Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Tradisi India dan Bumi Bulat  (Read 589 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Tradisi India dan Bumi Bulat
« on: 26 November 2018, 08:17:07 AM »
Copas tulisan dari FB:

Quote from: Eka Wirajhana
Ketika Tradisi India membantai TUHAN "agama Langit"

Di Satapatha Brahmana, Yajnavalka [900-800 SM] menyampaikan bahwa bumi berbentuk pari-mandala atau seluruhnya bulat [SB 7.1.1.37: "ayaṃ vaí loko gā́rhapatyaḥ parimaṇḍalá u vā́ ayáṃ lokáḥ/dunia ini adalah Gārhapatya, dunia ini seluruhnya bulat tak diragukan lagi"], bentuk matahari seluruhnya bulat/pari-mandala [SB 9.1.2.40: "asau va ādityo hŕ̥dayaṃ ślakṣṇá eṣá ślakṣṇaṃ hŕ̥dayam parimaṇḍalá eṣá parimaṇḍalaṃ/matahari dan inti matahari halus, inti halus matahari seluruhnya bulat, Ia (matahari) seluruhnya bulat] matahari mengikat planet-planet [SB 8.7.3.10: "tadasāvāditya imāṃlokāntsūtre samāvayate tadyattatsūtraṃ vāyuḥ/kemudian di sana matahari mengikat planet-planet ke dirinya dengan ikatan. ikatan ini sama dengan vayu (getar/gerak/tarik/angin)"]. Arti "mandala" = lingkaran, bentuk putaran/lengkungan yang membulat.[1]

Penggunaan kata "mandala" juga terdapat di teks Buddhis Hinayana/Theravada, misal "pathavimaṇḍala" (SNP 5.1, AN 7.62, SN 3.25, DN 21, DN 5), "jāṇumaṇḍala" (AN 5.196, AN 4.21, DN 14), "nalāṭamaṇḍala" (SNP 3.7, MN 91, 92, DN 3) dan "mandalāgga/maṇḍal’āgra". Arti mandalaagra = pedang/golok berbentuk lengkung membulat. Kata "Pathavi" = bumi/daratan; "jāṇu" = lutut; "nalāṭa" = dahi. Jadi, objek 3 dimensi ini (bumi, lutut dan dahi) bentuknya lengkung membulat

Selain kata "mandala", juga digunakan kata "gola"/bola dan "cakra"/lingkaran untuk menunjukan suatu benda yang berbentuk bulat [2], misal:

"Cakrācāsaħ pariņaham pŗthivyā"/Orang-orang berdiam di sekeliling permukaan bumi [Rig Veda 1.33.8]
"Madhye samantāņđasya bhūgolo vyomni tisthati"/Di tengah jagat/Brahmanda, Bulatan bumi berdiam kokoh di ruang angkasa [Surya Sidhantha 12.32, 1000 SM]
"Bhūgolaħ sarvo vŗttaħ"/Bola Bumi bulat di sekelilingnya [Astronom Indian, Aryabhatta (476 M), Aryabhattiyam, Golapada, sloka ke 6]
"Paňca mahābhūtam ayastrārāgaņa paňjare mahigolah"/5 element menyebabkan bumi di ruang angkasa seperti bola besi tergantung di dalam kandang [Astronom India, Varahamihirä, Abad ke-6 M, Pancha Sidhanthika, Bab 13-sloka 1]

Bahwa bumi berbentuk bulatan tampaknya sudah merupakan pengetahuan umum di India. misalnya lewat penjelasan ahli matematik India, Bhaskarachrya, 1150 M, dalam bukunya, “Leelavathi” yang menjawab pertanyaan seorang gadis cilik bernama Leelavathi:

"Apa yang matamu lihat bukanlah realitas. Bumi tidaklah datar seperti yang kau lihat. Ia Bulat. Ketika kau menggambarkan lingkaran besar dan dilihat dari ¼ lingkaran, engkau akan melihat suatu garis lurus. Namun sebenarnya lengkungan. Sama juga dengan Bumi adalah berbentuk bulat"

Juga bahkan diketahui bahwa bumi BEROTASI dan MENGELILINGI MATAHARI:

"ahastā yad apadī vardhata kṣāḥ śacībhirvedyānām śuṣṇaṃ pari pradakṣiṇid/bumi tanpa tangan dan kaki, dengan kekuatan tertentu bergerak berputar kearah kanan sekitar matahari".(ahasta = tanpa tangan; apadi = tanpa kaki; śacībhirvedyānām = tahu dengan kekuatan tertentu; Kshaa = Bumi (Nigantu 1.1); Vardhat = bergerak; Shushnam Pari = Sekitar matahari; Pradakshinit = memutar ke kanan) [Rig Veda 10.22.14]

Aitareya Brahmana [3] menyampaikan bahwa di saat yang sama, ketika matahari bersinar di suatu tempat, maka di tempat lain di belahan lainnya adalah malam hari:

"Atha yad enam prātar udetīti manyante rātrer eva tad antam itvā atha ātmānaṃ viparyasyate, ahar eva avastāt kurute rātrīm parastāt. Sa vai esha na kadācana nimrocati. Na ha vai kadācana nimrocaty etasya ha sāyujyaṃ sarūpatāṃ salokatām aśmute ya evaṃ veda" ["Matahari tidak pernah terbenam maupun terbit. Ketika manusia berpikir bahwa matahari tengah terbenam, Ia hanya tampak berubah (viparyasyate). Setelah sampai di penghujung siang dan membuat malam di bawah dan siang di sisi yang lainnya. Kemudian ketika manusia berpikir matahari terbit di pagi hari, Ia tampak berubah sendiri, setelah mencapai penghujung malam dan membuat siang di bawah dan malam di sisi lainnya. Sebenarnya Matahari tidaklah pernah tenggelam. Siapapun yang tahu ini bahwa matahari tidak pernah terbenam, Ia menikmati persatuan dan kesamaan alami dengannya dan berdiam di alam yang sama"]

Dalam Kitab komentar Sumangala Vilāsinī/DA, karya Buddhagosa, abad ke-5 M:

Ketika matahari terbit di Jambudipa adalah waktu jaga malam ke-2 [22.00-02.00] di Aparagoyāna. Ketika matahari terbenam di Aparagoyana adalah saat tengah malam di Jambudipa. Siang hari di Jambudipa, adalah ketika matahari terbenam di Pubbavideha dan tengah malam di Uttarakuru [DPPN: DA III.868]

Veda tampaknya tahu bahwa terdapat banyak matahari, misal: "kati agnayaḥ kati sūryāsaḥ/Berapa jumlah Api dan Matahari?" [Rig Veda 10.88.18], "sapta diśo nānāsūryāḥ/7 arah banyak matahari" [RV 9.114.3]. Tradisi India, tampaknya telah tahu tentang area semesta yang gelap yang tidak dapat ditembus cahaya, juga tentang suara dapat merambat di angkasa luar dan terdapat triliunan galaxy, serta variasi bentuk galaxy, sekurannya nampak dalam kitab Buddhism:

Area gelap Semesta yang tidak tembus cahaya:
"antara batasan loka (lokantarikā), tanpa udara (aghā), luas/tak berbatas (asaṃvutā), gelap (andhakārā), gelap gulita (andhakāratimisā), dimana cahaya matahari2 bulan2 yang sangat kuat-perkasa tak dapat menjangkau (yatthapimesaṃ can­dima­sūriyā­naṃ evaṃ­ma­hiddhi­kā­naṃ evaṃma­hā­nubhā­vā­naṃ ābhā nānubhonti)" [SN 56.46; AN 4.127; MN 123; DN 14] -> area tidak berpenghuni di antara sahassadhāloka

Suara dapat merambat di angkasa luar dan triliunan galaksi:
“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini; di hadapan Beliau aku mempelajari ini: ‘Abhibhū, seorang siswa Sang Bhagavā Sikhī, sewaktu sedang menetap di alam brahmā, menyampaikan suaranya ke 1000 sistem dunia (sahassilokadhātuṃ).’ Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya? [4]”

“Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Tathāgata adalah tidak terukur (appameyyā)

sejauh, Ananda, (Yāvatā, ānanda,) matahari-rembulan membawa kesekitar, menjelajahi arah cahayanya (candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā) sejauh 1000 dunia (tāva sahassadhā loke). 1000 dunia ini terdapat 1000 rembulan, 1000 matahari, 1000 raja pegunungan Sineru, 1000 Jambudīpa, 1000 Aparagoyāna, 1000 Uttarakuru, 1000 Pubbavideha, dan 1000 4 mahasamudra (alam asura); 1000 4 raja dewa, 1000 para deva yang dipimpin oleh 4 raja dewa, 1000 Tāvatiṃsa, 1000 Yāma, 1000 Tusita, 1000 para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, 1000 para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, 1000 alam brahmā. Inilah Ananda yang disebut 1000 dunia kecil (sahassī cūḷanikā lokadhātu) [5]

Ananda, 1000 dunia kecil sejauh 1000 dunia ini (sahassī cūḷanikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "dvisahassī majjhimikā lokadhātu".

Ananda, 1000 dunia menengah sejauh 1000 dunia (dvisahassī majjhimikā lokadhātu tāva sahassadhā loko) dinamakan "tisahassī mahāsahassī lokadhātu".

Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat menyampaikan suara-Nya (saranena) hingga di Tisahassi mahasahassi lokadhatu [AN 3.80/culanika sutta]

Ragam bentuk semesta:
"..Pada saat itu, Bodhisattva melanjutkan, "Para Murid Buddha, system dunia memiliki aneka bentuk dan karakteristik. Mereka bisa bulat atau persegi, atau tidak bulat atau tidak persegi. Variasinya tak terbatas. Beberapa berbentuk seperti pusaran air, seperti semburan api gunung berapi, seperti pepohonan atau bunga, seperti Istana atau seperti suatu mahluk hidup, seperti Buddha. Variasinya sebanyak partikel debu.." [Avatamsaka Sutra, bab 4. Perkembangan sutra mahayana sekitar konsili ke-3, 247 SM, terjemahan ke bahasa China mulai abad ke-2 M]

--

Ketika tuhan agama langit kr****n dan islam mengklaim diri super benar, menyatakan bahwa bumi itu datar, diciptakan duluan dari langit, siang malam baru ada beberapa waktu kemudian setelah terciptanya matahari dan bulan, malah mengatakan bahwa bintang sebagai alat pelempar setan dan seterusnya, kemudian, memaksakan seluruh dunia harus tunduk menyembahNYA, maka ini adalah suatu tindakan TIDAK TAHU DIRI, karena bahkan Tradisi INDIA (dan YUNANI), pengetahuan para manusia telah jauh mengalahkan pengetahuan tuhannya kr****n dan islam.

