Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.  (Read 1037844 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #435 on: 25 July 2010, 10:44:27 PM »
Pada kesempatan lain pencapaian pemasuk-arus dijelaskan kepada Anathapindika dalam tiga cara yang berbeda— tetapi hanya kepada dia seorang. Sang Buddha berkata:

“Bila di dalam diri seorang murid mulia kelima kejahatan yang menakutkan telah lenyap, ketika ia memiliki empat sifat pemasuk-arus, dan bila ia memahami metode mulia dengan baik dan bijaksana, maka ia bisa menganggap dirinya sebagai pemasuk-arus. Namun, ia yang membunuh, mencuri, melakukan tindakan seksual yang salah, berbohong, dan mengkonsumsi zat yang memabukkan, menghasilkan kelima kejahatan yang menakutkan baik di masa sekarang maupun di masa depan, dan mengalami kesakitan dan kesedihan dalam pikirannya. Siapapun yang menjauhi kelima kejahatan, baginya kelima kejahatan telah dihapuskan. Kedua, ia memiliki—sebagai sifat pemasuk-arus—keyakinan tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan ia menjalankan sila dengan tanpa-cela. Ketiga, ia telah sepenuhnya melihat dan menembus metode mulia, yakni asal mula yang saling bergantungan.” (AN 10:92)

Pada suatu pagi Anathapindika ingin mengunjungi Sang Buddha, namun karena masih terlalu pagi maka ia pergi ke kediaman beberapa pertapa pengelana. Karena para pertapa mengenalinya sebagai pengikut Sang Buddha, mereka bertanya padanya perihal pandangan yang dimiliki pertapa Gotama. Ia menjawab bahwa ia tidak mengetahui semua pandangan Sang Bhagava. Ketika mereka bertanya kepadanya lagi perihal pandangan para bhikkhu, ia menjawab lagi bahwa ia tidak mengetahui semua pandangan mereka. Oleh karena itu ia ditanya apakah pandangan yang dimilikinya. Ia menjawab: “Pandangan apa yang kupegang, tuan-tuan yang mulia, tidaklah sulit untuk ku jelaskan. Tetapi bolehkan bila saya memohon Yang Mulia untuk menjelaskan pandangan anda dahulu. Setelah itu tidak akan sulit bagiku untuk menjelaskan pandangan yang aku pegang.”

Para pertapa kemudian menjelaskan anggapan mereka mengenai dunia. Yang satu menganggapnya abadi, yang lain menganggapnya tidak abadi; yang satu menganggapnya terbatas, yang lain menganggapnya tidak terbatas; yang satu menganggap bahwa badan dan jiwa adalah sama, yang lain menganggapnya berbeda; beberapa percaya bahwa Yang Tercerahkan tetap ada setelah meninggal, yang lain mengatakan bahwa ia hancur.

Anathapindika kemudian berkata: “Yang manapun dari pandangan ini yang dipegang, sumbernya pasti salah satu dari dua ini: dari refleksinya yang tidak bijaksana, atau melalui ucapan orang lain. Dalam kedua kasus itu, pandangannya muncul karena terkondisi. Akan tetapi, hal-hal yang terkondisi adalah sementara; dan hal-hal yang bersifat sementara melibatkan penderitaan. Oleh karena itu, ia yang memegang pandangan dan pendapat melekat pada penderitaan, tunduk pada penderitaan.”

Kemudian para pertapa ingin mengetahui pandangan yang dipegang Anathapindika. Ia menjawab: “Apapun yang timbul adalah sementara; kesementaraan adalah sifat dari penderitaan. Tetapi penderitaan bukanlah milikku, bukan aku, dan bukan diriku.”

Karena ingin membalas, mereka berargumen bahwa ia sendiri juga melekat karena ia melekat pada pandangan yang baru saja ia jelaskan. “Bukan begitu,” balasnya, “karena aku telah menangkap hal-hal ini sesuai kenyataan, dan lagipula, aku mengetahui cara keluar darinya sebagaimana adanya”—dengan kata lain, ia menggunakan pandangan ini hanya sebagai alat dan pada waktunya juga akan melepasnya. Para pengelana pun tidak mampu membalas dan duduk terdiam, sadar bahwa mereka telah dikalahkan.

Ananthapindika dengan diam-diam menemui Sang Buddha, melaporkan percakapan itu kepada beliau, dan menerima pujian Sang Buddha: “Engkau benar, perumahtangga. Engkau harus lebih sering membimbing mereka yang terkotori agar bisa sesuai dengan kebenaran.” Dan kemudian Sang Guru menyemangati dan mendorongnya dengan sebuah kotbah. Ketika Anathapindika telah pergi, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu bahwa bahkan seorang bhikkhu yang telah hidup seratus tahun di dalam Sangha tidak akan dapat menjawab para pengelana itu sebaik yang telah dilakukan Anathapiõóika si perumahtangga (AN 10:93).

Akhirnya, dua kejadian lain dapat diceritakan: Anathapindika sakit dan memohon kunjungan seorang bhikkhu untuk mendapat penghiburan. Karena Anathapindika telah melakukan begitu banyak sebagai penyokong Sangha, pastilah permohonannya dikabulkan. Pertama kali, Y.M. Ananda menemuinya; kedua kali, Y.M. Sariputta. Y.M. Ananda berkata bahwa mereka yang pikirannya tak terlatih takut pada kematian dan kehidupan sesudahnya karena mereka tidak mempunyai empat hal: ia tidak memiliki keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, tidak pula ia memiliki kemoralan yang dipuji para mulia. Tetapi Anathapindika menjawab bahwa ia tidak memiliki rasa takut terhadap kematian. Ia memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan mengenai sila, ia tahu tidak satupun yang masih ia langgar. Bhante Ananda memujinya dan berkata bahwa ia baru saja menyatakan buah pemasuk-arus (SN 55:27).

Ketika Y.M. Sariputta berkunjung, ia memberitahu Anathapiõóika bahwa tidak seperti orang awam yang pikirannya tidak terlatih, dimana mereka masih mungkin terlahir di neraka, dia memiliki keyakinan terhadap Tiga Permata dan tidak melanggar sila. Bila sekarang ia berkonsentrasi penuh pada keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan kemoralannya sendiri, maka sakitnya dapat lenyap melalui meditasi ini. Ia tidaklah sama dengan mereka yang tak terlatih, yang memiliki pandangan salah, niat salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah, usaha salah, perhatian-penuh salah, konsentrasi salah, pengetahuan salah, atau kebebasan salah. Bila ia mempertimbangkan fakta bahwa ia, sebagai pemasuk-arus, memiliki sepuluh faktor mulia, mengalir menuju kebebasan benar, maka melalui meditasi ini sakitnya akan lenyap. Melalui kekuatan perenungannya, Anathapindika mengingat keberuntungannya yang besar menjadi seorang murid mulia, dan dengan kekuatan obat spiritual yang luar biasa ini penyakitnya langsung lenyap. Ia berdiri, mengundang Bhante Sariputta untuk mencicipi santapan yang dipersiapan untuk dirinya sendiri, dan berdiskusi lebih lanjut dengannya. Di akhir diskusi Bhante Sariputta mengajar dia tiga syair untuk diingat:

“Ketika seseorang memiliki keyakinan terhadap Sang Tathagata,
Tak tergoyahkan dan kokoh,
Dan tindakan bajik yang dibangun di atas kemoralan,
Disayangi para mulia dan dipuji—

Ketika seseorang memiliki keyakinan terhadap Sangha,
Dan pandangan yang telah diluruskan,
Mereka katakan bahwa ia tidak miskin,
Bahwa hidupnya tidak sia-sia.

Oleh karena itu orang yang cerdas,
Mengingat Ajaran Sang Buddha,
Seharusnya mengabdi pada keyakinan dan kemoralan,
Kepada kepercayaan dan pandangan Dhamma.” (SN 55:26)

Delapan belas kotbah yang ditujukan kepada Anathapindika telah disinggung dengan singkat. Empat belas kotbah diberikan oleh Sang Bhagava atas inisiatif Beliau; satu timbul ketika Anathapindika mengajukan satu pertanyaan; dalam kotbah yang lain ia melaporkan bagaimana ia telah mengajar orang lain; dan dalam dua kotbah ia diberi instruksi oleh Bhante Ananda dan Bhante Sariputta—kedelapan belas kotbah ini menunjukkan bagaimana beliau membuat Ajaran menjadi jelas bagi umat awam dan menginspirasi mereka pada usaha-usaha yang membahagiakan.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #436 on: 25 July 2010, 10:44:42 PM »
KEMATIAN ANATHAPINDIKA

Kematian si penyokong besar disinggung dalam Anathapindikovada sutta, Nasihat kepada Anathapindika (MN 143). Si perumahtangga jatuh sakit untuk ketiga kalinya dan kali ini dengan rasa sakit amat sangat yang terus memburuk dan tidak berkurang. Sekali lagi ia memohon bantuan Y.M. Ananda dan Y.M. Sariputta. Ketika Y.M. Sariputta melihatnya, ia tahu bahwa Anathapindika sudah mendekati ajalnya dan memberi instruksi berikut: “Jangan melekat, perumahtangga, pada enam indera dan jangan lekatkan pikiranmu padanya. Jangan melekat pada enam objek indera dan jangan lekatkan pikiranmu padanya. Jangan melekat pada enam jenis kesadaran, enam kontak indera, enam perasaan, enam elemen, lima unsur, empat alam tanpa bentuk. Jangan melekat pada apa yang terlihat, terdengar, terasa, terpikir, terpersepsi, dan terselidiki di dalam pikiran, dan jangan lekatkan pikiranmu padanya.”

Anathapindika pasti mengikuti penjelasan ini dalam hati, sehingga sembari mendengarkan ia juga berlatih sesuai cara yang diinstruksikan Y.M. Sariputta yang bijaksana dan suci. Pada akhir instruksi ini, air mata bercucuran dari mata Anathapindika. Y.M. Ananda mendekatinya dengan kasih-sayang dan bertanya apakah ia sedang sedih. Namun Anathapindika menjawab: “Aku tidak bersedih. O Ananda yang mulia. Aku telah lama melayani Sang Guru dan para bhikkhu yang sempurna dalam pencapaian spiritual, namun belum pernah kudengar kotbah yang begitu mendalam.”

Kemudian Bhante Sariputta berkata: “Kotbah yang mendalam ini, perumahtangga, tidak akan cukup jelas bagi perumahtangga bepakaian putih; kotbah ini cukup jelas bagi yang telah melepas duniawi.”

Anathapindika menjawab: “Y.M. Sariputta, biarlah perbincangan Dhamma semacam ini juga diberikan kepada umat awam berpakaian putih. Ada orang dengan sedikit debu di matanya. Bila mereka tidak mendengar ajaran demikian mereka akan tersesat. Beberapa orang mungkin mampu memahaminya.”

Perbedaan dengan ajaran Sang Buddha yang sebelumnya cukup signifikan. Di sini kita prihatin dengan pertanyaan tertinggi, dengan pembebasan tertinggi, tidak hanya pada landasan teori namun juga sebagai praktek. Sebagai seorang murid yang memiliki buah pemasuk-arus, Anathapindika menyadari sifat kesementaraan lima unsur kemelekatan, dan ia sendiri telah bicara perihal tiga karakteristik keberadaan: ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa inti. Namun ada perbedaan besar antara hanya mendengar dan merenungkannya, atau benar-benar melatih dan menggunakannya terhadap diri sendiri. Dalam pembedaan ini terdapat inti perbedaan antara metode yang digunakan Sang Buddha untuk mengajar perumahtangga dan metode untuk mengajar para bhikkhu.

Bagi umat awam, pandangan-terang mengenai sifat keberadaan dijelaskan sebagai pengetahuan, dan ajaran ini juga yang pada awalnya diberikan kepada para bhikkhu. Namun bagi para bhikkhu yang sudah lebih maju, Sang Buddha memperkenalkan latihan yang membawa pada kebebasan total bahkan dalam kehidupan sekarang. Hanya bila seseorang melihat bahwa pembabaran Y.M. Sariputta adalah pendekatan selangkah demi selangkah menuju Nibbana barulah ia dapat mengerti bahwa Anathapindika belum pernah mendengarkan inti Ajaran yang dijelaskan dengan cara demikian. Pada saat-saat terakhirnya, ia telah jauh dari kekhawatiran duniawi dan, ketika memikirkan Dhamma, ia melepaskan kemelekatan pada barang-barang duniawi, juga tubuhnya; sehingga ia menemukan dirinya dalam situasi yang sebanding dengan bhikkhu yang paling maju. Dalam kondisi seperti itu barulah Y.M. Sariputta bisa memberinya instruksi demikian karena akan memberikan efek terbesar.

Setelah menasihati Anathapindika dengan cara demikian, kedua tetua itu pun pergi. Tidak lama kemudian si perumahtangga Anathapindika meninggal dan terlahir di surga Tusita, dimana putri termudanya telah mendahuluinya. Namun begitu besar pengabdiannya kepada Sang Buddha dan Sangha, sehingga ia muncul di vihara Jetavana sebagai dewa muda, yang memenuhi seluruh daerah itu dengan cahaya surgawi. Ia menemui Sang Buddha, dan setelah menghormat beliau, berkata dalam syair berikut:

“Ini memanglah Hutan Jeta,
Peristirahatan Sangha,
Didiami oleh Sang Raja Dhamma,
Tempat yang mendatangkan kegembiraan bagiku.

Melalui tindakan dan pengetahuan dan kebenaran,
Melalui kemoralan dan hidup yang sempurna:
Melalui ini para makhluk termurnikan;
Bukan melalui keturunan atau kekayaan.

Oleh karena itu orang yang bijaksana,
Demi kebaikannya sendiri,
Harus menyelidiki Dhamma dengan seksama:
Dengan demikian ia termurnikan di dalam.

Sariputta sunguh-sungguh diberkahi dengan kebijaksanaan,
Dengan kemoralan dan kedamaian batin.
Bahkan seorang bhikkhu yang telah pergi menyebrang
Paling banyak hanya sebanding dengannya.”

Setelah berkata demikian, dewa itu menghormat Sang Bhagava dan, dengan menjaga beliau tetap di sebelah kanannya, menghilang di sana.

Keesokan harinya Sang Buddha memberitahu para bhikkhu mengenai apa yang telah terjadi. Saat itu juga Y.M. Ananda berkata: “Bhante, dewa muda itu pastilah Anathapindika. Karena Anathapindika si perumahtangga memiliki kepercayaan penuh terhadap Y.M. Sariputta.”

Dan Sang Buddha membenarkannya: “Bagus, bagus, Ananda! Engkau telah menarik kesimpulan yang benar melalui akal sehat. Karena dewa muda itu dulunya memang Anathapindika” (SN 2:20; MN 143).
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #437 on: 25 July 2010, 10:44:59 PM »
Keterangan :

Judul Asli :
Great Disciples of the Buddha
By Nyanaponika Thera & Hellmuth Hecker

Alih Bahasa : Sanjaya, ST
Editor : Y.M. Indaratano, Andi Utomo
Cetakan ketiga, Juli 2006

Diterbitkan oleh :
Insight Vidyasena Production
Vihara Vidyaloka
Jln. Kenari Gg. Tanjung I No. 231
Telp. / Fax 0274 – 542919
Yogyakarta 55165
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #438 on: 25 July 2010, 10:48:30 PM »

di jaman sang Buddha, ada seorang saudagar kaya raya yang kemudian jatuh miskin gara-gara terlalu banyak menyumbang vihara.  namanya : Anathapindika. menurut anda patut dicontoh tidak tindakan beliau ini?


sesuai dengan yang udah diposting ryu, patut dong
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline 4DMYN

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 428
  • Reputasi: -4
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #439 on: 25 July 2010, 10:48:51 PM »
Kalo aye punya niat nyang kaga baek dan mau membanding2kan masing2 guru. Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye. Inget orang kasih Roll Royce (bukan cuman sekedar pisang goreng) tentunya kaga sembarangan, menginget harganye nyang kaga moerah. Mestinya kalo ente pikir positif, guru itu ada nyang kasih Roll Royce, tentunye dia bukan orang sembarangan.
Kalo aye mau sombong dan mau bikin atta aye setinggi Gunung Sumeru, aye akan bilang: "Wadouw Guru ente mah kecil. Mana pernah dia terima barang segitu berharga. Pasti kaga ada ilmunye tuh." Aye juga bisa pikir, "Guru ente itu cuman pinternye teori en teori kaga bisa dimakan. Guru aye hebat karena BISA menyelesaikan masalah umatNye, termasuk masalah duniawi." Bukti hidupnye ya adalah mobil Roll Royce itu sendiri. Aye makin yakin sama Guru Aye dan ajaranNye. Ajaran Die memang Buddhadharma sejati.
Nah gimane kalo aye jadi poenya pikiran gitoe? Joejoernye sebelum ente posting masalah itu di sini, aye kaga poenya pikiran begini. huehueheue  :P  :P  :P :P :P :P :P :P

sayang sekali pada masa Buddha Gotama masih hidup tidak ada Rolls Royce, tapi mungkin anda pernah membaca kisah Sang Bodhisatta ditawari setengah dari kerajaan Magadha, menurut anda lebih tinggi mana nilai ekonomisnya dibandingkan dengan Rolls Royce? dan apakah Bodhisatta Gotama tergopoh-gopoh menerima tawaran itu?


di jaman sang Buddha, ada seorang saudagar kaya raya yang kemudian jatuh miskin gara-gara terlalu banyak menyumbang vihara.  namanya : Anathapindika. menurut anda patut dicontoh tidak tindakan beliau ini?


di mana anda membaca ini Bro, mohon referensinya, saya akan menjawab setelah membaca sumber anda.
selain itu pertanyaan anda sepertinya tidak relevan untuk kasus ini, ini kan jawaban atas statement dari rekan anda yg ini:
Quote
Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye.
jadi sepertinya ikan kembung rambut kribo.

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/hecker/wheel334.html

Yet even the wealth of Anathapindika was not inexhaustible. One day treasures worth eighteen million were swept away by a flash flood and washed into the sea. Moreover, he had loaned about the same amount of money to business friends who did not repay him. He was reluctant, however, to ask for the money. Since his fortune amounted to about five times eighteen million, and he had already spent three-fifths of this for the forest monastery, his money was now running out. Anathapindika, once a millionaire, had become poor. Nevertheless, he still continued to provide some food for the monks, even though it was only a modest serving of thin rice gruel.


Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #440 on: 25 July 2010, 10:50:27 PM »
Kalo aye punya niat nyang kaga baek dan mau membanding2kan masing2 guru. Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye. Inget orang kasih Roll Royce (bukan cuman sekedar pisang goreng) tentunya kaga sembarangan, menginget harganye nyang kaga moerah. Mestinya kalo ente pikir positif, guru itu ada nyang kasih Roll Royce, tentunye dia bukan orang sembarangan.
Kalo aye mau sombong dan mau bikin atta aye setinggi Gunung Sumeru, aye akan bilang: "Wadouw Guru ente mah kecil. Mana pernah dia terima barang segitu berharga. Pasti kaga ada ilmunye tuh." Aye juga bisa pikir, "Guru ente itu cuman pinternye teori en teori kaga bisa dimakan. Guru aye hebat karena BISA menyelesaikan masalah umatNye, termasuk masalah duniawi." Bukti hidupnye ya adalah mobil Roll Royce itu sendiri. Aye makin yakin sama Guru Aye dan ajaranNye. Ajaran Die memang Buddhadharma sejati.
Nah gimane kalo aye jadi poenya pikiran gitoe? Joejoernye sebelum ente posting masalah itu di sini, aye kaga poenya pikiran begini. huehueheue  :P  :P  :P :P :P :P :P :P

sayang sekali pada masa Buddha Gotama masih hidup tidak ada Rolls Royce, tapi mungkin anda pernah membaca kisah Sang Bodhisatta ditawari setengah dari kerajaan Magadha, menurut anda lebih tinggi mana nilai ekonomisnya dibandingkan dengan Rolls Royce? dan apakah Bodhisatta Gotama tergopoh-gopoh menerima tawaran itu?


di jaman sang Buddha, ada seorang saudagar kaya raya yang kemudian jatuh miskin gara-gara terlalu banyak menyumbang vihara.  namanya : Anathapindika. menurut anda patut dicontoh tidak tindakan beliau ini?


di mana anda membaca ini Bro, mohon referensinya, saya akan menjawab setelah membaca sumber anda.
selain itu pertanyaan anda sepertinya tidak relevan untuk kasus ini, ini kan jawaban atas statement dari rekan anda yg ini:
Quote
Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye.
jadi sepertinya ikan kembung rambut kribo.

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/hecker/wheel334.html

Yet even the wealth of Anathapindika was not inexhaustible. One day treasures worth eighteen million were swept away by a flash flood and washed into the sea. Moreover, he had loaned about the same amount of money to business friends who did not repay him. He was reluctant, however, to ask for the money. Since his fortune amounted to about five times eighteen million, and he had already spent three-fifths of this for the forest monastery, his money was now running out. Anathapindika, once a millionaire, had become poor. Nevertheless, he still continued to provide some food for the monks, even though it was only a modest serving of thin rice gruel.



dan dengan akibat terlahir kembali di Surga Tusita, bagaimana menurut anda sendiri Bro?

Offline Pariahina

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 314
  • Reputasi: -12
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #441 on: 25 July 2010, 10:52:04 PM »
Hahahaha. Kalau memang tindakan Anathapindika itu patut. Mengapa rekan2 di sini tak ada yang mau menirunya ya. Kosongan isi dompet, jual mobil, jual rumah, jual perabotannya, dll dan meneladani Anathapindika. Sayangnya cuman omong doank ya, Shixiong 4DMYN. Ah teori.

Offline Pariahina

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 314
  • Reputasi: -12
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #442 on: 25 July 2010, 10:53:16 PM »
Lha... apalagi dapat imbalan lahir di Surga Tusita. Ayo makanya cepat teladani Anathapindika. Logika simpel khan? Ga pake njelimet.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #443 on: 25 July 2010, 10:54:47 PM »
Hahahaha. Kalau memang tindakan Anathapindika itu patut. Mengapa rekan2 di sini tak ada yang mau menirunya ya. Kosongan isi dompet, jual mobil, jual rumah, jual perabotannya, dll dan meneladani Anathapindika. Sayangnya cuman omong doank ya, Shixiong 4DMYN. Ah teori.

karena kami tidak menemukan adanya BUDDHA HIDUP yg layak untuk menerima dana kami. kalau anda tentu kami akan meniru Anathapindika, sayangnya yg ada hanya BUDDHA HIDUP-BUDDHA HIDUPAN yg mustahil memberikan efek yg sama.

dan lagi, kok anda yakin bahwa tidak ada rekan di sini yg meniru Anathapindika? apakah anda juga menguasai ilmu astral dari LSY?


Okelah Kang Indra. Saya tidak mau membicarakan mengenai Theravada di sini. Nampaknya saya sudah banyak membuang waktu di sini. Mungkin untuk menyingkat waktu, silakan Kang baca posting saya sebelumnya, di situ akan jelas apa maksudnya. Nanti kalau sudah jelas baru diteruskan diskusinya.

« Last Edit: 25 July 2010, 10:58:03 PM by Indra »

Offline 4DMYN

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 428
  • Reputasi: -4
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #444 on: 25 July 2010, 10:56:46 PM »
http://indonesia.tbsn.org/uploads/photos/48.jpg

http://indonesia.tbsn.org/uploads/photos/45.jpg

eh ketemu...coba ke tkp..gw penasaran aja..mang boleh gt maen2 gt?

budaya seh budaya pari..tapi apakah perlu seperti itu?
anda ngerti perlunya budaya gak sih?
salah satu penyebab theravada kurang berkembang di tiongkok adalah karena theravada tidak mau menyerap budaya tiongkok..
coba anda pikirkan, bagaimana mungkin aliran maitreya begitu cepat berkembang?. berawal dari 1 vihara kecil di kota malang, berkembang menjadi puluhan cabang di indonesia. jawabnya cuma 1: karena aliran maitreya menyerap kebudayaan tiongkok, mengajarkan bhs mandarin.

ya karena orang2 mudah percaya sama aliran yang menjanjikan surga yang instan, bahkan ada yang jual surga dengan harga 2 juta lho =)) =)) =))
terserah anda, kalau aliran theravada tetap bersikeras enggak mau menyerap budaya setempat, dapat dipastikan perkembangannya akan kalah dengan aliran yang lain.


pernahkah anda membaca data statistik mengenai jumlah populasi umat Theravada di dunia, Bro? apakah lebih banyak atau lebih sedikit dari pengikut LSY? silahkan di cari dulu, google aja.
terserah anda, mau percaya atau tidak.

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #445 on: 25 July 2010, 10:58:14 PM »
justru di sini lagi praktik, mengajarkan dhamma kepada yang gak tau.
mengatakan pandangan salah sebagai yang salah, mengatakan pandangan benar sebagai yang benar.
sabba danang dhamma danang jinnati
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline 4DMYN

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 428
  • Reputasi: -4
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #446 on: 25 July 2010, 10:58:25 PM »
Kalo aye punya niat nyang kaga baek dan mau membanding2kan masing2 guru. Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye. Inget orang kasih Roll Royce (bukan cuman sekedar pisang goreng) tentunya kaga sembarangan, menginget harganye nyang kaga moerah. Mestinya kalo ente pikir positif, guru itu ada nyang kasih Roll Royce, tentunye dia bukan orang sembarangan.
Kalo aye mau sombong dan mau bikin atta aye setinggi Gunung Sumeru, aye akan bilang: "Wadouw Guru ente mah kecil. Mana pernah dia terima barang segitu berharga. Pasti kaga ada ilmunye tuh." Aye juga bisa pikir, "Guru ente itu cuman pinternye teori en teori kaga bisa dimakan. Guru aye hebat karena BISA menyelesaikan masalah umatNye, termasuk masalah duniawi." Bukti hidupnye ya adalah mobil Roll Royce itu sendiri. Aye makin yakin sama Guru Aye dan ajaranNye. Ajaran Die memang Buddhadharma sejati.
Nah gimane kalo aye jadi poenya pikiran gitoe? Joejoernye sebelum ente posting masalah itu di sini, aye kaga poenya pikiran begini. huehueheue  :P  :P  :P :P :P :P :P :P

sayang sekali pada masa Buddha Gotama masih hidup tidak ada Rolls Royce, tapi mungkin anda pernah membaca kisah Sang Bodhisatta ditawari setengah dari kerajaan Magadha, menurut anda lebih tinggi mana nilai ekonomisnya dibandingkan dengan Rolls Royce? dan apakah Bodhisatta Gotama tergopoh-gopoh menerima tawaran itu?


di jaman sang Buddha, ada seorang saudagar kaya raya yang kemudian jatuh miskin gara-gara terlalu banyak menyumbang vihara.  namanya : Anathapindika. menurut anda patut dicontoh tidak tindakan beliau ini?


di mana anda membaca ini Bro, mohon referensinya, saya akan menjawab setelah membaca sumber anda.
selain itu pertanyaan anda sepertinya tidak relevan untuk kasus ini, ini kan jawaban atas statement dari rekan anda yg ini:
Quote
Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye.
jadi sepertinya ikan kembung rambut kribo.

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/hecker/wheel334.html

Yet even the wealth of Anathapindika was not inexhaustible. One day treasures worth eighteen million were swept away by a flash flood and washed into the sea. Moreover, he had loaned about the same amount of money to business friends who did not repay him. He was reluctant, however, to ask for the money. Since his fortune amounted to about five times eighteen million, and he had already spent three-fifths of this for the forest monastery, his money was now running out. Anathapindika, once a millionaire, had become poor. Nevertheless, he still continued to provide some food for the monks, even though it was only a modest serving of thin rice gruel.



dan dengan akibat terlahir kembali di Surga Tusita, bagaimana menurut anda sendiri Bro?

saya sependapat dengan Anathapindika. jadi kalau ada yang menyumbang Rolls Royce itu wajar-wajar saja koq. lagipula yang nyumbang gak sampai jatuh miskin. :)

Offline 4DMYN

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 428
  • Reputasi: -4
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #447 on: 25 July 2010, 11:00:15 PM »
Hahahaha. Kalau memang tindakan Anathapindika itu patut. Mengapa rekan2 di sini tak ada yang mau menirunya ya. Kosongan isi dompet, jual mobil, jual rumah, jual perabotannya, dll dan meneladani Anathapindika. Sayangnya cuman omong doank ya, Shixiong 4DMYN. Ah teori.

karena kami tidak menemukan adanya BUDDHA HIDUP yg layak untuk menerima dana kami. kalau anda tentu kami akan meniru Anathapindika, sayangnya yg ada hanya BUDDHA HIDUP-BUDDHA HIDUPAN yg mustahil memberikan efek yg sama.

dan lagi, kok anda yakin bahwa tidak ada rekan di sini yg meniru Anathapindika? apakah anda juga menguasai ilmu astral dari LSY?
kalau mau niru Anathapindika gampang saja, ayo silahkan bro Indra sumbangkan Rolls Royce / Bentley terbaru kepada maha guru Lu Sheng Yen. :).

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #448 on: 25 July 2010, 11:00:51 PM »
Kalo aye punya niat nyang kaga baek dan mau membanding2kan masing2 guru. Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye. Inget orang kasih Roll Royce (bukan cuman sekedar pisang goreng) tentunya kaga sembarangan, menginget harganye nyang kaga moerah. Mestinya kalo ente pikir positif, guru itu ada nyang kasih Roll Royce, tentunye dia bukan orang sembarangan.
Kalo aye mau sombong dan mau bikin atta aye setinggi Gunung Sumeru, aye akan bilang: "Wadouw Guru ente mah kecil. Mana pernah dia terima barang segitu berharga. Pasti kaga ada ilmunye tuh." Aye juga bisa pikir, "Guru ente itu cuman pinternye teori en teori kaga bisa dimakan. Guru aye hebat karena BISA menyelesaikan masalah umatNye, termasuk masalah duniawi." Bukti hidupnye ya adalah mobil Roll Royce itu sendiri. Aye makin yakin sama Guru Aye dan ajaranNye. Ajaran Die memang Buddhadharma sejati.
Nah gimane kalo aye jadi poenya pikiran gitoe? Joejoernye sebelum ente posting masalah itu di sini, aye kaga poenya pikiran begini. huehueheue  :P  :P  :P :P :P :P :P :P

sayang sekali pada masa Buddha Gotama masih hidup tidak ada Rolls Royce, tapi mungkin anda pernah membaca kisah Sang Bodhisatta ditawari setengah dari kerajaan Magadha, menurut anda lebih tinggi mana nilai ekonomisnya dibandingkan dengan Rolls Royce? dan apakah Bodhisatta Gotama tergopoh-gopoh menerima tawaran itu?


di jaman sang Buddha, ada seorang saudagar kaya raya yang kemudian jatuh miskin gara-gara terlalu banyak menyumbang vihara.  namanya : Anathapindika. menurut anda patut dicontoh tidak tindakan beliau ini?


di mana anda membaca ini Bro, mohon referensinya, saya akan menjawab setelah membaca sumber anda.
selain itu pertanyaan anda sepertinya tidak relevan untuk kasus ini, ini kan jawaban atas statement dari rekan anda yg ini:
Quote
Aye juga bisa bilang, alamaak Guru ente kaga pernah dapet Roll Royce. Itu artinya Guru ente kaga pernah menerima rasa terima kasih nyang begitu besar dari muridnye.
jadi sepertinya ikan kembung rambut kribo.

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/hecker/wheel334.html

Yet even the wealth of Anathapindika was not inexhaustible. One day treasures worth eighteen million were swept away by a flash flood and washed into the sea. Moreover, he had loaned about the same amount of money to business friends who did not repay him. He was reluctant, however, to ask for the money. Since his fortune amounted to about five times eighteen million, and he had already spent three-fifths of this for the forest monastery, his money was now running out. Anathapindika, once a millionaire, had become poor. Nevertheless, he still continued to provide some food for the monks, even though it was only a modest serving of thin rice gruel.



dan dengan akibat terlahir kembali di Surga Tusita, bagaimana menurut anda sendiri Bro?

saya sependapat dengan Anathapindika. jadi kalau ada yang menyumbang Rolls Royce itu wajar-wajar saja koq. lagipula yang nyumbang gak sampai jatuh miskin. :)


itu pembenaran yg lemah, Anathapindika menyumbangkan vihara yg memang 1 dari 4 kebutuhan Bhikkhu, tapi Rolls Royce?

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Seputar master LU (LSY) & Living Buddha & True Buddha School.
« Reply #449 on: 25 July 2010, 11:02:38 PM »
Hahahaha. Kalau memang tindakan Anathapindika itu patut. Mengapa rekan2 di sini tak ada yang mau menirunya ya. Kosongan isi dompet, jual mobil, jual rumah, jual perabotannya, dll dan meneladani Anathapindika. Sayangnya cuman omong doank ya, Shixiong 4DMYN. Ah teori.

karena kami tidak menemukan adanya BUDDHA HIDUP yg layak untuk menerima dana kami. kalau anda tentu kami akan meniru Anathapindika, sayangnya yg ada hanya BUDDHA HIDUP-BUDDHA HIDUPAN yg mustahil memberikan efek yg sama.

dan lagi, kok anda yakin bahwa tidak ada rekan di sini yg meniru Anathapindika? apakah anda juga menguasai ilmu astral dari LSY?
kalau mau niru Anathapindika gampang saja, ayo silahkan bro Indra sumbangkan Rolls Royce / Bentley terbaru kepada maha guru Lu Sheng Yen. :).


anda menjawab tanpa membaca terlebih dulu Bro.
tentu kami akan menyumbangkan harta kami jika ada BUDDHA HIDUP, bedakan dengan BUDDHA HIDUP-BUDDHA HIDUPAN. untuk mempermudah saya berikan pembanding, MOBIL dan MOBIL-MOBILAN, cukup jelaskah?