Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Samyukta Agama - Tentang Pandangan-Pandangan & Pengetahuan Penetratif (Jilid 7)  (Read 5123 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
180. [Kotbah tentang Indria Keyakinan]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan indria keyakinan (saddhā). Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal? Yaitu, seseorang seharusnya melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal, seseorang seharusnya melenyapkan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran yang tidak kekal, demi tujuan ini seseorang seharusnya mengembangkan indria keyakinan.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “[seseorang seharusnya melenyapkan] apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, [47b] “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “indria keyakinan”, dengan cara yang sama tentang “mengembangkan indria semangat”, “indria perhatian”, “indria konsentrasi”, “indria kebijaksanaan”, delapan kotbah juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya empat puluh kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, empat puluh kotbah juga diulangi seperti di atas.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
181. [Kotbah tentang Kekuatan Keyakinan]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan kekuatan keyakinan (saddhā). Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan kekuatan keyakinan? Yaitu, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan kekuatan keyakinan. Demi tujuan melenyapkan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran yang tidak kekal, seseorang seharusnya mengembangkan kekuatan keyakinan.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, delapan kotbah juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya tentang “kekuatan keyakinan”, dengan cara yang sama tentang “kekuatan semangat”, “kekuatan perhatian”, “kekuatan konsentrasi”, “kekuatan kebijaksanaan”, delapan kotbah juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya empat puluh kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, empat puluh kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
182. [Kotbah tentang Faktor Pencerahan Perhatian]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan faktor pencerahan perhatian. Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan faktor pencerahan perhatian? Yaitu, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan faktor pencerahan perhatian. Demi tujuan melenyapkan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran yang tidak kekal, [47c] [oleh sebab itu] seseorang seharusnya mengembangkan faktor pencerahan perhatian.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, delapan kotbah juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “faktor pencerahan perhatian”, dengan cara yang sama tentang “faktor pencerahan pembedaan dharma”, “faktor pencerahan semangat”, “faktor pencerahan sukacita”, “faktor pencerahan ketenangan”, “faktor pencerahan keseimbangan”, “faktor pencerahan konsentrasi”,<54> delapan kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.

Seperti halnya lima puluh enam kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, lima puluh enam kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
183. [Kotbah tentang Pandangan Benar]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan pandangan benar. Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan pandangan benar? Yaitu, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan pandangan benar. Demi tujuan melenyapkan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran yang tidak kekal, seseorang seharusnya mengembangkan pandangan benar.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “pandangan benar”, dengan cara yang sama tentang “kehendak benar”, “ucapan benar”, “perbuatan benar”, “penghidupan benar”, “usaha benar”, “perhatian benar”, “konsentrasi benar”, delapan kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.

Seperti halnya enam puluh empat kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, enam puluh empat kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
184. [Kotbah tentang Sang Jalan]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, [48a] apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang tanpa sisa. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan [pandangan terang ke dalam] dukkha, munculnya, lenyapnya, dan sang jalan. Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan [pandangan terang ke dalam] dukkha, munculnya, lenyapnya, dan sang jalan? Yaitu, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal, seseorang seharusnya mengembangkan [pandangan terang ke dalam] dukkha, munculnya, lenyapnya, dan sang jalan. Demi tujuan melenyapkan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran yang tidak kekal, seseorang seharusnya mengembangkan [pandangan terang ke dalam] dukkha, munculnya, lenyapnya, dan sang jalan.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “[pandangan terang ke dalam] dukkha, munculnya, lenyapnya, dan sang jalan”, dengan cara yang sama tentang [“jalan yang tidak segera yang menyakitkan”], “jalan yang segera yang menyakitkan”, “jalan yang tidak segera yang menyenangkan”, “jalan yang segera yang menyenangkan”, delapan kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.<55>

Seperti halnya tiga puluh dua kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, tiga puluh dua kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
185. [Kotbah tentang Kebosanan]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang tanpa sisa. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu. Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu? Yaitu, seseorang seharusnya, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal, mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu. Demi tujuan melenyapkan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu”, dengan cara yang sama “ungkapan-ungkapan yang benar dan ungkapan Dharma tentang ketiadaan kebencian” dan “tentang ketiadaan delusi”, [48b] delapan kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.

Seperti halnya dua puluh empat kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, dua puluh empat kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.
« Last Edit: 07 May 2016, 11:03:12 AM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
186. [Kotbah tentang Ketenangan]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan (samatha). Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan? Yaitu, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan. Demi tujuan melenyapkan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “mengembangkan ketenangan”, dengan cara yang sama untuk “mengembangkan pandangan terang”, delapan kotbah juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya enam belas kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, enam belas kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.

[Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:]<56>

“Ini seharusnya dipahami sebagaimana adanya bahwa apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya].

Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini.

Seorang siswa mulia terpelajar yang dengan benar merenungkan dengan cara ini membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran. Dengan menjadi kecewa, ia tidak menyenanginya. Karena tidak menyenanginya, ia terbebaskan. Dengan terbebaskan ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”,<57> dengan cara yang sama untuk “apa yang bergemetar”, “apa yang berputar-putar”, “apa yang berpenyakit”, “apa yang melapuk”, “apa yang dengan cepat dilemparkan”, “apa yang membusuk”, “apa yang adalah bahaya langsung”, “apa yang tidak bertahan [lama]”, “apa yang tidak damai”, “apa yang berubah”, “apa yang menyebabkan kesengsaraan”, “apa yang adalah malapetaka”, “apa yang adalah kejahatan Māra”, “apa yang berada dalam kekuasaan Māra”, “apa yang adalah perlengkapan Māra”, “apa yang bagaikan busa”, “apa yang bagaikan gelembung”, “apa yang bagaikan batang pohon pisang”, “apa yang bagaikan ilusi sihir”, “apa yang lemah”, “apa yang merusak”, “apa yang adalah serangan pembunuh”, [48c] “apa yang [bagaikan] sebilah pedang”, “apa yang dirudung keirihatian”, “apa yang memiliki ciri menjadi rusak”, “apa yang menyusut”, “apa yang tua renta”, “apa yang adalah belenggu”, “apa yang terpukul”, “apa yang adalah luka ganas”, “apa yang adalah bisul”, “apa yang adalah duri tajam”, “apa yang adalah kesengsaraan”, “apa yang adalah hukuman”, “apa yang adalah rintangan”, “apa yang adalah kesempatan bagi kesedihan”, “apa yang menyedihkan”, “apa yang adalah teman buruk”, “apa yang adalah dukkha”, “apa yang kosong”, “apa yang bukan diri”, “apa yang bukan milik diri”, “apa yang adalah musuh”, “apa yang adalah rantai”, “apa yang tidak bermanfaat”, “apa yang tidak nyaman”, “apa yang adalah siksaan”, “apa yang tidak menyediakan bantuan”, “apa yang bukan suatu pulau [perlindungan]”, “apa yang tidak [menyediakan] pelindung”, “apa yang tidak dapat dipercaya”, “apa yang bukan perlindungan”, “apa yang bersifat kelahiran”, “apa yang bersifat usia tua”, “apa yang bersifat penyakit”, “apa yang bersifat kematian”, “apa yang bersifat dukacita”, “apa yang bersifat dirudung oleh dukkha”, “apa yang bersifat tidak berdaya”, “apa yang bersifat lemah”, “apa yang bersifat tidak diinginkan”, “apa yang bersifat menggoda”, “apa yang bersifat [perlu] disembuhkan”, “apa yang bersifat dukkha”, “apa yang bersifat dapat membunuh”, “apa yang bersifat menjengkelkan”, “apa yang bersifat demam”, “apa yang bersifat memiliki karakteristik”, “apa yang bersifat tertiup”, “apa yang bersifat digenggam”, “apa yang bersifat jurang yang dalam”, “apa yang bersifat kesulitan yang kasar”, “apa yang bersifat salah”, “apa yang bersifat kejam”, “apa yang bersifat dengan nafsu”, “apa yang bersifat dengan kebencian”, “apa yang bersifat dengan delusi”, “apa yang bersifat goyah”, “apa yang bersifat terbakar”, “apa yang bersifat halangan”, “apa yang bersifat bencana”, “apa yang bersifat muncul”, “apa yang bersifat lenyap”, “apa yang bersifat [seperti] tumbukan tulang”, “apa yang bersifat [seperti] sepotong daging”, “apa yang bersifat memegang sebuah obor [yang menyala] [melawan angin]”, “apa yang bersifat lubang yang berapi-api”, “apa yang bagaikan seekor ular berbisa”, “apa yang bagaikan mimpi”, “apa yang bagaikan pinjaman”,<58> “apakah yang bagaikan buah di sebuah pohon”, “apa yang bagaikan tukang jagal sapi”, “apa yang bagaikan pembunuh”, “apa yang bagaikan disentuh oleh embun”, “apa yang bagaikan air yang menggenang”, “apa yang bagaikan arus deras”, “apa yang bagaikan benang yang dipintal”, “apa yang bagaikan roda yang bergerak di air”,<59> “apa yang bagaikan tongkat yang dilemparkan ke atas [ke udara]”, “apakah yang bagaikan botol dengan racun”, “apa yang bagaikan batang pohon yang diracun”, “apa yang bagaikan bunga yang diracun”, “apa yang bagaikan buah yang diracun”, “apa yang tergoyahkan oleh kesengsaraan”.

“Dengan cara ini, para bhikkhu, engkau seharusnya mengembangkan ketenangan dan pandangan terang” ... sampai dengan ... “untuk melenyapkan apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang” ... sampai dengan ... “menghentikannya” dan “menghilangkannya”.

“Demi tujuan melenyapkan ... sampai dengan ... menghilangkan dan menghilangkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal kalian seharusnya mengembangkan ketenangan dan pandangan terang? Yaitu, demi tujuan melenyapkan ... sampai dengan ... menghentikan dan menghilangkan bentuk jasmani masa lampau, masa depan, dan masa sekarang engkau seharusnya mengembangkan ketenangan dan pandangan terang. Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini.

“Oleh karena itu ia seharusnya dipahami sebagaimana adanya bahwa apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran juga seperti ini.

“Seorang siswa mulia terpelajar yang merenungkan dengan cara ini membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran. Karena menjadi kecewa ia tidak menyenanginya, karena tidak menyenanginya ia terbebaskan. Dengan terbebaskan ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
187. [Kotbah tentang Satu Hal]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Karena dipenuhi dengan satu hal, seseorang tidak lagi dapat memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, memahami bahwa perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran adalah tidak kekal. Apakah satu hal itu di mana seseorang dipenuhi dengannya? [49a] Ini adalah nafsu keinginan.

“Dengan tidak dipenuhi dengan satu hal,<60> seseorang dapat memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, memahami bahwa perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran adalah tidak kekal. Apakah satu hal itu di mana seseorang dipenuhi dengannya? Ini adalah dipenuhi dengan ketiadaan nafsu keinginan. Seseorang yang tanpa kondisi dari nafsu keinginan dapat memahami bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, dapat memahami bahwa perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran adalah tidak kekal.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “dipenuhi dan tidak dipenuhi”, dengan cara yang sama untuk “memahami dan tidak memahami”, “akrab dengan dan tidak akrab dengan”, “memiliki pengetahuan dan tidak memiliki pengetahuan”, “sadar dan tidak sadar”, “mengamati dan tidak mengamati”, “mengukur dan tidak mengukur”, “dihalangi oleh dan tidak dihalangi oleh”, “menyebarluaskan dan tidak menyebarluaskan”, “ditutupi oleh dan tidak ditutupi”, “dilindungi oleh dan tidak dilindungi oleh”.<61>

Seperti halnya “memahami”,<62> dengan cara yang sama untuk “mengetahui”, “memahami”, “mengalami”, “mencari”, “membedakan”, “menyentuh”,<63> “merealisasi” juga seperti ini.

Seperti halnya “nafsu”, dengan cara yang sama untuk “kebencian”, “delusi”, “kemarahan”, “permusuhan”, “fitnahan”, “genggaman [dogmatis]”, “keirihatian”, “ketamakan”, “penipuan”, “bujuk rayu”, “ketiadaan malu”, “ketiadaan takut melakukan kesalahan”, “keangkuhan”, “keangkuhan lebih tinggi”, “keangkuhan berlebihan”, “keangkuhan-aku”, “keangkuhan luar biasa”, “kesombongan palsu”, “keangkuhan lebih rendah”, “kesombongan”, “kelalaian”, “kecongkakan”, “kepura-puraan yang bengkok”,<64> “mencari keuntungan”, “menarik keuntungan”, “keinginan jahat”, “banyak keinginan”, “keinginan terus-menerus”, “tidak menghormati”, “ucapan jahat”, “teman jahat”, “ketidaksabaran”, “merusak”, “nafsu rendah”,<65> “nafsu jahat”, “pandangan identitas” (sakkāyadiṭṭhi), “pandangan ekstrem”, “pandangan salah”, “kemelekatan pada pandangan”, “kemelekatan pada aturan-aturan”, “keinginan”, “kebencian”, “kelambanan dan kemalasan”, “kegelisahan dan kekhawatiran”, “keragu-raguan”, “dibingungkan oleh kegelisahan”, “kebodohan”, “kekejaman”, “kemalasan”, “kebingungan”, “ketiadaan pengamatan seksama”, “ketumpulan fisik”, “ketidakjujuran”, “ketiadaan kelembutan”, “ketiadaan keunggulan”, “pikiran nafsu”, “pikiran kebencian”, “pikiran kekejaman”, “pikiran terhadap sanak keluarga sendiri”, “pikiran terhadap negeri sendiri”, “pikiran yang mengolok-olok”, “pikiran menginginkan keluarga orang lain”, “kesedihan”, “kesengsaraan”, dengan masing-masing dari keadaan-keadaan ini sampai dengan “dengan dilindungi seseorang tidak dapat memahami lenyapnya bentuk jasmani.”

“Apakah satu hal itu? Ini adalah kesengsaraan. Karena dilindungi oleh kesengsaraan, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya bentuk jasmani, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran.

“Karena tidak dilindungi oleh satu hal, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya bentuk jasmani, seseorang tidak dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran.

“Apakah satu hal itu? Ini adalah kesengsaraan. Karena tidak dilindungi oleh satu hal ini, seseorang dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya bentuk jasmani, seseorang dapat merealisasi lenyapnya dan padamnya perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Catatan Kaki:

<1> Teks yang diterjemahkan ditemukan dalam at T II 42c15 sampai 49a25, ini menjadi jilid ketujuh dalam edisi Taishō, yang berhubungan dengan jilid ketujuh dalam urutan yang direkonstruksi dari kumpulan ini menurut, misalnya, Choong 2000: 243, Bucknell 2006: 686, dan Chung 2008: 23. Namun, Yìnshùn 1983 menempatkan jilid yang sekarang dan sebelumnya pada titik yang sangat belakangan dalam edisinya, sebagai akibat di mana SĀ 139 sampai SĀ 187 dalam edisi Taishō berhubungan dengan kotbah 1791 sampai 12.873 dalam edisinya. Jilid yang sekarang mengandung dua bagian Saṃyukta-āgama: SĀ 139 sampai SĀ 171 berhubungan dengan bagian kedua dari bagian tentang pandangan-pandangan (bagian pertama yang dimulai dengan SĀ 130 dalam jilid sebelumnya), sedangkan kotbah-kotbah sisanya SĀ 172 sampai SĀ 187 berhubungan dengan bagian tentang pengetahuan penetratif. Dalam apa yang mengikuti, identifikasi saya atas paralel Pāli berdasarkan pada Akanuma 1929/1990 dan Yìnshùn 1983, dalam hal paralel penggalan Sanskrit saya berhutang kepada Chung 2008. Di sini dan di tempat lain, saya mengadopsi bahasa Pāli untuk nama-nama diri dan istilah-istilah doktrinal untuk memfasilitasi perbandingan dengan paralel Pāli, kecuali untuk istilah-istilah seperti Dharma dan Nirvāṇa, tanpa dengan cara demikian bermaksud mengambil posisi dalam bahasa asli dari naskah kuno Saṃyukta-āgama yang digunakan untuk penerjemahan. Rekonstruksi saya atas judul masing-masing kebanyakan berdasarkan pada Akanuma 1929/1990, ketika ia tidak memberikan judul dalam katalognya saya membuat judul berdasarkan isi kotbah; dalam hal judul sama yang berulang saya menambahkan “pertama”, “kedua”, dst.

<2> SĀ 139 dalam T II 42c16 sebenarnya membaca 何所起, “dengan kemunculan apakah”, di mana terjemahan di sini dan di bawah mengasumsikan bahwa ini adalah contoh lain mencampurkan utpāda dengan upāda, seperti yang terbukti dalam penerjemahan anupādāya sebagai 不起 di tempat lain dalam kumpulan itu; cf. Anālayo 2014: 8 catatan no. 17.

<3> Paralel: SN 22.150 dalam SN III 181,27.

<4> Cara yang berbeda untuk memperoleh kebijaksanaan benar dalam SĀ 139 dan yang diberikan di sini tidak memiliki padanan dalam SN 22.150.

<5> Ini tampaknya memaksudkan bahwa pola yang ditetapkan oleh SĀ 140 dan 141 seharusnya diberikan pada SĀ 143 dan 144.

<6> Paralel: SN 22.149 dalam SN III 180,23, di mana hanya mengambil dua perasaan dari menyenangkan dan menyakitkan. Akanuma 1929/1990: 35 juga menyebutkan SN 35.105, tetapi karena ini didasarkan pada enam lingkup-indera alih-alih lima kelompok unsur kehidupan, ini tidak tampak sebagai paralel pada kotbah yang sekarang.

<7> Mengadopsi varian 於 alih-alih 形; cf. juga Yìnshùn 1983: 501 catatan no. 8.

<8> Akanuma 1929/1990: 35 menyebutkan SN 35.108 sebagai paralel pada kotbah yang sekarang (dan dua berikutnya). Karena SN 35.108 berdasarkan pada enam lingkup-indera alih-alih lima kelompok unsur kehidupan, ini tidak tampak sebagai paralel pada SĀ 149 (atau pada SĀ 150 dan SĀ 151).

<9> Paralel: SN 22.151 dalam SN III 182,17 dan SN 24.3 dalam SN III 204,32. SN 24.3 tampaknya paralel yang lebih dekat dari dua paralel ini, karena penguraiannya membawa pada pemasuk-arus, sama dengan SĀ 139 dan semua kotbah berikutnya dalam Saṃyukta-āgama sampai dengan kotbah yang sekarang, sedangkan dalam SN 22.151 penguraiannya membawa pada pencerahan sempurna.

<10> Mengadopsi varian 減 alih-alih 滅.

<11> Paralel: SN 24.5 dalam SN III 206,26.

<12> Setelah rumusan standar tentang pandangan salah ini, SN 24.5 dalam SN III 206,33 melanjutkan dengan sisa pandangan yang menurut DN 2 dalam DN I 55,21 dianut oleh Ajita Kesakambalī, yang menyatakan bahwa suatu makhluk hidup terdiri hanya dari empat unsur, dengan tidak ada yang berlanjut setelah kematian. Paralel pada DN 2 berbeda pada pandangan yang dianut oleh Ajita Kesakambalī; cf. misalnya Bapat 1948: 109–112, Basham 1951: 21–23, Vogel 1970: 28–33, Meisig 1987: 144–146, dan Macqueen 1988: 153–164.

<13> Paralel: SN 24.7 dalam SN III 210,1.

<14> SN 24.7 dalam SN III 210,1 melanjutkan ini dengan pandangan bahwa tidak ada sebab atau kondisi bagi makhluk-makhluk terkotori atau dimurnikan. Ini memiliki padanan dalam SĀ 157 dan SĀ 158; cf. catatan no. 16 dan 18 di bawah. Menurut DN 2 dalam DN I 53,25, pernyataan tidak ada sebab bagi makhluk-makhluk terkotori atau dimurnikan dan pandangan yang sekarang yang menolak kemanjuran usaha dan menegaskan pemurnian muncul dengan perpindahan dalam enam cara kelahiran dianut oleh Makkhali Gosāla. Seperti dalam kasus Ajita Kesakambalī, yang disebutkan di atas dalam catatan no. 12, paralel pada DN 2 berbeda pada apa pandangan yang mereka hubungkan pada Makkhali Gosāla (atau yang lainnya dari kelompok enam guru terkenal itu).

<15> Enam hal ini muncul kembali sebagai bagian dari pandangan yang dianut oleh Makkhali Gosāla menurut DN 2 dalam DN I 53,31 dan 54,4, dengan suatu penguraian lengkap yang diberikan kepadanya dalam AN 6.57 dalam AN III 383, 17 (walaupun di sini disajikan sebagai pandangan yang dianut oleh Pūraṇa Kassapa); cf. juga penguraian terperinci dalam komentar pada DN 2, Sv I 162,12, yang diterjemahkan dalam Bodhi 1989: 73–75, dan pembahasan dari gagasan Ajīvaka ini dalam Basham 1951: 243–246.

<16> Paralel: SN 24.5 dalam SN III 206,33; cf. catatan no. 12 di atas.

<17> Paralel: SN 24.7 dalam SN III 210,1.

<18> Ini berhubungan dengan bagian paling pertama dari pandangan dalam SN 24.7 dalam SN III 210,2; cf. catatan no. 14 di atas.

<19> Paralel: SN 24.7 dalam SN III 210,1.

<20> Ini berhubungan dengan bagian kedua dari bagian pertama pandangan dalam SN 24.7 dalam SN III 210,3; cf. catatan no. 14 di atas.

<21> Bacaan yang sekarang telah mengalami kehilangan teks, karena isi pandangannya tidak lagi dijelaskan. Penambahan saya mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 508 catatan no. 7.

<22> Paralel: SN 24.8 dalam SN III 211,4.

<23> Pandangan yang dianut oleh Pakudha Kaccāyana menurut DN 2 dalam DN I 56,21 melanjutkan dengan sama, termasuk referensi pada tidak membunuh, DN I 56,30: n' atthi hantā vā ghātetā vā, yang tidak ada dari bacaan yang berhubungan dalam SN 24.8 pada SN III 211,15, tetapi juga ditemukan dalam suatu penguraian dari pandangan ini dalam MN 76 pada MN I 517,27.

<24> SN 24.8 at SN III 211,19 melanjutkan dengan suatu penjelasan kosmologis yang terperinci yang membentuk pandangan yang dianut oleh Makkhali Gosāla menurut DN 2 dalam DN I 54,1; cf. catatan no. 30 di bawah. MN 76 dalam MN I 517,31 bersesuaian dengan SN 24.8 sejauh ia juga menggabungkan ajaran tentang tujuh tubuh dengan penjelasan kosmologis yang terperinci demikian (DN 2 alih-alih menggabungkan penjelasan ini dengan penolakan sebab-akibat dan perpindahan dalam enam cara kelahiran).

<25> Paralel: SN 24.6 dalam SN III 208,18.

<26> SĀ 162 dalam T II 44c5 membaca 復道, yang di tempat lain dalam kumpulan itu tampaknya bermakna “berbalik di jalan”. Penambahan saya dipandu oleh anggapan bahwa dalam kasus sekarang ini sebenarnya adalah kesalahan terjemahan dari bahasa asli yang sama dengan ungkapan Pāli paripanthe, “dalam penyerangan”, yang ditemukan dalam titik sekarang dalam paralel SN 24.6 dalam SN III 208,23.

<27> Kemungkinan menyerang sebuah desa atau kota tidak disebutkan dalam SN 24.6.

<28> Mengadopsi varian 剬 alih-alih 鈆; cf. juga Yìnshùn 1983: 508 catatan no. 10.

<29> Paralel: SN 24.8 dalam SN III 211,19; cf. juga SHT IV 30 h5 dan l2, Sander dan Waldschmidt 1980: 93 and 96.

<30> Dalam SN 24.8 dalam SN III 211,19 pandangan ini hanya bagian yang terakhir dari suatu pandangan yang juga menegaskan tujuh prinsip yang kekal; cf. catatan no. 24 di atas.

<31> Daftar dalam SN 24.8 juga menunjukkan beberapa perbedaan, sebagai contoh dalam kasus sekarang pada SN III 211,24 item yang sama dihubungkan dengan angka yang berbeda, demikianlah daftar itu menyebutkan 2.000 indria dan 3.000 neraka.

<32> SN 24.8 dalam SN III 211,25 alih-alih menunjuk pada “tiga puluh enam unsur nafsu”, dengan membaca rajodhātuyo, seperti halnya DN 2 dalam DN I 54,7. Penerjemahan dalam SĀ 163 dalam T II 44c17 sebagai 三十六貪界 menunjuk pada suatu istilah asli yang menggabungkan dhātu alih-alih rāga. Ini sesuai dengan saran yang dibuat oleh Basham 1951: 248 sehubungan dengan ungkapan Pāli bahwa “makna yang paling mungkin dari ungkapan itu tampaknya bagi kita adalah ‘unsur-unsur ketidakmurnian’, atau mungkin ‘nafsu’.”

<33> Padanan pada referensi pada penghidupan di sini berbeda dari sumber Pali antara ājīva dan ājīvaka: SN 24.8 dalam SN III 211,23 membaca ājīvaka°, dengan ājīva° yang ditemukan dalam Ce dan Se dan juga dalam komentar Spk II 344,1, sedangkan DN 2 dalam DN I 54,5 membaca hanya ājīva°, yang juga ditemukan dalam komentar Sv I 163,15, dan °ājīvaka ditemukan dalam Be, Ce, dan Se. Kebanyakan penerjemah dari kedua bacaan ini telah memilih menerjemahkan ungkapan itu sebagai menunjuk pada suatu penghidupan atau pekerjaan; cf. Rhys Davids 1899: 72, Neuman 1906/2004: 40, Franke 1913: 57, Woodward 1925/1975: 171, Nyānaponika 1967/2003: 201, dan Walshe 1987: 95. Namun Bodhi 2000: 996 menganggapnya menunjuk pada para Ājīvaka, yang mengomentari dalam catatan no. 261: ‘di sini saya berpihak pada Spk, di mana menjelaskan ājīvaka dengan ājīvavutti ‘cara penghidupan’”; cf. juga pembahasan dalam Basham 1951: 247.

<34> Mengadopsi varian 人 alih-alih 海, walaupun Yìnshùn 1983: 506 lebih menyukai 海. Saya mengadopsi pembacaan varian karena ini berhubungan pada pola yang terjadi, di mana suatu referensi pada tujuh dijaga dengan diikuti dengan tujuh ratus dari jenis yang sama. Pola yang sama, walaupun dengan perbedaan dalam item-item sebenarnya, dapat juga ditemukan dalam bacaan yang berhubungan dalam SN 24.8 pada SN III 212,2.

<35> Paralel: SN 24.1 dalam SN III 202,1; cf. juga SN 24.19 dalam SN III 217,14 dan SN 24.45 dalam SN III 221,7, yang memiliki suatu penyajian yang sama dengan SĀ 164 dan SN 24.1, tetapi berbeda dalam bagian terakhirnya. Walaupun semua ketiga kotbah Pāli cukup dekat untuk disebut paralel pada SĀ 164, paralel terdekat adalah SN 24.1.

<36> Pandangan dalam SN 24.1 dalam SN III 202, 2 lebih pendek, ia tidak menyebutkan api, panah, dan susu, dan sehubungan dengan matahari dan bulan ia hanya mengatakan terbitnya dan tenggelamnya.

<37> Dimulai dari kotbah yang sekarang pandangan-pandangan yang diambil memiliki padanan pada pemeriksaan enam puluh dua sudut pandang yang diberikan dalam DN 1 dan paralelnya; untuk studi perbandingan cf. Anālayo 2009. Kasus yang sekarang berhubungan dengan yang pertama dari pandangan semi-eternalis dalam DN 1 pada DN I 18,31.

<38> Paralel: SN 24.37 sampai SN 24.44 dan dengan demikian bagian dari SN III 218,22 sampai 220,27.

<39> SN 24.37 mengambil diri yang terdiri dari bentuk, SN 24.38 diri tanpa bentuk, SN 24.39 diri yang adalah keduanya, SN 24.40 diri yang bukan keduanya; SN 24.41 mengambil diri yang sepenuhnya bahagia, SN 24.42 diri yang sepenuhnya menderita, SN 24.43 diri yang adalah keduanya, dan SN 24.44 diri yang bukan keduanya. Pandangan-pandangan bahwa diri terdiri dari bentuk, dst., ditemukan dalam bagian tentang pandangan masa depan dalam DN 1 dalam DN I 31,6.

<40> Paralel: SN 24.37 sampai dengan SN 24.44 dan dengan demikian bagian dari SN III 218,21 sampai 220,27; cf. catatan no. 38 di atas.

<41> Paralel: SN 24.9 sampai SN 24.18 dan dengan demikian bagian dari SN III 213,14 sampai SN III 216,36.

<42> Terjemahan saya didasarkan pada perbaikan yang membuang karakter我. Dalam menerjemahkan karakter ini, pandangan pertama mengemukakan bahwa “diri dan dunia adalah kekal”. Walaupun kedua rumusan masuk akal, mereka tidak sesuai dengan apa yang mengikuti, karenanya saya mengasumsikan ini sebagai kesalahan tekstual dalam kotbah yang sekarang. Ini dapat dengan mudah terjadi selama penyebarannya, karena kotbah berikutnya dengan konsisten mengambil “diri dan dunia”.

<43> SN 24.9 mengambil pandangan bahwa dunia adalah kekal, SN 24.10 bahwa ia tidak kekal, SN 24.11 bahwa ia terbatas, SN 24.12 bahwa ia tidak terbatas; SN 24.13 mengambil pandangan bahwa jiwa adalah sama dengan tubuh, SN 24.14 bahwa mereka berbeda; SN 24.15 mengambil pandangan bahwa tathāgata ada setelah kematian, SN 24.16 bahwa tathāgata tidak ada setelah kematian, SN 24.17 bahwa tathāgata ada dan tidak ada setelah kematian, dan SN 24.18 bahwa tathāgata bukan ada juga bukan tidak ada setelah kematian. Ini berhubungan dengan kumpulan pandangan yang standar yang tetap tidak dinyatakan, avyākata; cf. misalnya MN 63 dalam MN I 426,9.

<44> Paralel: SN 24.9 dalam SN III 213,14 sampai SN 24.18 dalam SN III 216,36; cf. catatan no. 41 di atas.

<45> Terjemahan saya mengikuti suatu perbaikan yang disarankan oleh Yìnshùn 1983: 511 catatan no. 5, yang menghapus kemunculan kedua dari “bukan tercipta dengan sendirinya dan bukan diciptakan oleh orang lain”.

<46> Ini berhubungan dengan lima pandangan tentang Nirvāṇa di sini dan saat ini dalam DN 1 pada DN I 36,24.

<47> Ini berhubungan dengan tujuh pandangan pemusnahan dalam DN 1 pada DN I 34,7.

<48> Di sini bagian kotbah-kotbah berhubungan tentang pandangan-pandangan berakhir.

<49> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 過去現在, 未來現在, 過去未來; cf. juga Yìnshùn 1983: 516 catatan no. 4.

<50> Mengadopsi suatu perbaikan dalam edisi CBETA dari 八 untuk membaca 心.

<51> Mengadopsi varian 順 alih-alih 修; cf. juga Yìnshùn 1983: 526 catatan no. 1.

<52> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 內; cf. juga Yìnshùn 1983: 526 catatan no. 2.

<53> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 當; cf. juga Yìnshùn 1983: 526 catatan no. 3.

<54> Dua faktor pencerahan terakhir di luar urutannya; dalam penyajian standar konsentrasi muncul sebelum keseimbangan.

<55> Upaya saya untuk membuat masuk akal bagian ini berdasarkan mengambil 盡 yang di sini mengandung makna “segera” (menurut Hirakawa 1997: 867 盡 dapat juga menerjemahkan kṣaṇa), dan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 526 catatan no. 4 yang mungkin poin asli yang dibuat dalam kumpulan kotbah ini adalah tentang empat cara kemajuan, yang dapat berupa menyakitkan atau menyenangkan dan lambat atau cepat.

<56> Ini tampaknya menjadi awal dari suatu kotbah baru, yang tidak berhubungan dengan apa yang muncul sebelumnya; cf. juga Yìnshùn 1983: 527, yang memberikan nomor 10.993 pada kotbah ini, dengan 10.992 menjadi yang terakhir dari enam belas kotbah dalam rangkaian pengulangan yang muncul sebelumnya.

<57> Referensi pada ketidakkekalan tidak jelas bagi saya, karena kotbah sebelumnya tidak menyebutkan ketidakkekalan.

<58> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 如, dan varian 假 alih-alih 價; cf. juga Yìnshùn 1983: 529 catatan no. 1.

<59> Mengadopsi varian 涉 alih-alih 沙; cf. juga Yìnshùn 1983: 529 catatan no. 3.

<60> Mengadopsi varian 不成就 alih-alih 成就不; cf. juga Yìnshùn 1983: 530 catatan no. 6.

<61> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 映 pada kasus negatif, untuk menyesuaikan dengan kasus positifnya.

<62> Terjemahan didasarkan pada perbaikan 如是 untuk membaca hanya 如, yang jelas dibutuhkan oleh konteks; cf. juga Yìnshùn 1983: 529.

<63> Terjemahan didasarkan pada perbaikan 獨 untuk membaca 觸; cf. juga Yìnshùn 1983: 530 catatan no. 7.

<64> Mengadopsi varian 偽 alih-alih 為; cf. juga Yìnshùn 1983: 530 catatan no. 8.

<65> Mengadopsi varian 下 alih-alih 不; cf. juga Yìnshùn 1983: 530 catatan no. 9.

Singkatan

ANAṅguttara-nikāya
BeBurmese edition
CeCeylonese edition
DNDīgha-nikāya
MNMajjhima-nikāya
SeSiamese edition
Saṃyukta-āgama
SNSaṃyutta-nikāya
SpkSāratthappakāsinī
SvSumaṅgalavilāsinī
TTaishō edition, CBETA
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Catatan Tambahan: Penyelidikan atas Kotbah-Kotbah Saṃyukta-āgama yang Diterjemahkan tentang Rādha dan Pandangan-Pandangan serta Paralel Pāli-nya

Tabel di bawah ini menyediakan suatu penyelidikan paralel Pāli pada kotbah-kotbah yang ditemukan dalam Bagian tentang Rādha dan Bagian tentang Pandangan-Pandangan dalam Saṃyukta-āgama. Kolom 1 mendaftarkan kotbah Pāli, kolum 2 memberikan lokasinya dalam edisi PTS, kolom 3 mendaftarkan paralel kotbah Saṃyukta-āgama dengan nomor, dan kolom 4 memberikan halama dari Dharma Drum Journal of Buddhist Studies di mana terjemahan kotbah-kotbah Saṃyukta-āgama ini dan informasi lebih lanjut tentang paralel lainnya dapat ditemukan.

SN 22.149SN III 180SĀ 146DDJBS 17: 51
SN 22.150SN III 181SĀ 142DDJBS 17: 49
SN 22.151SN III 182SĀ 152DDJBS 17: 54
SN 23.2SN III 189SĀ 122DDJBS 17: 19
SN 23.3SN III 190SĀ 111DDJBS 17: 4
SN 23.4SN III 191SĀ 112DDJBS 17: 5
SN 23.11SN III 195SĀ 120DDJBS 17: 16
SN 23.11SN III 195SĀ 124DDJBS 17: 23
SN 23.12SN III 195SĀ 121DDJBS 17: 18
SN 23.12SN III 195SĀ 125DDJBS 17: 24
SN 23.12SN III 195SĀ 126DDJBS 17: 26
SN 23.19SN III 195SĀ 127DDJBS 17: 26
SN 23.24SN III 198SĀ 121DDJBS 17: 18
SN 23.24SN III 198SĀ 126DDJBS 17: 26
SN 23.31SN III 199SĀ 128DDJBS 17: 27
SN 23.43SN III 201SĀ 129DDJBS 17: 28
SN 24.1SN III 202SĀ 164DDJBS 17: 64
SN 24.2SN III 203SĀ 134DDJBS 17: 35
SN 24.3SN III 204SĀ 152DDJBS 17: 54
SN 24.5SN III 206SĀ 154DDJBS 17: 55
SN 24.5SN III 206SĀ 156DDJBS 17: 57
SN 24.6SN III 208SĀ 162DDJBS 17: 61
SN 24.7SN III 210SĀ 155DDJBS 17: 56
SN 24.7SN III 210SĀ 157DDJBS 17: 58
SN 24.7SN III 210SĀ 158DDJBS 17: 58
SN 24.8SN III 211SĀ 161DDJBS 17: 60
SN 24.8SN III 211SĀ 163DDJBS 17: 62
SN 24.9SN III 213SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.9SN III 213SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.10SN III 214SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.10SN III 214SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.11SN III 214SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.11SN III 214SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.12SN III 215SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.12SN III 215SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.13SN III 215SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.13SN III 215SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.14SN III 215SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.14SN III 215SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.15SN III 215SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.15SN III 215SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.16SN III 215SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.16SN III 215SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.17SN III 215SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.17SN III 215SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.18SN III 216SĀ 168DDJBS 17: 67
SN 24.18SN III 216SĀ 169DDJBS 17: 68
SN 24.19SN III 217SĀ 164DDJBS 17: 64
SN 24.37SN III 218SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.37SN III 218SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.38SN III 219SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.38SN III 219SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.39SN III 219SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.39SN III 219SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.40SN III 219SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.40SN III 219SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.41SN III 219SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.41SN III 219SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.42SN III 220SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.42SN III 220SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.43SN III 220SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.43SN III 220SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.44SN III 220SĀ 166DDJBS 17: 65
SN 24.44SN III 220SĀ 167DDJBS 17: 66
SN 24.45SN III 221SĀ 164DDJBS 17: 64
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Samyukta Agama - Bagian tentang Radha (jilid 6)
Samyukta Agama - Bagian tentang Pandangan-Pandangan (jilid 6-7)
Samyukta Agama - Bagian tentang Pengetahuan Penetratif (jilid 7)

S E L E S A I

:lotus::lotus::lotus:
« Last Edit: 07 May 2016, 11:49:52 AM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa