Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Manfaat menjapa mantra  (Read 50 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Jessica Tania

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
  • Gender: Female
  • P E A C E
Manfaat menjapa mantra
« on: 13 February 2020, 08:16:54 PM »
Halo rekan" semua! ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan~

1. Apakah menjapa mantra/sutra dengan tekun, tulus dan penuh keyakinan. dapat menetralisir karma buruk, serta karma karna melanggar sila?
2. Kapankah waktu dan jam yang tepat untuk menjapa mantra/sutra?

Terima kasih atas jawabannya~  _/\_

Offline Arya Karniawan

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 299
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
  • Hooaaammmm..... :3
Re: Manfaat menjapa mantra
« Reply #1 on: 13 February 2020, 08:56:38 PM »
Tidak, kalo bisa, maka tidak akan ada orang-orang yg mengalami karma terutama karma buruk.
#Jhindra

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.396
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Manfaat menjapa mantra
« Reply #2 on: 14 February 2020, 10:37:32 AM »
Halo rekan" semua! ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan~

1. Apakah menjapa mantra/sutra dengan tekun, tulus dan penuh keyakinan. dapat menetralisir karma buruk, serta karma karna melanggar sila?
2. Kapankah waktu dan jam yang tepat untuk menjapa mantra/sutra?

Terima kasih atas jawabannya~  _/\_

1. Tidak dapat membuang karma buruk yg sudah dilakukan. modelnya bukan menetralisir tapi menambah dari jumlah/total dimana nanti semua akan berbuah ketika kondisi mendukung
2. Disaat tidak ada gangguan dong
There is no place like 127.0.0.1

Offline derniere

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Manfaat menjapa mantra
« Reply #3 on: 15 February 2020, 09:09:19 PM »
Menjapa/membaca mantra/sutra hendaknya menuntun tekad kita untuk bermeditasi mencapai pencerahan terakhir. Pada saat nibbana tercapai maka semua karma, baik dan buruk, akan berakhir.  Dalam tradisi Theravada diceritakan bahkan Angulimala yang membunuh 999 orang dapat mencapai nibbana pada akhir hidupnya. Dalam tradisi Mahayana ada mantra dikenal sebagai mantra yang agung, mantra yang mencerahkan, mantra tertinggi, mantra yang tiada tara, dan pemusnah semua penderitaan. Jika orang mengucapkan mantra dengan sepenuh hati, tubuh, dan pikiran, mantra itu akan memiliki kekuatan dan dapat mentransformasi diri ke arah pencerahan dengan mempraktikkan meditasi kekosongan. Mantra Prajna-paramita yang berbunyi: "Gate, gate, paragate, parasamgate, bodhi, svaha."

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.396
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Manfaat menjapa mantra
« Reply #4 on: 16 February 2020, 08:26:23 PM »
saṃyutta nikāya
42. kelompok khotbah tentang kepala desa
6. Asibandhakaputta

SN 42.6 Asibandhakaputta Sutta

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Nālandā di Hutan Mangga milik Pāvārika. Kemudian Asibandhakaputta sang kepala desa mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, para brahmana di wilayah barat—yang membawa-bawa kendi air, mengenakan kalung terbuat dari tanaman air, menyelam ke dalam air, dan menyembah api suci—dikatakan mengarahkan orang mati ke atas, menuntunnya, dan memimpinnya ke surga. Tetapi Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, mampu menyebabkan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, seluruh dunia terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga.”

“Kepala desa, Aku akan bertanya kepadamu. Jawablah sesuai dengan apa yang engkau anggap benar. Bagaimana menurutmu, kepala desa? Misalkan ada seseorang di sini yang membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan hubungan seksual yang salah, berkata bohong, berkata-kata yang dapat memicu perpecahan, berkata kasar, bergosip, seorang yang tamak, penuh kebencian, dan menganut pandangan salah. Kemudian sekelompok orang datang dan berkumpul di sekelilingnya, dan mereka akan berdoa dan melantunkan puji-pujian dan mengelilinginya sebagai penghormatan, berkata: ‘Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, semoga orang ini terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga.’ Bagaimana menurutmu, kepala desa? Karena doa dari kelompok orang itu, karena puji-pujian mereka, karena mereka mengelilinginya sebagai penghormatan, akankah orang itu, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Misalkan, kepala desa, seseorang melemparkan batu besar ke dalam kolam air yang dalam. Kemudian sekelompok orang datang bersama dan berkumpul di sekelilingnya, dan mereka berdoa dan melantunkan puji-pujian dan mengelilinginya sebagai penghormatan, dan berkata: ‘Keluarlah, batu yang baik! Naiklah, batu yang baik! Naiklah ke atas daratan, batu yang baik!’ Bagaimana menurutmu, kepala desa? Karena doa dari kelompok orang itu, karena puji-pujian mereka, karena mereka mengelilinginya sebagai penghormatan, akankah batu itu keluar, dan naik ke atas daratan?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Demikian pula, kepala desa, jika seseorang yang membunuh … dan menganut pandangan salah, bahkan walaupun sekelompok orang datang dan berkumpul di sekelilingnya … tetap saja, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, orang itu akan terlahir kembali di alam sengsara, di alam yang buruk, di alam rendah, di neraka.

“Bagaimana menurutmu, kepala desa? Misalkan ada seseorang di sini yang menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari melakukan hubungan seksual yang salah, menghindari berkata bohong, menghindari berkata-kata yang dapat memicu perpecahan, menghindari berkata kasar, menghindari bergosip, seorang yang tidak tamak, tanpa kebencian, dan menganut pandangan benar. Kemudian sekelompok orang datang dan berkumpul di sekelilingnya, dan mereka akan berdoa dan melantunkan puji-pujian dan mengelilinginya sebagai penghormatan, berkata: ‘Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, semoga orang ini terlahir kembali di alam sengsara, di alam yang buruk, di alam rendah, di neraka.’ Bagaimana menurutmu, kepala desa? Karena doa dari kelompok orang itu, karena puji-pujian mereka, karena mereka mengelilinginya sebagai penghormatan, akankah orang itu, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali di alam sengsara … di neraka?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Misalkan, kepala desa, seseorang menenggelamkan sekendi ghee atau sekendi minyak ke dalam kolam air yang dalam dan memecahkannya. Pecahan dan kepingannya akan tenggelam, tetapi ghee atau minyaknya akan terapung. Kemudian sekelompok orang datang bersama dan berkumpul di sekelilingnya, dan mereka berdoa dan melantunkan puji-pujian dan mengelilinginya sebagai penghormatan, dan berkata: ‘Tenggelamlah, ghee atau minyak yang baik! Mengendaplah, ghee atau minyak yang baik! Turunlah ke bawah, ghee atau minyak yang baik!’ Bagaimana menurutmu, kepala desa? Karena doa dari kelompok orang itu, karena puji-pujian mereka, karena mereka mengelilinginya sebagai penghormatan, akankah ghee atau minyak itu tenggelam atau turun ke bawah?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Demikian pula, kepala desa, jika seseorang yang menghindari pembunuhan … dan menganut pandangan benar, bahkan walaupun sekelompok orang datang dan berkumpul di sekelilingnya … tetap saja, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, orang itu akan terlahir kembali di alam yang baik, di alam surga.”
Ketika ini dikatakan, kepala desa Asibandhakaputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Bagus sekali, Yang Mulia! … Sejak hari ini sudilah Sang Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”
There is no place like 127.0.0.1