----
Note:

[1] Lihat juga: https://insa.nic.in/writereaddata/UpLoadedFiles/IJHS/Vol33_3_1_SCKak.pdf dan http://www.keplersdiscovery.com/Ancients.html

[2] Sanskrit-English, William Monier: bhūgola: -gola m. 'earth-ball', the terrestrial globe. BhP. -vidyā f. knowledge of the terrestrial globe, geography MW. bhūcakra: -cakra n. 'earth-circle', the equator or equinoctial line. Arti "bhu" = bumi dan "gola" = bulatan, globe, globular, bola

[3] Aitareya Brahmana, abad ke-9/8 SM, III.44, Translasi Dr Haug, di kutip di "Indian Wisdom", Monier Williams, 1893, Ed.4, Ch.2, hal.35: https://books.google.co.id/books?id=CgBAAQAAMAAJ&pg=PA35#v=onepage&q&f=false atau juga di AB 4.29

[4] bukti suara dapat merambat di angkasa luar: https://www.telegraph.co.uk/news/science/space/12169511/Nasa-releases-recording-of-strange-space-music-heard-by-Apollo-10-astronauts.html . Untuk penjelasan: https://gizmodo.com/there-actually-is-sound-in-outer-space-1738420340 dan https://www.forbes.com/sites/startswithabang/2017/05/03/there-is-sound-in-space-thanks-to-gravitational-waves/#296aa9c64049

[5] Sahassilokadhātuṃ = sahassī cūḷanikā lokadhātu: 1000 alam Brahma beserta ribuan alam di bawahnya. Dvisahassilokadhātuṃ = Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu: 1000 x 1000 = 1.000.000. Tisahassiloka-dhātuṃ = Tisahassi Mahasahassi lokadhatu: 1.000.000 x 1000 = 1.000.000.000

Gimana pendapat teman2? Apakah benar kitab2 kuno India sudah mengetahui bumi itu bulat (bola) sebelum sains modern menemukannya?
« Last Edit: 26 November 2018, 08:23:27 AM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline sl99

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 407
  • Reputasi: 32
  • Gender: Male
Re: Tradisi India dan Bumi Bulat
« Reply #1 on: 26 November 2018, 08:28:04 AM »
Siapin kacang, duduk di pojokan
Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Tradisi India dan Bumi Bulat
« Reply #2 on: 26 November 2018, 02:52:52 PM »
Sedikit pendahuluan, Tulisan ini memiliki kesamaan dari sumber lain yang juga menggunakan penggeseran istilah "parimandala", dan dari sumber yang sama juga, yaitu Satapatha Brahmana; juga nuansa apologetic yang kental. Klaim dari aneka pihak religius dengan format "ilmu modern X sudah ada di kitab Y, Z tahun sebelum Sains menemukan" adalah hal yang sangat umum ditemukan. Bagi orang awam yang asing dengan studi literatur historis ataupun sains, prinsip logika sederhana dapat dipakai untuk menguji kebenarannya, yaitu merumuskan pertanyaan berikut:

1. Jika sudah dituliskan Z tahun sebelumnya, apakah ada aplikasi teknologi tersebut dalam masyarakat tempat teknologi itu ditemukan? Contoh: jika ada klaim "listrik ditemukan 3000 tahun lalu di wilayah tertentu, apakah kemudian ada aplikasi apapun yang berkenaan dengan listrik misalnya lampu, blender, atau mesin bentuk sederhana apapun?
Jika teknologi abad modern dikatakan telah ditemukan oleh pihak tertentu di masa lampau tapi kehidupan masyarakat tersebut tidak terimbas dari penemuan tersebut dan tetap seperti jaman batu, kemungkinan besar adalah klaim semata.

2. Jika sudah dituliskan, apakah ada dampak terhadap kehidupan dan budaya di sana pada waktu itu, dalam bidang lain, misalnya penggambaran dalam kesenian; bahasan dalam literatur lain yang merespon "penemuan" tersebut; atau misal dalam hal klaim geodesy seperti tulisan di atas, kemudian muncul pengukuran diameter dunia, pemetaan benua dan samudra, penjelasan iklim dan musim, perbedaan zona waktu, dan lain-lainnya.
Jika pengetahuan dikatakan telah diketahui oleh pihak tertentu di masa lampau, tapi tidak ada reaksi dan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan apapun, tidak memicu sebuah kemajuan dalam bentuk apapun, maka kemungkinan besar juga itu hanya klaim belaka.


Parimaṇ­ḍala

Sepertinya istilah mandala adalah umum dan merujuk pada bentuk lingkaran. Bagi yang asing dengan istilah ini, silahkan baca-baca.

