Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: AN.iii.128 : Andha Sutta  (Read 11335 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
AN.iii.128 : Andha Sutta
« on: 29 July 2013, 02:02:11 PM »
Andha Sutta
The Blind, The One-eyed, and The Two-eyed

'Monks, there are three persons found existing in the world.

What three? The blind, the one-eyed, and the two-eyed.

And of what sort, monks, is the blind? Herein a certain person has not the eye to acquire wealth unattained, or to make the wealth he has increase. He has not the eye fit to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one, monks, is called "the blind."

And of what sort, monks, is the one-eyed? In this case a certain person has the eye to acquire wealth unattained, and or to make the wealth he has increase. But he has not the eye fit to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one is called the "one-eyed."

And of what sort, monks, is the two-eyed? In this case a certain person has both the eye to acquire wealth unattained and the eye to make the wealth he has increase, and the eye to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy, states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one is called " the two-eyed."

These are the three persons: The blind, of sight bereft, hath no such wealth, No works good deeds, unlucky in both ways. And then again 'tis said the one-eyed man, conjoined with right and wrong, searches for wealth. With tricks and frauds and lies: worldly, purse-proud, and clever to gain wealth is he, and hence departing is afflicted sore in Hell. But best of all's the being with two eyes: His wealth, with right exertion rightly won, he gives away: with best intent, unwavering. In a blessed home he's born, nor sorrows there. So from the blind and one-eyed keep aloof, and join thyself to worthy two-eyed men.


Spoiler: ShowHide

PALI-PTS

 Ime kho, bhikkhave, tayo puggalā santo saṃvijjamānā lokasmi’’’nti.
‘‘Na ceva bhogā tathārūpā, na ca puññāni kubbati;
Ubhayattha kaliggāho, andhassa hatacakkhuno.
‘‘Athāparāyaṃ akkhāto, ekacakkhu ca puggalo;
Dhammādhammena saṭhoso [saṃsaṭṭho (sī. syā. kaṃ. pī.), saṭhoti (ka.)], bhogāni pariyesati.
‘‘Theyyena kūṭakammena, musāvādena cūbhayaṃ;
Kusalo hoti saṅghātuṃ [saṃhātuṃ (syā.)], kāmabhogī ca mānavo;
Ito so nirayaṃ gantvā, ekacakkhu vihaññati.
‘‘Dvicakkhu pana akkhāto, seṭṭho purisapuggalo;
Dhammaladdhehi bhogehi, uṭṭhānādhigataṃ dhanaṃ.
‘‘Dadāti seṭṭhasaṅkappo, abyaggamānaso naro;
Upeti bhaddakaṃ ṭhānaṃ, yattha gantvā na socati.
‘‘Andhañca ekacakkhuñca, ārakā parivajjaye;
Dvicakkhuṃ pana sevetha, seṭṭhaṃ purisapuggala’’nti.
 
[spoiler]
BHS.INDONESIA

 Andha Sutta

 Buta, Bermata-Satu, dan Bermata-Dua

 'Para bhikkhu, ada tiga orang yang ditemukan di dunia.

 Siapa tiga orang? Orang buta, Orang yang bermata satu, dan Orang bermata dua.

 Dan macam apa, para bhikkhu, orang buta? Di sinilah orang tertentu yang tidak memiliki mata untuk memperoleh kekayaan sehingga tidak tercapai, atau untuk membuat kekayaannya mengalami peningkatan. Dia tidak memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap. Yang demikian ini, para bhikkhu, disebut "orang buta."

 Dan macam apa, para bhikkhu, Orang bermata satu? Dalam hal ini orang tertentu memiliki mata untuk memperoleh kekayaan tercapai, dan atau untuk membuat kekayaan yang mengalami peningkatan. Tapi dia belum memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap.  Yang demikian ini disebut "bermata satu."

 
 Dan macam apa, para bhikkhu, Orang bermata dua? Dalam hal ini orang tertentu memiliki kedua mata untuk memperoleh kekayaan tercapai dan untuk membuat kekayaan yang mengalami peningkatan, dan memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap.  Ini disebut "Orang bermata dua."

 Inilah para ketiga orang : buta, kehilangan penglihatan, tiada kekayaan, tiada melakukan perbuatan kebajikan, tidak beruntung di kedua cara. Dan sekali lagi orang bermata satu, penggabungan benar dan salah, mencari kekayaan. Dengan trik dan penipuan dan kebohongan: duniawi, yang bangga akan kekayaannya, dan cerdas untuk mendapatkan kekayaan dia, dan karenanya menyimpang maka menderita sakit di neraka. Tapi terbaik dari semua adalah yang dengan dua mata: Kekayaan, dengan mengerahkan usaha yang benar secara tepat, ia memberikan : dengan niat terbaik, tak tergoyahkan. Dalam sebuah rumah yang diberkati dia lahir, tiada duka di sana. Oleh karena itu menjauhlah dari Orang buta dan bermata satu, dan bergabung untuk dirimu sendiri layak dengan Orang bermata dua.
 


[/spoiler]

Apakah ini merupakan saran yang bisa diartikan : "jangan dekati orang miskin dan para kriminal"
karena penekanan nya di dekatilah orang yang layak utk kalian yaitu "kaya dan sholeh"
Padahal setahu saya Buddhism tidak pernah membagi2 manusia dalam klasifikasi kaya-miskin, awam-kriminal.
Banyak para Arahat berasal dari kaum miskin maupun kriminal (pembunuh, pencuri, bahkan pelacur)
« Last Edit: 29 July 2013, 02:10:56 PM by Shasika »
I'm an ordinary human only

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #1 on: 29 July 2013, 02:55:44 PM »
Penomorannya versi PTS ya?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #2 on: 29 July 2013, 03:04:48 PM »
paahal di dc juga ada...bukan penomoran pts deh
...

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #3 on: 29 July 2013, 03:08:53 PM »
29 (9) Buta

“Para bhikkhu, ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia ini. Apakah tiga ini? Orang buta, orang bermata satu, dan orang bermata dua.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, orang buta? Di sini, seseorang tidak memiliki jenis mata [129] yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang buta.

(2) “Dan apakah orang bermata satu? Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, tetapi ia tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata satu.

(3) “Dan apakah orang bermata dua? Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata dua.

“Ini, para bhikkhu, adalah tiga jenis orang yang terdapat di dunia.”

   Ia tidak memiliki kekayaan,
   Juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa;
   Si orang buta tanpa mata
   Melemparkan lemparan tidak beruntung dalam kedua sisi.

   Orang yang digambarkan sebagai bermata satu.
   Adalah seorang munafik yang mencari kekayaan,
   [kadang-kadang] dengan cara yang baik
   [dan kadang-kadang] dengan cara yang tidak baik.

   Keduanya dengan tindakan-tindakan mencuri dan menipu
   Dan dengan ucapan-ucapan dusta
   Orang itu yang menikmati kenikmatan indria
   Mahir dalam menimbun kekayaan.
   Setelah pergi dari sini menuju neraka,
   Orang bermata satu itu disiksa.

   Seorang bermata dua dikatakan sebagai
   Orang dari jenis terbaik.
   Kekayaannya<365> diperoleh melalui usahanya sendiri,
   Dengan benda-benda yang diperoleh dengan jujur. [130]

   Kemudian dengan kehendak terbaik ia memberi
   Orang ini dengan pikiran yang tidak terbagi
   Ia pergi menuju [kelahiran kembali dalam] alam yang baik
   Di mana, setelah pergi, ia tidak bersedih.

   Seseorang dari jauh harus menghindari
   Si orang buta dan orang bermata satu,
   Tetapi harus berteman dengan orang bermata dua,   
   Orang dari jenis terbaik.

...

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #4 on: 29 July 2013, 03:10:12 PM »
pengecualiannya ada di ... AN 3- 26 ....cuplikan :

(1) “Dan apakah para bhikkhu, jenis orang yang tidak boleh dijadikan teman, diikuti, dan dilayani? Di sini, seseorang lebih rendah [daripada diri sendiri] dalam hal perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Orang seperti itu tidak boleh dijadikan teman, diikuti, dan dilayani, kecuali demi rasa simpati dan belas kasihan.
...

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #5 on: 29 July 2013, 03:51:25 PM »
I'm an ordinary human only

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #6 on: 29 July 2013, 03:52:22 PM »
IYA  :))

Pantesan dicari2 gak ketemu.... :hammer:

Itu udh dicariin bang ronald dari versi DC nya....
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #7 on: 29 July 2013, 03:53:17 PM »
paahal di dc juga ada...bukan penomoran pts deh
Iya deh penomoran DC dah.... :))

29 (9) Buta

“Para bhikkhu, ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia ini. Apakah tiga ini? Orang buta, orang bermata satu, dan orang bermata dua.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, orang buta? Di sini, seseorang tidak memiliki jenis mata [129] yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang buta.

(2) “Dan apakah orang bermata satu? Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, tetapi ia tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata satu.

(3) “Dan apakah orang bermata dua? Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata dua.

“Ini, para bhikkhu, adalah tiga jenis orang yang terdapat di dunia.”

   Ia tidak memiliki kekayaan,
   Juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa;
   Si orang buta tanpa mata
   Melemparkan lemparan tidak beruntung dalam kedua sisi.

   Orang yang digambarkan sebagai bermata satu.
   Adalah seorang munafik yang mencari kekayaan,
   [kadang-kadang] dengan cara yang baik
   [dan kadang-kadang] dengan cara yang tidak baik.

   Keduanya dengan tindakan-tindakan mencuri dan menipu
   Dan dengan ucapan-ucapan dusta
   Orang itu yang menikmati kenikmatan indria
   Mahir dalam menimbun kekayaan.
   Setelah pergi dari sini menuju neraka,
   Orang bermata satu itu disiksa.

   Seorang bermata dua dikatakan sebagai
   Orang dari jenis terbaik.
   Kekayaannya<365> diperoleh melalui usahanya sendiri,
   Dengan benda-benda yang diperoleh dengan jujur. [130]

   Kemudian dengan kehendak terbaik ia memberi
   Orang ini dengan pikiran yang tidak terbagi
   Ia pergi menuju [kelahiran kembali dalam] alam yang baik
   Di mana, setelah pergi, ia tidak bersedih.

   Seseorang dari jauh harus menghindari
   Si orang buta dan orang bermata satu,
   Tetapi harus berteman dengan orang bermata dua,   
   Orang dari jenis terbaik.


Makasih bro Ronald udah dikasih terjemahan yang sangat lengkap dan sempurna.... :jempol:
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #8 on: 29 July 2013, 03:57:43 PM »
Pantesan dicari2 gak ketemu.... :hammer:

Itu udh dicariin bang ronald dari versi DC nya....

Oooohhh...really...?
So sorry bro Ariyakumara, U can easily search it through mettanet.tipitaka
http://www.metta.lk/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/index.html

Semua penomoran Sutta, Vinaya, Abhidhamma berdasarkan PTS, jadi tinggal di cari nomor paragraf yang ke 128 aja setelah ketemu AN nya. sekali lagi maaf ya bro Ariyakumara... ;D
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #9 on: 29 July 2013, 04:05:08 PM »
Andha Sutta
The Blind, The One-eyed, and The Two-eyed

'Monks, there are three persons found existing in the world.

What three? The blind, the one-eyed, and the two-eyed.

And of what sort, monks, is the blind? Herein a certain person has not the eye to acquire wealth unattained, or to make the wealth he has increase. He has not the eye fit to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one, monks, is called "the blind."

And of what sort, monks, is the one-eyed? In this case a certain person has the eye to acquire wealth unattained, and or to make the wealth he has increase. But he has not the eye fit to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one is called the "one-eyed."

And of what sort, monks, is the two-eyed? In this case a certain person has both the eye to acquire wealth unattained and the eye to make the wealth he has increase, and the eye to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy, states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one is called " the two-eyed."

These are the three persons: The blind, of sight bereft, hath no such wealth, No works good deeds, unlucky in both ways. And then again 'tis said the one-eyed man, conjoined with right and wrong, searches for wealth. With tricks and frauds and lies: worldly, purse-proud, and clever to gain wealth is he, and hence departing is afflicted sore in Hell. But best of all's the being with two eyes: His wealth, with right exertion rightly won, he gives away: with best intent, unwavering. In a blessed home he's born, nor sorrows there. So from the blind and one-eyed keep aloof, and join thyself to worthy two-eyed men.


Spoiler: ShowHide

PALI-PTS

 Ime kho, bhikkhave, tayo puggalā santo saṃvijjamānā lokasmi’’’nti.
‘‘Na ceva bhogā tathārūpā, na ca puññāni kubbati;
Ubhayattha kaliggāho, andhassa hatacakkhuno.
‘‘Athāparāyaṃ akkhāto, ekacakkhu ca puggalo;
Dhammādhammena saṭhoso [saṃsaṭṭho (sī. syā. kaṃ. pī.), saṭhoti (ka.)], bhogāni pariyesati.
‘‘Theyyena kūṭakammena, musāvādena cūbhayaṃ;
Kusalo hoti saṅghātuṃ [saṃhātuṃ (syā.)], kāmabhogī ca mānavo;
Ito so nirayaṃ gantvā, ekacakkhu vihaññati.
‘‘Dvicakkhu pana akkhāto, seṭṭho purisapuggalo;
Dhammaladdhehi bhogehi, uṭṭhānādhigataṃ dhanaṃ.
‘‘Dadāti seṭṭhasaṅkappo, abyaggamānaso naro;
Upeti bhaddakaṃ ṭhānaṃ, yattha gantvā na socati.
‘‘Andhañca ekacakkhuñca, ārakā parivajjaye;
Dvicakkhuṃ pana sevetha, seṭṭhaṃ purisapuggala’’nti.
 
[spoiler]
BHS.INDONESIA

 Andha Sutta

 Buta, Bermata-Satu, dan Bermata-Dua

 'Para bhikkhu, ada tiga orang yang ditemukan di dunia.

 Siapa tiga orang? Orang buta, Orang yang bermata satu, dan Orang bermata dua.

 Dan macam apa, para bhikkhu, orang buta? Di sinilah orang tertentu yang tidak memiliki mata untuk memperoleh kekayaan sehingga tidak tercapai, atau untuk membuat kekayaannya mengalami peningkatan. Dia tidak memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap. Yang demikian ini, para bhikkhu, disebut "orang buta."

 Dan macam apa, para bhikkhu, Orang bermata satu? Dalam hal ini orang tertentu memiliki mata untuk memperoleh kekayaan tercapai, dan atau untuk membuat kekayaan yang mengalami peningkatan. Tapi dia belum memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap.  Yang demikian ini disebut "bermata satu."

 
 Dan macam apa, para bhikkhu, Orang bermata dua? Dalam hal ini orang tertentu memiliki kedua mata untuk memperoleh kekayaan tercapai dan untuk membuat kekayaan yang mengalami peningkatan, dan memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap.  Ini disebut "Orang bermata dua."

 Inilah para ketiga orang : buta, kehilangan penglihatan, tiada kekayaan, tiada melakukan perbuatan kebajikan, tidak beruntung di kedua cara. Dan sekali lagi orang bermata satu, penggabungan benar dan salah, mencari kekayaan. Dengan trik dan penipuan dan kebohongan: duniawi, yang bangga akan kekayaannya, dan cerdas untuk mendapatkan kekayaan dia, dan karenanya menyimpang maka menderita sakit di neraka. Tapi terbaik dari semua adalah yang dengan dua mata: Kekayaan, dengan mengerahkan usaha yang benar secara tepat, ia memberikan : dengan niat terbaik, tak tergoyahkan. Dalam sebuah rumah yang diberkati dia lahir, tiada duka di sana. Oleh karena itu menjauhlah dari Orang buta dan bermata satu, dan bergabung untuk dirimu sendiri layak dengan Orang bermata dua.
 


[/spoiler]

Apakah ini merupakan saran yang bisa diartikan : "jangan dekati orang miskin dan para kriminal"
karena penekanan nya di dekatilah orang yang layak utk kalian yaitu "kaya dan sholeh"
Padahal setahu saya Buddhism tidak pernah membagi2 manusia dalam klasifikasi kaya-miskin, awam-kriminal.
Banyak para Arahat berasal dari kaum miskin maupun kriminal (pembunuh, pencuri, bahkan pelacur)

Saya ingin diskusi sutta ini karena menurut saya menarik.
Ini saya tambahin penjelasan lebih lanjut dari catatan kuliah saya tentang "Andha Sutta" ini.

Quote
Andha the blind person who does not have the eye to see that means how to increase his wealth. This person does not inquire the wealth or make the wealth he has increased. He has no eyes to see stages that are good and bad and also does not have ability to see the state that are blame worthy or praise worthy.

Eka cakkhu is the person who has the eye to acquire wealth but not the eye to see stage that are ethically good and bad which means that he knows how to increase his income, he know how to invest his money for new project. But he does not cultivate the spirituality.

Dvi cakkhu is the person who has both eyes. He has eyes to acquire wealth to unattained and the eyes to make wealth he has increase and the eyes to see the stage that are good and bad, the stages that are blame worthy and praise worthy. This means he increases his wealth and simultaneously, he cultivates good conduce, state etc.

The beauty of this Sutta lays in the description of Eka cakkhu who has only the eye of wealth. The person who has the eye to see the stages of good and bad not the eye of wealth his considered in the secondary because wealth is considered more important in the human world. The poverty never goes together with ethics. The poverty and unwholesome stages of mind always go hand in hand. The poverty comprises with all the basic needs that is food, cloths, shelter and so on. He always thinks and plants how to earn money to need his basic needs. Among these needs could to be the first acquirement ( sabbe satta aharatthika- all the beings subsists on food). For instance the Buddha deferred to preach to a hungry man until he was given a meal. Elsewhere it is stated that which body subsists on food( Ayam kayo aharattithiko). The Buddha recognizes hunger as the most serious illness (Jigaccha parama roga).
Jika melihat penjelasan ini seperti nya memenuhi kebutuhan kekayaan (wealth) dahulu baru ke religius (agama).
I'm an ordinary human only

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #10 on: 29 July 2013, 06:37:30 PM »
Saya ingin diskusi sutta ini karena menurut saya menarik.
Ini saya tambahin penjelasan lebih lanjut dari catatan kuliah saya tentang "Andha Sutta" ini.
Jika melihat penjelasan ini seperti nya memenuhi kebutuhan kekayaan (wealth) dahulu baru ke religius (agama).

IMO, maksud sutta adalah lebih baik memiliki kedua hal tsb, kekayaan materi dan kekayaan religius (mata dua), daripada memiliki satu hal saja, kekayaan materi (mata satu), tetapi yang paling buruk adalah tidak memiliki keduanya (buta) karena ia "melakukan lemparan yang tidak beruntung di kedua sisi".
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #11 on: 01 August 2013, 01:03:43 AM »
Oooohhh...really...?
So sorry bro Ariyakumara, U can easily search it through mettanet.tipitaka
http://www.metta.lk/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/index.html

Semua penomoran Sutta, Vinaya, Abhidhamma berdasarkan PTS, jadi tinggal di cari nomor paragraf yang ke 128 aja setelah ketemu AN nya. sekali lagi maaf ya bro Ariyakumara... ;D
Bro Ariyakumara, saya buka link itu ternyata sy kurang lengkap, itu masih halaman depan AN nya, belom ke sutta nya, yang link ini langsung ke sutta nya : http://www.metta.lk/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/Anguttara1/3-tikanipata/003-puggalavaggo-p.html   ;D
 
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #12 on: 01 August 2013, 01:18:38 AM »
IMO, maksud sutta adalah lebih baik memiliki kedua hal tsb, kekayaan materi dan kekayaan religius (mata dua), daripada memiliki satu hal saja, kekayaan materi (mata satu), tetapi yang paling buruk adalah tidak memiliki keduanya (buta) karena ia "melakukan lemparan yang tidak beruntung di kedua sisi".
Apakah bro Ariyakumara sudah meneliti catatan kuliah saya yang melatarbelakangi pemikiran bahwa pemenuhan primair dahulu lah yang membuat seseorang baru bisa ke religius.

Quote
    Andha the blind person who does not have the eye to see that means how to increase his wealth. This person does not inquire the wealth or make the wealth he has increased. He has no eyes to see stages that are good and bad and also does not have ability to see the state that are blame worthy or praise worthy.

    Eka cakkhu is the person who has the eye to acquire wealth but not the eye to see stage that are ethically good and bad which means that he knows how to increase his income, he know how to invest his money for new project. But he does not cultivate the spirituality.

    Dvi cakkhu is the person who has both eyes. He has eyes to acquire wealth to unattained and the eyes to make wealth he has increase and the eyes to see the stage that are good and bad, the stages that are blame worthy and praise worthy. This means he increases his wealth and simultaneously, he cultivates good conduce, state etc.

    The beauty of this Sutta lays in the description of Eka cakkhu who has only the eye of wealth. The person who has the eye to see the stages of good and bad not the eye of wealth his considered in the secondary because wealth is considered more important in the human world. The poverty never goes together with ethics. The poverty and unwholesome stages of mind always go hand in hand. The poverty comprises with all the basic needs that is food, cloths, shelter and so on. He always thinks and plants how to earn money to need his basic needs. Among these needs could to be the first acquirement ( sabbe satta aharatthika- all the beings subsists on food). For instance the Buddha deferred to preach to a hungry man until he was given a meal. Elsewhere it is stated that which body subsists on food( Ayam kayo aharattithiko). The Buddha recognizes hunger as the most serious illness (Jigaccha parama roga).
Jelas sekali disitu dosen saya menyebutkan bahwa Sang Buddha pun lebih memilih menunda membabarkan dhamma hingga orang tsb mendptkan makan. Karena kebutuhan utama mahkluk hidup adalah makan (ayam kayo aharattithiko).
Bahkan sang Buddha menekankan bahwa penyakit yang paling serius adalah kelaparan. Mengapa bukan penyakit kekotoran bathin (kilesa) ya ?
I'm an ordinary human only

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #13 on: 01 August 2013, 05:56:25 AM »
Jelas sekali disitu dosen saya menyebutkan bahwa Sang Buddha pun lebih memilih menunda membabarkan dhamma hingga orang tsb mendptkan makan. Karena kebutuhan utama mahkluk hidup adalah makan (ayam kayo aharattithiko).
Bahkan sang Buddha menekankan bahwa penyakit yang paling serius adalah kelaparan. Mengapa bukan penyakit kekotoran bathin (kilesa) ya ?

kelaparan adalah 'penyakit' serius bagi manusia dan tidak akan tuntas walaupun 'di obati' (makan), sesudah kenyang akan lapar lagi, jika tidak konsumsi makanan, tentunya fisik akan lemah dan bisa meninggal dunia.
Dan terlahir sebagai manusia dan hewan memang makanan adalah kebutuhan utama yang menopang kehidupan.

'penyakit' kekotoran batin bisa di obati tuntas, jika seseorang berlatih dan berhasil menjadi Arahat, berarti 'penyakit' kekotoran batin sembuh total dan tuntas.
« Last Edit: 01 August 2013, 06:02:56 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #14 on: 01 August 2013, 06:52:21 PM »
Apakah bro Ariyakumara sudah meneliti catatan kuliah saya yang melatarbelakangi pemikiran bahwa pemenuhan primair dahulu lah yang membuat seseorang baru bisa ke religius.
Jelas sekali disitu dosen saya menyebutkan bahwa Sang Buddha pun lebih memilih menunda membabarkan dhamma hingga orang tsb mendptkan makan. Karena kebutuhan utama mahkluk hidup adalah makan (ayam kayo aharattithiko).
Bahkan sang Buddha menekankan bahwa penyakit yang paling serius adalah kelaparan. Mengapa bukan penyakit kekotoran bathin (kilesa) ya ?

"Semua makhluk bergantung pada makanan" tentu saja salah satu ajaran Buddhis yang juga terdapat dalam sutta-sutta. Menurut MN 9 Sammaditthi Sutta, terdapat 4 jenis makanan: makanan jasmani (kabalinkarahara), kontak/kesan (phassa), kehendak pikiran (manosancetana), dan kesadaran (vinnana). Jadi, bukan hanya makanan fisik saja yang dimaksud. Selain itu, keempat jenis makanan ini bermula dari keinginan (tanha) dan keinginan bermula dari rangkaian kemunculan bergantungan yang berakal dari ketidaktahuan (avijja), penyakit kekotoran batin (kilesa) yang paling parah. Hal ini disebutkan dalam Ahara Sutta (SN 12.11) sbb:

"Para bhikkhu, empat jenis makanan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Empat jenis makanan ini memiliki keinginan sebagai sumbernya, keinginan sebagai asal-mulanya; muncul dan dihasilkan dari keinginan.

Dan keinginan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Keinginan memiliki perasaan sebagai sumbernya; perasaan sebagai asal-mula; muncul dan dihasilkan dari perasaan.

Dan perasaan ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Perasaan memiliki kontak sebagai sumbernya…. Dan kontak ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Kontak memiliki enam landasan indria sebagai sumbernya …. Dan enam landasan indria ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Enam landasan indria memiliki batin dan jasmani sebagai sumbernya…. Dan batin dan jasmani ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? batin dan jasmani memiliki kesadaran sebagai sumbernya…. Dan kesadaran ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Kesadaran memiliki bentukan-bentukan kehendak sebagai sumbernya…. Dan bentukan-bentukan kehendak ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Bentukan-bentukan kehendak memiliki ketidaktahuan sebagai sumbernya; ketidaktahuan sebagai asal-mula; muncul dan dihasilkan dari ketidaktahuan.
"

Tentu saja makanan fisik penting untuk menunjang kehidupan fisik seseorang yang berlatih Dhamma (kondisi tubuh yang sehat mendukung praktek Dhamma yang efektif), namun spt dlm MN 3 Dhammadayada Sutta, Sang Buddha lebih menganjurkan agar berlatih dengan keinginan yang sedikit, kepuasan, pemurnian, kemudahan dalam disokong, dan membangkitkan kegigihan sehingga seseorang menjadi seorang pewaris Dhamma alih-alih pewaris materi (makanan fisik).

Sedangkan sutta AN ini menyatakan seseorang hanya berteman dengan orang yang bermata dua karena orang yang bermata dua ini selain bisa memberikan keuntungan duniawi, juga bisa memberikan keuntungan spiritual bagi mereka yang berteman dengannya dibandingan dua jenis lainnya (yang hanya memberikan keuntungan spiritual saja atau tidak sama sekali). IMO, seandainya ada jenis orang keempat, yaitu yang bermata satu juga tetapi "mata"-nya adalah kekayaan spiritual, akan lebih baik dijadikan teman daripada jenis orang bermata satu yang "mata"-nya adalah kekayaan duniawi.

Btw, kisah petani kelaparan yang diberi makan Sang Buddha itu kan dari komentar Dhammapada.... ;D
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #15 on: 01 August 2013, 07:01:47 PM »
"Semua makhluk bergantung pada makanan" tentu saja salah satu ajaran Buddhis yang juga terdapat dalam sutta-sutta. Menurut MN 9 Sammaditthi Sutta, terdapat 4 jenis makanan: makanan jasmani (kabalinkarahara), kontak/kesan (phassa), kehendak pikiran (manosancetana), dan kesadaran (vinnana). Jadi, bukan hanya makanan fisik saja yang dimaksud. Selain itu, keempat jenis makanan ini bermula dari keinginan (tanha) dan keinginan bermula dari rangkaian kemunculan bergantungan yang berakal dari ketidaktahuan (avijja), penyakit kekotoran batin (kilesa) yang paling parah. Hal ini disebutkan dalam Ahara Sutta (SN 12.11) sbb:

"Para bhikkhu, empat jenis makanan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Empat jenis makanan ini memiliki keinginan sebagai sumbernya, keinginan sebagai asal-mulanya; muncul dan dihasilkan dari keinginan.

Dan keinginan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Keinginan memiliki perasaan sebagai sumbernya; perasaan sebagai asal-mula; muncul dan dihasilkan dari perasaan.

Dan perasaan ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Perasaan memiliki kontak sebagai sumbernya…. Dan kontak ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Kontak memiliki enam landasan indria sebagai sumbernya …. Dan enam landasan indria ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Enam landasan indria memiliki batin dan jasmani sebagai sumbernya…. Dan batin dan jasmani ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? batin dan jasmani memiliki kesadaran sebagai sumbernya…. Dan kesadaran ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Kesadaran memiliki bentukan-bentukan kehendak sebagai sumbernya…. Dan bentukan-bentukan kehendak ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Bentukan-bentukan kehendak memiliki ketidaktahuan sebagai sumbernya; ketidaktahuan sebagai asal-mula; muncul dan dihasilkan dari ketidaktahuan.
"

Tentu saja makanan fisik penting untuk menunjang kehidupan fisik seseorang yang berlatih Dhamma (kondisi tubuh yang sehat mendukung praktek Dhamma yang efektif), namun spt dlm MN 3 Dhammadayada Sutta, Sang Buddha lebih menganjurkan agar berlatih dengan keinginan yang sedikit, kepuasan, pemurnian, kemudahan dalam disokong, dan membangkitkan kegigihan sehingga seseorang menjadi seorang pewaris Dhamma alih-alih pewaris materi (makanan fisik).

Sedangkan sutta AN ini menyatakan seseorang hanya berteman dengan orang yang bermata dua karena orang yang bermata dua ini selain bisa memberikan keuntungan duniawi, juga bisa memberikan keuntungan spiritual bagi mereka yang berteman dengannya dibandingan dua jenis lainnya (yang hanya memberikan keuntungan spiritual saja atau tidak sama sekali). IMO, seandainya ada jenis orang keempat, yaitu yang bermata satu juga tetapi "mata"-nya adalah kekayaan spiritual, akan lebih baik dijadikan teman daripada jenis orang bermata satu yang "mata"-nya adalah kekayaan duniawi.

Btw, kisah petani kelaparan yang diberi makan Sang Buddha itu kan dari komentar Dhammapada.... ;D

Menambahkan komentar Bang Ariyakumara, Dalam MN 3 Dhammadayada Sutta, Sang Buddha malah memuji bhikkhu yang kelaparan.

Quote
3. “Sekarang, para bhikkhu, misalkan aku telah makan, menolak makanan tambahan, sudah kenyang, selesai, sudah cukup, telah memakan apa yang Kubutuhkan, dan ada makanan tersisa dan akan dibuang. Kemudian dua orang bhikkhu tiba [13] lapar dan lemah, dan Aku berkata kepada mereka: ‘Para bhikkhu, aku telah makan … telah memakan apa yang Kubutuhkan, tetapi masih ada makanan tersisa dan akan dibuang. Makanlah jika kalian menginginkan; jika kalian tidak memakannya maka Aku akan membuangnya ke mana tidak ada tumbuh-tumbuhan atau membuangnya ke air di mana tidak ada kehidupan.’ Kemudian seorang bhikkhu berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang; jika kami tidak memakannya maka Sang Bhagavā akan membuangnya … Tetapi hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā: “Para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi.” Sekarang, makanan ini adalah salah satu benda materi. Bagaimana jika seandainya tanpa memakan makanan ini aku melewatkan malam dan hari ini dalam keadaan lapar dan lemah.’  Dan tanpa memakan makanan itu ia melewatkan malam dan hari itu dalam keadaan lapar dan lemah. Kemudian bhikkhu ke dua berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang … Bagaimana jika seandainya aku memakan makanan ini dan melewatkan malam dan hari ini tanpa merasa lapar dan lemah. Dan setelah memakan makanan itu ia melewatkan malam dan hari itu tanpa  merasa lapar dan lemah. Sekarang walaupun bhikkhu itu dengan memakan makanan itu melewatkan malam dan hari itu tanpa merasa lapar dan lemah, namun bhikkhu pertama lebih terhormat dan dipuji olehKu. Mengapakah? Karena hal itu dalam waktu lama akan berdampak pada keinginannya yang sedikit, kepuasan, pemurnian, kemudahan dalam disokong, dan membangkitkan kegigihannya.  Oleh karena itu, para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi. Demi belas kasihKu kepada kalian Aku berpikir: ‘Bagaimanakah agar para siswaKu dapat menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi?’”

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #16 on: 01 August 2013, 07:22:54 PM »
[...]
Sedangkan sutta AN ini menyatakan seseorang hanya berteman dengan orang yang bermata dua karena orang yang bermata dua ini selain bisa memberikan keuntungan duniawi, juga bisa memberikan keuntungan spiritual bagi mereka yang berteman dengannya dibandingan dua jenis lainnya (yang hanya memberikan keuntungan spiritual saja atau tidak sama sekali). IMO, seandainya ada jenis orang keempat, yaitu yang bermata satu juga tetapi "mata"-nya adalah kekayaan spiritual, akan lebih baik dijadikan teman daripada jenis orang bermata satu yang "mata"-nya adalah kekayaan duniawi.

Btw, kisah petani kelaparan yang diberi makan Sang Buddha itu kan dari komentar Dhammapada.... ;D
mungkin maksudnya duniawi om?
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #17 on: 01 August 2013, 08:30:04 PM »
mungkin maksudnya duniawi om?

Ya, gak bisa edit lagi pulak :hammer:

Spoiler: ShowHide
Harap2 cemas Tuhan akan menjadikanku mod Theravada supaya bisa melakukan modify post di atas ;D
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #18 on: 01 August 2013, 08:37:10 PM »
Ya, gak bisa edit lagi pulak :hammer:

Spoiler: ShowHide
Harap2 cemas Tuhan akan menjadikanku mod Theravada supaya bisa melakukan modify post di atas ;D



jadi glomod aja, biar lebih leluasa, daripada jadi mod di banyak board.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #19 on: 01 August 2013, 08:44:15 PM »

jadi glomod aja, biar lebih leluasa, daripada jadi mod di banyak board.

Spoiler: ShowHide
Sssssttt...

 :outoftopic:
« Last Edit: 01 August 2013, 08:46:30 PM by ariyakumara »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #20 on: 01 August 2013, 08:50:42 PM »
Ya, gak bisa edit lagi pulak :hammer:

Spoiler: ShowHide
Harap2 cemas Tuhan akan menjadikanku mod Theravada supaya bisa melakukan modify post di atas ;D

Spoiler: ShowHide
nah, doamu langsung terkabul om..
haleluyahhh...
Puji Tuhan..


:backtotopic:
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #21 on: 01 August 2013, 08:58:52 PM »

jadi glomod aja, biar lebih leluasa, daripada jadi mod di banyak board.

langsung ketok palu aja
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #22 on: 04 August 2013, 01:39:55 PM »
"Semua makhluk bergantung pada makanan" tentu saja salah satu ajaran Buddhis yang juga terdapat dalam sutta-sutta. Menurut MN 9 Sammaditthi Sutta, terdapat 4 jenis makanan: makanan jasmani (kabalinkarahara), kontak/kesan (phassa), kehendak pikiran (manosancetana), dan kesadaran (vinnana). Jadi, bukan hanya makanan fisik saja yang dimaksud. Selain itu, keempat jenis makanan ini bermula dari keinginan (tanha) dan keinginan bermula dari rangkaian kemunculan bergantungan yang berakal dari ketidaktahuan (avijja), penyakit kekotoran batin (kilesa) yang paling parah. Hal ini disebutkan dalam Ahara Sutta (SN 12.11) sbb:

"Para bhikkhu, empat jenis makanan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Empat jenis makanan ini memiliki keinginan sebagai sumbernya, keinginan sebagai asal-mulanya; muncul dan dihasilkan dari keinginan.

Dan keinginan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Keinginan memiliki perasaan sebagai sumbernya; perasaan sebagai asal-mula; muncul dan dihasilkan dari perasaan.

Dan perasaan ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Perasaan memiliki kontak sebagai sumbernya…. Dan kontak ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Kontak memiliki enam landasan indria sebagai sumbernya …. Dan enam landasan indria ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Enam landasan indria memiliki batin dan jasmani sebagai sumbernya…. Dan batin dan jasmani ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? batin dan jasmani memiliki kesadaran sebagai sumbernya…. Dan kesadaran ini memiliki apakah sebagai sumbernya…? Kesadaran memiliki bentukan-bentukan kehendak sebagai sumbernya…. Dan bentukan-bentukan kehendak ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, muncul dan dihasilkan dari apakah? Bentukan-bentukan kehendak memiliki ketidaktahuan sebagai sumbernya; ketidaktahuan sebagai asal-mula; muncul dan dihasilkan dari ketidaktahuan.
"

Tentu saja makanan fisik penting untuk menunjang kehidupan fisik seseorang yang berlatih Dhamma (kondisi tubuh yang sehat mendukung praktek Dhamma yang efektif), namun spt dlm MN 3 Dhammadayada Sutta, Sang Buddha lebih menganjurkan agar berlatih dengan keinginan yang sedikit, kepuasan, pemurnian, kemudahan dalam disokong, dan membangkitkan kegigihan sehingga seseorang menjadi seorang pewaris Dhamma alih-alih pewaris materi (makanan fisik).

Sedangkan sutta AN ini menyatakan seseorang hanya berteman dengan orang yang bermata dua karena orang yang bermata dua ini selain bisa memberikan keuntungan duniawi, juga bisa memberikan keuntungan spiritual bagi mereka yang berteman dengannya dibandingan dua jenis lainnya (yang hanya memberikan keuntungan spiritual saja atau tidak sama sekali). IMO, seandainya ada jenis orang keempat, yaitu yang bermata satu juga tetapi "mata"-nya adalah kekayaan spiritual, akan lebih baik dijadikan teman daripada jenis orang bermata satu yang "mata"-nya adalah kekayaan duniawi.

Btw, kisah petani kelaparan yang diberi makan Sang Buddha itu kan dari komentar Dhammapada.... ;D
:jempol:
Jawaban nya saya dapatkan dari anda, maaf masih hutang GRP bro Ariyakumara  ;D
(***ingetin ya besok.... :)) )
« Last Edit: 04 August 2013, 01:51:07 PM by Shasika »
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #23 on: 04 August 2013, 01:56:16 PM »
kelaparan adalah 'penyakit' serius bagi manusia dan tidak akan tuntas walaupun 'di obati' (makan), sesudah kenyang akan lapar lagi, jika tidak konsumsi makanan, tentunya fisik akan lemah dan bisa meninggal dunia.
Dan terlahir sebagai manusia dan hewan memang makanan adalah kebutuhan utama yang menopang kehidupan.

'penyakit' kekotoran batin bisa di obati tuntas, jika seseorang berlatih dan berhasil menjadi Arahat, berarti 'penyakit' kekotoran batin sembuh total dan tuntas.
Iya bro Adi Lim, saya juga setuju bahwa semua mahkluk hidup butuh makan, dan merupakan penyakit serius, karena mereka bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan makan, sedangkan maksud dengan pertanyaan saya itu berkaitan dengan sutta ini, sepertinya sang Buddha menekankan jauhilah orang miskin dan kriminal  ^-^

Quote
Andha Sutta
The Blind, The One-eyed, and The Two-eyed

'Monks, there are three persons found existing in the world.

What three? The blind, the one-eyed, and the two-eyed.

And of what sort, monks, is the blind? Herein a certain person has not the eye to acquire wealth unattained, or to make the wealth he has increase. He has not the eye fit to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one, monks, is called "the blind."

And of what sort, monks, is the one-eyed? In this case a certain person has the eye to acquire wealth unattained, and or to make the wealth he has increase. But he has not the eye fit to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one is called the "one-eyed."

And of what sort, monks, is the two-eyed? In this case a certain person has both the eye to acquire wealth unattained and the eye to make the wealth he has increase, and the eye to see states that are good and bad, to see states that are blameworthy and praiseworthy, states mean and exalted, states resembling light and darkness. This one is called " the two-eyed."

These are the three persons: The blind, of sight bereft, hath no such wealth, No works good deeds, unlucky in both ways. And then again 'tis said the one-eyed man, conjoined with right and wrong, searches for wealth. With tricks and frauds and lies: worldly, purse-proud, and clever to gain wealth is he, and hence departing is afflicted sore in Hell. But best of all's the being with two eyes: His wealth, with right exertion rightly won, he gives away: with best intent, unwavering. In a blessed home he's born, nor sorrows there. So from the blind and one-eyed keep aloof, and join thyself to worthy two-eyed men.


Spoiler: ShowHide

PALI-PTS

 Ime kho, bhikkhave, tayo puggalā santo saṃvijjamānā lokasmi’’’nti.
‘‘Na ceva bhogā tathārūpā, na ca puññāni kubbati;
Ubhayattha kaliggāho, andhassa hatacakkhuno.
‘‘Athāparāyaṃ akkhāto, ekacakkhu ca puggalo;
Dhammādhammena saṭhoso [saṃsaṭṭho (sī. syā. kaṃ. pī.), saṭhoti (ka.)], bhogāni pariyesati.
‘‘Theyyena kūṭakammena, musāvādena cūbhayaṃ;
Kusalo hoti saṅghātuṃ [saṃhātuṃ (syā.)], kāmabhogī ca mānavo;
Ito so nirayaṃ gantvā, ekacakkhu vihaññati.
‘‘Dvicakkhu pana akkhāto, seṭṭho purisapuggalo;
Dhammaladdhehi bhogehi, uṭṭhānādhigataṃ dhanaṃ.
‘‘Dadāti seṭṭhasaṅkappo, abyaggamānaso naro;
Upeti bhaddakaṃ ṭhānaṃ, yattha gantvā na socati.
‘‘Andhañca ekacakkhuñca, ārakā parivajjaye;
Dvicakkhuṃ pana sevetha, seṭṭhaṃ purisapuggala’’nti.
 
[spoiler]
BHS.INDONESIA

 Andha Sutta

 Buta, Bermata-Satu, dan Bermata-Dua

 'Para bhikkhu, ada tiga orang yang ditemukan di dunia.

 Siapa tiga orang? Orang buta, Orang yang bermata satu, dan Orang bermata dua.

 Dan macam apa, para bhikkhu, orang buta? Di sinilah orang tertentu yang tidak memiliki mata untuk memperoleh kekayaan sehingga tidak tercapai, atau untuk membuat kekayaannya mengalami peningkatan. Dia tidak memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap. Yang demikian ini, para bhikkhu, disebut "orang buta."

 Dan macam apa, para bhikkhu, Orang bermata satu? Dalam hal ini orang tertentu memiliki mata untuk memperoleh kekayaan tercapai, dan atau untuk membuat kekayaan yang mengalami peningkatan. Tapi dia belum memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap.  Yang demikian ini disebut "bermata satu."

 
 Dan macam apa, para bhikkhu, Orang bermata dua? Dalam hal ini orang tertentu memiliki kedua mata untuk memperoleh kekayaan tercapai dan untuk membuat kekayaan yang mengalami peningkatan, dan memiliki mata yang tepat untuk melihat yang baik dan buruk, untuk melihat  yang tercela dan yang terpuji, yang berarti dan diagungkan, menyatakan menyerupai terang dan gelap.  Ini disebut "Orang bermata dua."

 Inilah para ketiga orang : buta, kehilangan penglihatan, tiada kekayaan, tiada melakukan perbuatan kebajikan, tidak beruntung di kedua cara. Dan sekali lagi orang bermata satu, penggabungan benar dan salah, mencari kekayaan. Dengan trik dan penipuan dan kebohongan: duniawi, yang bangga akan kekayaannya, dan cerdas untuk mendapatkan kekayaan dia, dan karenanya menyimpang maka menderita sakit di neraka. Tapi terbaik dari semua adalah yang dengan dua mata: Kekayaan, dengan mengerahkan usaha yang benar secara tepat, ia memberikan : dengan niat terbaik, tak tergoyahkan. Dalam sebuah rumah yang diberkati dia lahir, tiada duka di sana. Oleh karena itu menjauhlah dari Orang buta dan bermata satu, dan bergabung untuk dirimu sendiri layak dengan Orang bermata dua.
 


[/spoiler]

Apakah ini merupakan saran yang bisa diartikan : "jangan dekati orang miskin dan para kriminal"
karena penekanan nya di dekatilah orang yang layak utk kalian yaitu "kaya dan sholeh"
Padahal setahu saya Buddhism tidak pernah membagi2 manusia dalam klasifikasi kaya-miskin, awam-kriminal.
Banyak para Arahat berasal dari kaum miskin maupun kriminal (pembunuh, pencuri, bahkan pelacur)
« Last Edit: 04 August 2013, 02:13:59 PM by Shasika »
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #24 on: 04 August 2013, 02:06:17 PM »
Menambahkan komentar Bang Ariyakumara, Dalam MN 3 Dhammadayada Sutta, Sang Buddha malah memuji bhikkhu yang kelaparan.
Quote
3. “Sekarang, para bhikkhu, misalkan aku telah makan, menolak makanan tambahan, sudah kenyang, selesai, sudah cukup, telah memakan apa yang Kubutuhkan, dan ada makanan tersisa dan akan dibuang. Kemudian dua orang bhikkhu tiba [13] lapar dan lemah, dan Aku berkata kepada mereka: ‘Para bhikkhu, aku telah makan … telah memakan apa yang Kubutuhkan, tetapi masih ada makanan tersisa dan akan dibuang. Makanlah jika kalian menginginkan; jika kalian tidak memakannya maka Aku akan membuangnya ke mana tidak ada tumbuh-tumbuhan atau membuangnya ke air di mana tidak ada kehidupan.’ Kemudian seorang bhikkhu berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang; jika kami tidak memakannya maka Sang Bhagavā akan membuangnya … Tetapi hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā: “Para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi.” Sekarang, makanan ini adalah salah satu benda materi. Bagaimana jika seandainya tanpa memakan makanan ini aku melewatkan malam dan hari ini dalam keadaan lapar dan lemah.’  Dan tanpa memakan makanan itu ia melewatkan malam dan hari itu dalam keadaan lapar dan lemah. Kemudian bhikkhu ke dua berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang … Bagaimana jika seandainya aku memakan makanan ini dan melewatkan malam dan hari ini tanpa merasa lapar dan lemah. Dan setelah memakan makanan itu ia melewatkan malam dan hari itu tanpa  merasa lapar dan lemah. Sekarang walaupun bhikkhu itu dengan memakan makanan itu melewatkan malam dan hari itu tanpa merasa lapar dan lemah, namun bhikkhu pertama lebih terhormat dan dipuji olehKu. Mengapakah? Karena hal itu dalam waktu lama akan berdampak pada keinginannya yang sedikit, kepuasan, pemurnian, kemudahan dalam disokong, dan membangkitkan kegigihannya.  Oleh karena itu, para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi. Demi belas kasihKu kepada kalian Aku berpikir: ‘Bagaimanakah agar para siswaKu dapat menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi?’”
Terima kasih bro Indra atas jawaban anda yang juga melengkapi.
Memang para Bhikkhu seyogya nya menahan lapar sedikit kepuasan, pemurnian, mudah dilayani, gigih dalam berlatih, saya sedang menanti seseorang yang saya harap dapat mewujudkan cita2 ini. Saya akan mendukung beliau sepenuhnya.
 _/\_

I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #25 on: 04 August 2013, 02:13:25 PM »
Ya, gak bisa edit lagi pulak :hammer:

Spoiler: ShowHide
Harap2 cemas Tuhan akan menjadikanku mod Theravada supaya bisa melakukan modify post di atas ;D


jadi glomod aja, biar lebih leluasa, daripada jadi mod di banyak board.
Spoiler: ShowHide
nah, doamu langsung terkabul om..
haleluyahhh...
Puji Tuhan..


 :backtotopic:
langsung ketok palu aja

SETUJU  :jempol:
« Last Edit: 04 August 2013, 02:27:35 PM by Shasika »
I'm an ordinary human only

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #26 on: 05 August 2013, 09:17:42 AM »
Ta… da…  >:D
There is no place like 127.0.0.1

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.091
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #27 on: 05 August 2013, 11:09:20 AM »
Ta… da…  >:D

Kun fa ya kun ya tuhan?   :)) ^:)^
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #28 on: 05 August 2013, 05:28:14 PM »
Kun fa ya kun ya tuhan?   :)) ^:)^
#lost kgk ngerti uey
There is no place like 127.0.0.1

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #29 on: 06 August 2013, 02:32:51 AM »
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #30 on: 06 August 2013, 02:34:42 AM »
Kun fa ya kun ya tuhan?   :)) ^:)^
#lost kgk ngerti uey
:)) :))
"Atas seijin Tuhan yang harus terjadi maka terjadilah"
I'm an ordinary human only

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.091
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #31 on: 06 August 2013, 09:12:46 AM »
#lost kgk ngerti uey

Dalam bahasa arab

Kun        =jadi
Fayakun =maka terjadi

= (Bila tuhan berkata) jadi (maka) jadilah
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #32 on: 06 August 2013, 09:43:45 AM »
wa pikir harus dilihat suttanya dan orang yang di bicarakan.

dalam kelaparan pertama orang yang di bahas adalah umat awam yang habis pulang bekerja, orang habis bekerja seharian tenaga dan pikiran nya juga tentu terkuras hingga jasmani nya membutuhkan asupan makanan untuk mengganti energy tersebut.

bila tidak maka rasa lapar dan lelah dari badan jasmani tersebut akan menjadi ganguan dalam mendengar dhammadesana yang di babarkan Sang Buddha Gautama. dengan asupan makannan tersebut maka rasa lapar yang intens tentu akan berkurang intensitas nya hingga ganguan akan lebih kecil dari sebelum nya, sehingga kinsentrasi dan penyerapan dhamma tentu nya akan lebih baik.

Sedang pada pewaris dhamma, yang ini di bahas adalah anggota sangha atau bhikku yang berusaha berlatih dan menjalani  dhamma dan vinaya yang di ajarkan Sang Buddha dan meninggalkan kehidupan berumahtangga, jelas terlihat dari dasasila bahwa makanan adalah termasuk bagian dari latihan sehari hari.

Secara halus disini Sang Buddha mengajarkan dhammadesana dengan menyesuaikan situasi baik bagi perumahtangga dan baik bagi yang sedang melatih dhamma, sedang untuk perumah tangga mungkin jaman saat ini di kenal dengan jemput bola.
« Last Edit: 06 August 2013, 09:55:15 AM by kullatiro »

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #33 on: 06 August 2013, 09:56:18 AM »
wa pikir harus dilihat suttanya dan orang yang di bicarakan.

dalam kelaparan pertama orang yang di bahas adalah umat awam yang habis pulang bekerja, orang habis bekerja seharian tenaga dan pikiran nya juga tentu terkuras hingga jasmani nya membutuhkan asupan makanan untuk mengganti energy tersebut.

bila tidak maka rasa lapar dan lelah dari badan jasmani tersebut akan menjadi ganguan dalam mendengar dhammadesana yang di babarkan Sang Buddha Gautama. dengan asupan makannan tersebut maka rasa lapar yang intens tentu akan berkurang intensitas nya hingga ganguan akan lebih kecil dari sebelum nya, sehingga kinsentrasi dan penyerapan dhamma tentu nya akan lebih baik.

Sedang pada pewaris dhamma, yang ini di bahas adalah anggota sangha atau bhikku yang berusaha berlatih dan menjalani  dhamma dan vinaya yang di ajarkan Sang Buddha dan meninggalkan kehidupan berumahtangga, jelas terlihat dari dasasila bahwa makanan adalah termasuk bagian dari latihan sehari hari.

Secara halus disini Sang Buddha mengajarkan dhammadesana dengan menyesuaikan situasi baik bagi perumahtangga dan baik bagi yang sedang melatih dhamma, sedang untuk perumah tangga mungkin jaman saat ini di kenal dengan jemput bola.

Kalo umat awamnya menjalankan Atthasila gimana?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #34 on: 06 August 2013, 02:09:37 PM »
wa pikir harus dilihat suttanya dan orang yang di bicarakan.

dalam kelaparan pertama orang yang di bahas adalah umat awam yang habis pulang bekerja, orang habis bekerja seharian tenaga dan pikiran nya juga tentu terkuras hingga jasmani nya membutuhkan asupan makanan untuk mengganti energy tersebut.

bila tidak maka rasa lapar dan lelah dari badan jasmani tersebut akan menjadi ganguan dalam mendengar dhammadesana yang di babarkan Sang Buddha Gautama. dengan asupan makannan tersebut maka rasa lapar yang intens tentu akan berkurang intensitas nya hingga ganguan akan lebih kecil dari sebelum nya, sehingga kinsentrasi dan penyerapan dhamma tentu nya akan lebih baik.

Sedang pada pewaris dhamma, yang ini di bahas adalah anggota sangha atau bhikku yang berusaha berlatih dan menjalani  dhamma dan vinaya yang di ajarkan Sang Buddha dan meninggalkan kehidupan berumahtangga, jelas terlihat dari dasasila bahwa makanan adalah termasuk bagian dari latihan sehari hari.

Secara halus disini Sang Buddha mengajarkan dhammadesana dengan menyesuaikan situasi baik bagi perumahtangga dan baik bagi yang sedang melatih dhamma, sedang untuk perumah tangga mungkin jaman saat ini di kenal dengan jemput bola.
Anda benar sekali bro Kullatiro, memang demikian yang dimaksud.  ;D

Kalo umat awamnya menjalankan Atthasila gimana?
Itu mah bukan kelaparan bro, memang melatih diri  :))
I'm an ordinary human only

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #35 on: 07 August 2013, 08:28:39 AM »
Iya bro Adi Lim, saya juga setuju bahwa semua mahkluk hidup butuh makan, dan merupakan penyakit serius, karena mereka bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan makan, sedangkan maksud dengan pertanyaan saya itu berkaitan dengan sutta ini, sepertinya sang Buddha menekankan jauhilah orang miskin dan kriminal   ^-^


bold, bisa juga terjemahan yang tidak tepat

IMO, setuju kalau menjauhi kriminal
tidak setuju menjauhi orang miskin, pengemis, gelandangan, kaum papa, tidak punya alasan mengapa harus dihindari !
Para Samana, Bhikkhu (tidak punya harta) termasuk juga miskin kok, tapi Buddha mengatakan menjadi Bhikkhu, praktek menjalankan kehidupan yang lebih tinggi, bahkan disarankan Buddha Gotama utk menjadi Bhikkhu.
« Last Edit: 07 August 2013, 08:34:45 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #36 on: 10 August 2013, 10:42:53 PM »
Dalam bahasa arab

Kun        =jadi
Fayakun =maka terjadi

= (Bila tuhan berkata) jadi (maka) jadilah
makasih bro Sanjiva  :jempol:
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #37 on: 10 August 2013, 10:47:29 PM »
bold, bisa juga terjemahan yang tidak tepat

IMO, setuju kalau menjauhi kriminal
tidak setuju menjauhi orang miskin, pengemis, gelandangan, kaum papa, tidak punya alasan mengapa harus dihindari !
Para Samana, Bhikkhu (tidak punya harta) termasuk juga miskin kok, tapi Buddha mengatakan menjadi Bhikkhu, praktek menjalankan kehidupan yang lebih tinggi, bahkan disarankan Buddha Gotama utk menjadi Bhikkhu.
Klo pandangan anda ini memang benar, sayapun berpandangan demikian bahwa Bhikkhu adl miskin karena memang menjauhi keduniawian tetapi menjalankan kehidupan suci. Justru menjalankan kehidupan suci itu yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan kekayaan duniawi.

Saya mengangkat sutta ini karena setiap diskusi di kelas dlu wkt kuliah kami sll diingatkan oleh para dosen bhw sang Buddha pun tidak pernah mengajarkan utk meninggalkan keduniawian, dengan bukti sutta ini. Sehingga apabila ada pandangan Buddhism adalah ajaran yg tidak mementingkan duniawi adalah tidak benar.
I'm an ordinary human only

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #38 on: 10 August 2013, 11:04:16 PM »
Klo pandangan anda ini memang benar, sayapun berpandangan demikian bahwa Bhikkhu adl miskin karena memang menjauhi keduniawian tetapi menjalankan kehidupan suci. Justru menjalankan kehidupan suci itu yang lebih tinggi dan mulia dibandingkan kekayaan duniawi.

Saya mengangkat sutta ini karena setiap diskusi di kelas dlu wkt kuliah kami sll diingatkan oleh para dosen bhw sang Buddha pun tidak pernah mengajarkan utk meninggalkan keduniawian, dengan bukti sutta ini. Sehingga apabila ada pandangan Buddhism adalah ajaran yg tidak mementingkan duniawi adalah tidak benar.

Kurikulum yg digunakan oleh Sang Buddha adalah kurikulum bertahap seperti yang diajarkan dalam Anupubbikatha yg targetnya adalah kebahagiaan dalam kehidupan ini, berlanjut dengan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang, dan memuncak pada kebebasan. dalam mengajar Sang Buddha akan menyesuaikan dengan watak dan kecenderungan pendengarnya. Jadi tidak tepat jika dikatakan bahwa Sang Buddha tidak pernah mengajarkan meninggalkan keduniawian. Dalam kurikulum ini terdapat salah satunya adalah "bahaya kenikmatan indria" yg menyiratkan kita bahwa kita seharusnya meninggalkan bahaya itu.

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: AN.iii.128 : Andha Sutta
« Reply #39 on: 10 August 2013, 11:17:45 PM »
Kurikulum yg digunakan oleh Sang Buddha adalah kurikulum bertahap seperti yang diajarkan dalam Anupubbikatha yg targetnya adalah kebahagiaan dalam kehidupan ini, berlanjut dengan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang, dan memuncak pada kebebasan. dalam mengajar Sang Buddha akan menyesuaikan dengan watak dan kecenderungan pendengarnya. Jadi tidak tepat jika dikatakan bahwa Sang Buddha tidak pernah mengajarkan meninggalkan keduniawian. Dalam kurikulum ini terdapat salah satunya adalah "bahaya kenikmatan indria" yg menyiratkan kita bahwa kita seharusnya meninggalkan bahaya itu.
Makasih bro Indra, iya kurikulum beliau sangat tepat sekali untuk semua level. ^:)^
Sedang bahaya yang saya beri warna maroon ini memang amat sangat berbahaya sekali, karena kita memiliki Panca Indriya (mengalahkan satu saja sulit apalagi lima)  ;D
I'm an ordinary human only