Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: umat awam yg mencapai arahat  (Read 16842 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline learner

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 225
  • Reputasi: 5
  • Gender: Male
  • ^^ ada yang baca buku, ada yang sibuk lepas ikatan
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #60 on: 29 February 2012, 12:45:20 PM »
namo buddhaya

dalam millinda panha, bab 14 #62 :

"Anda mengatakan bahwa jika seorang umat awam mencapai tingkat Arahat dia harus memasuki Sangha pada hari itu juga, atau kalau tidak, dia akan mati dan mencapai parinibbana. Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan."

"Kesalahan itu bukan terletak pada kearahatannya, melainkan pada keadaan si umat awam yang terlalu lemah untuk menopang kearahatan itu. Seperti halnya, O baginda, meskipun makanan melindungi kehidupan makhluk, dia juga akan mengambil nyawa orang yang pencernaannya lemah. Demikian juga, jika seorang umat awam mencapai tingkat Arahat, maka karena kelemahan kondisi itulah dia harus memasuki Sangha pada hari itu juga. Kalau tidak, dia akan mati."

yg saya ingin tanyakan, apakah ada contoh kasus seorang awam yg mencapai tingkat kesucian arahat, namun tidak memasuki Sangha sehingga mati dan mencapai parinibbana saat itu juga?

dan mengapa dalam "Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan." mendapat penahbis dapat dipahami karena untuk memasuki Sangha seseorang perlu ditahbiskan, namun mengapa harus mendapat jubah dan mangkok? karena jika penahbisan dilakukan di hutan, atau tempat terpencil lainnya, dan sulit untuk memperoleh 2 benda tersebut, maka arahat yg baru ditahbiskan itu akan mati?

mohon petunjuk saudara sekalian ..
 _/\_

sangat aneh bin rancu,

Faktanya Buddha Gotama mencapai Arahat sebelum sangha terbentuk

cukup sekian dan terima kasih
tidak perlu mencoba melakukan hal besar yang sangat rumit, lakukan saja hal sederhana dengan teliti dan benar

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #61 on: 29 February 2012, 12:57:16 PM »
sangat aneh bin rancu,

Faktanya Buddha Gotama mencapai Arahat sebelum sangha terbentuk

cukup sekian dan terima kasih

Sang Buddha memang bukan Arahat biasa, jadi di luar konteks di atas.

Offline learner

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 225
  • Reputasi: 5
  • Gender: Male
  • ^^ ada yang baca buku, ada yang sibuk lepas ikatan
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #62 on: 29 February 2012, 01:07:38 PM »
then no more coment,

jawaban demikian mirip dengan,

mengapakah orang itu mati?
itu takdir tuhan
tidak perlu mencoba melakukan hal besar yang sangat rumit, lakukan saja hal sederhana dengan teliti dan benar

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #63 on: 29 February 2012, 01:13:06 PM »
then no more coment,

jawaban demikian mirip dengan,

mengapakah orang itu mati?
itu takdir tuhan


lebih tepat jika dikatakan orang mati karena kehendak Sumedho yg Maha Kuasa.

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #64 on: 29 February 2012, 02:06:23 PM »
dengan kata lain, Tuhan DC memiliki kuasa menghilangkan nyawa satu id dengan cara BANNED.

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #65 on: 29 February 2012, 02:16:26 PM »

lebih tepat jika dikatakan orang mati karena kehendak Sumedho yg Maha Kuasa.
tuhan kita keren..
:jempol:
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline kuping.kaleng

  • Teman
  • **
  • Posts: 65
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #66 on: 07 April 2012, 03:30:31 PM »
yg saya ingin tanyakan, apakah ada contoh kasus seorang awam yg mencapai tingkat kesucian arahat, namun tidak memasuki Sangha sehingga mati dan mencapai parinibbana saat itu juga?

dan mengapa dalam "Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan." mendapat penahbis dapat dipahami karena untuk memasuki Sangha seseorang perlu ditahbiskan, namun mengapa harus mendapat jubah dan mangkok? karena jika penahbisan dilakukan di hutan, atau tempat terpencil lainnya, dan sulit untuk memperoleh 2 benda tersebut, maka arahat yg baru ditahbiskan itu akan mati?


Mungkin begini adanya berdasarkan pendapat saya pribadi saja: Kondisi "KEARAHATAN" adalah kondisi batin yang sudah terbebaskan, tidak lagi melekat, tidak lagi berada dalam Samsara, sehingga bila ada umat awam mencapai kesucian ARAHAT maka secara otomatis dia sudah tidak lagi berada di Samsara dan harus mencapai parinibbana pada saat itu juga (dengan kata lain sudah tiada lagi karma/kamma yang harus dijalani), berbeda dengan kondisi dimana dia ditasbihkan menjadi seorang Bhikkhu, dimana kondisi KeBhikkhuan adalah menjalankan/menyebarkan RODA DHAMMA kepada umat/mahluk yang masih ada di Samsara. Sehingga kondisi "KEARAHATAN" beliau memiliki NILAI LEBIH lainnya dan tidak harus mencapai PARINIBBANA saat itu juga.
 Jadi "Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan."----> lebih ditekankan sudah berakhirnya SAMSARA dengan tercapainya KEARAHATAN seorang umat. Sia-sia disini bukan ditujukan karena tercapainya KEARAHATAN, namun TIADA MANFAAT bagi umat/mahluk lainnya.

nb: hanya pendapat pribadi saja yang masih harus banyak belajar lagi...mohon koreksinya. _/\_

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #67 on: 07 April 2012, 07:41:19 PM »
yg saya ingin tanyakan, apakah ada contoh kasus seorang awam yg mencapai tingkat kesucian arahat, namun tidak memasuki Sangha sehingga mati dan mencapai parinibbana saat itu juga?
_/\_

Kisah Menteri Santati

Raja Pasenadi mengadakan pesta selama tujuh hari dengan gadis gadis penari muda belia untuk memberi kegembiraan pada Menteri Santati yang telah berhasil menumpas pemberontakan di perbatasan.
Pada hari ke tujuh dengan menunggang gajah kerajaan. Menteri Santati pergi mandi ke tepi sungai.
Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Sang Buddha yang sedang berpindapatta, dan Santati menghormat kepada Sang Buddha.
Pesta Menteri Santati berlangsung sepanjang hari dan sore harinya pesta berlangsung di taman, minum lebih banyak dan menari dengan gadis penari.
Gadis penari mencoba menyenangkan dan menghibur hari Menteri Santati, tetapi saat menari dia terserang kejang-kejang dan pingsan kemudian meninggal dunia dengan mata dan mulut terbuka. Menteri tertekan batinnya dan ia kecewa berat.
(Gadis penari itu memang disukai Menteri Santati)

Pada saat itu ia memerlukan perlindungan, kemudian ia pergi menemui Sang Buddha bersama dengan para pengikutnya dan menceritakan penderitaan yang ia alami setelah kematian gadis penarinya”
Dia berkata “Bhante, tolonglah hilangkan penderitaanku, jadilah pelindungku, berikan ketenangan hatiku”
Kepadanya Sang Buddha berkata “istirahatlah anakku, engkau telah datang kepada seseorang yang dapat menolongmu, seseorang yang dapat menghiburmu dan menjadi pelindungmu, Air mata yang telah engkau tumpahkan pada saat penari itu meninggal dunia bersamaan dengan air mata selama kelahiran kembali yang berulang-ulang lebih banyak jumlahnya daripada air terdapat dalam samudra”

Sang Buddha mengucapkan syair ini :
‘Pada saat lampau terdapat dalam dirimu kemelekatan (upadana) yang disebabkan keserakahan; lenyapkanlah hal itu. Pada saat mendatang, janganlah bawa kemelekatan dalam dirimu. Jangan pula menempatkan kemelekatan terhadap apapun pada saat sekarang; dengan tidak memiliki kemelekatan keserakahan dan kebencian akan lenyap dalam dirimu dan engkau akan merelealisasi “Kebenaran Mutlak” (Nibbana)’

Setelah mendengar syair ini, Menteri Santati mencapai tingkat kesucian Arahatta.
Setelah mengetahui bahwa usia kehidupannya akan berakhir, maka ia minta izin kepada Sang Buddha untuk merealisasi “Kebebasan Akhir” dan Sang Budda merestuinya.
Maka YA Santati terbang setinggi tujuh pohon palm, di angkasa ia konsentrasi dengan objek perwujudan api, sampai akhirnya merealisasi "Kebebasan Akhir"(Parinibbana) tubuhnya berkobar, darah dan dagingnya menguap terbakar dan tulang menjadi relik berterbangan di angkasa dan terjatuh pada sehelai kain bersih yang di rentangkan oleh para Bhikkhu atas petunjuk Sang Buddha.
 _/\_

bisa baca juga 'Bahiya Sutta'
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #68 on: 09 April 2012, 09:56:14 AM »
yg saya ingin tanyakan, apakah ada contoh kasus seorang awam yg mencapai tingkat kesucian arahat, namun tidak memasuki Sangha sehingga mati dan mencapai parinibbana saat itu juga?

dan mengapa dalam "Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan." mendapat penahbis dapat dipahami karena untuk memasuki Sangha seseorang perlu ditahbiskan, namun mengapa harus mendapat jubah dan mangkok? karena jika penahbisan dilakukan di hutan, atau tempat terpencil lainnya, dan sulit untuk memperoleh 2 benda tersebut, maka arahat yg baru ditahbiskan itu akan mati?


Mungkin begini adanya berdasarkan pendapat saya pribadi saja: Kondisi "KEARAHATAN" adalah kondisi batin yang sudah terbebaskan, tidak lagi melekat, tidak lagi berada dalam Samsara, sehingga bila ada umat awam mencapai kesucian ARAHAT maka secara otomatis dia sudah tidak lagi berada di Samsara dan harus mencapai parinibbana pada saat itu juga (dengan kata lain sudah tiada lagi karma/kamma yang harus dijalani), berbeda dengan kondisi dimana dia ditasbihkan menjadi seorang Bhikkhu, dimana kondisi KeBhikkhuan adalah menjalankan/menyebarkan RODA DHAMMA kepada umat/mahluk yang masih ada di Samsara. Sehingga kondisi "KEARAHATAN" beliau memiliki NILAI LEBIH lainnya dan tidak harus mencapai PARINIBBANA saat itu juga.
 Jadi "Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan."----> lebih ditekankan sudah berakhirnya SAMSARA dengan tercapainya KEARAHATAN seorang umat. Sia-sia disini bukan ditujukan karena tercapainya KEARAHATAN, namun TIADA MANFAAT bagi umat/mahluk lainnya.

nb: hanya pendapat pribadi saja yang masih harus banyak belajar lagi...mohon koreksinya. _/\_

Seharusnya Buddha "menunda" parinibbana-nya sampai sekarang, supaya bermanfaat bagi makhluk hidup.

 :hammer:
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: umat awam yg mencapai arahat
« Reply #69 on: 09 April 2012, 10:19:14 AM »
yg saya ingin tanyakan, apakah ada contoh kasus seorang awam yg mencapai tingkat kesucian arahat, namun tidak memasuki Sangha sehingga mati dan mencapai parinibbana saat itu juga?

dan mengapa dalam "Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan." mendapat penahbis dapat dipahami karena untuk memasuki Sangha seseorang perlu ditahbiskan, namun mengapa harus mendapat jubah dan mangkok? karena jika penahbisan dilakukan di hutan, atau tempat terpencil lainnya, dan sulit untuk memperoleh 2 benda tersebut, maka arahat yg baru ditahbiskan itu akan mati?


Mungkin begini adanya berdasarkan pendapat saya pribadi saja: Kondisi "KEARAHATAN" adalah kondisi batin yang sudah terbebaskan, tidak lagi melekat, tidak lagi berada dalam Samsara, sehingga bila ada umat awam mencapai kesucian ARAHAT maka secara otomatis dia sudah tidak lagi berada di Samsara dan harus mencapai parinibbana pada saat itu juga (dengan kata lain sudah tiada lagi karma/kamma yang harus dijalani), berbeda dengan kondisi dimana dia ditasbihkan menjadi seorang Bhikkhu, dimana kondisi KeBhikkhuan adalah menjalankan/menyebarkan RODA DHAMMA kepada umat/mahluk yang masih ada di Samsara. Sehingga kondisi "KEARAHATAN" beliau memiliki NILAI LEBIH lainnya dan tidak harus mencapai PARINIBBANA saat itu juga.
 Jadi "Tetapi jika dia tidak bisa mendapat jubah, mangkok dan penahbis pada saat itu, maka kondisi kearahatan yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan."----> lebih ditekankan sudah berakhirnya SAMSARA dengan tercapainya KEARAHATAN seorang umat. Sia-sia disini bukan ditujukan karena tercapainya KEARAHATAN, namun TIADA MANFAAT bagi umat/mahluk lainnya.

nb: hanya pendapat pribadi saja yang masih harus banyak belajar lagi...mohon koreksinya. _/\_

Kutipan Milinda Panha, Bab-2 : Kelahiran Kembali, bagian ke-4

"Arahat tidak memiliki kesukaan atau kebencian terhadap kehidupan. Dia tidak menggoncangkan pohon agar buahnya yang masih belum matang jatuh, melainkan menanti sehingga buahnya masak. Demikian ini dikatakan oleh Bhante Sariputta, siswa utama Sang Buddha:

    ‘Bukan kematian, atau kelahiran yang kunantikan;
    Bagaikan pekerja menantikan upah, aku menantikan waktuku.
    Bukan kematian atau kelahiran yang kurindukan,
    Dengan waspada dan jelas mengerti,
    Begitulah aku menantikan waktuku’.”1 (Thag - Theragatha 1002, 1003)
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan