//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Tragedi seorang gay  (Read 814 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.187
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Tragedi seorang gay
« on: 08 March 2016, 06:58:28 PM »
Tragedi seorang Gay
(A Gay Tragedy)

Oleh Shravasti Dhammika
 Minggu, 25 Mei 2008

Terkadang seseorang, biasanya lelaki muda tetapi kadang-kadang wanita muda atau lelaki atau wanita tua, akan datang mendekatiku dan setelah beberapa menit keraguan atau basa basi, bertanya padaku tentang posisi buddhis mengenai Homoseksualitas. Ketika mereka bertanya, aku memberitahu bahwa perbuatan dengan niat (kamma/ karma) mengubah kesadaran kita, dan karma kita mengkondisikan masa depan kita. Perbuatan dengan niat positif mempunyai akibat positif dan perbuatan dengan niat negatif mempunyai akibat negatif. Perbuatan seksual yang dimotivasi dengan niat yang biasa, perasaan dan emosi yang ada diantara dua orang yang mencintai satu sama lain, akan mempunyai akibat positif dan tidak akan melanggar sila ke-3, apakah itu homoseksual ataukan heteroseksual. Saya menggarisbawahi poin ini dengan berkata bahwa etika buddhis mengenai seks adalah terutama berkaitan dengan motif di balik perilaku seksual, bukan gender dari pasangan. Maka dari itu, jika dua orang yang jenis kelaminnya sama mengekspresikan cinta mereka pada satu sama lain secara fisik, tidak ada alasan mengapa karma yang diciptakan dari perbuatan tersebut berbeda dari dua orang dengan jenis kelamin berbeda yang melakukan hal yang sama.

Setelah aku mengatakan ini, aku kemudian mencoba mengubah topik, bukan karena aku malu berbicara mengenai homoseksualitas, tetapi karena aku tidak suka pendekatan "satu issue" dalam dharma. Tetapi, beberapa tahun lalu aku mengalami satu pertemuan yang membuatku menyadari bahwa pertanyaan mengenai homoseksualitas, apakah berasal dari gay sendiri atau keluarga mereka, seharusnya diberikan perhatian penuh. Bagaimanapun teoritisnya atau kecilnya issue ini buat saya, mungkin sangat penting untuk orang yang bertanya.

Seorang pemuda bernama Julian Rung bertanya apakah dia boleh datang dan berbicara padaku tentang Buddhisme. Saya katakan ya, dan dia datang di hari yang dijanjikan. Julian berusia 20 tahun, berbadan tegap dan muka yang tampan. Dia rapih dan berpakaian bagus. Dia memulai dengan bertanya padaku beberapa aspek mengenai buddhisme, tetapi aku merasa bahwa hal-hal ini bukanlah apa yang ingin dia tanyakan. Akhirnya pertanyaan itu muncul: "Yang Mulia, apakah seorang gay dapat menjadi buddhis yang baik?" Aku memberi jawaban yang biasa tetapi dengan segera nampak bahwa jawaban itu tidak menyenangkannya. Dia terus memotong dan menyatakan keraguan tentang apa yang kukatakan. Aku menjawab semua keberatannya tetapi dia tetap tidak percaya. Setelah tiba pada jalan buntu dan tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi, aku bertanya apakah dia gay.

Dia tersipu malu, mendehem, dan berkata bahwa dia adalah gay. Kemudian dia menceritakan tentang dirinya. Sejak awal remaja dia menyadari bahwa dia tertarik pada lelaki lain dan dia punya ketertarikan khusus pada baju wanita. Takut pada hal ini dia mengendalikannya baik baik. Setahun yang lalu ketika dia wajib militer dia bertemu prajurit lain yang gay dan kemudian mereka menjalin hubungan, walaupun penuh dengan rasa bersalah. Sekali atau dua kali dalam sebulan mereka akan patungan dan menyewa kamar hotel untuk bermalam. Dia akan memakai baju perempuan, memakai riasan, dan bermalam bersama. Bagi Julian, ini akan diikuti dengan hari-hari dimana dia membenci diri sendiri dan tekad untuk tak pernah melakukannya lagi. Setelah memberitahuku semua ini dia kemudian memegang kepalanya dan berkata , "Ini pasti salah."

Saya menjawab, "yah, sebagian orang akan menganggapnya sedikit aneh. Tetapi dari perspektif buddhis saya tak bisa melihat bahwa hal itu merugikan. Memuaskan nafsu seksual adalah hal yang alami dilakukan dan dapat diterima selama tidak melibatkan perselingkuhan atau melukai orang lain. Konflik yang kamu ciptakan di dalam dirimu sendiri dengan membenci apa yang sebenarnya adalah perasaan yang sama sekali tidak merugikan, melukaimu lebih daripada menjadi seorang gay. Tidak ada alasan mengapa kamu tidak dapat melatih sila - menghormati kehidupan, kepemilikan, dan perasaan seksual orang lain, hak mereka mengetahui kebenaran, dan menjaga pikiranmu dari zat memabukkan - ketika menjadi seorang gay." Julian diam tetapi aku dapat melihat bahwa aku belum dapat menghalau keraguannya. Julian mengunjungiku dua kali dalam dua bulan berikutnya dan percakapan kami adalah tentang dharma secara umum walaupun kami juga menyoal masalah homoseksualitas dengan hasil yang sama.

Kemudian, setelah tidak bertemu atau mendengar dari Julian selama sekitar 6 bulan, dia menelepon. Dia mengatakan bahwa seorang bhiksu Taiwan terkenal datang ke kota dan berceramah dan dia dapat bertemu dengannya selama beberapa menit. Dia menanyakan pertanyaan yang sama dan bhiksu itu mengatakan padanya bahwa homosekssual adalah hal menjijikan dan jahat, orang-orang homoseksual akan dilahirkan kembali di neraka terendah dimana mereka akan direbus dalam nanah selama berkalpa-kalpa. Julian mengatakan ini dengan nada hampir menang, sepertinya senang bahwa dia telah membuktikan bahwa aku salah atau dia telah menemukan seseorang yang setuju dengannya. Aku bertanya apalagi yang dikatakan bhiksu agung ini. "Tak ada," dia menjawab. "Dia perlu pergi ke tempat lain dan kita hanya punya waktu beberapa menit."

Seberapa sering ini telah terjadi padaku? Saya memberitahu pada penanya sesuatu mengenai Buddhisme yang aku tahu masuk akal, sesuai dengan Tripitaka, mereka pergi ke bhiksu lain yang mengatakan hal yang berlawanan dan kemudian mereka kembali padaku bertanya tentang keanehan ini. Lalu saya terjebak dengan masalah diantara mengatakan bahwa bhiksu lain tidak tahu apa yang dikatakan [mengenai topik tersebut] (yang seringkali demikian) dan terlihat seperti seorang arogan, atau menggigit bibir tak mengatakan apapun dan membiarkan orang itu pergi dengan kepercayaan bahwa suatu tahyul atau pemikiran dangkal sebagai dharma. Seberapa sering? Sangat sering! Dalam banyak kasus hal ini hanyalah hal yang membuat frustasi. Dalam kasus ini, konsekuensinya tragis.

"Dengar Julian," saya berkata, "Kamu bertanya padaku tentang apa yang Buddhisme katakan mengenai homoseksualitas dan saya menjawabmu berdasarkan apa yang telah kupelajari dari kitab suci buddhis selama 20 tahun dan memikirkan berbagai issue di dalam cahaya Dharma Buddha. Aku tidak tahu lagi apa yang dapat kukatakan." Aku berkata padanya bahwa jika dia ingin berbicara padaku kapan saja, dia boleh melakukannya, lalu dia menutup telepon.

Empat hari kemudian, aku membaca koran dan melihat sebuah artikel kecil di halaman 8, judulnya "mayat lelaki ditemukan di taman." Aku membaca artikel itu sekilas dan akan membaca artikel lain ketika nama Julian melompat ke mataku. Dalam sekejap perhatianku terfokuskan. Aku membaca mengenai namanya dan ya itu adalah Julian yang datang mengunjungiku. Saya kembali ke bagian awal artikel dan membaca semuanya. Empat hari sebelumnya, mungkin hanya beberapa jam setelah meneleponku, Julian telah pergi ke taman di tengah Singapura pada larut malam, meminum obat tidur dengan jumlah overdosis, dan ditemukan tewas pagi berikutnya. Catatan bunuh diri telah ditemukan di sakunya tapi koran tidak menyebutkan apa yang ditulisnya.

Saya merasa sangat sedih. Pikiran bahwa dia berbaring disana sendirian sekali, membenci dirinya sendiri dan sangat putus asa sehingga dia membunuh dirinya sendiri membuatku ingin menangis. Tetapi segera kemarahan meluap menggantikan kesedihan. Saya membayangkan bhiksu Taiwan yang dengan ketidaktahuannya menyatakan opini beracun sebelum pergi bergegas memberi ceramah tentang welas asih atau dielu-elukan massa. Saya menjadi begitu marah hingga berkeinginan menulis surat padanya dan memberitahunya apa yang telah dia lakukan. Kemudian aku berpikir mungkin ini hanya akan jadi buang buang waktu saja. Dia bahkan mungkin tidak ingat berbicara pada Julian.

Menurutku, kebanyakan orang yang berpikir akan setuju bahwa seks tanpa cinta adalah hal yang tak menarik. Secara fisik, itu hanyalah 'bertukar cairan' seperti yang digambarkan oleh buku tentang kesadaran AIDS. Apa yang menaikkan seks diatas tingkat 'bertukar cairan' adalah motif dan emosi di baliknya - rasa sayang, kelembutan, keinginan menerima dan berbagi, ikatan pendamping, bahkan kesenangan. Ini cocok dengan pernyataan Buddha yang terkenal, "Aku katakan niat adalah karma." Apakah menusukkan pisau ke tubuh seseorang adalah tindakan positif atau negatif? Tergantung! Jika pisau itu dipegang oleh orang yang marah mungkin itu adalah tindakan negatif. Jika pisau dipegang oleh dokter bedah yang melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tentu saja itu positif. Dari perspektif Buddhis, perilaku seksual tidaklah dinilai dari jenis kelamin orang-orang yang terlibat, atau oleh suatu aturan perilaku yang dirumuskan di zaman perunggu, atau oleh apakah dokumen hukum telah ditandatangani, tetapi ditentukan oleh komponen psikologisnya. Orang Homoseksual juga dapat merasakan cinta pada pasangannya sama seperti heteroseksual, dan jika kondisinya demikian, seks homoseksual sama dapat diterimanya dengan seks heteroseksual.

Ini adalah kebenaran logis dan sederhana dan sesuai dengan ajaran Buddha, tetapi keadaan adalah dimana saya tidak dapat membantu Julian melihat kebenaran itu. Semua pengalaman dia memberitahu dia bahwa tertarik pada sesama jenis adalah salah. Mereka yang ada di sekitarnya selalu menyatakan ketidaksetujuan pada homoseksualitas dan mengejek gay. Hukum (di singapura) memberitahunya bahwa homoseksualitas sangatlah buruk dan harus dihukum 10 tahun penjara, lebih daripada pembunuhan. Dia tahu bahwa guru agama, kr****n, Muslim, dan bahkan sebagian Buddhis, menganggapnya sangat jahat dan akan mempunyai akibat sangat buruk di kehidupan berikut. Semua ejekan dan ketidaktahuan ini mencegahnya mendengar ucapan lembut yang masuk akal dan kata-kata baik dari Buddha. Itu memberinya penderitaan yang sangat, dan akhirnya membuat dia bunuh diri.

Saya teringat pada Julian karena tiga minggu lalu saya mewakili Buddhisme dalam seminar mengenai agama dan homoseksualitas di Catholic Junior Collage. Dari 800 murid yang mendengar, saya berasumsi bahwa pasti ada homoseksual dan mungkin mereka sedang berjuang untuk mengerti perasaan mereka sendiri. Mengetahui bahwa apa yang kukatakan bisa saja berpengaruh pada apa yang terjadi selama mereka bertumbuh, apakah bahagia, atau dapat menyesuaikan diri, atau tersiksa dan membenci diri sendiri, saya dengan sangat hati-hati menerangkan posisi Buddhis mengenai homoseksualitas.


Tentang penulis
Shravasti   Dhammika  dilahirkan di Australia pada tahun 1951 dalam sebuah keluarga   kr****n  dan menjadi seorang Buddhis pada usia delapan belas tahun.  Pada  tahun  1973 beliau pergi ke Thailand dengan niat untuk menjadi  seorang   bhikkhu tetapi menjadi tidak tertarik dengan apa yang dilihat  di Vihara   disana beliau mengunjungi Laos, Burma dan India. Untuk tiga  tahun   berikutnya beliau mengunjungi seluruh India mempelajari yoga dan    meditasi dan akhirnya ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu oleh   Venerable  Matiwella Sangharatna, murid terakhir dari Anagarika   Dharmapala. Pada  tahun 1976 beliau pergi ke Sri Langka dan Singapore.   Bhante Dhammika,  demikian yang dikenal oleh murid-murid dan   teman-temannya, telah menulis  lebih dari dua puluh lima buku dan   artikel-artikel tentang Buddhisme  dan subjek-subjek yang berhubungan.   Beliau juga terkenal karena  ceramah-ceramahnya dan mewakili Buddhisme   Theravada pada Konferensi  Millenium Buddhis Eropa di Berlin pada tahun   2000. Sekarang beliau adalah penasihat spiritual untuk Buddha Dhamma Mandala Society di Singapura.

http://sdhammika.blogspot.co.id/2008/05/gay-tragedy.html
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra