Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism  (Read 29954 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #45 on: 29 May 2011, 06:45:52 AM »
saya baca dari awal, sepertinya dia tidak mengerti apa yang ditulis ^-^.
apa itu kebenaran universal ?, apa itu tinta dan kertas ?, apa itu pendapat dan teori ?, apa itu tulisan sutta ?, apa itu sebuah penulisan ?,
aplikasi dan penggunaanya utk apa ?, kesemuanya tujuan utk apa ???  :o
jadinya muter sana muter sini  :))
« Last Edit: 29 May 2011, 06:54:16 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #46 on: 30 May 2011, 10:29:12 AM »
saya baca dari awal, sepertinya dia tidak mengerti apa yang ditulis ^-^.
apa itu kebenaran universal ?, apa itu tinta dan kertas ?, apa itu pendapat dan teori ?, apa itu tulisan sutta ?, apa itu sebuah penulisan ?,
aplikasi dan penggunaanya utk apa ?, kesemuanya tujuan utk apa ???  :o
jadinya muter sana muter sini  :))

Orang buta menyebut orang melek buta

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #47 on: 30 May 2011, 11:56:43 AM »
 [at]  djoe

Setelah menahan diri dari balas posting selama 11 hari (yang sebetulnya saya puji), akhirnya tergerak juga untuk mengatakan orang lain buta dan menyatakan diri sendiri melek?


Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #48 on: 30 May 2011, 12:26:00 PM »
Jika seseorang mempraktekkan dharma, maka ia akan mewujudkan kebenaran dalam dirinya. Ia akan merasakan kebenaran dharma karena dharma tersebut menjadi hidup. Ia akan menjadi kebenaran itu sendiri. Bisakah tinta diatas kertas menjadi kebenaran? Bisakah benda mati menjadi kebenaran? Demikian juga dharma yang didengar tanpa praktek, bisakah seseorang merasakan dharma tersebut?
Jika seseorang mengatakan tinta diatas kertas bisa menjadi kebenaran, maka sutta tersebut bisa menjadi Buddha, dengan demikian batu juga bisa menjadi Buddha. Tetapi benarkah seperti itu? Benarkah sutta itu adalah kebenaran?Ataukah orang tersebut melekat pada sutta tersebut? atau melekat pada kata - katanya dan tidak melihat kebenaran yang ada?

Hanya membaca sutta - sutta tanpa praktek dan berkutat pada kata - kata, ibaratnya seseorang yang melihat gambar apel diatas kertas dan mengatakan bahwa ia tahu rasa apel  itu seperti apa.

Misalkan jika si A mengajarkan saya. Saya harus mempraktekkan pengetahuan yg diajarkannya.  Ketika si A mengajarkan saya dan saya mengerti, tetapi pengertian tersebut bukan pengertian yang dalam dan sebenarnya, karena saya belum mempraktekkannya. Ketika saya benar - benar mempraktekkannya dan dari hasil latihan tersebut berbuah maka saya akan mencapai pada titik akhir dan mengetahui arti sebenarnya. Maka saya bisa katakan bahwa saya mengetahui si A. Saya akan melihat si A pada tempat itu juga. Tempat itu adalah si A. Karena si A mengajarkan itu, maka itu adalah si A

Seperti contoh diatas, apel adalah sesuatu yang anda baca dari buku mengenai bentuk dan rasanya. Bentuk dan rasa apel adalah sesuatu yang tidak bisa anda tahu hanya dengan membaca. Tetapi anda mendapat pengetahuian tentang bentuk dan rasa apel tersebut dari buku. Kamu tidak melihat bentuk dan merasakannya secara nyata. Kapan anda  bisa melihat bentuk apel dan merasakannya. Yaitu pada saat anda melihat dan memegang buah apel tersebut dan memakannya. Pada saat itu kebenaran tentang buah apel menjadi nyata.

Ajaran Dharma seperti contoh buah apel diatas. Orang - orang mendengarnya atau membaca tentangnya, tetapi mereka tidak tahu rasa buah apel tersebut. Ketika mereka mempraktekkannya, maka dharma itu menjadi pengetahuan yg nyata. Rasa buah apel tidak bisa diketahui dengan mata atau telinga, dan kebenaran dharma tidak bisa diketahui dengan mata dan telinga juga. Benar ada pengetahuan, tetapi pengetahuan tersebut belum menjadi kebenaran nyata. Seseorang harus mempraktekkannya baru bisa melihat dan merasakan kebenarannya.

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #49 on: 30 May 2011, 12:39:49 PM »
tidak ada di sini yang menyatakan bahwa seseorang harus berkutat dengan sutta, semua pasti tau dan mengerti, semua harus seimbang baik pendalaman pada sutta maupun praktek
anda benar dalam memakai perumpamaan apel, tapi seandainya di daerah anda tidak ada apel dan anda ingin memberitahu anak anda bentuk apel tersebut, dari warna ,ukurannya , jenis dan cirinya.  itu dari mana , kalau bukan dari buku? apakah anda akan berusaha mencarikan apel tersebut sampai ke luar kota yang membutuhkan waktu dan jarak yang tidak sedikit? hanya karena anda ingin menerapkan praktek dan praktek ke pada anak anda, dan andai anda sendiri memerintahkan anak anda untuk mencari apel yang notabene anak anda belum pernah sama sekali tau tentang apel lalu itu bagaimana? _/\_
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #50 on: 30 May 2011, 03:32:36 PM »
tidak ada di sini yang menyatakan bahwa seseorang harus berkutat dengan sutta, semua pasti tau dan mengerti, semua harus seimbang baik pendalaman pada sutta maupun praktek
anda benar dalam memakai perumpamaan apel, tapi seandainya di daerah anda tidak ada apel dan anda ingin memberitahu anak anda bentuk apel tersebut, dari warna ,ukurannya , jenis dan cirinya.  itu dari mana , kalau bukan dari buku? apakah anda akan berusaha mencarikan apel tersebut sampai ke luar kota yang membutuhkan waktu dan jarak yang tidak sedikit? hanya karena anda ingin menerapkan praktek dan praktek ke pada anak anda, dan andai anda sendiri memerintahkan anak anda untuk mencari apel yang notabene anak anda belum pernah sama sekali tau tentang apel lalu itu bagaimana? _/\_

Seperti yang sudah dijelaskan mendengar dan mempelajari dharma adalah ibarat orang mempelajari apel dari buku dan mendengarkan orang berbicara tentang apel

Analogi anda tidak nyambung disini. Apakah seorang guru dharma dalam menjelaskan nibbana dan nibbana tersebut tidak ada disini lalu pergi keluar kota dan mencari nibbana kemudian menunjukkan " Ini loh nibbana, coba anda rasakan". Apakah seperti itu? Analogi anda tidak tepat disini, karena anda tidak menangkap inti yang disampaikan disini.

Seharusnya analogi anda adalah setelah seseorang mempelajari tentang apel dan ingin mengetahui apel, ingin mempunyai knowledge tentang apel yang sebenarnya dan dimana apel tersebut tidak ada dikota, perlukah dia mencarinya keluar kota?
Bukan memakai analogi seperti yang anda kasih hanya untuk memberitahukan tentang apel, saya perlu mencarinya ke luar kota.

Tetapi anda benar soal waktu yang tidak sedikit untuk mewujudkan / merasakan kebenaran /apel. Paling tidak analogi anda masih ada benarnya.

Kemana anda akan mencari nibbana?
Kemanakah anda mencari kebenaran?
Buddha sendiri melepaskan segala sesuatu dan pergi ke hutan untuk mencari kebenaran.

Tetapi jika tetap mengikuti contoh / analogi anda mencari apel keluar kota, Jika setelah anda membaca dan mendengar dharma, dan anda berkata bahwa kebenaran itu jauh sekali dan tidak ada di kota kita, tidakah anda akan mencarinya di luar kota? Atau anda sudah puas dengan kebenaran semu tersebut?

"hanya karena anda ingin menerapkan praktek dan praktek ke pada anak anda, dan andai anda sendiri memerintahkan anak anda untuk mencari apel yang notabene anak anda belum pernah sama sekali tau tentang apel lalu itu"

Anda mengatakan hanya.............. :-?
Kecuali anda puas dengan kebenaran semu yang ada diatas kertas dan tidak pusing dengan praktek, Bukankah tujuan belajar dharma adalah praktek?

Tentang memerintahkan,
Bukankah Buddha mengajarkan kita untuk mencari dan mencapai nibbana, sesuatu yang belum kita ketahui?


Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #51 on: 30 May 2011, 03:46:53 PM »
Tentang memerintahkan,
Bukankah Buddha mengajarkan kita untuk mencari dan mencapai nibbana, sesuatu yang belum kita ketahui?

maaf menyela, tapi dimanakah anda mendengar kalimat bold di atas? apakah anda bertemu dan mendengar langsung dari Sang Buddha?

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #52 on: 30 May 2011, 04:28:44 PM »
bisa di bilang saya sangat puas karena saat belajar sutta tidak ada penekanan harus praktek, karena praktek itu dengan sendirinya akan berjalan, dan di sini tidak ada yang menyatakan hanya membaca sutta saja tapi harus balance antar praktek dan teori  _/\_
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #53 on: 31 May 2011, 10:22:45 AM »
bisa di bilang saya sangat puas karena saat belajar sutta tidak ada penekanan harus praktek, karena praktek itu dengan sendirinya akan berjalan, dan di sini tidak ada yang menyatakan hanya membaca sutta saja tapi harus balance antar praktek dan teori  _/\_

 :-? :-?

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #54 on: 03 June 2011, 07:08:41 PM »
Orang buta menyebut orang melek buta

emank ada orang buta disini ?  ^-^
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline sore

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 13
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #55 on: 11 June 2011, 09:46:09 PM »
ya setengah bulan habis buat berdebat.   ^:)^
latihan2 itu dibuat untuk dipraktikan sehingga dapat membawa manfaat, bagi diri sendiri maupun orang lain.

Offline sore

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 13
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #56 on: 11 June 2011, 09:46:39 PM »
saya coba post yang original ya

1. Latihan Eling Pertama: Keterbukaan
Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh kefanatikan dan intoleransi, kami bertekad untuk tidak memberhalakan atau terbelunggu pada doktrin, teori atau ideologi mana saja, termasuk yang Buddhis sekalipun. Ajaran-ajaran Buddhis hanyalah sarana penuntun untuk membantu kami belajar melihat secara mendalam dan menumbuh kembangkan pengertian serta kasih sayang kami. Ajaran-ajaran Buddhis bukanlah doktrin-doktrin yang dijadikan alasan untuk berkelahi, untuk membunuh, ataupun mati demi membela ajaran itu sendiri.

2. Latihan Eling Kedua: Ketidakmelekatan pada Pandangan
Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh kemelekatan pada pandangan dan persepsi yang keliru, kami bertekad untuk menghindari berpikiran sempit dan terikat pada pandangan-pandangan yang dimiliki saat ini. Kami akan belajar dan berlatih ketidakmelekatan pada pandangan agar dapat terbuka terhadap berbagai insight dan pengalaman orang lain. Kami sadar bahwa pengetahuan yang kami miliki saat ini bukanlah kebenaran mutlak yang tidak berubah. Kebenaran ditemukan dalam kehidupan dan kami akan mengamati kehidupan yang ada didalam maupn di sekeliling kami setiap saat, siap untuk belajar seumur hidup kami.

3. Latihan Eling Ketiga: Kebebasan Pikiran
Sadar akan penderitaan yang timbul ketika kami memaksakan pandangan kami kepada yang lain, kami berkomitmen untuk tidak memaksa pihak lain, bahkan anak-anak kami, untuk mengadopsi pandangan kami, melalui cara apapun - seperti otoritas, ancaman, uang, propaganda, ataupun indoktrinasi. Kami akan menghormati hak orang lain untuk berbeda dan memilih apa yang dipercayai serta memutuskannya. Tapi, kami akan membantu pihak lain untuk meninggalkan kefanatikan dan kepicikan dengan berlatih secara mendalam dan terlibat aktif dalam dialog yg penuh kasih sayang.

4. Latihan Eling Keempat: Menyadari Penderitaan
Sadar bahwa melihat sifat dasar penderitaan secara mendalam dapat membantu kami menumbuh kembangkan kasih sayang serta mencari jalan keluar dari penderitaan, kami bertekad untuk tidak menghindar atau menutup mata kami dari penderitaan. Kami berkomitmen untuk menemukan berbagai cara termasuk melalui kontak pribadai, gambar-gambar, suara-suara, dan berada bersama mereka yang sedang menderita, sehingga kami dapat memahami situasi mereka secara mendalam dan membantu mereka mengubah derita mereka menjadi kasih sayang, kedamaian, dan sukacita.

5. Latihan Eling Kelima: Kehidupan yang Sederhana dan Sehat
Sadar bahwa kebahagiaan sejati mngakar pada kedamaian, soliditas, kebebasan, dan kasih sayang, dan bukan pada kekayaan atau ketenaran, kami bertekad untuk tidak menjadikan ketenaran, keuntungan, kekayaan, ataupun kesenangan sensal sebagai tujuan hidup kami, tidak juga mengumpulkan kekayaan sementara jutaan orangsedang kelaparan dan sekarat. Kami berkomitmen untuk hidup sederhana dan berbagi waktu, energi, dan berbagai sumber daya materi kami dengan mereka yang sedang membutuhkan. Kami akan berlatih mengkonsumsi secara penuh kesadaran, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol, narkoba atau produk apapun yang membawa masuk racun ke dalam tubuh dan kesadaran kamu maupunke dalam tubuh dan kesadaran kolektif.

6. Latihan Eling Keenam: Menangani Kemarahan
Sadar bahwa kemarahan menyekat komunikasi dan menciptakan penderitaan, kami bertekad untuk menjaga energi kemarahan ketika ia muncul serta mengenali dan mengubah benih-banih kemarahan yang terbenam jauh di dalam kesadaran kami. Ketika kemarahan muncul, kami bertekad untuk tidak melakukan atau mengatakan sesuatu, melainkan memperhatikan nafas atau jalan berkesadaran dan mengakui serta memeluk kemarahan kami dan melihatnya secara mendalam. Kami akan belajar untuk melihat dengan mata kasih sayang kepada diri kami dan mereka yang kami anggap sebagai penyebab kemarahan kami.

7. Latihan Eling Ketujuh: Berdiam Dalam Kekinian dengan Bahagia
Sadar bahwa hidup hanya tersedia di saat ini dan adalah mungkin untuk hidup bahagia di sini dan sekarang juga, kami berkomitmen untuk melatih diri kami menjalani setiap momen keseharian hidup kami secara mendalam. Kami akan berusaha untuk tidak terhanyut dalam kekacauan pikiran atau terserat oleh penyesalan masa lalu, kecemasan akan masa depan, atau oleh nafsu rendah, kemarahan, ataupun kecemburuan masa sekarang. Kami akan mempraktikan nafas berkesadaran untuk kembali pada apa yang sedang terjadi saat ini. Kami bertekad untuk mempelajari seni hidup berkesadaran dengan menyentuh berbagai eleman yang menakjubkan, menyegarkan, dan menyambuhkan yang ada di dalam maupun di sekeliling kami, dan juga dengan memupuk benih sukacita, benih kedamaian, benih cinta kasih, dan pengertian dalam diri kami, sehingga memfasilitasi bekerjanya transformasi dan penyembuhan dalam kesadaran kami.

8. Latihan Eling Kedelapan: Komunitan dan Komunikasi
Sadara bahwa kurangnya komunikasi selalu mengakibatkan perpisahan dan penderitaan, kami berkomitmen untuk melatih diri kami praktik mendengar dengan kasih sayang dan bicara dengan cinta kasih. Kami akan belajar untuk mendengarkan secara mendalam tanpa menilai ataupun bereaksi dan menahan diri untuk mengucapkan kata-kata yang dapat menciptakan ketidak-nyamanan atau menyebabkan perpecahan dalam komunitas. Kami akan mengerahkan segala usaha untuk menjaga komunikasi yang terbuka dan untuk berkonsiliasi dan menyelesaikan semua konflik, sekecil apapun itu.

9. Latihan Eling Kesembilan: Keadaan yang Sebenarnya dan Cara Bicara yang Penuh Cinta Kasih
Sadar bahwa kata-kata dapat menciptakan penderitaan atau kebahagiaan, kami berkomitmen untuk belajar berbicara secara sadar dan konstruktif, hanya menggunakan kata-kata yang menimbulkan harapan dan keyakinan. kami bertekad untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak benar demi kepentingan pribadi ataupun demi mempesona orang lain, juga tidak menuturkan kata-kata yang dapat memecah belah atau menimbulkan kebencian. Kami tidak akan menyebarkan berita yang belum kami ketahui dengan pasti, tidak juga mengkitik atau mengutuk hal-hal yang belum kami yakini secara pasti. Kami akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengungkapkan situasi-situasi yang tidak berkeadilan , meskipun saat melakukan itu dapat membahayakan keamanan kami.

10. Latihan Eling Kesepuluh: Melindungi Sangha
Sadar bahwa esensi dan tujuan dari Sangha adalah praktik pengertian dan kasih sayang, kami bertekad untuk tidak menggunakan komunitas buddhi untuk kepentingan atau keuntungan pribadi, atau mengubah komunitas kami menjadi instrumen politik. Tetapi, sebuah komunitas spiritual seharusnya mengambil posisi yang jelas terhadap penindasan dan ketidakadilan dan berusaha mengubah situasi tersebut tanpa terlibat ke dalam konflik partisan.

11. Latihan Eling Kesebelas: Mata Pencaharian Benar
Sadar bahwa kekerasan dan ketidak adilan yang maha dahsyat telah dilakukan terhadap lingkungan dan masyarakat kita, kami berkomitmen untuk tidak hidup dari pekerjaan yang membahayakan manusia dan alam. Kami akan mengupayakan yang terbaik dalam memilih mata pencaharian yang dapat membantu merealisasikan cita-cita pengertian dan kasih sayang kami. Sadar akan realitas ekonomi, politik, dan sosial dunia, sebagai konsumen dan warga negara, kami akan berprilaku dengan penuh tanggung jawab dengan tidak menyokong perusahaan-perusahaan yang menghilangkan peluang hidup pihak-pihak lain.

12. Latihan Eling Keduabelas: Menghormati Kehidupan
Sadar bahwa banyak penderitaan disebabkan oleh perang dan konflik, kami bertekad untuk mengolah tanpa kekerasan, pengertian, dan kasih sayang dalam keseharian hidup kami, mempromosikan pendidikan tentang perdamaian, mediasi yang berkesadaran, serta rekonsiliasi dalam keluarga, komunitas, bangsa, dan dunia. Kami bertekad untuk tidak membunuh dan membiarkan pihak-pihak lain membunuh. Dengan tekun kami akan berlatih melihat secara mendalam bersama Sangha kami guna menemukan cara-cara yang lebih baik untuk melindungi kehidupan dan mencegah peperangan.

13. Latihan Eling Ketigabelas: Kedermawanan
Sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh eksploitasi, ketidak adilan sosial, pencurian, dan penindasan, kami berkomitmen untuk mengolah cinta kasih dan belajar cara-cara untuk bekerja demi kesejahteraan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan mineral. Kami akan mempraktika kedermawanan dengan berbagi waktu, energi, dan sumber daya materi kami dengan mereka yang sedang membutuhkan. Kami bertekad untuk tidak mencuri dan memiliki apapun yang seharusnya menjadi milik pihak lain. Kami akan menghormati harta benda pihak lain, tapi akan berusaha mencegah pihak lain memperoleh keuntungan dari penderitaan manusia atau penderitaan makhluk lainnya.

14. Latihan Eling Keempatbelas: Perilaku Benar
(Untuk sahabat awam) Sadar bahwa hubungan seksual yang dimotivasi nafsu rendah tidak dapat menghilangkan peraaan kesepian melainkan anak menciptakan lebih banyak penderitaan, frustasi, dan isolasi, kami bertekad untuk tidak terlibat dalam hubungan seksual yang tanpa pasing pengertian, cinta kasih, dan komitmen jangka panjang. Kami harus menyadari bahwa derita masa mendatang dapat timbul dalam hubungan seksual. Kami tahu bahwa untuk menjaga kebahagiaan kami dan pihak-pihak lain, kami harus menghormati hak dan komitmen kami dan pihak-pihak lain. Kami akan melakukan segala hal yang dalam kuasa kami untuk melindungi anak-anak dari pelecehan seksual dan melindungi pasangan dan keluarga dari pelecehan akibat pelanggaran seksual. Kami akan memperlakukan tubuh kami dengan penuh rasa hormat dan menjaga energi-energi vital kami (seksual, pernafasa, semangat) untuk perealisasian cita-cita bodhisattwa kami. Kami akan sepenuhnya menyadari tanggung jawab dari menghadirkan kehidupan baru ke dunia dan memeditasikan dunia yang ke dalamnya akan kami hadirkan makhluk-makhluk baru.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #57 on: 13 June 2011, 08:49:04 AM »
^^
kalau ada kata 'eling' pasti ingat HH  =)) =))
« Last Edit: 13 June 2011, 08:51:15 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #58 on: 13 June 2011, 08:52:48 AM »
ya setengah bulan habis buat berdebat.   ^:)^
latihan2 itu dibuat untuk dipraktikan sehingga dapat membawa manfaat, bagi diri sendiri maupun orang lain.

kayaknya udah lama deh tidak berdebat
kok bro sore tahu ada perdebatan darimana ?
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism
« Reply #59 on: 13 June 2011, 12:25:08 PM »
kayaknya udah lama deh tidak berdebat
kok bro sore tahu ada perdebatan darimana ?

soalnya sudah ke luar malam pagi dan siang om  ;D
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma