Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perlindungan Diri Melalui Meditasi  (Read 2863 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Perlindungan Diri Melalui Meditasi
« on: 11 November 2012, 06:29:39 PM »
Ajaran Buddha memiliki tujuan utama membebaskan diri dari kelahiran dan kematian yang berulang-ulang (samsara). Tujuan ini tampak seperti mementingkan diri sendiri karena pada hakekatnya pembebasan (Nibbana) adalah bergantung pada diri sendiri dan tidak dapat diperoleh dari orang/makhluk lain. Demikian pula, jalan langsung menuju pembebasan tersebut, yang dilakukan melalui praktek meditasi, terutama empat landasan perhatian (satipatthana), juga dianggap praktek yang egois dan berpusat pada diri sendiri.

Namun sesungguhnya dengan menjalankan meditasi, seseorang melindungi orang lain dengan melindungi diri sendiri dan juga sebaliknya. Secara khusus, melindungi diri sendiri dengan praktek meditasi (satipatthana) yang terus-menerus juga berarti melindungi orang lain (masyarakat), sedangkan melindungi orang lain dengan mengembangkan kesabaran, tanpa kekerasan, cinta kasih dan belas kasih juga berarti melindungi diri sendiri. Hal ini dinyatakan Sang Buddha sendiri dalam Sedaka Sutta (Samyutta Nikaya 47.19) sebagai berikut:

"Dan bagaimanakah, para bhikkhu, bahwa dengan melindungi diri sendiri, ia melindungi orang lain? Dengan mengejar, mengembangkan, dan melatih meditasi [empat landasan perhatian]. Dengan cara demikianlah bahwa dengan melindungi diri sendiri, ia melindungi orang lain.
Dan bagaimanakah, para bhikkhu, bahwa dengan melindungi orang lain, ia melindungi diri sendiri? Dengan kesabaran, tidak mencelakai, cinta kasih, dan belas kasih. Dengan cara demikianlah bahwa dengan melindungi orang lain, ia melindungi diri sendiri."


Dengan demikian, sisi pengembangan diri secara spiritual untuk membebaskan diri dari samsara melalui praktek meditasi adalah perlindungan diri, yang tidak terlepas dari perlindungan orang lain dengan mengembangkan cinta kasih terhadap semua makhluk. Adalah tidak mungkin dalam menjalankan ajaran Buddha seseorang hanya mementingkan diri sendiri (egois) ataupun pada sisi lain hanya memperhatikan kepentingan orang lain semata. Namun keduanya yang masing-masing adalah perwujudan kebijaksanaan dan cinta kasih, dua sayap Pencerahan Sang Buddha, adalah saling melengkapi satu sama lain.

Untuk memperdalam pengertian akan perlindungan diri sendiri dan orang lain berdasarkan Sedaka Sutta di atas, berikut saya menyajikan sebuah artikel berjudul "Perlindungan Diri Melalui Satipatthana" oleh Bhikkhu Nyanaponika Thera yang diterjemahkan dari Protection Through Satipatthana

Semoga bermanfaat _/\_
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Perlindungan Diri Melalui Meditasi
« Reply #1 on: 11 November 2012, 06:35:51 PM »
Perlindungan Melalui Satipatthana

oleh

Nyanaponika Thera

Suatu ketika Sang Buddha menceritakan kepada para bhikkhu kisah berikut (Satipatthana Samyutta, No.19):

Suatu ketika terdapat sepasang pemain sulap yang melakukan kemahiran akrobatik mereka pada sebatang tonggak bambu. Suatu hari sang guru berkata pada muridnya: “Sekarang naiklah ke atas bahuku dan panjatlah tonggak bambu itu.” Ketika sang murid telah melakukan demikian, sang guru berkata: “Sekarang lindungilah aku dan aku akan melindungi kamu! Dengan melindungi dan memperhatikan satu sama lain dengan cara itu, kita akan dapat menunjukkan keahlian kita, mendapatkan keuntungan yang besar dan dengan selamat turun dari tonggak bambu ini.” Tetapi sang murid berkata: “Bukan demikian halnya, guru! Anda, O guru, seharusnya melindungi diri anda sendiri, dan aku juga akan melindungi diriku sendiri. Dengan perlindungan diri dan penjagaan diri yang demikian kita akan dengan selamat melakukan kemahiran kita.”

“Inilah cara yang benar”, kata Sang Buddha dan berlanjut mengatakan sebagai berikut:

“Seperti halnya sang murid berkata: ‘Aku akan melindungi diriku sendiri’ – dengan cara itu landasan perhatian (satipatthana) seharusnya dilatih. ‘Aku akan melindungi orang lain’ – dengan cara itu landasan perhatian seharusnya dilatih. Dengan melindungi diri sendiri, seseorang melindungi orang lain; dengan melindungi orang lain, seseorang melindungi diri sendiri.”

“Dan bagaimanakah seseorang, dengan melindungi diri sendiri, melindungi orang lain? Dengan latihan meditasi yang berulang kali dan sering dilakukan (asevanaya bhavanaya bahulikammena).”

“Dan bagaimanakah seseorang, dengan melindungi orang lain, melindungi diri sendiri? Dengan kesabaran dan pengendalian diri, dengan kehidupan yang tanpa kekerasan dan tidak menyakiti, dengan cinta kasih dan belas kasih.”


Sutta ini termasuk dalam sejumlah besar ajaran Sang Buddha yang penting dan sangat praktis yang masih tersembunyi bagaikan harta terpendam, yang tidak diketahui dan tidak digunakan. Namun teks ini memiliki pesan penting bagi kita, dan kenyataan bahwa teks ini dicap dengan segel kerajaan dari satipatthana memberikannya nilai tambah bagi perhatian kita.

Individu dan Masyarakat

Sutta ini berkaitan dengan hubungan antara diri kita dan sesama makhluk hidup, antara individu dan masyarakat. Sutta ini menyimpulkan suatu cara singkat perlakuan Buddhis terhadap masalah etika individu dan masyarakat, terhadap egoisme dan altruisme [sifat mementingkan kepentingan orang lain]. Intisari dari hal ini terkandung dalam dua kalimat singkat:

“Dengan melindungi diri sendiri, seseorang melindungi orang lain” (Attanam rakkhanto param rakkhati.)

“Dengan melindungi orang lain, seseorang melindungi diri sendiri” (Param rakkhanto attanam rakkhati.)

Dua kalimat ini saling melengkapi dan seharusnya tidak diambil atau dikutip secara terpisah. Saat ini, ketika pelayanan sosial sangat ditekankan, orang-orang mungkin berusaha mendukung gagasan mereka dengan mengutip hanya kalimat kedua. Tetapi kutipan yang satu sisi demikian akan salah mengartikan sudut pandang Sang Buddha. Harus diingat bahwa dalam kisah kita Sang Buddha dengan jelas menyetujui kata-kata sang murid, bahwa seseorang harus pertama kali memperhatikan dengan hati-hati langkah diri sendiri jika ia berharap untuk melindungi orang lain dari bahaya. Ia yang dirinya sendiri tenggelam dalam lumpur tidak dapat menolong orang lain keluar dari lumpur tersebut. Dalam pengertian itu, perlindungan diri membentuk landasan yang sangat diperlukan untuk perlindungan dan bantuan kepada orang lain. Tetapi perlindungan diri bukanlah perlindungan yang mementingkan diri sendiri. Ini adalah pengendalian diri, pengembangan diri secara spiritual dan etis.

Terdapat beberapa kebenaran tertinggi yang sangat dapat dipahami dan mendalam sehingga mereka tampaknya memiliki jangkauan makna yang terus berkembang yang tumbuh bersama dengan jangkauan seseorang memahami dan menjalankannya. Kebenaran-kebenaran ini dapat diterapkan pada berbagai tingkat pemahaman, dan sah dalam berbagai konteks dalam kehidupan kita. Setelah mencapai tingkat pertama atau kedua, seseorang akan terkejut bahwa berulang kali pandangan baru membuka dirinya pada pemahaman kita, yang diterangi oleh kebenaran yang sama. Ini juga berlaku untuk dua kebenaran tertinggi dari teks kita yang akan kita bahas sekarang secara detail.

“Dengan melindungi diri sendiri, seseorang melindungi orang lain” – kebenaran pernyataan ini dimulai dari tingkat yang sangat sederhana dan praktis. Tingkat material pertama dari kebenaran ini adalah sangat meyakinkan diri sendiri sehingga kita tidak perlu mengatakan lebih dari beberapa kata tentang hal ini. Ini jelas bahwa perlindungan atas kesehatan diri sendiri akan menyebabkan perlindungan kesehatan orang lain dan lingkungan, terutama di mana penyakit menular yang diperhatikan. Kewaspadaan dan kehati-hatian dalam semua perilaku dan gerakan kita akan melindungi orang lain dari bahaya yang dapat terjadi pada mereka melalui ketidakhati-hatian dan kelengahan kita. Dengan berkendara dengan hati-hati, tidak mengkonsumsi alkohol, pengendalian diri dalam situasi-situasi yang dapat membawa pada kekerasan – dengan cara-cara ini dan banyak cara lainnya kita akan melindungi orang lain dengan melindungi diri kita sendiri.

Tingkat Etis

Kita sekarang sampai pada tingkat etis dari kebenaran itu. Perlindungan diri secara moral akan melindungi orang lain, individu dan masyarakat, dari nafsu kita yang tidak terkendali dan keinginan kita yang mementingkan diri sendiri. Jika kita mengizinkan “tiga akar” kejahatan – keserakahan, kebencian dan delusi – menggenggam hati kita dengan kuat, maka hasilnya akan menyebar jauh dan meluas seperti tanaman yang menjalar, mencekik mati pertumbuhan yang sehat dan mulia di sekelilingnya. Tetapi jika kita melindungi diri kita sendiri dari ketiga akar ini, sesama makhluk hidup juga akan aman. Mereka akan aman dari keserakahan kita yang lalai atas benda milik dan kekuasaan, dari nafsu dan keinginan indera kita yang tidak terkendali, dari keirihatian dan kecemburuan kita; aman dari akibat yang merugikan dari kebencian dan permusuhan kita yang dapat bersifat menghancurkan atau bahkan bersifat kejam; aman dari ledakan kemarahan kita dan dari atmosfir yang dihasilkan dari permusuhan dan konflik yang dapat membuat kehidupan tak dapat bertahan dari mereka.

Pengaruh berbahaya keserakahan dan kebencian kita terhadap orang lain tidak terbatas pada saat ketika mereka menjadi objek atau korban kebencian kita, atau ketika benda milik mereka menjadi objek dari keserakahan kita. Keserakahan dan kebencian memiliki kekuatan yang dapat menularkan penyakit yang dengan luas melipatgandakan pengaruh buruk mereka. Jika kita sendiri berpikir tak lain daripada menginginkan dan merebut, mendapatkan dan memiliki, menggenggam dan melekat, maka kita dapat membangkitkan atau memperkuat naluri posesif ini dalam orang lain. Perilaku jelek kita dapat menjadi standar perilaku bagi mereka yang berada di sekeliling kita – bagi anak-anak kita, teman kita, rekan kerja kita. Perilaku kita sendiri dapat mempengaruhi orang lain untuk bergabung dengan kita dalam pemuasan bersama keinginan yang serakah; atau kita dapat membangkitkan dalam diri mereka perasaan kebencian dan persaingan. Jika kita penuh dengan keinginan indera, kita juga dapat menyalakan api nafsu dalam diri mereka. Kebencian kita dapat memprovokasi mereka untuk membenci dan membalas dendam. Kita juga dapat menggabungkan diri kita dengan orang lain atau menghasut mereka dalam tindakan bersama dari kebencian dan permusuhan. Keserakahan dan kebencian sesungguhnya bagaikan penyakit yang menular. Jika kita melindungi diri kita sendiri dari infeksi jahat ini, kita juga akan melindungi orang lain dalam beberapa taraf.

Perlindungan Melalui Kebijaksanaan

Sementara untuk akar kejahatan yang ketiga, delusi atau kebodohan batin, kita mengetahui sangat baik betapa berbahayanya jika terjadi pada orang lain melalui kebodohan, kecerobohan, prasangka, ilusi dan delusi dari satu orang.

Tanpa kebijaksanaan dan pengetahuan, upaya untuk melindungi diri sendiri dan orang lain biasanya akan gagal. Seseorang akan melihat bahaya hanya ketika sudah terlambat, seseorang tidak akan membuat persiapan untuk masa depan; seseorang tidak akan mengetahui cara perlindungan dan bantuan yang benar dan efektif. Oleh sebab itu, perlindungan diri melalui kebijaksanaan dan pengetahuan adalah yang paling penting. Dengan memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan sejati, kita akan melindungi orang lain dari akibat berbahaya dari kebodohan, prasangka, fanatisme yang menularkan penyakit dan delusi kita. Sejarah menunjukkan pada kita bahwa delusi massa yang besar dan bersifat menghancurkan seringkali dinyalakan oleh seorang individu tunggal atau sejumlah kecil orang. Perlindungan diri melalui kebijaksanaan dan pengetahuan akan melindungi orang lain dari akibat buruk dari pengaruh yang demikian.

Kita telah dengan singkat menunjukkan bagaimana kehidupan pribadi kita dapat menyebabkan pengaruh yang kuat pada kehidupan orang lain. Jika kita membiarkan sumber keburukan sosial yang aktual atau potensial dalam diri kita sendiri tidak terselesaikan, aktivitas sosial eksternal kita akan menjadi sia-sia ataupun dengan nyata tidak lengkap. Oleh karena itu, jika kita tergerak oleh semangat tanggung jawab sosial, kita tidak boleh melalaikan tugas berat pengembangan diri spiritual dan moral. Kesibukan dalam aktivitas sosial tidak boleh menjadi alasan atau pelarian dari tugas pertama, untuk merapikan rumah sendiri terlebih dahulu.
Pada sisi lain, ia yang sungguh-sungguh mengabdikan diri pada pengembangan diri secara moral dan spiritual akan menjadi kekuatan yang kuat dan aktif bagi kebaikan di dunia, bahkan jika ia tidak terlibat dalam pelayanan sosial apa pun. Teladan diamnya sendiri akan memberikan bantuan dan dorongan pada banyak orang, dengan menunjukkan bahwa cita-cita kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak merugikan orang lain dapat benar-benar dijalankan dan tidak hanya menjadi topik ceramah.

Tingkat Meditatif

Kita sekarang melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi berikutnya dalam penafsiran teks kita. Ini diungkapkan dalam kata-kata berikut dari sutta: “Dan bagaimanakah seseorang, dengan melindungi diri sendiri, melindungi orang lain? Dengan latihan meditasi yang berulang kali dan sering dilakukan.” Perlindungan diri moral tidak akan stabil sepanjang ia tetap sebagai disiplin kaku yang dipaksakan setelah pergumulan terhadap motif-motif dan melawan kebiasaan pikiran dan perilaku yang bertentangan. Keinginan yang menggebu-gebu dan kecenderungan egoistik dapat tumbuh kuat jika seseorang berusaha menenangkan mereka hanya dengan kekuatan kemauan. Bahkan jika seseorang secara sementara berhasil menekan dorongan yang penuh nafsu dan egoistik, konflik di dalam yang tidak terselesaikan akan menghalangi perkembangan moral dan spiritual serta membengkokkan kepribadian seseorang. Lebih jauh lagi, pertentangan di dalam diri yang disebabkan oleh penekanan yang dipaksakan terhadap dorongan-dorongan itu akan mencari jalan keluar dalam perilaku eksternal. Ini dapat membuat seseorang mudah marah, kesal, bersifat ingin menguasai dan agresif terhadap orang lain. Bahaya demikian dapat muncul pada diri seseorang dan juga orang lain melalui cara perlindungan diri yang salah. Hanya ketika perlindungan diri telah menjadi fungsi spontan, ketika ia muncul sama alaminya seperti tertutupnya kelopak mata yang bersifat melindungi terhadap debu – hanya pada saat itu kualitas moral kita memberikan perlindungan dan keamanan yang sebenarnya untuk diri kita sendiri dan orang lain. Kealamiahan perilaku moral ini tidak datang pada kita sebagai hadiah dari surga. Ia harus diperoleh dengan latihan dan pengembangan yang berulang kali. Oleh sebab itu sutta kita mengatakan bahwa adalah dengan latihan yang berulang kali maka perlindungan diri menjadi cukup kuat untuk melindungi orang lain juga.

Tetapi jika latihan kebaikan yang berulang kali hanya terjadi pada tingkat praktis, emosional dan intelektual, akarnya tidak akan cukup kuat dan dalam. Latihan yang berulang kali demikian juga harus diperluas sampai tingkat pengembangan meditatif. Dengan meditasi, motif perlindungan diri moral dan spiritual secara intelektual dan emosional akan menjadi ciri pribadi kita yang tidak dapat dengan mudah hilang kembali. Oleh sebab itu sutta kita di sini berbicara tentang bhavana, pengembangan pikiran secara meditatif dalam pengertian yang luas. Ini adalah bentuk perlindungan yang tertinggi yang dapat diberikan dunia kita. Ia yang telah mengembangkan pikirannya dengan meditasi hidup dalam kedamaian dengan dirinya sendiri dan dunia. Baginya tidak ada bahaya atau kekerasan yang akan muncul. Kedamaian dan kesucian yang ia pancarkan akan memiliki kekuatan yang menginspirasi dan menggembirakan serta akan menjadi berkah bagi dunia. Ia akan menjadi faktor yang positif dalam masyarakat, bahkan jika ia hidup dalam keterasingan dan kesunyian. Ketika pengertian untuk, dan pengakuan atas, nilai sosial dari kehidupan meditatif lenyap dalam suatu bangsa, ini akan menjadi salah satu gejala pertama kemunduran spiritual.

Perlindungan Orang Lain

Kita sekarang akan membahas bagian kedua dari ucapan Sang Buddha, suatu pelengkap yang diperlukan untuk pernyataan pertama: “Dengan melindungi orang lain seseorang melindungi diri sendiri. Dan bagaimana? Dengan kesabaran dan pengendalian diri, dengan kehidupan yang tanpa kekerasan dan tidak menyakiti, dengan cinta kasih dan belas kasih (khantiya avihimsaya mettataya anuddayataya).”

Ia yang hubungannya dengan sesama makhluk diliputi oleh prinsip-prinsip ini akan melindungi dirinya sendiri lebih baik daripada yang dapat ia lakukan dengan kekuatan fisik atau dengan senjata terhebat apa pun. Ia yang sabar dan menahan diri akan terhindar dari konflik dan pertengkaran, dan akan bersahabat dengan mereka yang ia tunjukkan suatu pengertian yang sabar. Ia yang tidak menggunakan kekerasan atau paksaan akan, dalam kondisi normal, jarang menjadi objek kekerasan itu sendiri karena ia tidak memancing kekerasan dari orang lain. Dan jika ia harus bertemu dengan kekerasan, ia akan membuatnya segera berakhir karena ia tidak akan melanggengkan permusuhan melalui dendam. Ia yang memiliki cinta dan belas kasih kepada semua makhluk, dan bebas dari kebencian, akan menaklukkan kemauan jahat orang lain dan melenyapkan kekerasan dan kekejaman. Hati yang berbelas kasih adalah tempat perlindungan bagi seluruh dunia.

Kita sekarang akan lebih mengerti bagaimana kedua kalimat yang saling melengkapi tersebut dari teks kita selaras. Perlindungan diri merupakan landasan yang sangat diperlukan. Tetapi perlindungan diri yang sejati hanya mungkin jika ia tidak bertentangan dengan perlindungan orang lain; karena seseorang yang mencari perlindungan diri dengan mengorbankan orang lain akan merusak dan membahayakan diri sendiri. Pada sisi lain, perlindungan orang lain tidak boleh bertentangan dengan empat prinsip dari kesabaran, tanpa kekerasan, cinta kasih dan belas kasih; ia juga tidak boleh mengganggu pengembangan spiritual orang lain seperti yang terjadi dalam kasus berbagai ajaran yang totaliter. Dengan demikian dalam konsep Buddhis tentang perlindungan diri, semua sifat mementingkan diri sendiri dikesampingkan, dan dalam perlindungan orang lain kekerasan dan campur tangan tidak mendapat tempat.

Perlindungan diri dan perlindungan orang lain berhubungan dengan dua kebajikan kembar yang besar dari Buddhisme, kebijaksanaan dan belas kasih. Perlindungan diri yang benar adalah ungkapan kebijaksanaan, perlindungan orang lain yang benar adalah ungkapan belas kasih. Kebijaksanaan dan belas kasih, yang menjadi unsur utama Bodhi atau Pencerahan, telah menemukan kesempurnaan tertingginya dalam diri Yang Tercerahkan Sempurna, Sang Buddha. Desakan atas pengembangan yang harmonis keduanya adalah ciri khas dari keseluruhan Dhamma. Kita menjumpai keduanya dalam empat keadaan luhur (brahmavihara), di mana keseimbangan batin berkaitan dengan kebijaksanaan dan perlindungan diri, sedangkan cinta kasih, belas kasih dan kegembiraan simpatik berkaitan dengan belas kasih dan perlindungan orang lain.

Dua prinsip mulia dari perlindungan diri dan perlindungan orang lain ini adalah sama pentingnya baik bagi etika individu maupun sosial dan membawa akhir keduanya dalam keselarasan. Namun pengaruhnya yang bermanfaat tidak berhenti pada tingkat etis, tetapi membawa seseorang maju menuju realisasi tertinggi dari Dhamma, sementara pada waktu yang sama memberikan landasan yang kokoh untuk kesejahteraan masyarakat.

Adalah keyakinan penulis bahwa pemahaman kedua prinsip mulia dari perlindungan diri dan perlindungan orang lain tersebut, seperti yang terwujud dalam dua kebajikan kembar dari kebijaksanaan dan belas kasih, merupakan hal yang sangat penting bagi edukasi Buddhis, baik bagi yang muda maupun tua. Keduanya merupakan pilar pembangunan karakter dan layak mendapatkan tempat di tengah dalam upaya seluruh dunia saat ini bagi kebangkitan Buddhis.

“Aku akan melindungi diriku sendiri” – demikianlah seharusnya kita mengembangkan perhatian kita, dan dituntun olehnya mengabdikan diri kita dalam latihan meditasi, untuk kepentingan pembebasan kita.

“Aku akan melindungi orang lain” – demikianlah seharusnya kita mengembangkan perhatian kita, dan dituntun olehnya mengatur perilaku kita dengan kesabaran, tanpa menyakiti, cinta kasih dan belas kasih, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Perlindungan Diri Melalui Meditasi
« Reply #2 on: 11 November 2012, 09:01:11 PM »
:jempol:

thanks om atas sharingnya... _/\_
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Perlindungan Diri Melalui Meditasi
« Reply #3 on: 11 November 2012, 09:11:47 PM »
 _/\_ iya om seniya, sangat bermanfaat.
semoga bisa dipraktekkan. :)
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."