Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Definisi perbuatan baik  (Read 10720 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline WhoAmI

  • Teman
  • **
  • Posts: 72
  • Reputasi: -1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Definisi perbuatan baik
« on: 11 August 2010, 11:08:58 AM »
Kita sering mendengar dan juga menyatakan "saya ingin berbuat baik"
sebenarnya seperti apakah definisi berbuat baik menurut agama Budha?
Yuk kita diskusikan bersama...

Offline Hendra Susanto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #1 on: 11 August 2010, 11:11:24 AM »
apa gak salah kamar ini? mestinya di thread diskusi umum

Offline WhoAmI

  • Teman
  • **
  • Posts: 72
  • Reputasi: -1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #2 on: 11 August 2010, 11:19:40 AM »
oh, sori2... mohon moderator tuk pindahin ya... sori dah ngrepotin... tq b4..

Offline DragonHung

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 963
  • Reputasi: 57
  • Gender: Male
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #3 on: 11 August 2010, 12:05:59 PM »
Kita sering mendengar dan juga menyatakan "saya ingin berbuat baik"
sebenarnya seperti apakah definisi berbuat baik menurut agama Budha?
Yuk kita diskusikan bersama...


Gampang aja definisi "berbuat baik" bagi saya.  Selama perbuatan itu tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya, maka itu adalah perbuatan baik.
Banyak berharap, banyak kecewa
Sedikit berharap, sedikit kecewa
Tidak berharap, tidak kecewa
Hanya memperhatikan saat ini, maka tiada ratapan dan khayalan

Offline F.T

  • Sebelumnya: Felix Thioris, MarFel, Ocean Heart
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.135
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • • Save the Children & Join with - Kasih Dharma Peduli • We Care About Their Future • There Are Our Next Generation.
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #4 on: 11 August 2010, 12:08:41 PM »
Bisa baca2x jenis perbuatan baik versi Liao Fan : http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=1343.0



Save the Children & Join With :
Kasih Dharma Peduli ~ Anak Asuh
May all Beings Be Happy


Contact Info : Kasihdharmapeduli [at] yahoo.com

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Perbuatan baik dpt dilakukan seorang diri !
« Reply #5 on: 11 August 2010, 01:04:04 PM »
Apakah anda berpikir perbuatan baik diperlukan mahluk lain?
kira2 perbuatan baik apa yg tidak memerlukan mahluk lain?
apa ya?: ShowHide

meditasi

taukah kenapa bisa begitu?
« Last Edit: 11 August 2010, 01:08:12 PM by johan3000 »
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
How to hack good karma ?
« Reply #6 on: 11 August 2010, 01:07:38 PM »
Dapatkah dua orang*** bekerja sama dgn tujuan
mengumpulkan perbuatan baik sebanyak mungkin?

maksudnya didesa ini hanya terdiri dari dua orang ini...
jadi mereka sepakat utk mengumpulkan perbuatan baik
sebanyak dan secepat mungkin...

kira2 bagaimana mereka melakukan hal tsb ya?  :P :P

thx sebelumnya
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #7 on: 11 August 2010, 03:48:35 PM »
Saya mau komen, tapi ini bukan definisi menurut Buddhism. Saya gak mau menanggung beban seberat itu ;D

Salah satu aspek kebaikan yang saya tahu adalah kemurahan hati. Mungkin kata yang lebih umum adalah tulus, ikhlas, atau tanpa pamrih. Memberi ya hanya memberi. Membantu ya hanya membantu. Melakukan perbuatan baik, ya just do. Bukan hal yang mudah, tapi inilah perbuatan baik yang sesungguhnya.

Ketika saya memberi namun tidak tulus (mengharapkan imbalan), saya merasakan bahwa kebahagiaan yang saya pancarkan keluar, tidak terpancar ke dalam diri saya sendiri. Padahal perbuatan baik yang sesungguhnya adalah perbuatan baik yang bukan hanya memberi manfaat untuk orang lain tapi juga untuk diri sendiri.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #8 on: 11 August 2010, 06:07:23 PM »
Suatu perbuatan dikatakan perbuatan baik (kusala kamma) jika dilandasi oleh akar kebaikan (kusalamula), yaitu tanpa keserakahan (alobha), tanpa kebencian (adosa), dan tanpa kebodohan batin (amoha). Sebaliknya jika dilandasi oleh keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha) atau disebut akar kejahatan (akusalamula) maka dikategorikan sebagai perbuatan buruk (akusala kamma).
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline yasavaddhano

  • Teman
  • **
  • Posts: 84
  • Reputasi: 7
  • Gender: Male
  • Ini pun akan berubah
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #9 on: 12 August 2010, 08:15:21 AM »
Perbuatan baik tentu didasari niat mulia  dan akar kebaikan. Tetapi bila dilakukan dengan cara yang salah, belum tentu perbuatan itu benar.
Perbuatan baik belum tentu benar, tetapi perbuatan yang benar sudah pasti baik.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #10 on: 12 August 2010, 07:29:40 PM »
Perbuatan baik tentu didasari niat mulia  dan akar kebaikan. Tetapi bila dilakukan dengan cara yang salah, belum tentu perbuatan itu benar.
Perbuatan baik belum tentu benar, tetapi perbuatan yang benar sudah pasti baik.

Setuju bro, suatu perbuatan baik harus dilakukan dengan cara yang benar juga, dalam hal ini faktor kebijaksanaan/panna juga harus menyertai perbuatan tersebut.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #11 on: 12 August 2010, 07:30:59 PM »
Ini definisi ukuran perbuatan baik dan buruk menurut kacamata agama Buddha (diambil dari forum tetangga):

Menurut ajaran Buddha, suatu perbuatan dapat dikategorikan baik (kusala) atau buruk (akusala) bergantung pada 3 faktor:

]1. Motivasi atau dorongan yang melandasi perbuatan tersebut, yang dikenal sebagai akar kejahatan atau kebaikan. Jika akar kejahatan (akusala-mula) yang terdiri dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha) yang melandasi perbuatan tersebut, maka perbuatan itu dikatakan perbuatan buruk (akusala kamma). Jika yang melandasi adalah akar kebajikan (kusala-mula) yang terdiri dari tanpa keserakahan (alobha), tanpa kebencian (adosa), dan tanpa kebodohan batin (amoha), maka dikatakan sebagai perbuatan baik (kusala kamma). Pedoman untuk menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk berdasarkan motivasi ini dapat kita temukan dalam Kalama Sutta:

Quote
4. "Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Kalau keserakahan (lobha) timbul dalam diri seorang manusia, apakah itu membawa keuntungan atau kerugian?"
"Akan membawa kerugian, Yang Mulia."
"Sekarang, warga suku Kalama, seseorang yang serakah dicengkeram oleh keserakahan dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi; apakah orang itu tidak mungkin akan membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu yang tidak diberikan, melakukan perzinahan, mengucapkan kata-kata yang tidak benar, dan juga menyebabkan orang lain berbuat demikian; bukankah hal itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?"
"Memang demikian, Yang Mulia."

5. "Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Kalau kebencian (dosa) timbul dalam diri seorang manusia, apakah itu akan membawa keuntungan atau kerugian?"
"Akan membawa kerugian, Yang Mulia."
"Sekarang, warga suku Kalama, seseorang yang membenci, dicengkeram oleh kebencian dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi; apakah orang itu tidak mungkin akan membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu yang tidak diberikan, melakukan perzinahan, mengucapkan kata-kata yang tidak benar, dan juga menyebabkan orang lain berbuat demikian; bukankah hal itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?"
"Memang demikian, Yang Mulia."

6. "Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Kalau kegelapan batin (moha) timbul dalam diri seorang manusia, apakah itu akan membawa keuntungan atau kerugian?"
"Akan membawa kerugian, Yang Mulia."
"Sekarang, warga suku Kalama, seseorang yang diliputi kegelapan batin (moha), dicengkeram oleh kegelapan batin dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi; apakah orang itu tidak mungkin akan membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu yang tidak diberikan, melakukan perzinahan, mengucapkan kata-kata yang tidak benar, dan juga menyebabkan orang lain berbuat demikian; bukankah hal itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama?"
"Memang demikian, Yang Mulia."

7. "Kalau begitu, warga suku Kalama, bagaimana pendapatmu? Apakah hal-hal tersebut baik atau tidak baik?"
"Tidak baik, Yang Mulia."
"Apakah hal-hal tersebut tercela atau tidak tercela?"
"Tercela, Yang Mulia."
"Apakah hal-hal tersebut dibenarkan atau tidak dibenarkan oleh para Bijaksana?"
"Tidak dibenarkan, Yang Mulia."
"Kalau terus dilakukan, apakah itu akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan?"
"Akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan, Yang Mulia. Demikianlah pendapat kami."

8. "Karena itu, warga suku Kalama, itulah yang Kumaksud dengan mengatakan, 'Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu; atau oleh karena sesuatu yang merupakan tradisi; atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang dikatakan di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang katanya sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya merupakan hasil dari suatu penelitian; juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama; juga apa yang terlihat cocok dengan pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.'
Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, 'Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan,' maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut."

..... [omitted]

10. "Bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Apabila seseorang telah terbebas dari keserakahan (lobha), apakah hal ini merupakan keuntungan atau kerugian?"
"Keuntungan, Yang Mulia."
"Bukankah orang ini, yang telah terbebas dari keserakahan dan tidak lagi dicengkeram oleh keserakahan, dan oleh karena ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik, akan berhenti membunuh makhluk hidup, berhenti mengambil sesuatu yang tidak diberikan (mencuri), berhenti melakukan perzinahan berhenti mengucapkan kata-kata yang tidak benar, berhenti menjadi penyebab yang menyesatkan orang lain, tidak akan mendapatkan kerugian dan penderitaan untuk waktu yang lama?"
"Memang demikian halnya, Yang Mulia."

11. "Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Apabila seseorang telah terbebas dari kebencian (dosa), apakah hal ini merupakan keuntungan atau kerugian?"
"Keuntungan, Yang Mulia."
"Bukankah orang ini, yang telah terbebas dari kebencian tidak lagi dicengkeram oleh kebencian….., berhenti menjadi penyebab yang menyesatkan orang lain, tidak akan mendapatkan kerugian dan penderitaan untuk waktu yang lama?"
"Memang demikian halnya, Yang Mulia."

12. "Sekarang, bagaimana pendapatmu, warga suku Kalama? Apabila seseorang telah terbebas dari kegelapan batin (moha), apakah hal ini merupakan keuntungan atau kerugian?"
"Keuntungan, Yang Mulia."
"Bukankah orang ini, yang telah terbebas dari kegelapan batin dan tidak lagi dicengkeram oleh kegelapan batin ….., berhenti menjadi penyebab yang menyesatkan orang lain, tidak akan mendapat kerugian dan penderitaan untuk waktu yang lama?"
"Memang demikian halnya, Yang Mulia."

13. "Kalau begitu, warga suku Kalama, bagaimana pendapatmu? Apakah hal-hal tersebut menguntungkan atau tidak menguntungkan?"
"Menguntungkan, Yang Mulia."
"Apakah hal-hal tersebut tercela atau tidak tercela?"
"Tidak tercela, Yang Mulia."
"Apakah hal-hal tersebut dibenarkan atau tidak dibenarkan oleh para Bijaksana?"
"Dibenarkan, Yang Mulia."
"Kalau terus dilakukan, apakah akan membawa kebahagiaan atau tidak?"
"Tentu akan membawa kebahagiaan. Demikianlah pendapat kami."

14. "Demikianlah, warga suku Kalama, itulah yang Kumaksud dengan mengatakan, 'Janganlah percaya begitu saja….., Tetapi apabila setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui hal ini berguna; hal ini tidak tercela; hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan, maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.' Itulah sebabnya, mengapa Aku mengucapkan kata-kata tersebut."

Sumber: Kalama Sutta

2. Akibat langsung dari perbuatan tersebut terhadap diri sendiri dan orang lain apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan. Hal ini dijelaskan dalam Cula-rahulovada Sutta sebagai berikut:

Quote
“Kapan pun kamu ingin melakukan perbuatan melalui jasmani, kamu harus bercermin: ‘Perbuatan melalui jasmani yang ingin kulakukan ini – akankah ia membawa pada penderitaan bagi diri sendiri, orang lain, atau keduanya? Apakah ia suatu perbuatan jasmani yang tidak baik, dengan akibat yang menyedihkan, hasil yang menyakitkan?’ Jika, dalam bercermin, kamu mengetahui bahwa ia akan membawa pada penderitaan bagi diri sendiri, orang lain, atau keduanya; ia adalah perbuatan jasmani yang tidak baik dengan akibat yang menyedihkan, hasil yang menyakitkan, maka segala perbuatan jasmani yang semacam itu sesungguhnya tidak pantas kamu lakukan. Namun jika dalam bercermin kamu mengetahui bahwa ia tidak akan mengakibatkan penderitaan… ia adalah perbuatan jasmani yang baik dengan akibat yang membahagiakan, hasil yang menyenangkan, maka segala perbuatan jasmani yang semacam itu pantas kamu lakukan.”

“Saat kamu melakukan suatu perbuatan jasmani, kamu harus bercermin: ‘Perbuatan jasmani yang kulakukan ini – apakah membawa pada penderitaan bagi diri sendiri, orang lain, atau keduanya? Apakah ia suatu perbuatan jasmani yang tidak baik, dengan akibat yang menyedihkan, hasil yang menyakitkan?’ Jika, dalam bercermin, kamu mengetahui bahwa ia membawa pada penderitaan bagi diri sendiri, orang lain, atau keduanya… kamu harus menghentikannya. Namun jika dalam bercermin kamu mengetahui bahwa ia bukan… kamu dapat melanjutkannya.”

“Setelah melakukan suatu perbuatan jasmani, kamu harus bercermin padanya…. Jika, dalam bercermin, kamu mengetahui bahwa ia membawa pada penderitaan bagi diri sendiri, orang lain, atau keduanya; ia adalah perbuatan jasmani yang tidak baik dengan akibat yang menyakitkan, hasil yang menyedihkan, maka kamu harus mengakuinya, mengungkapkannya, mengatakannya secara terbuka kepada Sang Guru atau kepada seorang sahabat yang berpengetahuan dalam kehidupan suci. Setelah mengakuinya… kamu harus berlatih mengendalikan diri pada masa yang akan datang. Namun jika dalam bercermin kamu mengetahui bahwa ia tidak membawa pada penderitaan… ia adalah perbuatan jasmani yang baik dengan akibat yang menyenangkan, hasil yang membahagiakan, maka kamu harus tetap tersegarkan secara mental dan bergembira, dengan berlatih siang dan malam dalam kualitas mental yang baik.”

..... [dst berlaku juga untuk perbuatan melalui ucapan dan pikiran]

Sumber: Cula-rahulovada Sutta

3. Kontribusi atau pengaruh perbuatan tersebut pada kemajuan batin, yaitu apakah perbuatan tsb bisa membawa pada pelenyapan dukkha, Pencerahan, dan Nibbana atau tidak. Perbuatan yang bermanfaat (kusala) adalah perbuatan yang dapat membawa pada kemajuan batin, yaitu sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan; perbuatan yang tidak bermanfaat adalah kebalikannya.

Berdasarkan ketiga faktor di atas, suatu perbuatan dikatakan benar-benar perbuatan baik jika dilandasi oleh alobha, adosa, dan amoha, menyebabkan kebahagiaan orang lain dan diri sendiri, serta membawa kemajuan batin hingga tercapainya Nibbana.
« Last Edit: 12 August 2010, 07:34:22 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Apui

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 4
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #12 on: 12 August 2010, 11:12:11 PM »
Mmm.. kalo kejadiannya kita memberi sedekah k LSM, ternyata LSM nya yang ga bener, termasuk perbuatan baik ga ya? apa yang penting kita tulus aja klo kasih sedekah?

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #13 on: 12 August 2010, 11:20:56 PM »
dana tetap dana, meskipun kepada binatang sekalipun.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Juice_alpukat

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 734
  • Reputasi: 11
  • Gender: Male
Re: Definisi perbuatan baik
« Reply #14 on: 18 August 2010, 07:29:44 PM »
Suatu perbuatan dikatakan perbuatan baik (kusala kamma) jika dilandasi oleh akar kebaikan (kusalamula), yaitu tanpa keserakahan (alobha), tanpa kebencian (adosa), dan tanpa kebodohan batin (amoha). Sebaliknya jika dilandasi oleh keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha) atau disebut akar kejahatan (akusalamula) maka dikategorikan sebagai perbuatan buruk (akusala kamma).
ayee nggak mengerti nih, bukannye kite masih diliputi LDM, kalau begto gimane mungkinlah kite bise buat baik, kalo kite buat baek artinya ga ada lobha,dosa,moha, artine kite udah mencapai kesucian/nibbana donggg