung lobha memiliki ciri khas dan kondisi unik yang menyebabkan kemunculannya.

JENIS CITTA

Sang Buddha telah membabarkan segala sesuatu yang nyata.  Apa yang beliau ajarkan dapat dibuktikan melalui pengalaman kita sendiri.  Namun, kita tidak mengetahui secara aktirat kesunyataan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, yaitu fenomena batin (mental) dan fenomena fisik (jasmani) yang diterima melalui mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran.

Di dalam kehidupan kita sehari-hari, terdapat bakvak sekali benda yang kita pandang dan kita pergunakan, seperti rurnah, makan¬an, pakaian atau alat-alat rumah tangga.  Benda-benda tersebut tidak muncul demikian saja.  Mereka adalah bentukan pikiran atau kesadaran (citta).  Citta adalah fenomena batin yang mengetahui atau mengalami objek.  Citta dapat menghasilkan berbagai akibat.  Apabila kita memperhatikan segala sesuatu yang dihasilkan oleh citta, seperti perbuatan-perbuatan baik dan perbuatan-perbuatan buruk, maka dapat diterima, bahwa jenis citta tidak hanya satu macam.  Apabila dikelompokkan menurut bangsa (jatibhedanaya), citta dibagi meniadi empat macam, yaitu :
1.   Akusala citta, yaitu kesadaran atau pikiran yang tidak baik.
2.   Kusala citta, yaitu kesadaran atau pikiran yang baik.
3.   Vipaka citta, yaitu kesadaran atau pikiran yang menjadi hasil atau akibat dari akusala atau kusala.
4.   Kiriya citta. yaitu kesadaran atau pikiran yang bukan sebab juga bukan akibat dari akusala dan kusala.

Dalam sehari, sernua jenis citta yang beragam ini muncul!  Sebagian besar dari waktu kita sehari-hari terbuang percuma, kita tidak mengetahui apakah citta yang muncul itu akusala, kusala, vipaka atau kiriya.  Apabila kita belajar mengamati dan membedakan pikiran kita, maka kita akan memperoleh pengertian yang lebih banyak mengenai diri kita atau orang lain: kita akan lebih banyak memiliki belas kasihan (karuna) dan cinta kasih (metta) kepada orang lain walaupun orang lain itu bertingkah laku tidak pantas terhadap kita.

Umumnya, kita tidak menn,ukai akusala citta yang dimiliki orang lain; kita tidak senang apabila orang itu kikir atau berbicara kasar.  Namun, apakah kita menyadari saal-saat sewaktu kita memiliki akusala citta?  Ketika kita tak menyukai kata-kata kasar orang lain, kita sendit-i mempunyai akusala citta dengan kebencian pada saat itu.  Apabila seseorang tidak mempelajari Abhidhamma yang menielaskan realitas secara rinci, seseorang mungkin tidak mengetahui apakah akusala itu. la mungkin menganggap perbuatan buruk sebagai perbuatan baik, dan seterusnya ia menumpuk perbuatan buruknya tanpa disadari.  Apabila kita lebih banyak mengetahui perbedaan jenis citta, kita dapat melihat sendiri jenis citta mana yang lebih sering muncul dalam diri kita sehingga kita lebih banyak mengenal diri kita, dan upaya untuk perbaikan diri menjadi lebih mudah.

AKUSALA CITTA

Perbuatan-perbuatan tidak baik akan memberikan hasil yang tidak menvenangkan.  Tak seorang pun ingin mengalami hasil yang tidak menyenangkan, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui penyebab yang memberikan hasil tak menyenangkan; mereka tidak menyadari kapan citta itu tidak baik dan mereka tidak selalu tahu ketika mereka melakukan perbuatan tidak baik; pengetahuan mereka tentang akusala masih samar-samar atau bahkan gelap gulita.

Apabila kita mempelaiari Buddha Dhamma dengan lebih rinci lagi, maka kita dapat mengetahui bahwa akusala citta dibagi meniadi tiga kelompok, yaitu :
I.   Lobha-mula-citta, yaitu kesadaran yang berakar pada kesera¬kahan (lobha).
2.   Dosa-mula-citta, yaitu kesadaran yang berakar pada kebenci¬an (dosa).
3.   Moha-mula-citta. yaitu kesadaran yang berakar pada kebo¬dohan (moha).

Moha (kebodohan batin) muncul pada setiap jenis akusala citta.

Akusala citta yang berakar pada lobha (lobha-mula-citta) sebenarnya memiliki dua akar. yaitu moha dan lobha.  Dinamai lobha-mula¬citta karena lobha cetasika yang menjadi pemimpin.  Dosa-mula-¬citta juga memiliki dua akar, yaitu moha dan dosa.  Dosa-mula¬citta dipimpin oteh dosa cetasika.

CIRI KHAS LOBHA

Setiap kelompok citta dari akusala citta memiliki lebih dari satu tii>e citta. lobha-mula-citta memiliki delapan tipe citta yang berbeda.  Lobha adalah kesunyataan mutiak (paramattha dhamma) yang merupakan cetasika (faktor batin yang munclil bersama citta); lobha adalah kesunyataan; oleh karena itu, lobha dapat dialami.

Di dalam Visuddhi-magga dinyatakan bahwa lobha memiliki ciri khas memegang objek, seperti getah (perekat).  Fungsinya adalah menempel, mirip daging di sebuah panci panas, ibarat jelaga yang sec,ara nyata bersifat tidak menolak.  Penyebabnya yang paling dekat adalah melihat kenikmatan dalam segala hal yang menjerumuskan ke perbudakan, menambah arus kecanduan.

Kadang kata lobha disebut sebagai keinginan (tanha), kadang¬kadang disebut Pula sebagai nafsu serakah (abhijjha), nafsu indera (kama), atau hawa nafsu (raga).  Lobha memiliki banyak tingkatan, yang kasar, sedang dan halus.

Kebanyakan orang dapat mengakui lobha ini apabila munculnya sangat kasar; pada tingkah yang lebih halus, umumnya mereka tidak mengakui.  Misalnya, seseorang dapat mengakui lobha ketika ia cende¬rung untuk makan terialu banyak makanan yang nikmat atau ketika ia terikat kepada minuman beralkohol atau rokok.  Seseorang melekat kepada orang-orang tertentu, bahkan terhadap gurunya, dan ia tidak puas, apabila kehilangan mereka yang dicintai.  Juga, kita dapat melihatnya, bahwa kemelekatan membawa kesedihan.

Citta muncul dan padam cepat sekali dan disusul dengan citta-citta berikutnya.    Pada tingkat lobha yang lebih halus, kita mungkin tidak menyadari   ketika lobha-mula-citta muncul akibat apa yang
kita alami dalam   kehidupan sehari-hari melalui keenam pintu indera. Setiap waktu, di   mana saja, tak terhitung betapa banyaknya, lobha muncul di dalam diri kita dalam kehidupan sehari-hari!

LOBHA DAN KONDISINYA

Citta muncul karena adanya kondisi; demikian pula, lobha muncul karena terdapat kondisi.  Di dalam Maha-dukkhakkhandha¬sutta dapat dibaca bahwa ketika berdiam di dekat Savathi, di Hutan Jeta, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu, sebagai berikut: "Para bhikkhu, apakah kepuasan dalam kesenangan indera itu?
Para bbikkhu, terdapat lima untai kesenangan indera.  Apakah kelirna hal itu?  Bentuk-bentuk materi yang diterima oteh mata, serasi, menyenangkan, disukai, menarik, berhubungan dengan kesenangan indera, memikat.  Suara-suara yang diterima oleh telinga,... . Bebauan yang diterima oleh hidung,... . Rasa vang diterima oleh lidah, ... . Sentuhan-sentuhan yang diterima oleh tubuh, serasi, menyenangkan, disukai, menarik, berhubungan dengan kesenangan indera, memikat.  Inilah, Para bhikkhu, lima untai kesenangan indera.  Apapun kese¬nangan, kegembiraan, yang muncul karena konsekuensi kelima untai kesenangan indera ini, merupakan kepuasan dalam kese¬nangan indera."

Di dalam Salayatanavagga dapat dibaca bahwa Sang Buddha ketika berdiam di Devadaha berkata kepada Para bhikkhu, sebagai berikut :

"O Para bhikkhu, Para dewa dan manusia sangat gembira di dalam objek Penglihatan, mereka tertarik kepada objek pengli¬hatan.  Akibat ketidakstabilan mengenai akhir, musnahnya objek¬-objek; Para bhikkhu; Para dewa dan manusia hidup menderita. ,mereka senang kepada suara-suara, bebauan, rasa-rasa, sentuh¬an, mereka senang kepada bentuk-bentuk pikiran, dan tertarik kepadanya.  Karena ketidakstabilan mengenai akhir, lenyapnya bentuk-bentuk pikiran; Para bhikkhu; Para dewa dan manusia hidup penuh penderitaan.  Akan tetapi 0 Para bhikkhu, Tathaga¬ta, seorang Arahat, yang mencapai kesempur-naan secara mandiri, melihat hal-hal itu sebagaimana adanya, munculnya dan hancur¬nya, kepuasan, kesengsaraan dan jalan untuk membebaskan diri dari obiek-objek.  Beliau tidak gembira di dalam objek, tak tertarik kepadanya.  Akibat ketidakstabilan mengenai akhir, lenyapnya objek-objek, Sang Tathagata tetap tenang..."

Kepuasan di dalam kesenangan indera bukantah kebahagiaan sejati.  Kepuasan di dalam kesenangan indera merupakan kebahagiaan bermata kail, umpan diperoleh namun mata kail ikut -menusuk.  Ikan yang bodoli tidak pernah mengetahui bahwa umpan yang diterima mengandung mata kail malapetaka.

LOBHA-MULA-CITTA DAN VEDANA

Tiga dhamma yang berkaitan di dalam lobha-niwa-citta ialah vedana (perasaan), ditthi (pandangan) dan sankhara (wujud).

Mereka yang tidak mengenal dan memahami ajaran Buddha mungkin berpikir bahwa kemelekatan adalah perbuatan baik, khususnya ketika kemelekatan itu muncul bersama perasaan senang.  Mereka tidak mengetahui Perbedaan antara kemelekatan (lobha) dengan cinta kasih (metta); kedua fenomena ini dapat muncul dan disertai perasaan senang.  Namun, citta yang bersekutu dengan perasaan senang belum tentu kusala citta.  Perasaan (vedana) yang menyertai lobha-mula-citta adalah akusala vedana.  Lobha-mula--citta dapat muncul disertai  perasaan senang sangat kuat (somanassa-vedana) atau muncul diserta perasaan netral (upekkha-vedana).  Akusala citta yang disertai somanassa-¬vedana ini akan memproduksi akusala vipaka yang lebih berat jika dibandingkan efek akusala citta dengan upekkha-vedana.

LOBHA-MULA-CITTA DAN DITTH1

Lahir, usia tua, sakit dan mati merupakan ciri khas kehidupan.  Namun, kita tak pemah mau memikirkan bahwa tubuh kita atau orang lain yang dikasihi akan meniadi bangkai.  Kita menerima ketahir¬an, namun kita sulit menerima konsekuensi dari kelahiran, yaitu usia tua, sakit dan mati.  Kita menginginkan semua benda yang berkondisi selalu kekal.  Ketika bercermin, kita cenderung menganggap badan kita sebagai benda yang statis dan 'milikku'.  Padahal, badan hanyalah fenomena materi (rupa).  Mereka secara kontinyu muncul dan padam karena partikel-partikel badan tidak pernah kekal.

Menganggap badan ini sebagai '....ku' adalah ditthi.  Ditthi yang dimaksud di dalam akusa!a citta ini tentunya miccha ditthi (pandangan salah).  Ditthi ini muncul khusus di dalam lobha-mula¬citta.  Pada saat lobha-mula-citta bersama ditthi muncul, maka pada saat tersebut terdapat pandangan salah.  Seorang anak mungkin saia mencuri sebuah mangga dengan berpandangan bahwa tidak ada ketidakbaikan dalam perbuatannya itu.

Lobha-mula-citta yang tidak bersekutu dengan pandangan salah (ditthigatavippayutta) bukan berarti bahwa citta itu bersekutu dengan pandangan benar.

Beberapa orang percaya bahwa terdapat jiwa yang kekal yang bertransmigrasi dari kehidupan ini ke kehidupan berikutnya (sassata ditthi).  Ada pula pandangan yang menganggap bahwa segal4 sesuatu muncul tanpa sebab (ahetuka ditthi); pandangan lain menganggap bahwa tidak ada perbuatan baik atau buruk yang memproduksi akibat, tak ada sesuatu yang ber-sebab atau berakibat (akiriya ditthi).  Ada pula orang-orang yang berpikir bahwa mereka dapat menjadi suci semata-mata dengan mandi dalam air tertentu di tengah malam atau dengan menyebutkan mantram tertentu.  Mereka menganggap bahwa kamma buruknya dapat dicuci bersih!  Sementara orang berpen¬dapat bahwa kamma tidak berakibat apapun (Natthika ditthi).  Semua makhluk berbuat apa saja tidak menerima akibat.  Mereka yang berpan¬dangan seperti ini cenderung menghalalkan segala cara demi 'cita¬-citanya.  I


LOBHA-MULA-CITTA DAN SANKHARA

Lobha-mula-citta dapat muncul karena ajakan (sasankharika) atau tanpa ajakan (asankharika).  Berbagai jenis ajakan datang melalui tiga jalan, yaitu melalui jasmani seperti menunjuk, menggapai, main mata; melalui ucapan seperti anjuran, permohonan, panggilan, pujian, rayuan; melatui pikiran seperti mengenang hal-hal yang menyenangkan.  Lobha-mula-citta muncul dengan ajakan apabila pikiran sedang lemah (manda), tetapi apabila pikiran sedang kuat (tikkha), maka ia muncul secara spontan. tanpa ajakan.

LOBHA DAN DHAMMACHANDA

Konf'lik sering teriadi pada seseorang yang senang sekali belajar Dhamma dan bercita-cita ingin merealisasi Nibbana karena pada satu hari ia 'dikuliahi' oleh oknum tertentu.  "Kamu koq senang sekali mengumpulkan buku Dhamma dan belajar Dhamma.  You know, itu salah satu bentuk lobha!' kata Sang oknum dengan keren.

Lobha bersifat akusala (immoral), dan produk dari lobha ini bersifat tidak menyenangkan.  Lobha memiliki ciri melekat terhadap objek, seperti daging yang diletakkan di panci panas.  Kegiatan mengumpulkan buku Dhamma dan belajar Dhamma dengan tekun merupakan Dhammacchanda, yaitu keinginan mulia atau keinginan baik.  Dhainmacchanda inilah yang mendorong Pangeran, Siddhattha untuk meninggalkan megatinya kerajaan, dan dhammacchanda inilah yang dimiliki oleh semua umat Buddha untuk merealisasi Nibbana.  Hal ini bukan sejenis 1obha!

PENGHANCURAN LOBHA SECARA BERTAHAP

Bentuk-bentuk batin Yang dipimpin oleh bentuk batin lobha ialah lobha cetasika (ketamakan), ditthi cetasika (pandangan keliru) dan mana cetasika (kesombongan).

Lobha cetasika ditemui di dalam kedelapan jenis lobha-mula¬citta, yaitu :

Somanassa-sahagatam, ditthigatasampayuttam, asankharikam
Somanassa-sahagatam, ditthigatasampayuttam, sasankharikam
Somanassa-sahagatam, ditthigatavippavuttam, asankharikam
Somanassa-sahagatam, ditthigatavippayuttam, sasankharikam
Upekkhasabagatam, ditthigatasampayuttam, asankharikam
Upekkhasahagatam, ditthigatasampayuttam, sasahkharikam
Upekkhasahagatam, ditthigatavippayutam, asatikharikam
Upekkhasahagatam, ditthigatavippayuttam, sasafikharikam

Ditthi cetasika ditemui di dalam empat jenis lobha-mula-¬citta yang bersekutu dengan pandangan salah (ditthigatasampayutta).

Mana cetasika ditemui di dalam empat jenis lobha-mula-citta yang tidak bersekutu dengan pandangan salah (ditthigatavippayutta).

Kita ingin menghancurkan penyebab dukkha, yaitu lobha, namun ia tak dapat dibasmi sekaligus.  Kita dapat menekanrlva sementara, tetapi ia muncul lagi bila ada kondisi yang tepat.  Bagaimanapun juga, terdapat satu cara untuk menghancurkannya, yaitu dengan senjata kebijaksanaan yang memandang segala sesuatu dengan "wajar".

Ditthi merupakan dhamma pertama yang harus dihancurkan, baru kemudian bentuk kemelekatan lain dapat dihapuskan.  Seorang Sotapanna telah menyadari bahwa semua fenomena batin dan jasmani bukan '...ku'; oleh karena itu, ia telah menghancurkan ditthi; ditthi¬gatasampayutta citta tak mungkin muncul lagi dalam batinnya.  Namun, la masih memiliki ditthigatavippayutta citta 4. Sakadagami hanya mampu meringankan ditthigatavippayutta citta 4 ini.  Anagami telah membasmi total (samuccheda pahana) ditthigatavippayutta citta 4 yang berkenaan dengan kamaraga.  Ditthi¬gatavippayutta citta 4 yang berkenaan dengan Ruparaga dan Arupara¬ga hanya dapat dibasmi total (samuccheda pahana) oleh Arahat. Jadi, delapan tipe lobha-mula-citta di atas dibasmi secara bertahap.

SUMBER BACAAN UTAMA

Dhammananda, K.S. 1967.  Why Worry.  Buddhist Missionary Society, Kuala Lumpur, 116P.

Kaharuddin, J. (tanpa tahun).  Diktat Abhidhanuna 1, Jakarta.

Kaharuddin, J. 1981.  Kamus Buddha Dhamma.  Edisi Niramayanara, Tangerang, 216 hal.

Narada. 1977.  The Buddha and His Teachings.  Buddhist Missionarv Society, Kuala Lumpur, 713p.

Narada. 1979.  Abhidhammatthasangaha.  Yayasan Dhammadipa A,-ama, Jakarta, 451p.

Van Gorkom, N. 1979.  Abhidhamma in Daily Life.  H.M. Gunasekera Trust, Sri Lanka, 259P.

Dimuat di dalam majalah Pancaran Dharma no. 169


 _/\_   :lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are