Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial  (Read 21461 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #30 on: 15 February 2018, 02:43:18 PM »
1. Mengakui dan Memaafkan

Suatu ketika dua orang bhikkhu bertengkar dan salah seorang bhikkhu telah melakukan pelanggaran terhadap yang lainnya. Kemudian bhikkhu pertama mengakui pelanggarannya kepada bhikkhu lainnya, namun bhikkhu kedua tidak memaafkannya. Kemudian sejumlah bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā dan melaporkan kepada Beliau apa yang telah terjadi. [Sang Bhagavā berkata:] “Para bhikkhu, ada dua jenis orang bodoh: seorang yang tidak melihat suatu pelanggaran sebagai pelanggaran; dan seorang yang, ketika orang lain mengakui pelanggaran, tidak memaafkannya. Ini adalah dua jenis orang bodoh. Ada dua jenis orang bijaksana: seorang yang melihat suatu pelanggaran sebagai pelanggaran; dan seorang yang, ketika orang lain mengakui pelanggaran, memaafkannya. Ini adalah dua jenis orang bijaksana.”

(SN 11:24, CDB 339)

2. Menyelesaikan Perbedaan Pendapat

“Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan Dhamma.[3]
“Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini berbeda baik dalam makna maupun kata-katanya,’ maka bhikkhu manapun yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini berbeda baik dalam makna maupun kata-katanya. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam makna dan perbedaan dalam kata-katanya; jangan biarkan mereka jatuh dalam perselisihan.’ Kemudian bhikkhu manapun di pihak yang berlawanan yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini berbeda baik dalam makna maupun kata-katanya. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam makna dan perbedaan dalam kata-katanya; jangan biarkan mereka jatuh dalam perselisihan.’ Maka apa yang secara keliru digenggam harus diingat sebagai secara keliru digenggam. Dengan mengingat apa yang secara keliru digenggam sebagai secara keliru digenggam, maka apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin harus dijelaskan.

“Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini berbeda dalam makna tetapi sepakat dalam kata-kata,’ maka bhikkhu yang manapun yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini berbeda dalam makna tetapi sepakat dalam kata-kata. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam makna tetapi terjadi kesepakatan dalam kata-katanya; jangan biarkan mereka jatuh dalam perselisihan.’ Kemudian bhikkhu yang manapun di pihak yang berlawanan yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini berbeda dalam makna tetapi sepakat dalam kata-kata. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam makna tetapi terjadi kesepakatan dalam kata-katanya; jangan biarkan para mulia itu jatuh dalam perselisihan.’ Maka apa yang secara keliru digenggam harus diingat sebagai secara keliru digenggam dan apa yang secara benar digenggam harus diingat sebagai secara benar digenggam, dan dengan mengingat apa yang secara keliru digenggam sebagai secara keliru digenggam, dan dengan mengingat apa yang secara benar digenggam sebagai secara benar digenggam maka apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin harus dijelaskan.

“Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini sepakat dalam makna tetapi berbeda dalam kata-kata,’ maka bhikkhu yang manapun yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini sepakat dalam makna tetapi berbeda dalam kata-kata. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan dalam makna tetapi terjadi perbedaan dalam kata-katanya. Tetapi kata-kata adalah persoalan sepele. Jangan biarkan para mulia itu jatuh dalam perselisihan karena persoalan sepele.’ Kemudian bhikkhu yang manapun di pihak yang berlawanan yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini sepakat dalam makna tetapi berbeda dalam kata-kata. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan dalam makna tetapi terjadi perbedaan dalam kata-katanya. Tetapi kata-kata adalah persoalan sepele. Jangan biarkan mereka jatuh dalam perselisihan karena persoalan sepele.’ Maka apa yang secara keliru digenggam harus diingat sebagai keliru digenggam dan apa yang secara benar digenggam harus diingat sebagai secara benar digenggam, dan dengan mengingat apa yang secara keliru digenggam sebagai keliru digenggam, dan dengan mengingat apa yang secara benar digenggam sebagai benar digenggam maka apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin harus dijelaskan.

“Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini sepakat baik dalam makna maupun kata-katanya,’ maka bhikkhu yang manapun yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini sepakat baik dalam makna maupun kata-katanya. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan baik dalam makna maupun dalam kata-katanya; semoga para mulia itu tidak jatuh dalam perselisihan.’ Kemudian bhikkhu yang manapun di pihak yang berlawanan yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini sepakat baik dalam makna maupun kata-katanya. Para Mulia harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan baik dalam makna maupun dalam kata-katanya; semoga para mulia itu tidak jatuh dalam perselisihan.’ Maka apa yang secara benar digenggam harus diingat sebagai secara benar digenggam. Dengan mengingat apa yang secara benar digenggam sebagai secara benar digenggam, maka apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin harus dijelaskan.

“Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa perselisihan, seorang bhikkhu mungkin melakukan suatu pelanggaran. Sekarang, para bhikkhu, kalian tidak boleh terburu-buru menegurnya; melainkan, orang itu harus diperiksa sebagai berikut: ‘Aku tidak akan direpotkan dan orang itu tidak akan terluka; karena orang itu tidak terbiasa menyerah pada kemarahan dan kekesalan, ia tidak melekat dengan erat pada pandangannya dan ia dapat melepaskannya dengan mudah, dan aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir demikian, para bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.

“Kemudian kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku tidak akan direpotkan, tetapi orang itu mungkin akan terluka; karena orang itu terbiasa menyerah pada kemarahan dan kekesalan. Akan tetapi, ia tidak melekat dengan erat pada pandangannya dan ia dapat melepaskannya dengan mudah, dan aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat. Adalah hal sepele bahwa ia akan terluka, tetapi adalah lebih penting bahwa aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir demikian, para bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.

“Kemudian kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku akan direpotkan, tetapi orang itu tidak akan terluka; karena orang itu tidak terbiasa menyerah pada kemarahan dan kekesalan, walaupun ia melekat dengan erat pada pandangannya dan ia sulit melepaskannya; namun aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat. Adalah hal sepele bahwa aku akan direpotkan, tetapi adalah lebih penting bahwa aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir demikian, para bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.

“Kemudian kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku akan direpotkan, dan orang itu mungkin akan terluka; karena orang itu terbiasa menyerah pada kemarahan dan kekesalan, dan ia melekat dengan erat pada pandangannya dan ia sulit melepaskannya; namun aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat. Adalah hal sepele bahwa aku akan direpotkan dan orang itu mungkin terluka, tetapi adalah lebih penting bahwa aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir demikian, para bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.

“Kemudian kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku akan direpotkan dan orang itu mungkin akan terluka; karena orang itu terbiasa menyerah pada kemarahan dan kekesalan, dan ia melekat dengan erat pada pandangannya dan ia sulit melepaskannya; dan aku tidak dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan tidak dapat mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Seseorang sebaiknya tidak meremehkan keseimbangan terhadap orang seperti itu.

“Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa berselisih, mungkin muncul percekcokan verbal, kesombongan dalam pandangan-pandangan, gangguan pikiran, kekesalan, dan kesedihan. Maka bhikkhu yang manapun yang kalian anggap paling layak yang memihak salah satu pihak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Sewaktu kami berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa berselisih, muncul percekcokan verbal, kesombongan dalam pandangan-pandangan, gangguan pikiran, kekesalan, dan kesedihan. Jika Sang Guru mengetahui, apakah ia akan mencela hal itu?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Jika Sang Guru mengetahui, maka ia akan mencela hal itu.’

“‘Tetapi, Teman, tanpa meninggalkan hal itu, dapatkah seseorang mencapai Nibbāna?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Teman, tanpa meninggalkan hal itu, ia tidak dapat mencapai Nibbāna.’

“Kemudian bhikkhu yang manapun yang kalian anggap paling layak yang memihak pada pihak yang berlawanan harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Sewaktu kami berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa berselisih, mungkin muncul percekcokan verbal, kesombongan dalam pandangan-pandangan, gangguan pikiran, kekesalan, dan kesedihan. Jika Sang Guru mengetahui, apakah ia akan mencela hal itu?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Jika Sang Guru mengetahui, maka ia akan mencela hal itu.’

“‘Tetapi, Teman, tanpa meninggalkan hal itu, dapatkah seseorang mencapai Nibbāna?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Teman, tanpa meninggalkan hal itu, ia tidak dapat mencapai Nibbāna.’

“Jika orang lain bertanya kepada bhikkhu itu sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia yang membuat para bhikkhu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkan mereka dalam yang bermanfaat?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Di sini, Teman-teman, aku menghadap Sang Bhagavā. Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma kepadaku. Setelah mendengarkan Dhamma itu, aku berkata kepada para bhikkhu itu. Para bhikkhu itu mendengarkan Dhamma itu, dan mereka keluar dari yang tidak bermanfaat dan menjadi kokoh dalam yang bermanfaat.’ Dengan menjawab demikian, bhikkhu itu tidak meninggikan dirinya sendiri juga tidak merendahkan orang lain; ia menjawab sesuai dengan Dhamma sedemikian sehingga tidak memberikan landasan bagi celaan yang dapat dengan benar disimpulkan dari pernyataannya.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

(dari MN 103, MLDB 848–52)

3. Menyelesaikan Perselisihan dalam Sangha

Yang Mulia Ānanda dan Samaṇera Cunda pergi menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi, dan Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Samaṇera Cunda ini, Bhante, mengatakan bahwa guru Jain Nātaputta baru saja meninggal dunia.[4] Setelah kematiannya para Nigaṇṭha terbagi menjadi dua kelompok, ditinggalkan tanpa perlindungan.’ Aku berpikir, Yang mulia: ‘Semoga tidak terjadi perselisihan dalam Sangha ketika Sang Bhagavā telah meninggal dunia. Karena perselisihan demikian, akan mengakibatkan bahaya dan ketidakbahagiaan banyak makhluk, menghasilkan kehilangan, kemalangan, dan penderitaan para dewa dan manusia.’”

“Bagaimana menurutmu, Ānanda? Hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepadamu setelah secara langsung mengetahuinya — yaitu, empat penegakan perhatian, empat jenis usaha benar, empat landasan kekuatan batin, lima indria, lima kekuatan, tujuh faktor pencerahan, jalan mulia berunsur delapan — adakah engkau melihat, Ānanda, bahkan dua bhikkhu yang membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan hal-hal ini?”

“Tidak, Bhante, aku tidak melihat bahkan ada dua bhikkhu yang membuat pernyataan berbeda sehubungan dengan hal-hal ini. Tetapi, Bhante, ada orang-orang yang hidup dengan menghormati Sang Bhagavā yang mungkin, setelah Beliau meninggal dunia, menciptakan perselisihan dalam Sangha sehubungan dengan penghidupan dan sehubungan dengan Pātimokkha. Perselisihan demikian dapat mengakibatkan bahaya dan ketidakbahagiaan banyak makhluk, menghasilkan kehilangan, kemalangan, dan penderitaan para dewa dan manusia.”

“Perselisihan sehubungan dengan penghidupan atau sehubungan dengan Pātimokkha adalah hal sepele, Ānanda. Tetapi jika muncul perselisihan dalam Sangha sehubungan dengan jalan atau cara, perselisihan demikian dapat mengakibatkan bahaya dan ketidak-bahagiaan banyak makhluk, menghasilkan kehilangan, kemalangan, dan penderitaan para dewa dan manusia.

“Terdapat, Ānanda, enam akar perselisihan ini. Apakah enam ini? Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu marah dan kesal ... [seperti dalam Teks VIII,8] ...  melekat pada pandangannya sendiri, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah. Bhikkhu demikian berdiam tanpa menghormati dan tanpa menghargai Sang Guru, Dhamma, dan Sangha, dan ia tidak memenuhi latihan. Seorang bhikkhu yang tidak menghormati dan tidak menghargai Sang Guru, Dhamma, dan Sangha, dan yang tidak memenuhi latihan, menciptakan perselisihan dalam Sangha, yang dapat mengakibatkan bahaya dan ketidakbahagiaan banyak makhluk, menghasilkan kehilangan, kemalangan, dan penderitaan para dewa dan manusia. Sekarang jika engkau melihat akar perselisihan demikian apakah dalam dirimu atau secara eksternal, maka engkau harus berusaha untuk meninggalkan akar perselisihan yang buruk yang sama itu. Dan jika engkau tidak melihat akar perselisihan demikian apakah dalam dirimu atau secara eksternal, maka engkau harus berlatih sedemikian sehingga akar perselisihan yang buruk yang sama itu tidak muncul di masa depan....

“Dan bagaimanakah terjadinya penghapusan [perkara disiplin] melalui kehadiran? Di sini para bhikkhu berselisih: ‘Ini adalah Dhamma,’ atau ‘Ini bukan Dhamma,’ atau ‘Ini adalah Disiplin,’ atau ‘Ini bukan Disiplin.’ Para bhikkhu itu harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah berkumpul, tuntunan Dhamma harus ditetapkan. Ketika  tuntunan Dhamma telah ditetapkan, perkara disiplin itu harus diselesaikan sesuai dengan tuntunan Dhamma itu. Demikianlah penghapusan perkara disiplin melalui kehadiran. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian beberapa perkara disiplin di sini dengan cara ini, dengan penghapusan melalui kehadiran.[5]

“Dan bagaimanakah terjadinya pendapat mayoritas? Jika para bhikkhu itu tidak dapat menyelesaikan perkara itu di dalam tempat kediaman itu, maka mereka harus mendatangi tempat kediaman di mana terdapat lebih banyak bhikkhu. Di sana, mereka semuanya harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah berkumpul, tuntunan Dhamma harus ditetapkan.[6] Ketika tuntunan Dhamma telah ditetapkan, perkara disiplin itu harus diselesaikan sedemikian sesuai dengan tuntunan Dhamma itu. Demikianlah pendapat mayoritas. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian beberapa perkara disiplin di sini dengan penghapusan perkara melalui pendapat mayoritas....

“Dan bagaimanakah terjadinya menutupi dengan rumput? Di sini ketika para bhikkhu telah bertengkar dan bercekcok dan berselisih, mereka mungkin telah mengatakan atau melakukan banyak hal yang tidak selayaknya bagi seorang pertapa. Para bhikkhu itu harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah mereka berkumpul, seorang bhikkhu yang bijaksana di antara para bhikkhu yang memihak salah satu pihak bangkit dari duduknya, dan setelah merapikan jubahnya di salah satu bahunya, ia merangkapkan tangan, dan mengundang Sangha sebagai berikut: ‘Mohon Sangha yang mulia mendengarkan aku. Ketika kami bertengkar dan bercekcok dan berselisih, kami telah mengatakan atau melakukan banyak hal yang tidak selayaknya bagi seorang pertapa. Jika Sangha menyetujui, maka demi kebaikan para mulia ini dan demi kebaikanku, di tengah-tengah Sangha aku akan mengakui, melalui metode menutupi dengan rumput, segala pelanggaran dari para mulia ini dan segala pelanggaranku, kecuali pelanggaran-pelanggaran yang memerlukan teguran serius dan yang berhubungan dengan umat awam.’

“Kemudian seorang bhikkhu yang bijaksana di antara para bhikkhu yang memihak pihak lainnya bangkit dari duduknya, dan setelah merapikan jubahnya di salah satu bahunya, ia merangkapkan tangan, dan mengundang Sangha sebagai berikut: ‘Mohon Sangha yang mulia mendengarkan aku. Ketika kami bertengkar dan bercekcok dan berselisih, kami telah mengatakan atau melakukan banyak hal yang tidak selayaknya bagi seorang pertapa. Jika Sangha menyetujui, maka demi kebaikan para mulia ini dan demi kebaikanku, di tengah-tengah Sangha aku akan mengakui, melalui metode menutupi dengan rumput, segala pelanggaran dari para mulia ini dan segala pelanggaranku, kecuali pelanggaran-pelanggaran yang memerlukan teguran serius dan yang berhubungan dengan umat awam.’ Demikianlah menutup dengan rumput. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian beberapa perkara disiplin di sini melalui menutupi dengan rumput.

(MN 104, MLDB 855–59)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #31 on: 15 February 2018, 03:09:02 PM »
4. Perselisihan dalam Disiplin

(1) Perlunya Refleksi Diri

“Para bhikkhu, jika, sehubungan dengan perkara disiplin tertentu, bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing tidak merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa perkara disiplin ini akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu tidak dapat berdiam dengan nyaman. Tetapi jika bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing dengan seksama merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa persoalan disiplin ini tidak akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu dapat berdiam dengan nyaman.

“Dan bagaimanakah bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran merefleksikan dirinya dengan seksama? Di sini, bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku telah melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani. Bhikkhu itu melihatku melakukan hal itu. Jika aku tidak melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka ia tidak akan melihatku melakukan hal itu. Tetapi karena aku telah melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka ia melihatku melakukan hal itu. Ketika ia melihatku melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka ia menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka ia mengungkapkan ketidaksenangannya kepadaku. Karena ia mengungkapkan ketidaksenangannya kepadaku, maka aku menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka aku memberitahukan kepada orang lain. Demikianlah dalam hal ini adalah aku yang menimbulkan pelanggaran, seperti halnya apa yang dilakukan oleh seorang pelancong ketika ia menghindari pembayaran pajak atas barang-barangnya.’ Adalah dengan cara ini bhikkhu itu yang telah melakukan pelanggaran merefleksikan dirinya dengan seksama.

“Dan bagaimanakah bhikkhu yang menegur merefleksikan dirinya dengan seksama? Di sini, bhikkhu yang menegur merefleksikan sebagai berikut: ‘Bhikkhu ini telah melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani. Aku melihatnya melakukan hal itu. Jika bhikkhu ini tidak melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka aku tidak akan melihatnya melakukan hal itu. Tetapi karena ia melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, maka aku melihatnya melakukan hal itu. Ketika aku melihatnya melakukan perbuatan buruk tidak bermanfaat tertentu melalui jasmani, aku menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka aku mengungkapkan ketidaksenanganku kepadanya. Karena aku mengungkapkan ketidaksenanganku kepadanya, maka ia menjadi tidak senang. Karena tidak senang, maka ia memberitahukan kepada orang lain. Demikianlah dalam hal ini adalah aku yang menimbulkan pelanggaran, seperti halnya apa yang dilakukan oleh seorang pelancong ketika ia menghindari pembayaran pajak atas barang-barangnya.’ Adalah dengan cara ini bhikkhu yang menegur merefleksikan dirinya dengan seksama.

“Jika, para bhikkhu, sehubungan dengan perkara disiplin tertentu, bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing tidak merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa perkara disiplin ini akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu tidak dapat berdiam dengan nyaman. Tetapi jika bhikkhu yang telah melakukan suatu pelanggaran dan bhikkhu yang menegurnya masing-masing dengan seksama merefleksikan diri mereka, maka adalah mungkin bahwa persoalan disiplin ini tidak akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama dan para bhikkhu dapat berdiam dengan nyaman.”

