Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: benci ayah kandung  (Read 6370 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: benci ayah kandung
« Reply #30 on: 10 February 2011, 08:12:51 AM »
wkakakaka  :)) ....
jadi hapal getooooo, angkot luar kota ?? yg di jakarta gak pake music

Iya, dulu dengarnya waktu di angkot yang bukan di jkt. Angkot jkt juga ada yang pake musik walaupun gak banyak.. Gak hapal sih, tapi sekilas pernah dengar lagu itu, jadi googling liriknya hehe..

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: benci ayah kandung
« Reply #31 on: 21 February 2011, 12:04:18 PM »
btw dari teman2 saya yg hidup dari uang judi, mereka bukan penjudi. biasanya mereka bandar yg ga ikut dalam game.

Lah, para bandar itu tidak ikut dalam game karena, mereka-lah bagian dari game itu.
Sistem dari banyak permainan itu sudah di-desain sedemikian rupa sehingga secara statistik lebih favor kepada bandar/agen, dan lebih merugikan kepada para pemain ATAU kadang dalam permainan/game tersebut, seorang pemain harus-lah lebih MAHIR/SKILLFULL di dalam permainan untuk memenangkan taruhan.

Seringkali para penjudi itu tidak MENGUASAI / MASTERING permainan/game itu, sehingga yang terjadi adalah seringkali kalah di dalam permainan.

Kisah Nyata yang di film-kan yang judul-nya "21" (twenty one), yang dibintangi oleh KEVIN SPACEY, menceritakan sekelompok mahasiswa jenius yang memiliki daya ingat dan daya hitung secara statistikal yang cepat, bisa memenangkan uang di kasino-kasino LAS VEGAS dengan daya ingat kartu dan daya hitung secara statistikal.
Yang dikatakan oleh Mentor mereka (Kevin Spacey) adalah MEREKA BUKAN BERJUDI, tetapi mereka BERHITUNG... BERHITUNG Statistikal tentunya.
Apa yang terjadi ketika para security Kasino mendapati bahwa sekelompok ini terus memenangkan uang di kasino mereka ? Mereka di tangkap dan diburu...

Jadi JIKA KAMU BISA MEMENANGKAN UANG MEREKA, BERJUDI-lah, JIKA TIDAK BISA MEMENANGKAN UANG MEREKA. BERHENTI-lah.

KArena ketika permainan/game itu hanya secara statistikal memenangkan satu pihak (mis : pihak BANDAR) maka bukan Taruhan/perjudian yang terjadi... TETAPI Entertainment saja... yang tentu-nya semakin lama/besar kita ikut di dalam permainan/game = menghabiskan duit.
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.428
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: benci ayah kandung
« Reply #32 on: 21 February 2011, 03:38:22 PM »
ada kok bandar yg ikut jadi gambler... hasilnya yah berantakan juga.
misalnya bandar bola (sepak bola). ada bandar yg ikut2an akhirnya terjerumus jg.

soalnya bandar ada byk macam jg... ada bandar indukan, ada bandar anakan yg setor ke indukan... :))
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline bawel

  • Sebelumnya: Comel
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.755
  • Reputasi: 71
  • Gender: Male
  • namanya juga bawel ;D
Re: benci ayah kandung
« Reply #33 on: 21 February 2011, 03:45:16 PM »
ada kok bandar yg ikut jadi gambler... hasilnya yah berantakan juga.
misalnya bandar bola (sepak bola). ada bandar yg ikut2an akhirnya terjerumus jg.

soalnya bandar ada byk macam jg... ada bandar indukan, ada bandar anakan yg setor ke indukan... :))

iya mirip seperti pembuat obat bius,
paling atas cuma terima setoran sama bayar gaji aja ngak pake obat biusnya,
makin kebawah makin sering memakai,
paling bawah, yah cuma jadi pemakai saja ;D.

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: benci ayah kandung
« Reply #34 on: 21 February 2011, 04:27:41 PM »
(1) Sa pādamuli kilantaṁ passanto tarunaṁ sutaṁ
      pitāvudikhi taṁ Māraṁ, Mettāyanto dayāparo
 
Seorang ayah yang penuh welas asih tidak akan menunjukan kemarahannya sedikit pun kepada putranya yang nakal, bahkan sebaliknya ia akan merangkulnya, memangkunya dan menidurkannya di pangkuannya dengan cinta kasih dan welas asih seorang ayah terhadap anaknya. Demikian pula, ...
 
 

Dikutip dari:
Riwayat Agung Para Buddha - Jilid 1
Bab 13 - Pencapaian Kebuddhaan Setelah Mengubah Cara Berlatih
hal. 649
web: http://dhammacitta.org/perpustakaan/riwayat-agung-para-buddha/?cp=all
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha