Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha  (Read 16787 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #30 on: 01 August 2015, 12:09:03 AM »
Jati diri versi Buddha 1,karena ada masa lalu maka ada masa sekarang.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #31 on: 04 June 2019, 01:27:30 PM »
Salam  _/\_

IMO :
Setelah mengetahui "sepotong hati"...
Walaupun "ber dukkha hati"...
Berusahalah "se penuh hati"...
Maka akan menuju "ke kosong an hati"

Setelah memahami,
"sepotong hati"
"ber dukkha hati"
"se penuh hati"
"ke kosong an hati"


"lepaskanlah hati"

 _/\_
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Yang ini fangshen ...tapi tidak fangshen juga mereka . banyak dibawah halusinasmu sampai hilang kemanusiaan mereka tedy bear?

DIRI (menurut pandangan seorang Zen Master)
Dalam Buddhadharma, diri itu dapat dilihat dengan 3 cara (tingkatan): diri kecil, diri universal dan tanpa diri. Kebanyakan orang merasa diri mereka sebagai diri sejati, mereka itu ditutupi kekelirutahuan (delusi).
Diri kecil adalah: proses penilaian terus menerus terhadap apa yang kita tangkap (persepsi) dan kita nilai, seperti, "ini kotaku, temanku, sukuku, situasiku, ...". Dan ini menciptakan rasa diri kecil.
Diri besar atau universal tampaknya kekal abadi. Dalam dhyana dan samadhi, seseorang dapat mengalami diri spiritual yang absolut dan kekal. Tetapi diri besar sebenarnya tidaklah kekal, ia berubah.
Diri besar adalah pengalaman yang datang dan pergi, seperti orang-orang yang mengalami wahyu religius atau spiritual. Disaat itu, mereka merasa bersatu dengan alam semesta - seolah-olah mereka adalah jagad raya. Setelah pengalaman itu pergi, mereka akan biasa kembali, tetapi kesan serta perasaannya bakal tetap bertahan, dan mereka bakal merasa lebih lega, lebih tenang, penuh kasih, dan percaya diri.
Tanpa diri maksudnya : Tidak ada kemelekatan dan rasa diskriminasi (pilih kasih) yang membeda-bedakan. Contohnya misalkan seorang Buddhist yang tidak punya kemelekatan terhadap gagasan 'umat Buddhist' tersebut, maka ketika ia berinteraksi dengan orang beragama lain, tidak ada rasa membeda-bedakan. Jadi tidak ada kemelekatan pada rasa identitas, misalnya rasa: suku, ras, golongan, agama, sekte, aliran, negara dll.
Orang yang mencapai pencerahan sempurna punya kebijaksanaan dan kebajikan, tetapi mereka sendiri MALAH tidak melihatnya seperti itu. Kalau mereka berfikir, "Aku punya kebijaksanaan dan kebajikan", itu berarti mereka justru melekat pada suatu diri, dan mereka belum benar-benar terbebas.
(Zen Wisdom, by Ch'an Master Sheng Yen, penerbit Suwung)
Permulaan terkena kesaktian lebih tinggi.
Pemicu tercepat karena makanan dan minuman. Sudah waktunya kr di kontrol....cuma meninggalkan jejak waktu sejarah . karena baru dapat hal yang sama sambil memantau cara kerja...dan perilaku siluman dulu. .

Mata terasa sakit karena berusaha memaksa persepsi...aku bisa ingat nanti per kondisi kejadian . tidak lama setelah aku ini berubah2 lho. ..mengontrol setiap hari korbannya. ..hahaha....
« Last Edit: 04 June 2019, 01:35:36 PM by Sostradanie »
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)