//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA  (Read 45490 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB III)
« Reply #15 on: 06 March 2012, 06:38:54 PM »
Pada saat itu, seorang bhikkhu tertentu, selagi menjalani masa percobaan, meninggalkan Sangha. Setelah kembali lagi, ia memohon penahbisan dari Sangha. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, meninggalkan Sangha. Para bhikkhu, masa percobaan dari seseorang yang meninggalkan Sangha adalah tidak efektif. Jika ia ditahbiskan lagi, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya : masa percobaan apapun yang telah diberikan, telah diberikan dengan benar, siapapun yang menalani masa percobaan harus menjalaninya dengan sempurna; ia harus menjalani masa percobaan (selama waktu) yang masih tersisa.

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, menjadi seorang samaṇera. Para bhikkhu, masa percobaan dari seorang samaṇera adalah tidak efektif. Jika ia ditahbiskan lagi … (seperti paragraf sebelumnya) … yang masih tersisa.

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, menjadi gila. Para bhikkhu, masa percobaan dari seseorang yang gila adalah tidak efektif. Jika ia ditahbiskan lagi, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, siapapun yang menjalani masa percobaan harus menjalaninya dengan sempurna; ia harus menjalani masa percobaan (selama waktu) yang masih tersisa.

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, menjadi kehilangan akal sehat. Para bhikkhu, masa percobaan dari seseorang yang kehilangan akal sehat [60] adalah tidak efektif. Jika akal sehatnya pulih … Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, jatuh sakit. Para bhikkhu, masa percobaan dari seseorang yang sakit adalah tidak efektif. Jika ia sembuh dari sakitnya … ia harus menjalani masa percobaan (selama waktu) yang masih tersisa.

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, ditangguhkan karena tidak melihat suatu pelanggaran … karena tidak melakukan perbaikan atas pelanggaran … karena tidak melepaskan pandangan salah, para bhikkhu, masa percobaan dari seseorang yang ditangguhkan adalah tidak efektif. Jika ia dipulihkan kembali, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, siapapun yang menjalani masa percobaan harus menjalaninya dengan sempurna; ia harus menjalani masa percobaan (selama waktu) yang masih tersisa. ||1||

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu yang layak dikembalikan ke awal meninggalkan Sangha. Para bhikkhu, pengembalian ke awal adalah tidak efektif bagi  seseorang yang meninggalkan Sangha. Jika ia ditahbiskan kembali, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal.

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu yang layak dikembalikan ke awal menjadi seorang samaṇera … menjadi gila … (seperti pada  ||1||) … ditangguhkan karena tidak melepaskan pandangan salah. Para bhikkhu, pengembalian ke awal bagi seseorang yang ditangguhkan adalah tidak efektif. Jika ia dipulihkan kembali, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal. ||2||

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu yang layak menerima mānatta (disiplin) meninggalkan Sangha. Para bhikkhu, penjatuhan mānatta (disiplin) pada seseorang yang meninggalkan Sangha adalah tidak efektif. Jika ia ditahbiskan kembali, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, siapapun yang menjalani masa percobaan harus menjalaninya dengan sempurna; mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu.

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu yang layak menerima mānatta (disiplin) menjadi seorang samaṇera … menjadi gila … ditangguhkan karena tidak melepaskan pandangan salah. Para bhikkhu, penjatuhan mānatta (disiplin) pada seseorang yang ditangguhkan adalah tidak efektif. Jika ia dipulihkan kembali, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, siapapun yang menjalani masa percobaan harus menjalaninya dengan sempurna; mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu. ||3||

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu yang sedang menjalani mānatta (disiplin) meninggalkan Sangha … ditangguhkan karena tidak melepaskan pandangan salah. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) yang sedang dijalani oleh seseorang yang ditangguhkan adalah tidak efektif. Jika ia dipulihkan kembali, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, siapapun yang menjalani masa percobaan harus menjalaninya dengan sempurna; mānatta (disiplin) apapun yang telah telah dijatuhkan, telah dijatuhkan dengan benar; mānatta apapun yang telah telah dijalani, telah dijalani dengan benar; mānatta (disiplin) itu harus dijalani (selama waktu) yang masih tersisa. ||4||

“Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu yang layak menerima rehabilitasi meninggalkan Sangha … ditangguhkan karena tidak melepaskan pandangan salah. Para bhikkhu, rehabilitasi pada seseorang yang ditangguhkan [61] adalah tidak efektif. Jika ia dipulihkan kembali, pemberian masa percobaan sebelumnya tetap harus dijalaninya: masa percobaan apapun yang telah telah diberikan, telah diberikan dengan benar, siapapun yang menjalani masa percobaan harus menjalaninya dengan sempurna; mānatta (disiplin) apapun yang telah telah dijatuhkan, telah dijatuhkan dengan benar; mānatta apapun yang telah telah dijalani, telah dijalani dengan benar; Bhikkhu itu harus direhabilitasi. ||5||

Akhir dari empat puluh kasus.  ||27||


“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha,  tidak disembunyikan tidak banyak.  Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal. Ini adalah sebuah kasus, Para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, disembunyikan tidak banyak. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling pertama dari pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha,  disembunyikan maupun tidak disembunyikan tidak banyak. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling pertama dari pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, selagi sedang menjalani masa percobaan, melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, yang tidak disembunyikan dan banyak … yang disembunyikan dan banyak … yang disembunyikan maupun yang tidak disembunyikan dan banyak ... yang tidak disembunyikan dan tidak banyak maupun banyak … yang disembunyikan dan tidak banyak maupun banyak …  yang disembunyikan maupun yang tidak disembunyikan dan tidak banyak maupun banyak. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling pertama dari pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan. ||1||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu yang layak menerima mānatta (disiplin) … yang sedang menjalani mānatta (disiplin) … yang layak menerima rehabilitasi dan sementara itu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, yang tidak disembunyikan dan tidak banyak … yang disembunyikan maupun yang tidak disembunyikan dan tidak banyak maupun banyak. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling pertama dari pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan. ||2||

Akhir dari Tiga puluh enam kasus ||28||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB III)
« Reply #16 on: 06 March 2012, 06:39:51 PM »
“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, meninggalkan Sangha, pelanggaran-pelanggaran itu tidak disembunyikan. Ia, setelah dtahbiskan kembali, tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, [62] setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, meninggalkan Sangha, pelanggaran-pelanggaran itu tidak disembunyikan. Ia, setelah dtahbiskan kembali, menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sesudahnya.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan … meninggalkan Sangha setelah menyembunyikannya. Ia, setelah ditahbiskan kembali, tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelumnya.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan … meninggalkan Sangha setelah menyembunyikannya. Ia, setelah ditahbiskan kembali, menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya. ||1||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Pelanggaran-pelanggaran tersebut disembunyikan dan tidak disembunyikan. Ia, setelah meninggalkan Sangha, pada saat ditahbiskan kembali, kemudian ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelaggaran yang ia sembunyikan sebelumnya, kemudian ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang tidak ia sembunyikan sebelumnya. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … pada saat ditahbiskan kembali, kemudian ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan sebelumnya, kemudian ia tidak  menyembunyikan pelanggaran-pelaggaran yang tidak ia sembunyikan sebelumnya. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … pada saat ditahbiskan kembali, kemudian ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan sebelumnya, kemudian ia menyembunyikan pelanggaran-pelaggaran yang tidak ia sembunyikan sebelumnya. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya. ||2||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Ia mengetahui beberapa adalah pelanggaran, ia tidak mengetahui yang lainnya adalah pelanggaran. Pelanggaran-pelanggaran yang ia ketahui sebagai pelanggaran ia sembunyikan, pelanggaran-pelanggaran [63] yang tidak ia ketahui sebagai pelanggaran tidak ia sembunyikan. Ia, setelah meninggalkan Sangha, saat ditahbiskan kembali, menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya ia ketahui, tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia ketahui belakangan, tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang sebelumya tidak ia ketahui, tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia ketahui belakangan. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelumnya.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … saat ditahbiskan kembali, tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran, (walaupun) mengetahuinya, yang sebelumnya, mengetahuinya ia sembunyikan, selanjutnya ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, mengetahuinya, yang sebelumnya, tidak mengetahuinya, ia tidak menyembunyikan. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … saat ditahbiskan kembali, setelahnya ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, mengetahuinya, yang sebelumnya, mengetahuinya ia sembunyikan, selanjutnya tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, mengetahuinya, yang sebelumnya, ia tidak menyembunyikannya, ia tidak mengetahuinya. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … saat ditahbiskan kembali, setelahnya ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, mengetahuinya, yang sebelumnya, mengetahuinya ia sembunyikan; selanjutnya menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, mengetahuinya, yang sebelumnya, ia tidak mengetahuinya, ia tidak menyembunyikan. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya. ||3||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Ia mengingat beberapa sebagai pelanggaran … ( == ||3||. Dengan menggantikan ia mengetahui, mengetahuinya, tidak mengetahui menjadi ia mengingat, mengingatnya, tidak mengingatnya) … yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya. ||4||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Ia tidak ragu terhadap beberapa pelanggaran, ia ragu terhadap pelanggaran lainnya … yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya. ||5||29||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, menjadi samanera … menjadi gila … menjadi kehilangan akal sehat … ini harus dijelaskan secara terperinci seperti di bawah.  Ia menjadi sakit. Pelanggaran-pelanggarannya disembunyikan dan juga tidak disembunyikan. Ia mengetahui bahwa beberapa adalah pelanggaran, ia tidak mengetahui bahwa yang lainnya adalah pelanggaran. Ia mengingat bahwa beberapa adalah pelanggaran, [64] ia tidak mengingat bahwa yang lainnya adalah pelanggaran. Ia tidak meragukan bahwa beberapa adalah pelanggaran, ia meragukan apakah yang lainnya adalah pelanggaran. Ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang tidak ia ragukan, ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia ragukan. Ia menjadi sakit. Setelah tidak sakit lagi, pelanggaran-pelanggaran itu yang sebelumnya ia sembunyikan karena ia tidak meragukan, selanjutnya ia tidak menyembunyikannya walaupun ia tidak meragukannya; ia selanjutnya tidak menyembunyikannya walaupun ia tidak meragukannya; pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya tidak ia sembunyikan, karena ia  meragukannya, selanjutnya ia tidak menyembunyikannya walaupun ia meragukannya, pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya ia sembunyikan, karena ia tidak meragukannya, selanjutnya ia tidak menyembunyikannya, karena ia tidak meragukannya,  pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya tidak ia sembunyikan, karena ia meragukannya, selanjutnya ia menyembunyikannya, karena tidak meragukannya, pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya ia sembunyikan, karena tidak meragukannya, selanjutnya ia menyembunyikan, karena tidak meragukannya, pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya tidak ia sembunyikan, karena meragukannya, selanjutnya ia tidak menyembunyikannya, karena tidak meragukannya, pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya ia sembunyikan, karena ia tidak meragukannya, selanjutnya ia menyembunyikannya, karena tidak meragukannya, pelanggaran-pelanggaran yang sebelumnya tidak ia sembunyikan, karena meragukannya, selanjutnya ia menyembunyikannya, karena ia meragukannya. Para bhikkhu, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada bhikkhu itu, setelah memberikan masa percobaan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran yang disembunyikan sebelum dan sesudahnya.” ||1||30||

Seratus Mānatta
 

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu, setelah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, meninggalkan Sangha dengan tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, ketika ditahbiskan kembali, ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran ini. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … dengan tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, ketika ditahbiskan kembali, ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran ini. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling awal di antara pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … dengan menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, ketika ditahbiskan kembali, ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran ini. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal … yang ia sembunyikan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … dengan menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, ketika ditahbiskan kembali, ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran ini. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal … yang ia sembunyikan. ||1||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, sewaktu sedang menjalani masa percobaan, melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. [65] Pelanggaran-pelanggarannya itu disembunyikan dan tidak disembunyikan. Setelah meninggalkan Sangha, ia, saat ditahbiskan kembali, setelah itu ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan sebelumnya, setelah itu ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang tidak ia sembunyikan sebelumnya. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling awal di antara pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … Pelanggaran-pelanggarannya itu disembunyikan dan tidak disembunyikan. Setelah meninggalkan Sangha, ia, saat ditahbiskan kembali, setelah itu ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan sebelumnya, setelah itu ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang tidak ia sembunyikan sebelumnya. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal … yang ia sembunyikan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … saat ditahbiskan kembali, setelah itu ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan sebelumnya, setelah itu ia tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang tidak ia sembunyikan sebelumnya. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal … yang ia sembunyikan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … saat ditahbiskan kembali, setelah itu ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan sebelumnya, setelah itu ia menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang tidak ia sembunyikan sebelumnya. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal … yang ia sembunyikan. ||2||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu, sewaktu sedang menjalani masa percobaan, melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Ia mengetahui beberapa adalah pelanggaran, ia tidak mengetahui bahwa yang lainnya adalah pelanggara … ( = 29.3.4.30.  hukumannya selalu sama: Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling awal di antara pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan) … ||3|| 31||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB III)
« Reply #17 on: 06 March 2012, 06:40:31 PM »
“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu yang layak menerima mānatta (disiplin) … sedang menjalani mānatta (disiplin) … layak menerima rehabilitasi, sementara itu ia melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, meninggalkan Sangha, dengan tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu … ia yang layak menerima mānatta (disiplin) dan ia yang sedang menjalani māṅatta (disiplin) dan ia yang layak menerima rehabilitasi harus dijelaskan secara terperinci serupa dengan ia yang sedang menjalani masa percobaan.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu yang layak menerima rehabilitasi, sementara itu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, dengan tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran itu, menjadi samanera … menjadi gila … menjadi kehilangan akal sehat … menjadi sakit. Pelanggaran-pelanggarannya disembunyikan dan tidak disembunyikan … ( =30) … setelahnya ia menyembunyikannya, karena ia tidak meragukannya. Bhikkhu itu harus dikembalikan ke awal [66] dan masa percobaan berbarengan harus diberikan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran yang paling awal di antara pelanggaran-pelanggaran yang ia sembunyikan. ||1||32||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, dengan tidak meyembunyikan tidak banyak, dengan tidak menyembunyikan  banyak, dengan tidak menyembuyikan satu jenis, dengan tidak menyembunyikan jenis-jenis yang berbeda, dengan tidak meyembunyikan kelompok-kelompok serupa,  dengan tidak menyembunyikan kelompok lainnya,  dengan tidak menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran yang berhubungan,  meninggalkan Sangha.  ||1||33||

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Mereka sepakat bahwa pelanggaran itu adalah pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Salah satu dari mereka menyembunyikannya, sedangkan yang lainnya tidak menyembunyikannya. Siapapun yang menyembunyikannya harus mengakui pelanggaran kesalahan, dan setelah memberikan masa percobaan kepadanya selama waktu yang sama dengan lamanya pelanggaran itu disembunyikan, mānatta (disiplin) haus dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Mereka ragu apakah pelanggaran itu adalah pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Salah satu dari mereka menyembunyikannya … (seperti di atas) … harus dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Sehubungan dengan pelanggaran ini mereka sepakat bahwa pelanggaran itu adalah suatu pelanggaran campuran.  Salah satu dari mereka menyembunyikannya … (seperti di atas) … harus dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran campuran. Sehubungan dengan pelanggaran campuran ini mereka sepakat bahwa pelanggaran itu adalah suatu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Salah satu dari mereka menyembunyikannya … harus dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran campuran. Sehubungan dengan pelanggaran campuran ini mereka sepakat bahwa pelanggaran itu adalah suatu pelanggaran campuran. Salah satu dari mereka menyembunyikannya … harus dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran ringan.  Sehubungan dengan pelanggaran ringan ini mereka sepakat bahwa pelanggaran itu adalah suatu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Salah satu dari mereka menyembunyikannya, yang lainnya tidak menyembunyikannya. Siapapun yang menyembunyikannya harus mengakui pelanggaran kesalahan, dan keduanya harus diperlakukan sesuai aturan.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran ringan.  Sehubungan dengan pelanggaran ringan ini mereka sepakat bahwa pelanggaran itu adalah pelanggaran ringan. Salah satu dari mereka menyembunyikannya … sesuai aturan. ||1||

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Sehubungan dengan pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha ini mereka sepakat bahwa itu adalah pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Salah satu dari mereka berpikir, ‘Saya akan memberitahukan,’ yang lainnya berpikir, ‘Saya tidak akan memberitahukan.’ [67] ia menyembunyikannya selama jaga pertama dan ia menyembunyikannya selama jaga kedua dan ia menyembunyikannya selama jaga ketiga. Jika pelanggaran itu (masih) disembunyikan setelah matahari terbit, siapapun yang menyembunyikannya harus mengakui pelanggaran kesalahan, dan setelah memberikan masa percobaan kepadanya selama waktu yang sama dengan lamanya pelanggaran itu disembunyikan, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Sehubungan dengan pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha ini mereka sepakat bahwa itu adalah pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Mereka pergi, berpikir, ‘Kami akan memberitahukan.’ Dalam perjalanan itu, kecurangan muncul dalam diri salah satu dari mereka dan ia berpikir, ‘Saya tidak akan memberitahukan.’  ia menyembunyikannya selama jaga pertama … ia menyembunyikannya selama jaga ketiga. Jika pelanggaran itu (masih) disembunyikan setelah matahari terbit, … dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu … Mereka menjadi gila, dan di kemudian hari, setelah waras kembali, salah satu dari mereka menyembunyikan, yang lainnya tidak menyembunyikannya. Siapapun yang menyembunyikannya harus mengakui pelanggaran kesalahan, dan setelah memberikan masa percobaan kepadanya selama waktu yang sama dengan lamanya pelanggaran itu disembunyikan, mānatta (disiplin) harus dijatuhkan kepada keduanya.

“Dua orang bhikkhu melakukan satu pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Ketika Patimokkha sedang dibacakan, diketahui: ‘Sekarang kami memahami bahwa aturan, seperti yang dikatakan,  diturunkan dalam kalimat, tersimpan dalam kalimat (dan) untuk dibacakan setiap setengah bulan.’  Sehubungan dengan pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha ini mereka sepakat bahwa itu adalah pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha. Salah satu dari mereka menyembunyikannya, sedangkan yang lainnya tidak menyembunyikannya. Siapapun yang menyembunyikannya harus mengakui pelanggaran kesalahan, dan setelah memberikan masa percobaan kepadanya selama waktu yang sama dengan lamanya pelanggaran itu disembunyikan, mānatta (disiplin) haus dijatuhkan kepada keduanya. ||2||34||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: banyak dan tidak banyak dan satu jenis dan berbagai jenis dan dari kelompok yang serupa dan dari kelompok yang berbeda dan terpisah dan berhubungan.  Ia memohon masa percobaan berbarengan dari Sangha sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini. Sewaktu ia sedang menjalani masa percobaan ia melakukan beberapa pelanggaran lagi yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, banyak, tidak disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, ia memohon agar Sangha mengembalikannya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang sah, tidak dapat dibatalkan, kokoh, (tetapi) Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) tidak menurut aturan, Sangha merehabilitasinya tidak menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak dan banyak dan satu jenis dan berbagai jenis dan dari kelompok yang serupa dan dari kelompok yang berbeda [68] dan yang terpisah dan yang berhubungan. Ia memohon agar Sangha memberikan masa percobaan berbarengan sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini. Sementara ia sedang menjalani masa percobaan ia melakukan beberapa pelanggaran lagi yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, tidak banyak, disembunyikan … Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang sah, tidak dapat dibatalkan, kokoh, Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) tidak menurut aturan, Sangha merehabilitasinya tidak menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu. ||1||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak … dan yang berhubungan. Ia memohon agar Sangha … Sementara ia sedang menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran lagi yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: banyak, tidak disembunyikan … banyak, disembunyikan dan tidak disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, ia memohon agar Sangha mengembalikannya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang sah, tidak dapat dibatalkan, kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan menurut aturan, Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) tidak menurut aturan, Sangha merehabilitasinya tidak menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu … dan yang berhubungan. Ia memohon agar Sangha memberikan masa percobaan berbarengan sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini. Sementara ia sedang menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran lagi yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak dan banyak dan disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, ia memohon agar Sangha mengembalikannya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang sah, tidak dapat dibatalkan, kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan menurut aturan, [69] Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) tidak menurut aturan, Sangha merehabilitasinya tidak menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu … dan yang berhubungan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini, Ia memohon agar Sangha memberikan masa percobaan berbarengan.  Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini, Sangha memberikan masa percobaan berbarengan. Sementara ia sedang menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran lagi yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak dan banyak dan disembunyikan dan tidak disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, ia memohon agar Sangha mengembalikannya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini, Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang sah, tidak dapat dibatalkan, kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan menurut aturan, Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) tidak menurut aturan, Sangha merehabilitasinya tidak menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu. ||2||

Demikianlah sembilan kasus di mana (seorang bhikkhu dikembalikan ke) awal  adalah tidak murni. ||35||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB III)
« Reply #18 on: 06 March 2012, 06:41:20 PM »
“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, di mana seorang bhikkhu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak dan banyak … dan yang terpisah dan yang berhubungan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini ia memohon agar Sangha memberikan masa percobaan berbarengan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran ini, Sangha memberikan masa percobaan berbarengan. Selagi ia menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak, tidak disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini ia memohon agar Sangha mengembalikannya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang tidak sah,  dapat dibatalkan, tidak kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan menurut aturan, Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) menurut aturan, Sangha merehabilitasinya menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … Selagi ia menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak dan disembunyikan dan tidak disembunyikan … tidak banyak, disembunyikan … Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang tidak sah,  dapat dibatalkan, tidak kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan menurut aturan, Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) menurut aturan, Sangha merehabilitasinya menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu. ||1||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … Selagi ia menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak, disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini ia memohon agar Sangha mengembalikannya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang tidak sah,  dapat dibatalkan, tidak kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan tidak menurut aturan. Ia, berpikir, ‘Saya sedang menjalani masa percobaan’, dan sementara itu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, tidak banyak, disembunyikan. Ia, sampai pada tahap di mana ia mengingat  pelanggaran-pelanggaran baru di antara pelanggaran-pelanggaran sebelumnya yang ia lakukan, ia mengingat pelanggaran-pelanggaran lanjutan di antara pelanggaran-pelanggaran sebelumnya yang telah ia lakukan. Ia berpikir, ‘Sekarang, saya telah melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak dan banyak … dan yang terpisah dan yang berhubungan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru saya memohon agar Sangha memberikan masa percobaan berbarengan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini Sangha memberikan masa percobaan berbarengan kepada saya. Selagi saya sedang menjalani masa percobaan, saya melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha: tidak banyak, disembunyikan. Maka sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini saya memohon agar Sangha mengembalikan saya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini Sangha mengembalikan saya ke awal melalui keputusan (resmi) yang tidak sah,  dapat dibatalkan, tidak kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan tidak menurut aturan. Kemudian saya, berpikir, “Saya sedang menjalani masa percobaan”, dan sementara itu melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, tidak banyak, disembunyikan. Kemudian saya, sampai pada tahap di mana Aku Mengingat  pelanggaran-pelanggaran baru di antara pelanggaran-pelanggaran sebelumnya yang saya lakukan, Aku Mengingat pelanggaran-pelanggaran lanjutan di antara pelanggaran-pelanggaran sebelumnya yang telah saya lakukan. Bagaimana jika saya, sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu di antara pelanggaran-pelanggaran sebelumnya, dan sehubungan dengan  pelanggaran-pelanggaran di antara pelanggaran-pelanggaran lanjutan, memohon agar Sangha mengembalikan saya ke awal melalui keputusan (resmi) yang sah, tidak dapat dibatalkan, kokoh, memohon masa percobaan berbarengan menurut aturan?’ ia memohon agar Sangha … Sangha,  sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu di antara pelanggaran-pelanggaran sebelumnya, dan sehubungan dengan  pelanggaran-pelanggaran di antara pelanggaran-pelanggaran lanjutan, mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang sah, tidak dapat dibatalkan, kokoh, memberikan kepadanya masa percobaan berbarengan menurut aturan, menjatuhkan māṅatta (disiplin) menurut aturan, merehabilitasinya menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu adalah murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … (kasus ini sama dengan sebelumnya, tetapi dengan mengganti disembunyikan dengan disembunyikan dan tidak disembunyikan) … ||2||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … Selagi ia menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, banyak, tidak disembunyikan, banyak, disembunyikan … tidak banyak dan banyak, tidak disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini [71] ia memohon agar Sangha mengembalikannya ke awal. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang tidak sah,  dapat dibatalkan, tidak kokoh. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan menurut aturan, Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) menurut aturan, Sangha merehabilitasinya menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, … Selagi ia menjalani masa percobaan, ia melakukan beberapa pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, tidak banyak dan banyak, dan disembunyikan … tidak banyak dan banyak dan disembunyikan dan  tidak disembunyikan. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran baru ini Sangha mengembalikannya ke awal melalui keputusan (resmi) yang tidak sah,  dapat dibatalkan, tidak kokoh, Sangha memberikan masa percobaan berbarengan tidak menurut aturan. Sangha memberikan masa percobaan berbarengan tidak menurut aturan, Sangha menjatuhkan mānatta (disiplin) menurut aturan, Sangha merehabilitasinya menurut aturan. Para bhikkhu, bhikkhu itu tidak murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu. ||3||

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu … (kedua kasus di sini sama dengan yang dijelaskan dalam ||2||; dengan mengganti  tidak banyak menjadi  banyak … Para bhikkhu, bhikkhu itu  murni sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran itu. ||4||36||

Demikianlah bagian ketiga: Tentang Akumulasi (pelanggaran-pelanggaran)

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #19 on: 06 March 2012, 11:10:04 PM »
CULLAVAGGA IV
Penyelesaian



Pada suatu ketika, Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, sedang berdiam di Sāvatthi di hutan Jeta di Vihara Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu melakukan tindakan (resmi) mengecam dan membimbing dan mengusir dan mendamaikan dan menangguhkan beberapa bhikkhu yang tidak hadir. Para bhikkhu lainnya mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin Kelompok Enam Bhikkhu ini melakukan tindakan (resmi) mengecam … dan menangguhkan beberapa bhikkhu yang tidak hadir?” Kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Benarkah,  para bhikkhu, dikatakan bahwa, para bhikkhu ini melakukan tindakan (resmi) mengecam … dan menangguhkan beberapa bhikkhu yang tidak hadir?”

“Benar, Bhagavā.” Yang Tercerahkan, Sang Bhagavā, menegur mereka, dengan berkata:

“Tidaklah layak, para bhikkhu, dalam hal orang-orang dungu ini, tidaklah pantas, tidaklah sesuai, tidaklah sebagaimana mestinya seorang petapa, tidak diperbolehkan, seharusnya tidak dilakukan. Bagaimanakah, para bhikkhu, orang-orang dungu ini dapat melakukan tindakan (resmi) mengecam … dan menangguhkan para bhikkhu yang tidak hadir? Bukanlah, para bhikkhu, demi menyenangkan mereka yang tidak senang …” Setelah menegur mereka, setelah memberikan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, tindakan (resmi) mengecam atau membimbing atau mengusir atau mendamaikan atau menangguhkan seharusnya tidak dilakukan kepada para bhikkhu yang tidak hadir. Siapapun yang melakukannya, berarti melakukan kesalahan pelanggaran. ||1||1||

“Seseorang yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada seseorang yang mempraktikkan dhamma, mengungkapkan kepadanya, mempengaruhinya, mempengaruhinya lagi, mengajarkan kepadanya, mengajarkan kepadanya lagi, dengan megatakan: ‘Ini adalah dhamma, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sag Guru, pilihlah ini, [73] akuilah ini.’ Jika pertanyaan sah ini dijawab demikian, maka hal itu diselesaikan dengan apa yang tidak menurut aturan, dengan apa yang terlihat seperti keputusan bersama.

“Seseorang yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada seseorang yang mempraktikkan dhamma … Seseorang yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada Sangha yang mempraktikkan dhamma … Beberapa orang yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada seseorang yang mempraktikkan dhamma … Beberapa orang yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada beberapa orang yang mempraktikkan dhamma … Beberapa orang yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada Sangha yang mempraktikkan dhamma  … Sangha yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada seseorang yang mempraktikkan dhamma … Sangha yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada beberapa orang yang mempraktikkan dhamma … Sangha yang mempraktikkan non-dhamma  membabarkannya kepada Sangha yang mempraktikkan dhamma, mengungkapkan kepadanya, mempengaruhinya, mempengaruhinya lagi, mengajarkan kepadanya, mengajarkan kepadanya lagi, dengan megatakan: ‘Ini adalah dhamma, ini adalah disiplin, ini adalah instruksi Sag Guru, pilihlah ini, akuilah ini.’ Jika pertanyaan sah ini dijawab demikian, maka hal itu diselesaikan dengan apa yang tidak menurut aturan, dengan apa yang terlihat seperti keputusan bersama.

Demikianlah sembilan kasus Golongan Gelap. ||2||

“Seseorang yang mempraktikkan dhamma  membabarkannya kepada seseorang yang mempraktikkan non-dhamma … Sangha yang mempraktikkan dhamma  membabarkannya kepada Sangha yang mempraktikkan non-dhamma, … maka hal itu diselesaikan dengan apa yang menurut aturan, dengan keputusan bersama.

Demikianlah sembilan kasus Golongan Cerah. ||3||

Pada suatu ketika Yang Tercerahkan, Sang Buddha, sedang berdiam di Rājagaha di hutan bambu di Taman Suaka Tupai.  Pada saat itu Kesempurnaan telah dicapai oleh Yang Mulia Dabba dari Malla tujuh tahun sejak kelahirannya. Semua yang harsu dicapai oleh seorang siswa telah dicapai sepenuhnya olehnya; baginya tidak ada lagi yang harus dilakukan, tidak ada penambahan (yang harus dilakukan) atas apa yang telah ia lakukan. Kemudian pemikiran berikut ini muncul dalam pikiran Yang Mulia Dabba dari Malla saat ia sedang bermeditasi dalam kesunyian:  “Kesempurnaan telah tercapai olehku tujuh tahun sejak kelahiranku; baginya tidak ada lagi yang harus dilakukan, tidak ada penambahan (yang harus dilakukan) atas apa yang telah ia lakukan. Sekarang, pelayanan apakah yang bisa kulakukan terhadap Sangha?” Kemudian Yang Mulia Dabba dari Malla berpikir: “Bagaimana jika aku [74] mengatur tempat tinggal dan membagikan makanan?” ||1||

Kemudian Yang Mulia Dabba, bangkit dari meditasinya di malam hari, mendekati Sang Bhagavā, setelah medekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia duduk dalam jarak sepantasnya. Ketika duduk dalam jarak sepantasnya, Yang Mulia Dabba berkata sebagai berikut kepada Sang Bhagavā: “Sekarang, Bhagavā, ketika saya sedang bermeditasi dalam kesunyian, pemikiran ini muncul dalam pikiranku: ‘ … pelayanan apakah yang bisa kulakukan terhadap Sangha?’ Kemudian saya berpikir: “Bagaimana jika aku mengatur tempat tinggal dan membagikan makanan?’ Saya ingin, Bhagavā, mengatur tempat tinggal dan membagikan makanan.’ “

“Baik sekali, baik sekali, Dabba. Baiklah, engkau lakukanlah, Dabba, pengaturan tempat tinggal dan pembagian makanan.”

“Baiklah, Bhagavā,” Yang Mulia Dabba, orang Malli, atas persetujuan Sang Bhagavā. ||2||

Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah memberikan khotbah, berkata kepada para bhikkhu, dengan berkata: ‘Baiklah, para bhikkhu, marilah Sangha menyetujui dan menunjuk Dabba dari Malla sebagai pengatur tempat tinggal dan pembagi makanan. Dan seperti inilah, para bhikkhu, ia ditunjuk: Pertama-tama, Dabba harus diminta; setelah diminta, Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berpengalaman dan kompeten, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Jika baik menurut Sangha, Sangha boleh menunjuk Yang Mulia Dabba dari Malla sebagai pengatur tempat tinggal dan pembagi makanan. Ini adalah usul. Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Sangha menunjuk Yang Mulia Dabba dari Malla sebagai pengatur tempat tinggal dan pembagi makanan. Jika penunjukan Yang Mulia Dabba dari Malla sebagai pengatur tempat tinggal dan pembagi makanan ini sesuai dengan kehendak Sangha, maka Sangha cukup berdiam diri; ia yang tidak setuju silahkan berbicara. Yang Mulia Dabba dari Malla ditunjuk oleh Sangha sebagai pegatur tempat tinggal dan pembagi makanan. Hal ini sesuai keinginan Sangha, karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’ “ ||3||

Dan Yang Mulia Dabba orag Malli, setelah ditunjuk, mengatur tempat tinggal yang sama bagi para bhikkhu yang berasal dari kelompok yang sama. Bagi para bhikkhu yang menguasai Suttanta, ia mengatur tempat tinggal yang sama, dengan pikiran: “Dengan demikian mereka akan dapat saling membacakan Suttanta satu sama lain.” Bagi para bhikkhu yang ahli dalam hal disiplin ia mengatur tempat tinggal yang sama, dengan pikiran: “Mereka akan dapat bersama-sama memutuskan disiplin.” Bagi para bhikkhu adalah pembabar dhamma ia mengatur tempat tinggal yang sama, dengan pikiran: “Mereka akan dapat saling berdiskusi dhamma.” Bagi para bhikkhu yang menyukai ketenangan ia mengatur tempat tinggal yang sama, dengan pikiran: “Mereka tidak akan saling mengganggu satu sama lain.” [75] Bagi para bhikkhu yang senang membicarakan persoalan-persoalan rendah dan yang menyukai olah raga ia mengatur tempat tinggal yang sama, dengan pikiran: “Para bhikkhu ini akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Bagi para bhikkhu yang datang pada larut malam, ia, setelah memasuki jhana kasina api, mengatur tempat tinggal dengan menggunakan cahaya ini. Sedemikian sehingga, para bhikkhu yang datang larut malam dengan sengaja, berpikit: “Kami akan menyaksikan kesaktian Yang Mulia Dabba dari Malla.” Dan para bhikkhu ini, setelah menghadap Yang Mulia Dabba dari Malla, berkata sebagai berikut: “Yang Mulia Dabba, siapkan tempat tinggal untuk kami.” Yang Mulia Dabba berkata kepada mereka: “Di manakah Yang Mulia menginginkannya? Di manakah saya harus mempersiapkannya?” (Para bhikkhu) ini akan dengan sengaja menyebutkan tempat-tempat yang jauh, dengan berkata:

“Yang Mulia Dabba, siapkan tempat tinggal kami di Puncak Nasar; Yang Mulia, siapkan tempat tinggal kami di tebing perampok; Yang Mulia, siapkan tempat tinggal kami di lereng bukit Isigili di Batu Hitam; Yang Mulia, siapkan tempat tinggal kami di lereng Vebhara di Gua Sattapaṇṇi; Yang Mulia, siapkan tempat tinggal kami di hutan Sītā di cekungan Danau Ular; Yang Mulia siapkan tempat tinggal kami di Lembah Gomaṭa; Yang Mulia siapkan tempat tinggal kami di Lembah Tinduka; Yang Mulia siapkan tempat tinggal kami di Lembah Tapodā; Yang Mulia siapkan tempat tinggal kami di Taman Tapodā; Yang Mulia siapkan tempat tinggal kami di Hutan Mangga Jīvaka; Yang Mulia siapkan tempat tinggal kami di Maddakucchi di Taman-Rusa.”

Yang Mulia Dabba dari Malla, setelah memasuki jhana kasina api, berjalan di depan (para bhikkhu) ini dengan jarinya menyala, dan mereka dengan cahaya ini berjalan di belakang Yang Mulia Dabba dari Malla. Yang Mulia Dabba dari Malla menyiapkan tempat tinggal sebagai berikut: “Ini bantal, ini kursi, ini kasur, ini bantal duduk, ini toilet, itu toilet, ini air minum, ini air untuk mencuci, ini tongkat, ini (formulir) kesepakatan Sangha, ini waktunya untuk datang, ini waktunya untuk pergi.” Yang Mulia Dabba dari Malla, setelah mempersiapkan tempat tinggal untuk para bhikkhu ini, kembali ke hutan bambu. ||4||

Pada saat itu para bhikkhu yang adalah para pengikut Mettiya dan Bhummajaka yang baru ditahbiskan dan hanya memiliki sedikit kebajikan; mereka mendapatkan tempat tinggal yang sederhana milik Sangha dan makanan yang sederhana. Pada saat itu orang-orang Rājagaha [76] ingin mempersembahkan para bhikkhu senior dana makanan  yang mengandung bumbu yang sangat lezat, dan ghee dan minyak dan berbagai makanan lezat. Tetapi kepadapara bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka, mereka memberikan makanan biasa, nasi sisa dengan bubur basi.  Para bhikkhu ini, saat kembali dari menerima dana makanan setelah makan, bertanya kepada para bhikkhu senior: “Apakah yang kalian, Yang Mulia, dapatkan di ruang makan?”

Beberapa bhikkhu senior berkata: “Ada ghee untuk kami, Yang Mulia, ada minyak untuk kami, ada makanan-makanan lezat untuk kami.”

Tetapi para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka berkata: “Tidak ada apapun untuk kami, Yang Mulia, kecuali makanan biasa, nasi sisa dengan bubur basi.” ||5||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #20 on: 06 March 2012, 11:10:52 PM »
Pada sat itu seorang perumah tangga yang secara rutin mempersembahkan makanan kepada Sangha yang terdiri dari empat jenis.  Ia, dengan istri dan anak-anaknya, melayani di ruang makan. Mereka mempersembahkan nasi kepada beberapa (bhikkhu), mereka mempersembahkan kari kepada yang lain, mereka mempersembahkan makanan-makanan lezat kepada yang lain lagi. Pada saat itu makanan yang dipersembahkan oleh si perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan yang baik dijatahkan untuk keesokan harinya bagi para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka. Kemudian si perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik pergi ke vihara untuk suatu urusan dan menghadap Yang Mulia Dabba dari Malla; setelah menghadap, setelah menyapa Yang Mulia Dabba dari Malla, ia duduk dalam jarak yang semestinya. Ketika si perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik telah duduk dalam jarak yang semestinya, Yang Mulia Dabba menyenangkan, memuji, membangkitkan semangat,  menggembirakannya dengan khotbah dhamma. Kemudian ketika di perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik telah merasa senang … gembira oleh khotbah dhamma yang disampaikan oleh Yang Mulia Dabba, ia berkata kepada Yang Mulia Dabba dari Malla: “Untuk siapakah, Yang Mulia, makanan yang dijatahkan untuk besok dirumahku?”

“Perumah tangga, makanan yang dijatahkan dirumahmu besok ditujukan kepada para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka.”

Kemudian perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik merasa kesal dan berkata: “Mengap harus bhikkhu-bhikkhu tidak bermoral ini yang bersenang-senang di rumahku?” Dan setelah pulang ke rumahnya, ia memerintahkan kepada budak perempuannya, dengan mengatakan: “Setelah menyiapkan tempat duduk di teras bagi mereka yang datang untuk besok, layani mereka dengan nasi sisa dan bubur basi.”

“Baiklah, tuan,” budak perempuan itu menjawab perintah si perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik. ||6||

Kemudian para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka berkata satu sama lain: “Kemarin, Yang Mulia, makanan dijatahkan untuk kita oleh perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik. Besok si perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik bersama istri dan anak-anaknya akan melayani kita. Mereka akan mempersembahkan nasi kepada beberapa orang, mereka akan mempersembahkan kari kepada orang lain, [77] mereka akan mempersembahkan minyak kepada orang lain lagi, mereka akan mempersembahkan makanan-makanan lezat kepada orang lain lagi.” Hal-hal ini, karena kegembiraan mereka, tidak dapat tidur malam itu seperti yang diharapkan.

Kemudian  para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka, merapikan jubahnya di pagi hari dan membawa mangkuk dan jubah mereka, mendatangi rumah si perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik. Budak perempuan melihat para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka datang dari jauh, melihat mereka, setelah menyiapkan tempat duduk di teras, ia  berkata kepada para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka: “Silahkan duduk, Yang Mulia.” Kemudian para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka berpikir: “Tetapi, tentu saja makanan belum siap karena kami diminta untuk duduk di teras.” Kemudian budak-perempuan itu keluar dengan membawa nasi sisa dan bubur basi. “Silahkan makan, Yang Mulia” ia berkata.

“Tetapi, saudari, kami adalah yang secara rutin menerima persembahan makanan.”

“Saya tahu bahwa Yang Mulia menerima persembahan makanan secara rutin. Tetapi baru kemarin saya diperintahkan oleh si perumah tangga: ‘Setelah menyiapkan tempat duduk di teras bagi mereka yang datang untuk besok, layani mereka dengan nasi sisa dan bubur basi.’ makanlah, Yang Mulia,” ia berkata.

Kemudian para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka berpikir: “kemarin, Yang Mulia, perumah tangga yang menyediakan makanan-makanan baik menghadap Dabba dari Malla di Vihara. Tidak diragukan lagi, Dabba dari Malla telah menyebabkan si perumah tangga memusuhi kita.” (Para bhikkhu) ini, sehubungan dengan kekesalan mereka, tidak makan sebanyak yang diharapkan.

Kemudian para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka, kembali dari menerima dana makanan setelah makan, setelah tiba di vihara, setelah menyimpan mangkuk dan jubah mereka, duduk di luar gerbang vihara, duduk di atas tanah beralaskan jubah luar mereka, berdiam diri, merasa dipermalukan, bahu merosot, kepala ditundukkan, termenung, tidak berkata apa-apa. ||7||

Kemudian Bhikkhuni Mettiyā mendekati para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka; setelah mendekat, ia berkata sebagai berikut kepada para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka: “Saya memberi hormat, Guru.” Ketika ia berkata demikian, para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka tidak menjawab. Untuk kedua kalinya … untuk ketiga kalinya, para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka tidak menjawab.

“Apakah aku menyakiti hati para guru? Mengapakah para guru tidak menjawabku?” ia berkata.

“Ini adalah karena engkau, bhikkhuni, mengabaikan kami ketika kami dipersulit oleh Dabba dari Malla.”

“Apa yang dapat saya lakukan, guru?” ia berkata.

“Jika engkau mau, bhikkhuni, hari ini juga engkau dapat menyebabkan Sang Bhagavā mengusir Dabba dari Malla.”

“Apa yang dapat saya lakukan, guru? Bagaimana saya dapat melakukan hal itu?”

“Engkau pergilah, bhikkhuni, datangi Sang Bhagavā; setelah mendekat, katakan kepada Sang Bhagavā: [78] ‘Bhagavā, tidaklah layak, tidaklah semestinya bahwa tempat  ini yang seharusnya tanpa ketakutan, aman, tanpa bahaya menjadi tempat yang menakutkan, tidak aman, penuh bahaya. Tempat yang dulunya tenang, sekarang menjadi kacau. Seperti air yang bergolak. Saya telah diperkosa oleh Yang Mulia Dabba dari Malla.”

“Baiklah, guru,” dan Bhikkhuni Mettiyā setelah memberikan persetujuan kepada para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka, mendatangi Sang Bhagavā; setelah mendekat, setelah menyapa Sang Bhagavā, ia berdiri dalam jarak yang sepantasnya. Ketika berdiri dalam jarak yang sepantasnya, Bhikkhunī Mettiyā berkata sebagai berikut kepada Sang Bhagavā: “Bhagavā, tidaklah layak … saya telah diperkosa oleh Yang Mulia Dabba dari Malla.” ||8||

Kemudian Sang Bhagavā, pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah mengumpulkan seluruh bhikkhu, bertanya kepada Yang Mulia Dabba dari Malla, sebagai berikut:

“Apakah engkau, Dabba, ingat telah melakukan apa yang dikatakan oleh bhikkhuni ini?”

“Bhagavā, Sang Bhagavā mengetahui sehubungan dengan diriku.” Dan untuk kedua kalinya … dan untuk ketiga kalinya …“Bhagavā, Sang Bhagavā mengetahui sehubungan dengan diriku.”

“Dabba, orang Dabba tidak memberikan jawaban mengelak seperti itu.  Jika apa yang dilakukan adalah dilakukan olehmu, katakan ya; jika tidak dilakukan (olehmu), katakan tidak.”

“Sejak saya lahir, Bhagava, saya tidak ingat pernah melakukan hubungan seksual bahkan dalam mimpi, apalagi pada saat bangun.”

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Baiklah, para bhikkhu, usir Bhikkhuni Mettiyā, dan bawa bhikkhu-bhikkhu ini untuk ditanyai.” Setelah berkata demikian, Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, memasuki tempat kediamanNya. Kemudian para bhikkhu mengusir Bhikkhuni Mettiyā. Kemudian para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka berkata kepada para bhikkhu: “Yang Mulia, jangan mengusir Bhikkhuni Mettiyā; dia sama sekali tidak bersalah; dia kami desak karena kami marah, tidak senang dan ingin agar Yang Mulia Dabba tersingkir.”

“Tetapi tidakkah kalian, Yang Mulia, memfitnah Yang Mulia Dabba dari Malla dengan tuduhan tidak berdasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral?”

“Benar, Yang Mulia.” Para bhikkhu lainnya mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka memfitnah Yang Mulia Dabba dengan tuduhan tidak berdasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral?” kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Benarkan, seperti dikatakan, bahwa para bhikkhu pengikut Mettiya dan Bhummajaka memfitnah Yang Mulia Dabba dengan tuduhan tidak berdasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral?”

“Benar, Bhagavā.” Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu: ||9||

“Baiklah, para bhikkhu, Sangha harus menjatuhkan keputusan tidak bersalah  kepada Dabba dari Malla yang telah mengingat sepenuhnya.  Dan beginilah [79] para bhikkhu, keputusan ini dijatuhkan: Para bhikkhu, Dabba dari Malla, setelah mendatangi Sangha, setelah merapikan jubah atasnya di satu bahunya, setelah bersujud di kaki para bhikkhu senior, setelah duduk berlutut, setelah memberi hormat dengan merangkapkan tangan, harus mengucapkan: ‘Yang Mulia, para bhikkhu ini, para pengikut Mettiya dan Bhummajaka, memfitnah saya dengan tuduhan tidak berdasar bahwa saya telah jatuh dari kebiasaan bermoral. Tetapi saya, Yang Mulia, setelah mengingat sepenuhnya, memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan tidak bersalah.’ Dan untuk kedua kalinya keputusan harus dimohon … dan untuk ketiga kalinya keputusa harus dimohon:  ‘Yang Mulia, para bhikkhu ini, para pengikut Mettiya dan Bhummajaka, memfitnah saya dengan tuduhan tidak berdasar bahwa saya telah jatuh dari kebiasaan bermoral. Maka saya, Yang Mulia, setelah mengingat sepenuhnya, untuk ketiga kalinya memohon agar Sangha memberikan keputusan tidak bersalah.’ Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Para bhikkhu ini yang adalah para pengikut Mettiya dan Bhummajaka memfitnah Yang Mulia Dabba dari Malla dengan tuduhan tidak berdasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral. Yang Mulia Dabba dari Malla, setelah mengingat sepenuhnya, memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan tidak bersalah. Jika baik menurut Sangha, maka Sangha harus menjatuhkan keputusan tidak bersalah kepada Yang Mulia Dabba yang telah mengingat sepenuhnya. Ini adalah usul. Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Para bhikkhu ini yang adalah pengikut Mettiya dan Bhummajaka … memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan tidak bersalah. Sangha menjatuhkan menjatuhkan keputusan tidak bersalah kepada Yang Mulia Dabba dari Malla, yang telah mengingat sepenuhnya. Jika penjatuhan keputusan tidak bersalah kepada Yang Mulia Dabba dari Malla, yang telah mengingat sepenuhnya, sesuai dengan keinginan Yang Mulia, , maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menginginkan silahkan berbicara. Dan untuk kedua kalinya, saya menyampaikan persoalan ini … Dan untuk ketiga kalinya saya menyampaikan persoalan ini … Keputusan tidak bersalah dijatuhkan oleh Sangha kepada Yang Mulia Dabba dari Malla, yang telah mengingat sepenuhnya. Ini sesuai dengan keinginan Sangha, oleh karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’ ||10||

“Para bhikkhu, ada lima karakterisktik yang sah dalam menjatuhkan keputusan tidak bersalah: jika bhikkhu tersebut bersih dan tanpa pelanggaran; dan jika mereka mencelanya; dan jika ia memohon; jika Sangha menjatuhkan keputusan tidak bersalah; jika menurut aturan, pertemuan telah lengkap. Ini, para bhikkhu, adalah lima karakteristik yang sah dalam menjatuhkan keputusan tidak bersalah. ||11||4||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #21 on: 06 March 2012, 11:11:17 PM »
Kemudian pada saat itu Bhikkhu Gagga  menjadi gila, kehilangan akal sehat.   Dan ketika ia gila, kehilangan akal sehat ia banyak melakukan dan mengucapkan hal-hal  yang tidak layak bagi seorang pertapa. Para bhikkhu mencela Bhikkhu Gagga karena pelanggaran yang dilakukan (olehnya) ketika ia gila, kehilangan akal sehat, dengan mengatakan: “Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti ini?” Ia berkata: “Saya, [80] Yang Mulia, gila, kehilangan akal sehat; sewaktu saya gila, kehilangan akal sehat, banyak yang dilakukan dan diucapkan olehku yang tidak layak bagi seorang petapa. Saya tidak mengingatnya. Itu dilakukan oleh saya ketika saya sedang tidak waras.”  Walaupun ia mengatakan demikian, namun mereka masih mencelanya dengan mengatakan: “Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti ini?” Para bhikkhu lainnya mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para bhikkhu ini mencela Bhikkhu Gagga sehubungan dengan pelanggaran yang ia lakukan ketika ia gila, kehilangan akal sehat, dengan mengatakan: ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti ini?’ dan ia menjawab: ‘Saya, Yang Mulia, gila, kehilangan akal sehat; sewaktu saya gila, kehilangan akal sehat, banyak yang dilakukan dan diucapkan olehku yang tidak layak bagi seorang pertapa. Saya tidak mengingatnya. Itu dilakukan oleh saya ketika saya sedang tidak waras.’ Walaupun ia mengatakan demikian, namun mereka masih mencelanya dengan mengatakan: Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti ini?’” Kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Benarkah, dikatakan bahwa, para bhikkhu … ?”

“Benar, Bhagavā.” Setelah mencela mereka, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Baiklah, para bhikkhu, Biarlah Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat kepada Bhikkhu Gagga yang tidak lagi gila. ||1||

“Dan seperti inilah, keputusan ini dijatuhkan: Para bhikkhu, Bhikkhu Gagga, setelah menghadap Sangha, setelah merapikan jubah atasnya di satu bahunya, setelah bersujud di kaki para bhikkhu senior, setelah duduk berlutut, setelah memberi hormat dengan merangkapkan tangan, harus mengucapkan: ‘Saya, Yang Mulia, dulu gila, kehilangan akal sehat, saya banyak melakukan dan mengucapkan hal-hal yang tidak layak bagi seorang petapa. Para bhikkhu mencela saya karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan (olehku) sewaktu saya gila, kehilangan akal sehat, dengan mengatakan: “Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti ini?” dan saya menjawab: “Saya, Yang Mulia, gila, kehilangan akal sehat; sewaktu saya gila, kehilangan akal sehat, banyak yang dilakukan dan diucapkan olehku yang tidak layak bagi seorang petapa. Saya tidak mengingatnya. Itu dilakukan oleh saya ketika saya sedang tidak waras.” Walaupun ia mengatakan demikian, namun mereka masih mencelanya dengan mengatakan: “Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti ini?” maka, saya, Yang Mulia , sekarang tidak lagi gila, memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat,’ Dan untuk kedua kalinya keputusan ini dimohon dengan mengucapkan: Saya, Yang Mulia, dulu gila …, bahkan untuk ketiga kalinya saya memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat.’ Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Bhikkhu Gagga dulunya gila, kehilangan akal sehat. sewaktu ia gila, kehilangan akal sehat, banyak yang dilakukan dan diucapkan (olehnya) yang tidak layak bagi seorang petapa. Para bhikkhu mencela Bhikkhu Gagga dengan mengatakan: “Apakah Yang Mulia ingat … ?” Ia menjawab: “Saya, Yang Mulia, [81] tidak ingat … itu dilakukan oleh saya sewaktu saya gila.” Bahkan setelah menjawab demikian mereka masih mencelanya, dengan mengatakan: “Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti itu?” Ia, karena tidak lagi gila, memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat. Jika baik menurut Sangha, maka Sangha harus menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat kepada Bhikkhu Gagga, yang tidak lagi gila. Ini adalah usul. Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Bhikkhu Gagga ini …. memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat. Jika penjatuhan keputusan kegilaan yang telah lewat kepada Bhikkhu Gagga, yang tidak lagi gila, sesuai dengan keinginan Yang Mulia, , maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menginginkan silahkan berbicara. Dan untuk kedua kalinya, saya menyampaikan persoalan ini … Dan untuk ketiga kalinya saya menyampaikan persoalan ini … Keputusan kegilaan yang telah lewat dijatuhkan oleh Sangha kepada Bhikkhu Gagga, yang tidak lagi gila. Ini sesuai dengan keinginan Sangha, oleh karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’ ||2||5||

“Para bhikkhu, ada tiga karakteristik yang tidak sah berikut ini dalam menjatuhkan keputusan kegilaan yg telah lewat, tiga yang sah. Apakah tiga karakteristik yang tidak sah dalam menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat? Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu telah melakukan pelanggaran. Sangha atau beberapa (bhikkhu) atau seseorang mencelanya atas hal tersebut dengan mengatakan: ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti itu?’ Jika ia, walaupun mengingat, namun mengatakan: ‘Saya tidak, Yang Mulia, mengingat telah melakukan pelanggaran seperti itu.’ Dan jika Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat, penjatuhan keputusan kegilaan yang telah lewat itu adalah tidak sah.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu telah melakukan pelanggaran … ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti itu?’ Jika ia, walaupun mengingat, namun mengatakan: ‘Saya, Yang Mulia, mengingatnya seolah-olah dalam mimpi.’ Dan jika Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat, penjatuhan keputusan kegilaan yang telah lewat itu adalah tidak sah.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu telah melakukan pelanggaran … ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti itu?’ Jika ia, walaupun tidak gila, namun berpura-pura gila mengatakan: ‘Saya berbuat seperti itu, Apakah engkau juga bebuat seperti itu? hal itu diperbolehkan bagiku, dan hal itu juga diperbolehkan bagimu.’ Dan jika Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat, penjatuhan keputusan kegilaan yang telah lewat itu adalah tidak sah. Tiga karakteristik ini dlam menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat adalah tidak sah ||1||
 
“Apakah tiga karakteristik dalam menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat yang sah? Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikhu menjadi gila, kehilangan akal sehat. Sewaktu ia gila, kehilangan akal sehat, ia banyak melakukan perbuatan dan ucapan yang tidak layak bagi seorang petapa. Sangha atau beberapa (bhikkhu) atau seseorang mencelanya atas hal tersebut dengan mengatakan: ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti itu?’ Jika ia, tidak mengingat, mengatakan: ‘Saya tidak, Yang Mulia, mengingat telah melakukan pelanggaran seperti itu.’ Dan jika Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat, penjatuhan keputusan kegilaan yang telah lewat itu adalah sah.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu menjadi gila, [82] … ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti itu?’ Jika ia, tidak mengingat, mengatakan: ‘Saya, Yang Mulia, mengingatnya seolah-olah dalam mimpi.’ Dan jika Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat, penjatuhan keputusan kegilaan yang telah lewat itu adalah  sah.

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana seorang bhikkhu menjadi gila … ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran seperti itu?’ Jika ia, gila, berpura-pura gila dan mengatakan: ‘Saya berbuat seperti itu, Apakah engkau juga bebuat seperti itu? hal itu diperbolehkan bagiku, dan hal itu juga diperbolehkan bagimu.’ Dan jika Sangha menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat, penjatuhan keputusan kegilaan yang telah lewat itu adalah sah. Tiga karakteristik ini dlam menjatuhkan keputusan kegilaan yang telah lewat adalah sah. ||2||6||

Pada saat itu kelompok enam bhikkhu melakukan sidang (resmi) pengecaman dan bimbingan dan pengusiran dan pendamaian dan pengskorsan terhadap para bhikkhu tanpa pengakuan mereka.  Para bhikkhu lainnya … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin Kelompok Enam Bhikkhu ini melakukan sidang (resmi) dan … pengskorsan terhadap para bhikkhu tanpa pengakuan mereka?” Kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata, “Benarkah dikatakan, para bhikkhu, …?”

“Benar, Bhagavā.” setelah mencela mereka, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, sidang (resmi) pengecaman atau bimbingan atau pengusiran atau pendamaian atau pengskorsan tidak boleh dilakukan terhadap seorang bhikkhu tanpa pengakuan bhikkhu tersebut. Siapapun yang melakukan (salah satu) hal itu, maka itu adalah pelanggaran perbuatan-salah. ||7||

“Para bhikkhu, melakukan sidang (resmi) atas pengakuan (seorang bhikkhu) adalah tidak sah sebagai berikut, adalah sah sebagai berikut. Dan bagaimanakah, para bhikkhu, melakukan atas pengakuan yang tidak sah? Seorang bhikkhu melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan. Sangha atau beberapa (bhikkhu) atau seseorang mencelanya dengan mengatakan: ‘Yang Mulia telah melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan.’ Jika ia menjawab: ‘Saya tidak, Yang Mulia, melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan, Saya telah melakukan pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha,’ dan jika Sangha memperlakukannya sebagai pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, perlakuan itu atas pengakuan adalah tidak sah.

“Seorang bhikkhu melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan … Jika ia menjawab: ‘Saya tidak, Yang Mulia, melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan, Saya telah melakukan pelanggaran berat, pelanggaran yang melibatkan penebusan, pelanggaran yang memerlukan pengakuan, pelanggaran perbuatan-salah, pelanggaran ucapan-salah,’ dan jika Sangha memperlakukannya sebagai pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha, perlakuan itu atas pengakuan adalah tidak sah.

“Seorang bhikkhu melakukan pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha … pelanggaran berat, pelanggaran yang melibatkan penebusan, pelanggaran yang memerlukan pengakuan, pelanggaran perbuatan-salah, pelanggaran ucapan-salah. Sangha atau beberapa (bhikkhu) atau seseorang mencelanya dengan mengatakan: ‘Yang Mulia [83] telah melakukan pelanggaran yang ucapan-salah.’ Jika ia menjawab: ‘Saya tidak, Yang Mulia, melakukan pelanggaran ucapan-salah, Saya telah melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan,’ dan jika Sangha memperlakukannya sebagai pelanggaran yang melibatkan kegagalan, perlakuan itu atas pengakuan adalah tidak sah.

“Seorang bhikkhu melakukan pelanggaran ucapan-salah … Jika ia menjawab: ‘Saya tidak, Yang Mulia, melakukan pelanggaran ucapan-salah, saya telah melakukan pelanggaran berat, pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha … pelanggaran yang melibatkan penebusan, pelanggaran yang memerlukan pengakuan, pelanggaran perbuatan-salah,’ dan jika Sangha memperlakukannya sebagai pelanggaran perbuatan-salah, perlakuan itu atas pengakuan adalah tidak sah. ||1||

“Dan bagaimanakah, para bhikkhu, melakukan atas pengakuan adalah sah? Seorang bhikkhu melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan. Sangha atau beberapa (bhikkhu) atau seseorang mencelanya dengan mengatakan: ‘Yang Mulia telah melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan.’ Jika ia menjawab: ‘Benar, Yang Mulia, saya telah melakukan pelanggaran yang melibatkan kegagalan,’ dan jika Sangha memperlakukannya sebagai pelanggaran yang melibatkan kegagalan, perlakuan itu atas pengakuan adalah sah.

“Seorang bhikkhu melakukan pelanggaran yang memerlukan diadakannya sidang resmi Sangha … pelanggaran berat … pelanggaran ucapan-salah … Jika ia menjawab: ‘Benar, Yang Mulia, saya telah melakukan pelanggaran ucapan-salah,’ dan jika Sangha memperlakukannya sebagai pelanggaran ucapan-salah, perlakuan itu atas pengakuan adalah  sah. ||2||8||

Pada saat itu para bhikkhu sedang bersaing, bertengkar, berselisih di tengah-tengah Sangha, mereka saling melukai satu sama lain dengan senjata lidah; mereka tidak mampu memecahkan pertanyaan resmi itu. Mereka mengadukan persoalan itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memecahkan pertanyaan resmi ini melalui keputusan mayoritas.’  Seorang bhikkhu yang memiliki lima kualitas harus dengan sepakat ditunjuk sebagai pembagi tiket (pemungutan suara): seorang yang tidak mengikuti jalan salah melalui tindakan memihak, seorang yang tidak mengikuti jalan salah melalui kebencian … melalui kebodohan … melalui ketakutan, yang mengetahui apa yang diambil dan apa yang tidak.  Dan seperti inilah, para bhikkhu, seharusnya ia ditunjuk dengan sepakat: Pertama-tama, seorang bhikkhu harus diminta. Setelah diminta. Sangha harus diberitahu oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Jika baik menurut Sangha, maka Sangha harus sepakat untuk menunjuk bhikkhu ini sebagai pembagi tiket (pemungutan suara). Ini adalah usul. Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Sangha sepakat menunjuk bhikkhu ini sebagai pembagi tiket (pemungutan suara). Jika kesepakatan dalam menunjuk bhikkhu ini sebagai pembagi tiket (pemungutan suara) sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menyetujui silahkan bicara. Bhikkhu ini disepakati oleh Sangha sebagai pembagi tiket (pemungutan suara). Ini sesuai dengan kehendak Sangha, oleh karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’ ||9|| [84]

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #22 on: 06 March 2012, 11:11:48 PM »
“Para bhikkhu, ada sepuluh pembagian tiket (pemungutan suara) yang tidak sah, dan sepuluh yang sah. Apakah sepuluh pembagian tiket (pemungutan suara) yang tidak sah?  Jika pertanyaan resmi itu hanya masalah kecil dan jika tidak berjalan sesuai jalurnya,  dan jika tidak diingat atau diingatkan,  dan jika ia mengetahui bahwa mereka yang menganut bukan-dhamma lebih banyak (dalam jumlah), bahkan jika ia berpikir bahwa mereka yang menganut bukan-dhamma mungkin lebih banyak (dalam jumlah), jika ia mengetahui bahwa Sangha akan terpecah, jika ia bahkan berpikir bahwa Sangha mungkin terpecah, jika mereka mengambil (tiket) tidak menurut aturan,   jika mereka megambilnya saat pertemuan belum lengkap, dan jika mereka mengambilnya bukan menurut pandangan mereka.  Sepuluh pembagian tikat (pemungutan suara) ini adalah tidak sah. ||1||

Apakah sepuluh pembagian tiket (pemungutan suara) yang sah?  Jika pertanyaan resmi itu bukan sekedar masalah kecil dan jika berjalan sesuai jalurnya, dan jika diingat atau diingatkan, dan jika ia mengetahui bahwa mereka yang menganut dhamma lebih banyak (dalam jumlah), bahkan jika ia berpikir bahwa mereka yang menganut dhamma mungkin lebih banyak (dalam jumlah), jika ia mengetahui bahwa Sangha tidak akan terpecah, jika ia bahkan berpikir bahwa Sangha mungkin tidak terpecah, jika mereka mengambil (tiket) menurut aturan, jika mereka megambilnya saat pertemuan telah lengkap, dan jika mereka mengambilnya menurut pandangan mereka. Sepuluh pembagian tikat (pemungutan suara) ini adalah sah. ||2||10||

Pada saat itu Bhikkhu Uvāla, ketika sedang diperiksa pelanggaran-pelanggarannya di tengah-tengah Sangha, setelah membantah,  ia mengakui, setelah mengakui, ia membantah. Ia megalihkan pertanyaan dengan (menanyakan) pertanyaan lainnya, ia mengatakan kebohongan dengan sadar. Para bhikkhu lainnya … menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin Bhikkhu Uvāla ini, ketika sedang diperiksa … mengatakan kebohongan dengan sadar?” kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Benarkah, bahwa dikatakan, para bhikkhu …?”

“Benar, Bhagavā.” setelah mencela mereka, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Baiklah, para bhikkhu, Sangha harus mengadakan sidang (resmi) untuk memutuskan kesalahan tertentu  Bhikkhu Uvāla. ||1||

Dan seperti inilah, hal ini dilakukan: Pertama-tama, Bhikkhu Uvāla harus dicela, setelah mencelanya, ia harus diingatkan, setelah diingatkan, ia harus dibuat agar mengakui  pelanggarannya, setelah ia mengakui pelanggarannya, Sangha harus diberitahu oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Bhikkhu Uvāla ini, ketika sedang diperiksa pelanggaran-pelanggarannya di tengah-tengah Sangha, setelah membantah, ia mengakui … ia mengatakan kebohongan dengan sadar. Jika baik menurut Sangha, maka silahkan Sangha mengadakan sidang (resmi) untuk memutuskan kesalahan tertentu Bhikkhu Uvāla. Ini adalah usul. Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Bhikkhu Uvāla ini … mengatakan kebohongan dengan sadar. Jika sidang (resmi) untuk memutuskan kesalahan tertentu Bhikkhu Uvāla sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; mereka yang tidak menghendaki silahkan berbicara … Untuk ketiga kalinya saya menyampaikan persoalan ini … Sidang (resmi) untuk memutuskan kesalahan tertentu Bhikkhu Uvāla diadakah oleh Sangha atas Bhikkhu Uvāla. Hal ini sesuai dengan kehendak Sangha; oleh karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’ ||2||11|| [85]

“Para bhikkhu, lima landasan atas sebuah sidang (resmi) untuk suatu kesalahan tertentu adalah sah: jika ia menjadi tidak murni,  dan jika ia tidak waspada, dan jika ia mencari-cari kesalahan,  dan jika Sangha mengadakan sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu atas dirinya, jika menuruti aturan dan dalam kelompok yang lengkap. Lima landasan ini, para bhikkhu, dalam mengadakan sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu adalah sah. ||1||

“Para bhikkhu, jika suatu sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu yang memiliki tiga kualitas, maka sidang (resmi) ini menjadi suatu sidang (resmi) yang tidak menurut aturan, suatu sidang (resmi) yang tidak menurut disiplin, dan sulit diselesaikan: jika diadakan tanpa kehadiran si pelanggar, jika diadakan tanpa interogasi, jika diadakan tanpa pengakuan …    jika diadakan tidak menurut aturan, jika diadakan dalam kelompok yang tidak lengkap. Para bhikkhu, jika suatu sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu yang memiliki tiga kualitas ini, maka sidang (resmi) ini menjadi suatu sidang (resmi) yang tidak menurut aturan, suatu sidang (resmi) yang tidak menurut disiplin, dan sulit diselesaikan.

“Para bhikkhu, jika suatu sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu yang memiliki tiga kualitas, maka sidang (resmi) ini menjadi suatu sidang (resmi) yang menurut aturan, suatu sidang (resmi) yang menurut disiplin, dan mudah diselesaikan, jika diadakan dengan kehadiran si pelanggar, jika diadakan dengan interogasi, jika diadakan atas pengakuan …    jika diadakan menurut aturan, jika diadakan dalam kelompok yang lengkap. Para bhikkhu, jika suatu sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu yang memiliki tiga kualitas ini, maka sidang (resmi) ini menjadi sidang (resmi) yang menurut aturan, suatu sidang (resmi) yang menurut disiplin, dan mudah diselesaikan. ||2||
 
“Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu memiliki tiga kualitas ini,  maka Sangha, jika menghendaki, boleh mengadakan sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu atas bhikkhu tersebut: jika ia pembuat pesaingan, jika ia pembuat pertengkaran, jika ia pembuat perselisihan, jika ia pembuat perdebatan, jika ia pembuat pertanyaan resmi dalam Sangha; jika ia bodoh, tidak berpengalaman, melakukan banyak pelanggaran, tidak menghindarinya; jika ia hidup dengan bergaul dengan para perumah tangga dalam pergaulan yang tidak sepantasnya dengan para perumah tangga. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu memiliki tiga kualitas ini, maka Sangha, jika menghendaki, boleh mengadakan sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu atas bhikkhu tersebut. ||3||

Seorang bhikkhu yang dikenai sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu  harus berperilaku sepantasnya. Berikur ini adalah perilaku sepantasnya dalam kasus ini: ia tidak boleh menahbiskan, ia tidak boleh memberikan bimbingan, samaṇera tidak boleh melayaninya, ia tidak boleh menyetujui permohonan untuk menasehati bhikkhunī, bahkan jika ia menyetujui, ia tidak boleh menasehati bhikkhunī … ia tidak boleh bertengkar dengan bhikkhu lain.” ||4||

Kemudian Sangha mengadaka sidang (resmi) untuk kesalahan tertentu atas bhikkhu Uvāla. ||5||12||

Pada saat itu, sewaktu para bhikkhu sedang bersaing, bertengkar, berselisih, banyak melakukan perbuatan dan ucapan yang tidak sepantasnya bagi seorang petapa.  Kemudian para bhikkhu itu berpikir:  “Sewaktu kami sedang bersaing … tidak sepantasnya bagi seorang petapa. Jika kami saling memperlakukan satu sama lain dengan pelanggaran ini, mungkin saja pertanyaan resmi itu bahkan akan menjadi semakin tajam, menyulitkan, dan mengarah pada perpecahan. Sekarang, [86] aturan apakah yang harus kami ikuti?” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana, sewaktu para bhikkhu sedang bersaing … banyak melakukan perbuatan dan ucapan yang tidak sepantasnya bagi seorang petapa. Kemudian para bhikkhu itu berpikir:  ‘Sewaktu kami sedang bersaing … mungkin saja pertanyaan resmi itu bahkan akan menjadi semakin tajam, menyulitkan, dan mengarah pada perpecahan.’ Aku memperbolehkan, para bhikkhu, suatu pertanyaan resmi seperti ini diselesaikan dengan cara menutupinya (seperti halnya) dengan rumput.  ||1||

“Dan seperti inilah, para bhikkhu, hal ini diselesaikan: Semua harus berkumpul di satu tempat; setelah berkumpul, Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon mendengarkan saya. Selagi kami bersaing … ‘ ‘ … mungkin saja pertanyaan resmi itu bahkan akan menjadi semakin tajam, menyulitkan, dan mengarah pada perpecahan.’ Jika baik menurut Sangha, maka Sangha boleh menyelesaikan pertanyaan resmi ini dengan menutupinya (seperti) dengan rumput, jika itu bukan pelanggaran berat,  jika tidak berhubungan dengan umat awam.  Salah satu pihak harus diberitahukan oleh seoang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman yang berasal dari para bhikkhu di pihak yang sama: ‘Mohon Yang Mulia mendengarkan  saya. Selagi kami bersaing … tidak sepantasnya bagi seorang petapa … pada perpecahan. Jika ini sesuai dengan kehendak Yang Mulia, saya ingin memberikan pengakuan atas apapun pelanggaran-pelanggaran dari Yang Mulia dan juga pelanggaran-pelanggaran saya, baik demi Yang Mulia dan demi diri saya, jika bukan pelanggaran berat, jika tidak berhubungan dengan umat awam, (dengan maksud) menutupi (seperti) dengan rumput di tengah-tengah Sangha.’ Selanjutnya, pihak lainnya harus diberitahukan oleh seoang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman yang berasal dari para bhikkhu di pihak yang sama: ‘Mohon Yang Mulia mendengarkan saya. Sewaktu kami sedang bersaing … menutupi (seperti) dengan rumput di tengah-tengah Sangha.’ ||2||

Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman yang berasal dari para bhikkhu di satu pihak: ‘Mohon Yang Mulia mendengarkan  saya. Selagi kami bersaing … tidak sepantasnya bagi seorang petapa … pada perpecahan. Jika ini sesuai dengan kehendak Yang Mulia, saya ingin memberikan pengakuan atas apapun pelanggaran-pelanggaran dari Yang Mulia dan juga pelanggaran-pelanggaran saya, baik demi Yang Mulia dan demi diri saya, jika bukan pelanggaran berat, jika tidak berhubungan dengan umat awam, (dengan maksud) menutupi (seperti) dengan rumput di tengah-tengah Sangha. Ini adalah usul. Yang Mulia, mohon mendengarkan saya. Selagi kami bersaing … tidak sepantasnya bagi seorang petapa … pada perpecahan. Saya mengakui apapun pelanggaran-pelanggaran dari Yang Mulia dan juga pelanggaran-pelanggaran saya …  jika bukan pelanggaran berat, jika tidak berhubungan dengan umat awam, (dengan maksud) menutupi (seperti) dengan rumput di tengah-tengah Sangha. Jika pengakuan kami atas pelanggaran-pelanggaran kami ini, jika bukan pelanggaran berat, jika tidak berhubungan dengan umat awam,  (dengan maksud) menutupi (seperti) dengan rumput di tengah-tengah Sangha, sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; mereka yang tidak menghendaki silahkan berbicara. Pelanggaran-pelanggaran kami ini diakui (oleh saya), kecuali pelanggaran berat, kecuali yang berhubungan dengan umat awam, (dengan maksud) menutupi (seperti) dengan rumput di tengah-tengah Sangha. [87] Hal ini sesuai dengan keinginan Sangha, oleh karena itu Sangha berdiam diri. Demikianlah saya memahami hal ini.’

“Selanjutnya, Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman yang berasal dari para bhikkhu di pihak lainnya: ‘Mohon Yang Mulia mendengarkan  saya. Selagi kami bersaing … Demikianlah saya memahami hal ini.’ ||3||

“Dan demikianlah, para bhikkhu, pelanggaran-pelanggaran ini dibersihkan dari bhikkhu-bhikkhu itu,  kecuali untuk pelanggaran-pelanggaran berat, kecuali untuk apa yang berhubungan dengan umat awam, kecuali untuk (mereka yang membuat) pernyataan terbuka atas pandangan-pandangan mereka,  kecuali untuk mereka yang tidak hadir di sana.”  ||4||13||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #23 on: 06 March 2012, 11:12:50 PM »

Pada saat itu, para bhikkhu berselisih dengan para bhikkhu lainnya dan para bhikkhunī berselisih dengan para bhikkhu dan Bhikkhu Channa, memasuki (ruangan) bhikkhunī turut berselisih dengan para bhikkhu dan memihak para bhikkhunī. Para bhikkhu lainnya mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin Bhikkhu Channa memasuki (ruangan) bhikkhunī turut berselisih dengan para bhikkhu dan memihak para bhikkhunī?” Kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata “Benarkah, bahwa dikatakan, para bhikku, …?”

“Benar, Bhagavā.” Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu: ||1||

“Para bhikkhu, ada empat jenis pertanyaan resmi ini, pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan, pertanyaan resmi yang muncul dari celaan, pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban.

“Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan? ini adalah sebuah kasus, para bhikkhu, dimana para bhikkhu berselisih, mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’, atau ‘ini adalah bukan-dhamma’, atau ‘ini adalah disiplin’, atau ‘ini adalah bukan-disiplin’ atau ‘ini diucapkan oleh Sang Penemu-Kebenaran’ atau ‘ini tidak diucapkan oleh Sang Penemu-Kebenaran’ atau ‘ini dipraktikkan oleh Sang Penemu-Kebenaran’ atau ‘ini tidak dipraktikkan oleh Sang Penemu-Kebenaran’ atau ‘ini ditetapkan oleh Sang Penemu-Kebenaran’ atau ‘ini tidak ditetapkan oleh Sang Penemu-Kebenaran’ atau ‘ini adalah pelanggaran’ atau ‘ini adalah bukan-pelanggaran’ atau ‘ini adalah pelanggaran ringan’ atau ‘ini adalah pelanggaran serius’  atau ‘ini adalah pelanggaran yang dapat dimurnikan dengan’ atau  ‘ini adalah pelanggaran yang tidak dapat dimurnikan dengan’ atau ‘ini adalah pelanggaran berat’ atau ‘ini bukanlah pelanggaran berat’. Apakah sebutan ini adalah persaingan, pertengkaran, perdebatan, perselisihan, perbedaan pendapat, pendapat lain ini, karena sebutan umum dari situasi panas ini adalah ‘pertengkaran’, maka ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan.

 “Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Dalam hal ini, para bhikkhu, dimana para bhikkhu mencela seorang bhikkhu lain karena jatuh dari perilaku bermoral atau jatuh dari perilaku baik atau jatuh dari pandangan benar atau jatuh dari penghidupan benar. Apakah sebutan ini adalah mencela, mencari kesalahan, berbicara, memarahi, berdebat, mempengaruhi, menghasut, ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari celaan.

“Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran? Lima kelompok pelanggaran  (menghasilkan) pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran dan tujuh kelompok  (menghasilkan) pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran. Ini disebut [88] pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran.

“Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban? Apapun urusan Sangha dan yang harus dilakukan: sidang (resmi) yang harus dimohon,  sidang (resmi) di mana suatu usul diajukan, sidang (resmi) di mana suatu usul diajukan dan diikuti dengan solusi yang diajukan tiga kali.

“Apakah sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan? Enam sumber perselisihan adalah sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan: ada tiga sumber tidak terampil yang merupakan sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan serta tiga sumber terampil yang merupakan sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan.

“Apakah enam sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan? Dalam hal ini, seorang bhikkhu menjadi marah dan memendam kebencian.  Para bhikkhu, bhikkhu manapun yang menjadi marah dan memendam kebencian, ia hidup tanpa rasa hormat, tidak menghormati guru, dan hidup tanpa rasa hormat, tidak menghormati dhamma, dan ia hidup tanpa rasa hormat, tidak menghormati Sangha, dan ia tidak menyelesaikan latihan. Para bhikkhu, bhikkhu manapun yang hidup tanpa rasa hormat, tidak menghormati guru, dhamma, dan Sangha dan tidak menyelesaikan latihan, ia menyebabkan perselisihan dalam Sangha, dan perselisihan itu dapat membahayakan banyak orang, mengurangi kenyamanan banyak orang, mengacaukan tujuan banyak orang, membahayakan dan mengecewakan para deva dan manusia. Jika, kalian, para bhikkhu, mengetahui sumber perselisihan seperti ini di antara kelompok kalian sendiri atau kelompok lainnya, maka kalian, para bhikkhu, harus berusaha untuk menghancurkan dengan tepat sumber perselisihan itu. Jika, kalian, para bhikkhu, tidak mengetahui sumber perselisihan seperti ini di antara kelompok kalian sendiri atau kelompok lainnya, maka kalian, para bhikkhu, harus  mengikuti cara-cara (untuk menghentikan) munculnya dampak di masa depan dari sumber perselisihan itu. Demikianlah, dengan menghancurkan sumber perselisihan, demikianlah, dengan tidak adanya dampak di masa depan dari sumber perselisihan.

“Dan lagi, para bhikkhu, seorang bhikkhu menjadi kasar  dan tidak berbelas kasih, ia menjadi dengki dan dendam, ia menjadi licik dan penuh muslihat, ia menjadi memiliki keinginan jahat dan pandangan salah, ia menjadi terpengaruh oleh keduniawian, sifat keras kepala, bandel.  Para bhikkhu, bhikkhu yang hidup tanpa rasa hormat, tidak menghormati Guru … demikianlah, dengan tidak adanya dampak di masa depan dari sumber perselisihan. Enam sumber perselisihan ini adalah sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan. ||3||

“Tiga sumber tidak terampil apakah yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan? Dalam hal ini, para bhikkhu berselisih dengan rasa iri-hati dalam pikiran, mereka berselisih dengan kekotoran dalam pikiran, mereka berselisih dengan kekeliruan dalam pikiran, mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’ atau ‘Ini bukanlah dhamma’ atau … ‘Ini bukanlah pelanggaran berat.’  Tiga sumber tidak terampil ini adalah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan.
 
“Tiga sumber terampil apakah yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan? Dalam hal ini, para bhikkhu berselisih tanpa rasa iri-hati dalam pikiran, mereka berselisih tanpa kekotoran dalam pikiran, mereka berselisih tanpa kekeliruan dalam pikiran, [89] mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’ atau ‘Ini bukanlah dhamma’ atau … ‘Ini bukanlah pelanggaran berat.’  Tiga sumber terampil ini adalah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan. ||4||

“Apakah sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Enam sumber perselisihan adalah sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari celaan: ada tiga sumber tidak terampil yang merupakan sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari celaan serta tiga sumber terampil yang merupakan sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari celaan; badan jasmani juga adalah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan; ucapan juga adalah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan.

“Apakah enam sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Dalam hal ini, seorang bhikkhu menjadi marah dan memendam kebencian … (seperti pada ||3|| dengan menggantikan perselisihan menjadi celaan, dan seterusnya) … Enam sumber celaan ini adalah sumber dari pertanyaan resmi yang muncul dari celaan.

“Tiga sumber tidak terampil apakah yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Dalam hal ini, para bhikkhu dengan rasa iri-hati dalam pikiran, mencela seorang bhikkhu, dengan kekotoran dalam pikiran mereka mencela(nya), dengan kekeliruan dalam pikiran mereka mencelanya sebagai telah jatuh dari kebiasaan bermoral atau jatuh dari kebiasaan baik atau jatuh dari pandangan benar atau jatuh dari penghidupan benar. Tiga sumber tidak terampil ini adalah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan.
 
“Tiga sumber terampil apakah yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Dalam hal ini, para bhikkhu, tanpa rasa iri-hati dalam pikiran, mencela seorang bhikkhu; tanpa kekotoran dalam pikiran … tanpa kekeliruan dalam pikiran mereka mencelanya sebagai telah jatuh dari kebiasaan bermoral … jatuh dari penghidupan benar. Tiga sumber terampil ini adalah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan.

(Jenis) badan jasmani apakah yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Dalam hal ini seseorang memiliki warna yang tidak indah,  buruk rupa, cacat, sangat sakit atau buta sebelah atau lumpuh atau pincang atau timpang, yang karenanya mereka mencelanya. Ini adalah (jenis) badan jasmani yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan.

(Jenis) ucapan apakah yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Dalam hal ini seseorang mengeluh, gagap, bersuara parau, yang karenanya mereka mencelanya. Ini adalah (jenis) ucapan yang menjadi sumber pertanyaan resmi yang muncul dari celaan. ||5||

“Apakah enam sumber pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran? Enam sumber pelanggaran adalah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran: ada pelanggaran yang berasal dari badan jasmani, bukan dari ucapan, bukan dari pikiran; ada pelanggaran yang berasal dari ucapan, bukan dari badan jasmani, bukan dari pikiran; ada pelanggaran yang berasal dari badan jasmani dan dari pikiran, bukan dari ucapan; ada pelanggaran yang berasal dari ucapan dan dari pikiran, bukan dari badan jasmani; ada pelanggaran yang berasal dari badan jasmani, dari ucapan dan dari pikiran. Enam sumber pelanggaran ini adalah enam sumber pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran. ||6||

“Apakah sumber pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban? Sangha adalah satu-satunya sumber pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban. ||7|| [90]

“Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan: apakah terampil, tidak terampil, tidak dapat ditentukan? Pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan mungkin saja terampil, mungkin tidak terampil, mungkin tidak dapat ditentukan. Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan yang terampil? Dalam hal ini, para bhikkhu yang berpikiran terampil berselisih, mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’, atau ‘ini adalah bukan-dhamma’, … ‘ini bukanlah pelanggaran berat’. Apakah di sana terjadi persaingan, pertengkaran, perdebatan, perselisihan, perbedaan pendapat, pendapat lain, karena sebutan umum dari situasi panas ini adalah ‘pertengkaran’, maka ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan yang terampil.

“Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan yang tidak terampil? Dalam hal ini, para bhikkhu yang berpikiran tidak terampil berselisih, mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’, atau ‘ini adalah bukan-dhamma’, … ‘ini bukanlah pelanggaran berat’ … karena sebutan umum dari situasi panas ini adalah ‘pertengkaran’, maka ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan yang tidak terampil.

“Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan yang tidak dapat ditentukan? Dalam hal ini, para bhikkhu yang pikirannya tidak dapat ditentukan berselisih, mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’, atau ‘ini adalah bukan-dhamma’, … ‘ini bukanlah pelanggaran berat’ … disebut pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan yang tidak dapat ditentukan. ||8||

“Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan: apakah terampil, tidak terampil, tidak dapat ditentukan? Pertanyaan resmi yang muncul dari celaan mungkin saja terampil, mungkin tidak terampil, mungkin tidak dapat ditentukan. Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari celaan yang terampil? Dalam hal ini, para bhikkhu yang berpikiran terampil mencela seorang bhikkhu sebagai telah jatuh dari kebiasaan bermoral atau jatuh dari kebiasaan baik atau jatuh dari pandangan benar atau jatuh dari penghidupan benar. Apakah di sana terjadi tindakan mencela, menyalahkan, berbicara, memarahi, berdebat, mempengaruhi, menghasut, ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari celaan yang terampil.

“Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari celaan yang tidak terampil? Dalam hal ini, para bhikkhu yang berpikiran tidak terampil mencela seorang bhikkhu, … Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari celaan yang tidak dapat ditentukan? para bhikkhu yang pikirannya tidak dapat ditentukan mencela seorang bhikkhu sebagai jatuh dari kebiasaan bermoral … dari penghidupan benar. Apakah di sana terjadi tindakan mencela, menyalahkan, berbicara, memarahi, berdebat, mempengaruhi, menghasut, ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari celaan yang tidak dapat ditentukan. ||9||

“Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran: apakah terampil, tidak terampil, tidak dapat ditentukan? Pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran mungkin saja tidak terampil, mungkin tidak dapat ditentukan. Tidak ada pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, yang terampil. Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, yang tidak terampil? Pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja, dengan sadar, dengan sungguh-sungguh  adalah yang disebut disebut pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, yang tidak terampil.

“Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, yang tidak dapat ditentukan? Pelanggaran yang dilakukan dengan tidak sengaja, dengan tidak sadar, dengan tidak sungguh-sungguh adalah yang disebut disebut pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, yang tidak dapat ditentukan. ||10||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #24 on: 06 March 2012, 11:13:27 PM »
“Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban: apakah terampil, tidak terampil, tidak dapat ditentukan? Pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban mungkin saja terampil, mungkin tidak terampil, mungkin tidak dapat ditentukan. Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban, yang terampil? Sidang (resmi) apapun yang diadakan oleh Sangha, dengan pikiran baik: Sidang (resmi) atas permohonan meninggalkan tempat, sidang (resmi) atas pengajuan usul, sidang (resmi) atas pengajuan usul diikuti dengan satu keputusan, sidang (resmi) atas pengajuan usul diikuti dengan satu keputusan yang diulang tiga kali  - ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban, yang terampil.

“Apakah [91] pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban yang tidak terampil? Sidang (resmi) apapun yang diadakan oleh Sangha, dengan pikiran tidak baik … Apakah pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban yang tidak dapat ditentukan? Sidang (resmi) apapun yang diadakan oleh Sangha, dengan pikiran yang tidak dapat ditentukan … ini disebut pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban, yang tidak dapat ditentukan.  ||11||

(Mungkinkah terdapat) suatu perselisihan dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan, suatu perselisihan (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, suatu pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada perselisihan, suatu pertanyaan resmi dan juga suatu perselisihan? Mungkin saja ada suatu perselisihan dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan, mungkin saja ada perselisihan (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, mungkin saja ada pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada perselisihan, mungkin saja ada suatu pertanyaan resmi dan juga suatu perselisihan.

“Apakah di sini suatu perselisihan dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan? Dalam hal ini, para bhikkhu berselisih, mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’, atau ‘ini adalah bukan-dhamma’, … ‘ini bukanlah pelanggaran berat’.  Apakah di sana terjadi persaingan, pertengkaran, perdebatan, perselisihan, perbedaan pendapat, pendapat lain, karena sebutan umum dari situasi panas ini adalah ‘pertengkaran’, maka ini disebut suatu perselisihan dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan.

“Apakah di sini suatu perselisihan (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi? Ibu berselisih dengan anak dan anak berselisih dengan ibu, dan ayah berselisih dengan anak dan anak berselisih dengan ayah, dan saudara laki-laki berselisih dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan dan saudara perempuan berselisih dengan saudara laki-laki, dan teman berselisih dengan teman. Ini adalah suatu perselisihan (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi (tetapi) bukan suatu perselisihan? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan,  suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban. Ini adalah suatu pertanyaan resmi (tetapi) bukan suatu perselisihan.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi dan juga suatu perselisihan? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan adalah suatu pertanyaan resmi dan juga suatu perselisihan. ||12||

(Mungkinkah terdapat) suatu celaan dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan, suatu celaan (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, suatu pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada celaan, suatu pertanyaan resmi dan juga suatu celaan? Mungkin saja ada suatu celaan dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan, mungkin saja ada celaan (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, mungkin saja ada pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada celaan, mungkin saja ada suatu pertanyaan resmi dan juga suatu celaan.

“Apakah di sini suatu celaan dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan? Dalam hal ini, para bhikkhu mencela seorang bhikkhu lain karena jatuh dari perilaku bermoral atau … jatuh dari penghidupan benar. Apakah sebutan ini adalah mencela, menyalahkan … menghasut. ini adalah celaan dan pertanyaan resmi yang muncul dari celaan.

“Apakah di sini suatu celaan (tetapi) bukan suatu pertanyaan resmi? Ibu mencela anak dan anak mencela ibu … dan teman mencela teman. Ini adalah celaan (tetapi) bukan suatu pertanyaan resmi.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi (tetapi) bukan celaan? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban, suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan. Ini adalah suatu pertanyaan resmi tetapi bukan celaan.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi dan juga celaan? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan adalah suatu pertanyaan resmi dan juga celaan. ||13||

(Mungkinkah terdapat) suatu pelanggaran dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, suatu pelanggaran (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, suatu pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada pelanggaran, suatu pertanyaan resmi dan juga suatu pelanggaran? Mungkin saja ada suatu pelanggaran dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, mungkin saja ada pelanggaran (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, mungkin saja ada pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada pelanggaran, mungkin saja ada suatu pertanyaan resmi dan juga suatu pelanggaran. [92]

“Apakah di sini suatu pelanggaran dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran? Lima kelompok pelanggaran (menghasilkan) suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran dan tujuh kelompok pelanggaran (menghasilkan) suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran ini adalah suatu pelanggaran dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran.

“Apakah di sini suatu pelanggaran (tetapi) bukan suatu pertanyaan resmi? Pencapaian-Arus dan Pencapaian.  Ini adalah “kejatuhan” tetapi bukan suatu pertanyaan resmi.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi (tetapi) bukan suatu pelanggaran? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban, suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan, suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan. Ini adalah suatu pertanyaan resmi (tetapi) bukan suatu pelanggaran.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi dan juga suatu pelanggaran? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran adalah suatu pertanyaan resmi dan juga suatu pelanggaran. ||14||

(Mungkinkah terdapat) suatu kewajiban dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban, suatu kewajiban (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, suatu pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada kewajiban, suatu pertanyaan resmi dan juga suatu kewajiban? Mungkin saja ada suatu kewajiban dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban, mungkin saja ada kewajiban (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi, mungkin saja ada pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada kewajiban, mungkin saja ada suatu pertanyaan resmi dan juga suatu kewajiban.

“Apakah di sini suatu kewajiban dan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban? Apapun urusan Sangha dan yang harus dilakukan oleh Sangha: Sidang (resmi) atas permohonan meninggalkan tempat, sidang (resmi) atas pengajuan usul, sidang (resmi) atas pengajuan usul diikuti dengan satu keputusan, sidang (resmi) atas pengajuan usul diikuti dengan satu keputusan yang diulang tiga kali – ini adalah kewaijban dan pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban.

“Apakah di sini suatu kewajiban (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi? Kewaijban kepada guru, kewaijban kepada penahbis, kewajiban kepada seseorang dengan penahbis yang sama, kewajiban kepada seseorang dengan guru yang sama. Ini adalah kewaijban (tetapi) tidak ada pertanyaan resmi.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada kewajiban? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan … muncul dari celaan … muncul dari pelanggaran. Ini adalah suatu pertanyaan resmi (tetapi) tidak ada kewajiban.

“Apakah di sini suatu pertanyaan resmi dan juga suatu kewajiban? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban adalah suatu pertanyaan resmi dan juga suatu kewajiban. ||15||

“Berapakah jenis keputusan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan disepakati? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan (disepakati) melalui dua (jenis) keputusan: melalui keputusan yang dihadiri dan oleh keputusan suara terbanyak. Jika seseorang mengatakan: ‘Mungkinkah, sehubungan dengan pertanyaan resmi yang muncul dari perselisihan, tanpa mengikuti satu (jenis) keputusan – keputusan oleh suara terbanyak – seseorang sepakat melalui (jenis) keputusan lainnya – keputusan yang dihadiri?’ ia harus dijawab: ‘Mungkin saja’. Ini adalah seperti berikut: dalam hal ini, para bhikkhu berselisih, mengatakan: ‘Ini adalah dhamma’ … atau ‘ini adalah pelanggaran berat.’ Jika , para bhikkhu, para bhikkhu dapat menyelesaikan pertanyaan resmi itu, ini, para bhikkhu, disebut pertanyaan resmi yang terselesaikan. Dengan apakah diselesaikan? Dengan keputusan yang dihadiri. Dan apakah di sini (yang diperlukan) untuk suatu keputusan yang dihadiri? Kehadiran Sangha, kehadiran aturan, kehadiran disiplin, kehadiran para individu.

“Dan apakah di sini kehadiran Sangha? Ketika sejumlah bhikkhu berkompeten untuk diadakannya suatu sidang (resmi) telah hadir, jika persetujuan dari mereka yang harus (menyampaikan) persetujuan telah disampaikan, jika saat bertatap muka mereka tidak memprotes. Ini adalah apa yang dimaksudkan dengan kehadiran Sangha.

“Dan apakah di sini kehadiran aturan, [93] kehadiran disiplin? Jika pertanyaan resmi itu diselesaikan dengan aturan apapun, dengan disiplin apapun, dengan instruksi Sang Guru yang manapun, ini adalah apa yang dimaksudkan dengan kehadiran aturan, kehadiran disiplin.

“Dan apakah di sini kehadiran para individu? Siapapun yang bertengkar dan dengan siapa ia bertengkar, keduanya, yang berlawanan dalam persoalan ini,  datang saling berhadapan. Ini adalah apa yang dimaksudkan dengan kehadiran para individu.

“Para bhikkhu, jika suatu pertanyaan resmi diselesaikan demikian, dan jika seseorang yang mengadakannya membukanya kembali, dengan membukanya maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan.  Jika seseorang yang telah memberikan persetujuan  mengkritiknya, dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan.  ||16||

“Jika, para bhikkhu, para bhikkhu itu tidak mampu menyelesaikan pertanyaan resmi itu di tempat tinggal mereka itu, maka, para bhikkhu, para bhikkhu itu harus pergi ke tempat tinggal para bhikkhu lainnya di mana terdapat lebih banyak bhikkhu. Jika, para bhikkhu, para bhikkhu itu saat pergi ke tempat tinggal para bhikkhu lain mampu menyelesaikan pertanyaan resmi itu dalam perjalanan, ini, para bhikkhu, disebut pertanyaan resmi yang terselesaikan. Dengan apakah diselesaikan? Dengan keputusan yang dihadiri … (seperti pada ||16||) … dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||17||

“Jika, para bhikkhu, para bhikkhu itu saat pergi ke tempat tinggal para bhikkhu lain tidak mampu menyelesaikan pertanyaan resmi itu dalam perjalanan, maka, para bhikkhu, para bhikkhu ini, setelah tiba di tempat tinggal para bhikkhu lain itu, harus berkata kepada para bhikkhu tuan rumah: ‘Pertanyaan resmi ini, Yang Mulia, telah muncul demikian, telah berkembang demikian. Baik sekali jika Yang Mulia dapat menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru, sehingga, pertanyaan resmi ini dapat diselesaikan dengan baik.’ Jika, para bhikkhu, para bhikkhu tuan rumah lebih senior dan para bhikkhu pendatang lebih junior, maka, para bhikkhu, para bhikkhu tuan rumah harus menjawab sebagai berikut kepada para bhikkhu pendatang: ‘Silahkan Yang Mulia berada pada jarak yang sepantasnya sebentar sampai kami mempertimbangkan hal ini.’ Tetapi jika, para bhikkhu, para bhikkhu tuan rumah lebih junior dan para bhikkhu pendatang lebih senior, maka, para bhikkhu, para bhikkhu tuan rumah harus menjawab sebagai berikut kepada para bhikkhu pendatang: ‘Baiklah, Silahkan Yang Mulia berada pada jarak yang sepantasnya sebentar sampai kami mempertimbangkan hal ini.’ Jika, para bhikkhu, ketika mempertimbangkan hal ini para bhikkhu tuan rumah berpikir: ‘Kita tidak dapat menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru.’ maka pertanyaan resmi ini sebaiknya tidak diambil alih. Tetapi jika, para bhikkhu, ketika mempertimbangkan hal ini para bhikkhu tuan rumah berpikir: ‘Kita dapat menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru.’ maka para bhikkhu tuan rumah harus menjawab kepada para bhikkhu pendatang: ‘Jika kalian, Yang Mulia, [94] sudi memberitahukan bagaimana pertanyaan resmi ini muncul, bagaimana pertanyaan resmi ini berkembang, maka setelah kami menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru, maka pertanyaan resmi ini terselesaikan.  Dengan ini kami mengambil alih pertanyaan resmi ini. Tetapi jika kalian, Yang Mulia, tidak memberitahukan bagaimana pertanyaan resmi ini muncul, bagaimana pertanyaan resmi ini berkembang, maka setelah kami menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru, maka pertanyaan resmi ini terselesaikan. Tetapi kami tidak akan mengambil alih pertanyaan resmi ini.’ Setelah ketentuan ini disepakati dengan baik, para bhikkhu, pertanyaan resmi itu harus diambil alih oleh para bhikkhu tuan rumah. Para bhikkhu, para bhikkhu pendatang harus berkata kepada para bhikkhu tuan rumah sebagai berikut: ‘Kami akan memberitahukan kepada Yang Mulia, bagaimana pertanyaan resmi ini muncul, bagaimana pertanyaan resmi ini brkembang. Jika Yang Mulia mampu, dengan atau tanpa penjelasan ini  menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru, maka pertanyaan resmi ini terselesaikan dengan baik, dan kami akan mengalihkan pertanyaan resmi ini kepada Yang Mulia. Tetapi jika Yang Mulia tidak mampu, dengan atau tanpa penjelasan ini, menyelesaika pertanyaan resmi ini menurut … instruksi Sang Guru, maka pertanyaan resmi ini tidak terselesaikan dan kami tidak akan mengalihkan pertanyaan resmi ini kepada Yang Mulia – kami sendiri yang akan menjadi guru  sehubungan dengan pertanyaan resmi ini.’ Setelah ketentuan ini disepakati dengan baik, para bhikkhu, para bhikkhu pendatang harus mengalihkan pertanyaan resmi itu kepada para bhikkhu tuan rumah. Para bhikhu, jika para bhikkhu itu mampu menyelesaikan pertanyaan resmi itu, ini, para bhikkhu, disebut suatu pertanyaan resmi yang terselesaikan. Dengan apakah diselesaikan? … (seperti pada ||16|| … dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||18||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #25 on: 06 March 2012, 11:14:13 PM »
“Jika, para bhikkhu, sewaktu para bhikkhu ini sedang menyelidiki pertanyaan resmi itu, muncul perselisihan tanpa akhir,  dan tidak ada satu keputusan yang membuat maknanya mejadi jelas. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menyelesaikan pertanyaan resmi seperti ini melalui pemungutan suara umum.  Seorang bhikkhu yang memiliki sepuluh kualitas harus ditunjuk untuk mengadakan pemungutan suara umum: seorang yang memiliki kebiasaan bermoral,  yang hidupnya terkendali oleh pengendalian Pātimokkha, yang memiliki perilaku baik, melihat bahaya dalam pelanggaran sekecil apapun, yang menjalani dan melatih dirinya dalam aturan-aturan latihan, yang telah banyak mendengar, seorang ahli dalam apa yang didengar, gudang dari apa yang terdengar; hal-hal yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, menyatakan dengan penuh semangat, dengan kata-kata bagaikan pengembaraan Brahma yang tuntas, murni sepenuhnya – hal-hal seperti ini telah banyak didengar olehnya, telah dipalajari, diulangi, direnungkan, dipertimbangkan dengan seksama, ditembus dengan baik melalui pandangan, Pātimokkha telah dengan baik diturunkan kepadanya secara terperinci, dikelompokkan dengan baik, pengaturannya baik, diselidiki dengan baik kalimat demi kalimat [95] sehubungan dengan bentuk bahasa; ia menjadi cerdas dalam hal disiplin, tidak tergoahkan; ia berkompten dalam meyakinkan kedua belah pihak yang saling berselisih atas persoalan itu, dalam hal mengatasi mereka, dalam hal membuat mereka merenungkan, dalam hal memahami, dalam hal mendamaikan mereka; ia menjadi terampil dalam hal menyelesaikan pertanyaan resmi yang telah muncul; ia mengetahui apa pertanyaan resmi itu; ia mengetahui bagaimana berkembangnya pertanyaan resmi itu; ia mengetahui berakhirnya pertanyaan resmi itu; ia mengetahui jalan menuju berakhirnya pertanyaan resmi itu. Aku Mengizinkan, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang memiliki sepuluh kualitas ini ditunjuk untuk mengadakan pemungutan suara umum. ||19||

“Dan seperti inilah, bagaimana ia seharusnya ditunjuk: Pertama-tama, seorang bhikkhu harus diminta; setelah diminta, Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Sewaktu kami sedang menyelidiki pertanyaan resmi ini muncul perselisihan yang tanpa akhir dan tidak ada seorangpun yang dapat menyelesaikannya. Jika baik menurut Sangha, silahkan Sangha menunjuk bhikkhu anu dan anu untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui pemungutan suara umum. Ini adalah usul. Yang Mulia, Mohon Sangha mendengarkan saya. Sewaktu kami sedang menyelidiki pertanyaan resmi ini …  yang dapat menyelesaikannya. Sangha menunjuk bhikkhu anu dan anu untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui pemungutan suara umum. Jika penunjukan bhikkhu anu dan anu untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui pemungutan suara umum sesuai dengan kehendak Yang Mulia, maka Yang Mulia cukup berdiam diri; ia yang tidak menghendaki silahkan berbicara. Bhikkhu anu dan anu ditunjuk oleh Sangha untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui pemungutan suara umum. Ini sesuai dengan kehendak … demikianlah saya memahami hal ini. ||20||

“Jika, para bhikkhu, bhikkhu-bhikkhu ini mampu menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui pemungutan suara umum, ini, para bhikkhu, disebut pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri. Dan apakah yang diperlukan di sini untuk suatu keputusan yang dihadiri? Kehadiran aturan, kehadiran disiplin, kehadiran para individu … (seperti pada ||16||) … Jika, para bhikkhu, pertanyaan resmi itu diselesaikan demikian, dan jika orang yang menyelenggarakannya membukanya kembali, dengan membukanya kembali maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan.  ||21||

“Jika, para bhikkhu, sewaktu bhikkhu-bhikkhu itu sedang menyelidiki pertanyaan resmi itu, di sana terdapat seorang bhikkhu yang adalah seorang pembabar dhamma tetapi yang kepadanya aturan-aturan  dan analisa aturan tersebut  belum diturunkan, jika ia, tanpa merenungkan maknanya, menyembunyikan maknanya di bawah bayang-bayang kata-kata, para bhikkhu harus diberitahu oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘ Mohon Yang Mulia mendengarkan saya. Bhikkhu anu adalah seorag pembabar dhamma, tetapi ia adalah seorang yang kepadanya aturan-aturan dan analisa aturan tersebut belum diturunkan; tanpa merenungkan maknanya, ia menyembunyikan maknanya di bawah bayang-bayang kata-kata. Jika baik menurut Yang Mulia, [96] silahkan para bhikkhu, setelah menyingkirkan bhikkhu ini,  menyelesaikan pertanyaan resmi ini.’ Jika, para bhikkhu, para bhikkhu itu, setelah menyingkirkan bhikkhu itu, mampu menyelesaikan pertanyaan resmi ini, ini, para bhikkhu, disebut pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri. Dan apakah yang diperlukan di sini untuk suatu keputusan yang dihadiri? Kehadiran aturan, kehadiran disiplin, kehadiran para individu … (seperti pada ||16||) … Jika, para bhikkhu, pertanyaan resmi itu diselesaikan demikian, dan jika orang yang menyelenggarakannya membukanya kembali, dengan membukanya kembali maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||22||


“Jika, para bhikkhu, sewaktu bhikkhu-bhikkhu itu sedang menyelidiki pertanyaan resmi itu, di sana terdapat seorang bhikkhu yang adalah seorang pembabar dhamma dan yang kepadanya aturan-aturan telah diturunkan tetapi analisa aturan tersebut belum diturunkan, jika ia, tanpa merenungkan maknanya, menyembunyikan maknanya di bawah bayang-bayang kata-kata, para bhikkhu harus diberitahu oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘ Mohon Yang Mulia mendengarkan saya. Bhikkhu anu adalah seorag pembabar dhamma, dan ia adalah seorang yang kepadanya aturan-aturan telah diturunkan tetapi analisa aturan tersebut belum diturunkan; tanpa merenungkan maknanya … … dengan membukanya kembali maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||23||

“Jika, para bhikkhu, para bhikkhu ini tidak mampu menyelesaikan pertanyaan resmi itu melalui pemungutan suara umum, para bhikkhu, pertanyaan resmi itu harus dikembalikan kepada Sangha oleh para bhikkhu itu, dengan mengatakan: ‘Kami Yang Mulia, tidak mampu menyelesaikan pertanyaan resmi itu melalui pemungutan suara umum. Silahkan Sangha sendiri yang menyelesaikan pertanyaan resmi ini.’ Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menyelesaikan pertanyaan resmi ini melalui keputusan suara terbanyak.  Seorang bhikkhu yang memiliki lima kualitas harus ditunjuk sebagai pembagi kupon (pemungutan suara) … (seperti pada IV. 9) …’ … Demikianlah saya memahami hal ini. Bhikkhu pembagi kupon (pemungutan suara) harus membagikan tiket (pemungutan suara). Sesuai dengan jumlah suara terbanyak dari para bhikkhu yang menguasai dhamma demikianlah pertanyaan resmi itu diselesaikan. Ini, para bhikkhu, disebut pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri dan keputusan suara terbanyak. Dan apakah (yang diperlukan) di sini untuk suatu keputusan yang dihadiri? Kehadiran Sangha, Kehadiran aturan, kehadiran disiplin, kehadiran para individu. Dan apakah di sini kehadiran Sangha?  … (seperti pada 14. 16) … Ini di sini adalah kehadiran para individu.

“Dan apakah di sini keputusan suara terbanyak? Apapun yang diselenggarakan, dilakukan, dilaksanakan, disetujui, diterima, tanpa penolakan atas suatu sidang (resmi) (diselesaikan) melalui keputusan suara terbanyak, ini adalah keputusan suara terbanyak. Para bhikkhu, jika suatu pertanyaan resmi diselesaikan demikian, dan jika seseorang yang mengadakannya membukanya kembali, dengan membukanya maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. Jika seseorang yang telah memberikan persetujuan mengkritiknya, dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan.  ||24|| [97]

Pada saat itu di Sāvatthī, suatu pertanyaan resmi muncul sedemikian, telah berkembang sedemikian. Kemudian para bhikkhu ini tidak puas dengan penyelesaian pertanyaan resmi itu oleh Sangha di Sāvatthī. Mereka mendengar bahwa dikatakan: “Di suatu tempat tertentu terdapat beberapa bhikkhu senior yang telah mendengar banyak, yang kepada mereka tradisi telah dturunkan, ahli dalam dhamma, ahli dalam disiplin, ahli dalam pengelompokan, terpelajar, berpengalaman, cerdas, berhati-hati, teliti, gemar berlatih; jika para bhikkhu senior ini dapat menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru, maka dengan demikian pertanyaan resmi ini terselesaikan dengan baik.” Kemudian para bhikkhu ini, setelah mendatangi tempat kediaman itu, berkata kepada para bhikkhu senior itu: “Pertanyaan resmi ini, Yang Mulia, muncul demikian, berkembang demikian. Baik sekali, Yang Mulia, jika para bhikkhu di sini dapat menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut aturan, menurut disiplin, menurut instruksi Sang Guru. Sehingga pertanyaan resmi ini dapat terselesaikan dengan baik.” Kemudian para bhikkhu senior itu berpikir: “Karena pertanyaan resmi ini telah diselesaikan oleh Sangha di Sāvatthī, maka berarti telah diselesaikan dengan baik,” dan mereka menyelesaikan pertanyaan resmi itu dengan cara yang sama. Kemudian para bhikkhu ini tidak puas dengan penyelesaian pertanyaan resmi oleh Sangha di Sāvatthī, mereka tidak puas dengan penyelesaian pertanyaan resmi oleh beberapa bhikkhu senior itu.

Mereka mendengar bahwa dikatakan: “Di suatu tempat tertentu terdapat tiga orang bhikkhu senior … dua orang bhikkhu senior … seorang bhikkhu senior yang telah mendengar banyak, yang kepadanya tradisi telah dturunkan … gemar berlatih; jika para bhikkhu senior ini dapat menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut … menurut instruksi Sang Guru, maka dengan demikian pertanyaan resmi ini terselesaikan dengan baik.” Kemudian para bhikkhu ini, setelah mendatangi tempat kediaman itu, berkata kepada bhikkhu senior itu: “Pertanyaan resmi ini, Yang Mulia, muncul demikian, berkembang demikian. Baik sekali, Yang Mulia, jika para bhikkhu di sini dapat menyelesaikan pertanyaan resmi ini menurut … menurut instruksi Sang Guru. Sehingga pertanyaan resmi ini dapat terselesaikan dengan baik.” Kemudian bhikkhu senior itu berpikir: “Karena pertanyaan resmi ini telah diselesaikan oleh Sangha di Sāvatthī, karena pertanyaan resmi ini telah diselesaikan oleh beberapa bhikkhu senior, karena pertanyaan resmi ini telah diselesaikan oleh tiga orang bhikkhu senior, karena pertanyaan resmi ini telah diselesaikan oleh dua orang bhikkhu senior, maka berarti telah diselesaikan dengan baik,” dan ia menyelesaikan pertanyaan resmi itu dengan cara yang sama. Kemudian para bhikkhu ini tidak puas dengan penyelesaian pertanyaan resmi oleh Sangha di Sāvatthī, tidak puas dengan penyelesaian pertanyaan resmi oleh beberapa bhikkhu senior ... oleh tiga orang bhikkhu senior … oleh dua orang bhikkhu senior, tidak puas dengan penyelesaian pertanyaan resmi oleh seorang bhikkhu senior, menghadap Sang Bhagavā; setelah menghadap, mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, pertanyaan resmi ini telah selesai, sudah tidak ada, telah diselesaikan, terselesaikan dengan baik. ||25||

“Aku Mengizinkan, para bhikkhu, untuk meyakinkan para bhikkhu ini, tiga metode pemungutan suara:  secara rahasia, membisikkan ke telinga, secara terbuka. Dan apakah, para bhikkhu, metode rahasia dalam pemungutan suara? Bhikkhu yang menjadi pembagi tiket pemungutan suara, [98] setelah membuat tanda yang berbeda  pada tiket-tiket itu, setelah mendatangi tiap-tiap bhikkhu, harus memberitahukan: ‘Tiket ini adalah untuk orang yang berpandangan begini, tiket ini adalah untuk orang yang berpandangan begitu. Ambillah yang mana yang engkau inginkan.’  setelah mengambilnya, ia harus diberitahu: ‘Dan jangan perlihatkan pada orang lain.’ Jika ia mendapati bahwa mayoritas adalah yang menguasai bukan-dhamma dan berpikir (bahwa pemungutan suara) telah dilakukan secara keliru, maka (hasilnya) harus ditolak.  Jika ia mendapati bahwa mayoritas adalah yang menguasai dhamma dan berpikir (bahwa pemungutan suara) telah dilakukan dengan benar, maka (hasilnya) harus diumumkan. Ini, para bhikkhu, adalah metode rahasia dalam pemunguta suara.

“Dan apakah, para bhikkhu, metode pemungutan suara dengan membisikkan ke telinga? Bhikkhu yang menjadi pembagi tiket pemungutan suara, harus membisikkan ke telinga tiap-tiap bhikkhu, mengatakan: ‘Tiket ini adalah untuk orang yang berpandangan begini, tiket ini adalah untuk orang yang berpandangan begitu. Ambillah yang mana yang engkau inginkan.’  setelah mengambilnya, ia harus diberitahu: ‘Dan jangan perlihatkan pada orang lain.’ Jika ia mendapati bahwa mayoritas adalah yang menguasai bukan-dhamma dan berpikir (bahwa pemungutan suara) telah dilakukan secara keliru, maka (hasilnya) harus ditolak.  Jika ia mendapati bahwa mayoritas adalah yang menguasai dhamma dan berpikir (bahwa pemungutan suara) telah dilakukan dengan benar, maka (hasilnya) harus diumumkan. Ini, para bhikkhu, adalah metode membisikkan ke telinga dalam pemunguta suara.

“Dan apakah, para bhikkhu, metode terbuka dalam pemungutan suara? Jika ia mendapati bahwa mereka yang menguasai dhamma adalah mayoritas, dengan keyakinan ini , ia melakukannya secara terbuka. Ini, para bhikkhu, adalah metode terbuka dalam pemungutan suara. Ini, para bhikkhu, adalah tiga metode pemungutan suara. ||26||

“Berapakah (jenis) keputusan bagi suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan disepakati? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan disepakati melalui empat (jenis) keputusan: melalui keputusan yang dihadiri, melalui keputusan tidak bersalah, melalui keputusan kegilaan yang telah lewat, melalui keputusan atas kesalahan tertentu. Jika seseorang mengatakan: ‘Mungkinkah bahwa, sehubungan dengan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan, tanpa melalui dua (jenis) keputusan – keputusan kegilaan yang telah lewat dan keputusan atas kesalahan tertentu – seseorang menyetujuinya melalui dua (jenis) keputusan – keputusan yang dihadiri dan keputusan tidak bersalah?’ ia harus dijawab: ‘Mungkin saja’. Ini adalah sebagai berikut: Ini adalah sebuah kasus di mana seorang para bhikkhu memfitnah seorang bhikkhu dengan tuduhan tidak berdasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral. Para bhikkhu, keputusan tidak bersalah harus dijatuhkan kepada bhikkhu tersebut yang telah mengingat sepenuhnya.  Dan beginilah, para bhikkhu, bagaimana keputusan itu dijatuhkan: Bhikkhu itu, setelah mendatangi Sangha, setelah merapikan jubah atasnya di satu bahunya, setelah bersujud di kaki para bhikkhu senior, setelah duduk berlutut, setelah memberi hormat dengan merangkapkan tangan, harus mengucapkan: ‘Yang Mulia, para bhikkhu memfitnah saya dengan tuduhan tidak berdasar bahwa saya telah jatuh dari kebiasaan bermoral. Tetapi Saya, Yang Mulia, setelah mengingat sepenuhnya, memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan tidak bersalah.’ Dan untuk kedua kalinya keputusan itu dimohon. Dan untuk ketiga kalinya keputusan itu dimohon. Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, mohon Sangha mendengarkan saya. Para bhikkhu memfitnah bhikkhu ini dengan tuduhan tidak berdasar bahwa ia telah jatuh dari kebiasaan bermoral; ia, setelah mengingat sepenuhnya, memohon agar Sangha menjatuhkan keputusan tidak bersalah. [99] Jika baik menurut Sangha … (seperti pada IV. 4. 10) … Demikianlah saya memahami hal ini.’ Ini, para bhikkhu, disebut pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri dan keputusan tidak bersalah. Dan apakah yang diperlukan di sini untuk suatu keputusan yang dihadiri? Kehadiran Sangha, kehadiran aturan, kehadiran disiplin, kehadiran para individu … (seperti pada IV. 14. 16) … Dan apakah di sini kehadiran para individu? Siapapun yang bertengkar dan dengan siapa ia bertengkar, jika kedua pihak itu saling berhadapan,  ini adalah kehadiran para individu.

“Dan apakah di sini yang diperlukan untuk suatu keputusan yang tidak bersalah? Apapun yang diselenggarakan, dilakukan, dilaksanakan, disetujui, diterima, tanpa penolakan atas suatu suatu sidang resmi untuk menjatuhkan keputusan tidak bersalah, itu adalah apa yang diperlukan untuk suatu keputusan tidak bersalah. Para bhikkhu, jika suatu pertanyaan resmi diselesaikan demikian, dan jika seseorang yang mengadakannya membukanya kembali, dengan membukanya maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. Jika seseorang yang telah memberikan persetujuan mengkritiknya, dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||27||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB IV)
« Reply #26 on: 06 March 2012, 11:14:50 PM »
“Jika seseorang mengatakan: ‘Mungkinkah bahwa, sehubungan dengan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan, tanpa melalui dua (jenis) keputusan – keputusan tidak bersalah dan keputusan atas kesalahan tertentu – seseorang menyetujuinya melalui dua (jenis) keputusan –  keputusan yang dihadiri dan keputusan kegilaan yang telah lewat?’ ia harus diberitahu: ‘Mungkin saja’. Ini adalah sebagai berikut: Ini adalah sebuah kasus di mana seorang para bhikkhu menjadi gila, kehilangan akal sehat, ia banyak melakukan dan mengucapkan hal-hal yang tidak sepantasnya bagi seorang petapa. Para bhikkhu menegurnya karena pelanggaran yang ia lakukan sewaktu ia gila, kehilangan akal sehat, dengan mengatakan: ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran ini?’ ia menjawab: ‘Saya, Yang Mulia, menjadi gila, kehilangan akal sehat; sewaktu saya gila, saya banyak melakukan dan mengucapkan hal-hal yang tidak sepantasnya bagi seorang petapa. Saya tidak mengingatnya. Hal-hal itu saya lakukan ketika saya gila.’ Walaupun menjawab demikian, mereka masih menegurnya, dengan mengatakan: ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggaran ini?’ Para bhikkhu, suatu keputusan kegilaan yang telah lewat harus dijatuhkan kepada bhikkhu tersebut yang tidak lagi gila.

“Dan beginilah, para bhikkhu, keputusan itu dijatuhkan: Para bhikkhu, Bhikkhu itu, setelah mendatangi Sangha, setelah merapikan jubah atasnya di satu bahunya … harus mengucapkan: ‘Saya, Yang Mulia, telah menjadi gila … (seperti pada IV. 5. 2. dengan menggantikan Gagga menjadi  bhikkhu yang bersangkutan) … Demikianlah saya memahami hal ini.’ Ini, para bhikkhu, disebut suatu pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri dan keputusan kegilaan yang telah lewat. Dan apakah di sini (yang diperlukan) untuk keputusan yang dihadiri? Kehadiran Sangha … (seperti pada IV. 14. 16) … Dan apakah di sini (yang diperlukan) untuk keputusan kegilaan yang telah lewat? [100] Apapun yang diselenggarakan, dilakukan … tanpa penolakan atas suatu keputusan kegilaan yang telah lewat, itu adalah apa yang diperlukan untuk suatu keputusan kegilaan yang telah lewat. Para bhikkhu, jika suatu pertanyaan resmi diselesaikan demikian, dan jika seseorang yang mengadakannya membukanya kembali, dengan membukanya maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. Jika seseorang yang telah memberikan persetujuan mengkritiknya, dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||28||

“Jika seseorang mengatakan: ‘Mungkinkah bahwa, sehubungan dengan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari celaan, tanpa melalui dua (jenis) keputusan – keputusan tidak bersalah dan keputusan atas kegilaan yang telah lewat – seseorang menyetujuinya melalui dua (jenis) keputusan –  keputusan yang dihadiri dan keputusan atas kesalahan tertentu?’ ia harus diberitahu: ‘Mungkin saja’. Ini adalah sebagai berikut: Ini adalah sebuah kasus di mana seorang bhikkhu menegur seorang bhikkhu lainnya di tengah-tengah Sangha atas suatu pelanggaran serius, dengan mengatakan: ‘Apakah Yang Mulia ingat telah melakukan pelanggara serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan?’ Ia menjawab: ‘Saya tidak ingat, Yang Mulia,  telah melakukan pelanggara serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan.’ Walaupun telah membantah demikian, ia masih mendesaknya, dengan mengatakan: ‘Mohon, Yang Mulia, pikirkan baik-baik, apakah engkau ingat telah melakukan pelanggaran serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan.’ Ia menjawab: ‘Saya tidak ingat, Yang Mulia,  telah melakukan pelanggaran serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan. Namun saya, Yang Mulia, ingat telah melakukan pelanggaran kecil seperti ini.’ Walaupun telah membantah demikian, ia masih mendesaknya, dengan mengatakan: ‘Mohon, Yang Mulia, pikirkan baik-baik, apakah engkau ingat … yang mendekati kegagalan.’ Ia menjawab: ‘Yang Mulia, tanpa ditanya, saya megakui telah melakukan pelanggaran kecil seperti ini; bagaimana mungkin saya, ketika ditanya, tidak mengakui telah melakukan pelanggaran serius seperti ini?’ ia berkata: ‘Tetapi, Yang Mulia, tanpa ditanya engkau tidak mengakui telah melakukan pelanggaran kecil, maka bagaimana mungkin engkau, tanpa ditanya, mengakui telah melakukan pelanggaran serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan? Mohon, Yang Mulia, pikirkan baik-baik, apakah engkau ingat telah melakukan pelanggaran serius serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan.’ Ia menjawab: Yang Mulia, saya ingat telah melakukan pelanggaran serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan. Ketika saya mengatakan: saya tidak ingat telah melakukan pelanggaran serius seperti ini - yang melibatkan kegagalan atau yang mendekati kegagalan. Ini saya ucapkan sebagai lelucon,  ini saya ucapkan dengan terburu-buru.

“Para bhikkhu, suatu sidang (resmi) untuk suatu keputusan kesalahan tertentu harus dijatuhkan atas bhikkhu tersebut. Dan beginilah, para bhikkhu, keputusan ini dijatuhkan. Sangha harus diberitahukan oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan … (seperti pada IV. 11. 2 dengan menggantikan Bhikkhu Uvāḷa menjadi bhikkhu yang bersangkutan; dengan menggantikan pelanggaran menjadi pelanggaran serius) … Demikianlah saya memahami hal ini.’ Ini, para bhikkhu, disebut [101] suatu pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri dan dengan keputusan atas kesalahan tertentu. Dan apakah di sini (yang diperlukan) untuk satu keputusan yang dihadiri? Kehadiran Sangha … (seperti pada IV. 14. 16) … Dan apakah di sini (yang diperlukan) untuk suatu keputusan atas kesalahan tertentu? Apapun yang diselenggarakan, dilakukan, dilaksanakan, disetujui, diterima, tanpa penolakan atas suatu suatu keputusan atas kesalahan tertentu, itu adalah apa yang diperlukan untuk suatu keputusan atas kesalahan tertentu. Para bhikkhu, jika suatu pertanyaan resmi diselesaikan demikian, dan jika seseorang yang mengadakannya membukanya kembali, dengan membukanya maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. Jika seseorang yang telah memberikan persetujuan mengkritiknya, dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||29||

“Berapakah (jenis) keputusan bagi suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran disepakati? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran disepakati melalui tiga (jenis) keputusan: melalui keputusan yang dihadiri dan melakukannya atas pengakuan dan dengan menutupinya (seperti) dengan rumput.  Jika seseorang mengatakan: ‘Mungkinkah bahwa, sehubungan dengan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, tanpa melalui satu (jenis) keputusan – Menutupinya (seperti) dengan rumput – seseorang menyetujuinya melalui dua (jenis) keputusan –  keputusan yang dihadiri dan melakukannya atas pengakuannya?’ ia harus diberitahu: ‘Mungkin saja’. Ini adalah sebagai berikut: Ini adalah sebuah kasus di mana seorang bhikkhu melakukan suatu pelanggaran ringan. Para bhikkhu, bhikkhu itu, setelah mendatangi seorang bhikkhu, setelah merapikan jubah atasnya di satu bahunya, setelah bersujud di kaki bhikkhu itu, setelah duduk berlutut, setelah memberi hormat dengan merangkapkan tangan, harus mengucapkan: ‘Saya, Yang Mulia, mengakui telah melakukan pelanggaran ini dan itu.’ Bhikkhu itu harus mengatakan: ‘Apakah engkau menyadarinya?’ ‘Ya, saya menyadarinya.’ ‘Engkau harus lebih terkendali di masa mendatang.’ Ini, para bhikkhu, disebut suatu pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri dan dengan melakukannya atas pengakuannya. Dan apakah di sini (yang diperlukan) untuk satu keputusan yang dihadiri? Kehadiran aturan  dan kehadiran disiplin dan kehadiran para individu. Dan apakah di sini kehadiran para individu? Jika kedua belah pihak yaitu yang mengakui dan kepada siapa ia mengakui saling berhadapan, ini adalah kehadiran para individu. Dan apakah di sini (yang diperlukan untuk) melakukan atas pengakuannya? Apapun yang diselenggarakan … tanpa penolakan atas tindakannya dalam mengakui, itu adalah apa yang diperlukan bagi tindakannya dalam mengakui. Jika, para bhikkhu, suatu pertanyaan resmi terselesaikan demikian, dan orang yang menerima (pengakuan itu) membukanya kembali, maka dengan membukanya ada pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||30||

“Jika ia dapat menerimanya. itu baik sekali. Tetapi jika ia tidak menerimanya, para bhikkhu, Bhikkhu itu, setelah mendatangi beberapa bhikkhu, setelah merapikan jubah atasnya di satu bahunya, setelah bersujud di kaki para bhikkhu senior, setelah duduk berlutut, setelah memberi hormat dengan merangkapkan tangan, harus mengucapkan: ‘Saya, Yang Mulia, mengakui telah melakukan pelanggaran ini dan itu.’ Para bhikkhu ini [102] harus diberitahu oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Mohon Yang Mulia mendengarkan saya. Bhikkhu ini mengingat telah melakukan pelanggaran, ia mengungkapkannya, ia menyatakannya, ia mengakuinya. Jika baik menurut Yang Mulia, maka saya akan menerima (pengakuan) pelanggaran bhikkhu ini.’ Ia harus mengatakan: ‘Apakah engkau menyadarinya?’ ‘Ya, saya menyadarinya.’ ‘Engkau harus lebih terkendali di masa mendatang.’ Ini, para bhikkhu, disebut suatu pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri … (seperti pada ||30||) … dengan membukanya ada pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||31||

“Jika ia dapat menerimanya. itu baik sekali. Tetapi jika ia tidak menerimanya, para bhikkhu, Bhikkhu itu, setelah mendatangi Sangha … harus mengucapkan: ‘Saya, Yang Mulia, mengakui telah melakukan pelanggaran ini dan itu.’ Sangha harus diberitahu oleh seorang bhikkhu yang berkompeten dan berpengalaman, dengan mengatakan: ‘Mohon Sangha mendengarkan saya. Bhikkhu ini mengingat telah melakukan pelanggaran, ia mengungkapkannya, ia menyatakannya, ia mengakuinya. Jika baik menurut Sangha, maka saya akan menerima (pengakuan) pelanggaran bhikkhu ini.’ Ia harus mengatakan: ‘Apakah engkau menyadarinya?’ ‘Ya, saya menyadarinya.’ ‘Engkau harus lebih terkendali di masa mendatang.’ Ini, para bhikkhu, disebut suatu pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri dan dengan melakukan atas pengakuannya. Dan apakah di sini (yang diperlukan untuk) suatu keputusan yang dihadiri? Kehadiran Sangha, kehadiran aturan, kehadiran disiplin dan kehadiran para individu … Jika, para bhikkhu, suatu pertanyaan resmi terselesaikan demikian, dan orang yang menerima (pengakuan itu) membukanya kembali, maka dengan membukanya ada pelanggaran yang memerlukan penebusan.   ||32||

“Jika seseorang mengatakan: ‘Mungkinkah bahwa, sehubungan dengan suatu pertanyaan resmi yang muncul dari pelanggaran, tanpa melalui satu (jenis) keputusan – Melakukannya atas pengakuannya – seseorang menyetujuinya melalui dua (jenis) keputusan –  keputusan yang dihadiri dan menutupinya (seperti) dengan rumput?’ ia harus diberitahu: ‘Mungkin saja’. Ini adalah sebagai berikut: Ini adalah sebuah kasus di mana ketika para bhikkhu sedang berselisih … (seperti pada IV. 13. 1-3) … Demikianlah saya memahami hal ini.’ Ini disebut, para bhikkhu, suatu pertanyaan resmi yang terselesaikan. Terselesaikan dengan apakah? Dengan keputusan yang dihadiri dan dengan menutupi (seperti) dengan rumput. Dan apakah di sini (yang diperlukan untuk) suatu keputusan yang dihadiri? Kehadiran Sangha, kehadiran aturan, kehadiran disiplin, kehadiran para individu. Dan apakah di sini kehadiran Sangha? Ketika sejumlah bhikkhu yang berkompeten untuk diselenggarakannya suatu sidang (resmi) telah tiba, ketika persetujuan dari mereka yang harus (menyampaikan) persetujuan mereka telah disampaikan, ketika saat saling berhadapan mereka tidak keberatan. Ini adalah kehadiran Sangha.

“Dan apakah di sini kehadiran aturan, kehadiran disiplin? Jika pertanyaan resmi itu diselesaikan dengan aturan apapun, dengan disiplin apapun, dengan instruksi Sang Guru yang manapun, ini adalah kehadiran aturan, [103] kehadiran disiplin.

“Dan apakah di sini kehadiran para individu? Jika kedua belah pihak yaitu yang mengakui dan yang kepada siapa pengakuan disampaikan saling berhadapan, ini adalah kehadiran para individu.

“Dan apakah di sini (yang diperlukan untuk) menutupi (seperti) dengan rumput? Apapun yang diselenggarakan, dilakukan, dilaksanakan, disetujui, diterima, tanpa penolakan atas suatu tindakan menutupi (seperti) dengan rumput, itu adalah apa yang diperlukan untuk suatu tindakan menutupi (seperti) dengan rumput. Para bhikkhu, jika suatu pertanyaan resmi diselesaikan demikian, dan jika seseorang yang menerima (pengakuan) membukanya kembali, dengan membukanya maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. Jika seseorang yang telah memberikan persetujuan mengkritiknya, dengan mengkritik maka ia melakukan pelanggaran yang memerlukan penebusan. ||33||

“Berapakah (jenis) keputusan atas suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban disepakati? Suatu pertanyaan resmi yang muncul dari kewajiban disepakati melalui satu (jenis) keputusan: keputusan yang dihadiri.” ||34||14||

Demikianlah Bagian Keempat: Tentang Penyelesaian.  [104]

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #27 on: 06 March 2012, 11:15:54 PM »
CULLAVAGGA V
Hal-hal Minor



Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu di Taman Suaka Tupai. Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu, sewaktu sedang mandi, menggosok badan mereka pada sebatang pohon dan paha mereka dan lengan mereka dan dada mereka dan punggung mereka. Orang-orang lain mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para petapa ini, putera-putera Sakya, sewaktu mandi, menggosok badan mereka pada sebatang pohon … dan punggung mereka, bagaikan para petinju dan pegulat dan pemuda desa?”  Para bhikkhu mendenar orang-orang ini yang sedang … menyebarkan. Dan para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setealh mengumpulkan Sangha, bertanya kepada para bhikkhu: “Benarkah, dikatakan, para bhikkhu, bahwa Kelompok Enam Bhikkhu … dan punggung mereka?”

“Benar, Bhagavā.” Sang Bhagavā menegur mereka dengan mengatakan:

“Para bhikkhu, tidaklah patut bagi orang-orang dungu ini, tidaklah pantas, tidaklah sesuai, tidak selayaknya bagi seorang petapa. Tidak diperbolehkan, seharusnya tidak dilakukan. Bagaimana mungkin, para bhikkhu, orang-orang dungu ini, sewaktu mereka mandi, menggosok badan mereka pada sebatang pohon … dan punggung mereka? Ini bukanlah, para bhikkhu, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …’ dan setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, sewaktu seorang bhikkhu sedang mandi, ia tidak boleh menggosok badannya pada sebatang pohon. Siapapun yang menggosoknya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”  ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu, sewaktu sedang mandi, menggosok badan mereka pada sebuah tiang … (seperti pada ||1|| dengan menggantikan pohon mejadi  tiang) …”… pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu, sewaktu sedang mandi, menggosok badan mereka pada dinding  …” … pelanggaran perbuatan-salah.” ||2||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu biasanya mandi dengan menggunakan papan gosokan.  Orang-orang lain menyebarkan dengan berkata: “Bagaikan para perumah tangga [105] yang menikmati kenikmatan-indria.” Para bhikkhu mendengar orang-orang ini yang … menyebarkan … Setelah menegur mereka, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh mandi menggunakan papan gosokan. Siapapun yang mandi (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu biasanya mandi dengan menggunakan (alat) tangan-gandhabba  …” … Para bhikkhu, kalian tidak boleh mandi dengan menggunakan tangan-gandhabba. Siapapun yang mandi (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu biasanya mandi dengan menggunakan untaian biji merah  …” … Para bhikkhu, kalian tidak boleh mandi dengan menggunakan untaian biji merah. Siapapun yang mandi (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||3||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu, setelah masuk ke dalam  (air), melakukan penggosokan.  … “Para bhikkhu, kalian tidak boleh, setelah masuk ke dalam (air), melakukan penggosokan. Siapapun yang mandi (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”


Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu biasanya mandi dengan menggunakan sikat  …” … Para bhikkhu, kalian tidak boleh mandi dengan menggunakan sikat. Siapapun yang mandi (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu seorang bhikkhu menderita penyakit keropeng, dan merasa tidak nyaman baginya tanpa sikat. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku Mengizinkan, para bhikkhu, bagi seorang yang sakit (untuk menggunakan) sikat yang tidak dibentuk.”  ||4||

Pada saat itu seorang bhikkhu, lemah karena usia lant, tidak mampu mandi dan menggosok badannya sendiri. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku Mengizinkan, para bhikkhu, secarik kain.”

Pada saat itu para bhikkhu ragu-ragu sehubungan dengan bagaimana mereka menggosok punggung mereka.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, cara biasa dengan manggunakan tangan.”  ||5||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengenakan hiasan telinga, mereka mengenakan rantai,  mereka mengenakan untaian biji-bijian di leher,  mereka mengenakan hiasan di pinggang,  mereka mengenakan hiasan gelang kaki,  mereka mengenakan hiasa di lengan,  mereka mengenakan gelang tangan,   mereka mengenakan cincin di jari tangan mereka. Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan … Beliau berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, hiasan telinga tidak boleh dipakai, rantai … hiasan untaian biji-bijian di leher … hiasan pinggang … gelang kaki … gelang lengan … gelang tangan … cincin tidak boleh dipakai. Siapapun yang mengenakan (barang-barang ini), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.” ||1||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memanjangkan rambut mereka. Orang-orang lain … menyebarkan … Beliau berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, rambut tidak boleh dipanjangkan. Siapapun yang memanjangkan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Aku Mengizinkan pertumbuhan selama dua bulan atau sepanjang dua jari.” ||2||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menghaluskan rambur mereka dengan sisir, mereka menghaluskan rambut mereka dengan alat yang berbentuk kepala ular,  mereka menghaluskan rambut mereka dengan tangan mereka yang digunakan sebagai alat yang berbentuk kepala ular,  mereka menghaluskan rambut mereka dengan madu lebah,  mereka menghaluskan rambut mereka dengan air berminyak. Orang-orang lain mencela, mengkritik, menyebarkan dengan mengatakan: “Bagaikan para perumah tangga mereka menikmati kenikmatan-indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, rambut tidak boleh dihaluskan dengan menggunakan sisir … rambut tidak boleh dihaluskan dengan menggunakan air berminyak. Siapapun yang meghaluskannya (dengan cara-cara ini), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||3||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu memeriksa suatu tanda di wajah mereka pada sebuah cermin atau mangkuk air.  Orang-orang lain menyebarkan, dengan megatakan: “Bagaikan para perumah tangga mereka menikmati kenikmatan-indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, suatu tanda pada wajah tidak boleh diperiksa pada cermin atau mangkuk air. Siapapun yang memeriksa (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” Pada saat itu seorang bhikkhu terluka wajahnya. Ia bertanya kepada para bhikkhu: “Luka seperti apakah yang terdapat di wajahku?” Para bhikkhu menjawab: “Luka seperti begini, Yang Mulia.” Ia tidak mempercayai mereka.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Saya megizinkan kalian, para bhikkhu, sehubungan dengan penyakit, untuk memeriksa suatu tanda di wajah pada cermin atau mangkuk air.” ||4||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu meminyaki wajah mereka,  mereka menggosok (pasta) ke wajah mereka, mereka meluluri wajah mereka dengan bubuk mandi, mereka membedaki wajah mereka dengan serbuk merah, mereka mewanai bagian-bagian tubuh mereka, mereka mewarnai wajah mereka, mereka mewarnai bagian-bagian tubuh dan wajah mereka. Orang-orang lain menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaikan para perumah tangga mereka menikmati kenikmatan-indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, wajah tidak boleh diminyaki, wajah tidak boleh digosok (dengan pasta), wajah tidak boleh dilumuri dengan bubuk mandi, wajah tidak boleh dibedaki dengan bubuk merah, bagian-bagian tubuh tidak boleh diwarnai, wajah tidak boleh diwarnai, bagian-bagian tubuh dan wajah tidak boleh diwarnai. Siapapun yang melakukan (hal-hal ini), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu seorang bhikkhu menderita penyakit mata. Mereka mengadukan persoalan itu kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, sehubungan dengan penyakit, untuk meminyaki wajah.” ||5||

Pada saat itu sedang berlangsung sebuah festival di puncak gunung di Rājagaha.  Kelompok Enam Bhikkhu pergi menonton festival itu di puncak gunung. Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para petapa ini, putera-putera Sakya datang menonton tarian dan nyanyian dan musik [107] bagaikan perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria?” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh pergi menonton tarian.  Siapaun yang pergi menonton, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||6||2||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menyanyikan dhamma dengan suara berirama yang ditarik panjang.  Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bahkan selagi kita bernyanyi, para petapa ini, putera-putera Sakya, juga menyanyikan dhamma dengan suara berirama yang ditarik panjang.” Para bhikkhu lain mencela, mengkritik, menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin Kelompok Enam Bhikkhu ini menyanyikan dhamma dengan suara berirama yang ditarik panjang?” kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Benarkah, bahwa dikatakan …?”

“Benar, Bhagavā” … Setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, terdapat lima cacat bagi seseorang yang menyanyikan dhamma dengan suara berirama yang ditarik panjang: ia bangga akan dirinya karena suara itu, dan orang lain gembira sehubungan dengan suara itu, dan para perumah tangga meremehkannya, dan ketika ia berusaha untuk mempertahankan ketepatan nada suaranya  konsentrasinya terputus, dan orang-orang yang berikutnya akan jatuh ke dalam pandangan (salah).  Ini, para bhikkhu, adalah lima cacat bagi seseorang yang menyanyikan dhamma dengan suara berirama yang ditarik panjang. Para bhikkhu, dhamma tidak boleh dinyanyikan dengan suara berirama yang ditarik panjang. Siapapun yang menyanyikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||1||

Pada saat itu beberapa bhikkhu ragu mengenai bacaan berirama.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, Aku Mengizinkan bacaan berirama.” ||2||3||

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu mengenakan kain wol dengan bulu-bulu di sebelah luar. Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaikan perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, kain wol dengan bulu-bulu di sebelah luar tidak boleh dikenakan. Siapapun yang mengenakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah,”  ||4||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #28 on: 06 March 2012, 11:16:33 PM »
Pada saat itu pohon mangga di taman Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha sedang berbuah dan diumumkan oleh Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha: “Silahkan para guru memakan mangga sebanyak yang mereka inginkan.” Kelompok Enam Bhikkhu setelah menjatuhkan bahkan mangga-mangga muda, dan memakannya. Dan [108] Raja Seniya Bimbisāra menginginkan sebutir mangga. Kemudian Raja Seniya Bimbisāra bergabung dengan orang-orang, berkata: “Pergilah, bapak-bapak, setelah pergi ke taman, bawalah sebutir mangga.”

“Baiklah, Tuanku” dan orang-orang ini setelah menjawab Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha, setelah pergi ke taman, berkata kepada penjaga taman: “Tuan, Baginda menginginkan sebutir mangga; berilah (kami) sebutir mangga.”

“Tidak ada mangga tuan-tuan; para bhikkhu telah menjatuhkan bahkan mangga-mangga muda dan memakannya.” Kemudian orang-orang ini melaporkan persoalan ini kepada Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha. Ia berkata: “Bapak-bapak, mangga telah banyak dimakan oleh para guru, namun Sang Bhagavā menasehatkan agar makan secukupnya.” Orang-orang … menyebarkan, mengatakan: “Bagaimana mungkin para petapa ini, putera-putera Sakya, tidak memahami makna secukupnya, memakan mangga milik Raja?” Para bhikkhu mendengarkan kata-kata orang-orang ini yang … menyebarkan. Kemudian para bhikkhu ini mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata:

“Para bhikkhu, mangga tidak boleh dimakan. Siapapun yang memakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.”  ||1||

Pada saat itu seorang pekerja datang mempersembahkan makanan kepada Sangha.  Potongan mangga dimasukkan ke dalam kari. Para bhikkhu, karena teliti, tidak menerima. (Sang Bhagavā berkata:) “Terimalah, para bhikkhu, makanlah. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, memakan potongan mangga.” Pada saat itu seorang pekerja datang untuk mempersembahkan makanan kepada Sangha. Mereka tidak mengetahui bagaimana menyajikan potongan mangga. Para bhikkhu, karena teliti, tidak menerimanya. (Sang Bhagavā berkata:) “Terimalah, para bhikkhu, makanlah. Aku Mengizinan kalian, para bhikkhu, untuk memakan buah yang dalam lima cara diperbolehkan bagi petapa:  jika dirusak  oleh api, dirusak oleh pisau, dirusak oleh kuku (seseorang), jika tidak berbiji, dan yang kelima adalah jika bijinya dikeluarkan.  Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memakan buah yang diperbolehkan untuk petapa dalam lima cara ini.” ||2||5||

Pada saat itu seorang bhikkhu, digigit ular dan meninggal dunia.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Para bhikkhu, bhikkhu ini pasti tidak memancarkan pikiran cinta-kasih kepada empat keluarga raja ular. Karena jika, para bhikkhu, bhikkhu ini memancarkan pikiran cinta-kasih kepada empat keluarga raja ular, maka bhikkhu ini, walaupun digigit ular, namun tidak akan meninggal dunia. Apakah empat keluarga raja ular? Keluarga raja ular Virūpakkha,  Keluarga raja ular Erāpatha, Keluarga raja ular Chabyāputta, Keluarga raja ular Kaṇhāgotamaka. [109] Para bhikkhu, bhikkhu ini pasti tidak memancarkan pikiran cinta-kasih kepada empat keluarga raja ular. Karena jika, para bhikkhu, bhikkhu ini memancarkan pikiran cinta-kasih kepada empat keluarga raja ular, maka bhikkhu ini, walaupun digigit ular, namun tidak akan meninggal dunia. Para bhikkhu, Aku Mengizinkan kalian untuk memancarkan pikiran cinta-kasih kepada empat keluarga raja ular, (dan) mengucapkan paritta  sebagai perlindungan diri bagi kalian, untuk menjaga diri. Dan beginilah, para bhikkhu, paritta ini dibacakan:

‘Cinta  dariku kepada para Virūpakkha, 
Cinta  dariku kepada para Erāpattha,
Cinta  dariku kepada para Chabyāputta,
Cinta  dariku kepada para Kaṇhāgotamaka.

Cinta dariku kepada makhluk-makhluk tanpa kaki,
Cinta kepad makhluk-makhluk berkaki dua dariku,
Cinta dariku kepada makhluk-makhluk berkaki empat,
Cinta kepad makhluk-makhluk berkaki banyak dariku.

Semoga makhluk-makhluk tanpa kaki tidak mencelakaiku,
Semoga makhluk-makhluk berkaki dua tidak mencelakaiku,
Semoga makhluk-makhluk berkaki empat tidak mencelakaiku,
Semoga makhluk-makhluk berkaki banyak tidak mencelakaiku,

Semoga semua makhluk, semua yang bernafas, semua makhluk hidup, tanpa kecuali.
Menemukan hal-hal baik;  semoga tidak mengalami hal buruk apapun juga.

Sang Buddha tidak terbatas, dhamma tidak terbatas, Sangha tidak terbatas.
Makhluk-makhluk melata adalah terbatas, seperti: ular, kalajengking, kelabang, laba-laba, kadal, tikus.

Perlindungan telah kuucapkan, paritta telah kubacakan;
Silahkan makhluk-makhluk mundur.
Aku sungguh menghormati Sang Buddha.
Aku menghormati tujuh Sammasambuddha.’

Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, meneteskan darah”  ||6||

Pada saat itu seorang bhikkhu, karena tersiksa oleh ketidakpuasan, memotong alat kelaminnya sendiri. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Manusia dungu ini, para bhikkhu, memotong satu bagian, padahal seharusnya memotong yang lain. Para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak boleh memotong alat kelaminnya. Siapapun yang melakukannya, maka ia melakukan pelanggaran berat.” ||7||

Pada saat itu sepotong kayu cendana hitam yang mahal didapatkan oleh seorang pedagang (besar) dari Rājagaha.  Kemudian pedagang itu berpikir: “Bagaimana jika saya membuat sebuah mangkuk dari sepotong kayu cendana ini? Serpihannya dapat kumanfaatkan, dan saya juga dapat memberikan mangkuknya sebagai hadiah.” Kemudian pedagang (besar) dari Rājagaha itu, setelah membuat sebuah mangkuk dari kayu cendana itu, setelah mengikatnya dengan tali,  setelah menggantungnya dipuncak sebuah (tiang-) bambu, setelah mengikatkan serangkaian (tiang-) bambu sambung-menyambung; mengumumkan: “Silahkan bagi petapa atau brahmana manapun yang telah mencapai penerangan sempurna serta memiliki kesaktian untuk menurunkan mangkuk ini dan (kepadanya) mangkuk ini diberikan.”  [110] Kemudian Pūraṇa Kassapa  mendatangi pedagang (besar) dari Rājagaha itu; setelah datang, ia berkata kepada pedagang (besar) dari Rājagaha;

“Sekarang saya, perumah tangga, adalah yang sempurna serta memiliki kesaktian; berikan mangkuknya kepadaku.”

“Jika, Yang Mulia, engkau adalah yang sempurna serta memiliki kesaktian, silahkan turunkan mangkuk itu dan mangkuk itu menjadi milikmu.”

Kemudian Makkhali Gosāla, Ajita Kesakambalin, Pakudha Kaccāyana, Sañjaya Belaṭṭhiputta, Nātaputta Sang Jain mendatangi pedagang (besar) dai Rājagaha; setelah datang …” … mangkuk itu menjadi milikmu.”

Pada saat itu Yang Mulia Moggallāna yang Agung dan Yang Mulia Piṇḍola sang Bhāradvāja,  setelah merapikan jubah di pagi hari, (masing-masing) membawa mangkuk dan jubahnya, memasuki Rājagaha untuk mengumpulkan dana makanan. Kemudian Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja berkata kepada Yang Mulia Moggallāna yang Agung:

“Yang Mulia Moggallāna yang Agung adalah seorang Yang Sempurna dan memiliki kesaktian. Pergilah Yang Mulia Moggallāna, turunkan mangkuk itu; mangkuk itu milikmu.”
 
“Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja adalah seorang Yang Sempurna dan memiliki kesaktian. Pergilah Yang Mulia Bhāradvāja, turunkan mangkuk itu; mangkuk itu milikmu.”

Kemudian Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja, setelah naik dari atas tanah,  setelah mengambil mangkuk itu, mengelilingi Rājagaha tiga kali. Pada saat itu, si pedagang (besar) dari Rājagaha sedang berdiri bersama istri dan anak-anaknya di rumahnya sambil merangkapkan tangan memberi hormat, dan berkata: “Yang Mulia, mohon Guru Bhāradvāja datang beristirahat di rumah kami.” Kemudian Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja datang beristirahat dirumah si pedagang (besar) dari Rājagaha. Kemudian si pedagang (besar) dari Rājagaha, setelah mengambil mangkuk dari tangan Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja, setelah mengisinya dengan makanan-makanan padat yang mahal, mempersembahkannya kepada Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja. Kemudian Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja, setelah menerima mangkuk itu, kembali ke vihāra. ||1||

Orang-orang mendengar: “Dikatakan bahwa mangkuk milik si pedagang (besar) dari Rājagaha diturunkan oleh Guru Piṇḍola Sang Bhāradvāja.” Dan orang-orang ini (membuat) kegaduhan, riuh rendah, mengikuti persis di belakang Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja. Kemudian Sang Bhagavā mendengar suara gaduh itu, dan setelah mendengarnya, Beliau bertanya kepada Yang Mulia Ānanda: “Apa yang terjadi, Ānanda, suara gaduh ini, kegaduhan ini?”

“Bhagavā, mangkuk milik si pedagang (besar) dari Rājagaha telah diturunkan oleh Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja. Bhagavā, orang-orang mendengar: ‘Dikatakan bahwa mangkuk milik si pedagang (besar) dari Rājagaha diturunkan oleh Guru Piṇḍola Sang Bhāradvāja,’ dan, Bhagavā orang-orang ini (membuat) kegaduhan, riuh rendah, mengikuti persis di belakang Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja, ini, Bhagavā, adalah suara ribut itu, kegaduhan itu yang Bhagavā (dengarkan).”

Kemudian Sang Bhagavā pada kesempatan ini, sehubungan dengan hal ini, setelah mengumpulkan Sangha para bhikkhu, [111] bertanya kepada Yang Mulia Piṇḍola Sang Bhāradvāja:

“Benarkah, dikatakan, Bhāradvāja, bahwa mangkuk milik si pedagang (besar) dari Rājagaha telah diturunkan olehmu?”

“Benar, Bhagavā” Sang Buddha menegurnya dengan berkata:

“Tidaklah tepat, Bhāradvāja, tidak patut, tidak pantas, tidak layak bagi seorang petapa, tidak diperbolehkan, tidak boleh dilakukan. Bagaimana mungkin engkau, Bhāradvāja, demi sebuah mangkuk kayu tidak berharga, memperlihatkan kondisi yang melampaui manusia biasa,  memperlihatkan kesaktian kepada perumah tangga? Karena, Bhāradvāja, seorang perempuan memperlihatkan kain pinggangnya demi mendapatkan māsaka bergambar yang tidak berharga,  demikian pula engkau, Bhāradvāja, memperlihatkan kondisi yang melampaui manusia biasa dan kesaktian kepada perumah tangga demi untuk mendapatkan sebuah mangkuk kayu tidak berharga. Ini bukanlah, Bhāradvāja, untuk menyenangkan mereka yang tidak senang …”. Setelah menegurnya, setelah membabarkan khotbah yang sesuai, Beliau berkata kepada para bhikkhu …”

“Para bhikkhu, kondisi yang melampaui manusia biasa, kesaktian, tidak boleh diperlihatkan kepada perumah tangga. Siapapun yang memperlihatkan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Hancurkan, para bhikkhu, mangkuk kayu ini; setelah menjadi kepingan-kepingan kecil, bagikan kepada para bhikkhu sabagai wangi-wangian untuk dicampur dengan salep.  Dan, para bhikkhu, mangkuk kayu tidak boleh digunakan.  Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||2||8||

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: VINAYA PITAKA 5 (PTS), CULLAVAGGA (BAB V)
« Reply #29 on: 06 March 2012, 11:16:59 PM »
Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan berbagai jenis mangkuk, terbuat dari emas, terbuat dari perak. Orang-oang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaikan perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata:

“Para bhikkhu, mangkuk yang terbuat dari emas tidak boleh digunakan, mangkuk yang terbuat dari mutiara … terbuat dari beryl … terbuat dari krsital … terbuat dari perunggu … terbuat dari kaca … terbuat dari timah … terbuat dari timbal …mangkuk yang terbuat dari tembaga tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.” ||1||

Pada saat itu bagian bawah mangkuk terkikis. Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, membuat dudukan mangkuk berbentuk lingkaran.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan berbagai jenis dudukan mangkuk berbentuk lingkaran, terbuat dari emas, terbuat dari perak. Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaikan perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata:

“Para bhikkhu, berbagai jenis dudukan mangkuk berbentuk lingkaran tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, dua (jenis) dudukan mangkuk berbentuk lingkaran: terbuat dari timah, terbuat dari timbal.” Dudukan berbentuk lingkaran yang tebal tidak dapat disisipi.  Mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk membentuknya.” Terdapat tonjolan tajam (pada dudukan itu).  [112] mereka mengadukan persoalan ini kepada Sang Bhagavā. Beliau berkata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk memotong gigi ikan todak itu.”

Pada saat itu Kelompok Enam Bhikkhu menggunakan dudukan mangkuk berbentuk lingkaran berukir,  penuh dengan gambar, dibuat dengan hiasan, dan mereka berkeliling di jalan sambil memamerkannya. Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaikan perumah tangga yang menikmati kenikmatan indria.” Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, dudukan mangkuk berbentuk lingkaran yang berukir tidak boleh digunakan. Siapapun yang menggunakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan dudukan mangkuk berbentuk lingkaran yang biasa.”  ||2||

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) menyimpan mangkuknya dengan berisikan air di dalamnya dan salah satu mangkuk tumpah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh disimpan dengan berisikan air di dalamya. Siapapun yang menyimpannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menyimpannya setelah mengeringkannya di bawah sinar matahari.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) mengeringkan mangkuknya di bawah sinar matahari dengan masih berisi air di dalamnya dan mangkuk menjadi berbau busuk. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk yang masih berisi air tidak boleh dikeringkan di bawah sinar matahari. Siapapun yang mengeringkannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menyimpan mangkuk setelah mengosongkannya dan mengeringkannya di bawah sinar matahari.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) meletakkan mangkuknya di bawah panas matahari dan warna mangkuknya menjadi pudar. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh diletakkan di bawah panas matahari. Siapapun yang meletakkannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menyimpan mangkuk, setelah mengeringkannya sebentar di bawah panas matahari.”  ||3||

Pada saat itu banyak mangkuk yang diletakkan di ruang terbuka tanpa penyangga. Ketika saling berbenturan karena tiupan angin, mangkuk itu pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, untuk menggunakan penyangga kecil untuk mangkuk.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) meletakkan mangkuknya di tepi sebuah bangku.  Ketika jatuh, sebuah mangkuk pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh diletakkan di tepi bangku. Siapapun yang meletakkannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) meletakkan mangkuknya di tepi lantai berplaster.  Ketika jatuh, sebuah mangkuk pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh diletakkan di tepi lantai berplaster. Siapapun yang meletakkannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) meletakkan mangkuknya terbalik  di atas tanah. Bibir mangkuk itu terkikis. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan alas rumput.”  Alas rumput itu dimakan rayap. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan sepotong kain. Sepotong kain itu dimakan rayap. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan dudukan-mangkuk.”  Ketika jatuh dari dudukan-mangkuk, sebuah mangkuk pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan dudukan-mangkuk terbuat dari kayu elastis.”  Sebuah mangkuk terkikis oleh dudukan mangkuk terbuat dari kayu elastis itu. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan tas untuk mangkuk. Tidak ada selempang di sisinya. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan selempang di sisinya, dan tali untuk mengikat.”  ||4||

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) menggantung mangkuknya pada pasak di dinding  dan pada (pasak) “gading gajah”. Ketika terjatuh, sebuah mangkuk pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh digantung. Siapapun yang menggantungnya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) meletakkan mangkuknya di atas alas duduk. Karena duduk dengan lengah, mereka memecahkan sebuah mangkuk saat duduk.  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh diletakkan di atas alas duduk. Siapapun yang meletakkannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

…(paragraf yang sama diulangi untuk meletakkan mangkuk di atas kursi) …

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) meletakkan mangkuknya di atas pangkuannya. Karena bangkit dengan lengah, sebuah mangkuk terjatuh dan pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh diletakkan di atas pangkuan. Siapapun yang meletakkannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) meletakkan mangkuknya di atas penghalang sinar matahari.  Penghalang sinar matahari itu terbang tertiup angin kencang  dan karena jatuh mangkuk itu pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk tidak boleh diletakkan di atas penghalang sinar matahari. Siapapun yang meletakkannya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu (masing-masing) membuka pintu sambil memegang mangkuk di tangan. Sewaktu pintu membuka dan menutup, sebuah mangkuk pecah. Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, pintu tidak boleh dibuka sambil memegang mangkuk di tangan. Siapapun yang membukanya (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”  ||5||9||

Pada saat itu para bhikkhu berkeliling untuk mengumpulkan dana makanan (dan dimasukkan) ke dalam labu.  Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Seperti anggota sekte lain.”  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, kalian tidak boleh berkeliling untuk mengumpulkan dana makanan (dan dimasukkan) ke dalam labu. Siapapun yang berkeliling (demikian), maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah.”

Pada saat itu para bhikkhu [114] berkeliling untuk mengumpulkan dana makanan (dan dimasukkan) ke dalam kendi-air. Orang-orang lain … (seperti di atas) … pelanggaran perbuatan-salah.” ||1||

Pada saat itu seorang bhikkhu selalu mengenakan jubah yang seluruhnya terbuat dari potongan-potongan kain;  ia membawa mangkuk yang terbuat dari tengkorak. Seorang perempuan, ketakutan saat melihatnya, berteriak ketakutan;  “ Sungguh menakutkan bagiku; ia pasti siluman  yang mengejarku.” Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin para petapa ini, putera-putera Sakya membawa mangkuk yang terbuat dari tengkorak, seperti para pemuja siluman?”  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, mangkuk yang terbuat dari tengkorak tidak boleh dibawa. Siapapun yang membawanya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Juga para bhikkhu, kalian tidak boleh mengenakan jubah yang seluruhnya terbuat dari potongan-potongan kain. Siapapun yang mengenakannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. ||2||

Pada saat itu para bhikkhu mengembalikan sisa gigitan, tulang dan air kotor  ke dalam mangkuk. Orang-orang lain … menyebarkan, dengan mengatakan: “Benda darimana para petapa ini, putera-putera Sakya makan, adalah tempat sampah.”  Mereka mengadukan hal ini kepada Sang Bhagavā. Beliau bekata: “Para bhikkhu, sisa gigitan, tulang dan air kotor tidak boleh dikembalikan ke dalam mangkuk. Siapapun yang mengembalikan (demikian), , maka ia melakukan pelanggaran perbuatan-salah. Aku Mengizinkan kalian, para bhikkhu, menggunakan tempat sampah.” ||3||10||