Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Budaya Tionghoa : Festival Perahu Naga di Cisadane  (Read 1120 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Razita

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 9
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Budaya Tionghoa : Festival Perahu Naga di Cisadane
« on: 10 August 2017, 10:42:21 AM »


Budaya Tionghoa : PADA penyelenggaraan tahun ini, Festival Perahu Naga di Cisadane, Tangerang, Banten berbeda dengan sebelumnya. Diikuti peserta dari seluruh Banten. Awalnya, festival ini merupakan perayaan etnis Tionghoa.

Tapi kini telah berubah menjadi ajang bagi semua kalangan, tanpa memandang etnis dan agama. Bahkan dijadikan sebagai salah satu penarik wisatawan lokal dan mancanegara. Pemerintah Kota Tangerang, jeli melihat ini sehingga didukung sepenuhnya.

Jika penyelenggaraan awal, hanya sebuah lomba perahu naga, tapi sekarang sudah dibarengi dengan pertunjukan seni lintas etnis.

Rina Hernaningsih, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, mengatakan, pembeda perayaan tahun ini dengan sebelumnya adalah panitia mengundang semua kota dan kabupaten di Banten.

Dipersilakan mempertunjukkan seni dan budaya masing-masing wilayah. Sehingga menarik untuk disaksikan oleh berbagai kalangan. Tak hanya budaya Tionghoa. “Lokasinya masih di Jalan Benteng Jaya. Untuk kegiatan utama lomba perahu hias,” tuturnya.

Penyelenggaraan Festival Cisadane, sambungnya, selain menarik wisatawan, dan memelihara budaya leluhur, juga menjaga lingkungan sungai, serta memberdayakan usaha kecil dan menengah. Penyelenggaraan ini berlangsung dari 22 Juli sampai 29 Juli 2017.

Untuk diketahui, lomba perahu naga asalnya dari Tiongkok, bertepatan dengan perayaan Peh Cun atau Festival Bakcang. Akan tetapi, di Tangerang diadakan sesuai dengan kalender wisata. Mengarungi sungai sejauh 500 meter.

Perayaan Peh Cun sebenarnya telah lewat sejak beberapa bulan yang lalu. Peh Cun berasal dari kata Pe Liong Cun yang artinya mendayung perahu naga. Berdasarkan tradisi, Tionghoa mengadakan perayaan ini untuk memperingati menteri Qu Yuan.

Ia merupakan pejabat yang bersih, tapi diusir karena fitnah. Lalu dia menjalani ritual agama, pergi menggunakan perahu dan menceburkan diri di sungai. Sejak saat itu, warga yang mendambakan sosoknya, mencari dengan menyusuri Sungai Bek Lo di Tiongkok.

Sejak saat itu, mulai menjadi kebiasaan warga di Tiongkok, lalu dibawa oleh mereka yang melakukan hijrah ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hingga sekarang sosoknya masih dianggap sebagai pejabat panutan, dan perlu diikuti oleh semua orang terutama yang punya kedudukan.

Budaya Tionghoa Lainnya : Sumber

« Last Edit: 10 August 2017, 10:44:29 AM by Razita »