//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Dorongan Semangat dari Sang Buddha: Dari SN 22.84. Tissa Sutta  (Read 2599 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Utphala Dhamma

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 109
  • Reputasi: 16
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Dorongan Semangat dari Sang Buddha: Dari SN 22.84. Tissa Sutta
« on: 02 September 2010, 02:39:54 AM »
SN 22.84. Tissa Sutta: Khotbah Dorongan Semangat dari Sang Buddha kepada Bhikkhu Tissa
Adaptasi terjemahan dari Pali oleh Thanissaro Bhikkhu dan Walshe.
 
    "Tissa, seumpama ada dua orang, yang satu tidak tahu jalan, yang lain tahu jalan. Dalam hal ini, yang tidak tahu jalan bertanya pada orang yang tahu jalan. Ia menjawab, "Benar, Sobat, inilah jalannya. Teruskanlah selama beberapa saat dan engkau akan tiba pada suatu persimpangan. Jangan ambil yang kiri, tapi ambillah jalan yang di sebelah kanan. Teruskan sedikit, dan engkau akan sampai pada sebuah hutan rimba yang lebat. Lanjutkan sedikit lagi, dan engkau akan melihat sebuah rawa yang luas. Lanjutkan sedikit lebih jauh, dan engkau akan melihat jurang yang dalam. Tetap lanjutkan sedikit lebih jauh lagi, dan engkau akan melihat sebidang tanah lapang yang menyenangkan.
     
    "Aku membuat perumpamaan ini untuk menjelaskan maksudku: Orang yang tidak tahu jalan mewakili umat awam (yang belum memasuki arus), dan orang yang tahu jalan mewakili Sang Tathagata, Arahat, Samma Sambuddha, yang telah mencapai Penerangan Sempurna. Persimpangan jalan mewakili keragu-raguan. Cabang sebelah kiri mewakili jalan yang salah dan cabang sebelah kanan mewakili Jalan Mulia Beruas Delapan. Hutan yang lebat mewakili ketidaktahuan. Rawa yang luas mewakili nafsu indera. Jurang yang dalam melambangkan kejengkelan dan keputusasaan. Sebidang tanah lapang yang menyenangkan mewakili Nibbana.
   
    " Bergembiralah, Tissa, Bergembiralah. Aku di sini untuk menasihatimu, Aku di sini untuk mendukungmu, Aku di sini untuk memberimu petunjuk!"


 

LENGKAPNYA:

    Di Savatthi. Pada suatu kesempatan Bhikkhu Tissa, kemenakan laki-laki Sang Bhagava, mengatakan kepada sejumlah bhikkhu, "Sahabat, seolah-olah tubuh saya terbius, saya telah kehilangan arah. Hal-hal menjadi tidak jelas bagi saya. Batin saya terus diliputi dengan kemalasan & ketumpulan. Saya tidak bahagia menjalani kehidupan suci ini. Saya memiliki keraguan mengenai Dhamma.. "

    Kemudian sejumlah besar bhikkhu pergi ke Sang Bhagava dan, pada kedatangan, setelah sujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Ketika mereka duduk di sana, mereka menceritakan apa yang telah Bhikkhu Tissa katakan. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada salah seorang bhikkhu, "Oh bhikkhu, panggilkan Tissa untukku"

    "Seperti yang Anda katakan, Yang Mulia," bhikkhu itu menjawab, dan setelah menjumpai Bhikkhu Tissa, ia berkata, "Guru memanggil anda, sahabat."
     
    "Seperti yang Anda katakan, sahabat," Bhikkhu Tissa menjawab. Kemudian ia pergi ke Sang Bhagava dan setelah sujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi. Kemudian, Sang Bhagava berkata kepadanya, "Apakah benar, Tissa, yang telah engkau katakan pada sejumlah besar bhikkhu, ‘Sahabat, seolah-olah tubuh saya terbius, saya telah kehilangan arah.. Hal-hal menjadi tidak jelas bagi saya. Batin saya terus diliputi dengan kemalasan & ketumpulan. Saya tidak bahagia menjalani kehidupan suci ini. Saya memiliki keraguan mengenai Dhamma’.. ? "
     
    "Benar, Yang Mulia."

    "Apa pendapatmu, Tissa: Pada seseorang yang tidak terbebas dari kegairahan, keinginan, kerinduan, kehausan, demam, & ketagihan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, ... kesadaran, apakah timbul kesedihan, ratapan, penderitaan, dukacita, & keputus-asaan dari perubahan dan ketidak-kekalan jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran ? "

    "Iya, Yang Mulia."

    "Bagus, Tissa, bagus. Itulah bagaimana seseorang yang tidak terbebas dari kegairahan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran.”

    "Sekarang bagaimana menurutmu, Tissa: Pada seseorang yang terbebas dari kegairahan, keinginan, kerinduan, kehausan, demam, & ketagihan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, ... kesadaran, apakah timbul kesedihan, ratapan, penderitaan, dukacita, & keputus-asaan dari perubahan dan ketidak-kekalan jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran ? "
   
    "Tidak, Yang Mulia."   

    "Bagus, Tissa, bagus. Itulah bagaimana seseorang yang terbebas dari kegairahan terhadap jasmani, … perasaan, … persepsi, … bentuk-bentuk pikiran, … kesadaran.”

    "Apa pendapatmu, Tissa - Apakah jasmani konstan (kekal) atau tidak konstan (tidak kekal)?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."
   
    "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan atau penderitaan?"
    "Penderitaan, Yang Mulia."     

    "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"
    "Tidak, Yang Mulia."
   
    "... Apakah sensasi kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."...
   
    "... Apakah persepsi kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."...
     
    "...Apakah bentukan kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."...
     
    "Bagaimana menurutmu, para bhikkhu — Apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?"
    "Tidak kekal, Yang Mulia."
     
    "Dan apakah hal yang tidak kekal itu memberikan kenyamanan atau penderitaan?"
    "Penderitaan, Yang Mulia."
     
    "Dan apakah tepat sesuatu yang tidak kekal, menyebabkan penderitaan, tunduk pada hukum perubahan sebagai: 'Ini milikku. Ini adalah diriku. Ini adalah aku'?"
    "Tidak, Yang Mulia."
     
    "Karena itu, para bhikkhu, apapun jasmani di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat; apapun jasmani dilihat sebagai apa adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.'
     
    "Perasaan (sensasi) apapun...
    "Persepsi apapun...
    "Bentukan [batin] apapun...
   
    "Kesadaran apapun di masa lampau, masa depan, atau masa sekarang; di dalam atau di luar; kasar atau halus; rendah atau luhur; jauh atau dekat: apapun kesadaran dilihat sebagai apa adanya dengan pemahaman benar sebagai: 'Ini bukan milikku. Ini bukan diriku. Ini bukan aku.'
     
    "Melihat demikian, siswa Ariya, yang telah memahaminya dengan baik, menjadi tak terpesona pada jasmani, tak terpesona pada perasaan, tak terpesona pada persepsi, tak terpesona pada bentukan [batin], tak terpesona pada kesadaran. Setelah tak terpesona dia menjadi tidak tertarik. Setelah tidak tertarik, dia terbebas sepenuhnya. Dengan terbebas penuh, disana ada pengetahuan, 'Terbebas sepenuhnya.' Dia mengerti bahwa 'Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah terpenuhi, tugas telah selesai. Tidak ada lagi lebih jauh untuk dunia ini (lingkaran samsara terpatahkan).'"
     
    "Tissa, seumpama ada dua orang, yang satu tidak tahu jalan, yang lain tahu jalan. Dalam hal ini, yang tidak tahu jalan bertanya pada orang yang tahu jalan. Ia menjawab, "Benar, Sobat, inilah jalannya. Teruskanlah selama beberapa saat dan engkau akan tiba pada suatu persimpangan. Jangan ambil yang kiri, tapi ambillah jalan yang di sebelah kanan. Teruskan sedikit, dan engkau akan sampai pada sebuah hutan rimba yang lebat. Lanjutkan sedikit lagi, dan engkau akan melihat sebuah rawa yang luas. Lanjutkan sedikit lebih jauh, dan engkau akan melihat jurang yang dalam. Tetap lanjutkan sedikit lebih jauh lagi, dan engkau akan melihat sebidang tanah lapang yang menyenangkan.
     
    "Aku membuat perumpamaan ini untuk menjelaskan maksudku: Orang yang tidak tahu jalan mewakili umat awam (yang belum memasuki arus), dan orang yang tahu jalan mewakili Sang Tathagata, Arahat, Samma Sambuddha, yang telah mencapai Penerangan Sempurna. Persimpangan jalan mewakili keragu-raguan. Cabang sebelah kiri mewakili jalan yang salah dan cabang sebelah kanan mewakili Jalan Mulia Beruas Delapan (pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar). Hutan yang lebat mewakili ketidaktahuan. Rawa yang luas mewakili nafsu indera. Jurang yang dalam melambangkan kejengkelan dan keputusasaan. Sebidang tanah lapang yang menyenangkan mewakili Nibbana.
     
    " Bergembiralah, Tissa, Bergembiralah. Aku di sini untuk menasihatimu, Aku di sini untuk mendukungmu, Aku di sini untuk memberimu petunjuk!"

     
    Demikian yang dikatakan Sang Bhagava. Berterimakasih, Bhikkhu Tissa bergembira atas kata-kata Sang Bhagava. 
     

DAFTAR PUSTAKA:

1. BUDDHA VACANA (Sabda-sabda Sang Buddha), Y.A. Shravasti Dhammika, Yayasan Penerbit Karaniya.

2. Untuk lebih memahami Jalan Mulia Beruas 8, saya merekomendasikan buku berikut yang bisa didownload di:

http://www.scribd.com/doc/35834750/Jalan-Menuju-Akhir-Penderitaan

JUDUL BUKU :
Jalan Menuju Akhir dari Penderitaan

JUDUL ASLI :
The Noble Eightfold Path: The Way to the End
of Suffering

PENULIS :
Bhikkhu Bodhi

PENTERJEMAH :
Anne Martani, Jimmy Halim, Laura Perdana,
Leonard Halim , Laurensius Widyanto
« Last Edit: 02 September 2010, 02:45:26 AM by Utphala Dhamma »

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.400
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Dorongan Semangat dari Sang Buddha: Dari SN 22.84. Tissa Sutta
« Reply #1 on: 02 September 2010, 06:04:51 AM »
Jalan menuju akhir penderitaan bisa di download pdfnya di dc jg di http://dhct.org/p2389

versi teks untuk baca online (dibanding versi flash yg besar di scribd) di DC Pedia juga ada di http://dhct.org/d263
There is no place like 127.0.0.1