//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?  (Read 9763 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Elin

  • DhammaCitta Press
  • KalyanaMitta
  • *
  • Posts: 4.377
  • Reputasi: 222
  • Gender: Female
Re: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« Reply #15 on: 06 August 2010, 10:09:36 PM »
Terjebak oleh paradigma bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dari perkawinan. Dan sangat nyata didalam lingkungan kita, dimana orangtua sibuk mencari pasangan hidup untuk anaknya yang dianggap sudah cukup umur menikah ( seminggu yang lalu saya dengar informasi ini ). Sehingga orang tua menjadi stress jika anaknya belum berpasangan.
Sejujurnya, kita harus mengakui bahwa perkawinan dan keluarga adalah suatu "kemelekatan" yang luar biasa.
:jempol: :jempol:
lama2 bisa memberi kesan bahwa ortu nya lg cari pasangan baru untuk menikah yg kedua kali nya..  :))

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« Reply #16 on: 20 February 2014, 02:06:01 PM »
Dialog yang menarik mengenai kebahagiaan yang hilang dan penderitaan yang mendera, ini adalah dialog seorang hypnotherapy yang terkenal di Indonesia dengan seseorang, dan saya sharing



HAPPINESS IS JUST A DECISION AWAY

"Only one thing has to change for us to know happiness in our lives: where we focus our attention."
~ Greg Anderson


"Apa sih yang sebenarnya Ibu Ani cari dalam hidup?" tanya saya memulai sesi konseling dengan seorang ibu muda yang lagi stres karena problem rumah tangga yang ia hadapi.

Ani adalah ibu dari dua anak yang masih kecil, berusia sekitar 34 tahun. Sudah setahun ini pusing tujuh keliling, stres berat, sakit hati, bingung, takut, cemas, dan masih banyak keluhan lainnya karena suaminya lagi "sakit". Suaminya ternyata mengidap trauma akibat perceraian orangtuanya saat ia masih kecil. Saat ini si suami sudah tidak mau ngurus soal rumah tangga. Komunikasi tidak jalan. Kerjanya mereka bertengkar setiap hari.

Si Ibu mengeluh, "Hidup saya sekarang tidak bahagia. Saya stres dengan keadaan saya."

"Kebahagiaan adalah suatu pilihan atau keputusan," jawab saya.

"Maksud Pak Adi?" tanyanya bingung.

"Sebenarnya Anda tidak perlu suami Anda untuk bisa menjadi bahagia. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh faktor eksternal. Kebahagiaan lebih ditentukan oleh cara kita berpikir," jawab saya.

"Lha kok bisa begitu? Kan, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang lengkap. Ada suami, istri, dan anak," jawabnya lagi.

"Bu, orang hidup tidak berarti harus menikah. Siapa yang buat peraturan bahwa kita harus menikah? Kalau sudah menikah kan nggak harus punya anak. Anak adalah konsekwensi logis dari suatu pernikahan. Kalau sudah punya anak, nggak harus punya anak laki dan perempuan. Kita mau menikah atau tidak itu adalah suatu keputusan, bukan keharusan. Saya mengenal orang yang tidak menikah namun hidupnya bahagia. Saya mengenal orang yang menikah dan tidak punya anak namun mereka sangat bahagia. Saya juga mengenal orang yang menikah dan punya anak hanya laki saja atau perempuan saja atau komplit laki dan perempuan dan mereka semua bahagia. Sebaliknya saya mengenal orang yang tidak menikah namun hidupnya menderita. Ada lagi yang keluarganya komplit, harta melimpah, namun tidak bahagia. Ada kawan saya yang single parent, seorang Ibu dengan satu anak laki, hidupnya bahagia walaupun tidak punya suami. Jadi, kesimpulannya, kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh faktor eksternal," jawab saya panjang lebar.

Pembaca, bila kita bertanya pada diri sendiri, "Apa sih yang sebenarnya saya cari di dunia ini?" atau, "Sebelum saya mati, apa yang benar-benar ingin saya capai dalam hidup?" Maka, jawabannya pasti bukan uang atau sesuatu yang bersifat materi. Semua manusia bila ditanya dan mencari ke dalam dirinya dengan sungguh-sungguh maka pasti akan menemukan jawaban tertinggi yaitu kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah kondisi emosi atau pikiran yang dicari semua orang. Namun sayangnya selama ini kita salah mencari. Kita mencari kebahagiaan di luar diri kita. Kita mencari kebahagiaan bukan di sumber segala kebahagiaan. Banyak orang mencari kebahagiaan, di luar dirinya, dan menemukan "kebahagiaan" yang tidak membahagiakan. Namun mengapa kebahagiaan tampak begitu sulit untuk dialami?

Pernyataan orang, pada umumnya, yang mengatakan, "Saya ingin menemukan kebahagiaan. .." justru akan menyulitkan diri mereka untuk bisa mengalami kebahagiaan. Mengapa? Karena mereka menempatkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang berada di luar diri mereka.

Sebenarnya sulit nggak sih untuk bisa bahagia? Apa rahasianya untuk bisa bahagia?

Seorang guru agung spiritual yang hidup 2.500 tahun lalu memberikan resep jitu mengenai hidup. Beliau berkata bahwa untuk bahagia sebenarnya mudah. Pertama, kita harus sadar kalau kita tidak bahagia.
Dengan kata lain kita harus sadar akan kondisi yang sedang kita alami.
Langkah kedua, kita harus menemukan sebab mengapa kita tidak bahagia yaitu semua hanyalah permainan pikiran.
Langkah ketiga, setelah sebabnya diketahui, yaitu kita tidak bahagia karena pikiran, maka ketidakbahagiaan itu dapat kita atasi.
Langkah keempat adalah dengan melakukan tindakan nyata yang didasari oleh prinsip dan cara berpikir yang benar.

Saya setuju sekali dengan apa yang diuraikan oleh guru spiritual tersebut. Benar, kunci kebahagiaan atau kualitas hidup letaknya di pikiran.

Kembali pada Ibu Ani, untuk memperjelas maksud saya maka saya mengajukan pertanyaan, "Bu, apa syaratnya agar ibu yakin bahwa ibu adalah orangtua yang baik bagi anak-anak ibu?"

"Saya merasa sebagai ibu yang baik bila saya menyediakan semua kebutuhan anak saya, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak saya," jawab ibu Ani.

"Apakah ibu merasa sebagai ibu yang baik?" kejar saya.

"Oh, tentu," jawab ibu Ani cepat dan mantap.

"Dulu waktu kuliah apakah ibu merasa sebagai mahasiswi yang cerdas?" tanya saya lagi.

"Lha, apa hubungan antara kuliah dengan masalah saya, Pak?" tanya Ibu Ani bingung.

"Ibu jawab saja pertanyaan saya," pinta saya.

"Saya tidak merasa sebagai mahasiswi yang cerdas," jawab ibu Ani

"Mengapa ibu tidak merasa cerdas?" kejar saya lagi.

"Karena saya tidak mencapai IPK 3.0 atau lebih," jawab Ibu Ani.

"Oh, begitu. Jadi, ibu hanya akan merasa cerdas bila IPK ibu 3.0 atau lebih," tanya saya meminta penegasan.

"Ya, Pak. Di mana-mana yang namanya cerdas itu kalo IPK-nya minimal 3.0. Kalau di bawah 3.0 itu biasa-biasa saja," jawab ibu Ani mantap.

"Dari mana ibu tahu bahwa yang namanya cerdas itu IPK harus minimal 3.0? Atau dengan kata lain siapa yang mengatakan demikian?" tanya saya lagi.

"Bagaimana sih Pak Adi ini? Di mana-mana ya begitu kan?" jawab ibu Ani agak jengkel.

"Nah, pertanyaannya sekarang adalah apa syaratnya agar ibu merasa bahagia?" tanya saya.

"Saya hanya akan merasa bahagia bila suami saya selalu mendukung, menyayangi, mencintai, memperhatikan, dan mengerti saya. Saya bahagia bila anak-anak saya sehat," jawab ibu Ani.

"Bu, mungkinkah ibu merasa bahagia bila ibu memutuskan untuk merasa bahagia tanpa diembeli dengan berbagai syarat seperti yang baru ibu sebutkan?" kejar saya.

"Ya.. nggak mungkin toh Pak. Yang namanya keluarga bahagia ya seperti itu," jawab ibu Ani ngotot.

Pembaca yang budiman. Inilah akar segala ketidakbahagiaan. Kebanyakan kita, seperti juga ibu Ani, sering kali menetapkan syarat yang sangat sulit untuk kita penuhi untuk bisa bahagia.

Sebenarnya kita bisa bahagia kapanpun dan di manapun tanpa harus terikat oleh suatu kondisi, situasi, atau orang lain. Untuk bisa bahagia kita perlu belajar untuk membuka pintu hati. Kebahagiaan sulit atau tidak mungkin dicapai karena kita tidak tahu cara membuka pintu hati. Pintu hati, menurut Rumi, hanya bisa dibuka dari dalam, bukan dari luar.

Seringkali perasaan tidak bahagia hanyalah suatu bentuk kamuflase dari emosi lain. Seringkali apa yang kita rasakan sebagai ketidakbahagiaan adalah suatu bentuk perasaan atau emosi lain yang kita salah atau tidak tahu namanya yang tepat.

Nah, pembaca, bila anda merasa tidak bahagia dengan keadaan anda, coba jawab pertanyaan berikut dengan jujur dan apa adanya:

1. Apa tepatnya yang membuat saya merasa tidak bahagia?
2. Kalau hal itu terjadi apa yang paling saya takutkan?
3. Mengapa saya tidak bahagia mengenai hal ini?
4. Apa yang saya takutkan akan terjadi jika saya tidak tidak bahagia mengenai hal ini?
5. Mengapa saya percaya bahwa kalau sekarang saya merasa bahagia maka hal ini akan tidak baik bagi diri saya?

Jawaban anda akan mengungkapkan alasan sesungguhnya yang membuat anda merasa tidak bahagia.

Sumber: Happines Is Just A Decision Away oleh Adi W. Gunawan

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« Reply #17 on: 20 February 2014, 02:15:07 PM »
Minum kopi   


Pagi ini saya habis minum secangkir kopi tubruk. Saya ingat pengalaman beberapa bulan yg lalu. Apakah itu kenikmatan atau kah kemelekatan terhadap kenikmatan?

Pada pertengahan tahun 2006 saya mempunyai kebiasaan baru yaitu minum kopi. Sebenarnya saya bukan peminum kopi. Kalau sedang ingin minum kopi, ya kemudian bikin segelas kopi dan meminumnya. Namun sebaliknya bila saya sedang ikut suatu kegiatan yg sampai bermalam atau kerja lembur, maka saya minum kopi seperti minum air putih saja. Kalau tidak ingin minum kopi, ya tidak apa-apa. Kebiasaan yg cukup rutin adalah minum teh segelas besar pada pagi hari dan sore hari, minum teh segelas besar itu habis tidak dalam waktu singkat tapi habis dalam beberapa jam (2-3 jam).

Jadi pada pertengahan tahun 2006 itu tiap pagi dan sore hari oleh pembantu rumah tangga, saya dibuatkan segelas teh tubruk dan secangkir kopi tubruk. Hal ini berlangsung sampai sekitar 3 bulan. Suatu saat beberapa kali pembantu rumah tangga saya lupa utk membuatkan teh dan kopi itu. Ada rasa marah terasa. Ada rasa kecewa. Ada tuntutan utk dilayani. Namun demikian, tentu saja, saya tidak mengungkapkan emosi-emosi itu kepada pembantu rumah tangga dan istri saya. Di permukaan, tampilan saya biasa-biasa saja; tapi di dalam terjadi emosi-emosi negatif yg seru.

Saya gali lebih dalam ada apa di balik emosi-emosi itu? Ternyata banyak perasaan yg bersembunyi di balik emosi-emosi itu. Ini perasaan yg sangat halus dan samar.

Pertama, kenikmatan

Dengan tidak disediakannya minuman kopi itu, maka tiada pula kesempatan utk menikmati secangkir kopi panas. Menyeruput harum kopi dan meneguk kopi tubruk dengan rasa pahit kopi dan manis gula pasir.

Kedua, hak istimewa (privilese)

Walau hanya dalam ukuran sangat kecil, rumah tangga, ternyata ada hak-hak istimewa yg saya terima. Hak-hak istimewa ini tampak kecil dan tidak berarti, tapi memberi perasaan puas diri dan berkuasa. Tidak disajikannya secangkir kopi dan segelas besar teh tubruk di pagi hari dan di sore hari seperti biasanya, seperti menantang otoritas. Hak-hak istimewa saya terasa dilecehkan dan oleh karena itu menimbulkan keinginan utk "menegakkan" otoritas seperti biasa: "siapa yg berkuasa dan siapa yg dikuasai".

Ketiga, kemelekatan

Kebiasaan setiap pagi dan sore disediakan kopi dan teh, dan kemudian menikmati minum kopi dan teh, ternyata menimbulkan suatu rutinitas seperti ritual. "Ritual" minum kopi dan teh ini menjadikan suatu hal yg melekat pada diri saya. Ada terasa "kekosongan" ketika ritual tsb dilanggar dan menimbulkan gejala-gejala ikutan, seperti sakit kepala, malas, rasa ingin terhadap sesuatu yg mesti dipenuhi, dll.

Hal-hal itu terus membuat saya semakin dalam utk merenung dan bertanya-tanya kepada diri saya sendiri. Saya bertanya pada diri sendiri:
# Apakah saya benar-benar menikmati minuman kopi tersebut?
# Apakah saya memang punya hak utk dilayani seperti ini setiap hari? Apakah ini memang jadi privilese saya sebagai seorang kepala rumah tangga?
# Apakah kebiasaan ini begitu mengikat saya demikian kuat?
# Apa perasaan terdalam pada masalah ini?

Bila saya jujur pada diri sendiri, minum kopi atau tidak minum kopi ya biasa-biasa saja. Bahkan saya tidak bisa membedakan mana kopi yg enak dan mana kopi yg tidak enak. Tapi kalau kopi yg sudah dingin agak lama sering kali tidak enak dan bikin "neg"; juga kopi bikinan pabrik, seperti Nescape dll tidak saya sukai. Pada dasarnya saya tidak pilih-pilih dalam meminum kopi, entah kopi warung tegal, kopi Lampung, kopi jagung, dll. Selain itu, kebiasaan atau "ritual" minum kopi ini hanya berlaku di rumah saja, di tempat-tempat lain tidak ada kebiasaan itu -- dalam artian bila ingin minum kopi ya bikin sendiri atau membeli dari warung. Jadi apa yg sebenarnya mendasari kemarahan saya itu? Ini perlu menggali lebih dalam lagi, upaya utk memahami diri sendiri dan motiv-motiv tersembunyi.

Ternyata, motiv terdalam adalah hal "ritual" minum kopi. Dengan tidak disajikannya kopi dan teh oleh pembantu rumah tangga, maka ini terasa menantang hak privilese saya. Berani-beraninya seorang pembantu rumah tangga di dalam "kerajaan" saya kok malah menantang otoritas saya sebagai kepala rumah tangga? Penantangan terhadap otoritas ini kemudian terasa menantang "eksistensi" sebagai "raja kecil". Ini namanya "subsversif".

Saya terkejut sekali setelah memahami motivasi terdalam saya dalam hal minum teh dan kopi tsb.

Selanjutnya, saya menantang diri sendiri, "Apakah ada pengaruhnya bila saya tidak disediakan minuman kopi dan teh, baik di pagi hari maupun di sore hari oleh pembantu rumah tangga atau pun oleh istri saya?" Bila saya memang benar-benar ingin minum teh atau kopi, maka saya dapat membuatnya sendiri daripada mesti minta disediakan oleh pembantu rumah tangga atau oleh istri. Beranikah saya melakukan eksperimen dalam praktek utk bilang bahwa tidak perlu disediakan minuman kopi dan teh setiap pagi dan sore, saya akan bikin sendiri bila memang saya ingin minum itu.

Kemudian saya menjalankan percobaan ini dalam kehidupan sehari-hari. Pada awalnya memang terasa agak aneh dan terasa tidak nyaman, tapi dari hari ke hari dan minggu menjadi bulan, ternyata tidak ada dampak negatif pada diri saya. Minum kopi atau tidak minum kopi ya biasa-biasa saja. Tidak ada "ritual" minum kopi di pagi dan sore hari juga biasa-biasa saja. Tidak disajikan minuman kopi di pagi dan sore hari juga tidak apa-apa. Dalam hal ini tidak ada yg hilang atau diremehkan otoritasnya. Semua terasa mengalir begitu saja dan ringan. Ternyata menyadari kemelekatan dan memutus rantai kemelekatan ( KARENA KEINGINAN ) itu tidak mudah, ini terutama sekali utk menyadari bahwa saya "melekat" pada sesuatu hal -- dalam hal ini melekat pada kebiasan minum kopi dan teh (fisik) serta perasaan berkuasa sebagai seorang "raja kecil" dalam rumah tangga karena dilayani setiap hari (mental).

Sekarang dan selanjutnya, kadang-kadang saya masih dibuatkan secangkir kopi dan segelas teh tiap pagi dan sore. Ada perbedaan besar antara "kebiasaan" yg sekarang ini dengan "kebiasaan" yg dulu. Setelah saya dapat memutuskan "rantai kemelekatan" itu, minum kopi/teh merupakan suatu hal yg biasa-biasa saja. Bila dijalankan OK, tapi bila tidak dijalankan ya tetap OK. Minum kopi/teh atau tidak minum kopi/teh ya biasa-biasa saja. Tidak ada lagi terasa suatu hak istimewa utk mendapatkan perlakuan khusus. Ada penyajian atau tidak ada penyajian juga tidak apa-apa, tidak ada tuntutan untuk begini dan begitu.

Begitulah, ternyata secangkir kopi mempunyai sebuah cerita yg cukup panjang, karena kemelekatan terhadap minum kopi juga menimbulkan penderitaan ( ketidakbahagiaan )

Offline btj

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 183
  • Reputasi: 5
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« Reply #18 on: 21 February 2014, 11:06:50 AM »
Judul dari topik ini "Apakah Anda akan Marah dan Malu Jika...?"
Dan ternyata berkorelasi dengan kebahagiaan.

Jadi kira-kira begini bukan judul lengkapnya, "Apakah Anda akan Marah dan Malu Jika mendengar jawaban dari pasangan hidup anda yang sangat REALITIS dan LOGIS di depan umum?

Kemudian sub judulnya : "DARIMANA KEBAHAGIAAN ITU SEBENARNYA?"

Dan ternyata yang dibahas lebih fokus pada sub judulnya yaitu tentang topik kebahagiaan.

Dan sebenarnya kedua topik masih berkaitan yaitu berkaitan dengan perasaan.perasaan marah, malu dan bahagia.

Ketika timbul perasaan marah dan malu, maka perasaan bahagia cenderung tidak timbul.

Dan jika dibahas dari artikelnya.
Kebahagiaan biasanya identik dengan tercapainya apa yang diinginkan dan terbebasnya apa yang tidak disukai.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa "tanpa/berhentinya keinginan" adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« Reply #19 on: 21 February 2014, 12:06:04 PM »
Memang suatu kebahagiaan yang berkondisi adalah relatif dan sangat banyak dan tidak sama. Seperti kasus cerita kenikmatan secangkir kopi juga mempengaruhi bathin, padahal minum kopi adalah hal yang sangat umum bagi kita semua, tapi yang membedakan hanya "Cara Menyikapi".

Contohnya, tiba-tiba mendapat uang 2 juta. Sikap bathin "pengemis" dan orang yang mampu adalah berbeda. Pengemis mungkin merasa bahagia dengan rezeki nomplok, mungkin bagi yang mampu akan menganggap biasa saja, mungkin juga kecewa karena dapatnya sedikit.

Demikian suatu kebahagiaan yang berkondisi ( duniawi ) selalu tidak pernah memuaskan.

Offline btj

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 183
  • Reputasi: 5
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« Reply #20 on: 22 February 2014, 01:02:52 PM »
Idealnya, jika tidak ada yang dapat menentukan kebahagiaan kita maka seharusnya juga berlaku sebaliknya yaitu tiada hal yang dapat membuat kita menjadi marah dan malu.

Tapi mengapa kenyataannya tidak demikian, tidak sesuai ideal?
Apakah ini karena pengaruh faktor pandangan salah tentang diri?

Ketika seseorang mencela kita, secara umum kita akan langsung marah.
Ketika seseorang mencela orang tua kita, kita juga akan marah sebagai anak yang berbakti, tapi apakah ini berlaku juga bagi seorang anak durhaka yang sering menyumpahi orang tuanya sendiri?

Ketika ada yang mencela teman kita, maka respon dan tingkat sakit hati kita yang kemudian memicu kemarahan, tentu ditentukan oleh seberapa akrabnya teman kita.

Dstnya sampai ketika seseorang mencela orang yang tak kita kenal dan dikala musuh kita dicela oleh orang lain, bagaimana perasaan kita? Apakah tingkat kemarahan akan menyamai seperti halnya diri kita sendiri yang diolok-olok?

Hal ini yang sering kita temui dan alami.

Jadi pernyataan :
"TIDAK," katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia" ini sesungguhnya mengandung unsur tentang pandangan terhadap diri.
Dia berargumen berdasarkan pikiran logis dan ideal, tapi apakah realitanya seperti itu?

( Setelah mendengar jawaban dari pasangan hidup anda yang sangat REALITIS dan LOGIS di depan umum, apakah anda MARAH dan MALU ? )
Apakah secara realita kita selalu siap untuk tidak marah dan malu terhadap apapun yang terjadi?

Jika kejadiannya hanya berupa kata-kata mungkin kita masih bisa menolerirnya, tapi bagaimana ketika mobil barunya Margaret ditabrak mobil omprengan, atau hal-hal yang lebih menyangkut kepentingan kepribadiannya, apakah statement bahwa "tidak ada orang di dunia ini yang sanggup membuat kita bahagia" ini masih mampu diterapkannya saat itu?

Memang, soal kesabaran dan kebahagiaan masing-masing individu adalah berbeda levelnya.

Offline CHANGE

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 598
  • Reputasi: 63
Re: Apakah Anda Akan Marah dan Malu jika... ?
« Reply #21 on: 24 February 2014, 09:47:16 AM »
Sabarlah, Anakku!

Pada suatu hari, seorang anak mengeluh pada ayahnya. "Ayah, aku lelah harus belajar setiap hari, tetapi teman-temanku yang menyontek dapat nilai yang lebih bagus.

Aku lelah harus membantu ibu, padahal teman-temanku yang lain punya pembantu.

Aku lelah kalau harus menabung, padahal kalau ayah mau memberi uang jajan yang banyak setiap hari.." Anak laki-laki itu mengambil napas untuk kembali menumpahkan rasa kesalnya.

Tetapi sang ayah hanya diam mendengarkan. "Aku juga capek harus menahan diri untuk tidak menyakiti hati orang lain, tetapi teman-temanku justru sering mengejekku dan membuatku sakit hati.

Kenapa aku selalu begini ayah? Aku capek..." Akhirnya anak laki-laki itu terisak dan menangis di depan ayahnya. Sang ayah hanya menenangkan dengan mengusap bahu.

Setelah anak laki-lakinya tenang, pria itu mengajak anak laki-lakinya menuju sebuah semak belukar yang becek dan dipenuhi tanaman berduri. "Kenapa kita harus masuk ke semak-semak ini ayah?" tanya sang anak laki-laki, "Aku tidak suka, sepatuku jadi kotor kena lumpur, celana jeansku kotor, banyak duri yang kena kulitku, sakit.."

Ayah anak laki-laki itu diam tetapi memberikan senyuman agar anak laki-lakinya tetap tenang dan mengikuti jalan tersebut. Hingga pada akhirnya, mereka tiba pada sebuah danau kecil yang pada bagian pinggirnya ditumbuhi tanaman dan bunga-bunga cantik. "Kamu suka tempat ini anakku?" tanya sang ayah. Anak laki-laki itu mengangguk semangat dan bibirnya tak dapat menyembunyikan senyum.
"Kamu tahu mengapa tempat ini sepi padahal banyak yang tahu bahwa di balik semak belukar, ada danau yang sangat indah?" Anak laki-laki menggeleng.

"Karena banyak orang yang tidak mau melewati semak belukar. Padahal dengan kesabaran, semua orang dapat melihat dan menikmati danau cantik ini." Sang ayah tersenyum lalu melanjutkan.

"Begitu juga dengan hidup, butuh kesabaran untuk mendapatkan ilmu, butuh kesabaran saat bersikap baik, butuh kesabaran saat mengendalikan amarah, butuh kesabaran dalam berbuat kebaikan, butuh kesabaran dalam menghadapi masalah dan butuh kesabaran jika kamu ingin mendapatkan hasil yang indah. Karena itu, kamu harus belajar untuk sabar, anakku! Sekalipun itu adalah hal yang sulit!" Anak laki-laki itu akhirnya mengerti akan arti kesabaran, kemudian dia memeluk ayahnya sambil berjanji bahwa dia akan belajar untuk bersabar.

Melatih kesabaran adalah tapa yang tertinggi.

Sabar itu ilmu tingkat tinggi
Belajarnya setiap hari
Latihannya setiap saat
Ujiannya sering mendadak
Sekolahnya seumur hidup


 _/\_