Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: AN.iii.128 : Andha Sutta  (Read 20124 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #30 on: 06 August 2013, 02:34:42 AM »
Kun fa ya kun ya tuhan?   :)) ^:)^
#lost kgk ngerti uey
:)) :))
"Atas seijin Tuhan yang harus terjadi maka terjadilah"
I'm an ordinary human only

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.091
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #31 on: 06 August 2013, 09:12:46 AM »
#lost kgk ngerti uey

Dalam bahasa arab

Kun        =jadi
Fayakun =maka terjadi

= (Bila tuhan berkata) jadi (maka) jadilah
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #32 on: 06 August 2013, 09:43:45 AM »
wa pikir harus dilihat suttanya dan orang yang di bicarakan.

dalam kelaparan pertama orang yang di bahas adalah umat awam yang habis pulang bekerja, orang habis bekerja seharian tenaga dan pikiran nya juga tentu terkuras hingga jasmani nya membutuhkan asupan makanan untuk mengganti energy tersebut.

bila tidak maka rasa lapar dan lelah dari badan jasmani tersebut akan menjadi ganguan dalam mendengar dhammadesana yang di babarkan Sang Buddha Gautama. dengan asupan makannan tersebut maka rasa lapar yang intens tentu akan berkurang intensitas nya hingga ganguan akan lebih kecil dari sebelum nya, sehingga kinsentrasi dan penyerapan dhamma tentu nya akan lebih baik.

Sedang pada pewaris dhamma, yang ini di bahas adalah anggota sangha atau bhikku yang berusaha berlatih dan menjalani  dhamma dan vinaya yang di ajarkan Sang Buddha dan meninggalkan kehidupan berumahtangga, jelas terlihat dari dasasila bahwa makanan adalah termasuk bagian dari latihan sehari hari.

Secara halus disini Sang Buddha mengajarkan dhammadesana dengan menyesuaikan situasi baik bagi perumahtangga dan baik bagi yang sedang melatih dhamma, sedang untuk perumah tangga mungkin jaman saat ini di kenal dengan jemput bola.
« Last Edit: 06 August 2013, 09:55:15 AM by kullatiro »

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #33 on: 06 August 2013, 09:56:18 AM »
wa pikir harus dilihat suttanya dan orang yang di bicarakan.

dalam kelaparan pertama orang yang di bahas adalah umat awam yang habis pulang bekerja, orang habis bekerja seharian tenaga dan pikiran nya juga tentu terkuras hingga jasmani nya membutuhkan asupan makanan untuk mengganti energy tersebut.

bila tidak maka rasa lapar dan lelah dari badan jasmani tersebut akan menjadi ganguan dalam mendengar dhammadesana yang di babarkan Sang Buddha Gautama. dengan asupan makannan tersebut maka rasa lapar yang intens tentu akan berkurang intensitas nya hingga ganguan akan lebih kecil dari sebelum nya, sehingga kinsentrasi dan penyerapan dhamma tentu nya akan lebih baik.

Sedang pada pewaris dhamma, yang ini di bahas adalah anggota sangha atau bhikku yang berusaha berlatih dan menjalani  dhamma dan vinaya yang di ajarkan Sang Buddha dan meninggalkan kehidupan berumahtangga, jelas terlihat dari dasasila bahwa makanan adalah termasuk bagian dari latihan sehari hari.

Secara halus disini Sang Buddha mengajarkan dhammadesana dengan menyesuaikan situasi baik bagi perumahtangga dan baik bagi yang sedang melatih dhamma, sedang untuk perumah tangga mungkin jaman saat ini di kenal dengan jemput bola.

Kalo umat awamnya menjalankan Atthasila gimana?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #34 on: 06 August 2013, 02:09:37 PM »
wa pikir harus dilihat suttanya dan orang yang di bicarakan.

dalam kelaparan pertama orang yang di bahas adalah umat awam yang habis pulang bekerja, orang habis bekerja seharian tenaga dan pikiran nya juga tentu terkuras hingga jasmani nya membutuhkan asupan makanan untuk mengganti energy tersebut.

bila tidak maka rasa lapar dan lelah dari badan jasmani tersebut akan menjadi ganguan dalam mendengar dhammadesana yang di babarkan Sang Buddha Gautama. dengan asupan makannan tersebut maka rasa lapar yang intens tentu akan berkurang intensitas nya hingga ganguan akan lebih kecil dari sebelum nya, sehingga kinsentrasi dan penyerapan dhamma tentu nya akan lebih baik.

Sedang pada pewaris dhamma, yang ini di bahas adalah anggota sangha atau bhikku yang berusaha berlatih dan menjalani  dhamma dan vinaya yang di ajarkan Sang Buddha dan meninggalkan kehidupan berumahtangga, jelas terlihat dari dasasila bahwa makanan adalah termasuk bagian dari latihan sehari hari.

Secara halus disini Sang Buddha mengajarkan dhammadesana dengan menyesuaikan situasi baik bagi perumahtangga dan baik bagi yang sedang melatih dhamma, sedang untuk perumah tangga mungkin jaman saat ini di kenal dengan jemput bola.
Anda benar sekali bro Kullatiro, memang demikian yang dimaksud.  ;D

Kalo umat awamnya menjalankan Atthasila gimana?
Itu mah bukan kelaparan bro, memang melatih diri  :))
I'm an ordinary human only

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #35 on: 07 August 2013, 08:28:39 AM »
Iya bro Adi Lim, saya juga setuju bahwa semua mahkluk hidup butuh makan, dan merupakan penyakit serius, karena mereka bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan makan, sedangkan maksud dengan pertanyaan saya itu berkaitan dengan sutta ini, sepertinya sang Buddha menekankan jauhilah orang miskin dan kriminal   ^-^


bold, bisa juga terjemahan yang tidak tepat

IMO, setuju kalau menjauhi kriminal
tidak setuju menjauhi orang miskin, pengemis, gelandangan, kaum papa, tidak punya alasan mengapa harus dihindari !
Para Samana, Bhikkhu (tidak punya harta) termasuk juga miskin kok, tapi Buddha mengatakan menjadi Bhikkhu, praktek menjalankan kehidupan yang lebih tinggi, bahkan disarankan Buddha Gotama utk menjadi Bhikkhu.
« Last Edit: 07 August 2013, 08:34:45 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #36 on: 10 August 2013, 10:42:53 PM »
Dalam bahasa arab

Kun        =jadi
Fayakun =maka terjadi

= (Bila tuhan berkata) jadi (maka) jadilah
makasih bro Sanjiva  :jempol:
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #37 on: 10 August 2013, 10:47:29 PM »
bold, bisa juga terjemahan yang tidak tepat

IMO, setuju kalau menjauhi kriminal
tidak setuju menjauhi orang miskin, pengemis, gelandangan, kaum papa, tidak punya alasan mengapa harus dihindari !
Para Samana, Bhikkhu (tidak punya harta) termasuk juga miskin kok, tapi Buddha mengatakan menjadi Bhikkhu, praktek menjalankan kehidupan yang lebih tinggi, bahkan disarankan Buddha Gotama utk menjadi Bhikkhu.
Klo pandangan anda ini memang benar, sayapun berpandangan demikian bahwa Bhikkhu adl miskin karena memang menjauhi keduniawian tetapi menjalankan kehidupan suci. Justru menjalankan kehidupan suci itu yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan kekayaan duniawi.

Saya mengangkat sutta ini karena setiap diskusi di kelas dlu wkt kuliah kami sll diingatkan oleh para dosen bhw sang Buddha pun tidak pernah mengajarkan utk meninggalkan keduniawian, dengan bukti sutta ini. Sehingga apabila ada pandangan Buddhism adalah ajaran yg tidak mementingkan duniawi adalah tidak benar.
I'm an ordinary human only

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #38 on: 10 August 2013, 11:04:16 PM »
Klo pandangan anda ini memang benar, sayapun berpandangan demikian bahwa Bhikkhu adl miskin karena memang menjauhi keduniawian tetapi menjalankan kehidupan suci. Justru menjalankan kehidupan suci itu yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan kekayaan duniawi.

Saya mengangkat sutta ini karena setiap diskusi di kelas dlu wkt kuliah kami sll diingatkan oleh para dosen bhw sang Buddha pun tidak pernah mengajarkan utk meninggalkan keduniawian, dengan bukti sutta ini. Sehingga apabila ada pandangan Buddhism adalah ajaran yg tidak mementingkan duniawi adalah tidak benar.

Kurikulum yg digunakan oleh Sang Buddha adalah kurikulum bertahap seperti yang diajarkan dalam Anupubbikatha yg targetnya adalah kebahagiaan dalam kehidupan ini, berlanjut dengan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang, dan memuncak pada kebebasan. dalam mengajar Sang Buddha akan menyesuaikan dengan watak dan kecenderungan pendengarnya. Jadi tidak tepat jika dikatakan bahwa Sang Buddha tidak pernah mengajarkan meninggalkan keduniawian. Dalam kurikulum ini terdapat salah satunya adalah "bahaya kenikmatan indria" yg menyiratkan kita bahwa kita seharusnya meninggalkan bahaya itu.

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #39 on: 10 August 2013, 11:17:45 PM »
Kurikulum yg digunakan oleh Sang Buddha adalah kurikulum bertahap seperti yang diajarkan dalam Anupubbikatha yg targetnya adalah kebahagiaan dalam kehidupan ini, berlanjut dengan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang, dan memuncak pada kebebasan. dalam mengajar Sang Buddha akan menyesuaikan dengan watak dan kecenderungan pendengarnya. Jadi tidak tepat jika dikatakan bahwa Sang Buddha tidak pernah mengajarkan meninggalkan keduniawian. Dalam kurikulum ini terdapat salah satunya adalah "bahaya kenikmatan indria" yg menyiratkan kita bahwa kita seharusnya meninggalkan bahaya itu.
Makasih bro Indra, iya kurikulum beliau sangat tepat sekali untuk semua level. ^:)^
Sedang bahaya yang saya beri warna maroon ini memang amat sangat berbahaya sekali, karena kita memiliki Panca Indriya (mengalahkan satu saja sulit apalagi lima)  ;D
I'm an ordinary human only