//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Apakah Rumah anda didatangi Babinsa (Bintara pembina desa) utk di data ttg prefensi pilihan anda?  (Read 2546 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
sumber

http://nasional.kompas.com/read/2014/06/05/0957038/Datangi.Rumah.ke.Rumah.Anggota.Babinsa.Arahkan.Warga.Pilih.Prabowo?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kpopwp


Datangi Rumah ke Rumah, Anggota Babinsa Arahkan Warga Pilih Prabowo



JAKARTA, KOMPAS.com — Menjelang pemilu presiden, warga di kawasan
Jakarta Pusat diresahkan oleh pendataan siapa calon presiden dan calon
wakil presiden yang akan dipilih. Pendataan itu dilakukan oleh orang
yang mengaku bintara pembina desa (babinsa).
Masalahnya, dalam pendataan itu, warga diarahkan untuk memilih
pasangan yang diusung Partai Gerindra, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Sebut saja Rifki, salah satu warga di kawasan Jakarta Pusat yang ikut
didata. Ia bercerita, didatangi seorang pria bertubuh gemuk pada Sabtu
(31/5/2014).
Kepada Rifki, pria yang datang dengan menggenggam sebuah handy talkie
(HT) itu mengaku ingin melakukan perbaikan daftar pemilih tetap (DPT)
untuk pemilihan presiden.
Rifki baru pertama kali melihat pria itu. Ia pun bertanya-tanya. “Untuk
apa Pak didata lagi? Kan kita tidak tinggal di gunung,” ujar Rifki ketika
menceritakan peristiwa itu kepada Kompas.com .
Meski heran dengan kehadiran pria bergaya aparat itu, Rifki tetap
mempersilakannya masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi, pria itu
langsung meminta Kartu Tanda Penduduk milik Rifki. KTP lalu diberikan.
Ketika pria itu mencatat data-data di dalam KTP, Rifki menanyakan
identitas pria itu.
Pria tersebut mengaku anggota babinsa yang baru dipindahkan bertugas
ke daerah perumahan Rifki. Untuk diketahui, di perumahaan tempat
tinggal Rifki, 90 persen warganya adalah keturunan Tionghoa dan
beragama kr****n.
Petugas itu, kata Rifki, bercerita bahwa dia ditugaskan oleh atasannya
untuk mendata warga. Pria itu juga mengaku berdinas di bawah kontrol
Koramil.
Setelah pencatatan data Rifki selesai, petugas itu kemudian bertanya.
“Bapak nanti pilih ini kan, ya?” tanya dia.
Di kertas data yang dipegang petugas itu, Rifki sudah dituliskan akan
memilih Partai Gerindra dalam pilpres 9 Juli mendatang.
Melihat catatan itu, Rifki pun terkejut. Dia langsung menunjukkan
kekesalannya dengan menanyakan maksud petugas itu menulis preferensi
pilihannya.
“Apa urusan Anda mendata pilihan saya apa?” tukas Rifki ketika itu.
Atas kemarahan Rifki, pria itu langsung meralat ucapannya.
“Jadi Bapak akan pilih Jokowi?” tanyanya lagi.
Rifki sempat berdebat dengan babinsa itu. Alhasil, tulisan Gerindra
dicoret, lalu diganti Jokowi.
“Saya sudah kesal. Jadi terserahlah mau ditulis siapa di situ, yang tahu
pilihan saya kan cuma saya dan Tuhan,” ucap Rifki.
Menurut Rifki, bukan hanya dirinya yang didata oleh babinsa. Seorang
tetangga keturunan Tionghoa yang bersebelahan dengannya juga didata.
Tetangganya itu, sebut Rifki, sangat ketakutan didatangi babinsa.
“Mereka takut apa maksudnya didata seperti itu? Jadi mereka mengikuti
apa pun kata orang itu. Saya sih memahami, karena mereka memang
punya trauma masa lalu,” ujarnya.
Rifki bercerita, saat kerusuhan di Jakarta pada 1998, kelompok masyarakat
Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Situasi di perumahannya saat itu
mencekam. Warga-warga berpatroli siang dan malam.
“Mungkin, ya ada masih ketakutan-ketakutan seperti ini,” kata Rifki.
Datangi Koramil
Rifki sempat mendatangi Koramil di dekat lingkungannya untuk mengecek
soal identitas petugas babinsa itu. Di dalam Koramil, dia melihat
whiteboard yang bertuliskan jadwal piket petugas babinsa.
Sementara itu, di atas meja, Rifki melihat secarik kertas folio dengan
banyak data yang sudah tersusun rapi. Isi data itu yakni daftar nama dan
alamat warga, serta daftar preferensi memilih dalam pemilu presiden
mendatang.
Di sana juga terdapat rekapitulasi hasil preferensi memilih, yakni 90
persen dituliskan memilih capres Prabowo Subianto dan 10 persen
memilih Jokowi.
“Saya tanya soal babinsa itu, petugas di Koramil membenarkan dan bilang
dia baru dipindahtugaskan ke sini. Saya lalu tanya, data yang
dikumpulkan untuk apa?” kata Rifki.
Rifki lalu mendapat jawaban bahwa pendataan dilakukan untuk survei
pilihan warga. Ia juga diminta untuk memberikan pengertian kepada
warga di lingkungannya soal aktivitas babinsa belakangan ini.
Rifki berharap agar babinsa, yang seharusnya bisa memberikan
ketenangan dan kenyamanan bagi warga, bisa bersikap netral. “Kalau
sudah mengerahkan babinsa itu tandanya sudah takut kalah,” ujar dia.
Update:
Ditemui di Markas Kodim 0501 Jakarta Pusat, Kamis (5/6/2014), Komandan
Kodim Letnan Kolonel Infantri Yudi Pranoto mengatakan, telah terjadi
kesalahpahaman antara warga dan anggota bintara pembina desa
(babinsa).
"Ini hanya miskomunikasi saja. Ada salah paham antara warga dan
anggota babinsa," ujar Yudi (baca: Dandim 0501 Jakpus: Ada Salah Paham
antara Warga dan Babinsa).
Di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, Kepala Pusat Penerangan
Markas Besar TNI, Mayjen TNI Fuad Basya, mengatakan, Tentara Nasional
Indonesia (TNI) berjanji akan menindak anggotanya yang mendukung
salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam pemilu
presiden 9 Juli mendatang. TNI juga terus menelusuri gerak gerik
anggotanya terkait netralitasnya.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang juga berada di tempat yang sama
enggan berkomentar secara spesifik perihal perilaku bintara pembina
desa. Kendati begitu, dalam kesempatan sebelumnya, Moeldoko
menegaskan bahwa TNI akan netral dalam pemilu (baca: TNI Akan
Menghukum Anggotanya yang Tidak Netral ).
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo
membantah pihaknya mengerahkan anggota Babinsa untuk memobilisasi
warga memilih pasangan Prabowo-Hatta.
"Enggak ada. Tidak ada," ujar Hashim saat ditemui di sela-sela penyerahan
Kalpataru dari Wakil Presiden Boediono di Istana Wakil Presiden, Jakarta,
Kamis (baca: Soal Anggota Babinsa Arahkan Warga Pilih Prabowo, Ini
Tanggapan Hashim ).
Juru Bicara Tim Pemenangan pasangan Prabowo-Hatta, Tantowi Yahya
membantah pihaknya sengaja mengerahkan Bintara Pembina Desa
(Babinsa) untuk mengarahkan pilihan warga (baca: Kubu Prabowo-Hatta
Bantah Kerahkan Babinsa)
« Last Edit: 06 June 2014, 10:09:26 AM by kullatiro »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
kesaksian saptam A ttg babinsa tsb
« Reply #1 on: 06 June 2014, 11:20:12 AM »
sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2014/06/05/1841237/Satpam.Tidak.Kenal.Babinsa.yang.Datangi.Warga



JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang satpam di salah satu RT di Jakarta Pusat mengaku baru mengenal anggota bintara pembina desa (babinsa) yang mendatangi warga setempat bernama Rifki dengan alasan mendata
pemilih di lingkungan itu pada Sabtu (31/5/2014).

Satpam berinisial A (63) itu pun menemani Rifki ke koramil setempat karena mencurigai anggota babinsa itu. "Makanya saya langsung ke sana untuk memastikan apa pria yang mengaku anggota babinsa itu benar-
benar di bawah kedinasan koramil atau tidak. Ternyata benar dia anggota babinsa," kata pria berusia 63 tahun itu, Kamis (5/6/2014).

Sebagai satpam, A mengenal para anggota babinsa yang rutin memantau keamanan setempat. Namun, anggota babinsa yang datang pada Sabtu (31/5/2014) lalu untuk mendata pemilih dan mengarahkan pada salah satu
pasangan calon tertentu tersebut merupakan anggota yang baru datang ke lingkungannya.

Pada saat anggota babinsa itu mendatangi kediaman Rifki, A sedang shalat maghrib di masjid terdekat. Oleh karena itu, ia tidak mengetahui apa yang dilakukan anggota babinsa itu di kediaman Rifki.
"Saya juga tidak tahu kalau ada yang dibilang mendata pemilih untuk pilpres karena di sini ada tiga TPS dan pemenangnya tidak didominasi partai tertentu," kata A.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rifki didatangi seorang pria yang mengaku anggota babinsa. Pria itu melakukan perbaikan daftar pemilih tetap (DPT) pada Pilpres 2014.

Saat pendataan itu, Rifki diarahkan untuk memilih pasangan calon yang diusung Partai Gerindra, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Anggota itu mengaku bertugas di bawah kontrol koramil setempat.

Rifki pun sempat mendatangi koramil di dekat lingkungannya. Ternyata, ia melihat secarik kertas folio dengan banyak data yang tersusun rapi.

Data itu berisi daftar nama dan alamat warga, serta daftar preferensi memilih dalam pilpres. Di sana juga terdapat rekapitulasi hasil preferensi memilih, yakni 90 persen memilih Prabowo dan 10 persen memilih Jokowi.


Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Lokasi kejadian cideng barat, jakpus
« Reply #2 on: 06 June 2014, 11:23:57 AM »
DI sore akhir pekan itu warga yang bermukim di Kelurahan Cideng
Barat, Jakarta Pusat, lebih memilih tinggal di rumah untuk
melepas penat. Suasana di kawasan perumahan di depan RSUD
Tarakan tersebut tampak lengang. Hanya satu-dua kendaraan
yang melintas.
Di suasana senyap itulah sejumlah aparat anggota Bintara
Pembina Desa (Babinsa) setempat mendatangi rumah-rumah
warga untuk mendata gerangan siapa presiden pilihan warga pada
Pilpres 2014.
Beberapa warga yang kebetulan duduk di teras rumah melihat
langsung kedatangan anggota Babinsa berpakaian lengkap. ''Kalau
enggak salah Sabtu (31/5) atau Minggu (1/6). Waktu Babinsa
datang, ayah saya yang menemui,'' kata sumber Media Indonesia ,
kemarin.
Belum hilang rasa kaget tuan rumah atas kedatangan Babinsa itu,
tanpa tedeng aling-aling salah seorang anggota mendesak warga
untuk memilih pasangan capres-cawapres nomor urut 1, Prabowo
Subianto-Hatta Rajasa. Menurut sumber Media Indonesia, sekitar
pukul 18.30 WIB itu dia berada dalam kamar tetapi sekonyong-
konyong mendengar nada bicara ayahnya yang tiba-tiba meninggi.
Karena penasaran, sumber Media Indonesia beranjak dari dalam
kamar untuk mengetahui siapa sesungguhnya tamu yang datang
tersebut. ''Saya keluar (kamar) untuk bertanya ada apa gerangan
karena saya mendengar nada bicara papa sudah tinggi, tetapi
petugas Babinsa sudah keburu pergi. Kata papa orang itu
mencoba menakut-nakuti,'' ujar sumber Media Indonesia.
Sang ayah melanjutkan kisahnya bahwa anggota Babinsa datang
untuk mengetahui pilihan warga dan keluarga dalam pilpres
mendatang. ''Dia (Babinsa) nanyain nanti pilpres milih Gerindra
atau PDIP. Papa saya dicatat memilih Prabowo. Besoknya papa
cerita lagi kalau sudah mengecek ke Koramil. Ternyata ada
laporan data pemilih di situ. Papa bertanya untuk apa? Petugas
Koramil menjawab ini survei saja,'' ungkap sumber Media
Indonesia itu Seorang anggota satuan pengamanan (satpam) di
lingkungan setempat membenarkan ihwal kedatangan anggota
Babinsa ke rumah warga.

dst

http://www.mediaindonesia.com/hottopic/read/984/Babinsa-Arahkan-Warga-Pilih-Prabowo/2014/06/06

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
BANGKAPOS.COM, JAKARTA — Sekretaris Jenderal Seknas Jokowi, Dono Prasetyo, mengatakan, modus pengerahan bintara pembina desa (babinsa) tak hanya terjadi di Jakarta. Ada informasi, hal yang sama terjadi di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hal itu, kata Dono, diketahui dari informasi yang diterima Seknas Jokowi. Berdasarkan informasi tersebut, ada pengumpulan anggota babinsa oleh koramil setempat. Mereka diinstruksikan untuk melakukan kegiatan door to door ke masyarakat dalam mendukung calon presiden tertentu.

"Baru saja kami rapat dan dari hasil laporan anak cabang, baru dikumpulkan koramil untuk door to door untuk mendukung capres tertentu," ujar Dono, saat dihubungi, Kamis (5/6/2014).

Selain pengerahan babinsa, laporan tersebut juga menunjukkan adanya pertemuan kepala desa yang digelar oleh bupati untuk direkrut sebagai tim pemenangan Prabowo-Hatta. Dengan adanya laporan ini, Dono mengatakan, pihaknya belum akan melakukan langkah hukum karena belum ada bukti-bukti pendukung.

"Kalau sudah ada bukti pasti, akan kami laporkan. Sekarang ini, kami mengimbau agar semua pihak waspada. Kalau perlu, imbauan kami, orang-orang seperti itu difoto agar kami bisa sebarkan di media sosial," kata Dono.

Sebelumnya, warga di kawasan Jakarta Pusat melaporkan adanya pengerahan babinsa. Babinsa ini melakukan pendataan preferensi memilih warga dalam pemilu presiden mendatang. Dalam pendataan itu, warga diarahkan untuk memilih pasangan yang diusung oleh Partai Gerindra, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

sumber
http://bangka.tribunnews.com/2014/06/06/pengerahan-babinsa-juga-terjadi-di-gunung-kidul
« Last Edit: 06 June 2014, 11:38:08 AM by kullatiro »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
SBY Marah Ada Pihak yang Menarik Dukungan Jenderal Aktif
« Reply #4 on: 06 June 2014, 12:48:46 PM »
JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjukkan kemarahannya di hadapan 200 perwira tinggi TNI/Polri dalam pertemuan di Kementerian Pertahanan, Senin (2/6/2014). Presiden menyebut, ada jenderal aktif yang tidak netral menghadapi Pemilihan Presiden 2014. Presiden berkali-kali menggelengkan kepalanya.

"Dari informasi yang telah dikonfirmasikan, tentu bukan konfirmasi yang tidak ada nilainya, mengatakan, ada pihak-pihak yang menarik-narik sejumlah perwira tinggi untuk menarik yang didukungnya," ucap Presiden.

Informasi tersebut, ungkap Presiden, bukanlah fitnah belaka lantaran dirinya sudah meminta agar informasi itu benar-benar dicek kebenarannya. Dari informasi itu, Presiden juga menyindir adanya jenderal aktif yang tidak lagi loyal kepada Presiden sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata.

Presiden pun sempat terdiam beberapa saat. Dia lalu melihat ke arah para perwira tinggi di depannya. SBY mengerakkan kepalanya dari kanan ke kiri, melihat mereka secara saksama.

"Bahkan ditambahkan, tidak perlu mendengar Presiden kalian. Kan itu Presiden 'kapal karam', lebih baik cari presiden baru yang bersinar. Dalam negeri yang kita cintai, kata-kata ajakan seperti itu hanyalah sebuah godaan," lanjut Presiden.

Presiden pun mengingatkan prinsip seorang perwira di dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit yang telah diikrarkan. Dari sumpah itu, lanjut Presiden, diajarkan nilai dan etika yang harus dipegang kuat seorang prajurit.

"Kalau dilihat jernih, itu benih subordinasi. Karenanya, berhati-hatilah! Jangan tergoda! Tidak baik bagi para perwira yang diajak seperti itu, tidak baik bagi lembaga TNI Polri, dan tidak baik bagi negara," ucapnya.

Tidak diketahui pasti siapa pihak-pihak yang dimaksud presiden. Namun, dalam pertemuan Partai Demokrat dengan Prabowo-Hatta di Hotel Sahid Jaya, Minggu (1/6/2014), Kastorius Sinaga sempat menyinggung hal yang sama dengan presiden.

Dia sempat bertanya kepada Prabowo soal adanya capres yang menarik dukungan dari jenderal aktif. Prabowo menjawabnya dengan memastikan bahwa dirinya tidak akan mencampurkan TNI dengan politik.

http://nasional.kompas.com/read/2014/06/02/1223571/SBY.Marah.Ada.Pihak.yang.Menarik.Dukungan.Jenderal.Aktif
« Last Edit: 06 June 2014, 12:50:38 PM by kullatiro »

Offline ardb

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 259
  • Reputasi: 11
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
JAKARTA, KOMPAS.com — Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat Letnan Kolonel Infantri Yudi Pranoto mengatakan, telah terjadi kesalahpahaman antara warga dan anggota bintara pembina desa (babinsa). Hal ini terkait adanya dugaan bahwa anggota babinsa yang mengarahkan pilihan warga ke pasangan calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

"Ini hanya miskomunikasi saja. Ada salah paham antara warga dan anggota babinsa," ujar Yudi, saat ditemui di Kodim 0501 Jakarta Pusat, Kamis (5/6/2014) malam.

Yudi membantah pemberitaan di media bahwa seorang anggota babinsa mendata pilihan warga terhadap dua pasangan calon presiden dan wakil presiden menjelang Pilpres 2014. Yudi memastikan, kedatangan babinsa ke lingkungan tempat tinggal warga hanyalah tugas rutin.

Dalam tugas tersebut, kata Yudi, babinsa hanya mendata materi geografis, demografis, dan kondisi sosial masyarakat. "Mungkin komunikasi yang dilakukan anggota babinsa tersebut sulit dimengerti oleh warga. Bisa jadi karena tingkat IQ atau pangkatnya yang rendah," ujar Yudi.

Untuk diketahui, anggota babinsa yang terkait masalah tersebut berasal dari Medan, Sumatera Utara, dan baru dua bulan bertugas di Koramil Gambir, Jakarta Pusat. Yudi juga membantah anggapan yang menyebut, pendataan ulang daftar pemilih tetap (DPT) oleh anggota babinsa dilakukan untuk membuat pemetaan daerah dukungan terhadap salah satu calon pasangan presiden dan wakil presiden.

Menurut dia, hal tersebut adalah murni akibat kesalahpahaman. "Saya bisa pastikan itu tidak benar," ujar Yudi.

Selanjutnya, Yudi mengatakan, dia akan memanggil anggota babinsa terkait dan memeriksa apakah memang ada penyimpangan yang dilakukan. Jika terbukti ada penyimpangan, anggota babinsa terkait akan mendapat sanksi berjenjang, mulai dari sanksi hukuman hingga sanksi administrasi.

sumber

ada = tidak ada

frenky awi dorje tsering

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana


Selanjutnya, Yudi mengatakan, dia akan memanggil anggota babinsa terkait dan memeriksa apakah memang ada penyimpangan yang dilakukan. Jika terbukti ada penyimpangan, anggota babinsa terkait akan mendapat sanksi berjenjang, mulai dari sanksi hukuman hingga sanksi administrasi.

sumber




Sungguh Hebat belum tahu bagaimana peristiwa sesungguh nya terjadi langsung berkomentar bahwa hal tersebut hanya mis komunikasi itulah pejabat kita.

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Mabes AD: Koptu Rusfandi Sebagai Babinsa Bersalah
« Reply #7 on: 09 June 2014, 11:39:21 PM »
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai tindak lanjut dari pemberitaan salah satu media daring pada Kamis (5/6), Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Budiman, segera memerintahkan Pangdam Jaya Mayjen Mulyono, untuk mengusut tuntas alegasi tersebut. Kepala Dinas Penerangan AD (Kadispenad) Brigjen Andika Perkasa mengatakan, Pengusutan terhadap beberapa personel di jajaran Kodim Jakarta Pusat dilakukan oleh Tim Gabungan dari Kodam Jaya sejak Kamis (5/6) sampai Ahad (8/6) pukul 4.00 dini hari WIB.

Hasil pengusutan itu menghasilkan temuan, Kopral Satu (Koptu) Rusfandi, yang mendapat perintah untuk melaksanakan tugas Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Kelurahan Cideng, Kecamatan Gambir, tidak bermaksud mengarahkan Saudara AT (dan warga lain yang didatangi) untuk memilih salah satu capres di Pemilihan Presiden 2014. Menurut Andika, memang Koptu Rusfandi mendatangi warga di daerah tanggung jawab satuannya untuk mendata preferensi warga di Pilpres mendatang.

"Dan hal ini merupakan suatu kesalahan. Yang terjadi adalah, ketika saudara AT tidak langsung memberikan jawaban saat ditanya tentang preferensinya pada Pemilihan Presiden 2014, Koptu Rusfandi berusaha mendapatkan konfirmasi dengan cara menunjuk pada gambar partai politik calon presiden. Secara kebetulan, gambar yang digunakan untuk mengkonfirmasi pertama kali adalah gambar partai politik calon presiden nomor urut 1," kata Andika kepada pers, Ahad (8/6).

Hal itu yang kemudian menimbulkan kesan seolah-olah Koptu Rusfandi mengarahkan AT untuk memilih salah satu capres. Namun demikian, kata Andika, tindakan Koptu Rusfandi tersebut tetap merupakan suatu kesalahan. "Pimpinan TNI AD tidak pernah memberikan perintah kepada jajarannya untuk melakukan pendataan preferensi warga di Pemilihan Presiden 2014," ujarnya.

Perintah itu juga tidak pernah diberikan oleh Pangdam Jaya berturut-turut sampai dengan Komandan Koramil (Danrami) Kapten Inf. Saliman. Andika menyebut, tndakan Koptu Rusfandi itu merupakan inisiatif sendiri dan lebih disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang tugas-tugas Babinsa.

"Dalam hal ini Koptu Rusfandi memang baru bertugas sekitar satu bulan di Satuan Teritorial Koramil Gambir setelah pindah tugas dari Satuan Tempur Batalyon Kavaleri 6 di Kodam 1 Bukit Barisan, Medan," kata mantan Danrem 023/Kawal Samudera itu.


Red: Erik Purnama Putra

Sumber:
http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/06/08/n6tza7-mabes-ad-koptu-rusfandi-sebagai-babinsa-bersalah

Setidak nya bahasanya di perhalus
« Last Edit: 09 June 2014, 11:42:42 PM by kullatiro »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Tim Jokowi-JK Minta Babinsa Dibekukan Sementara
« Reply #8 on: 10 June 2014, 12:19:44 AM »
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua tim pemenangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, Tjahjo Kumolo, meminta Bintara Pembina Desa (Babinsa) dibekukan sementara. Permintaan ini diajukan untuk menghindari kecurigaan keterlibatan Babinsa dalam mengarahkan pemilih pada pemilihan presiden 9 Juli nanti.

"Jadi tak ada oknum siapa pun yang dicurigai," katanya saat menggelar jumpa pers di rumah pemenangan Jokowi-JK di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Juni 2014. (Baca: Babinsa Tak Netral dalam Pemilu Bisa Dipecat)

Permintaan ini, kata dia, akan disampaikan kepada Panglima TNI dan Kapolri oleh para anggota Komisi Pertahanan DPR dari Fraksi PDI-P, seperti Wakil Ketua Komisi T.B. Hasanuddin. Tjahjo meminta agar mereka dikembalikan ke kesatuannya.

Tjahjo mengatakan lamanya pembekuan itu tergantung hasil evaluasi. Apakah keberadaan mereka dinilai memberikan manfaat, dan tak membuat masyarakat terpecah-belah.

Beberapa hari ini, mencuat dugaan Babinsa ikut mempengaruhi warga agar memilih salah satu pasangan calon presiden pada pemilihan 9 Juli nanti. Di Jakarta, petugas yang mengaku bernama Ruspanji, Bintara Pembina Desa dari Komando Rayon Militer 0405 Gambir, mendata warga. Ia juga menuliskan "Partai Gerindra" di bagian akhir data tersebut.

Tak hanya di Jakarta, kegiatan serupa juga dilaporkan terjadi di Subang dan Majalengka, Jawa Barat. Pemimpin Pondok Pesantren Al Mizan di Majalengka, Maman Imanulhaq, mengatakan mendapat lima laporan serupa dari para santri di Subang. (Baca: Bawaslu Diminta Tindak Babinsa Tidak Netral)

Sumber

http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/07/269583249/Tim-Jokowi-JK-Minta-Babinsa-Dibekukan-Sementara
« Last Edit: 10 June 2014, 12:22:22 AM by kullatiro »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.099
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Kasus Babinsa, TNI AD Hukum Koptu Rusfandi dan Kapten Inf Saliman
« Reply #9 on: 10 June 2014, 12:31:27 AM »
Jakarta - TNI AD bergerak cepat melakukan penyelidikan terkait laporan Babinsa yang tak netral mengarahkan warga untuk memilih calon tertentu di Jakarta. TNI AD menemukan fakta dan data ada dugaan anggota Babinsa dan perwira yang lalai dalam kasus ini.

"Kepada Koptu Rusfandi (NRP. 310394840170), Tamtama Pengemudi Koramil Gambir: Menyatakan Koptu Rusfandi bersalah melakukan pelanggaran disiplin perbuatan tidak melaksanakan tugas dan kewajiban-nya dengan profesional dan tidak memahami tugas serta kewajiban-nya sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat (2) UU Nomor 26 tahun 1997 tentang Hukum Disiplin Prajurit," jelas Kadispen TNI Brigjen Andika Perkasa seperti dikutip dari tniad.mil.id, Minggu (8/6/2014).

Menurut Andika, TNI AD menghukum Koptu Rusfandi dengan Penahanan Berat selama 21 hari. "Memberikan sangsi tambahan berupa sangsi administratif penundaan pangkat selama 3 periode (3 x 6 bulan)," tambahnya.

Selain Koptu Rusfandi yang diduga tak disiplin, TNI AD juga memberikan hukuman kepada Kapten Inf. Saliman (NRP 572128), Dan Ramil Gambir, Kodim Jakarta Pusat.

"Menyatakan Kapten Inf. Saliman bersalah melakukan pelanggaran disiplin perbuatan tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan profesional dan tidak memahami tugas kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat (2) UU Nomor 26 Tahun 1997 tentang Hukum Disiplin Prajurit," jelas Andika.

Tak hanya itu saja, Saliman juga diberikan sanksi berupa teguram. "Menghukum Kapten Inf. Saliman dengan hukuman teguran. Memberikan sangsi tambahan berupa sangsi administratif penundaan pangkat selama 1 periode (1x 6 bulan)," tegas Andika.

http://m.detik.com/news/read/2014/06/08/104111/2602264/10/kasus-babinsa-tni-ad-hukum-koptu-rusfandi-dan-kapten-inf-saliman
« Last Edit: 10 June 2014, 12:33:44 AM by kullatiro »

 

anything