Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya  (Read 13627 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Blazetama

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 28
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Halo teman2,

Menurut teman2 apa yg hrs kita lakukan sebagai seorang Theravada bila (amit2) kita diserang ilmu hitam?

Saya bertanya karena (menurut saya, mohon dikoreksi bila salah) :
1. Theravada TIDAK mempercayai bahwa doa seseorang mampu mengubah hidupnya/menyelesaikan masalahnya secara "ajaib".
2. Theravada TIDAK berkonsen pada unsur - unsur magis, seperti Jin/Dewa/Khodam, Suhu/Paranormal, Jimat/Hu dll
3. Dengan kata lain, aliran Theravada lebih berkonsen pada perkembangan batin umat melalui latihan meditasi dan Dhamma untuk kehidupan sehari - hari.

Contoh kasus :
Seorang Theravada diberitahu oleh temannya yang terpecaya, bahwa ia diguna2 dan berada dalam pengaruh ilmu hitam.
Apa yg harus orang ini lakukan menurut tradisi Theravada?

Bila ia seorang Mahayana/Tantrayana/Tridharma tentunya ia bisa ke Suhu/Paranormal, tapi bagaimana kalau ia berpegang murni pada Theravada?

Pertanyaan ini saya ajukan karena saya melihat adanya perbedaan yang cukup mencolok dalam hal ini (magis) pada aliran Theravada dan aliran2 lainnya.

Note : Mohon maaf bila saya ada salah kata, jujur saja saya adalah seorang Theravada, tidak ada niatan untuk menjelek2an aliran ini. Segala sesuatu yg saya tulis diatas hanya berupa pendapat saya.

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #1 on: 15 April 2014, 10:06:48 PM »
Saddha terhadap Tisarana dan Sila

Offline akiong75

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 36
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #2 on: 16 April 2014, 07:40:44 AM »
Menurut pendapat pribadi saya(yang merasa bahwa saya lebih cocok dengan ajaran Buddha versi Theravada), pertama-tama adalah bahwa penganut aliran Theravada bukanlah yang tidak menerima bahwa ada "kekuatan" tertentu pada doa yang kita ucapkan, jika iya maka pastilah umat aliran Theravada tidak dianjurkan utk baca doa(Paritta), tetapi lebih ditekankan bahwa semua makhluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri, terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri, lahir, berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri. Jadi apapun yang terjadi pada mereka pasti ada hubungannya dengan apa yang telah mereka perbuat.

Jadi, bila saya mendapatkan pertanyaan seperti dalam contoh kasus TS, maka :
1.Pertama saya akan tanyakan apa keyakinan teman tersebut, bagaimana dia bisa mengetahui dengan pasti bahwa dia diguna-guna orang.

2.Berikutnya akan tanyakan apakah akhir-akhir ini, sebelum dia merasa diguna-guna orang dia pernah berbuat sesuatu yang secara sadar atau tidak sadar menyakiti orang tertentu?

3. Jika iya, maka bisa disarankan untuk minta maaf pada orang tersebut, jika tidak atau tidak memungkinkan dia untuk minta maaf, bisa saja dia melakukan meditasi Metta dan memancar cinta kasih kepada orang tersebut juga makhluk-makhluk lain(karena saya pernah dengar bahwa, guna-guna/santet dan sejenisnya bisa dilakukan dengan bantuan makhluk tertentu).

Dan juga, tidak ada larangan dalam diri saya(mungkin juga teman-teman yang lebih cocok dengan aliran Theravada lainnya) untuk meminta bantuan pihak lain dalam hal ini adalah mungkin seorang Suhu/Bhante atau juga seorang hypnoterapis/psikolog, karena dalam banyak kasus, "merasa" diguna-guna hanyalah masalah paranoid yang berlebihan atau masalah psikis yang tidak disadari.

Tentu saja, senantiasa kita melakukan meditasi agar selalu sadar dan mengamalkan sila(minimal Pancasila) dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kedepannya tidak melakukan sesuatu hal yang mungkin bisa mengakibatkan kita "dikerjai" orang dengan ilmu hitam.

Maaf kepanjangan merespon.. :-[

Salam metta,
 _/\_
Semoga Semua Makhluk Berbahagia
Bebas dari Derita Fisik dan Batin

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #3 on: 16 April 2014, 08:52:40 AM »
Halo teman2,

Menurut teman2 apa yg hrs kita lakukan sebagai seorang Theravada bila (amit2) kita diserang ilmu hitam?

Saya bertanya karena (menurut saya, mohon dikoreksi bila salah) :
1. Theravada TIDAK mempercayai bahwa doa seseorang mampu mengubah hidupnya/menyelesaikan masalahnya secara "ajaib".
2. Theravada TIDAK berkonsen pada unsur - unsur magis, seperti Jin/Dewa/Khodam, Suhu/Paranormal, Jimat/Hu dll
Apa benar demikian? Bahkan di vinaya (Culavagga V.6.), bhikkhu diperbolehkan untuk membuat jimat sebagai perlindungan untuk dirinya sendiri (selama tidak digunakan untuk mendapatkan perolehan); DN 32. Atanatiyasutta juga digunakan untuk mengundang raja Yakkha untuk mengusir Yakkha jahat. Masa' sih tidak ada kepercayaan magis-magis begitu?


Quote
3. Dengan kata lain, aliran Theravada lebih berkonsen pada perkembangan batin umat melalui latihan meditasi dan Dhamma untuk kehidupan sehari - hari.

[...]
Untuk yang ini sepertinya memang demikian. Walaupun magis-magis itu termasuk fenomena yang perlu dipahami, tapi bukan menjadi tujuan utama.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #4 on: 16 April 2014, 09:27:26 AM »
Apa benar demikian? Bahkan di vinaya (Culavagga V.6.), bhikkhu diperbolehkan untuk membuat jimat sebagai perlindungan untuk dirinya sendiri (selama tidak digunakan untuk mendapatkan perolehan); DN 32. Atanatiyasutta juga digunakan untuk mengundang raja Yakkha untuk mengusir Yakkha jahat. Masa' sih tidak ada kepercayaan magis-magis begitu?


Baru tahu kalo bhikkhu boleh buat jimat. Kalo buat jimat/amulet untuk diberikan ke umat (bukan dijual ke umat, tapi ngasih aja), itu diperbolehkan gak, om?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #5 on: 16 April 2014, 09:53:28 AM »
Baru tahu kalo bhikkhu boleh buat jimat. Kalo buat jimat/amulet untuk diberikan ke umat (bukan dijual ke umat, tapi ngasih aja), itu diperbolehkan gak, om?
Saya belum ketemu penjelasan boleh atau tidak. Mungkin tidak dilarang, tapi sepertinya juga potensi mendapatkan simpati umat dan juga akan mengesankan 'kesaktian'. IMO untuk hal-hal gini, baiknya kembali ke kebijaksanaan bhikkhu itu kali yah...


Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #6 on: 16 April 2014, 10:25:22 AM »
Apa benar demikian? Bahkan di vinaya (Culavagga V.6.), bhikkhu diperbolehkan untuk membuat jimat sebagai perlindungan untuk dirinya sendiri (selama tidak digunakan untuk mendapatkan perolehan); DN 32. Atanatiyasutta juga digunakan untuk mengundang raja Yakkha untuk mengusir Yakkha jahat. Masa' sih tidak ada kepercayaan magis-magis begitu?

Untuk yang ini sepertinya memang demikian. Walaupun magis-magis itu termasuk fenomena yang perlu dipahami, tapi bukan menjadi tujuan utama.

please note, ini dari vinaya theravāda, yg merupakan penjelasan dan implementasi dari patimokha sendiri. Jadi belum tentu berlaku di vinaya sekte lain seperti dharmaguptaka yg dipakai mahayana.
There is no place like 127.0.0.1

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #7 on: 16 April 2014, 10:47:25 AM »
please note, ini dari vinaya theravāda, yg merupakan penjelasan dan implementasi dari patimokha sendiri. Jadi belum tentu berlaku di vinaya sekte lain seperti dharmaguptaka yg dipakai mahayana.
Ya, ini vinayanya Tradisi Theravada, untuk di yang lain belum tahu juga. Tapi di AN 4.67. Ahirajasutta juga disinggung perlindungan serupa. Karena AN juga termasuk karya awal, kemungkinan berlaku bagi sekte lainnya juga.


PS: Tidak melayani pasien alergi Buddhisme Awal.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #8 on: 16 April 2014, 11:07:49 AM »
Saya belum ketemu penjelasan boleh atau tidak. Mungkin tidak dilarang, tapi sepertinya juga potensi mendapatkan simpati umat dan juga akan mengesankan 'kesaktian'. IMO untuk hal-hal gini, baiknya kembali ke kebijaksanaan bhikkhu itu kali yah...



Ok, agree with that point....

please note, ini dari vinaya theravāda, yg merupakan penjelasan dan implementasi dari patimokha sendiri. Jadi belum tentu berlaku di vinaya sekte lain seperti dharmaguptaka yg dipakai mahayana.

Yups, ini kan board Theravada dan memakai interpretasi Theravada.

"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #9 on: 16 April 2014, 11:11:22 AM »
Ya, ini vinayanya Tradisi Theravada, untuk di yang lain belum tahu juga. Tapi di AN 4.67. Ahirajasutta juga disinggung perlindungan serupa. Karena AN juga termasuk karya awal, kemungkinan berlaku bagi sekte lainnya juga.


PS: Tidak melayani pasien alergi Buddhisme Awal.

di AN 4.67 Ahirāja Sutta (http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23851.msg435477.html#msg435477) itu tidak dibilang bikin jimat. di Cullavagga 5.6 memang boleh tah bikin jimat?

There is no place like 127.0.0.1

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #10 on: 16 April 2014, 12:04:07 PM »
di AN 4.67 Ahirāja Sutta (http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23851.msg435477.html#msg435477) itu tidak dibilang bikin jimat. di Cullavagga 5.6 memang boleh tah bikin jimat?



Kayaknya Cullavagga V.6 hanya memperbolehkan "to let blood" (pengeluaran darah kotor?) untuk mengobati luka akibat gigitan ular (http://sacred-texts.com/bud/sbe20/sbe20021.htm). Catatan kaki dari penerjemahnya mengacu juga pada "the letting of blood" pada Mahavagga VI.14 untuk mengobati penyakit tertentu (http://sacred-texts.com/bud/sbe17/sbe17028.htm).

Mungkin sumber om KK lebih jelas terjemahannya dibandingkan sumber saya....
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #11 on: 16 April 2014, 03:33:33 PM »
Waduh... kenapa malah jadi bahas vinaya (aturan kebhikkhuan) ?

Mengapa vinaya ditetapkan ?
Bagaimana vinaya dikeluarkan ?
Apa tujuan vinaya diterbitkan ?
Untuk siapa vinaya ?

Ketika pertanyaannya adalah boleh atau tidak boleh untuk seorang bhikkhu,
maka referensi terbaik adalah vinaya...

Akan tetapi,
Seseorang yang telah mengerti dengan benar, tentu sudah mengetahui boleh atau tidaknya.

Sayangnya,
Banyak (bhikkhu/bhante) yang mencoba mengikuti/mencontoh tanpa didasari Pengertian Benar (sammä-ditthi)

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #12 on: 16 April 2014, 03:44:24 PM »
Blazetama,

Mengapa keyakinan terhadap tisarana (Buddha, Dhamma, Sangha) dan sila perlu ditanamkan kembali ?
Dengan memahami dhamma yang ditemukan kembali oleh Buddha, baik pemahaman melalui sangha
dan dengan menjaga sila (kelakuan yang disukai oleh para mulia).

Anda berkesempatan untuk berpikir benar, dan mengerti dengan benar,
ketika pengertian benar dan pikiran benar sudah tertanam.

Anda memahami salah satu asal-usul dukkha yang anda alami,
mengerti dengan jelas sebab-musababnya.

dan anda mampu untuk nge-generate ataupun mengundang energi positif (buah kamma-baik),
sehingga kemalangan (ilmu hitam / energi negatif / buah kamma-buruk) segera terlewati

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #13 on: 16 April 2014, 04:29:27 PM »
di AN 4.67 Ahirāja Sutta (http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23851.msg435477.html#msg435477) itu tidak dibilang bikin jimat. di Cullavagga 5.6 memang boleh tah bikin jimat?
Ya, sepertinya dari kasus di AN itu maka dikeluarkan aturan dan metode "mantra" empat raja naga itu untuk perlindungan bagi bhikkhu dan dicatat di vinaya. 


Kayaknya Cullavagga V.6 hanya memperbolehkan "to let blood" (pengeluaran darah kotor?) untuk mengobati luka akibat gigitan ular (http://sacred-texts.com/bud/sbe20/sbe20021.htm). Catatan kaki dari penerjemahnya mengacu juga pada "the letting of blood" pada Mahavagga VI.14 untuk mengobati penyakit tertentu (http://sacred-texts.com/bud/sbe17/sbe17028.htm).

Mungkin sumber om KK lebih jelas terjemahannya dibandingkan sumber saya....
Dari teks yang saya ambil dulu (tapi lupa di mana), Cv. V.6. isinya adalah:
"I allow that these four royal families of snakes be suffused with an attitude of good will for the sake of self-guarding, for the sake of self-protection, for the sake of self-warding."

Vinaya, Khandaka bagian 10 juga ada membahas tentang ini.

Mungkin lebih jelas bisa dilihat di sini.


Waduh... kenapa malah jadi bahas vinaya (aturan kebhikkhuan) ?

[...]
Bukan mau membahas vinaya secara mendalam sih, tapi untuk menunjukkan bahwa Tradisi Theravada bukan tidak membahas hal-hal magis.
« Last Edit: 16 April 2014, 04:31:06 PM by Kainyn_Kutho »

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #14 on: 16 April 2014, 04:32:50 PM »
 [at] KK: Ok, thx...

 [at] Menyan: Oops, maaf OOT jadinya ;D
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #15 on: 16 April 2014, 04:40:21 PM »
Dari teks yang saya ambil dulu (tapi lupa di mana), Cv. V.6. isinya adalah:
"I allow that these four royal families of snakes be suffused with an attitude of good will for the sake of self-guarding, for the sake of self-protection, for the sake of self-warding."

gw nge-translate nya menjadi
"Gw persilahkan 4 ular2 ini di-suffused (kepret/percik/liputi) metta untuk tujuan jaga diri, [...]"



Quote
Vinaya, Khandaka bagian 10 juga ada membahas tentang ini.
Mungkin lebih jelas bisa dilihat di sini.
Also metta...



From another english translation sources:
I allow you, O Bhikkhus, to make use of a safeguard for yourselves for your security and protection,
by letting your love flow out over the four royal breeds of serpents. And thus, O Bhikkhus, are you to do so

source: http://sacred-texts.com/bud/sbe20/sbe20021.htm

also metta..

There is no jimat (or sejenisnya)

« Last Edit: 16 April 2014, 04:48:23 PM by Kemenyan »

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #16 on: 16 April 2014, 05:06:35 PM »
gw nge-translate nya menjadi
"Gw persilahkan 4 ular2 ini di-suffused (kepret/percik/liputi) metta untuk tujuan jaga diri, [...]"


Also metta...
Aku nangkepnya juga begitu..
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #17 on: 16 April 2014, 05:14:23 PM »
Biasanya diterjemahkan sebagai "memancarkan metta", tentu saja ada interpretasi memancarkan metta itu caranya dg membacakan paritta. Kalo merujuk pada sutta2 awal sih bukan begitu....
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #18 on: 16 April 2014, 05:30:43 PM »
gw nge-translate nya menjadi
"Gw persilahkan 4 ular2 ini di-suffused (kepret/percik/liputi) metta untuk tujuan jaga diri, [...]"


Also metta...



From another english translation sources:
I allow you, O Bhikkhus, to make use of a safeguard for yourselves for your security and protection,
by letting your love flow out over the four royal breeds of serpents. And thus, O Bhikkhus, are you to do so

source: http://sacred-texts.com/bud/sbe20/sbe20021.htm

also metta..

There is no jimat (or sejenisnya)
Ya, memang tidak secara spesifik dijelaskan perlindungan itu berupa jimat/mantra/paritta/tato, dll., tapi di sini ada semacam metode kewaskitaan yang melibatkan 'empat raja naga' (atau raja yakkha dalam kasus Atanatiya) untuk perlindungan. Jadi rasanya bukan tidak dibahas hal-hal beginian dalam Tradisi Theravada. Itu point yang saya maksud.


Aku nangkepnya juga begitu..
Kalau ini hanya masalah metta semata (bukan magis), kenapa tidak cukup hanya memancarkan ke makhluk yang dimaksud saja, tapi mesti ke raja naga?

Offline Blazetama

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 28
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #19 on: 16 April 2014, 08:31:00 PM »
Terima kasih untuk respon dan masukannya.

Dengan asumsi bahwa orang tsb sudah pasti dibawah pengaruh ilmu hitam dan orang tsb tidak tahu siapa pelakunya, apa yang orang tsb harus lakukan?

Dari diskusi kita, saya berpendapat kita bisa :
1. Membaca Paritta
2. Meminta Hu/Jimat dari Paranormal/Bhikkhu (saya masih ragu akan hal ini)

Bila saya membayangkan saya berada di posisi orang tsb, saya akan menghadapi dilema : di satu sisi kita harusnya percaya pada karma dan Triratna, tetapi disisi lain tidak bisa dipungkiri ilmu hitam bisa berakibat fatal dan tidak bijaksana (menurut saya) bila orang tsb tidak mencari bantuan pihak lain.

Apa yang akan teman - teman lakukan bila Anda menjadi orang tsb?
 _/\_

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.749
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #20 on: 16 April 2014, 09:17:44 PM »
berarti kalau memang percaya pada karma dan tiratana, pas lagi sakit kita gak perlu berobat ke dokter?
kalau ke dokter berarti gak percaya pada karma dan tiratana?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #21 on: 16 April 2014, 10:11:20 PM »
Baru tahu kalo bhikkhu boleh buat jimat. Kalo buat jimat/amulet untuk diberikan ke umat (bukan dijual ke umat, tapi ngasih aja), itu diperbolehkan gak, om?

ntah boleh atau tidak..tp barter dgn umat awam dan jual beli ga boleh
...

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #22 on: 16 April 2014, 10:22:00 PM »
Ya, memang tidak secara spesifik dijelaskan perlindungan itu berupa jimat/mantra/paritta/tato, dll., tapi di sini ada semacam metode kewaskitaan yang melibatkan 'empat raja naga' (atau raja yakkha dalam kasus Atanatiya) untuk perlindungan. Jadi rasanya bukan tidak dibahas hal-hal beginian dalam Tradisi Theravada. Itu point yang saya maksud.

Kalau ini hanya masalah metta semata (bukan magis), kenapa tidak cukup hanya memancarkan ke makhluk yang dimaksud saja, tapi mesti ke raja naga?

krn dalam kasus ini lagi ngomong ttg di gigit ular...
jd mettanya di pacarkan spesifik ke bos2 nya ular...
klo ga spesifik..yah semoga semua mahluk berbahagia...

termasuk pegarahan "pikiran" atau metta...klo lebih spesifik...
...

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #23 on: 17 April 2014, 07:30:49 AM »
Terima kasih untuk respon dan masukannya.

Dengan asumsi bahwa orang tsb sudah pasti dibawah pengaruh ilmu hitam dan orang tsb tidak tahu siapa pelakunya, apa yang orang tsb harus lakukan?

Dari diskusi kita, saya berpendapat kita bisa :
1. Membaca Paritta
2. Meminta Hu/Jimat dari Paranormal/Bhikkhu (saya masih ragu akan hal ini)

Bila saya membayangkan saya berada di posisi orang tsb, saya akan menghadapi dilema : di satu sisi kita harusnya percaya pada karma dan Triratna, tetapi disisi lain tidak bisa dipungkiri ilmu hitam bisa berakibat fatal dan tidak bijaksana (menurut saya) bila orang tsb tidak mencari bantuan pihak lain.

Apa yang akan teman - teman lakukan bila Anda menjadi orang tsb?
 _/\_

Simpel aja: dana, sila, bhavana
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #24 on: 17 April 2014, 07:36:11 AM »
sebetulnya,
orang tsb paling tidak harus berterima kasih bahwa salah satu karma buruknya yg hebat sedang berbuah dan berkurang satu.


bukankah orang selalu menanti2 matang-nya buah karma,
whether it's good or bad, he/she should be thankful/grateful
« Last Edit: 17 April 2014, 07:40:22 AM by Mas Tidar »
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #25 on: 17 April 2014, 08:47:20 AM »
krn dalam kasus ini lagi ngomong ttg di gigit ular...
jd mettanya di pacarkan spesifik ke bos2 nya ular...
klo ga spesifik..yah semoga semua mahluk berbahagia...

termasuk pegarahan "pikiran" atau metta...klo lebih spesifik...
Tidak juga sih. Di sutta disebutkan format bacaan yang menyebutkan '4 raja naga' ini berlaku untuk makhluk tak berkaki, berkaki dua, empat, dan berkaki banyak (alias semuanya). Saya pikir jika memang mau secara general, langsung aja ke "semua makhluk", dan kalau mau khusus, langsung ke makhluk yang dihadapi. Tapi dalam kasus ini malah melibatkan Virupakkha dkk. yang adalah ini adalah raja naga, penguasa alam catummaharajika bagian barat. Jadi balik lagi, saya pikir ini bukan hanya metta (seperti di karaniyamettasutta), tapi ada unsur magisnya berkenaan dengan kekuasaan makhluk alam lain. Itu saja sih sebetulnya.

-------

sebetulnya,
orang tsb paling tidak harus berterima kasih bahwa salah satu karma buruknya yg hebat sedang berbuah dan berkurang satu.


bukankah orang selalu menanti2 matang-nya buah karma,
whether it's good or bad, he/she should be thankful/grateful
Kalau gitu, Buddhis sama donk seperti Nigantha yang mau menghabiskan karma buruk untuk mencapai pembebasan?

Offline juli wu

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 217
  • Reputasi: 23
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia,pintar,bikja
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #26 on: 17 April 2014, 12:47:13 PM »
Apakah orang yang kena guna2 akan tau dirinya di guna2,kalau bisa tau sebelum kena buat pemusnahnya dulu aja

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.431
  • Reputasi: 133
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #27 on: 17 April 2014, 01:53:14 PM »
sebetulnya,
orang tsb paling tidak harus berterima kasih bahwa salah satu karma buruknya yg hebat sedang berbuah dan berkurang satu.

bukankah orang selalu menanti2 matang-nya buah karma,
whether it's good or bad, he/she should be thankful/grateful

siapa bilang orang selalu menanti2 matangnya buah karma? ;D

sebenarnya umat Buddhis yang kebanyakan belajar malah berpikir:
1. semoga karma baik cepat berbuah
2. semoga karma buruk cepat expired (menjadi ahosi karma)... hehehe...  :P
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #28 on: 17 April 2014, 02:48:20 PM »
Maaf, gak nahan mau OOT lagi, tentang pembuatan jimat, dari DN 1 Brahmajala Sutta dikatakan:

1.21. ‘“Sementara beberapa petapa dan Brāhmaṇa memakan makanan pemberian mereka yang berkeyakinan, berpenghidupan dari keterampilan, penghidupan salah seperti membaca garis tangan,[28] meramal dari gambaran-gambaran, tanda-tanda, mimpi, tanda-tanda jasmani, gangguan tikus, pemujaan api, persembahan dari sesendok sekam, tepung beras, beras, ghee atau minyak, atau darah, dari mulut, membaca ujung jari, pengetahuan rumah dan kebun, ahli dalam jimat, pengetahuan setan, pengetahuan rumah tanah,[29] pengetahuan ular, pengetahuan racun, pengetahuan tikus, pengetahuan burung, pengetahuan gagak, meramalkan usia kehidupan seseorang, jimat melawan anak panah, pengetahuan tentang suara-suara binatang, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.”’
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #29 on: 17 April 2014, 07:28:38 PM »
Tidak juga sih. Di sutta disebutkan format bacaan yang menyebutkan '4 raja naga' ini berlaku untuk makhluk tak berkaki, berkaki dua, empat, dan berkaki banyak (alias semuanya). Saya pikir jika memang mau secara general, langsung aja ke "semua makhluk", dan kalau mau khusus, langsung ke makhluk yang dihadapi. Tapi dalam kasus ini malah melibatkan Virupakkha dkk. yang adalah ini adalah raja naga, penguasa alam catummaharajika bagian barat. Jadi balik lagi, saya pikir ini bukan hanya metta (seperti di karaniyamettasutta), tapi ada unsur magisnya berkenaan dengan kekuasaan makhluk alam lain. Itu saja sih sebetulnya.

-------
Kalau gitu, Buddhis sama donk seperti Nigantha yang mau menghabiskan karma buruk untuk mencapai pembebasan?
Virupakkha dan virupakkhas ..tampaknya beda arti..

yah memang sistim Buddhist beberapa di ajarkan bertahap...ini salah satunya.. bbrp dimulai dgn memancarkan cinta kasih ke 4 arah utama..( di mulai dgn 1 arah... ) kemudian ke atas , kebawah, ke sekeliling dan kesegala penjuru, walau simplenya..bilang aja kesegala penjuru..

tp tentu itu juga tidak  sendang mengajarkan jimat..hanya krn mengajarkan ke 1 arah dulu, sedangkan... bisa langsung ngomong kesegala penjuru...
...

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #30 on: 17 April 2014, 07:33:43 PM »
sebetulnya,
orang tsb paling tidak harus berterima kasih bahwa salah satu karma buruknya yg hebat sedang berbuah dan berkurang satu.


bukankah orang selalu menanti2 matang-nya buah karma,
whether it's good or bad, he/she should be thankful/grateful
sebenarnya..aku ga pernah dpt sumber /catatan mengenai.. "cara org menghadapi suatu kesialan dgn berpikir bahwa telah berkurang 1 kamma buruk ku..." yg merupakan hal yg ajarkan Buddha atau di setujui Buddha
...

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #31 on: 19 April 2014, 12:08:22 PM »
Maaf, gak nahan mau OOT lagi, tentang pembuatan jimat, dari DN 1 Brahmajala Sutta dikatakan:

1.21. ‘“Sementara beberapa petapa dan Brāhmaṇa memakan makanan pemberian mereka yang berkeyakinan, berpenghidupan dari keterampilan, penghidupan salah seperti membaca garis tangan,[28] meramal dari gambaran-gambaran, tanda-tanda, mimpi, tanda-tanda jasmani, gangguan tikus, pemujaan api, persembahan dari sesendok sekam, tepung beras, beras, ghee atau minyak, atau darah, dari mulut, membaca ujung jari, pengetahuan rumah dan kebun, ahli dalam jimat, pengetahuan setan, pengetahuan rumah tanah,[29] pengetahuan ular, pengetahuan racun, pengetahuan tikus, pengetahuan burung, pengetahuan gagak, meramalkan usia kehidupan seseorang, jimat melawan anak panah, pengetahuan tentang suara-suara binatang, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.”’
Betul, tapi ini adalah tentang penghidupan yang tidak benar. Petapa Gotama (dan sanghanya) tidak melakukan semua hal itu demi mendapatkan persembahan, tapi bukan berarti tidak melakukannya sama sekali.

Misalnya menafsirkan mimpi, Buddha Gotama sendiri menafsirkan mimpi Raja Bimbisara (yang akhirnya mengajarkan tentang patidana), atau di lain kasus juga meramalkan kematian seorang anak (DhA 109), namun tidak melakukannya demi mendapatkan penghidupan. Buddha bahkan tidak mengajar dhamma demi mendapatkan penghidupan.

-------

Virupakkha dan virupakkhas ..tampaknya beda arti..
Bisa dijelaskan bedanya bagaimana?

Quote
yah memang sistim Buddhist beberapa di ajarkan bertahap...ini salah satunya.. bbrp dimulai dgn memancarkan cinta kasih ke 4 arah utama..( di mulai dgn 1 arah... ) kemudian ke atas , kebawah, ke sekeliling dan kesegala penjuru, walau simplenya..bilang aja kesegala penjuru..

tp tentu itu juga tidak  sendang mengajarkan jimat..hanya krn mengajarkan ke 1 arah dulu, sedangkan... bisa langsung ngomong kesegala penjuru...
Ya, betul. Tapi balik lagi, jika memang hanya metta, apa gunanya menyinggung 4 raja naga?


Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #32 on: 19 April 2014, 12:33:25 PM »
Bisa dijelaskan bedanya bagaimana?
Ya, betul. Tapi balik lagi, jika memang hanya metta, apa gunanya menyinggung 4 raja naga?
dalam terjemahan bahasa indo:

kupancarkan metta kepada suku-suku ular Virupakkha
kupancarkan metta kepada suku-suku ular  Erapatha
kupancarkan metta kepada suku-suku ular  Chabyaputta
kupancarkan metta kepada suku-suku ular  Kanhagotama

ini mungkin maksudnya memancarkan metta kepada jenis-jenis ular dibawah kekuasaan salah satu dari 4 raja naga tsb (bukan kepada dewanya)
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #33 on: 20 April 2014, 12:40:03 AM »
Virupakkha = nama salah 1 raja di catumaharajika

virupakkhas = nama salah 1 suku ular/naga

namanya mirip... ga masalah..blm tentu merujuk ke subject yg sama....

selain itu nama2 4 raja naga bisa di temukan dimana? soalnya yg aku temukan merujuk ke suku/family/kelas bukan nama rajanya...

lagian dari sumbernya mengatakan itu adalah jenis ular/naga

"by letting your love flow out over the four royal breeds of serpents. "

yah kebetulan salah satunya namanya sama dgn salah 1 raja dewa catumaharajika..ga berarti dewa itu adalah naga..., tp dia memang memimpin para naga...
...

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #34 on: 21 April 2014, 02:33:50 PM »
dalam terjemahan bahasa indo:

kupancarkan metta kepada suku-suku ular Virupakkha
kupancarkan metta kepada suku-suku ular  Erapatha
kupancarkan metta kepada suku-suku ular  Chabyaputta
kupancarkan metta kepada suku-suku ular  Kanhagotama

ini mungkin maksudnya memancarkan metta kepada jenis-jenis ular dibawah kekuasaan salah satu dari 4 raja naga tsb (bukan kepada dewanya)
Iya, tapi kenapa tidak langsung kepada makhluk bersangkutan saja? Ini seperti misalnya kita dizolimi bendahara RT, lalu kita mengarahkan pikiran, "Kupancarkan metta pada SBY dan kabinetnya" gitu.

Dan sebetulnya saya tertarik dengan bagian awalnya:
"Pasti, para bhikkhu, bhikkhu itu tidak meliputi keempat keluarga kerajaan ular dengan pikiran cinta kasih. Karena jika ia melakukan demikian, maka ia tidak akan digigit ular dan tewas..."

Empat raja-raja ular ini adalah tradisi dan mitologi di India pada masa itu, jadi untuk yang tidak kenal tradisi itu jadinya bagaimana? Misalnya kalau di Mesir kuno, mereka menghormat ke Wadjet, berarti objek yang keliru donk? ;D Tapi ini Intermezzo saja.

-------

Virupakkha = nama salah 1 raja di catumaharajika

virupakkhas = nama salah 1 suku ular/naga

namanya mirip... ga masalah..blm tentu merujuk ke subject yg sama....

selain itu nama2 4 raja naga bisa di temukan dimana? soalnya yg aku temukan merujuk ke suku/family/kelas bukan nama rajanya...

lagian dari sumbernya mengatakan itu adalah jenis ular/naga

"by letting your love flow out over the four royal breeds of serpents. "

yah kebetulan salah satunya namanya sama dgn salah 1 raja dewa catumaharajika..ga berarti dewa itu adalah naga..., tp dia memang memimpin para naga...
Catummaharajika 'kan empat penjuru, di utara raja Yakkha, di timur raja Gandhabba, di selatan raja Kumbhanda, dan di barat raja Naga.


Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #35 on: 21 April 2014, 05:25:37 PM »
Iya, tapi kenapa tidak langsung kepada makhluk bersangkutan saja? Ini seperti misalnya kita dizolimi bendahara RT, lalu kita mengarahkan pikiran, "Kupancarkan metta pada SBY dan kabinetnya" gitu.
Kupancarkan metta ke arah timur
Kupancarkan metta ke arah tenggara
Kupancarkan metta ke arah selatan
Kupancarkan metta ke arah barat daya
Kupancarkan metta ke arah barat
Kupancarkan metta ke arah barat laut
Kupancarkan metta ke arah utara
Kupancarkan metta ke arah timur laut
Kupancarkan metta ke arah atas
Kupancarkan metta ke arah bawah

ini sama aja dengan memancarkan metta ke segala penjuru, cuma oleh Sang Buddha disebutkan satu2


sama halnya seperti:
Kupancarkan metta terhadap ular kobra
Kupancarkan metta terhadap ular boa
Kupancarkan metta terhadap ular piton
Kupancarkan metta terhadap ular sawah
Kupancarkan metta terhadap ular sanca
Kupancarkan metta terhadap ular laut
Kupancarkan metta terhadap ular kepala dua
Kupancarkan metta terhadap ular siput
Kupancarkan metta terhadap ular sendok
(dst, yang jumlahnya bisa jadi puluhan s/d ratusan)

suku2 ular dari Virupakkha sampai Kanhagotama itu mungkin maksudnya adalah mencakup semua jenis ularnya, kalau mau disebutin satu2 dari ular piton, boa, kobra, sawah, dst, yang ada kecapekan bacanya
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #36 on: 21 April 2014, 07:01:07 PM »


Iya, tapi kenapa tidak langsung kepada makhluk bersangkutan saja? Ini seperti misalnya kita dizolimi bendahara RT, lalu kita mengarahkan pikiran, "Kupancarkan metta pada SBY dan kabinetnya" gitu.

Dan sebetulnya saya tertarik dengan bagian awalnya:
"Pasti, para bhikkhu, bhikkhu itu tidak meliputi keempat keluarga kerajaan ular dengan pikiran cinta kasih. Karena jika ia melakukan demikian, maka ia tidak akan digigit ular dan tewas..."

Empat raja-raja ular ini adalah tradisi dan mitologi di India pada masa itu, jadi untuk yang tidak kenal tradisi itu jadinya bagaimana? Misalnya kalau di Mesir kuno, mereka menghormat ke Wadjet, berarti objek yang keliru donk? ;D Tapi ini Intermezzo saja.


Catummaharajika 'kan empat penjuru, di utara raja Yakkha, di timur raja Gandhabba, di selatan raja Kumbhanda, dan di barat raja Naga.


pertama pastikan dulu apa benar itu nama 4 raja ular..atau nama famili/kelas/suku ular...? jd mo menghormat cobra misalnya..silakan.. cobra bisa saja salah satu jenis dari 4 kelas/suku itu...
malas sebutin 4 kelas.. yah 1 aja..ular.., malas sebutin ular..semua mahluk d..malas juga..tidur aja... tp terlepas dari kemalasan..itu teknik nya begitu..walau pada akhir syair..mengarah kepada semua mahluk.. dan untuk jimat? ga nyambung...



catumaharajika benar 4 penjuru..

aku ga bilang loh 4 raja catumaharajika adalah naga...

aku bilang salah 1 raja itu namanya sama dgn nama suku ular/naga..ga berarti dia harus Naga..

...

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #37 on: 22 April 2014, 12:29:22 PM »
Kupancarkan metta ke arah timur
Kupancarkan metta ke arah tenggara
Kupancarkan metta ke arah selatan
Kupancarkan metta ke arah barat daya
Kupancarkan metta ke arah barat
Kupancarkan metta ke arah barat laut
Kupancarkan metta ke arah utara
Kupancarkan metta ke arah timur laut
Kupancarkan metta ke arah atas
Kupancarkan metta ke arah bawah

ini sama aja dengan memancarkan metta ke segala penjuru, cuma oleh Sang Buddha disebutkan satu2


sama halnya seperti:
Kupancarkan metta terhadap ular kobra
Kupancarkan metta terhadap ular boa
Kupancarkan metta terhadap ular piton
Kupancarkan metta terhadap ular sawah
Kupancarkan metta terhadap ular sanca
Kupancarkan metta terhadap ular laut
Kupancarkan metta terhadap ular kepala dua
Kupancarkan metta terhadap ular siput
Kupancarkan metta terhadap ular sendok
(dst, yang jumlahnya bisa jadi puluhan s/d ratusan)

suku2 ular dari Virupakkha sampai Kanhagotama itu mungkin maksudnya adalah mencakup semua jenis ularnya, kalau mau disebutin satu2 dari ular piton, boa, kobra, sawah, dst, yang ada kecapekan bacanya


pertama pastikan dulu apa benar itu nama 4 raja ular..atau nama famili/kelas/suku ular...? jd mo menghormat cobra misalnya..silakan.. cobra bisa saja salah satu jenis dari 4 kelas/suku itu...
malas sebutin 4 kelas.. yah 1 aja..ular.., malas sebutin ular..semua mahluk d..malas juga..tidur aja... tp terlepas dari kemalasan..itu teknik nya begitu..walau pada akhir syair..mengarah kepada semua mahluk.. dan untuk jimat? ga nyambung...

catumaharajika benar 4 penjuru..

aku ga bilang loh 4 raja catumaharajika adalah naga...

aku bilang salah 1 raja itu namanya sama dgn nama suku ular/naga..ga berarti dia harus Naga..


2 post saya gabung saja karena sama-sama menganggap "empat keluarga kerajaan naga" tidak ada hubungannya sama sekali dengan deva di Catummaharajika, hanya menyinggung genus-genus ular saja, sedangkan saya berpandangan berbeda.

Dengan demikian, saya terpaksa tidak lanjutkan. Jadi sekian, saya pamit dulu.

Spoiler: ShowHide

"1. Virupakkha. One of the Catummaharajano (Regent Kings). He is Regent of the western quarter and lord of the Nagas (D.ii.258; D.iii.199; Dvy. 126, 148). In the assembly of the devas he sits facing east (D.ii.207, 221). Kalakanni is his daughter (J.iii.257). All Nagas visit him regularly as their lord and wait on him, and any question of dispute arising among them would be referred to him for solution. E.g., J.vi.168; cf. AA.i.143.

2. Virupakkha. The name of a Naga family (Vin.ii.109; A.ii.72; J.ii.145); they were, perhaps, followers of Virupakkha (q.v.)."
-http://www.wisdomlib.org/definition/virupakkha/index.html-

---

"[...] The nāgas are the servants of Virūpākṣa (Pāli: Virūpakkha), one of the Four Heavenly Kings who guards the western direction. They act as a guard upon Mount Sumeru, protecting the devas of Trāyastriṃśa from attack by the Asuras."
-http://en.wikipedia.org/wiki/N%C4%81ga#Buddhism-

---

"In Buddhist literature, too, we meet with a snake-charm or paritta of a very early date, in which four tribes of serpent-kings (ahirāja-kulāni) are mentioned. [...]

Now it is noteworthy that Virūpakkha and Erāpatha are not only the names of two Nāgarājas, but in Buddhist mythology they figure also as lokapālas of the Western and Eastern region respectively."
-Indian Serpent Lore, Jean Philippe Vogel, p.10-

---

"Buddhist - A snake-god. One of the Dikpalas. He was responsible for guarding the western region. At times, identified as Virupaksha, Virupaksa, Virupaksa, Virupaksha or Virupaksha."
-http://www.mythologydictionary.com/virupaksha-mythology.html-

---

"Airāvata. Name of a celebrated serpent with many heads. He was the son of Kasyapa by his wife Kadru. Arjuna's father-in-law and Ulūpi's father, Kauravya, belonged to the family of this serpent. (Mb.Ādi.35.5; 213-18).
-Encylopaedia of the Hindu World, Volume 1, Edited by Gaṅgā Rām Garg-



Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #38 on: 22 April 2014, 10:02:31 PM »
Halo teman2,

Menurut teman2 apa yg hrs kita lakukan sebagai seorang Theravada bila (amit2) kita diserang ilmu hitam?

Saya bertanya karena (menurut saya, mohon dikoreksi bila salah) :
1. Theravada TIDAK mempercayai bahwa doa seseorang mampu mengubah hidupnya/menyelesaikan masalahnya secara "ajaib".
2. Theravada TIDAK berkonsen pada unsur - unsur magis, seperti Jin/Dewa/Khodam, Suhu/Paranormal, Jimat/Hu dll
3. Dengan kata lain, aliran Theravada lebih berkonsen pada perkembangan batin umat melalui latihan meditasi dan Dhamma untuk kehidupan sehari - hari.

Contoh kasus :
Seorang Theravada diberitahu oleh temannya yang terpecaya, bahwa ia diguna2 dan berada dalam pengaruh ilmu hitam.
Apa yg harus orang ini lakukan menurut tradisi Theravada?

Bila ia seorang Mahayana/Tantrayana/Tridharma tentunya ia bisa ke Suhu/Paranormal, tapi bagaimana kalau ia berpegang murni pada Theravada?

Pertanyaan ini saya ajukan karena saya melihat adanya perbedaan yang cukup mencolok dalam hal ini (magis) pada aliran Theravada dan aliran2 lainnya.

Note : Mohon maaf bila saya ada salah kata, jujur saja saya adalah seorang Theravada, tidak ada niatan untuk menjelek2an aliran ini. Segala sesuatu yg saya tulis diatas hanya berupa pendapat saya.

Tergantung dari bagaimana kita mengartikan “ilmu hitam”. Setahu saya, ilmu hitam itu adalah ilmu yang digunakan untuk hal-hal buruk, mencelakakan orang lain, makanya disebut hitam. Secara Dhamma perbuatan tersebut didasari oleh moha, dosa, dan lobha. Sebaliknya ada ilmu yang digunakan untuk hal-hal baik, tidak merugikan disebut ilmu putih karena tidak didasari oleh moha, dosa, lobha.

Jika seperti itu pengertiannya, maka Theravada pun ada cara menanggulangi ilmu hitam yaitu dengan ilmu putih, tidak lain adalah perbuatan yang dilandasi dengan sifat-sifat adosa, amoha, alobha.

Melatih metta bhavana adalah salah satu bentuk melatih ilmu putih, bisa dikategorikan sebagai jenis pelet dalam istilah ilmu hitam.

 _/\_
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #39 on: 23 April 2014, 12:11:57 AM »

2 post saya gabung saja karena sama-sama menganggap "empat keluarga kerajaan naga" tidak ada hubungannya sama sekali dengan deva di Catummaharajika, hanya menyinggung genus-genus ular saja, sedangkan saya berpandangan berbeda.

Dengan demikian, saya terpaksa tidak lanjutkan. Jadi sekian, saya pamit dulu.

Spoiler: ShowHide

"1. Virupakkha. One of the Catummaharajano (Regent Kings). He is Regent of the western quarter and lord of the Nagas (D.ii.258; D.iii.199; Dvy. 126, 148). In the assembly of the devas he sits facing east (D.ii.207, 221). Kalakanni is his daughter (J.iii.257). All Nagas visit him regularly as their lord and wait on him, and any question of dispute arising among them would be referred to him for solution. E.g., J.vi.168; cf. AA.i.143.

2. Virupakkha. The name of a Naga family (Vin.ii.109; A.ii.72; J.ii.145); they were, perhaps, followers of Virupakkha (q.v.)."
-http://www.wisdomlib.org/definition/virupakkha/index.html-

---

"[...] The nāgas are the servants of Virūpākṣa (Pāli: Virūpakkha), one of the Four Heavenly Kings who guards the western direction. They act as a guard upon Mount Sumeru, protecting the devas of Trāyastriṃśa from attack by the Asuras."
-http://en.wikipedia.org/wiki/N%C4%81ga#Buddhism-

---

"In Buddhist literature, too, we meet with a snake-charm or paritta of a very early date, in which four tribes of serpent-kings (ahirāja-kulāni) are mentioned. [...]

Now it is noteworthy that Virūpakkha and Erāpatha are not only the names of two Nāgarājas, but in Buddhist mythology they figure also as lokapālas of the Western and Eastern region respectively."
-Indian Serpent Lore, Jean Philippe Vogel, p.10-

---

"Buddhist - A snake-god. One of the Dikpalas. He was responsible for guarding the western region. At times, identified as Virupaksha, Virupaksa, Virupaksa, Virupaksha or Virupaksha."
-http://www.mythologydictionary.com/virupaksha-mythology.html-

---

"Airāvata. Name of a celebrated serpent with many heads. He was the son of Kasyapa by his wife Kadru. Arjuna's father-in-law and Ulūpi's father, Kauravya, belonged to the family of this serpent. (Mb.Ādi.35.5; 213-18).
-Encylopaedia of the Hindu World, Volume 1, Edited by Gaṅgā Rām Garg-




so far dari keterangan itu ... hanya 2 nama yaitu virupakha dan erapatha..yg nama raja naga ..2 lainnya? bisa saja nama keluarga/suku/ di ambil dari nama rajanya, tp ga berarti merujuk ke-rajanya secara personal.
menurut ku masalah itu adalah nama raja naga..masih sangat jauh jika hanya berdasarkan 2 nama..yg merupakan nama"raja naga"
bahkan dari keterangn/komentar tambahan yg di berikan..justru mengarah bahwa di sutta tsb..megarah ke suku..bukan pribadi..

2. Virupakkha. The name of a Naga family (Vin.ii.109; A.ii.72; J.ii.145); they were, perhaps, followers of Virupakkha (q.v.)."
-http://www.wisdomlib.org/definition/virupakkha/index.html-

"In Buddhist literature, too, we meet with a snake-charm or paritta of a very early date, in which four tribes of serpent-kings (ahirāja-kulāni) are mentioned. [...]

so..itu memang nama suku~~
...

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #40 on: 23 April 2014, 01:07:05 AM »
Kalo Ga salah ingat dlu ada kisah YM.Bhikkhu Ananda (yang menjadi personal assistant sang Buddha) di mantra2i oleh seorang wanita yang sangat mencintai beliau, sehingga tanpa sadar (dalam pengaruh mantra guna2) YM.Ananda melangkah keluar dan mendatangi rumah wanita tsb dimalam itu, sang Buddha melihat dan kemudian disadarkan oleh sang Buddha (sejak itu paritta tsb terkenal sbg mantra khusus untuk menolak guna2, yaitu yang dibaca oleh sang Buddha kala itu).  #sayang lupa nama paritta nya, musti nanya kesono dlu#
I'm an ordinary human only

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #41 on: 23 April 2014, 10:23:38 AM »
ini seperti bahasa inggris:
"Hail, The host of Charles" atau "Hail, people of Charles"
yang artinya rakyat/orang-orang dibawah kekuasaan Charles, bukan si Charlesnya kali yang disembah...
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #42 on: 23 April 2014, 10:51:20 AM »
Jika permasalahan yang dimaksud dalam AN 4.67 Ahi Sutta hanya rajanya yang dipancarkan metta atau seluruh keluarga/sukunya maka penjelasannya ada dalam bahasa Palinya.
 
Sace hi so bhikkhave bhikkhu cattāri ahirājakulāni mettena cittena phareyya, na hi so bhikkhave bhikkhu ahinā daṭṭho kālaṃ kareyya. Katamāni cattāri ahirājakulāni?

Pasti, para bhikkhu, bhikkhu itu tidak meliputi keempat keluarga kerajaan ular dengan pikiran cinta kasih. Karena jika ia melakukan demikian, maka ia tidak akan digigit ular dan tewas. Apa saja keempat suku/keluarga (Pali: kulā) raja ular tersebut?

Jika kita bisa terjemahkan secara harfiah nama-nama keluarga ular tersebut, mungkin kita bisa tahu jenis ular seperti apa, dan mengingat bahwa tidak menutup kemungkinan seseorang memberi nama pada sesuatu berdasarkan ciri atau sifat sesuatu tersebut. Misalnya kaṇhāgotamaka, maka artinya adalah hitam (kanha) yang beracun (gotamaka), jadi keluarga ular hitam beracun.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #43 on: 23 April 2014, 02:22:48 PM »
Virupakkhe hi me mettam
setahuku akhiran e pada Virupakkhe adalah penanda jamak..
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #44 on: 23 April 2014, 02:40:28 PM »
Pertanyaannya... darimana bisa dipastikan kena "ilmu hitam" ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #45 on: 28 April 2014, 05:11:02 PM »
Pertanyaannya... darimana bisa dipastikan kena "ilmu hitam" ?
Bro apakah anda pernah melihat ada binatang hidup (sebangsa "otis" bhs jawa nya, oma kgk tau bhs indonesia nya, binatang yg berwarna hitam dan kulitnya sangat keras) berjalan2 didalam tubuh manusia ? pernahkah anda melihat bola pingpong berjalan2 didalam tubuh manusia...sebentar di perut...sebentar di dada...sebentar di tenggorokan (klo sedang ditenggorokan dia sampe melotot2 n kelojotan krn kgk bs nafas).... #medis tdk bisa menjelaskan penyakit ini tp sembuh hny dengan sentuhan tangan seseorang#
I'm an ordinary human only

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #46 on: 30 April 2014, 01:23:21 PM »
Bro apakah anda pernah melihat ada binatang hidup (sebangsa "otis" bhs jawa nya, oma kgk tau bhs indonesia nya, binatang yg berwarna hitam dan kulitnya sangat keras) berjalan2 didalam tubuh manusia ? pernahkah anda melihat bola pingpong berjalan2 didalam tubuh manusia...sebentar di perut...sebentar di dada...sebentar di tenggorokan (klo sedang ditenggorokan dia sampe melotot2 n kelojotan krn kgk bs nafas).... #medis tdk bisa menjelaskan penyakit ini tp sembuh hny dengan sentuhan tangan seseorang#

kadang yang belum bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, acap kali di-hubung-hubung-kan dengan kena ilmu hitam...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #47 on: 30 April 2014, 03:47:22 PM »
Bro apakah anda pernah melihat ada binatang hidup (sebangsa "otis" bhs jawa nya, oma kgk tau bhs indonesia nya, binatang yg berwarna hitam dan kulitnya sangat keras) berjalan2 didalam tubuh manusia ? pernahkah anda melihat bola pingpong berjalan2 didalam tubuh manusia...sebentar di perut...sebentar di dada...sebentar di tenggorokan (klo sedang ditenggorokan dia sampe melotot2 n kelojotan krn kgk bs nafas).... #medis tdk bisa menjelaskan penyakit ini tp sembuh hny dengan sentuhan tangan seseorang#
kadang yang belum bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, acap kali di-hubung-hubung-kan dengan kena ilmu hitam...

Jadi ingat quote dari Dana Scully (The X-Files): "Nothing happens in contradiction to nature, only in contradiction to what we know of it." 8)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #48 on: 30 April 2014, 05:10:42 PM »
tinggal diberikan ilmu putih. atau ilmu penghapus.
Samma Vayama

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #49 on: 02 May 2014, 06:54:59 PM »
Jika permasalahan yang dimaksud dalam AN 4.67 Ahi Sutta hanya rajanya yang dipancarkan metta atau seluruh keluarga/sukunya maka penjelasannya ada dalam bahasa Palinya.
 
Sace hi so bhikkhave bhikkhu cattāri ahirājakulāni mettena cittena phareyya, na hi so bhikkhave bhikkhu ahinā daṭṭho kālaṃ kareyya. Katamāni cattāri ahirājakulāni?

Pasti, para bhikkhu, bhikkhu itu tidak meliputi keempat keluarga kerajaan ular dengan pikiran cinta kasih. Karena jika ia melakukan demikian, maka ia tidak akan digigit ular dan tewas. Apa saja keempat suku/keluarga (Pali: kulā) raja ular tersebut?

Jika kita bisa terjemahkan secara harfiah nama-nama keluarga ular tersebut, mungkin kita bisa tahu jenis ular seperti apa, dan mengingat bahwa tidak menutup kemungkinan seseorang memberi nama pada sesuatu berdasarkan ciri atau sifat sesuatu tersebut. Misalnya kaṇhāgotamaka, maka artinya adalah hitam (kanha) yang beracun (gotamaka), jadi keluarga ular hitam beracun.
Di sini bukan masalah hanya rajanya atau tidak. Di sini "kula" sudah berarti "keluarga/suku" yang berarti bukan satu pribadi. Perbedaan pendapat di sini adalah saya dari berbagai rujukan mengatakan keempat suku itu adalah naga di alam deva yang merupakan pelindung (lokapala), sedangkan ada pendapat lain bahwa itu hanyalah murni ular sebagai hewan semata. Karena pihak yang berbeda pendapat tidak memberikan referensi pendukung untuk saya pelajari, maka saya tidak lanjutkan.

OOT dikit, mengenai "gotamaka" = "beracun", boleh dijelaskan detailnya? Sebab setahu saya "racun" adalah "visa" (asal kata "bisa"), dan selama ini belum menemukan arti "Gotama" secara pasti. Dari beberapa sumber hanya mengatakan nama suku keturunan Okkaka, sedangkan ada juga yang menjelaskan sebagai  "गो" (go/gau = kerbau) + "तम" (tama = terbaik). Thanks.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #50 on: 05 May 2014, 06:05:26 AM »
dan selama ini belum menemukan arti "Gotama" secara pasti. Dari beberapa sumber hanya mengatakan nama suku keturunan Okkaka, sedangkan ada juga yang menjelaskan sebagai  "गो" (go/gau = kerbau) + "तम" (tama = terbaik). Thanks.


Gotama = Pawang Kerbau
Go = Kerbau, Tama = Pawang
kebetulan dapat terjemahan dari seorangh Bhikkhu STI yang fasih di bahasa Pali  :)
« Last Edit: 05 May 2014, 06:09:23 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #51 on: 05 May 2014, 08:23:39 AM »
Gotama = Pawang Kerbau
Go = Kerbau, Tama = Pawang
kebetulan dapat terjemahan dari seorangh Bhikkhu STI yang fasih di bahasa Pali  :)
OK, masukan baru lagi. Thanks buat infonya. :)

Offline Xan To

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 481
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #52 on: 05 May 2014, 01:42:50 PM »
Apakah orang yang kena guna2 akan tau dirinya di guna2,kalau bisa tau sebelum kena buat pemusnahnya dulu aja

Pertanyaannya... darimana bisa dipastikan kena "ilmu hitam" ?

Sebagai org yang kena pengaruh gaib dan masih dalam pengaruh gaib, saya cuma kasih beberapa tanda-tanda yang saya alami misalnya:
1. Marah-marah gak jelas.
2. Jika kita menginginkan sesuatu walaupun itu baik, ada perasaan tiba-tiba terenyuh.
3. Kita sulit mengontrol diri sendiri semisal membaca suka salah, bahkan untuk mengatakan sesuatu saja seperti ada yang menahan.
4. Sulit mengingat
5. Kalo meditasi badan bergerak/goyang
6. Pada bagian tubuh tertentu terasa panas, ada yang tusuk-tusuk, terasa berat
7. Perut kembung terus menerus, akibatnya sering pusing

itu yang saya alami......
Konon kata suhu.... saya belum terima kasih sama Dewi Kwan Im......
Saya jadi teringat sama mama saya, dia juga pernah dijadiin anak angkat Kwan Im tapi karena gak pernah dikasih tahu, makanya gak pernah sembahyang Kwan Im, akibatnya hidup susah mulu dari muda sampe tua, suka sakit-sakitan. Saya juga demikian suka sakit-sakitan kagak jelas, dikasih tahu sama suhu (2008) kalo saya musti sembahyang Kwan Im, cuma saya bilang kalo saya kan sembahyang Buddha Gotama, jadi saya pikir sama. Gak ikutin saran akhirnya sakit, masalah, sial terus berlanjut, ketemu suhu lagi ngomongnya sama musti terima kasih dulu sama Kwan Im musti pasang altar dirumah kalo gak keluarga berantakan/ribut2... sampe akhirnya minta bantuan Bumi Sapta Aji, tuh makhluk ditarik keluar.... Rasanya plong.... tapi karena kurang pinter akhirnya pergi ke suhu itu lagi... pasang Altar trus makhluk gaibnya dimasukin lagi..... Emosi saya..... udah hidup susah dibikin tambah susah.... Sampe akhirnya saya bilang sama diri saya... suatu saat nanti kalo saya punya anak sakit, lebih bagus dia mati saja daripada di jadiin anak angkat kayak gitu, sangking keselnya saya bahkan maki disamping altar..... NOLONG GAK IKLAS, sampe sekarang saya terus ngerutu ... dan terus juga saya diganggu..... ini lah hidup......... dan akhirnya saya sadar, yang kuatlah dia yang berkuasa, sebaik apa pun kita gak ada guna.... Mungkin itu sebabnya kenapa ada keluarga yang mualaf karena dirasukin juga seperti itu..... Suhu saya pun ada bilang tempat sembahyang yang saya buat untuk amulet thailand yang saya beli juga, ditinggalin sama Eyang (mungkin kiriman dari Bumi Sapta Aji) musti diangkat, suhu itu juga bilang, kalo gak diangkat, nanti Eyangnya pergi, saya pasti kena masalah....... saya akhirnya berpikir... mungkin ini sebabnya kenapa saya dari dulu gak suka sama Kwan Im.....
« Last Edit: 05 May 2014, 02:12:07 PM by Xan To »

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #53 on: 05 May 2014, 07:27:37 PM »
Di sini bukan masalah hanya rajanya atau tidak. Di sini "kula" sudah berarti "keluarga/suku" yang berarti bukan satu pribadi. Perbedaan pendapat di sini adalah saya dari berbagai rujukan mengatakan keempat suku itu adalah naga di alam deva yang merupakan pelindung (lokapala), sedangkan ada pendapat lain bahwa itu hanyalah murni ular sebagai hewan semata. Karena pihak yang berbeda pendapat tidak memberikan referensi pendukung untuk saya pelajari, maka saya tidak lanjutkan.

IC.
Menurut saya begini, Sdr. Kainyn. Ketika kita mengatakan keempat suku itu adalah naga di alam deva yang merupakan pelindung (lokapala), kita tahu kan bahwa arti dari naga itu adalah ular (jenis kobra)? Kita bisa cari di kamus Pali maupun Sanskerta. Dan jika kita pernah nonton film India berjudul “Nagin” (dari kata naga) juga bercerita mengenai wanita ular. Naga dalam kebudayaan India bukan makhluk seperti liong di budaya Tionghoa. Contoh , Mucalinda itu adalah ular kobra, dalam teks ia disebut naga dan ia memiliki tudung.  Jadi naga itu adalah ular, dan sah-sah saja jika ada di alam dewa dan menjadi pelindung dan namanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi India, ular memiliki peran yang cukup penting dan dijadikan dewa.

Kedua, seperti yang saya sampaikan bahwa kadang orang memberikan nama atau julukan pada sesuatu karena berdasarkan ciri atau sifat sesuatu itu. Contoh , Virupakkha (Pali) = Virupaksha (Sankserta) = mata yang berbeda / mata dengan bentuk yang tidak sesuai. Dalam agama Hindu,  Virupaksha adalah salah satu julukan bagi Dewa Shiva karena ia memiliki 3 mata, satu matanya ada di kening dalam posisi vertikal.
Keluarga ular Virupakkha, kemungkinan jenis ular yang memiliki mata yang tidak seperti biasanya. Demikian seterusnya.


Quote
OOT dikit, mengenai "gotamaka" = "beracun", boleh dijelaskan detailnya? Sebab setahu saya "racun" adalah "visa" (asal kata "bisa"), dan selama ini belum menemukan arti "Gotama" secara pasti. Dari beberapa sumber hanya mengatakan nama suku keturunan Okkaka, sedangkan ada juga yang menjelaskan sebagai  "गो" (go/gau = kerbau) + "तम" (tama = terbaik). Thanks.

Mengingat bahasa Pali adalah sekeluarga dengan bahasa Sanskerta, saya memperluas artinya dalam pengertian bahasa Sanskerta-nya ”gautama”. Jadi kata gotama atau gautama bisa bermacam-macam artinya. Salah satunya berarti racun atau sejenis racun.

http://spokensanskrit.de/index.php?tinput=gautama&direction=SE&script=HK&link=yes&beginning=0

Hanya itu yang bisa saya sampaikan.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #54 on: 06 May 2014, 09:35:49 AM »
IC.
Menurut saya begini, Sdr. Kainyn. Ketika kita mengatakan keempat suku itu adalah naga di alam deva yang merupakan pelindung (lokapala), kita tahu kan bahwa arti dari naga itu adalah ular (jenis kobra)? Kita bisa cari di kamus Pali maupun Sanskerta. Dan jika kita pernah nonton film India berjudul “Nagin” (dari kata naga) juga bercerita mengenai wanita ular. Naga dalam kebudayaan India bukan makhluk seperti liong di budaya Tionghoa. Contoh , Mucalinda itu adalah ular kobra, dalam teks ia disebut naga dan ia memiliki tudung.  Jadi naga itu adalah ular, dan sah-sah saja jika ada di alam dewa dan menjadi pelindung dan namanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi India, ular memiliki peran yang cukup penting dan dijadikan dewa.

Kedua, seperti yang saya sampaikan bahwa kadang orang memberikan nama atau julukan pada sesuatu karena berdasarkan ciri atau sifat sesuatu itu. Contoh , Virupakkha (Pali) = Virupaksha (Sankserta) = mata yang berbeda / mata dengan bentuk yang tidak sesuai. Dalam agama Hindu,  Virupaksha adalah salah satu julukan bagi Dewa Shiva karena ia memiliki 3 mata, satu matanya ada di kening dalam posisi vertikal.
Keluarga ular Virupakkha, kemungkinan jenis ular yang memiliki mata yang tidak seperti biasanya. Demikian seterusnya.
Sekali lagi, yang jadi perbedaan sebelumnya di sini adalah anggapan bahwa nama-nama itu hanya seperti klasifikasi dalam biologi saja, tidak ada hubungannya dengan sosok lokapala dari catummaharajika, yang mana tentu saja tidak bisa dilanjutkan diskusinya.

Jika dikatakan itu adalah seperti dalam legenda (baik India maupun China) yang melibatkan makhluk supranatural, saya sepaham. Dan memang tampaknya masuk akal logikanya jika kita mengarahkan metta pada mereka, maka lokapala dan para pengikutnya akan membalas sikap tanpa permusuhan itu dan melindungi kita dari binatang-binatang (yang mereka kuasai tersebut).


Quote
Mengingat bahasa Pali adalah sekeluarga dengan bahasa Sanskerta, saya memperluas artinya dalam pengertian bahasa Sanskerta-nya ”gautama”. Jadi kata gotama atau gautama bisa bermacam-macam artinya. Salah satunya berarti racun atau sejenis racun.

http://spokensanskrit.de/index.php?tinput=gautama&direction=SE&script=HK&link=yes&beginning=0

Hanya itu yang bisa saya sampaikan.
Memang itu yang saya perlukan. Thanks buat infonya. :)

Offline Mokau Kaucu

  • Sebelumnya: dtgvajra
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.293
  • Reputasi: 81
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #55 on: 06 May 2014, 11:19:27 AM »
Bro apakah anda pernah melihat ada binatang hidup (sebangsa "otis" bhs jawa nya, oma kgk tau bhs indonesia nya, binatang yg berwarna hitam dan kulitnya sangat keras) berjalan2 didalam tubuh manusia ? pernahkah anda melihat bola pingpong berjalan2 didalam tubuh manusia...sebentar di perut...sebentar di dada...sebentar di tenggorokan (klo sedang ditenggorokan dia sampe melotot2 n kelojotan krn kgk bs nafas).... #medis tdk bisa menjelaskan penyakit ini tp sembuh hny dengan sentuhan tangan seseorang#

Belum pernah lihat,  anda sudah pernah? 
Serem juga ya
~Life is suffering, why should we make it more?~

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #56 on: 06 May 2014, 12:57:39 PM »
inti-nya adalah karena belum pernah menyaksi-kan catumaharajika, maka kemungkinan adalah tidak ada...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #57 on: 17 December 2014, 06:47:31 PM »
Sekali lagi, yang jadi perbedaan sebelumnya di sini adalah anggapan bahwa nama-nama itu hanya seperti klasifikasi dalam biologi saja, tidak ada hubungannya dengan sosok lokapala dari catummaharajika, yang mana tentu saja tidak bisa dilanjutkan diskusinya.

Jika dikatakan itu adalah seperti dalam legenda (baik India maupun China) yang melibatkan makhluk supranatural, saya sepaham. Dan memang tampaknya masuk akal logikanya jika kita mengarahkan metta pada mereka, maka lokapala dan para pengikutnya akan membalas sikap tanpa permusuhan itu dan melindungi kita dari binatang-binatang (yang mereka kuasai tersebut).

Memang itu yang saya perlukan. Thanks buat infonya. :)


Saya baru dapat info belum lama ini, dan setelah saya cek ternyata benar
Ada bagian dari Khanda Paritta yang paralel dengan Mahamayuri Vidyarajni Sutra , tentang 4 suku ular
Just info

Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #58 on: 18 December 2014, 10:11:21 AM »
Saya baru dapat info belum lama ini, dan setelah saya cek ternyata benar
Ada bagian dari Khanda Paritta yang paralel dengan Mahamayuri Vidyarajni Sutra , tentang 4 suku ular
Just info
Spoiler: ShowHide
The Mahamayuri Sutra

Once the Lord was staying at Jetavana monastery built by Anathapinda in Shravasti accompanied by numerous companion monks. About the same time in the same monastery there was also dwelling a newly-ordained monk named Svati who had little understanding of the rules of discipline.

One day, Svati was piling up logs to make a fire for heating the bodies of other companion monks who were suffering from rheumatism. From one of the logs came out a big black cobra who bit his right big toe. Immediately after the bite, the monk fell down and lay unconscious. His eyes rolled up and his mouth was full of foam. Venerable Ananda saw him in this condition and reported it to the Buddha.Upon hearing the report from Ananda, the Buddha said that he had his loving kindness (maitri) extended to all of the serpent kings. Saying so, the Buddha preached a discourse on the knowledge of the Mahamayuri. The Lord said to Ananda,"O Ananda! Long long ago on the southern slopes of the Himalaya Mountains, there lived a famous peacock-king named Suvarna Vibhasa.

Every day, the peacock-king recited this dharani in the morning and evening and he lived happily. One day the peacock-king went out for a romantic encounter with a number of peahens and finally entered a mountain cave fully consumed with sexual desire. Inside the cave there was a snare set by a fowl hunter and the peacock-king got enmeshed in it. At that time,the peacock-king became vigilant and recited the same dharani and freed itself from the entanglement and lived cheerfully.

O Ananda! Keep it in mind that the peacock of that time was myself. "In this world ["earth mandala"] there are countless demons possessed of supernormal powers. Recite this dharani for their help succoring the monk Svati. The army of demons
pervading all the directions may come to his rescue. The raksasis Lamba and Vilambaalso may rescue him. The demoness Kunaksi, also may protect him. The nagakings may also protect him. The Tathagata Vipashvi and other Tathagatas may protect him, too. Maitreya or other Bodhisattvas also may protect him. The holy rivers like the Ganga flowing on the earth and the powerful beings living within it may protect him. The mountain kings and powerful beings living in their kingdoms can also protect him. The heavenly bodies and planets also may protect him. This earth abounds in many different herbs and plants which may protect him. After saying this, the Buddha commanded Ananda, "Let all the powers of the Tathagata be with you. Go to the monk
Svati and protect him. Ananda bowed to the Buddha and asinstructed went to the monk Svati and recited the Mahamayuri Vidya over him. Due to the effect of this recitation, the poison lost its effect and he recovered.

When this matter was reported to the Buddha, he told the assembly of monks, nuns, and lay disciples (upasakas) that they all needed to learn the Mahamayuri Vidya. Since then, the practice of reciting this dharani came into usage among the people.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=kE3Ad9jpOuM


Sepertinya sutra Mahayana ini juga cukup tua, bisa dilihat dari sosok yang disebutkan adalah yang muncul pada literatur awal, tidak termasuk sosok yang biasanya muncul dalam sutra mahayana belakangan.

Barusan juga mengintip sedikit Bhuridatta Jataka dan diceritakan tentang Virupakkha yang melayani Sakka di alam surga. Pengikut wanitanya juga diceritakan menghibur dengan permainan musik. Jadi makin menguatkan pandangan bahwa naga-naga yang dimaksud dalam Ahirajasutta adalah makhluk-makhluk gaib, bukan merujuk pada hewan ular biasa.

Thanks buat infonya yang bagus.


OOT, cukup menarik jika diingat salah satu Mahasavaka, Upasena Vangantaputta juga meninggal karena terpagut ular. Membuat saya bertanya-tanya apakah Arahant tidak senantiasa memancarkan metta, sekadar inkonsistensi cerita, atau ada teori lainnya.

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.789
  • Reputasi: 43
Re: Pandangan Theravada mengenai "ilmu hitam" & cara menanggapinya
« Reply #59 on: 16 January 2019, 06:10:18 PM »
Spoiler: ShowHide
The Mahamayuri Sutra

Once the Lord was staying at Jetavana monastery built by Anathapinda in Shravasti accompanied by numerous companion monks. About the same time in the same monastery there was also dwelling a newly-ordained monk named Svati who had little understanding of the rules of discipline.

One day, Svati was piling up logs to make a fire for heating the bodies of other companion monks who were suffering from rheumatism. From one of the logs came out a big black cobra who bit his right big toe. Immediately after the bite, the monk fell down and lay unconscious. His eyes rolled up and his mouth was full of foam. Venerable Ananda saw him in this condition and reported it to the Buddha.Upon hearing the report from Ananda, the Buddha said that he had his loving kindness (maitri) extended to all of the serpent kings. Saying so, the Buddha preached a discourse on the knowledge of the Mahamayuri. The Lord said to Ananda,"O Ananda! Long long ago on the southern slopes of the Himalaya Mountains, there lived a famous peacock-king named Suvarna Vibhasa.

Every day, the peacock-king recited this dharani in the morning and evening and he lived happily. One day the peacock-king went out for a romantic encounter with a number of peahens and finally entered a mountain cave fully consumed with sexual desire. Inside the cave there was a snare set by a fowl hunter and the peacock-king got enmeshed in it. At that time,the peacock-king became vigilant and recited the same dharani and freed itself from the entanglement and lived cheerfully.

O Ananda! Keep it in mind that the peacock of that time was myself. "In this world ["earth mandala"] there are countless demons possessed of supernormal powers. Recite this dharani for their help succoring the monk Svati. The army of demons
pervading all the directions may come to his rescue. The raksasis Lamba and Vilambaalso may rescue him. The demoness Kunaksi, also may protect him. The nagakings may also protect him. The Tathagata Vipashvi and other Tathagatas may protect him, too. Maitreya or other Bodhisattvas also may protect him. The holy rivers like the Ganga flowing on the earth and the powerful beings living within it may protect him. The mountain kings and powerful beings living in their kingdoms can also protect him. The heavenly bodies and planets also may protect him. This earth abounds in many different herbs and plants which may protect him. After saying this, the Buddha commanded Ananda, "Let all the powers of the Tathagata be with you. Go to the monk
Svati and protect him. Ananda bowed to the Buddha and asinstructed went to the monk Svati and recited the Mahamayuri Vidya over him. Due to the effect of this recitation, the poison lost its effect and he recovered.

When this matter was reported to the Buddha, he told the assembly of monks, nuns, and lay disciples (upasakas) that they all needed to learn the Mahamayuri Vidya. Since then, the practice of reciting this dharani came into usage among the people.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=kE3Ad9jpOuM


Sepertinya sutra Mahayana ini juga cukup tua, bisa dilihat dari sosok yang disebutkan adalah yang muncul pada literatur awal, tidak termasuk sosok yang biasanya muncul dalam sutra mahayana belakangan.

Barusan juga mengintip sedikit Bhuridatta Jataka dan diceritakan tentang Virupakkha yang melayani Sakka di alam surga. Pengikut wanitanya juga diceritakan menghibur dengan permainan musik. Jadi makin menguatkan pandangan bahwa naga-naga yang dimaksud dalam Ahirajasutta adalah makhluk-makhluk gaib, bukan merujuk pada hewan ular biasa.

Thanks buat infonya yang bagus.


OOT, cukup menarik jika diingat salah satu Mahasavaka, Upasena Vangantaputta juga meninggal karena terpagut ular. Membuat saya bertanya-tanya apakah Arahant tidak senantiasa memancarkan metta, sekadar inkonsistensi cerita, atau ada teori lainnya.

Apakah tidak selalu senantiasa memancarkan metta?Atau pada saat kejadian itu,metta tidak mampu terpancar karena dihalangi sesuatu yang sedang berbuah?
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)