Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Info Seputar Kesehatan Sehari-hari  (Read 1032 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline DeNova

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.065
  • Reputasi: 106
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Info Seputar Kesehatan Sehari-hari
« on: 05 September 2017, 07:44:25 AM »
Thread ini dibuat untuk meneruskan thread saya 2 tahun lalu
https://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=25728.msg469789#msg469789
mari kita berbagi info kesehatan umum, hal - hal seputar kesehatan, obat2an, gejala penyakit dan penanganannya secara sederhana bersama2....
semoga thread ini bermanfaat untuk sarana belajar kita semuanya....
apabila ada yang mempunyai informasi seputar kesehatan lainnya boleh berbagi asalkan menyertakan sumber yang valid berdasarkan jurnal ilmiah yangs udah dipublikasikan sehingga dapat dikaji bersama...

akhir kata selamat menikmati thread saya ini... _/\_ _/\_ _/\_
Life is must learning,  trying and never giving up to all problem that come to our life.
If life give you one hundred reason to beat you down then find one thousand reason to revive again and again.

Offline DeNova

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.065
  • Reputasi: 106
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Info Seputar Kesehatan Sehari-hari
« Reply #1 on: 05 September 2017, 09:04:05 AM »
FLU, apa yang terbersit di benak kita apabila dengar istilah itu... suatu gejala penyakit yang ditandai dengan demam, menggigil, batuk dan pilek???
Berikut pengertian flu menurut wikipedia:
INFLUENZA, yang lebih dikenal dengan sebutan flu, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus RNA dari familia Orthomyxoviridae (virus influenza), yang menyerang unggas dan mamalia. Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah menggigil, demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala berat, batuk, kelemahan, dan rasa tidak nyaman secara umum.[1]

FLU, merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sering dijumpai pada dewasa maupun anak-anak, sering dikenal dengan istilah common cold, namun secara medis istilahnya bisa sangat bervariasi seperti Rhinitis, Rhinofaringitis atau nasofaringitis. Penyakit ini menimbulkan gejala mulai dari demam, pilek meler, hidung mampet, bersin, batuk, napas berbunyi grok2 hingga nyeri tenggorok.

SELESMA
Penyakit ini sering keliru dengan FLU, padahal keduanya berbeda. Selesma disebabkan oleh 100-200 jenis virus yang biasa menginfeksi saluran napas. Walaupun virus flu salah satu penyebabnya namun bukan yg tersering. Rhinovirus adalah penyebab tersering salesma (rhino: hidung), namun biasanya tidak diperiksa apakah penyebabnya oleh dokter karena hampir semua selesma adalah penyakit swasirna atau membaik secara alamiah. jadi sangatlah keliru jika menyebut semua selesma adalah flu, selesma dapat dikatakan sebagai flu jika didapatkan virus flu sebagai penyebabnya.

Penegakan diagnosa selesma sangat mudah dibuat oleh dokter bahkan oleh org awam sekalipun karena sebagian besar keluhan saluran napas atas yang disertai infeksi adalah selesma karena virus hanya pada beberapa kasus aja yang ada infeksi tambahan oleh bakteri, oleh karenanya SANGAT TIDAK TEPAT jika selesma diberikan ANTIBIOTIK, karene antibiotik tidak dapat membunuh virus. Pemberian antibiotik untuk infeksi virus tidak ada gunanya, bahkan akan meningkatkan resiko reisisten antibiotik.

FLU, adalah kependekan dari influenza yang merupakan nama virus yang menginfeksi saluran napas. Berbeda dari virus lain, influenza dapat menyebabkan radang saluran napas bagian atas dan bawah hingga ke paru. Radang paru atau pneumonia ini merupakan penyakit yeng berbahaya karena dapat menyebabkan kematian, sebagai contohnya adalah virus flu burung H1N1.

Ada 2 macam kekeliruan penggunaan istilah FLU:
1. Flu digunakan secara keliru untuk menyebut penyakit ISPA yaitu selesma
2. Flu digunakan untuk menyebut gejala penyakit yaitu pilek.
Satu kekeliruan lagi yaitu nama penyakit FLU Singapura, yaitu penyakit yang menyerang lapisan dalam rongga mulut berupa sariawan dan telapak tangan dan kaki berupa bintil2 merah, penyakit ini sama sekali bukan flu. Seseorang yang telah diimunisasi influenza masih dapat terkena selesma yang diesebkan oleh virus selain influenza. Imunisasi flu hanya melindungi pasien dari infeksi flu, tetapi tidak dapet melindungi dari infeksi oleh 100-200 jenis virus lain penyebab selesma.

Selesma merupakan penyakit yang sangat mudah menular dari percik renik saluran napas pada saat pasien bersin atau batuk, walau tidak menyebabkan kematian namun mengganggu kenyamanan dan produktivitas. Cara mengurangi resiko terkena selesma apapun virus penyebabnya adalah yang pertama dengan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga secara umum tidak mudah terkena penyakit infeksi. Peningaktan daya tahan tubuh ini dapat dicapai dengan pola amakn optimal dan sehat, cukup istirahat dan olehraga teratur serta menghindari kebiasaan buruk seperti merokok.
Bila terjangkit selesma maka terapkan etiket batuk pilek seperti tutup hidung dan mulut dengan lengan pada saat bersin dan atau batuk. Jangan menggunakan telapak tangan agar sewaktu kita bersalaman atau memegang benda, virus penyebab selesma akan berpindah dan dapat menulari orang lain
Disadur dari Artikel Kompas Klasika 30 Maret 2014 oleh dr, Darmawan B. Setyanto (IDAI)

Daftar pustaka:
[1]"Influenza: Viral Infections: Merck Manual Home Edition". www.merck.com.
Life is must learning,  trying and never giving up to all problem that come to our life.
If life give you one hundred reason to beat you down then find one thousand reason to revive again and again.

Offline DeNova

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.065
  • Reputasi: 106
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Info Seputar Kesehatan Sehari-hari
« Reply #2 on: 05 September 2017, 09:28:32 AM »
PENANGANAN DIARE PADA ANAK

DIARE adalah buang air besar yang frekuesinya lebih sering dan konsistensi tinja lebih encer dari biasanya. Selama terjadi diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat. Pada saat yang bersamaan, usus kehilangan kemampuannya untuk menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan kepadanya. Pada kasus yang ringan dimana proses penyerapan belum terganggu, berbagai cairan yang diberikan kepadanya dapat mencegah dehidrasi. Lebih kurang 10% episode diare disertai dehidrasi /kekurangan cairan secara berlebihan. Bayi dan anak yang lebih kecil lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding anak yang lebih besar dan dewasa. Oleh karena itu, mencegah atau mengatasi dehidrasi merupakan hal penting dalam  penanganan diare pada anak
Infeksi baik itu oleh virus, bakteri dan parasit merupakan penyebab diare tersering. Virus, terutama Rotavirus merupakan penyebab utama (60-70%) diare infeksi pada anak, sedangkan sekitar 10-20% adalah bakteri dan kurang dari 10% adalah parasit.

CAIRAN REHIDRASI ORAL (CRO) atau yang dikenal dengan nama ORALIT adalah cairan yang dikemas khusus, mengandung air dan elektrolit digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare.

Tata laksana
Pengamatan klinis merupakan langkah awal yang penting dalam serangkaian penanganan diare pada anak, terutama dalam hal menemukan  derajat dehidrasi. Adanya darah di dalam tinja harus dipikirkan adanya infeksi usus oleh bakteri patogen. Peningkatan jumlah leukosit dalam tinja merupakan petanda adanya infeksi bakteri.

Terapi rehidrasi
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mencegah atau mengatasi dehidrasi pada anak yang mengalami diare, yaitu
(1) mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi,
(2) mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung, dan
(3) pemberian cairan rumatan.

Berikut penanganan dehidrasi pada anak berdasarkan derajat keparahan dehidrasi yang dialami:
A. Tanpa dehidrasi
Pada keadaan ini, buang air kecil masih seperti biasa. ASI diteruskan, tidak perlu membatasi atau mengganti makanan, termasuk susu formula. Dapat diberikan CRO 5-10 ml setiap buang air besar cair.

B. Dehidrasi ringan-sedang
Anak terlihat haus dan buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering.  Pada keadaan ini, anak harus diberikan cairan rehidrasi dibawah pengawsan tenaga medis, sehingga anak perlu dibawah ke rumah sakit. CRO diberikan sebanyak 15-20 ml/kgBB/jam. Setelah tercapai rehidrasi, anak segera diberi makan dan minum. ASI diteruskan. Pemberian minuman seperti cola, ginger ale, apple juice, dan minuman olah raga (sports drink) umumnya mengandung kadar karbohidrat dan osmolaritas yang tinggi. Minuman tersebut dapat menyebabkan diare osmotik yang lebih berat disamping mengandung kadar Na yang rendah sehingga sering menyebabkan hiponatremia. Teh sebaiknya tidak digunakan sebagai cairan rehidrasi karena juga mengandung kadar Na yang rendah. Makanan tidak perlu dibatasi karena pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan. Pemberian terapi CRO cukup dilaksanakan pada ruang observasi di UGD atau Ruang Rawat Sehari.
Muntah bukan larangan untuk pemberian CRO. CRO harus diberikan secara perlahan-lahan dan konstan untuk mengurangi muntah. Keadaan anak harus sesering mungkin direevaluasi

C. Dehidrasi Berat
Selain gejala klinis yang terlihat pada dehidrasi ringan-sedang, pada keadaan ini juga terlihat napas yang cepat dan dalam, sangat lemas, kesadaran menurun, denyut nadi cepat, dan kekenayalan kulit sangat menurun. Anak harus dibawa segera ke Rumah Sakit untuk mendapat cairan rehidrasi melalui infus.

Dietetik
Memuasakan anak yang menderita diare akut hanya akan memperpanjang durasi diarenya. Air susu ibu harus diteruskan pemberiannya. Pada bayi yang telah mendapat susu formula, susu formula bebas laktosa hanya diberikan kepada bayi yang mengalami dehidrasi berat dan bayi yang secara klinis memperlihatkan intoleransi laktosa berat dan diarenya bertambah pada saat diberikan susu.  Susu tersebut  dapat diberikan selama 1 minggu. Intoleransi laktosa umumnya bersifat sementara akibat adanya kerusakkan  mukosa usus. Aktivitas laktase akan kembali normal begitu epitel mukosa usus mengalami regenerasi. 
Gejala intoleransi laktosa mencakup diare cair profus, kembung, sering flatus, sakit perut, kemerahan di sekitar anus dan tinja berbau asam.

ANTIBIOTIKA
Antibiotika tidak diberikan secara rutin pada diare akut, meskipun dicurigai adanya bakteri sebagai penyebab keadaan tersebut, karena sebagian besar kasus diare akut merupakan self limiting disease atau penyakit sembuh sendiri. Pemberian antibiotika yang tidak tepat akan memperpanjang keadaan diare akibat disregulasi mikroflora usus.

Penanganan diare secara umum:
1. Berikan oralit
2. Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan ASI-makan
4. Berikan antibiotik secara selektif
5. Berikan nasihat pada ibu/keluarga

Lalu bagaimana mensiasati memberi makan saat anak sedang diare?

1. Selalu siapkan cairan oralit untuk mengganti cairan yang keluar setelah diare.
Anak yang mengalami diare sangat rentan dehidrasi. Anak yang mengalami dehidrasi ringan sedang akan terlihat kehausan, sebaliknya bila sudah mengalami dehidrasi berat maka ia malas minum. Cegah si kecil mengalami dehidrasi dengan memberikan oralit sekitar 10 ml/kg berat badan. Misal berat badannya 10 kg, maka ia perlu oralit 100 ml setiap diare. Bila si kecil muntah setelah minum oralit, tunda dulu sebentar lalu berikan kembali sedikit demi sedikit.

2. Lanjutkan pemberian air susu ibu (ASI)
Air susu ibu memiliki efek proteksi terhadap terjadinya diare. Saat si kecil diare, lanjutkan memberikan ASI. Kandungan laktosa yang terdapat dalam ASI tidak menyebabkan diare bertambah parah. Pemberian susu formula bebas laktosa saat sedang diare masih kontroversial, meski beberapa penelitian menunjukkan manfaat mengganti susu formula ke bebas laktosa saat sedang diare.

3. Berikan makanan yang banyak mengandung cairan
Bagi anak yang sudah mulai makan makanan padat, ayah dan bunda dapat memberikan makanan yang banyak mengandung air, seperti sup, yogurt, atau air kelapa. Pemberian buah segar (jus buah) tidak disarankan, karena mengandung sukrosa, fruktosa dan sorbitol yang menyebabkan peningkatan osmolalitas. Makanan yang mengandung tinggi kalium, seperti pisang juga bisa menjadi pilihan. Hindari memberikan minuman manis atau soda saat si kecil sedang diare.   

4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan sering
Saat sedang diare nafsu makan mungkin akan menurun, tetapi asupan makanan yang masuk tetap harus diperhatikan. Saat diare, si kecil mungkin juga merasa mual atau malah muntah, berikan makanan dalam porsi lebih kecil yang lebih mudah diterima. Makanan dalam porsi kecil ini perlu diberikan lebih sering, misal tiap 3-4 jam, untuk memenuhi kebutuhan zat gizi si kecil selama diare.

5. Lanjutkan memberikan makanan yang mengandung tinggi energi setelah sembuh dari diare
Saat sedang diare, berat badan si kecil seringkali menurun karena asupan yang kurang atau kondisi dehidrasi. Bila diare sudah perbaikan, maka ayah dan bunda harus mengejar kekurangan asupan makan tersebut dengan melanjutkan memberikan makanan yang mengandung tinggi energi agar pertumbuhan si kecil tetap terjaga saat masa penyembuhan.

disadur dari artikel dr. Badriul Hegar & dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A (Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Ikatan Dokter Anak Indonesia)
Life is must learning,  trying and never giving up to all problem that come to our life.
If life give you one hundred reason to beat you down then find one thousand reason to revive again and again.