//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)  (Read 347 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.411
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« Reply #30 on: 07 October 2020, 08:57:14 PM »
<101> Kāyagatāsati-sutta mendaftarkan hanya empat unsur tanah, air, api, dan udara.

<102> Kremasi atau penguburan tidak disebutkan dalam Kāyagatāsati-sutta.

<103> Dalam Kāyagatāsati-sutta penjelasan ini dan berikutnya sebaliknya tentang para bhikkhu yang telah atau tidak mengembangkan perhatian pada jasmani. Versi Pāli juga memiliki urutan yang berbeda: ia pertama-tama memiliki tiga perumpamaan melempar bola, kayu api, dan kendi air yang menggambarkan tidak mengembangkan perhatian pada jasmani, dan kemudian tiga pasangan mereka yang menggambarkan adanya perhatian pada jasmani.

<104> Mengambil varian 搏 alih-alih 闡.

<105> Kāyagatāsati-sutta memiliki tiga perumpamaan lagi, yang menggambarkan memiringkan kendi air yang penuh, melepaskan tanggul sebuah kolam yang penuh air, dan mengendarai kereta ke mana pun seseorang inginkan.

<106> Kāyagatāsati-sutta menjabarkan dan mendaftarkan sepuluh manfaat. Ia tidak menunjuk pada tidak terjebak dalam tiga pikiran yang tidak bermanfaat, ataupun mencapai pemasuk-arus, yang sekali-kembali, yang tidak-kembali, dan empat pencapaian tanpa bentuk.

<107> Mengambil varian yang tidak memiliki penunjukkan pada hal ini sebagai juga “kelima, keenam, dan ketujuh,” 五六七. Karena mengatasi tiga jenis pikiran yang tidak bermanfaat tidak dapat menghasilkan empat manfaat, penunjukan pada manfaat kelima, keenam, dan ketujuh pasti salah penempatan, mungkin milik item berikutnya dalam daftar itu.

<108> Mengambil varian yang menambahkan第五至.

<109> Mengambil varian yang mengatakan “tujuh” alih-alih “satu” kehidupan.

<110> Mengambil varian yang hanya menyebutkan manfaat kedua belas pada titik ini dan karenanya menghapus bacaan yang berlebihan tentang pelenyapan noda-noda.

<111> Padanan Pāli adalah Hatthisāriputta-sutta, AN 6.60 dalam AN III 392, yang memiliki Isipatana di Vārāṇasī sebagai lokasinya.

<112> Hatthisāriputta-sutta menyebutkan tidak hanya bergaul dengan para umat awam tetapi bergaul dengan para monastik, pengikut awam, raja, dan menteri, serta praktisi non-Buddhis dan para siswanya.

<113> Dalam Hatthisāriputta-sutta perumpamaan tidak lagi melihat hewan-hewan dalam sebuah danau menggambarkan akibat setelah mencapai jhāna kedua, sedangkan perumpamaan debu pada persimpangan jalan menjadi lumpur setelah hujan menggambarkan akibat jhāna pertama.

<114> Mengambil varian yang membaca 咸 alih-alih 滅.

<115> Dalam Hatthisāriputta-sutta perumpamaan danau tanpa gelombang menggambarkan akibat setelah mencapai jhāna keempat, sedangkan perumpamaan yang berhubungan dengan makanan menggambarkan jhāna ketiga.

<116> Perumpamaan dalam Hatthisāriputta-sutta menggambarkan seseorang yang baru saja selesai makan makanan yang lezat dan diberikan sisa makanan dari hari sebelumnya.

<117> Dalam Hatthisāriputta-sutta Mahākoṭṭhita menyatakan bahwa ia mengetahui pikiran Citta dan juga telah diberitahukan tentangnya oleh para dewa. Kotbah Pāli melanjutkan dengan menceritakan teman-teman Citta juga memberitahukan Sang Buddha tentang lepas jubahnya Citta, yang kemudian meramalkan bahwa Citta akan pergi meninggalkan keduniawian lagi. Ini benar-benar terjadi, Citta pergi meninggalkan keduniawian lagi dan akhirnya menjadi seorang arahant.

<118> Padanan Pāli adalah Pacalāyamāna-sutta, yang adalah bagian pertama dari AN 7.58 dalam AN IV 85; bagian kedua dari kotbah ini dalam edisi PTS, dimulai dalam AN IV 88, adalah kotbah yang berbeda yang sebaliknya adalah padanan pada MĀ 138.

<119> Alih-alih tiga cara yang berhubungan dengan ajaran – pengulangan, pengajaran orang lain, dan perenungan – Pacalāyamāna-sutta hanya menyarakan dua, perenungan dan pengulangan.

<120> Pacalāyamāna-sutta menggabungkan hal ini dan yang sebelumnya menjadi satu cara pencegahan dengan mencuci mata dengan air dan melihat pada konstelasi-konstelasi. Saran berikutnya dalam Pacalāyamāna-sutta adalah mengembangkan ālokasannā, “persepsi cahaya” (atau “kejernihan persepsi”?), suatu metode yang tidak disebutkan dalam MĀ 83.

<121> Pacalāyamāna-sutta tidak menyarakan melanjutkan kembali meditasi duduk setelah selesai meditasi berjalan. Menurut penyajiannya, jika setelah melakukan meditasi berjalan seseorang masih merasa lelah, ini adalah waktunya untuk berbaring dan beristirahat.

<122> Secara keseluruhan Pacalāyamāna-sutta mendaftarkan hanya delapan saran: menghindari persepsi yang membawa pada rasa kantuk, merenungkan ajaran-ajaran, mengulangi ajaran-ajaran, menarik cuping telinga, membilas mata dengan air dan melihat konstelasi-konstelasi, mengembangkan persepsi cahaya, berlatih meditasi berjalan, dan berbaring.

<123> Setelah daftar metode untuk mengatasi rasa kantuknya, Pacalāyamāna-sutta memperingatkan terhadap keangkuhan ketika mengumpulkan dana makanan, terlibat dalam pembicaraan yang menyebabkan perselisihan, dan terikat pada para monastik atau umat awam.

<124> Dalam Pacalāyamāna-sutta Sang Buddha mendahului pengajarannya dengan pernyataan bahwa “tidak ada di dunia yang layak dilekati.”

<125> Padanan Pāli adalah Kaṇṭaka-sutta, AN 10.72 at AN V 133, yang memiliki sebagai lokasinya Aula Beratap Lancip di Hutan Besar pada lokasi yang sama, Vesālī.

<126> Rekonstruksi dari empat yang terakhir dari enam nama ini hanyalah bersifat tentatif.

<127> Kaṇṭaka-sutta tidak menceritakan kunjungan oleh orang-orang Licchavi yang sebenarnya.

<128> Kaṇṭaka-sutta menyatakan dan kemudian menjelaskan sepuluh duri: bergaul sebagai duri bagi keterasingan, mengejar kecantikan (fisik) sebagai duri bagi pengembangan asubha, hiburan sebagai duri bagi pengendalian indria, teman wanita sebagai duri bagi kehidupan selibat (bagi pria), suara sebagai duri bagi jhāna pertama, vitakka-vicāra sebagai duri bagi jhāna kedua, sukacita sebagai duri bagi jhāna ketiga, napas masuk dan napas keluar sebagai duri bagi jhāna keempat, persepsi dan perasaan sebagai duri bagi pencapaian lenyapnya, dan terakhir nafsu (keinginan indria), kebencian (kemarahan), dan delusi (ketidaktahuan) sebagai duri secara umum.

<129> Padanan Pāli adalah Sappurisa-sutta, MN 113 dalam MN III 37; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 639–643.

<130> Sappurisa-sutta mengambil beberapa jenis keluarga yang terkemuka, yang dalam penyajiannya menjadi empat landasan yang berbeda bagi keangkuhan.

<131> Sappurisa-sutta tidak menyebutkan menawana dan menyenangkan sebagai landasan potensial bagi keangkuhan.

<132> Kualitas yang berkaitan dalam Sappurisa-sutta adalah menjadi seorang pengajar Dharma (dhammakathika).

<133> Sebagai tambahan pada kemasyhuran, yang dengan sama disorot dalam Sappurisa-sutta, landasan lain yang terkait bagi keangkuhan dalam penyajiannya adalah perolehan kebutuhan-kebutuhan, yang tidak disebutkan dalam MĀ 85.

<134> Sappurisa-sutta menyebutkan terpelajar dan berpengetahuan dalam Vinaya sebagai dua landasan potensial yang terpisah bagi keangkuhan; ia tidak menunjuk pada Abhidharma.

<135> Sappurisa-sutta hanya menyebutkan memakai jubah usang sebagai landasan potensial bagi keangkuhan.

<136> Sappurisa-sutta menyebutkan mengumpulkan dana makanan dan makan satu kali sebagai dua landasan potensial bagi keangkuhan.

<137> Landasan bagi keangkuhan yang berkaitan dalam Sappurisa-sutta adalah berdiam di dalam hutan, di bawah sebatang pohon, di tanah pekuburan, dan di luar di tempat terbuka; landasan tambahan bagi keangkuhan, yang tidak disebutkan dalam MĀ 85, adalah latihan tidak pernah berbaring untuk beristirahat dan menerima tempat tidur apa pun.

<138> Mengambil varian 受 alih-alih 愛. Dalam Sappurisa-sutta manusia sejati merenungkan bahwa Sang Buddha telah menyarankan non-identifikasi (atammayatā) dengan jhāna pertama; hal yang sama berlaku untuk jhāna-jhāna lainnya dan pencapaian tanpa bentuk.

<139> Sappurisa-sutta sebagai tambahan mengambil pencapaian lenyapnya, di mana ia secara implisit menunjukkan tidak lagi dalam jangkauan bukan manusia sejati.

<140> Kotbah ini bukan padanan dari Chachakka-sutta, MN 148 at MN III 280; cf. Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 838, catatan no. 96.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa