Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain  (Read 8334 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline dato' tono

  • Sebelumnya: dhanuttono
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.612
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #15 on: 03 October 2010, 11:03:10 PM »
 [at] pak ahiong :
pak kita mengalami kasus yang hampir sama. istri saya beragama kr1sten karena memang awalnya ia berasal dari kalangan kr1sten, tapi sayangnya tuhan berencana lain yaitu mempertemukan nya dengan saya, ya bukan salah saya, jika kemarin saya menikah di vihara... hehehe... walau sebelum menikah sy sudah memikirkan bahwa pernikahan ini bakal jd boom waktu yg akan siap meledak kapan saja bahkan setiap saat... tp insyalabuddha sy siap akan hal itu...

saya mengerti apa yang pak ahiong rasakan, karena hampir sama seperti apa yg saya rasakan, namun yang saya khawatirkan hanya 1 yaitu anak saya yang masih kecil, takut ternoda oleh kuasa tuhan dan terselamatkan dalam perputaran roda samsara ke alam menderita... maklum saya lebih menyukai anak saya tersesat dijalan dhamma yg penuh kedamaian dan kebenaran sejati yang menuntun ke alam bahagia sampai akhirnya dapat mencapai pembebasan tertinggi...

hidup ini selalu berputar dan berlanjut, entah kapan kita bisa mengenal dan belajar dhamma yg begitu agung lagi, sedangkan debu setiap saat akan menempel di mata kita yang dapat menjerumuskan kita ke alam menderita, sungguh disayangkan jika itu terjadi, karena sangat susah untuk dapat keluar dari alam menderita tersebut... dan ketersesatan di dalam dhamma itu yg satu-satunya dapat membawa kita ke pembebasan tertinggi yaitu nibbana... itu alasan kenapa saya memikirkan masa depan anak saya untuk tetap tersesat dijalan dhamma...

saya pribadi pernah ribut masalah konsep agama dengan istri sy, tp saya belum pernah memaksa nya untuk memeluk buddhism, cm ketika ada pembicaraan seputar kehidupan yg berhubungan dengan agama pasti akan berunjung pada debat konsep agama yg memuakkan walau saya selalu dapat memberikan argument yg mematahkan konsep keimanan kr1sten nya... yg ada istri sy hanya bergumbel dalam bathin, maaf sampai hari ini tuhan nya belum bs menyentuh hidup sy dan tidak akan pernah... oh, maaf tuhan...

namun sy punya pemikiran sendiri, jika memang kr1sten adalah pilihan hidup dia dan dia merasa bahagia dengan itu, ya silakan, asal jangan ganggu saya dan anak saya terlebih keluarga saya seperti orang tua dan saudara saya... hanya itu syarat dan harapan saya, istri saya mau terselamatkan dengan cara percaya tuhan nya dan berharap kerajaan allah namun ketika liat kecoak langsung di injek, ya silaken... hidup kan pilihan, betul ? bahkan ketika pak RT datang ke rumah sy dan bertanya istri sy dikartu keluarga agama ikut suami ato sesuai KTP nya waktu masih perawan, ya saya kataken... sama kan aja ma KTP dulu nya, ga masalah koq, cm klo anak ikut saya... egois ? tidak... sy orang tua, sy wajib dan berhak mengajar dan mengarahkan anak sy, klo anak orang kr1sten ya ga berhak sy... itu baru nama nya egois, nyata-nyata bukan anak sy, koq lancang sy ikut mengatur, betul ?

saya pernah menyampaikan wasiat saya, jika mau menawarkan tuhan nya ke saya, boleh aja... tp kudu/harus jawab semua pertanyaan sy dengan jelas, tegas dan logis, jika bisa... sy langsung minta di baptis/permandikan, boleh bawa pendeta jika perlu untuk menjawab... bukan tuk sombong, namun dari ketersesatan sy dalam dhamma yg begitu indah dan sy merasa bahagia dalam ketersesatan sy, tentunya sy akan kritis untuk mencari hal yg lebih baik, betul ? klo ga baik, untuk apa sy trima ? sy akan menolak sama dengan hal nya ketika sy mengusir sales yg datang ke toko sy menawarkan produk yg jelek dan ga jelas...

jika kita berbicara rejeki, sy bukan dari kalangan berada/kaya namun sy juga bukan dari kalangan miskin, hidup saya cukupan, saya punya beberapa usaha kecil, juga memiliki gubuk sederhana diperumahan elit ciputra... bukan tuk menyombongan apa yg sy punya, tp tuk menunjukan ternyata ketika saya berada di jalan dhamma, itu semua bisa sy peroleh jg... tanpa perlu mengobral dhamma saya seperti barang dagangan dr 1 rumah ke rumah lain dan memohon-mohon pada mahluk goib nan kodrati yg tidak jelas dan malu untuk menampakkan dirinya...

sayang nya umat buddhist kadang salah kaprah menilai doa-doa, doa dianggap tidak ada hanya karena tidak ada sosok tuhan secara ekplisit yg ikut campur dalam kehidupan manusia, emang benar... tp jangan salah, kekuatan keinginan (bisa dikatakan doa) bs diarahkan dengan cara yg benar (hanya dalam pandangan buddhist) ingat kita mengenal konsep kamma, kekuatan keinginan dengan penuh tekat bisa mengkondisikan kamma baik berbuah lebih awal...

saya maklumi, kenapa pengaruh kegiatan doa dalam agama lain memiliki pengaruh yg kuat terhadap wanita, karena mereka merasa di perhatikan di dalam kegiatan itu, sama seperti hal nya anak kecil ketika terjatuh dari sepeda dan kaki nya mengalami luka, apa yg mereka harapkan ? pertolongan/bantuan dari orang terdekat trutama orangtua dan keluarga, sehingga merasa nyaman dan tenang... seperti itu yg para wanita rasakan dalam kegiatan doa, walau sebenarnya doa mereka tidak pernah terjawab... jujur ke diri sendiri lebih baik...

apakah di dalam buddhism tidak ada kegiatan berdoa ? ada... yaitu dengan mengkondisikan kamma baik kita berbuah lebih awal, saya pernah membaca sebuah buku salah seorang bhikkhu theravada indonesia, kira-kira beliau mengajarkan demikian : "sesuai dengan benih yang ditanam begitu pula buah yang akan dituai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan, semoga dengan perbuatan baik yang telah saya lakukan dapat berbuah dalam bentuk .........." kita bisa mengharapkan kesehatan/rejeki dan lainnya dalam taraf yang wajar, jangan berharap hal yg tidak masuk akal, seperti berharap uang 1M tp tidak mau bekerja tp cm tidur-tiduran aja...

maaf, jika ada yg tidak berkenan dengan kata-kata saya, jika menyukai kata-kata saya dan merasa jelas, tidak perlu mengucapkan terimakasih ato mencela ato tidak perlu juga memberikan "thank you"... cukup pahami dan sebarkan kepada rekan-rekan lain, sehingga kita bisa tetap berbahagia dan bangga menjadi seorang buddhist yg berada dijalan dhamma yg bagi orang kr1sten jalan sesat...  ;D  ini sedikit uneg-uneg sy untuk thread ini...

salam
dhanuttono
Sesuai benih yang ditabur, demikian lah buah yang di tuai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #16 on: 03 October 2010, 11:17:21 PM »
Quote
selama dia mengikuti agama nya yg baru itu dana yg dibutuhkan mulai ada.

maksudnya dananya datang dari mana bro ? atas usaha siapa ?

atau sponsor dari Sunday Bank ?


Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline dato' tono

  • Sebelumnya: dhanuttono
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.612
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #17 on: 03 October 2010, 11:23:40 PM »
Quote
selama dia mengikuti agama nya yg baru itu dana yg dibutuhkan mulai ada.

maksudnya dananya datang dari mana bro ? atas usaha siapa ?

atau sponsor dari Sunday Bank ?




tu maksud nya ada lah rejeki yg datang... klo bini olang kr1sten, mereka akan klaim itu pemberiaan si tuhan...
Sesuai benih yang ditabur, demikian lah buah yang di tuai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #18 on: 03 October 2010, 11:35:39 PM »
Quote
selama dia mengikuti agama nya yg baru itu dana yg dibutuhkan mulai ada.

maksudnya dananya datang dari mana bro ? atas usaha siapa ?

atau sponsor dari Sunday Bank ?




tu maksud nya ada lah rejeki yg datang... klo bini olang kr1sten, mereka akan klaim itu pemberiaan si tuhan...

bilang sama tuhannya kasih yg gede... sekali gus, jangan sungkan.... mboknya yg di RS sekalian disembuhkan...
jangan tanggung2 kalau kerja............jangan di encrit encrit.... itu bukan sifat tuhan....
tancap gas pooollllllllllllllllllllllllll
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #19 on: 04 October 2010, 01:30:43 AM »
Biarkan saja Istri Anda mengikuti agama baru-nya
bila itu bisa membuat Istri Anda tenang dan nyaman .....

diLarang-pun percuma .... karna itu sudah menyangkut perasaan
Jika tambah "keras" .... keributan-ributan akan berlanjut terus
Jika Istri anda masih ber-jodoh dengan Buddha Dhamma ..... suatu hari dia pasti kembali
bila Tidak ... yang tidak apa-apa .... tooh yg dicari dalam agama adalah kenyamanan dan ketenangan individu

Asal Anda selalu berprinsip dan bertekad dalam kehidupan sehari-hari bisa menjalani Pancasila Buddhist
dan dapat mengajarkan, menerapkan pada Istri dan anak-anak ..... Itu yg terbaik  ;D

(maaf yaa, kalo terkesan "mengurui" gw jg orang yg masih belajar dan terus belajar  :) )

 _/\_
« Last Edit: 04 October 2010, 01:32:50 AM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #20 on: 04 October 2010, 06:38:50 AM »
Biarkan saja Istri Anda mengikuti agama baru-nya
bila itu bisa membuat Istri Anda tenang dan nyaman .....

diLarang-pun percuma .... karna itu sudah menyangkut perasaan
Jika tambah "keras" .... keributan-ributan akan berlanjut terus
Jika Istri anda masih ber-jodoh dengan Buddha Dhamma ..... suatu hari dia pasti kembali
bila Tidak ... yang tidak apa-apa .... tooh yg dicari dalam agama adalah kenyamanan dan ketenangan individu

Asal Anda selalu berprinsip dan bertekad dalam kehidupan sehari-hari bisa menjalani Pancasila Buddhist
dan dapat mengajarkan, menerapkan pada Istri dan anak-anak ..... Itu yg terbaik  ;D

(maaf yaa, kalo terkesan "mengurui" gw jg orang yg masih belajar dan terus belajar  :) )

 _/\_
Karna bro Virya posting, gw juga sharing dikit sebagai bumbu tambahan...

aliran lain juga menyediakan KARAOKE GRATIS, olah tubuh, mengeluarkan emosi bahkan nangis...
aliran lain juga menawarkan kesempatan utk bersalaman dgn ce2...apalagi ada yg cantik
aliran lain juga memberikan anggur, walaupun dosis kecil
aliran lain juga canggih dgn mantera perapatnya

dll dll

jadi bisa juga ada sisi baiknya  :))
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline m.vijjo

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #21 on: 05 October 2010, 12:42:35 PM »
 _/\_
Hal yang pertama yang mungkin perlu diingat juga adalah AGAMA merupakan PILIHAN.
Sebuah HAK DASAR dan paling PRIBADI bagi seseorang. Bahkan Sang Buddha sendiri tidak bisa membuat mantan mertuanya (Raja Suppabuddha) untuk mengikuti jalan yang sudah Beliau babarkan.
Kita mengenal bahwa hukum Kamma juga berlaku pada setiap pribadi, jadi pada hakekatnya pula setiap orang bertanggung-jawab pada dirinya masing-masing. Ada batasan dimana kita tidak ada yang bisa kita perbuat lebih lanjut.
Tidak ada jaminan jika kedua orang tuanya Buddhis maka anaknya juga Buddhis.
Dengan dasar ini, maka yang terpenting adalah mendorong orang yang kita cintai untuk menghindari PERBUATAN JAHAT dan terus melakukan PERBUATAN BAJIK. Apapun labelnya saya meyakini bahwa KEBAJIKAN ini akan menuntun seseorang pada KEBIJAKSANAAN dan meraih KEBAHAGIAAN TERTINGGI. Tiap orang memiliki prosesnya sendiri.
Saat menjelang KEMATIAN nanti, kita akan menempuhnya sendiri, kita menjalaninya sendiri.
Saya pribadi memiliki pengalaman yang kurang lebih sama, namun "kadarnya" lebih berat di Bro Ahiong.
Saran saya pribadi mengenai masalah ini adalah:
Terima kenyataan yang ada saat ini dengan lapang dada. Istri Bro sudah memilih dan seperti yang kita ketahui adalah sangat sulit untuk merubah keyakinan dia di saat ini, karena sudah pasti dia akan menutup pikirannya terhadap masukan dari orang lain, dia akan berupaya memperkuat tameng dirinya terhadap "serangan" dari luar. Masih ditambah bantuan dari teman-temannya juga.
Mulai saat ini biasakan untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya Universal saja, kebajikan ataupun moralitas sangat diterima umum, dan jika memang ada waktu yang tepat, kita bisa bicarakan prinsip Buddhis terhadap masalah-masalah yang terjadi. Misal ketika istri Bro Ahiong menyatakan doanya terjawab ketika masuk keyakinan lain, maka hal ini bisa dilogika juga dengan melihat secara nyata bahwa masih banyak "antrian doa" yang tidak terjawab. Dalam keyakinan manapun pasti bisa kita temui beragam orang dengan beragam masalah dan kondisi. Jenjang orang kaya dan miskin ada DIMANAPUN.. jadi kita bisa cek bahwa masih ada antrian doa yang belum terjawab.
Doronglah dia untuk terus melakukan kebajikan dengan caranya sendiri. Jika mampu, Bro Ahiong juga bisa mendukung istri dalam melakukan hal ini. Tunjukkan bahwa kita melakukan hal ini dengan dasar METTA dan jangan karena hal ini kita berasosiasi dengan kebencian.
Yang paling sulit adalah menjadikan kondisi ini untuk memperkuat Kesabaran dan Keyakinan kita sendiri thdp Dhamma.
Prinsip kita harus jelas dan tegas, namun kita harus memiliki sikap yang lembut terhadap keyakinan lain.
Ubahlah diri kita sendiri, saat ini saat yang terbaik untuk mempraktikkan Dhamma itu sendiri. jangan sia-siakan kesempatan ini. Latihan kesabaran yang sesungguhnya adalah ketika kita mendapati kondisi yang tidak menyenangkan.
Kita belajar untuk menerima rasa tidak nyaman yang muncul dalam diri kita sendiri lalu mendorong diri kita untuk tidak larut dalam kebencian.  Semua hal itu tidak mudah untuk dilakukan, pastinya akan butuh proses.
Namun kembali lagi pada kita semua, apakah kita mau memulai langkah pertamanya atau tidak?
Semoga kebahagiaan dan kesejahteraan yang sudah ada dalam keluarga Bro Ahiong dapat terus berjalan.
Semoga Bro Ahiong dan keluarga akan memperoleh kebahagiaan sejati...
 _/\_
Sukhi hotu,
Saddhu.3x

Offline luis

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 118
  • Reputasi: 22
  • Gender: Male
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #22 on: 05 October 2010, 01:19:15 PM »
Pak Ahiong,

Saya coba sumbang pendapat n masukan aja. Memang sih situasinya berat banget. Kalau saya di posisi Pak Ahiong, saya juga lebih memilih istri saya gak pindah agama. Dan saya yakin, ucapan keras Pak Ahiong "pilih saya atau agama itu?" tuh keluar akibat impuls emosi saja, gak bener2 keluar dari hati nurani Pak Ahiong. Syukurlah istri Anda bisa mengerti, dan juga anggota keluarga lain dapat membantu, sehingga akhirnya istri Pak Ahiong memilih untuk tidak pindah agama dahulu. Tapi saya pikir, ini bukan solusi permanen yang bukan tidak mungkin situasi yang sama (atau bahkan bisa lebih negatif) muncul lagi ke depannya.

Kalau saya rasa sih ... yang sudah terjadi ya sudah. Tidak mungkin kan mengulang kembali masa lalu untuk mencegah tereksposnya istri Pak Ahiong dari komunitas tersebut. Lagipula, banyak sekali sebab2 dan kondisi2 yang menimbulkan "koneksi" antara istri Pak Ahiong dan komunitas tersebut.

Saran saya ... pertama2 jadikan ini sebagai momen refleksi. Istri Pak Ahiong bisa menemukan "ketenangan" di komunitasnya yang baru, tetapi selama ikut ke vihara, dia tidak merasakan "ketenangan" yang sama. Tentu ini menimbulkan pertanyaan, apa sih yang kurang di agama Buddha? Tetapi jangan stop di sana ... karena bukan agama Buddha nya yang memiliki kekurangan .. tetapi kita sendiri yang belum memahami agama Buddha dengan utuh, sehingga kita pikir agama Buddha tidak bisa "memberikan" ketenangan spiritual yang kita inginkan. Nah dari sini, bisa coba direnungkan ... Pak Ahiong sebagai pengikut Buddha yang kuat, pastilah telah merasakan manfaat positif dari agama Buddha yang membuat saddha (keyakinan) Pak Ahiong kuat terhadap Triratna dan tidak mau berpaling ke "lain hati" :) dari sini, coba direnungkan, kualitas2 seperti apa saja yang Pak Ahiong ingin istri Pak Ahiong rasakan dari agama Buddha, dan nantinya pelan2 bisa memberikan pemahaman itu.

Kedua, sama "impulsif" nya dengan emosi Pak Ahiong, bisa jadi "ketenangan" yang istri Pak Ahiong rasakan dari komunitas yang baru itu tidak berlangsung lama. Segala sesuatu yang berkondisi, termasuk ketenangan spiritual itu, juga bersifat sementara dan bisa berubah. Bisa jadi selama ini istri Pak Ahiong merasakan ketenangan tersebut, karena komunitas ini menawarkan kenyamanan emosional di saat yang sangat tepat, di mana memang istri Pak Ahiong sangat membutuhkannya di saat tersebut. Kalau seandainya istri Pak Ahiong bisa mantap di jalan spiritualnya yang baru dan membuatnya menjadi "orang yang lebih baik", tentulah sangat positif. Tetapi kalau seandainya ketenangan ini hanya "impulsif", dampaknya bisa negatif ke depannya. Saat istri Pak Ahiong tidak lagi merasa "positif" di situ, dia bisa kecewa berat.

Oleh karena itu, sebagai orang yang sudah berumah tangga (walaupun masih junior hehehe), saya teringat nasehat guru saya mengenai menjalani hidup berumah tangga. Bahwa dalam berumahtangga, kita harus berorientasi pada "kita", bukan pada "saya" atau "kamu", karena sekarang suami dan istri sudah menjadi satu tim. Jadi dalam memecahkan masalah ini, pecahkanlah bersama2.

Maksudnya bersama2 seperti apa? Ini usulan saya saja, dalam mengambil keputusan istri Pak Ahiong untuk "tetap tinggal di Buddhism" atau "pindah agama", bekerja sama lah dalam mengambil keputusan ini. Jadinya, apapun hasil keputusannya nanti, itu adalah keputusan bersama antara Pak Ahiong dan istri, bukan keputusan sepihak saja.

Bagaimana caranya? Saya rasa ijinkanlah istri Pak Ahiong kalau mau ikut event2 di agama tersebut, tetapi dalam mengikutinya ... pergilah bersama :) jadi Pak Ahiong menemani istri Pak Ahiong ke sana. Demikian juga sebaliknya, kalau Pak Ahiong dan anak2 ke vihara, istri Pak Ahiong juga ikut. Dengan begitu, imbang :) baik ke vihara maupun ke tempat ibadah yang lain, Pak Ahiong dan istri tetap sebagai satu kesatuan.

Dari sini, Pak Ahiong dapat mempelajari, apa saja2 hal2 di agama tersebut yang membuat istri Pak Ahiong merasa nyaman di sana, dan Pak Ahiong bisa merefleksikannya apakah hal2 itu tidak terdapat di agama Buddha. Sebagai Buddhis, saya yakin hal2 positif di agama apapun sudah tercakup di agama Buddha. Dari sini, Pak Ahiong bisa menawarkan perspektif Buddhis ke hal2 tersebut pada istri Pak Ahiong. Dan saya yakin, istri Pak Ahiong pun akan lebih mau mendengarkan :)

Dan waktu kalian sama2 ke vihara, biarkan istri Pak Ahiong membandingkan dan mempelajari lebih jauh aspek2 Buddhism. Saya pernah baca buku "without Buddhism, I could not be a Christian". Di situ diceritakan, saat orang tersebut mempelajari Buddhism, dia jadi melihat nilai2 yang sebelumnya dia tidak lihat di agamanya sendiri. Dan dari sana, keyakinan terhadap agamannya menjadi lebih baik dan dia menjadi lebih "terbuka" dalam memahami agamanya (tidak sempit). Saya yakin, dengan exposure terhadap agama lain, istri Pak Ahiong dapat mencari tahu, membandingkan, dan mempelajari aspek2 Buddhism yang sebelumnya tidak dia sadari. Dari situ, istri Pak Ahiong akan mendapatkan pemahaman yang lebih seimbang tentang kedua agama.

Dari aktivitas2 di atas, saya yakin akan banyak sekali "healthy discussion" yang bisa Pak Ahiong pelajari bersama2 dengan istri, termasuk pemahaman mengenai kedua agama. Dari diskusi2 yang sehat seperti inilah, nantinya bisa dilihat, yang mana yang lebih cocok untuk istri Pak Ahiong. Kalau seandainya, pada akhirnya, istri Pak Ahiong tetap memilih pindah agama, saya rasa akan sangat bijaksana apabila Pak Ahiong mendukungnya ... karena ini adalah keputusan Anda berdua. Dan juga, pengambilan keputusan diambil berdasarkan pemahaman yang berimbang mengenai kedua sisi, sehingga pada akhirnya pilihan diambil berdasarkan "kebijaksanaan", bukan emosi dan ngotot2an. Dengan kebijaksanaan pula, istri Pak Ahiong akan tetap respect dengan Buddhism dan bahkan tetap menjalankan nilai2 Buddhism walaupun bukan sebagai "Buddhis" di KTP nya.

Semoga bisa sedikit membantu, dan semoga masalahnya cepat terselesaikan. Jadi ingat pepatah, "together we can" hehehe. Jadi lakukan secara bersama ya Pak Ahiong. Ini akan jadi learning experience yang indah untuk hubungan kalian berdua. Semoga keluarganya senantiasa berbahagia dan sejahtera.

Mettacittena,
Luis


Do not blame nor criticise anyone, as there is no one to blame in the first place.

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.749
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #23 on: 05 October 2010, 01:24:22 PM »
setuju sama om luis...
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Sunce™

  • Sebelumnya: Nanda
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.351
  • Reputasi: 66
  • Gender: Male
  • Nibbana adalah yang Tertinggi
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #24 on: 06 October 2010, 09:10:32 AM »
ajak lagi aja ke viharaaa...

Offline anthony

  • Teman
  • **
  • Posts: 55
  • Reputasi: 3
  • Gender: Male
  • Sabbe Sankhara Anicca
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #25 on: 08 October 2010, 03:17:57 AM »
 _/\_

rekan Ahiong,,
maaf jika sy tidak tepat dlm berkomentar..
karna sy hanyalah seseorang yg masih dlm tahap pembelajaran,,

agama hanya CAP agama.
kebenaran,cinta kasih,kebebasan,kenyamanan,ketenangan, itu adalah inti tujuan dalam agama..
agama hanyalah sebuah kata,,
semua yg kutahu,yg ku teliti,yg kucari kebenaran na,dan ku praktikan,kubuktikan,dan nyata terlihat,itulah agamaku,,
untuk apa kita pusingkan soal "AGAMA APAKAH KAMU?"
dalam soal mengikuti agama pasti anda mencari kebenaran,cinta kasih,kebebasan,kenyamanan,ketenangan dlm sebuah agama itu?apakah benar??
jika tidak,apa yg anda cari??  :)

jika istri anda merasa tenang atw damai trhadap ajaran itu,biarkanlah :)
tentunya anda jg harus mencari kedamaian murni dlm ajaran agama anda,, :)
jika dalam agama Buddha,kita tidak diperbolehkan mengajak atau mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kepercayaan kita,,
oke,,drpd ajak/hasut org,,lebih BAIK kita MENUNJUKAN sesuatu yg sudah ada,,
alangkah baik nya jika ANDA MEMBUKTIKAN bahwa anda bisa Berbahagia,damai,Tenang,,
bukan MEMBUKTIKAN PADA ORANG LAIN,tapi anda telah MEMBUKTIKAN bahwa BENAR pd diri sendiri adanya tentang ajaran agama ini,,
dan jg kita sering sekali di ingatkan tentang hal MENERIMA/BERSYUKURLAH apa yg telah ada :)
JIKA kita sudah baik,dan mengerti dari yg lebih baik itu,
tanpa diajakpun,orang dapat melihat bagaimana kita telah berubah,,
rasakanlah apa yg sudah anda dapati,

semoga rekan dan sekeluarga senantiasa sehat dan berbahagia,,
Amitofo..  _/\_
« Last Edit: 08 October 2010, 03:20:51 AM by anthony »
Tadyatha hum Gate-gate param gate Parasamgate bodhi Svha.. _/\_

Offline TonyAndHollywood

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 126
  • Reputasi: 5
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #26 on: 18 July 2011, 05:41:17 PM »
_/\_
Hal yang pertama yang mungkin perlu diingat juga adalah AGAMA merupakan PILIHAN.
Sebuah HAK DASAR dan paling PRIBADI bagi seseorang. Bahkan Sang Buddha sendiri tidak bisa membuat mantan mertuanya (Raja Suppabuddha) untuk mengikuti jalan yang sudah Beliau babarkan.
Kita mengenal bahwa hukum Kamma juga berlaku pada setiap pribadi, jadi pada hakekatnya pula setiap orang bertanggung-jawab pada dirinya masing-masing. Ada batasan dimana kita tidak ada yang bisa kita perbuat lebih lanjut.
Tidak ada jaminan jika kedua orang tuanya Buddhis maka anaknya juga Buddhis.
Dengan dasar ini, maka yang terpenting adalah mendorong orang yang kita cintai untuk menghindari PERBUATAN JAHAT dan terus melakukan PERBUATAN BAJIK. Apapun labelnya saya meyakini bahwa KEBAJIKAN ini akan menuntun seseorang pada KEBIJAKSANAAN dan meraih KEBAHAGIAAN TERTINGGI. Tiap orang memiliki prosesnya sendiri.
Saat menjelang KEMATIAN nanti, kita akan menempuhnya sendiri, kita menjalaninya sendiri.
Saya pribadi memiliki pengalaman yang kurang lebih sama, namun "kadarnya" lebih berat di Bro Ahiong.
Saran saya pribadi mengenai masalah ini adalah:
Terima kenyataan yang ada saat ini dengan lapang dada. Istri Bro sudah memilih dan seperti yang kita ketahui adalah sangat sulit untuk merubah keyakinan dia di saat ini, karena sudah pasti dia akan menutup pikirannya terhadap masukan dari orang lain, dia akan berupaya memperkuat tameng dirinya terhadap "serangan" dari luar. Masih ditambah bantuan dari teman-temannya juga.
Mulai saat ini biasakan untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya Universal saja, kebajikan ataupun moralitas sangat diterima umum, dan jika memang ada waktu yang tepat, kita bisa bicarakan prinsip Buddhis terhadap masalah-masalah yang terjadi. Misal ketika istri Bro Ahiong menyatakan doanya terjawab ketika masuk keyakinan lain, maka hal ini bisa dilogika juga dengan melihat secara nyata bahwa masih banyak "antrian doa" yang tidak terjawab. Dalam keyakinan manapun pasti bisa kita temui beragam orang dengan beragam masalah dan kondisi. Jenjang orang kaya dan miskin ada DIMANAPUN.. jadi kita bisa cek bahwa masih ada antrian doa yang belum terjawab.
Doronglah dia untuk terus melakukan kebajikan dengan caranya sendiri. Jika mampu, Bro Ahiong juga bisa mendukung istri dalam melakukan hal ini. Tunjukkan bahwa kita melakukan hal ini dengan dasar METTA dan jangan karena hal ini kita berasosiasi dengan kebencian.
Yang paling sulit adalah menjadikan kondisi ini untuk memperkuat Kesabaran dan Keyakinan kita sendiri thdp Dhamma.
Prinsip kita harus jelas dan tegas, namun kita harus memiliki sikap yang lembut terhadap keyakinan lain.
Ubahlah diri kita sendiri, saat ini saat yang terbaik untuk mempraktikkan Dhamma itu sendiri. jangan sia-siakan kesempatan ini. Latihan kesabaran yang sesungguhnya adalah ketika kita mendapati kondisi yang tidak menyenangkan.
Kita belajar untuk menerima rasa tidak nyaman yang muncul dalam diri kita sendiri lalu mendorong diri kita untuk tidak larut dalam kebencian.  Semua hal itu tidak mudah untuk dilakukan, pastinya akan butuh proses.
Namun kembali lagi pada kita semua, apakah kita mau memulai langkah pertamanya atau tidak?
Semoga kebahagiaan dan kesejahteraan yang sudah ada dalam keluarga Bro Ahiong dapat terus berjalan.
Semoga Bro Ahiong dan keluarga akan memperoleh kebahagiaan sejati...
 _/\_
Sukhi hotu,
Saddhu.3x

^ Nice advice..... setahu saya sampai detik ini blm pernah ketemu org yg kakinya diamputasi berhasil tumbuh lagi kakinya.......


Offline senbudha

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 209
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Pedih hatiku karena istriku diajak masuk ke agama lain
« Reply #27 on: 28 December 2011, 06:06:17 PM »
Seberapa byk waktu yg kt habiskan utk cr uang,pacaran dan kegiatan duniawi lain dibandingkan WAKTU yg kt habiskan dlm memperlajari Dharma? Seberapa byk pengorbanan yg kt habiskan utk mengejar pacar kt dibandingkan pengorbanan dlm mengejar dharma?kalau kt benar2 menguasai Dharma,dlm kehidupan sehari2,tentu kt byk komunikasi dgn orang dekat kt,dan disini akan tertanam dikit dm dikit pemahaman benar.Katakanlah dia tdk berjodoh dgn Ajaran Budha.Spiritual itu berevolusi lwt siklus tumimbal lahir,dgn catatan kalau yg bersangkutan semakin meningkat tingkat spiritualnya.kalau menurun,boleh dikatakan sdh sgt susah bertemu Ajaran Budha lg. Biarkanlah,tdk perlu bersedih krn Sang Budha pd Jamannya tdk memaksakan Ajarannya pd ORANG2 YG TIDAK MENGHARGAINYA.