Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: "Dhamma Fighting" - Ajahn Chah  (Read 1825 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline broken.arrowz

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 5
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
"Dhamma Fighting" - Ajahn Chah
« on: 24 October 2010, 08:10:44 PM »
Dhamma Fighting

Oleh : Ajahn Chah


Lawanlah keserakahan, lawanlah kebencian, lawanlah khayalan.... ini semua adalah musuh.  Di dalam praktek Buddhisme, jalan Sang Buddha, kita berjuang dgn Dhamma, dgn ketabahan dan kesabaran. Kita berjuang dgn melawan berbagai suasana hati kita yg tidak terhitung banyaknya.

Dhamma dan dunia ini saling berhubungan. Di mana ada Dhamma, di situ ada dunia. Di mana ada dunia, di situ pula ada Dhamma. Di mana ada kegelapan bathin, di situ ada orang-orang yg menaklukkan kegelapan bathin, orang-orang yg memeranginya. Inilah yg dinamakan berperang ke dalam bathin. Untuk berperang secara fisik, orang-orang melempar bom dan menembakkan pistol; mereka menaklukkan dan ditaklukkan. Menaklukkan pihak lain adalah sifat dari dunia ini. Di dalam praktek Dhamma, kita tidak perlu memerangi pihak lain, tetapi sebaliknya kita menaklukkan pikiran kita sendiri, dgn sabar menahan diri dan melawan segala suasana hati kita.

Di dalam praktek Dhamma, kita tidak memendam kebencian dan permusuhan di antara kita, tetapi sebaliknya kita melepaskan segala bentuk dendam dan sakit hati di dalam tingkah laku dan pikiran kita, membebaskan diri kita dari kecemburuan, kebencian dan kemarahan. Kebencian hanya bisa diatasi dgn tidak menyimpan rasa dendam dan amarah.

Perbuatan yg menyakiti dan balas dendam adalah dua hal yg berbeda, tetapi terkait erat. Perbuatan yg telah dilakukan, berakhir saat itu juga, tidak perlu dijawab dgn pembalasan dendam dan permusuhan. Ini dinamakan "tindakan" (kamma). "Balas dendam" (vera) artinya melanjutkan tindakan tsb lebih jauh lagi dgn pikiran "kamu melakukannya kepadaku, jadi aku akan membalasmu". Tidak ada akhirnya. Akan timbul saling membalas dendam, sehingga kebencian tak akan pernah bisa diabaikan. Selama kita bertingkah laku seperti ini, rantai tidak akan putus, tidak ada akhirnya. Ke mana pun kita pergi, permusuhan pun berlanjut.

Guru Agung (note: yakni Sang Buddha) mengajari dunia, beliau memiliki belas kasih kepada semua makhluk dunia ini. Tetapi dunia tetap seperti ini. Para bijaksana seharusnya memperhatikan hal ini dan memilih apa yg benar-benar bernilai. Sang Buddha telah berlatih dgn berbagai jenis seni perang semasa beliau masih seorang pangeran, tetapi beliau menyadari bahwa hal-hal itu tidaklah begitu bermanfaat, ia hanya terbatas pada dunia ini dgn peperangan dan agresinya.

Oleh karena itu, di dalam melatih diri kita sendiri sebagai orang yg telah meninggalkan keduniawian, kita harus belajar utk meninggalkan segala bentuk kejahatan, meninggalkan segala sesuatu yg bisa menimbulkan permusuhan. Kita menaklukkan diri kita sendiri, kita tidak mencoba menaklukkan pihak lain. Kita berperang, tetapi kita hanya memerangi kegelapan bathin; jika ada keserakahan, kita perangi dia; jika ada kebencian, kita perangi dia; jika ada khayalan, kita berjuang utk melepaskannya.

Ini dinamakan "Perjuangan Dhamma." Peperangan di dalam hati ini sungguh sulit, malah yg paling sulit dari semuanya. Kita menjadi bhikkhu adalah utk merenungkan hal ini, utk mempelajari seni perang melawan keserakahan, kebencian dan khayalan. Ini adalah kewajiban utama kita.

Ini adalah pertempuran di dalam, berperang dgn kegelapan bathin. Tetapi sangat sedikit orang yg berperang seperti ini. Kebanyakan orang berperang dgn hal-hal yg lain, mereka jarang memerangi kegelapan bathin. Mereka bahkan jarang memperhatikannya.

Sang Buddha mengajari kita utk melepaskan segala bentuk kejahatan dan mengembangkan kebajikan. Inilah jalan yg benar. Mengajar seperti ini ibarat Sang Buddha menjemput dan mengantarkan kita pada awal Sang Jalan. Setelah mencapai Sang Jalan, apakah kita mau berjalan melaluinya atau tidak, terserah kepada kita. Tugas Sang Buddha telah selesai. Beliau menunjukkan jalannya, mana yg benar dan mana yg tidak benar. Hanya ini saja sudah cukup, selanjutnya terserah kepada kita.

Sekarang, setelah mencapai Sang Jalan, kita masih belum mengetahui apa pun, kita masih belum melihat apa pun, jadi kita harus belajar.Untuk belajar, kita harus bersiap-siap utk bertahan menghadapi beberapa kesukaran, sama seperti para mahasiswa di dunia. Cukup sulit utk mendapatkan ilmu dan belajar adalah hal yg penting bagi mereka utk mengejar karir mereka. Mereka harus bertahan. Bila mereka berpikir keliru atau merasa bosan atau malas, mereka harus memaksa diri mereka agar mereka bisa lulus dan mendapatkan pekerjaan. Praktek seorang bhikkhu adalah sama. Jika kita bertekad utk berlatih dan merenungkan, maka kita pasti akan melihat Sang Jalan.

Ditthi-māna adalah hal yg berbahaya. Ditthi artinya "pandangan" atau "opini". Segala bentuk pandangan disebut ditthi: menganggap yg baik sebagai jahat, menganggap yg jahat sebagai baik.... segala cara pandang terhadap apa pun. Ini tidak menjadi masalah. Yg menjadi masalah adalah kemelekatan pada pandangan-pandangan tsb, yg disebut māna; menganggap pandangan-pandangan tsb sebagai kebenaran. Ini akan mengakibatkan kita berputar-putar terus dari kelahiran menuju kematian, tidak pernah mencapai penyelesaian, hanya karena kemelekatan ini. Jadi, Sang Buddha menganjurkan kita utk melepaskan pandangan-pandangan.

Jika banyak orang tinggal bersama-sama, seperti yg kita lakukan di sini, mereka tetap bisa berlatih dgn nyaman jika pandangan-pandangan mereka selaras. Tetapi walaupun cuma ada dua atau tiga orang bhikkhu saja pun akan mengalami kesulitan jika pandangan-pandangan mereka tidak bagus atau tidak selaras. Bila kita merendahkan hati kita dan melepaskan pandangan-pandangan kita, walaupun jumlah kita banyak, kita datang bersama-sama ke hadapan Buddha, Dhamma dan Sangha (note: Tiga Mestika: Sang Buddha, Dhamma, ajaranNya, dan Sangha, Persaudaraan Bhikkhu-Bhikkhuni, atau mereka yg telah merealisasi Dhamma).

Adalah tidak benar utk berkata bahwa akan terjadi ketidakharmonisan hanya karena jumlah kita banyak. Lihat saja seekor lipan. Lipan punya banyak kaki, bukan? Melihat seekor lipan, anda pasti mengira ia akan susah berjalan, tetapi sebenarnya tidak. Ia punya irama dan aturan tersendiri. Latihan kita juga sama. Jika kita berlatih sebagaimana layaknya Sangha Agung dari Sang Buddha berlatih, maka ia menjadi mudah. Itu adalah supatipanno - mereka yg berlatih dgn baik; ujupatipanno - mereka yg berlatih dgn sungguh-sungguh; ñāyapatipanno - mereka yg berlatih utk melampaui penderitaan, dan sāmıcipatipanno - mereka yg berlatih dgn benar. Kempat sifat ini, bila dibangun di dalam diri kita, akan menjadikan kita anggota Sangha yg sesungguhnya. Bahkan jika ada ratusan atau ribuan orang di antara kita, berapa pun jumlahnya, kita semua berjalan pada jalur yg sama. Kita berasal dari latar belakang yg berbeda-beda, tetapi kita adalah sama. Walaupun pandangan kita mungkin berbeda, jika kita berlatih dgn benar, maka tidak akan ada perselisihan. Sama seperti sungai-sungai yg mengalir ke laut.... begitu mereka memasuki lautan, mereka semua memiliki warna dan citarasa yg sama. Sama halnya dgn orang-orang. Ketika mereka memasuki arus Dhamma, ia adalah satu Dhamma. Walaupun mereka berasal dari tempat yg berbeda-beda, tetapi mereka selaras, mereka bersatu.

Tetapi pikiran-pikiran yg mengakibatkan timbulnya segala perselisihan dan konflik adalah ditthi-māna. Oleh sebab itu Sang Buddha mengajarkan kita utk melepaskan pandangan-pandangan. Jangan biarkan māna melekat pada pandangan-pandangan tsb hingga melebihi relevansinya.

Sang Buddha mengajarkan manfaat dari sati, memusatkan perhatian (note : "sati" biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "kesadaran (mindfulness)". "Ingatan (recollection)" adalah terjemahan yg lebih tepat dari istilah Thai, "ra-luk dai"). Apakah kita sedang berdiri, berjalan, duduk atau berbaring, di mana pun kita berada, kita seharusnya memiliki kekuatan ingatan ini. Bila kita memiliki sati, kita melihat diri kita sendiri, kita melihat pikiran kita sendiri. Kita melihat "tubuh yg ada di dalam tubuh", "pikiran yg ada di dalam pikiran". Jika kita tidak punya sati, kita tidak tahu apa-apa, kita tidak menyadari apa yg sedang terjadi.

Jadi, sati sangatlah penting. Dengan sati yg terus-menerus, kita akan mendengarkan Dhamma dari Sang Buddha di setiap saat. Ini dikarenakan "mata melihat bentuk-bentuk" adalah Dhamma; "telinga mendengar suara-suara" adalah Dhamma; "hidung mencium aroma" adalah Dhamma; "lidah mengecap citarasa" adalah Dhamma; "tubuh merasakan sensasi-sensasi" adalah Dhamma; ketika kesan-kesan pengalaman muncul di dalam pikiran, itu adalah Dhamma juga. Oleh sebab itu, mereka yg memiliki sati secara berkesinambungan, selalu mendengarkan ajaran Sang Buddha. Dhamma selalu ada di sana. Mengapa? Karena sati, karena kita selalu sadar.

Sati adalah ingatan, sampajañña adalah kesadaran diri. Kesadaran ini adalah Buddho yg sebenarnya, Sang Buddha. Bilamana ada sati-sampajañña, pemahaman pun akan muncul. Kita tahu apa yg sedang terjadi. Ketika mata melihat bentuk-bentuk: apakah ini tepat atau tidak tepat? Ketika telinga mendengar suara: apakah ini pantas atau tidak pantas? Apakah ia berbahaya? Apakah ia salah, apakah ia benar? Dan seterusnya seperti ini terhadap segala sesuatunya. Jika kita memahami, maka kita mendengarkan Dhamma di setiap saat.

Jadi, mari kita semua memahami bahwa saat ini kita sedang belajar di tengah-tengah Dhamma. Apakah kita bergerak maju atau mundur, kita bertemu dgn Dhamma - semuanya adalah Dhamma, jika kita punya sati. Bahkan dgn melihat binatang-binatang yg berlarian di hutan, kita bisa merenungkan, melihat bahwa semua binatang sama seperti kita. Mereka melarikan diri dari penderitaan dan mengejar kebahagiaan, sama seperti yg dilakukan manusia. Apa pun yg mereka tidak suka, mereka hindari; mereka takut mati, sama seperti manusia. Jika kita merenungkan hal ini, kita melihat bahwa semua makhluk hidup di dunia, termasuk manusia, punya naluri yg sama. Berpikir seperti ini dinamakan "'bhāvanā" (note: Bhāvanā - artinya "mengembangkan" atau "menumbuhkan", tetapi biasanya digunakan utk merujuk pada citta-bhāvanā, mengembangkan pikiran, atau paññā-bhāvanā, mengembangkan kebijaksanaan, atau perenungan), melihat sesuai dgn kebenaran, bahwa semua makhluk hidup adalah sederajat di dalam kelahiran, usia tua, sakit dan kematian. Binatang sama seperti manusia dan manusia sama seperti binatang. Jika kita benar-benar memandang segala sesuatu seperti apa adanya, pikiran kita akan melepaskan kemelekatan pada mereka.

Oleh sebab itu, dikatakan bahwa kita harus memiliki sati. Jika kita punya sati, kita akan melihat keadaan pikiran kita sendiri. Apa pun yg sedang kita pikirkan atau rasakan, kita harus mengetahuinya. "Mengetahui" ini dinamakan Buddho, Sang Buddha, "Yang Mengetahui"... yg mengetahui sepenuhnya, yg mengetahui secara jelas dan tuntas. Bila pikiran mengetahui secara tuntas, kita telah menemukan latihan yg benar.

Jadi, cara yg sesungguhnya utk berlatih adalah dgn memiliki kesadaran, sati. Jika anda tidak punya sati selama lima menit, anda gila selama lima menit, masa bodoh (heedless) selama lima menit. Bilamana anda tidak punya sati, anda pun jadi gila. Jadi, sati itu penting. Dgn memiliki sati, maka anda mengetahui diri anda sendiri, mengetahui kondisi pikiran anda dan kehidupan anda, untuk memiliki pemahaman dan kearifan, untuk mendengarkan Dhamma di setiap saat. Setelah pulang dari mendengarkan ceramah guru, anda masih mendengarkan Dhamma, karena Dhamma ada di mana-mana.

Oleh sebab itu, anda-anda sekalian, berlatihlah setiap hari. Apakah malas atau rajin, berlatihlah terus. Praktek Dhamma tidak dilakukan dgn mengikuti suasana hati anda. Jika anda berlatih mengikuti suasana hati anda, maka itu bukanlah Dhamma. Jangan membeda-bedakan antara pagi dan malam hari, apakah pikiran damai atau tidak ... teruslah berlatih.

Sama seperti seorang anak kecil yg sedang belajar menulis. Awalnya dia tidak bisa menulis dgn bagus - lengkungan dan lekukan yg besar dan panjang - dia menulis seperti anak kecil. Setelah beberapa waktu, tulisannya membaik melalui latihan. Mempraktekkan Dhamma adalah seperti ini. Awalnya anda merasa canggung..... kadang-kadang tenang, kadang tidak, anda tidak begitu memahami segala sesuatunya. Beberapa orang menjadi patah semangat. Jangan mengendurkan latihan! Anda harus gigih berlatih. Hiduplah dgn penuh usaha, seperti anak kecil tadi: semakin dewasa, dia semakin mahir menulis. Dari yg pada awalnya tulisannya tidak bagus, dia pun tumbuh dan menulis dgn indahnya, semua karena latihan yg dia lakukan di masa kanak-kanak.

Latihan kita adalah seperti ini. Berusahalah utk memiliki kesadaran di setiap saat: berdiri, berjalan, duduk atau berbaring. Bila kita melaksanakan berbagai tugas kita dgn lancar dan baik, kita merasa damai di dalam bathin. Bila ada kedamaian bathin di dalam pekerjaan kita, maka kita akan mudah mendapatkan meditasi yg tenang, karena mereka berjalan beriringan. Jadi, berusahalah. Anda semua seharusnya berusaha utk mengikuti praktek. Inilah latihannya.


********************************
Sumber: http://www.ajahnchah.org

Offline senghansen

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 5
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: "Dhamma Fighting" - Ajahn Chah
« Reply #1 on: 19 November 2010, 08:14:03 PM »
thx buat postingannya
yang paling saya suka adalah paragraf terakhirnya : latihan dengan kesadaran, tp inilah yang paling sulit. memiliki kesadaran tiap saat adalah kebahagiaan ;)