Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta  (Read 11297 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #15 on: 02 September 2014, 04:37:17 PM »
menurut wa sendiri penggunaan kata sesat tergantung jenis manusianya, bukankah Buddha mempunyai kemampuan untuk menghancurkan debu kotoran yang ada pada manusia.

Penggunaan kata2 yang tepat seperti kepada YA Ananda yang di tawari bidadari berkaki ungu
sperti kata2 tepat kotoran dan air kencing untuk putri magandiya sampe dendam kesumat ngebakar samavati dan 500 pengikutnya... bner2 menghancurkan debu..  =D>

http://dennysumarlin.blogspot.com/2010/09/kisah-samavati.html

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #16 on: 02 September 2014, 04:58:38 PM »
Dengan tersenyum Beliau menjawab, "Setelah melihat Tanha, Arati dan Raga, putri-putri Mara, Aku tidak lagi mempunyai keinginan seksual; semuanya hanya berisikan kotoran dan air kencing dan aku tidak ingin menyentuh walaupun dengan ujung kakiku sekalipun".

di baca yg benar ada bilang ttg magandiya, yang di sebut putri putri mara.
« Last Edit: 02 September 2014, 05:00:31 PM by kullatiro »

Offline btj

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 183
  • Reputasi: 5
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #17 on: 02 September 2014, 08:29:23 PM »
AN 5.198
Vaca Sutta: Ucapan

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima faktor, suatu
ucapan diucapkan dengan baik, bukan diucapkan
dengan buruk; ucapan itu tidak tercela dan di luar
celaan oleh para bijaksana. apakah lima ini?
[244] Ucapan itu diucapkan pada waktu yang
tepat; apa yang dikatakan adalah benar; ucapan
itu diucapkan dengan lembut; apa yang dikatakan
adalah bermanfaat; ucapan itu diucapkan dengan
pikiran cinta kasih. Dengan memiliki kelima faktor
ini, suatu ucapan diucapkan dengan baik, bukan
diucapkan dengan buruk; ucapan itu tidak tercela
dan di luar celaan oleh para bijaksana.”

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23950.msg438322.html#msg438322

Pertanyaannya: apakah teguran "orang sesat" itu memenuhi kelima syarat ucapan yg baik di atas?
Menurut saya, ya, telah memenuhi kelima syarat ucapan baik di atas.
Karena penilaian kelima syarat tersebut tidak seharusnya dilakukan melalui secara kasat mata atau kasat telinga semata-mata tapi lebih kepada dari dalam (hati), tujuannya.

Kata-kata yang lemah lembut belum tentu menunjukkan/mengandung unsur cinta kasih, manfaat, dan benar adanya.
sebaliknya kata-kata yang terdengar kasar bagi kita belum tentu timbul dari hati yang jahat.

Sebenarnya thread ini bertujuan untuk menunjukkan keraguan kita terhadap ucapan Sang Buddha atau untuk "membersihkan" nama Buddha dari terjemahan yang mungkin keliru, atau apa?

Andaikan memang benar Buddha pernah menggunakan kata-kata seperti itu, so what? Apakah lantas kita akan meragukan kesempurnaan Buddha?

Jika sang murid tersebut tidak mempan disadari atau ditegur dengan kata-kata lembut, apakah Buddha tetap harus menegur dengan kata-kata lemah lembut demi menjaga kekhasan dari kelima syarat ucapan baik tersebut, dan apakah kelima syarat ucapan baik tersebut harus benar-benar diucapkan sesuai pemahaman/penangkapan/persepsi kita masing2?

CMIIW

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #18 on: 02 September 2014, 09:09:44 PM »
AN 5.198
Vaca Sutta: Ucapan

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima faktor, suatu
ucapan diucapkan dengan baik, bukan diucapkan
dengan buruk; ucapan itu tidak tercela dan di luar
celaan oleh para bijaksana. apakah lima ini?
[244] Ucapan itu diucapkan pada waktu yang
tepat; apa yang dikatakan adalah benar; ucapan
itu diucapkan dengan lembut; apa yang dikatakan
adalah bermanfaat; ucapan itu diucapkan dengan
pikiran cinta kasih. Dengan memiliki kelima faktor
ini, suatu ucapan diucapkan dengan baik, bukan
diucapkan dengan buruk; ucapan itu tidak tercela
dan di luar celaan oleh para bijaksana.”

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23950.msg438322.html#msg438322

Pertanyaannya: apakah teguran "orang sesat" itu memenuhi kelima syarat ucapan yg baik di atas?


1.Ucapan itu diucapkan pada waktu yang tepat;

2.apa yang dikatakan adalah benar;

3.  ucapan itu diucapkan dengan lembut;

4.apa yang dikatakan
adalah bermanfaat;

5.ucapan itu diucapkan dengan
pikiran cinta kasih.


ok ..5...

skrg.. apa hubnya dgn "orang sesat"?? kecuali klo sambil emosi tinggi..nada kasar..klo masih ngomong "orang sesat" secara lembut kan masih ok.. :D
...

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #19 on: 03 September 2014, 10:01:03 AM »
Dengan tersenyum Beliau menjawab, "Setelah melihat Tanha, Arati dan Raga, putri-putri Mara, Aku tidak lagi mempunyai keinginan seksual; semuanya hanya berisikan kotoran dan air kencing dan aku tidak ingin menyentuh walaupun dengan ujung kakiku sekalipun".

di baca yg benar ada bilang ttg magandiya, yang di sebut putri putri mara.
haha jd yg dihina putri2 mara yg sewot magandiya??  :)) kalo ude iman buta emg baca jg bias jd belok artinye.
itu ambil dr cerita dhammapada 21 "Even after seeing Tanha, Arati and Raga, the daughters of Mara, I felt no desire in me for sensual pleasures; after all, what is this which is full of urine and filth and which I don't like to touch even with my foot."

nih ade lg yg penjelasany lbh lgsg dr palikanon ...  Māgandiyā was incensed against the Buddha for having called her a "vessel of filth,"

http://www.palikanon.com/english/pali_names/ma/maagandiyaa.htm

dbaca yg bner ye kk jeruk jgn maen be er pe  ^:)^

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #20 on: 03 September 2014, 10:35:29 AM »
klo menurut kisah Magandiya, ucapan itu berguna untuk orang tuanya.. dan ucapan itu di tujukan kepada org tua Magandiya, yg meminta Buddha menerima Magandiya sebagai istrinya


klo masalah org lain yg dgr sakit hati, tidak senang, atau bahkan lawan bicaranya sakit hati n tidak senang..krn dirasa tidak menyenangkan sudah dijelaskan di MN 58

Magandiya. A brahmin of the Kuru country. He had a very beautiful daughter, called Magandiya. Many men of high station sought her hand, but the brahmin did not consider them worthy. The Buddha, one day, became aware that both Magandiya and his wife were ready for conversion, so he visited their village. Magandiya saw him, and, noting the auspicious marks on his body, told him of his daughter and begged him to wait till she could be brought. The Buddha said nothing, and Magandiya went home and returned with his wife and daughter arrayed in all splendours. On arriving, they found the Buddha had gone, but his footprint was visible, and Magandiyas wife, skilled in such matters, said that the owner of such a footprint was free from all passion. But Magandiya paid no attention, and, going a little way, saw the Buddha and offered him his daughter. The Buddha thereupon told them of his past life, his renunciation of the world, his conquest of Mara, and the unsuccessful attempts of Maras very beautiful daughters to tempt him. Compared with them, Magandiya was, he said, a corpse, filled with thirty two impurities, an impure vessel painted without; he would not touch her with his foot. At the end of the discourse, Magandiya and his wife became anagamins. DhA.iii.193ff.; SNA.ii.542f.; cp. Dvy.515ff., where the name is given as Makandika and he is called a parivrajaka. The daughters name is given as Anupama and the wifes Sakali.
It is said that they gave their daughter into the charge of her uncle, Culla Magandiya, retired from the world, and became arahants. DhA.i.202
According to the Anguttara Commentary (AA.i.235f), Magandiyas village was Kammasadamma, and the Buddha went there on his journey to Kosambi at the invitation of Ghosita, Kukkuta and Pavarika. He turned off the main road to visit Magandiya.

http://www.wisdomlib.org/definition/magandiya/index.html
« Last Edit: 03 September 2014, 10:41:01 AM by The Ronald »
...

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #21 on: 03 September 2014, 11:19:27 AM »
klo menurut kisah Magandiya, ucapan itu berguna untuk orang tuanya.. dan ucapan itu di tujukan kepada org tua Magandiya, yg meminta Buddha menerima Magandiya sebagai istrinya


klo masalah org lain yg dgr sakit hati, tidak senang, atau bahkan lawan bicaranya sakit hati n tidak senang..krn dirasa tidak menyenangkan sudah dijelaskan di MN 58

Magandiya. A brahmin of the Kuru country. He had a very beautiful daughter, called Magandiya. Many men of high station sought her hand, but the brahmin did not consider them worthy. The Buddha, one day, became aware that both Magandiya and his wife were ready for conversion, so he visited their village. Magandiya saw him, and, noting the auspicious marks on his body, told him of his daughter and begged him to wait till she could be brought. The Buddha said nothing, and Magandiya went home and returned with his wife and daughter arrayed in all splendours. On arriving, they found the Buddha had gone, but his footprint was visible, and Magandiyas wife, skilled in such matters, said that the owner of such a footprint was free from all passion. But Magandiya paid no attention, and, going a little way, saw the Buddha and offered him his daughter. The Buddha thereupon told them of his past life, his renunciation of the world, his conquest of Mara, and the unsuccessful attempts of Maras very beautiful daughters to tempt him. Compared with them, Magandiya was, he said, a corpse, filled with thirty two impurities, an impure vessel painted without; he would not touch her with his foot. At the end of the discourse, Magandiya and his wife became anagamins. DhA.iii.193ff.; SNA.ii.542f.; cp. Dvy.515ff., where the name is given as Makandika and he is called a parivrajaka. The daughters name is given as Anupama and the wifes Sakali.
It is said that they gave their daughter into the charge of her uncle, Culla Magandiya, retired from the world, and became arahants. DhA.i.202
According to the Anguttara Commentary (AA.i.235f), Magandiyas village was Kammasadamma, and the Buddha went there on his journey to Kosambi at the invitation of Ghosita, Kukkuta and Pavarika. He turned off the main road to visit Magandiya.

http://www.wisdomlib.org/definition/magandiya/index.html
emg wkt ngomong buddha ga tau magandiyany bakal marah?? ato ga peduli brp byk yg salah paham yg penting berguna buat yg diajak omong (ortuny)??


Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #22 on: 03 September 2014, 07:15:01 PM »
kemungkinan besar tau..tp kurasa sistim Buddha ngomong bukan tujuannya menyenangkan semua org kok..
...

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #23 on: 04 September 2014, 08:32:24 AM »
kemungkinan besar tau..tp kurasa sistim Buddha ngomong bukan tujuannya menyenangkan semua org kok..
tp di sutta ktnya gini...

Ucapan Tathagata ketahui mewakili apa keadaannya, sesuai dengan realita, berhubungan dengan kebaikan, tetapi ucapan itu adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang lain, maka Tathagata tahu waktu yang tepat untuk menggunakan ucapan itu.

gmana nih...  binun...  ::)

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #24 on: 05 September 2014, 02:00:51 AM »
tp di sutta ktnya gini...

Ucapan Tathagata ketahui mewakili apa keadaannya, sesuai dengan realita, berhubungan dengan kebaikan, tetapi ucapan itu adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang lain, maka Tathagata tahu waktu yang tepat untuk menggunakan ucapan itu.

gmana nih...  binun...  ::)
:))

*puk puk pala cucu...cucu kamu bener2 pinter, ga percuma sekolah  :))
I'm an ordinary human only

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #25 on: 05 September 2014, 08:52:19 AM »
tp di sutta ktnya gini...

Ucapan Tathagata ketahui mewakili apa keadaannya, sesuai dengan realita, berhubungan dengan kebaikan, tetapi ucapan itu adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang lain, maka Tathagata tahu waktu yang tepat untuk menggunakan ucapan itu.

gmana nih...  binun...  ::)
napa binggung..?  justru cocok koq..
...

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #26 on: 05 September 2014, 09:22:56 AM »
:))

*puk puk pala cucu...cucu kamu bener2 pinter, ga percuma sekolah  :))

 (:$

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #27 on: 05 September 2014, 09:32:47 AM »
napa binggung..?  justru cocok koq..
nga cocok krn yg satu blgny klo ada yg menyenangkan diomongin di wkt yg tepat tp yg ini asal njeblak aje bikin panas si magandiya.. kea di dhammapada ada crita bhikhu cekcok ame gadis buddha tau klo lgsg disalahin pst si bhikhu ga senang jdny buddha belain dulu br disalahin tuh... itu br nmnya wkt yg bnr kan??  ???

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #28 on: 05 September 2014, 10:17:00 AM »
Ucapan Sang Buddha adalah untuk membuat kedua orang tua Magandiya mencapai kesucian Anagami...
lain kali berikan kutipan yang lengkap, jangan jadi orang picik...
« Last Edit: 05 September 2014, 10:30:12 AM by will_i_am »
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline Meruem

  • Teman
  • **
  • Posts: 88
  • Reputasi: -4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Orang sesat" dalam MN 22 Alagaddupama Sutta
« Reply #29 on: 05 September 2014, 10:48:55 AM »
Ucapan Sang Buddha adalah untuk membuat kedua orang tua Magandiya mencapai kesucian Anagami...
lain kali berikan kutipan yang lengkap, jangan jadi orang picik...

 (:$    uda pd tau keleus... kalo mo ngepo baca dulu kk...


emg wkt ngomong buddha ga tau magandiyany bakal marah?? ato ga peduli brp byk yg salah paham yg penting berguna buat yg diajak omong (ortuny)??
« Last Edit: 05 September 2014, 11:13:48 AM by Meruem »