Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis  (Read 21740 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« on: 13 August 2010, 08:35:44 PM »
Topik ini digunakan utk mengumpulkan temuan2x salah penerjemahan. Diharapkan dengan ditulis disini pembaca bisa mengetahui dan tidak salah mengerti karena salahnya penerjemahan.

Catatan: topik ini bukan untuk menjatuhkan/mendiskreditkan tetapi utk memperbaiki kualitas dan agar pembaca tidak salah memahami.
There is no place like 127.0.0.1

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #1 on: 13 August 2010, 10:06:55 PM »
Yang paling familiar dalam lingkungan Buddhis...

Empat Kesunyataan Mulia = Cattari Ariya Saccani

Seharusnya "Saccani" artinya adalah "Kebenaran". Kalau "Kesunyataan" seharusnya "Sunna(?)".

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #2 on: 13 August 2010, 10:35:30 PM »
kebetulan saya sedang menggarap MN,
demi akurasi biasanya saya membandingkan pekerjaan saya dengan beberapa sumber lain, salah satunya adalah yg ada di website samaggi-phala.or.id

pada Upali Sutta (MN 56)

sumber dari SP menuliskan:
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tak lagi berkembangbiak:
Beliau adalah Yang Terberkahi, dan saya adalah siswa Beliau.

yg aslinya dari English adalah
"Having tamed himself, he no more proliferates
The Blessed One is he, and I am his disciple."

secara literal "proliferate" memang adalah "berkembang biak"
tapi jadi aneh jika dikatakan "Sang Buddha tidak berkembang biak."

mohon maaf, bukan maksud saya untuk mencela pekerjaan mulia orang lain, tapi sesuai tujuan thread ini yang oleh TS ditetapkan sebagai "untuk memperbaiki kualitas."

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #3 on: 13 August 2010, 10:42:11 PM »
Yang paling familiar dalam lingkungan Buddhis...

Empat Kesunyataan Mulia = Cattari Ariya Saccani

Seharusnya "Saccani" artinya adalah "Kebenaran". Kalau "Kesunyataan" seharusnya "Sunna(?)".

saya sependapat dg anda bro, yg benar adalah EMPAT KEBENARAN MULIA, karena ajaran sang Buddha adalah KEBENARAN (sacca, truth).

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #4 on: 13 August 2010, 10:43:53 PM »
kebetulan saya sedang menggarap MN,
demi akurasi biasanya saya membandingkan pekerjaan saya dengan beberapa sumber lain, salah satunya adalah yg ada di website samaggi-phala.or.id

pada Upali Sutta (MN 56)

sumber dari SP menuliskan:
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tak lagi berkembangbiak:
Beliau adalah Yang Terberkahi, dan saya adalah siswa Beliau.

yg aslinya dari English adalah
"Having tamed himself, he no more proliferates
The Blessed One is he, and I am his disciple."

secara literal "proliferate" memang adalah "berkembang biak"
tapi jadi aneh jika dikatakan "Sang Buddha tidak berkembang biak."

mohon maaf, bukan maksud saya untuk mencela pekerjaan mulia orang lain, tapi sesuai tujuan thread ini yang oleh TS ditetapkan sebagai "untuk memperbaiki kualitas."

mungkin bisa lebih membantu agar mendekati yg paling pas menerjemahkan juga membandingkan dari Pali (sory bro jangan salah paham ya)....

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #5 on: 13 August 2010, 11:46:36 PM »
kebetulan saya sedang menggarap MN,
demi akurasi biasanya saya membandingkan pekerjaan saya dengan beberapa sumber lain, salah satunya adalah yg ada di website samaggi-phala.or.id

pada Upali Sutta (MN 56)

sumber dari SP menuliskan:
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tak lagi berkembangbiak:
Beliau adalah Yang Terberkahi, dan saya adalah siswa Beliau.

yg aslinya dari English adalah
"Having tamed himself, he no more proliferates
The Blessed One is he, and I am his disciple."

secara literal "proliferate" memang adalah "berkembang biak"
tapi jadi aneh jika dikatakan "Sang Buddha tidak berkembang biak."

mohon maaf, bukan maksud saya untuk mencela pekerjaan mulia orang lain, tapi sesuai tujuan thread ini yang oleh TS ditetapkan sebagai "untuk memperbaiki kualitas."

Inggris: "Having tamed himself,  he no more proliferates The Blessed One is he, and I am his disciple."

Pali: "...Dantassa nippapañcassa, bhagavato tassa sāvakohamasmi."

Nippapañcassa = nis+papañca

Papañca
= Sk. prapañca (pra+pañc to spread out; meaning "expansion, diffuseness, manifoldedness") delay, illusion, obsession, hindrance to spiritual progress

(Sbr:PTS)

IMO, Nippapañcassa = bebas dari obsesi (pikiran yang mengganggu, dalam hal ini pikiran dengan konsep keberadaan atta/diri). Hal ini berhubungan juga dengan papanca sanna sankha: http://pathpress.wordpress.com/2010/08/01/papanca-sanna-sankha/
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #6 on: 13 August 2010, 11:49:29 PM »
kebetulan saya sedang menggarap MN,
demi akurasi biasanya saya membandingkan pekerjaan saya dengan beberapa sumber lain, salah satunya adalah yg ada di website samaggi-phala.or.id

pada Upali Sutta (MN 56)

sumber dari SP menuliskan:
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tak lagi berkembangbiak:
Beliau adalah Yang Terberkahi, dan saya adalah siswa Beliau.

yg aslinya dari English adalah
"Having tamed himself, he no more proliferates
The Blessed One is he, and I am his disciple."

secara literal "proliferate" memang adalah "berkembang biak"
tapi jadi aneh jika dikatakan "Sang Buddha tidak berkembang biak."

mohon maaf, bukan maksud saya untuk mencela pekerjaan mulia orang lain, tapi sesuai tujuan thread ini yang oleh TS ditetapkan sebagai "untuk memperbaiki kualitas."

Inggris: "Having tamed himself,  he no more proliferates The Blessed One is he, and I am his disciple."

Pali: "...Dantassa nippapañcassa, bhagavato tassa sāvakohamasmi."

Nippapañcassa = nis+papañca

Papañca
= Sk. prapañca (pra+pañc to spread out; meaning "expansion, diffuseness, manifoldedness") delay, illusion, obsession, hindrance to spiritual progress

(Sbr:PTS)

IMO, Nippapañcassa = bebas dari obsesi (pikiran yang mengganggu, dalam hal ini pikiran dengan konsep keberadaan atta/diri). Hal ini berhubungan juga dengan papanca sanna sankha: http://pathpress.wordpress.com/2010/08/01/papanca-sanna-sankha/


thanks atas informasinya, tapi IMO sebenarnya tidak perlu repot begitu, "proliferasi" ada dalam KBBI

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #7 on: 13 August 2010, 11:55:50 PM »
kebetulan saya sedang menggarap MN,
demi akurasi biasanya saya membandingkan pekerjaan saya dengan beberapa sumber lain, salah satunya adalah yg ada di website samaggi-phala.or.id

pada Upali Sutta (MN 56)

sumber dari SP menuliskan:
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tak lagi berkembangbiak:
Beliau adalah Yang Terberkahi, dan saya adalah siswa Beliau.

yg aslinya dari English adalah
"Having tamed himself, he no more proliferates
The Blessed One is he, and I am his disciple."

secara literal "proliferate" memang adalah "berkembang biak"
tapi jadi aneh jika dikatakan "Sang Buddha tidak berkembang biak."

mohon maaf, bukan maksud saya untuk mencela pekerjaan mulia orang lain, tapi sesuai tujuan thread ini yang oleh TS ditetapkan sebagai "untuk memperbaiki kualitas."

Inggris: "Having tamed himself,  he no more proliferates The Blessed One is he, and I am his disciple."

Pali: "...Dantassa nippapañcassa, bhagavato tassa sāvakohamasmi."

Nippapañcassa = nis+papañca

Papañca
= Sk. prapañca (pra+pañc to spread out; meaning "expansion, diffuseness, manifoldedness") delay, illusion, obsession, hindrance to spiritual progress

(Sbr:PTS)

IMO, Nippapañcassa = bebas dari obsesi (pikiran yang mengganggu, dalam hal ini pikiran dengan konsep keberadaan atta/diri). Hal ini berhubungan juga dengan papanca sanna sankha: http://pathpress.wordpress.com/2010/08/01/papanca-sanna-sankha/


thanks atas informasinya, tapi IMO sebenarnya tidak perlu repot begitu, "proliferasi" ada dalam KBBI

Benar. Tapi KBBI yang saya punya mengatakan "proliferasi": penyebarluasan, pengembangbiakan. Jika mengacu pada KBBI ini ya berarti terjemahan SP benar donk.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #8 on: 14 August 2010, 12:06:35 AM »
kebetulan saya sedang menggarap MN,
demi akurasi biasanya saya membandingkan pekerjaan saya dengan beberapa sumber lain, salah satunya adalah yg ada di website samaggi-phala.or.id

pada Upali Sutta (MN 56)

sumber dari SP menuliskan:
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tak lagi berkembangbiak:
Beliau adalah Yang Terberkahi, dan saya adalah siswa Beliau.

yg aslinya dari English adalah
"Having tamed himself, he no more proliferates
The Blessed One is he, and I am his disciple."

secara literal "proliferate" memang adalah "berkembang biak"
tapi jadi aneh jika dikatakan "Sang Buddha tidak berkembang biak."

mohon maaf, bukan maksud saya untuk mencela pekerjaan mulia orang lain, tapi sesuai tujuan thread ini yang oleh TS ditetapkan sebagai "untuk memperbaiki kualitas."

Inggris: "Having tamed himself,  he no more proliferates The Blessed One is he, and I am his disciple."

Pali: "...Dantassa nippapañcassa, bhagavato tassa sāvakohamasmi."

Nippapañcassa = nis+papañca

Papañca
= Sk. prapañca (pra+pañc to spread out; meaning "expansion, diffuseness, manifoldedness") delay, illusion, obsession, hindrance to spiritual progress

(Sbr:PTS)

IMO, Nippapañcassa = bebas dari obsesi (pikiran yang mengganggu, dalam hal ini pikiran dengan konsep keberadaan atta/diri). Hal ini berhubungan juga dengan papanca sanna sankha: http://pathpress.wordpress.com/2010/08/01/papanca-sanna-sankha/


thanks atas informasinya, tapi IMO sebenarnya tidak perlu repot begitu, "proliferasi" ada dalam KBBI

Benar. Tapi KBBI yang saya punya mengatakan "proliferasi": penyebarluasan, pengembangbiakan. Jika mengacu pada KBBI ini ya berarti terjemahan SP benar donk.

saya tidak mengatakan salah, hanya saja "Sang Buddha tidak lagi berkembang biak" menyiratkan bahwa dulunya "Sang Buddha pernah berkembang biak", ini pun masih benar secara literal, tapi maknanya jadi aneh.
terlebih lagi kata "Papañca" itu lebih mengarah pada konteks pikiran bukan perkembang-biakan dalam arti beranak-cucu
« Last Edit: 14 August 2010, 12:08:48 AM by Indra »

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #9 on: 14 August 2010, 12:48:15 AM »
kebetulan saya sedang menggarap MN,
demi akurasi biasanya saya membandingkan pekerjaan saya dengan beberapa sumber lain, salah satunya adalah yg ada di website samaggi-phala.or.id

pada Upali Sutta (MN 56)

sumber dari SP menuliskan:
Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tak lagi berkembangbiak:
Beliau adalah Yang Terberkahi, dan saya adalah siswa Beliau.

yg aslinya dari English adalah
"Having tamed himself, he no more proliferates
The Blessed One is he, and I am his disciple."

secara literal "proliferate" memang adalah "berkembang biak"
tapi jadi aneh jika dikatakan "Sang Buddha tidak berkembang biak."

mohon maaf, bukan maksud saya untuk mencela pekerjaan mulia orang lain, tapi sesuai tujuan thread ini yang oleh TS ditetapkan sebagai "untuk memperbaiki kualitas."

Inggris: "Having tamed himself,  he no more proliferates The Blessed One is he, and I am his disciple."

Pali: "...Dantassa nippapañcassa, bhagavato tassa sāvakohamasmi."

Nippapañcassa = nis+papañca

Papañca
= Sk. prapañca (pra+pañc to spread out; meaning "expansion, diffuseness, manifoldedness") delay, illusion, obsession, hindrance to spiritual progress

(Sbr:PTS)

IMO, Nippapañcassa = bebas dari obsesi (pikiran yang mengganggu, dalam hal ini pikiran dengan konsep keberadaan atta/diri). Hal ini berhubungan juga dengan papanca sanna sankha: http://pathpress.wordpress.com/2010/08/01/papanca-sanna-sankha/


thanks atas informasinya, tapi IMO sebenarnya tidak perlu repot begitu, "proliferasi" ada dalam KBBI

Benar. Tapi KBBI yang saya punya mengatakan "proliferasi": penyebarluasan, pengembangbiakan. Jika mengacu pada KBBI ini ya berarti terjemahan SP benar donk.

saya tidak mengatakan salah, hanya saja "Sang Buddha tidak lagi berkembang biak" menyiratkan bahwa dulunya "Sang Buddha pernah berkembang biak", ini pun masih benar secara literal, tapi maknanya jadi aneh.
terlebih lagi kata "Papañca" itu lebih mengarah pada konteks pikiran bukan perkembang-biakan dalam arti beranak-cucu

Sebaliknya menurut saya, penggunaan kata bahasa Inggris "proliferates" sebagai padanan kata "papanca" jika dikaitkan dengan kalimat sebelumnya adalah salah (bahasa halusnya: tidak tepat). Dalam PTS ada padanan kata yang lain seperti illusion, obsession, hindrance to spiritual progress. Kata-kata ini justru lebih mendekati pengertian dari papanca, daripada kata  "proliferates".

Demikian menurut saya. :)

GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #10 on: 14 August 2010, 07:44:02 PM »
masih dari sumber SP, untuk Apannaka Sutta (MN 60)

paragraf 8, tertulis:

Sebenarnya ada dunia yang lain, bila ada yang mengatakan bahwa tak ada dunia yang lain, maka orang itu mempunyai perhatian yang salah.

dari english:
"Since there actually is another world, one who intends 'there is no other world' has wrong intention."

mengartikan "intend" menjadi "mengatakan" dan "intention" menjadi "perhatian" menurut saya ini sangat fatal dan berpotensi menyesatkan.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #11 on: 14 August 2010, 09:57:42 PM »
Quote
MN 60

sumber: (Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama RI, 1994)



9. Mengenai ini seorang bijaksana berpikiran seperti ini: Jika tidak ada dunia yang lain, pada peristiwa terputusnya rasa dari badan ini, orang yang saleh akan membuat dirinya selamat. Tetapi jika ada dunia yang lain, maka pada peristiwa terputusnya rasa dari badan ini, setelah kematian, ia akan muncul kembali dalam bentuk yang lain, dalam keadaan yang tidak bahagia, walaupun di neraka.


Sumber: MN bhikkhu bodhi

9. "About this a wise man considers thus: 'If there is no other world, then on the dissolution of the body this good person will have made himself safe enough. But if  there is another world, then on the dissolution of the body, after death, he will reappear in a state of deprivation, in an unhappy destination, in perdition, even in hell.

ada 2 point disini
1. on the dissolution of the body    ->    peristiwa terputusnya rasa badan ini   ----->  harusnya hancurnya badan
2. state of deprivation   ->   dalam bentuk lain   -----> harusnya dalam kondisi kekurangan
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #12 on: 14 August 2010, 10:03:57 PM »
Quote
MN 60

sumber: (Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama RI, 1994)



9. Mengenai ini seorang bijaksana berpikiran seperti ini: Jika tidak ada dunia yang lain, pada peristiwa terputusnya rasa dari badan ini, orang yang saleh akan membuat dirinya selamat. Tetapi jika ada dunia yang lain, maka pada peristiwa terputusnya rasa dari badan ini, setelah kematian, ia akan muncul kembali dalam bentuk yang lain, dalam keadaan yang tidak bahagia, walaupun di neraka.


Sumber: MN bhikkhu bodhi

9. "About this a wise man considers thus: 'If there is no other world, then on the dissolution of the body this good person will have made himself safe enough. But if  there is another world, then on the dissolution of the body, after death, he will reappear in a state of deprivation, in an unhappy destination, in perdition, even in hell.

ada 2 point disini
1. on the dissolution of the body    ->    peristiwa terputusnya rasa badan ini   ----->  harusnya hancurnya badan
2. state of deprivation   ->   dalam bentuk lain   -----> harusnya dalam kondisi kekurangan

selain yg di atas, saya tambahkan lagi untuk kata mudah "even" diterjemahkan jadi "walaupun", selain salah, kalimatnya pun jadi ikan kembung rambut kribo

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #13 on: 14 August 2010, 10:08:36 PM »
harusnya di tanya dulu sumber dari SP itu dari mana.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Temuan salah penerjemahan dalam teks Buddhis
« Reply #14 on: 14 August 2010, 10:25:35 PM »
harusnya di tanya dulu sumber dari SP itu dari mana.
sumber: (Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama RI, 1994)