(AN 2:15, NDB 145–47)

(2) Menghindari Dendam

“Para bhikkhu, ketika, sehubungan dengan perkara disiplin, perdebatan kata-kata antara dua pihak, kekeras-kepalaan atas pandangan-pandangan, dan kebencian, ketidaksenangan, dan kejengkelan tidak diselesaikan secara internal,[7] maka adalah mungkin bahwa perkara disiplin ini akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama, dan para bhikkhu tidak akan berdiam dengan nyaman.

“Para bhikkhu, ketika, sehubungan dengan perkara disiplin, perdebatan kata-kata antara dua pihak, kekeras-kepalaan atas pandangan-pandangan, dan kebencian, ketidaksenangan, dan kejengkelan diselesaikan dengan baik secara internal, maka adalah mungkin bahwa perkara disiplin ini tidak akan mengarah pada dendam dan permusuhan dalam waktu yang lama, dan para bhikkhu akan berdiam dengan nyaman.”

(AN 2:63, NDB 170)

5. Saling Mengoreksi

“Para bhikkhu, aku akan mengajarkan kepada kalian tentang keberdiaman bersama di antara orang-orang jahat, dan tentang keberdiaman bersama di antara orang-orang baik. Dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Dan bagaimanakah keberdiaman bersama di antara orang-orang jahat, dan bagaimanakah orang-orang jahat hidup bersama? Di sini, seorang bhikkhu senior berpikir: ‘Seorang bhikkhu senior — atau menengah atau bhikkhu junior — tidak boleh mengoreksiku. Aku tidak boleh mengoreksi seorang bhikkhu senior atau menengah atau bhikkhu junior. Jika seorang bhikkhu senior mengoreksiku, ia mungkin melakukannya tanpa simpati, bukan dengan simpati. Kemudian aku akan berkata “Tidak!” kepadanya dan akan merisaukannya, dan bahkan melihat [pelanggaranku] aku tidak memperbaikinya. Jika seorang bhikkhu menengah mengoreksiku … Jika seorang bhikkhu junior mengoreksiku, ia mungkin melakukannya tanpa simpati, bukan dengan simpati. Kemudian aku akan berkata “Tidak!” kepadanya dan akan merisaukannya, dan bahkan melihat [pelanggaranku] aku tidak memperbaikinya.’

“Seorang bhikkhu menengah juga berpikir … seorang bhikkhu junior juga berpikir: ‘Seorang bhikkhu senior — atau menengah atau bhikkhu junior — tidak boleh mengoreksiku. Aku tidak boleh mengoreksi seorang bhikkhu senior … dan bahkan melihat [pelanggaranku] aku tidak memperbaikinya.’ Demikianlah keberdiaman bersama di antara orang-orang jahat, dan demikianlah orang-orang jahat hidup bersama.

“Dan bagaimanakah, para bhikkhu, keberdiaman bersama di antara orang-orang baik dan bagaimanakah orang-orang baik hidup bersama? Di sini, seorang bhikkhu senior berpikir: ‘Seorang bhikkhu senior — atau menengah atau bhikkhu junior — harus mengoreksiku. Aku harus mengoreksi seorang bhikkhu senior atau menengah atau bhikkhu junior. Jika seorang bhikkhu senior mengoreksiku, ia mungkin melakukannya dengan simpati, bukan tanpa simpati. Kemudian aku akan berkata “Bagus!” kepadanya dan tidak akan merisaukannya, dan melihat [pelanggaranku] aku akan memperbaikinya. Jika seorang bhikkhu menengah mengoreksiku … Jika seorang bhikkhu junior mengoreksiku, ia mungkin melakukannya dengan simpati, bukan tanpa simpati. Kemudian aku akan berkata “Bagus!” kepadanya dan tidak akan merisaukannya, dan melihat [pelanggaranku] aku akan memperbaikinya.’

“Seorang bhikkhu menengah juga berpikir … seorang bhikkhu junior juga berpikir: ‘Seorang bhikkhu senior—atau menengah atau bhikkhu junior—harus mengoreksiku. Aku harus mengoreksi seorang bhikkhu senior … dan melihat [pelanggaranku] aku akan memperbaikinya.’ Demikianlah keberdiaman bersama di antara orang-orang baik, dan demikianlah orang-orang baik hidup bersama.

(AN 2:62, NDB 168–70)

6. Menerima Koreksi dari Orang Lain

[Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata kepada para bhikkhu:] “Teman-teman, walaupun seorang bhikkhu berkata sebagai berikut: ‘Semoga para mulia mengoreksi aku, aku ingin dikoreksi oleh para mulia,’ namun jika ia sulit dikoreksi dan memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya sulit dikoreksi, jika ia tidak sabar dan tidak menerima instruksi dengan benar, maka teman-temannya dalam kehidupan suci berpikir bahwa ia seharusnya tidak dikoreksi atau tidak diberikan instruksi, mereka menganggapnya sebagai seorang yang tidak dapat dipercaya.

“Kualitas-kualitas apakah yang membuatnya sulit dikoreksi? (1) Di sini seorang bhikkhu memiliki keinginan-keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan-keinginan jahat; ini adalah kualitas yang membuatnya sulit dikoreksi. (2) Kemudian, seorang bhikkhu memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain; ini adalah kualitas yang membuatnya sulit dikoreksi. (3) Kemudian, seorang bhikkhu marah dan dikuasai oleh kemarahan … (4) ... marah, dan kesal karena kemarahan … (5) ... marah, dan keras kepala karena kemarahan … (6) ... marah, dan ia mengucapkan kata-kata yang berbatasan dengan kemarahan … (7) Kemudian, ketika ditegur,  ia menentang si penegur … (8) ... ketika ditegur, ia meremehkan si penegur … (9) ... ketika ditegur, ia balik menegur si penegur … (10) ... ketika ditegur, ia berbicara berputar-putar, mengarahkan pembicaraan ke hal lain, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan … (11) ... ketika ditegur, ia tidak memperbaiki perilakunya … (12) Kemudian, seorang bhikkhu merendahkan orang lain dan kurang ajar … (13) Kemudian, seorang bhikkhu iri dan tamak … (14) ... menipu dan curang … (15) ... keras kepala dan angkuh … (16) Kemudian, seorang bhikkhu melekat pada pandangan-pandangannya sendiri, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah; ini adalah kualitas yang membuatnya sulit dikoreksi. Ini disebut kualitas-kualitas yang membuatnya sulit dikoreksi.

“Teman-teman, walaupun seorang bhikkhu tidak berkata sebagai berikut: ‘Semoga para mulia mengoreksi aku, aku ingin dikoreksi oleh para mulia,’ namun jika ia mudah dikoreksi dan memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya mudah dikoreksi, jika ia sabar dan menerima instruksi dengan benar, maka teman-temannya dalam kehidupan suci berpikir bahwa ia seharusnya dikoreksi atau diberikan instruksi, mereka menganggapnya sebagai seorang yang dapat dipercaya.

“Kualitas-kualitas apakah yang membuatnya mudah dinasihati? (1) Di sini seorang bhikkhu tidak memiliki keinginan jahat dan tidak dikuasai oleh keinginan jahat; ini adalah kualitas yang membuatnya mudah dikoreksi. (2) Kemudian, seorang bhikkhu tidak memuji dirinya sendiri dan tidak mencela orang lain; ini adalah kualitas … (3) Kemudian, seorang bhikkhu tidak marah dan tidak membiarkan kemarahan menguasainya … (4) ... tidak marah dan tidak kesal karena kemarahan … (5) ... tidak marah dan tidak keras kepala karena kemarahan … (6) ... tidak marah, dan ia tidak mengucapkan kata-kata yang berbatasan dengan kemarahan … (7) ... ketika ditegur, ia tidak menentang si penegur … (8) ... ketika ditegur, ia tidak meremehkan si penegur … (9) ... ketika ditegur, ia tidak balik menegur si penegur … (10) ... ketika ditegur, ia tidak berbicara berputar-putar, tidak mengarahkan pembicaraan ke hal lain, dan tidak menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan … (11) ... ketika ditegur, ia memperbaiki perilakunya … (12) Kemudian, seorang bhikkhu tidak merendahkan orang lain dan tidak kurang ajar … (13) ... tidak iri-hati dan tidak tamak … (14) ... tidak menipu dan tidak curang … (15) ... tidak keras kepala dan tidak angkuh … (16) Kemudian, seorang bhikkhu tidak melekat pada pandangan-pandangannya sendiri atau menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan mudah; ini adalah kualitas yang membuatnya mudah dikoreksi. Teman-teman, ini disebut kualitas-kualitas yang membuatnya mudah dikoreksi.

“Sekarang, teman-teman, seorang bhikkhu seharusnya berkesimpulan tentang dirinya sebagai berikut: (1) ‘Seseorang yang memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan jahat adalah tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku. Jika aku memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan jahat, maka aku akan menjadi tidak menyenangkan dan tidak disukai oleh orang lain.’ Seorang bhikkhu yang mengetahui ini seharusnya memunculkan dalam pikirannya sebagai berikut: ‘Aku tidak akan memiliki keinginan jahat dan tidak akan dikuasai oleh keinginan jahat.’

(2) ‘Seseorang yang memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain … (16) ‘Seseorang yang melekat pada pandangan-pandangannya sendiri, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah adalah tidak menyenangkan dan tidak disukai olehku. Jika aku melekat pada pandangan-pandanganku sendiri, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah, maka aku akan menjadi tidak menyenangkan dan tidak disukai oleh orang lain.’ Seorang bhikkhu yang mengetahui ini seharusnya memunculkan dalam pikirannya sebagai berikut: ‘Aku tidak akan melekat pada pandangan-pandanganku sendiri, tidak menggenggamnya erat-erat, dan aku akan melepaskannya dengan mudah.’

“Sekarang, teman-teman, seorang bhikkhu harus memeriksa dirinya sebagai berikut: (1) ‘Apakah aku memiliki keinginan jahat dan apakah aku dikuasai oleh keinginan jahat?’ Jika, ketika ia memeriksa dirinya, ia mengetahui: ‘Aku memiliki keinginan jahat, aku dikuasai oleh keinginan jahat,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat itu. Tetapi jika, ketika ia memeriksa dirinya, ia mengetahui: ‘Aku tidak memiliki keinginan jahat, aku tidak dikuasai oleh keinginan jahat,’ maka ia dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
(2) Kemudian, seorang bhikkhu harus memeriksa dirinya sebagai berikut: ‘Apakah aku memuji diri sendiri dan mencela orang lain?’ … (16) ‘Apakah aku melekat pada pandangan-pandanganku, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah?’ Jika, ketika ia memeriksa dirinya, ia mengetahui: ‘Aku melekat pada pandangan-pandanganku …,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat itu. Tetapi jika, ketika ia memeriksa dirinya, ia mengetahui: ‘Aku tidak melekat pada pandangan-pandanganku …,’ maka ia dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.

“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu memeriksa dirinya sendiri demikian, jika ia melihat bahwa kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini belum ditinggalkan olehnya, maka ia harus berusaha untuk meninggalkannya seluruhnya. Tetapi jika, ketika ia memeriksa dirinya sendiri demikian, jika ia melihat bahwa kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini telah seluruhnya ditinggalkan olehnya, maka ia dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat. Seperti halnya ketika seorang perempuan — atau laki-laki — muda, belia, menyukai hiasan, ketika melihat bayangan wajahnya di cermin yang bersih atau dalam semangkuk air, melihat noda atau kotoran di sana, maka ia berusaha untuk membersihkannya, tetapi jika ia melihat tidak ada noda atau kotoran di sana, maka ia menjadi gembira dengan pikiran: ‘Sungguh suatu keberuntungan bagiku bahwa wajahku bersih’; demikian pula ketika seorang bhikkhu memeriksa dirinya sendiri demikian … maka ia dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.”

(MN 15, MLDB 190–93)

7. Menyelesaikan Perselisihan antara Umat Awam dan Sangha

(1) Membalikkan Mangkuk Makanan

“Para bhikkhu, ketika seorang umat awam memiliki delapan kualitas, Saṅgha, jika menghendaki, boleh membalikkan mangkuk makanan terhadapnya. Apakah delapan ini? (1) Ia berusaha menghalangi para bhikkhu memperoleh keuntungan; (2) ia berusaha membahayakan para bhikkhu; (3) ia berusaha mencegah para bhikkhu menetap [di dekatnya]; (4) ia menghina dan mencaci para bhikkhu; (5) ia memecah-belah para bhikkhu satu sama lain; (6) ia mencela Sang Buddha; (7) ia mencela Dhamma; (8) ia mencela Saṅgha. Ketika seorang umat awam memiliki kedelapan kualitas ini, Saṅgha, jika menghendaki, boleh membalikkan mangkuk makanan terhadapnya.

“Para bhikkhu, ketika seorang umat awam memiliki delapan kualitas, Saṅgha, jika menghendaki, boleh menegakkan mangkuk makanan terhadapnya. Apakah delapan ini? (1) Ia tidak berusaha menghalangi para bhikkhu memperoleh keuntungan; (2) ia tidak berusaha membahayakan para bhikkhu; (3) ia tidak berusaha mencegah para bhikkhu menetap [di dekatnya]; (4) ia tidak menghina dan tidak mencaci para bhikkhu; (5) ia tidak memecah-belah para bhikkhu satu sama lain; (6) ia memuji Sang Buddha; (7) ia memuji Dhamma; (8) ia memuji Saṅgha. Ketika seorang umat awam memiliki kedelapan kualitas ini, Saṅgha, jika menghendaki, boleh menegakkan mangkuk makanan terhadapnya.”

(AN 8:87, NDB 1235)

(2) Kehilangan Keyakinan

“Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu memiliki delapan kualitas, para umat awam, jika menghendaki, boleh menyatakan kehilangan keyakinan terhadapnya.[8] Apakah delapan ini? (1) Ia berusaha menghalangi umat-umat awam memperoleh keuntungan; (2) ia berusaha membahayakan umat-umat awam; (3) ia menghina dan mencaci umat-umat awam; (4) ia memecah-belah umat-umat awam satu sama lain; (5) ia mencela Sang Buddha; (6) ia mencela Dhamma; (7) ia mencela Saṅgha; (8) mereka melihatnya di tempat yang tidak selayaknya. Ketika seorang bhikkhu memiliki kedelapan kualitas ini, para umat awam, jika menghendaki, boleh menyatakan kehilangan keyakinan terhadapnya.

“Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu memiliki delapan kualitas, para umat awam, jika menghendaki, boleh menyatakan keyakinan terhadapnya. Apakah delapan ini? (1) Ia tidak berusaha menghalangi umat-umat awam memperoleh keuntungan; (2) ia tidak berusaha membahayakan umat-umat awam; (3) ia tidak menghina dan tidak mencaci umat-umat awam; (4) ia tidak memecah-belah umat-umat awam satu sama lain; (5) ia memuji Sang Buddha; (6) ia memuji Dhamma; (7) ia memuji Saṅgha; (8) mereka melihatnya di tempat [yang selayaknya]. Ketika seorang bhikkhu memiliki kedelapan kualitas ini, para umat awam, jika menghendaki, boleh menyatakan keyakinan terhadapnya.”

(AN 8:88, NDB 1236)

(3) Rekonsiliasi

“Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu memiliki delapan kualitas, Saṅgha, jika menghendaki, boleh memerintahkan suatu tindakan rekonsiliasi terhadapnya.[9] Apakah delapan ini? (1) Ia berusaha menghalangi para umat awam memperoleh keuntungan; (2) ia berusaha membahayakan para umat awam; (3) ia menghina dan mencaci para umat awam; (4) ia memecah-belah para umat awam satu sama lain; (5) ia mencela Sang Buddha; (6) ia mencela Dhamma; (7) ia mencela Saṅgha; (8) ia tidak memenuhi janji yang sah kepada para umat awam. Ketika seorang bhikkhu memiliki delapan kualitas ini, Saṅgha, jika menghendaki, boleh memerintahkan suatu tindakan rekonsiliasi terhadapnya.

“Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu memiliki delapan kualitas, Saṅgha, jika menghendaki, boleh mencabut suatu tindakan rekonsiliasi [yang dijatuhkan padanya sebelumnya]. Apakah delapan ini? (1) Ia tidak berusaha menghalangi para umat awam memperoleh keuntungan; (2) ia tidak berusaha membahayakan para umat awam; (3) ia tidak menghina dan tidak mencaci para umat awam; (4) ia tidak memecah-belah para umat awam satu sama lain; (5) ia memuji Sang Buddha; (6) ia memuji Dhamma; (7) ia memuji Saṅgha; (8) ia memenuhi janji yang sah kepada para umat awam. Ketika seorang bhikkhu memiliki delapan kualitas ini, Saṅgha, jika menghendaki, boleh mencabut suatu tindakan rekonsiliasi [yang dijatuhkan padanya sebelumnya].”

(AN 8:89, NDB 1236–37)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #32 on: 15 February 2018, 03:10:39 PM »

8. Mengusir Orang-Orang Jahat

(1) Bersihkanlah Sekam!

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Campā di tepi Kolam Seroja Gaggārā. Pada saat itu para bhikkhu sedang mengecam seorang bhikkhu atas suatu pelanggaran. Ketika sedang dikecam, bhikkhu itu menjawab dengan cara mengelak, mengalihkan pembicaraan pada topik yang tidak berhubungan, dan memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, keluarkan orang ini! Para bhikkhu, keluarkan orang ini! Orang ini harus diusir. Mengapakah putra orang lain harus menjengkelkan kalian?[10]

“Di sini, para bhikkhu, selama para bhikkhu tidak melihat pelanggarannya, seseorang tertentu memiliki tingkah laku yang sama seperti para bhikkhu baik lainnya. Akan tetapi, ketika mereka melihat pelanggarannya, maka mereka mengenalinya sebagai kerusakan di antara para pertapa, bagaikan sekam dan sampah di antara para pertapa. Kemudian mereka mengusirnya. Karena alasan apakah? Agar ia tidak merusak para bhikkhu yang baik.

“Misalkan ketika sebuah lahan gandum sedang tumbuh, setangkai gandum yang rusak akan muncul yang hanya berupa sekam dan sampah di antara gandum-gandum lainnya. Selama buahnya belum muncul, akarnya akan tampak sama seperti akar gandum-gandum yang baik; tangkainya akan tampak sama seperti tangkai gandum-gandum yang baik; dedaunannya akan tampak sama seperti daun gandum-gandum yang baik. Akan tetapi, ketika buahnya muncul, mereka mengenalinya sebagai gandum rusak, hanya sekam dan sampah di antara gandum-gandum lainnya. Maka mereka mencabutnya di akarnya dan membuangnya keluar dari lahan gandum. Karena alasan apakah? Agar gandum rusak itu tidak merusak gandum-gandum yang baik.

“Demikian pula selama para bhikkhu tidak melihat pelanggarannya, seseorang tertentu di sini memiliki tingkah laku yang sama seperti para bhikkhu baik lainnya. Akan tetapi, ketika mereka melihat pelanggarannya, mereka mengenalinya sebagai kerusakan di antara para pertapa, hanya sekam dan sampah di antara para pertapa. Maka mereka mengusirnya. Karena alasan apakah? Agar ia tidak merusak para bhikkhu yang baik.”

Dengan hidup bersama dengannya, mengenalinya sebagai
seorang pemarah yang berkeinginan jahat;
seorang pencemar, keras kepala, dan kurang-ajar,
iri, kikir, dan menipu.

Ia berbicara kepada orang-orang bagaikan seorang petapa,
[berkata kepada mereka] dengan suara tenang,
tetapi diam-diam ia melakukan perbuatan jahat,
menganut pandangan sesat, dan tanpa hormat.

Walaupun ia penuh tipu daya, pengucap kebohongan;
kalian harus mengenalinya sebagaimana adanya ia sesungguhnya;
kemudian kalian seluruhnya harus berkumpul dalam kerukunan
dan dengan tegas mengusirnya.

Buanglah sampah!
Lenyapkan teman-teman yang rusak!
Bersihkanlah sekam, para bukan pertapa
yang menganggap diri mereka sendiri adalah para pertapa!

Setelah mengusir mereka yang berkeinginan jahat,
yang berperilaku dan memiliki tempat kunjungan yang buruk,
berdiam dalam kerukunan, senantiasa penuh perhatian,
yang murni dengan yang murni;
maka, dalam kerukunan, waspada,
kalian akan mengakhiri penderitaan.

(AN 8:10, NDB 1122–24)

(2) Pengusiran Paksa

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Istana Migāramātā di Taman Timur. Pada saat itu, pada hari uposatha, Sang Bhagavā sedang duduk dikelilingi oleh Saṅgha para bhikkhu. Kemudian, pada larut malam, ketika jaga pertama telah berlalu, Yang Mulia Ānanda bangkit dari duduknya, merapikan jubah atasnya di satu bahunya, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan berkata kepada Beliau: “Bhante, malam telah larut; jaga pertama telah berlalu; Saṅgha para bhikkhu telah duduk cukup lama. Sudilah Sang Bhagavā melafalkan Pātimokkha untuk para bhikkhu.” Ketika hal ini dikatakan, Sang Bhagavā berdiam diri.

Ketika malam [semakin] larut, ketika jaga pertengahan telah berlalu, Yang Mulia Ānanda bangkit dari duduknya untuk ke dua kalinya, merapikan jubah atasnya di satu bahunya, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan berkata kepada Beliau: “Bhante, malam telah [semakin] larut; jaga pertengahan telah berlalu; Saṅgha para bhikkhu telah duduk cukup lama. Bhante, sudilah Sang Bhagavā melafalkan Pātimokkha untuk para bhikkhu.” Untuk ke dua kalinya Sang Bhagavā berdiam diri.

Ketika malam [semakin] larut [lagi], ketika jaga terakhir telah berlalu, ketika fajar menyingsing dan berkas cahaya kemerahan muncul di cakrawala, Yang Mulia Ānanda bangkit dari duduknya, merapikan jubah atasnya di satu bahunya, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan berkata kepada Beliau: “Bhante, malam telah [semakin] larut [lagi]; jaga terakhir telah berlalu; fajar telah menyingsing dan berkas cahaya kemerahan telah muncul di cakrawala; Saṅgha para bhikkhu telah duduk cukup lama. Sudilah Sang Bhagavā melafalkan Pātimokkha untuk para bhikkhu.”

“Kumpulan ini tidak murni, Ānanda.”

Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna berpikir: “Siapakah yang dirujuk oleh Sang Bhagavā ketika Beliau berkata: ‘Kumpulan ini tidak murni, Ānanda’?” Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna memusatkan perhatiannya pada keseluruhan Saṅgha para bhikkhu, melingkupi pikiran mereka dengan pikirannya sendiri. Kemudian ia melihat orang itu duduk di tengah-tengah Saṅgha para bhikkhu: seorang yang tidak bermoral, berkarakter buruk, tidak murni, berperilaku mencurigakan, tindakan-tindakannya penuh kerahasiaan, bukan seorang petapa walaupun mengaku sebagai seorang petapa, tidak hidup selibat walaupun mengaku selibat, busuk di dalam, jahat, rusak. Setelah melihatnya, ia bangkit dari duduknya, mendatangi orang itu, dan berkata kepadanya: “Bangkitlah, teman. Sang Bhagavā telah melihatmu. Engkau tidak boleh hidup bersama dengan para bhikkhu.” Ketika hal ini dikatakan, orang itu berdiam diri.

Untuk ke dua kalinya … Untuk ketiga kalinya Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata kepada orang itu: “Bangkitlah, teman. Sang Bhagavā telah melihatmu. Engkau tidak boleh hidup bersama dengan para bhikkhu.” Untuk ketiga kalinya orang itu berdiam diri.
Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna mencengkeram orang itu pada lengannya, mengeluarkannya melalui gerbang luar rumah itu, dan mengunci pintu. Kemudian ia kembali kepada Sang Bhagavā dan berkata kepada Beliau: “Aku telah mengeluarkan orang itu, Bhante. Kumpulan ini sudah murni. Sudilah Sang Bhagavā melafalkan Pātimokkha untuk para bhikkhu.”

“Sungguh menakjubkan dan mengagumkan, Moggallāna, bagaimana manusia kosong itu menunggu hingga ia dicengkeram pada lengannya.” Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Sekarang, para bhikkhu, kalian sendiri yang harus mengadakan uposatha dan melafalkan Pātimokkha. Sejak hari ini dan seterusnya, aku tidak akan melakukannya lagi. Adalah tidak mungkin dan tidak terbayangkan bahwa Sang Tathāgata dapat mengadakan uposatha dan melafalkan Pātimokkha dalam sebuah kumpulan yang tidak murni.”

(dari AN 8:20, NDB 1145–46; Ud 5.5)

Catatan Kaki:

[1] Prosedur membalikkan mangkuk makanan dan mengubahnya tegak lurus disahkan dalam Vin II 124–27. Lihat Ṭhānissaro, The Buddhist Monastic Code II, hal. 411–12. Komentar menjelaskan bahwa para bhikkhu tidak benar-benar membalikkan mangkuk makanan terbalik di hadapan umat awam tetapi menyetujui suatu usulan tidak menerima pemberian darinya. Hal yang sama, mereka membatalkan tindakan ini dengan menyetujui suatu usulan untuk menerima pemberian lagi. Prosedur membalikkan mangkuk makanan digunakan di Myanmar pada tahun 2007 yang baru-baru ini ketika para bhikkhu menjatuhkan suatu penalti kepada junta militer. Untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap para jenderal, mereka berjalan di jalanan dengan mangkuk mereka benar-benar terbalik.

[2] Untuk para bhikkhu, delapan pelanggaran pengusiran telah ditetapkan.

[3] Saya menganggap abhidhamma di sini menunjuk, bukan pada kumpulan risalah-risalah yang menyusun Abhidhamma Piṭaka atau filosofinya, tetapi pada Dhamma itu sendiri, dengan awalan abhi- berfungsi referensial semata, dalam pengertian “tentang, mengenai, berhubungan dengan.”

[4] Nātaputta, juga dikenal sebagai Mahāvīra, merupakan pemimpin komunitas Jain pada waktu itu dan sering dianggap sebagai pendiri historis Jainisme, walaupun mungkin ia melanjutkan suatu silsilah para guru yang telah dimulai jauh sebelumnya.

[5] Terdapat empat jenis perkara disiplin: melibatkan suatu perselisihan (vivādādhikaraṇa); melibatkan suatu tuduhan (anuvādādhikaraṇa); melibatkan suatu pelanggaran (āpattādhikaraṇa); dan melibatkan prosedur (kiccādhikaraṇa). Ini dibahas secara terperinci dalam Vin II 88–92. Secara singkat, perkara yang melibatkan suatu perselisihan muncul ketika para bhikkhu atau bhikkhuni berselisih tentang Dhamma dan Vinaya; perkara yang melibatkan suatu tuduhan muncul ketika seseorang menuduh anggota lain melakukan suatu pelanggaran; perkara yang melibatkan suatu pelanggaran muncul ketika seorang bhikkhu atau bhikkhuni telah melakukan suatu pelanggaran melakukan rehabilitasi; dan perkara yang melibatkan prosedur berhubungan dengan prosedur kolektif Sangha. Kutipan yang dikutip di sini berhubungan dengan metode-metode menyelesaikan perselisihan.

[6] Dhammanetti samanumajjitabbā. Komentar menyediakan berbagai penjelasan bagaimana menerapkan tuntunan Dhamma, dari sudut pandang baik sutta maupun Vinaya.

[7] Komentar menjelaskan ungkapan “tidak diselesaikan secara internal” (ajjhattaṃ avūpasantaṃ) sebagai berikut: “Tidak diselesaikan dalam pikiran seseorang dan dalam lingkaran para siswa dan muridnya.”

[8] Appasāda. Ketika ini telah dinyatakan, mereka tidak perlu bangkit dari tempat duduk mereka, atau memberikan penghormatan kepadanya, atau pergi menyambutnya, atau memberinya pemberian.

[9] Paṭisāraṇiyakamma. Ketika ini telah dijatuhkan, bhikkhu itu harus pergi menemui perumah tangga itu, ditemani oleh bhikkhu lainnya, dan meminta maaf. Jika ia gagal mendapatkan maaf dari perumah tangga itu, temannya harus berusaha merekonsiliasi mereka. Kisah latar belakangnya terdapat dalam Vin II 15–18, dengan penentuan legalnya dalam Vin II 18–21. Untuk rinciannya, lihat Ṭhānissaro, The Buddhist Monastic Code II, hal. 407–11.

[10] Komentar tidak memberikan penjelasan atas ungkapan ini, tetapi maknanya tampaknya bahwa bhikkhu yang membuat masalah itu, berdasarkan perilakunya, bukan siswa Sang Buddha yang sebenarnya dan dengan demikian dapat dianggap sebagai “putra” (yaitu, seorang siswa) guru lain.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #33 on: 15 February 2018, 03:23:25 PM »
X. Membangun Masyarakat yang Adil

Pendahuluan

Dalam bagian terakhir dari kumpulan teks ini, kita bergerak dari komunitas intensional menuju komunitas alami, yang berlanjut dari keluarga sampai masyarakat yang lebih besar dan kemudian menuju negara. Teks-teks yang dimasukkan di sini mengungkapkan kecerdikan pragmatis dari kebijaksanaan Sang Buddha, kemampuan beliau untuk menyampaikan permasalahan praktis dengan pengetahuan dan keterusterangan yang luar biasa. Walaupun beliau mengadopsi kehidupan seorang samaṇa, seorang yang telah meninggalkan keduniawian yang berdiri di luar semua institusi sosial, dari jauh beliau melihat kembali ke dalam institusi sosial pada masa beliau dan menyarankan gagasan-gagasan dan pengaturan untuk menyebarluaskan kesejahteraan spiritual, psikologis, dan fisik orang-orang yang masih terbenam dalam batasan duniawi. Beliau tampaknya melihat kunci pada suatu masyarakat yang sehat terletak pada pemenuhan tanggung jawab seseorang terhadap orang lain. Beliau menganggap tatanan sosial sebagai sebuah permadani dari hubungan yang tumpang tindih dan saling menyilang di mana masing-masing membebankan orang-orang kewajiban sehubungan dengan orang-orang pada kutub lain dari masing-masing hubungan di mana mereka berpartisipasi.

Poin ini muncul secara menonjol dalam Teks X,1, sebuah kutipan dari suatu kotbah yang diberikan kepada seorang pemuda bernama Sīgalaka. Sang Buddha di sini memperlakukan masyarakat terdiri atas enam hubungan yang berpasangan: orang tua dan anak, suami dan istri, teman dengan satu sama lain, atasan dan bawahan, guru dan murid, serta guru agama dan umat awamnya. Untuk masing-masing Sang Buddha menyatakan lima (atau dalam satu kasus enam) kewajiban yang harus dipenuhi masing-masing terhadap yang lain. Beliau melihat individu – setiap individu – berdiri pada suatu titik di mana “enam arah” bertemu, dan dengan demikian wajib menghormati arah-arah ini dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang melekat dalam hubungan itu.

Sang Buddha menganggap keluarga sebagai unit dasar integrasi dan akulturasi sosial. Ia terutama adalah hubungan yang dekat, yang menyayangi antara orang tua dan anak-anak yang memelihara kebajikan dan rasa tanggung jawab manusiawi yang penting dalam suatu tatanan sosial yang bersatu. Dalam keluarga, nilai-nilai ini diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan dengan demikian masyarakat yang rukun sangat bergantung pada hubungan yang ramah dan penuh hormat antara orang tua dan anak-anak. Dalam Teks X,2(1) beliau menjelaskan bagaimana orang tua bermanfaat besar terhadap anak-anaknya, dan dalam X,2(2) beliau mengatakan bahwa orang tua seseorang tidak akan pernah cukup dibalas dengan memberikan manfaat-manfaat materi kepada mereka tetapi hanya dengan mengembangkan mereka dalam keyakinan, perilaku bermoral, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Hubungan yang bermanfaat antara orang tua dan anak-anak bergantung pada gilirannya pada saling menyayangi dan menghormati suami dan istri. Kotbah yang dipilih untuk Teks X,3 memberikan pedoman untuk hubungan yang baik antara pasangan yang telah menikah, dengan menganggap bahwa pernikahan ideal adalah pernikahan di mana baik suami maupun istri berbagi komitmen pada perilaku bermoral, kedermawanan, dan nilai-nilai spiritual.

Dalam bagian berikutnya saya telah mengumpulkan teks-teks yang berhubungan dengan perilaku sosial perumah tangga. Dua yang pertama, Teks X,4(1)-(2), menegaskan bahwa perumah tangga yang bersungguh-sungguh muncul demi kesejahteraan orang banyak dan membawa anggota keluarganya dalam pengembangan keyakinan, perilaku bermoral, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Teks X,4(3) membahas cara yang benar dalam mencari kekayaan, yang harus dilakukan dalam batasan penghidupan benar. Dimensi spiritual masuk dengan memastikan bahwa perumah tangga menggunakan kekayaan  “tanpa terikat padanya, tergila-gila dengannya, dan secara buta terpikat di dalamnya.” Teks X,4(4) mengatakan lima perdagangan yang dilarang bagi para pengikut awam yang bersungguh-sungguh, dilarang karena mereka melibatkan bahaya, apakah aktual atau potensial, bagi makhluk hidup lainnya. Teks X,4(5) kemudian menjelaskan lima cara yang benar menggunakan kekayaan. Penjelasan itu menunjukkan bahwa kekayaan yang didapat dengan benar adalah untuk digunakan baik bagi manfaat diri sendiri maupun manfaat orang lain; setelah seseorang mengamankan kesejahteraan diri sendiri dan keluarganya, ia akan menggunakan kekayaan itu terutama untuk melakukan perbuatan-perbuatan berjasa yang merupakan pelayanan kepada orang lain.

Bagian berikutnya membawa kita kembali pada isu kasta, yang menyentuh dari perspektif dalam Bagian VII. Bertentangan dengan kepercayaan umum, Sang Buddha tidak secara terbuka menganjurkan penghapusan sistem kasta, yang pada masa beliau belum memperoleh kerumitan dan kekakuan yang ia peroleh pada abad-abad belakangan, terutama seperti yang dirumuskan dalam kitab-kitab hukum Hindu. Mungkin beliau melihat bahwa pembagian sosial dan perbedaan tanggung jawab yang disebabkan olehnya tidak dapat dihindarkan. Tetapi beliau memang menolak klaim tentang kekeramatan sistem kasta pada beberapa landasan, teologis, moral, dan spiritual. Secara teologis, beliau menyangkal klaim brahmana bahwa kasta diciptakan oleh Brahmā, dewa pencipta; alih-alih beliau menganggap sistem itu sebagai hanyalah institusi sosial yang bermula dari manusia. Secara moral, beliau menolak kepercayaan bahwa status kasta adalah indikasi kelayakan moral, dengan status moral yang unggul terdapat pada mereka dari kasta yang lebih tinggi. Alih-alih beliau menyatakan bahwa adalah perbuatan seseorang yang menentukan kelayakan moralnya, dan bahwa siapa pun dari kasta mana pun dapat mempraktekkan Dhamma dan mencapai tujuan tertinggi.

Argumen-argumen ini disajikan di sini dalam Teks X,5(1)-(4). Percakapan yang dicatat dalam kotbah-kotbah ini – di mana struktur kasta diperlakukan sebagai suatu model yang digunakan para brahmana untuk diterapkan pada masyarakat – menyatakan bahwa di India timur laut, di mana Buddhisme muncul, stratifikasi kasta belum mencapai tingkat kekakuan dan sifat otoritatif yang telah ia capai di India bagian barat dan tengah. Menarik juga dicatat bahwa ketika mendaftarkan kasta secara berurutan, di mana para brahmana menempatkan diri mereka sendiri di puncak dan para khattiya di bawah mereka, Sang Buddha menempatkan para khattiya di puncak dan para brahmana di tempat kedua. Dalam hal ini, beliau mungkin telah mengikuti kebiasaan yang ada di negeri-negeri bagian timur laut anak benua itu.

Dalam X,5(1) Sang Buddha berdebat melawan klaim brahmana, yang diajukan oleh brahmana Esukārī, bahwa masyarakat seharusnya diatur menurut suatu hirarki pelayanan yang tetap, seperti bahwa semua orang dari kasta yang lebih rendah harus melayani para brahmana, sedangkan para sudda, pada bagian bawah dari jenjang kasta, harus melayani semua orang lainnya. Sang Buddha, sebaliknya, menyatakan bahwa pelayanan harus didasarkan pada kesempatan yang diberikan demi kemajuan moral seseorang. Brahmana Esukārī juga menyatakan bahwa mereka pada masing-masing kasta memiliki kewajiban tetap mereka sendiri yang mengikuti status kasta mereka; ini tampaknya menjadi pelopor teori svadharma yang menjadi terkemuka dalam kitab-kitab hukum Hindu, gagasan bahwa masing-masing kasta memiliki kewajibannya sendiri yang harus dipenuhi seseorang jika ia ingin mendapatkan kelahiran kembali yang lebih baik dan maju menuju pembebasan akhir. Lagi, Sang Buddha menolak pandangan ini, dengan menyatakan bahwa “Dhamma adiduniawi” adalah kekayaan alami setiap orang. Siapa pun yang menjalankan prinsip-prinsip perilaku baik, tidak peduli latar belakang kastanya, mengembangkan “Dhamma yang adalah bermanfaat.”

Dalam Teks X,5(2), bhikkhu Mahākaccāna, yang ia sendiri adalah keturunan brahmana, berdebat melawan klaim brahmana bahwa sistem kasta berawal mula surgawi dan bahwa hanya para brahmana adalah “putra Brahmā, keturunan Brahmā.” Ia alih-alih menyatakan bahwa “ini hanyalah suatu peribahasa di dunia.” Sistem kasta adalah murni bersifat konvensional, dan orang-orang dari kasta mana pun dapat membuktikan diri mereka secara moral mulia atau secara moral cacat. Dalam X,5(3)-(4) Sang Buddha lagi-lagi menolak gagasan bahwa status kasta ditentukan oleh kelahiran dan mengemukakan redefinisi dari konsep brahmana dan orang buangan, masing-masing, di mana mereka didefinisikan bukan oleh kelahiran tetapi oleh karakter moral orang itu sendiri.

Bagian berikutnya secara singkat memandang pada visi politik Sang Buddha. Pada masa beliau, anak benua India terbagi menjadi enam belas negeri, yang jenisnya ada dua: republik suku dan monarki. Kita telah melihat suatu contoh nasehat Sang Buddha kepada para pemimpin republik dalam Teks VII,3(4), tentang tujuh kondisi untuk ketidakmunduran yang beliau ajarkan kepada orang-orang Vajji. Namun, wilayah sebelah utara India dengan cepat mengalami transisi tektonik yang menjungkirbalikkan tatanan politik yang ada. Raja-raja dari beberapa negeri memperluas dan mencaplok kerajaan-kerajaan yang lebih lemah dan republik-republik kecil, yang riwayatnya tidak akan lama lagi. Bersaing klaim atas wilayah dan kemakmuran membawa pada bangkitnya militerisme dan bentrokan penuh kekerasan. Daerah itu dengan cepat menuju suatu era perebutan kekuasaan yang kejam dan perang agresi berkepanjangan yang dengan tajam digambarkan dalam syair-syair berikut (SN 1:28, CDB 103):

Mereka dengan kekayaan dan harta benda yang banyak,
bahkan para khattiya yang memerintah kerajaan,
memandang satu sama lain dengan mata yang penuh keserakahan,
tidak pernah terpuaskan dalam kenikmatan-kenikmatan indera.

Karena kemenangan jenis pemerintahan monarki tampaknya tidak terhindarkan, Sang Buddha mencari perlindungan dari penyalahgunaan kekuasaan dengan menempatkan suatu model kedudukan raja yang akan membawahi seorang raja pada otoritas yang lebih tinggi, suatu standar objektif kebaikan yang dapat membatasi penggunaan kekuasaan yang sewenang-wenang. Beliau menyadari bahwa dalam sistem politik monarki, keseluruhan masyarakat mengikuti teladan yang diberikan oleh penguasanya, apakah untuk kebaikan atau keburukan. Demikianlah dalam Teks X,6(1) beliau menggambarkan peranan raja, dengan menganggap suatu kekuatan mistis sebagai sumber pengaruh perilaku penguasa pada kerajaannya. Dalam masa perebutan militer atas wilayah kekuasaan, beliau mengecam penggunaan perang sebagai cara menyelesaikan konflik. Teks X,6(2) menyatakan bahwa kemenangan hanya melahirkan kebencian dan mempertahankan siklus balas dendam. Jātaka, kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha, lebih lanjut merangkum kualitas-kualitas yang diharapkan dari seorang penguasa yang adil dalam suatu skema sepuluh kebajikan raja: memberi, perilaku bermoral, pelepasan, kejujuran, kelemah-lembutan, kesederhanaan personal, tanpa kemarahan, tanpa melukai, kesabaran, dan tidak menentang kehendak rakyat.[1] Kukka Jātaka, sebagai contoh, menggambar raja yang baik sebagai seorang yang “mengikuti sepuluh kebajikan raja ini, memerintah sesuai dengan Dhamma, membawakan kemakmuran dan kemajuan bagi dirinya sendiri dan orang lain tanpa mempersulit siapa pun” (Jātaka III 320).

Untuk memastikan para raja memiliki standar teladan pemerintahan yang dapat dicontoh, Sang Buddha membangun ideal “raja pemutar-roda” (rājā cakkavattī), raja adil yang memerintah sesuai dengan Dhamma, hukum kebenaran yang impersonal. Raja pemutar-roda adalah padanan sekuler dari Sang Buddha; bagi keduanya, roda adalah simbol otoritas mereka. Seperti yang ditunjukkan oleh Teks X,6(3), Dhamma yang ditaati oleh raja pemutar-roda adalah dasar kebenaran bagi pemerintahannya. Ia memperluas perlindungan kepada semua orang dalam kerajaannya, kepada orang-orang dari setiap pekerjaan dan bahkan kepada burung-burung dan binatang. Disimbolkan dengan harta karun roda suci, hukum kebenaran memungkinkan raja menaklukkan dunia dengan damai dan membangun pemerintahan dunia yang damai berdasarkan pada pemenuhan lima pelatihan moral dan sepuluh jalan perbuatan bermanfaat, seperti yang digambarkan dalam Teks X,6(4).

Di antara kewajiban-kewajiban raja adalah mencegah kejahatan menyebar luas dalam kerajaannya, dan untuk menjaga kerajaan aman dari kejahatan ia harus memberikan kekayaan kepada mereka yang membutuhkan. Dalam Buddhisme Awal, kemiskinan dianggap sebagai landasan yang melahirkan kejahatan dan pengurangan kemiskinan dengan demikian menjadi salah satu kewajiban raja. Kewajiban ini disebutkan di antara kewajiban-kewajiban seorang raja pemutar-roda dalam Teks X,6(5), yang menunjukkan bagaimana, dari kegagalan mengurangi kemiskinan, semua perilaku kemerosotan moral muncul: pencurian, pembunuhan, ucapan bohong, dan pelanggaran lainnya. Kewajiban raja menghilangkan kemiskinan diuraikan dalam X,6(6). Di sini, dalam suatu kisah yang konon menunjuk pada masa lampau yang jauh, seorang penasehat kerajaan – yang tidak lain adalah Sang Buddha pada kelahiran lampau – menasehati raja bahwa cara yang tepat untuk mengakhiri pencurian dan perampokan mengganggu kerajaannya bukan dengan menjatuhkan hukuman yang lebih berat dan memperketat penegakan hukum tetapi dengan memberikan para penduduk cara-cara yang mereka butuhkan untuk memperoleh penghidupan yang layak. Ketika orang-orang menikmati standar kehidupan yang memuaskan, mereka kehilangan minat dalam menyakiti orang lain dan kerajaan menikmati kedamaian dan ketenangan.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #34 on: 15 February 2018, 03:36:41 PM »
1. Tanggung Jawab Timbal-Balik

[Sang Buddha berkata kepada pemuda bernama Sīgalaka:] “Dan bagaimanakah, anak muda, seorang siswa mulia melindungi enam penjuru? Enam hal ini harus dianggap sebagai enam penjuru. Timur merupakan ibu dan ayah. Selatan merupakan guru-guru. Barat merupakan istri dan anak-anak. Utara merupakan teman-teman dan rekan-rekan. Bawah merupakan para pelayan, pekerja dan pembantu. Atas merupakan para pertapa dan brahmana.

“Ada lima cara bagi seorang putra untuk melayani ibu dan ayahnya sebagai arah timur. [Ia harus berpikir:] ‘Setelah disokong mereka, aku harus menyokong mereka. Aku harus melakukan tugas-tugas mereka untuk mereka. Aku harus menjaga tradisi keluarga. Aku akan layak atas warisanku. Setelah orang tuaku meninggal dunia aku akan membagikan persembahan mewakili mereka.’ Dan ada lima cara oleh orang tua, yang dilayani demikian oleh putra mereka sebagai arah timur, akan membalas: mereka harus menjauhkannya dari kejahatan, mendukungnya dalam melakukan kebaikan, mengajarinya suatu keterampilan, mencarikan istri yang pantas dan, pada waktunya mewariskan warisan kepadanya. Dengan demikian arah timur telah dicakup, membuatnya aman dan bebas dari bahaya.

“Ada lima cara bagi seorang murid untuk melayani guru-guru mereka sebagai arah selatan: dengan bangkit menyapa mereka, dengan menanti mereka, dengan memberikan perhatian, dengan melayani mereka, dengan menguasai keterampilan yang mereka ajarkan. Dan ada lima cara bagi guru yang dilayani demikian oleh murid mereka sebagai arah selatan, dapat membalas: mereka akan memberikan instruksi yang menyeluruh, memastikan mereka menangkap apa yang seharusnya mereka tangkap, memberikan landasan menyeluruh terhadap semua keterampilan, merekomendasikan murid-murid mereka kepada teman dan rekan mereka, dan memberikan keamanan di segala penjuru. Dengan demikian arah selatan telah dicakup, membuatnya aman dan bebas dari bahaya.

“Ada lima cara bagi seorang suami untuk melayani istri mereka sebagai arah barat: dengan menghormatinya, dengan tidak meremehkannya, dengan setia kepadanya, dengan memberikan kekuasaan kepadanya, dengan memberikan perhiasan kepadanya. Dan ada lima cara bagi seorang istri yang dilayani demikian sebagai arah barat, dapat membalas: dengan melakukan pekerjaannya dengan benar, dengan bersikap baik kepada para pelayan, dengan setia kepadanya, dengan menjaga tabungan, dan dengan terampil dan rajin dalam semua yang harus ia lakukan. Dengan demikian arah barat telah dicakup, membuatnya aman dan bebas dari bahaya.

“Ada lima cara bagi seseorang untuk melayani teman dan rekan mereka sebagai arah utara: dengan pemberian, dengan kata-kata yang ramah, dengan menjaga kesejahteraan mereka, dengan memperlakukan mereka seperti diri sendiri, dan dengan menepati janjinya. Dan ada lima cara bagi teman dan rekan, yang dilayani demikian sebagai arah utara, dapat membalas: dengan menjaganya saat ia lengah, dengan menjaga hartanya saat ia lengah, dengan menjadi pelindung baginya saat ia ketakutan, dengan tidak meninggalkannya saat ia berada dalam masalah, dan dengan menunjukkan perhatian terhadap anak-anaknya. Dengan demikian arah utara telah dicakup, membuatnya dan bebas dari bahaya.

“Ada lima cara bagi seorang majikan untuk melayani para pelayan dan para pekerjanya sebagai arah bawah: dengan mengatur pekerjaan mereka sesuai kekuatan mereka, dengan memberikan makan dan upah, dengan merawat mereka ketika mereka sakit, dengan berbagi makananan lezat dengan mereka, dan dengan memberikan hari libur pada waktu yang tepat. Dan ada lima cara bagi para pelayan dan para pekerja, yang dilayani demikian sebagai arah bawah, dapat membalas: dengan bangun tidur lebih pagi daripada majikannya, dengan pergi tidur lebih larut daripada majikannya, mengambil hanya apa yang diberikan, melakukan tugas-tugas mereka dengan benar, dan menjadi pembawa pujian dan reputasi baik bagi majikannya. Dengan demikian arah bawah telah dicakup, membuatnya aman dan bebas dari bahaya.

“Ada lima cara bagi seseorang untuk melayani para petapa dan brahmana mereka sebagai arahatas: dengan bersikap baik dalam jasmani, ucapan dan pikiran, dengan membuka pintu bagi kedatangan mereka, dan dengan memberikan barang-barang kebutuhan fisik mereka. Dan ada lima cara bagi para petapa dan brahmana, yang dilayani demikian sebagai arah atas, dapat membalas: mereka akan menjauhkannya dari kejahatan, mendukungnya dalam melakukan kebaikan, berbelas kasih kepadanya, mengajarinya apa yang belum pernah ia dengar, dan menunjukkan jalan menuju surga. Dengan demikian arah atas telah dicakup, membuatnya aman dan bebas dari bahaya.

(dari DN 31, LDB 466–68)

2. Orang Tua dan Anak-Anak

(1) Orang Tua adalah Sangat Membantu

“Para bhikkhu, keluarga-keluarga itu berdiam dengan Brahmā di mana di rumah ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka. Keluarga-keluarga itu berdiam dengan guru-guru pertama di mana di rumah ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka. Keluarga-keluarga itu berdiam dengan dewa-dewa pertama di mana di rumah ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka. Keluarga-keluarga itu berdiam dengan orang-orang suci di mana di rumah ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka.

“’Brahmā,’ para bhikkhu, adalah sebutan untuk ibu dan ayah. ‘Guru-guru pertama,’ adalah sebutan untuk ibu dan ayah. ‘Dewa-dewa pertama’ adalah sebutan untuk ibu dan ayah. ‘Orang-orang suci’ adalah sebutan untuk ibu dan ayah. Dan mengapakah? Ibu dan ayah adalah sangat membantu bagi anak-anak mereka: mereka membesarkan anak-anak mereka, memelihara mereka, dan menunjukkan dunia kepada mereka.”

(AN 4:63, NDB 453)

(2) Membalas Orang Tua Seseorang

“Para bhikkhu, ada dua individu yang tidak dapat dengan mudah dibalas. Apakah dua ini? Ibu dan ayah seseorang. Bahkan jika seseorang menggendong ibunya di satu bahunya dan ayahnya di bahu lainnya, dan selagi ia melakukan demikian ia memiliki umur kehidupan selama seratus tahun, dan hidup selama seratus tahun; dan jika ia melayani mereka dengan cara meminyaki mereka dengan balsam, dengan cara memijat mereka, memandikan mereka, dan menggosok bagian-bagian tubuh mereka, dan mereka bahkan membuang kotoran dan air kencing mereka di sana – bahkan dengan itu ia masih tetap belum cukup melakukan untuk kedua orangtuanya, juga belum membalas mereka. Bahkan jika ia mengangkat orangtuanya menjadi raja tertinggi dan penguasa di seluruh penjuru bumi ini yang berlimpah dengan tujuh pusaka, ia tetap masih belum cukup melakukan untuk kedua orangtuanya, juga belum membalas mereka. Karena alasan apakah? Orangtua adalah bantuan besar bagi anak-anak mereka; mereka membesarkan anak-anak mereka, memberi mereka makan, dan menunjukkan dunia ini kepada mereka. Tetapi, para bhikkhu, jika orangtuanya tidak berkeyakinan, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam keyakinan; jika, orangtuanya tidak bermoral, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam perilaku bermoral; jika orangtuanya adalah orang-orang kikir, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam kedermawanan; jika orangtuanya tidak bijaksana, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam kebijaksanaan – dengan demikian ia telah cukup melakukan untuk orangtuanya, membalas mereka, dan melakukan lebih dari cukup untuk mereka.”

(AN 2:33, NDB 153–54)

3. Suami dan Istri

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang melakukan perjalanan di sepanjang jalan raya antara Madhurā dan Verañjā. Sejumlah perumah tangga laki-laki dan perempuan juga sedang melakukan perjalanan di jalan yang sama. Kemudian Sang Bhagavā meninggalkan jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon. Para perumah tangga laki-laki dan perempuan itu melihat Sang Bhagavā duduk di sana dan mendatangi Beliau, memberi hormat kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada mereka:

“Para perumah tangga, ada empat jenis pernikahan ini. Apakah empat ini? Seorang malang hidup bersama dengan seorang malang; seorang malang hidup bersama dengan seorang dewi; seorang dewa hidup bersama dengan seorang malang; seorang dewa hidup bersama dengan dewi.

 “Dan bagaimanakah seorang malang hidup bersama dengan seorang malang? Di sini, para perumah tangga, sang suami adalah seorang yang membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perbuatan seksual yang salah, berbohong, dan menikmati minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan; ia tidak bermoral, berkarakter buruk; ia berdiam di rumah dengan pikiran dikuasai oleh noda kekikiran; ia menghina dan mencela para pertapa dan brahmana. Dan istrinya adalah persis sama dalam segala hal. Dengan cara demikian seorang malang hidup bersama dengan seorang malang.

 “Dan bagaimanakah seorang malang hidup bersama dengan seorang dewi? Di sini, para perumah tangga, sang suami adalah seorang yang membunuh makhluk hidup … ia menghina dan mencela para pertapa dan brahmana. Tetapi istrinya adalah seorang yang menghindari membunuh ... menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan; ia bermoral dan berkarakter baik; ia berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran; ia tidak menghina dan tidak mencela para pertapa dan brahmana. Dengan cara demikian seorang malang hidup bersama dengan seorang dewi.

 “Dan bagaimanakah seorang dewa hidup bersama dengan seorang malang? Di sini, para perumah tangga, sang suami adalah seorang yang menghindari membunuh makhluk hidup … yang tidak menghina dan tidak mencela para pertapa dan brahmana. Tetapi istrinya adalah seorang yang membunuh makhluk hidup … yang menghina dan mencela para pertapa dan brahmana. Dengan cara demikian seorang dewa hidup bersama dengan seorang malang.

“Dan bagaimanakah seorang dewa hidup bersama dengan seorang dewi? Di sini, para perumah tangga, sang suami adalah seorang yang menghindari membunuh … menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan; ia bermoral dan berkarakter baik; ia berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran; ia tidak menghina dan tidak mencela para pertapa dan brahmana. Dan istrinya adalah persis sama dalam segala hal. Dengan cara demikian seorang dewa hidup bersama dengan seorang dewi.

“Ini adalah keempat cara hidup bersama itu.”

(AN 4:53, NDB 443–44)

4. Rumah Tangga

(1) Demi Kesejahteraan Banyak Orang

“Para bhikkhu, ketika seorang baik terlahir dalam suatu keluarga, itu adalah demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan banyak orang. Itu adalah demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan (1) ibu dan ayahnya, (2) istri dan anak-anaknya, (3) para budak, pekerja, dan pelayan, (4) teman-teman dan kerabatnya, dan (5) para petapa dan brahmana. Seperti halnya awan hujan yang besar, memelihara tanaman, muncul demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan banyak orang, demikian pula, ketika seorang baik terlahir dalam suatu keluarga, itu adalah demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan banyak orang. Itu adalah demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan ibu dan ayahnya … para petapa dan brahmana.”

(AN 5:42, NDB 667)

(2) Bagaikan Pegunungan Himalaya

“Para bhikkhu, dengan berdasarkan pada pegunungan Himalaya, raja pegunungan, pepohonan sal besar tumbuh dalam lima hal. Apakah lima ini? (1) Pepohonan itu tumbuh dalam hal dahan, daun, dan kerimbunan; (2) pepohonan itu tumbuh dalam hal kulit kayunya; (3) pepohonan itu tumbuh dalam hal tunas; (4) pepohonan itu tumbuh dalam hal kayu lunak; dan (5) pepohonan itu tumbuh dalam hal inti kayu. Dengan berdasarkan pada pegunungan Himalaya, raja pegunungan, pepohonan sal besar tumbuh dalam kelima hal ini. Demikian pula, ketika kepala keluarga memiliki keyakinan, orang-orang dalam keluarga yang bergantung padanya tumbuh dalam lima hal. Apakah lima ini? (1) Mereka tumbuh dalam keyakinan; (2) mereka tumbuh dalam perilaku bermoral; (3) mereka tumbuh dalam pembelajaran; (4) mereka tumbuh dalam kedermawanan; dan (5) mereka tumbuh dalam kebijaksanaan. Ketika kepala keluarga memiliki keyakinan, orang-orang dalam keluarga yang bergantung padanya tumbuh dalam kelima hal ini.”

(AN 5:40, NDB 664)

(3) Cara-Cara Mencari Kekayaan

“Seorang perumah tangga yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya — ia dapat dipuji atas empat dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar kedua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ketiga yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Dasar keempat yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya. Perumah tangga ini dapat dipuji atas empat dasar ini.

“Seperti halnya, dari sapi dihasilkan susu, dari susu dihasilkan dadih, dari dadih dihasilkan mentega, dari mentega dihasilkan ghee, dan dari ghee dihasilkan krim-ghee, yang dianggap sebagai yang terbaik di antara semua itu, demikian pula, di antara semua perumah tangga, yang terunggul, yang terbaik, yang menonjol, yang tertinggi, dan yang termulia adalah ia yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira; dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya.”

(dari AN 10:91, NDB 1461; lihat juga SN 42:12, CDB 1356)

(4) Menghindari Penghidupan Salah

“Para bhikkhu, seorang umat awam seharusnya tidak terlibat dalam kelima jenis perdagangan ini. Apakah lima ini? Berdagang senjata, berdagang makhluk-makhluk hidup, berdagang daging, berdagang minuman memabukkan, dan berdagang racun. Seorang umat awam seharusnya tidak terlibat dalam kelima jenis perdagangan ini.”

(AN 5:177, NDB 790)

(5) Penggunaan Kekayaan yang Benar

Sang Bhagavā berkata kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika: “Perumah tangga, ada lima pemanfaatan kekayaan ini. Apakah lima ini?

(1) “Di sini, perumah tangga, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengannya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik, siswa mulia itu membuat dirinya bahagia dan gembira dan dengan benar mempertahankan kebahagiaan dalam dirinya; ia membuat orangtuanya bahagia dan gembira dan dengan benar mempertahankan kebahagiaan dalam diri mereka; ia membuat istri dan anak-anaknya, para budak, para pekerja, dan para pelayan bahagia dan gembira dan dengan benar mempertahankan kebahagiaan dalam diri mereka. Ini adalah pemanfaatan kekayaan yang pertama.

(2) “Kemudian, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat … yang diperoleh dengan baik, siswa mulia itu membuat teman-teman dan para sahabatnya bahagia dan gembira dan dengan benar mempertahankan kebahagiaan dalam diri mereka. Ini adalah pemanfaatan kekayaan yang kedua.

(3) “Kemudian, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat … yang diperoleh dengan baik, siswa mulia itu melakukan persiapan perbekalan dengan kekayaannya untuk menghadapi kehilangan yang mungkin muncul karena api atau banjir, raja-raja atau para penjahat atau pewaris yang tidak disukai; ia membuat dirinya aman terhadap hal-hal itu. Ini adalah pemanfaatan kekayaan yang ketiga.

(4) “Kemudian, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat … yang diperoleh dengan baik, siswa mulia itu melakukan lima pengorbanan: kepada sanak saudara, para tamu, para leluhur, raja, dan para dewa. Ini adalah pemanfaatan kekayaan yang keempat.

(5) Kemudian, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha bersemangat … yang diperoleh dengan baik, siswa mulia itu memberikan persembahan yang lebih tinggi — suatu persembahan yang surgawi, yang memberikan hasil dalam kebahagiaan, mengarah menuju surga — kepada para pertapa dan brahmana yang menghindari kemabukan dan kelengahan, yang kokoh dalam kesabaran dan kelembutan, yang menjinakkan diri mereka sendiri, menenangkan diri mereka sendiri, dan berlatih untuk mencapai nibbāna. Ini adalah pemanfaatan kekayaan yang kelima.”

(AN 5:41, NDB 665–66)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #35 on: 15 February 2018, 04:10:30 PM »
5. Status Sosial

(1) Tidak Ada Hirarki Hak Istimewa yang Tetap

Kemudian brahmana Esukārī pergi menemui Sang Bhagavā dan berkata kepada beliau: “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat tingkat pelayanan. Mereka menetapkan tingkat pelayanan kepada seorang brahmana, tingkat pelayanan kepada seorang khattiya, tingkat pelayanan kepada seorang vessa, tingkat pelayanan kepada seorang sudda. Para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang brahmana: seorang brahmana boleh melayani seorang brahmana, seorang khattiya boleh melayani seorang brahmana, seorang vessa boleh melayani seorang brahmana, dan seorang sudda boleh melayani seorang brahmana. Mereka menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang khattiya: seorang khattiya boleh melayani seorang khattiya, seorang vessa boleh melayani seorang khattiya, dan seorang sudda boleh melayani seorang khattiya. Mereka menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang vessa: seorang vessa boleh melayani seorang vessa, dan seorang sudda boleh melayani seorang vessa. Mereka menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang pekerja: hanya seorang sudda yang boleh melayani seorang sudda; karena siapakah orang lainnya yang akan melayani seorang sudda? Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

“Baiklah, Brahmana, apakah seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat tingkat pelayanan ini?” — “Tidak, Guru Gotama.”—“Misalkan, Brahmana, mereka memaksakan sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya uang, melarat dan memberitahunya: ‘Orang baik, engkau harus memakan daging ini dan membayarnya’; demikian pula, tanpa persetujuan dari para pertapa dan brahmana lainnya, namun para brahmana menetapkan keempat tingkat pelayanan itu.

“Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga aku tidak mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani seseorang, ia menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik karena pelayanan itu, maka aku katakan bahwa orang itu seharusnya tidak dilayani. Dan jika, ketika melayani seseorang, ia menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk karena pelayanan itu, maka aku katakan bahwa orang itu seharusnya dilayani....

Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia berasal dari keluarga bangsawan, juga aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan. aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan, juga aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia kaya-raya, juga aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia kaya-raya. Karena di sini, Brahmana, seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan mungkin membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perbuatan seksual yang salah, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan yang memecah belah, mengucapkan kata-kata kasar, mengucapkan omong kosong, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah. Oleh karena itu aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia berasal dari keluarga bangsawan. Tetapi juga, Brahmana, seseorang dari keluarga bangsawan mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perbuatan seksual yang salah, menghindari mengucapkan ucapan salah, menghindari mengucapkan ucapan yang memecah belah, menghindari kata-kata kasar, menghindari omong kosong, tidak tamak, memiliki pikiran berbelas kasih, dan menganut pandangan benar. Oleh karena itu aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan.

“Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga aku tidak mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani seseorang, keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaannya bertambah dalam pelayanannya, maka aku katakan bahwa orang itu seharusnya dilayani.”
Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Esukārī berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat jenis kekayaan. Mereka menetapkan kekayaan seorang brahmana, kekayaan seorang khattiya, kekayaan seorang vessa, dan kekayaan seorang sudda. Para brahmana menetapkan mengembara mengumpulkan dana makanan sebagai kekayaan seorang brahmana; seorang brahmana yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu mengembara mengumpulkan dana makanan, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Mereka menetapkan busur dan tempat anak panah sebagai kekayaan seorang khattiya; seorang khattiya yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu busur dan tempat anak panah, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Mereka menetapkan bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak sebagai kekayaan seorang vessa; seorang vessa yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Mereka menetapkan sabit dan galah pengangkut beban sebagai kekayaan seorang sudda; seorang sudda yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu sabit dan galah pengangkut beban, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

“Baiklah, Brahmana, apakah seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat jenis kekayaan ini?” — “Tidak, Guru Gotama.” — “Misalkan, Brahmana, mereka memaksakan sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya uang, melarat dan memberitahunya: ‘Orang baik, engkau harus memakan daging ini dan membayarnya’; demikian pula, tanpa persetujuan dari para petapa dan brahmana lainnya, namun para brahmana menetapkan keempat jenis kekayaan itu.

“Brahmana, aku menyatakan Dhamma adiduniawi yang mulia sebagai kekayaan seseorang. Tetapi dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan ayahnya di masa lampau, ia diakui menurut dari mana ia terlahir kembali. Jika ia terlahir kembali dalam kasta khattiya, maka ia diakui sebagai seorang khattiya; jika ia terlahir kembali dalam kasta brahmana, maka ia diakui sebagai seorang brahmana; jika ia terlahir kembali dalam kasta vessa, maka ia diakui sebagai seorang vessa; jika ia terlahir kembali dalam kasta sudda, maka ia diakui sebagai seorang sudda. Seperti halnya api diakui melalui kondisi tertentu yang bergantung pada apa api itu membakar — jika api membakar dengan bergantung pada kayu batang, maka api itu dikenal sebagai api kayu batang; jika api membakar dengan bergantung pada kayu ranting, maka api itu dikenal sebagai api kayu ranting; jika api membakar dengan bergantung pada rumput, maka api itu dikenal sebagai api rumput; jika api membakar dengan bergantung pada kotoran-sapi, maka api itu dikenal sebagai api kotoran-sapi — demikian pula, Brahmana, aku menyatakan Dhamma adiduniawi yang mulia sebagai kekayaan seseorang. Tetapi dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan ayahnya di masa lampau, ia diakui menurut dari mana ia terlahir kembali.”

(dari MN 96, MLDB 786–89)

(2) Kasta Hanyalah Kesepakatan

Raja Avantiputta dari Madhurā bertanya kepada Yang Mulia Mahākaccāna: “Guru Kaccāna, para brahmana berkata sebagai berikut: ‘Para brahmana adalah kasta tertinggi, kasta lainnya adalah rendah; para brahmana adalah kasta dengan kulit paling cerah, kasta lainnya berkulit gelap; hanya para brahmana yang murni, bukan non-brahmana; hanya para brahmana yang merupakan putera-putera Brahmā, keturunan Brahmā, terlahir dari mulut Brahmā, terlahir dari Brahmā, diciptakan oleh Brahmā, pewaris Brahmā.’ Bagaimana menurut Guru Kaccāna mengenai hal ini?”

“Itu hanyalah peribahasa di dunia ini, Baginda. Dan ada satu cara untuk memahami bahwa pernyataan para brahmana itu hanyalah peribahasa di dunia ini. Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika seorang khattiya makmur dalam kekayaan, hasil panen, perak, atau emas, adakah para khattiya yang akan bangun sebelum dirinya dan tidur setelah dirinya, yang ingin melayaninya, yang berusaha menyenangkannya dan berkata-kata manis dengannya, dan adakah para brahmana, para vessa, dan para sudda yang akan melakukan hal serupa?” – “Pasti ada, Guru Kaccāna.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika seorang brahmana makmur dalam kekayaan, hasil panen, perak, atau emas, adakah para brahmana yang akan bangun sebelum dirinya dan tidur setelah dirinya, yang ingin melayaninya, yang berusaha menyenangkannya dan berkata-kata manis dengannya, dan adakah para vessa, para sudda, dan para khattiya yang akan melakukan hal serupa?” – “Pasti ada, Guru Kaccāna.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika seorang vessa makmur dalam kekayaan, hasil panen, perak, atau emas, adakah para vessa yang akan bangun sebelum dirinya dan tidur setelah dirinya, yang ingin melayaninya, yang berusaha menyenangkannya dan berkata-kata manis dengannya, dan adakah para sudda, para khattiya, dan para brahmana yang akan melakukan hal serupa?” – “Pasti ada, Guru Kaccāna.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika seorang sudda makmur dalam kekayaan, hasil panen, perak, atau emas, adakah para sudda yang akan bangun sebelum dirinya dan tidur setelah dirinya, yang ingin melayaninya, yang berusaha menyenangkannya dan berkata-kata manis dengannya, dan adakah para khattiya, para brahmana, dan para vessa yang akan melakukan hal serupa?” – “Pasti ada, Guru Kaccāna.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Kalau begitu, maka apakah keempat kasta ini adalah sama, atau tidak sama, atau bagaimanakah menurutmu?”

“Tentu saja, kalau demikian, Guru Kaccāna, maka keempat kasta ini adalah sama: sama sekali tidak ada perbedaan yang kulihat.”

“Itu adalah satu cara, Baginda, untuk memahami bahwa pernyataan para brahmana itu hanyalah peribahasa di dunia ini.

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang khattiya membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perbuatan seksual yang salah, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan yang memecah belah, mengucapkan kata-kata kasar, mengucapkan omong kosong, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah ia sewajarnya muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka, atau sebaliknya, atau bagaimanakah menurutmu mengenai hal ini?”

“Jika seorang khattiya demikian, Guru Kaccāna, maka ia akan sewajarnya muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Demikianlah menurutku mengenai hal ini, dan demikianlah yang kudengar dari para arahant.”

“Bagus, bagus, Baginda! Apa yang engkau pikirkan adalah benar, Baginda, dan apa yang telah engkau dengar dari para arahant adalah benar. Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang brahmana … seorang vessa … seorang sudda berbuat hal yang sama?”

“Jika seorang brahmana … seorang vessa … seorang sudda demikian, Guru Kaccāna, maka ia akan sewajarnya muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Demikianlah menurutku mengenai hal ini, dan demikianlah yang kudengar dari para arahant.”

“Bagus, bagus, Baginda! Apa yang engkau pikirkan adalah benar, Baginda, dan apa yang telah engkau dengar dari para arahant adalah benar. Bagaimana menurutmu, Baginda? Kalau begitu, maka apakah keempat kasta ini adalah sama, atau tidak sama, atau bagaimanakah menurutmu?”

“Tentu saja, kalau demikian, Guru Kaccāna, maka keempat kasta ini adalah sama: sama sekali tidak ada perbedaan yang kulihat.”

“Itu juga adalah satu cara, Baginda, untuk memahami bahwa pernyataan para brahmana itu hanyalah peribahasa di dunia ini.

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang mulia menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perbuatan seksual yang salah, menghindari ucapan salah, menghindari ucapan yang memecah belah, menghindari kata-kata kasar, dan menghindari omong kosong, dan tidak tamak, memiliki pikiran berbelas kasih, dan menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah ia sewajarnya muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga, atau sebaliknya, atau bagaimanakah menurutmu mengenai hal ini?”

“Jika seorang khattiya demikian, Guru Kaccāna, ia akan sewajarnya muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga. Demikianlah menurutku mengenai hal ini, dan demikianlah yang kudengar dari para arahant.”

“Bagus, bagus, Baginda! Apa yang engkau pikirkan adalah benar, Baginda, dan apa yang telah engkau dengar dari para arahant adalah benar. Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang brahmana … seorang vessa … seorang sudda menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah ia sewajarnya muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga, atau sebaliknya, atau bagaimanakah menurutmu mengenai hal ini?”

“Jika seorang brahmana … seorang pedagang … seorang pekerja demikian, Guru Kaccāna, ia akan sewajarnya muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga. Demikianlah menurutku mengenai hal ini, dan demikianlah yang kudengar dari para arahant.”

“Bagus, bagus, Baginda! Apa yang engkau pikirkan adalah benar, Baginda, dan apa yang telah engkau dengar dari para arahant adalah benar. Bagaimana menurutmu, Baginda? Kalau begitu, maka apakah keempat kasta ini adalah sama, atau tidak sama, atau bagaimanakah menurutmu?”

“Tentu saja, kalau demikian, Guru Kaccāna, maka keempat kasta ini adalah sama: sama sekali tidak ada perbedaan yang kulihat.”

“Itu juga adalah satu cara, Baginda, untuk memahami bahwa pernyataan para brahmana itu hanyalah peribahasa di dunia ini.

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang khattiya mendobrak masuk ke rumah, merampas kekayaan, melakukan perampokan, penyerangan di jalan raya, atau menggoda istri orang lain, dan jika orang-orangmu menangkapnya dan membawanya ke hadapanmu, dengan berkata: ‘Baginda, ini adalah penjahat itu; perintahkanlah hukuman apapun terhadapnya yang engkau kehendaki.’ Bagaimanakah engkau akan memperlakukannya?”

“Kami akan mengeksekusinya, Guru Kaccāna, atau kami akan menjatuhkan denda kepadanya, atau kami akan mengusirnya, atau kami akan melakukan apapun yang layak ia terima. Mengapakah? Karena ia telah kehilangan statusnya yang sebelumnya sebagai seorang khattiya, dan hanya dikenal sebagai seorang perampok.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang brahmana … seorang vessa … seorang sudda … melakukan hal yang sama, dan jika orang-orangmu menangkapnya dan membawanya ke hadapanmu, dengan berkata: ‘Baginda, ini adalah penjahat itu; perintahkanlah hukuman apapun terhadapnya yang engkau kehendaki.’ Bagaimanakah engkau akan memperlakukannya?”

“Kami akan mengeksekusinya, Guru Kaccāna, atau kami akan menjatuhkan denda kepadanya, atau kami akan mengusirnya, atau kami akan melakukan apapun yang layak ia terima. Mengapakah? Karena ia telah kehilangan statusnya yang sebelumnya sebagai seorang brahmana … seorang vessa … seorang sudda, dan hanya dikenal sebagai seorang perampok.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Kalau begitu, maka apakah keempat kasta ini adalah sama, atau tidak sama, atau bagaimanakah menurutmu?”

“Tentu saja, kalau demikian, Guru Kaccāna, maka keempat kasta ini adalah sama: sama sekali tidak ada perbedaan yang kulihat.”

“Itu juga adalah satu cara, Baginda, untuk memahami bagaimana bahwa pernyataan para brahmana itu hanyalah peribahasa di dunia ini.

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang khattiya, setelah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari ucapan salah. Menghindari makan di malam hari, ia hanya makan pada satu bagian siang hari, dan menjalani hidup selibat, bermoral, berkarakter baik. Bagaimanakah engkau memperlakukannya?”

“Kami akan menghormatinya, Guru Kaccāna, atau kami akan bangkit ketika ia datang, atau mengundangnya untuk duduk; atau kami akan mengundangnya untuk menerima persembahan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan; atau kami akan mengatur penjagaan, pertahanan, dan perlindungan yang sesuai hukum untuknya. Mengapakah? Karena ia telah kehilangan statusnya yang sebelumnya sebagai seorang khattiya, dan hanya dikenal sebagai seorang pertapa.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang brahmana … seorang vessa … seorang sudda melakukan hal yang sama. Bagaimanakah engkau memperlakukannya?

“Kami akan menghormatinya, Guru Kaccāna, atau kami akan bangkit ketika ia datang, atau mengundangnya untuk duduk; atau kami akan mengundangnya untuk menerima persembahan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan; atau kami akan mengatur penjagaan, pertahanan, dan perlindungan yang sesuai hukum untuknya. Mengapakah? Karena ia telah kehilangan statusnya yang sebelumnya sebagai seorang brahmana … seorang vessa … seorang sudda, dan hanya dikenal sebagai seorang pertapa.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Kalau begitu, maka apakah keempat kasta ini adalah sama, atau tidak sama, atau bagaimanakah menurutmu?”

“Tentu saja, kalau demikian, Guru Kaccāna, maka keempat kasta ini adalah sama: sama sekali tidak ada perbedaan yang kulihat.”

“Itu juga adalah satu cara, Baginda, untuk memahami bagaimana bahwa pernyataan para brahmana itu hanyalah peribahasa di dunia ini.”

(dari MN 84, MLDB 698–702)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #36 on: 15 February 2018, 04:18:12 PM »
(3) Status Ditentukan oleh Perbuatan

[Sang Buddha berkata kepada brahmana muda Vāseṭṭha:]

“Sementara pada banyak jenis makhluk ini
tanda-tanda khusus mereka ditentukan oleh kelahiran,
pada manusia tidak ada tanda-tanda khusus
yang dihasilkan dari kelahiran tertentu mereka.

“Tidak di rambut juga tidak di kepala,
tidak di telinga juga tidak di mata,
tidak di mulut juga tidak di hidung,
tidak di bibir juga tidak di kening;

“Juga tidak di bahu atau di leher,
juga tidak di perut atau di punggung
juga tidak di bokong atau di dada
juga tidak di anus atau organ kelamin;

“Tidak di tangan juga tidak di kaki,
juga tidak di jari tangan atau di kuku,
tidak di lutut juga tidak di paha,
juga tidak dalam warna kulit atau dalam suara:
kelahiran tidak memiliki tanda khusus
seperti halnya dengan jenis makhluk lainnya.

“Pada tubuh manusia
tidak ada tanda khusus dapat ditemukan.
Pengelompokan di antara manusia
hanyalah sebutan verbal

“Seseorang di antara manusia
yang berpenghidupan melalui pertanian,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia adalah seorang petani, bukan seorang brahmana.

“Seseorang di antara manusia
yang berpenghidupan melalui berbagai keahlian,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia disebut seorang ahli, bukan seorang brahmana.

“Seseorang di antara manusia
yang berpenghidupan melalui barang-barang dagangan,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia disebut seorang pedagang, bukan seorang brahmana.

“Seseorang di antara manusia
yang berpenghidupan dengan melayani orang-orang lain,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia disebut seorang pelayan, bukan seorang brahmana.

“Seseorang di antara manusia
yang berpenghidupan dengan mencuri,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia disebut seorang pencuri, bukan seorang brahmana.

“Seseorang di antara manusia
yang berpenghidupan melalui keterampilan memanah,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia disebut seorang prajurit, bukan seorang brahmana.

“Seseorang di antara manusia
yang berpenghidupan melalui pelayanan religius,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia disebut seorang pandita, bukan seorang brahmana.

“Seseorang di antara manusia
yang memerintah negeri dan kerajaan,
engkau seharusnya mengetahui, Vāseṭṭha:
ia disebut seorang raja, bukan seorang brahmana.

“Aku tidak menyebut seseorang brahmana
berdasarkan asal-usul dan silsilahnya.
Ia hanyalah seorang pembual yang sombong
jika ia terintangi oleh hal-hal.
Seseorang yang tidak memiliki apa pun, tidak membawa apa pun:
ia kusebut seorang brahmana.

“Seseorang yang telah memotong semua belenggu,
yang sesungguhnya tidak gelisah,
yang telah mengatasi segala ikatan, terlepas:
ia kusebut seorang brahmana....

Yang mengetahui tempat-tempat kediaman masa lampaunya,
yang melihat surga dan alam sengsara,
yang telah mencapai hancurnya kelahiran:
ia kusebut seorang brahmana.

“Karena nama dan suku diberikan
sebagai sekadar sebutan di dunia ini;
Berawal mula dari kesepakatan,
yang diberikan di sana-sini.

“Bagi mereka yang tidak mengetahui hal ini,
pandangan salah telah lama menjadi kecenderungan mereka;
tanpa mengetahui, mereka mengatakan kepada kita:
‘Ia adalah seorang brahmana melalui kelahiran.’

“Seseorang bukanlah seorang brahmana melalui kelahiran,
juga bukan melalui kelahiran seseorang menjadi bukan-brahmana.
Melalui perbuatan seseorang menjadi brahmana,
melalui perbuatan seseorang menjadi bukan-brahmana.

“Seseorang menjadi petani melalui perbuatan,
melalui perbuatan seseorang menjadi ahli.
Seseorang menjadi pedagang melalui perbuatan,
melalui perbuatan seseorang menjadi pelayan.

“Seseorang menjadi pencuri melalui perbuatan mereka,
melalui perbuatan seseorang menjadi prajurit.
Seseorang menjadi pandita melalui perbuatan mereka,
melalui perbuatan seseorang menjadi raja.

“Maka demikianlah bagaimana orang bijaksana
melihat perbuatan sebagaimana adanya –
orang yang telah melihat kemunculan bergantungan,
terampil dalam perbuatan dan akibatnya.

“Oleh perbuatan dunia berputar,
oleh perbuatan populasi berputar.
Makhluk-makhluk hidup terikat oleh perbuatan
bagaikan pasak poros roda pada kereta yang bergerak.

“Melalui pertapaan, melalui kehidupan suci,
melalui pengendalian diri, melalui pelatihan batin —
melalui hal ini seseorang menjadi brahmana;
ini adalah kebrahmanaan tertinggi.

(dari MN 98, MLDB 800–807; Sn III,9)

(4) Perbuatan Menyebabkan Orang Buangan

Sang Bhagavā berkata kepada brahmana Aggibhāradvāja: “Apakah engkau mengetahui, brahmana, apakah seorang buangan itu atau kualitas-kualitas yang membuat seseorang menjadi seorang buangan?”

“Aku tidak tahu, Guru Gotama, apakah seorang buangan itu atau kualitas-kualitas yang membuat seseorang menjadi seorang buangan. Mohon agar Guru Gotama mengajarkanku Dhamma sedemikian sehingga aku dapat mengetahui apakah seorang buangan itu atau kualitas-kualitas yang membuat seseorang menjadi seorang buangan.”

“Dalam hal itu, brahmana, dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

“Baik, tuan,” brahmana Aggibhāradvāja menjawab. Sang Bhagavā berkata demikian:

“Seseorang yang marah dan penuh permusuhan,
seorang jahat yang merendahkan,
berpandangan sempit, seorang penipu:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan.

“Seseorang di sini yang melukai makhluk hidup
apakah yang terlahir-sekali atau terlahir-dua-kali,
yang tidak berbelas kasih terhadap makhluk hidup:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan....

“Seseorang yang memuji dirinya sendiri
dan memandang rendah orang lain,
rendah karena kesombongannya sendiri,
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan.

“Seseorang yang suka mencaci maki, pelit,
berkeinginan jahat, kikir, seorang penipu,
seorang tanpa rasa malu atau takut berbuat jahat:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan.

“Seseorang yang mencaci maki Sang Buddha
atau siswanya,
seorang pengembara atau seorang perumah tangga:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan....

“Seseorang tidak menjadi orang buangan melalui kelahiran,
juga tidak melalui kelahiran seseorang menjadi brahmana.
Melalui perbuatan seseorang menjadi orang buangan,
melalui perbuatan seseorang menjadi brahmana.”

(dari Sn I,7)

6. Negara

(1) Ketika Raja-Raja Tidak Baik

“Para bhikkhu, ketika raja-raja tidak baik, maka para pejabat kerajaan menjadi tidak baik. Ketika para pejabat kerajaan tidak baik, maka para brahmana dan perumah tangga menjadi tidak baik. Ketika para brahmana dan perumah tangga menjadi tidak baik, maka para penduduk di kota dan di pedesaan menjadi tidak baik. Ketika para penduduk di kota dan di pedesaan tidak baik, maka matahari dan rembulan bergerak di luar jalurnya. Ketika matahari dan rembulan bergerak di luar jalurnya, maka konstelasi dan bintang-bintang bergerak di luar jalurnya. Ketika konstelasi dan bintang-bintang bergerak di luar jalurnya, maka siang dan malam berjalan di luar waktunya … bulan-bulan dan dwi mingguan berjalan di luar waktunya … musim demi musim dan tahun-tahun berjalan di luar waktunya. Ketika musim demi musim dan tahun-tahun berjalan di luar waktunya, maka angin bertiup di luar jalurnya dan secara acak. Ketika angin bertiup di luar jalurnya dan secara acak, maka para dewa menjadi marah. Ketika para dewata menjadi marah, maka hujan tidak turun dengan cukup. Ketika hujan tidak turun dengan cukup, maka pertanian menjadi masak dengan tidak teratur. Ketika orang-orang memakan hasil pertanian yang masak dengan tidak teratur, mereka menjadi berumur pendek, berpenampilan buruk, lemah, dan rentan terhadap penyakit.

“Tetapi ketika raja-raja baik, maka para pejabat kerajaan menjadi baik. Ketika para pejabat kerajaan baik, maka para brahmana dan perumah tangga menjadi baik. Ketika para brahmana dan perumah tangga menjadi baik, maka para penduduk di kota dan di pedesaan menjadi baik. Ketika para penduduk di kota dan di pedesaan baik, maka matahari dan rembulan bergerak sesuai jalurnya. Ketika matahari dan rembulan bergerak sesuai jalurnya, maka konstelasi dan bintang-bintang bergerak sesuai jalurnya. Ketika konstelasi dan bintang-bintang bergerak sesuai jalurnya, maka siang dan malam berjalan sesuai waktunya … bulan-bulan dan dwi mingguan berjalan sesuai waktunya … musim demi musim dan tahun-tahun berjalan sesuai waktunya. Ketika musim demi musim dan tahun-tahun berjalan sesuai waktunya, maka angin bertiup sesuai jalurnya dan dapat diandalkan. Ketika angin bertiup sesuai jalurnya dan dapat diandalkan, maka para dewa tidak menjadi marah. Ketika para dewa tidak menjadi marah, maka hujan turun dengan cukup. Ketika hujan turun dengan cukup, pertanian menjadi masak sesuai musimnya. Ketika orang-orang memakan hasil pertanian yang masak sesuai musimnya, mereka menjadi berumur panjang, berpenampilan baik, kuat, dan sehat.”

(4) Perbuatan Menyebabkan Orang Buangan

Sang Bhagavā berkata kepada brahmana Aggibhāradvāja: “Apakah engkau mengetahui, brahmana, apakah seorang buangan itu atau kualitas-kualitas yang membuat seseorang menjadi seorang buangan?”

“Aku tidak tahu, Guru Gotama, apakah seorang buangan itu atau kualitas-kualitas yang membuat seseorang menjadi seorang buangan. Mohon agar Guru Gotama mengajarkanku Dhamma sedemikian sehingga aku dapat mengetahui apakah seorang buangan itu atau kualitas-kualitas yang membuat seseorang menjadi seorang buangan.”

“Dalam hal itu, brahmana, dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

“Baik, tuan,” brahmana Aggibhāradvāja menjawab. Sang Bhagavā berkata demikian:

“Seseorang yang marah dan penuh permusuhan,
seorang jahat yang merendahkan,
berpandangan sempit, seorang penipu:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan.

“Seseorang di sini yang melukai makhluk hidup
apakah yang terlahir-sekali atau terlahir-dua-kali,
yang tidak berbelas kasih terhadap makhluk hidup:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan....

“Seseorang yang memuji dirinya sendiri
dan memandang rendah orang lain,
rendah karena kesombongannya sendiri,
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan.

“Seseorang yang suka mencaci maki, pelit,
berkeinginan jahat, kikir, seorang penipu,
seorang tanpa rasa malu atau takut berbuat jahat:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan.

“Seseorang yang mencaci maki Sang Buddha
atau siswanya,
seorang pengembara atau seorang perumah tangga:
engkau seharusnya mengenalinya sebagai seorang buangan....

“Seseorang tidak menjadi orang buangan melalui kelahiran,
juga tidak melalui kelahiran seseorang menjadi brahmana.
Melalui perbuatan seseorang menjadi orang buangan,
melalui perbuatan seseorang menjadi brahmana.”

(dari Sn I,7)

Ketika ternak sedang menyeberangi sungai,
jika sapi pemimpin berjalan berbelok-belok,
semua lainnya berjalan berbelok-belok
karena pemimpin mereka berjalan berbelok-belok.
Demikian pula, di antara manusia,
ketika seseorang yang dianggap sebagai pemimpin
berperilaku tidak baik,
orang-orang lain juga melakukan demikian.
Seluruh kerajaan menjadi suram
jika rajanya tidak baik.

Ketika ternak sedang menyeberangi sungai
jika sapi pemimpin berjalan lurus,
semua yang lainnya berjalan lurus
karena pemimpin mereka berjalan lurus.
Demikian pula, di antara manusia,
ketika seseorang yang dianggap sebagai pemimpin
berperilaku baik,
orang-orang lain juga melakukan demikian.
Seluruh kerajaan bergembira
jika rajanya baik.

(AN 4:70, NDB 458–59)

(2) Perang Menumbuhkan Kebencian

Raja Ajātasattu dari Magadha, putra Videha, menggerakkan empat divisi bala tentara dan berjalan ke arah Kāsi untuk melawan Raja Pasenadi dari Kosala. Raja Pasenadi mendengar laporan ini, menggerakkan empat divisi bala tentara dan melepaskan barisan penahan ke arah Kāsi untuk melawan Raja Ajātasattu. Kemudian Raja Ajātasattu dari Magadha dan Raja Pasenadi dari Kosala bertempur dalam sebuah peperangan, di mana Raja Ajātasattu mengalahkan Raja Pasenadi. Raja Pasenadi, terkalahkan, mundur ke ibukotanya sendiri di Sāvatthī.

Kemudian, di pagi harinya, sejumlah bhikkhu merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubah mereka, memasuki Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Ketika mereka telah menerima dana makanan dan telah kembali, setelah makan, mereka mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan melaporkan apa yang telah terjadi. [Sang Bhagavā berkata:]

“Para bhikkhu, Raja Ajātasattu dari Magadha memiliki teman-teman jahat Raja Pasenadi dari Kosala memiliki teman-teman baik. Namun pada hari ini, Raja Pasenadi, setelah dikalahkan; akan tidur dengan tidak nyenyak malam ini.

“Kemenangan menumbuhkan permusuhan,
Yang kalah tidur dengan buruk,
Yang damai tidur dengan nyaman,
Setelah meninggalkan kemenangan dan kekalahan.”

[Pada kesempatan lain, ketika Pasenadi mengalahkan Ajātasattu, Sang Bhagavā berkata:]

“Si dungu berpikir keberuntungan berada di pihaknya
selama kejahatannya belum masak,
tetapi ketika kejahatan masak
si dungu mengalami penderitaan.

“Pembunuh melahirkan pembunuh,
seorang yang menaklukkan, seorang penakluk.
Penyiksa melahirkan siksaan,
seorang pencaci, seorang yang mencaci.
Demikianlah dengan terbentangnya kamma
si perampas dirampas.”

(SN 3:14–15, CDB 177–78)

(3) Raja Pemutar-Roda

Sang Bhagavā berkata: “Para bhikkhu, bahkan seorang raja pemutar-roda, seorang raja yang adil dan baik, tidak memerintah kerajaannya tanpa raja di atasnya.”

Seorang bhikkhu tertentu bertanya: “Tetapi siapakah, Bhante, raja di atas seorang raja pemutar-roda, seorang raja yang adil dan baik?”

“Ini adalah Dhamma, hukum kebenaran,” jawab Sang Bhagavā berkata. “Seorang raja pemutar-roda, seorang raja yang adil dan baik, hanya mengandalkan Dhamma, menghormati, menghargai, dan memuliakan Dhamma, menjadikan Dhamma sebagai patokan, panji, dan otoritasnya, memberikan perlindungan hukum, naungan, dan keamanan kepada para penduduk di wilayahnya. Ia memberikan perlindungan hukum, naungan, dan keamanan kepada para khattiya yang melayaninya; kepada para pasukan, kepada para brahmana dan para perumah tangga, kepada para penduduk kota dan desa, para pertapa dan brahmana, dan binatang-binatang dan burung-burung. Seorang raja pemutar-roda, yang memberikan perlindungan hukum, naungan, dan keamanan demikian kepada semua makhluk, adalah seseorang yang memerintah hanya dengan Dhamma. Dan pemerintahan itu tidak dapat digulingkan oleh manusia jahat mana pun juga.”

(dari AN 3:14, NDB 208–9)

(4) Bagaimana Raja Pemutar-Roda Menaklukkan Wilayah

“Di sini, ketika seorang raja mulia yang sah telah mencuci kepalanya di hari uposatha tanggal lima belas[2] dan telah naik ke kamar atas istana untuk melaksanakan uposatha, di sana muncul padanya pusaka-roda surgawi berjeruji seribu, dengan lingkaran, dan porosnya, lengkap dalam segala aspek. Ketika melihatnya, raja mulia yang sah itu berpikir: ‘Aku telah mendengar bahwa ketika seorang raja mulia yang sah telah mencuci kepalanya di hari uposatha tanggal lima belas dan telah naik ke kamar atas istana untuk melaksanakan uposatha, dan di sana muncul padanya pusaka-roda surgawi berjeruji seribu, dengan lingkaran, dan porosnya, lengkap dalam segala aspek, maka raja itu menjadi seorang raja pemutar-roda. Apakah aku akan menjadi seorang raja pemutar-roda?’

“Kemudian raja mulia yang sah itu bangkit dari duduknya, dan dengan membawa sekendi air di tangan kirinya, ia memercikkan pusaka-roda itu dengan tangan kanannya, dengan berkata: ‘Berputarlah maju, pusaka-roda yang baik; menanglah, pusaka-roda yang baik!’ Kemudian pusaka-roda itu berputar maju ke arah timur dan sang raja pemutar roda mengikutinya bersama dengan empat barisan bala tentaranya. Sekarang di wilayah manapun pusaka-roda itu berhenti, di sana sang raja pemutar-roda berdiam bersama keempat barisan bala tentaranya. Dan para raja lawan di arah timur mendatangi raja pemutar-roda dan berkata: ‘Datanglah, Raja Agung; selamat datang, Raja Agung; berikanlah perintah, Raja Agung; berikanlah nasihat, Raja Agung.’ Sang raja pemutar-roda berkata sebagai berikut: ‘Kalian tidak boleh membunuh makhluk-makhluk hidup; kalian tidak boleh mengambil apa yang tidak diberikan; kalian tidak boleh melakukan perbuatan seksual yang salah; kalian tidak boleh mengucapkan kebohongan; kalian tidak boleh meminum minuman memabukkan; kalian seharusnya menikmati apa yang biasanya kalian nikmati.’ Dan para raja lawan di arah timur mematuhi raja pemutar-roda.

“Kemudian pusaka-roda masuk ke dalam samudera timur dan keluar kembali. Dan kemudian berputar maju ke arah selatan … Dan para raja lawan di arah selatan mematuhi raja pemutar-roda. Kemudian pusaka-roda masuk ke dalam samudera selatan dan keluar kembali. Dan kemudian berputar maju ke arah barat … Dan para raja lawan di arah barat mematuhi raja pemutar-roda. Kemudian pusaka-roda masuk ke dalam samudera barat dan keluar kembali. Dan kemudian berputar maju ke arah utara … Dan para raja lawan di arah utara mematuhi raja pemutar-roda.

“Sekarang ketika pusaka-roda telah memenangkan seluruh bumi hingga ke batas samudera, pusaka-roda itu kembali ke ibukota dan berdiam seolah-olah terpasang pada porosnya di gerbang istana di istana bagian dalam sang raja pemutar-roda, sebagai penghias gerbang menuju istana bagian dalamnya. Demikianlah pusaka-roda yang muncul bagi seorang raja pemutar-roda.”

(dari MN 129, MLDB 1023–24; lihat juga DN 26, LDB 397–98)

"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #37 on: 15 February 2018, 04:18:37 PM »

(5) Kewajiban-Kewajiban Raja

[Sang Buddha menceritakan kisah dari masa lampau:] “Raja Daḷhanemi memanggil putra tertuanya, putra mahkota, dan berkata: ‘Putraku, pusaka-roda suci telah jatuh dari posisinya. Dan aku pernah mendengar bahwa jika hal ini terjadi pada seorang raja pemutar-roda, ia tidak hidup lama lagi. Aku telah puas dengan kenikmatan manusiawi, sekarang adalah waktunya untuk mencari kenikmatan surgawi. Engkau, putraku, ambil-alihlah kendali atas negeri ini. Aku akan mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah.’ Dan, setelah mengangkat putera tertuanya menjadi raja selayaknya, Raja Daḷhanemi mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Dan tujuh hari setelah sang raja meninggalkan keduniawian, pusaka-roda suci lenyap.

“Kemudian seseorang mendatangi raja baru itu dan berkata: ‘Baginda, engkau harus tahu bahwa pusaka-roda suci telah lenyap.’ Mendengar kata-kata ini raja berduka dan bersedih. Ia mendatangi ayahnya, sang pertapa kerajaan, dan memberitahukan berita itu. Dan sang pertapa kerajaan berkata kepadanya: ‘Anakku, engkau tidak perlu berduka dan merasa sedih karena lenyapnya pusaka-roda. Pusaka-roda bukanlah warisan dari ayahmu. Tetapi sekarang, anakku, engkau harus merubah dirimu menjadi raja pemutar-roda yang mulia. Dan kemudian akan terjadi, jika engkau melakukan tugas-tugas seorang raja pemutar-roda yang mulia, pada hari uposatha tanggal lima belas, ketika engkau mencuci kepalamu dan naik ke teras di puncak istanamu untuk menjalankan hari uposatha, pusaka-roda suci akan muncul bagimu, berjeruji seribu, lengkap dengan lingkar, sumbu dan segala hiasannya.’

“‘Tetapi apakah, Baginda, tugas-tugas seorang raja pemutar-roda yang mulia?’”

“Yaitu, anakku: Dengan bergantung pada Dhamma, menghormatinya, menghargainya, dan memuliakannya, menjadikan Dhamma sebagai patokan, spanduk, dan otoritasmu, engkau seharusnya memberikan perlindungan hukum, naungan, dan keamanan bagi para penduduk di wilayahmu. Engkau seharusnya memberikan perlindungan hukum, naungan, dan keamanan kepada para khattiya yang melayanimu; kepada para pasukanmu, kepada para brahmana dan perumah tangga, kepada para penduduk kota dan desa, kepada para pertapa dan brahmana, kepada binatang-binatang dan burung-burung. Jangan biarkan kejahatan merebak di kerajaanmu, dan bagi mereka yang membutuhkan, berikan barang-barang kebutuhan mereka. Dan siapa pun para pertapa dan brahmana dalam kerajaanmu yang meninggalkan nafsu indriawi dan menjalani praktik kesabaran dan kelembutan, masing-masing menjinakkan diri mereka, masing-masing menenangkan diri mereka dan masing-masing berusaha untuk mengakhiri ketagihan, dari waktu ke waktu engkau seharusnya mengunjungi mereka dan bertanya: “Apakah, Bhante, yang bermanfaat dan apakah yang tidak bermanfaat, apakah yang patut dicela dan apakah yang tanpa cela, apakah yang harus diikuti dan apakah yang tidak boleh diikuti? Perbuatan apakah yang dalam jangka panjang akan mengakibatkan kemalangan dan penderitaan, dan apa yang menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan?” Setelah mendengarkan mereka, engkau seharusnya menghindari apa yang tidak bermanfaat dan melakukan apa yang bermanfaat. Itu, anakku, adalah tugas seorang raja pemutar-roda yang mulia.’

“‘Baik, Baginda,’ ia berkata, dan ia melakukan tugas-tugas seorang raja pemutar-roda yang mulia. Dan demikianlah berturut-turut enam raja berikutnya muncul yang menjadi raja pemutar-roda. Kemudian raja ketujuh yang muncul dalam dinasti ini tidak pergi menemui sang pertapa kerajaan [ayahnya, raja sebelumnya] dan bertanya kepadanya tentang tugas-tugas seorang raja pemutar-roda. Alih-alih, ia memerintah orang-orang menurut gagasannya sendiri, dan karena diperintah dengan cara demikian, orang-orang tidak menjadi makmur seperti halnya yang mereka alami di bawah raja-raja sebelumnya yang telah melakukan tugas-tugas seorang raja pemutar-roda.

“Raja kemudian memerintahkan semua menteri dan penasehatnya untuk berkumpul, dan ia berkonsultasi kepada mereka. Dan mereka menjelaskan kepadanya tugas-tugas seorang raja pemutar-roda. Dan setelah mendengarkan mereka, raja membangun penjagaan dan perlindungan terhadap para penduduknya, tetapi ia tidak memberikan barang-barang kebutuhan kepada mereka yang membutuhkan, dan sebagai akibatnya, kemiskinan menjadi tersebar luas. Dari pertumbuhan kemiskinan, pencurian meningkat. Dari meningkatnya pencurian, penggunaan senjata meningkat; dari meningkatnya penggunaan senjata, pembunuhan meningkat, kebohongan meningkat, ucapan yang memecah belah meningkat, dan perbuatan seksual yang salah meningkat – dan karena hal ini, usia kehidupan orang-orang berkurang dan kecantikan mereka berkurang.”

(dari DN 26, LDB 396–401, diringkas)

(6) Memberikan Kesejahteraan kepada Orang-Orang

Sang Bhagavā berkata kepada brahmana Kūṭadanta: “Brahmana, pada suatu masa ada seorang raja yang bernama Mahāvijita. Ia kaya, memiliki banyak harta kekayaan, dengan emas dan perak yang berlimpah, harta benda dan barang-barang kebutuhan berlimpah, dan uang, dengan gudang harta dan lumbung yang penuh. Dan ketika Raja Mahāvijita sedang bersenang-senang sendirian, ia berpikir: ‘Aku memiliki sangat banyak kekayaan, aku memiliki tanah yang sangat luas yang kutaklukkan. Bagaimana jika sekarang aku menyelenggarakan upacara pengorbanan besar yang akan memberikan manfaat dan kebahagiaan bagiku untuk waktu yang lama?’ Dan ia memanggil penasehat kerajaan, dan menceritakan pemikirannya. ‘Aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Ajarilah aku, Bhante, bagaimana hal ini dapat memberi manfaat dan kebahagiaan bagiku untuk waktu yang lama.’

“Sang penasehat kerajaan menjawab: ‘Negeri Baginda diserang oleh para pencuri. Ia dirusak; desa-desa dan kota sedang dihancurkan, perbatasan dikuasai oleh perampok. Jika Baginda mengutip pajak atas wilayah itu, itu adalah suatu kesalahan. Jika Baginda berpikir: “Aku akan melenyapkan gangguan para perampok ini dengan mengeksekusi dan hukuman penjara, atau dengan penyitaan, ancaman, dan pengusiran”, gangguan ini tidak akan berakhir. Mereka yang selamat kelak akan mengganggu negeri Baginda. Namun, dengan rencana ini engkau dapat secara total melenyapkan gangguan ini. Kepada mereka yang hidup di dalam kerajaan ini yang bermata pencaharian bertani dan beternak sapi, bagikanlah benih dan makanan ternak; kepada mereka yang berdagang, berikanlah modal; yang bekerja melayani pemerintahan, berikanlah upah yang sesuai. Maka orang-orang itu, karena tekun pada pekerjaan mereka, tidak akan mengganggu kerajaan ini. Penghasilan Baginda akan bertambah, negeri ini menjadi tenang dan tidak diserang oleh para pencuri, dan masyarakat, dengan hati yang gembira, akan bermain dengan anak-anak mereka, dan akan menetap di dalam rumah yang terbuka.’

“Dan dengan mengatakan: ‘Jadilah demikian!’ raja menerima nasihat sang penasehat kerajaan: ia memberikan benih dan makanan ternak, modal kepada yang berdagang, upah yang sesuai kepada mereka yang bekerja melayani pemerintahan. Kemudian mereka, karena tekun dalam pekerjaan mereka, tidak mengganggu kerajaan. Penghasilan raja bertambah; negeri menjadi tenang dan tidak diserang oleh para pencuri; dan masyarakat, dengan hati gembira, bermain dengan anak-anak mereka, dan menetap di dalam rumah yang terbuka.”

(dari DN 5, LDB 135–36)


Catatan Kaki:

[1] Dānaṃ sīlaṃ pariccāgaṃ, ajjavaṃ maddavaṃ tapaṃ; akkodhaṃ avihiṃsañca, khantiñca avirodhanaṃ.

[2] Tanggal lima belas dari dwi mingguan penanggalan lunar, hari bulan purnama, yang ditetapkan untuk menjalankan kegiatan keagamaan khusus.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #38 on: 15 February 2018, 04:39:37 PM »
Penutup
Oleh Hozan Alan Senauke

Jika Buddha Shakyamuni adalah Tabib Agung, maka ajaran-ajaran beliau adalah obat yang kita butuhkan untuk membawa kehidupan kita ke dalam keseimbangan dan keharmonisan. Obat tidak ada gunanya jika ia tetap berada dalam lemari. Ajaran-ajaran dan teks-teks tidak ada gunanya jika mereka dibiarkan tanpa dibuka di sebuah rak. Obat dan ajaran-ajaran harus sama-sama diterapkan ke dalam tubuh dan pikiran kita, di mana mereka dapat mengkatalisasi kebebasan dari penderitaan.

Ketika Bhikkhu Bodhi membagikan saya naskah buku ini (di bawah judul aslinya, Memelihara Kerukunan Sosial), jelas bahwa kumpulan ini memiliki daya tarik lebih luas bagi para umat Buddha di Asia dan di Barat, mereka yang memahami bahwa dukkha adalah bersifat personal dan dibentuk secara sosial. Tidak ada kehidupan individu yang terpisah dari pengaruh bersama komunitas, masyarakat, dan bangsa. Masyarakat ada sebagai bentukan bersama dari semua yang hidup di dalamnya. Walaupun teknologi telah mempercepat langkah dan lingkup hubungan dan kelompok manusia, realitas sosial dari saling menciptakan bersama adalah berlaku pada masa dan tempat Sang Buddha seperti juga masa kita.

Saya benar tentang daya tarik buku ini. Ketika saya menunjukkan kepada teman-teman sebuah cetakan dari Memelihara Kerukunan Sosial, mereka selalu menginginkan memperoleh sebuah salinan. Dengan izin Bhikkhu Bodhi, edisi bahasa Burma dan Inggris yang sangat terbatas dari versi yang lebih awal diterbitkan di Myanmar pada tahun 2014. Pertanyaan-pertanyaan tentang penerbitan dalam bahasa-bahasa lokal telah muncul saat itu dari Thailand, Sri Lanka, India, dan Jepang. Semua ini menggembirakan, tetapi pertanyaannya tetap: Bagaimana kita dapat menggunakan ajaran-ajaran ini sebagai obat yang baik untuk memelihara kerukunan sosial?

Lebih dari beberapa tahun pengajaran saya telah mengeksplorasi pertanyaan ini. Dasar Buddhis saya tumbuh dari landasan Mahayana dari Buddhisme Zen. Sejak sekolah menengah atas saya telah menjadi seorang aktivis sosial, dan itu berlanjut sampai sekarang dalam usia saya yang sudah enam puluhan tahun dengan cara yang terasa bergema sesuai Dharma. Selama hampir dua puluh lima tahun saya telah dengan dekat terlibat dalam Buddhist Peace Fellowship dan International Network of Engaged Buddhists, dua suara organisasional yang dihormati dalam Buddhisme humanis secara sosial. Karena kecenderungan pribadi saya selalu menjadi seorang internasionalis, yang melihat keterkaitan terbalik antara kesejahteraan dan hak istimewa di Barat dan kemiskinan dari berjuta-juta orang di sekeliling dunia. Melalui lingkaran BPF dan INEB saya berhubungan dekat dengan penderitaan dari mereka yang tidak diberikan hak istimewa dibandingkan saya, dan dengan keyakinan besar mereka dalam kekuatan yang membebaskan dari Buddhadhamma.

Ini khususnya berlaku di India, di mana suatu kebangkitan kembali Buddhis telah memunculkan gerakan yang kuat di negeri kelahiran Sang Buddha itu. Gerakan ini, yang terinspirasi pada pertengahan abad keduapuluh oleh seorang pemimpin religius dan sosial yang visioner, B. R. Ambedkar, telah mengakar dalam komunitas-komunitas yang paling tertindas di India, mereka yang selama ribuan tahun telah digolongkan sejak lahir sebagai yang tidak boleh disentuh. Saya bekerja di antara para Buddhis Ambedkarite ini, dan bersama mereka saya telah mengeksplorasi bagaimana menggunakan isi buku ini sebagai ajaran-ajaran yang hidup. Dalam kata penutup ini saya akan membagikan gambaran komunitas ini dan bagaimana kita mempelajari ajaran-ajaran sosial Sang Buddha.

Karena kebangkitan Buddhisme India ini sedikit diketahui di Barat, sebagai awal saya memberikan beberapa latar belakangnya. Dua ribu lima ratus tahun yang lalu, ketika Sang Buddha mencapai pencerahan, sebuah komunitas yang termasuk para bhikkhu dan bhikkhuni, umat awam laki-laki dan perempuan, dari semua kasta terbentuk di sekeliling beliau. Sistem kasta yang turun-temurun, yang berdasarkan pada pekerjaan dan warna kulit, telah ada pada masa Sang Buddha. Ini sejak saat itu telah berevolusi menjadi suatu sistem sosial yang rumit dan hierarkis dengan ketidaksetaraan yang bertingkat. Di puncak piramida terdapat para brahmana atau pendeta keagamaan. Sang Buddha sendiri dilahirkan dalam kasta bangsawan, kshatriya. Di bawah mereka terdapat kasta pedagang dan petani, vaishya. Shudra adalah para buruh dan pelayan. Dan di bawah mereka terdapat Yang Tidak Boleh Disentuh, yang lebih belakangan ini disebut Dalit, yang berarti, dalam bahasa Hindi dan Marathi, orang-orang yang “rusak” atau berada di bawah roda penindasan.[1] Visi egalitarian Sang Buddha memasukkan mereka semua, tetapi kedudukan dan kemuliaan dinilai berdasarkan perbuatan etis dan pemahaman. Dalam Suttanipāta (v. 142) Sang Buddha mengatakan:

Seseorang tidak menjadi seorang buangan melalui kelahiran,
bukan melalui kelahiran seseorang menjadi seorang brahmana.
Melalui perbuatan seseorang menjadi seorang buangan,
melalui perbuatan seseorang menjadi seorang brahmana.

Tetapi Buddhisme telah tunduk pada penegasan kembali nilai-nilai brahmanis sejak milenium pertama Masehi. Belakangan ia secara sistematis ditindas oleh serbuan Muslim sejak abad kedua belas, dan dengan demikian ia lebih kurang lenyap sebagai suatu kekuatan kultural yang tersendiri di India. Tentu saja terdapat sisa-sisa yang terjalin dalam budaya itu. Penemuan situs-situs terkenal Buddhis abad kesembilan belas menginspirasi revivalis Buddhis Sri Lanka Anagarika Dharmapala untuk menyuarakan kelahiran kembali Buddhisme di India, di mana beliau pada akhirnya mendirikan Maha Bodhi Society.

Namun demikian kasta masih merupakan unsur yang menentukan dalam masyarakat India. Dalam The Age of Kali William Dalrymple menulis:

Dalam banyak desa India, kasta masih menentukan tidak hanya apa yang anda kenakan, tetapi di mana anda tinggal, apakah perdagangan yang anda ikuti, kepada siapa anda menikah, bahkan warna cat rumah anda. Setiap rincian kehidupan di desa tradisional India, di mana 80 persen orang India masih tinggal, diatur.[2]

Pada tahun 1920-an seorang tokoh baru muncul secara terkemuka, yang memperhatikan hak-hak asasi manusia, religius, dan ekonomi dari para Yang Tidak Boleh Disentuh atau Dalit, populasi besar dari komunitas yang tertindas di India. B. R. Ambedkar merupakan seorang pemikir dan penulis yang berpengaruh, yang berasal dari kasta Mahar yang tidak boleh disentuh di India tengah. Melalui kebaikan kecemerlangannya, Ambedkar memenangkan beasiswa di Perguruan Tinggi Elphinstone di Bombay dan mendapatkan gelar lanjutan di Universitas Columbia di New York dan Sekolah Ekonomi London. Ia kembali dari Barat pada tahun 1920-an sebagai salah seorang yang paling terpelajar di India kolonial, yang masih menghadapi diskriminasi yang telah menjadi nasib semua Yang Tidak Boleh Disentuh.

Dalam pengajaran universitas dan pekerjaan legalnya Ambedkar menjadi seorang penyokong yang bersemangat bagi para Yang Tidak Boleh Disentuh. Sementara Gandhi memilih jalan antikolonial dan nasionalis, kita dapat melihat Dr. Ambedkar adalah pemimpin gerakan hak-hak sipil. Ia bekerja untuk menghancurkan penindasan kasta di India ketika rezim kolonial bertahan, sampai setelah Perang Dunia II dan runtuhnya kerajaan Britania, dan sampai dasawarsa pertama kemerdekaan India. Walaupun konflik tajam dengan Gandhi, setelah kemerdekaan Ambedkar dipilih sebagai Menteri Hukum pertama India. Ia umumnya dilihat sebagai “bapak konstitusi India,” suatu naskah yang visioner bahkan saat ini.

Pada tahun 1930-an Ambedkar menyimpulkan bahwa agama Hindu yang dominan, dengan diskriminasi kasta yang melekat, tidak mungkin bereaksi pada reformasi politik atau religius. Pada Konferensi Kelas-Kelas yang Tertindas Yeola tahun 1935, Ambedkar menyatakan: “Saya terlahir sebagai seorang Hindu, tetapi saya dengan sungguh-sungguh menegaskan kalian bahwa saya tidak akan meninggal sebagai seorang Hindu.” Pada dasawarsa berikutnya ia menyelidiki agama Islam, kr****n, dan Sikh – dan dirayu oleh masing-masing kelompok ini, yang menyadari dengan baik bahwa perubahan keyakinan Ambedkar akan membawa serta jutaan orang Yang Tidak Boleh Disentuh dan harapan kekuatan politik yang lebih luas. Tetapi adalah Buddhisme, yang merupakan agama asli India, terbuka pada semua orang, dan sangat rasional, yang memenangkan hati dan pikirannya.

Pada tahun 1956, merasakan bayangan kematian, B. R. Ambedkar mengatur perubahan keyakinannya ke dalam Buddhisme. Pada tanggal 14 Oktober 1956, di Deekshabhoomi (Tanah Perubahan Keyakinan) di Nagpur, ia mengambil Tiga Perlindungan dalam Buddha, Dharma, dan Sangha, dan menerima lima sila dari bhikkhu senior Buddhis Theravadin di India, U Chandramani. Kemudian Ambedkar melakukan suatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya, khususnya tidak pernah terjadi bagi seorang umat awam Buddhis. Berbalik kepada empat ratus ribu orang pengikut Yang Tidak Boleh Disentuh yang hadir, ia menawarkan mereka perlindungan dan dua puluh dua ikrar, yang termasuk lima sila dan pelepasan klausul khusus praktek dan kepercayaan Hindu. Tindakan perubahan keyakinan yang disengaja ini menandai pembaharuan Buddhisme yang sangat penting di India. Sejumlah perubahan keyakinan massal diikuti dalam minggu demi minggu, yang mengubah identitas spiritual jutaan orang Dalit. Tetapi pada awal bulan Desember, kurang dari dua bulan kemudian, Dr. Ambedkar meninggal dunia, disebabkan oleh komplikasi diabetes dan sakit jantung.

Hampir enam puluh tahun kemudian Buddhisme masih berakar di antara komunitas Dalit. Vihara-vihara di tepi jalan dan kuil-kuil sederhana dapat ditemukan di seluruh sudut negeri. Sebuah laporan Penelitian Pew tahun 2012 menempatkan populasi Buddhis India hampir sepuluh juta orang. Buddhis yang tidak menyatakan diri semakin meningkatkan jumlah itu. Tetapi diskriminasi kasta – dengan kejahatan dan pembunuhan sehari-hari terhadap yang paling miskin dari kaum miskin – tetap menjadi fakta yang pahit dan kejam dari kehidupan orang India. Tujuan kerukunan sosial, yang sangat jelas dinyatakan oleh Sang Buddha dan oleh Dr. Ambedkar, masih merupakan mimpi yang jauh.

Nagaloka, di Nagpur di mana upacara perubahan keyakinan pertama terjadi, adalah sebuah kampus seluas lima belas acre didedikasikan pada kesatuan Buddhisme dan perubahan sosial, sesuai dengan visi Ambedkar. Jantung fisik dari kampus yang damai ini adalah sebuah Buddha emas setinggi empat puluh kaki, yang dipahatkan sedang berdiri dengan kokoh dengan tangannya diangkat dalam abhaya mudra, yang menghasilkan keamanan, menghalau rasa takut. Dalam Nagaloka terdapat program pelatihan residensial, Institut Pelatihan Nagarjuna (Nagarjuna Training Institute/NTI), yang mengajarkan anak-anak muda meditasi, dasar Buddhisme, pengorganisasian sosial, dan pekerjaan Dr. Ambedkar. Sejak tahun 2002 lebih dari delapan ratus anak muda perempuan dan laki-laki antara usia tujuh belas dan dua puluh lima, yang berdatangan dari hampir setiap negara bagian Indian, telah menyelesaikan program sembilan bulan NTI. Banyak yang melanjutkan untuk tinggal dan menjalankan studi tahun kedua atau ketiga sebelum kembali ke daerah asal mereka atau masuk ke pendidikan yang lebih tinggi.

Saya telah bekerja bersama anak-anak muda ini selama enam tahun terakhir. Upaya yang sedang saya lakukan adalah menyediakan dukungan ekonomi bagi para mahasiswa NTI, dengan mengumpulkan dana di Barat dengan membagikan pengalaman saya tentang vitalitas sosial dan spiritual dari Buddhisme India “baru” ini. Setiap kali saya mengunjungi Nagaloka saya memberikan kuliah yang singkat tetapi intensif yang mengeksplorasi wilayah di mana praktek Buddhis dan tindakan sosial bertemu. Kita telah menjalankan unit tentang permasalahan gender dalam sejarah Buddhisme dan dalam masyarakat India yang sezaman; ras, kasta, dan diskriminasi – dengan melihat pada gerakan Hak-Hak Sipil AS dan masalah kaum yang tidak boleh disentuh di India; penuturan cerita sebagai suatu cara menyeberangi hambatan sosial; dan ajaran-ajaran Buddhis Dr. Ambedkar.

Pada bulan November 2014 saya telah menggunakan buku ini sebagai teks inti kami, dengan mengambil beberapa bagian penting dalam kuliah satu minggu:

•   Pemahaman benar
•   Komunitas
•   Ucapan yang Tepat
•   Kemarahan
•   Perselisihan dan Menyelesaikan Perselisihan

Ajaran-ajaran dalam bagian-bagian ini, dan seluruh buku Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial, sangat jelas dalam bahasa dan tujuannya. Langkah demi langkah mereka menunjukkan para praktisi menghindari apa yang tidak bermanfaat dan menuju yang bermanfaat. Tetapi dalam ruang kelas kami menemukan suatu tantangan. Seperti yang telah dinyatakan Bhikkhu Bodhi dalam percakapan, kami menemukan bahwa Sutta Piṭaka adalah sedikit ambigu – dan dunia yang kita tinggali tidak. Untuk menyatakan dengan cara lain, diskusi ruang kelas kami, yang dimulai dengan teks kanon yang tidak ambigu, dengan cepat tiba pada situasi di mana pilihan yang bermanfaat tidak mudah untuk dikenali. Tanpa kebijaksanaan Sang Buddha yang memotong intan, kita sering menemukan diri kita dalam ketidakpastian, menyadari motivasi kita yang bercampur aduk.

Sebenarnya, suatu landasan ambiguitas ditemukan dalam paragraf ketiga dalam bab pertama, “Pandangan Benar,” yang diambil dari Majjhima Nikāya:

“Dan apakah, para bhikkhu, pandangan benar? Pandangan benar, aku katakan, ada dua jenis: ada pandangan benar yang terpengaruh oleh noda-noda, berhubungan dengan kebajikan, dan matang dalam perolehan; dan ada pandangan benar yang mulia, bebas dari noda-noda, melampaui keduniawian, sebuah faktor dari sang jalan.

“Pandangan benar yang terpengaruh oleh noda-noda” menyiratkan bahwa bahkan ketika kita berusaha melihat dan bertindak sesuai dengan Dharma, kita masih dipengaruhi oleh delusi diri. “Berhubungan dengan kebajikan” adalah menggunakan praktek Buddhis untuk apa yang kita anggap bermanfaat bagi diri sendiri. “Matang dalam perolehan” berarti menjadi atau mendapatkan suatu diri. Ini adalah cara-cara biasa atau duniawi. Pandangan benar sebagai sebuah faktor dari jalan mulia berunsur delapan, bebas dari noda-noda atau tidak ternoda, dan melampaui keduniawian, melampaui perangkap dan jerat dunia ini.

Catatan bahwa Sang Buddha tidak mengatakan bahwa pandangan benar duniawi atau biasa sama dengan pandangan salah, yang akan menjadi sudut pandang absolutis. Alasan beliau mungkin lebih bahwa pandangan benar yang terpengaruh oleh noda-noda adalah awal yang baik ... lanjutkan. Pandangan benar yang bebas dari noda-noda dan melampaui keduniawian adalah pandangan kebijaksanaan dan kejelasan menjaga Dharma dalam pikiran. Ambillah hal itu sebagai tujuan.

Bagian berikutnya, juga dari Majjhima Nikāya, menjelaskan bagaimana berlatih dengan apa yang tidak bermanfaat, yang bermakna perbuatan-perbuatan kita berakar dalam keserakahan, kebencian, dan delusi, perbuatan-perbuatan yang menyebabkan satu orang menentang orang lainnya. Beliau bertanya, “Apakah akar dari yang tidak bermanfaat?”

Membunuh makhluk hidup adalah tidak bermanfaat; mengambil apa yang tidak diberikan adalah tidak bermanfaat; perbuatan seksual yang salah adalah tidak bermanfaat; ucapan bohong adalah tidak bermanfaat; ucapan yang memecah belah adalah tidak bermanfaat; berkata kasar adalah tidak bermanfaat; omong kosong adalah tidak bermanfaat; ketamakan adalah tidak bermanfaat; permusuhan adalah tidak bermanfaat; pandangan salah adalah tidak bermanfaat.

Kita mengenali hal-hal ini sebagai sebuah versi sila Buddhis dasar, landasan moral dari latihan kita. Latihan apa yang bermanfaat hanya dengan menghindari tindakan-tindakan kebiasaan ini, yag lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

Tentu saja kita memulai di dunia ini, dengan semua pandangan tidak sempurna dan hubungan kita yang rumit. Pada awalnya para mahasiswa NTI menemukan ini bersifat mengecilkan hati. Kita manusia sering menginginkan sekumpulan instruksi ilahi, rambu-rambu yang menunjukkan kita jalan yang benar. Alih-alih, diskusi ruang kelas kami menempatkan kami dalam kerumitan kehidupan nyata dan melempar kita kembali pada penilaian, pengalaman, dan kebijaksanaan kita.

"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #39 on: 15 February 2018, 04:40:10 PM »
Ini menjadi jelas ketika kita mengambil ajaran Sang Buddha tentang ucapan. Ini dan instruksi-instruksi yang sama muncul pada beberapa titik dalam kumpulan sutta Pāli.

“Para bhikkhu, ketika ucapan memiliki lima faktor, ucapan itu diucapkan dengan baik, bukan diucapkan dengan buruk; ucapan itu tanpa cela dan tidak tercela oleh para bijaksana. Apakah lima ini? Ucapan itu diucapkan pada waktu yang tepat; apa yang dikatakan adalah benar; ucapan itu diucapkan dengan lembut; apa yang dikatakan adalah bermanfaat; ucapan itu diucapkan dengan pikiran cinta kasih. Ketika ucapan memiliki kelima faktor ini, ucapan itu diucapkan dengan baik, bukan diucapkan dengan buruk; ucapan itu tanpa cela dan tidak tercela oleh para bijaksana.” (AN 5:198)

Jadi persyaratan Sang Buddha untuk ucapan yang tepat membutuhkan kata-kata yang tepat waktu, benar, lembut, bermanfaat atau berguna, dan didorong oleh cinta kasih. Para mahasiswa Nagaloka, yang berlatih meditasi cinta kasih tradisional sehari-hari, dengan cepat menyetujui instruksi-instruksi ini, tetapi saya mengajukan serangkaian pertanyaan.

Bagaimana kita mengetahui apakah yang “tepat waktu” itu? Jika saya terlibat suatu konflik dengan seorang teman, apakah tepat waktunya bagi saya mungkin tidak demikian bagi teman saya. Apakah yang “benar” itu? Kita mengetahui bahwa kebenaran adalah (hampir) selalu hal yang subjektif. Pengalaman saya sebagai mediator adalah bahwa dua orang sering memiliki versi “kebenaran” yang bertentangan satu sama lain.

“Lembut” dan “bermanfaat” adalah juga bersifat subjektif. Seperti yang ditunjukkan Bhikkhu Bodhi dalam pendahuluan beliau pada Bagian IV (hal. 73):

... meskipun kotbah-kotbah menekankan pentingnya mengembangkan sikap yang lembut dan berbelas kasih sebelum mengkritik orang lain, mereka tidak menganjurkan berkata kepada orang lain hanya dengan cara yang menyenangkan. Sebaliknya, mereka menasehati seseorang untuk mengkritik orang lain ketika kritik itu diperlukan.

Seorang Buddha, dengan kekuatan kemahatahuan, tidak akan menebak-nebak. Tetapi bagi kebanyakan kita di sini dalam saṃsāra empat kondisi ucapan ini tidak dapat diketahui. Jika saya mengetahui teman saya dengan baik, aku mungkin membuat terkaan yang bagis tentang apa yang dapat ia anggap sebagai tepat, benar, lembut, dan bermanfaat. Dan saya mungkin menerka dengan salah. Jika perbedaan saya adalah bersama seseorang yang tidak saya kenal atau bersama orang di mana saya telah memiliki sejarah konflik dengannya, mungkin kita tidak dapat menyetujui pada satu atau lebih poin ini.

Kondisi kelima untuk ucapan yang tepat adalah “didorong oleh cinta kasih.” Sementara seseorang dapat, tentu saja, membodohi diri sendiri tentang motivasi, ini adalah aspek ucapan yang dapat kita ketahui dengan baik dalam diri kita. Menggunakan Dhamma sebagai penyelidikan, saya dapat menentukan apakah keinginan saya adalah untuk terhubung dengan orang lain atau untuk memisahkan diri saya darinya. Apakah saya berbalik menuju  makhluk-makhluk hidup atau menjauh dari mereka?

Ini memicu diskusi ruang kelas yang kaya tentang ucapan – apakah yang kita katakan kepada orang lain, kapan, dan mengapa. Nilai diskusi ini bukan bahwa semua mahasiswa mencapai kesepakatan atas masalah tersebut, tetapi bahwa kita dapat memiliki percakapan yang bersemangat dan menikmatinya. Para mahasiswa melihat bahwa mereka mereka dapat menganut pandangan-pandangan yang berbeda – menyetujui dan menolak – ketika tetap dalam hubungan satu sama lain. Ini adalah langkah pertama menuju suatu masyarakat yang berdasarkan pemikiran kritis.

Seraya kita membaca bagian lain dari buku Memelihara Kerukunan Sosial, permasalahan-permasalahan yang sama muncul. Dengan menyelidiki sepuluh “landasan bagi kekesalan” – lihat III,4 dari buku ini – membawa pada debat hidup tentang apakah kemarahan dapat dipahami dalam menghadapi kekerasan dan sistem sosial yang menekan, dan apakah kemarahan demikian memang bermanfaat.

Bab tentang “komunitas intensional” mengandung suatu kutipan dari “Buku Ketujuh” Aṅguttara Nikāya – di sini VII,3(5) – di mana Sang Buddha mengajarkan tujuh kondisi bagi kerukunan sosial kepada orang-orang Licchavi atau Vajji di India Utara kuno. Termasuk suatu nasehat bahwa “selama para Vajji tidak menculik perempuan-perempuan dan anak-anak gadis dari keluarga mereka dan memaksa mereka untuk hidup bersama, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.” Poin ini menyentuh suatu diskusi tentang pemerkosaan, perdagangan wanita, penindasan gender, dan ketakutan dalam komunitas para mahasiswa Nagaloka sendiri.

Saya melihat para mahasiswa India ini menggunakan ajaran Sang Buddha bukan sebagai dogma atau doktrin, tetapi sebagai panduan untuk melihat pada kerumitan situasi kehidupan nyata. Mereka belajar berpikir bagi diri mereka sendiri dan menerima keanekaragaman pandangan dengan menggunakan Dhamma itu sendiri.

Dalam sebuah esai tahun 1950, “Buddha dan Masa Depan Agamanya,” Dr. Ambedkar mempertimbangkan perubahan keyakinan komunitas Dalit dari yang tidak boleh disentuh menjadi Buddhisme. Ia melihat suatu tradisi spiritual yang berdasarkan pemikiran kritis:

[Sang Buddha] berkata kepada Ananda bahwa agamanya didasarkan pada pemikiran dan pengalaman dan bahwa para pengikutnya tidak seharusnya menerima ajarannya sebagai benar dan terikat hanya karena mereka berasal dari beliau. Didasarkan pada pemikiran dan pengalaman mereka bebas untuk mengubah atau bahkan meninggalkan ajarannya yang mana pun jika ini ditemukan bahwa pada suatu masa atau suatu situasi mereka tidak berlaku .... Beliau menginginkan bahwa ini seharusnya selalu hijau dan dapat melayani pada semua masa .... Tidak ada guru agama lain yang telah menunjukkan keberanian demikian.

Keadaan Buddhis India yang buruk terutama pada keadaan kultural. Tetapi kuliah yang bersisi banyak yang saya jelaskan, menggunakan buku Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial sebagai sebuah titik loncatan, adalah tidak dapat dihindari. Saya memiliki jenis diskusi provokatif yang sama di Burma dan di AS. Realitas tidak dapat dilingkupi dengan pernyataan-pernyataan yang pasti benar. Bahkan orang-orang yang berniat baik dapat menganut beranekaragam pandangan. Tetapi suatu visi yang sebenarnya atas kerukunan sosial dan toleransi menunjuk pada suatu dunia yang lebih damai.

Dalam pengertian praktis, mengembangkan kehendak kita untuk terhubung adalah kuncinya, yang dilakukan melalui pelatihan dan praktek ajaran-ajaran ini. Sang Buddha terus-menerus menyatakan tantangan dan perlunya praktek ini. Beliau mengatakan:

Seseorang yang membalas seorang yang marah dengan kemarahan
dengan demikian membuat hal-hal lebih buruk bagi dirinya.
Tidak membalas seorang yang marah dengan kemarahan,
seseorang memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.

Ia berlatih demi kesejahteraan kedua pihak –
dirinya sendiri dan orang lain –
ketika, mengetahui bahwa musuhnya marah,
ia dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaiannya.

Ketika ia mencapai kesembuhan bagi kedua pihak –
dirinya sendiri dan orang lain –
orang-orang yang menganggapnya orang bodoh
adalah tidak terampil dalam Dhamma.

Melalui usaha tekun kita, semoga kita belajar menemukan kerukunan bahkan dalam masa-masa konflik. Seraya kita tumbuh dalam kebijaksanaan semoga kita merenungkan bahwa “negeri kita menjadi tenang dan tidak diserang oleh para pencuri; dan masyarakat, dengan hati gembira, bermain dengan anak-anak mereka, dan tinggal di dalam rumah yang terbuka.”

Catatan Kaki:

[1] Untuk lebih rincinya tentang Dalit, mantan “Yang Tidak Boleh Disentuh”, Dr. Ambedkar, gerakan Buddhis “baru” di India, dan para murid di mana saya telah bekerja bersama mereka, lihat buku saya Heirs To Ambedkar: The Rebirth of Engaged Buddhism in India (Berkeley: Clear View Press, 2013).

[2] William Dalrymple, The Age of Kali: Indian Travels and Encounters (New York: Penguin, 1998), 115.

S E L E S A I

:lotus: :lotus: :lotus:
« Last Edit: 19 February 2018, 02:15:13 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Hanni_Tan

  • Tamu
  • *
  • Posts: 38
  • Reputasi: 2
  • Everything dependently arising
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #40 on: 15 February 2018, 08:02:46 PM »
Xie2..  ^:)^ ^:)^ ^:)^ ^:)^ _/\_ _/\_ _/\_ini uda semuanya diterjemahkan kah?
« Last Edit: 15 February 2018, 08:04:18 PM by Hanni_Tan »

Offline Hanni_Tan

  • Tamu
  • *
  • Posts: 38
  • Reputasi: 2
  • Everything dependently arising
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #41 on: 15 February 2018, 08:03:22 PM »
Xie2.. ^:)^ ^:)^ ^:)^ ^:)^ ^:)^ ini uda semuanya diterjemahkan kah?

Offline Arya Karniawan

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 280
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
  • Hooaaammmm..... :3
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #42 on: 17 February 2018, 11:27:16 PM »
Akhirnya dituliskan juga disini...  ;D
#Jhindra

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Kotbah Sang Buddha tentang Kerukunan Sosial
« Reply #43 on: 19 February 2018, 02:15:34 PM »
Xie2..  ^:)^ ^:)^ ^:)^ ^:)^ _/\_ _/\_ _/\_ini uda semuanya diterjemahkan kah?

Udah
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa