Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha  (Read 7672 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« on: 03 May 2012, 07:48:03 AM »
Bagaimana pandangan Buddhis terhadap jati diri? Apakah bertentangan dg ajaran Anatta?

Utk pengertian jati diri menurut pandangan umum bisa dilihat di http://andriewongso.com/artikel/catatan_andrie_wongso/4215/Mengenal_Jati_Diri_Kita_Sebagai_Manusia/
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.566
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #1 on: 03 May 2012, 07:56:17 AM »
itu jadi diri menurut pandangan wongso, bukan pandangan umum. secara buddhis jelas tidak ada diri apakah yg dari jati atau dari mahoni dll.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #2 on: 03 May 2012, 08:15:21 AM »
:)

Itu kan cuma contoh yg mewakili pandangan umum aja....
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Ms. Q

  • Teman
  • **
  • Posts: 67
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #3 on: 03 May 2012, 10:15:09 AM »
itu jadi diri menurut pandangan wongso, bukan pandangan umum. secara buddhis jelas tidak ada diri apakah yg dari jati atau dari mahoni dll.

om andrie itu buddhist kk...

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #4 on: 03 May 2012, 10:23:51 AM »
om andrie itu buddhist kk...

lalu? kenapa?

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.566
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #5 on: 03 May 2012, 10:56:25 AM »
om andrie itu buddhist kk...

benar, lalu kenapa? sptnya saya tidak sedang membahas soal apakah seseorang adalah buddhis atau bukan buddhis, melainkan lebih kepada topik "jati-diri", posisi Buddhism dalam hal DIRI sudah saya sampaikan di atas

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.964
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #6 on: 04 May 2012, 05:25:41 AM »
om andrie itu buddhist kk...

ya, selain om andrie masih banyak orang yang harus diakui buddhist kk... :))
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline GandalfTheElder

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #7 on: 04 May 2012, 06:55:17 AM »
 [at] ariyakumara

Tidak bertentangan. Saya prnh bertanya pada Ajahn Brahm: "Ajahn, kenapa para bhikkhu terkadang ngomong tidak ada aku (anatta) tetapi terkadang juga ngomong jadilah diri kita sendiri?" Ajahn Brahm menjawab: "Itu berarti anda dapat menjadi apapun yang anda inginkan! Karena tidak ada aku (anatta), maka jadilah apapun yang kita suka." Seorang ayah bisa juga adalah seorang anak, demikian sebaliknya. Seorang pelukis bisa saja seorang arsitek atau koki. Jati diri yang manakah kita? Karena Anatta kita dapat terus beradaptasi.

Dalam pandangan Mahayana juga demikian. Justru karena semua bersifat Anatman dan Sunyata, maka berbagai potensi dan kemungkinan bisa muncul dalam "diri" kita. Seperti yg dikatakan Andrie Wongso, banyak potensi di dalam diri kita, kualitas-kualitas yang baik. Dahulu di board Mahayana saya pernah bahas ini, bahwa Shunyata adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa hidup ini selalu berubah-ubah, dinamis dan penuh potensi.

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=19035.0

Perumpamaan Andrie ttg air dan ombak sebenarnya adalah pengertian anitya. Setiap waktu sellau berubah-ubah, air bisa jadi ombak.

Andrie juga berkata, kita sama-sama manusia, tidak ada alasan menjadi kerdil. Dalam filsafat Tiantai, setiap manusia memiliki 10 dunia di dalamnya, dari Buddha sampai neraka. Semua manusia sama, memiliki potensi 10 alam, menjadi Buddha, Bodhisattva, Arhat, Dewa, Manusia, Hewan, Asura, Preta atau masuk ke Neraka. Semuanya sederajat, semuanya mempunyai potensi tertinggi menjadi Buddha, jangan kita jadi kerdil lagi. 10 Dunia ini adalah potensi dari Anatman. Ada potnesi kemampuan yang luar biasa dalam diri kita untuk menjadi Dewa (berkelimpahan, kekayaan) bahkan sampai untuk menjadi Buddha.

 _/\_
« Last Edit: 04 May 2012, 07:00:17 AM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.428
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #8 on: 04 May 2012, 09:18:32 AM »
Bagus banget kata ajahn Brahm. Krn anatta kita bisa menjadi apa saja. Cuma nasehatin utk menjadi diri sendiri saya ga setuju. Tujuan akhir umat Buddha adalah berhenti menjadi. (Tentunya ini ga akan cocok dibicarakan motivator)
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.409
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #9 on: 04 May 2012, 09:51:46 AM »
Bagus banget kata ajahn Brahm. Krn anatta kita bisa menjadi apa saja. Cuma nasehatin utk menjadi diri sendiri saya ga setuju. Tujuan akhir umat Buddha adalah berhenti menjadi. (Tentunya ini ga akan cocok dibicarakan motivator)
kalau tujuan menjadi bodisatwa itu tujuan umat buda bukan?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.428
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #10 on: 04 May 2012, 12:09:52 PM »
menjadi bodhisatwa itu tujuan akhirnya menjadi Buddha juga.

jadi harusnya sarannya:
jadilah arahat atau jadilah Buddha ;)
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #11 on: 04 May 2012, 03:34:58 PM »
Diri yang sebenarnya hanya lah perpaduan, kondisi yang saling mendukung. Tapi karena terjebak pandangan salah maka menganggap diri itu ada dan nyata.

Manusia membuat jati diri karena mencari tujuan hidup. Dan itu akan semakin membuat pandangan akan diri semakin nyata.(melekat pada pandangan diri)
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #12 on: 04 May 2012, 06:07:33 PM »
[at] ariyakumara

Tidak bertentangan. Saya prnh bertanya pada Ajahn Brahm: "Ajahn, kenapa para bhikkhu terkadang ngomong tidak ada aku (anatta) tetapi terkadang juga ngomong jadilah diri kita sendiri?" Ajahn Brahm menjawab: "Itu berarti anda dapat menjadi apapun yang anda inginkan! Karena tidak ada aku (anatta), maka jadilah apapun yang kita suka." Seorang ayah bisa juga adalah seorang anak, demikian sebaliknya. Seorang pelukis bisa saja seorang arsitek atau koki. Jati diri yang manakah kita? Karena Anatta kita dapat terus beradaptasi.

Dalam pandangan Mahayana juga demikian. Justru karena semua bersifat Anatman dan Sunyata, maka berbagai potensi dan kemungkinan bisa muncul dalam "diri" kita. Seperti yg dikatakan Andrie Wongso, banyak potensi di dalam diri kita, kualitas-kualitas yang baik. Dahulu di board Mahayana saya pernah bahas ini, bahwa Shunyata adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa hidup ini selalu berubah-ubah, dinamis dan penuh potensi.

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=19035.0

Perumpamaan Andrie ttg air dan ombak sebenarnya adalah pengertian anitya. Setiap waktu sellau berubah-ubah, air bisa jadi ombak.

Andrie juga berkata, kita sama-sama manusia, tidak ada alasan menjadi kerdil. Dalam filsafat Tiantai, setiap manusia memiliki 10 dunia di dalamnya, dari Buddha sampai neraka. Semua manusia sama, memiliki potensi 10 alam, menjadi Buddha, Bodhisattva, Arhat, Dewa, Manusia, Hewan, Asura, Preta atau masuk ke Neraka. Semuanya sederajat, semuanya mempunyai potensi tertinggi menjadi Buddha, jangan kita jadi kerdil lagi. 10 Dunia ini adalah potensi dari Anatman. Ada potnesi kemampuan yang luar biasa dalam diri kita untuk menjadi Dewa (berkelimpahan, kekayaan) bahkan sampai untuk menjadi Buddha.

 _/\_

Terima kasih, suatu pengertian yg baru bagi saya... :)

Diri yang sebenarnya hanya lah perpaduan, kondisi yang saling mendukung. Tapi karena terjebak pandangan salah maka menganggap diri itu ada dan nyata.

Manusia membuat jati diri karena mencari tujuan hidup. Dan itu akan semakin membuat pandangan akan diri semakin nyata.(melekat pada pandangan diri)

Jika tidak ada tujuan hidup, bagaimana kita menjalankan hidup ini? Apakah seperti musafir yg berkelana tanpa tujuan?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.964
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #13 on: 04 May 2012, 09:02:35 PM »
Terima kasih, suatu pengertian yg baru bagi saya... :)

Jika tidak ada tujuan hidup, bagaimana kita menjalankan hidup ini? Apakah seperti musafir yg berkelana tanpa tujuan?

...
Inilah, o para Bhikkhu, Kebenaran Ariya tetang asal mula penderitaan (dukkasamudaya ariyasacca), yakni kesenangan (tanha), inilah, yang membuat kelahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang menggemari objek disana sini, yakni :
kamatanha : kesenangan terhadap nafsu indrawi
bhavatanha : kesenangan terhadap kemenjadian
vibhavatanha : kesenangan  terhadap ketidak-menjadian
....
cuplikan Dhammacakka-Pavattana Sutta
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline GandalfTheElder

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #14 on: 05 May 2012, 06:12:41 AM »
 [at] tesla (and ariyakumara)

Saya kira "menjadi diri sendiri" ini adalah bahasa awam untuk membuat orang-orang mengerti. Seperti yang Buddha sendiri katakan, pengertian Tathagatagarbha atau Diri Sejati (Mahatman) sebenarnya adalah upaya terampil untuk menjelaskan Shunyata / Anatman bagi mereka yang masih belum mengerti / masih terikat pandangan Atman sehingga lbh mudah mencerna.

Kalu Rinpoche pernah berkata:
"Take a break. Be yourself. When you are trying to be like someone, it doesn't make you a Buddha. When you be yourself, you are the Buddha"

Ajahn Brahm pernah berkata:
Your true home is inside of yourself. You can see that in your meditation. Home is a place where you can just be yourself, be at peace, be at ease, be nothing, just empty and free.

Itulah makna menjadi diri sendiri dalam Buddhisme: diri sejati yang bebas, kosong, tidak ada apa-apa alias Buddha. Ini adalah pengertian Anatman / Anatta. Kita beristirahat di dalam Alaya, kita berada saat ini, dan beristirahat dalam momen ini, sadar akan diri kita sepenuhnya, be yourself.

Tentu dalam Buddhisme kita mempunyai tujuan hidup. Seperti kata Ajahn Chah, kita menggunakan keinginan untuk mencapai non-keinginan. Kita  berusaha menjadi / menemukan tujuan hidup untuk mencapai sesuatu yang "tanpa tujuan" dan "tanpa kemenjadian"

Desire is a defilement. But we must first have desire in order to start practicing the Way. Suppose you went to buy coconuts at the market and while carrying them back home someone asked: "Why did you buy those coconuts?" "I bought them to eat," you reply. "Are you going to eat the shells, too?" "Of course not!" "I don't believe you," he insists. "If you're not going to eat the shells, then why did you buy them?" Well, what do you say? How are you going to answer that question?

We practice with desire to begin with. If we didn't have desire, we wouldn't practice. Contemplating in this way can give rise to wisdom, you know. For example, those coconuts: Are you going to eat the shells as well? Of course not. Then why do you take them? They're useful for wrapping the coconuts in. If after eating the coconuts you throw the shells away, there is no problem. Our practice is the same. We keep desire first, just like we do with the coconut shells, for it's still not time to "throw" it away. This is how the practice is. If somebody wants to accuse us of eating coconut shells, that's their business. We know what we're doing.
(Ajahn Chah)

Tapi tentu "tanpa tujuan" dan "tanpa kemenjadian" seharusnya tidak dimaknai secara negatif. Pemahamannya adalah: kita bisa bebas sepenuhnya menentukan tujuan dan mau menjadi apa, tanpa TERIKAT "diriku itu sebenarnya begini, tidak bisa kalau begitu, atau ooo seharusnya diriku gini, aku percaya diriku gini, maka aku harus seperti itu (rata2 orang kaya gini)."

Jadi kita bisa fleksibel sepenuhnya dan mampu menggunakan potensi yang tidak terbatas dari pikiran kita, inilah kebijaksanaan atau prajna.

 _/\_
« Last Edit: 05 May 2012, 06:16:48 AM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.566
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #15 on: 05 May 2012, 08:58:22 AM »
DIRI (menurut pandangan seorang Zen Master)
Dalam Buddhadharma, diri itu dapat dilihat dengan 3 cara (tingkatan): diri kecil, diri universal dan tanpa diri. Kebanyakan orang merasa diri mereka sebagai diri sejati, mereka itu ditutupi kekelirutahuan (delusi).
Diri kecil adalah: proses penilaian terus menerus terhadap apa yang kita tangkap (persepsi) dan kita nilai, seperti, "ini kotaku, temanku, sukuku, situasiku, ...". Dan ini menciptakan rasa diri kecil.
Diri besar atau universal tampaknya kekal abadi. Dalam dhyana dan samadhi, seseorang dapat mengalami diri spiritual yang absolut dan kekal. Tetapi diri besar sebenarnya tidaklah kekal, ia berubah.
Diri besar adalah pengalaman yang datang dan pergi, seperti orang-orang yang mengalami wahyu religius atau spiritual. Disaat itu, mereka merasa bersatu dengan alam semesta - seolah-olah mereka adalah jagad raya. Setelah pengalaman itu pergi, mereka akan biasa kembali, tetapi kesan serta perasaannya bakal tetap bertahan, dan mereka bakal merasa lebih lega, lebih tenang, penuh kasih, dan percaya diri.
Tanpa diri maksudnya : Tidak ada kemelekatan dan rasa diskriminasi (pilih kasih) yang membeda-bedakan. Contohnya misalkan seorang Buddhist yang tidak punya kemelekatan terhadap gagasan 'umat Buddhist' tersebut, maka ketika ia berinteraksi dengan orang beragama lain, tidak ada rasa membeda-bedakan. Jadi tidak ada kemelekatan pada rasa identitas, misalnya rasa: suku, ras, golongan, agama, sekte, aliran, negara dll.
Orang yang mencapai pencerahan sempurna punya kebijaksanaan dan kebajikan, tetapi mereka sendiri MALAH tidak melihatnya seperti itu. Kalau mereka berfikir, "Aku punya kebijaksanaan dan kebajikan", itu berarti mereka justru melekat pada suatu diri, dan mereka belum benar-benar terbebas.
(Zen Wisdom, by Ch'an Master Sheng Yen, penerbit Suwung)
« Last Edit: 05 May 2012, 09:00:04 AM by Indra »

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #16 on: 27 July 2015, 05:10:27 PM »
Kalau semuanya dicampur aduk jadi gado-gado.Kebenaran sejatinya yang mana?
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Alexis

  • Tamu
  • *
  • Posts: 36
  • Reputasi: -1
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #17 on: 27 July 2015, 11:49:02 PM »
Namo Buddhaya  _/\_

Diri = Nama & Rupa

IMO :
Bila dilihat dari sisi "Rupa"  / secara Jasmaniah - Diri itu ada "Jati Diri", nyata, ini Aku...
Bila dilihat dari sisi "Nama" / secara Bathiniah   - Diri itu tidak ada inti, hanya perpaduan unsur, tidak ada "Aku"...

 _/\_

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #18 on: 28 July 2015, 02:56:29 AM »
Jadi seperti pohon ada yang punya inti dan ada yang tidak.Ada pohon nama dan ada pohon rupa.
« Last Edit: 28 July 2015, 02:59:05 AM by Sostradanie »
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Alexis

  • Tamu
  • *
  • Posts: 36
  • Reputasi: -1
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #19 on: 28 July 2015, 04:26:23 AM »
Jadi seperti pohon ada yang punya inti dan ada yang tidak.Ada pohon nama dan ada pohon rupa.

Salam  _/\_

IMO :
Secara riil, nyata, dilihat secara Fisik / Jasmani
Pohon mempunyai akar, batang, daun,dll.
Begitupun manusia mempunyai jantung, kepala, otak, dll.

Pohon mempunyai inti atau tidak, tergantung dilihat dari sudut pandang (persepsi / konsep / pemikiran / bathin) seseorang.
Bisa saja seseorang dengan sudut pandang yg berbeda mengatakan bahwa inti pohon itu ada di akar, ada di batang, atau di daun.
(Bagaimana dengan batang kangkung, sedotan, donat. Dimana letak intinya...)
Atau dengan sudut pandang yg berbeda mengatakan bahwa Manusia intinya ada di jantung, ada di kepala, atau di otak.
Semua ini tergantung dari cara pandang yg menilai.

Bila seseorang telah memahami Dhamma = Kebenaran yg telah diajarkan oleh Sang Buddha,
Seseorang akan memahami :
Pohon itu tidak ada inti, hanya perpaduan unsur antara akar, batang, daun, dll.
Manusia juga merupakan perpaduan unsur dari panca khanda = rupa + bentuk bentuk pikiran = nama

 _/\_



Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #20 on: 28 July 2015, 05:16:01 AM »
Jawabannya cukup "manis" untuk diingat,tapi apa ada yang lebih "manis" lagi dari ini?
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #21 on: 28 July 2015, 01:02:44 PM »
Wah, thread lebih dr 3 tahun yg lalu di-up lagi, padahal sekarang TS-nya sudah tidak mencari jati diri lagi ;D
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Alexis

  • Tamu
  • *
  • Posts: 36
  • Reputasi: -1
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #22 on: 29 July 2015, 12:47:45 AM »
Wah, thread lebih dr 3 tahun yg lalu di-up lagi, padahal sekarang TS-nya sudah tidak mencari jati diri lagi ;D

Salam  _/\_

Tidak apa apa kk...
Semoga thread ini cukup membantu "aku" (atau pembaca lainnya) agar tidak "melekat"...
mudah2an bisa membantu sedikit demi sedikit untuk "melepas"....

 _/\_
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta

Offline Alexis

  • Tamu
  • *
  • Posts: 36
  • Reputasi: -1
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #23 on: 29 July 2015, 01:01:20 AM »
Jawabannya cukup "manis" untuk diingat,tapi apa ada yang lebih "manis" lagi dari ini?

Salam  _/\_

IMO :
"Manis" menurut kk dengan "aku" bisa berbeda lho...  ;D

Contoh :
Secangkir teh atau kopi bila ditaburi dengan gula sebanyak satu sendok makan...
Bisa terasa "manis"... atau kurang "manis"... bahkan tidak "manis"...
tergantung "rasa" bagi yang mencicipinya, apakah sudah cukup "manis" atau tidak...  :)

 _/\_

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #24 on: 29 July 2015, 03:26:41 AM »
Kalau sudah dikasih "sepotong hati" seharusnya berterima kasih.Tapi kalau mau dikasih lebih juga tidak masalah.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Alexis

  • Tamu
  • *
  • Posts: 36
  • Reputasi: -1
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #25 on: 29 July 2015, 04:43:21 AM »
Kalau sudah dikasih "sepotong hati" seharusnya berterima kasih.Tapi kalau mau dikasih lebih juga tidak masalah.

Salam  _/\_

IMO :
Setelah mengetahui "sepotong hati"...
Walaupun "ber dukkha hati"...
Berusahalah "se penuh hati"...
Maka akan menuju "ke kosong an hati"

Setelah memahami,
"sepotong hati"
"ber dukkha hati"
"se penuh hati"
"ke kosong an hati"


"lepaskanlah hati"

 _/\_
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta


Offline cumi polos

  • Sebelumnya: Teko
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.129
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
  • mohon transparansinya
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #26 on: 29 July 2015, 07:53:00 AM »
Bagaimana pandangan Buddhis terhadap jati diri? Apakah bertentangan dg ajaran Anatta?

Utk pengertian jati diri menurut pandangan umum bisa dilihat di http://andriewongso.com/artikel/catatan_andrie_wongso/4215/Mengenal_Jati_Diri_Kita_Sebagai_Manusia/
bagaimana jati diri terbentuk ?
 :P
merryXmas n happyNewYYYY 2018

Offline cumi polos

  • Sebelumnya: Teko
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.129
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
  • mohon transparansinya
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #27 on: 29 July 2015, 08:43:18 AM »
selain jadi diri....

3 komponen yang sangat penting karena akan mempengaruhi hidup kita mulai saat kecil hingga sekarang, komponen tersebut antara lain :

1.      Diri Ideal.Dalam konteks dunia pendidikan, diri ideal yang sering ditetapkan orangtua adalah anak harus mendapat nilai sempurna (100 atau A). dalam setiap ujian

2.      Citra Diri.Anda akan selalu bertindak atau bersikap sesuai dengan gambar yang muncul dalam cermin/citra diri anda.

3.      Harga Diri.Semakin anda menyukai diri anda, menerima diri anda, & hormat pada diri anda sendiri sebagai seorang yang berharga & bermakna, maka semakin tinggi harga diri anda.


bgaimana mnrut anda ?
         
merryXmas n happyNewYYYY 2018

Offline Alexis

  • Tamu
  • *
  • Posts: 36
  • Reputasi: -1
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #28 on: 30 July 2015, 11:09:36 PM »
Salam  _/\_

bagaimana jati diri terbentuk ?
 :P

Kalau ini tanya sama kk Seniya...  ^-^

selain jadi diri....

3 komponen yang sangat penting karena akan mempengaruhi hidup kita mulai saat kecil hingga sekarang, komponen tersebut antara lain :

1.      Diri Ideal.Dalam konteks dunia pendidikan, diri ideal yang sering ditetapkan orangtua adalah anak harus mendapat nilai sempurna (100 atau A). dalam setiap ujian

2.      Citra Diri.Anda akan selalu bertindak atau bersikap sesuai dengan gambar yang muncul dalam cermin/citra diri anda.

3.      Harga Diri.Semakin anda menyukai diri anda, menerima diri anda, & hormat pada diri anda sendiri sebagai seorang yang berharga & bermakna, maka semakin tinggi harga diri anda.


bgaimana mnrut anda ?
         

IMO :
1. Pengetahuan - ini yg dicari (tujuan manusia)
2. Kepribadian   - sesuai dengan yg dicari
3. "Aku" (ego)   - jangan dicari (fangshen) ^-^

 _/\_




Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #29 on: 31 July 2015, 02:39:44 AM »
Kesi,tongkat pikiran,tongkat perbuatan,tongkat bicara.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #30 on: 01 August 2015, 12:09:03 AM »
Jati diri versi Buddha 1,karena ada masa lalu maka ada masa sekarang.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #31 on: 04 June 2019, 01:27:30 PM »
Salam  _/\_

IMO :
Setelah mengetahui "sepotong hati"...
Walaupun "ber dukkha hati"...
Berusahalah "se penuh hati"...
Maka akan menuju "ke kosong an hati"

Setelah memahami,
"sepotong hati"
"ber dukkha hati"
"se penuh hati"
"ke kosong an hati"


"lepaskanlah hati"

 _/\_
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Yang ini fangshen ...tapi tidak fangshen juga mereka . banyak dibawah halusinasmu sampai hilang kemanusiaan mereka tedy bear?

DIRI (menurut pandangan seorang Zen Master)
Dalam Buddhadharma, diri itu dapat dilihat dengan 3 cara (tingkatan): diri kecil, diri universal dan tanpa diri. Kebanyakan orang merasa diri mereka sebagai diri sejati, mereka itu ditutupi kekelirutahuan (delusi).
Diri kecil adalah: proses penilaian terus menerus terhadap apa yang kita tangkap (persepsi) dan kita nilai, seperti, "ini kotaku, temanku, sukuku, situasiku, ...". Dan ini menciptakan rasa diri kecil.
Diri besar atau universal tampaknya kekal abadi. Dalam dhyana dan samadhi, seseorang dapat mengalami diri spiritual yang absolut dan kekal. Tetapi diri besar sebenarnya tidaklah kekal, ia berubah.
Diri besar adalah pengalaman yang datang dan pergi, seperti orang-orang yang mengalami wahyu religius atau spiritual. Disaat itu, mereka merasa bersatu dengan alam semesta - seolah-olah mereka adalah jagad raya. Setelah pengalaman itu pergi, mereka akan biasa kembali, tetapi kesan serta perasaannya bakal tetap bertahan, dan mereka bakal merasa lebih lega, lebih tenang, penuh kasih, dan percaya diri.
Tanpa diri maksudnya : Tidak ada kemelekatan dan rasa diskriminasi (pilih kasih) yang membeda-bedakan. Contohnya misalkan seorang Buddhist yang tidak punya kemelekatan terhadap gagasan 'umat Buddhist' tersebut, maka ketika ia berinteraksi dengan orang beragama lain, tidak ada rasa membeda-bedakan. Jadi tidak ada kemelekatan pada rasa identitas, misalnya rasa: suku, ras, golongan, agama, sekte, aliran, negara dll.
Orang yang mencapai pencerahan sempurna punya kebijaksanaan dan kebajikan, tetapi mereka sendiri MALAH tidak melihatnya seperti itu. Kalau mereka berfikir, "Aku punya kebijaksanaan dan kebajikan", itu berarti mereka justru melekat pada suatu diri, dan mereka belum benar-benar terbebas.
(Zen Wisdom, by Ch'an Master Sheng Yen, penerbit Suwung)
Permulaan terkena kesaktian lebih tinggi.
Pemicu tercepat karena makanan dan minuman. Sudah waktunya kr di kontrol....cuma meninggalkan jejak waktu sejarah . karena baru dapat hal yang sama sambil memantau cara kerja...dan perilaku siluman dulu. .

Mata terasa sakit karena berusaha memaksa persepsi...aku bisa ingat nanti per kondisi kejadian . tidak lama setelah aku ini berubah2 lho. ..mengontrol setiap hari korbannya. ..hahaha....
« Last Edit: 04 June 2019, 01:35:36 PM by Sostradanie »
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Jati Diri Menurut Ajaran Buddha
« Reply #32 on: 04 June 2019, 08:31:56 PM »
Permulaan terkena kesaktian lebih tinggi.
Pemicu tercepat karena makanan dan minuman. Sudah waktunya kr di kontrol....cuma meninggalkan jejak waktu sejarah . karena baru dapat hal yang sama sambil memantau cara kerja...dan perilaku siluman dulu. .

Mata terasa sakit karena berusaha memaksa persepsi...aku bisa ingat nanti per kondisi kejadian . tidak lama setelah aku ini berubah2 lho. ..mengontrol setiap hari korbannya. ..hahaha....
Butuh waktu mereka memantau terus korbannya..sampai kondisinya sesuai . Selama waktu itu pasti ada pengkhianat terdekat dalam hidup. .setelah kondisi turun terus menerus maka baru ditingkatkan...ditambah2 oleh mereka penghuni rumah/tubuh.

Tedy bear. ..kau hapus ingatan kau tentang mengendalikan persepsi kalau kau sanggup.
Kalau dipikir2 lucu2 juga mereka . aku pula kau panas2i tentang pembangunan.Berusaha kuberikan jalan yang halal untuk mereka. ..cobalah buktikan kemampuan kalian ...itu rupanya dibuat semangat biar jadi budak kalian. Kalian pakai babi untuk membangun bisa tuh...nanti kalian gerakkan Sama2 babi itu.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)