Bagaimana dengan parimandala? Apakah berbeda? Dalam DN 30. Lakkhanasutta terdapat istilah ini:
"...nigrodha­parimaṇ­ḍalo hoti, yāvatakvassa kāyo tāvatakvassa byāmo yāvatakvassa byāmo tāvatakvassa kāyo..."
"...His proportions have the symmetry of the banyan-tree: the length of his body is equal to the compass of his arms, and the compass of his arms is equal to his height..."
Penjelasan di sini adalah panjang kedua tangan terentangkan adalah sama dengan tinggi badannya. Di sini jelas bahwa yang disinggung adalah proyeksi dua dimensi seperti dalam Vitruvian Man oleh Leonardo da Vinci (perhatikan bahwa proporsi nigrodhaparimandala yang adalah ciri manusia besar adalah berbeda dengan Vitruvian Man yang mewakili orang kebanyakan). Jika parimandala di sini diseret ke bahasan 3 dimensi menjadi bentuk bola, tentu dapat dibayangkan seorang Buddha memiliki proporsi seperti Pac-man, yang sepertinya amat sangat kecil kemungkinannya.

Dalam Vinaya, Sekkhiya, juga ada istilah ini, saya tidak yakin persisnya, namun sepertinya merujuk pada jubah yang dipakai membalut/melingkari tubuh secara menyeluruh. Kalau ada yang bisa info, silahkan bantu.

Istilah ini bukanlah khas Buddhis. Dalam tradisi Jainisme, misalnya postur tubuh demikian adalah salah satu dari 6 jenis ukuran simetri tubuh yang disebabkan oleh samsthana nama-karma.[1] Dijelaskan bahwa bagian atas tubuh berkembang sempurna, namun bagian bawah tidak, sehingga kaki dan lengan memiliki panjang yang sama. (Ini yang memberikan gambar lebih jelas mengenai perbedaan Vitruvian Man dan Lakkhanasutta.) Dalam Tradisi Hindu, postur demikian dianggap sebagai tanda manusia luar biasa.[2]

Aneka teks mengenai seni dan desain dalam Shilpa Sastra membahas bentuk ini, dan menurut Wisdomlib,  Dharma-saṃgraha (section 34) karya Nagarjuna memasukannya ke salah satu dari 20 bentuk objek.

Singkat kata, seperti mandala, istilah parimandala merujuk pada bentuk lingkaran, bukan bola.

Bagaimana dengan istilah "Bhugolo"? Benar, itu adalah bola dan disebutkan dalam Surya Siddhanta, literatur abad 3-4 Masehi. Namun tidak istimewa sebab 500 tahun sebelumnya, di dunia Hellenistik sudah ada bahkan usaha perhitungan keliling bumi. Juga, walaupun menggambarkan bumi secara bulat, namun menggunakan prinsip geosentris di mana bumi adalah diam, dan matahari dan bulan yang mengelilingi. 
Secara singkat bisa dibaca sejarah perkembangan ide bumi bulat.


[1] J. Jaini. Outline of Jainism. Cambridge University Press. p.34
[2] J. Roy. Theory of Avatāra and Divinity of Chaitanya. Atlantic Publishers & Distributors (P) Limited.



Matahari tenggelam di satu bagian, maka terbit di bagian lain

Untuk yang awam dengan kosmologi India kuno (Hindu, Jain, Buddhis), bisa baca-baca tentang gunung Mahameru dulu. Ini adalah gunung sebagai pusat dari dunia yang berbentuk piring. Dalam kosmologi Buddhis setiap cakkavala terdiri dari Mahameru sebagai pusatnya, lalu dikelilingi pegunungan yang lebih kecil dan hutan, kemudian samudera luas. Di piringan bagian utara Mahameru terdapat benua Uttarakuru, sedangkan di selatan, barat, dan timur ada Jambudīpa, Aparagoyāna, dan Pubbavideha. Benua ini adalah mengambang di atas permukaan air seperti dijelaskan dalam DN 16. Air tidak tumpah ke luar angkasa karena setiap cakkavala dibatasi pegunungan melingkar yang menutup samudera, cakkavālasilā. Silahkan baca di sini untuk lengkapnya, sekaligus sumber rujukan.

Sumber paralel dari Abhidharma Sarvastivada lebih detail menggambarkan mengenai struktur ini. Bagi yang berminat bisa buka di sini, hal. 45 untuk bab dunia, atau hal. 49 untuk langsung lihat gambarnya. Di sini kita bisa lebih jelas mengapa matahari terbit di satu tempat berarti tenggelam di tempat lain: karena terbenam di balik Mahameru.

Itu juga menjelaskan frasa "candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā" dalam AN 3.80 yang mengatakan bulan dan matahari (di sini digabung dalam kata majemuk/dvandva) mengelilingi (Mahameru). Sejauh jangkauan cahayanya itulah adalah satu "sistem dunia". Proporsi besar matahari dan bulan yang hampir sama besar itu juga dikuatkan dalam Visuddhimagga (VII.44) yang menyebutkan lingkar bulan adalah 49 Yojana dan matahari 50 Yojana. Hanya selisih 2% saja. Menurut sains modern, radius matahari sekitar 696 ribu KM, 40.000% lebih besar dari bulan yang hanya sekitar  1.7 ribu KM saja.



Bonus: suara merambat di angkasa luar

Saya tertarik membahas bagian ini sebab polanya sering ditemukan: 

1. Kitab suci mengatakan sesuatu yang secara pengetahuan adalah tidak mungkin.
Kitab suci: Buddha bisa memperdengarkan suara sampai ke 1000 dunia.
Sains: suara tidak merambat di vakum.

2. Cari pembenaran yang mirip dan judulnya sepertinya mendukung argumen:
* Menurut headline Telegraph sepertinya menggambarkan adanya suara (musik) di angkasa yang didengar Astronot Apollo 10.

* Menurut headline gizmodo ada suara di luar angkasa.

3. Masukkan link dengan headline yang sepertinya mendukung, sehingga membenarkan kitab suci.
--

Menurut saya, jika penulis tidak paham apa isi berita tersebut dan bagaimana mekanisme gelombang suara di ruang angkasa, maka bisa dinilai penulis tersebut adalah orang yang lompat pada kesimpulan tanpa paham isi sumber yang dicantumkannya. Tetapi jika penulis paham isi berita tersebut dan menggiring opini dengan headline berita, maka penulis tersebut adalah seorang penipu. 


[TL;DR] Headline 1: yang didenger di radio astronot adalah interference/gangguan gelombang;
Headline 2: gelombang suara normal terendah yang kita dengar: panjang gelombang 17m, osilasi 20x dalam 1 detik, sementara di ruang angkasa panjang gelombang hitungan tahun cahaya, osilasi 1x dalam jutaan tahun.

Saran untuk pembaca: Bacalah yang kritis, tidak membuta dalam menerima/menolak.



Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Tradisi India dan Bumi Bulat
« Reply #3 on: 26 November 2018, 03:24:19 PM »
Sedikit pendahuluan, Tulisan ini memiliki kesamaan dari sumber lain yang juga menggunakan penggeseran istilah "parimandala", dan dari sumber yang sama juga, yaitu Satapatha Brahmana; juga nuansa apologetic yang kental. Klaim dari aneka pihak religius dengan format "ilmu modern X sudah ada di kitab Y, Z tahun sebelum Sains menemukan" adalah hal yang sangat umum ditemukan. Bagi orang awam yang asing dengan studi literatur historis ataupun sains, prinsip logika sederhana dapat dipakai untuk menguji kebenarannya, yaitu merumuskan pertanyaan berikut:

1. Jika sudah dituliskan Z tahun sebelumnya, apakah ada aplikasi teknologi tersebut dalam masyarakat tempat teknologi itu ditemukan? Contoh: jika ada klaim "listrik ditemukan 3000 tahun lalu di wilayah tertentu, apakah kemudian ada aplikasi apapun yang berkenaan dengan listrik misalnya lampu, blender, atau mesin bentuk sederhana apapun?
Jika teknologi abad modern dikatakan telah ditemukan oleh pihak tertentu di masa lampau tapi kehidupan masyarakat tersebut tidak terimbas dari penemuan tersebut dan tetap seperti jaman batu, kemungkinan besar adalah klaim semata.

2. Jika sudah dituliskan, apakah ada dampak terhadap kehidupan dan budaya di sana pada waktu itu, dalam bidang lain, misalnya penggambaran dalam kesenian; bahasan dalam literatur lain yang merespon "penemuan" tersebut; atau misal dalam hal klaim geodesy seperti tulisan di atas, kemudian muncul pengukuran diameter dunia, pemetaan benua dan samudra, penjelasan iklim dan musim, perbedaan zona waktu, dan lain-lainnya.
Jika pengetahuan dikatakan telah diketahui oleh pihak tertentu di masa lampau, tapi tidak ada reaksi dan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan apapun, tidak memicu sebuah kemajuan dalam bentuk apapun, maka kemungkinan besar juga itu hanya klaim belaka.


Parimaṇ­ḍala

Sepertinya istilah mandala adalah umum dan merujuk pada bentuk lingkaran. Bagi yang asing dengan istilah ini, silahkan baca-baca.

Bagaimana dengan parimandala? Apakah berbeda? Dalam DN 30. Lakkhanasutta terdapat istilah ini:
"...nigrodha­parimaṇ­ḍalo hoti, yāvatakvassa kāyo tāvatakvassa byāmo yāvatakvassa byāmo tāvatakvassa kāyo..."
"...His proportions have the symmetry of the banyan-tree: the length of his body is equal to the compass of his arms, and the compass of his arms is equal to his height..."
Penjelasan di sini adalah panjang kedua tangan terentangkan adalah sama dengan tinggi badannya. Di sini jelas bahwa yang disinggung adalah proyeksi dua dimensi seperti dalam Vitruvian Man oleh Leonardo da Vinci (perhatikan bahwa proporsi nigrodhaparimandala yang adalah ciri manusia besar adalah berbeda dengan Vitruvian Man yang mewakili orang kebanyakan). Jika parimandala di sini diseret ke bahasan 3 dimensi menjadi bentuk bola, tentu dapat dibayangkan seorang Buddha memiliki proporsi seperti Pac-man, yang sepertinya amat sangat kecil kemungkinannya.

Dalam Vinaya, Sekkhiya, juga ada istilah ini, saya tidak yakin persisnya, namun sepertinya merujuk pada jubah yang dipakai membalut/melingkari tubuh secara menyeluruh. Kalau ada yang bisa info, silahkan bantu.

Istilah ini bukanlah khas Buddhis. Dalam tradisi Jainisme, misalnya postur tubuh demikian adalah salah satu dari 6 jenis ukuran simetri tubuh yang disebabkan oleh samsthana nama-karma.[1] Dijelaskan bahwa bagian atas tubuh berkembang sempurna, namun bagian bawah tidak, sehingga kaki dan lengan memiliki panjang yang sama. (Ini yang memberikan gambar lebih jelas mengenai perbedaan Vitruvian Man dan Lakkhanasutta.) Dalam Tradisi Hindu, postur demikian dianggap sebagai tanda manusia luar biasa.[2]

Aneka teks mengenai seni dan desain dalam Shilpa Sastra membahas bentuk ini, dan menurut Wisdomlib,  Dharma-saṃgraha (section 34) karya Nagarjuna memasukannya ke salah satu dari 20 bentuk objek.

Singkat kata, seperti mandala, istilah parimandala merujuk pada bentuk lingkaran, bukan bola.

Bagaimana dengan istilah "Bhugolo"? Benar, itu adalah bola dan disebutkan dalam Surya Siddhanta, literatur abad 3-4 Masehi. Namun tidak istimewa sebab 500 tahun sebelumnya, di dunia Hellenistik sudah ada bahkan usaha perhitungan keliling bumi. Juga, walaupun menggambarkan bumi secara bulat, namun menggunakan prinsip geosentris di mana bumi adalah diam, dan matahari dan bulan yang mengelilingi. 
Secara singkat bisa dibaca sejarah perkembangan ide bumi bulat.


[1] J. Jaini. Outline of Jainism. Cambridge University Press. p.34
[2] J. Roy. Theory of Avatāra and Divinity of Chaitanya. Atlantic Publishers & Distributors (P) Limited.



Matahari tenggelam di satu bagian, maka terbit di bagian lain

Untuk yang awam dengan kosmologi India kuno (Hindu, Jain, Buddhis), bisa baca-baca tentang gunung Mahameru dulu. Ini adalah gunung sebagai pusat dari dunia yang berbentuk piring. Dalam kosmologi Buddhis setiap cakkavala terdiri dari Mahameru sebagai pusatnya, lalu dikelilingi pegunungan yang lebih kecil dan hutan, kemudian samudera luas. Di piringan bagian utara Mahameru terdapat benua Uttarakuru, sedangkan di selatan, barat, dan timur ada Jambudīpa, Aparagoyāna, dan Pubbavideha. Benua ini adalah mengambang di atas permukaan air seperti dijelaskan dalam DN 16. Air tidak tumpah ke luar angkasa karena setiap cakkavala dibatasi pegunungan melingkar yang menutup samudera, cakkavālasilā. Silahkan baca di sini untuk lengkapnya, sekaligus sumber rujukan.

Sumber paralel dari Abhidharma Sarvastivada lebih detail menggambarkan mengenai struktur ini. Bagi yang berminat bisa buka di sini, hal. 45 untuk bab dunia, atau hal. 49 untuk langsung lihat gambarnya. Di sini kita bisa lebih jelas mengapa matahari terbit di satu tempat berarti tenggelam di tempat lain: karena terbenam di balik Mahameru.

Itu juga menjelaskan frasa "candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā" dalam AN 3.80 yang mengatakan bulan dan matahari (di sini digabung dalam kata majemuk/dvandva) mengelilingi (Mahameru). Sejauh jangkauan cahayanya itulah adalah satu "sistem dunia". Proporsi besar matahari dan bulan yang hampir sama besar itu juga dikuatkan dalam Visuddhimagga (VII.44) yang menyebutkan lingkar bulan adalah 49 Yojana dan matahari 50 Yojana. Hanya selisih 2% saja. Menurut sains modern, radius matahari sekitar 696 ribu KM, 40.000% lebih besar dari bulan yang hanya sekitar  1.7 ribu KM saja.



Bonus: suara merambat di angkasa luar

Saya tertarik membahas bagian ini sebab polanya sering ditemukan: 

1. Kitab suci mengatakan sesuatu yang secara pengetahuan adalah tidak mungkin.
Kitab suci: Buddha bisa memperdengarkan suara sampai ke 1000 dunia.
Sains: suara tidak merambat di vakum.

2. Cari pembenaran yang mirip dan judulnya sepertinya mendukung argumen:
* Menurut headline Telegraph sepertinya menggambarkan adanya suara (musik) di angkasa yang didengar Astronot Apollo 10.

* Menurut headline gizmodo ada suara di luar angkasa.

3. Masukkan link dengan headline yang sepertinya mendukung, sehingga membenarkan kitab suci.
--

Menurut saya, jika penulis tidak paham apa isi berita tersebut dan bagaimana mekanisme gelombang suara di ruang angkasa, maka bisa dinilai penulis tersebut adalah orang yang lompat pada kesimpulan tanpa paham isi sumber yang dicantumkannya. Tetapi jika penulis paham isi berita tersebut dan menggiring opini dengan headline berita, maka penulis tersebut adalah seorang penipu. 


[TL;DR] Headline 1: yang didenger di radio astronot adalah interference/gangguan gelombang;
Headline 2: gelombang suara normal terendah yang kita dengar: panjang gelombang 17m, osilasi 20x dalam 1 detik, sementara di ruang angkasa panjang gelombang hitungan tahun cahaya, osilasi 1x dalam jutaan tahun.

Saran untuk pembaca: Bacalah yang kritis, tidak membuta dalam menerima/menolak.




 :jempol: :jempol: :jempol:
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Arya Karniawan

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 283
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
  • Hooaaammmm..... :3
Re: Tradisi India dan Bumi Bulat
« Reply #4 on: 26 November 2018, 04:12:05 PM »
Sedikit pendahuluan, Tulisan ini memiliki kesamaan dari sumber lain yang juga menggunakan penggeseran istilah "parimandala", dan dari sumber yang sama juga, yaitu Satapatha Brahmana; juga nuansa apologetic yang kental. Klaim dari aneka pihak religius dengan format "ilmu modern X sudah ada di kitab Y, Z tahun sebelum Sains menemukan" adalah hal yang sangat umum ditemukan. Bagi orang awam yang asing dengan studi literatur historis ataupun sains, prinsip logika sederhana dapat dipakai untuk menguji kebenarannya, yaitu merumuskan pertanyaan berikut:

1. Jika sudah dituliskan Z tahun sebelumnya, apakah ada aplikasi teknologi tersebut dalam masyarakat tempat teknologi itu ditemukan? Contoh: jika ada klaim "listrik ditemukan 3000 tahun lalu di wilayah tertentu, apakah kemudian ada aplikasi apapun yang berkenaan dengan listrik misalnya lampu, blender, atau mesin bentuk sederhana apapun?
Jika teknologi abad modern dikatakan telah ditemukan oleh pihak tertentu di masa lampau tapi kehidupan masyarakat tersebut tidak terimbas dari penemuan tersebut dan tetap seperti jaman batu, kemungkinan besar adalah klaim semata.

2. Jika sudah dituliskan, apakah ada dampak terhadap kehidupan dan budaya di sana pada waktu itu, dalam bidang lain, misalnya penggambaran dalam kesenian; bahasan dalam literatur lain yang merespon "penemuan" tersebut; atau misal dalam hal klaim geodesy seperti tulisan di atas, kemudian muncul pengukuran diameter dunia, pemetaan benua dan samudra, penjelasan iklim dan musim, perbedaan zona waktu, dan lain-lainnya.
Jika pengetahuan dikatakan telah diketahui oleh pihak tertentu di masa lampau, tapi tidak ada reaksi dan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan apapun, tidak memicu sebuah kemajuan dalam bentuk apapun, maka kemungkinan besar juga itu hanya klaim belaka.


Parimaṇ­ḍala

Sepertinya istilah mandala adalah umum dan merujuk pada bentuk lingkaran. Bagi yang asing dengan istilah ini, silahkan baca-baca.

Bagaimana dengan parimandala? Apakah berbeda? Dalam DN 30. Lakkhanasutta terdapat istilah ini:
"...nigrodha­parimaṇ­ḍalo hoti, yāvatakvassa kāyo tāvatakvassa byāmo yāvatakvassa byāmo tāvatakvassa kāyo..."
"...His proportions have the symmetry of the banyan-tree: the length of his body is equal to the compass of his arms, and the compass of his arms is equal to his height..."
Penjelasan di sini adalah panjang kedua tangan terentangkan adalah sama dengan tinggi badannya. Di sini jelas bahwa yang disinggung adalah proyeksi dua dimensi seperti dalam Vitruvian Man oleh Leonardo da Vinci (perhatikan bahwa proporsi nigrodhaparimandala yang adalah ciri manusia besar adalah berbeda dengan Vitruvian Man yang mewakili orang kebanyakan). Jika parimandala di sini diseret ke bahasan 3 dimensi menjadi bentuk bola, tentu dapat dibayangkan seorang Buddha memiliki proporsi seperti Pac-man, yang sepertinya amat sangat kecil kemungkinannya.

Dalam Vinaya, Sekkhiya, juga ada istilah ini, saya tidak yakin persisnya, namun sepertinya merujuk pada jubah yang dipakai membalut/melingkari tubuh secara menyeluruh. Kalau ada yang bisa info, silahkan bantu.

Istilah ini bukanlah khas Buddhis. Dalam tradisi Jainisme, misalnya postur tubuh demikian adalah salah satu dari 6 jenis ukuran simetri tubuh yang disebabkan oleh samsthana nama-karma.[1] Dijelaskan bahwa bagian atas tubuh berkembang sempurna, namun bagian bawah tidak, sehingga kaki dan lengan memiliki panjang yang sama. (Ini yang memberikan gambar lebih jelas mengenai perbedaan Vitruvian Man dan Lakkhanasutta.) Dalam Tradisi Hindu, postur demikian dianggap sebagai tanda manusia luar biasa.[2]

Aneka teks mengenai seni dan desain dalam Shilpa Sastra membahas bentuk ini, dan menurut Wisdomlib,  Dharma-saṃgraha (section 34) karya Nagarjuna memasukannya ke salah satu dari 20 bentuk objek.

Singkat kata, seperti mandala, istilah parimandala merujuk pada bentuk lingkaran, bukan bola.

Bagaimana dengan istilah "Bhugolo"? Benar, itu adalah bola dan disebutkan dalam Surya Siddhanta, literatur abad 3-4 Masehi. Namun tidak istimewa sebab 500 tahun sebelumnya, di dunia Hellenistik sudah ada bahkan usaha perhitungan keliling bumi. Juga, walaupun menggambarkan bumi secara bulat, namun menggunakan prinsip geosentris di mana bumi adalah diam, dan matahari dan bulan yang mengelilingi. 
Secara singkat bisa dibaca sejarah perkembangan ide bumi bulat.


[1] J. Jaini. Outline of Jainism. Cambridge University Press. p.34
[2] J. Roy. Theory of Avatāra and Divinity of Chaitanya. Atlantic Publishers & Distributors (P) Limited.



Matahari tenggelam di satu bagian, maka terbit di bagian lain

Untuk yang awam dengan kosmologi India kuno (Hindu, Jain, Buddhis), bisa baca-baca tentang gunung Mahameru dulu. Ini adalah gunung sebagai pusat dari dunia yang berbentuk piring. Dalam kosmologi Buddhis setiap cakkavala terdiri dari Mahameru sebagai pusatnya, lalu dikelilingi pegunungan yang lebih kecil dan hutan, kemudian samudera luas. Di piringan bagian utara Mahameru terdapat benua Uttarakuru, sedangkan di selatan, barat, dan timur ada Jambudīpa, Aparagoyāna, dan Pubbavideha. Benua ini adalah mengambang di atas permukaan air seperti dijelaskan dalam DN 16. Air tidak tumpah ke luar angkasa karena setiap cakkavala dibatasi pegunungan melingkar yang menutup samudera, cakkavālasilā. Silahkan baca di sini untuk lengkapnya, sekaligus sumber rujukan.

Sumber paralel dari Abhidharma Sarvastivada lebih detail menggambarkan mengenai struktur ini. Bagi yang berminat bisa buka di sini, hal. 45 untuk bab dunia, atau hal. 49 untuk langsung lihat gambarnya. Di sini kita bisa lebih jelas mengapa matahari terbit di satu tempat berarti tenggelam di tempat lain: karena terbenam di balik Mahameru.

Itu juga menjelaskan frasa "candimasūriyā pariharanti, disā bhanti virocanā" dalam AN 3.80 yang mengatakan bulan dan matahari (di sini digabung dalam kata majemuk/dvandva) mengelilingi (Mahameru). Sejauh jangkauan cahayanya itulah adalah satu "sistem dunia". Proporsi besar matahari dan bulan yang hampir sama besar itu juga dikuatkan dalam Visuddhimagga (VII.44) yang menyebutkan lingkar bulan adalah 49 Yojana dan matahari 50 Yojana. Hanya selisih 2% saja. Menurut sains modern, radius matahari sekitar 696 ribu KM, 40.000% lebih besar dari bulan yang hanya sekitar  1.7 ribu KM saja.



Bonus: suara merambat di angkasa luar

Saya tertarik membahas bagian ini sebab polanya sering ditemukan: 

1. Kitab suci mengatakan sesuatu yang secara pengetahuan adalah tidak mungkin.
Kitab suci: Buddha bisa memperdengarkan suara sampai ke 1000 dunia.
Sains: suara tidak merambat di vakum.

2. Cari pembenaran yang mirip dan judulnya sepertinya mendukung argumen:
* Menurut headline Telegraph sepertinya menggambarkan adanya suara (musik) di angkasa yang didengar Astronot Apollo 10.

* Menurut headline gizmodo ada suara di luar angkasa.

3. Masukkan link dengan headline yang sepertinya mendukung, sehingga membenarkan kitab suci.
--

Menurut saya, jika penulis tidak paham apa isi berita tersebut dan bagaimana mekanisme gelombang suara di ruang angkasa, maka bisa dinilai penulis tersebut adalah orang yang lompat pada kesimpulan tanpa paham isi sumber yang dicantumkannya. Tetapi jika penulis paham isi berita tersebut dan menggiring opini dengan headline berita, maka penulis tersebut adalah seorang penipu. 


[TL;DR] Headline 1: yang didenger di radio astronot adalah interference/gangguan gelombang;
Headline 2: gelombang suara normal terendah yang kita dengar: panjang gelombang 17m, osilasi 20x dalam 1 detik, sementara di ruang angkasa panjang gelombang hitungan tahun cahaya, osilasi 1x dalam jutaan tahun.

Saran untuk pembaca: Bacalah yang kritis, tidak membuta dalam menerima/menolak.

 :jempol: :jempol:
#Jhindra