Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????  (Read 26098 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Chandra Rasmi

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.466
  • Reputasi: 85
Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« on: 19 May 2008, 11:14:54 PM »
Namo Buddhaya....

saya ingin membahas tentang bhikkhuni ..
seperti kita ketahui bahwa di dalam theravada...bhikkhuni sudah tidak ada...
lalu kalau sekarang muncul lagi bhikkhuni...
bagaimana tanggapan anda semua??

mettacitena

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Samma Vayama

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #2 on: 06 June 2008, 03:27:17 PM »
Seperti dhamma ajaran Sang Buddha, muncul dan lenyap merupakan dhamma. Segala sesuatu adalah tidak kekal. Jika Sangha Bhikkhuni yang telah lama lenyap, kemudian muncul kembali harusnya kita sambut dengan senang hati. Segala sesuatu pasti berubah. Namun, saya sedikit bingung mengapa para Bhikkhu begitu bersikerasnya menentang Sangha Bhikkhuni. Apakah para Bhikkhu merasa tersaingi dengan kemunculan Sangha Bhikkhuni???? Hanya para Bhikkhu sewot yg tau jawabannya....
Buddhist newsletter

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #3 on: 06 June 2008, 04:54:56 PM »
sebaiknya tidak berspekulasi, adanya bhikkuni juga menjadi tambahan tanggung jawab seorang bhikku dalam mengurus Sangha. dan ini tidak akan semudah karena link yang sudah terputus jika direvive kembali pasti memerlukan waktu.
Apakah bhikkuni yang nantinya diterima ke Sangha bisa mengikuti Vinaya dengan baik? Bhiksuni Mahayana saja masih belum tentu bisa berperangai dan berpengaruh positif kepada biksu.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #4 on: 06 June 2008, 05:05:10 PM »
Bukan sewot sis, tetapi konon sudah punah, dan konon Sangha hanya bisa didirikan oleh Sammasambuddha. Dan dikatakan orang yang mengaku-aku sebagai Sangha tanpa penahbisan yang sah adalah pencuri terbesar. Mereka yang demikian tidak bisa mencapai jhana apalagi tingkat kesucian dalam kehidupan ini.

Ada Para Bhikkhu atas dasar cinta kasih mati-matian mempertahankan Vinaya agar Dhamma bisa bertahan lebih lama, demi para makhluk yang ada, bahkan ada yang rela mati daripada minum setetes susu sesudah siang. Ada juga yang atas dasar cinta kasih pula Sangha menentang Sangha Bhikkhuni, agar mereka tidak menderita. Di berbagai negara Buddhis, menjadi Bhikkhuni bisa berakibat negatif, karena masyarakat tidak bisa menerima. Jadi bukannya tidak mau menahbiskan, tetapi lebih ke status quo. (bukan atas dasar ego atau merasa superior)

Berbagai interpretasi Sangha Bhikkhuni bisa didirikan lagi atau tidak, saya anggap ini urusan Sangha. Bukan hak saya menginterpretasikan Vinaya dan bukan hak saya mengatur Sangha.

Masing-masing pihak punya argumentasi masing-masing, silahkan ditelaah mana yang baik dan benar. Saya belum pernah ketemu argumentasi dari Sangha Bhikkhu yang alasannya adalah superioritas atau egoisme. Dan satu hal kenapa hal ini bisa terjadi, dalam Buddhisme adalah tidak ada satu pihak yang dianggap sebagai pemimpin tunggal setelah Sang Buddha meninggal, bahkan Murid-Murid yang terkemuka pun tidak berhak menjadi pemimpin tunggal.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Rina Hong

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.256
  • Reputasi: -2
  • Gender: Female
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #5 on: 06 June 2008, 05:42:28 PM »
kembali kepada bhikkhuni tersebut , apakah mereka yg muncul sebagai bhikkuni sudah menjalankan sila2 yg pernah di tetapkan tersebut..kalau iya maka saya merasa salut dan kita patut menghormati..  _/\_
The four Reliances
1st,rely on the spirit and meaning of the teachings, not on the words;
2nd,rely on the teachings, not on the personality of the teacher;
3rd,rely on real wisdom, not superficial interpretation;
And 4th,rely on the essence of your pure Wisdom Mind, not on judgmental perceptions

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.434
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #6 on: 06 June 2008, 10:04:42 PM »
Masing-masing pihak punya argumentasi masing-masing, silahkan ditelaah mana yang baik dan benar. Saya belum pernah ketemu argumentasi dari Sangha Bhikkhu yang alasannya adalah superioritas atau egoisme. Dan satu hal kenapa hal ini bisa terjadi, dalam Buddhisme adalah tidak ada satu pihak yang dianggap sebagai pemimpin tunggal setelah Sang Buddha meninggal, bahkan Murid-Murid yang terkemuka pun tidak berhak menjadi pemimpin tunggal.

Betul.. Sangha tidak menganut sistem suara terbanyak seperti yang berlaku di mayoritas kehidupan se-hari2 zaman sekarang.. Yang berlaku adalah musyawarah mufakat (kayaknya istilah "musyawarah mufakat" nyomot dari Sangha :-?). Maksudnya, keputusan diambil kalau semua anggota musyawarah sepakat untuk setuju atau sepakat untuk menolak..

Setiap individu di dalam Sangha mempunyai hak veto yang setara, artinya kalau minimal ada 1 saja yang tidak sepakat, maka keputusan tidak dapat diambil. Bahkan hak veto anggota senior seperti Dalai Lama setara dengan anggota Sangha yang baru bergabung ke dalam Sangha selama 1 tahun (*dengan kondisi anggota baru itu ikut di dalam musyawarah / rapat).

Tampaknya untuk saat ini, kata sepakat itu sudah "hampir tidak mungkin", karena kualitas batin masing2 anggota Sangha itu berbeda.. Tidak seperti pada Konsili Sangha I yang semua anggotanya adalah arahat. :)

Jadi, secara prosedural sebetulnya bhikkhuni Theravada masih bisa di-revive, tapi kemungkinannya sangat kecil karena sangat sangat sangat sulitnya kata sepakat itu..
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #7 on: 06 June 2008, 10:10:34 PM »
Hee ?
emang sejak kapan ga ada nya?

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.074
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #8 on: 06 June 2008, 10:27:42 PM »
Sejak pembantaian tahun berapa ya... g lupa...

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #9 on: 06 June 2008, 10:29:28 PM »
Trus Sayalay itu apa ?


Offline Sol Capoeira

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.746
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #10 on: 06 June 2008, 10:45:15 PM »
gw setoejoe ama Bhikkhuni..

kalo tentang pencuri terbesar...

itu yg dimaksud PASTILAH orang2 yg menyamar/ditahbiskan menjadi Bhikkhu/Bhikkhuni tetapi bertindak sangat tidak bermoral..dan selalu melanggar Vinaya berat...

gw yakin...dan gw jamin...

kalo itu yg dimaksudkan oleh sang Buddha..

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #11 on: 07 June 2008, 09:30:14 AM »
Quote
Trus Sayalay itu apa ?

Sayalay itu kakak perempuan yang dihormati (Bahasa Myanmar).

Orang hebat seperti Sayalay Dipankara sudah tidak memikirkan / melekat pada status lagi. Beliau pernah mengatakan (saya lupa sumbernya) kalau dia tidak melekat pada status Bhikkhuni.

Kalau di retret sini diterjemahkan jadi Bhikkhuni, ini adalah kesalahan penerjemah. Di luar negeri "nun" itu belum tentu Bhikkhuni.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Lily W

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.120
  • Reputasi: 241
  • Gender: Female
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #12 on: 07 June 2008, 09:41:06 AM »
Namo Buddhaya....

saya ingin membahas tentang bhikkhuni ..
seperti kita ketahui bahwa di dalam theravada...bhikkhuni sudah tidak ada...
lalu kalau sekarang muncul lagi bhikkhuni...
bagaimana tanggapan anda semua??

mettacitena


Muditacittena...

Yang saya tahu sekarang ada 3 bhikkuni (theravada)...  Untuk bisa membentuk sangha bhikkhuni harus ada 5 bhikkhuni (cmiiw).... jadi masih kurang 2 bhikkhuni ya? Ayo....siapa yg mau ikut? Mungkin Sis chandra Rasmi? ;D

_/\_ :lotus:
~ Kakek Guru : "Pikiran adalah Raja Kehidupan"... bahagia dan derita berasal dari Pikiran.
~ Mak Kebo (film BABE) : The Only way you'll find happiness is to accept that the way things are. Is the way things are

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.434
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #13 on: 07 June 2008, 10:13:16 AM »
Quote
Trus Sayalay itu apa ?

Sayalay itu kakak perempuan yang dihormati (Bahasa Myanmar).

Orang hebat seperti Sayalay Dipankara sudah tidak memikirkan / melekat pada status lagi. Beliau pernah mengatakan (saya lupa sumbernya) kalau dia tidak melekat pada status Bhikkhuni.

Kalau di retret sini diterjemahkan jadi Bhikkhuni, ini adalah kesalahan penerjemah. Di luar negeri "nun" itu belum tentu Bhikkhuni.

Betul.. "Nun" belum tentu bhikkhuni..

Aye pernah menerjemahkan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, kalau "nun" diterjemahkan sebagai bhikkhuni jadi kurang pas. Setelah aye cari2 info, ternyata "nun" pada konteks artikel itu memang bukan bhikkhuni.. ;D
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #14 on: 07 June 2008, 12:34:01 PM »
Sangha yang tidak setuju untuk membentuk kembali Sangha Bhikkhuni karena tidak mau melanggar vinaya. Karena dalam vinaya ada ketentuan harus ada 5 bhikkhuni. Kira2 gitu kali ya?

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #15 on: 07 June 2008, 01:07:45 PM »
Quote
Sangha yang tidak setuju untuk membentuk kembali Sangha Bhikkhuni karena tidak mau melanggar vinaya. Karena dalam vinaya ada ketentuan harus ada 5 bhikkhuni. Kira2 gitu kali ya?
Karena sudah tidak ada Bhikkhuni Theravada.
Bhikkhuni Theravada yang sudah ada 3 di Indonesia tidak dianggap sah, atau ada yang menganggap sah, tergantung penafsirannya. Seperti yang sudah saya katakan, masing-masing punya argumentasi masing-masing.
Salah satu caranya alternatif adalah dengan cara ditahbiskan oleh Bhikkhuni Mahayana, maka bisa dianggap sah.
Yang jadi masalah adalah Vinaya yang digunakan jadi Vinaya Dharmagupta (Mahayana).
Dan tidak semua Bhikkhu setuju akan hal ini. Bukan hanya Theravada, di Tantrayana ada kitab komentar yang menjelaskan kalau Vinaya dari aliran lain tidak dapat dipergunakan, sehingga Dalai Lama tidak sembarangan membangkitkan kembali Bhikkhuni Tantrayana. Vinaya yang digunakan Tantrayana adalah dari Mulasarvastivada, yang lebih dekat ke Theravada daripada Mahayana.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #16 on: 07 June 2008, 08:00:42 PM »
Saya mau nanya yg menjadi akar permasalahannya apa?
Apakah sebuah sangha Bhikkhuni sangat penting?
Kenapa mesti diperdebatkan sampai berlarut-larut?Alangkah baiknya jika sudah ditolak oleh Sangha Bhikkhu diterima saja.
Toh pada dasarnya tujuan umat Buddha adalah NIBBANA
Bukan pendirian Sangha2 yg memicu sebuah perdebatan panjang...
Kemudian daripada itu apakah seorang yg bertekad menjadi seorg "Bhikkhuni"
Terus memperjuangkan eksis kembalinya sangha "Bhikkhuni" yg sudah runtuh,bisa dikatakan seorang Bhikkuni sejati?
Kenapa harus melekat pada sebuah "label"?
Lebih baik dalami batin masing2 sendiri tanpa menuai perdebatan2 yg berkepanjangan antara pro dan kontra...
Itu tidak akan habis2nya selagi yg berbicara adalah "pikiran"
Alangkah baiknya jika kita menerima semua keputusan yg ada berdasarkan musyawarah yg telah sah(Bukan karena "egoisme","Takut tersainggi" ,dsbnya)
_/\_

Salam,
Riky
« Last Edit: 07 June 2008, 08:37:00 PM by Riky_dave »
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline hartono238

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 295
  • Reputasi: 8
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #17 on: 07 June 2008, 08:10:05 PM »
Saya mau nanya yg menjadi akar permasalahannya apa?
Apakah sebuah sangha Bhikkhuni sangat penting?
Kenapa mesti diperdebatkan sampai berlarut-larut?Alangkah baiknya jika sudah ditolak oleh Sangha Bhikkhu diterima saja.
Toh pada dasarnya tujuan umat Buddha adalah NIBBANA
Bukan pendirian Sangha2 yg memicu sebuah perdebatan panjang...
Kemudian daripada itu apakah seorang yg bertekad menjadi seorg "Bhikkhuni"
Terus memperjuangkan eksis kembalinya sangha "Bhikkhuni" yg sudah runtuh,bisa dikatakan seorang Bhikkuni sejati?[b/]
Kenapa harus melekat pada sebuah "label"?
Lebih baik dalami batin masing2 sendiri tanpa menuai perdebatan2 yg berkepanjangan antara pro dan kontra...
Itu tidak akan habis2nya selagi yg berbicara adalah "pikiran"
Alangkah baiknya jika kita menerima semua keputusan yg ada berdasarkan musyawarah yg telah sah(Bukan karena "egoisme","Takut tersainggi" ,dsbnya)
_/\_

Salam,
Riky

Kenapa tidak dibiarkan saja bhikkhuni berdiri ? kenapa harus mempunyai ke "aku" an, ini bukan penyanggahan dari saudara riky, tapi cuma menambahkan saja, karena bagi saya tidak penting ada atau tidak ada, tidak penting dia dan kamu, yg paling penting, apakah kita sudah suci ??? jika belum, belajar lah, jangan selalu mempunyai "aku" yg selalu merasa kelompok kami paling benar, atau kelompok kamu pasti salah.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #18 on: 07 June 2008, 08:40:10 PM »

Quote
Kenapa tidak dibiarkan saja bhikkhuni berdiri ? kenapa harus mempunyai ke "aku" an, ini bukan penyanggahan dari saudara riky, tapi cuma menambahkan saja, karena bagi saya tidak penting ada atau tidak ada, tidak penting dia dan kamu, yg paling penting, apakah kita sudah suci ??? jika belum, belajar lah, jangan selalu mempunyai "aku" yg selalu merasa kelompok kami paling benar, atau kelompok kamu pasti salah.

Sepertinya didalam kasus ini bukan masalah dr "kelompok mana yg benar/salah"
Ini bukankah masalah sebuah keputusan?
Yg menjadi masalah ketika Sangha Bhikkhu menolak,apakah Bhikkhuni masih bersikeras?
Jika ya,tanyakan alasannya kenapa?Kemudian tanyakan juga apa sesungguhnya alasan dia menjadi seorang Buddhisme dan Bhikkuni?
_/\_

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #19 on: 09 June 2008, 12:15:13 PM »
Bukan sewot sis, tetapi konon sudah punah, dan konon Sangha hanya bisa didirikan oleh Sammasambuddha. Dan dikatakan orang yang mengaku-aku sebagai Sangha tanpa penahbisan yang sah adalah pencuri terbesar. Mereka yang demikian tidak bisa mencapai jhana apalagi tingkat kesucian dalam kehidupan ini.

Ada Para Bhikkhu atas dasar cinta kasih mati-matian mempertahankan Vinaya agar Dhamma bisa bertahan lebih lama, demi para makhluk yang ada, bahkan ada yang rela mati daripada minum setetes susu sesudah siang. Ada juga yang atas dasar cinta kasih pula Sangha menentang Sangha Bhikkhuni, agar mereka tidak menderita. Di berbagai negara Buddhis, menjadi Bhikkhuni bisa berakibat negatif, karena masyarakat tidak bisa menerima. Jadi bukannya tidak mau menahbiskan, tetapi lebih ke status quo. (bukan atas dasar ego atau merasa superior)

Berbagai interpretasi Sangha Bhikkhuni bisa didirikan lagi atau tidak, saya anggap ini urusan Sangha. Bukan hak saya menginterpretasikan Vinaya dan bukan hak saya mengatur Sangha.

Masing-masing pihak punya argumentasi masing-masing, silahkan ditelaah mana yang baik dan benar. Saya belum pernah ketemu argumentasi dari Sangha Bhikkhu yang alasannya adalah superioritas atau egoisme. Dan satu hal kenapa hal ini bisa terjadi, dalam Buddhisme adalah tidak ada satu pihak yang dianggap sebagai pemimpin tunggal setelah Sang Buddha meninggal, bahkan Murid-Murid yang terkemuka pun tidak berhak menjadi pemimpin tunggal.

Terima kasih atas penjelasan dari Sdr. karuna yang begitu bermakna dan penuh dengan cinta kasih dan kebijaksanaan. Sungguh sangat menyenangkan mengetahui bahwa tidak adanya seorang pemimpin tunggal di dalam buddhisme yang berarti bahwa semua murid-murid Sang Buddha menghargai sesamanya.

Namun, demikian dapat disimpulkan bahwa Sangha Bhikkhuni telah lenyap utk selamanya dan tidak dapat didirikan lagi. Maka bila ada wanita yang berniat utk menjadi seorg Bhikkhuni, ia hanya bisa bertekad saja dan terus memendam keinginannya tersebut. Kesempatan utuk mempraktekkan dhamma secara intensif utk para  wanita sudah tertutup, atau mungkin bisa dengan menjd seorg sayalay aja kali ya....

Btw, apakah sayalay itu sama dengan mechi???
Buddhist newsletter

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #20 on: 09 June 2008, 12:33:15 PM »
Saya mau nanya yg menjadi akar permasalahannya apa?
Apakah sebuah sangha Bhikkhuni sangat penting?
Kenapa mesti diperdebatkan sampai berlarut-larut?Alangkah baiknya jika sudah ditolak oleh Sangha Bhikkhu diterima saja.
Toh pada dasarnya tujuan umat Buddha adalah NIBBANA
Bukan pendirian Sangha2 yg memicu sebuah perdebatan panjang...
Kemudian daripada itu apakah seorang yg bertekad menjadi seorg "Bhikkhuni"
Terus memperjuangkan eksis kembalinya sangha "Bhikkhuni" yg sudah runtuh,bisa dikatakan seorang Bhikkuni sejati?
Kenapa harus melekat pada sebuah "label"?
Lebih baik dalami batin masing2 sendiri tanpa menuai perdebatan2 yg berkepanjangan antara pro dan kontra...
Itu tidak akan habis2nya selagi yg berbicara adalah "pikiran"
Alangkah baiknya jika kita menerima semua keputusan yg ada berdasarkan musyawarah yg telah sah(Bukan karena "egoisme","Takut tersainggi" ,dsbnya)

_/\_

Salam,
Riky

Permasalahannya sangatlah sederhana saudaraku, yaitu "Perbedaan Gender".
Inti dari permasalahan ini, buat saya, adalah diskriminasi gender-nya. Iya, maklum saja saya hanya seorang manusia biasa yg kebijaksanaannya cukup terbatas.

Saya tidak peduli dengan ada atau tidaknya Sangha Bhikkhuni. Dulu sebelum terbentuknya Sangha Bhikkhuni, kita (termasuk saya) tidak pernah mempermasalahkan masalah ini. Namun yang membuat saya kesal adalah penolakan keras dari anggota Sangha yang menolak terbentuknya Sangha Bhikkhuni. Saya jadi bertanya-tanya kenapa harus menolak dengan sedemikian kerasnya... (saya sedikit telah mengerti alasannya)

Ada begitu banyak "Perbedaan Gender" di dalam buddhisme, cthnya:
- Wanita tdk blh dekat2 bhante
- Wanita tdk blh berada di satu ruangan yg sama dgn bhante jika hanya berdua
- Sila Bhikkhuni lbh bnyk drpd sila Bhikkhu
- Bhikkhuni senior harus bernamaskara kepada seorg Bhikkhu yang walaupun baru ditabhiskan 1 menit
- Maha Pajapati Gotami memohon sampai 3 x kepada Sang Buddha, utk ditabhiskan sebagai seorg Bhikkhuni

Semua cth yg sy tls diatas, tidak perlu dijwb & tdk perlu dibhs... Krn sy sdh tau jwban, namun yg disesalkan adalah "Mengapa harus ada perbedaan?" & "Mengapa harus dibedakan?"

- I'm only human -
Buddhist newsletter

Offline sarita

  • Teman
  • **
  • Posts: 50
  • Reputasi: 2
  • Gender: Female
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #21 on: 09 June 2008, 03:11:51 PM »
hmmm...
jadi bingung?
jadi bhikhuni theravada tuh ada ato ngga?
ato cuman sanghanya doank yg belum ada?
truz kalau di mahayana, gmn?

Offline Edward

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.968
  • Reputasi: 85
  • Gender: Male
  • Akulah yang memulai penderitaan ini.....
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #22 on: 09 June 2008, 03:24:40 PM »
Di Mahayana sangha bhikkuni masih ada dan masih bisa ditelusuri sejarah penahbisannya..
Kalau theravada sempat punah karena dulu sempat dibasmi pada saat perang d India.
Kalau jawaban yang laen, silahkan teman2 memberi jawaban yang lebih jelas...
“Hanya dengan kesabaran aku dapat menyelamatkan mereka....."

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #23 on: 09 June 2008, 03:28:35 PM »
Theravada, Sangha bhikkuni terputus kalo mau dikembalikan perlu izin Buddha. yang ada hanyalah silacarini memakai jubah putih.

Mahayana, ada Sangha bhikkuni.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #24 on: 09 June 2008, 05:02:07 PM »
Saya jadi bertanya-tanya kenapa harus menolak dengan sedemikian kerasnya... (saya sedikit telah mengerti alasannya)

Ada begitu banyak "Perbedaan Gender" di dalam buddhisme, cthnya:
- Wanita tdk blh dekat2 bhante[/color]
- Wanita tdk blh berada di satu ruangan yg sama dgn bhante jika hanya berdua
- Sila Bhikkhuni lbh bnyk drpd sila Bhikkhu
- Bhikkhuni senior harus bernamaskara kepada seorg Bhikkhu yang walaupun baru ditabhiskan 1 menit
- Maha Pajapati Gotami memohon sampai 3 x kepada Sang Buddha, utk ditabhiskan sebagai seorg Bhikkhuni

Semua cth yg sy tls diatas, tidak perlu dijwb & tdk perlu dibhs... Krn sy sdh tau jwban, namun yg disesalkan adalah "Mengapa harus ada perbedaan?" & "Mengapa harus dibedakan?"

- Wanita tdk blh dekat2 bhante
- Wanita tdk blh berada di satu ruangan yg sama dgn bhante jika hanya berdua


IMO, bukanlah perbedaan gender.
Kita tau dong apa resikonya jika laki2 diizinkan berduaan dengan wanita di dalam kamar?
Apalagi bagi orang2 yg berniat menempuh jalan kesucian, berlainan jenis di dalam kamar harus dihindari, juga berdekatan dan bercanda ria bebas antara pria dan wanita.

- Sila Bhikkhuni lbh bnyk drpd sila Bhikkhu
- Maha Pajapati Gotami memohon sampai 3 x kepada Sang Buddha, utk ditabhiskan sebagai seorg Bhikkhuni


Ini juga bukan perbedaan gender.
Sang Buddha pada sat itu mempunyai pertimbangan sendiri, terutama kaum wanita saat itu mempunyai posisi lebih sulit dibanding kaum pria (sistem adat di India, harus melayani suami, menjaga anak, dsbnya), juga karena para Bhikkhu hidup di hutan rimba sehingga wanita akan rentan tindakan asusila. Itulah sebabnya banyak sila tambahan untuk mengatasi hal2 demikian.

- Bhikkhuni senior harus bernamaskara kepada seorg Bhikkhu yang walaupun baru ditabhiskan 1 menit

kalo yg ini memang berbau 'perbedaan gender' dan sy nggak paham dasar logikanya apa.....

::
« Last Edit: 09 June 2008, 05:04:00 PM by willibordus »
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #25 on: 10 June 2008, 06:32:02 PM »
[at]willi
Setuju
Silakan ditanggapi pernyataan willi
_/\_

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.074
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #26 on: 10 June 2008, 06:39:35 PM »
_/\_

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #27 on: 12 June 2008, 05:15:09 PM »
mau urun sharing :

bagi saya yang terpenting, adalah azas kemanfaatan.

Jika memang dengan adanya sangha bhikkhuni, bisa memberikan manfaat yang lebih banyak kepada perkembangan buddha dhamma, berarti itu adalah sesuatu yang baik dan sesuatu yang baik haruslah didukung

sebenarnya perdebatan mengenai ini sudah berlangsung lama (di salah satu milis saja, sudah pernah sekitar 2 - 3 tahun yang lalu), namun ternyata sampai sekarang masih "terasa hangat" yah....... he3.......

Offline Edward

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.968
  • Reputasi: 85
  • Gender: Male
  • Akulah yang memulai penderitaan ini.....
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #28 on: 12 June 2008, 08:16:09 PM »
Di sini rasanya masih dibilang hangat yg nyaman, soalnya kebanyakan setuju2 aj ada bhikkuni..
“Hanya dengan kesabaran aku dapat menyelamatkan mereka....."

Offline supiro

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 6
  • Reputasi: 0
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #29 on: 12 June 2008, 08:50:27 PM »
bhikkuni adalah pilar dhamma, maka ketika mereka dapat terwujud kembali itu adalah kemajuan terbesar. bangkit sangha bhikkhuni, tegakan kembali pilar yang pernah roboh.
masalah sangha yang t idak menerima keberadaan sangha bhikhuni hanya setigkat gengsi ajach kali ....... sebab bila kita melihat sejarah maka dahulu yang mentasbihkan sangha bhksuni (mahayana)adalah sanghanimita dari teravhada, jadi pelanggaran vinaya yang manayang akan terjadi bila kita benar-benar mau melihat sejarah..........?

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #30 on: 12 June 2008, 09:16:47 PM »
Salam kenal utk sahabatku ....... Supiro  _/\_

Baru gabung lgs post bhikksuni .....keren2  ;D  sering2 posting yah......  :))


saya gak byk tau soal bhikhuni, ada persyaratan sangha bhikksuni harus beranggota minimal 5 orang ?
baru kemudian bisa ditasbihkan .........


setuju aja sich terbentuk sangha bhikksuni theravada........
Pencerahan khan bukan hanya monopoli kaum pria       _/\_

  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Edward

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.968
  • Reputasi: 85
  • Gender: Male
  • Akulah yang memulai penderitaan ini.....
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #31 on: 12 June 2008, 10:08:53 PM »
Dan pencerahan bukan hanya milik anggota sangha....
“Hanya dengan kesabaran aku dapat menyelamatkan mereka....."

Offline hartono238

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 295
  • Reputasi: 8
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #32 on: 13 June 2008, 08:55:51 AM »
Dan supaya ngak kekurangan sangha, lebih baik yg mempunyai hobby kritik, masuklah jadi anggota sangha :), hoops OOT

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #33 on: 13 June 2008, 09:01:09 AM »
bhikkuni adalah pilar dhamma, maka ketika mereka dapat terwujud kembali itu adalah kemajuan terbesar. bangkit sangha bhikkhuni, tegakan kembali pilar yang pernah roboh.
masalah sangha yang t idak menerima keberadaan sangha bhikhuni hanya setigkat gengsi ajach kali ....... sebab bila kita melihat sejarah maka dahulu yang mentasbihkan sangha bhksuni (mahayana)adalah sanghanimita dari teravhada, jadi pelanggaran vinaya yang manayang akan terjadi bila kita benar-benar mau melihat sejarah..........?

dear bro,

sejarah itu ada versinya masing-masing..... .setiap pihak memegang sejarahnya sendiri-sendiri, tentunya dengan subjektivitasnya masing-masing juga

daripada kita menjudge bhikkhu, bukankah lebih baik melakukan sesuatu yang baik (kusala kamma)???

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #34 on: 13 June 2008, 02:46:59 PM »
bhikkuni adalah pilar dhamma, maka ketika mereka dapat terwujud kembali itu adalah kemajuan terbesar. bangkit sangha bhikkhuni, tegakan kembali pilar yang pernah roboh.
masalah sangha yang t idak menerima keberadaan sangha bhikhuni hanya setigkat gengsi ajach kali ....... sebab bila kita melihat sejarah maka dahulu yang mentasbihkan sangha bhksuni (mahayana)adalah sanghanimita dari teravhada, jadi pelanggaran vinaya yang manayang akan terjadi bila kita benar-benar mau melihat sejarah..........?

Tulisan anda sangat indah pada awalnya.....
Bisakah anda memberikan saya penjelasan bagaimana cara membangkitkan pilar yang sudah pernah roboh itu tanpa melanggar apapun?

Salam,
Riky
« Last Edit: 14 June 2008, 12:59:11 PM by Riky_dave »
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline ruby

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 3
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #35 on: 13 June 2008, 09:13:03 PM »
Kalau Saya seh Setuju-setuju saja, toh dulu juga sudah pernah ada Sangha Bhikkhuni, kalau sekarang mau bangkit lagi ya gpp juga lah....
kalau emang dianggap kaga sah oleh STI ya gpp juga... kaga usah ngotot juga biar sajalah...
yg penting tujuan Nya. diakui sukur kaga diakui juga gpp... hehehe...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #36 on: 14 June 2008, 12:59:39 PM »
Kalau Saya seh Setuju-setuju saja, toh dulu juga sudah pernah ada Sangha Bhikkhuni, kalau sekarang mau bangkit lagi ya gpp juga lah....
kalau emang dianggap kaga sah oleh STI ya gpp juga... kaga usah ngotot juga biar sajalah...
yg penting tujuan Nya. diakui sukur kaga diakui juga gpp... hehehe...

Good idea....

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #37 on: 14 June 2008, 04:11:09 PM »
mau urun sharing :

bagi saya yang terpenting, adalah azas kemanfaatan.

Jika memang dengan adanya sangha bhikkhuni, bisa memberikan manfaat yang lebih banyak kepada perkembangan buddha dhamma, berarti itu adalah sesuatu yang baik dan sesuatu yang baik haruslah didukung

sebenarnya perdebatan mengenai ini sudah berlangsung lama (di salah satu milis saja, sudah pernah sekitar 2 - 3 tahun yang lalu), namun ternyata sampai sekarang masih "terasa hangat" yah....... he3.......

I agree... Setuju... Yg pntng manfaat dan tujuannya baik toh.... Tp, syngnya konteks "Pelanggaran Vinaya" sdh begitu melekat. Yg pntng Be Good... Be Mindful....

bhikkuni adalah pilar dhamma, maka ketika mereka dapat terwujud kembali itu adalah kemajuan terbesar. bangkit sangha bhikkhuni, tegakan kembali pilar yang pernah roboh.
masalah sangha yang t idak menerima keberadaan sangha bhikhuni hanya setigkat gengsi ajach kali ....... sebab bila kita melihat sejarah maka dahulu yang mentasbihkan sangha bhksuni (mahayana)adalah sanghanimita dari teravhada, jadi pelanggaran vinaya yang manayang akan terjadi bila kita benar-benar mau melihat sejarah..........?

Tulisan anda sangat indah pada awalnya.....
Bisakah anda memberikan saya penjelasan bagaimana cara membangkitkan pilar yang sudah pernah roboh itu tanpa melanggar apapun?

Salam,
Riky

Bhikkhuni adalah pilar Dhamma... Mungkin ya... Atau lebih cocok dikatakan Bhikkhuni adalah salah satu pilar Dhamma... Kt g blh merupakan Bhikkhu juga donk...

 [at] bro Ricky.... Kl ada orang yg mau berusaha utk membangkitkan kembali pilar yg roboh, maka akan ada kemungkinan pilar tersebut akan berdiri kembali. Utk membangkitkan pilar yg roboh tdk perlu melakukan pelanggaran kan, namun perlu sedikit direnovasi dan bahan tambahan serta kerja keras.
Buddhist newsletter

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #38 on: 14 June 2008, 06:53:44 PM »
Quote
at] bro Ricky.... Kl ada orang yg mau berusaha utk membangkitkan kembali pilar yg roboh, maka akan ada kemungkinan pilar tersebut akan berdiri kembali. Utk membangkitkan pilar yg roboh tdk perlu melakukan pelanggaran kan, namun perlu sedikit direnovasi dan bahan tambahan serta kerja keras.
Apa alasan pertama dia menjadi seorang Bhikkhuni?
Kemudian di Thera cuma ada 3 Bhikkhuni mesti ada 5 baru bisa...
Bukan asal tidak diizinkan saja...

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #39 on: 17 June 2008, 11:34:56 AM »
Apa alasan pertama dia menjadi seorang Bhikkhuni?
Kemudian di Thera cuma ada 3 Bhikkhuni mesti ada 5 baru bisa...
Bukan asal tidak diizinkan saja...

Salam,
Riky

Salam kenal utk bro Riky,
Sprtnya kita bnyk berdebat ya... Namun, sy senang berdebat, perbedaan pendapat memang hrs dihargai....

Well, mngkn sy ralat sedikit. Dulu wkt Aya Santini ingin menjadi seorg Bhikkhuni, tdk ada 1 pun Bhikkhuni senior yg ada. Namun, dgn niat dan tekadnya yg kuat utk menjlnkan khdpn ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi seorg Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI. Kemudian, ditabhiskan lagi 2 org Bhikkhuni walau bukan oleh Bhikkhu STI.

Sbnrnya para Bhikkhuni pun tdk ngotot ingin diakui oleh STI, buktinya saja mereka uda membentuk PERBHIKTIN tanpa perlu persetujuan STI. Lalu sbnrnya yg ngotot tuh kan umat... Para Bhikkhuni fine2 aja kok sampe skrng. Pro dan kontra tuh kan mnclnya dr kita umat sndr.....

Mngkn kl bro pernah bc buku "Perempuan-Perempuan Pejuang", disana dikupas tuntas ttg perjuangan para Bhikkhuni dari umat biasa hingga menjd seorg Bhikkhuni, dimana mereka diperlakukan secara tdk adil.... Nah, sy jg setuju kl sangha Bhikkhuni trsbt tdk dpt dibentuk lg. Namun, jika ada yg ingin berusaha mengapa hrs ditutupi kesempatan trsbt.  Memank benar bknny tdk mau dibentuk, namun tdk sesuai dgn vinaya. Then, ada blng sang Buddha prnh bersabda bahwa vinaya blh diubah dan disesuaikan dengan keadaan (Be Efficient). Dan krn be efficient inilah, lalu muncul berbagai aliran didalam agama Buddha. So, buat apa kita terus memperdebatkan mslh ini. Toh, mau kita berdebat ataupun tdk... PERBHIKTIN tetap berjalan dan terbentuk. cpd.... _/\_

Salam,
June
Buddhist newsletter

Offline Chandra Rasmi

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.466
  • Reputasi: 85
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #40 on: 17 June 2008, 12:19:17 PM »
Sangha yang tidak setuju untuk membentuk kembali Sangha Bhikkhuni karena tidak mau melanggar vinaya. Karena dalam vinaya ada ketentuan harus ada 5 bhikkhuni. Kira2 gitu kali ya?

menurut yang saya baca...(uda lupa dimana) untuk menahbiskan seorang Bhikkhuni,...harus ada sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni...sedangkan sekarang ini...tidak ada sangha bhikkhuni...jadi mana bisa ,menahbiskan seorang bhikkhuni...

Offline Chandra Rasmi

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.466
  • Reputasi: 85
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #41 on: 17 June 2008, 12:31:43 PM »
Saya jadi bertanya-tanya kenapa harus menolak dengan sedemikian kerasnya... (saya sedikit telah mengerti alasannya)

Ada begitu banyak "Perbedaan Gender" di dalam buddhisme, cthnya:
- Wanita tdk blh dekat2 bhante[/color]
- Wanita tdk blh berada di satu ruangan yg sama dgn bhante jika hanya berdua
- Sila Bhikkhuni lbh bnyk drpd sila Bhikkhu
- Bhikkhuni senior harus bernamaskara kepada seorg Bhikkhu yang walaupun baru ditabhiskan 1 menit
- Maha Pajapati Gotami memohon sampai 3 x kepada Sang Buddha, utk ditabhiskan sebagai seorg Bhikkhuni

Semua cth yg sy tls diatas, tidak perlu dijwb & tdk perlu dibhs... Krn sy sdh tau jwban, namun yg disesalkan adalah "Mengapa harus ada perbedaan?" & "Mengapa harus dibedakan?"

- Wanita tdk blh dekat2 bhante
- Wanita tdk blh berada di satu ruangan yg sama dgn bhante jika hanya berdua


IMO, bukanlah perbedaan gender.
Kita tau dong apa resikonya jika laki2 diizinkan berduaan dengan wanita di dalam kamar?
Apalagi bagi orang2 yg berniat menempuh jalan kesucian, berlainan jenis di dalam kamar harus dihindari, juga berdekatan dan bercanda ria bebas antara pria dan wanita.

- Sila Bhikkhuni lbh bnyk drpd sila Bhikkhu
- Maha Pajapati Gotami memohon sampai 3 x kepada Sang Buddha, utk ditabhiskan sebagai seorg Bhikkhuni


Ini juga bukan perbedaan gender.
Sang Buddha pada sat itu mempunyai pertimbangan sendiri, terutama kaum wanita saat itu mempunyai posisi lebih sulit dibanding kaum pria (sistem adat di India, harus melayani suami, menjaga anak, dsbnya), juga karena para Bhikkhu hidup di hutan rimba sehingga wanita akan rentan tindakan asusila. Itulah sebabnya banyak sila tambahan untuk mengatasi hal2 demikian.

- Bhikkhuni senior harus bernamaskara kepada seorg Bhikkhu yang walaupun baru ditabhiskan 1 menit

kalo yg ini memang berbau 'perbedaan gender' dan sy nggak paham dasar logikanya apa.....

:: ---> klo yang ini...mungkin karena keegoisan wanita lebih tinggi ya daripada pria...biasa wanita dibilang punya 9 perasaan dan 1 akal...hehhee ;D


Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #42 on: 19 June 2008, 09:38:59 PM »

Salam kenal utk bro Riky,
Sprtnya kita bnyk berdebat ya... Namun, sy senang berdebat, perbedaan pendapat memang hrs dihargai....
Salam kenal juga buat June,
Owh...Saya rasa kita tidak sedang berdebat...Kita sedang berdiskusi dan saling berbagi..Jika kita debat maka pasti saya akan mengakhirinya...Karena bagi saya debat hampir saja dengan bull shit...Yang menang dibenci yang kalah menderita(kalah gengsi)
NB:Kecuali untuk yang benar2 bisa menerima "kekalahan" dlm suatu argumen(Manusia seperti ini pun jarang saya temui dalam dunia maya maupun dunia fana)

Quote
Well, mngkn sy ralat sedikit. Dulu wkt Aya Santini ingin menjadi seorg Bhikkhuni, tdk ada 1 pun Bhikkhuni senior yg ada. Namun, dgn niat dan tekadnya yg kuat utk menjlnkan khdpn ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi seorg Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI. Kemudian, ditabhiskan lagi 2 org Bhikkhuni walau bukan oleh Bhikkhu STI.
Saya heran walaupun Aya berusaha sekuat mungkin tetapi yang dilakukannya sudah melanggar vinaya maka saya rasa dia tidak akan pernah bisa mencapai tingkat kesucian arahat....
Sadar atau tidak sadar "vinaya" penting bagi Bhikkhu maupun Bhikkhuni...
Jika dia tidak paham tentang vinaya dan tidak mempraktekan vinaya,saya ragu dia pantas disebut seorang "Bhikkhuni"...
"Namun, dgn niat dan tekadnya yg kuat utk menjlnkan khdpn ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi seorg Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI"
Maksud pernyataan anda apa?"Niat" dan "Tekad" yang kuat menjlnkan ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi Bhikkhuni walau tidak diakui...Bagaimana bisa menjadi seorang Bhikkhuni jika tidak diakui?Bagaimana bisa menjadi seorang presiden dalam suatu negara jika tidak diakui?Jika dia mengklaim dirinya Bhikkhuni saya rasa itu sungguh aneh dan tidak pantas...Lebih jauh dari pada itu tujuan umat Buddha adalah Nibbana,bukan sebuah "label" tentang terbentuknya sebuah organisasi seperti Sangha Bhikkhuni...Dan lebih dari pada itu juga tugas Bhikkhuni bukan "jual obat" tetapi menjalani "Kehidupan suci" dan "mencapai" "Nibbana"..

Quote
Sbnrnya para Bhikkhuni pun tdk ngotot ingin diakui oleh STI, buktinya saja mereka uda membentuk PERBHIKTIN tanpa perlu persetujuan STI. Lalu sbnrnya yg ngotot tuh kan umat... Para Bhikkhuni fine2 aja kok sampe skrng. Pro dan kontra tuh kan mnclnya dr kita umat sndr.....
Ini tambah membingungkan saya lagi(Maaf saya tidak mengerti tentang organisasi2 Buddhis maupun perkembangannya)Jadi bisakah anda jelaskan apa itu PERBHIKTIN?Apakah Persatuan Bhikkhuni Theravada Indonesia?Jika memang benar,saya tambah aneh karena tanpa persetujuan STI bisa muncul sebuah organisasi lagi...Apakah ini tidak menyebabkan pertentangan yang lebih mendalam diantara kedua belah pihak?Pertentangan ini hampir dikatakan sungguh menyedihkan dan mengecewakan...Pada akhirnya siapapun yang menang akan dibenci dan yang kalah hanya akan menderita...Hormatilah setiap keputusan yang sudah ada....Jalanilah hidup dengan penuh makna,jika memang "ingin" menjadi Bhikkhuni tidak perlu sangat ngotot dan memaksa,justru disini malah menjatuhkan diri sendiri kedalam "keakuan"..
Sekali lagi saya katakan tujuan umat Buddha adalah Nibbana tidak ada embel2 yang lain..Kemudian anda mengatakan pro dan kontra muncul dari umat awam...Tahukah anda penyebab segalanya adalah siapa?Siapakah pemicu sehingga timbul pro dan kontra yang berkepanjangan ini?Tidak mungkin muncul sebuah pro dan kontra jika tidak ada pemicunya...
Dan pemicunya adalah karena "keinginan" sekelompok "perempuan" yang mempunyai "niat" yang baik untuk menjalani kehidupan suci tetapi dengan langkah yang "salah"...

Quote
Mngkn kl bro pernah bc buku "Perempuan-Perempuan Pejuang", disana dikupas tuntas ttg perjuangan para Bhikkhuni dari umat biasa hingga menjd seorg Bhikkhuni, dimana mereka diperlakukan secara tdk adil....
Saya diatas sudah mengatakan tidak mengerti tentang organisasi Buddhis maupun perkembangannya karena saya hanya umat awam yang baru mengikuti forum2 Buddhis seperti ini..Jadi saya tidak pernah membaca buku yang saudara katakan..Kemudian anda harus hati2 menaruh sebuah kata yang dapat menimbulkan "ketegangan"...Anda mengatakan"dimana mereka diperlakukan secara tdk adil." Bisakah anda menjelaskan maksud adil dan tidak adil tersebut?
Kalau saya pribadi mengatakan "kebahagian" "penderitaan" "senang" "sedih" yang dialami oleh setiap makhluk hidup didalam samsara ini sangat ADIL SEKALI
Dan menurut saya hidup ini sangat ADIL ,yang membuat "Tidak Adil" adalah "ego" dan "keakuan" dari setiap manusia itu sendiri..Keinginan yang tidak terpenuhi adalah dukkha bukan?
Jika ada hal yang TIDAK ADIL maka HUKUM KAMMA sudah boleh dipertanyakan oleh semua umat Buddha....Berati secara tidak langsung HUKUM KAMMA tidak berjalan jika ada suatu "Ketidakadilan".

Quote
Nah, sy jg setuju kl sangha Bhikkhuni trsbt tdk dpt dibentuk lg. Namun, jika ada yg ingin berusaha mengapa hrs ditutupi kesempatan trsbt.  Memank benar bknny tdk mau dibentuk, namun tdk sesuai dgn vinaya. Then, ada blng sang Buddha prnh bersabda bahwa vinaya blh diubah dan disesuaikan dengan keadaan (Be Efficient). Dan krn be efficient inilah, lalu muncul berbagai aliran didalam agama Buddha. So, buat apa kita terus memperdebatkan mslh ini. Toh, mau kita berdebat ataupun tdk... PERBHIKTIN tetap berjalan dan terbentuk. cpd.... _/\_

Anda setuju tapi jauh didalam lubuk hati anda,anda terus mempertanyakan hal tersebut...Menaruh kata "ketidakadilan" dalam kasus ini...Bisakah anda memberikan saya referensi dari Sabda Sang Buddha tersebut?Saya menjadi tertarik dengan vinaya yang anda katakan...Karena yang saya tahu boleh disesuaikan dengan keadaan adalah ketika melanggar vinaya tersebut kita tidak membuat kerugian yang besar terhadap makhluk lain...
Cthnya:Ketika ada seorang Bhikkhu disuatu jalan,ada seorang wanita yang berlari dikejar2 oleh segerombolan pria dengan membawa senjata tajam...Kemudian wanita tersebut bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar.Kemudian datanglah segerombolan pria tersebut dan melihat Bhikkhu tersebut,pria tersebut menanyakan,"Apakah anda melihat seorang wanita yang berlari ke arah sini?"...Kemudian Bhikkhu tersebut menjawab,"Tidak.Saya tidak melihatnya"...
Kemudian gerombolan pria itu pun pergi dan berlalu..Dan sang Bhikkhu berjalan seperti biasanya kembali ke vihara...
Apakah hal yang dilakukan Bhikkhu tersebut salah?Karena melanggar sila ke 4 yakni Musavada...
Saya rasa "Salah" tetaplah "Salah" ,"Jagung" tetaplah "Jagung" tidak akan berubah...
Tetapi frekuensinya berbeda...
Jika Bhikkhu tidak berbohong,siapapun tidak akan mengetahui nasib wanita tersebut...Jika Bhikkhu berbohong wanita tersebut terlepas dari cengkraman...
Disini saya tidak mengatakan Bhikkhu tersebut tidak BERSALAH setelah melanggar vinaya...Vinaya yang dilanggar tetap salah...Tetapi yang berbeda disini sekali lagi adalah Frekuensi kesalahan Bhikkhu tersebut...Itu yang dikatakan "sesuai dengan keadaan"...
Vinaya sangat Flexibel,Vinaya bukanlah sebuah kata2 yang diikuti dengan "fanatik" dan menjadi "keharusan" maupun "Acuan" dan "Standar" bagi para penempuh kehdpan suci...Vinaya dalam prakteknya tidaklah mutlak seperti "teori"nya ,semuanya harus dilihat dari berbagai faktor...Bukan karena sila bilang A,kita harus tetap A sampai mati...Itu namanya Fanatik/kepercayaan yang membabi buta...Yang Sang Buddha ajarkan adalah Saddha bukan Fanatisme...
1hal lagi setahu saya tidak ada yang menutup kesempatan untuk Sangha Bhikkhuni.Sudah saya katakan tidak sesuai dengan Vinaya...Jika baru terbentuk saja sudah melanggar,selanjutnya?Anda jawab sendiri....

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Chandra Rasmi

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.466
  • Reputasi: 85
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #43 on: 20 June 2008, 11:43:32 AM »
Quote
Well, mngkn sy ralat sedikit. Dulu wkt Aya Santini ingin menjadi seorg Bhikkhuni, tdk ada 1 pun Bhikkhuni senior yg ada. Namun, dgn niat dan tekadnya yg kuat utk menjlnkan khdpn ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi seorg Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI. Kemudian, ditabhiskan lagi 2 org Bhikkhuni walau bukan oleh Bhikkhu STI.
Quote
Saya heran walaupun Aya berusaha sekuat mungkin tetapi yang dilakukannya sudah melanggar vinaya maka saya rasa dia tidak akan pernah bisa mencapai tingkat kesucian arahat....
Sadar atau tidak sadar "vinaya" penting bagi Bhikkhu maupun Bhikkhuni...
Jika dia tidak paham tentang vinaya dan tidak mempraktekan vinaya,saya ragu dia pantas disebut seorang "Bhikkhuni"...
"Namun, dgn niat dan tekadnya yg kuat utk menjlnkan khdpn ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi seorg Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI" --->> menurut saya...kalau memang mempunyai tekad yang kuat untuk menjalankan kehidupan ke-Bhikkhuni-an, tidak perlu menjadi Bhikkhuni kan??? diTheravada ada yang disebut Mei Ci.. yang menjalankan delapan sila...apakah tidak lebih bagus kalo kita menjadi mei ci tetapi menjalankan sila ke-Bhikkhuni-an? toh tidak ada larangan bagi mei ci tidak blh menjalankan sila ke-Bhikkhuni-an kan?? malahan menurut saya..itu sangat bagus...Maksud pernyataan anda apa?"Niat" dan "Tekad" yang kuat menjlnkan ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi Bhikkhuni walau tidak diakui...Bagaimana bisa menjadi seorang Bhikkhuni jika tidak diakui?Bagaimana bisa menjadi seorang presiden dalam suatu negara jika tidak diakui?Jika dia mengklaim dirinya Bhikkhuni saya rasa itu sungguh aneh dan tidak pantas...Lebih jauh dari pada itu tujuan umat Buddha adalah Nibbana,bukan sebuah "label" tentang terbentuknya sebuah organisasi seperti Sangha Bhikkhuni...Dan lebih dari pada itu juga tugas Bhikkhuni bukan "jual obat" tetapi menjalani "Kehidupan suci" dan "mencapai" "Nibbana"...----> benar...saya setuju dengan bro riky. menurut saya label itu tidak penting...karena seseorang dinilai bukan dari labelnya..tapi dari kualitas batinnya...kalau umat biasa mau mencoba menjalani sila bhikkhuni, kenapa tidak?seperti halnya umat biasa yang melaksanakan uposatha sila.mohon maaf sebelumnya...saya ingin mengambil perumpamaan seorang Bhikkhu, dengan menjadi bhikkhu, apakah bisa dipastikan bisa mencapai nibbana kalau bhikkhu tidak berlatih??jadi yang penting itu kualitas batinnya...bukan label


Quote
Mngkn kl bro pernah bc buku "Perempuan-Perempuan Pejuang", disana dikupas tuntas ttg perjuangan para Bhikkhuni dari umat biasa hingga menjd seorg Bhikkhuni, dimana mereka diperlakukan secara tdk adil....
Quote
Saya diatas sudah mengatakan tidak mengerti tentang organisasi Buddhis maupun perkembangannya karena saya hanya umat awam yang baru mengikuti forum2 Buddhis seperti ini..Jadi saya tidak pernah membaca buku yang saudara katakan..Kemudian anda harus hati2 menaruh sebuah kata yang dapat menimbulkan "ketegangan"...Anda mengatakan"dimana mereka diperlakukan secara tdk adil." Bisakah anda menjelaskan maksud adil dan tidak adil tersebut?
Kalau saya pribadi mengatakan "kebahagian" "penderitaan" "senang" "sedih" yang dialami oleh setiap makhluk hidup didalam samsara ini sangat ADIL SEKALI
Dan menurut saya hidup ini sangat ADIL ,yang membuat "Tidak Adil" adalah "ego" dan "keakuan" dari setiap manusia itu sendiri..Keinginan yang tidak terpenuhi adalah dukkha bukan? ---> benar...saya setuju dengan bro riky..menurut saya juga begitu...diri sendiri lah yang memutuskan semua itu..kalau anda memutuskan bahwa anda diperlakukan tidak adil...maka anda menganggap tidak adil....dan sebaliknya...semuanya tergantung dengan pikiran kita...tanggapilah segala sesuatunya dengan positif ;D
Jika ada hal yang TIDAK ADIL maka HUKUM KAMMA sudah boleh dipertanyakan oleh semua umat Buddha....Berati secara tidak langsung HUKUM KAMMA tidak berjalan jika ada suatu "Ketidakadilan".

Quote
Nah, sy jg setuju kl sangha Bhikkhuni trsbt tdk dpt dibentuk lg. Namun, jika ada yg ingin berusaha mengapa hrs ditutupi kesempatan trsbt.  Memank benar bknny tdk mau dibentuk, namun tdk sesuai dgn vinaya. Then, ada blng sang Buddha prnh bersabda bahwa vinaya blh diubah dan disesuaikan dengan keadaan (Be Efficient). ---->tapi anda lupa..sang Buddha juga pernah bilang...akan tetapi sebaiknya vinaya tidak diubah supaya tidak timbul perpecahan.coba anda cari lebih teliti lagi...Dan krn be efficient inilah, lalu muncul berbagai aliran didalam agama Buddha. So, buat apa kita terus memperdebatkan mslh ini. Toh, mau kita berdebat ataupun tdk... PERBHIKTIN tetap berjalan dan terbentuk. cpd.... _/\_



Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #44 on: 20 June 2008, 12:12:23 PM »
_/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #45 on: 23 June 2008, 07:29:25 PM »
Salam kenal juga buat June,
Owh...Saya rasa kita tidak sedang berdebat... Kita sedang berdiskusi dan saling berbagi.. Senang sekali bisa berdiskusi dan berbagi dengan anda  ;)Jika kita debat maka pasti saya akan mengakhirinya...Karena bagi saya debat hampir saja dengan bull s**t...Yang menang dibenci yang kalah menderita(kalah gengsi)
NB:Kecuali untuk yang benar2 bisa menerima "kekalahan" dlm suatu argumen(Manusia seperti ini pun jarang saya temui dalam dunia maya maupun dunia fana)

Saya heran walaupun Aya berusaha sekuat mungkin tetapi yang dilakukannya sudah melanggar vinaya maka saya rasa dia tidak akan pernah bisa mencapai tingkat kesucian arahat....Benar sekali... Para Aya telah melanggar vinaya, apakah hanya dengan berjalan sesuai vinaya akan bisa membuat seseorg mencapai tingkat kesucian arahat?  ::)
Sadar atau tidak sadar "vinaya" penting bagi Bhikkhu maupun Bhikkhuni...
Jika dia tidak paham tentang vinaya dan tidak mempraktekan vinaya,saya ragu dia pantas disebut seorang "Bhikkhuni"...
"Namun, dgn niat dan tekadnya yg kuat utk menjlnkan khdpn ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi seorg Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI"

Bagaimana bisa menjadi seorang Bhikkhuni jika tidak diakui?Bagaimana bisa menjadi seorang presiden dalam suatu negara jika tidak diakui?Jika dia mengklaim dirinya Bhikkhuni saya rasa itu sungguh aneh dan tidak pantas...Lebih jauh dari pada itu tujuan umat Buddha adalah Nibbana,bukan sebuah "label" tentang terbentuknya sebuah organisasi seperti Sangha Bhikkhuni...Dan lebih dari pada itu juga tugas Bhikkhuni bukan "jual obat" tetapi menjalani "Kehidupan suci" dan "mencapai" "Nibbana"..Pernyataan bro Riky yg ini juga benar, memang kl tdk diakui ya... So what? Life goes on.... STI memank tdk mengakui para Bhikkhuni, namun ada sebagian umat yng mengakui mereka. Mknya mereka tetaplah Bhikkhuni... Memang para Bhikkhuni sampai hr ini tidak "jualan obat" :)) Dengan cinta kasih mereka yg bsr, mereka berbagi dhamma kepada para umat. Para Bhikkhuni pun sbnrnya tdk ingin status mereka diperdebatkan. Diperdebatkan atau tidak pun, mereka tetaplah Bhikkhuni. Niat mereka adalah baik, namun STI dan masyarakat menanggapinya lain. Y... gimana?  ???

Ini tambah membingungkan saya lagi(Maaf saya tidak mengerti tentang organisasi2 Buddhis maupun perkembangannya)Jadi bisakah anda jelaskan apa itu PERBHIKTIN?Apakah Persatuan Bhikkhuni Theravada Indonesia?Benar

Jika memang benar,saya tambah aneh karena tanpa persetujuan STI bisa muncul sebuah organisasi lagi...Apakah ini tidak menyebabkan pertentangan yang lebih mendalam diantara kedua belah pihak?Pertentangan ini hampir dikatakan sungguh menyedihkan dan mengecewakan... BenarPada akhirnya siapapun yang menang akan dibenci dan yang kalah hanya akan menderita... Benar, sy jg krng setuju dibentuknya PERBHIKTIN... Namun ya... Mau setuju ataupun tdk, PERBHIKTIN tetap telah terbentuk.Hormatilah setiap keputusan yang sudah ada....Jalanilah hidup dengan penuh makna,jika memang "ingin" menjadi Bhikkhuni tidak perlu sangat ngotot dan memaksa,justru disini malah menjatuhkan diri sendiri kedalam "keakuan"..Setuju, sy br menyadari bahwa inilah salah satu bentuk "keakuan". Namun, kl tdk ada yg berjuang utk menjd seorg Bhikkhuni. Maka, sampai hr ini mngkn tdk ada PERBHIKTIN dan mungkin Aya Sila..... dan Aya DhammaKumari masihlah dua org umat biasa yg menjlnkan kehidupan mereka layaknya umat awam. Tapi, krn adanya plerjuangan dari Aya Santinilah maka timbul niat dan keinginan dari dua org Aya lainnya utk menjlnkan kehidupan Ke-Bhikkuni-an. Memang kita tdk bisa mengatur org bertanggapan, ya... niat mereka baik, namun tanggapan org berbeda. Jika kita lht dr sisi positif tentu hal ini juga positif, namun keitka kita mlht dr sisi negatif maka negatiflah hasilnya.

Kemudian anda mengatakan pro dan kontra muncul dari umat awam...Tahukah anda penyebab segalanya adalah siapa?Siapakah pemicu sehingga timbul pro dan kontra yang berkepanjangan ini?Tidak mungkin muncul sebuah pro dan kontra jika tidak ada pemicunya...
Dan pemicunya adalah karena "keinginan" sekelompok "perempuan" yang mempunyai "niat" yang baik untuk menjalani kehidupan suci tetapi dengan langkah yang "salah"... Krn ditanggapi dengan pikiran negatif...

Kemudian anda harus hati2 menaruh sebuah kata yang dapat menimbulkan "ketegangan"...Anda mengatakan"dimana mereka diperlakukan secara tdk adil." Bisakah anda menjelaskan maksud adil dan tidak adil tersebut?Oops... Sorry, kata2 sy membw ketegangan ya... Sorry, stlh membc buku tersebut SAYA merasa mereka diperlakukan secara tdk adil.... Sorry, hanya perasaan saya sebagai umat awam yg msh bljr.
Kalau saya pribadi mengatakan "kebahagian" "penderitaan" "senang" "sedih" yang dialami oleh setiap makhluk hidup didalam samsara ini sangat ADIL SEKALI
Dan menurut saya hidup ini sangat ADIL ,yang membuat "Tidak Adil" adalah "ego" dan "keakuan" dari setiap manusia itu sendiri..Keinginan yang tidak terpenuhi adalah dukkha bukan?
Jika ada hal yang TIDAK ADIL maka HUKUM KAMMA sudah boleh dipertanyakan oleh semua umat Buddha....Berati secara tidak langsung HUKUM KAMMA tidak berjalan jika ada suatu "Ketidakadilan".
Setuju... Thanks buat sharing-nya yg membw pengetahuan tambahan utk sy,,,,  _/\_

Anda setuju tapi jauh didalam lubuk hati anda,anda terus mempertanyakan hal tersebut... Terima kasih ats pengertiannya, krn sy bnr2 terjebak diantara pemikiran sy sndr.  ;D

Bisakah anda memberikan saya referensi dari Sabda Sang Buddha tersebut?Sy jg blm bc sabda tersebut, sy hny prnh dngr. Kt org begitu. Ada yg bs tlng ksh referensi bukunya...   ;D Saya jg mau bc... Spy bs Ehipassiko....  _/\_ Saya menjadi tertarik dengan vinaya yang anda katakan...Karena yang saya tahu boleh disesuaikan dengan keadaan adalah ketika melanggar vinaya tersebut kita tidak membuat kerugian yang besar terhadap makhluk lain...
Cthnya:Ketika ada seorang Bhikkhu disuatu jalan,ada seorang wanita yang berlari dikejar2 oleh segerombolan pria dengan membawa senjata tajam...Kemudian wanita tersebut bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar.Kemudian datanglah segerombolan pria tersebut dan melihat Bhikkhu tersebut,pria tersebut menanyakan,"Apakah anda melihat seorang wanita yang berlari ke arah sini?"...Kemudian Bhikkhu tersebut menjawab,"Tidak.Saya tidak melihatnya"...
Kemudian gerombolan pria itu pun pergi dan berlalu..Dan sang Bhikkhu berjalan seperti biasanya kembali ke vihara...
Apakah hal yang dilakukan Bhikkhu tersebut salah?Karena melanggar sila ke 4 yakni Musavada...
Saya rasa "Salah" tetaplah "Salah" ,"Jagung" tetaplah "Jagung" tidak akan berubah...
Tetapi frekuensinya berbeda...
Jika Bhikkhu tidak berbohong,siapapun tidak akan mengetahui nasib wanita tersebut...Jika Bhikkhu berbohong wanita tersebut terlepas dari cengkraman...
Disini saya tidak mengatakan Bhikkhu tersebut tidak BERSALAH setelah melanggar vinaya...Vinaya yang dilanggar tetap salah...Tetapi yang berbeda disini sekali lagi adalah Frekuensi kesalahan Bhikkhu tersebut...Itu yang dikatakan "sesuai dengan keadaan"...Persis seperti inilah, keadaan para Bhikkhuni Indonesia kita sekarang. Krn sbnrnya di negara lain pun ada Bhikkhuni-nya. Tp, utk yg ini sy jg krng jls krn blm Ehipassiko. Sy hny melht foto2 para Bhikkhuni luar negri tersebut dr buku "Perempuan-Perempuan Pejuang"

June  _/\_
Buddhist newsletter

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #46 on: 24 June 2008, 03:43:27 PM »
Quote
Benar sekali... Para Aya telah melanggar vinaya, apakah hanya dengan berjalan sesuai vinaya akan bisa membuat seseorg mencapai tingkat kesucian arahat?
"Berjalan sesuai vinaya tanpa dhamma hanya peraturan kosong dengan secerca manfaat sebaliknya juga Dhamma tanpa vinaya hanyalah kata2 kosong tanpa arti"....
"Berjalan sesuai vinaya" bukanlah menghapal mati semua peraturan yang ada,tetapi memahami dan mempraktekannya sesuai dengan kondisi.....Setiap manusia membawa kammanya sendiri,kehidupan setiap manusia berbeda2....Lika liku kehidupan makhluk didunia ini tidak akan pernah SAMA....Setiap orang mempunyai "tujuan" dan "kepentingannya" masing2....
Saya tidak pernah mengatakan bahwa seseorang yang menjalankan vinaya dengan ketat sekalipun akan terbebas dr lingkaran Samsara....
Vinaya adalah hal yang flexibel sesuai dengan kejadian2 yang ada,vinaya bukanlah peraturan yang "mengancam" "mengharuskan" "wajib"......
Kemudian jika vinaya awal sudah dilanggar apakah menurut anda bisa mencapai tingkat kesucian??Menurut saya tidak,Dia yang Suci maka tahu jalan yang Benar....

Quote
"Namun, dgn niat dan tekadnya yg kuat utk menjlnkan khdpn ke-Bhikkhuni-an maka dia tetap menjadi seorg Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI"
Ya...Saya tidak akan menpungkirinya bahwa dia akan tetap menjadi seorang Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI tapi dia hanya menjadi Bhikkhuni secara fisik,secara luar...Tetapi didalamnya dia sudah "lepas jubah".....Believe it or not?That's ur choice....

Quote
Pernyataan bro Riky yg ini juga benar, memang kl tdk diakui ya... So what? Life goes on.... STI memank tdk mengakui para Bhikkhuni, namun ada sebagian umat yng mengakui mereka. Mknya mereka tetaplah Bhikkhuni... Memang para Bhikkhuni sampai hr ini tidak "jualan obat"  Dengan cinta kasih mereka yg bsr, mereka berbagi dhamma kepada para umat. Para Bhikkhuni pun sbnrnya tdk ingin status mereka diperdebatkan. Diperdebatkan atau tidak pun, mereka tetaplah Bhikkhuni. Niat mereka adalah baik, namun STI dan masyarakat menanggapinya lain. Y... gimana?
Saya heran sekali...Sampai saat ini semua pernyataan yang saya katakan kepada anda maupun pembaca bukanlah soal "diakui" maupun "tdk diakui"...Yang menjadi permasalahan utama bukanlah itu...Tidak diakui,anda berkata so what?Saya setuju,memang so what....Tapi lebih drpd itu saya rasa tidak lah mungkin Bhikkhuninya tidak mau membentuk SANGHA BHIKKHUNI,jika memang Bhikkhuni seperti yang anda katakan bahwa dia juga tidak memusingkan hal tersebut...Silakan konfirmasi kepada Bhikkhuninya untuk mengakhiri segala perdebatan yang ada dan menerima setiap keputusan yang ada,bukankah ini salah satu praktek Dhamma Bhagava?Kita harus bisa melepas dan menerima....Ingat kan lah kepada para Bhikkuni tujuan awalnya...Jika belum mencapai tingkat kesucian arahat(Apalagi sampai saat ini Sangha Bhikkhuni tidak diakui) mending janganlah memancing persoalan yang tidak berguna lagi...Lebih baik selami batin sendiri dan mencari "kebenaran"....

Quote
Setuju, sy br menyadari bahwa inilah salah satu bentuk "keakuan". Namun, kl tdk ada yg berjuang utk menjd seorg Bhikkhuni. Maka, sampai hr ini mngkn tdk ada PERBHIKTIN dan mungkin Aya Sila..... dan Aya DhammaKumari masihlah dua org umat biasa yg menjlnkan kehidupan mereka layaknya umat awam. Tapi, krn adanya plerjuangan dari Aya Santinilah maka timbul niat dan keinginan dari dua org Aya lainnya utk menjlnkan kehidupan Ke-Bhikkuni-an. Memang kita tdk bisa mengatur org bertanggapan, ya... niat mereka baik, namun tanggapan org berbeda. Jika kita lht dr sisi positif tentu hal ini juga positif, namun keitka kita mlht dr sisi negatif maka negatiflah hasilnya.
Maaf saya harap anda jangan tersinggung dengan perkataan saya ini.Saya rasa anda sebagai pihak perempuan melihat kasus ini secara Objektif...Anda hanya melihat dan mendukung Bhikkuni tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi dan dipermasalahkan...(Saya memang tahu niat anda baik dan saya juga mendukung bila benar2 sesuai dengan vinaya,sayangnya tidak sesuai vinaya dan saya juga tidak mengatakan saya tidak setuju...Kembalilah pada kebijaksaan para Bhikkhuni itu sendiri...)
Masih ada cara lain bukan selain Bhikkhu?Seperti kata sis Chandra Resmi menjadi mei ci sama aja bukan?Bukankah tujuan nya untuk menjalani kehidupan suci?Atau ada makna lain dari persoalan ini?Mungkin sebuah "status sosial"?Silakan anda ehipassiko sendiri....
Kemudian ingatlah bahwa menjadi Bhikkuni bukanlah syarat Mutlak untuk mencapai Nibbana...Masih banyak cara lain seperti menjadi seorang pertapa hutan,umat awam juga bisa mencapai Nibbana...
Kembali lagi pertanyakanlah kepada Bhikkhuninya apa yang "diinginkannya?" dan "tujuannya" sebagai seorang Bhikkhuni...(Jujur saya sangat kecewa terhadap semua Bhikkhu maupun Bhikkhuni saat ini...Mereka hanya mengejar kepuasaan lokiya dan terikat didalamnya...Upacara keagamaan,membabarkan Dhamma kesana kemari,upacara kematian,dll.Padahal "tugas" utama Bhikkhu maupun Bhikkhuni adalah merealisasikan Nibbana bukan menjual "obat" kesana kemari)...

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #47 on: 25 June 2008, 04:52:57 PM »
Kemudian ingatlah bahwa menjadi Bhikkuni bukanlah syarat Mutlak untuk mencapai Nibbana...Masih banyak cara lain seperti menjadi seorang pertapa hutan,umat awam juga bisa mencapai Nibbana...

kembali lagi pada perdebatan apakah mencapai Nibbana harus bhikkhu atau tidak, sebenarnya prinsipnya kamu harus tahu bahwa ketika Nibbana terealisasi, ada faktor pelepasan yang disebut menjadi bhikkhu.itu sudah ada dalam Sutta.

(Jujur saya sangat kecewa terhadap semua Bhikkhu maupun Bhikkhuni saat ini...Mereka hanya mengejar kepuasaan lokiya dan terikat didalamnya...Upacara keagamaan,membabarkan Dhamma kesana kemari,upacara kematian,dll.Padahal "tugas" utama Bhikkhu maupun Bhikkhuni adalah merealisasikan Nibbana bukan menjual "obat" kesana kemari)...

ini asal mula kemarahan kamu, dari amarah ,pikiran kamu menjadi tidak stabil dan tidak bisa melihat, tenangkan dulu. memang sejumlah oknum berbuat jual obat tapi pernyataan anda satu bisa digunakan oleh ribuan orang di internet nantinya untuk bilang, lihatlah ini agama buddha sama sanghanya yang rusak. gt.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #48 on: 25 June 2008, 04:55:04 PM »
Ya...Saya tidak akan menpungkirinya bahwa dia akan tetap menjadi seorang Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI tapi dia hanya menjadi Bhikkhuni secara fisik,secara luar...Tetapi didalamnya dia sudah "lepas jubah".....Believe it or not?That's ur choice...

bisa pertanggungjawabkan pernyataan anda ini?
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline Umat Awam

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 773
  • Reputasi: 28
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #49 on: 25 June 2008, 05:44:27 PM »
Kemudian ingatlah bahwa menjadi Bhikkuni bukanlah syarat Mutlak untuk mencapai Nibbana...Masih banyak cara lain seperti menjadi seorang pertapa hutan,umat awam juga bisa mencapai Nibbana...

kembali lagi pada perdebatan apakah mencapai Nibbana harus bhikkhu atau tidak, sebenarnya prinsipnya kamu harus tahu bahwa ketika Nibbana terealisasi, ada faktor pelepasan yang disebut menjadi bhikkhu.itu sudah ada dalam Sutta.

Mungkin bro Riky mengkonsepkan Bhikkhu itu adalah org yg mengenakan JUBAH kuning..
Mungkin krn dia jg masih terlalu MUDA, dan msh butuh wkt utk belajar lagi..

_/\_

mungkin ada yg bisa mengutip sebait Dhammapada utk bro Riky?
ttg Bhikkhu/Brahmana..


(Jujur saya sangat kecewa terhadap semua Bhikkhu maupun Bhikkhuni saat ini...Mereka hanya mengejar kepuasaan lokiya dan terikat didalamnya...Upacara keagamaan,membabarkan Dhamma kesana kemari,upacara kematian,dll.Padahal "tugas" utama Bhikkhu maupun Bhikkhuni adalah merealisasikan Nibbana bukan menjual "obat" kesana kemari)...

ini asal mula kemarahan kamu, dari amarah ,pikiran kamu menjadi tidak stabil dan tidak bisa melihat, tenangkan dulu. memang sejumlah oknum berbuat jual obat tapi pernyataan anda satu bisa digunakan oleh ribuan orang di internet nantinya untuk bilang, lihatlah ini agama buddha sama sanghanya yang rusak. gt.

Inilah sulitnya sebagian besar org2 yang diajak berdiskusi, dan mungkin jg merupakan WARNA dlm berdiskusi.. Banyak diantara kita/mereka yg suka menggeneralisasikan suatu hal yg sebenarnya harus dilihat secara terpisah dan mungkin individu..
Mungkin krn Bro Riky masih MUDA dan masih butuh banyak belajar.. Wajarlah dia sepertinya masih terlalu EMOSIONAL ato mungkin TERLALU bersemangat dalam mempraktekkan Dhamma/meditasinya..  :-?

_/\_
« Last Edit: 25 June 2008, 05:47:56 PM by Umat Awam »

Offline Umat Awam

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 773
  • Reputasi: 28
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #50 on: 25 June 2008, 05:54:45 PM »
Ya...Saya tidak akan menpungkirinya bahwa dia akan tetap menjadi seorang Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI tapi dia hanya menjadi Bhikkhuni secara fisik,secara luar...Tetapi didalamnya dia sudah "lepas jubah".....Believe it or not?That's ur choice...

And You Believed it Riky??
OMG, Tuhan, ampunilah hambamu tsb, krn Ia tak tahu apa yg dia katakan...
  ^:)^

bisa pertanggungjawabkan pernyataan anda ini?

Bro Riky, Sebaiknya sebelum Anda memposting sesuatu, sebaiknya Anda renungkan dulu kata2 yg akan anda posting.. Bukankah anda melatih utk selalu SADAR setiap saat? mengapa saat mereply, sepertinya kesadaran anda berkurang? ato mungkin kebijaksanaan anda yg kurang? Entahlah.. Hanya Anda yg tahu.. saya cuma Umat Awam aja...

Bro Riky, pemahaman anda sudah cukup bagus dlm beberapa hal, tp msh blm cukup utk lain hal.. yach, krn kita smeua blm sempurna... Termasuk saya juga.. _/\_

Dan saran lagi, Sebaiknya jangan suka menggeneralisasikan segala sesuatu....

_/\_

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #51 on: 26 June 2008, 12:09:57 PM »
Quote
kembali lagi pada perdebatan apakah mencapai Nibbana harus bhikkhu atau tidak, sebenarnya prinsipnya kamu harus tahu bahwa ketika Nibbana terealisasi, ada faktor pelepasan yang disebut menjadi bhikkhu.itu sudah ada dalam Sutta.
"itu sudah ada dalam Sutta"
Anda mengatakan bahwa "itu sudah ada dalam sutta".Saya ingin menanyakan kembali kepada anda,apakah sutta itu 100% benar?Kemudian dari pada itu,semua itu tak lebih adalah spekulasi saya sendiri dan juga spekulasi anda bukan?Bukankah kita sama2 belum merealisasikan nibbana?Lantas apakah ada jawaban yang benar2 benar?

Quote
ini asal mula kemarahan kamu, dari amarah ,pikiran kamu menjadi tidak stabil dan tidak bisa melihat, tenangkan dulu. memang sejumlah oknum berbuat jual obat tapi pernyataan anda satu bisa digunakan oleh ribuan orang di internet nantinya untuk bilang, lihatlah ini agama buddha sama sanghanya yang rusak. gt.
Yap...Mungkin saya kelepasan,tetapi anda sendiri sudah mengakui bahwa ada sejumlah oknum yang "menjual obat"....^:)^

Quote
Ya...Saya tidak akan menpungkirinya bahwa dia akan tetap menjadi seorang Bhikkhuni walau tidak diakui oleh STI tapi dia hanya menjadi Bhikkhuni secara fisik,secara luar...Tetapi didalamnya dia sudah "lepas jubah".....Believe it or not?That's ur choice...

>>bisa pertanggungjawabkan pernyataan anda ini?
Pernyataan saya disini adalah dia telah melanggar vinaya,jika dia meneruskan "keinginannya" lagi walaupun vinaya telah dia langgar,lantas memang saya melihatnya secara luar dia tetap "memakai jubah" dan "memiliki label Bhikkhuni".Tetapi jauh dr itu bagi saya dia sudah lepas jubah secara "batiniah"...Seperti kata saya,"Believe it or not?That's ur choice"...Semuanya ada ditangan anda....Saya cuma mengemukkan pendapat saya...

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #52 on: 26 June 2008, 12:11:48 PM »
[at]Umat Awam..
Thanks atas sarannya ;D

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #53 on: 26 June 2008, 12:32:42 PM »
"itu sudah ada dalam Sutta"
Anda mengatakan bahwa "itu sudah ada dalam sutta".Saya ingin menanyakan kembali kepada anda,apakah sutta itu 100% benar?Kemudian dari pada itu,semua itu tak lebih adalah spekulasi saya sendiri dan juga spekulasi anda bukan?Bukankah kita sama2 belum merealisasikan nibbana?Lantas apakah ada jawaban yang benar2 benar?


Sutta adalah panduan, terbentuk selama 2500 tahun, dan dibuktikan oleh mereka yang menembus dan mencapai, kalau anda ingin mempertanyakan otentik atau tidak otentik,lihatlah pengarahan Sutta , apakah berseberangan dengan Dhamma?
Saya tidak mau menjawab ini benar atau ini tidak, tapi Jalan Tengah bro, anda terjebak pada satu posisi dan anda mempertahankan sama saja dengan tidak melihat Jalan Tengah itu berada.
Saya tidak mau berbuat spekulasi karena Sang Buddha mengatakan spekulasi itu tidak berguna, namun lihatlah manfaat dari Sutta itu sendiri,apakah selama ini membawa kamu pada miccha ditthi atau tidak?
Kamu bisa jawab saya.
Otoritas yang kamu permasalahkan tidak bisa diambil sebagai ungkapan inilah agama Buddha, kita udah pernah mengetahui ,merasakan sendiri bagaimana kesalahan terbuat, memang hak kita bukan diam,namun anda harus memperhitungkan sisi psikologis Pemula yang tiba2 masuk membaca postingan anda, atau orang siapa aja yang sengaja mencari celah, tulisan anda bisa digunakan untuk bumerang, dan saya tidak mau melihat kekonyolan seperti itu.

Pernyataan saya disini adalah dia telah melanggar vinaya,jika dia meneruskan "keinginannya" lagi walaupun vinaya telah dia langgar,lantas memang saya melihatnya secara luar dia tetap "memakai jubah" dan "memiliki label Bhikkhuni".Tetapi jauh dr itu bagi saya dia sudah lepas jubah secara "batiniah"...Seperti kata saya,"Believe it or not?That's ur choice"...Semuanya ada ditangan anda....Saya cuma mengemukkan pendapat saya...

Vinaya tidak pernah menyebutkan memakai jubah itu melanggar Vinaya, saya tanya kamu, Sang Buddha menjadi petapa dan menggariskan Sangha, siapa yang menahbiskan Dia?
Saya kenal betul Ayya, bagaimana pengendalian dirinya, bagaimana ia ingin menjadi siswa Sang Buddha, dan anda tidak bisa main tembak dia sudah melakukan kesalahan. Iya secara tertulis memang dia salah, namun secara praktik Dhamma, saya tidak menemukan kesalahan kecuali dia wanita yang ingin jadi bhikkuni.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #54 on: 26 June 2008, 12:35:01 PM »
mau membaca Vinaya Bhikkuni dari 6 sekolah Buddhisme termasuk Theravada? saya punya, dan jangan jadikan kata Vinaya itu untuk mengancam atau mempertegas, Anda sudah pernah baca Vinaya secara lengkap?
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #55 on: 26 June 2008, 12:37:11 PM »
Yap...Mungkin saya kelepasan,tetapi anda sendiri sudah mengakui bahwa ada sejumlah oknum yang "menjual obat"....

saya mengakui tapi saya tidak mau sengaja membuat postingan disini karena ini internet,orang paling gampang copas pernyataan, dan ini akan menjadi rentetan keburukan yang tidak akan berakhir, cukup tahu, ingatkan otoritas bersangkutan akan penegakan Sila.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #56 on: 26 June 2008, 12:46:25 PM »
Quote
Sutta adalah panduan, terbentuk selama 2500 tahun, dan dibuktikan oleh mereka yang menembus dan mencapai, kalau anda ingin mempertanyakan otentik atau tidak otentik,lihatlah pengarahan Sutta , apakah berseberangan dengan Dhamma?
Maaf hal tersebut tidak bisa saya jawab...Karena menurut saya ,saya tidak "melekat" pada bentuk apapun,mau dia "tipitaka" "buku2" atau yang lainnya...
Kemudian apakah sutta berseberangan dengan Dhamma atau tidak, saya tidak tahu

Quote
Saya tidak mau menjawab ini benar atau ini tidak, tapi Jalan Tengah bro, anda terjebak pada satu posisi dan anda mempertahankan sama saja dengan tidak melihat Jalan Tengah itu berada.
Maksud anda?Saya tidak menangkap apa maksud sebenarnya dr pernyataan anda ini?
Bisa tolong dijelaskan?Thanks...

Quote
Otoritas yang kamu permasalahkan tidak bisa diambil sebagai ungkapan inilah agama Buddha, kita udah pernah mengetahui ,merasakan sendiri bagaimana kesalahan terbuat, memang hak kita bukan diam,namun anda harus memperhitungkan sisi psikologis Pemula yang tiba2 masuk membaca postingan anda, atau orang siapa aja yang sengaja mencari celah, tulisan anda bisa digunakan untuk bumerang, dan saya tidak mau melihat kekonyolan seperti itu.
Mungkin benar kata anda...
Mungkin karena "kecerobohan" saya untuk menjelaskan kepada saudara June...

Quote
Vinaya tidak pernah menyebutkan memakai jubah itu melanggar Vinaya, saya tanya kamu, Sang Buddha menjadi petapa dan menggariskan Sangha, siapa yang menahbiskan Dia?
Pernyataan anda yang saya bold,saya tidak mengerti maksud anda?Dari kata2 saya bahwa pembentukkan Sangha Bhikkhuni padahal tanpa izin itu melanggar vinaya...Bersikeras menjadi seorang Bhikkhuni padahal melanggar vinaya...Itu yang menjadi maksud saya...
Maksud anda apa?

Quote
Saya kenal betul Ayya, bagaimana pengendalian dirinya, bagaimana ia ingin menjadi siswa Sang Buddha, dan anda tidak bisa main tembak dia sudah melakukan kesalahan. Iya secara tertulis memang dia salah, namun secara praktik Dhamma, saya tidak menemukan kesalahan kecuali dia wanita yang ingin jadi bhikkuni.
Saya rasa anda juga harus melihat dr segi kasusnya...Kasusnya adalah STI tidak mengakui tetapi tetap didirikan...Saya melihat dr "kasusnya" terlepas dr anda kenal saudara Ayya atau tidak...

Salam,
Riky


Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #57 on: 26 June 2008, 12:54:49 PM »
Maaf hal tersebut tidak bisa saya jawab...Karena menurut saya ,saya tidak "melekat" pada bentuk apapun,mau dia "tipitaka" "buku2" atau yang lainnya...
Kemudian apakah sutta berseberangan dengan Dhamma atau tidak, saya tidak tahu


saya sudah tahu inti permasalahan kamu,
pertama, pemahaman Sutta pun saya rasa anda belum menyentuh untuk membacanya, apakah layak dari satu Sutta,anda berteriak disini bahwa inilah Dhamma dan inilah tidak Dhamma.

Pernyataan anda yang saya bold,saya tidak mengerti maksud anda?Dari kata2 saya bahwa pembentukkan Sangha Bhikkhuni padahal tanpa izin itu melanggar vinaya...Bersikeras menjadi seorang Bhikkhuni padahal melanggar vinaya...Itu yang menjadi maksud saya...
Maksud anda apa?


Carikan saya Vinaya dan Sutta yang menyebutkan bahwa hal ini melanggar Vinaya,melanggar Dhamma, kalau anda menemukan, silahkan lanjut debat dengan saya.

Saya rasa anda juga harus melihat dr segi kasusnya...Kasusnya adalah STI tidak mengakui tetapi tetap didirikan...Saya melihat dr "kasusnya" terlepas dr anda kenal saudara Ayya atau tidak...

saya pikir STI tidak bisa diajadikan otoritas tertinggi. Terima Kasih
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #58 on: 26 June 2008, 12:55:49 PM »
[at]Nyana...
Yap.Terserah pada anda....
Thats ur choice...

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #59 on: 26 June 2008, 01:27:25 PM »
Standarisasi penutupan debat.

Perhatikan ucapan, perbuatan dan pemikiran.
sadar atau tidak sadar tulisan anda bisa melecehkan beberapa pihak, dan anda bersikukuh dengan pengetahuan / spekulasi anda, sori saya bukan orang yang skeptis dengan tipitaka, namun alangkah baiknya sebuah peta yang diciptakan dihargai, dibaca dulu baru bawa orang ke kanan atau ke kiri.

skakmat Vinaya itu hanya bisa terjadi kalau kamu mempelajari Vinaya, skakmat Sutta dengan mempelajari Sutta, namun anda berbicara Vinaya atau Sutta tanpa sebuah panduan yang jelas, Vinaya dan Sutta tulisan siapa?mengarahkan orang lain pada rasa emosi bukanlah hal yang baik.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #60 on: 26 June 2008, 01:28:50 PM »
_/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #61 on: 02 July 2008, 11:35:11 AM »
Quote
mau membaca Vinaya Bhikkuni dari 6 sekolah Buddhisme termasuk Theravada? saya punya, dan jangan jadikan kata Vinaya itu untuk mengancam atau mempertegas, Anda sudah pernah baca Vinaya secara lengkap?

Bolehkah saya tau cara akses untuk membaca vinaya yg anda maksudkan. Karena sy sangat tertarik dengan vinaya yg sering dinyatakan telah dilanggar oleh para Ayya, dimana sampai hr ini sy jg blm membcnya dan hanya mendengarnya. Sy jg ingin membuktikkan sndr....  _/\_

Saya pikir jika ada wanita yg punya niat baik utk menjd Bhikkhuni, mengapa tidak didukung saja? Para Bhikkhu sendiri pun punya pendapat masing2. Saya pernah mempertanyakan hal ini kepada beberapa org Bhikkhu dan jawabannya beragam. Ada yg mengatakan bahwa hal ini tidak sesuai vinaya, ada pula Bhikkhu yg mengatakan ya... sesuai dengan ajaran Buddha segala sesuatu adalah tidak kekal, selalu berubah dari waktu ke waktu. Begitu pula Sangha Bhikkhuni yg dulu telah hilang kini muncul kembali. Ada yg mengesampingkan vinaya, ada jg yg bersikukuh memegang vinaya. Sehingga timbullah pro dan kontra.

Apapun pendapat kita Sangha Bhikkhuni telah terbentuk dan tetap berjalan. Saudara Nyanadhana sungguh mempunyai ikatan kamma yg baik sehingga bisa mengenal Ayya. Saya pribadi juga sangat ingin kenal dekat dengan para Ayya, cm y krn kamma blm mendukung.  :)

Saya pernah menghadiri ceramah dhamma yg dibwkan oleh Ayya Santini dan saya amat terkesan dengan ceramah dhamma tersebut. Cara beliau membabrkan dhamma amat sesuai dengan saya, apalagi dibabarkan dengan penuh cinta kasih... Dari seorg Ayya, sy merasakan pancaran Metta yg begitu mendalam. Dhamma yg dibabarkan pun kebanyakan menuntun kita utk berbagi cinta kasih. Pada saat itu saya berpikir Bhikkhuni sehebat ini mengapa tidak diakui dan diberi kesempatan.. Namun, skrng diakui ataupun tdk, tdklah pntng,,, Yg pntng adalah prakteknya dalam kehidupan sehari-hari....  _/\_

 [at]  bro Riky trima ksh utk penjlsannya.... "Berjalan sesuai vinaya tanpa dhamma hanya peraturan kosong dengan secerca manfaat sebaliknya juga Dhamma tanpa vinaya hanyalah kata2 kosong tanpa arti".... Saya setuju dengan pernyataan yg ini....
« Last Edit: 02 July 2008, 11:41:15 AM by June »
Buddhist newsletter

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #62 on: 02 July 2008, 11:50:55 AM »
Ini link Vinaya Bhikkuni dari 6 sekolah termasuk theravada zaman dulu

http://www.buddhanet.net/pdf_file/bhikkhuni_patimokkha.pdf

Yaph,betul ketika melihat Ayya, saya sendiri sangat terkesan kepada beliau,kepada perjuangan beliau, kepada Dhamma yang diajarkan beliau. memang pro dan kontra itu selalu ada namun bukankah itu muncul dari keegoisan pribadi. buat apa kita ribut2 soal pakaian yang dia pakai, lihat lah pada sumbangsihnya.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #63 on: 02 July 2008, 12:15:47 PM »
Dear bro Nyanadhana,

Thanks a lot....  _/\_
Buddhist newsletter

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #64 on: 02 July 2008, 08:23:32 PM »
_/\_
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline pendekar kuning

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 250
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #65 on: 14 July 2008, 10:25:34 PM »
 ^:)^ ^:)^ ^:)^

Offline Endang

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 5
  • Reputasi: 2
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #66 on: 26 July 2008, 05:30:17 PM »
 _/\_ ikut gabung dong bahas masalah bhikkhuni Theravada
Menurut saya kehidupan ini adalah proses untuk menjadi baik dan lebih baik, dan menjadi bhikkhu, bhikkhuni atapun orang awam adalah suatu pilihan, kalau pilihan2 itu dijalankan sesuai dengan vinaya masing2 pilihan em.. menurutku sah-sah aja misalnya dalam kehidupan ini pilih jadi bhikkhu ya jalanin vinaya dengan baik, klo jadi bhikkhuni "theravada" ya jalanin dengan baik vinanya, karena sekecil perbuatan salah yang dilakukan baik melalui pikiran, perbuatan ataupun ucapan khan masing-masing yang akan menangggungnya...
maaf ini menurut pendapat saya
trims

Offline Endang

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 5
  • Reputasi: 2
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #67 on: 26 July 2008, 05:32:57 PM »
menyinggung ayya santini
aku sangat bangga kepada beliau ayya santini dan ayya silavati
Perjuangannya begitu hebattttttttttttttt  _/\_
kebetulan aku pernah ikut pelatihan yang diadakan beliau
banyak memberi manfaat dalam kehidupanku

hidup ayya aku dukung perjuangan ayya

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #68 on: 27 July 2008, 09:01:19 PM »
Kalau saya mendukung saja adanya bhikkhuni theravada... mau hilang, hilang sendiri. mau muncul kembali, jangan dilarang. Biarkan apa adanya.
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline June

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 160
  • Reputasi: 9
  • Buddhism is to be practised
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #69 on: 28 July 2008, 01:40:20 PM »
Kalau saya mendukung saja adanya bhikkhuni theravada... mau hilang, hilang sendiri. mau muncul kembali, jangan dilarang. Biarkan apa adanya.
Kalau saya mendukung saja adanya bhikkhuni theravada... mau hilang, hilang sendiri. mau muncul kembali, jangan dilarang. Biarkan apa adanya.

Setuju...  _/\_
Buddhist newsletter

Offline pendekar kuning

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 250
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #70 on: 13 August 2008, 02:37:44 AM »
Kalau sanggup, tau resiko, merasa bisa bahagia, ya jalani aja.  :rose:

Hidup itu pilihan, semua pilihan tentunya untuk kebahagiaan sendiri toh, kalau salah perhitungan ya anggap belajar aja.

Jadi ini lebih personil, melihat ke dalam, bukan akibat dari penghakiman massa.

Bisakah kita berhenti menghakimi orang lain????

Offline ruby

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 3
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #71 on: 08 October 2008, 07:36:15 PM »
bhikkuni adalah pilar dhamma, maka ketika mereka dapat terwujud kembali itu adalah kemajuan terbesar. bangkit sangha bhikkhuni, tegakan kembali pilar yang pernah roboh.
masalah sangha yang t idak menerima keberadaan sangha bhikhuni hanya setigkat gengsi ajach kali ....... sebab bila kita melihat sejarah maka dahulu yang mentasbihkan sangha bhksuni (mahayana)adalah sanghanimita dari teravhada, jadi pelanggaran vinaya yang manayang akan terjadi bila kita benar-benar mau melihat sejarah..........?

Setuju bro, katanya khan Buddhisme akan langeng (salah satunya) kalau masih ada 4 pilar utama yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni, Upasaka dan Upasika. Sekarang aza Bhikkhuni Indonesia yg tinggal 2 (Dua) aja sering 'dijegal' langkahnya. Salah satu bukti kalo 4 pilar itu (di indonesia) da kaga akur, kalo di luar negeri mereka dukung sekali.
lah wong ada STI ada juga STT koq, STT sangat mendukung Bhikkhuni Indonesia.

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #72 on: 09 October 2008, 08:55:04 AM »
Setuju bro, katanya khan Buddhisme akan langeng (salah satunya) kalau masih ada 4 pilar utama yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni, Upasaka dan Upasika. Sekarang aza Bhikkhuni Indonesia yg tinggal 2 (Dua) aja sering 'dijegal' langkahnya.

ehm sori bro/sis.....

mungkin kalau saya boleh analogikan... . ada satu perumahan yang terdiri dari beberapa rumah
Setiap rumah disangga oleh 4 pilar
Satu saat, sekitar tahun 1100 Masehi, pada salah satu rumah yang tua, 1 pilarnya runtuh......
Namun rumah masih bisa berdiri karena disangga 3 pilar lainnya
Kemudian salah satu penghuni dari rumah yang masih relatif baru, yang mengaku masih family dengan penghuni rumah tua, membantu mendirikan kembali 1 pilar tersebut, kalau tidak salah, sekitar tahun 1800an
Pilar ini dianggap penghuni rumah tua, bukan sebagai pilarnya karena bukan dibangun oleh mereka sendiri.....

mungkin kira2 demikian sejarah bhikkhuni theravada.......

Salah satu bukti kalo 4 pilar itu (di indonesia) da kaga akur, kalo di luar negeri mereka dukung sekali.

boleh tau di luar negerinya dimana??? biar lebih memperjelas saja.....

lah wong ada STI ada juga STT koq, STT sangat mendukung Bhikkhuni Indonesia.

boleh tau apa itu STT??

Offline mrweiz

  • Teman
  • **
  • Posts: 59
  • Reputasi: 6
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #73 on: 09 October 2008, 09:09:40 AM »
waduh rasial ya

masak wanita tidak bole jd bikhuni, sungguh terlalu

Offline andrew

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 568
  • Reputasi: 22
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #74 on: 09 October 2008, 09:12:38 AM »
waduh rasial ya


bukan ras tapi gender  :)

 _/\_

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #75 on: 09 October 2008, 09:18:34 AM »
lah wong ada STI ada juga STT koq, STT sangat mendukung Bhikkhuni Indonesia.

STT= Thai Dhammaduta
Masak sih? ntar hari minggu aye tanya langsung.

waduh rasial ya

masak wanita tidak bole jd bikhuni, sungguh terlalu

Bukan rasialis. Ada yang memegang ajaran Sang Buddha bahwa Bhikkhuni hanya bisa ditahbiskan oleh Bhikkhuni. Dan menilik sejarah sudah tidak ada Bhikkhuni (Theravada), ya gak bisa ditabhiskan lagi. Beberapa orang yang kamu anggap rasialis ini cuma ingin mempertahankan Sasana Dhamma Sang Buddha aja koq. Apakah kamu tahu kalau orang yang mengaku Bhikkhu/Bhikkhuni tanpa penahbisan yang sah adalah salah satu maling terbesar?

Ada juga yang menginterpretasikan bisa ditahbiskan oleh Bhiksuni Mahayana.

Tergantung interpretasi aja koq. Kalau saya pribadi mengakui tidak mengetahui batin yang menentang dan mendukung. Dan saya tidak perlu mengeluarkan kata-kata hinaan.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline ruby

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 3
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #76 on: 09 October 2008, 09:27:19 AM »
Quote
boleh tau apa itu STT??
STT = Sangha Theravada Thailand kalo kaga salah salah satunya Bhante Kamsai deh...

Quote
boleh tau di luar negerinya dimana??? biar lebih memperjelas saja.....
Salah Satunya Australia Bro, Bhante Sujato (Shanti Forest Monestry)
Beliau pernah ditegur oleh STI, gara2 mau jadi pembicara ( kalau kaga salah waktu itu diadakan di Taman Anggrek - Jakarta ) seminar tentang bhikkhuni. Hasilnya kaga jadi datang hehehe...

ini seh cuman diskusi aze yak bro and sis, jangan dianggep serius atau diperpanjang....
nyante aza.... hehehe...

« Last Edit: 09 October 2008, 09:37:46 AM by ruby »

Offline ruby

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 3
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #77 on: 09 October 2008, 09:29:58 AM »
Quote
STT= Thai Dhammaduta
Masak sih? ntar hari minggu aye tanya langsung.
iye bro ditanyain aze....

Offline ruby

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 3
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #78 on: 09 October 2008, 09:40:06 AM »
Quote
boleh tau apa itu STT??
STT = Sangha Theravada Thailand kalo kaga salah salah satunya Bhante Kamsai deh...

Quote
boleh tau di luar negerinya dimana??? biar lebih memperjelas saja.....
Salah Satunya Australia Bro, Bhante Sujato (Shanti Forest Monestry)
Beliau pernah ditegur oleh STI, gara2 mau jadi pembicara ( kalau kaga salah waktu itu diadakan di Taman Anggrek - Jakarta ) seminar tentang bhikkhuni. Hasilnya kaga jadi datang hehehe...

ini seh cuman diskusi aze yak bro and sis, jangan dianggep serius atau diperpanjang....
nyante aza.... hehehe...
yang penting melestarikan dan menjalankan Dhamma Ajaran Sang Buddha semampu kita...



Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #79 on: 09 October 2008, 09:53:15 AM »
STT = Sangha Theravada Thailand kalo kaga salah salah satunya Bhante Kamsai deh...

oo... i c.... anumodana  _/\_

Salah Satunya Australia Bro, Bhante Sujato (Shanti Forest Monestry)
Beliau pernah ditegur oleh STI, gara2 mau jadi pembicara ( kalau kaga salah waktu itu diadakan di Taman Anggrek - Jakarta ) seminar tentang bhikkhuni. Hasilnya kaga jadi datang hehehe...

yah let's say bahwa untuk aussie memang lebih moderat..... namun aturan sangha tiap negara biasanya berbeda.... pernah saya alami wkt rame2nya topik Bhikkhuni tahun 2005  :P

ini seh cuman diskusi aze yak bro and sis, jangan dianggep serius atau diperpanjang....
nyante aza.... hehehe...

yup, santai aja....... tapi kalo bisa jgn dibawa keluar forum...... bisa bikin bnyk org ga bisa santai  ^-^

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #80 on: 09 October 2008, 07:22:17 PM »
wah jauh banget yahh debat nya, rasanya kita mesti melihat dari mula lagi pada tahun 1924(lupa tahun nya nih kalo salah mohon maaf yah) yang mana sangha theravada pada waktu itu berusaha mengumpulkan para bhikuni terakhir untuk melestarikan sangha bhikuni tapi ketika mereka berusaha mengumpulkan bhikkuni ini salah satu dari 5 bhikuni taerakhir meninggal dan pupus sudah harapan merka untuk melestarikan sangha bhikkuni itu jadi di buat pernyataan lah bahwa sangha bhikuuni theravada berakhir. 

kalian harus melihat dengan kacamata saat itu tentu berbeda dengan saat ini coba lihat pada masa itu mana ada internet dsb tehnologi jaman itu terbatas dengan keterbatasan itulah mereka mengangap sangha bhikuuni telah berakhir. mereka telah melakukan usaha yang terbaik pada masa tersebut.

berbeda dengan massa sekarang dimana tehnologi sudah maju sudah internet dan mobilitas lebih mudah (gampang kan beli tiket pesawat terbang dll). di jaman kita ini ada yang mencoba menelusuri jejak kaki para bhikkuni theravada pada masa lampau. dan ternyata jejak nya ada dari catatan catatan dari masa lampau.

jadi tidak sepenuh nya punah ada jejak jejak kecil nah dari si ini lah muncul perdebatan yang memusingkan ini.

sungguh menyedihkan bukan karena seseorang menjalankan sebuah ehipasiko membuka sebuah kotak pandora  bagaimana melihat kotak pandora ini lah, kita harus melihat nya dengan jernih dan bijaksana apakah melihat nya dengan ketakutan ketakutan atau melihat nya ada secercah cahaya harapan di dalam nya. tetapi anda juga bisa  melihat keduanya dalam kotak pandora tersebut.

 _/\_

« Last Edit: 09 October 2008, 07:50:14 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #81 on: 09 October 2008, 08:01:48 PM »
bila aku harus memutuskan urusan ini.

ini lah yang aku lakukan aku akan melihat kesahihan dari data data yang ada pada saat ini apakah benar sudah melalui pewarisan yang sah.

bila sudah sah maka bhikkuni theravada yang akan kembali (angkatan pertama) akan menerima semacam hukuman sesuai vinaya karena ke alpaan mereka singkat nya mungkin dalam bentuk hukuman selama 5 thn. 

sesudah itu untuk angkatan ke dua ( yang di angkat kemudian dari angkatan pertama dan para bhiku sangha theravada) mungkin akan mendapat hukuman selama 4 thn sesuai vinaya.
« Last Edit: 09 October 2008, 08:08:43 PM by daimond »

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #82 on: 09 October 2008, 08:04:10 PM »
waduh rasial ya

masak wanita tidak bole jd bikhuni, sungguh terlalu

Wanita boleh jadi Bhikkuni.
Justru pria yang tidak boleh jadi Bhikkuni    :P
yaa... gitu deh

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #83 on: 09 October 2008, 08:16:02 PM »
bila aku harus memutuskan urusan ini.

ini lah yang aku lakukan aku akan melihat kesahihan dari data data yang ada pada saat ini apakah benar sudah melalui pewarisan yang sah.

bila sudah sah maka bhikkuni theravada yang akan kembali (angkatan pertama) akan menerima semacam hukuman sesuai vinaya karena ke alpaan mereka singkat nya mungkin dalam bentuk hukuman selama 5 thn. 

sesudah itu untuk angkatan ke dua ( yang di angkat kemudian dari angkatan pertama dan para bhiku sangha theravada) mungkin akan mendapat hukuman selama 4 thn sesuai vinaya.


Kalau bukan pewarisan yang sah, maka bukan Sangha, melainkan pencuri terbesar.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline andrew

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 568
  • Reputasi: 22
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #84 on: 09 October 2008, 08:19:56 PM »

Kalau bukan pewarisan yang sah, maka bukan Sangha, melainkan pencuri terbesar.

mewarisi apa ?
mencuri apa  ?


 _/\_
« Last Edit: 09 October 2008, 08:21:44 PM by andrew »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #85 on: 09 October 2008, 08:23:46 PM »
ini lah sumber debat nya apakah sah atau tidak sah itu saja problem nya


Kalau bukan pewarisan yang sah, maka bukan Sangha, melainkan pencuri terbesar.

mewarisi apa ?
mencuri apa  ?


 _/\_



sangha mengikuti semacam garis darah (bloodline/son of the lineage) pewarisan yang di turunkan dan hal ini dapat di telusuri ke masa Buddha
« Last Edit: 09 October 2008, 08:29:05 PM by daimond »

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #86 on: 09 October 2008, 08:52:19 PM »
Istilahnya adalah : theyyasaṃvāsaka
Dia yang tinggal di perkumpulan dengan pencurian.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #87 on: 09 October 2008, 08:56:36 PM »
Dan kembali lagi ke penafsiran, Bhikkhu-Bhikkhu ada yang tidak mengakui ada yang karena tidak mau gegabah. Hal ini tidak mudah diputuskan atas dasar wanita berhak menjadi Bhikkhuni saja. Memang dulu berhak, karena sudah diperbolekan oleh Sang Buddha.
Tetapi apakah garis keturunan itu masih ada? Ada penafsirannya masing-masing. Ada yang menentang dan menerima. Biarkan yang menolak tetap menolak, biarkan yang menerima tetap menerima.
Ada hukum Karma yang berlaku di sini. Jangan karena emosi atau pemikiran bodoh sesaat membawa akibat yang buruk sekali.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline andrew

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 568
  • Reputasi: 22
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #88 on: 09 October 2008, 08:59:13 PM »
ini lah sumber debat nya apakah sah atau tidak sah itu saja problem nya


Kalau bukan pewarisan yang sah, maka bukan Sangha, melainkan pencuri terbesar.

mewarisi apa ?
mencuri apa  ?


 _/\_



sangha mengikuti semacam garis darah (bloodline/son of the lineage) pewarisan yang di turunkan dan hal ini dapat di telusuri ke masa Buddha


pada awal awal keberadaan  sangha bhikkuni Buddha mengeluarkan peraturan yang terdapat dalam Cullavagga 10 :    “Para bhikkhu diizinkan untuk mengupasampada menjadi bhikkhu dan wanita menjadi bhikkhuni.”

dari ini jadi pada awalnya Bhikkuni bisa di upasampada hanya oleh bhikku tanpa bhikkuni...


setelah jumlah bhikkuni menjadi banyak...

Buddha membuat peraturan upasampada bhikkuni harus di awali oleh bhikkuni , baru oleh bhikku...


walaupun demikian Buddha tidak pernah mentidak berlakukan cullavagga 10,
jadi sampai saat ini peraturan dalam cullavagga 10 masih berlaku...

dimana bhikku bisa mengupasampada bhikkuni, tanpa di upasampada oleh bhikkuni dahulu...

cullavagga 10
ini antara lain pandangan bahwa bhikkuni theravada ada kemungkinan untuk dibangkitkan kembali...


 _/\_

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #89 on: 09 October 2008, 09:00:59 PM »
ini lah sumber debat nya apakah sah atau tidak sah itu saja problem nya


Kalau bukan pewarisan yang sah, maka bukan Sangha, melainkan pencuri terbesar.

mewarisi apa ?
mencuri apa  ?


 _/\_



sangha mengikuti semacam garis darah (bloodline/son of the lineage) pewarisan yang di turunkan dan hal ini dapat di telusuri ke masa Buddha


pada awal awal keberadaan  sangha bhikkuni Buddha mengeluarkan peraturan yang terdapat dalam Cullavagga 10 :    “Para bhikkhu diizinkan untuk mengupasampada menjadi bhikkhu dan wanita menjadi bhikkhuni.”

dari ini jadi pada awalnya Bhikkuni bisa di upasampada hanya oleh bhikku tanpa bhikkuni...


setelah jumlah bhikkuni menjadi banyak...

Buddha membuat peraturan upasampada bhikkuni harus di awali oleh bhikkuni , baru oleh bhikku...


walaupun demikian Buddha tidak pernah mentidak berlakukan cullavagga 10,
jadi sampai saat ini peraturan dalam cullavagga 10 masih berlaku...

dimana bhikku bisa mengupasampada bhikkuni, tanpa di upasampada oleh bhikkuni dahulu...

cullavagga 10
ini antara lain pandangan bahwa bhikkuni theravada ada kemungkinan untuk dibangkitkan kembali...


 _/\_
Dan ada pula bahan lain untuk menentang. Sayang saya sedang lupa di mana gerangan hal itu berada.
Saya akan kabarkan lagi.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline andrew

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 568
  • Reputasi: 22
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #90 on: 09 October 2008, 09:15:27 PM »

Dan ada pula bahan lain untuk menentang. Sayang saya sedang lupa di mana gerangan hal itu berada.
Saya akan kabarkan lagi.

tolong dong dikasih... untuk menambah wawasan...


pandangan saya pribadi...

terlepas dari semua peraturan pro kontra...

dalam pandangan saya, bila wanita ingin menjalankan kehidupan suci...
yang tidak hanya menjalankan dasasila, tapi ingin menjalankan vinaya bhikkuni...

tentunya itu merupakan niat baik, niat mensucikan diri

seperti seorang pria, yang pada awalnya cuma menjalankan 5 sila, kemudian menambah menjadi 8 sila, kemudian menjalankan 10 sila...

kemudian setelah menjalankan 10 sila, bertekad menjalankan vinaya bhikku , 227 peraturan...
tentunya ini niat baik, karma baik...


apakah kemudian wanita yang dari 10 sila ingin menjalankan vinaya bhikkuni untuk mensucikan diri,
ini akan menjadi karma buruk buat dirinya?

apakah seorang wanita yang ingin menjalankan vinaya bhikkuni akan menambah loba moha dosa?
sehingga menimbulkan karma buruk ?

ataukah vinaya bhikkuni merupakan sarana mengikis loba moha dosa? bila ya, kenapa wanita tidak boleh menjalankan vinaya ini? dengan alasan sudah punah silsilahnya....

apakah kesucian dicapai berdasarkan silsilah ? atau berdasarkan sila samadhi dan panna ?

apakah karena sudah tidak ada silsilah, wanita yang menjalankan vinaya bhikkuni menjadi melakukan karma buruk? vinaya bhikkuni sejalan dengan sila ... atau bertentangan dengan sila? kenapa menjadi karma buruk ?



saya bukan ingin berdebat... cuma bertanya saja... soal kebingungan ini ...


 _/\_

« Last Edit: 09 October 2008, 09:17:10 PM by andrew »

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #91 on: 10 October 2008, 09:33:43 AM »
Kalau ada pria yang memenuhi syarat, mau menjadi Bhikkhu, tapi tinggal di tempat terpencil, tidak punya ongkos ke luar negeri, gimana?
Ngotot? Melekat? Menahbiskan diri sendiri?

Ambil contoh Sayalay Dipankara, wanita menjalankan 10 sila, guru meditasi yang saya hormati. Beliau tidak melekat pada keharusan menjadi Bhikkhuni.

Saya tahu masing-masing punya alasan sendiri. Kalau mau mendukung, silahkan. Kalau mau menentang silahkan. Kalau mau menahbiskan Bhikkhuni dengan cara mencari Bhikkhuni Mahayana, silahkan, tapi pergunakan Vinaya Dharmagupta yang dipergunakan Bhikkhuni Mahayana.
Yang jadi masalah yang campur-campur, yang ngotot. Setelah itu mempermasalahkan kesetaraan gender, karma baik, menjelek-jelekkan. Padahal masing-masing punya kebijaksanaan masing-masing.

Dan saya kira para Bhikkhu berhak bilang sesuatu bertentangan atau tidak dengan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #92 on: 10 October 2008, 10:06:53 AM »
pandangan saya pribadi...

terlepas dari semua peraturan pro kontra...

secara pribadi, saya juga salah satu yg pro dengan pembentukan kembali sangha bhikkhuni

dalam pandangan saya, bila wanita ingin menjalankan kehidupan suci...
yang tidak hanya menjalankan dasasila, tapi ingin menjalankan vinaya bhikkuni...

tentunya itu merupakan niat baik, niat mensucikan diri

seperti seorang pria, yang pada awalnya cuma menjalankan 5 sila, kemudian menambah menjadi 8 sila, kemudian menjalankan 10 sila...

kemudian setelah menjalankan 10 sila, bertekad menjalankan vinaya bhikku , 227 peraturan...
tentunya ini niat baik, karma baik...

betul sekali...... niat baik ini adalah kusala mano kamma = kamma baik yang dilakukan via pikiran

apakah kemudian wanita yang dari 10 sila ingin menjalankan vinaya bhikkuni untuk mensucikan diri,
ini akan menjadi karma buruk buat dirinya?

niat untuk mensucikan diri sendiri adalah kusala mano kamma.........


apakah seorang wanita yang ingin menjalankan vinaya bhikkuni akan menambah loba moha dosa?
sehingga menimbulkan karma buruk ?

Tergantung apakah dia melekat pada vinaya itu atau tidak. Sering terjadi pada kita dimana sesuatu yang baik itu dilekati.
Misal ibu yang ingin anaknya jadi pintar, lalu marah pada waktu anaknya malas belajar
Ini menunjukkan lobha/kemelekatan ibu pada "niat baiknya", sehingga pada waktu anak tidak berbuat seperti yang "diharapkan", ibu menjadi marah/dosa

Hal sama pada vinaya. Jangan jauh2, kita sendiri pada waktu menjalankan atta sila saja. yang notabene adalah hal yang baik, sering jadi objek akusala.
Bisa muncul lobha pada waktu makan siang (yang terakhir)
Bisa juga muncul dosa pada waktu rasa lapar muncul
belum jika kita sudah terbiasa dengan hal2 lain, misal mendengarkan musik, menonton TV, dsbnya.........


ataukah vinaya bhikkuni merupakan sarana mengikis loba moha dosa? bila ya, kenapa wanita tidak boleh menjalankan vinaya ini? dengan alasan sudah punah silsilahnya....

vinaya adalah sila juga, yang notabene dapat mengikis LDM yang paling kasar/rendah

disini bro harus membedakan antara vinaya sebagai peraturan organisasi Sangha, dengan menjalankan vinaya sebagai sila untuk perorangan.
Walau menjalankan vinaya itu kamma baik namun organisasi punya peraturan masing-masing

apakah kesucian dicapai berdasarkan silsilah ? atau berdasarkan sila samadhi dan panna ?

Dengan banyak menjalankan sila, samadhi dan panna, kita akan terlahir setidaknya ke keluarga yang lebih baik.
Itu kenapa Sidhattha lahir di keluarga kerajaan, bukan di rakyat jelata

apakah karena sudah tidak ada silsilah, wanita yang menjalankan vinaya bhikkuni menjadi melakukan karma buruk? vinaya bhikkuni sejalan dengan sila ... atau bertentangan dengan sila? kenapa menjadi karma buruk ?

Tidak ada yang bilang bahwa menjalankan vinaya adalah kamma buruk selama itu dijalankan di luar organisasi.

Namun yang disebut oleh bro Karuna, adalah jika masuk organisasi..... silahkan dilihat kembali
Quote
Istilahnya adalah : theyyasaṃvāsaka
Dia yang tinggal di perkumpulan dengan pencurian.

saya bukan ingin berdebat... cuma bertanya saja... soal kebingungan ini ... _/\_

tahun 2004-2005, saya juga mengalami kebingungan itu juga....... bahkan suasana waktu itu sempat "panas" apalagi opini perorangan beberapa bhikkhu juga sebenarnya "tidak bermasalah" dengan pendirian bhikkhuni

namun seperti yang anda bilang sendiri, walau culavagga 10 belum pernah dicabut namun peraturan terakhir Buddha menyebutkan bahwa Bhikkhuni harus ditahbiskan oleh Sangha Bhikkhuni.

sebenarnya Bhikkhuni masih jalan di beberapa negara seperti Myanmar, dimana ayya santini waktu itu diupasampada oleh salah satu sekte disana (kalo ga salah sekte Gupta..cmiiw)
namun sekte ini tidak diakui oleh theravada, karena walau mengaku Theravada tetapi sekte ini "katanya" awalnya dari mahayana...

jadi sejarahnya amat sangat panjang sekali........

semoga kali ini, diskusinya tidak membawa suasana panas lagi  _/\_

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #93 on: 10 October 2008, 10:32:03 AM »

The Revival of Bhikkhunī Ordination
in the Theravāda Tradition


Ven. Bhikkhu Bodhi



My paper focuses on the legal and ethical issues involved in the revival of the Theravāda Bhikkhunī Sangha. The paper is divided into three parts. In Part I, I review the arguments presented by Theravādin traditionalists who see a revival of bhikkhunī ordination as a legal impossibility. In Part II, I offer textual and ethical considerations that support the claim that bhikkhunī ordination should be restored. And in Part III, I briefly consider the legal mechanics of restoring the bhikkhunī ordination to the Theravāda tradition, that is, how the ordination can best be harmonized with the stipulations of the Vinaya.

Monastic ordination as a bhikkhunī involves three stages: (1) pabbajjā, the novice ordination; (2) the sikkhamānā training; and (3) upasampadā or full ordination. Theravādin Vinaya experts posit hurdles at all three stages. In my paper, I discuss all three stages from two points of view: in terms of the objections posed by the conservative legalists, who claim that it is impossible to revive them; and from the point of view of those who favor reviving the bhikkhunī ordination. Since the time allotted for the oral presentation is limited, I will be focusing exclusively on the upasampadā. To anticipate my conclusion: I hold that neither position can be derived unambiguously from the Vinaya, but that interpretation depends upon the setting under which the interpretation of the Vinaya is made and the set of presuppositions and purposes that the interpreters bring to the task of interpretation.


I. The Case Against the Revival of Bhikkhunī Ordination

For Vinaya legalists, the upasampadā presents the most formidable barrier to reviving the Bhikkhunī Sangha. The main legal objection the legalists raise against bhikkhunī upasampadā is that it is a dual-ordination. It must be given by both the Bhikkhunī Sangha and the Bhikkhu Sangha, and to be a purely Theravāda ordination it must come from an existing Theravāda Bhikkhunī Sangha. This leads to a predicament, for in the absence of an existing Theravāda Bhikkhunī Sangha, a legitimate Theravāda bhikkhunī ordination itself cannot be granted. There is thus simply no possibility of reviving the Theravāda Bhikkhunī Sangha. Bhikkhunī ordination will remain out of reach throughout the duration of the present Buddha's dispensation. Those women who want to live a life of renunciation will have to be content with surrogate forms of renunciant life, such as that of the dasasilmātā, the thila-shin, or the maechee.


II. The Case for a Revival of Theravāda Bhikkhunī Ordination


After sketching the legal arguments that conservative Vinaya authorities raise against restoring the bhikkhunī ordination to the Theravāda tradition, I look at some factors, textual and ethical, that favor its restoration. I distribute these factors into two groups: one I call “ancient mandate”; the other, compelling contemporary circumstances.

The primary ancient mandate is the Buddha's own decision to create a Bhikkhunī Sangha as a counterpart to the male Bhikkhu Sangha. When Mahāpajāpatī Gotamī and the five hundred Sakyan women came to the Buddha, they did not ask the Buddha to establish an order of nuns. They simply asked him for permission to go forth into the homeless life. Although the Buddha at first denied this request, he finally yielded. In yielding, however, he did not simply allow women to go forth, but constituted renunciant women into a distinct order, a community governed by its own rules and regulations. Though he subordinated this order to the Bhikkhu Sangha with respect to certain functions, he still made it largely autonomous. This shows that he recognized the Bhikkhunī Sangha as an essential component of his Sāsana, and without the Bhikkhunī Sangha the Sāsana is imperfect and incomplete.

Reflection on contemporary conditions also supports the case for a revival of bhikkhunī ordination. Our own age has been shaped by the ideas of the European Enlightenment, a movement that affirmed the inherent dignity of the human person and brought demands for political equality and equal justice for all under the law. From the mid-nineteenth century on, people around the globe came to perceive discrimination based on gender as arbitrary and unjust, a system that had been imposed on society simply because of the dominant roles that men had played in eras when social stability depended on physical strength and military force. Thus discrimination based on gender has been challenged almost everywhere in the secular sphere, and its role in religious life has also come up for serious scrutiny. Religion remains one of its most persistent strongholds, and Buddhism is no exception to this. It is true that the Vinaya makes bhikkhunīs subordinate to bhikkhus, and the Bhikkhunī Sangha subordinate to the Bhikkhu Sangha, but we have to remember that the Buddha lived and taught in India in the fifth century B.C. Practices that pertain to etiquette must be evaluated in the light of altered social and cultural conditions. When we ask what line of action would be appropriate for today, we should not ask what the Buddha did twenty-five centuries ago, but what he would want us to do today.

If people see Theravāda Buddhism as a religion that includes male renunciants but excludes female renunciants, or which admits them only through some unofficial ordination, they will suspect that something is fundamentally askew, and defensive arguments based on appeals to arcane principles of monastic law will not go very far to break down distrust. This will be an instance of the type of behavior that we meet so often in the Vinaya where “those without confidence do not gain confidence, while among those with confidence, some undergo vacillation.” On the other hand, by rousing the courage to restore to women the right to lead a full religious life, that is, by reviving the Bhikkhunī Sangha, Theravādin elders will show that they know how to apply the Vinaya in a way that is appropriate to the time and circumstances, and also in a way that is kind and embracing rather than rigid and rejecting.


bersambung...
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #94 on: 10 October 2008, 10:32:46 AM »
III. Addressing the Legalist Challenge


Nevertheless, while there might be strong textual and ethical grounds favoring a revival of the Theravāda Bhikkhunī Sangha, such a step would not be possible unless the legal objections to such a movement can be addressed. The legalists object to resuscitating bhikkhunī ordination, not so much because of bias against women (though some might have such a bias), but because they see such a measure as a legal impossibility. To restore the Theravāda Bhikkhunī Sangha, the three challenges posed by Theravāda Vinaya legalists would have to be overcome. These are the challenges based on: (1) the problem of pabbajjā (novice ordination); (2) the problem of sikkhamānā ordination and training; and (3) the problem of upasampadā.

Here I will deal only with the question of upasampadā. Before doing so, however, I first want to note that Theravāda legal theory often merges stipulations on legal issues that stem from the canonical Vinaya texts and the Commentaries with interpretations and assumptions that have gained currency through centuries of tradition. I do not want to undervalue tradition, for it represents the accumulated legal expertise of generations of Vinaya specialists, and this expertise should certainly be respected and taken into account in determining how the Vinaya is to be applied to new situations. But we also must remember that tradition should not be placed on a par with the canonical Vinaya or even with the secondary authorities, the Aṭṭhakathās and Ṭīkās. These different sources should be assigned different weights of authority according to their different origins. When our understanding of the Vinaya is strongly grounded in tradition, however, without realizing it we may become entangled in a web of traditionalist assumptions that obstructs our ability to distinguish what derives from the canonical Vinaya from what is prescribed by tradition. Sometimes simply changing the assumptions can recast the principles of the Vinaya in a whole new light.

I will illustrate this point with an analogy from geometry. A straight line is drawn through a point. As this line is extended, the distance between its two ends widens. It is thus obvious that the two ends will never meet, and if anyone expresses doubts about this, I would almost question their rationality. But this is so only because I am thinking within the framework of traditional geometry, Euclidean geometry, which held sway over mathematics up until the twentieth century. When, however, we adopt the standpoint of spherical geometry, we can see that a line drawn through a particular point, if extended far enough, eventually encounters itself. Again, in traditional geometry we are taught that a triangle can have at most only one right angle and that the sum of the angles of a triangle must be 180°, and this can be proven with absolute rigor. But that is so only in Euclidean space. Give me a sphere, and we can define a triangle with three right angles whose angles make a sum of 270°. Thus, if I break away from my familiar assumptions, a whole new range of possibilities suddenly opens up to my understanding.

The same applies to our thinking about the Vinaya. For conservative theory, the fundamental assumptions are: (i) that the dual-Sangha ordination was intended to apply under all circumstances and admits of no exceptions or modifications to accord with conditions; (ii) that the Theravāda is the only Buddhist school that preserves an authentic Vinaya tradition. Once these assumptions are accepted, there is no escape from the conclusion that the Bhikkhunī Sangha is forever extinct. Those who favor revival of the Bhikkhunī Sangha, however, work with different assumptions. For them, the fundamental starting point was the Buddha’s decision to create the Bhikkhunī Sangha. The procedure of ordination was merely the legal mechanics to implement that decision. From this standpoint, to block the implementation of that decision because of a legal technicality is to hamper the fulfillment of the Buddha’s own intention. This is not to say that the proper way to implement his intention should violate the guidelines of the Vinaya. But within those broad guidelines the two assumptions of conservative legalism can be circumvented by holding either or both of the following: (i) that under exceptional circumstances the Bhikkhu Sangha can revert to a single-Sangha ordination of bhikkhunīs, based on the Buddha’s statement: “I allow you, bhikkhus, to ordain bhikkhunīs”; and (ii) that to preserve the form of dual-Sangha ordination, the Theravāda Bhikkhu Sangha can collaborate with a Bhikkhunī Sangha from an East Asian country following the Dharmaguptaka “Four-Section” Vinaya.

This approach to ordination may not satisfy the most rigorous demand of conservative Theravāda Vinaya legal theory, namely, that it be conducted by Theravāda bhikkhus and bhikkhunīs who have been ordained by Theravāda bhikkhus and bhikkhunīs in an unbroken lineage. But to make that impossible demand the uncompromising requirement for restoring the Bhikkhunī Sangha would seem unreasonably stringent. In the view of many learned Theravāda monks, mainly Sri Lankan, adopting either of the above routes will culminate in a valid bhikkhunī ordination and at the same time will grant to women the chance to live the spiritual life in the way that the Buddha intended them to live it—as fully ordained bhikkhunīs.

The grand ordination held at Bodhgaya in February 1998, under the auspices of Fo Guang Shan, combined both approaches mentioned above. This method yielded a more satisfactory ordination than either could if taken alone. The grand ordination ceremony assembled bhikkhus from several traditions—Chinese Mahāyāna, Theravāda, and Tibetan--along with Taiwanese and Western bhikkhunīs to conduct the full dual-ordination in accordance with the Chinese tradition. The women who were ordained included Theravāda nuns from Sri Lanka and Nepal, as well as Western nuns following Tibetan Buddhism. One might think that this was a Mahāyāna rite which made the nuns Mahāyāna bhikkhunīs, but this would be a misunderstanding. While the Chinese monks and nuns were practitioners of Mahāyāna Buddhism, the monastic Vinaya tradition they observe is not a Mahāyāna Vinaya but the Vinaya of the Dharmaguptakas, which belonged to the same broad Vibhajyavāda tradition to which the southern Theravāda school belongs. They were virtually the northwest Indian counterpart of the Theravāda, with a similar collection of suttas, an Abhidharma, and a Vinaya that largely corresponds to the Pāli Vinaya. Thus the upasampadā ordination performed by the Chinese Sangha at Bodhgaya conferred on the candidates the bhikkhunī lineage of the Dharmaguptakas, so that in Vinaya terms they were now full-fledged bhikkhunīs inheriting the Dharmaguptaka Vinaya lineage.

However, the bhikkhunīs from Sri Lanka wanted to become heirs to the Theravāda Vinaya lineage and to be acceptable to the Theravāda bhikkhus of Sri Lanka. The Sri Lankan bhikkhus who sponsored their ordination, too, were apprehensive that if the nuns returned to Sri Lanka with only the Chinese ordination, their co-religionists would have considered their ordination to have been essentially a Mahāyānist one. To prevent this, shortly afterwards the newly ordained bhikkhunīs traveled to Sarnath, where they underwent another upasampadā conducted in Pāli by Theravāda bhikkhus from Sri Lanka. This ordination did not negate the earlier dual-ordination received from the Chinese Sangha, but supplemented it and gave it a new direction. The dual-Sangha ordination at Bodhgaya made the women bhikkhunīs, but heirs of the Dharmaguptaka Vinaya lineage; the subsequent ordination by a Sangha of Theravāda bhikkhus at Sarnath inducted them into the Theravāda Sangha. They were now entitled to follow the Vinaya of the Pāli Canon and to perform the necessary sanghakammas together with their brothers in the Theravāda Bhikkhu Sangha of Sri Lanka.

While dual-Sangha ordination should certainly prevail whenever conditions make it feasible, a case can also be made to justify ordination solely by a Sangha of Theravāda bhikkhus. It might be argued that under the exceptional circumstances when a Theravāda Bhikkhunī Sangha has vanished, Theravāda bhikkhus are entitled to take as a precedent the original case when there was no Bhikkhunī Sangha and revive the allowance that the Buddha gave to the bhikkhus to ordain bhikkhunīs on their own. This allowance might be defended on the principle of analogy: When an exceptional method is used in one set of circumstances to achieve a desirable goal, then in circumstances that are similar in all relevant respects, if there is no other feasible method to achieve that goal, the exceptional method again becomes permissible. In this case, the original situation is that found at the inception of the Bhikkhunī Sangha, when the Sangha was placed in a double-bind. The sixth garudhamma required a dual-Sangha ordination for bhikkhunīs, but there was no Bhikkhunī Sangha to give the ordination. So how was the Sangha to escape this predicament? According to the account, the Buddha said: “I authorize bhikkhus to ordain bhikkhunīs.” And thus bhikkhus continued to ordain bhikkhunīs until the dual-Sangha ordination was prescribed. This situation is almost exactly analogous to the one we faced until recently, when there were women who wanted Theravāda bhikkhunī ordination but no Theravāda bhikkhunīs to ordain them. So one solution proposed was to allow Theravāda bhikkhus to use that authorization, never withdrawn, to ordain bhikkhunīs until a functional Bhikkhunī Sangha came into being. This was the method the Sri Lankan monks employed at Sarnath to give the Sri Lankan nuns a second ordination that inducted them into the Theravāda Sangha.

However, now that the Bhikkhunī Sangha has been reconstituted in Sri Lanka, there is no longer any justification for using ordination by a Sangha composed solely of bhikkhus. If any woman wants to receive bhikkhunī ordination in the Theravāda tradition, she should receive training as a sikkhamānā and eventual bhikkhunī ordination in Sri Lanka itself. No doubt, in time the opportunity for bhikkhunī ordination will also spread to the West.


Conclusion


The disappearance of the Theravāda Bhikkhunī Sangha has presented us with a situation not explicitly addressed in the Vinaya and thus one for which there is no unambiguous remedy. As I see it, the Vinaya cannot be read in any fixed manner as either unconditionally permitting or forbidding a revival of the Bhikkhunī Sangha. It yields these conclusions only as a result of interpretation, and interpretation often reflects the attitudes of the interpreters and the framework of assumptions within which they operate as much as it does the words of the text they are interpreting.

In my opinion, in dealing with this issue, the question that should be foremost in our minds is this: "What would the Buddha want his elder bhikkhu-disciples to do in such a situation, now, in the twenty-first century?" Would he want us to apply the regulations governing ordination in a way that excludes women from the fully ordained renunciant life, so that we present to the world a religion in which men alone can lead the life of full renunciation? Or would he instead want us to apply the regulations of the Vinaya in a way that is kind, generous, and accommodating, thereby offering the world a religion that truly embodies principles of justice and non-discrimination?

The answers to these questions are not immediately given by any text or tradition, but I don’t think we are left entirely to subjective opinion either. From the texts we can see how, in making major decisions, the Buddha displayed both compassion and disciplinary rigor; we can also see how, in defining the behavioral standards of his Sangha, he took account of the social and cultural expectations of his contemporaries. In working out a solution to our own problem, therefore, we have these two guidelines to follow. One is to be true to the spirit of the Dhamma--true to both the letter and the spirit, but above all to the spirit. The other is to be responsive to the social, intellectual, and cultural horizons of humanity in this particular period of history in which we live, this age in which we forge our own future destinies and the future destiny of Buddhism. Looked at in this light, the revival of a Theravāda Bhikkhunī Sangha can be seen as an intrinsic good that conforms to the innermost spirit of the Dhamma, helping to bring to fulfillment the Buddha's own mission of opening "the doors to the Deathless" to all humankind, to women as well as to men. At the same time, the existence of a Bhikkhunī Sangha can function as an instrumental good. It will allow women to make a meaningful contribution to Buddhism in many of the ways that monks do--as preachers, scholars, meditation teachers, educators, social advisors, and ritual leaders--and perhaps in certain ways that will be unique to female renunciants, for example, as counselors and guides to women lay followers. A Bhikkhunī Sangha will also win for Buddhism the respect of high-minded people in the world, who regard the absence of gender discrimination as the mark of a truly worthy religion in harmony with the noble trends of present-day civilization.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.434
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #95 on: 10 October 2008, 11:08:08 AM »
A Lotus at Dawn
Opening the Doors to the Theravada Bhikkhuni Sangha
By Ajahn Sujato

After an absence of more than 900 years, the Theravada bhikkhuni sangha (order of nuns) was revived in India with the ordination of several women in Sarnath. Today there are more than 300 bhikkhunis, primarily in Sri Lanka, the only traditional Theravada country that has welcomed this new phenomenon. Yet when the idea was first promoted in the early 1990’s there was much criticism and opposition. The opposition to the revival still persists as the Theravada school of Buddhism, within which this revival occurred, is commonly recognised as one which is strict, traditional and which places the highest importance on orthodoxy.

The bhikkhuni Order has been revived
 
In 1996, history was created as the Theravada bhikkhuni sangha was officially revived after a lapse of about a millennium with the ordination of 11 women in Sarnath. This event was followed by another organised on a greater scale at Bodhgaya in 1998. At this event, novices from 23 countries (including India, Sri Lanka, Thailand, Taiwan, Japan, Korea, the Congo, Germany, Belgium, France, Italy, Denmark, Spain, Canada and the United States) congregated to receive instruction from the text of the Vinaya before taking the monastic precepts as bhikkhunis from a quorum of 15 nuns from Taiwan and monks from several countries. In the same year another 23 women were ordained in Sri Lanka and thus initiated the core of the Theravada bhikkhuni sangha.

It is no longer a question of whether the Theravada bhikkhuni sangha could be revived, but whether this movement would be given the recognition and respect it seeks. In the years to come, undoubtedly, this movement will find its ranks swelling with new recruits, not only in Sri Lanka and Thailand where it was recently introduced, but also in countries throughout the world as women of all nationalities import the lineage into their lands. If this sangha is given recognition and respect openly and generously, then the Theravada Buddhist community has a new limb. It would gain an additional body of dedicated people who, with fresh resolve and promise, can be expected to bring to this great tradition a new vigour and assist in spreading the Dhamma to new lands. If instead, they are rejected and shunned, then what we will have is a conflict that will never go away, a thorn, an embarrassment, and an unanswered question that will haunt and split the Theravada Buddhist community forever.

Until my bhikkhus and bhikkhunis, laymen and laywomen, have come to be true disciples

Is there good reason for the revival of the bhikkhuni sangha? There seems little doubt from the scriptures that it was the Buddha’s intention that the bhikkhuni sangha should be established. At the request of his stepmother MahaPajapati Gotami and the intercession of Ven Ananda, the Buddha opened the doors of the holy life to women, thus providing them the best opportunities to win liberation. As the Buddha is enlightened, we can believe that it is impossible that he could make a mistake or be persuaded to any action he did not approve of. 

Indeed, we read from the scriptures that the Buddha, on several occasions praised individual bhikkhunis and made it clear that the bhikkhuni sangha was an intergral part of his mission.  There is the example from the Maha Parinibbana sutta, in which we see how the Buddha, who was then at Vesali, decided on the date of his Parinibbana or final passing away. Here, the Buddha was reminded of his words spoken to Mara soon after his enlightenment “I shall not come to my final passing away, Evil One, until my bhikkhus and bhikkhunis, laymen and laywomen, have come to be true disciples -- wise, well disciplined, apt and learned, preservers of the Dhamma, living according to the Dhamma, abiding by appropriate conduct and, having learned the Master's word, are able to expound it, preach it, proclaim it, establish it, reveal it, explain it in detail, and make it clear; until, when adverse opinions arise, they shall be able to refute them thoroughly and well, and to preach this convincing and liberating Dhamma.” This magnificent prophecy indicated that very early in the Buddha’s career he had already foreseen that his disciples would comprise these four important classes – bhikkhus, bhikkhunis, laymen and laywomen.  When the Buddha came to be eighty years of age, he saw that this objective had been achieved and proclaimed that he will pass away at the end of three months.

Thus, opposition to the revival of the bhikkhuni sangha appears to be contrary to the intentions of the Buddha. Indeed it is a dark blemish on the Theravada tradition that it, cocooned in its orthodoxy, did not actively explore the re-establishment of the bhikkhuni sangha sooner, thereby crippling the spread of the Dhamma and depriving women of the opportunities of the ordained life for close to a thousand years.

The problematic rule

The opposition issued several reasons why the bhikkhuni sangha cannot be revived. Most of them, in one way or another, centre around Theravada’s strict orthodoxy that once the bhikkhuni sangha became extinct 900 years ago, it became impossible to revive it. This springs from a rule made by the Buddha that a bhikkhuni could only be ordained by the procedure of first having a woman novice ordained under a quorum of other bhikkhunis and which is then seconded by a quorum of monks.

This rule, known as the dual-ordination procedure is described in the Cullavagga, of the Vinaya texts. The story goes that Pajapati Gotami, the step mother of the Buddha and her retinue of 500 women had travelled a long distance and now stopped at the gates of the monastery where the Buddha was residing.  Ananda encountered them and learnt of their desire to be ordained as bhikkhunis. With the diplomacy of Ananda acting on behalf of the women the Buddha agreed to the ordination of the women and that Pajapati Gotami herself would be first to become a bhikkhuni if she were to accept eight rules for the bhikkhunis. This, she gladly did, one of the rules being “A bhikkhuni must arrange for ordination by both the assemblies of bhikkhus and bhikkhunis for a woman novice only after two years probationary training under her in the observance of six training practices”. Thus, the opposition today opines that there being no bhikkhunis, this rule cannot be complied with. Consequently, the bhikkhuni sangha cannot be legitimately revived.

Other reasons given in opposition to the bhikkhuni sanhga suggest that even if it was possible, the bhikkhuni life is too difficult for women who should thus be content with ordination into an improvised order such as those of eight or ten precept nuns.

Why revive the bhikkhuni sangha – the holy life and twice the resources
 
I would like to suggest that the bhikkhuni sangha be nurtured and encouraged and explain how the obfuscations standing in its way could be overcome.

Some may question the wisdom of a woman who wishes to ordain as a bhikkhuni. Why should a woman subject herself to such rules as those imposed on a bhikkhuni? Why not become ten precept nuns where life is easier? The bhikkhuni life may not be suitable for every woman.  This may make it all the more difficult to comprehend the motivations of one who chooses this lifestyle. But this is only because it is our own wisdom and understanding that is short. The Buddha has opened the holy life to all and it is those individuals with a greater wisdom who would respond, who would renounce worldly life and dedicate themselves to the quest of the monastic lifestyle. If a woman wishes to take on these training rules prescribed by no lesser being than the Buddha himself, then such a woman should be applauded and her awesome determination respected. Certainly a Buddhist should not look askance at her motivations. To suggest to her that she should forsake becoming a bhikkhuni in favour of a ten-precept nun is as ridiculous as suggesting to a monk that he should exchange his 227 Vinaya rules for the easier lifestyle of a five precept layman.

The monks have long been the vanguards of the Buddha’s dispensation, disseminating and teaching the Dhamma. Yet, all across Asia, for the last several decades, we have seen Buddhism eroded by Communism, materialism and the forays of Christianity. Indeed the only country where Buddhism does not appear to be under threat but may actually be flourishing is Taiwan. Strangely, it is the only nation where the nuns far outnumber the monks. Is this a mere co-incidence? I do not suggest that the country’s success in upholding Buddhism is the result of the sexual demographics of the monastics, but that the religion there has access to twice the amount of human resources. Indeed, whilst monks lead many of the largest Buddhist organizations in Taiwan, the administration is largely left to nuns who manage them with dedication and efficiency. Nuns are also at the forefront of several organisations involved in education and social work.

The model of the ten precept nun is a failure
 
It could be argued that this hypothesis is incorrect as there are large numbers of eight and ten precept nuns in other countries such as Thailand and Sri Lanka. These orders are modelled after the bhikkhuni sangha but take the minimum of precepts. To this, is replied that the eight and ten precept nuns in these countries actually evoke very little respect from society and hence have little influence on it. For example, the white clad maejis of Thailand and dasasils of Sri Lanka receive little support from the public. They have few temples or educational organizations to support them. And a significant segment of them serve little formal purpose other than as servants or helpers at the monasteries where they are given permission to stay. The nuns of Myanmar are in a slightly better position, but are still relegated to a much lower status than that of the monks. When introduced in western countries, these ten precept orders may find an equal status as prejudices have yet to step in and discriminatory practices are scorned. However in Buddhist Asia, it is a different situation. Although society here may accept these orders in their midst, it is also painfully aware that they are merely an improvisation. Whatever their designs, they are given little recognition and even less support. Consequently, they fail in their objectives of providing an effective holy life for women and as a benevolent influence on society.

Is there reason for opposition?
 
The great advantages that bhikkhunis provide themselves and the Buddhist communities they live in is obvious.  However, the opposition, including those who see these benefits, choose to deny the aspirations of the women with the claim of preserving orthodox tradition. To be clear, the opposition claims that the ordination of bhikkhunis breaks the rules of tradition. Logic and reason are strong points in Theravada practice. Yet, it must be the height of irony and a total perversion of logic that the opposition, in attempting to uphold the rules of tradition, would directly cause the same tradition’s extinction. Surely, the rules formulated by the Buddha were to protect his dispensation, not to obstruct or destroy it.

How the bhikkhuni sangha could be revived

In any case, are the arguments that the Vinaya rules do not allow the revival of the bhikkhuni sangha unimpeachable? No. Although the opposition makes a good case against the revival of the bhikkhuni sangha on technical grounds, certainly, the monks who support the movement and were instrumental in the revival think that there is sufficient material in the Vinaya to arrive at a different conclusion.

The pertinent arguments for a differing interpretation of the rules regarding the ordination of bhikkhunis are as follows:

1. In the MahaParinibbana sutta, where it was described that the Buddha was preparing to pass way, he called his loyal attendant Ananda and advised that the Sangha was permitted to abolish the lesser and minor rules. With this final concession provided by the Buddha, it becomes possible for a quorum of monks to make the necessary amendments to the rules to revive the bhikkhuni sangha. If any monk believes that the rules pertaining to the ordination of bhikkhunis fall outside the category of lesser and minor rules he could be invited into the community of monks to justify his position.

2. As was mentioned earlier, the dual ordination rule was part of the eight rules accepted by Pajapati Gotami before the Buddha would ordain her and set up the bhikkhuni sangha. After this event, the Buddha told the monks about his instructions to Pajapati Gotami and gave the injunction “I permit you monks, to confer full ordination on bhikkhunis”. This may sound surprising but of course, we see that there were insufficient bhikkhunis to form the first quorum and also there were no women novices yet. Thus the Buddha had logically allowed the monks to confer full ordination on this first batch of women.

This injunction itself should be sufficient to provide adequate authority to monks today to confer ordination without the procedure of dual ordination at places and at times where a quorum of bhikkhunis and women novices do not yet exist. The injunction by the Buddha at the first institution of the bhikhuni sangha should be equally valid at this time as we are under the very same circumstances. In further support of this, we could use as an example the practice of English law today which includes that which is known as “common law”. This practice uses precedence of past decisions as a valid basis for decisions that could legitimately be applied today. Surely, there could be no greater precedence and authority than the decision of the Buddha.

3. However, even if the dual ordination procedure is insisted upon, this requirement could still be satisfied. We understand from historical records that the bhikkhuni sangha in Mahayana countries such as China and Korea is a direct descendent of the bhikkhuni sangha of Sri Lanka. These records indicate that in 429 C.E. and 432 C.E. two delegations of Sri Lankan bhikhunis, the latter group headed by the bhikkhuni Devasara reached China and conferred the dual ordinations for the Chinese nuns. Thus it is possible for Theravada bhikkhunis to receive back this continuous and unbroken lineage. The point that the Mahayana nuns have different religious beliefs is irrelevant as ordination is a matter of Vinaya and not beliefs. As a counter-argument, it could be reasoned that among Theravada monks, there is also a variety of religious beliefs but this does not affect their status as monks. Although there are other technical points for further opposition in this matter, none among them appears to be absolutely restrictive. Among the Theravada scholar monks who support this possibility were the late Ven Dr Walpola Rahula and the late Ven Dr K Sri Dhammananda who also attended the bhikkhuni ordination at BodhGaya in 1998.

4. Following from 3 above, even if the bhikkhuni who receives part of her ordination from the Mahayana sangha, is not recognized by her Theravada brethren, it appears there is nothing in the Vinaya rules she has undertaken to stop her from practicing Theravada Buddhism. She is able to dress, recite the suttas and do all her religious duties in the Theravada form as the Mahayana school of Buddhism recognizes Theravada as a valid subset of itself. So at the very least, the bhikkhuni sangha could be accepted as a Mahayana ordained body which practises Theravada Buddhism.

Finally, what is the Dhamma Vinaya?
 
It is conceded that the proposed avenues above are not so clear that they can be readily agreed to without objections. Whichever side of the controversy one chooses to sit really rests on one’s inclinations. However, in attempting to see above the arguments, an all-important question we should ask ourselves is - what is the fundamental purpose of the Dhamma Vinaya? Is it all then just a legal code?

Buddhism is a beautiful, gentle religion that speaks to the heart of all who would listen. It opens our minds to wisdom and compassion and leads us away from the dark dogmas that shackle us to superstitious beliefs and harmful actions. How can we deny our sisters their choice of leading their lives as bhikkhunis; the right to fulfil their aspirations, maybe even their destinies? Do we have sufficient reason? Is it enough to merely say that we wish to uphold the rules of the tradition? Perhaps - if these rules are absolute and there is not the tiniest sliver of light between its sturdy doors. But as we can see, this is not the case. There exists an opportunity to make amends, to set upright what has long been left fallen, and to gift our sisters what the brothers have long enjoyed. The revived bhikkhuni sangha is a lotus at dawn. Whether it is greeted by the warm rays of our welcome, or broken by the storms of rejection are now the choices before the Theravada communities. May we all choose wisely.
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #96 on: 10 October 2008, 11:42:22 AM »
Quote
1. In the MahaParinibbana sutta, where it was described that the Buddha was preparing to pass way, he called his loyal attendant Ananda and advised that the Sangha was permitted to abolish the lesser and minor rules. With this final concession provided by the Buddha, it becomes possible for a quorum of monks to make the necessary amendments to the rules to revive the bhikkhuni sangha. If any monk believes that the rules pertaining to the ordination of bhikkhunis fall outside the category of lesser and minor rules he could be invited into the community of monks to justify his position.

Di Theravada hak untuk menghapuskan peraturan ini sudah disepakati tidak dipakai lagi, demi mempertahankan Dhamma dan Vinaya.

Tapi di Mazhab lain mau dipergunakan, silahkan saja.

Quote
2. As was mentioned earlier, the dual ordination rule was part of the eight rules accepted by Pajapati Gotami before the Buddha would ordain her and set up the bhikkhuni sangha. After this event, the Buddha told the monks about his instructions to Pajapati Gotami and gave the injunction “I permit you monks, to confer full ordination on bhikkhunis”. This may sound surprising but of course, we see that there were insufficient bhikkhunis to form the first quorum and also there were no women novices yet. Thus the Buddha had logically allowed the monks to confer full ordination on this first batch of women.

This injunction itself should be sufficient to provide adequate authority to monks today to confer ordination without the procedure of dual ordination at places and at times where a quorum of bhikkhunis and women novices do not yet exist. The injunction by the Buddha at the first institution of the bhikhuni sangha should be equally valid at this time as we are under the very same circumstances. In further support of this, we could use as an example the practice of English law today which includes that which is known as “common law”. This practice uses precedence of past decisions as a valid basis for decisions that could legitimately be applied today. Surely, there could be no greater precedence and authority than the decision of the Buddha.

3. However, even if the dual ordination procedure is insisted upon, this requirement could still be satisfied. We understand from historical records that the bhikkhuni sangha in Mahayana countries such as China and Korea is a direct descendent of the bhikkhuni sangha of Sri Lanka. These records indicate that in 429 C.E. and 432 C.E. two delegations of Sri Lankan bhikhunis, the latter group headed by the bhikkhuni Devasara reached China and conferred the dual ordinations for the Chinese nuns. Thus it is possible for Theravada bhikkhunis to receive back this continuous and unbroken lineage. The point that the Mahayana nuns have different religious beliefs is irrelevant as ordination is a matter of Vinaya and not beliefs. As a counter-argument, it could be reasoned that among Theravada monks, there is also a variety of religious beliefs but this does not affect their status as monks. Although there are other technical points for further opposition in this matter, none among them appears to be absolutely restrictive. Among the Theravada scholar monks who support this possibility were the late Ven Dr Walpola Rahula and the late Ven Dr K Sri Dhammananda who also attended the bhikkhuni ordination at BodhGaya in 1998.

Seperti : Dhammaduta pertama, 60 Arahat diperbolehkan menabiskan sendiri, tetapi peraturan terakhir yang dipakai, yaitu jika ada 5 Bhikkhu.

Bhikkhu Bodhi, Bhikkhu Thannisaro, Ajahn Brahm, Bhikkhu-Bhikkhu Barat, dan juga dari Vajrayana yang memakai Vinaya Mulasarvastivada, Dalai Lama, semuanya tidak setuju menahbiskan jika tidak ada Bhikkhuni. Satu-satunya jalan yang mungkin adalah : menggunakan Bhiksuni Mahayana (yang memakai Vinaya Dharmagupta) untuk menahbiskan Bhikkhuni.

Tetapi yang jadi masalah, yang menahbiskan menggunakan Vinaya Dharmagupta, dan apakah yang ditahbiskan bisa menggunakan Vinaya Theravada? Bukannya jadi gado-gado?

Harap diingat, Theravada memiliki warisan sendiri yang boleh dianggap valid oleh pengikutnya. Apakah salah mempertahankan warisan ajaran yang dilestarikan oleh Theravada? Silahkan jadi Bhiksuni Dharmagupta (Mahayana), bahkan silahkan mengajarkan pandangan Theravada, tapi status tetap menggunakan Vinaya Dharmagupta.

Dan hal ini bukan cuma terjadi di Theravada. Vajrayana yang menggunakan Vinaya Mulasarvastivada juga tidak sembarangan menabiskan Bhikkhuni Vajrayana (Monastic).

Quote
4. Following from 3 above, even if the bhikkhuni who receives part of her ordination from the Mahayana sangha, is not recognized by her Theravada brethren, it appears there is nothing in the Vinaya rules she has undertaken to stop her from practicing Theravada Buddhism. She is able to dress, recite the suttas and do all her religious duties in the Theravada form as the Mahayana school of Buddhism recognizes Theravada as a valid subset of itself. So at the very least, the bhikkhuni sangha could be accepted as a Mahayana ordained body which practises Theravada Buddhism.

Setuju. Silahkan berlatih sesuai pandangan masing-masing. Yang berarti sekali lagi : Theravada = Hinayana, ajaran rendah dan hina.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.434
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #97 on: 10 October 2008, 11:50:17 AM »
Quote
Tetapi yang jadi masalah, yang menahbiskan menggunakan Vinaya Dharmagupta, dan apakah yang ditahbiskan bisa menggunakan Vinaya Theravada? Bukannya jadi gado-gado?

Harap diingat, Theravada memiliki warisan sendiri yang boleh dianggap valid oleh pengikutnya. Apakah salah mempertahankan warisan ajaran yang dilestarikan oleh Theravada? Silahkan jadi Bhiksuni Dharmagupta (Mahayana), bahkan silahkan mengajarkan pandangan Theravada, tapi status tetap menggunakan Vinaya Dharmagupta.

ngga salah mempraktekkan ajaran sekte lain kan? apakah ada larangan?
yang penting status penahbisannya valid.. ;D

Quote
Setuju. Silahkan berlatih sesuai pandangan masing-masing. Yang berarti sekali lagi : Theravada = Hinayana, ajaran rendah dan hina.

apakah subset berarti rendah dan hina?
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #98 on: 10 October 2008, 11:59:40 AM »
Iya, tapi apakah penahbisan Dharmagupta itu sah atau tidak silahkan yang menggunakan Vinaya Dharmagupta yang menafsirkan.

Apakah Theravada ada kewajiban mengakui ajaran Mahayana? Atau ajaran masing-masing saja?

Ini sih cuma tugas aye sebagai setan, karena nampaknya pandangan cuma dari satu pihak saja. ;D

Bhante Sujjato memang terkenal dengan semangat unifikasi. Bisa dilihat dari tulisannya yaitu GIST.
Tapi harus dilihat juga, gak semua mengakui GIST ini. Seperti Bhikkhu dari barat, sudah lumrah meletakkan logika di atas Sutta dan Vinaya. Ada yang mengakui Theravada sebagai subset Mahayana, silahkan. Tapi jangan paksa semua mengakui demikian.
Kembali ke praktek masing-masing. Kalau ada yang ngotot mempertahankan tradisi, harus dilihat alasannya, bukan cuma kolot dan rasialis aja.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.434
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #99 on: 10 October 2008, 12:51:46 PM »
hehehe.. tampaknya memang sangat sulit mencapai kata sepakat..

jadi, secara teori, bangkitnya kembali Bhikkhuni Theravada cuma tinggal impian.. :D
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #100 on: 10 October 2008, 01:05:16 PM »
Kalau saya boleh perjelas, yang impian : Bangkitnya Bhikkhuni Theravada yang diakui oleh Sangha Theravada

Sebenarnya cara yang dilakukan ayya saat ini sudah bagus....... dia menggunakan "merk" lain, bukan Bhikkhuni Theravada.....

so benernya udah ok... cmiiw  _/\_

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #101 on: 10 October 2008, 01:06:40 PM »
Yah, kalau yang mau ikut cari di Barat atau di Australi.
Kalau di Indonesia dan negara asia tenggara dan sri lanka tampaknya berat.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #102 on: 10 October 2008, 07:13:14 PM »
Lapor, namanya bukan STT, tapi The Board Committee for Dhammayut in Indonesia

Dan BCD tidak mendukung Sangha Bhikkhuni, melainkan mereka yang mendukung BCD ;D

BCD setuju, tapi bukan Vinaya Theravada
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #103 on: 10 October 2008, 09:15:33 PM »
memang sangat disayang kan terjadi seperti ini padahal semua nya berasal dan bermula dari sang Budhha.

Itulah kenyataan nya jadi kalo mau jadi bhikuni silahkan tapi kalo mau jadi bhikuni sangha theravada mesti lihat dulu sah atau tidak sah nya menurut sangha theravada.

jadi boleh boleh saja menjadi bhikuni dari aliran dharmagupta (mahayana). toh tidak di larang untuk  mempelajari aliran lain.
« Last Edit: 10 October 2008, 09:19:33 PM by daimond »

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #104 on: 11 October 2008, 12:35:10 PM »
teman-teman, ikut sharing pendapat ya?

Kelihatannya kita terjebak pada status bhikkhuni...

Padahal bila kita teliti kembali tujuan menjadi bhikkhuni itu apa sih..? apakah statusnya...? jubahnya....? atau vinayanya...?

bila menjadi bhikkhuni hanya mencari status atau jubah saja sangat disayangkan sekali...

Tetapi saya rasa sebaiknya seseorang bertujuan menjadi bhikkhuni untuk menjalankan vinayanya, dan inilah tujuan yang pantas...

Lantas bila seseorang ingin menjalankan sila yang lebih tinggi (sila bhikkhuni), maka tentu bukan suatu persoalan besar apakah ia dianggap bhikkhuni atau tidak karena, jika ia tulus ingin menjadi bhikkhuni (berdasarkan tekad menjalankan sila yang lebih tinggi) maka yang terpenting adalah ia menjalankan vinaya bhikkhuni dengan sungguh sungguh dan tidak terlalu peduli mengenai orang menganggap ia bhikkhuni atau bukan....

Di mata saya dan di mata umat, tentu ia akan dihormati layaknya seorang bhikkhuni, walaupun ia tetap berstatus anagarini (seperti yang dilakukan oleh Ayya Khema pada masa awal ia memakai jubah bhikkhuni).

Sehingga ia mendapat berkah kebahagiaan terbebas dari konflik...

(((semoga kita semua semakin maju dalam Dhamma)))
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Chandra Rasmi

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.466
  • Reputasi: 85
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #105 on: 11 October 2008, 01:14:22 PM »
teman-teman, ikut sharing pendapat ya?

Kelihatannya kita terjebak pada status bhikkhuni...

Padahal bila kita teliti kembali tujuan menjadi bhikkhuni itu apa sih..? apakah statusnya...? jubahnya....? atau vinayanya...?

bila menjadi bhikkhuni hanya mencari status atau jubah saja sangat disayangkan sekali...

Tetapi saya rasa sebaiknya seseorang bertujuan menjadi bhikkhuni untuk menjalankan vinayanya, dan inilah tujuan yang pantas...

Lantas bila seseorang ingin menjalankan sila yang lebih tinggi (sila bhikkhuni), maka tentu bukan suatu persoalan besar apakah ia dianggap bhikkhuni atau tidak karena, jika ia tulus ingin menjadi bhikkhuni (berdasarkan tekad menjalankan sila yang lebih tinggi) maka yang terpenting adalah ia menjalankan vinaya bhikkhuni dengan sungguh sungguh dan tidak terlalu peduli mengenai orang menganggap ia bhikkhuni atau bukan....

Di mata saya dan di mata umat, tentu ia akan dihormati layaknya seorang bhikkhuni, walaupun ia tetap berstatus anagarini (seperti yang dilakukan oleh Ayya Khema pada masa awal ia memakai jubah bhikkhuni).

Sehingga ia mendapat berkah kebahagiaan terbebas dari konflik...

(((semoga kita semua semakin maju dalam Dhamma)))


yup, saya setujuuuuuuu bangettttttt..
saya pribadi dulu pengen banget jadi bhikkhuni..(aliran theravada)
tapi saya dengar, bhikkhuni theravada uda g ada...
katanya cuma bisa jadi meichi (silacarini)....
yah...waktu tu saya tanya sama bhante(uda lupa nama bhantenya), apa blh jadi meichi tapi jalanin sila bhikkhuni??
bhantenya jawab : "boleh saja"... nah, so, saya punya tekad mau jadi meici, tapi ngejalanin sila bhikkhuni...
menurut saya itu lbh bagus,
akhirnya berpulang pada diri sendiri ....bagaimana yang cocoknya aja...  :)

Offline Yumi

  • Sebelumnya snailLcy
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.353
  • Reputasi: 123
  • Gender: Female
  • Good morning, Sunshine..
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #106 on: 11 October 2008, 07:49:39 PM »
teman-teman, ikut sharing pendapat ya?

Kelihatannya kita terjebak pada status bhikkhuni...

Padahal bila kita teliti kembali tujuan menjadi bhikkhuni itu apa sih..? apakah statusnya...? jubahnya....? atau vinayanya...?

bila menjadi bhikkhuni hanya mencari status atau jubah saja sangat disayangkan sekali...

Tetapi saya rasa sebaiknya seseorang bertujuan menjadi bhikkhuni untuk menjalankan vinayanya, dan inilah tujuan yang pantas...

Lantas bila seseorang ingin menjalankan sila yang lebih tinggi (sila bhikkhuni), maka tentu bukan suatu persoalan besar apakah ia dianggap bhikkhuni atau tidak karena, jika ia tulus ingin menjadi bhikkhuni (berdasarkan tekad menjalankan sila yang lebih tinggi) maka yang terpenting adalah ia menjalankan vinaya bhikkhuni dengan sungguh sungguh dan tidak terlalu peduli mengenai orang menganggap ia bhikkhuni atau bukan....

Di mata saya dan di mata umat, tentu ia akan dihormati layaknya seorang bhikkhuni, walaupun ia tetap berstatus anagarini (seperti yang dilakukan oleh Ayya Khema pada masa awal ia memakai jubah bhikkhuni).

Sehingga ia mendapat berkah kebahagiaan terbebas dari konflik...

(((semoga kita semua semakin maju dalam Dhamma)))


yup, saya setujuuuuuuu bangettttttt..
saya pribadi dulu pengen banget jadi bhikkhuni..(aliran theravada)
tapi saya dengar, bhikkhuni theravada uda g ada...
katanya cuma bisa jadi meichi (silacarini)....
yah...waktu tu saya tanya sama bhante(uda lupa nama bhantenya), apa blh jadi meichi tapi jalanin sila bhikkhuni??
bhantenya jawab : "boleh saja"... nah, so, saya punya tekad mau jadi meici, tapi ngejalanin sila bhikkhuni...
menurut saya itu lbh bagus,
akhirnya berpulang pada diri sendiri ....bagaimana yang cocoknya aja...  :)


 _/\_
Para bhikkhu, fajar berwarna kuning keemasan adalah pertanda awal terbitnya matahari.
Demikian pula, kesempurnaan sila adalah awal timbulnya Jalan Mulia Berunsur Delapan.
~Silasampada Sutta - Suryapeyyala~

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #107 on: 13 October 2008, 03:39:19 PM »
yup, saya setujuuuuuuu bangettttttt..
saya pribadi dulu pengen banget jadi bhikkhuni..(aliran theravada)
tapi saya dengar, bhikkhuni theravada uda g ada...
katanya cuma bisa jadi meichi (silacarini)....
yah...waktu tu saya tanya sama bhante(uda lupa nama bhantenya), apa blh jadi meichi tapi jalanin sila bhikkhuni??
bhantenya jawab : "boleh saja"... nah, so, saya punya tekad mau jadi meici, tapi ngejalanin sila bhikkhuni...
menurut saya itu lbh bagus,
akhirnya berpulang pada diri sendiri ....bagaimana yang cocoknya aja...  :)

anumodana.......  _/\_

Offline wirandi

  • Teman
  • **
  • Posts: 56
  • Reputasi: 8
  • Gender: Male
  • may all be happy
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #108 on: 19 October 2008, 06:32:56 PM »
sebenarnya shangha bhikkhuni di indonesia memang belum ada karena bhikkhuninya baru 2 yakni ayya santini dan ayya silavati mereka semua di umpasmpada di taiwan dengan dasar culla vagga 10 yang berbunyi
"tathagata mengizinkan para bhikkhu
untuk meng-upasampada perempuan menjadi
bhikkuni n meng-upasampada pria menjadi
bhikkhu"
jadi klo ada kontroversi mengenai keberadaan bhikkhuni yah tengoklah culla vagga 10 ini!
oh iya tadi saya baca ada yg mau jd bhikkhuni! ya udah kapan lag! mumping masih ada 2 bhikkhuni
with our thought , we make our world ... we make our dimension ....
the question is who will be the MASTER of that dimension?

Offline risaki

  • Teman
  • **
  • Posts: 58
  • Reputasi: 4
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #109 on: 19 October 2008, 10:50:44 PM »
Salam kenal,
 
Untuk menambah wawasan mengenai artikel ini saya dapatkan satu artikel yang kurang lebih mirip dan baik untuk pertimbangan atau mungkin saudara-saudari sudah pula membacanya di http://www.samaggi-phala.or.id/ dalam kolom Naskah Dhamma ada artikel yang berjudul Apakah Guru Buddha Seorang Seksis?
Semoga bermanfaat.


Jangan percaya begitu saja dengan kata-kata yang tertulis dalam kitab-kitab suci !!!!

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #110 on: 20 October 2008, 08:34:16 AM »
sebenarnya shangha bhikkhuni di indonesia memang belum ada karena bhikkhuninya baru 2 yakni ayya santini dan ayya silavati

setahu saya, yang diuppasampada itu 4 orang yaitu Ayya Santini, Ayya Silavati, Ayya Dhammakumari, dan Ayya Dhirasirini.

source : http://leeonard.multiply.com/journal/item/157/Ayya_Santini_Outstanding_Woman_in_Indonesian_Buddhism

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #111 on: 20 October 2008, 08:35:10 AM »
Salam kenal,
 
Untuk menambah wawasan mengenai artikel ini saya dapatkan satu artikel yang kurang lebih mirip dan baik untuk pertimbangan atau mungkin saudara-saudari sudah pula membacanya di http://www.samaggi-phala.or.id/ dalam kolom Naskah Dhamma ada artikel yang berjudul Apakah Guru Buddha Seorang Seksis?
Semoga bermanfaat.


Jangan percaya begitu saja dengan kata-kata yang tertulis dalam kitab-kitab suci !!!!


mungkin bisa tolong diposting disini, bro?

Offline wirandi

  • Teman
  • **
  • Posts: 56
  • Reputasi: 8
  • Gender: Male
  • may all be happy
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #112 on: 20 October 2008, 07:01:32 PM »
iya memang ada empat, tetapi mereka sudah lepas jubah yg dua! jadi tinggal 2!
with our thought , we make our world ... we make our dimension ....
the question is who will be the MASTER of that dimension?

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #113 on: 21 October 2008, 11:22:20 PM »
ayee perhatiin .....

yg menjadi Bhikkuni .... selalu mengunakan kata depan Ayya
adakah arti dr kata Ayya? ....
apa kata Ayya  ... seperti panggilan ??  kalo Bhikkuni di panggil Bhante
 
 _/\_
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #114 on: 22 October 2008, 09:34:54 AM »
Ayya adalah panggilan hormat kepada Bhikkhuni.

Dalam Hindi artinya pengasuh perempuan (mbak).
Dalam Pali artinya lady (perempuan terhormat) atau nyonya.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #115 on: 22 October 2008, 11:30:30 PM »
Ayya adalah panggilan hormat kepada Bhikkhuni.

Dalam Hindi artinya pengasuh perempuan (mbak).
Dalam Pali artinya lady (perempuan terhormat) atau nyonya.

ic ... ic  Thanks Bro Karuna  _/\_
 
Jika kita bertemu dan ingin menyapa kepada Bhikkhuni ....apa cukup dengan kata Ayya ?
seperti kita menyapa Bhikksu dengan kata Bhante

Soalnya ayee ketemu Bhikkhuni dari Mahayana dengan sebutan Suhu
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #116 on: 23 October 2008, 08:41:06 AM »
Ada yang bilang Bhante berlaku untuk kedua gender. Tapi hal ini saya ragukan.
Yang dipakai untuk wanita, Ayya atau Ayye. Kalau Bhikkhu memanggil Bhikkhuni dengan Baghini.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #117 on: 23 October 2008, 09:32:02 AM »
teman-teman, ikut sharing pendapat ya?

Kelihatannya kita terjebak pada status bhikkhuni...

Padahal bila kita teliti kembali tujuan menjadi bhikkhuni itu apa sih..? apakah statusnya...? jubahnya....? atau vinayanya...?

bila menjadi bhikkhuni hanya mencari status atau jubah saja sangat disayangkan sekali...

Tetapi saya rasa sebaiknya seseorang bertujuan menjadi bhikkhuni untuk menjalankan vinayanya, dan inilah tujuan yang pantas...

Lantas bila seseorang ingin menjalankan sila yang lebih tinggi (sila bhikkhuni), maka tentu bukan suatu persoalan besar apakah ia dianggap bhikkhuni atau tidak karena, jika ia tulus ingin menjadi bhikkhuni (berdasarkan tekad menjalankan sila yang lebih tinggi) maka yang terpenting adalah ia menjalankan vinaya bhikkhuni dengan sungguh sungguh dan tidak terlalu peduli mengenai orang menganggap ia bhikkhuni atau bukan....

Di mata saya dan di mata umat, tentu ia akan dihormati layaknya seorang bhikkhuni, walaupun ia tetap berstatus anagarini (seperti yang dilakukan oleh Ayya Khema pada masa awal ia memakai jubah bhikkhuni).

Sehingga ia mendapat berkah kebahagiaan terbebas dari konflik...

(((semoga kita semua semakin maju dalam Dhamma)))


yup, saya setujuuuuuuu bangettttttt..
saya pribadi dulu pengen banget jadi bhikkhuni..(aliran theravada)
tapi saya dengar, bhikkhuni theravada uda g ada...
katanya cuma bisa jadi meichi (silacarini)....
yah...waktu tu saya tanya sama bhante(uda lupa nama bhantenya), apa blh jadi meichi tapi jalanin sila bhikkhuni??
bhantenya jawab : "boleh saja"... nah, so, saya punya tekad mau jadi meici, tapi ngejalanin sila bhikkhuni...
menurut saya itu lbh bagus,
akhirnya berpulang pada diri sendiri ....bagaimana yang cocoknya aja...  :)


Menurut anda apakah Bhikkuni Santini sudah mendapatkan tempat yg baik?
Apakah utk yg pingin menjadi Bhikkuni ada baiknya mempertimbangan tempat diatas?

(sory kalau pertanyaan kurang pas....)
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #118 on: 23 October 2008, 09:34:16 AM »
Ada yang bilang Bhante berlaku untuk kedua gender. Tapi hal ini saya ragukan.
Yang dipakai untuk wanita, Ayya atau Ayye. Kalau Bhikkhu memanggil Bhikkhuni dengan Baghini.

Kalau utk biksu...(karna udah dicukur rata..) lebih mudah mengenenalnya....

Kalau utk Bikkhuni... bagaimana bisa tau kalau dia udah resmi/ditabihkan ?
apakah cukup melihat dari pakaiannya saja?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #119 on: 21 November 2008, 06:02:44 AM »

Berbagai interpretasi Sangha Bhikkhuni bisa didirikan lagi atau tidak, saya anggap ini urusan Sangha. Bukan hak saya menginterpretasikan Vinaya dan bukan hak saya mengatur Sangha.


Betul sekali, Saya setuju !!!!, Mas Karuna
Urusan Vinaya adalah urusan Sangha, bukan urusan umat awam.
Umat awam hanya bisa melihat yang mana pantas, baik, benar itulah yang harus didukung.
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline tula

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 482
  • Reputasi: 24
Re: Bhikhuni Theravada????bagaimana tanggapan anda????
« Reply #120 on: 23 November 2008, 11:09:21 AM »
sangha itu terdiri dari apa saja to ?